CHAPTER 1Dibawah pohon maple yang dihiasi butiran-butiran putih –salju, dua orang anak kecil, laki-laki dan perempuan, tujuh tahun dan lima tahun sedang duduk bersandar di batang pohonnya yang kuat. Kepala sang anak perempuan bersandar dibahu sang anak laki-laki, sedangkan si anak laki-laki memejamkan kedua matanya. London. Benar-benar indah sewaktu musim dingin.
“Min Ho-a, kau benar-benar akan pindah?”, tanya si anak perempuan.
“Hm”, jawaban yang diberikan si anak laki-laki.
“Aku akan sering-sering kembali kesini. Jadi, kau jangan khawatir, oke?”, lanjut si anak laki-laki tadi.
“Aku akan terus menunggumu”, ujar si anak perempuan.
“Janji?”, tanya si anak laki-laki sambil mengacungkan jari kelingkingnya ke arah si anak perempuan.
“Janji”, balas si anak perempuan.
Dibawah pohon maple. Disaksikan oleh bulir-bulir salju, keduanya mengikat janji.
****
Disebuah ruangan yang lebih dikenal studio ini sedari tadi pagi telah di penuhi oleh jepretan-jepretan menyakitkan mata untuk orang yang belum terbiasa. Seorang pemuda sekitaran 20 tahun sedang mengikuti instruksi seorang photograper yang seluruh wajahnya dipenuhi tindik-tindik.
“Yak, bagus. Tahan. Yak seperti itu. Jangan melihat ke arah kamera. Perlihatkan wajah dinginmu. Oke. Selesai. Lee Min Ho-ssi, hari ini pun kau sangat tampan. Pertahankan wajah dinginmu itu. Semua wanita terpesona pada karakter prince-ice-mu itu.”, cerocos photographer bertindik banyak itu.
“Hmm”, hanya tiga huruf itu yang keluar dari mulut sexinya.
“Baiklah. Kau boleh pulang sekarang”, lanjut photographer itu.
Tinggal beberapa langkah lagi, pemuda yang dipanggil Lee Min Ho itu sampai dipintu keluar, seorang wanita cantik memanggilnya.
“Yaa, Min Ho-yya…tunggu…”, teriak wanita itu.
Min Ho yang merasa dipanggil hanya diam mematung ditempatnya tanpa menoleh kearah sumber suara.
“Kau mau kemana? Tadi sudah kukatakan kau harus menemui Mr. Jung untuk membahas job barumu. Kau sudah janji tadi akan menghadirinya”, lanjut wanita itu setelah dia berdiri disamping tubuh jangkung Min Ho.
“Hm”, lagi, hanya itu yang keluar dari mulutnya.
“Hhh, kau ini. Ayo cepat. Mr. Jung sudah menunggumu diruangannya”
Dalam hitungan detik, Lee Min Ho beserta managernya yang bernama Yoon Eun Hye itu melangkah kearah lift.
“Min Ho-yya, apapun keputusan Mr.Jung nanti kau harus menyetujuinya. Araso?”
Min Ho hanya diam saja mendengar teman masa kecilnya ini terus menyerocos panjang lebar soal program baru PH mereka yang melibatkan dirinya, seorang aktor yang sedang diatas daun dan mendapat banyak pujian dari berbagai kalangan mengenai karakter yang dibangun managemen mereka tentang
Prince Ice.TOK TOK TOK
Suara pintu yang diketuk mengagetkan seorang pria berumur sekitar 30 tahunan yang sedang menandatangi berbagai dokumen.
“Masuk”, suara tegas itu meluncur dari mulutnya.
Min Ho beserta Eun Hye masuk kedalam ruangan yang bercat dominan kuning itu.
“Ah, kalian ternyata. Aku sudah menunggu kalian. Ayo duduk”, lanjut Mr.Jung sambil mempersilahkan kedua tamunya duduk.
“Terima kasih”, ucap Eun Hye. Min Ho? Tetap memasang tampang dinginnya.
“Baiklah, kita langsung saja. Kau hanya tinggal menandatangi kontrak ini, setelah itu kau boleh langsung melaksanakan tugasmu”
Min Ho yang sudah tahu isi kontrak tersebut, langsung menandatanganinya tanpa membacanya terlebih dahulu.
“Bagus. Kau boleh kembali sekarang. Dan ingat, persiapkan dirimu sebaik mungkin”, lanjut Mr.Jung sambil tersenyum.
“Sekarang kau boleh istirahat. Besok kau datang lagi kemari, oke?”, lanjutnya.
“Terima kasih, Mr. Jung. Kami permisi”, balas Eun Hye.
****
Dibawah sebuah pohon beringin tua, tampak seorang gadis berumur sekitar 18 tahun. Jika dilihat sekilas dia tampak tertidur. Tapi jika diperhatikan lebih teliti lagi, sesungguhnya dia hanya memejamkan matanya saja. Menikmati semilir angin yang perlahan menyibak rambut hitam panjangnya. Tanpa disadari Hye Sun ─begitu nama gadis itu─ seseorang tengah mengendap-endap dibelakangnya. Sang pelaku berniat mengagetkannya.
“DOOR!”, suara si pelaku sontak mengagetkan Hye Sun dari semedinya.
“SO EUN!!”, suara Hye Sun tak kalah kerasnya ketika membentak si pelaku pengagetan, So Eun.
“Ha ha ha… miane, Hye Sun-a. kau tidak pernah berubah, ya?”, ujar So Eun sambil menghempaskan dirinya disamping Hye Sun.
“Kau yang tidak pernah berubah! Kenapa masih sering mengagetkanku, hah?”, nada bentakan masih keluar dari bibir ranum Hye Sun.
“Yya…seharusnya kau berterima kasih padaku. Kalau aku tidak mengagetkanmu sekarang ini kau pasti sudah dirasuki kuntilanak… hii…”, So Eun memasang tampang horror terbaiknya ─yang menurut Hye Sun,
So Eun terlihat sedang menahan buang air besar.
“Mendengar teriakanmu kurasa kuntilanak tidak akan segan-segan merasukimu”, gumam Hye Sun.
“Mwo?”, tanya So Eun bingung.
“Aniyo”, jawab Hye Sun sambil memasang senyum manisnya sehingga kedua lesung pipinya kelihatan.
“Eh, ngomong-ngomong untuk apa kau kemari? Bukankah kau tidak suka tempat ini?”, lanjut Hye Sun.
“Oh ya, hampir saja lupa. Ini”, So Eun memukul kepalanya sendiri, setelah itu dia langsung menyerahkan sebuah kertas A4 kepada Hye Sun.
“Apa ini?”, tanya Hye Sun sambil memperhatikan tulisan-tulisan di atas kertas itu.
ELONE PRODUCTION HOUSE
PRESENT
KAU CANTIK?
PANDAI BERAKTING?
PUNYA TUBUH YANG PROPOSIONAL?
DAN YANG PALING PENTING…..
APAKAH KAU PENGGEMAR BERAT LEE MIN HO SI PRINCE ICE?
JANGAN LEWATKAN KESEMPATAN EMAS INI
SEMINGGU BERSAMA LEE MIN HO
ANTARKAN DATA DIRIMU DAN FOTO CLOSE UPMU KE DISTRIK 1, SEOUL
DAN PASTIKAN LEE MIN HO AKAN MENGETUK PINTU RUMAHMU DAN TINGGAL BERSAMAMU SELAMA SEMINGGU PENUH!!
[/b]
Hye Sun menaikan alisnya tanda tidak mengerti.
“Itu brosur, Hye Sun”, ujar So Eun sabar, seolah-olah Hye Sun adalah anak berumur lima tahun yang tidak tahu jenis kertas itu.
Sesaat Hye Sun mendelik kearah So Eun sebelum melanjutkan ucapannya.
“Aku tahu, So Eun. Yang kumaksud adalah aku tidak mengerti isi brosur ini”
So Eun hanya menghela napas bosannya.
“Berikan padaku brosurnya”, perintah So Eun.
Dia memperhatikan Hye Sun dari atas kebawah, setelah itu beralih ke atas kertas yang sedang digenggamnya. Jari telunjukkan diletakkan didagunya, tanda ia sedang berpikir keras. Hye Sun bersikeras saat ini So Eun tampak seperti James Bond versi cewek kesasar.
“Sekarang aku akan bertanya padamu. Kau harus jawab dengan jujur. Oke?”, lanjut So Eun setelah ia terlepas dari gaya berpikir kerasnya tadi.
Hye Sun hanya mengangguk. Dalam hati ia sedang berusaha sekuat tenaga menahan tawanya melihat So Eun seperti ini. Hye Sun tak habis pikir, bagaimana bisa sahabatnya ini menggaet cowok terimut dikampusnya, Kim Bum.
“Baik. The first question. Apakah kau merasa kau cantik?”, tanya So Eun.
“Mwo?”, jawaban yang sangat tidak diharapkan.
“Jawab saja Sun-a”
“Aniyo”, jawaban yang sangat banget tidak diharapkan So Eun.
“Kalau kau tidak cantik, kenapa kau di tetapkan sebagai cewek paling banyak dikejar-kejar oleh para cowok-cowok keren dikampus?”, tanya So Eun.
“Mana aku tahu”, jawab Hye Sun sambil mengangkat kedua bahunya.
“Kau cantik, oke?. The second question. Apakah kau pandai berakting?”
“Mmm…. Aniyo”, kembali. Jawaban yang tidak diharapkan So Eun.
“Hhhh…. Kau pandai berakting Hye Sun. Sangat pandai”, So Eun menghela napas bosannya lagi.
“Menurutku tidak, So Eun-a”
“Kau pandai berakting. Kalau kau tidak pandai berakting, tidak mungkin kau bisa jadi ketua klub drama. Klub yang paling banyaj diminati dikampus ini”, lanjut So Eun.
“Ya ya ya, terserah kau sajalah”, ujar Hye Sun sambil mengibaskan rambut panjangnya kebelakang.
“Oke. Terserahku. Next. Kau punya tubuh yang proposional?”
Tanpa memperhatikan lekuk indah tubuhnya, Hye Sun langsung menjawab “Tidak”
“Kau punya bodi yang sangat sexi Sun-a. Semua pria dikampus ini tergila-gila pada bodimu”, teriak So Eun antusias.
“Terserah kau”, ujar Hye Sun bosan.
“Baik. The last question. Apakah kau penggemar berat Lee Min Ho?”, nada suara So Eun terdengar seperti sedang menggoda Hye Sun.
“Mwo? Lee Min Ho? Ha ha ha, kau bercanda”, Hye Sun tertawa garing.
“Sun-a”, kali ini suara So Eun terdengar seperti memohon.
“Kau tahu aku tidak mengidolakan siapapun, So Eun”, lanjut Hye Sun.
“Oke, kita singkirkan poin ini. Dengar, kalau kau mendaftar ke acara ini, kau pasti menang. Dan Lee Min Ho akan menginap dirumahmu”, ujar So Eun dengan antusias yang berlebihan lagi.
“Tidak! Dan jangan paksa aku, So Eun”, ujar Hye Sun sambil memperlihatkan tampang tegasnya.
So Eun hanya memandang Hye Sun. dia kemudian menghela napasnya lagi. Dan tanpa berpamitan pada Hye Sun, So Eun langsung pergi ke suatu tempat.
****
Di sebuah ruangan bernuansa coklat terdapat seorang pria tampan yang sedang mondar-mandir. Temannya yang berwajah imut hanya menghela napas bosan melihat kelakuan Min Ho ─si pria yang mondar mandir persis setrika tadi.
“Min Ho, berhentilah bersikap seperti setrika nenekku. Kau membuat mataku pusing”, ujar Kim Bum ─si pria berwajah imut.
“Yya, Kim Bum. Bagaimana kalau ‘dia’ tidak mau ikut? Bagaimana kalau pacarmu tidak berhasil membujuk’nya’? bagaimana kalau ‘dia’….”, perkataan Min Ho terpotong oleh suara cempreng Eun Hye.
“Yya, Min Ho-a. kenapa masih ada disini? Aku sudah bilang kau harus segera pergi ketempat Mr. Jung”, ujar Eun Hye setelah dengan sukses merusak pembicaraan Min Ho dan Kim Bum, juga dengan sukses mendobrak pintu kamar Min Ho.
“Tunggu sebentar lagi. Aku sedang menunggu temanku”, jawab Min Ho. Diwajahnya masih jelas terpeta wajah kecemasan.
“Tidak bisa. Ayo cepat, nanti Mr. Jung akan marah kalau kita terlambat”, lanjut Eun Hye sambil menyeret paksa Min Ho dilengan kekarnya.
“YOON EUN HYE!!”, bentak Min Ho. Kemudian dengan kasarnya Min Ho melepaskan cengkeraman Eun Hye di lengannya.
Eun Hye hanya menatap nanar Min Ho. Selama mereka bersahabat, Min Ho tidak pernah membentaknya. Tapi kali ini, Min Ho terlihat bukan Min Ho sahabatnya yang dulu. Iris Eun Hye mulai terlihat mengabur seiring jatuhnya bulir-bulir bening dikedua matanya.
“Min Ho-a…”, ujar Eun Hye dengan suara kecil.
“Keluarlah. Aku akan menyusulmu setelah aku menemui temanku”, kata Min Ho sambil membuang wajahnya kearah lain.
Dengan isakan terakhir yang sempat tertangkap indra pendengaran Min Ho, Eun Hye keluar dari kamar Min Ho.
Tidak berselang lama, seseorang yang sedari tadi ditunggu-tunggu Min Ho akhirnya datang juga. Dia terlihat tidak bersemangat. Sesampainya dikamarnya Min Ho dia langsung duduk di samping Kim Bum.
“Bagaimana? Dia mau ikut? Dia bilang bersedia kan?”, cecar Min Ho sesaat setelah orang itu menundukkan dirinya disamping Kim Bum.
“Min Ho, kau sudah mengenalnya sejak kecil kan? Kurasa kau pasti tahu apa yang sudah diputuskannya”, ujar orang itu.
“Aku sudah menduga ini pasti akan terjadi. Dengar. Aku sudah punya rencana agar ‘dia’ mau ikut acara konyolmu ini. Dan aku akan pastikan, ‘dia’ akan menduduki peringkat pertama. Jadi jangan cemas, oke?”, ujar Kim Bum setelah melihat wajah memelas Min Ho.
“Baiklah. Aku percaya pada kalian berdua. Aku pergi dulu”, ujar Min Ho.
end of chapter...
kyaaa..... fic kedua gw
![[on]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/on.png)
setelah gw baca ulang, ternyata malah jadi lebih buruk dari fic gw yang pertama. saking lamanya hiatus, beginilah jadinya
![[smiley-whacky103]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/smiley-whacky103.gif)
ada komen? ada komen? silahkan....
![[smiley-gen013]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/smiley-gen013.gif)