Author Topic: Because of You chapter 2 update May, 25 2010  (Read 2525 times)

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: Because of You chapter 2 update May, 25 2010
« on: May 25, 2010, 07:53:12 am »
CHAPTER 2

Sepanjang pertemuan mereka dengan Mr. Jung, Min Ho dan Eun Hye saling mendiamkan diri.  Eun Hye masih sakit hati dengan perlakuan Min Ho padanya tadi. Sedangkan Min Ho, tenggelam dengan pikirannya sendiri. Seseorang dari masa lalunya yang sangat dia rindukan kembali hadir di kehidupannya yang membosankan. Sedikit senyum tipis tersungging di bibirnya. Lain halnya dengan Mr. Jung yang terus berkoar-koar tak karuan mengenai betapa pentingnya program baru mereka ini.
Setelah pertemuan yang membosankan tadi, akhirnya Min Ho dan Eun Hye terbebas. Sekarang ini mereka sedang duduk di cafe paling termahsyur di Korea, Manolin Cafe. Eun Hye masih setia dengan kebungkamamnya.

“Eun Hye”, panggil Min Ho setelah mereka terdiam cukup cukup dan cukup lama.

“Hm”, jawab Eun Hye.

“Miane”, ujar Min Ho pelan.

“Mwo?”, Eun Hye kaget setengah mati. Selama ini, Min Ho dikenal sebaga pemuda yang tidak gampang untuk mengucapkan kata maaf. Sebesar kesalahan apapun yang dilakukannya, harga dirinya lebih besar dari itu untuk minta maaf.

Cukup lama Eun Hye terdiam dalam kekagetannya, hingga tiba-tiba...

“Aku harus mengabadikannya. Harus mengabadikannya. Harus. Tidak boleh terlewatkan. Jarang sekali, kan? Aduh, mana ponselku? Mana?”, sambil mengobrak-abrikan tasnya, Eun Hye menggumam tak karuan.

Hal ini membuat Min Ho mengangkat alisnya tinggi-tinggi.

“Yya Yoon Eun Hye”, panggil Min Ho lagi.

“Aduh, dimana lagi ponsel sialan itu?”, umpat Eun Hye.

Min Ho yang jadi kesal sendiri karena tidak dihiraukan Eun Hye langsung mengambil langkah mati.

“YOON EUN HYE”, teriak Min Ho tepat ditelingan kanan Eun Hye.

STRIKE..

Eun Hye yang kaget setengah mati tanpa sengaja berdiri dan menyenggol gelas yang ada di depannya sehingga jatuh dan pecah berkeping-keping.

“LEE MIN HO!!”, Eun Hye balas berteriak ketika melihat Min Ho yang tergelak didepannya.

Min Ho yang masih setia dengan gelak tawanya harus ikhlas mendapatkan pukulan maut dari Eun Hye. Cukup lama mereka saling memukul dan menghindar sampai akhirnya manager cafe itu menegur mereka.

“Yya, kenapa kau tadi tertawa?”, tanya Eun Hye setelah mereka duduk di kursi masing-masing.

“Kau tidak lihat ekspresimu sendiri tadi. Lucu sekali! Ha ha ha”, ujar Min Ho sambil kembali melanjutkan tertawanya yang sempat tertunda.

Telinga Eun Hye sudah di vonis memerah saking malunya.

“Lee Min Ho, kalau kau tertawa lagi, akan kupastikan kau akan kehilangan satu gigimu”, ujar Eun Hye dengan rahang tertutup.

Min Ho yang mendengarnya langsung menutup mulutnya. Berpura-pura ketakutan, tapi masih jelas terdengar suara mengikik ala kuntilanak terdengar dari situ.

“LEE MIN HO!! AKU TIDAK BERCANDA DENGAN ANCAMANKU!!”, kali ini teriakan terdengar.

Tidak lama kemudian...

“Ini semua karena kau!!”, bentak Eun Hye begitu mereka berada diluar cafe.

Sungguh suatu pemandangan langka. Seorang aktor tampan, beken, diusir dari cafe karena tertawa yang dianggap mengganggu kenyamanan pelanggan lain. Wow, berani sekali manager cafe itu.

“Ha ha ha... yya, Yoon Eun Hye. Wajahmu lucu sekali. Ha ha ha”, Min Ho masih tetap mengeluarkan kikikannya.

Eun Hye yang merasa malu karena masih saja ditertawakan, akhirnya hanya menghentakkan kakinya ke aspal dan berlalu dari hadapan Min Ho sambil memonyongkan bibirnya sepanjang tujuh senti *omas aja kalah*. Lee Min Ho yang baru ngeh kalo dia sudah membuat marah teman masa kecilnya itu, akhirnya hanya bisa mengikuti Eun Hye dari belakang.

Ketika mereka sudah duduk nyaman dalam taxi, barulah Min Ho membuka percakapan mereka.

“Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu marah. Kau tidak apa-apa kan?”, tanya Min Ho kalem.

Eun Hye tersenyum tipis mendengar perkataan Min Ho. Dia tahu, Min Ho tidak akan tahan marahan dengannya.

“Kau tahu aku tidak akan pernah sanggup marah padamu, kan? Jadi berhentilah minta maaf”, ujar Eun Hye sambil menengok kearah Min Ho.

“Ah, tidak. Ulangi lagi permintaan maafmu. Jarang-jarang kan kau mau minta maaf. Gengsimu kan setinggi langit seluas samudra sebesar gunung”, perintah Eun Hye sambil menjulurkan lidahnya.

“Yya...”, kalian sudah bisa menebak siapa yang berteriak itu.

Akhirnya, selama sisa hari itu Min Ho dan Eun Hye menghabiskan waktu mereka bersama. Memasak, tanding main PS, membantu para pelayan membersihkan mansion Min Ho, dan nonton drama picisan yang sukses membuat Eun Hye menangis dan Min Ho tertidur pulas saking membosankannya.

Persahabatan yang indah. Tapi itu tidak akan bertahan lama. Badai besar akan datang. Memporak-porandakan fondasi persahabatan mereka yang sudah dibangun bertahun-tahun. Menghancurkan segala apapun yang sudah menjadi komitmen pengikat tali persahabatan itu. *dasar author jahat*

***

Ruangan itu di nominasi warna putih. Elegan dan mewah. Itulah kesan pertama yang didapati ketika pertama kali memasuki ruangan rektor. Seorang perempuan setengah baya duduk menghadap meja kerjanya. Memeriksa beberapa file penting, kemudian mendesah tertahan.

Kim So Eun memasuki ruangan itu dengan sedikit berjingkak. Berharap dapat mengagetkan sang ibu *dasar, tukang ngagetin!*.

“AWAS KUCING!”, teriak So Eun

“KUCING MONYET ANJING SERIGALA PANDA TIKUS”, balas teriak Yang Terhormat Ibu Rektor. Segala macam penghuni kebun binatang Ragunan meluncur dengan nyamannya dari mulutnya.

“KIM SO EUN!”, teriakan lanjutan kembali bergema setelah sang Rektor mengetahui sang pelaku.

So Eun yang tahu ia berhasil membuat sang Ibu kena sasaran, tertawa sengakak-ngakaknya.
Dan dengan sekali jeweran ditelinga, ruangan itu kembali sunyi.

“Ada apa?”, tanya sang rektor setelah mengoleskan kembali lipstik ke bibirnya.

“Aku ingin minta bantuan ibu”, jawab So Eun sambil memperlihatkan senyum manis terbaiknya.

“Bantuan apa? Kalau kau ingin ibu menaikkan nilai-nilai jelekmu, jangan harap. Berusaha sendiri!”, balas ibunya sinis.

“Bukan. Ini ada hubungannya dengan Hye Sun”, ujar So Eun sambil menyerahkan sebuah kertas ke ibunya.

“Hye Sun?”, tanya ibunya.

Dalam bebarapa detik, So Eun mulai bercerita panjang lebar. Ibunya setuju. Dan kemudian menanyakan apa yang bisa dilakukannya.

So Eun hanya mengangguk. Kemudian tersenyum misterius.

***

Senja memerah. Sesaat lagi malam akan menebarkan keremangan yang membaur bersama nafas kesunyian. Perlahan, alam mulai melepaskan diri dari jeratan hari. Seakan jemu menimbun lelah, bumi mulai meredupkan kehidupannya. Siang pun menjelma menjadi gelapnya malam. Angin yang berhembus terasa menusuk kulit seperti jarum. Bulan setengah purnama muncul menerobos kegelapan, menggantikan sang Surya akan tugasnya, menerangi setiap kehidupan dibumi.

Iris coklat Hye Sun sedikit mengabur. Ah, tidak. Iris coklat Hye Sun sudah menjadi lautan air mata. Bulir-bulir bening jatuh dan menganak sungai di kedua pipi mulusnya. Isakan tidak terdengar sama sekali di flat sederhana itu.

Dia menangis dalam diam. Hal yang sudah bertahun-tahun dilakukannya. Air mata tanpa isakan. Dan serpihan ingatan masa lalu pun mulai menghantuinya lagi.

Pohon maple.

Salju.

Ambulans.

Anak berambut pirang.

Dan...

Gelap.

Dia menjambak rambut panjangnya. Berharap dengan itu bisa mengurangi rasa sakit yang dengan tiba-tiba menyergapnya.

Sial. Pergi sana. Aku tidak ingin mengingatmu. Pergi...

Kau harus ingat. Harus!

Tidak. Pergi. Kumohon, pergi.

Ingat dia, idiot. Ingat dia.

Tidak. Kumohon. Pergi. PERGI.

***

Min Ho terbangun dengan mimpi itu lagi. Keringat dingin keluar dari tubuhnya. Nafasnya tersengal-sengal, seakan-akan dia baru saja berlari.

Dia rindu ‘dia’.

Satu ketukan dipintu mengembalikannya ke alam nyata. Dengan langkah gontai ia melangkah kearah pintu dan membukanya. Berharap dengan itu, ia juga bisa membuka lembaran baru hidupnya. Melupakan segala kesalahan yang dilakukannya dulu.

tbc...

kependekankah? membosankankah? atau ada tanggapan lain?  [biggrin] [biggrin]
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME