Chapter 4 Part 2 Of 2
Minho dan Hyesun mengalihkan pandangan ke arah Sang Ji dan Na Hee. Ekspresi kedua manager tersebut tampak begitu menyeramkan. Kalau saja Shin Bi ada di situ, keponakan Minho ini dijamin nangis karena ketakutan.
“Miane, Kim Bum-ssi. Kami ada perlu dengan Minho-ssi dan Hyesun-ssi” Sang Ji berkata dengan raut muka serius.
“Ne. Aku juga sudah selesai dengan mereka” Kim Bum tidak ingin berlama-lama menyaksikan tampang menyeramkan Sang Ji.
Dengan cepat Sang Ji menarik tangan Minho sementara Na Hee menggandeng tangan Hyesun. Minho-Hyesun digiring Sang Ji-Na Hee layaknya penyelundup narkoba terjaring razia polisi bandara karena ketangkap basah sedang bertransaksi.
*******
“Apa benar yang diceritakan Na Hee padaku?” Sang Ji langsung menyerang Minho dengan pertanyaan setibanya mereka dalam suatu ruangan tertutup.
“Mwo? Na Hee noona, apa yang kau ceritakan pada Hyung” tanya Minho pada Na Hee.
“Kemarin siang di gedung MBC aku melihat kalian berada dalam mobil yang sama” jawab Na Hee.
“Onnie, kau melihat kami?” Hyesun tidak menyangka Na Hee memergokinya.
“Ne. Aku dan Hyesun ke mall bersama Shin Bi” jawab Minho.
“Mworagu? Minho-ssi, berani sekali kau membawa Hyesun-ssi ke mall” Sang Ji mulai tak bisa mengendalikan emosinya.
“Shin Bi minta dibelikan boneka. Jadi kami pergi ke sana” jawab Minho.
“Aku tidak peduli kalian membeli apa di mall. Apa ada orang lain yang melihat kalian berdua?” tanya Sang Ji.
“Kurasa tidak ada” jawab Minho enteng.
“Kurasa katamu? Aku butuh jawaban pasti” cecar Sang Ji.
“Aku yakin tidak ada yang melihat kami sebab kami memakai kaca mata hitam dan menggunakan masker penutup wajah” jawab Hyesun.
“Aigoo ... aku bisa terkena serangan jantung dengan ulah sembrono kalian” Sang Ji memijit-mijit keningnya sendiri.
“Apa kalian ‘bersama’?” tanya Na Hee.
“Ne. Tadi kan sudah aku bilang, kami memang pergi bersama” jawab Minho.
“Anhi. Bukan itu maksudku” jawab Na Hee.
“Lalu maksud onnie apa?” tanya Hyesun.
“Yang kumaksud, apa kalian berdua memutuskan untuk bersama sebagai pasangan kekasih?” tanya Na Hee.
“Mwo?” Hyesun terperanjat dengan tebakan Na Hee.
“Ne. Kami sudah resmi berpacaran” jawab Minho sambil merangkul bahu Hyesun.

“Yya” Hyesun menyikut Minho.
Wajah Hyesun sedikit cemberut. Ia tidak setuju dengan keterbukaan Minho pada Na Hee dan Sang Ji. Awalnya Hyesun ingin meminta Minho agar berjanji untuk menyembunyikan dulu hubungan mereka dari manager masing-masing. Namun nyatanya ia lupa membuat kesepakatan itu dengan Minho.
“Aigo ... Aigo ... Aigo ... sekarang aku benar-benar terkena serangan jantung” Sang Ji memegang dadanya yang terasa sesak akibat pengakuan jujur Minho.
“Kalian sungguh seenaknya! Kenapa tidak mendiskusikan dulu dengan kami?” tanya Na Hee.
“Apa kami perlu minta izin kalian? Kalian tidak bisa mengendalikan kami sampai sejauh itu” jawab Minho.
“Minho-ssi, aku ...” Na Hee tidak bisa melanjutkan kalimatnya begitu Sang Ji menyela.
“Sudah ... sudah ... kita bahas setelah kembali dari Jepang. Pesawat akan take off sebentar lagi. Sebaiknya kita segera bergegas” Sang Ji memutuskan mengakiri perdebatan mereka. Ia butuh ketenangan untuk berpikir dalam menghadapi ulah artis yang dikelolanya.
*******
Minho dan Hyesun memasuki pesawat. Kim Hyun Jung, Kim Bum dan Kim Jun sudah berada di kursi masing-masing. Mereka menyisakan dua kursi pesawat yang saling berhadapan untuk ditempati Minho dan Hyesun. Ketiganya seolah menyadari ada sesuatu di antara pemain utama BOF tersebut.
Perjalanan menuju Jepang dipenuhi canda tawa Minho dan Hyesun. Senda gurau di antara mereka tidak berhenti meski Kim Hyun Jung, Kim Bum dan Kim Jun tampak lelap tertidur.
*******
Pesawat yang ditumpangi para pemain BOF mendarat di Jepang. Ribuan fans menyambut kedatangan mereka. Wartawan infotainment setempat juga antusias meliput promo tour BOF di Jepang. Bodyguard yang sudah disiapkan panitia dibantu security bandara sibuk menghalau serbuan penggemar serial BOF. Teriakan “Lee Min Ho!”, “Goo Hye Sun!”, “Kim Hyun Jung!”, “Kim Bum!”, “Kim Jun!” menambah riuh suasana bandara saat itu.
Kim Hyun Jung, Kim Bum dan Kim Jun sudah aman dalam mobil yang akan membawa mereka ke hotel. Minho dan Hyesun masih terjebak dalam kerumunan fans. Bodyguard dan security bandara baru bisa membebaskan kedua artis tersebut setelah berusaha keras. Minho memasuki mobil yang di dalamnya sudah terisi 3 pemain lain sementara Hyesun mengikutinya dari belakang.
“Waeyo?” tanya Hyesun pada Na Hee yang tiba-tiba memegang tangannya.
“Jangan naik mobil ini” Na Hee mencegah Hyesun memasuki mobil yang sama dengan Minho.
“Ne?” Hyesun heran dengan larangan Na Hee.
“Kau ikut mobil itu saja” telunjuk Na Hee terarah ke sebuah mobil bercat hitam.
“ooo ... arasso” jawab Hyesun.
Minho mendengar perintah Na Hee pada Hyesun. Ia berniat keluar dari mobil dan ikut ke mobil yang sama dengan Hyesun.
“Kau tetap di sini, Minho-ssi” cegah Sang Ji.
“Hyung-a, waegude?” tanya Minho binggung.
“Di pesawat tadi kalian sudah terlalu mencolok. Jangan menambah urusan menjadi runyam. Kita ada di Jepang sekarang. Aku harap kau bisa menjaga sikap” tegur Sang Ji.
Na Hee dan Sang Ji berkonsolidasi untuk memisahkan Minho dan Hyesun dalam mobil berbeda. Mereka tidak mau ada gossip tak sedap muncul di tengah promo tour BOF kali ini.
Meski tidak menumpangi mobil yang sama, komunikasi Minho dan Hyesun tetap tidak terputus. Mereka masih terhubung via sms. Minho yang pertama kali berinisiatif mengirim sms ke Hyesun. Dengan senang hati Hyesun membalas sms Minho. Sang Ji dan Na Hee tidak curiga dengan ulah Minho-Hyesun. Kedua manager ini mengira artis mereka sedang bermain game dalam ponselnya.
*******
Malam harinya para pemain BOF menghadiri acara jumpa fans. Juru rias yang sengaja diboyong langsung dari Korea sibuk mendandani kelima artis pendukung BOF. Na Hee terus mendampingi Hyesun yang sedang di make up. Ia membawa Hyesun berdiri di sebuah cermin besar untuk meyakini tidak ada yang kurang pada diri Hyesun.
“OK! Perfect! Kau sangat cantik!” Na Hee merasa puas dengan penampilan Hyesun.
“Gomawo, onnie” balas Hyesun sambil tersenyum.
“Aish, hentikan senyummu. Aku tidak akan tergoda. Simpan saja untuk Minho-ssi” jawab Na Hee yang sedang memilih-milih aksesoris yang tepat untuk dikenakan Hyesun.
“Jeongmal? Kalau begitu aku mau menghampiri Minho dulu ya” ucap Hyesun yang langsung dibalas dengan pelototan mata Na Hee.
“He ... He ... He ... Arasso. Aku hanya bercanda” jawab Hyesun.
“Yya, apa ini?” Na Hee menemukan sebuah cincin emas putih di jari manis Hyesun saat ia hendak memakaikan Hyesun sebuah gelang.
“O, itu dari Minho” jawab Hyesun enteng.
“Yya! Onnie! Kembalikan cincinku!” Hyesun protes ketika Na Hee mencopot cincin pemberian Minho.
“Cincin ini aku sita untuk sementara. Akan kukembalikan seusai acara” jawab Na Hee.
“Omo!” Na Hee memukul kening sendiri saat terlintas suatu dugaan di kepalanya. Ia langsung berlari mendekati Minho yang hendak bersiap di belakang panggung. Langkah Na Hee diikuti Hyesun sedangkan langkah Hyesun diikuti tanda tanya. Hyesun tidak mengerti untuk apa Na Hee menghampiri Minho padahal tadi dia sendiri yang melarang mendekati Minho.
“Chakamanyo, Lee Min Ho-ssi!” Na Hee menahan langkah Minho menuju back stage.
“Mwo?” Minho heran melihat Na Hee berlari terbirit-birit ke arahnya. Sang Ji yang berdiri di dekat Minho juga merasakan hal yang sama dengan Minho.
“Ulurkan kedua tanganmu!” Na Hee memberi perintah tegas pada Minho hingga membuatnya tak kuasa mengelak.
“Sudah kuduga” ucap Na Hee ketika melihat ada sebuah cincin yang mirip dengan punya Hyesun melingkar di jari Minho.
“Yya, kau mau apa?” Minho menarik tanganya saat Na Hee berusaha melepaskan cincinnya.
“Onnie, apa yang kau lakukan?” Hyesun menegur sikap Na Hee pada Minho.
“Sang Ji-ssi, kau sungguh tidak becus mengurus majikanmu” kali ini Na Hee beralih kepada Sang Ji.
“Wae?” tanya Sang Ji.
“Lihat!” Na Hee mendekatkan cincin yang baru saja ia rebut dari jari Hyesun ke mata Sang Ji.
“Cincin ini ada sepasang. Yang satu sudah kuamankan dari jari Hyesun-ssi dan yang satu lagi masih melingkar di jari Minho-ssi” jawab Na Hee.
“Jeongmal? Minho-ssi coba ulurkan tanganmu” perintah Sang Ji. Minho pun mengulurkan tangannya.
“Tidak ada kan” ucap Minho dengan tampang polos.
Pasti tidak ada karena Minho mengulurkan tangan yang tidak terdapat cincin yang dimaksud Na Hee. Ia menyembunyikan tangan yang terdapat cincin ke belakang punggungnya.
“Ulurkan tangan satunya lagi!” Sang Ji mulai geregetan dengan ulah kekanakan Minho. Dengan malas Minho mengulurkan tanggannya.
“Aigoo, hampir saja aku kecolongan” Sang Ji segera melepas cincin yang berusaha disembunyikan Minho.
“Hyung ...” Minho tidak rela Sang Ji mengambil cincinnya. Ia memasang wajah memelas seolah meminta belas kasihan Sang Ji supaya mau mengembalikan cincin tersebut.
“Aku akan menyimpankannya untukmu” jawab Sang Ji.
Minho dan Hyesun tidak berkutik menghadapi otoritas managernya masing-masing. Mereka hanya bisa menuruti perintah Sang Ji dan Na Hee.
*******
Acara jumpa fans dimulai. Bangku penonton tidak ada yang kosong satu pun. Penggemar serial BOF dari berbagai kota di Jepang memenuhi tempat diselenggarakannya fans meeting. Mereka tidak rela melewatkan moment berharga untuk melihat langsung para pemain BOF.
Beberapa potongan adegan BOF diputar pada sebuah layar besar untuk membuka jumpa fans malam itu. Tepuk tangan dan hysteria fans menggema ke setiap sudut ruangan saat satu per satu pemain BOF tampil di atas panggung. Hyesun mendapat giliran pertama untuk keluar dari back stage. Ia melambaikan tangan, yang sudah tidak memakai cincin dari Minho, kepada seluruh fans. Hyesun mengambil posisi tepat di tengah panggung.

Tidak lama kemudian Minho menyusul Hyesun naik ke atas panggung. Ia menyapa fans Jepang dengan melambaikan tangan. Kalau bukan karena ketelitian Na Hee, Minho pasti bisa memamerkan cincin istimewanya kepada seluruh fans Jepang lewat lambaian tanggan tersebut. Ia kini berdiri persis di sebelah kanan Hyesun.
Kemunculan Minho diikuti Kim Hyun Jung. Si Pendiam Yoon Ji Hoo ini berdiri di sebelah kiri Hyesun. Kim Bum tampil setelah Hyun Jung. Seo Yi Jeong yang playboy ini berdiri di sebelah kanan Minho. Terakhir, muncul Kim Jun. Song Woo Bin yang penuh perhatian pada temannya ini berdiri di sebelah kiri Hyun Jung.
*******
Pulang dari Jepang, pemain BOF melanjutkan promosi serial mereka ke Taiwan. Tetapi kali ini hanya Minho dan Hyesun yang berkunjung ke negara tersebut. Sambil menyelam minum air. Peribahasa yang satu itu sangat cocok dengan Minho dan Hyesun. Pasangan kekasih ini bisa melakukan dua hal sekaligus. Bekerja sambil berkencan. Perjalanan ke Taiwan makin mempererat hubungan mereka.

Sang Ji dan Na Hee tidak melarang -karena sesungguhnya mereka memang tidak berhak melarang- Minho menjalin cinta dengan Hyesun. Kedua manager ini hanya berpesan agar hubungan Minho dan Hyesun tidak dipublikasikan. Sang Ji dan Na Hee juga berharap supaya Minho dan Hyesun tidak terlalu mengumbar kemesraan di depan umum.
Selang satu bulan pasca kunjungan ke Taiwan, Hyesun menggelar pameran. Sang Ji dan Na Hee mati-matian mencegah Minho mengunjungi pameran Hyesun. Mereka tidak ingin hubungan special Minho-Hyesun terendus public. Agar tidak terlalu mencolok, Minho berniat mengajak Min Jung. Sang Ji-Na Hee bisa bernapas lega dengan ide Minho. Namun jadwal Minho dengan sepupunya ini tidak pernah cocok. Sekalinya Minho ada waktu, Min Jung tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Begitu juga sebaliknya. Min Jung tidak sabaran menunggu sampai jadwal mereka klop. Akhirnya ia pergi sendiri ke pameran Hyesun. Minho yang ditinggal Min Jung cuma bisa manyun.

Minho mencari alternative lain. Ia menghubungi ketiga personil F4. Beruntunglah ada satu anggota F4 yang punya waktu luang. Kim Jun bersedia menemani Minho mengunjungi pameran Hyesun.
Bulan berikutnya, Kim Hyun Jung bersama SS501 mengadakan konser. Minho menghadiri konser itu bersama Hyesun. Tentu saja tidak pergi berduaan. Mereka membawa serta Kim Bum. Begitulah gaya pacaran pasangan ini. Selalu ada penyusup di antara mereka saat keduanya tampil di muka umum.
Liko’s note: Moment minsun yang udah terekspose sengaja ngga aku ceritain secara detil karena semua pasti udah pada hafal. Lagi pula aku pengen ngebut supaya Off Air bisa selesai sesuai aturan, mengingat jatah ff ini tinggal 1 chapter lagi.
*******
Selepas membintangi BOF, Minho dan Hyesun masih belum memutuskan comeback ke dunia layar kaca. Minho lebih memilih tawaran iklan ketimbang membintangi serial. Hyesun juga melakukan hal serupa. Di sela-sela kesibukannya merampungkan album dan menyusun Magic, Hyesun muncul di beberapa iklan. Ada yang dipasangkan dengan Jo In Sung, ada juga yang dipasangkan dengan Bi (Rain). Nama yang disebut terakhir, dikabarkan menaruh perasaan khusus pada Hyesun. Minho agak ketar-ketir saat merasa posisinya terancam dengan kehadiran Bi.
Untuk mengikat Hyesun, Minho memutuskan beranjangsana ke rumah keluarga Goo dalam rangka memproklamirkan keseriusannya mengencani Hyesun. Awalnya Hyesun keberatan karena merasa masih terlalu dini untuk menjajaki keluarga masing-masing. Berkat kesungguhannya, Minho berhasil mengantongi izin Hyesun untuk bertandang ke rumah gadis itu.
Sebelum datang ke rumah Hyesun, Minho pergi dulu ke rumah Yeo Won. Karena Han Jae Bin -suami Yeo Won- sudah pulang dari perjalanan bisnis, Yeo Won tidak lagi menginap di rumah orang tuanya. Ternyata ada udang di balik batu pada kehadiran Minho di rumah Yeo Won.
“Noona, kau harus meluangkan waktu untukku” niatnya ingin minta tolong pada Yeo Won, tapi Minho malah mengutarakannya seperti sebuah perintah.
“Waeyo?” tanya Yeo Won.
“Malam ini aku akan mengunjungi orang tua Hyesun. Noona wajib menemaniku” kali ini pun Minho menyampaikannya bak majikan memerintah bawahan.
“Ada acara apa?” Yeo Won meminta penjelasan Minho.
“Tidak ada yang special. Hanya kunjungan biasa. Aku ingin mengenal keluarga Hyesun lebih jauh agar hubungan kami semakin dekat” Minho merinci alasan di balik kunjungannya ke rumah Hyesun.
“Apa tidak terlalu cepat?” Yeo Won sependapat dengan Hyesun walau mereka tidak terlibat dalam perbincangan di waktu yang sama.
“Anhi. Semakin cepat semakin baik supaya orang tua Hyesun tahu hanya aku satu-satunya pria yang mengencani putri mereka” jawab Minho.
“Satu-satunya pria? Apa ada pria lain yang dekat dengan Hyesun?” tanya Yeo Won.
“Bi, Jo In Sung, Lee Seung Gi. Nama-nama itu membuat tidurku tidak pulas” ucap Minho.
“aaa ... rupanya ada yang takut pacarnya direbut orang” Yeo Won tersenyum ketika menyadari kekhawatiran Minho.

“Yya, aku bukannya takut. Aku sungguh percaya diri. Hyesun tidak akan berpaling dariku. Aku cuma ingin mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Pria-pria tadi kan hanya tahu kalau Hyesun single, public juga mengira begitu. Jadi aku ingin mempertegas keseriusan hubunganku dengan Hyesun di depan orang tuanya agar mereka tidak perlu menghiraukan kalau ada kabar seputar kedekatan Hyesun dengan pria lain” Minho berargumentasi panjang lebar dengan berapi-api.
Yeo Won mendengarkan curhatan adiknya dengan seksama. Ia merasa kekhawatiran Minho ada benarnya juga. Selama ini yang mengetahui hubungan Minho-Hyesun hanya Yeo Won, Min Jung, Sang Ji, Na Hee dan Seon Mi ditambah para sukarelawan yang sudah berjasa menjadi orang ketiga dalam kencan Minho-Hyesun, seperti Kim Bum dan Kim Jun. Nama-nama selain itu akan mengira bahwa Hyesun adalah gadis yang masih bebas. Tidak terkecuali orang tua mereka. Walau Minho sempat beberapa kali bertemu Mrs. Goo saat mengantar Hyesun pulang, namun orang tua masing-masing belum bisa menyimpulkan hubungan Minho-Hyesun akan bermuara kemana. Hanya sebatas kencan ala anak muda atau memang ada rencana jangka panjang dalam hubungan tersebut.
“Baiklah, aku akan menemanimu. Tapi bagaimana dengan Shin Bi? Sejak sering ditinggal syuting, aku jadi susah pergi tanpa Shin Bi. Dia pasti merengek minta ikut” ucap Yeo Won.
“Bawa saja. Shin Bi akan senang jika diajak bertemu Hyesun” jawab Minho.
Malam itu juga Yeo Won dan Shin Bi mendampingi Minho pada kunjungan pertamanya menemui orang tua Hyesun. Mr dan Mrs Goo menyambut dengan tangan terbuka kedatangan Minho. Mereka tidak keberatan dengan hubungan Minho dan Hyesun. Yang terpenting bagi kedua orang tua Hyesun adalah kebahagiaan putri mereka. Jika kebahagian itu ada di tangan Minho, Mr dan Mrs Goo dengan suka cita merestui hubungan Minho dan Hyesun.
Pada kunjungan kedua, selain menyertakan Yeo Won, Shin Bi dan Jae Bin, Minho juga turut memboyong Mr dan Mrs Lee. Pertemuan dua keluarga ini belum menjurus ke masalah yang lebih serius. Aktivitas masing-masing menjadi tema yang bergulir di antara Mr-Mrs Lee dan Mr-Mrs Goo. Pada akhir pertemuan Mr Lee mengundang Hyesun plus Mr-Mrs Goo untuk menghadiri makan malam di kediaman keluarga Lee. Maka satu minggu kemudian, gantian Hyesun dan keluarga Goo yang datang ke rumah Minho.
Selain kunjungan resmi bersama keluarga, Minho juga sering main ke rumah Hyesun seorang diri atau bersama Shin Bi. Di tengah kesibukannya, Minho meluangkan waktu untuk sekedar mampir mengunjungi orang tua Hyesun meski Hyesun tidak ada di rumah. Minho bermaksud membangun silaturahmi yang baik dengan calon mertuanya ini.
*******
Setelah merelease album, target Hyesun berikutnya adalah mengoperasikan Manolin. Di samping hubungan persahabatan, Hyesun dan Min Jung juga menjalin kerja sama ekonomi. Walau keduanya menjadi rival cinta di serial BOF, dua sahabat ini begitu kompak dalam kehidupan nyata. Mereka berpartner dalam bisnis café. Manolin merupakan café hasil patungan Hyesun dengan Min Jung. Hyesun dan Min Jung telah menetapkan tanggal pembukaan Manolin.

Minho berniat menghadiri pembukaan Manolin. Jauh-jauh hari ia sudah menghubungi triple Kim untuk mendampinginya dalam acara peresmian Manolin. Kali ini Minho kurang beruntung. Kim Bum tidak bisa diganggu karena jadwal syuting Flying Up begitu padat. Kim Hyun Jung sedang tour konser bersama SS501. Kim Jun juga sibuk naik turun panggung dengan T-Max. Tidak ada pemain BOF yang bisa dimintai tolong lagi. Minho hampir putus asa dengan keadaan ini. Saking putus asanya, nama Kim Seo Eun sempat ia jadikan kandidat untuk menemaninya ke acara perhelatan Hyesun-Min Jung. Kepala Minho langsung menggeleng cepat saat ide mustahil itu masuk ke otaknya. Mana mungkin Minho datang ke pembukaan Manolin didampingi Seo Eun. Selain kurang akrab, Minho juga tidak ingin menimbulkan spekulasi baru. Bukannya menolong, kehadiran Seo Eun malah jadi penyakit. Bisa-bisa ia digosipkan berkencan dengan Seo Eun.
Sampai pada hari H, Minho masih belum dapat pasangan yang cocok. Berbekal ikatan darah dengan Min Jung, Minho nekat datang seorang diri ke peresmian Manolin. Statusnya sebagai sepupu Min Jung dijadikan kambing hitam saat wartawan bertanya seputar kehadiran Minho. Untungnya wartawan percaya saja dengan alasan Minho.
*******
Setelah Manolin beroperasi, Minho sering mengendap-endap datang ke sana. Biasanya dia tiba saat pengunjung sudah mulai sepi. Begitu juga pada malam itu. Seusai bertemu Sang Ji untuk membahas project tahun depan, Minho langsung memacu mobilnya menuju Manolin.
“Ini” Minho meletakkan buku di atas meja begitu sampai di Manolin.
Hyesun memperhatikan buku yang baru saja diletakkan Minho. Ada 2 jumlahnya, yang satu dibungkus hard cover, satunya lagi kertas putih biasa. Personal Taste. Begitulah tulisan yang tercetak di halaman depan kedua buku tersebut.
“Apa ini?” tanya Hyesun.
“Yang ini novel PT” Minho menunjuk buku yang berhard cover.
“Dan yang ini naskah PT” Minho menunjuk buku satunya lagi.
“Lalu?” Hyesun masih terlihat binggung.
“Kau baca dan pelajari baik-baik novel dan naskah itu” Minho memerintah Hyesun.
“Untuk apa?” Hyesun tetap belum mengerti.
“Aku ditawari membintangi PT” ucap Minho.
“Kau yang ditawari PT, kenapa aku yang disuruh baca?” Hyesun semakin heran.
“Aku butuh izin darimu sebelum mengambil keputusan” jawab Minho.
“Izin? Kenapa pakai izin dariku segala?” kebingungan Hyesun belum selesai.
“Karena kau pacarku” jawab Minho.
“Aku memang pacarmu. Tapi masalah seperti apa perlu izin dariku?” tanya Hyesun lagi.
“Hm” Minho mengangguk.
“Wae?” Hyesun masih bingung meski sudah mengajukan lebih dari 6 pertanyaan.
“Karena dalam PT, banyak adegan romantis yang harus aku jalankan” jawab Minho.
“Memangnya adegan romantis seperti apa?” tanya Hyesun lagi.
“Makanya kau baca dulu novel dan naskah PT agar lebih jelas” ucap Minho.
“Yya, novel dan naskah ini begitu tebal aku tidak ada waktu membacanya. Magic ku saja keteteran, malah kau tambah dengan PT mu ini” protes Hyesun.
“Itu PR mu. Jangan sampai tidak dikerjakan” perintah Minho.
Jika sifat suka perintah Minho sudah keluar, tak ada yang kuasa menolak termasuk Hyesun. Dampaknya, beberapa hari setelah itu tugas Hyesun semakin membumbung berkat PR dari Minho.
*******
Manolin Café, 7 hari kemudian.
Seperti malam-malam sebelumnya, kali ini pun Minho menyambangi Hyesun di Manolin. Suhu malam itu di bawah nol derajat dalam skala Celcius. Minho dan Hyesun memutuskan duduk di depan tungku perapian. Lengan Minho disampirkan di bahu Hyesun sementara kepala Hyesun disandarkan di dada Minho.
“PR mu sudah selesai?” tanya Minho.
“Hm” jawab Hyesun.
“Apa keputusanmu?” tanya Minho lagi.
“Terserah padamu. Kalau kau suka, silahkan ambil. Jika tak suka, tolak saja” Hyesun beranjak dari sandarannya.
“Jangan bilang terserah. Aku ingin kau yang memutuskan, untuk itulah aku menyuruhmu membaca PT” Minho tidak suka dengan jawaban Hyesun.
“Bagaimana? Ambil atau tidak?” Minho mendesak Hyesun.
“Apa harus aku yang memutuskan?” tanya Hyesun.
“Ne” jawab Minho singkat.
“Ceritanya menarik, aku suka. Kau ambil saja” setelah beberapa lama terdiam Hyesun bersuara kembali. Jawaban yang sudah dinanti Minho keluar juga dari mulut Hyesun.
“Kau pasti tidak mengerjakan PR mu sampai tuntas. Novel dan naskah PT belum kau baca hingga habis kan?” tanya Minho.
“Anhi. Aku sudah membaca sampai halaman terakhir” jawab Hyesun.
“Kau tidak keberatan aku membintangi PT?” Minho kembali bertanya.
“Hm” Hyesun mengangguk satu kali.
“Kau yakin akan baik-baik saja?” tanya Minho lagi.
“Memangnya kau pikir apa yang akan terjadi padaku?” Hyesun menjawab pertanyaan Minho dengan pertanyaan lain.
“Hyesun-a, sejujurnya aku sangat khawatir dengan perasaanmu. Aku masih trauma dengan reaksimu terhadap iklanku bersama Sandara” Minho kembali teringat sikap Hyesun beberapa bulan lalu.
‘Akh, dia membahasnya lagi. Aku sungguh malu jika mengingat kejadian tersebut. Akal sehatmu hilang kemana, Hyesun-a? Bisa-bisanya kau bersikap seperti itu?’ Hyesun mengomentari dirinya sendiri sambil menunduk. Beberapa saat pikiran Hyesun terbang menuju peristiwa di kala pertama kalinya ia menyadari ada rasa cemburu untuk Minho.
“Hyesun-a, gwenchana?” Kepala Minho dimiringkan supaya bisa melihat wajah Hyesun yang tertunduk.
“Mwo?” Demikian reaksi Hyesun saat baru kembali dari lamunannya.
“Kau sakit?” tanya Minho.
“Anhyo” jawab Hyesun.
“Lalu kenapa diam saja. Kalau kau cemburu katakanlah, tidak usah malu. Aku maklum jika kau cemburu karena PT lebih parah ketimbang iklanku dengan Sandara” ucap Minho.
“Yya, sudah kubilang jangan membahas kejadian itu lagi” pinta Hyesun.
“Habis waktu itu kau sangat sedih. Aku tidak ingin kau terluka. Aku lepaskan PT saja ya?” saran Minho.
“Andweyo. Jalan cerita PT cukup bagus, aku suka. Penonton juga kurasa akan menyukainya. PT bisa mengembangkan karir sekaligus mengasah aktingmu. Kau tidak boleh melepaskan kesempatan ini” urai Hyesun.
“Jadi kau serius mengizikan aku membintangi PT?” Minho masih ragu dengan keputusan Hyesun.
Hyesun kembali terdiam beberapa saat. Ketika membaca novel dan naskah PT, ada rasa hampa dalam hatinya. Hyesun tidak yakin apakah ia sanggup membagi Minho kepada wanita lain meskipun hanya demi keperluan syuting. Tapi Hyesun sangat yakin kalau Minho akan langsung menelepon produser PT detik itu juga untuk menolak PT jika ia melarang. Hyesun dapat merasakan bahwa prioritas Minho yang pertama dan utama adalah dirinya. Nomor satu bagi Minho ialah perasaan Hyesun. Tapi Hyesun tidak mau egois. Ia melempar jauh perasaannya ke urutan 1.549 dan menomorsatukan karir Minho. Hyesun mengesampingkan dulu perasaan pribadi demi kemajuan karir Minho. Akhirnya mau tidak mau, suka tidak suka, rela tidak rela, hati kecil Hyesun mengizinkan Minho mengikat kontrak dengan PT.
“Ne. Aku mengizikanmu membintangi PT, Lee Min Ho-ssi” Hyesun mengatakannya dengan tegas. Tidak ada keraguan secuil pun dalam kalimatnya.
“Kau tidak cemburu?” tanya Minho.
“Ehmm ... Belum” jawab Hyesun.
“Belum? Nanti kalau kau sudah mulai cemburu, bilang saja. Lee Min Ho ini akan selalu siap sedia menerima lampiasan kecemburuan Goo Hye Sun” jawab Minho.
“Yya! Goo Hye Sun bukan gadis pencemburu. Arasso!” balas Hyesun. Minho tertawa dengan pembelaan Hyesun.
“Baiklah, aku akan mengambil PT. Tapi, kau harus memenuhi persyaratanku” ucap Minho.
“Apa syaratmu? Memintaku mendirectmu supaya bisa tampil total di PT? Jangan harap! Aku sibuk!” tolak Hyesun.
“Anhi” Minho membatah tebakan Hyesun.
“Lantas?” Hyesun menanti Minho menyebutkan persyaratannya.
“Dengarkan baik-baik dan jangan sekali-kali menyela ucapanku. Persyaratan Lee Min Ho adalah ... “ Minho menjeda kalimatnya selama 7 detik hanya untuk menertawai tampang penasaran Hyesun.
Tawa Minho dihentikan oleh pelototan mata Hyesun. Karena tidak ingin lama-lama menahan Hyesun dalam rasa penasaran, Minho kembali melanjutkan perkataannya.
“Pertama. Goo Hye Sun dilarang keras membaca, mendengar dan melihat apapun yang berkaitan dengan PT, seperti artikel di koran, berita di infotainment dan lain sebagainya. Goo Hye Sun juga tidak diizinkan mengklik segala sesuatu yang berbau PT lewat internet” Minho menjabarkan syarat pertamanya.
“Kedua. Goo Hye Sun tidak dibenarkan menonton PT saat serial ini tayang, baik melalui station TV, DVD ataupun media on line di internet. PT akan disiarkan MBC. Oleh karena itu, seluruh televisi di kediaman keluarga Goo harus bersih dari channel MBC. Selama PT tayang hapus channel MBC dari semua TV di rumah keluarga Goo plus Manolin Café” Minho menambah syarat yang harus dipenuhi Hyesun.
“Sudah selesai?” tanya Hyesun saat suara Minho tidak terdengar lagi.
“Hm” Minho mengangguk.
“Aku sudah boleh bicara?” tanya Hyesun.
“Tentu” Minho kembali menganggukkan kepala.
“Yya! Itu syarat yang saaaaaaaaaangat berlebihan!” Hyesun berkata dengan nada tinggi.
“Aku rasa biasa saja. Aku hanya ingin melindungimu dari serangan PT supaya konsentarsimu terhadap Magic tidak terganggu” Minho mengeluarkan alasannya.
“Minho-a, sekarang jawab pertanyaanku” kali ini kendali pembicaraan ada di lidah Hyesun.
“Mwo? Apa pertanyaanmu?” Minho menunggu pertanyaan Hyesun sambil memandang lekat wajah kekasihnya.
“Bagaimana jika aku tidak sengaja menemukan artikel PT saat membaca majalah?” tanya Hyesun.
“Kau harus segera menutup majalah itu!” jawab Minho.
Hyesun menghela napas panjang. Syarat Minho sungguh tidak masuk akal.
“Baiklah, aku akan memenuhi syarat pertama. Tapi syarat kedua sulit kupenuhi. Aku tidak mungkin menghapus channel MBC. Bagaimana jika orangtua ku ingin menyaksikan MBC?” Hyesun melontarkan pertanyaan berikutnya.
“Mereka justru orang yang paling kularang menonton PT. Kau beri saja penjelasan tentang syaratku ini. Aku akan memastikan tidak ada MBC di rumahmu saat PT mulai ditayangkan” jawab Minho.
“Lalu kalau pengunjung Manolin mau lihat MBC bagaimana?” tanya Hyesun.
“Mereka ke sini ingin makan, bukan mau numpang nonton TV” jawab Minho
“Tapi jika aku dan pengunjung Manolin nonton bareng PT justru akan menaikkan rating PT kan?” tanya Hyesun.
“Yya! Kau tidak punya kewajiban untuk mengurusi rating PT. Arasso!” jawab Minho.
“Tapi aku ...” perkataan Hyesun dipotong Minho.
“Jangan membantah apapun! Laksanakan saja kedua syaratku! Jika kau melawan, aku tidak jadi membintangi PT” Minho mengakhiri perdebatan mereka dengan kembali menegaskan syarat yang harus dipenuhi Hyesun.
Seluruh akses Hyesun menuju PT telah diblokir Minho. Langkah antisipatif tersebut diambil Minho untuk menjaga perasaan Hyesun. Minho sengaja mengisolasi Hyesun dari PT agar hati kekasihnya itu tidak tersakiti.
*******
31 Desember 2009
Pagi-pagi sekali Minho sudah tiba di rumah Hyesun. Tadi malam ia menjadi sulit memejamkan mata. Sehabis menghubungi ponsel Hyesun, Minho menjadi khawatir begitu Hyesun mengabari bahwa dirinya tidak enak badan. Beberapa minggu terakhir Hyesun memang benar-benar disibukkan dengan persiapan syuting Magic. Ditambah lagi, ia harus mengurus Manolin yang baru saja dibuka. Minho sudah berulang kali mengingatkan agar menyerahkan sepenuhnya urusan Manolin pada Min Jung supaya konsentrasi Hyesun pada Magic tidak terbelah dua. Dengan begitu beban Hyesun jadi berkurang satu sekaligus dapat meringankan aktivitas tubuh Hyesun. Namun Hyesun tidak ingin lepas tangan begitu saja terhadap Manolin. Meski café itu hasil patungannya dengan Min Jung, ia tetap ingin berkontribusi penuh di dalamnya. Alhasil, Hyesun jatuh sakit karena kelelahan bekerja. Minho langsung bergegas ke rumah Hyesun walau hari masih pagi.
Suhu tubuh Hyesun memang cukup tinggi ketika Minho meletakkan telapak tangan di kening Hyesun. Padatnya schedule Hyesun membuat tubuh gadis itu protes minta istirahat. Bukannya beristirahat, Hyesun malah hendak bersiap menghadiri rapat seputar persiapan Magic. Minho menjadi berang melihat tingkah Hyesun.
“Hari ini kau tidak boleh kemana-mana!” larang Minho sambil merentangkan kedua tangan di depan pintu kamar Hyesun.
“Tidak bisa, rapat hari ini begitu penting” tolak Hyesun.
“Tapi kesehatanmu lebih penting. Kau harus istirahat” balas Minho.
“Hanya sebentar. Aku sudah minum obat, tidak lama lagi demamku akan turun” rengek Hyesun.
“Aku bilang tidak boleh, ya tidak boleh!” bentak Minho.
“Yya! ... Yya! ... Yya! ... Apa yang kau lakukan!” Hyesun tersentak ketika tiba-tiba kedua tangan Minho membekap pinggangnya dan mengangkat tubuhnya ke atas bahu Minho.
“Lee Min Ho! Turunkan aku!” Hyesun meronta-ronta sambil memukul-mukul punggung Minho menggunakan kepalan tangan. Minho tidak terpengaruh dengan perlawanan Hyesun. Ia terus saja membopong tubuh Hyesun layaknya orang sedang memanggul karung beras.

Minho memanggul Hyesun menuju tempat tidur dan membaringkan tubuh Hyesun di sana.
“Tempatmu di sini. Bukan berkeliaran di luar” ucap Minho.
“Tapi aku ...” kalimat Hyesun disela Minho.
“Jangan membantah lagi!” Minho mulai bersikap tegas pada Hyesun. Ia melepaskan sepatu Hyesun dan melempar ke sembarang arah. Kemudian Minho membentangkan selimut ke seluruh tubuh Hyesun lalu mengambil ponsel Hyesun dari tas gadis itu.
“Yya, kau mau apa lagi?” tanya Hyesun.
Minho tidak menjawab. Ia duduk dipinggir ranjang Hyesun dan terlihat sedang menghubungi seseorang menggunakan ponsel Hyesun.
“Yeoboseyo. Seon Mi-a, ini Minho. Hyesun sedang sakit jadi tidak bisa menghadiri rapat hari ini. Kalau kau bisa, kau saja yang handle rapat itu. Jika tidak bisa, batalkan saja rapatnya” Minho tampak serius berbicara dengan Seon Mi sedangkan Hyesun hanya mengamatinya tanpa berani membantah lagi.
Begitu selesai menghubungi Seon Mi, Minho mengeluarkan baterai dari ponsel Hyesun. Baterai ponsel Hyesun senasib dengan sepatu Hyesun. Keduanya sama-sama dilempar Minho entah kemana.
“Jangan dimatikan. Aku sedang menunggu telepon dari Na Hee onnie” protes Hyesun.
“Aku sudah menyuruh Seon Mi menghandle semua urusanmu hari ini. Kau istirahat saja, jangan susah diatur. Kalau sakitmu tambah parah, aku juga yang repot” nasehat Minho.
“Aku tidak memintamu repot-repot mengurusiku. Omma akan menjagaku bila aku sakit” balas Hyesun.
“Omma sudah menyerahkanmu sepenuhnya padaku” jawab Minho.
“Omma? Sejak kapan kau memanggil ibuku dengan sebutan omma?” tanya Hyesun.
“Jangan bicara lagi. Cepat pejamkan matamu. Nanti malam tidak usah hadir ke acara KBS Award, aku sendiri saja yang datang ke acara itu” Minho kembali memerintah Hyesun.
“Tidak bisa begitu. Aku juga ingin menghadiri KBS Award” tolak Hyesun.
Minho terdiam beberapa saat. Ia sadar bahwa KBS Award adalah acara penting yang sayang untuk dilewatkan bagi Hyesun dan dirinya.
“OK, aku mengizinkanmu datang ke KBS Award dengan 2 syarat” Minho mulai bersuara lagi setelah mempertimbangkan beberapa hal.
“Asal syaratnya tidak aneh-aneh, akan aku turuti” jawab Hyesun.
“Pertama. Kau boleh pergi ke KBS Award jika demammu sudah turun. Kedua. Kau harus pakai baju yang tebal dan tertutup. Suhu udara di luar cukup rendah, aku tidak mau kau sakit lagi karena kedinginan” Minho menguraikan syaratnya.
“Siap, Lee Min Ho-nim yang cerewet, bawel dan over protective” ucap Hyesun sambil mengangkat tangan ke pelipisnya seperti seorang tentara memberi hormat pada komandannya. Minho hanya tersenyum melihat tingkah Hyesun.
“Sudah, cepat tidur” ujar Minho.
“Kau jangan coba-coba ambil kesempatan saat aku tidur” Hyesun memperingati Minho.
“Yya! Kau pikir aku pria macam apa? Walau keinginan untuk ‘itu’ sudah ada sejak dulu, tapi aku sangat menghormatimu sebagai seorang wanita” jawab Minho.
“Arasso. Aku hanya bercanda karena dari tadi kau seram sekali” ucap Hyesun.
“Itu karena kau terus membatah kata-kataku. Lekas pejamkan matamu” balas Minho.
“Minho-a, aku baru saja bangun tidur dan sekarang juga masih pagi, mana bisa aku tidur lagi” jawab Hyesun.
“Aku akan menemanimu ngobrol sampai kau ngantuk” Minho naik ke tempat tidur Hyesun. Punggungnya ditempelkan pada sandaran ranjang sementara kakinya diselonjorkan.

“Minho-a” dengan lembut Hyesun memanggil Minho.
“Hm” jawab Minho.
“Kau tahu apa yang memenuhi pikiranku semalam?” tanya Hyesun.
“Senyum manisku” terka Minho.
“Anhi” Hyesun menggelengkan kepala.
“Wajah tampanku” Minho merubah jawabannya.
“Anhi” lagi-lagi kepala Hyesun menggeleng.
“Tubuh seksiku” ucap Minho sambil tersenyum.
BUK! Sebuah bogem mentah Hyesun mendarat tepat di dada bidang Minho.
“Akh. Yya, sebenarnya kau sedang sakit tidak? Mana ada orang sakit punya tenaga sebesar itu” Minho meringis kesakitan sambil mengelus-elus dadanya.
“Salah kau sendiri tidak menjawab pertanyaanku dengan serius” Hyesun berusaha membenarkan tindakannya.
“Entahlah. Aku tidak tahu apa yang ada dipikiranmu semalam” Kali ini Minho menyerah dan tidak berminat menebak lagi.
“Tiba-tiba saja semalam aku berkeinginan membuat suatu pusat pendidikan seni. Aku, kau dan Min Jung yang akan menjadi gurunya. Oh iya, aku juga akan minta Yeo Won onnie untuk mengajar. Serial terbarunya kan sangat sukses jadi kurasa onnie cocok jadi guru akting. Bagaimana? Baguskan ideku?” Hyesun tampak antusias dengan gagasan barunya.
“Demammu pasti cukup tinggi sampai-sampai muncul khayalan seperti itu” Minho tidak apresiatif dengan usul Hyesun.
“Anhi, aku serius memikirkan ide ini. Aku ingin mendirikan lembaga pendidikan yang bisa mengajarkan seni pada semua orang. Di sana orang bisa menimba berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan seni, seperti acting, lukis, olah vocal, musik, cara membuat film maupun serial. Aku ingin punya anak didik yang bisa berakting, bernyanyi, bermain musik, menciptakan lagu dan bisa juga tampil di belakang layar sebagai sutradara ataupun penulis skenario” Hyesun terus bercerita sambil menikmati belaian lembut tangan Minho pada tiap helai rambutnya. Tidak ada dialog di antara mereka. Yang ada hanya monolog karena cuma Hyesun yang dari tadi terus nyerocos sedangkan Minho hanya jadi pendengar setia.
“Melalui ... pusat ... pendidikan ... seni ini ... aku ... berharap ... “ lima belas menit kemudian kalimat Hyesun mulai terputus-putus. Efek samping obat demam yang ia minum telah bereaksi. Hyesun mulai terlihat mengantuk, matanya merem-melek beberapa kali. Ia tampaknya sedang berusaha melawan hawa kantuk karena masih ingin menceritakan impiannya pada Minho. Suara Hyesun timbul tenggelam sampai akhirnya hilang sama sekali. Minho mendapati Hyesun sudah tertidur. Rencana baru Hyesun terus bermain dalam alam bawah sadar gadis itu. Sampai-sampai senyum manis terbentuk di bibir Hyesun walau kedua kelopak matanya sudah tertutup rapat.
Minho bangkit dari ranjang Hyesun dengan amat hati-hati. Ia merapikan selimut Hyesun dan mengecup kening Hyesun.

“Istirahatlah, jangan banyak berpikir. Idemu sangat brilliant. Kita bahas lain waktu saja” Minho berbicara pada Hyesun yang sudah terlelap sambil mengelus-elus pipi Hyesun.
*******
Malam harinya
Minho dan Hyesun menghadiri KBS Award. Mereka sengaja tidak datang bersama. Minho tiba lebih dulu. Kilatan lampu blitz menghujani Minho begitu ia berjalan menyusuri hamparan red carpet.
Hyesun, yang sudah agak membaik, datang ditemani Seon Mi. Ia tidak menggunakan gaun malam seperti artis wanita lain yang datang ke acara itu. Hyesun menggunakan busana sesuai instruksi Minho.
Sepanjang acara KBS Award, Minho dan Hyesun terlihat amat menikmati suasana. Di penghujung tahun 2009, Minho dan Hyesun mendapat hadiah tutup tahun yang istimewa. Minho terpilih sebagai Aktor Pendatang Baru Terbaik berkat tokoh Goo Jun Pyo di serial BOF.
Sementara itu, Hyesun mendapat penghargaan sebagai Aktris Drama Series Terbaik melalui perannya di BOF. Nama Hyesun juga berada dalam daftar nominasi untuk kategori Aktris Terfavorit pilihan netizen. Ia berhasil mengalahkan nominator lain dan berhak menerima trofi untuk kategori tersebut.
Masih ada award lain yang mereka bawa pulang pada malam itu. Minho dan Hyesun dinobatkan menjadi Best Couple versi KBS Award 2009 lewat peran mereka sebagai Goo Jun Pyo dan Geum Jan Di pada serial BOF.

Malam penghargaan KBS Award 2009 benar-benar moment akhir tahun yang special. Ada dua alasannnya. Pertama. Setelah sekian lama Minho dan Hyesun tidak tampil bersama di muka umum, pasangan ini akhirnya kembali hadir berdua pada malam itu. Kedua. Kerja keras Minho-Hyesun dalam BOF diganjar dengan beberapa award. Keberhasilan ini semakin memperkuat eksistensi mereka di jagat seni peran Korea.
*******
Seusai acara KBS Award, sebenarnya Minho ingin membawa Hyesun ke Manolin untuk menghabiskan malam pergantian tahun. Namun karena kondisi fisik Hyesun tidak memungkinkan, Minho malah menyuruh Seon Mi mengantar Hyesun pulang.
Minho mengantar Hyesun sampai ke mobil, padahal sebetulnya ia ingin mengantar Hyesun sampai ke rumah. Sebelum melepas Hyesun masuk ke dalam mobil, Minho mendaratkan sebuah kecupan di kepala Hyesun. Hyesun agak terkejut menerima over head kiss dari Minho. Namun, ia kembali tenang begitu selesai mengamati situasi sekitar. Hyesun tidak melihat siapapun di sekeliling mereka. Yang tampak oleh matanya hanya Minho dan Seon Mi.
Pengamatan Hyesun rupanya kurang cermat. Di balik sebuah tembok, ternyata ada seorang pria sedang serius mengintai mereka. Pria tersebut membawa kamera dan batang lehernya dikalungi oleh ID card wartawan.
To Be Continued
Komen dooooooooong. Yg ngga komen ntar malem ngimpi dikejar anjing pincang ![[biggrin]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/biggrin.gif)
« Last Edit: June 08, 2010, 10:59:05 am by Liko »

Logged