Author Topic: THE SARANG  (Read 7997 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #15 on: June 10, 2010, 06:12:07 am »
CHAPTER 11


Hari sudah sangat larut ketika Mino memarkir mobilnya di halaman depan rumah yang hanya diterangi cahaya lampu yang sinarnya redup. Untuk beberapa menit lamanya Mino tidak beranjak dari mobilnya. Tubuhnya sangat lemah. Sekujur badannya terasa remuk.

Mino menarik nafas panjang-panjang dan menghembuskannya kuat-kuat. Dia menatap pintu depan lewat kaca mobilnya dengan hampa. Keadaan sekitarnya sangat sunyi dan mati. Dengan perlahan Mino membuka pintu mobil dan melangkah ke pintu depan yang terkunci dari dalam. Dia merogoh kedalam kantong celananya dan mengeluarkan seuntai kunci. Sebenarnya dia bisa saja memencet tombol bel dan menunggu pintu dibukakan oleh para pelayan. Tapi dia tidak ingin melakukannya sekarang. Dia tidak ingin bertemu siapapun malam ini.

Mino memasukkan anak kunci yang cocok ke dalam lubang kunci yang ada di pintu dan memutarnya. Terdengar suara "klik" dan pintu terbuka dengan pelan. Lampu kristal besar yang terjuntai dari langit-langit di ruang depan masih menyala. Sedangkan lorong yang menuju pintu ruang tamu yang menghubungkan lantai bawah dengan lantai atas hanya diterangi oleh beberapa lampu dinding yang redup sinarnya.

Mino melintasi ruang depan, menyusuri lorong yang agak gelap dengan langkah yang agak diseret dan berhenti tepat di pintu rang tamu yang menghubungkan kamarnya di lantai atas. Dibukanya pintu yang tidak terkunci itu sehingga menimbulkan derikan pelan. Ruang tamu itu terlihat gelap. Hanya ada sebuah lampu dinding yang masih menyala di dekat perapian. Sinarnya yang redup menyebabkan bayang-bayang seisi ruangan yang dipantulkan terlihat membangkitkan bulu roma. Keadaan sekitarnya sangat sunyi. Para penghuni rumah sudah terlelap semua.

Dengan tertatih-tatih Mino menyusuri ruang tamu menuju anak tangga yang hanya diterangi dua buah lentera kecil di kiri kanannya. Sambil menguatkan hati dan berusaha mengesampingkan rasa sakit yang amat sangat yang mendadak menyerang lutut kanannya, Mino menaiki anak tangga tersebut dengan agak sempoyongan.

Tapi akhirnya, pertahanannya goyah di pertengahan tangga. Rasa nyeri yang amat sangat membuatnya tersungkur ke depan. Lutut kanannya yang sudah parah membentur keras anak tangga depan yang terbuat dari kayu itu.

"Akchhhh .....", teriakan tertahan keluar dari mulut Mino.

Bibir bawahnya digigit dengan keras untuk menahan teriakan keras yang hampir meloncat dari mulutnya.

"Oppa .... "

Panggilan dari belakang membelah kesunyian di ruangan itu. Soeun berlari kearah Mino dari pintu ruang tamu yang terbuka. Dengan cepat dia berusaha membantu Mino berdiri dari tempatnya terjatuh tadi. Tapi Mino segera mengibaskan tangan Soeun yang terulur.

"Menjauh dariku!!! ...", teriaknya dengan suara lantang.

"Ada apa dengan oppa? Mengapa oppa pulang selarut ini? dan ... kakinya kenapa? cedera ..?", pertanyaan bertubi-tubi langsung keluar dari mulut Soeun.

Mino menatap Soeun dengan tampang yang tidak berubah dari biasanya, dingin dan tidak berperasaan. Dengan susah payah dia berusaha bangkit dari tempatnya tersungkur tadi dengan berpegangan pada sisi kiri tangga yang berpagar rendah, yang terbuat dari kayu juga. Tapi hampir saja dia kehilangan keseimbangannya ketika rasa nyeri itu kembali menyerang lutut kanannya. Melihat itu Soeun segera mendorong tubuh Mino ke depan. Mino berhasil mengembalikan keseimbangannya setelah mendapatkan uluran tangan dari Soeun.

"Apakah oppa baik-baik saja?", tanya Soeun cemas.

Mino melirik Soeun sekilas, kemudian meneruskan langkahnya dengan berpengangan di sisi tangga, tanpa berpaling kearah Soeun lagi.

