CallMinsun
Welcome,
Guest
. Please
login
or
register
.
1 Hour
1 Day
1 Week
1 Month
Forever
Login with username, password and session length
News:
Home
Search
Calendar
Login
Register
CallMinsun
»
FANFIC
»
Regular Fanfic
»
THE SARANG
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #8958
« previous
next »
Print
Pages:
1
2
[
3
]
4
5
...
7
Go Down
Author
Topic: THE SARANG (Read 7922 times)
Be my self
Admin
Hero
Posts: 7360
that winkkkk!!! *fainted
Re: THE SARANG
«
Reply #30
on:
June 14, 2010, 08:55:05 am »
CHAPTER 14
Cara yang diajukan bibi untuk menyelesaikan masalah yang terjadi antara aku dan Mino begitu mengemparkanku. Joongie dan Soeun juga terpaku di tempatnya. Kami menjadi serba salah dengan keadaan yang tiba-tiba tidak mengenakkan itu. Joongie yang salah tingkah segera berkata keras kepada bibi.
“Mamaaaa … apa-apaan ini? jangan main-main …”
Bibi menatap Joongie tak berkedip. Dia tidak main-main. Ya, bibi sangat serius dengan perkataannya, jadi ini bukanlah lelucon atau permainannya.
“Mama bersungguh-sungguh Joongie .. ini jalan terbaik ..”
“Omong kosong!!!!!”, teriak Joongie.
Dia semakin salah tingkah. Demikian juga denganku. Sedangkan Soeun hanya memandangi kami bertiga silih berganti. Dia kelihatan kebinggungan sendiri.
“Jika ingin Mino benar-benar rela melepaskan Hyesun, ini jalan satu-satunya … yaitu Hyesun harus menikah .. dengan berkeluarga, Mino tidak akan dapat memaksakan kehendaknya lagi .. dan satu-satunya orang yang cocok untuk menjadi suami Hyesun adalah kamu Joongie .. karena kamu yang paling mengerti dan mencintai Hyesun …”
Aku terkejut mendengar kata-kata terakhir dari bibi. Dengan cepat aku berpaling kearah Joongie. Soeun juga kelihatan tidak kalah terkejutnya. Dan keterkejutanku dengan Soeun berbeda. Aku menjadi heran ketika melihat Joongie tidak kelihatan khawatir mendengar perkataan bibi tadi.
“Joongie .. kamu baik-baik saja, kan? .. saya ..”
Perkataanku yang terbata-bata langsung dipotong oleh Joongie.
“Noona jangan mengkhawatirkanku .. ini semua kenyataan .. saya tidak merasa perlu untuk menyimpannya lagi .. lagipula noona sudah tahu sejak awal bahwa saya mencintai noona, kan?”
Pertanyaan ini lebih mengejutkanku lagi. Mulutku sampai mengangga lebar. Bagaimana mungkin Joongie bisa mengetahui pikiranku?
“Noona jangan memandangku seperti itu .. saya bukan dewa yang bisa membaca pikiran noona .. saya mengetahuinya dari tuan muda Lee … ehhh .. maksud saya Mino ..”
“Ohhhh …”, aku mendesah perlahan. Kepalaku terasa pusing.
“Mino yang tidak sengaja mengatakannya ketika dia kebinggungan dan marah dengan kepergian noona yang tiba-tiba ..”
“Ohhhh ….”
Sekali lagi desahan keluar dari mulutku. Mino aaaa .. dia pasti sangat menderita saat itu. Mataku terasa pedas. Tanpa kusadari dua butir air bening mengalir keluar dan menyusuri kedua pipiku sampai jatuh ke lantai teras bermarmer putih.
” Onnieee .. onnie tidak bermaksud ..”
Aku segera mengangkat tanganku, memutuskan perkataan Soeun.
“Tidak! .. jangan berkata apa-apa lagi .. saya mohon, kepalaku sangat sakit ..”
Aku menekan kepalaku dengan keras. Aku sudah tidak tahan lagi. Kepalaku terasa mau pecah.
“Pikirkanlah itu Hyesun .. itu yang terbaik, kamu tidak ingin masalah ini sampai berlarut-larut, kan?”
Pertanyaan bibi semakin menyesakanku. Aku menarik nafas dengan susah payah. Yang lain masih memperhatikanku. Mereka semua menunggu jawaban dariku. Tapi pada saat ini, aku benar-benar tidak mampu mengeluarkan suara. Semuanya seperti tersangkut di kerongkongan.
Dengan perlahan aku menunduk. Bagaimanapun aku harus menjawabnya. Semua urusan ini harus kuselesaikan dengan segera. Jika tidak, orang-orang yang dekat denganku akan menderita karenanya.
“Saya .. saya perlu .. perlu waktu ..”
Hanya kata-kata itu yang mampu kukeluarkan dengan susah payah dan penuh tekanan.
******************
Seminggu kemudian …….
Mrs. Lee duduk sendirian di ruang tamu. Jam meja dari perak yang terletak diatas perapian bata menunjukkan pukul 5 sore. Keadaan di rumah besar itu sangat sepi. Mrs. Lee semakin tertekan dengan keadaan keluarganya. Sudah seminggu ini dia tidak bertemu Mino. Mr. Lee berangkat ke Beijing dua hari yang lalu dalam rangka menghadiri rapat penting para investor besar di LKH Group. Soeun menghilang seminggu yang lalu dengan hanya meninggalkan sepucuk surat di kamarnya. Dan sampai sekarang Mrs. Lee belum menerima kabar darinya.
Tiba-tiba telepon di sampingnya berdering nyaring ..
Kringgggggggggg ………… kringgggggggggg …. kringggggggggg ……….
Mrs. Lee meraih gagang telepon dari perak murni itu dan menempelkannya di telinga …
“Yeoboseyo …”
“Bibi ..??”, suara Soeun terdengar dari seberang.
“Soeun??? … oh .. tuhanku, kemana saja kamu?”
“Maafkan saya, bi .. saya pergi begitu saja tanpa berpamitan dulu kepada bibi … saya sekarang ada di rumah onnie ..”
“Onnie??”
“Hyesun onnie, maksud saya ..”
“Ohhh .. apa yang .. apa yang kamu lakukan? mengapa ..mengapa ..?”
“Dengarkan saya dulu, bi .. saya menelepon bibi karena ada urusan penting yang harus saya beritahukan ..”, potong Soeun cepat.
“Apa itu ?”, tanya Mrs. Lee ingin tahu.
“Hyesun onnie … Hyesun onnie akan menikah dengan Kim Hyun Joong minggu depan ..”
“Apaaaaaaa???”, teriak Mrs. Lee. Dia benar-benar kaget mendengar berita yang tidak disangka itu.
“Saya rasa sebaiknya onnie saja yang berbicara dengan bibi .. dia ada disebelahku sekarang ..”
“Heiiii .. apa maksudmu ini? .. Hyesun akan menikah dengan Hyun Joong ”
Dan tiba-tiba .. teriakan dari belakang mengejutkannya ….
“Apa-apaan ini? siapa yang akan menikah ..? Hyesun ..?”
Mrs. Lee langsung berpaling kearah suara itu. Lewat sandaran sofa yang didudukinya, dia melihat Mino berdiri disamping pintu dengan mata terbelalak lebar. Wajah Mino terlihat pucat. Bibirnya bergetar hebat.
“Mino aaa … itu …”
Mrs. Lee tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Mino berjalan cepat kearah Mrs. Lee dan merebut gagang telepon dari gengamannya.
“Weiii … Hyesun?? … Hyesun, kan?? .. saya tahu ini kamu .. saya mohon berkatalah .. ngomonglah kepadaku ..”
Sunyi diseberang …
“Mengapa kamu menyiksaku seperti ini? .. mengapa kamu lakukan ini? katakan padaku kalau semuanya hanya kebohongan belaka .. kamu sengaja ingin mempermainkanku .. saya mohon katakanlah itu … Hyesun yaaa ….”
*************
Telepon dalam gengamanku bergetar hebat. Suara Mino .. hu ..hu .. suara Mino begitu menyayat di telingaku. Permohonannya yang mengharu biru di seberang mengiris kalbuku. Entah untuk keberapa kalinya selama seminggu ini, airmataku tumpah kembali .. kali ini mereka mengalir deras dari sepasang mataku ..
Secara perlahan telepon seluler itu lepas dari tanganku dan jatuh ke lantai ….
brakkkkkkkkkkkk …………….
****************
Suara tut …tut .. tut .. pertanda putusnya hubungan dari seberang mengagetkan Mino.
“Hyesun .. aaaa … Hyesun … kamu tidak bisa berbuat begitu terhadapku .. Hyesun ..aaaaaaa ………..”
teriakan Mino langsung mengetarkan seisi ruangan.
“Mino, kendalikan dirimu …”
Mrs. Lee menyentuh lengan Mino, berusaha untuk menenangkannya. Mino mengibaskan tangan Mrs. Lee dan melempar telepon itu ke lantai .. brakkk ….
“Ahhhhhhhhhh ……………..”
Teriakan histeris yang membangkitkan bulu roma keluar dari tengorokan Mino. Seperti orang yang kehilangan ingatan, Mino menghambur keluar dengan kedua tangan menempel erat di telinga.
***************
Mino berlari … berlari … dan berlari …..
Saat itu sakit di kaki kanannya sudah tidak terasa sama sekali. Dibandingkan dengan sakit di hatinya, semua itu terasa hanya hal sepele saja. Di langit tinggi, butir-butir air mulai dijatuhkan ke bumi. Secara perlahan, rintik-rintik hujan itu mulai berubah menjadi air deras. Mino tersungkur di pinggir jalan setelah rasa nyeri hebat kembali menyerang lutut kanannya.
“Ahhhhhhhhhh …………………..!!!!! “
Teriakan itu kembali melengking dari mulutnya. [bigno]akkan dan membahana di sekitar pinggir jalan yang mulai memburuk. Airmata mengalir deras bercampur dengan derasnya air hujan yang mengalir sepanjang pipinya. Mino menengadah ke atas. Wajahnya terasa perih oleh siraman air hujan yang deras itu. Selama lima menit Mino bertahan di posisi yang sama.
“Ahhhhhhhhhh ………”, teriakan serak sekali lagi keluar dari kerongkongannya.
Mino menunduk dan menyelipkan wajah diantara kedua lututnya dengan bahu berguncang hebat karena menahan isak tanggis yang mendalam.
*******************
Seminggu telah berlalu setelah kabar yang mengemparkan itu. Selama seminggu lamanya Mino selalu mengurung diri di kamarnya. Dia tidak pernah lagi pulang larut malam. Tidak pernah lagi berselisihpaham dengan mamanya. Dan tidak juga menanyakan kabar yang diterimanya tentang pernikahan Hyesun.
Semua yang dilakukannya sangat maya. Ini mengkhawatirkan Mrs. Lee. Dia mengenal baik putra yang tinggal satu-satunya ini. Walaupun Mino tetap menjalani kehidupan seperti biasanya, makan dengan pola teratur dan tidak berurusan lagi dengan para berandalan tersebut, ini juga yang disadari oleh Mrs. Lee bahwa ada sesuatu yang sangat tidak beres dengan diri Mino.
******************
Kamar Mino terasa sunyi. Ruangan dengan langit tinggi dan peralatan mewah itu seakan berkata bahwa dia ikut bersedih dengan penderitaan majikannya yang sekarang sedang tertunduk lemas di sudut ranjang yang lebar.
Mino sedang memperhatikan sesuatu dalam genggamannya. “Sarang” tergeletak tak berdaya di tangannya. Matanya yang mati mengambarkan berjuta makna yang tidak bisa dipahami. Mino mendesah perlahan. Besok adalah hari penentuannya. Hubungannyua dengan Hyesun benar-benar akan berakhir dengan pernikahan Hyesun dan Hyun Joong.
“Saya benar-benar harus melepaskannya, kan? dia sudah mengambil keputusan .. walaupun tidak rela, saya harus menerimanya .. begitu juga denganmu, seharusnya kamu kembali kepada orang yang benar-benar berjodoh ..”
Mino mengetukan jari telunjuknya ke “Sarang”, kemudian meremasnya perlahan. Desahan berat kembali terdengar dari hidung mancungnya. Matanya terpejam rapat.
Setelah mengambil keputusan bulat, Mino meraih kotak kecil berwarna biru yang tergeletak dihadapannya. Dimasukkannya “Sarang” ke dalam kotak itu dan menutupkan penutupnya. Dengan tangan gemetar Mino membuka laci kecil disamping tempat tidur dan mengambil pulpen yang ada di dalamnya.
Tangannya semakin bergetar hebat ketika menorehkan alamat yang dituju pada samping kotak. Besok pagi, dia akan mengirimkannya. “Sarang” akan kembali kepada orang yang berhak memilikinya. Dan orang itu bukan dia, karena yang akan menikah dengan Hyesun adalah pria lain dan bukan dia. Hati Mino semakin tersayat mengingat kenyataan ini.
*********************
“Tuan!! .. apakah tuan ingin mengirim itu?”
Pertanyaan itu menyadarkan Mino dari lamunannya. Pegawai pos setengah baya yang berada di depan memandanginya tak berkedip. Tangannya menunjuk kotak biru kecil di tangan Mino.
“Ya …”, desah Mino.
Tangan kanannya yang memegang kotak itu terjulur ke pegawai pos. Tapi sebelum orang itu menyentuh kotak tersebut, Mino menariknya kembali. Dia kelihatan tidak rela melepas barang itu.
“Tuan ..?”
Mino membalas padangan pegawai pos yang sedikit kesal kepadanya, kemudian pandangannya sekilas terjatuh ke kotak ditangannya. Dia harus mampu melakukannya .. harus … Perlahan Mino mengulurkan tangannya lagi. Kali ini dia tidak menariknya kembali.
Pegawai pos itu menerima bungkusan dari tangan Mino. Menimbangnya dan menyebutkan harganya. Mino mengeluarkan dompet kulit dari saku celana dan membayar harga yang disebutkan tadi. Setelah selesai Mino berbalik kearah pintu kaca dibelakangnya. Dia berjalan perlahan. Sampai di pintu depan, dia membalikan badannya lagi dan memandang sayu ke kotak biru yang sekarang sudah berada di tumpukan barang-barang yang akan dikirim.
“Bye-bye Sarang ….”, desahnya pelan.
*********************
Mino keluar dari kantor pos kecil yang terletak di sudut barat pusat perbelanjaan Seoul. Diliriknya jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Hmmm … sudah pukul 9:15 .. Hyesun sekarang mungkin sudah bersiap-siap ke gereja untuk mengucapkan sumpah sehidup semati dengan Hyun Joong. Mino mendesah perlahan. Sudah seharusnya dia melepaskan cinta pertama dan sekaligus cinta sejatinya, seiring dengan dikirimnya “Sarang”.
Ditelusurinya lorong sempit dan kumuh yang menghubungkan kantor pos tadi dengan jalan besar di depan dengan langkah gontai. Keluar dari lorong kecil, Mino berbelok ke kanan. Dia tidak berhenti ketika telah sampai di tempat mobilnya terparkir. Dia terus berjalan melewati tempat parkir yang luas itu.
Saat itu Mino seperti kehilangan kesadarannya. Dia hanya berjalan lurus ke depan, terus dan terus. Jalan besar yang dilaluinya tidak begitu ramai. Mino menghentikan langkahnya ketika suatu panggilan keras terdengar dari belakangnya.
“Tuan muda Lee …!!!!”
Mino berbalik dan ….. ternyata ….
“Ohhh .. kalian ..”
Mr. Song dan beberapa pengikutnya berlari kearah Mino.
“Saya tidak ingin berurusan dengan kalian hari ini ..”
Mino berbalik kearah sebaliknya dan bermaksud pergi dari situ, tapi tepukan Mr. Song di bahu menghentikannya.
“Jangan main-main tuan muda Lee ..”
Mino mendengus. Mr. Song sekarang sudah berdiri dihadapannya.
“Lalu.. apa yang kalian inginkan?”, tanya Mino dengan suara rendah dan menusuk.
“Sudah seminggu ini kamu tidak muncul di arena pertaruhan .. apakah tuan muda Lee tahu berapa kerugian kami?”
Suara Mr. Song tidak kalah menusuknya dengan Mino. Nada penuh ancaman tersirat jelas dari perkataannya. Tapi Mino sudah tidak peka lagi untuk menangka0p semua isyarat itu.
“Suasana hatiku sangat buruk sekarang, sebaiknya kalian segera lenyap dari hadapanku ..”
“Kamu harus ikut dengan kami hari ini ..”, suara tenang Mr. Song terdengar tidak wajar.
“Tidak mau!!!!”
Teriakan Mino ini diikuti dengan melayangnya pukulan ke wajah Mr. Song. Orang yang dituju menghindar dengan cepat. Mino hanya memukul anging kosong. Dan karena kaki kanannya yang sakit tidak mampu menyangga tubuhnya dengan baik, Mino tersungkur ke depan.
Mr. Song mendekati Mino dan berjongkok disampingnya.
“Bagaimana tuan muda Lee? .. apakah sekarang kamu sudah dapat ikut dengan kami ? .. menang atau kalah, kami membutuhkanmu dalam pertaruhan itu ..dan ..
prakkkkkk …. tamparan keras mendarat di pipi kiri Mr. Song.
Muka Mr. Song langsung merah padam. Matanya terbelalak lebar kearah Mino. Api kemarahannya naik sampai ke ubun-ubun.
“Hajar dia !!!!!!!!!!”
Teriakan Mr. Song membahana diikuti dengan pukulan dan tendangan dari pengikutnya ke Mino. Darah segar langsung muncrat kemana-mana diiringi dengan teriakan-teriakan keras. Mino berusaha melindungi dirinya dari hajaran dan tendangan ganas orang-orang yang sudah mulai kalap itu. Tapi semuanya percuma saja. Semuanya mulai gelap dalam pandangan Mino. Darah terus mengalir dari luka-luka di tubuhnya.
Dan sebagai puncak dari semua itu, salah satu dari pengeroyok mengeluarkan sebilah pisau kecil dari saku bajunya dan menusukkannya ke perut Mino.
Cratttttttttt ………………….. darah mengalir deras dari tusukan itu.
“Ohhhh …”, teriakan Mino diikuti dengan robohnya tubuhnya di jalan besar itu.
Orang-orang yang berlalu lalang disitu mulai mengelilingi mereka.
“Ohhh tuhanku .. dia ditusuk ..”
“Panggil ambulance .. cepat!!! ….”
“Dia sedang sekarat ……….”
“Hubungi keluarganya .. segera ………”
Teriakan-teriakan keras dan panik terdengar dari orng-orang yagn mengelilingi Mino. Mr. Song dan anak buahnya yang menyadari keadaan sudah mulai gawat segera berlari meninggalkan tempat itu. Orang-orang yang mengerumuni Mino semakin banyak. Darah dimana-mana dan Mino tergeletak disana dengan posisi yang mengerikan.
*******************
Pada waktu berselang hanya dua puluh menit dari kejadian di atas .....
Aku duduk termangu di sofa panjang yang terdapat di ruang tamu. Kuperhatikan orang-orang yang sedang sibuk mondar mandir dan membantu mempersiapkan segala sesuatunya di ruangan itu. Semua yang hadir disini kebanyakan adalah saudara dan teman dekat dari bibi dan paman di desa Jeja ini. Pesta pernikahanku dan Joongie akan dilaksanakan secara sederhana karena persiapannya memang dilakukan secara mendadak.
Papa dan Mrs. Goo juga telah tiba disini kemarin siang. Walaupun aku tahu bahwa mereka binggung dengan keputusanku yang mendadak itu, tapi mereka tidak menanyakannya sama sekali.
Soeun memperhatikanku dengan gelisah. Begitu juga dengan Joongie. Mereka tidak mengerti mengapa aku menerima anjuran bibi ini. Sebenarnya aku juga tidak memahami mengapa aku sampai mengambil keputusan tersebut. Pikiranku sudah buntu.
Aku bermaksud membantah pandangan mereka ketika ponsel dalam genggaman Soeun berbunyi nyaring ...
"Yeoboseyo ..."
Soeun mendengarkan sejenak, dan dia tampak terkejut ketika mengetahui siapa yang meneleponnya.
"Bibi?? .. Hyesun onnie? .. bibi mencari Hyesun onnie? ..... ohhh ... dia berada di sampingku .. tunggu sebentar, bi ..."
Soeun menyodorkan ponselnya kepadaku. Aku memandanginya dengan heran, tak mengerti dengan maksudnya.
"Dari bibi .. beliau ingin berbicara dengan onnie ..."
Agak ragu kuterima ponsel dari tangan Soeun.
"Yeoboseyo .. bibi?"
Aku mendengarkan dengan seksama pembicaraan dari seberang. Suara Mrs. Goo sangat serak oleh suara tanggis yang berkepanjangan. Semula aku tidak bisa menangkap arti dari kata-katanya dikarenakan suaranya yang parau. Tapi sesaat kemudian, mataku terbelalak lebar. Jantungku seakan berhenti berdegup. Nafasku tertahan tanpa kusadari. Bibirku berkomat-kamit tidak jelas. Pegangan pada ponsel ditangan mengendur. Dan ponsel mungil itu jatuh ke lantai dengan suara berdebam ...
brakkkkkkkkkkkkkk .......
Semua orang yang berada di ruangan itu langsung berpaling kepadaku. Soeun menyentuh bahuku dan bertanya cemas...
"Onnie .. gwencana .. baik-baik saja, kan?"
Aku masih memandang lurus ke depan seperti tidak mendengar pertanyaan Soeun. Bibirku masih berkomat-kamit tanpa ada suara yang keluar.
"Onniee !!!!!!! "
Soeun menguncang-guncang tubuhku sehingga membuatku tersentak seketika. Aku seperti orang yang bernyawa kembali. Sepasang mataku yang mulai berair beralih ke Soeun.
"Mino .... Mino sedang ... sekarat ... hu ... hu ..."
Tubuhku terkulai lemas setelah berhasil mengeluarkan kata-kata itu. Isak tanggis mulai terdengar dari mulutku. Joongie dan Soeun sangat terkejut mendengar kabar dariku. Mereka saling berpandangan tanpa tahu harus berbuat apa.
Semua orang juga memandangiku. Mereka memperhatikanku yang terisak-isak di sofa dengan gelisah. Ketegangan mulai menyelimuti ruangan itu. Tidak ada yang bermaksud bertanya lebih lanjut kepadaku. Ini dikarenakan tanggisku yang tidak kunjung reda.
Tujuh menit lamanya aku hanya bisa terisak dan kesengukan di tempat. Mengapa bisa begini? Mino sekarat, apa yang harus kulakukan? Apa yang dapat kulakukan? oh .. tuhanku! .. mengapa saya masih duduk saja disini? aku harus berada disisinya ...harus ....
Aku bangkit dari dudukku bersamaan dengan Joongie yang melangkah kearahku. Tiba-tiba suara berdebam keras terdengar dari belakang Joongie. Semua mata terbelalak lebar kearah suara tersebut berasal. Joongie berbalik dan ..... dia tidak kalah terkejutnya dengan apa yang dilihatnya.
Lampu kristal besar yang semula tergantung di langit ruangan sekarang pecah berserakan di lantai. Kabel-kabel besi yang mengantungnya terjuntai lemah dari langit ruangan dengan beberapa sisi yang agak terkikis. Joongie menganga. Untung saja tadi dia beranjak dari situ. Untung saja dia tiba-tiba terpikir untuk menyuruh noonanya mengambil keputusan yang diingininya walaupun dengan resiko dia harus memutuskan pernikahan ini. Jika tidak ... mungkin lampu kristal itu sudah menimpa kepalanya. Dan mungkin juga nyawanya sudah melayang karena kecelakaan itu.
"Kamu baik-baik saja, kan?", Soeun bertanya cemas ke Joongie.
Bibi dan paman lebih khawatir lagi. Mereka berlari kearah Joongie dan memeluknya. Joongie mengangguk dan berusaha tersenyum, walaupun agak terpaksa. Kekagetannya belum hilang.
"Joongie ...."
Aku mendesah perlahan. Perasaan bersalah merasuki kalbuku.
"Noona jangan merasa bersalah kepadaku ... ini semua tidak akan berhasil ... pergilah!! .. jika memang itu keinginan noona .."
Aku semakin merasa bersalah setelah mendengar perkataan Joongie.
"Saya bukan orang yang berlapang dada dan sejujurnya saya tidak begitu rela melakukannya ... tapi, saya tahu bahwa noona sudah mengambil keputusan bulat, walaupun saya memaksakan kehendak juga akan percuma .."
Aku tersenyum sendu kepada Joongie. Airmata penuh keharuan mengalir keluar dari sudut mataku.
"Gumawo...", kataku penuh perasaan.
Kemudian aku berlari ke papa dan meminta meminjamkan mobilnya kepadaku. Papa keheranan melihat permintaanku.
"Paman, berikan kuncinya ke noona ... saya akan menjelaskan semuanya kepada paman dan juga semua yang hadir disini nanti .."
Papa memberikan kunci mobilnya kepadaku dengan kening berkerut. Aku membungkuk kearahnya dan melambai ke Joongie dan Soeun, kemudian berlari keluar.
"Joong... benar-benar rela melepaskan onnie?"
Joongie segera menoleh ke Soeun yang sekarang sudah berdiri disampingnya.
"Joong??", tanyanya heran.
Soeun tersenyum nakal.
"Itu panggilan terbaik buatmu .."
"Yaaaaaaa ....", protes Joongie.
Soeun langsung tertawa terbahak-bahak melihat tampang kesal Joongie.
"Terus terang ini kedua kalinya saya benar-benar salut kepadamu .."
Joongie kaget dengan sikap ceplas ceplos Soeun. Sepasang matanya menatap lurus ke mata Soeun.
"Ottoke ? ..."
"Pertama, karena kecermatanmu ketika menebak saya adalah tunangan oppa walaupun saya tidak mengatakannya .. kedua, atau yang baru saja kamu lakukan .. karena kamu rela melepas seseorang yang kamu cintai .. demi kebahagiaannya walaupun itu sangat menyakitkanmu .. kamu ... kamu .. termasuk cowok yang lumayan ..."
Wajah Soeun langsung memerah ketika mengucapkan kata-kata terakhir. Joongie membuang muka kearah lain dengan serba salah. Perasaan risih dan salah tingkah langsung menghinggapi mereka. Joongie melirik sekilas Soeun yang memandang kearah lain. Dengan terburu-buru Joongie berlari kearah papa dan meninggalkan Soeun yang masih salah tingkah di tempatnya berdiri.
******************
Aku berlari ke tempat, dimana mobil papa terparkir dengan masih berpakaian pengantin lengkap. Gaun pendek berwarna putih bersih dengan kerudung transparan bermotif bunga-bunga kecil yang panjang yang kukenakan berkibar tertiup angin kencang. Beberapa warga desa yang melintas di situ memandang heran kepadaku.
"Kamu mau kemana.. Hyesun?"
"Upacara mengikat sumpah di gereja akan segera dimulai, kan?"
Teriakan-teriakan mereka tidak kuhiraukan. Aku hanya mengangkat tangan keatas dan terus berlari ke mobil papa. Setelah sampai, kubuka pintu mobil dan meloncat ke dalam. Sesaat kemudian mobil tersebut meraung-raung kedepan dengan kecepatan luar biasa dan bunyi yang [bigno]akan telinga.
********************
Perjalanan yang kutempuh dari desa Jeja ke kota Soeul yang hanya memakan waktu setengah hari terasa berabad-abad lamanya. Aku tidak pernah berhenti sekalipun selama perjalanan itu. Perasaanku sangat kacau. Sedih, menyesal, khawatir dan takut, semua bercampur menjadi satu.
Aku tidak berhenti-hentinya berdoa semoga tidak terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki dengan Mino. Ohh ... tuhan ...jika sampai sesuatu yang terjadi pada Junki juga terjadi padanya, aku pasti tidak akan dapat bertahan lagi. Aku akan tumbang dan tidak bisa bangkit kembali.
Aku memarkir mobil di lapangan parkir yang terletak di depan rumah sakit yang besar dan megah di mana Mino dirawat. Kubuka pintu mobil dan menghambur keluar. Semua orang yang berada disitu langsung memandangiku. Gaun pengantin yang kukenakan sangat menarik perhatian mereka. Tapi aku tidak mau menghiraukan pandangan-pandangan itu. Yang ada dalam pikiranku hanyalah Mino, Mino dan Mino.
Aku memasuki ruang utama yang besar dan terus berlari sepanjang koridor yang sepi. Hak sepatuku berdetak keras di lantai lorong yang terbuat dari papan kayu yang mengkilap. Aku semakin mempercepat langkahku menuju ruang VIP no. 1 yang terletak di lantai yang sama.
Mrs. Goo terlihat di depanku. Kuperlambat langkahku dan berhenti tepat dihadapannya. Mrs. Goo kelihatan capek dan lesu. Sepasang matanya bengkak dan rambutnya agak awut-awutan.
"Bibi ..."
Mrs. Goo mengangkat wajah kearahku. Isak tanggisnya langsung meledak. Dia berdiri dari duduknya dan memelukku erat. Aku tidak bisa berbuat apa-apa dengan perbuatannya. Aku hanya bisa mengelus punggungnya, berusaha untuk menenangkannya. Walaupun waktu itu aku juga sangat membutuhkan hiburan dari seseorang.
"Bagaimana ... bagaimana keadaan Mino?", tanyaku dengan suara bergetar.
Mrs. Goo melepaskan pelukannya dan memandangiku dengan tanggisan mengharubiru.
"Maafkan bibi, Hyesun aa ... bibi sangat menyesal sekarang .. putra yang tinggal satu-satunya sekarang sedang sekarat karena kekerasan hati bibi .... nama baik dan perusahaan , apalah artinya itu jika dibandingkan dengan nyawa Mino ... apalah artinya ... hu ...hu ..."
Tanggisan Mrs. Goo membuatku jatuh semakin dalam.
"Tidak .....bibi tidak salah, bibi melakukan itu semua karena tanggung jawab bibi yang besar .. yang salah itu saya, tidak seharusnya saya menyerah begitu saja .. tidak seharusnya saya meninggalkannya begitu saja .. tidak seharusnya ..hu...hu ... tidak seharusnya ..hu ..."
Akhirnya isak tanggis yang kutahan meledak keras.
*****************
Keadaan Mino sangat parah. Dia kehilangan banyak darah dan persediaan darah yang cocok baginya di rumah sakit itu sudah habis. Bahkan setelah diperiksa di selluruh rumah sakit di kota Seoul tidak ada golongan darah yang cocok dengan golongan darah Mino yang termasuk langka. Mr. Goo telah mentranster/ menyumbangkan darahnya kepada Mino dan itu tidak cukup.
Kami semua dibuat panik untuk itu. Setelah melakukan pemeriksaan darah ternyata golongan darahku cocok dengan golongan darah Mino. Dan kami semua sangat terkejut dengan kenyataan ini.
Lima belas menit kemudian, aku berbaring di ranjang, di sebelah Mino. Sebulan sudah aku tidak bertemu dengannya. Tidak kusangka kami akan bertemu dalam keadaan begini.
Wajah Mino sangat pucat. Sepasang matanya tertutup rapat. Hidung lurus dan mancungnya seakan tak bernafas. Bibir penuh yang biasanya kemerahan itu sekarang pucat, seputih kertas. Rambut hitam pekat dan indah yang menaungi kepalanya terkulat lemas dan lembab. Tanpa terasa dua butir airmata mengalir turun dari sudut mataku.
Darah merah perlahan keluar dari jarum infus di lenganku dan mengalir sepanjang selang yang menghubungkan jarum infus di lenganku dan lengan Mino. Sungguh .. tidak dapat kupercaya bahwa sekarang di dalam tubuhnya sudah dialiri darahku. Mataku terpejam perlahan. Ya tuhan .. saya mohon jangan rebut dia dari tanganku .............
****************
Logged
EVIL SMILE ^^
'LOVE' ...
keeps it strong!!!
Our MinSun
Print
Pages:
1
2
[
3
]
4
5
...
7
Go Up
« previous
next »
CallMinsun
»
FANFIC
»
Regular Fanfic
»
THE SARANG
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #8958