CallMinsun
Welcome,
Guest
. Please
login
or
register
.
1 Hour
1 Day
1 Week
1 Month
Forever
Login with username, password and session length
News:
Home
Search
Calendar
Login
Register
CallMinsun
»
FANFIC
»
Regular Fanfic
»
THE SARANG
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #8979
« previous
next »
Print
Pages:
1
2
[
3
]
4
5
...
7
Go Down
Author
Topic: THE SARANG (Read 7920 times)
Be my self
Admin
Hero
Posts: 7360
that winkkkk!!! *fainted
Re: THE SARANG
«
Reply #30
on:
June 15, 2010, 07:17:41 am »
CHAPTER 15
Pada malam harinya, Joongie sedang membereskan pakaian-pakaian di lemari dan menaruhnya ke koper, ketika Soeun melintas di depan pintu kamarnya yang terbuka. Karena terlalu tenggelam dalam kegiatannya, Joongie tidak menyadari kehadiran Soeun di sampingnya.
"Joong!!! ... apa yang kamu lakukan?", teriakkan Soeun mengejutkan Joongie. Bola matanya terbelalak lebar seakan mau meloncat keluar.
"Yaaaaaaaaaaaaaa ..................... apa yang kamu lakukan? huhhhhhhhhhhhh ....... apakah kamu tidak mempunyai pekerjaan lain selain mengejutkan orang?", tanya Joongie dengan kasar dan sebal.
Soeun cemberut. Bibir mungilnya memanjang dengan sinar mata tidak senang.
"Kamu mau kemana? bukan melarikan diri kan?", balasnya dengan ejekan.
Joongie melotot kearah Soeun. Wajahnya langsung memerah.
"Melarikan diri apanya? memangnya saya orang seperti itu?hmm ..... tapi .. memang benar sih .. kamu bukan orang yang mengenalku dengan baik .. aku tidak menyalahkanmu ....."
Joongie meneruskan kegiatannya lagi setelah mengatakan itu. Soeun masih saja cemberut di tempatnya. Matanya menelusuri kegiatan Joongie.
"Kalau bukan melarikan diri ... kamu mau kemana?"
Joongie menegakkan badannya setelah semua pakaian dimasukkan ke dalam koper. Dia berbalik kearah Soeun. Pandanganya tajam, lurus mengarah ke mata Soeun. Bibirnya tidak mengucapkan apapun ketika tangannya meraih tangan Soeun dan menariknya keluar dari kamar.
"Yaaaaaaa ............. lepaskan tanganku!! ........... achhhhhh .... kamu menarikku terlalu keras ......... heiiii!!!!!!!!! .. Jooooooonnnnggggggggggg .............. lepaskan tanganku ......... sakittttt!!!!!!!!!!!!! ................".
Teriakkan Soeun membahana seisi rumah. Bibi, papa dan Mrs. Goo menjulurkan kepalanya dari kamar masing-masing. Mereka memandangi Joongie dan Soeun dengan pandangan bertanya-tanya. Tapi Joongie tidak memperdulikan pandangan mereka. Dia terus saja menyelusuri lorong dimana kamar bibi, papa dan Mrs. Goo terletak, dengan Soeun yang diseret di belakangnya. Joongie baru berhenti setelah sampai di depan kamar Soeun. Dibukanya pintu yang tidak dikunci itu dengan satu hentakkan dan mendorong Soeun masuk kedalam.
"Bereskan barang-barangmu sekarang juga ... besok kamu ikut saya kembali ke Seoul ..", katanya dengan suara dingin.
"Joongggggggggggg .......!!!!!!!!!!!!!!!! "
Soeun langsung menjadi berang diperlakukan seperti itu oleh Joongie. Wajahnya merah padam. Tapi joongie seperti tidak memperdulikannya. Keseriusan masih tergambar diwajahnya sampai sesuatu yang melintas di pikirannya membuatnya tersenyum dan akhirnya tawanya meledak lepas.
"Ha ... ha .. ha ... mian .. saya lupa kamu tidak membawa barang waktu kemari ........... ha ..ha.. ha.... "
Setelah itu, Joongie berlalu dari hadapan Soeun dengan cuek dan santai. Soeun masih terpaku dengan tampang bego, sepeninggal Joongie. Tapi kesadarannya telah dipermainkan oleh Joongie membuatnya berteriak keras .......
"Kimmmmmmmmmmm Hyunnnnnnnnnnnn Joonggggggggggggggggggggggggg !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! "
****************
Tepukan pelan di pundak membangunkanku dari tidur. Kuangkat kepalaku dan mengarahkan pandangan ke sekeliling ruangan. Bau khas rumah sakit tercium oleh hidungku. Pandanganku agak kabur dan kesadaranku belum benar-benar pulih dari mimpi buruk. Tertangkap oleh pandanganku, Mino yang terbaring di ranjang, dimana aku tadi merebahkan kepalaku. Dia masih dalam keadaan semula. Belum ada tanda dia akan sadar dari komanya.
"Nona ...."
Panggilan itu membuatku berpaling ke samping. Dokter Hyunbin sudah berdiri di sana dengan seorang suster muda.
"Sebaiknya nona pulang dan beristirahat yang cukup ... sudah dua hari ini nona menjaga tuan Lee .. saya rasa beliau belum akan sadar hari ini,... sekarang baru pukul 8:30 pagi, nona bisa beristirahat dengan cukup dan tenang di rumah dan datang lagi nanti sore .....", lanjut dokter Hyunbin.
Aku mengangguk mendengar penjelasannya. Kemudian kuamati Mino. Dia kelihatan tenang dalam tidurnya.
"Baiklah dokter Hyun .. saya akan menuruti nasehatmu .. saya juga perlu membersihkan diri dan menganti pakaian .... hmmmm ... gaun ini dipakai menunggui pasien kelihatan aneh, kan?"
Aku tersenyum kecut. Dokter Hyunbin dan suster di sebelahnya memperhatikan gaun pengantin yang kukenakan tanpa dapat berkata apa-apa. Gaun yang semula rapi dan putih bersih itu sekarang sudah menjadi kusut dan kotor oleh bercak darah.
"Lalu ... bagaimana dengan kakinya, dokter Hyun? .. apakah .. apakah kaki kanannya akan cacat?", tanyaku khawatir ketika hal itu melintas dalam pikiranku.
Dokter Hyunbin tersenyum. Dia berusaha menenangkanku ketika melihat kegelisahanku yang luar biasa.
"Tuan Lee baik-baik saja ... nona jangan khawatir, tulang kakinya hanya membengkak dan infeksi sedikit .. itu yang menjadikannya selalu merasa nyeri dan sakit .. tapi untung saja sambungan metal di bagian lututnya tidak sampai retak jika tidak .. mungkin kakinya sudah tidak akan tertolong lagi .."
"Maksud anda .. kakinya masih dapat digunakan dengan normal dan .. dia tidak perlu menggunakan kursi roda?", tanyaku untuk lebih memastikan.
Dokter Hyunbin tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja ....."
Aku menghembuskan nafas lega. Senyuman segera menghiasi wajahku. Walaupun kekhawatiranku dengan keadaan Mino belum hilang, tapi paling tidak aku tidak perlu terlalu memikirkan keadaan kakinya lagi, batinku dalam hati. Untuk terakhir kalinya, sebelum meninggalkan rumah sakit itu, aku berpaling lagi ke Mino. Semoga dia cepat sembuh dan dapat tersenyum kembali, itu yang menjadi pengharapanku mulai dari sekarang.
******************
Aku menyelusuri lorong yang menghubungkan ruang tengah dengan ruang tamu kediaman Lee dengan diantar oleh seorang pelayan beberapa saat kemudian. Sebenarnya badanku sudah sangat lelah dan lengket setelah menunggui Mino selama dua hari di rumah sakit. aku perlu mandi dan beristirahat. Tapi karena Mr. dan Mrs. Lee mempunyai urusan penting hari ini sehingga tidak dapat menjenguk Mino, maka mereka memintaku untuk membawakan barang-barang keperluan Mino yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu oleh mereka.
Sesungguhnya aku bisa saja datang nanti sore dan langsung berangkat ke rumah sakit dari sini. Walaupun Mr. dan Mrs. Lee tidak berada di sini nantinya, aku bisa memasuki rumah dengan leluasa karena aku sudah mempunyai kunci sendiri. Tapi karena aku ingin semuanya dibereskan terlebih dahulu sebelum beristirahat dengan tenang, maka disinilah aku berada sekarang.
Aku memasuki ruang tamu setelah pintu dibuka oleh pelayan yang mengantarku. Mr. dan Mrs. Lee duduk di sofa ruang tamu yang beralaskan kain sutra emas. Meja di depan mereka terletak sebuah tas besar yang kelihatan terisi penuh dan sebuah kotak berwarna biru yang berukuran kecil.
"Paman dan bibi .. bagaimana kabar kalian hari ini?", sapaku pelan.
Mr. Lee tersenyum dan mengangguk kepadaku, sedangkan Mrs. Lee segera bangkit dari duduknya dan menghambur kearahku. Dia memelukku erat.
"Hyesun ..... bagaimana juga denganmu? .. hmmm .. kamu kelihatan capek .. jangan terlalu memaksakan diri, beristirahatlah yang cukup, mengerti? ... Dokter Hyunbin sudah mengatakan bahwa keadaan Mino sudah jauh lebih baik sekarang ... jadi kamu jangan terlalu khawatir ...."
Aku mengangguk perlahan sambil tersenyum kecil. Setelah Mrs. Lee melepaskan pelukannya, aku berjalan ke meja kecil itu dan menunjuk tas besar yang tergeletak disana.
"Apakah ini barang-barang keperluan Mino?"
"Benar ... maaf Hyesun, jika ini merepotkanmu .. kalau saja paman dan bibi tidak punya pertemuan penting yang tidak bisa dibatalkan, bibi tidak akan memintamu membawakannya ..", kata Mrs. Lee dengan penuh penyesalan.
Aku mengeleng cepat sebagai pertanda bahwa aku tidak keberatan melakukannya. Kuraih tas besar yang mengembung itu, dan dengan agak ragu aku mengambil kotak biru disampingnya.
"Apakah .. apakah ini .. juga perlu kubawa?"
Mrs. Lee melirik sekilas kotak dalam genggamanku. Kemudian dia menjawab dengan santai.
"Oh itu ... itu baru diterima tadi pagi .. tapi, kalau dilihat dari nama pengirimnya, sepertinya itu barang yang dikirim Mino .. hmmm .. entah mengapa barang itu sampai bisa berbalik lagi ke Mino? ... mungkin alamat yang ditujunya tidak benar..."
Aku manggut-manggut mendengar penjelasan Mrs. Lee. Mungkin benar apa yang dikatakannya. Aku bermaksud meletakkan kembali kotak ditanganku ke atas meja ketika sesuatu yang ditulis di samping kotak menarik perhatianku. Dengan perlahan kudekatkan kotak itu ke pandanganku .. dan ... deg ... sesuatu yang sangat tidak asing tertera di sana. Aku tertegun. Hatiku berdegup kencang.
"Tidak!!! .. alamatnya tidak salah ...", gumamku pelan dan hampir tidak terdengar.
Mr. dan Mrs. Lee langsung melirik kearahku.
"Apa???", tanya mereka hampir berbarengan.
Tapi aku tidak menjawab pertanyaan mereka. Dengan tergesa-gesa aku merobek pita perekat yang mengelilingi penutup kotak itu. Mr. dan Mrs. Lee memperhatikan kelakuanku dengan pandangan tak percaya. Sebenarnya aku sadar benar bahwa tindakanku itu tidak sopan. Membuka sesuatu yang bukan milik sendiri itu sudah merupakan perbuatan yang memalukan dan tidak bisa dimaafkan. Tapi .... alamat Joongie di desa Jeja, yang tertera di samping kotak tersebut sudah membuatku tidak memperdulikan segalanya.
Penutup kotak tersebut terbuka dan .... sesuatu yang berada di dalamnya langsung membuat perasaanku campuraduk.. Pertama, aku tidak begitu terkejut mendapatkan "Sarang" berada di dalamnya. Melihat alamat Joongie, sadar atau tidak sadar, aku sudah dapat menebaknya. Tapi di sisi lain, aku tidak habis pikir mengapa "Sarang" sampai jatuh kembali ke tangan Mino.
Aku ingat dengan jelas, "Sarang" kuhilangkan saat aku mengambil keputusan terakhir meninggalkan Mino. Dan sejak saat itu, aku tidak pernah bermimpi akan melihatnya lagi. Tapi saat ini, dia berada di tanganku. Secara langsung atau tidak langsung, Mino yang mengembalikannya kepadaku.
Aku mengeleng perlahan. Untuk apa aku memikirkan bagaimana caranya "Sarang" bisa sampai ada di tangan Mino? untuk apa? sejak dulu "Sarang" memang selalu bolak balik dari tanganku ke tangan Mino. Apapun alasannya itu, sadar atau tidak sadar, diketahui atau tidak diketahui oleh kami, memang selalu begitu adanya.
Tanganku agak gemetar ketika mengeluarkan "Sarang" dari dalam kotak itu. Secara perlahan aku meremasnya. Untuk sesaat aku tidak tahu harus berbuat apa. Pikiranku menjadi buntu. Tapi pandangan "Sarang" yang memelas langsung menyadarkanku. Dengan sempoyongan aku menghambur ke pintu. Mr. dan Mrs. Lee yang melihat kepanikanku menjadi khawatir.
"Hyesunnnnnnnnn .... kamu mau kemana?"
"Ke rumah sakitttttttttttt !!!!!!!!!!!!!!!! .............", jawabku, tanpa berpaling lagi kearah mereka.
***********************
Mobil papa yang kukendarai melaju pesat di jalanan besar kota Seoul yang mulai ramai. Suara klakson yang kutekan berulangkali menjerit-jerit [bigno]akkan telinga. Beberapa pengemudi lain memandang kesal kearahku. Caci maki terbaca dari mulut mereka. Tapi aku sudah tidak memperdulikan semuanya lagi. Perbuatan itu terus kuulang sampai aku tiba di rumah sakit, dua puluh menit kemudian.
Suster muda yang merawat Mino memandang heran kepadaku. Karena aku sudah berada di depannya lagi setelah belum sampai satu jam aku meninggalkan rumah sakit ini. Ditambah lagi dengan dengan gaun pengantin yang masih melekat di badanku.
"Oh .. nona belum pergi?"
Aku mengeleng dengan nafas terengah-engah.
"Bolehkah saya berbicara dengannya, suster?"
"Silahkan!", jawab suster muda itu sambil tersenyum kepadaku.
"Maksudku .. hanya .. kami berdua ...", kataku dengan serba salah.
"Ohhhhh .... tentu saja ..", senyum suster itu semakin lebar ketika melangkah keluar dari ruangan itu.
Setelah ditinggal berdua, ruangan itu menjadi sunyi. Bunyi alat pendeteksi jantung terdengar semakin keras. Aku mengambil tempat disamping Mino. Kugenggam tangannya yang tidak bereaksi dengan sepenuh hati. Wajahnya sudah kelihatan lebih merona jika dibandingkan dua hari yang lalu.
"Mino aaa .. kamu harus membuka mata dan melihat apa yang kubawakan untukmu ..."
Dengan perlahan kubuka tangan Mino dan meletakkan "Sarang" yang tergantung di tangan kananku ke telapak tangannya yang terbuka.
"Apakah kamu bisa merasakannya? ... apakah kamu tahu bahwa kamu yang telah mengembalikannya kepadaku?.. ya, sekali lagi kamu yang melakukannya .. saya mohon .. bukalah matamu dan lihatlah "Sarang" .. dia sudah membuktikan kekuatannya ... dia sudah berhasil .. dan setelah keberhasilannya, setelah keberanianku terkumpul, bukan giliranmu menyerah, kan? .... Mino yaaa .....hu... hu .."
Isakan keras kembali keluar dari bibirku. Dan entah karena kekuatan dari "Sarang" atau karena sifat pantang menyerahnya Mino, tangannya yang memangku "Sarang" bergerak perlahan.
Aku sangat terkejut. Kukejapkan mataku berkali-kali. Tapi aku tidak bermimpi ataupun berkhayal karena kurang tidur. Tangan Mino benar bergerak dan pelupuk matanya juga bergerak-gerak.
Aku segera berdiri dari tempat duduk dan berlari ke arah pintu sambil berteriak keras.
"Dokterrrrrrrrrrrrr ................. dokter Hyunbinnnnnnnnnnnnn ..............."
Sebentar saja dokter Hyunbin sudah melakukan pemeriksaan akurat terhadap Mino. Sedangkan aku hanya dapat menunggu di luar dengan perasaan gelisah.
*****************
Setengah jam kemudian, dokter Hyunbin dan beberapa orang suster keluar dari kamar VIP yang ditempati Mino. Mereka semua tersenyum kepadaku. Dokter Hyunbin mengangguk ke para suster yang berada di sampingnya. Setelah mendapatkan isyarat, mereka semua meninggalkan kami berdua di depan kamar Mino. Dokter Hyunbin menepuk bahuku. Senyum cerah masih menghiasi wajahnya.
Aku memandanginya dengan gelisah. Tanganku terus meremas ponsel yang sejak tadi tergenggam di tanganku. Ketika Mino memperlihatkan tanda-tanda akan sadar dari komanya, aku telah menghubungi Mr dan Mrs. Lee. Mereka berjanji akan segera datang kemari sebelum pertemuan penting yang harus mereka hadiri itu dimulai.
"Sudah sadarkah ...?", tanyaku cemas, antara keinginan yang menggebu dan pengharapan yang dipendam.
"Ya, tuan muda Lee sudah sadar ... walaupun keadaannya masih lemah, tapi dia benar-benar sudah pulih kesadarannya .. nona bisa menemaninya sekarang .. tapi ingat, jangan terlalu memaksanya untuk menginggat sesuatu yang tidak diingatnya ... berusahalah untuk menuruti segala permintaannya .."
Penjelasan dokter Hyunbin membuatku dapat bernafas lega. Senyum penuh kebahagiaan langsung mengembang di wajahku. Dengan cepat aku membuka pintu yang ada di samping dan menghambur ke dalam kamar Mino.
Disana aku mendapatinya sedang bersandar di bantal yang diselipkan di antara tempat tidur dan punggungnya. Mino melemparkan pandangannya kearahku ketika pintu ruangan itu terbuka dengan dentuman keras. Keadaannya masih terlihat lemah, tapi kemunculanku membuat sepasang mata sendunya melebar perlahan. Dan itu hanya sejenak. Keningnya lansung berkerut setelah itu.
Aku agak ragu dengan niatku untuk menghampirinya ketika melihat pandangannya itu. Aku teringat kembali dengan pertemuan pertama kami. Sepasang mata yang dingin dan tidak bisa dimengerti itu sama dengan sinar mata Mino saat ini.
"Mino aaaaa ..", panggilku pelan.
Tatapannya yang tidak berkedip masih tertuju lurus kepadaku. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Aku sama sekali tidak bisa menebaknya.
"Apa yang kamu lakukan disini?", tanyanya dingin.
Aku tertegun. Tiba-tiba aku menjadi khawatir. Apakah dia sudah melupakanku?
"Mino aaaaa....."
"Bukankah seharusnya kamu menikah dengan Hyun Joong? mengapa kamu bisa sampai berada disini?", tanyanya lagi dengan suara yang dibikin semakin keras.
Aku mematung di tempat. Tidak sanggup kujawab pertanyaannya. Suara yang teramat kurindukan itu begitu menyayat hati.
"Miane ... aku tidak berharap kamu ... dapat memaafkanku ... tapi ..."
Suaraku terputus. Aku sama sekali tidak dapat melanjutkannya.
"Tentu saja kamu tidak bisa berharap saya dapat memaafkanmu begitu saja ... tidak ada kata maaf di antara kita ..."
Perkataannya semakin membuat hatiku tersayat-sayat.
"Mino aaaaaaaaaa ..."
"Tapi walaupun tidak ada kata maaf, kamu harus menebus semua perbuatanmu itu ...", lanjut Mino.
Mataku melebar. Aku semakin tidak mengerti dengan perkataanya.
"Apa maksudmu ..?"
"Kamu harus menebus semua perbuatanmu yang telah menyakitiku .. tapi ingat, semua yang akan kamu lakukan tidak berarti bisa membuatku mengeluarkan kata maaf itu .."
Aku cemberut ketika menyadari arti dari perkataannya. Ingin aku membantahnya. Bagaimana mungkin aku harus melakukan segalanya? dia kelihatannya kembali lagi ke sifatnya yang suka seenaknya sendiri. Tapi ketika nasehat dokter Hyunbin melintas di pikiranku, aku membatalkan niatku itu.
"Lalu .. apa yang kamu inginkan?"
"Tiga permintaan ..", jawab Mino ringan.
Aku semakin dibuat gila mendengar perkataannya. Mulutku sudah terbuka untuk membantah, tapi ketika melihat keseriusan dalam pandangannya, aku hanya bisa manggut-manggut sendiri. Kembali lagi ke sifatku kalau sudah berhadapan dengannya yaitu bodoh dan penurut.
"Baiklah .. terserah kamu saja .. lalu apa permintaanmu itu ...?"
"Permintaan pertama ... hmm.. kamu harus merawatku selama 24 jam sampai saya benar-benar sembuh .. bereskan barang-barangmu besok dan pindahlah kerumahku ..."
"Apaaaaaaaaa ", teriakanku membahana seisi ruangan.
Permintaannya ini sudah benar-benar keterlaluan. Memangnya dia menganggap aku ini sebagai pelayan apa? dasarrrrrrrrr .. selalu saja seenaknya ....
"Tidak mau???... tidak apa-apa .. kamu boleh lenyap dari hadapanku sekarang juga .."
Mino merebahkan tubuhnya ke ranjang secara perlahan. Dia memunggungiku. Aku mendesah perlahan. Melihat keadaannya, aku menjadi tidak tega.
"Baiklah ... sesuai permintaanmu saja .. lalu kedua permintaan yang lain apa?"
Mino tidak menjawab pertanyaanku. Dia masih dalam posisi semula. Yang tidak diketahuiku adalah, bibir Mino secara perlahan menyunggingkan senyum tipis.
****************
Logged
EVIL SMILE ^^
'LOVE' ...
keeps it strong!!!
Our MinSun
Print
Pages:
1
2
[
3
]
4
5
...
7
Go Up
« previous
next »
CallMinsun
»
FANFIC
»
Regular Fanfic
»
THE SARANG
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #8979