Author Topic: OFF AIR ~ updated 2 April 2011  (Read 55252 times)

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: OFF AIR last updated 26 May 2010
« Reply #45 on: June 07, 2010, 08:55:04 am »
Additional Cast


Jung Da Bin as Han Shin Bi


Harusnya info ini dikasih di chp sebelumnya. Karena lupa jadi baru kukasih skrng


Chapter 4 Part 1 Of 2



Daun pintu ruang istirahat Yeo Won terbuka. Dua pasang kaki keluar dari sana, yang sepasang dibungkus sepatu kets putih sedangkan yang sepasang lagi dibalut sepatu high heels hitam. Langkah dua pasang kaki ini sangat riang dan ringan. Hanya dengan mendengar ayunan langkah mereka, orang dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa sebuah kebahagiaan tengah merasuk dalam hati mereka.

Sebesar itukah kebahagiaan mereka hingga mudah terdeteksi hanya lewat langkah kaki? Well, kenyataannya memang demikian. Jika tidak percaya, coba saja telusuri lebih lanjut. Amati tangan mereka yang saling bergandengan erat. Kedua tangan ini hanya akan menggenggam satu sama lain saat kamera on air. Tapi tunggu, apakah mereka sedang di depan kamera? Walaupun saat ini kedua pasang kaki tersebut berpijak di studio 6 milik MBC, target kamera bukan tertuju pada mereka. Tidak ada jadwal syuting di agenda masing-masing. Tepat! Mereka sedang off air. Lalu untuk apa tangan itu saling menggenggam jika tidak dalam situasi pengambilan gambar? Tentu saja karena telah terjadi suatu hal istimewa yang membahagiakan mereka.

Masih belum yakin kalau mereka sedang dililit kebahagiaan? Senyum ceria di bibir masing-masing adalah barang bukti berikutnya. Enam hari sudah mereka tidak menampilkan senyuman seperti ini. Senyum yang membuat orang lain terpukau. Senyum yang makin memperindah paras mereka. Senyum yang sungguh sayang jika tidak diabadikan menjadi format digital JPG. Senyum yang amat sempurna. Kalau saja ada yang bertanya mengapa dua insan ini tersenyum semenawan itu, cuma ada satu jawaban. Haengbok. Ya, bahagia. Hanya ini satu-satunya motif di balik senyum mempesona itu.



Masih ada bukti kuat lain, yaitu tatapan mata. Dengan bukti ini tidak dapat disangsikan lagi bahwa mereka memang benar-benar sedang mereguk kebahagiaan. Ungkapan ‘Mata Adalah Cerminan Hati’ benar adanya. Dua pasang mata itu tidak bisa menutupi rasa bahagia yang mendera mereka. Tatapan yang teduh dan hangat terpancar jelas pada bola mata masing-masing. Binar-binar kebahagiaan berkelebat di sana. Siapapun yang melihat keempat barang bukti ini pasti mengakui ada kebahagiaan yang menyelubung di antara mereka.



Mereka ... Mereka ... dan ... Mereka. Sedari awal tidak ada subjek yang konkrit. Hanya kata ganti ‘mereka’ yang terus dibahas di sini. Apakah perlu dijabarkan lagi kepada siapa kata ‘mereka’ merujuk? Baiklah, akan segera diperjelas sekarang (walau pasti sudah jelas dari tadi). Lee Min Ho dan Goo Hye Sun, dua nama inilah yang dimaksud dengan ‘mereka’. Minho dan Hyesun-lah yang sedari tadi disebut-sebut sedang merengkuh kebahagiaan.

Hanya selapis benang tipis yang memisahkan sedih dan bahagia. Minho dan Hyesun telah membuktikannya. Saat memasuki ruang istirahat Yeo Won wajah Minho dan Hyesun digelayuti kesedihan. Tidak lebih dari 30 menit setelah itu, kesedihan mereka sudah tak tampak lagi. Begitu keluar dari ruang istirahat Yeo Won, hanya kebahagiaan yang terlukis di wajah masing-masing.

Yeo Won sedikit tersentak melihat Minho berjalan ke arahnya sambil menggandeng tangan Hyesun. Ia mengira telah terjadi perkembangan pesat dalam hubungan Minho-Hyesun.



Hyesun mencoba membebaskan tangannya dari genggaman Minho saat mereka makin mendekati Yeo Won. Usaha Hyesun gagal total, genggaman Minho terlampau erat. Minho baru melepaskan tangan Hyesun ketika tersadar ada pasang mata lain yang memperhatikan gerak-gerik mereka. Beberapa kru, yang sudah kembali dari makan siang, sibuk mengamati tindak-tanduk Minho dan Hyesun sambil sesekali berbisik.

Minho dan Hyesun berubah menjadi salah tingkah saat sudah berdiri tepat di depan Yeo Won. Pasangan baru ini ingin segera berbagi kebahagiaan dengan Yeo Won tapi binggung harus mulai dari mana. Minho cuma bisa terkekeh sedangkan Hyesun hanya tersenyum sambil tertunduk malu. Yeo Won jadi ikut tersenyum menyaksikan tingkah unik mereka.



“Sepertinya ada yang sedang bahagia” ucap Yeo Won sambil mencolek lengan Minho.

“Yya! Noona!” jawab Minho sambil tersenyum simpul pada Yeo Won.

“Anyonghaseyo, onnie” sapa Hyesun pada Yeo Won.

“Ne. Anyonghaseyo, Hyesun-a” balas Yeo Won dengan ramah.

“Apakah adikku merepotkanmu?” tanya Yeo Won.

“Noona!” teriak Minho pada Yeo Won.

Hyesun hanya tersenyum melihat Minho menjadi korban keusilan Yeo Won.

“Syuting seperti ini pasti melelahkan” Hyesun coba mengalihkan pembicaraan.

“Ne, tapi juga menyenangkan. Sudah lama aku tidak tampil di depan kamera. Rasanya rindu sekali dengan suasana seperti ini” jawab Yeo Won.

“Apa onnie kerepotan dengan kostum yang harus dipakai?” tanya Hyesun.

“Awalnya memang repot. Lama-kelamaan aku jadi terbiasa” ucap Yeo Won.

“Onnie, kau cantik sekali mengenakan pakaian seperti itu, benar-benar mirip seorang putri raja” ucap Hyesun pada Yeo Won.

“Jeongmal? Tapi sayangnya putriku tidak sependapat denganmu. Shin Bi bilang aku kalah cantik dengan seseorang” jawab Yeo Won sambil mengganti ekspresi wajahnya dengan raut muka cemberut. Minho tertawa kecil melihat ekspresi Yeo Won.

“Maksudnya onnie kalah cantik dengan siapa?” tanya Hyesun.

“BIBI HYESUUUUN!” teriak Shin Bi. Jawaban Yeo Won menjadi tertunda oleh jeritan Shin Bi memanggil nama Hyesun dari kejauhan.

Minho, Hyesun dan Yeo Won secara bersamaan menoleh ke sumber suara nyaring tadi. Shin Bi yang tadinya sedang bermain dengan property syuting segera beranjak dari tempatnya begitu melihat Hyesun. Gadis cilik ini berlari sambil melambai-lambaikan tangan mungilnya ke arah mereka bertiga, tapi lebih tepatnya ke arah Hyesun seorang. Sesampainya di depan Hyesun, tangan Shin Bi langsung melingkar di pinggang Hyesun.

“Bibi Hyesun, Shin Bi rindu pada bibi” ucap Shin  Bi sambil mendongakkan kepala.

“Bibi juga rindu sama Shin Bi” jawab Hyesun dengan kepala tertunduk menatap Shin Bi sambil membelai rambut gadis kecil itu.

“Shin Bi-a, jangan bersikap seperti itu pada bibi Hyesun” tegur Yeo Won.

“Gwenchanayo” jawab Hyesun.

Mereka berempat terlibat perbincangan ringan. Tapi anehnya hubungan Minho-Hyesun tidak disinggung sama sekali. Yeo Won merasa tidak perlu meminta penjelasan Minho tentang hubungan tersebut. Selain sudah bisa menyimpulkan sendiri, tempat mereka saat ini dirasa Yeo Won kurang tepat untuk membahas sesuatu yang bersifat privasi.

“Lee Yeo Won-ssi, break syuting akan segera usai. Mohon anda ikut saya untuk memperbaiki riasan” ucapan seorang kru yang tiba-tiba datang menghampiri Yeo Won menghentikan percakapan mereka.

“Ne. Kau tunggu saja di ruang rias. Aku akan segera ke sana” jawab Yeo Won.

Mata Yeo Won melirik Minho. Sebentar lagi ia harus kembali syuting, lalu Shin Bi mau dikemanakan. Yeo Won tidak enak hati menitipkan Shin Bi pada Minho. Adiknya itu pasti mau mengajak Hyesun berkencan. Dengan kehadiran Shin Bi, Yeo Won khawatir akan merusak kencan pertama Minho dengan Hyesun.

“Gwenchana. Noona bisa syuting dengan tenang. Aku akan menjaga Shin Bi” jawab Minho di tengah kebingungan Yeo Won.

“Apa dia tidak mengganggu?” tanya Yeo Won ragu.

“Aish, apa pernah putrimu ini tidak mengganggu ketenanganku?” tanya Minho.

“Minho-a” tegur Hyesun sambil menyikut lengan Minho.

“Gwenchana. Onnie tidak perlu khawatir” jawab Hyesun.

“Miane, Hyesun-a. Putriku jadi merepotkanmu” ucap Yeo Won.

“Ahniyo. Onnie tidak perlu sungkan seperti itu” jawab Hyesun sambil tersenyum.

“Shin Bi-a, jangan nakal dan tidak boleh menyusahkan bibi Hyesun. Arasso” ucap Yeo Won.

“Ne. Arasso, omma. Shin Bi akan bersikap manis pada bibi Hyesun” jawab Shin Bi.

Minho, Hyesun ditambah Shin Bi pergi meninggalkan studio 6 MBC. Yeo Won masih mengamati punggung Minho, Hyesun dan Shin Bi sampai ketiganya masuk ke dalam lift.

*******

Na Hee keluar dari taksi yang berhenti di depan gedung megah MBC. Sebenarnya ia bisa saja minta diturunkan tepat di depan pintu lobi MBC. Namun, hal tersebut tidak dilakukan karena tak tahan dengan sopir taksi yang sepanjang jalan terus membujuknya agar direkomendasikan sebagai figuran dalam tayangan MBC. Setelah terbebas dari sopir taksi menyebalkan, Na Hee berjalan menelusuri halaman MBC yang lumayan luas. Dari arah lorong parkiran keluar mobil berwarna merah. Mobil tersebut berlalu di depan Na Hee. Kening Na Hee berkerut melihat isi dalam mobil yang baru saja lewat di hadapannya. Na Hee menemukan Minho, Hyesun dan seorang gadis kecil -yang tidak begitu ia pedulikan- berada dalam mobil tadi.

“Hyesun-ssi? Mau kemana dia bersama Minho-ssi? Bukankah seharusnya hari ini Seon Mi menemami Hyesun-ssi membeli keperluan pameran. Apa-apaan ini? Aku mencium bau mencurigakan” ucap Na Hee seorang diri. Ia lalu mengeluarkan ponsel dan menghubungi sebuah nomor.

*******

Mobil Minho

Kring ... kring ... kring ... suara ponsel Hyesun berteriak minta diangkat. Hyesun sedikit tersentak saat membaca nama yang tertera di layar ponsel.

“Yeoboseyo” sapa Hyesun pada si penelepon.

“YYA! HYESUN-SSI, KAU DI MANA?!” tanya si penelepon dengan kencang. Hyesun sampai-sampai harus menjauhkan ponsel dari telinga untuk menghindari suara cempereng di ujung ponselnya.

“Seon Mi-a, jangan berteriak seperti itu” protes Hyesun pada si penelepon yang ternyata adalah Seon Mi.

“Aku sungguh kesal! Dari tadi aku berputar-putar mencarimu di gedung MBC!” Seon Mi menumpahkan kedongkolannya pada Hyesun.

“Miane, aku sudah meninggalkan MBC, kau tidak perlu mencariku” jawab Hyesun.

“Mwo? Kenapa kau pergi begitu saja tanpa bilang dulu kepadaku?” tanya Seon Mi masih dengan penuh kekesalan.

“Miane, jeongmal miane. Aku lupa. Sekarang kau tolong bawa mobilku ke rumah setelah itu kau bisa bebas melakukan apa saja” jawab Hyesun.

“Mwo? Yya, Hyesun-ssi, sebenarnya kau ada dimana? Dari tadi kau aneh sekali” tanya Seon Mi.

“Sudahlah kau tidak perlu banyak tanya. Lakukan saja perintahku tadi” jawab Hyesun.

“Bukankah kita mau membeli perlengkapan pameran?” tanya Seon Mi lagi.

“Tidak jadi” jawab Hyesun.

“Lalu kapan kita akan membelinya? Besok kau akan ke Jepang, kalau tidak sekarang kapan lagi?” tanya Seon Mi.

“Kapan-kapan” jawab Hyesun asal-asalan.

“Kapan-kapan?” gumam Seon Mi seorang diri saat Hyesun memutuskan hubungan telepon mereka begitu saja.

Setelah perbincangannya dengan Seon Mi berakhir, Hyesun hendak memasukan ponsel ke dalam tas tapi keburu disambar oleh Minho.

“Yya, kau mau apa?” tanya Hyesun.

Minho tidak menjawab pertanyaan Hyesun. Sambil tetap mengemudi, ia mematikan ponsel Hyesun dan melempar ke jok belakang.

“Yya, apa yang kau lakukan?” tanya Hyesun lagi.

“Hari ini kau milikku. Tidak ada yang boleh mengganggumu” jawab Minho sambil tersenyum nakal.

“Aish ...” ucap Hyesun sambil melirik Shin Bi yang terbengong di pangkuannya.

“Shin Bi-a, jangan dengarkan ucapan paman” bisik Hyesun pada telinga Shin Bi.

*******

Na Hee mondar-mandir di lobi utama MBC sambil menggaruk-garuk kepala. Ia berusaha menghubungi Hyesun tapi selalu gagal. Usaha pertama tidak berhasil karena ponsel Hyesun sedang sibuk menerima panggilan lain sementara usaha kedua juga tidak sukses karena kali ini ponsel Hyesun tidak aktif.

“Aigoo ... Hyesun-ssi, sebenarnya ada apa ini? Kenapa kau tidak bisa dihubungi?” ujar Na Hee yang kini diselimuti kepanikan. Ia akhirnya memutuskan menelepon Seon Mi.

“Seon Mi-a, kau dimana?” tanya Na Hee setelah Seon Mi mangangkat teleponnya.

“Sedang dalam perjalanan ke rumah Hyesun-ssi” jawab Seon Mi.

“Untuk apa?” tanya Na Hee.

“Mengantarkan mobilnya. Tadi aku habis dari gedung MBC bersama Hyesun-ssi” jawab Seon Mi.

“Mwo? Untuk apa ke MBC? Bukankah harusnya kalian membeli perlengkapan pameran? tanya Na Hee lagi.

“Entahlah. Aku juga tak tahu untuk apa Hyesun-ssi pergi ke MBC” jawab Seon Mi.

“Lalu di mana Hyesun-ssi sekarang?” tanya Na Hee.

“Tidak tahu. Setelah aku memarkirkan mobilnya, Hyesun-ssi tiba-tiba menghilang” jawab Seon Mi.

“Mworagu? Kau tidak tahu Hyesun-ssi ada di mana dan bersama siapa?” tanya Na Hee.

“Ne. Aku benar-benar tidak tahu. Memangnya ada apa?” kali ini Seon Mi yang bertanya.

“Anhiyo. Sudahlah kepalaku pusing. Aku tutup ya. Bye” ucap Na Hee.

“Bye” jawab Seon Mi.

Na Hee bertambah panik setelah menelepon Seon Mi. Ia khawatir ada yang memergoki keberadaan Hyesun bersama Minho. Orang awam pasti akan menafsirkan yang tidak-tidak melihat kebersamaan mereka.

‘Hyesun-ssi, kuharap kau tidak melakukan hal yang aneh-aneh jika tidak ingin karirmu berantakan’ ucap Na Hee dalam hati.

*******

Minho membawa Hyesun dan Shin Bi ke pusat perbelanjaan terbesar di Seoul. Beberapa atribut digunakan Minho dan Hyesun untuk menutupi identitas mereka. Kaca mata hitam berukuran besar melingkari bola mata Hyesun. Begitu pula dengan Minho. Batang hidungnya yang bangir diduduki oleh kaca mata hitam yang mirip dengan punya Hyesun. Tidak cuma itu, mereka juga menggunakan masker. Jangan merasa aneh dengan benda yang disebut belakangan. Kaca mata hitam memang barang yang lumrah digunakan orang untuk menutupi identitas aslinya, lalu bagaimana dengan masker? Apa Minho dan Hyesun tidak khawatir masker tersebut justru akan mengundang kecurigaan orang?

Akhir-akhir ini masker menjadi benda yang selalu dipakai penduduk Seoul saat berpergian. Mereka berusaha memproteksi diri menggunakan penutup wajah tersebut mengingat virus H1N1 sedang mewabah di sana. Jadi, Minho dan Hyesun tidak perlu cemas dianggap aneh oleh orang lain karena hampir seluruh pengunjung pusat perbelajaan itu juga memakai benda yang sama dengan mereka. Minho mendandani Shin Bi dengan atribut serupa minus kaca mata hitam karena keponakannya ini tidak mau memakai benda tersebut. Maka, lengkap sudah penyamaran mereka.

Minho melenggang bebas di tengah keramaian tanpa ada orang yang mengenali. Tangan kirinya menggendong Shin Bi sedangkan tangan kanannya menggandeng Hyesun. Sedetikpun Minho tidak pernah melepaskan genggamannya pada tangan Hyesun. Mereka benar-benar mirip sepasang suami-istri dengan satu putri.

Minho membawa Hyesun ke pusat perbelanjaan tanpa tujuan membeli sesuatu. Ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama Hyesun. Berbagai benda, mulai dari pakaian, sepatu, tas dan lain sebagainya, yang terpajang di etalase tidak menarik di mata Minho. Sesosok gadis yang berjalan di sampingnya lebih memiliki daya magnet besar bagi sepasang bola mata Minho. Ia terus saja melirik ke arah Hyesun. Meski mata Minho tertutup kaca mata hitam, tapi Hyesun dapat merasakan kalau Minho sedang memandanginya.

“Yya, apa yang kau lihat? Jika kau berjalan seperti ini, orang di depanmu akan tertabrak” tegur Hyesun.

“Salahmu sendiri. Kenapa lahir dengan wajah secantik itu, hingga membuatku tidak bisa berhenti memandangimu” jawab Minho sambil tersenyum.

“Aish! Kau ini ... Lihat ke depan“ jawab Hyesun sambil menghempaskan tangan ke pipi Minho hingga posisi wajah Minho lurus ke depan.

“Tidak mau” jawab Minho yang kembali menolehkan wajahnya ke arah Hyesun.

“Kau ini apa-apaan sih. Tidak malu pada Shin Bi?” tanya Hyesun sambil tersenyum.

“Ahni” jawab Minho tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Hyesun.

Shin Bi tidak tertarik dengan ulah pamannya. Gadis kecil ini tengah asyik mengamati barang dagangan yang dipajang di etalase. Matanya sibuk mengitari seluruh penjuru toko. Huruf O tiba-tiba tercetak di mulut Shin Bi saat melihat sebuah boneka Teddy Bear berukuran jumbo.



“Kita ke sana” ucap Hyesun.

Kali ini bola mata Minho beralih dari wajah Hyesun. Pandangannya mengikuti jari telunjuk Hyesun yang mengarah ke toko boneka.

“Untuk apa? Masa sebesar ini kau minta dibelikan boneka” tanya Minho.

“Bukan aku, tapi Shin Bi” jawab Hyesun sambil mengarahkan matanya menuju Shin Bi.

“Arasso” Minho langsung membawa Hyesun dan Shin Bi menuju toko boneka.

Sesampainya di dalam toko, mereka disambut seorang wanita berseragam pelayan.

“Adik kecil mau boneka yang mana?” tanya pelayan toko dengan ramah.

Shin Bi langsung mengarahkan jari telunjuknya, tanpa bersuara sedikitpun. Jari telunjuk bocah ini tepat mengarah ke boneka Teddy Bear besar yang ia incar dari tadi. Pelayan toko tersebut segera mengambilkan boneka yang dimaksud Shin Bi.

“Shin Bi suka boneka ini?” tanya Minho setelah sebuah boneka Teddy Bear setinggi Hyesun berada di hadapan mereka.

“Ne” jawab Shin Bi disertai anggukan berulang kali.

Minho tersenyum melihat antusiame Shin Bi terhadap boneka Teddy Bear raksasa tersebut. Ia memutuskan untuk membelikan Shin Bi boneka itu dengan berkata “Baiklah, pa ...” Minho berhenti di sini. Kata ‘paman’ yang sudah di ujung lidah, ditelan kembali begitu terlintas sebuah ide dalam kepala Minho.

Setelah beberapa detik terdiam Minho melanjutkan kalimatnya.

“Shin Bi-a, appa (Hyesun langsung terkejut dan segera menoleh ke arah Minho begitu mendengar ‘appa’) akan membelikan boneka ini dengan satu syarat. Shin Bi harus berjanji pada appa tidak lagi minta gendong sama omma. Kasihan kan adik bayi dalam perut omma” ucap Minho sambil mengelus-elus perut Hyesun.

Belum selesai keterkejutannya dengan kata ‘appa’ yang diucapkan Minho, Hyesun kembali dibuat terperangah oleh tingkah Minho. Kepalanya yang sedari tadi menengadah ke arah Minho kini tertunduk mengamati perutnya yang dielus tangan Minho. Hyesun kembali menengadahkan kepala ke arah Minho lalu menunduk lagi melihat perutnya. Gerakan seperti ini terus diulangi Hyesun berkali-kali tanpa sanggup mengeluarkan bantahan. Ulah Minho barusan benar-benar membuat Hyesun terkejut sampai-sampai ia lupa harus menyanggah pernyataan iseng Minho.

“Oh, jadi adik kecil ini akan segera menjadi kakak ya. Aku ucapkan selamat nyonya” ucap pelayan toko pada Hyesun.

Hyesun hanya membalas ucapan selamat dari pelayan toko dengan sebuah anggukan kecil. Ia masih terlihat melongo sedangkan Minho tak mampu menghentikan bahunya yang terus bergetar akibat menahan tawa. Shin Bi juga dibuat binggung dengan perkataan Minho namun itu tak berlangsung lama. Gadis kecil ini tidak mau ambil pusing dengan omongan Minho. Yang terpenting bagi Shin Bi adalah membawa pulang boneka Teddy Bear kesukaannya.



Selesai mengurus administrasi boneka Teddy Bear, Minho, Hyesun dan Shin Bi meninggalkan toko. Mereka kembali menyusuri pusat perbelanjaan tersebut. Ketika sampai di stand buah-buahan, Shin Bi yang sudah tidak digendong Minho, tiba-tiba menghentikan langkahnya.

“Paman, Shin Bi mau itu” ucap Shin Bi sambil menunjuk ke arah tumpukan jeruk.

Minho melirik Hyesun seraya minta persetujuan darinya. Setelah Hyesun menggangguk, mereka menghampiri pedagang jeruk yang dimaksud Shin Bi.

“Berapa harga jeruk ini?” tanya Minho pada pedangang jeruk.

“5000 won per kilo” jawab pedagang jeruk.

“Mwo? Mahal sekali. Apa tidak ada potongan harga?” tanya Minho sambil memilih-milih jeruk.

“Maaf, tuan. Harga di sini tidak bisa ditawar” jawab pedagang jeruk.

“Ayolah paman, berikan kami potongan harga. Istriku ini (tiba-tiba Minho merangkul bahu Hyesun) sedang hamil muda, ia ngidam makan jeruk. Dari kemarin terus saja merengek minta dibelikan jeruk” ucap Minho.



Hyesun kembali terkejut oleh ulah Minho. Kali ini dia tidak tinggal diam. Hyesun mencubit pinggang Minho sekuat-kuatnya. Minho berusaha menyembunyikan rasa sakit akibat cubitan Hyesun dengan pura-pura menyunggingkan senyum.

“Baiklah. Saya beri tuan potongan 1000 won. Sebenarnya istri saya juga sedang hamil jadi saya bisa merasakan kerepotan tuan memenuhi permintaan aneh wanita hamil” jawab pedagang jeruk.

“Gomawo. Ternyata kita senasib” ucap Minho. Kemudian Minho mendekatkan kepalanya pada pedagang jeruk lalu berkata, “Paman, istriku ngidamnya sangat parah. Masa dia minta ...” bisikan Minho pada telinga pedagang jeruk tidak terselesaikan. Pelintiran keras di pinggang menahan kalimat Minho. Ia kembali merasakan cubitan Hyesun yang kali ini 10 kali lipat lebih keras dari sebelumnya.

Walaupun tidak mendengar isi bisikan Minho, Hyesun dapat menyimpulkan bahwa Minho sedang bertindak iseng lagi. Karena tidak mau kembali kecolongan, Hyesun buru-buru mengambil tindakan pencegahan. Cubitannya berhasil menghentikan keisengan Minho. Minho mengangkat kedua tangan sebagai tanda akan menghentikan keisengannya.

“Kalau begitu aku beli 10 kilo” ucap Minho.

Setelah menerima 10 kilo jeruk, Minho mengeluarkan 40.000 won dari dompetnya. Kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanan. Hyesun menuntun Shin Bi sementara Minho tampak kewalahan menenteng 10 kilo jeruk ditambah boneka Teddy Bear besar. Di tengah kerepotan membawa belanjaan, Minho menyempatkan mengelus pinggangnya sendiri.

“Aigoo, pinggangku sakit sekali. Wanita hamil memang cepat tersulut emosi” ucap Minho sambil memegangi pinggang yang masih terasa nyeri setelah 2 kali berturut-turut menerima cubitan keras Hyesun.

Hyesun membelalakan mata ke arah Minho sambil berkata, “Aish, Minho-a bisakah kau menghentikan semua ...”

“Mwo?! Maaf tuan saya mengganggu. Secara tidak sengaja tadi saya mendengar anda menyebut ‘wanita hamil’. Apakah yang anda maksud dengan ‘wanita hamil’ adalah istri anda ini?” tanya seorang ibu paruh baya yang tiba-tiba menahan langkah Minho. Ibu sok tahu tersebut mengira Hyesun adalah istri Minho yang sedang hamil.

“Ne. Waeyo?” tanya Minho penasaran.

“Sebaiknya tuan mampir ke toko saya ini” jawab ibu tadi sambil mempersilahkan Minho masuk ke dalam tokonya.

Minho dan Hyesun langsung mengalihkan pandangan mereka ke dalam toko ibu tersebut. Mata Hyesun lagi-lagi terbelalak. Suara tawa Minho terdengar keras setelah itu hingga membuat ibu tadi kebingungan. Minho tidak mampu menahan tawa ketika melihat isi toko si ibu yang ternyata dipenuhi oleh perlengkapan bayi.

“Anhyo. Gomawoyo. Kami tidak memerlukannya” jawab Hyesun.

“Aigoo ... Sebaiknya nyonya mulai menyicil membeli perlengkapan bayi mulai dari sekarang. Nanti kalau perut anda sudah tambah besar, anda tidak perlu repot-repot belanja keperluan bayi” ucap ibu tersebut.

“Kami benar-benar tidak memerlukannya ... Ah, lagipula aku masih menyimpan baju kakaknya, aku rasa kami bisa menggunakan itu” jawab Hyesun sambil mengelus rambut Shin Bi untuk memperjelas siapa yang dimaksud dengan ‘kakak’.

Minho tertawa mendengar kebohongan Hyesun. Ibu tersebut bermaksud merayu Hyesun tapi Hyesun sudah keburu berlalu sambil mengangkat Shin Bi ke dalam gendongannya. Minho mengikuti Hyesun dari belakang setelah berkata “Maaf, aku rasa istriku benar. Kami permisi dulu” pada ibu penjual perlengkapan bayi yang merasa kecewa telah gagal mendapatkan pembeli.

*******

Setelah lelah berkeliling, Minho membawa Hyesun dan Shin Bi ke sebuah restoran. Minho memesan ruang VIP supaya lebih leluasa menyantap hidangan. Ia juga berpesan agar tidak ada pelayan yang masuk jika tidak dipanggil.

“Wae? Apa kau masih marah?” tanya Minho yang sudah tidak mengenakan atribut penyamaran setibanya di ruang VIP. Ia merasa khawatir melihat tampang cemberut Hyesun saat masker dan kaca mata hitam tidak lagi menutupi wajah putih Hyesun.

“Menurutmu?” Hyesun justru balik bertanya pada Minho sambil melepaskan masker yang dipakai Shin Bi.

“Yya, aku hanya bercanda” ucap Minho sambil mencolek lengan Hyesun.

“Tapi candaan mu itu kelewatan” jawab Hyesun.

“Apa iya? Kalau candaan ku kelewatan kenapa kau ikut-ikutan berbohong pada ibu penjual perlengkapan bayi tadi?” tanya Minho.

“Itu karena aku ingin segera terbebas dari ibu tersebut” jawab Hyesun.
 
“Miane. Aku tidak bermaksud membuatmu marah. Lagipula situasi seperti tadi akan segera kita alami, hanya tinggal menunggu waktu saja” ucap Minho.

“Yya! Aku akan benar-benar marah jika kau tidak segera menghentikan candaan mu!” ancam Hyesun.

“Anhi. Kali ini aku tidak sedang bercanda. Aku bersungguh-sungguh menjalani hubungan kita” ucap Minho dengan mimik serius.



Minho merogoh saku celana lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil yang selalu ia bawa kemana-mana sejak 6 hari yang lalu. Ada sepasang cincin emas putih di dalam kotak tersebut. Minho mengambil yang berukuran lebih kecil kemudian meraih tangan Hyesun lalu melingkarkan cincin itu pada jari manis Hyesun.

“Minho-a, ini ...” Hyesun tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Tindakan Minho barusan terlalu menyentuh baginya. Hyesun hanya bisa memandangi cincin yang baru saja dipasangkan Minho. Sebuah desiran lembut hadir dalam hati Hyesun. Rasa jengkel akibat keisengan Minho melebur dalam suasana romantis yang seketika menyelimuti ruangan restoran itu. Mata Hyesun tetap terpaku pada jari manisnya karena ia masih tersentuh dengan kejutan Minho.

“Sebenarnya aku ingin memberikan cincin ini saat di galerimu pada malam itu. Tapi ternyata, kau malah sok jual mahal” ledek Minho.

Hyesun segera memelototi Minho yang sedang tertawa cekikikan. Suasana romantis yang baru saja dibangun Minho langsung hancur berkat ulah Minho sendiri. Perasaan tersentuh yang dirasakan Hyesun luntur seketika. ‘Kenapa sih dia paling pandai merusak suasana’ Hyesun menggerutu dalam hati.

“Yya, kenapa diam saja? Cepat pasangkan cincin ini di jari ku” Minho menunjuk sebuah cincin yang masih tersisa satu dalam kotak tadi.

Hyesun mengambil cincin tersebut lalu memasangkan ke jari Minho dengan cepat tanpa meninggalkan kesan romantis. Minho tersenyum dengan tingkah Hyesun. Ia mengerti bahwa Hyesun masih kesal dengan ungkapan ‘sok jual mahal’ yang baru saja diucapkannya.

“Aigoo ... betapa indahnya cincin ini ... cik ... cik ... cik ...” ujar Minho sambil memandangi cincin yang baru dipasangkan Hyesun.

“Paman, kenapa cincinnya hanya dua? Cincin untuk Shin Bi mana?” pertanyaan Shin Bi menghentikan Hyesun memelototi Minho.

Sejak awal, Shin Bi tidak peduli dengan aktivitas dua orang di hadapannya. Ia sibuk melahap es cream coklat yang kini sudah habis tiga perempat bagian. Shin Bi mulai tertarik dengan pembicaraan antara Minho dan Hyesun saat ia melihat cincin yang sangat indah.

Mendengar perkataan Shin Bi barusan, secara bersamaan Minho dan Hyesun menoleh ke arah Shin Bi. Mereka tersenyum melihat mulut Shin Bi yang dipenuhi dengan lumuran coklat. Hyesun mengambil sehelasi tisu lalu membersihkan mulut Shin Bi.

“Shin Bi-a, kenapa es crem dulu yang dimakan? Harusnya Shin Bi makan nasi terlebih dahulu supaya perut Shin Bi tidak sakit” ucap Hyesun sambil menyuapi Shin Bi dengan nasi setelah selesai membersihkan mulut gadis kecil itu.

Shin Bi menggelengkan kepala dan merapatkan mulutnya. Keponakan Minho ini memang susah menelan nasi. Sama halnya dengan kebanyakan anak kecil yang lain, Shin Bi juga lebih suka mengisi perutnya dengan berbagai jajanan seperti es cream, coklat ataupun permen. Yeo Won sendiri sering dibuat kelimpungan dengan ulah Shin Bi yang susah makan nasi. Minho tahu dengan jelas akan hal ini. Oleh karena itu, Minho merasa yakin bahwa Shin Bi tidak akan mau memakan nasi yang disuapi Hyesun.

“Bibi Hyesun akan membelikan Shin Bi sebuah cincin asalkan Shin Bi makan nasi ini dulu” bujuk Hyesun.

“Jinja?” tanya Shin Bi dengan mata berbinar.

“Hmm” jawab Hyesun disertai anggukan dan senyuman.

“AAA ...” Shin Bi membuka mulutnya lebar-lebar hingga Hyesun bisa dengan leluasa menyuapi Shin Bi.

Tanpa disadari oleh Shin Bi ataupun Hyesun, Minho mengamati tingkah mereka. Senyuman mengembang di bibir Minho. Ia terpukau dengan sosok keibuan yang terdapat dalam diri Hyesun. Minho makin memantapkan hati untuk menjatuhkan pilihan kepada Hyesun sebagai ibu dari anak-anaknya kelak.

*******

Bandara Incheon. Keesokan harinya.
Hari ini para pemain BOF, mulai dari Minho, Hyesun, Kim Hyun Jung, Kim Bum hingga Kim Jun, akan memulai promo tour. Jepang adalah tujuan pertama mereka. Ke 5 pemain BOF akan bertandang ke Negeri Sakura itu guna mempromosikan drama terbaru mereka.

Hyesun yang sudah tiba dari tadi terlihat sedang berbincang dengan Kim Bum. Bukan perbincangan serius tampaknya, hanya obrolan ringan sambil menunggu kehadiran pemain lain. Tidak lama kemudian Minho datang menghampiri mereka.

“Ini” Minho mengulurkan tangan yang memegang ponsel kepunyaan Hyesun kepada pemiliknya.

Hyesun langsung menyambar ponsel dari telapak tangan Minho. Ia tidak suka dengan sikap Minho yang sengaja mengembalikan ponselnya di depan Kim Bum.

‘Bisakah kau memilih situasi yang tepat’ gerutu Hyesun dalam hati.

“Kemarin tertinggal di mobilku. Kau ceroboh sekali” Minho malah dengan senang hati membuka penyebab ponsel Hyesun bisa berada di tanggannya. Ia seolah sengaja memamerkan kedekatan dirinya dengan Hyesun di depan Kim Bum.

‘Akh, apa harus diperjelas sedetail itu di hadapan Kim Bum. Lagi pula bukan aku yang ceroboh. Kau yang seenaknya melempar poselku ke jok belakang’ lagi-lagi Hyesun menggerutu dalam hati.

“O ... OW ... Bagaimana caranya ponsel mu bisa berada di mobil Minho?” tanya Kim Bum pada Hyesun.

“He ... He ... Itu karena ... ehmm ... kemarin aku ...” Hyesun kesulitan menjawab pertanyaan mudah Kim Bum.

“Kemarin kami ke mall. Keponakanku minta dibelikan boneka” Minho berinisiatif mengambil alih pertanyaan Kim Bum.

“Hanya sekedar membeli boneka?” pertanyaan menyelidik keluar dari mulut Kim Bum.

“Anhi” Minho menggelengkan kepala.

“Lalu apa yang kalian lakukan setelah membeli boneka?” tanya Kim Bum dengan antusias tinggi.

“Kami juga membeli jeruk. Karena dikasih potongan harga, jadi aku beli 10 kilo” dengan semangat Minho mengangkat kedua tangan yang kesepuluh jarinya dibentangkan saat mengucapkan 10 kilo.

Kim Bum langsung lesu dengan penjelasan Minho. Ia tidak mengira Minho hanya akan menambahkan jawabannya dengan informasi tidak penting.

‘Aku kira dia mau ngomong apa. Ngga penting banget sih Minho, pake nyeritain beli 10 kilo jeruk segala’ Kim Bum hanya menyampaikan kekecewaannya pada diri sendiri.

Tiba-tiba Kim Bum tersentak. Antusiasnya kembali bangkit begitu melihat benda mencurigakan di jari Minho saat Minho membentangkan jarinya.

“Cincin apa ini?” tanya Kim Bum pada Minho.

“Oh, ternyata kau punya juga!” Kim Bum langsung beralih ke jari Hyesun tanpa menunggu jawaban Minho.

“Bum-a, kau jangan berpikir macam-macam” jawab Hyesun.

“Ahniyo. Yang ada dipikiranku hanya satu macam saja” jawab Kim Bum sambil mengangkat tangan dengan jari telunjuk saja yang berdiri.

“Chukae” ucap Kim Bum lagi.

“Untuk apa?” tanya Hyesun.

“Apa perlu aku jelaskan di sini. Manager kalian bisa kebakaran jenggot” jawab Kim Bum yang melihat Sang Ji dan Na Hee berjalan mendekati mereka.

Minho dan Hyesun mengalihkan pandangan ke arah Sang Ji dan Na Hee. Ekspresi kedua manager tersebut tampak begitu menyeramkan. Kalau saja Shin Bi ada di situ, keponakan Minho ini dijamin nangis karena ketakutan.

“Miane, Kim Bum-ssi. Kami ada perlu dengan Minho-ssi dan Hyesun-ssi” Sang Ji berkata dengan raut muka serius.

“Ne. Aku juga sudah selesai dengan mereka” Kim Bum tidak ingin berlama-lama menyaksikan tampang menyeramkan Sang Ji.

Dengan cepat Sang Ji menarik tangan Minho sementara Na Hee menggandeng tangan Hyesun. Minho-Hyesun digiring Sang Ji-Na Hee layaknya penyelundup narkoba terjaring razia polisi bandara karena ketangkap basah sedang bertransaksi.

To Be Continued

Saking asyiknya ngayal ampe ngga kerasa ternyata chp.4 udah menghabiskan 30 halaman MS Word. Kalo diposting sekaligus panjang bgt, jadi aku bagi 2. Lanjutannya aku post besok aja ya.