"Oppaaaaa.... oppaaaaaa .."

Soeun mengikuti Mino dari belakang dengan serbasalah. Dia takut Mino akan terjatuh lagi seperti tadi. Tapi kali ini Mino bisa mengendalikan gerak kakinya dengan baik. Walaupun langkahnya agak terseok-seok, dia tidak sampai tersungkur. Mino berhenti di depan pintu kamarnya dengan tampang kesal. Dia berbalik kearah Soeun dan membentaknya.

"Jangan mengikutiku terus .. apapun yang terjadi kepadaku, bukan urusanmu .."

Mino membuka pintu kamarnya dengan satu dorongan, masuk ke dalam dengan agak sempoyongan dan menutupnya dengan hentakan keras.

"Oppaaaa ..."

Suara Soeun tertahan di kerongkongannya. Mino sekarang sudah lenyap ndari hadapannya. Soeun mengibaskan tangannya ke arah pintu kamar yang tertutup rapat dengan perasaan dongkol.  Sikap Mino sudah keterlaluan. Menurut pandangannya Mino tidak seharusnya bersikap begitu. Bagaimanapun dia hanya bermaksud menolong oppanya itu. Tapi sepertinya Mino sama sekali tidak mengharapkan bantuannya.

Soeun berdiri di pintu kamar Mino selama lima menit. Pikirannya berputar-putar di antara kejadian itu. Ada sesuatu yang tidak beres dengan Mino. Gerakan kakinya kelihatan tidak wajar. Dia kelihatan sangat menderita dan hampir tidak bisa berdiri dengan normal.

Tiba-tiba Soeun merasa agak merinding. Keheningan dan kesuraman di ruangan itu segera menyadarkannya dari lamunan. Udara di ruang tamu terasa dingin karena perapian di sudut tengah ruangan tidak menyala. Sambil mengosok-gosok kedua lengan dengan telapak tangannya, Soeun bergegas keluar dari ruang tamu tersebut.


***************


Siang itu, aku berdiri di halaman depan yang memisahkan taman kecil dengan pondokan sederhana yang sekarang menjadi tempat tinggalku. Pandanganku tertuju ke bukit kecil nan hijau di kejauhan sana. Matahari bersinar terik. Kilatan-kilatan cahayanya yang kekuningan begitu menyilaukan mata. Akan tetapi, walaupun begitu .. keganasannya tidak mampu mengusir kesejukan udara pedesaan yang begitu asri.

Bukit kecil yang sangat kucintai itu tidak jauh berbeda dengan waktu kutinggalkan beberapa bulan yang lalu. Keasriannya, ketenangannya, bunga-bunga beraneka warna dan rumput-rumput liar yang tumbuh disekitarnya, kicauan burung diiringi dengan semilir angin yang lembut, semuanya, masih terpelihara dengan baik. Kuhirup udara segar pedesaan dalam-dalam. Kerinduanku sudah terpuaskan sudah.

"Hyesun!! kenapa kamu berdiri disitu? ayo, masuk ke rumah .. sinar matahari sangat terik di luar sana .."

Teriakan bibi dari dalam rumah menyadarkanku dari lamunan. Kubalikan tubuhku menghadap kearahnya.

"Saya tidak apa-apa, biiiii ...", aku balas berteriak dengan suara yang agak parau.

Bibi memandangiku dari ambang pintu depan dengan sorot mata tajam. Ada sesuatu yang kumengerti dari tatapannya. Tapi, sungguh .. aku tidak berniat untuk kelihatan menyadarinya. Segera kubalikan tubuhku lagi ke posisi semula.

Keadaan hening sejenak. Lalu samar-samar aku mendengar suara langkah kaki yang mendekatiku. Bibi berdiri di samping ku sekarang. Tapi dia tidak memandangiku. Pandangannya terarah ke depan, ke bukit kecil yang berdiri dengan gagah dan tak tergoyahkan oleh perputaran waktu, seperti arah pandanganku.

"Ada yang kamu rahasiakan dari bibi, kan?"

Pertanyaan itu tidak mengejutkanku. Seperti yang kuketahui dari semula, bibi memang menyadari ada sesuatu yang terjadi padaku.

"Mengapa tidak menjawab pertanyaan bibi?", tanya bibi lebih lanjut.

"Saya tidak apa-apa ... saya .. baik-baik saja .. bibi jangan khawatir ", jawabku pelan.

"Tidak apa-apa? baik-baik saja katamu? jika begitu, mengapa tidak kembali ke desa Jeja? mengapa harus tinggal disini, di desa seberangnya? disini semuanya asing .. tidak ada yang kamu kenal .. yang bisa kamu lakukan sekarang hanya memandangi bukit kecil yang menghalangi pandangan ke desa Jeja setiap hari .. kamu jangan berbohong kepada bibi, .. ada yang mau kamu hindari?"

Pertanyaan terakhir, yang tidak terduga itu agak mengejutkanku. Bibi sekarang sudah mengalihkan pandangannya kepadaku. Aku melihat sorot mata ingin tahu terpancar dari matanya.

"Maafkan saya, bi .. saya .. saya tidak ingin membicarakannya ... sungguh ... saya tidak mampu untuk mengatakannya .."

Desahan nafasku yang berat terdengar jelas. Bibi kelihatan agak terpukul melihat keadaanku sat ini. Sura yang kemudian keluar dari mulutnya terdengar lembut.

"Joongie mengetahuinya, kan? dari kecil kalian selalu menyembunyikan rahasia bersama .."

Aku tersenyum mendengar perkataan bibi, tapi walaupun begitu aku tidak menjawab pertanyaannya. Bibi memandangku lekat-lekat. Dan sekalipun tatapanku terarah ke tempat lain, aku merasakan tatapannya. Bibi yang menyadari kesengananku untuk menjawab pertanyaannya, tidak berusaha untuk memaksakan kehendaknya. Kami kembali membisu di tempat. Bayangan-bayangan tentang Mino masuk lagi ke dalam otakku.

"Saya berharap dia akan baik-baik saja ...", kataku perlahan.

Tanpa kusadari kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.

"Siapa? Joongie?"

Pertanyaan bibi yang tiba-tiba itu menghentakkanku dari lamunan.

"O ya, sebenarnya mengapa Joongie tidak pulang bersama kita?", tanya bibi lagi sambil memandangiku dengan serius.

Sekali lagi aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan bibi. Aku sama sekali tidak bersemangat untuk menjawab pertanyaannya. Tapi karena desakan dari sorot mata bibi, akhirnya aku menjawab dengan singkat.

"Joongie masih ada pekerjaan di sana ..."

Bibi membuka mulut, bermaksud untuk bertanya lebih lanjut. Tapi dia segera mengurungkan niatnya begitu melihat kesenduan yang terpancar dari wajahku.

Keheningan membuatku tenggelam kembali ke dalam semua masalah yang terjadi antara Mino dan aku. Mino akan baik-baik saja? Aku yakin perkataanku itu hanya kugunakan untuk menghibur diri saja. Bagaimana mungkin dia akan baik-baik saja? Aku disini saja sudah terpuruk seperti ini, padahal aku yang meninggalkannya. Keadaannya pasti lebih buruk dariku. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk itu. Aku sama sekali tidak berdaya.

Hubunganku dengan Mino sudah berakhir sekarang. Dengan hilangnya "Sarang" untuk kedua kalinya dari genggamanku, aku yakin jodohku dengan Mino benar-benar sudah habis.

Ya, untuk kedua kalinya "Sarang" jatuh dari tanganku.

Dan kali ini aku benar-benar tidak punya gambaran di mana aku menjatuhkannya. Aku baru menyadari kehilangan dia pada saat-saat terakhir aku meninggalkan kota Seoul. Waktu itu aku tidak begitu panik. Entahlah ... aku benar-benar merasa kehilangan dia merupakan sesuatu yang wajar. Ya .. wajar kataku, karena jodohku yang disatukan oleh "Sarang" sudah tamat sekarang, tidak ada sambungannya lagi.


******************


Pada waktu yang hampir bersamaan, di sudut paling selatan kota Seoul, Mino menghentikan mobilnya di pinggir danau kecil yang sering didatanginya dan yang menjadi tempat curahan hatinya. Keadaan di sekitarnya sangat sunyi. Tidak ada seorangpun yang tampak  di sana.

Mino membuka pintu mobil dan menginjakkan kakinya di tanah yang berumput hijau. Sakit yang dirasakan di lututnya agak baikan sekarang. Mino melangkahkan kakinya ke pinggir danau yang di tumbuhi rerumputan liar. Sinar matahari yang ganas menerpa wajahnya yang tak terlindung. Mino mengangkat tangan kanannya dan berusaha melindungi pandangannya ke seberang danau.

Air danau yang jernih dan tenang berkilauan ditimpa sinar mentari siang, sehingga menimbulkan kesan beribu-ribu bahkan berjuta-juta pasir berlian terhampar di depan mata.

Mino menghembuskan nafasnya. Pemandangan yang sama dengan kedatangannya dan Hyesun seminggu yang lalu. Semua kenangan terakhir mereka kembali berkelebatan dalam pikiran Mino. Hatinya terasa teriris-iris. Dua butir air bening mulai bermain-main di kelopak matanya.

Mino merasa lelah dan menderita. Semua perasaan ini begitu menyiksa dan menghancurkan kalau dibandingkan dengan sakit di kakinya. Semua usaha sudah dilakukannya. Semua tempat yang dikenal dan di ketahuinya, maupun yang tidak dikenal ataupun yang belum diketahuinya sudah diobrak-abriknya. Tapi kabar keberadaan Hyesun masih belum didapatkannya.

Bahkan desa Jeja yang begitu berkesan dihatinya juga sudah didatangi oleh orang-orang suruhannya, tapi tetap tidak ada kabar yang diperolehnya. Dengan perlahan Mino menundukkan wajahnya. Perasaan putus asa dan menyerah sudah mulai merasuki hatinya. Dia sudah merasa tidak ada gunanya dia mengorek semua tempat jika yagn dicarinya itu sendiri tidak ingin ditemukan olehnya.

Mino berdiri di tempat yang sama dan dalam posisi serupa selama setengah jam lamanya. Semua bayangan yang masuk ke pikirannya membuatnya hampir gila. Kepalanya terasa mau pecah.

Sambil memukul-mukul kepalanya sendiri, Mino membalikan badan kearah mobilnya. Tapi ketika dia sudah sampai di tengah jalan, sesuatu terinjak oleh kaki kanannya. Mino mengangkat kakinya dan memperhatikan benda yang terinjak olehnya sekilas. Benda itu tidak menarik dan agak kotor oleh tanah yang menempel di sekelilingnya.

Mino meneruskan langkahnya lagi dengan lebih cepat dan tidak mempedulikan benda kotor yang tidak menarik itu. Tapi tiba-tiba dia menghentikan langkahnya secara mendadak. Sesuatu yang begitu dikenal berkelebat di depan matanya. Dengan segera Mino berbalik dan berlari kearah benda yang terinjak tadi.

Mino menajamkan pandangannya ke benda yang tergeletak tidak berdaya di dekat kakinya.

"Sarangg......", desahan halus keluar dari mulutnya.

Mino berjongkok dan meraih benda yang kotor oleh tanah itu. Digosok-gosokannya benda itu dengan kedua tangannya. Benda itu sekarang terlihat lebih jelas olehnya. Dan tidak salah dugaannya, benda itu adalah "Sarang", boneka yang telah mempersatukannya dengan orang yang paling dicintainya di dunia ini.

"Bagaimana ... bagaimana mungkin ... kamu ada disini?"

Pertanyaan yang tidak mungkin dijawab itu terlontar begitu saja dari mulut Mino. Keadaan "Sarang" begitu menyedihkan. Sekujur tubuhnya yang sudah kumal menjadi kotor dan agak basah oleh tanah lembab yang ada di sekeliling danau itu. Dengan perlahan Mino memasukkan "Sarang" ke saku celananya.

Apakah ini suatu pertanda? Jodohnya dengan Hyesun masih dapat berlanjut ataukah sudah berakhir? Dia ingin mempercayai yang pertama. Jika memang jodohnya sudah berakhir, bagaimana mungkin "Sarang" sampai jatuh kembali kedalam tangannya sekarang?

Mino mendesah perlahan. Hembusan nafasnya terdengar berat. Dengan pikiran yang semakin komplit, dia melanjutkan langkahnya ke mobil sport merah yang terparkir di pinggir danau, tidak jauh dari tempatnya menemukan "Sarang" tadi.


*****************


Mobil yang dikendarai Joongie melaju dengan kecepatan sedang, membelah kabut malam yang mulai menyelimuti kota Seoul. Saat itu jam tangannya sudah menunjukkan pukul 08:30.

Begitu mobilnya melintas di depan sebuah bar besar yang gemerlapan, seseorang yang berada di sana langsung menarik perhatiannya. Joongie memperlambat laju mobilnya dan mempertajam pandangannya. Dengan tiba-tiba rem mobil diinjak oleh Joongie sehingga menyebabkan mobil itu berhenti dengan suara berdecit.

Tidak salah lagi, pemuda jangkung yang berdiri di depan pintu masuk bar itu adalah majikannya, Lee Min Ho. Joongie segera membuka pintu mobil dan menghambur kearah Mino. Joongie mendaratkan tangannya di bahu Mino dan agak menariknya kebelakang ketika dilihatnya Mino bermaksud memasuki bar di depannya.

"Tuan ...hhhhhh .... tuan muda .. Lee ..hhhh ....", sapa Joongie dengan nafas terengah-engah.

Mino membalikan tubuhnya dan memandangi Joongie dengan kening berkerut. Dia kelihatan tidak begitu senang dengan kehadiran Joongie disitu.

"Apa  .. apa yang tuan lakukan disini?" , Joongie berhasil mengatur nafasnya sehingga pertanyaan ini bisa keluar dengan jelas dari mulutnya.

Mino tidak menjawab pertanyaan Joongie. Dia mengerakkan badannya, bermaksud pergi dari situ, tapi segera dicegah oleh Joongie.

"Sudah seminggu ini tuan tidak masuk kantor .. banyak hal yang ingin didiskusikan para investor dengan tuan .. dan ...."

"Kim Hyun Joong!!!!! apa yang kulakukan tidak ada urusannya denganmu ... jangan pernah kamu menguliahiku seperti itu !!", Mino berteriak keras dengan sinar mata berapi-api.

Joongie yang perkataannya terpotong oleh teriakan Mino menjadi kesal. Sikap hormatnya tadi langsung lenyap. Wajahnya berubah keras dan tegas.

"Lee Min Ho, kamu dengar baik-baik!! kalau bukan karena noona, saya sama sekali tidak akan berada disini dan tetap membantumu .. kalau bukan permintaan noona, saya sudah pergi dari sini, bersamanya ..."

Sinar kemarahan di mata Mino langsung berubah menjadi keterkejutan yang teramat sangat setelah mendengar perkataan Joongie. Tanpa dapat berpikir dengan jernih lagi, dia menarik kerah baju Joongie dan menguncang tubuhnya dengan keras.

"Apa maksudmu? Hyesun yang menyuruhmu tetap tinggal disini dan membantuku? jadi .. kemana dia sekarang? kamu pasti tahu, kan? katakan pada saya .. "

Mino menatap Joongie dengan mata mendelik dan gigi bergemeratuk hebat. Sedangkan Joongie membalas pandangan Mino dengan mata tak berkedip. Dari sikapnya bisa diketahui bahwa dia tidak bermaksud menjawab pertanyaan Mino.

Mereka berpandangan seperti itu, beberapa menit lamanya. Dan akhirnya Mino yang melepaskan jengkramannya di kerah baju Joongie terlebih dahulu, dengan desahan berat. Mino mundur kebelakang dengan agak sempoyongan. Kemudian dia terduduk lemas di jalan depan pintu masuk bar.

"Saya sudah mencarinya kemana-mana .. bahkan desa Jeja sudah saya geledah .. tapi .. saya tidak mendapatkan kabar tentangnya ..."

Desahan itu terdengar semakin berat seiring dengan perkataannya yang menusuk hati. Perlahan dua butir air bening mengalir keluar dari mata Mino.

Joongie sangat terkejut melihat itu. Untuk pertama kalinya dia melihat seorang laki-laki menanggis dihadapannya. Walaupun tidak terisak-isak, tapi pemandangan itu cukup menguncang hatinya. Apakah ini yang benar-benar dinamakan cinta? Cinta yang mampu membuat seorang pria setegar dan sekeras itu menjadi lemah dan tidak berdaya seperti ini. Entahlah ... Joongie semakin tidak habis pikir melihat keadaan Mino yang jatuh begitu dalam di depannya.

"Yang bisa saya katakan sekarang adalah .. jika noona bermaksud menghindari tuan .. noona tidak akan kembali ke desa Jeja ..."

Joongie menepuk lembut pundak Mino, kemudian berjalan kearah mobilnya yang terparkir di pinggir jalan, dekat situ. Sebelum memasuki mobilnya, sekali lagi Joongie melirik kearah Mino. Kemudian dia mengelengkan kepalanya perlahan ketika melihat Mino menjatuhkan wajahnya di antara celah kedua lutut yang terpeluk erat oleh kedua tangannya yang terkepal rapat.


********************

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun