CallMinsun
Welcome,
Guest
. Please
login
or
register
.
1 Hour
1 Day
1 Week
1 Month
Forever
Login with username, password and session length
News:
Home
Search
Calendar
Login
Register
CallMinsun
»
FANFIC
»
Regular Fanfic
»
THE SARANG
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #8876
« previous
next »
Print
Pages:
1
2
[
3
]
4
5
...
7
Go Down
Author
Topic: THE SARANG (Read 7958 times)
Be my self
Admin
Hero
Posts: 7360
that winkkkk!!! *fainted
Re: THE SARANG
«
Reply #30
on:
June 11, 2010, 11:26:21 am »
CHAPTER 13
Joongie dengan ransel tersampir di pundak dan koper di tangan, melangkah keluar dari kamarnya. Di ruang depan papa dan Mrs. Goo sudah menunggunya.
"Biarkan paman mengantarmu!", papa mengajukan tawarannya. Akan tetapi Joongie mengeleng cepat.
"Tidak paman,.. saya bisa pulang sendiri .. lagipula jalan desa sangat sulit dilalui mobil .. memakai angkutan desa jauh lebih baik .."
"Kamu yakin? paman tidak mau dimarahi oleh Hyesun karena membiarkanmu pulang sendiri .."
Joongie tertawa. Dia menganggukkan kepalanya dengan pasti.
"Tentu saja saya yakin .. sudah sembilan bulan saya disini, saya sudah mengenal kota Seoul dengan sangat baik .."
Paman menatap lurus ke mata Joongie. Dia kelihatan ingin menanyakan sesuatu. Tapi kemudian beliau segera mengurungkan niatnya. Yang keluar dari mulutnya kemudian hanya kata-kata perpisahan biasa.
"Baiklah kalau begitu .. sampaikan salam paman dan bibi kepada Hyesun, .. kalau ada waktu kami berdua akan menjenguknya .."
Joongie mengangguk. Wajahnya menguratkan seulas senyum tipis.
"Biar paman mengantarmu keluar .."
"Tidak perlu paman.. saya bisa keluar sendiri .. lebih baik paman beristirahat saja ..", Joongie menolak dengan cepat tawaran dari papa.
Setelah mengucapkan kata-kata perpisahan terakhir, Joongie membungkukkan tubuhnya kearah papa dan Mrs. Goo, kemudian menyeret koper ditangannya, keluar dari rumah itu.
Papa dan Mrs. Goo yang masih di posisinya masing-masing saling melempar pandang. Mereka merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan kepergian Joongie yang begitu tiba-tiba itu. Tapi mereka tidak bisa meduga apa itu.
****************
Joongie baru saja membuka pintu depan ketika sebuah tangan terjulur kearahnya dengan tiba-tiba. Saking kagetnya, Joongie segera mundur ke belakang sehingga koper di tangan terinjak olehnya. Joongie hampir kehilangan keseimbangannya. Dia agak terhuyung ke belakang. Tapi untung pintu depan, di sampingnya, berhasil menahan tubuhnya sehingga tidak sampai terjatuh.
Orang yang mengulurkan tangan dengan maksud mengetuk pintu depan itu tidak kalah terkejutnya. Pekikan pelan keluar dari mulutnya.
"Ahhhhh ......"
"Kamu??? Yaaaaaaaaa ....", Joongie menunjuk-nunjukkan jari telunjuknya kearah depan setelah berhasil berdiri tegak di tempatnya. Yang ditunjuk ikut mengarahkan telunjuknya ke Joongie.
"Yaaaa ... kenapa kamu ada disini juga?", tanya orang yang tidak lain adalah Soeun.
"Seharusnya saya yang menanyakan pertanyaan itu ...", jawab Joongie kesal.
"Saya datang kesini karena masalah yang terjadi antara onnie dan oppa ..", kata Soeun keras.
Joongie terbelalak. Dengan kilat dia mengulurkan tangannya dan membekap mulut Soeun. Matanya langsung jelalatan ke dalam rumah.
"Sssstttt ... jangan keras-keras, nanti kedengaran paman dan bibi ..",
Soeun langsung melotot diperlakukan seperti itu oleh Joongie. Tangannya berusaha menarik tangan Joongie yang menutup mulutnya. Joongie semakin mempererat bekapannya. Soeun berusaha memprotes. Tapi perkataannya tidak terdengar. Yang terdengar hanya gumaman-gumaman tidak jelas dari mulutnya.
"Saya akan melepaskan bekapan di mulutmu jika kamu berjanji tidak berteriak ..", kata Joongie pelan.
Soeun mendelik. Dia masih belum bisa menerima diperlakukan seperti itu. Karena kemarahan yang masih tersirat dari mata Soeun, joongie terpaksa tidak melepaskan tangannya. Dengan perlahan Joongie mendorong Soeun mundur kebelakang dan menutup pintu dibelakangnya. Lima menit berlalu. Akhirnya Soeun mengedip-ngedipkan matanya sebagai tanda menyerah.
Joongie melepaskan bekapannya. Soeun merintih perlahan. Rahangnya digerak-gerakkannya dengan maksud mengendurkan sarafnya yang tegang akibat tidak digerakkan terlalu lama.
"Ahhhh .. mengapa kamu bisa berada di rumah Hyesun onnie?", tanya Soeun.
"Ini tempat tinggalku juga ..", jawab Joongie pendek.
Soeun kelihatan terkejut mendengar jawaban Joongie.
"Apa?? .. apakah .. kalian punya hubungan khususs..?"
"Apa urusannya denganmu ..?", Joongie balas bertanya kepada Soeun.
Suaranya agak keras. Dia kelihatan mulai kesal dengan kehadiran Soeun.
"Lagipula bagaimana kamu tahu noona tinggal disini?", lanjut Joongie.
"Apa ? noona .. katamu?"
Soeun semakin terkejut mendengar perkataan Joongie. Dia memandangi Joongie lekat-lekat. Perasaan tidak percaya dan penuh tanda tanya tersirat jelas dari wajahnya.
"Ya, Hyesun adalah noonaku .. lebih tepatnya lagi adalah saudara sepupuku dan ... heiiii .. kamu belum menjawab pertanyaanku .. bagaimana kamu tahu noona tinggal disini?"
Soeun mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasan Joongie. Rupanya mereka adalah saudara. Pantas saja bisa tinggal serumah.
"Mudah saja bagiku untuk melacak tempat tinggal seseorang ..", jawab Soeun kemudian, sambil membusungkan dadanya.
Joongie mendengus. Tentu saja mudah bagi Soeun untuk melacak keberadaan mereka. Ini seharusnya disadarinya sejak awal. Tidak bibi, tidak juga keponakan, sama saja, tidak pernah bisa menghargai privasi orang lain. Joongie merasa kesal dan marah seketika. Dia segera meraih koper yang tergeletak di belakangnya dan berlalu dari haapan Soeun, tanpa berpaling lagi.
"Yaaaaaaa ... kamu .. kamu mau kemana?", kata Soeun terbatah-batah.
Dikejarnya Joongie yang sudah sampai di gerbang depan. Setelah dekat, Soeun menarik kerah baju Joongie sehingga menyebabkannya hampir terpelanting kebelakang.
"Yaaa.. apa yang kamu lakukan ..?", teriak Joongie keras.
"Kamu mau mencari onnie, kan? .. kalau begitu saya ikut denganmu ..", jawab Soeun serius.
Joongie sangat terkejut. Matanya terbelalak lebar kearah Soeun. Gadis ini benar-benar ajaib. Bagaimana mungkin dia meminta pergi bersama dengan seseorang yang belum dikenal baik olehnya?
"Apa-apaan ini? mengapa harus ikut denganku .. tidak boleh!! saya paling tidak suka berurusan dengan cewek reseh sepertimu .."
Joongie membuka pintu gerbang depan dan berjalan keluar. Dia tidak peduli lagi dengan Soeun. Tapi langkahnya terhenti ketika Soeun meluncur cepat ke hadapannya.
"Saya harus bertemu dengan onnie .. hanya onnie satu-satunya yang bisa menasehati oppa ...saya tidak bisa tenang dengan pertunangan ini jika masalah mereka berdua belum diselesaikan dengan tuntas .."
"Saya tidak akan membiarkanmu menyakiti noona ..", Joongie memandang tajam kearah Soeun.
Yang dipandang segera mengelengkan kepalanya.
"Tidak!! saya tidak akan menyakitinya .. saya hanya ingin memperjelas masalah ini .."
Joongie terdiam sejenak. Perasaan kesal masih tersirat dari matanya. Dan sekali lagi dia menyeret kopernya, berlalu dari situ. Meninggalkan Soeun dengan langkah lebar. Soeun mendengus kemudian berlari-lari kecil dibelakang Joongie. Hampir lima menit lamanya Soeun mengikutinya seperti itu. Dan akhirnya mereka tiba di terminal bis yang dituju Joongie.
Soeun berhenti dengan nafas terengah-engah. Joongie yang juga menghentikan langkahnya, segera berbalik kearah Soeun. Tampangnya berkerut dan tangannya terkepal. Setelah ditahan beberapa lama, akhirnya emosinya pecah lagi.
"Sudah saya katakan jangan mengikutiku .. bukankah kamu sangat hebat dalam menyelidiki seseorang? kamu pergi saja sendiri .. jangan mengikutiku lagi .."
"Saya ingin bertemu dengan onnie dan saya tidak bisa pergi sendiri ...", kata Soeun dengan wajah cemberut.
Joongie mengibaskan tangannya dan berbalik kearah terminas bis didepan.
"Itu tidak urusannya denganku, nona ..."
Soeun berlari kearah Joongie dan menghadangi jalannya.
"Hei ... kamu tidak bisa membiarkanku pergi sendiri ..saya baru tiba 2 minggu yang lalu, Korea masih asing bagiku .. apakah kamu ingin melihat saya tersesat di kota besar ini?"
Kata-kata Soeun terdengar penuh harap. Joongie terdiam sejenak. Bisa gawat kalau cewek reseh ini sampai tersesat. Setelah berpikir berkali-kali, akhirnya Joongie mengambil keputusan.
"Jika mengikutiku, kamu harus berjanji untuk lebih tenang ... jangan berkicau terus!!"
Soeun membuka mulut bermaksud membantah perkataan Joongie. Tapi karena Joongie sudah melangkahkan kakinya ke terminal bis di depan, akhirnya Soeun mengurungkan niatnya .....
********************
Hari sudah sore ketika bis desa yang ditumpangi Joongie dan Soeun berhenti di tempat pemberhentian angkutan desa setempat. Terminal kecil itu sangat sederhana. Hanya dinaungi oleh sebuah tandu besar yang sudah agak kumuh. Joongie dan Soeun turun dari bis kecil itu dengan agak terbungkuk. Pada saat itu matahari sore bersinar dengan lembut. Soeun langsung berteriak melihat pemandangan luar biasa dihadapannya.
"Wahhhhhhhh ... indah sekali!!! .. saya belum pernah melihat tempat seindah ini ... dan desa .. di depan, pasti desa Jeja, kan?
Joongie tersenyum. Agak geli juga dia melihat tingkah laku Soeun.
"Desa Jeja ada di seberang bukit kecil itu ...", jawab Joongie sambil mengarahkan telunjuknya ke bukit kecil yang berdiri kokoh dihadapannya.
"Ohhh ... bukankah kita akan mencari onnie?", tanya Soeun heran.
"Noona berada di desa depan ..."
Joongie menyusuri jalan setapak yang menghubungkan terminal desa dengan desa kecil didepannya, tanpa menunggu reaksi Soeun lebih lanjut.
"Oh .. pantas saja .. karena itu oppa tidak menemukannya ..". Soeun bergumam sendiri.
"Yaaaaaaaaa ... tunggu saya .."
Soeun kembali berlari-lari kecil dibelakang Joongie. Mereka berdua menyusuri jalan setapak yang agak keemasan warnanya oleh pantulan sinar matahari sore. Kicauan burung samar-samar sudah mulai lenyap di sela-sela pepohonan. Semilir angin yang mengoyangkan rumput-rumput liar di tanah lembab menimbulkan suara seakan-akan alunan musik dari surga. Di atas langit yang paling tinggi, kegelapan perlahan-lahan mulai merayap, menyelimuti alam semesta.
******************
Joongie memperhatikan pondok sederhana di hadapannya. Begitu sederhana dan polos pondok itu, dengan nuansa putih dan krem lembut. Tapi, walaupun sederhana, pondok itu kelihatan bersih dan terawat. Ya .. noonanya sudah kembali lagi ke kehidupannya semula. Kehidupan yang tenang dan damai seperti sembilan bulan lalu.
Soeun berdiri di samping Joongie tanpa berkata apa-apa. Matanya memandang lurus ke rumah kecil di depannya. Pikiran-pikirannya saat itu tidak jauh berbeda dengan pikiran Joongie.
Perlahan Joongie mendekati pintu depan bercat putih itu dan mengetuknya. Dua menit kemudian pintu terbuka.
"Joongie! .. akhirnya kamu sampai juga.. noona sudah menunggumu dari tadi .. dan .. heii .. siapa ini?", aku mengarahkan pandangan ke Soeun, ketika sadar bahwa ada orang asing berdiri di samping Joongie.
"Kita bicara di dalam saja, noona ..", jawab Joongie sambil menyeret kopernya ke dalam rumah.
Aku mengangkat bahu sebagai tanda terserah. Soeun mengikuti Joongie dari belakang. Setelah kami bertiga sudah berada di dalam, kututup pintu depan dengan perlahan.
"Apakah mama dan papa masih berada di sini?", tanya Joongie.
"Tidak, paman dan bibi sudah kembali ke desa Jeja dua jam yang lalu .. mereka akan datang lagi besok pagi .."
Joongie mengangguk dengan penjelasanku. Aku mengalihkan pandangan ke Soeun. Joongie yang menangkap arah pandanganku segera berkata ...
"Dia Kim So Eun .. hmmm .. adik sepupu tuan muda .. ehhh .. Mino maksudku .."
Joongie memang sengaja tidak menambahkan kata tunangannya Mino dalam penjelasannya. Tapi nama itu sudah cukup membuatku terhempas dari seluruh kesadaranku.
"Ohhhh ....", hanya desahan ini yang keluar dari mulutku.
"Hi, onnie .. senang berjumpa dengan onnie ..", Soeun melambaikan tangannya dengan riang kepadaku.
Dia sangat manis. Muda dan enerjik. Aku mendesah sekali lagi. Apakah Mino menyukainya? sejujurnya aku sangat menyukainya walaupun hanya pada pertemuan pertama.
"Hi, Soeun .. saya juga senang bertemu denganmu .. selamat datang di desa kami ..", jawabku dengan berusaha mengirangkan suaraku.
Joongie memperhatikan tingkah laku ku dari tempatnya. Aku yakin dia dapat melihat dan menduga segala pikiranku. Sejak dulu dia selalu begitu. Tanpa perlu kukatakan, dia selalu dapat menebak keadaanku.
"Noona .. sebaiknya Soeun untuk sementara tinggal bersama noona saja .. itu lebih baik daripada dia ikut denganku ke desa Jeja .."
Aku mengangguk.
"Ya, itu lebih baik .."
Joongie berpaling kearah Soeun. Diperhatikannya gadis itu sejenak.
"Untuk sementara kamu tinggal disini .. dan karena kamu tidak membawa perlengkapan apa-apa, kamu pinjam saja kepada noona .. bentuk badan kalian hampir sama, jadi saya yakin baju-baju noona akan cocok untukmu .."
Soeun mengangguk. Joongie kemudian mengalihkan perhatiannya kepadaku lagi.
"Tolong noona jaga dia ya .. saya harus pergi sekarang .. jika tidak, akan sangat larut saya tiba di rumah .. besok pagi saya akan datang lagi bersama mama .."
Joongie menepuk tanganku, kemudian berjalan keluar dengan koper di tangan. Aku tersenyum kepada Soeun. Walaupun dia sainganku .. ya, sainganku ... karena dia adalah tunangan Mino maka dia menjadi sainganku, tapi aku tetap tidak bisa membencinya. Dia terlalu manis untuk membuat orang lain tidak menyukainya.
"Saya rasa kamu sudah sangat capek setelah perjalanan panjang tadi .. yang kamu butuhkan sekarang adalah mandi dan berganti pakaian yang bersih .."
Soeun kelihatan ingin membantah, tapi aku segera melarangnya.
"Tidak!.. saya tahu ada yang ingin kamu bicarakan denganku, tapi tidak hari ini ... kamu harus cepat-cepat membersihkan diri dan istirahat, kamu kelihatan sangat lelah ..kamu mandi saja dulu, kamar mandinya ada di belakang sana .. saya akan mengambilkan pakaian untukmu sekarang .."
Aku segera melangkah ke kamarku yang terletak di ruang tengah setelah menyelesaikan pembicaraan dengan Soeun.
********************
Mino memasuki ruang tamu dengan susah payah. Dari hari ke hari keadaan kakinya semakin parah. Jika beruntung, dia masih bisa melangkah dengan terseret-seret, tapi jika tidak, rasa sakit yang teramat sangat akan membuatnya tidak dapat mengerakkan kakinya sama sekali. Karena ini pula dia harus mengeluarkan uang dalam jumlah yang besar setiap malamnya buat kekalahannya dalam pertaruhan gelap di arena iceskating yang diikutinya itu.
Mrs. Lee segera berpaling kearah Mino ketika dilihatnya Mino memasuki ruangan dengan langkah terseret. Matanya langsung meredup. Fokus pandangannya jatuh ke kaki kanan Mino.
"Apakah kamu harus menyiksa diri seperti itu, Mino?"
Mino menghentikan langkahnya. Pandangannya yang semula hanya tertuju ke depan, secara perlahan diarahkan ke Mrs. Lee. Mino tidak berkata apa-apa dengan pertanyaan mamanya itu. Sepasang matanya sama sekali tidak bercahaya. Mrs. Lee agak tersentak melihatnya.
"Kamu .. jawab pertanyaan mama .... mengapa harus menyiksa diri sendiri seperti itu? mengapa harus berhubungan dengan orang-orang dari golongan hitam itu?"
Mino masih saja diam di tempatnya. Pandangannya masih terarah lurus ke Mrs. Lee. Tapi walaupun begitu ada sedikit bayangan keterkejutan yang melesat dari sepasang matanya. Sekilas ... ya, keterkejutan itu hanya sebentar saja, karena setelah Mino sadar siapa sebenarnya mamanya itu, dia langsung menyerah.
"Bisakah kamu melepaskan diri dari kelompok itu demi mama?", tanya Mrs. Lee penuh harap.
Mino tertunduk perlahan. Dia sudah tidak sanggup untuk menatap Mrs. Lee lebih lama lagi. Perasaan benci karena tindakan mamanya ini tiba-tiba menyelimutinya. Mino meneruskan langkah kearah anak tangga di depannya dengan susah payah.
"Mino yaaa ...?", panggil Mrs. Lee dari belakang.
Mino menghentikan langkah tepat di anak tangga paling bawah. Suara yang kemudian keluar dari mulutnya terdengar bergetar, serak dan penuh tekanan.
"Lalu .. bisakah mama mengembalikan Hyesun kepadaku? bisakah mama merestui hubungan kami ..?"
"Mino yaaa ..", Mrs. Lee mendesah perlahan.
"Jika tidak, lupakan semuanya ... setelah kepergian Hyesun, bagiku .. apapun sudah tidak ada artinya lagi .. saya tidak akan menyesal kehilangan segalanya, LKH Group,kakiku, hidupku .. bahkan nyawaku sekalipun, karna apapun sudah tidak dapat kurasakan lagi .. segalanya sudah hampa dan mati .."
Mino mengatakan ini sambil memunggungi Mrs. Lee. Dia tidak melihat betapa Mrs. Lee sangat terguncang dengan perkataannya. Perasaan melindungi kebersihan nama keluarga dan menyesal bercampuraduk dalam pikirannya. Mino meneruskan langkahnya lagi setelah mengeluarkan segala pikirannya selama ini kepada Mrs. Lee.
******************
Keesokkan harinya Joongie dan bibi datang kerumahku sekitar pukul 7 pagi. Aku dan Soeun baru bangun dari tidur saat itu. Paman tidak bisa datang karena beliau diminta oleh tetangga untuk mengerjakan sesuatu. Kami sarapan bersama dua puluh menit kemudian. Hidangan yang tersedia sangat sederhana. Hanya terdiri atas ham, telur dadar, toast dengan selai berry dan susu segar.
Kami menikmati hidangan di atas meja tanpa mengeluarkan suara. Joongie tidak mengatakan sesuatupun tentang Mino sejak kepulangannya dari Seoul. Itu bisa dimaklumi, karena bibi selalu berada di samping kami. Joongie tahu bahwa aku tidak ingin masalah ini sampai diketahui oleh bibi.
Soeun yang tidak tahu apa-apa tentang rahasia hubunganku dengan Mino itu, hampir keceplosan tadi. Dia hampir membicarakan masalah itu di hadapan bibi. Tapi untung isyarat dari Joongie supaya dia tutup mulut dapat dipahaminya. Jadilah sekarang suasana ruang makan itu hening dan sunyi.
Setengah jam kemudian, kami menyelesaikan sarapan yang bernuansa tenang itu. Aku berdiri dari kursi diikuti oleh Soeun dan Joongie. Kami mulai membereskan peralatan yang berserakan diatas meja dan membawanya ke dapur.
"Sudah .. biar bibi saja yang mencucinya .. keluarlah! .. kalian pasti punya banyak hal yang harus dibicarakan setelah lama tidak bertemu ...."
Bibi menaruh piring yang dibawanya ke wastafel yang terbuat dari marmer gelap setelah mengusir kami dengan halus. Aku, Joongie dan Soeun keluar dari rumah menuju teras depan. Suara keran air yang dibuka dan air yang mengalir dari dapur menjadi semakin samar dan hilang sama sekali setelah kami sampai di teras depan yang mulai tertimpa sinar matahari pagi.
Pandangan kami bertiga tertuju lurus ke bukit hijau di depan sana. Aku dan Joongie masih tenggelam dalam pikiran masing-masing ketika Soeun mengambil inisiatif membuka pembicaraan terlebih dahulu.
"Jadi sekarang kita bisa berbicara dengan bebas, kan?"
Aku mengangguk tanpa mengalihkan pandangan ke Soeun.
"Saya berharap onnie dapat menyisihkan waktu bertemu dengan oppa dan menasehatinya agar keluar dari kelompok para berandalan itu .."
"Apa maksudmu?", tanyaku kepada Soeun. Pandanganku langsung teralih kearahnya ketika mendengar kata berandalan keluar dari mulutnya.
"Oppa .. setelah berpisah dengan onnie, oppa selalu menyiksa diri sendiri dengan mengikuti pertaruhan-pertaruhan gelap yang diadakan di ruang tanah sebuah bar di Soeul .. keadaan kaki oppa sudah sangat parah tapi dia tidak mau mendengar nasehat dari siapapun .. hanya onnie .. hanya onnie yang bisa menasehatinya .. saya tahu itu karena oppa hanya mau mendengarkan perkataan onnie .."
Perkataan Soeun yang penuh pengharapan menguncang hatiku. Wajahku langsung pucat. Joongie yang melihat itu, langsung berkata sengit ke Soeun.
"Heiii .. nona .. kamu tidak bisa menyuruh noona melakukan itu .. noona sudah cukup menderita, bukan hanya oppamu .. sebenarnya, apa yang kamu inginkan dengan mengikutiku ke sini?"
"Hanya ingin memperjelas masalah .."
"Apa???", tanya Joongie tidak mengerti dengan perkataan Soeun.
"Saya hanya ingin memastikan bahwa onnie benar-benar sudah putus dengan oppa .. dengan begitu saya baru bisa tenang dengan pertunangan ini .. sampai sekarang saya belum melihat oppa benar-benar sudah rela melepaskan onnie .. jadi saya berharap onnie bisa mengambil keputusan tegas .."
Soeun dan Joongie saling berpandangan dengan sinar mata keras. Keduanya kelihatan tidak mau mengalah dengan perkataannya masing-masing. Aku baru saja bermaksud melerai pertengkaran yang terjadi antara mereka ketika suara keras bibi terdengar dari pintu depan.
"Astagaaaa , Hyesun aaa ... apakah yang dikatakan mereka benar?"
Aku berpaling kearah bibi. Badanku langsung lemas ketika melihat kekagetan yang amat sangat terpancar dari wajah bibi yang pucat.
"Dongsaengnya Junki? .. bagaimana mungkin .. bagaimana mungkin kamu sampai mempunyai hubungan khusus dengan dongsaengnya Junki?"
Bibi benar-benar terpukul dengan berita itu. Bibirnya bergetar hebat. Dia tidak bisa menerimanya. Aku tahu dia tidak mungkin dapat menerimanya, seperti juga Mrs. Lee. Semua ini sangat memalukan.
"Tidak, bi!!! .. hubunganku dengan Mino sudah berakhir .. sejak saya meninggalkan Seoul, semuanya sudah berakhir ..", kataku perlahan.
Tapi walaupun aku berkata begitu, sebenarnya hatiku terasa sakit seperti teriris pisau tajam.
"Tapi, oppa belum rela berpisah dengan onnie .. selama ini oppa masih berusaha mencari keberadaan onnie .. saya tahu oppa tidak akan menyerah sebelum bertemu dengan onnie ..", sela Soeun.
"Soeun yaaa .. jangan berkata seperti itu lagi .. saya dan Mino itu tidak mungkin .."
Mendengar perkataanku yang tegas, Soeun langsung terdiam. Semua yang berada disitu pandangannya tertuju kepadaku. Aku juga lagnsung tenggelam dalam kebisuan. Kebohongan lagi yang harus kukatakan. Aku sudah mulai muak dengan diriku sendiri.
"Jadi, walaupun kamu sudah menghindar dari Mino, dia tetap tidak mau melepaskanmu?"
Pertanyaan bibi terdengar datar di telingaku. Kuperhatikan ekspresi wajahnya dan mengangguk perlahan.
"Kalau begitu cuma ada satu cara untuk membuatnya mau tidak mau harus melepaskanmu.."
Aku menatap lekat-lekat ke bibi. Aku benar-benar tidak dapat menduga apa yang akan dikatakannya kemudian. Tapi yang jelas hatiku langsung menjadi tidak enak.
"Apa itu?", tanyaku agak tergagap.
"Menikahlah dengan Joongie .."
"Hahhhh ............!!!!!"
Teriakan serentak keluar dari mulut kami. Aku, Soeun dan Joongie terbelalak lebar kearah bibi. Perkataannya benar-benar menguncang hati kami. Cara yang dilontarkannya tidak pernah terbayang dalam pikiran kami. Bibi tidak berkeming melihat kekagetan kami yang luar biasa. Dia sangat serius dengan jalan keluar yang di ungkapkannya itu. Kami bertiga saling melempar pandangan, tidak tahu harus berbuat apa terhadap ide gila itu.
********************
Logged
EVIL SMILE ^^
'LOVE' ...
keeps it strong!!!
Our MinSun
Print
Pages:
1
2
[
3
]
4
5
...
7
Go Up
« previous
next »
CallMinsun
»
FANFIC
»
Regular Fanfic
»
THE SARANG
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #8876