Author Topic: THE SARANG  (Read 7846 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #30 on: June 11, 2010, 11:24:15 am »
CHAPTER 12


Mino terhenyak di bangku panjang, di pinggir arena ice skating yang sekarang sudah sepi. Permainannya sangat brutal tadi. Semua gerakan yang dilakukannya tidak ada yang benar. Tidak ada yang bisa di kendalikannya dengan baik. Semua penonton dan petaruh sangat kecewa dengannya, dan Mino mengetahui ini. Dia menyebabkan mereka rugi besar malam ini.

Mino menutup wajah dengan kedua tangannya secara perlahan. Pikirannya sangat kacau. Pertemuannya dengan Joongie di depan pintu masuk bar, dua jam yang lalu masih terbayang-bayang dalam pikirannnya. Ditambah lagi rasa sakit dan nyeri yang teramat sangat, yang kembali menyerang lutut kanannya membuat Mino semakin terdampar ke dunia semu. Semuanya seakan tidak nyata. Raganya seakan sudah terpisah dari tubuhnya yang tidak berdaya itu.

Samar-samar terdengar langkah kaki mendekati Mino. Suara langkah kaki itu kemudian berhenti tepat di sampingnya. Mino menurunkan kedua tangan yang menutupi wajahnya secara perlahan. Sepasang matanya yang tidak bercahaya bertemu langsung dengan tatapan dingin dari Mr. Song, begitu wajahnya terangkat.

"Lee Min Ho!! kamu tahu apa yang kamu lakukan tadi?", suara dalam dan penuh ancaman terlontar dari mulut Mr. Song.

Mino menghembuskan nafas panjang-panjang dan mengalihkan pandangannya dari Mr. Song ke arena skating yang licin dan gemerlap tertimpa cahaya lampu dari beberapa sudut ruangan.

"Berapa kerugianmu? aku akan membayarnya sekarang juga .."

Mino segera mengalihkan perhatiannya ke tas besar yang tergeletak di bangku sampingnya.

Mr. Song menyebutkan sebuah angka. Dia kelihatannya tidak ingin berdebat dengan Mino dan ini bisa dimaklumi karena yang diinginkannya hanyalah uang saja. Mino mengacak tas besarnya, kemudian mengeluarkan sebuah buku cek tebal beserta pulpen. Tanpa ragu-ragu Mino menuliskan jumlah yang diminta Mr. Song di buku ceknya. Setelah itu dia merobek lembaran cek tersebut dan memberikannya kepada Mr. Song.

Tiga orang pengikut Mr. Song yang melihat itu menyengirkan wajahnya. Mr. Song membawa lembaran cek itu ke bibirnya dan mengecupnya.

"Thanks Mr. Lee ... tidak salah kami menjadikanmu partner .. berseteru denganmu selalu menguntungkan kami .."

Mr. Song tersenyum simpul kearah Mino. Dimasukkannya lembaran cek itu ke saku celananya. Kemudian memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mengikutinya meninggalkan arena itu. Mino memperhatikan kepergian mereka dengan pandangan yang sama, semu dan tidak tidak bernyawa.


********************



Mino menaiki tangga ruang tamu dengan langkah terseret dua jam kemudian. Keseimbangan seluruh tubuhnya terletak pada tumpuan di sisi kanan tangga.  Kondisi kakinya semakin parah. Bibirnya meringgis kesakitan dan pertahanannya ambruk di pertengahan tangga. Mino tersungkur dengan posisi yang menyedihkan.

"Oppaaaaaaa ...", panggilan dari Soeun terdengar dari belakang.

Suara dentaman kaki terdengar dari lantai bawah sampai ke samping Mino. Soeun sudah berdiri di sana sekarang. Dengan sepasang tangannya dia berusaha membantu Mino berdiri dari tempatnya. Tapi Mino segera menepis tangan Soeun yang terulur kearahnya.

"Jangan menyentuhku .. saya tidak perlu kamu tolong .."

Dengan susah payah Mino membalikkan tubuh dan duduk di salah satu anak tangga, di mana dia tersungkur tadi. Soeun memandangi Mino dengan tampang berkerut. Dia mulai kehilangan kesabarannya.

"Ada apa dengan oppa? Mengapa oppa kelihatan begitu membenciku? Apakah saya pernah melakukan sesuatu yang salah? lagipula kaki oppa kelihatan parah sekali, saya hanya ingin membantu oppa, tidak lebih dari itu ... dan .. sudahkah oppa memeriksakan kakinya ke dokter?"

Mino memelototi Soeun yang menghujaninya dengan bertanyaan bertubi-tubi.

"Sudah saya katakan, apa yang kulakukan tidak ada urusannya denganmu .. jangan sekali-kali kamu berbuat begitu lagi .. saya paling tidak suka dengan cewek reseh .."

Mino membalikkan tubuh kearah depan. Tangannya meraih sisi tangga dan berusaha bangkit dari duduknya. Tapi, malang baginya, rasa sakit yang teramat sangat membuatnya terhenyak kembali. Soeun bergerak. Tangannya terulur kembali kearah Mino.

"Tidak !!!!!", teriak Mino keras, sebelum Soeun menyentuhnya.

"Oppaaa..."

Hanya kata ini yang keluar dengan pelan dari mulut Soeun. Dia sangat terkejut melihat kemarahan Mino. Yang bisa dilakukannya sekarang hanya berdiri diam di tempat sambil memandangi Mino yang masih bersusah payah mencoba berdiri dari tempatnya.

Percobaan kedua kalinya juga gagal. Mino kelihatan semakin menderita. Tangan kanannya memukul-mukul lutut sebelah kanannya dengan keras. Soeun hanya memperhatikannya saja tanpa berani tertindak apa-apa. Dan akhirnya yang dapat dilakukan Mino adalah bergerak dari tempatnya dengan cara bertumpu dengan kedua telapak tangan dan bergeser dengan bokongnya.

Soeun terperangah dengan tindakan Mino yang tidak pernah dibayangkannya. Mino menolak ditolong olehnya dan lebih memilih cara itu. Soeun mengeleng perlahan. Dia merasa semakin tidak mengerti dengan sifat oppanya yang satu ini.


*********************



"Bibi.. ada yang ingin saya bicarakan ..", kata Soeun, sehabis sarapan keesokan harinya.

Mrs. Lee memandangi keponakannya dengan senyuman dibibir.

"Ada apa, Soeun?"

"Ini berkaitan dengan oppa .."

"Ya ..?", Mrs. Lee mendengarkan dengan seksama perkataan Soeun.

"Oppa .. oppa kelihatan agak aneh akhir-akhir ini ..", perkataan Soeun terdengar ragu-ragu.

"Aneh bagaimana maksudmu? .. kalau tentang dia tidak masuk kantor selama 2 minggu terakhir, bibi sudah mengetahuinya .. sekretaris pribadinya, Hyun Joong, sudah melaporkannya kepada bibi .. kamu jangan khawatir tentang masalah itu, paman akan pulang dari Amerika lusa nanti dan mengambilalih semuanya ..."

Soeun mengeleng. Perkataan yang keluar dari mulutnya kemudian terdengar sangat serius.

"Bukan itu saja, bi .. kaki oppa ... ada sesuatu dengan kakinya ..."

Mrs. Lee kelihatan terkejut dengan perkataan Soeun. Dipandanginya Soeun dengan mata terbelalak lebar.

"Kakinya .. ada apa dengan kakinya?"

"Entahlah ... saya juga tidak tahu .. tapi yang jelas, oppa kelihatan sangat menderita dengan kakinya ... sudah dua kali saya memergokinya tidak bisa berjalan dengan normal .. bahkan bisa dikatakan oppa hampir merangkak dari tempatnya ..."

"Maksudmu .. kaki kanannya?", tanya Mrs. Lee cepat.

"Kelihatannya begitu ..", jawab Soeun agak ragu.

"Ohhh ..."

Mendengar desahan Mrs. Lee, Soeun langsung memperhatikannya dengan seksama.

"Memangnya ada apa dengan kaki kanan oppa?"

Mrs. Lee menghembuskan nafasnya. Pikirannya menerawang ke kejadian tragis setengah tahun lalu.

"Kaki kanannya terluka parah saat kecelakaan dasyat yang dialaminya bersama Junki setengah tahun yang lalu .. lutut kanannya remuk dan harus dioperasi, sampai sekarang masih ada metal yang tertanam di dalam kakinya itu ..."

Soeun mengigil. Dia agak ngeri mendengar penjelasan Mrs. Lee tentang keadaan Mino. Ternyata itu yang terjadi dengan kaki kanan oppanya. Dengan segera Soeun bisa membayangkan bagaimana sakitnya Mino saat itu.

Soeun menatap wajah sayu Mrs. Lee dengan prihatin. Beban yang ditanggung bibinya juga tidak kecil. Dia tahu itu. Sejak dulu, untuk menjaga kebersihan nama keluarga besar tidaklah mudah. Dan ini juga berlaku dalam keluarganya.


*****************



Joongie membuka pintu ruang kantor Mino tanpa mengetuk terlebih dahulu. Ini dilakukannya karena dia tahu pasti majikannya itu tidak masuk kantor lagi hari ini.

Tapi .. betapa terkejutnya dia ketika mendapati seorang gadis muda berambut panjang sudah berada di sana.

"Yaaaaaaaa .. siapa kamu? .. apa yang kamu lakukan di sini ?", tanya Joongie sengit.

Gadis muda yang ternyata Soeun itu memandanginya dengan senyum simpul.

"Saya? kamu tidak perlu tahu siapa saya .. kamu adalah sekertarisnya oppa, kan? hmmm .. dimana oppa sekarang?"

"Oo ... ternyata kamu adalah tunangannya tuan muda .."

Soeun terbelalak mendengar perkataan Joongie. Sampai-sampai tas tangan yang dipegangnya terjatuh ke lantai yang dilapisi karpet bulu tebal.

"Yaaaaaaaaa ......... darimana kamu mengetahuinya?"

Senyum mengejek terlihat menghiasi wajah Joongie.

"Saya rasa lebih baik surat mengundurkan diri ini saya berikan kepadamu saja .. kamu tinggal serumah dengan tuan muda, jadi kamu lebih mempunyai kesempatan bertemu dengannya daripada saya .."

Joongie meletakkan sepucuk surat ke atas meja, kemudian berjalan kearah pintu.

"Yaaa .. kamu belum menjawab pertanyaanku ?", teriak Soeun.

Joongie berbalik kearahnya dan berkata dengan nada dingin.

"Oppa? .. apakah ada orang lain yang memanggilnya dengan sebutan itu selain tunangannya yang juga merupakan adik sepupunya itu?"

Soeun terperangah mendengar analisis Joongie yang luar biasa itu. Tatapan matanya penuh kekaguman terarah luruh ke mata Joongie.

"Hmmm ... saya pergi sekarang .."

Joongie berbalik lagi kearah pintu dengan serba salah. Dia merasa agak grogi diperhatikan sedemikian rupa oleh Soeun.

"Heyyy .. suratmu itu?", teriak Soeun kearah Joongie sambil menunjuk surat yang terletak di atas meja.

"Lakukan saja seperti apa yang saya minta ..", jawab Joongie cepat.

Dengan tergesa-gesa dia keluar dari ruangan itu. Sedangkan Soeun masih saja berdiri di situ, memperhatikan Joongie yang sekarang sudah lenyap dari pandangannya. Perlahan perhatian Soeun beralih ke surat yang tergeletak di atas meja.

Dia berjalan ke meja panjang yang terletak dekat jendela itu dan meraih surat tersebut. Untuk beberapa saat Soeun termangu dengan surat di tangannya. Akan tetapi kemudian senyuman tipis tersungging di bibir mungilnya. Tangannya yang memegang surat terulur ke tong sampah yang terbuat dari aluminium. Dengan lambat tapi pasti surat tersebut meluncur memasuki tong sampah tersebut.


******************



Aku sedang merapikan barang-barang di meja rias dekat jendela ketika ponselku yang tergeletak di atas ranjang berbunyi. Aku berbalik dan berlari kearah ranjang yang terbalut seprai unggu bermotif bunga-bunga kecil itu. Kuraih ponselku dan memperhatikan nama yang tertera di layar.

Hmmmm ... Joongie ..... kutekan tombol dan mendekatkan ponsel tipis berwarna putih itu ke telinga.

"Ya, Joongie .."

"Noona?..."

"I ya .. berkatalah, aku sedang mendengarkan .."

Suara di seberang lenyap sejenak. Kelihatannya Joongie merasa ragu dengan kata-kata yang akan dikeluarkannya.

"Joongie! apa yang ingin kamu katakan? cepat katakanlah sekarang, saya sedang sibuk .."

Desakanku membuat Joongie segera melanjutkan perkataannya yang tertunda.

"Saya akan pulang hari ini jadi tunggu saya .. saya akan tiba nanti malam ... "

Aku sangat terkejut mendengar perkataan Joongie. Ponsel yang kugenggam hampir saja terjatuh ke lantai.

"A.. a ..apa? kamu akan pulang? .. la .. lu .. bagaimana dengan Mino?"

"Tuan muda sudah tidak pernah masuk kantor lagi sejak kepergian noona, jadi percuma saja saya tetap tinggal .."

Kali ini ponsel di tanganku benar-benar jatuh ke lantai.

Brakkkk ........

Aku tersentak. Suara "brakkkk ...." yang keras itu menyadarkanku dari kekagetan yang luar biasa. Terburu-buru kupungut ponsel terjatuh ke lantai dan memeriksanya sebentar. Untung tidak apa-apa. Segera kudekatkan lagi ponsel itu ke telinga.

"Hello .. noona .. noona .. apakah noona masih di sana .."

"Ya.. Joongie .. kamu benar-benar akan pulang?"

"I ya, saya sudah membereskan semuanya dan akan berangkat 2 jam lagi .."

"Tidak .. tidak bisakah kamu menundanya?", suaraku bergetar dan penuh permohonan.

"Noona ... saya tahu apa yang noona khawatirkan, tapi percuma saja .. tuan muda sama sekali tidak mau mendengar nasehat dari siapapun ..."

Aku mengangguk. Tidak sadar bahwa sedang berbicara di ponsel.

"Noona .. hello .."

"Ya .. sudahlah Joongie .. saya menantikan kepulanganmu .."

"Baiklah .. oh ya , tolong kabari mama dan papa ..."

"Ok .. tentu saja .. bye .."

Kulempar ponsel ke ranjang ketika hubungan dengan Joongie terputus. Aku mendekati ranjang dengan lunglai dan menjatuhkan tubuhku di sana.

Pikiranku melayang ke Mino. Apa yang sedang dilakukannya sekarang? Joongie mengatakan sudah dua minggu lebih dia tidak masuk kantor. Apakah akan terjadi sesuatu dengannya? Dengan cepat kugelengkan kepalaku. Akub terbangun dengan kilat. Tidak!! tidak boleh terjadi apapun dengannya. Aku tidak akan mengijinkannya.

Aku ... tapi perlahan mataku meredup. Tubuhku kembali terhempas di ranjang. Dan kali ini lebih keras lagi sehingga menyebabkan punggungku agak nyeri.

Apa yang bisa kulakukan? Apakah aku akan nekat kembali lagi ke Seoul hanya untuk menemui Mino? Berjalan ke depan bibi Lee dan mengatakan kepadanya bahwa bagaimanapun aku akan mempertahankan cinta ini sampai titik darah penghabisan?

Kututup mataku rapat-rapat. Dua butir air bening mengalir keluar dari sudut mataku dan jatuh membasahi seprai di ranjang.

Tidak .. aku tahu bahwa itu tidak mungkin kulakukan. Lebih tepatnya lagi, tidak boleh kulakukan. Aku berbalik dan menelungkup di ranjang. Sebentar saja isak tanggis menyembur keluar dari mulutku dengan dasyat.    


*****************

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun