CallMinsun
Welcome,
Guest
. Please
login
or
register
.
1 Hour
1 Day
1 Week
1 Month
Forever
Login with username, password and session length
News:
Home
Search
Calendar
Login
Register
CallMinsun
»
FANFIC
»
Regular Fanfic
»
THE SARANG
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #8638
« previous
next »
Print
Pages:
1
[
2
]
3
4
...
7
Go Down
Author
Topic: THE SARANG (Read 7995 times)
Be my self
Admin
Hero
Posts: 7360
that winkkkk!!! *fainted
Re: THE SARANG
«
Reply #15
on:
June 07, 2010, 06:07:37 am »
CHAPTER 10
Dua hari kemudian ……
Mino mondar mandir di ruang kantornya yang besar. Dia tampak gelisah sekali. Sekali kali kakinya dihentak-hentakkannya ke lantai yang di lapisi permadani bulu tebal. Penampilannya saat itu sangat berantakan.Dasi yang dipakainya bergantung begitu saja di lehernya dengan kemeja putih yang kancingnya sudah terbuka sampai di bagian dada dan jas hitam yang tampak kucel karena sering diremas olehnya.
Langkahnya terhenti ketika pintu ruangan diketuk dari luar ..
tok…. tok…… tok …..
“Masuklah ……. “
Pintu terbuka dan Joongie memasuki ruangan dengan setumpuk file ditangannya. Mino memandanginya sekilas dan memberi isyarat kepada Joongie supaya menaruh tumpukan file itu di meja kerjanya. Joongie berjalan ke meja panjang dekat jendela dan menaruh bawaannya di sana. Dan ketika dia bermaksud meninggalkan ruangan itu, Mino mengeluarkan suaranya dengan tiba-tiba.
“Hyun Joong, apakah … apakah kamu tahu Hyesun pergi kemana?”
Joongie membalikan badannya kearah Mino. Memperhatikan kegelisahannya dengan tanpa mengeluarkan suara.
“Sudah sejak kemarin saya mencarinya, tapi baik dirumah maupun di kantor, tidak ada yang tahu keberadaannya ….. apakah kamu mengetahui dia ada dimana?”, tanya Mino lebih lanjut.
Ditanya seperti itu, Joongie tetap tidak mengeluarkan suaranya. Mino memandanginya dengan kesal. Dia mendekati Joongie dan berkata dengan keras ….
“Saya sedang bertanya kepadamu Kim Hyun Joong .. kemana perginya Hyesun??”
Joongie tidak kelihatan gentar dengan bentakan Mino. Sepasang matanya tetap menatap lurus ke mata Mino yang berapi-api.
“Mengapa tuan mengira saya mengetahui keberadaan noona?”
Mino mengepal tangannya mendengar kata-kata Joongie yang teramat tenang.
“Karena kalian tinggal di rumah yang sama .. maka kamu.. kamu pasti mengetahuinya .. lagipula kamu ….. “
Mino menghentikan perkataannya dengan tiba-tiba. Joongie memandang tajam kearahnya seolah menantikan kelanjutan dari perkataannya. Tapi, Mino tetap diam saja. Sepasang matanya bergerak ke segala arah dengan gelisah.
“Lagipula .. apa? bagaimana? ada hubungannya dengan saya?”, tanya Joongie penasaran.
Mino mengalihkan perhatiannya dari seisi ruangan kepada Joongie. Kelihatan jelas emosinya sudah tidak terbendung lagi.
“Karena kamu mencintainya …”
Joongie terperanjat mendengar jawaban Mino yang tidak disangkanya. Matanya yang terbelalak lebar menatap lurus kearah Mino.
“Aku sudah heran melihat kelakuannya dua hari yang lalu .. dia begitu .. begitu berbeda dari biasanya … dan sekarang setelah dipikir dengan seksama, pasti kamu … kamu yang menyuruhnya menghindariku …. setelah mengetahui kebersamaan kami, kamu menjadi cemburu jadi kamu menyuruhnya pergi dari hidupku … kamu pasti telah melakukan sesuatu yang luarbiasa sehingga membuat dia sampai meninggalkanku … benar begitu, kan .. Kim Hyun Joong??”
Perkataan Mino mengetarkan seisi ruangan itu. Tapi bukan itu yang mengejutkan Joongie. Perasaan cintanya terhadap noonanya yang diketahui oleh Mino itulah yang membuatnya terkejut setengah mati.
“Tuan mengetahuinya? .. tapi… bagaimana mungkin tuan bisa mengetahui bagaimana perasaan saya terhadap noona …?”
Mino terpaku sejenak. Dia baru menyadari bahwa perkataannya sudah melampaui batas. Tapi kegelisahan dan kemarahannya pada saat ini sudah membuatnya kehilangan kendali.
“Bukan saya yang mengetahuinya .. tapi Hyesun yang menceritakannya kepada saya ..”
Mendengar jawaban Mino, Joongie semakin terperanjat di tempatnya. Dipandanginya Mino dengan mata terbuka lebar. Ketidakpercayaan terpancar jelas dari matanya.
“Noona .. maksud tuan, noona mengetahui semuanya? .. bagaimana mungkin? .. selama ini sikapnya biasa-biasa saja …”
“Hyesun tetap bersikap seperti biasanya karena dia tidak ingin menyakiti hatimu …. pada malam sebelum rencana pernikahannya dengan hyung, dia tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan mamamu …”
Setelah perkataan ini, keadaan menjadi hening seketika. Pikiran mereka masing-masing langsung dipenuhi oleh segala masalah yang terjadi saat ini. Joongie dengan berita yang ternyata noonanya mengetahui perasaannya selama ini dan Mino dengan alasan kepergian Hyesun yang tidak diketahuinya.
“Karena itu, tuan mengira saya yang memaksa noona pergi dari sini? … lalu .. mengapa tuan tidak mencoba menanyakannya kepada nyonya besar saja ?”
Mendengar itu, Mino langsung tersentak dari pikirannya yang menerawang jauh. Joongie memandanginya sejenak kemudian membungkukkan badannya.
“Saya pergi dulu, tuan ......"
Mino tidak beraksi dengan tindakan Joongie. Pikirannya masih dipenuhi oleh kata-kata Joongie tadi. Dengan perlahan Joongie mundur ke belakang dan pergi dari situ. Tampang Mino langsung berubah garang pada saat itu juga.Dengan cepat dia berjalan ke meja kerjanya, meraih tumpukan file yang ada disana dan melemparkannya ke lantai dengan emosi yang meledak.
“Aishhhhhhhhhh …………….”
**********************
Malam harinya di kediaman Lee, Mrs. Lee dan keponakannya, Kim So Eun, duduk berbincang-bincang di ruang tamu. Soeun baru tiba tadi siang di Korea. Wajahnya kelihatan masih lelah akibat perjalanan yang panjang itu. Tapi dia tetap memperlihatkan senyumnya dan menjawab semua pertanyaan Mrs. Lee dengan seksama.
“Bagaimana keadaan papamu, Soeun?”, tanya Mrs. Lee ramah.
“Keadaan papa sudah lebih baik sekarang, bi .. papa dan mama juga meminta saya untuk meminta maaf kepada bibi dan paman karena tidak bisa menghadiri pemakaman Junki oppa saat itu ..”
Kesedihan langsung terlukis di wajah Mrs. Lee ketika nama Junki diungkit oleh Soeun.
“Tidak apa-apa … bibi dan paman tahu bahwa kesehatan papamu tidak mengijinkan untuk melakukan perjalanan jauh pada saat itu …..”
Soeun yang melihat keadaan Mrs. Lee langsung menyadari bahwa perkataannya itu tidak pada tempatnya. Dengan perasaan bersalah dia berkata perlahan ….
“Maafkan saya, bi .. saya tidak bermaksud …..”
brakkkkkkkkkkkkkkk ………..
Perkataannya terhenti oleh pintu ruang tamu yang didobrak tiba-tiba dari luar. Mino memasuki ruangan dengan tampang sangar dan tangan terkepal erat.
“Mama yang melakukannya, kan?”, suaranya bergetar hebat karena emosi yang ditahannya.
Sepasang mata Mino menatap tajam ke Mrs. Lee. Dia tidak mempedulikan pandangan Soeun kepadanya. Atau mungkin dia sama sekali tidak melihat keberadaan orang lain di ruangan itu selain mamanya. Kemarahannya sudah hampir meledak saat itu.
“Oppa … Mino oppa ….”, panggil Soeun dengan nada riang.
Mino mengalihkan pandangannya sekilas kearah Soeun. Hanya sekilas, setelah itu perhatiannya kembali terpusat kepada Mrs. Lee.
“Apa maksud dari pertanyaanmu?, Mrs. Lee balas bertanya kepada Mino.
“Jangan katakan bahwa mama tidak tahu menahu dengan kepergian Hyesun .. mama yang menyuruhnya pergi, kan?”
Mrs. Lee menghela nafas perlahan, kemudian menganggukkan kepalanya.
“Tapi .. mengapa? mengapa mama melakukan semua ini?”, tanya Mino dengan suara yang lebih keras lagi.
“Semua ini demi kebaikkanmu … mama tidak akan pernah mengijinkan sesuatu yang buruk terjadi padamu, baik dalam karir maupun kehidupanmu … setelah kepergian Junki, yang mama harapkan sekarang hanya kamu … “
Penjelasan Mrs. Lee tidak begitu memuaskan Mino. Matanya masih memancarkan kemarahan besar. Soeun memperhatikan adegan antara ibu dan anak itu dari tempat duduknya dengan tanpa mengeluarkan suara.
“Mama tidak akan berhasil dengan ini … bagaimanapun saya akan mencarinya, dimanapun dia berada …”
Mino menaiki tangga, menuju ke ruang kamarnya, meninggalkan Mrs. Lee dan Soeun di ruang tamu besar itu. Soeun memperhatikan Mrs. Lee yang terduduk lemas di kursinya.
“Ada apa dengan Mino oppa, bi? … dia kelihatan marah sekali .. dan … Hyesun itu siapa?”
Mrs. Lee mengalihkan perhatiannya ke Soeun. Dia berusaha tersenyum walaupun kelihatan terpaksa.
“Tidak ada apa-apa, Soeun …. itu hanya permainan anak kecil … suatu saat Mino akan mengetahui bahwa apa yang dilakukan oleh mamanya ini adalah demi kebaikkannya ..”
Soeun mengangguk mendengar penjelasan Mrs. Lee.
“Lalu .. Hyesun … siapakah dia?”
Mrs. Lee terdiam sejenak. Dia kelihatan agak segan ketika menjawab pertanyaan Soeun yang lebih lanjut.
“Hyesun adalah …. calon istri Junki .. tapi dia sekarang terlibat cinta dengan Mino …”
“Hahhhhhhhh ??”
Soeun sangat terkejut mendengar penjelasan Mrs. Lee. Pikirannya menjadi kacau saat itu juga. Pandangannya langsung dialihkan ke anak tangga yang tadi dinaiki Mino.
“Kamu jangan khawatir, Soeun …. cepat atau lambat Mino akan menyadari kesalahannya sendiri, yang paling pantas mendampingi hidupnya kelak adalah kamu .. lagipula bibi ingin lihat seberapa keras pendiriannya ..”
Soeun tersenyum kearah Mrs. Lee. Walaupun dia tidak begitu yakin dengan perkataan bibinya ini, dia tidak mau memperlihatkannya. Sifat Mino agak berubah dari perjumpaan mereka yang terakhir 3 tahun yang lalu. Dulu .. Soeun tidak begitu suka dengan sikap Mino yang cuek dan dingin itu. Dia selalu merasa pria seperti itu akan membuat kehidupannya menjadi suram dan menjemukan.
Akan tetapi sekarang, setelah 3 tahun, oppanya yang satu ini sudah agak berubah. Bukan hanya penampilannya yang semakin menawan, tetapi sikapnya yang begitu melindungi orang yang dicintainya kelihatan begitu menarik dan menyejukkan baginya. Soeun menyadari satu hal sekarang, Mino sudah memesona hatinya. Walaupun semua ini belum tentu perasaan cinta tapi yang jelas dia tidak mempunyai perasaan berontak lagi terhadap pertunangan yang semula tidak begitu disetujuinya ini.
***********************
Bar itu cukup luas, dengan suasana yang agak semarak. Lampu-lampu blitz besar yang dipasang di langit ruangan berputar-putar mengarah ke seluruh sudut ruang yang redup. Musik disco remix yang diputar berdentam-dentam dan menghentak-hentak di setiap hati yang mendengarnya. Para pengunjung yang kebanyakan berasal dari kalangan muda menari dengan liar mengikuti alunan musik yang keras dan [bigno]akkan telinga. Beberapa orang yang berbadan besar dan kekar hilir mudik sambil mengawasi para pengunjung yang ada disana.
Ada beberapa di antara pengunjung tersebut yang kelihatan sudah mabuk berat. Keributan-keributan kecil mulai terjadi ketika Mino memasuki ruangan itu. Mino melirik sekilas keributan yang terjadi di depannya dengan sikap tak acuh. Wajahnya tidak memperlihatkan perasaan apa-apa, hampa dan mati. Pandangannya kemudian terhenti di sofa yang terletak di sudut paling kiri ruangan itu. Matanya agak menyipit ketika mengamati apa yang ada di depannya. Badannya langsung ditegakkan ketika apa yang dicarinya sudah didapatkannya disana.
Dengan langkah lebar, Mino segera berjalan kearah yang dimaksud. Beberapa orang dengan berpakaian ketat dan tato di lengan sedang minum dan ketawa-ketawa di tempat yang dituju Mino.
Orang-orang itu segera menghentikan kesenangannya ketika Mino sudah berdiri tepat di hadapan mereka dengan tatapan tajam. Salah satu dari mereka, yang berpakaian ketat warna merah tanpa lengan dengan tato burung elang di tangan kiri, berdiri dari duduknya. Dia membalas pandangan Mino dengan tenang.
“Tuan muda Lee!! .. angin apa yang membawamu kemari?”
“Saya ada tawaran buatmu ..”, jawab Mino dengan suara yang tidak kalah tenangnya. Orang di depannya, yang tidak lain adalah pemimpin dari para berandalan yang mengeroyoknya beberapa bulan yang lalu, tertawa terbahak-bahak mendengar perkataannya.
“Ha..ha..ha.. tuan muda Lee, jangan main-main dengan saya ..”
Mino tidak beraksi mendengar suara ketawa itu. Ekspresi wajahnya tetap seperti semula, serius dan tajam.
“Saya tidak bercanda … saya benar-benar ada tawaran untukmu, Mr. Song …"
Orang yang dipanggil sebagai Mr. Song oleh Mino itu akhirnya mengangkat tangannya.
“Ok … ok .. sekarang katakan padaku apa tawaranmu itu?”
“Saya akan bergabung dengan kelompok iceskatingmu ..”
Mr. Song langsung mengibaskan tangannya kearah Mino. Kali ini wajahnya berubah serius kembali.
“Jangan menganggap saya sebagai orang bodoh, tuan muda Lee .. saya sudah memeriksa dengan seksama semua tentang kamu .. kecelakaan yang terjadi padamu dan kecacatan yang dialami oleh kakimu, semuanya saya ketahui dengan sangat jelas ..”
Mino tetap tidak gentar di tempatnya, walaupun Mr. Song sudah kelihatan mulai hilang kesabarannya.
“Tawaran yang saya ajukan akan menguntungkan pihakmu ..”
Mino memandang lurus kearah Mr. Song. Yang dipandang membalas tatapannya dengan tidak berkedip. Mereka berada dalam posisi yang sama selama dua menit, tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Setelah diam dalam waktu yang cukup lama, akhirnya Mr. Song mengeluarkan suaranya.
“Baiklah .. katakan apa keuntungannya bagi kami .. tapi ingat tuan muda Lee, kami bukanlah orang-orang yang bisa dipermainkan begitu saja ...."
Mino menarik nafas dan meneruskan kata-katanya dengan tekad bulat.
“Jika saya menang, maka semua hasil kemenangan dari taruhan itu akan menjadi milikmu dan apabila saya kalah, maka saya akan membayar semua kerugian yang kamu alami .. bagaimana, Mr. Song? .. tawaranku ini tidak akan merugikanmu sedikitpun, kan?”
Mr. Song kelihatan berpikir sejenak setelah mendengar tawaran yang diajukan Mino. Sesaat kemudian dia mengacungkan jempolnya.
“Ok.. deal ..”
Lalu dia berpaling ke salah seorang anak buahnya dan berkata …
“Wo, bawa tuan muda Lee ke ruang bawah tanah sekarang juga. .. perlombaan akan segera dimulai … saya akan turun sebentar lagi …”
Orang yang dipanggil Wo berjalan ke depan, kemudian membawa Mino pergi dari situ. Mr. Song memperhatikan kepergian Mino dan anak buahnya dengan pandangan tak berkedip. Lalu secara perlahan seulas senyum tersungging dibibirnya yang agak hitam karna kebiasaan merokok.
**************
Pertaruhan dari permainan iceskating di ruang bawah tanah itu cukup ramai diikuti oleh para pengunjung. Semua bersorak sorai dengan suara keras. Mino mendapat giliran terakhir. Permainannya cukup bagus walaupun tidak bisa dikatakan sempurna. Orang-orang yang bertaruh untuknya juga tergolong banyak. Hampir 70% dari para pengunjung membeli taruhan atas namanya.
Dan hasil terakhir dari taruhan itu juga tidak berbeda jauh dari dugaan semula. Mino memenangkannya dengan hasil yang cukup memuaskan. Mino menghempaskan tubuh jangkungnya ke bangku yang terletak di pinggir arena iceskating, yang terhalang oleh pagar dari kayu yang tingginya sepinggang, setelah pertandingan itu selesai. Dengan perlahan dia melepas sepatu iceskate dari kakinya. Mulutnya agak meringgis ketika sepatu sebelah kanan itu terpisah dari kakinya. Lutut di kaki kanannya terasa sakit.
Mino memijat-mijat kaki kanan di bagian lutut itu degan bibir bawah yang digigit. Dia menyadari dengan pasti bahwa luka yang dialaminya waktu kecelakaan yang parah itu mulai terkoyak kembali. Suara langkah kaki yang mendekatinya membuat Mino segera menangkat wajahnya. Mr. Song dan beberapa pengikutnya sudah berdiri di hadapannya sekarang.
"Tuan muda Lee, saya lihat permainanmu tidak begitu memuaskan .."
Mino berdiri dari tempat duduknya dan berhadapan dengan Mr. Song. Dia menahan rasa sakit yang dirasakannya dengan sikap tenang.
"Mr. Song .. panggil saja saya Minho .. anda jangan mengkhawatirkan permainan saya, untuk waktu selanjutnya saya akan berusaha bermain lebih baik lagi .."
"Bagus jika kamu mengetahui dimana kekuranganmu sendiri .. tapi perlu saya beritahukan kepadamu, malam ini kamu bisa menang telak karena lawan-lawanmu semuanya biasa-biasa saja .. kamu juga tahu bahwa keuntungan-keuntungan kami itu didapat dari presentase para pemenang .. jadi saya berharap untuk hari-hari selanjutnya kamu bermain lebih baik lagi .. hmmm .. Minho,sejujurnya saya rindu dengan permainanmu yang pertama kalinya.. perlu kamu ketahui saya tidak pernah melihat permainan sesempurna itu .."
Mino tertegun mendengar perkataan Mr. Song. Untuk pertama kalinya dia mendengar kata-kata yang begitu menyentuh dari Mr. Song.
Teringat kembali olehnya, sembilan bulan yang lalu, karena iseng dia memasuki bar yang berada diatas arena iceskating ini. Dan karena tidak sengaja mendengar pembicaraan tentang adanya taruhan dari permainan iceskating yang digemarinya di ruang bawah tanah ini, dia jadi ikut terlibat di dalamnya.
Mino sebenarnya juga mengakui bahwa saat itu merupakan permainan paling sempurna yang pernah dilakukannya. Waktu itu dia benar-benar merasa terbebas dari segala tekanan dan kekangan, sehingga menyebabkan gerakan-gerakan dari kaki dan tangannya begitu bebas dan lepas. Putaran dari badannya, loncatan dari kakinya, gerakan mundur yang dilakukannya dan semuanya meluncur dengan begitu mulus dari permainannya sehingga membuatnya mendapatkan kemenangan mutlak dari taruhan tersebut.
Dan pada saat itu pula, Mr. Song mengalami kerugian besar karenanya. Tidak ada seorangpun yang bertaruh untuk pemain baru yang asing itu. Banyak di antara para pengunjung yang kecewa sekaligus tertarik dengan anak muda yang menampilkan permainan yang menakjubkan tersebut termasuk Mr. Song.
Pada malam itu juga Mr. Song menawari Mino untuk bergabung dengan kelompoknya. Tapi karena Mino tidak tertarik dengan tawaran yang diajukan Mr. Song, dia langsung mengambil keputusan dengan menolak tawaran tersebut pada saat itu juga. Hal ini pula yang membuat Mino sampai dihajar dan dikeroyok berkali-kali oleh Mr. Song dan para pengikutnya.
Sebenarnya setelah kecelakaan itu, Mino menganggap semuanya sudah berlalu dan dia tidak akan pernah berurusan lagi dengan kelompok petaruh gelap itu. Tapi dia tidak pernah menyangka, karna Hyesun, dia terlepas dari hubungan dengan para berandalan tersebut, dan karna Hyesun, pula dia terdampar kembali disini.
Mino terhempas ke bangku di belakangnya sepeninggal rombongan Mr. Song. Rasa sakit dan ngelu di lutut kanannya terasa menyenggatnya lagi. Kepalanya tertunduk dalam-dalam dengan posisi kedua tangan terletak di bagian lutut. Hancur .. hancur semua ......hidupnya sudah hancur semua ... hiks... hiks ... ~mino aaa
*****************
Logged
EVIL SMILE ^^
'LOVE' ...
keeps it strong!!!
Our MinSun
Print
Pages:
1
[
2
]
3
4
...
7
Go Up
« previous
next »
CallMinsun
»
FANFIC
»
Regular Fanfic
»
THE SARANG
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #8638