Author Topic: THE SARANG  (Read 7949 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #30 on: June 15, 2010, 07:23:38 am »
CHAPTER 16

 
Mino akhirnya diijinkan keluar dari rumah sakit lima hari kemudian. Semua itu bukan karena kesehatannya yang sudah pulih benar, tapi karena aku sudah tidak tahan dengan segala keinginannya yang aneh-aneh. Aku tidak mau selalu bolak balik dari rumah sakit ke rumah Mino ataupun sebaliknya, hanya untuk merawatnya. Aku lebih memilih merawatnya di rumah daripada harus pontang panting seperti itu.
Dua hari yang lalu aku sudah pindah ke rumah Mino sesuai dengan permintaannya. Semula papa dan Mrs. Goo tidak setuju dengan tindakanku itu, tapi karena aku bersikeras, mereka tidak bisa berbuat apa-apa dengan kekerasan hatiku.

Selama lima hari ini, selalu ada saja yang diperintahkan Mino kepadaku. "Mungkin dia ingin membalas dendam ..", batinku. Tapi.... tentu saja aku tidak  mempercayai pikiranku sendiri. Mino tidak sepicik itu dan itu aku ketahui dengan pasti. Dia pasti punya alasan yang tidak ku mengerti dengan melakukan semua itu.

Ada kalanya Mino meminta sesuatu yang tidak dapat kulakukan. Di saat yang lain, dia berkeras memakan sesuatu yang tidak diperbolehkan oleh dokter Hyunbin karena lukanya yang tidak mengijinkan. Dan oleh karena itu aku harus mengeluarkan seribu satu jurus untuk membujuknya membatalkan maksudnya itu. Walaupun kebanyakan nasehatku didengarnya, tapi itu membutuhkan perjuangan keras. Sekarang dia lebih terlihat seperti seorang anak kecil, selain sifat semulanya yang dingin dan tenang itu tidak berubah.

Ada saatnya pula dia memprotes ruang VIP yang ditempatinya itu kurang bagus dan tidak memenuhi standar. Harus ditambah ini lah, ditambah itu lah ... hmmmmm ..... yang jelas semua permintaannya membuatku pusing tujuh keliling. Aku selalu merasa dipermainkan oleh segala tingkah laku Mino. Aku sudah bermaksud menentang segalanya. Tapi penjelasan dokter Hyunbin tentang kondisi Mino yang tidak boleh mendapatkan tekanan lagi, membuatku selalu mengurungkan niat itu. Karena tidak ingin seisi rumah sakit dibuat gila karena keinginannya yang keterlaluan itu, aku memutuskan untuk membawanya keluar dari rumah sakit saat itu juga. Dan semua itu tentu saja dengan seijin dokter Hyunbin.

Selain permintaannya yang aneh-aneh itu, Mino tidak pernah mengungkit lagi hubungan antara kami. "Sarang" yang tergantung di tanganku juga tidak pernah ditanyakannya. Yang ada dalam pandangannya hanya hasratnya yang besar untuk mempermainkanku. Sejujurnya aku ikhlas diperlakukan begitu. Aku sudah sepantasnya menerima semua itu. Aku tidak pernah berharap dia dapat memaafkanku. Penderitaan yang dialaminya dulu sudah melebihi semua yang dilakukannya sekarang kepadaku. Melihatnya tersenyum dan bersemangat lagi sudah merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku. Walaupun terkadang kekesalan masih menghinggapiku kalau perbuatannya itu sudah keterlaluan dan melebihi semua yang dapat kubayangkan.


***************


Joongie duduk berhadapan dengan Mr dan Mrs. Lee di ruang kantor utama yang terletak di lantai tertinggi gedung yang menjadi pusat perusahaan LKH Group. Ruangan itu sangat besar dan luas, melebihi ruang kantor Mino yang sudah termasuk mewah. Untuk pertama kalinya Joongie memasuki ruang kantor ini walaupun dia sudah bekerja disini selama beberapa bulan lamanya.

Beberapa rak buku yang terbuat dari kayu jati bermutu tinggi berbaris dengan rapi di sisi ruangan. Mereka berdiri dengan megah di samping kanan dekat pintu. Buku-buku tebal dan tumpukan files dengan aneka warna berjajar rapi dan bersih dari rak yang paling tinggi sampai paling bawah sejajar dengan lantai yang dilapisi permadani tebal warna putih. Di ujung ruangan dekat jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan yang sama dengan ruang kantor Mino, terletak sebuah meja kerja panjang berkilap dengan tumpukan files, telepon, beberapa bingkai foto, pulpen warna keemasan yang berdiri tegak di tempatnya yang terbuat dari kristal, dilengkapi dengan komputer bermonitor besar di atasnya.

Sofa mewah dengan sandaran empuk di tengah ruangan yang mereka duduki menambah keistimewaan ruangan yang bernuansa klasik itu. Mr. Lee berdeham perlahan. Dipandanginya Joongie dengan sinar mata menyelidik. Sama seperti kebiasaannya dalam menyelidiki rekan bisnisnya. Mr. Lee adalah orang yang selalu mempercayai keahliannya dalam menilai seseorang. Dan sekarang dia sedang menilai apakah Joongie pantas diberi tugas yang akan diperintahkannya atau tidak. Akhirnya dia mengambil keputusan setelah menghembuskan nafas panjang.

"Kim Hyun Joong ....?"

"Ehhhh ... iya, tuan besar ... apakah ada yang ingin tuan bicarakan dengan saya?", tanya Joongie dengan gugup.

"Ini pertama kalinya saya berjumpa denganmu ... saya dengar kamu telah mengundurkan diri dari LKH Group?"

Pertanyaan Mr. Lee semakin membuat Joongie serba salah. wibawa yang diperlihatkannya sedikit demi sedikit membuat Joongie gentar.

"Kamu tidak perlu gugup, Hyun Joong ... kali ini saya memintamu datang karena saya membutuhkan bantuanmu ..", Mr. Lee berkata tenang, berusaha untuk mengendalikan kegugupan Joongie.

"Bantuanku? ... tuan .. bercanda, kan? .. maaf, tapi saya sudah bukan karyawan Minho Ssi lagi ..."

Mr. Lee segera mengibaskan tangannya mendengar jawaban Joongie.

"Saya tahu itu ... saya tidak bermaksud memintamu menjadi sekretaris pribadi Mino lagi ... tidak!! bukan itu ... Mino sudah mempunyai calonnya sendiri untuk jabatan itu ...... mulai sekarang kamu menjadi sekretaris pribadiku, bagaimana menurutmu?"

"Hahhhhhh .....??", mata Joongie terbelalak lebar mendengar perkataan Mr. Lee. Ketidakpercayaannya terbayang jelas dari wajahnya.

"Kebetulan sekretaris pribadiku, Mr. Kang, sudah pensiun minggu lalu dan saya belum menemukan orang yang cocok untuk mengantikannya ... hmmm .. saya rasa kamu cocok dengan kriteria yang saya inginkan ..."

"Tuan besar ..saya ..."

Perkataan Joongie segera dipotong oleh Mr. Lee ....
"Lupakan dulu dengan masalah itu ... sekarang ada persoalan yang lebih penting dari itu ..."

Joongie memperhatikan sikap Mr. dan Mrs. Lee yang menjadi serius.
"Apa itu?"

"Begini Hyun Joong ... kami ingin Mino benar-benar terlepas dari orang-orang yang mengeroyoknya itu .. kami tidak ingin hal buruk terjadi lagi dengannya .. karena itu, gunakanlah, apapun caranya, supaya orang-orang itu tidak mengganggu Mino lagi ... berapapun kamu akan membayarnya .."

Joongie mengangguk perlahan. Jadi masalah itu yang membut mereka memanggilnya kesini.

"Tapi .. mengapa harus saya? .. tuan punya orang-orang kepercayaan yang lain, kan? .. maksudku .. saya sudah tidak bekerja kepada tuan lagi .."

Kali ini Mrs. Lee yang diam sejak tadi mengeluarkan suaranya.
"Karena kamu adalah sepupu Hyesun ... kamu lebih bisa dipercaya dari yang  lainnya .. masalah ini sangat peka, kami tidak ingin semua ini sampai bocor dan terdengar oleh perusahaan lain ... semua ini akan membahayakan LKH Group dan Mino .. kamu mengerti kan sekarang?"

Joongie mangut-mangut. Ya, dia mengerti sekarang. Semuanya demi perusahaan. Jika hal ini terbongkar, harga saham LKH Group di pasaran Korea, atau Asia bahkan juga dunia akan jatuh. Bagaimana tidak kalau diketahui pewaris LKH Group ternyata mempunyai hubungan dengan orang-orang dari golongan gelap.

"Saya dan tuan besar percaya kepadamu Hyun Joong ... lakukanlah apa yang kamu anggap yang terbaik, lakukanlah segera .. apapun dan berapa besarpun bayarannya, kami akan menerimanya .."

"Berapapun harganya?", Joongie mempertegas lagi kata-kata itu.

"Berapapun harganya ..", jawab Mrs. Lee pasti.

Joongie terdiam untuk beberapa saat. Bola matanya berputar, pertanda dia sedang berpikir keras. Tiga menit kemudian dia tersenyum dan mengangguk kearah Mr. dan Mrs. Lee.

"Serahkan semuanya padaku ...", katanya sambil mengacungkan jempol keatas.


******************


Hari kedua setelah kepulangan Mino dari rumah sakit ...
Aku sudah masuk lagi ke perusahaan papa sehari sebelumnya. Karena harus menyesuaikan diri kembali dengan lingkungan kerja yang sudah kutinggalkan cukup lama, dua hari terahir ini aku selalu pulang larut malam. Kemarin saja aku pulang  ke rumah hampir jam setengah sembilan malam.  Mino memprotes habis-habisan dengan jam kerjaku yang panjang itu. Dia berkata bahwa aku telah berjanji merawatnya selama 24 jam dan yang dapat kulakukan hanyalah menemanimya sarapan pagi, itu tidak seperti apa yang kujanjikan.
Aku menyadari kalau perkataannya itu benar adanya, tapi aku tidak terlalu menghiraukannya. Selain merawatnya, aku masih mempunyai pekerjaan lain yang harus kuselesaikan. Aku tidak ingin dia terlalu terikat kepadaku. Semua itu selain karena kesehatannya yang sudah membaik,  juga karena hubungan kami yang aku rasakan sudah tidak seperti dulu lagi.

Aku memasuki ruang depan dengan gontai. Sekujur tubuhku terasa remuk. Saat itu sudah jam sembilan malam. Aku agak lebih terlambat dari kemarin malam  karena ada beberapa perhitungan pengeluaran yang sedikit bermasalah yang harus kuselesaikan hari ini juga. Langkahku terasa berat dan lemah. Lorong menuju ruang tamu yang kutelusuri terasa panjang. Lampu di ruang tamu masih menyala terang ketika aku sudah sampai di sana. Beberapa pelayan tampak sedang bersih-bersih di ruangan itu.  Mereka semua membungkuk kepadaku. Kuanggukkan kepala kearah mereka dengan senyum yang agak dipaksakan.

Kunaiki tangga melengkung yang menghubungkan ruang tamu dengan lantai atas secara perlahan. Sampai di tangga terakhir, aku dikejutkan oleh sosok jangkung yang sudah berdiri di sana. Mino menatap tajam kepadaku. Keningnya agak berkerut.

"Mengapa baru pulang jam segini? Mana janjimu yang katanya akan merawatku selama 24 jam? apakah ini yang disebut dengan menepati janji?", perkataan Mino yang tajam membuatku gugup.

Jawaban yang kemudian keluar dari bibirku terdengar terputus-putus.
"Saya .... sibuk ... hmmm ... lagipula .. kamu sudah agak baik ... jadi ..."

Tapi Mino tidak memberi kesempatan kepadaku untuk berkata lebih lanjut. Mendadak dia meraih tanganku dan menariknya dengan paksa. Dengan terseret aku mengikutinya  menuruni tangga menuju lantai bawah.

"Ikut saya ..", katanya, masih dengan memaksaku untuk mengikuti langkahnya. Tangan satunya yang tidak memegang  tanganku, menekan bagian perutnya yang memang belum sembuh benar.

"Yaaaaaaaa ... mau kemana? .. jangan terlalu cepat!! ... hati-hati dengan lukamu ..."

Mino tidak memperdulikan teriakanku. Dia masih saja menyeretku, tapi kecepatan langkahnya telah dikurangi. Kami berhenti setelah sampai di ruang makan yang pintunya tertutup. Mino mendorong pintu dari kayu jati murni itu sehingga terbuka ke dalam. Kembali aku ditariknya dengan paksa ke dalam ruangan yang luas dengan meja panjang dan kursi-kursi yang berjajar rapi di sampingnya.

Sampai di tengah ruangan dekat meja makan, aku tertegun. Di atas meja telah terhidang paling sedikit delapan jenis makanan khas desa Jeja. Semuanya merupakan makanan kesukaanku. Persis seperti yang pernah kami makan di sebuah restoran pribadi pada saat kami masih berkencan dulu. Perutku langsung berbunyi melihat hidangan di depanku, karena sejak makan siang tadi , aku memang belum memasukkan apapun ke dalam perutku.

"Ini .......", perkataanku terputus. Sudah tidak ada suara yang dapat kukeluarkan.

"Pagi ini mulutku terasa tawar dan ingin memakan sesuatu yang lain dari biasanya, lalu terpikir olehku restoran pribadi yang pernah kita datangi ... saya menyuruh Mr. Han mengendarai mobilnya ke sana dan membelikan semua ini untukku ... tapi ketika sudah berhadapan dengan makanan-makanan ini, saya menjadi mual .. makanan ini sama sekali tidak bisa saya masukan ke dalam mulut ...", kata Mino santai. Tangannya menunjuk-nunjuk makanan yang ada di atas meja dengan perasaan jijik.

Kekesalanku memuncak melihat tingkah laku Mino. Aku bersiap menumpahkan segalanya ketika Mino meneruskan kata-katanya.

"Habiskan semuanya ... saya tidak perduli kamu sudah makan atau tidak, yang jelas kamu harus memakan semuanya, araso?"

Perasaan kesal di hatiku sekarang sudah berubah menjadi kemarahan besar. Tanganku terkepal dan mlulutku mengeluarkan teriakan keras.

"Yaaaaaaaaaa ............... memangnya kamu anggap saya ini apa? ... saya tidak serakus dugaanmu ......!!!"

Tapi teriakanku tidak ditanggapi Mino. Dengan cuek dia berjalan kearah pintu. Dia menjawab pertanyaanku tanpa berhenti ataupun berbalik kearahku.

"Terserah kamu mau menganggap dirimu apa ..."

Aku sudah akan berteriak lagi, tapi Mino sudah menghilang di balik pintu.

"Dasarrrrrrrr ........", teriakku keras.

Perasaan dongkol semakin menjalariku. Aku berbalik menghadapi hidangan istimewa di hadapanku. Melihat makanan-makanan yang sudah lama tidak kunikmati itu perlahan perasaan marah dan kesal itu mereda. Sudah hampir satu tahun aku tidak merasakan makanan-makanan ini lagi.  Walaupun beberapa waktu lalu, ketika aku melarikan diri dari Mino ke desa kecil dekat desa Jeja, aku belum sempat menikmati makanan khas ini lagi. Karena waktu itu aku sama sekali tidak punya keinginan untuuk melakukan apapun .

Bibirku perlahan menyunggingkan senyum lebar. Mau kesalahan ataupun bekas makanan Mino, yang jelas semua ini adalah makanan kesukaanku. Dengan cepat aku mengambil salah satu kursi dan duduk di sana. Aku mulai menikmati hidangan makan malamku yang berbeda dari biasanya dengan nikmat.


*****************


Pada hari dan waktu yang sama, Joongie memasuki bar besar di pusat kota Seoul yang dijadikan arena pertandingan gelap oleh perkumpulan Mr. Song. Musik keras yang [bigno]akkan telinga berdentum-dentum di seluruh ruangan. Keadaan bar itu cukup ramai. Hampir semua pengunjungnya dari kalangan remaja. Beberapa di antara mereka tampak sudah mabuk berat.

Joongie mengelengkan kepalanya. Anak muda jaman sekarang benar-benar sudah rusak semua. Tidak menutup kemungkinan sebagian besar dari mereka sudah kecanduan narkotika. Joongie celingak celinguk, berusaha mendapatkan orang yang dicarinya. Lima menit berlalu dan dia tidak mendapatkan Mr. Song berada di sana. Seseorang menghampiri Joongie dan menepuk pundaknya. Joongie berbalik. Orang di hadapannya terlihat kekar dan sangar.

"Ada yang anda cari, tuan? .. sejak tadi saya perhatikan tuan berkeliling kesana kemari ..", orang itu bertanya kepada Joongie dengan suaranya yang khas.

Joongie berusaha menahan ketawanya ketika mendengar suara laki-laki kekar itu tinggi melengking seperti suara wanita.

"Saya mencari Mr. Song ..", jawab Joongie dengan suara yang dibuat seberwibawa mungkin.

Pria itu memperhatikan Joongie dengan pandangan menyelidik. Dia tidak menghiraukan perkataan Joongie dan tidak juga memperlihatkan sikap akan mengantarkannya ke Mr. Song.

"saya ada urusan yang berhubungan dengan majikan saya, tuan muda Lee Min Ho dari LKH Group .. tolong sampaikan kepada Mr. Song .. jika dia tidak ingin menemuiku, aku akan melakukan sesuatu yang tidak bisa dibayangkan olehnya .."

Joongie menatap orang dihadapannya dengan pandangan tak berkedip. Sinar mata tajam yang menusuk darinya langsung mengentarkan pria berbadan gede dengan suara cewek itu. Dengan terburu-buru orang itu berlalu dari hadapan Joongie. Sebentar saja dia sudah kembali dengan Mr. Song disampingnya.

"Anda mencari saya?", tanya Mr. Song dingin.

"Mr. Song?", Joongie balik bertanya untuk memastikan pria dihadapannya adalah benar Mr. Song adanya.

Mr. Song mengangguk. Dia membalas pandangan menyelidik dari Joongie.

"Ada urusan yang berhubungan dengan tuan muda Lee?", Mr. Song mengeluarkan pertanyaannya lagi.

Joongie mengiyakan dengan cara menganggukan kepalanya seperti Mr. Song.

"Kita berbicara di dalam saja .. Wo, siapkan minuman buat tuan ..?", Mr. Song menatap Joongie dengan pandangan bertanya.

"Tidak perlu berbasa basi denganku Mr. Song .. kita langsung ke inti persoalannya saja ... anda bisa memanggilku Mr. Kim ..."

"Baiklah Mr. Kim .. kita bicara di ruang kantorku saja ..di sini terlalu ribut .."

Joongie menyetujui usul Mr. Song. Dia mengikuti langkah Mr. Song menuju ruang kantor yang terletak di belakang bar. Setelah sampai di sana, mereka duduk saling berhadapan. Ada sedikit ketegangan di antara mereka. Joongie menarik nafas perlahan kemudian berkata dengan berwibawa.

"Saya langsung kepermasalahannya saja Mr. Song .. begini .. saya ingin anda melepaskan majikan saya .... "

Sepasang mata Mr. Song melebar perlahan. Kemudian dia tertawa keras. Dia sangat geli dengan perkataan Joongie.

"Ha... ha .. ha ... jangan main-main denganku Mr. Kim ..."

Joongie sama sekali tidak bergeming dengan tingkah laku Mr. Song. Dia tidak tertawa. Sikap tenangnya tetap dijaganya. Hal ini membuat Mr. Song segera menghentikan suara ketawanya.

"Saya bukan orang yang suka bercanda Mr. Song, saya sangat serius dengan perkataan saya ... US $ 1.000.000, ini harga yang saya tawarkan kepada anda ..."

Mr. Song menatap tajam kearah Joongie.  Dia kelihatan tidak begitu tertarik dengan tawaran itu.

"Apa maksudmu Mr. Kim?"

Joongie langsung mengibaskan tangannya ketika mendengar pertanyaan Mr. Song.

"Jangan bersandiwara dihadapanku Mr. Song ... saya tahu bahwa anda mengerti dan memahami maksudku ... tidak ada gunanya anda berkeras mempertahankan majikanku dalam kelompokmu .. anda tahu bahwa kakinya sudah tidak dapat digunakan untuk membantumu lagi, kan? .. jadi uang itu sudah lebih dari cukup untukmu .."

Mr. Song tidak mengeluarkan suaranya. Matanya masih menatap lurus ke mata Joongie yang tak berkedip.

"Saya tidak akan menambah lagi tawaran saya, Mr. Song .. itu harga mati dariku .. anda bisa saja tidak menerimanya tapi, .... resikonya harus anda tanggung sendiri .. apa yang telah anda lakukan kepada majikanku tidak akan kami biarkan begitu saja ....."

Joongie berdiri dari tempat duduknya. Dia sudah bermaksud keluar dari ruangan itu ketika Mr. Song menghalangi langkahnya.

"Anda tidak bermaksud melakukan sesuatu kepadaku kan, Mr. Song? ...jangan lupa, saya bukan orang bodoh ... saya tidak akan menanggung resiko menemui anda jika saya tidak mempunyai persiapan terlebih dahulu .. dalam waktu setengah jam jika saya tidak keluar dari sini dengan selamat, maka anda bersiaplah dengan resikonya sendiri ... orang-orangku yang berada di luar akan langsung menelepon polisi dan anda jangan berharap bar ini dapat berjalan lagi ..."

Joongie tidak bergeming dengan pandangan mengancam dari Mr. Song. Keduanya saling berpandangan dalam waktu yang cukup lama. Tidak ada yang ingin menyerah di antara mereka. Tapi akhirnya Mr. Song sadar bahwa dia sudah kalah. Tidak ada gunanya dia mempertahankan pendiriannya. Jika dia terus bersikap begitu bukan saja uang yang tidak didapatkannya, mungkin saja semua yang dimilikinya, bar dan arena pertaruhan di ruang bawah tanah akan dibongkar oleh pihak berwajib.

"Baiklah kalau begitu ... tapi ingat, .. nasehati majikanmu agar jangan menginjakkan kakinya lagi di sini ... jika tidak .. apapun bisa saya lakukan ..."

Joongie tersenyum. Dia merogoh ke saku jas yang dikenakannya dan menyerahkan selembar cek yang telah dibuka oleh Mr. Lee tadi pagi.

"Jangan khawatir Mr. Song .... kami sama sekali tidak ingin mempunyai hubungan apapun dengan perkumpulan kalian ...."

Joongie keluar dari ruangan itu dengan senyum penuh kemenangan. Beberapa pengikut Mr. Song memperhatikanya dengan pandangan bertanya-tanya. Dua menit kemudian suara barang dilempar ke dinding terdengar dari ruang kantor Mr. Song yang tertutup.

Brakkkkkkkkkkkkkk ........................


************************


Keesokan harinya, Joongie melaporkan semua pembicaraan dan kesepakatannya dengan Mr. Song kepada Mr. Lee di ruang tamu kediaman Lee. Mr. Lee sangat puas dengan hasil kerja Joongie dan memaksa Joongie untuk menerima tawarannya dua hari yang lalu. Semula Joongie menolak tawaran itu, tapi sikap Mr. Lee yang berwibawa akhirnya membuat Joongie menyerah. Dia menerima tawaran menjadi sekretaris pribadi Mr. Lee dan bersedia memulai pekerjaan itu keesokan harinya. Waktunya memang sangat pendek dan Joongie tidak diberi waktu untuk memikirkannya lagi karena Mr. Lee membutuhkan seseorang untuk membantunya segera.

Soeun yang melintas di depan ruang tamu yang pintunya terbuka, tidak sengaja mendengar sebagian dari pembicaraan mereka. Mr. Lee tersenyum kepada Soeun dan melambaikan tangan kearahnya.

"Masuklah, Soeun!!! ........pembicaraan kami sudah selesai ... kamu bisa menemani Hyun Joong hari ini karena mulai besok dia akan sibuk lagi .."

Mr. Lee berdiri dari tempat duduk dan meninggalkan Joongie dan Soeun berduaan saja di ruang tamu yang besar itu. Soeun berdeham perlahan kemudian memulai pembicaraannya.

"Ehemmmmm ... saya tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan paman ... jadi .. jadi  ... kamu yang telah membantu oppa melepaskan diri dari perkumpulan gelap itu, kan? ... hmmm ... gumawo ..."

Joongie duduk dengan gelisah di tempatnya. Sikap tenangnya berubah seketika begitu mendengar perkataan Soeun.

"Tuan besar  ... yang membayar semuanya ... jadi .. jadi ... tidak ada hubungannya denganku ..."

Soeun tidak peduli dengan kegugupan Joongie. Perlahan dia mendekati sofa yang diduduki Joongie dan mengambil tempat di sampingnya.

"Tahu tidak? .. ini .. untuk yang ketiga kalinya saya ... kagum kepadamu ...", kata Soeun dengan suara halus.

joongie semakin gelisah mendengar nada suara Soeun. Dia sama sekali tidak berani memandang ke samping.

"Yaaaaa ... mengapa kamu selalu ... selalu .. berkata seperti itu ... sudah saya katakan itu ...", Joongie belum menyelesaikan kata-katanya ketika secara tidak sadar dia menoleh ke samping, dan mendapati pandangan Soeun yang menancap lurus ke bola matanya.

"Yaaaaaaaa.................."
Joongie langsung terperanjat dari tempatnya ketika sesuatu yang dasyat merambat masuk ke dalam hatinya. Wajahnya bersemu merah. Soeun masih memperhatikannya. Tapi kali ini dengan pandangan bertanya-tanya.

Bola mata Joongie berputar ke segala arah. Dia sedang berusaha mencari jalan keluar dari situasi yang tidak menyenangkan itu. Pandangannya kemudian jatuh ke pintu ruang tamu yang tertutup. Dengan cepat Joongie berlari ke arah pintu, membukannya, kemudian berlari keluar. Soeun hanya bisa memperhatikan semua kelakuan Joongie dengan mulut melongo.


********************


Minggu kedua ....
Hari ini aku pulang dari kantor lebih cepat dari biasanya. Pukul setengah enam sore, aku sudah menginjakkan kakiku di rumah Mino, yang juga merupakan tempat tinggalku sekarang. Aku mendorong pintu kamarku perlahan. Sekilas aku melirik kamar sebelah yang pintunya tertutup. Kamar itu adalah kamar Mino. Aku tidak mendapati Mino di lantai bawah tadi. Mungkin dia sekarang berada di kamarnya.

Aku bermaksud memasuki kamarku ketika kudapati Mino sudah berada di sana. Aku tertegun di ambang pintu. Mino duduk di ranjangku dan memandang lurus kepadaku. Dia tidak kelihatan bermasalah memasuki kamarku dengan tanpa seijinku.

"Mau apa kamu di kamarku?", tanyaku sengit.

"tidak ada apa-apa ...", jawabnya sambil berdiri dari duduknya.

"Jika tidak ada masalah apa-apa, mengapa kamu memasuki kamar tanpa seijinku?", tanyaku tidak mau kalah.

Mino tidak menjawab. Dia merogoh saku celananya. Dia seperti sedang mencari sesuatu disana. Setelah mengeluarkan tangannya dari saku celana, sesuatu yang tidak terlihat olehku telah tergenggam di tangan kanannya. Mino sekarang berjalan kearahku.

"Ulurkan tanganmu!!", katanya dengan nada memerintah.

Aku ingin membantah. Tapi pandangan tajamnya membuatku menurut begitu saja. Mino menaruh sesuatu di tanganku yang terbuka. Aku memperhatikan barang itu dengan seksama. Aku tertegun. Rantai kalung dari perak dengan liontin berbentuk serupa dengan "Sarang" telah berada di tanganku.

"Ini ....", bibirku bergetar sehingga perkataanku terputus sampai di sini.

"Tadi siang saya pergi ke old market yang terletak di ujung kota .. dan di sebuah toko kuno saya tidak sengaja melihatnya .. liontin itu mirip denganmu, tampangnya bego sepertimu, jadi saya membelinya ..."

Aku yang semula terharu melihat kalung itu, begitu mendengar perkataannya langsung berubah 180 derajat.

"Yaaaaaaaaaa ..........."

"Tidakkah kamu merasa dia mirip denganmu?", tanya Mino dengan senyum mengejek. Lalu dia melanjutkan lagi perkataannya ..

"Tapi kamu jangan salah mengartikan maksudku, itu bukan hadiah dariku .. sama sekali bukan .. saya memberikan kalung itu kepadamu karena saya tidak ingin berhutang budi padamu, hanya itu .. ingat perkataanku semula, tidak ada kata maaf di antara kita .. walaupun begitu, awas jika kamu sampai menghilangkannya ..."

Aku terdiam di tempat, sama sekali tidak tahu harus bersikap apa. Gembira dengan pemberian itu? .. tidak mungkin!! Perkataannya yang menyebalkan itu sudah menghapus semua kesenanganku semula. Marah?? .. aku juga tidak bisa!! Tadi memang aku hampir meledakkan kekesalanku, tapi sekarang semuanya sudah lenyap seketika. Mengapa bisa begitu? aku juga tidak mengerti sama sekali.
Pandanganku menyelusuri kalung yang terletak di tangan kananku. "Sarang" yang tergantung di tangan yang sama terayun perlahan seakan menari-nari digantungan talinya. Aku tidak menyadari bahwa dari tadi Mino memperhatikanku dengan pandangan sendunya yang teramat dalam.


********************


Minggu ketiga ....
Sekali lagi hari yang melelahkan. Jam kerjaku yang terpanjang dari yang pernah kulakukan. Aku tiba di rumah sudah hampir jam sebelas malam. Aku berniat memasuki kamarku ketika suara berisik dari kamar sebelah menarik perhatianku. Aku berjalan ke sana. Pintu kamar Mino terbuka dan sinar lampu yang cukup menyilaukan terpantul keluar dari ruangan itu.

Setelah sampai di ambang pintu aku mengintip ke dalam. Mino tampak sedang menumpahkan segala perlengkapan pengobatan ke ranjangnya.

"Biar saya yang melakukannya ....", aku memasuki kamar Mino perlahan.

Aku benar-benar capek. Tapi tentu saja aku tidak bisa membiarkan dia membersihkan lukanya sendiri. Ini sudah menjadi bagian dari perjanjianku dengannya. Mino menatapku dari tempatnya. Dia tidak mengeluarkan protesnya dengan kepulanganku yang sangat telat. Aku duduk di sampingnya, mengambil obat pembersih dan kapas dari ranjang, kemudian berkata halus ...
"Naikkan bajumu ke atas ..."

Mino menuruti permintaanku. Tapi dia tidak menyingkap kemejanya seperti yang kuperintahkan. Secara perlahan dia membuka kancing kemejanya satu persatu dari atas sampai yang paling bawah. Aku terbelalak. Mino tidak memperdulikan keterkejutanku. Setelah semua kancing bajunya terbuka, Mino menyibakkan kemejanya ke kedua sisi, kemudian membuka dan melemparkannya ke ranjang. Sekarang dia sudah bertelanjang dada di hadapanku .. dan .. ini untuk yang pertama kalinya.

Aku tertegun. Ingin rasanya aku berpaling dan berlari keluar. Tapi bekas luka yang maasih jelas dan memanjang dari pinggang bagian kanan sampai ke perut bagian tengah, membuatku perpaku di tempat. Sebenarnya aku sudah biasa dengan bekas luka itu karena setiap pagi dan malam aku yang bertugas membersihkan lukanya .. tapi. .. ini untuk pertama kalinya dia polos di hadapanku dan ... untuk pertama kalinya pula aku menyadari betapa sempurnanya bentuk tubuh itu.

Dada bidang dengan enam lapis otot kekar itu terlihat seperti terpahat keluar dari tangan seorang ahli seni yang terampil. Dan sekarang kesempurnaan itu ternodai oleh luka yang memanjang itu. Semua itu karena kesalahanku.

"Heyyyyy .... kapan kamu akan memulainya?"

Teguran itu menyadarkanku dari lamunan. Aku tersentak dengan mata terbelalak. Terburu aku meminta maaf kepadanya. Perlahan kutuangkan obat pembersih dari botolnya ke kapas yang terpegang di tanganku. Kuoleskan kapas yang basah itu ke luka di bagian perut Mino. Suara mendesis terdengar dari mulut Mino. Aku mengangkat wajah keatas. Mino tampak sedang menggigit bibir bawahnya. Aku tahu dia masih merasa nyeri. Tapi semua itu tidak diperlihatkannya.

Pekerjaan itu kulakukan dengan cermat dan cekatan. Lima menit kemudian aku menyelesaikannya. Aku mengumpulkan semua peralatan yang berserakan di ranjang ke dalam kotaknya dan menaruhnya di meja samping. Aku mendesah perlahan. Badanku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Ingin rasanya aku merebahkan diri di mana saja dan tidur sepuasnya.

Mino berdiri dari tempatnya dan berjalan ke kamar kecil yang dihubungkan langsung dari kamarnya.

"Kamu mau apa?", tanyaku dengan suara serak.

"Mandi ...", jawab Mino pendek, tampak beralih kearahku.

Aku terkejut. Dia belum membersihkan diri di jam segini?
"Mengapa ...? sudah malam.. mengapa belum mandi juga?"

Mino berbalik dan berhadapan denganku.
"Aku tidak biasa mandi dengan suhu air yang diatur oleh pelayan .... biasanya kamu yang melakukannya ..."

Aku mendesah. Mataku terpejam perlahan. Benar ..... aku yang mengatur air panas buat mandi untuknya beberapa minggu terakhir. Tapi sungguh tidak kukira dia akan sekeras kepala itu. Memilih menungguku pulang dan melakukan itu untuknya daripada harus mandi dengan suhu air yang diatur oleh pelayan. Aku berdiri dari ranjang dan berjalan dengan lesu ke arah kamar mandi.

"Aku akan melakukannya sekarang ..."

Mino mencegahku tapi aku membantahnya.
"Ini sudah bagian dari perjanjianku ..."

Setelah selesai dengan air mandi yang dibutuhkan Mino, aku keluar dari kamar kecil itu dengan pikiran melayang. Pandanganku sudah kabur. Mataku sudah tidak bisa dibuka lebih lebar lagi. Aku sangat mengantuk.

"Sudah selesai .. kamu bisa menggunakannya sekarang ...", kataku pelan.

Mino mengangguk, kemudian berjalan ke kamar mandi, dimana aku keluar tadi. Aku merebahkan kepalaku ke ranjang Mino. Mataku terpejam. Sungguh empuk kasur ini. Aku dibawanya ke alam mimpi. Tidak!.. aku harus kembali ke kamarku. Aku tidak bisa tidur di sini. Aku bermaksud bangun, tapi tidak bisa kulakukan. Semuanya sangat semu. Keinginanku hanya ada dalam pikiran saja sedangkan badanku sama sekali tidak bisa diajak kerjasama. Aku sudah dibawa terbang ke langit tinggi dengan awan-awan lembut yang mengitari sekelilingku. Aku terlelap dengan posisi duduk dan kepala terebah di ranjang Mino yang berseprai krem lembut.


*****************


Lee Min Ho .....

Aku keluar dari kamar mandi dengan badan segar. Langkahku terhenti ketika mendapatkannya sudah terlelap di ranjangku. Dia tidur dengan posisi yang tidak nyaman. Dia pasti sangat capek dan lelah. Aku mengetahuinya. Karena itu juga aku tidak mengeluarkan suara dengan kepulangannya yang teramat larut. Aku juga tidak memintanya untuk melakukan semua pekerjaan yang seharusnya dilakukannya. Tapi ketika dia berkeras untuk melakukannya, aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Aku tahu bahwa dia masih merasa bersalah kepadaku. Tapi, mengapa harus begitu? mengapa harus ada perasaan bersalah itu? aku tidak pernah menyalahkannya. Sudah kukatakan berulangkali bahwa tidak pernah ada kata maaf di antara kami . Mengapa harus ada kata maaf kalau memang kesalahan itu tidak pernah ada? Mengapa dia tidak bisa menangkap arti dari perkataanku.

Aku berjalan kearahnya dan menjatuhkan diri di ranjang. Kuperhatikan wajahnya yang tenang. Tenang? .. itu bukan kata-kata yang tepat. Dia hanya sangat dan sangat capek sehingga tertidur dengan sangat dan sangat lelap. Itu bukan tertidur karena perasaan aman dan nyaman. Mataku meredup perlahan. Hatiku terasa sakit. Aku bisa merasakan desah nafasnya yang panjang dan agak berat. Tanganku terulur, bermaksud menyentuh wajahnya. Tapi segera kuurungkan niat itu karena takut membangunkannya dari tidur.

Aku merasa sedih harus berbuat begini terhadapnya. Berbuat seakan aku tidak menginginkan lagi hubungan kami yang dulu. Itu tidak benar dan .. aku ingin dia segera menyadarinya. Aku menyuruhnya melakukan segala sesuatu untukku bukan karena aku ingin menghukumnya ataupun ingin membalas dendam kepadanya. Aku melakukan semua itu karena aku ingin dia selalu berada di sampingku. Aku juga ingin dia menyadari betapa penting dan berharganya aku baginya. Tapi sepertinya dia belum menyadarinya. Aku akan menunggu dan memberinya waktu. Tidak lama lagi .. tunggu saja .. tidak lama lagi aku akan melakukan yang lebih dari semua ini.


*******************

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun