Author Topic: ♥ Minsun's OR Jundi's Short FanFiction ♥ ~ (LITTLE KISS., 27.03.10)  (Read 60306 times)

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
Re: ♥ Minsun's OR Jundi's Short FanFiction ♥
« Reply #255 on: March 03, 2010, 09:13:23 pm »
mi kalo aku mah lebih suka baca komik drpada baca novel mi ntu aja daku baca gajah gara2 gak sengaja nemu ada seh dulu baca apa gitu lupa ane dipinjemin ma temen tapi gak ampe kelar  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] kl aku sekarang lagi baca 24 Wajah Billy karangan Daniel Keyes bagus deh mi tuh novel bikin merinding juga coz diangkat dari kisah nyata tentang seorang lelaki yg punya 24 macam kepribadian dalam dirinya  [biggrin]

yah oki kan u ndiri yg minta di  [head break] gimana seh  whistling  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline IZZ

  • Police
  • Full
  • *****
  • Posts: 271
  • MinSun Is Real ^^
    • View Profile
Re: ♥ Minsun's OR Jundi's Short FanFiction ♥
« Reply #256 on: March 04, 2010, 12:12:40 am »
izz, bahasa indo ko asli keganggu say [heh] suka pusing dgn penggunaan kata2 yg tepat dalam ff gw [sweat] gw kan pengemar novel say, jd novel apapun gw bahas deh, apalagi yg misteri2 gw babat semua [hmpfh] [hmpfh] .. gw dulu tinggal di pontianak [biggrin]

oo..keganggu ya mi ternyata hehe.. [sweat] [sweat]
wew pontianak jauh bet.. [biggrin] [biggrin]
klo dakuw deen baca komik tapi yg kayak keluaran m&c gitu..tapi sekarang udah gak begitu lagi, sekarang malah addict ke fanfic ^^
klo novel hehe jarang namatin bacanya, kecuali udah direkomen bgt ^^
siggy by endree noona ^^v

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: ♥ Minsun's OR Jundi's Short FanFiction ♥
« Reply #257 on: March 04, 2010, 06:51:20 am »
klu gw sih plg doyan novel yg tebalnya minta ampun, semakin tebal semakin demen [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
Re: ♥ Minsun's OR Jundi's Short FanFiction ♥
« Reply #258 on: March 04, 2010, 07:35:36 am »
nah cucok tuh 24 wajah billy juga tebel n berat bacaannya ampe sekarang aja daku lom mudeng ma karakternya  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
Re: ♥ Minsun's OR Jundi's Short FanFiction ♥
« Reply #259 on: March 04, 2010, 07:42:21 am »
miane,,, numpang lewat jg deh klo gtu mah,, abiz ga ngrti sma komik n novel yg dbcarakan niy aq [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]... jd  lwt aja ah... [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]

td bru bis nton BOF lg jd hati msh ser2an niy, aplgi scene2 kissunya,,,, [love eyes] [love eyes] [love eyes] [love eyes] [love eyes] [love eyes] udah ah iklanya abizzzzzz [hmff] [hmff] [hmff]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: ♥ Minsun's OR Jundi's Short FanFiction ♥
« Reply #260 on: March 05, 2010, 05:44:14 am »
sesuai perjanjianku [biggrin] [biggrin] the long chapter [smiley-dance013] [smiley-dance013]

MY EVERYTHING
CHAPTER 4


SONG OF THE DAY


Junpyo mengangkat tangan yang melingkari pinggang Jandi. Mengelus lembut wajahnya. Sepasang mata Jandi masih terpejam. Desahan pelan keluar dari mulutnya. Junpyo menunduk dan menempelkan bibirnya ke bibir Jandi yang agak mengangga, mengecupnya perlahan. Hanya berupa ciuman pendek.



"Hhhhh ..... ", desahan Jandi terdengar makin jelas.

Junpyo mendaratkan ciumannya lagi, dua kali berturut-turut. Kilat dan menyentuh halus.

"Jandya ... ", panggil Junpyo, sangat pelan dan hampir tak terdengar, setelah ciuman tadi.

"Emhhhh ...??", Jandi membuka mata perlahan.

Pandangan mereka langsung bertemu. Sepasang mata yang bersinar  redup akibat perasaan yang masih melayang setelah ciuman tadi. Junpyo kembali meraba wajah Jandi yang merona.

"Tentang Jaekyung ... "

Sebelum Junpyo sempat menyelesaikan kata-katanya, Jandi sudah mengangkat tangan dan menutup mulut Junpyo dengan  tangannya.

"Kamu tidak perlu menceritakan itu padaku .... "

Dengan sigap Junpyo melepaskan bekapan tangan Jandi dari mulutnya,
"HARUSSSSSSSS!!!!!", katanya keras,  sampai-sampai mengangetkan Jandi.

Pandangan gadis itu langsung melebar ke Junpyo,
"Ottoke?", tanyanya keheranan.

Junpyo menatap Jandi lekat-lekat,
"Karena ... saya tidak ingin hubungan kita begini terus-menerus, tanpa kemajuan sedikitpun, hanya berhenti di satu titik, nol besar .. saya tidak ingin hubungan seperti ini ... Jadi .. saya mengambil keputusan untuk memulainya sekarang, yaitu dengan menceritakan semua hubungan masa laluku ... Saya berharap setelah ini  .. hubungan kita akan berubah ..."

Jandi membisu. Kepalanya tertunduk perlahan. Dia tidak sanggup membalas pandangan Junpyo. Kemudian Junpyo bergerak pelan, tangannya mengenggam erat tangan Jandi.
"Ayo .. ikut denganku!". Junpyo sedikit menarik tangan Jandi.

"Kemana?"

Junpyo tidak menjawab. Dia membawa Jandi ke ranjang, kemudian mendudukkannya di situ.
"Sekarang dengarkan ceritaku!"

Jandi mengangguk. Sepasang matanya berkedip berkali-kali, menyimak seksama apa yang akan dikatakan Junpyo.



"Saya dan Jaekyung ... oh, tidak! bukan hanya dengan Jaekyung, tapi juga dengan Jihoo, Yijeong dan Woobin, kami berlima sudah saling kenal sejak ... mungkin sejak dalam kandungan, kalau kamu mengerti apa maksudku, ... Orangtua kami bersahabat baik karena itu hubungan kami sangat dekat, bahkan boleh dikatakan kedekatan itu melebihi hubungan saudara .. Karena kami berlima tidak mempunyai saudara kandung maka kami bisa saling melengkapi satu sama lain ..", Junpyo berhenti sejenak.

Jandi memperhatikannya, kemudian berkata, "Saya sudah mengetahui itu dari appa dan omma."

Junpyo mengangguk, lalu melanjutkan ceritanya,
"Sampai kami dewasa, kami menyadari kalau hubungan cinta dan pernikahan tidak berada di tangan kami sendiri .. Dari dulu pernikahan di keluarga kami selalu diatur orangtua, sangat mustahil kami bisa menikah dengan orang yang kami cintai .. Tapi aku, Goo Jun Pyo! tidak mau menyerah begitu saja .. Saya ingin membuktikan ke appa dan omma kalau saya juga bisa mendapatkan seorang gadis yang benar-benar saya cintai .. dan mereka harus menerimanya. Karena itu terjadi kesepakatan antara saya dan appa .. dia memberi waktu lima tahun padaku, apapun yang akan kulakukan dan siapapun gadis yang kukencani, mereka tidak akan campur tangan tapi jika dalam waktu lima tahun itu, saya tidak berhasil menemukan gadis idaman yang akan kunikahi, maka saya harus menerima pilihan mereka tanpa dapat diganggu-gugat ..", Junpyo menarik nafas sebentar, kemudian melanjutkannya lagi, "Selama lima tahun saya telah berkencan dengan beberapa wanita .... "

"Beberapa?", potong Jandi dengan nada tak percaya.

Junpyo tergangga, agak grogi ketika melanjutkan perkataannya, "Well ... baiklah! saya akan jujur .. mungkin lebih dari beberapa ... ", Junpyo semakin serba salah ketika menangkap sinar mata menyelidik Jandi, "Beberapa puluh, ok? .. saya .. saya tidak ingat lagi jumlah sebenarnya .. hei! jangan memandangiku seperti itu dan .. jangan berpikiran tidak-tidak! hubungan itu bukan hubungan seperti bayanganmu ... Hubungan tersebut hanya sebatas saling memahami perasaan masing-masing ...Semua hubungan itu tidak lama, paling lama hanya bertahan dua bulan ..."

"Lalu bagaimana dengan Jaekyung?"

"Jaekyung! ... Sekitar dua setengah tahun lalu, setelah tidak berhasil dengan beberapa wanita yang kukencani sebelumnya, saya memutuskan untuk mencobanya dengan Jaekyung, karena perasaanku padanya berbeda dengan wanita-wanita sebelum itu jadi saya berpikir mungkin saya akan mencintainya .. Tapi hubungan itu hanya berjalan setengah tahun, hubungan yang hambar, tidak ada bumbu sama sekali, lebih parah dari persahabatanku dengannya .. karena itu saya memutuskannya ... "

"Apakah dia tidak menolak ketika kamu memutuskannya?", Jandi bertanya serius.

"Dia memprotes mati-matian .. Katanya, dia sangat mencintaiku dan tidak dapat hidup tanpaku .. Tapi, walaupun dia merengek memintaku kembali ke sisinya tetap percuma saja karena saya tidak punya perasaan apa-apa padanya selain perasaan sebagai seorang sahabat sejati yang melebihi seorang saudara .. ", Junpyo kelihatan menyesal ketika menceritakan ini.

Setelah terbatuk kecil, Junpyo melanjutkan perkataannya, "Sekarang giliranmu ..."

"Mo?"

"Bagaimana hubungan masa lalumu?"

"Tidak ada yang istimewa .. ", jawab Jundi.

"Tidak ada?"

"Ya, tidak ada!!"

"Lalu bagaimana dengan .. Jung Jae Hea-ssi?", Junpyo menatap Jandi dengan pandangan tajam.



"Jaehae oppa? ... saya mengenalnya sepuluh tahun yang lalu, dia sangat menjagaku ... "

"Bagaimana hubungan kalian?"

"Tidak lebih dari sahabat baik .. sampai .. "

"Iya, sampai apa?", tanya Junpyo menyelidik.

"Sampai oppa mengajakku bertunangan dua setengah bulan yang lalu, saat kepulanganku yang terakhir ke Korea .. "

"Kamu tidak menerimanya?"

"Tidak, saya tidak menerimanya, tapi saya juga tidak menolaknya .. saya berjanji akan memikirkannya dan memberikan jawaban begitu pulang ke Roma, tapi ... ", Jandi menghentikan perkataannya.

"Tapi karena peristiwa yang terjadi antara kita membuatmu melupakan perjanjian itu, benar begitu kan?"

Jandi menatap Junpyo dengan tajam, "Tidak seluruhnya!! .. Yang sebenarnya adalah setelah perjanjian yang kami buat, saya .. saya ... melupakannya sama sekali .. Saya juga tidak tahu mengapa .. Mungkin benar kata Jaehae oppa, kalau saya .. saya tidak menganggap penting perjanjian itu ... "

"Apakah kamu menyesal Jandya?", tanya Junpyo. Nada suaranya penuh tekanan.

Jandi tidak memberi tanggapan lebih lanjut. Dia membisu di tempatnya. Begitu juga dengan Junpyo. Mereka berada dalam posisi itu selama sepuluh menit. Lalu Jandi mengeluarkan suaranya, "Hmmm .. jika boleh saya tahu .. kalau kamu tidak menyetujui pernikahan yang diatur orangtua, mengapa kamu menyetujui pernikahan kita? ... Apakah benar-benar cuma karena perjanjian dengan appa?"

Junpyo terpaku mendengar pertanyaan itu. Apakah dia harus menjawabnya? Apa reaksi Jandi jika dia menjawab 'iya'. Apakah Jandi akan memaafkannya? Dia tidak yakin akan itu. Junpyo berdiam diri selama beberapa menit. Sebelum akhirnya dia berkata perlahan, "Jandya ..!"

Jandi menoleh ke Junpyo dengan sinar mata bertanya. Junpyo berhenti sejenak, seperti ragu melanjutkan kata-katanya. Kening Jandi berkerut. Melihat ekpresi wajah Jandi, akhirnya Junpyo mengeluarkan pertanyaannya, "Apakah .. kamu .. mencintaiku?"

Sepasang mata Jandi langsung terbelalak lebar. Dia tidak menyangka Junpyo akan menanyakan pertanyaan luar biasa itu. Dia berdeham keras. Gugup dan serba salah. Dengan cepat dia berdiri dari ranjang.
"Ehemmm .. ada .. ada .. yang ingin saya .. bicarakan dengan ... dengan nanny .... "

Jandi berbalik kearah pintu. Dia melangkah ke sana dengan terburu. Langkahnya sangat lebar.

"Jandya!!!!!", panggil Junpyo.

Langkah Jandi terhenti di tengah Jalan. Panggilan keras itu seakan memiliki tenaga untuk menariknya kembali ke samping Junpyo. Perlahan Jandi berbalik, menghadapi Junpyo. Sinar mata keduanya bertemu. Junpyo memandangi Jandi dengan penuh harap. Menanti jawaban yang sangat ingin didengarnya. Sedangkan Jandi masih tidak mampu menjawab. Kebisuan dan keheningan dalam ruangan itu membuat telinga mereka berdenging.

"Jandya ....???"

Jandi mengigit bibirnya. Suaranya masih sulit dikeluarkan ketika dia menjawab pertanyaan itu. Agak tersendat, dia berkata, "Saya .. saya tidak tahu .. Saya benar-benar tidak bisa menjawabnya .. dan .. saya juga tidak mau menjawab sesuatu yang belum pasti!! .. Miane, ... Jika saya bertanya pertanyaan yang sama padamu, saya yakin kamu juga tidak bisa menjawabnya! .. bukankah begitu, Junpyo-a?"

Jandi menatap Junpyo seksama. Tapi itu hanya sebentar saja. Detik berikutnya, dia sudah berbalik lagi kearah pintu. Ketika dia berniat pergi dari kamar itu, jawaban Junpyo mengejutkannya.

"Saranghe!!"

Jandi langsung membalikkan tubuhnya. Sepasang matanya terbelalak lebar. Dia menatap Junpyo dengan pandangan tak percaya. Apakah yang tertangkap oleh pendengarannya itu tidak salah? Junpyo baru saja mengungkapkan cintanya? Semudah itu dia mangakui perasaannya sendiri?

"Mhoragu??"

"Saya bilang SARANGHE!! .. Dan saya bersungguh-sungguh, Jandya! .. Saya sangat menyadari perasaan sendiri .. Saya tidak pernah cemburu tidak jelas terhadap seorang pria, tidak pernah ingin membahagiakan seseorang, tidak pernah merasa bersedih dan merana melihat penderitaan seseorang dan juga tidak pernah melakukan sesuatu tidak jelas hanya untuk melihat seorang wanita tersenyum dan tertawa, hanya kamu!! ... hanya di dalam kamu saya menemukan perasaan itu ... perasaan yang membuatku sangat dongkol, benci dan sekaligus tersenyum sendiri seperti orang gila ...", Junpyo berhenti sebentar, memandangi Jandi yang membisu. "Dan apakah kamu tahu perasaan apa itu, Jandya? Cinta! .. Itu adalah cinta! .. sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelum kehadiranmu dalam kehidupanku .. "

Jandi memejamkan mata perlahan. Apa yang harus dilakukannya? Walaupun dia mempunyai perasaan yang sama dengan Junpyo tapi dia belum yakin kalau perasaan itu adalah cinta. Masih terlalu dini untuk mengambil keputusan dari perasaan yang belum jelas ini.

"Jandya .."

Panggilan pelan itu menyadarkan Jandi dari lamunannya. Matanya terbuka perlahan.
"Miane .. jeongmalmiane, Junpyo-a ... Saya .. saya belum bisa memberi jawaban dari .. dari pertanyaanmu tadi .. Saya .. saya belum yakin ... saya ...", perkataan Jandi terhenti setengahnya.

Junpyo menghembuskan nafas perlahan.
"Gwencana, Jandya .. Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang .. Saya akan menunggu, sampai kapanpun saya akan menunggumu ... ", kemudian Junpyo tersenyum perlahan, "Jika kamu bersedia menerima cintaku, saya akan merayakan pesta pernikahan kita secara besar-besaran ..."

Jandi ikut tersenyum mendengarnya, "Yaaaa .. kamu tidak perlu melakukan itu!!"

"Mengapa tidak? .. Kamu adalah segalanya bagiku!!"

Jandi tersipu malu. Pipinya memerah, semerah tomat. Junpyo terbahak melihat ekspresi wajah Jandi. Junpyo berdiri dari duduknya. Dia menghampiri Jandi yang masih berdiri dekat pintu. Wajahnya menunduk, hanya berjarak beberapa inchi dari wajah Jandi. Jandi sangat terkejut dan segera mundur beberapa langkah ke belakang.

"Yaaaa .. apa yang ingin kamu lakukan?", protes Jandi.

Junpyo semakin terbahak, "Ha .. ha .. ha .. tenang saja, saya tidak akan memakanmu, walaupun .. hmmm .. saya ingin melakukannya!!"

Godaan Junpyo tepat pada sasaran. Mata Jandi terbelalak lebar. Dia sangat terguncang dengan perkataan itu.
"GOO JUN PYOOOOOO!!!!!"

"Ha .. ha .. ha .... ", Junpyo tertawa keras. Tapi langsung terhenti ketika Jandi melempar sebuah buku yang diraih dari lemari dekat pintu kearahnya. Buku itu sukses mengenai dada Junpyo.
"Ahhh .... ok .. ok .. serius sekarang!!". Junpyo menatap Jandi dengan mata bersinar, "Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu!"

Jandi langsung mendelik. Perasaan curiga menghantuinya.
"A .. ada .. apa? ... Awas kalau kamu mengatakan yang tidak-tidak!!"

"Tidak! Kali ini sangat serius .. Saya sudah membicarakan kelanjutan kuliahmu dengan tuan Kim dan mulai besok atau kapanpun kamu suka, kamu bisa memulai kuliahmu di universitas Shin Hwa .. Bagaimana? Kamu senang kan mendengar berita ini ... ". Junpyo tersenyum bangga.

Mulut Jandi langsung mengangga.
"APAAAA?? ... Dan kamu .. kamu tidak membicarakannya dulu denganku?"

"Saya bermaksud memberi kejutan padamu ... dan ini dia, surpriseeeee!! ... , kamu bahagia kan?"

Mata Jandi terpejam karena menahan gejolak emosinya. Orang ini tidak bisa berubah. Tetap saja seenak perutnya.
"TIDAKKKKK!! SAYA TIDAK BAHAGIA!!"

"Mengapa?", tanya Junpyo heran.

"Saya tidak membutuhkan kejutan darimu!! .... Saya mohon, lain kali kalau kamu mau melakukan sesuatu dirundingkan dulu denganku .. Saya tidak mau mendapat kejutan yang dapat membuat jantungku berhenti berdetak seketika setiap saat ..", jawab Jandi kesal.

Wajah Junpyo berubah sendu. Dia tidak pernah berpikir kalau Jandi tidak menyukai kejutan darinya.
"Mian ... Saya tidak tahu kalau kamu tidak menyukainya .. Saya hanya bermaksud menghiburmu .. Saya tahu kamu selalu kesepian di rumah ini dan saya juga tahu kalau kamu sangat mencintai sekolahmu .... sekali lagi miane Jandya .. "

Tampang sedih Junpyo membuat Jandi tidak tega melihatnya. Apalagi ditambah penjelasan yang diberikannya tadi, membuat Jandi terharu.
"Sudahlah! .. lupakan saja masalah itu, tapi ingat, lain kali jangan melakukannya lagi! ... Saya akan merasa bahagia jika kamu menceritakan semuanya terlebih dahulu padaku ... "

Junpyo tersenyum perlahan. Kesedihan tadi langsung terlupakan olehnya.
"Jadi kamu tetap senang kan dengan kejutanku itu?"

Melihat sifat kekanak-kanakan Junpyo, Jandi tidak mampu menahan senyumnya.
"Iya, saya senang .. gumawo, Junpyo-a .. "

"YEAHHHHHHHHHHH!!!". Junpyo berteriak keras. Mendadak dia mengunci wajah Jandi dengan tangannya dan mendaratkan ciuman yang teramat panas di bibir Jandi. Disedotnya bibir mungil itu sepenuh hati. Keras dan agak menyakitkan, sehingga menyebabkan Jandi berteriak keras.




"AKHHHHHHHHHHH .. GOO JUN PYOOOOOOOOOO!!!!"

--------------------------------------

Setelah peristiwa diatas, hubungan Junpyo dan Jandi mulai berubah. Mereka lebih saling menghargai. Apapun akan dirundingkan terlebih dahulu. Dan jika ada masalah, mereka juga akan menyelesaikannya bersama.

Jandi memulai kuliahnya di universitas Shin Hwa, dua hari kemudian. Dia sangat bahagia bisa mendapatkan kebebasannya lagi. Walaupun setelah kuliah dia harus segera pulang ke rumah, sesuai perjanjiannya dengan Junpyo, dia tetap menikmati hari-hari menyenangkan pemberian Junpyo itu. Setelah pulang kuliah, dia akan mendapatkan Junpyo sudah menunggunya di rumah. Bahkan Junpyo juga sering menjemputnya di universitas Shin Hwa, memberi kejutan terus-menerus, tidak ada habisnya.

Junpyo menjadi betah di rumah setelah kedekatannya dengan Jandi. Dia! yang biasanya sering keluar sampai larut malam bahkan pulang pagi, sepulang dari kantor lebih memilih menghabiskan waktu di rumah bersama Jandi. Menonton DVD, main masak-masakan ataupun hanya bersendagurau sudah sangat membahagiakannya.

-----------------------------

Dua minggu kemudian, di suatu malam yang sangat indah. Rembulan bersinar penuh dari balik jendela. Sinarnya yang lembut menerobos masuk ke kamar Junpyo. Bintang-bintang juga bersinar terang, tidak tertutup awan. Pemandangan luar biasa yang jarang terlihat dari tempat itu.

Jandi baru membersihkan dirinya ketika Junpyo memasuki kamar. Penampilannya malam itu sangat luar biasa. Kemeja putih ketat membalut bagian atas tubuhnya. Otot-otot lengan dan dada terlukis jelas dari balik kemeja transparan itu. Dipadu jeans hitam ketat dan ikat pinggang perak berkilat melilit di pinggang membuat Junpyo kelihatan sangat mempesona. Apalagi .. sinar lembut rembulan dari luar jendela tepat menimpa sekujur postur tubuhnya yang sempurna.



Jandi mengigit bibir perlahan. Wajahnya mulai memerah. Dia agak gugup ketika Junpyo mendekatinya. Otot-otot di sekujur tubuh Junpyo makin terlihat jelas ketika dia bergerak. Jandi menelan ludah perlahan.

"Jandya, ganti bajumu! .. Kita akan keluar malam ini ... "

"Mho? ... Kemana?", tanya Jandi gugup.

Junpyo tersenyum. Dia tidak segera menjawab. Dia berjalan ke lemari baju dekat jendela. Membuka pintunya dan mengubek-ubek sebentar baju-baju dan gaun-gaun yang tergantung di sana. Kemudian dia mengeluarkan sebuah gaun pendek berwarna kuning terang. Menyodorkannya ke Jandi.
"Pakai ini!!"

"Mengapa harus memakai gaun?", kening Jandi berkenyit.

"Kita akan keluar .. ", Junpyo mengulangi jawabannya.

"Kemana?"

"Woobin menghubungiku tadi siang, katanya ada masalah penting yang mesti dibicarakannya .. dia juga mengundang, Yijeong dan istrinya, Jihoo dan juga Jaekyung ..."

"Jaekyung?", potong Jandi.

Junpyo tersenyum perlahan, "Iya, Jaekyung! .. kenapa? .. Kamu cemburu, Jandya?"

"Cihhhh .. mengapa saya harus cemburu?", Jandi segera mencibirkan bibirnya. Dia sangat grogi ketahuan Junpyo kalau dia merasa terganggu ketika mendengar nama Jaekyung.



"Ha .. ha .. ha .. Baiklah, kamu memang tidak perlu cemburu pada Jaekyung .. Saya sudah mengatakannya padamu kalau kamu segalanya bagiku, Jandya .. "

Jandi berdeham pelan, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ehmmmm ...... Lalu mengapa kamu mengajakku, Junpyo-a? .. biasanya kamu pergi sendiri kan? .. Kamu tidak pernah memintaku bergabung dengan kelompokmu itu .. Lalu mengapa sekarang .. kamu ... ", Jandi menghentikan perkataannya.

"Karena saya ingin kamu memasuki duniaku!! .. Saya ingin kamu mengenal semua temanku, tempat yang biasa kudatangi dan apa sebenarnya yang kulakukan di situ! ... Dan .. terutama .. saya ingin mengenalkanmu pada Jaekyung .. ". Junpyo memandangi Jandi lekat-lekat. Sinar matanya sangat dalam.

Jandi membalas pandangan Junpyo. Perhatiannya tidak bisa dialihkan dari mata Junpyo. Perlahan Junpyo mendekatinya. Melingkarkan tangan di pinggangnya dan menariknya lebih dekat ke pelukan. Jarak mereka hanya beberapa inci sekarang. Jandi bisa mencium aroma laut segar merebak keluar dari parfum yang dipakai Junpyo. Hatinya langsung berdegup kencang. Perasaan ini selalu dirasakannya jika berada dekat Junpyo.

Junpyo menundukan wajahnya. Perlahan dan perlahan, mendekat ke wajah Jandi. Mata Jandi terpejam ketika merasakan sesuatu yang hangat dan padat menyentuh bibirnya. Nafas Jandi langsung memburu. Bibir Junpyo bergerak dan mulai melumat bibirnya. Tubuh Jandi menegang. Tapi itu hanya sesaat. Beberapa detik kemudian, Jandi mulai membalas lumatan bibir Junpyo.



Desahan dan erangan lembut terdengar dari mulut mereka. Ciuman, lumatan dan jilatan semakin memanas. Junpyo mulai menurunkan ciumannya. Dan tangannya juga mulai bergerak, membuka kancing baju Jandi. Sebuah, dua buah, tiga buah ... kancing-kancing itu mulai terbuka satu persatu. Sampai kancing keempat, mereka berdua terhentak dari ketidaksadarannya oleh deringan nyaring ponsel dari saku celana Junpyo.

Dengan gugup Junpyo merogoh ponsel dari saku celana. Jandi segera melepaskan diri dari dekapan Junpyo. Monitor ponsel memperlihatkan nama Woobin. Junpyo mengangkat wajah dari ponsel ke Jandi.
"Woobin ...", katanya pelan.

Jandi mengangguk, kemudian mundur ke belakang. Sebelum Junpyo menjawab telepon Woobin, dia berkata ke Jandi, "Jandya .. pakai gaun ini!!". Junpyo meraih gaun yang tadi ditaruhnya di sofa dan memberikannya ke Jandi.

Kemudian dia menekan tombol penerima ponsel, menjawab telepon dari Woobin.
"O Woobin a?"

----------------------------------

Junpyo dan Jandi sampai di bar yang biasa didatangi F4 sekitar setengah jam kemudian. F3, Gaeul dan Jaekyung sudah berada dalam ruangan yang dipesan khusus atas nama Woobin. Semua yang berada dalam ruangan itu langsung menoleh kearah Junpyo dan Jandi, begitu mereka memasuki ruangan yang rada redup itu.

"YO YO YO APA YANG TERJADI PADA GOO JUN PYO? .. GEUM JAN DI? ... SEBUAH KEJUTAN MELIHATMU DISINI!!!!", teriak Woobin. Senyum mengoda tersungging di bibirnya.

Junpyo mendelik kearah Woobin. Sedangkan Jandi, dia ikut tersenyum mendengar perkataan Woobin.

"Junpyo-a, bawa Jandi kemari ... duduklah!!". Yijeong bergeser dari duduknya, menyerempet ke Gaeul, memberi tempat pada Junpyo dan Jandi duduk di sebelah Jaekyung dan Jihoo.

Junpyo mengangguk. Dia mengandeng tangan Jandi dan mengajaknya berjalan ke tempat yang disediakan Yijeong. Mereka duduk di situ, dengan posisi Junpyo disebelah Yijeong dan Jandi di sebelah Jaekyung. Sedangkan Jihoo, berdiri dari tempatnya. Dan memisahkan diri ke sudut ruangan. Dia tidak mengeluarkan suara sejak kehadirannya di situ. Dan tidak seorangpun menyadari hal itu.

"Junpyo-a .. apakah ini istrimu?", Jaekyung berusaha menangkap sinar mata Junpyo dari posisi Jandi yang menghalangi pandangannya.

Junpyo mengangguk, "Benar! .. Jandya, ini Jaekyung! .. dan Jaekyung, ini Jandi ... "

Kedua gadis itu saling menganggukan kepalanya sambil tersenyum manis. Dalam hati, Jaekyung mengagumi Jandi yang mampu melunakan hati Junpyo. Sedangkan Jandi, juga mengagumi kecantikan dan kebesaran hati Jaekyung. Gadis itu tidak terlihat kecewa melihat kemunculannya bersama Junpyo di situ.

"Senang bertemu denganmu Jandya .."

"Saya juga ... "



Mereka bergandeng tangan sambil tersenyum lebar. Dalam hitungan detik sudah terjalin keakraban di antara kedua gadis itu. Sementara itu, Woobin yang sedari tadi berdiri dekat pintu berjalan kearah mereka, dan menjatuhkan dirinya di samping Jaekyung.

Junpyo memperhatikan Jandi dan Jaekyung yang terlibat perbincangan seru. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Ternyata tidak salah dia membawa Jandi ke sini. Yijeong melirik sekilas arah pandangan Junpyo. Dia ikut tersenyum. Kemudian dia menyenggol lengan Junpyo, dan berbicara padanya dengan nada halus, "Junpyo-a .. sudah sampai di mana hubunganmu dengan Jandi .. "

Jandi segera menoleh ke Yijeong. Dahinya berkenyit, "Maksudmu?"

"Saya yakin kamu mengetahui maksudku, Junpyo-a ... Saya sudah menanyakan ini padamu sebelumnya .. "

Junpyo membalas pandangan Yijeong tanpa mampu menjawab pertanyaannya.

"Belum memulainya?", tanya Yijeong lagi.

Junpyo masih tidak menjawab. Yijeong menghembuskan nafas perlahan, kemudian tersenyum simpul.
"Kalau begitu .. kali ini kamu kalah padaku Junpyo-a! ... Saya sudah akan menjadi seorang ayah .. "

"MHOOOOOOOOO!!!!!!!!!!!!!", Junpyo berteriak keras. Semua yang berada di ruangan itu langsung mengalihkan perhatian kearahnya. "KAMU AKAN MENJADI AYAH .. BERARTI .. BERARTI ISTRIMU SEDANG HAMIL?". Sepasang mata Junpyo berkejap-kejap. Dia tidak mempercayai pendengarannya sendiri.



Yijeong tertawa keras. Kepalanya mengangguk berkali-kali. Sedangkan Gaeul langsung tertunduk malu.

"Wahhh hebat Yijeong-a !!". Woobin mengacungkan jempol ke Yijeong.

"Chukae .. ", kata Jandi dan Jaekyung bersamaan.

Sedangkan Junpyo masih terpaku di tempatnya. Yijeong mengalahkannya? Bagaimana mungkin?

"Heiii .. Junpyo-a, apakah kamu baik-baik saja? .. Wajahmu sedikit pucat?", Yijeong menepuk lengan Junpyo.

"Ohh gwencana .. "

"Chukae Yijeong-a ..". Untuk pertama kalinya sejak memasuki bar itu, Jihoo mengeluarkan suara. Yijeong mengangguk dan mengangkat tangan ke Jihoo.

"Lalu Woobin-a ... bagaimana acara makan malam yang diatur orangtuamu?", tanya Jihoo.

Woobin mengangkat bahu. Kemudian mengeleng cepat.
"Buruk! .. Sangat buruk! .. kalian tidak akan percaya seperti apa gadis itu ... Dia mengajakku menginap di hotel hanya dalam perjumpaan pertama ...", katanya jijik.

"Ha .. ha .. ha .. bukankah tipe seperti itu yang kamu sukai Woobin-a?", goda Junpyo. Ketawanya membahana di ruangan itu sehingga menyebalkan Woobin.

"TIDAKKKKKKKKK!!! Untuk dijadikan seorang istri, saya tidak menyukai tipe itu!!"

Melihat kekesalan Woobin, Jandi langsung menyenggol lengan Junpyo, untuk menghentikan ketawanya.

"Miane ..", kata Junpyo, dia berusaha keras meredam kegeliannya. Kemudian dia berpaling ke Jaekyung, "Lalu bagaimana denganmu, Jaekyung-a? ... Kalau tidak salah kamu pernah bilang kalau minggu lalu kamu juga ada acara seperti itu ... "

Tampang Jaekyung meredup. Pertanyaan itu mengingatkan kembali ke peristiwa yang terjadi seminggu yang lalu. Pemuda kekanakan yang selalu menempel di sampingnya. Menanyakan segala hal padanya. Pemuda yang kadar cerewetnya melebihi seorang ahjumma. Huhhhh ....
"Jangan membicarakan masalah itu lagi!!!"

"Kenapa? .. Sepertinya calon kalian berdua terlalu istimewa ya?", tanya Junpyo sambil tersenyum lebar.

Woobin dan Jaekyung langsung mendelikan matanya ke Junpyo,
"STOPPPPPPP!!!", teriak mereka hampir bersamaan.

"Mengapa harus berhenti? .. Setelah kegagalan pertemuan pertama, saya yakin orangtua kalian akan mengadakan perjanjian kedua, ketiga, keempat dan seterusnya ... Kalian tetap tidak bisa menghindari takdir ini ... "

Woobin mendengar seksama perkataan Junpyo. Beberapa detik kemudian dia tersenyum perlahan.
"Kamu jangan khawatir .. Appa dan omma tidak akan melakukan itu lagi, begitu juga dengan orangtua Jaekyung ... "

"Mengapa?", tanya Yijeong penasaran.

"Karena .. kami berdua mengaku ke orangtua masing-masing kalau kami sudah berpacaran!!"

Semua yang berada di ruangan itu langsung terbelalak lebar.
"APAAAAAA??? ... BAGAIMANA MUNGKIN KALIAN MELAKUKAN INI?"

"Mengapa tidak?", Woobin balik bertanya. Senyum mengejek tersungging di wajahnya, "Dengan berkata begitu kami bisa terlepas dari desakan mereka .. Lagipula kami tidak berbohong!! ... Kami sedang mencoba hubungan ini .. Kami sudah memulainya beberapa hari yang lalu dan tidak ada masalah sama sekali dari hubungan ini ... "

Semuanya terbengong-bengong mendengar penjelasan Woobin. Jihoo berdiri dari tempat duduk di pojok ruangan, dan berjalan ke dekat Woobin. Ditepuknya pundak Woobin dengan pandangan iri.
"Yaaaaa kamu!!! .. Mendapat cara sebagus ini kenapa tidak memberitahuku?", kemudian dia menoleh ke Jaekyung, "Jaekyung-a .... bagaimana kalau kamu berkencan denganku saja?"

"APAAAAAAAAAA??". Woobin langsung terlonjak dari sofa. Matanya melotot ke Jihoo.
"Hentikan bercandamu, Yoon Ji Hoooo!! .. Ini ide dariku, dan saya yang mengutarakannya terlebih dahulu ke Jaekyung! .. Ada apa sebenarnya denganmu? .. Sejak tadi sikapmu sangat aneh?"

"Iya Jihoo-a .. Kamu tidak boleh begitu!!", Junpyo mengeluarkan suaranya. Yijeong dan Gauel mengangguk, ikut mengiyakan perkataan Junpyo.

Semua terlihat tegang. Kemudian suara ketawa dari Jaekyung segera mencairkan keadaan itu.
"Ha .. ha .. kalian jangan khawatir .. saya tidak tertarik pada Jihoo ..". Mengandeng tangan Woobin sambil tersenyum lebar, "Saya sudah merasa cocok dengan Woobin .. "

Woobin ikut tersenyum dan agak mendongakkan kepalanya. Bangga dengan perkataan Jaekyung.
"You see? ... Jaekyung sudah menolakmu, Jihoo-a .. jadi pikirkan cara lain, tapi .. sebenarnya mengapa kamu harus berbuat seperti kami? Apakah orangtuanya juga sudah mulai mengambil tindakan, berusaha menjodohkanmu dengan gadis pilihan mereka?"

Jihoo menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya kuat-kuat. Wajahnya terlihat keruh. Pikirannya sangat kusut. Dia mempertimbangkan sebentar apakah perlu menceritakan peristiwa yang terjadi padanya atau tidak. Semua yang berada dalam ruangan itu mengamatinya dengan seksama. Sekali lagi Jihoo menghembuskan nafasnya, kemudian berkata, "Eomma telah membuat janji pertemuan dengan sepupu jauh dari Roma ..."

Semua saling melirik. Melempar pandangan satu sama lain.

"Sepupu jauh? .. Sejak kapan kamu mempunyai sepupu yang tinggal di Roma?", tanya Woobin penasaran. Pertanyaan itu mewakili pertanyaan-pertanyaan dari otak mereka.

Jihoo mendengus kesal. "Saya saja baru bertemu sekali dengannya dan itupun sudah terjadi tujuh belas tahun yang lalu!"

"Tujuh belas tahun?", Yijeong melonggo. Begitu juga yang lain. "Waktu itu kamu baru berusia delapan tahun kan? .. Lalu .. bagaimana kamu bisa mengenali wajahnya?"

Jihoo tertawa keras. Bukan karena bahagia. Lebih terlihat tertekan dan histeris.
"Ha .. ha .. ha .. Mengenali wajahnya, katamu? ... Saya bersumpah .. SEUMUR HIDUP SAYA TIDAK AKAN MELUPAKAN WAJAH ITU!!! ... bayi berumur dua tahun dengan mata hijau menyala yang sangat besar dan rambut ikal coklat terang dengan kulit pucat mengerikan!! .. Ohhh my god, waktu itu saya benar-benar mengira telah melihat hantu!! .. Selama beberapa hari saya tidak bisa tidur nyenyak, wajah itu selalu kebawa mimpi!!"



Wajah Jihoo berubah perlahan. Mulai memucat dan kengerian tergambar jelas dari wajahnya. Melihat keadaan Jihoo, .. Yijeong, Woobin dan Junpyo malah terbahak-bahak. Sedangkan para gadis tersenyum-senyum sendiri di tempatnya.

"Ha .. ha .. ha ... Jihoo-a .. ha .. ha .. ternyata .. ternyata .. ha.. kamu .. ha .. ha .. takut pada .. pada bule ya?", Yijeong tertawa keras.

Ekspresi wajah Jihoo berubah lagi. Dari ngeri menjadi kesal setengah mati.
"JANGAN TERTAWA!!!! .. Saya sudah kesal dengan keputusan omma dan appa dan sekarang .. kalian selaku sahabat baikku malah mengejekku HUHHHHH!!!! .. Dan .. dia bukan bule asli .. hanya bule gadungan karena ommanya orang Korea asli, dia sepupu jauh dari omma ...."

Dengan susah payah Yijeong, Woobin dan Junpyo berusaha menghentikan ketawanya. Mereka menutup mulut rapat-rapat supaya suara ketawanya tidak keluar. Jihoo sudah memasang tampang dingin seperti biasa.
"KALIAN HARUS MEMBANTUKU!!!", katanya tegas dan sedikit memaksa.

"Mbo? .. Bagaimana caranya?", tanya Woobin.

"Minggu depan, kalian harus tiba di restoran @Dellicious lebih awal dari kami dan kalian harus berpura-pura tidak sengaja bertemu dengan kami di sana .. dengan begitu kita bisa makan bersama .. sehingga saya tidak perlu menghadapi keluarga itu sendirian .. araso!!"

"Heiiii .. kamu memerintahku? .. NOOO!!! tidak bisa!!!!!!!!!!!!! .. mengapa saya harus mengikuti ide gila itu?!!!". Junpyo memprotes keras.

Jihoo memandanginya. Wajahnya berkerut. Dia masih berkeras dengan rencananya itu.
"KALIAN HARUS MENGIKUTI CARA YANG KUANJURKAN INI!!! .. HARUS!!! ... Junpyo-a, kamu juga harus ikut di dalamnya karena kamu tadi telah menertawakanku!!"

Mata Junpyo melebar. Dia tidak percaya Jihoo ganti memerintahnya sekarang. Mulutnya terbuka, sudah siap menyemburkan kata-kata penolakan ketika Jandi menyentuh tangannya dan mengeleng perlahan.

Jandi menghadapi Jihoo. Tersenyum dan mengangguk pelan.
"Jihoo-a .. kamu jangan khawatir, saya dan Junpyo bersedia menolongmu!"

"Yaaa Geum Jan Di .. !!", Junpyo memprotes. Tapi perkataannya hanya tertahan di situ. Karena Jandi mendelik kearahnya, dia langsung terbungkam rapat-rapat.

Woobin dan Yijeong berdiri dari duduknya. Mereka menepuk pelan lengan Jihoo.
"Kami selalu mendukungmu, my brother ..."

Jihoo langsung tersenyum lebar. Dia sangat habagia melihat perhatian besar yang diberikan kedua sahabatnya itu. Gaeul dan Jaekyung bertepuktangan dari tempat duduknya. Jihoo melirik Junpyo. Pemuda itu masih terlihat kesal. Begitu mendapati pandangan Jihoo yang tertuju padanya, Junpyo terpaksa mengangguk pelan.
"Saya akan membantumu tapi dengan syarat ... KAMU!! JANGAN MEMERINTAHKU LAGI, ARASO?!"

Jihoo tersenyum lebar mendengar syarat kekanak-kanakan yang diajukan Junpyo. Dia mengangguk perlahan.
"Araso ...", jawabnya. Kemudian dia beralih ke Jandi, "Heiiii Jandya! .. bagaimana kamu bisa bertahan dengan bocah gede ini?"

Sebentar saja, ruangan itu menjadi berisik oleh suara ketawa yang meledak berbarengan.

"YAAAAAAAAA YOON JI HOOOOOOOOOOO!!!!!"

--------------------------

Junpyo dan Jandi tiba di rumah tepat pukul 2 dini hari. Semua penghuni rumah sudah terlelap dalam tidurnya waktu itu. Kecuali tiga orang penjaga rumah yang masih setia dalam tugasnya. Melihat lewat layar monitor pemantau, mercedes perak yang dikendarai Junpyo berhenti di gerbang depan, salah seorang dari mereka segera menekan tombol pembuka pintu gerbang otomatis dari perunggu asli itu.

Junpyo menginjak pedal gas dan mercedes perak itu bergerak perlahan, melewati pintu gerbang yang terbuka. Dalam hitungan detik, pintu gerbang menutup secara otomatis. Setelah memarkir mobilnya di pelataran depan, Junpyo keluar dari mobilnya. Dia membukakan pintu buat Jandi dan mengandeng tangannya, memasuki rumah bersama.

Keadaan dalam rumah sangat sepi. Tapi penerangan yang didapat dari seluruh ruangan lebih dari cukup. Lampu-lampu masih menyala terang. Para pelayan memang tidak berani memadamkan lampu jika tuan mudanya belum kembali.

Junpyo dan Jandi memasuki kamar tidur di lantai atas. Setelah sepanjang hari sibuk dengan kegiatan masing-masing, ditambah pesta kecil yang baru saja mereka hadiri bersama F3, Gaeul dan Jaekyung, juga cukup banyaknya kadar alkohol yang memasuki tubuh mereka, membuat Junpyo dan Jandi ingin segera beristirahat dengan tenang.

"Cepatlah tidur, Jandya! .. Kamu pasti sangat capek setelah kesibukan seharian ini ..."

"Saya ingin mandi dulu ..", Jandi bergegas mengambil piyama dari lemari dan berlari ke kamar mandi.

"Bukankah kamu sudah mandi sebelum berangkat tadi??!!", teriak Junpyo dari tempatnya.

"BADANKU LENGKET SEMUA!!!!", Jandi balas berteriak dari kamar mandi.

"O ..", Junpyo membuka mulutnya, membentuk huruf O. Dia mengangguk perlahan.

Sebentar kemudian terdengar bunyi air disiramkan dari kamar mandi. Jandi menghabiskan dua puluh menit menguyur tubuhnya yang lelah dengan air hangat. Badannya terasa segar ketika dia keluar dari ruangan kecil itu.

Junpyo sedang duduk di ranjang dengan sebuah majalah tergenggam di tangannya. Begitu mendengar bunyi pintu dibuka, dia mengalihkan pandangannya dari malajah kearah suara itu. Pandangannya langsung tertuju ke Jandi yang sedang berjalan kearahnya.

Junpyo mengangga. Penampilan Jandi saat itu sangat luar biasa. Langsung membangkitkan gairahnya sebagai seorang laki-laki normal. Jandi dengan piyama agak kebesaran yang biasa dipakainya, wajah putih kemerahan yang sangat alami, dan rambut basah yang masih meneteskan air dari setiap helai rambut yang menempel ketat di sekitar wajah dan lehernya. Nafas Junpyo sedikit memburu ketika Jandi sudah berada di sampingnya.

"Kamu tidak mandi?", tanya Jandi, membuyarkan lamunan Junpyo.

"Saya .. saya sudah mandi, memakai .. kamar mandi .. bawah ...", jawab Junpyo gugup.

Jandi mengangguk sambil tersenyum halus.

"Ohhh my goddddddddd!!!". Junpyo mengetok kepalanya sendiri. "Hentikan senyuman itu Jandya!! ... Jika tidak .... saya .. saya akan menyentuhmu!! saya bersumpah akan melakukannya!!  .. jadi jangan tersenyum lagi padaku!!"

"Ada apa Junpyo-a? .. Apakah kamu sakit? .. Wajahmu terlihat pucat ..". Dengan cepat Jandi menempelkan tangannya ke jidat Junpyo. Tampangnya berkerut. Dia sangat khawatir.

"TIDAKKKKKKKKK!!!! Jangan menyentuhku!!!". Junpyo berteriak lagi dalam hati. Hatinya berdegup kencang. Sepasang matanya terpejam perlahan.

"Junpyo-a ...", Jandi menguncang tubuh Junpyo sehingga menyadarkannya sekali lagi dari lamunan.

"Saya baik-baik saja!". Junpyo berusaha menahan dirinya.




Matanya terbuka dan mendapati sorot mata kekhawatiran Jandi.
"Benar .. gwencana?"

Junpyo mengangguk. Dia berusaha keras memikirkan cara untuk mengalihkan pembicaraan ke hal lain.
"Yijeong akan menjadi seorang ayah ... lucu ya?"

Jandi mengangga. Tidak menyangka akan mendapat pertanyaan menyimpang jauh itu. Tapi begitu memikirkan seorang playboy Yijeong akan menjadi ayah membuat Jandi tersenyum lebar. Dia menganggukan kepalanya.

Dan .. usaha keras Junpyo untuk membalikkan situasi tidak mengenakan itu tidak berhasil setelah sebuah pertanyaan nakal tiba-tiba melintas dalam pikirannya.
"Menurut kamu kalau kita mempunyai anak akan mirip siapa, Jandya?"

Jandi sangat terkejut. Pandangan tajam, lekat dan mengetarkan dari Junpyo membuatnya gugup. Pipinya langsung memerah. Hatinya berdegup kencang. Pertanyaan apa ini?
"Saya .. saya harus tidur sekarang ..."

Jandi segera membaringkan tubuhnya ke ranjang. Menutup tubuh rapat-rapat dengan selimut tebal. Bahkan wajahnya hampir tenggelam setengahnya dalam selimut.

"Jandya ..", panggil Junpyo halus.

Jandi tidak menjawab. Matanya terpejam rapat. Tangannya menutup telinga. Junpyo mendesah perlahan. Apa yang dilakukan Jandi sangat jelas. Dia tidak ingin mendengar perkataannya.

Jandi berada dalam posisi itu selama sepuluh menit. Keadaan dalam ruangan itu sangat sunyi. Tidak ada suara yang terdengar. Jandi tidak berani bergerak dari tempatnya. Saat ini dia sangat takut pada Junpyo. Sampai akhirnya dia mendengar bunyi pintu dibuka dan ditutup pelan dalam ruangan itu.

Mata Jandi terbuka. Apakah suara yang didengarnya tadi bukan mimpi akibat kesunyian dari kamar ini? Dia berbalik sembilan puluh derajat dalam tidurnya dan .. langsung tersentak bangun. Junpyo sudah tidak berada di sampingnya lagi. Jandi melempar pandangan ke seluruh sudut ruangan. Tidak ada seorangpun di situ. Kosong sama sekali. Jandi menghembuskan nafas perlahan. Matanya meredup. Kemudian dia membaringkan tubuhnya lagi. menyelimuti diri dengan selimut tadi. Kemana perginya Junpyo?


--------------------------------


Setelah keluar dari kamar, Junpyo menuju kolam renang tertutup di belakang rumah. Dia bermaksud menjernihkan pikirannya dengan berenang sebentar. Setelah menganti pakaiannya dengan celana renang, Junpyo berendam di pinggir kolam renang.




Berbagai pikiran memasuki otaknya. Semuanya tentang Jandi. 'Ohhh sungguh sial .. mengapa selalu Geum Jan Di yang memenuhi pikiranku!!!. Junpyo memukulkan tinjunya ke air kolam yang agak kelam karena hanya diterangi beberapa lentera dan bintang-bintang dari atas atap kaca transparan. Tangannya memerah dan terasa nyeri.

Junpyo menghembuskan nafas kuat-kuat dan mulai berenang ke seberang kolam. Dia hanya akan berenang satu putaran. Dia tidak mungkin melakukan lebih dari itu. Kadar alkohol cukup tinggi dalam tubuhnya sehingga bisa membayakan dirinya sendiri kalau dia berbuat nekat begitu.



Selesai berenang, Junpyo berendam di pinggir kolam lagi. Sekarang, pikirannya sudah agak jernih.

 --------------------------------

Jandi semakin gelisah dalam pembaringannya. Dia melirik jam kecil dekat ranjang. Sudah lebih dari satu jam Junpyo belum kembali ke kamar. Apakah sesuatu terjadi padanya? Tiba-tiba Jandi teringat wajah pucat Junpyo. Apakah dia benar-benar sakit?

Memikirkan kemungkinan itu, Jandi turun dari pembaringan. Membuka pintu kamar dan berlari keluar. Dia mengeledah setiap sudut ruang atas. Tapi tidak menemukan Junpyo. Kemudian Jandi berlari menuruni tangga menuju lantai bawah. Sekali lagi dia mengeledah seluruh ruangan yang ada di situ. Tapi dia tetap tidak menemukannya.

Dengan pikiran menerawang karena kehilangan akal tentang kemana perginya Junpyo, langkah Jandi terbawa ke belakang rumah, dimana kolam renang berada.

-------------------------------------

Junpyo keluar dari kolam renang setelah merasa kulitnya sudah mengkerut akibat berendam terlalu lama. Dia mengambil handuk dari bangku dekat kolam renang dan mulai mengeringkan tubuh dan rambutnya. Ketika dia berbalik karena bermaksud kembali ke dalam rumah, dilihatnya Jandi berjalan kearahnya dengan pandangan menerawang. Dia sepertinya tidak sadar dengan keadaan sekitar. Bahkan dia tidak melihatnya di situ.

"Jandya .. apa yang kamu lakukan di sini?"

Suara Junpyo menyadarkan Jandi dari lamunannya. Dia mengangkat wajahnya yang sedikit tertunduk. Dia kelihatan terkejut. Dengan cepat Jandi berlari kearah Junpyo.
"Junpyo-a!! .. ternyata kamu ada di sini ... Saya mencarimu sejak tadi, kamu baik-baik saja kan?". Ada perasaan lega tergambar jelas dalam pandangannya.

"Saya baik-baik saja! .. Memangnya apa yang akan terjadi padaku?"

"Oh tidak .. tadi wajahmu agak pucat .. saya mengira kamu sedang sakit!"

"Tidak,  .. saya baik-baik saja ..", Junpyo menguatkan jawabannya sekali lagi.

Jandi mengangguk, kemudian berkata halus, "kalau ... kalau begitu saya .. saya akan kembali tidur .. "

Jandi berbalik dan bermaksud pergi dari situ. Tapi tarikan dari tangan Junpyo menghentikan langkahnya.

"Jandyaaa .. jangan pergi!! .. saya mohon .. jangan pergi!! .. temani saya ... malam ini ...", kata Junpyo pelan, dengan nada dalam mengetarkan hati dan sinar mata redup yang menghanyutkan .


----------------------------------

cre all pics as labeled, baidu
bersambung ke chp5/ending ...

gara2 diejek Yijeong, Junpyo jadi pingin punya anak, dia tidak terima dikalahkan Yijeong, jp pecicilan banget deh hehehe ... ayo jp bikin anak, bikin anak, bikin anak!!! .. tp kalau adegannya dipotong pas sedang on ya kapan bakal jadi tuh anak?


EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
Re: ♥ Minsun's OR Jundi's Short FanFiction ♥
« Reply #261 on: March 05, 2010, 07:23:50 am »
first clingak-clinguk  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

lom baca seh mi komentnya nyusul ye mo baca dulu abis benerin daftar koreksian u di tret tetangga  [laughing] [laughing] [laughing]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: ♥ Minsun's OR Jundi's Short FanFiction ♥
« Reply #262 on: March 05, 2010, 07:25:40 am »
ya ga apa2 deh, jd bener ya tuh salah ketik di rumah tetangga [hmpfh] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Re: ♥ Minsun's OR Jundi's Short FanFiction ♥
« Reply #263 on: March 05, 2010, 08:15:12 am »
horeeeeeeeeeeeee udah diupdate [clap] [clap] [clap] thanks mami [cheekkiss]

 [on] [on] [on] [on] [on]
Mendadak dia mengunci wajah Jandi dengan tangannya dan mendaratkan ciuman yang teramat panas di bibir Jandi. Disedotnya bibir mungil itu sepenuh hati. Keras dan agak menyakitkan, sehingga menyebabkan Jandi berteriak keras.

 [AddEmoticons04253] [AddEmoticons04253] [AddEmoticons04253]

Desahan dan erangan lembut terdengar dari mulut mereka. Ciuman, lumatan dan jilatan semakin memanas. Junpyo mulai menurunkan ciumannya. Dan tangannya juga mulai bergerak, membuka kancing baju Jandi. Sebuah, dua buah, tiga buah ... kancing-kancing itu mulai terbuka satu persatu. Sampai kancing keempat, mereka berdua terhentak dari ketidaksadarannya oleh deringan nyaring ponsel dari saku celana Junpyo.

yah kok ga jd siy banghead banghead banghead padahal udah pengen [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing] mami tar ending nye bikin yg muantebbbbb yak daku menantikan saat2x itu [AddEmoticons04253] [AddEmoticons04253] [AddEmoticons04253] [AddEmoticons04253] [AddEmoticons04253] [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing]



ADAM COUPLE SELCA

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
Re: ♥ Minsun's OR Jundi's Short FanFiction ♥
« Reply #264 on: March 05, 2010, 08:21:01 am »
tul mi ngelamun daku abisnya yg ada diotak cuman ji sung doank  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

comment  [hmpfh]

buat [head break] [head break] [head break] ganggu orang lagi indehoy aja neh  [hammer] [hammer] [hammer]  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

untuk yang ini mi

Menonton DVD, main masak-masakan ataupun hanya bersendagurau sudah sangat membahagiakannya  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] no comment dah u know what i mean  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

lha mi kok dipotong pas ntu lagi seh trus kapan baby jundinya lahir dah kl gitu  banghead banghead banghead

okay mam ditunggu final chapternya trus nasibnya TDC ma bengkok2 gimane mi  [AddEmoticons04259] [AddEmoticons04224]


And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: ♥ Minsun's OR Jundi's Short FanFiction ♥
« Reply #265 on: March 05, 2010, 08:33:00 am »
menurut kalian tuh adegan terakhir bakal terjadi ga [hmpfh] [hmpfh]
keadaan udah mendukung nih,
jam 3 dini hari, tidak ada yg menganggu, hening, hanya suara riakan air dari kolam renang [hmpfh] kelam dgn hanya bermandikan cahaya lentera dan bintang2 di langit,  keadaan junpyo yang basah2 mempesona, jandi dgn piyama yg membangkitkan gairah, kadar alkohol yg diminum mreka wkt di bar, [hmff] .. ayo tebak, tebak [smiley-gen013] [smiley-gen013] ...
klu ada yg gangguin lg, kasian si jp kalah terus ama f3 [laughing] [laughing]

TDC lom dibuat, bengkok2 jg lom diketik, sampai disini, sekian dan terimakasih [bye]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
Re: ♥ Minsun's OR Jundi's Short FanFiction ♥
« Reply #266 on: March 05, 2010, 08:37:04 am »
ye mami emang sopo yg mo ganggu jam 3 pagi paling2 kl gak nenek kunti yo om pocy  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] tenang mi kl ada yg ganggu lagi aku udah siapin  [head break] [hammer] [fighting] [ranting] [guns] hammer2 gunsmilie pokoknya lengkap dah udah beli karcisnya mahal pisan  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] moso yah ndak jadi mam  [goodgrief]


trus kapan itu diketik kl u sibuk  [head break] orang  [laughing] [laughing] [laughing] hush..hush... sono kerja lagi yg TDC ma BENGKOK diketik barengan aja mi  [AddEmoticons04263]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Re: ♥ Minsun's OR Jundi's Short FanFiction ♥
« Reply #267 on: March 05, 2010, 08:40:53 am »
HARUS WAJIB KUDU TERJADI TITIK GA PAKE KOMA [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing]

mak nem mau liat LIVE ta  [nono] [nono] [nono] ga bole mak tar dirimu ngrusak suasana yg udah mendukung loh bisa2x tar gatot gara2x ngurusin penonton nya yg lagi pd [collapse] [collapse] [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing]

mi yg BENGKOK donk n TDC nya yak ga pake lama whistling whistling whistling


ADAM COUPLE SELCA

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
Re: ♥ Minsun's OR Jundi's Short FanFiction ♥
« Reply #268 on: March 05, 2010, 08:44:27 am »
ye mak nem neh kan diriku pengamat sejati kamasutra versi minsun  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] gimane seh mak neh  [head break] [head break] [head break] biar aje yg laen pada  [collapse] daku mah autis aja nonton terusss  [rofl] [rofl] [rofl]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: ♥ Minsun's OR Jundi's Short FanFiction ♥
« Reply #269 on: March 05, 2010, 08:48:36 am »
yaaa ini dua org ga waras lg deh [sweat] [sweat]
gw jg pingin mereka terjadi setelah berkali2 gagal [hmpfh] lagian perasaan mereka kan udah mantap. si jp udah cinta setengah mati lagi, ditambah body yg memukau jd pasti ga bisa nolak deh [laughing] [laughing] .. ok next chp endingnya [smiley-gen013] [smiley-gen013] terus lanjut lg ke cerita anak2 mereka [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun