Author Topic: ♥ Minsun's OR Jundi's Short FanFiction ♥ ~ (LITTLE KISS., 27.03.10)  (Read 60493 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
yeeee ini anak.. kurang ajar amat ama maminya [head break] [head break] [head break]
jgn menyesal ya klu mami ga update my everything and bengkok2 [nono] [nono] ngancam.com [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
 [AddEmoticons04228] [AddEmoticons04228] [AddEmoticons04228] [AddEmoticons04228] iyaa deh mak klo gtu aq bantu tuk  [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [fighting] [fighting] [fighting] [fighting] [hammer] [hammer] [hammer] [hammer] hammer2 hammer2 hammer2 mak nem Emoticons0428 Emoticons0428 Emoticons0428 [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
mak [what] [what] gw nih mami bukan mak [head break] ga suka panggilan emak [nono] , kyk panggilan buat org kampung aja [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
mak [what] [what] gw nih mami bukan mak [head break] ga suka panggilan emak [nono] , kyk panggilan buat org kampung aja [hmpfh]

 [rofl] [rofl] [rofl] [rofl] [rofl] napa bsa salah sebut yak niy aq mi?????  [AddEmoticons04228] [AddEmoticons04228] yaaa mamikuw cayang [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
ya udah deh gw maafin [hmpfh] gw kan mami yg baik [goodgrief]
oh ya bengkok2 tinggal 1 part lg selesai nih, tp masih hrs edit piku2nya jd ga bisa dipost malam ini [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
ya udah deh gw maafin [hmpfh] gw kan mami yg baik [goodgrief]
oh ya bengkok2 tinggal 1 part lg selesai nih, tp masih hrs edit piku2nya jd ga bisa dipost malam ini [hmpfh]

 [AddEmoticons04259] kalo my eperiting katanya dah bres kan ni mi [AddEmoticons04257] jd itu dulu apa yg skrng mi [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
update update update update update update update update update

 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

KABURRRRRRRRRRRRRRRRRR whistling whistling

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
GOOD punk punk GOOD punk punkGOOD punk punk,, LANJUTKAN HULLA-HULLA'Nyaaa yaa mak nem [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
kalau gitu gw post deh, a long long chapter [biggrin] and buat piku junpyo gendong bayi pakai kain tar gw edit lagi ya, soalnya ga di kompi ini, sure tuh piku ps'ed cute banget [laughing] [lovestruck]

and lht pengumuman gw di akhir cerita [biggrin]



Jandi membeku di tempatnya. Selama beberapa saat dia tidak bergerak. Matanya yang tidak berkedip, terarah lurus ke sepasang mata Junpyo yang bersinar redup dan teduh. Permintaan Junpyo berulangkali berputar di otaknya.

"Jandiya ...", panggil Junpyo pelan, sambil mengerakkan tangan yang masih mengenggam erat tangan Jandi.

Jandi tetap tidak bergeming. Perlahan .. Junpyo menarik tangannya sehingga posisi mereka berdekatan. Sepasang mata mereka masih saling menatap. Seperti terhipnotis, pandangan mereka tidak bisa dialihkan ke tempat lain. Junpyo mengangkat tangan kirinya dan menyentuh lembut pipi Jandi. Sedangkan tangan kanannya yang tadi mengenggam tangan Jandi sudah melingkar di pinggang ramping Jandi, yang terbungkus piyama longgar.

Mata Jandi terpejam perlahan. Sentuhan Junpyo membuat jantungnya berdegup kencang. Jarak mereka sangat dekat, sehingga dia dapat merasakan detak jantung Junpyo yang bergerak cepat dari telapak tangannya yang menempel di  depan dada Junpyo.

Kepala Junpyo bergerak, menunduk dengan gerakan pelan, semakin dekat, sampai akhirnya menyentuh wajah Jandi. Hidung mereka saling menempel. Jandi bisa merasakan hembusan nafas Junpyo, ... hangat, panas dan memabukkan. Bibir Jandi terbuka seiring desahan halus yang keluar dari rongga mulut dan hidungnya.

Junpyo mengecup lembut bibir mungil yang mengangga itu. Semula dengan ciman pendek. Hanya menyentuh pelan, kemudian melepaskannya lagi. Matanya memandangi wajah Jandi, menunggu reaksinya. Mata Jandi tetap terpejam dengan mulut yang masih terbuka. Dia tidak menolak ciuman dari Junpyo. Tidak juga memprotes. Junpyo mengerakkan tangannya, mengelus wajah Jandi lagi. Sepasang mata Jandi yang terpejam bergerak-gerak kecil ketika merasakan sentuhan tangan Junpyo.


Kemudian Junpyo menundukkan wajahnya lagi dan mencium bibir Jandi. Kali ini lebih agresif dan bergelora. Dilumatnya bibir Jandi sehingga membuat tubuh gadis itu menegang. Desahan semakin keras terdengar dari bibirnya. Jandi mulai membalas lumatan-lumatan dari bibir Junpyo ketika tubuhnya mulai memanas. Apalagi tubuh bagian atas Junpyo yang polos menempel ketat di tubuhnya. Desahan dan erangan terdengar semakin jelas.

Junpyo melepaskan lumatannya dari bibir Jandi dan mulai menyelusuri pipi, telinga dan leher Jandi dengan kecupan dan jilatan lidahnya yang panas.

"O .. Junpyo ..a ..", Jandi mendesahkan nama Junpyo di sela-sela desahan dan erangannya yang mendirikan bulu roma.

"Hmmm ..", balas Junpyo, masih dengan lumatan dan kecupan dari wajah dan lehar Jandi.

Keduanya hanyut dalam gairah yang semakin memuncak, sampai-sampai kehadiran seseorang juga tidak diketahui oleh mereka.

---------------------------


Jun Hyun keluar dari kamarnya dan berjalan ke dapur yang terletak di lorong belakang, bersebelahan dengan ruang dalam kolam renang, dengan maksud mengambil segelas air untuk melepas dahaga. Sambil berjalan dia mengeleng perlahan. Tidak biasanya dia merasa haus di jam segini, sekitar jam tiga dini hari.

Langkahnya terhenti ketika samar-samar pandangannya menangkap dua sosok yang sedang berpelukan dan berciuman dalam ruangan paling ujung yang berfungsi sebagai tempat renang. Pendengarannya juga menangkap desahan dan erangan halus yang keluar dari mulut mereka. Dahi Jun Hyun berkerut. Dia mendekati ruangan itu dan berusaha mempertajam penglihatannya.

Ruangan dalam kolam renang itu agak redup. Penerangan hanya didapat dari beberapa lentera yang memancarkan sinar buram kekuning-kuningan dan cahaya bintang dan bulan dari langit ruangan yang terbuat dari kaca. Kedua insan yang sedang kasmaran itu tidak menyadari kehadiran Jun Hyun di sana. Mereka tidak terpengaruh dan tetap sibuk dengan ciuman dan lumatan yang semakin memanas. Mereka berpelukan erat seakan takut terpisahkan.


Jun Hyun membungkukkan badan dan mengamati lewat jendela kayu yang terpahat bordiran. Kedua insan itu agak bergerak dari tempatnya. Cahaya lentera di atas kepala yang menimpa langsung ke wajah mereka membuat Jun Hyun bisa melihat lebih jelas wajah mereka.

Sesaat Jun Hyun membelalakan mata, terkejut dengan apa yang dilihatnya. 'Apakah dia tidak salah lihat? .. Benarkah itu mereka? .. Penglihatannya masih beres kan?' .. Antara percaya dan tidak, dengan penglihatan sendiri, tanpa sadar Jun Hyun tersenyum lebar. Tangannya bergerak, menarik tali pengendali tirai jendela sehingga tirai berwarna hijau itu menutup perlahan. Kemudian dia berjalan ke pintu masuk ruangan itu dan menutupnya. Sangat pelan sehingga tidak terdengar oleh kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu.

"Kamu tidak mengecewakanku, Junpyo-a ...Akhirnya kamu sadar kalau apa yang appa lakukan dan pilihkan untukmu adalah yang terbaik .. ", ucap Jun Hyun pelan, seperti berkata pada dirinya sendiri.

Dia berbalik ke dapur, menuang segelas air dan kembali ke kamarnya dengan senyum puas.

-------------------------


Jandi membuka matanya ketika merasakan pelukan Junpyo merengang dari tubuhnya. Dan wajah pemuda itu juga menjauh dari wajahnya. Sepasang mata redup Jandi memandangi Junpyo dengan pandangan bertanya.
"Weoo?"

Junpyo terdiam sebentar, sebelum akhirnya mengeluarkan suara dengan penuh tekanan, "Apakah kamu sudah siap, Jandiya? .. Saya ingin kamu menjadi milikku malam ini! .. hanya milikku seorang! .. tapi saya tidak ingin memaksamu .. jika .. jika .. kamu masih belum siap, .. saya bisa menunggu .. Sungguh, saya bisa menunggu! .. Sampai kapanpun saya akan menunggu! .. Demi kamu apapun akan saya lakukan .. "


Jandi tidak segera menjawab. Kepalanya menunduk perlahan.
Apa yang kamu pikirkan, Jandiya? .. Kamu masih ragu dengan perasaan sendiri? .. Kamu masih takut perasaan itu bukan perasaan cinta seperti yang kamu harapkan? .. Ohhh .. lalu mengapa kamu membalas ciumannya? Mengapa kamu mengharapkan sentuhannya? Mengapa juga kamu selalu runtuh dengan tatapannya? ... Apakah kamu mampu melihat pandangan penuh pengharapan darinya? Penharapan untuk menyentuhmu! .. Kasih sayang yang tulus itu! Bisa kamu lihat kan? Bisa kamu rasakan kan? .. Lalu untuk apa kamu masih memusingkan perasaan itu? .. Buang semua keraguan itu, Jandiya! Berilah dia kesempatan .. dan ... juga beri dirimu kesempatan! .. Kesempatan untuk mengenalnya! Kesempatan mendalaminya dan .. kesempatan untuk menjadi wanitanya .. wanita satu-satunya di dunia ...

BENAR!!! Persetan dengan perasaan yang akan datang, masa depan yang tidak jelas, yang penting adalah perasaannya detik ini. Junpyo menginginkannya dan .. tidak bisa dipungkiri dia juga merindukan sentuhan-sentuhan dan sensasi dari pemuda ini. Pemuda yang sudah menjadi suaminya sejak beberapa bulan yang lalu. Dia ingin menyentuh dada bidang itu, membalas lumatan-lumatan bibirnya yang panas, mendengar desahan-desahan memabukan dari mulutnya, .. yang jelas, menyatu dengan dirinya!


"Jandiya ..."

Jandi mengangkat wajah menghadapi Junpyo.
"I .. i .. ni .. pertama kali .. nya  .. ba .. gi .. ku .. ", jawabnya gugup.

Junpyo tersenyum, teduh. Dia bergerak, merapat ke tubuh Jandi. Mereka saling berhadapan. Junpyo mengangkat tangannya ke depan dan mulai membuka kancing piyama yang dikenakan Jandi.
"Saya akan berusaha sehalus mungkin ... Kita akan memulainya dengan ini .. ", kata Junpyo pelan, mirip desahan. Sangat halus dan mendayu di telinga Jandi.

Kancing piyama Jandi terbuka satu persatu. Dada penuh dan montok yang terbalut bra warna pink mulai menonjol keluar dari piyama yang terbuka itu. Junpyo mendesah ketika melihat dada indah seputih salju seperti menantang kejantanannya.
"Dadamu sangat indah, Jandiya .. "

Jandi mendesah perlahan. Junpyo melepaskan piyama Jandi dan membuangnya ke lantai. Dia mulai mengunci leher Jandi dan melumat bibirnya dengan nafsu meluap. Jandi membalas lumatannya. Lidah mereka bertemu, saling menyentuh dan bertaut dalam rongga mulut yang teramat panas. Desahan dan erangan terdengar semakin keras. Tangan kanan Junpyo turun perlahan, dari bagian leher, meraba lengan dan bagian atas dada Jandi, kemudian menyusup masuk ke dalam bra yang dipakai Jandi.

Jandi memekik tertahan ketika merasakan sensasi luar biasa dari permainan tangan Junpyo di balik bra yang dikenakannya. Setiap rabaan, remasan dan pintiran tangan Junpyo di pusat dada membuat pikirannya melayang. Dunianya terguncang hebat dan hanyut dalam kenikmatan.

Junpyo menurunkan jilatan lidahnya ke leher Jandi, menelusuri dagunya sampai ke daun telinga ..
"Apakah kamu menyukainya, sayang?", tanyanya diantara desah nafasnya yang memburu.

Jandi menjawab dengan desahan. Matanya masih terpejam rapat. Tangannya bergerak terus, mengelus  punggung polos Junpyo, dari atas ke bawah kemudian balik lagi, dari bawah ke atas, begitu seterusnya.

Junpyo meneruskan lumatan ganas di bibir Jandi, yang dibalas dengan ciuman tidak kalah hebatnya dari Jandi. Tangan Junpyo bergerak ke belakang dan melepas pengait bra yang dikenakan Jandi. Bra itu mengendor, dan Jandi bisa merasakannya. Dia tidak memprotes, malahan membantu Junpyo melepaskan bra pinknya dan menjatuhkannya ke lantai. Sekarang mereka sama-sama polos bagian atas.

Dengan satu gerakan, Junpyo mengangkat tubuh Jandi. Ciuman dan lumatan masih tidak terlepas dari bibir mereka. Junpyo berjalan ke kursi panjang yang terletak di pinggir kolam renang dan membaringkan Jandi di sana.

"Apakah tidak masalah kita melakukannya di sini?", tanya Junpyo pelan.

Jandi menatap Junpyo dengan pandangan nanar. Tangannya melingkar ke leher Junpyo dan menarik kearahnya. Dilumatnya bibir Junpyo dengan bernafsu.
"Dimanapun .. hmm .. tidak jadi masalah ..", jawab Jandi, suaranya tenggelam dalam bibir Junpyo yang melumatnya dengan bergairah.

Detik berikutnya, celana yang dipakai Jandi, dan handuk yang melingkari pinggang Junpyo berserakan di lantai. Suara rintihan terdengar ketika Jandi mendapatkan pengalaman pertamanya seumur hidup dalam hubungan suami istri dengan Junpyo. Tapi rintihan tertahan dari Jandi itu hanya sesaat, selanjutnya rintihan itu digantikan dengan desahan dan erangan penuh kenikmatan sampai diakhiri desisan panjang dan cukup keras ketika orgasme dicapai dalam waktu bersamaan.

-----------------------------


Jandi tersenyum bahagia dalam dekapan Junpyo. Jemarinya bermain di dada bidang pemuda itu, mengelusnya dari atas ke bawah dan berpindah dari bawah keatas, begitu seterusnya. Mereka masih terbaring di kursi panjang dekat pinggir kolam renang. Junpyo mengelus lembut rambut Jandi, yang sekarang terbaring di dadanya.

"Mau berenang sebentar?"

Jandi mengangkat wajahnya, "Mwoo?"

Junpyo tersenyum, menepuk pelan lengan Jandi, sebagai isyarat padanya agar berdiri. Jandi mengikuti arahan Junpyo, bangkit dari rebahan di atas dada Junpyo. Kemudian mengikutinya ke kolam renang. Mereka masih dalam keadaan polos tanpa seutas benangpun.

Jandi berjalan dengan canggung. Sebentar-sebentar dia melirik kearah pintu, takut kalau ada orang akan datang dari sana.
"Junpyo-a, apakah kita tidak sebaiknya berpakaian dulu?"

Junpyo segera menarik Jandi ke dalam pelukannya.
"Jangan khawatir, sayang .. Tidak ada yang berani memasuki ruangan ini kalau pintunya tertutup!"

"Tapi ... "

"Sssstttttsss ...". Bantahan Jandi terputus ketika Junpyo menempelkan telunjuk ke bibirnya.

"Kamu sangat cantik, Jandiya .. ", bisik Junpyo di sekitar daun telinga Jandi sehingga membuatnya merinding. Gairahnya kembali bangkit ketika Junpyo mulai mendaratkan ciuman maut ke bibirnya.



Jandi membalas lumatan-lumatan dari bibir Junpyo. Lidah mereka saling bertaut. Desahan dan erangan terdengar saling bersahutan.

Sambil meneruskan ciuman mereka, Junpyo mengendong Jandi ke dalam kolam renang. Di sana mereka mengulangi lagi hubungan yang sudah mereka lakukan tadi. Satu kali tidak cukup. Mereka melakukannya dua kali berturut-turut.

---------------------------



Setelah mengeringkan badan dan membalutkan handuk besar ke tubuh masing-masing, Junpyo mengendong Jandi naik ke kamar mereka, di lantai atas. Sampai di kamar, Junpyo membaringkan Jandi di atas ranjang dan membuka handuk yang meliliti tubuhnya.

"Hadiah terbesar dan terindah bagiku .. ", kata Junpyo sambil tersenyum lebar.

Wajah Jandi memerah. Walaupun tubuhnya sudah menjadi milik Junpyo, tetap saja dia merasa malu ketika mendapati pandangan Junpyo menyelusuri sekujur tubuhnya. Perlahan .. Junpyo melepas handuk yang melingkari pinggangnya dan merapatkan tubuhnya ke tubuh polos Jandi ..
"Apakah kamu menginginkannya lagi, sayang?", bisik Junpyo halus sambil meniup telinga Jandi.

Jandi tidak menjawab. Tangannya langsung melingkar ke leher Junpyo dan menariknya, sehingga wajah mereka saling menyentuh. Jandi membuka mulut dan melumat bibir Junpyo dengan bergairah. Setelah itu apa yang terjadi bisa ketebak kan?

----------------------------


Junpyo tersentak dari tidurnya. Dia mengeleng keras. TIDAKKK!!! Dia tidak bermimpi!!! .. Dia tidak mungkin bermimpi!! .. Kenikmatan yang diperoleh dari Jandi masih terasa di sekujur tubuhnya!

Junpyo berpaling ke samping, dan ... tersenyum lega ketika mendapati Jandi tertidur pulas dalam pelukannya. Dia menyingkap sedikit selimut yang menyelimuti tubuh mereka, Benar! tubuh mereka masih dalam keadaan polos, berarti dia tidak bermimpi!

Junpyo mengalihkan perhatiannya kearah lain, ke jam perak yang terletak di atas meja kecil dekat ranjang, pukul 8:30 pagi. Dia dan Jandi baru terlelap menjelang fajar, sekitar pukul 5:30, setelah permainan cinta yang sangat panas dan berulangkali yang mereka lakukan. Junpyo mengerakkan badannya perlahan. Otot-otot di sekujur tubuhnya terasa nyeri dan daerah seputar paha terasa ngilu.

Junpyo menepuk pelan lengan Jandi, "Jandiya .. ". Wanita itu tidak bergerak, masih tertidur pulas. Junpyo kemudian menguncang tubuhnya perlahan.

Mata Jandi bergerak kemudian terbuka, memandangi Junpyo. Matanya berkedip berulangkali untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih tersisa.


"Anyongheseyo, Junpyo-a .."

"Anyong .. Jandiku sayang ..".


Junpyo mengecup bibir Jandi. Makin lama makin bergairah. Jandi membalasnya. Terjadi lagi lumatan hebat antara mereka sampai Junpyo melepaskan dekapannya dengan tiba-tiba.

"Mweooo?"

Junpyo tersenyum perlahan.
"Ada hal penting yang harus kita lakukan sekarang juga! .. Bangunlah dan pakai bajumu, kita akan keluar sekarang!!"

"Kemana .. ?"

"Ssstttss ...."

Jandi langsung terdiam. Dia memperhatikan Junpyo bangkit dari ranjang, berjalan ke lemari tengah, mengambil celana jeans putih ketat dan mengenakannya. Kemudian Junpyo mengambil ponsel dari sofa, menekan beberapa nomor, lalu mendekatkannya ke telinga.

"Ya Mr. Choi .. tolong batalkan semua jadwalku hari ini! .. Persetan dengan meeting itu!! .. Katakan pada mereka kalau mereka bisa menunggu selama tiga hari, saya akan memikirkan rencana kerjasama dengan mereka, jika tidak .. hapus proyek itu dari daftar proyek Shin Hwa tahun ini!! .. Iya, kamu mendengar perkataanku kan?!!! .. dan saya ingin kamu buatkan janji dengan Endree Kim bagiku, SEGERA!! Dua puluh menit lagi saya akan tiba di tempatnya, ... Iya!!! Endree Kim, pemilik Endree's bridal and fashion collection!! .. BENAR, SEKARANG JUGA!! .. segitu! .. TIDAK, SAYA TIDAK AKAN MASUK KANTOR!!"

Junpyo menutup ponselnya dengan tampang kesal.

"Gwencana?", tanya Jandi halus.

Junpyo mengangkat wajah kearah Jandi. Dalam sekejap kekesalannya lenyap. Dia tersenyum manis pada Jandi.
"O gwencana ..Sekarang bersiaplah, kita akan keluar sebentar lagi ...."

"Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi .. kita mau kemana?"

"Kamu ikut saja .. Nanti juga tahu sendiri .. ", kata Junpyo sambil tersenyum, misterius.

----------------------------


Junpyo dan Jandi tiba di butik Endree Kim sekitar dua puluh lima menit kemudian. Endree Kim, pemilik Endree's Bridal & Fashion Collection adalah fashion desainer terkemuka sekorea dan dia lebih mengkhususkan diri dengan desain pakaian-pakaian pengantin. Mendengar kedatangan CEO Shin Hwa dan istri di butiknya, Endree Kim segera keluar dari kantornya dan menjemput sendiri kedatangan mereka.

Jandi mengangga ketika tiba di butik yang sangat luas dengan gaun-gaun pengantin berbagai model  yang terpajang di sana. Apalagi orang yang menjemput mereka, semakin membuatnya tergangga. Dari nama orang ini, Endree Kim, dia mengira kalau desainer ini seorang wanita. Tapi .. ternyata dia salah. Desainer terkenal ini ternyata seorang pria dengan penampilan seronok mirip seorang wanita.


Endree Kim tersenyum lebar melihat pandangan Jandi padanya. Dia sudah biasa dengan pandangan para langganan padanya, jadi dia tidak menyalahkan Jandi. Junpyo berdeham pendek sehingga segera menyadarkan Jandi dengan matanya yang sudah melotot kearah desainer setengah baya itu.

"Ehemmmm ... anyongheseyo, Endree noona .. Saya memerlukan bantuan noona untuk mendesain pakaian pengantin kami ...", kata Junpyo, berusaha seberwibawa mungkin. Dia agak gugup dengan sikap Jandi.

Endree Kim dikenal baik olehnya karena Endree Kim merupakan perancang busana Moon Yong Hee, ommanya. Dan karena itu pula dia memanggil Endree Kim dengan panggilan noona. Endree Kim memang lebih suka dipanggil begitu daripada dipanggil ajushi atau tuan atau panggilan lainnya. Desainer kesayangan ommanya itu mempunyai kelainan mental yang sudah diketahui semua pelanggannya. Jandi tidak mengetahuinya karena ini pertama kali dia bertemu dengan Endree Kim.

"Anyongheseyo, Junpyo-a .. Bagaimana keadaaan nyonya Goo?  .. Pakaian pengantin katamu? .. Yaaa, mengapa kamu tidak mencari perancang terkemuka dari luar negeri?", Endree Kim tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang putih dengan sebuah gigi taring dari emas berkilat.

Junpyo mengenggam erat tangan Jandi ketika menjawab pertanyaan Endree, "Saya ingin segala sesuatu yang paling istimewa buat pengantinku, karena itu saya tidak memerlukan semua perancang terkemuka dari luar negeri .. Saya menginginkan produk dalam negeri dan semua itu hanya bisa saya dapatkan dari noona .. Omma percaya pada noona sehingga menyerahkan semua desain busananya ke tangan noona jadi saya juga percaya pada noona .. saya harap noona bisa memberikan yang terbaik buat kami .. "

Endree tersenyum semakin lebar. Ditepuknya lengan Junpyo, berpaling kearah Jandi sesaat, memperhatikan postur tubuhnya, kemudian kembali lagi ke Junpyo, "Beres, Junpyo-a! .. Saya sudah menganggapmu seperti anakku sendiri, jadi jangan khawatir, serahkan semuanya ke tangan noona!"

Junpyo membalas senyuman Endree, "Gumawo noona .. "

Sepuluh menit kemudian berpuluh-puluh album yang menyimpan semua koleksi gaun pengantin rancangan Endree Kim sudah berada di tangan Jandi. Tadi, mereka juga sempat melihat-lihat gaun pengantin yang terpajang di butik itu. Tapi Junpyo tidak puas dengan semua gaun pengantin yang dipajang di sana. Dia tidak ingin Jandi memakai gaun pengantin yang sudah pernah dilihat orang lain.

Jandi membuka album foto itu satu persatu. Memperhatikannya dengan seksama. Wajahnya berkerut berkali-kali. Dia sangat kebinggungan dengan koleksi gaun pengantin yang bejubun itu.
"Junpyo-a, kamu yang pilih saja .. Saya pusing melihatnya!"

Dahi Junpyo berkenyit. Permintaan Jandi terdengar aneh ditelinganya. 'Bukankah semua wanita akan sangat bersemangat kalau disuruh memilih gaun pengantin? Mengapa Jandi malah meminta bantuannya?'

Junpyo berpaling kearah Endree Kim dan berusaha meminta pendapatnya.
"Menurut noona, gaun pengantin bagaimana yang paling cocok buat istriku?"

Endree memamerkan senyumnya lagi. Dia memperhatikan Jandi dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Gaun pendek akan membuat agashi kelihatan lebih muda dan atraktif .. kalau gaun panjang akan menampilkan sisi sensual dan feminimnya, agashi akan kelihatan anggun dan memikat kalau memakai gaun panjang .. "

"Jadi ..", tanya Junpyo, tidak mengerti.

Endree tidak menjawab. Dia memandangi Junpyo dengan sinar mata berkilat. Seakan menunggu keputusan Junpyo sendiri.

"Apakah .. apakah noona bisa membuat sebuah gaun dengan menampilkan kedua sisi itu .. maksudku atraktif dan anggun sekaligus?", tanya Junpyo dengan suara pelan dan kening berkenyit.

"BINGOO!!", teriak Endree, "Itu yang saya maksud! .. Tidak ada masalah untuk itu .. Saya akan merancang gaun dengan model pendek di depan dan kain sutra lembut dengan kristal-kristal berkilat memanjang ke belakang, sekitar tiga meter .. Saya yakin agashi akan menjadi pengantin tercantik hari itu .. "


Junpyo tersenyum lebar. Dia tidak mengerti perkataan Endree, tapi penjelasannya kedengaran menarik.
"Gumawo .. jadi saya serahkan semuanya ke tangan noona .. Ingat! saya ingin gaun ini selesai sebelum hari pernikahan kami, sebulan kemudian ..", dia berpaling kearah Jandi, "Apakah kamu tidak perlu memilih beberapa gaun lagi?"

"Tidak! .. Cukup dengan satu gaun .. Itu akan terlihat lebih special ..", jawab Jandi cepat.

Junpyo mengangguk dan tidak membantah lagi. Dia mengenal betul sifat Jandi, jadi dia tidak ingin memaksanya. Lagi pula apa yang dikatakan Jandi itu benar adanya. Satu atau sebuah memang lebih istimewa, seperti juga Jandi merupakan satu-satunya wanita yang paling special dalam hidupnya.

"Kalau begitu kami pergi dulu, Endree noona! .. Masih banyak rencana yang harus kami persiapkan ..."

Keluar dari butik Endree Kim, Junpyo mengeluarkan ponselnya dan langsung menelepon sekretarisnya, Mr. Choi.

"Tuan Choi, persiapkan segala sesuatu buat pesta pernikahanku bulan depan .."

Junpyo berhenti sebentar, kemudian berpaling pada Jandi, "Kamu ingin pesta pernikahan kita diselenggarakan di Korea atau di luar negeri? .. Atau mungkin di sebuah pulau terpencil? saya bisa membelikannya untukmu!"

"Tidak!! .. Kamu tidak perlu membeli sebuah pulau buatku!!". Mata Jandi terbelalak lebar mendengar ide gila dari Junpyo.

Junpyo langsung cemberut, "Apa salahnya dengan rencana itu? .. Sudah saya katakan kamu segala-galanya bagiku dan saya akan melakukan segala sesuatu yang tidak terbayangkan buatmu .. Tapi karena janjiku padamu dulu, bahwa apapun yang saya lakukan harus didiskusikan dulu denganmu maka saya tidak bisa memberikan itu sebagai kejutan untukmu .."

Jandi termangu mendengar penjelasan Junpyo. Dia sama sekali tidak menyangka kalau perkataannya akan disimpan Junpyo dalam hati.
"Tidak, kamu tidak perlu melakukan itu Junpyo-a .. Menjadi istrimu sudah merupakan kebahagian terbesarku, aku tidak memerlukan semua kejutan dan kemewahan itu .. Cukup kamu di sampingku, sudah lebih dari cukup! .. Sungguh!", kata Jandi pelan.

Junpyo mengangguk, "Kalau begitu kita menyelenggarakannya di rumah saja .. Pesta besar-besaran! .. Setelah itu kita akan melaksanakannya lagi di Roma, kota yang kamu tinggali sejak kecil! .. Saya ingin seluruh dunia mengetahui kalau kamu milikku, hanya milikku seorang, Jandiya!! .. Dan saya, si hebat Goo Jun Pyo, hanya milik Jandi seorang! .. Biar semua wanita di dunia langsung patah hati karena kenyataan ini .."

Jandi langsung mendorong Junpyo yang sedang membusungkan dadanya.
"Rubahlah sikapmu! ... Jangan kekanak-kanakan seperti itu, tidak tahu malu!!"

Junpyo tertawa keras melihat Jandi memonyongkan bibirnya. Kemudian dia tersentak ketika mengingat perintahnya pada Mr. Choi yang belum diselesaikan lewat telepon.

"O .. tuan Choi, .. iya, lakukan perintahku! .. Pestanya akan diselenggarakan di kediaman Goo, setelah itu di kota Roma, kediaman Jandi dulu, waktunya berselang sepuluh hari setelah pesta pertama, jadi tolong persiapkan semuanya!"

Junpyo memutuskan sambungan telepon dengan senyum puas. Tangannya bergerak, merangkul pinggang Jandi dan menariknya ke dalam pelukan.
"Puas ..?"

Jandi mengangguk sambil tersenyum lembut. Tangannya diangkat, mengelus wajah Junpyo.
"Gumawo Junpyo-a .. Sarangheyo .. "

Kemudian ... mereka berciuman, tanpa memperdulikan beberapa puluh mata yang melirik kearah mereka.


----------------------------


Sabtu, pukul 7 malam ...

Rombongan yang terdiri atas Junpyo, Jandi, Yijeong, Gaeul, Woobin dan Jaekyung sudah berkumpul di depan pintu ruangan hotel Hyatt yang dipesan khusus oleh keluarga Yoon, tempat mereka akan menyelenggarakan dinner bersama keluarga sepupu jauh dari Roma, sejak lima menit yang lalu. Mereka bergerombol di depan pintu dan berusaha mengintip ke dalam ruangan lewat celah kecil dari daun pintu yang terbuka.

Ruangan di depan mereka sangat luas, dengan sebuah meja panjang terletak di tengah ruangan yang dikelilingi dua puluh buah kursi dari kayu berkilat. Langit-langitnya sangat tinggi, bergaya roma kuno dengan lampu kristal besar menjuntai sampai ke tengah meja, yang hanya berjarak sekitar tiga meter dari lantai. Sebuah vas bunga transparan yang besar dengan rangkaian bunga mawar yang sangat rimbun terletak di tengah meja. Beberapa barang antik seperti keramik-keramik kuno dari Cina dan lukisan-lukisan dari pelukis-pelukis terkenal jaman dulu mendominasi ruangan itu. Sedangkan jendelanya yang tinggi terbuat dari kaca manik-manik beraneka warna dengan gorden krem lembut berbunga kecil-kecil yang agak menonjol.

Ada tiga orang yang berada dalam ruangan itu. Jihoo tampak gelisah di kursinya, tepat di depan mereka. Sedangkan orang tuanya, Mr. dan Mrs. Yoon duduk membelakangi mereka.



Yijeong menyenggol lengan Junpyo, yang berdiri di sampingnya,
"Apakah tidak sebaiknya kita masuk sekarang?"

"Kita lihat dulu keadaannya ..", jawab Junpyo pelan.

"Apa yang dilakukan Jihoo? ...  Kenapa tidak keluar menjemput kita? .. Kita tidak punya alasan untuk memasuki ruangan khusus itu kan?", Woobin ikut mengeluarkan suaranya.


Yang lain langsung menganggukan kepala, menyetujui perkataan Woobin. Yijeong secara perlahan memalingkan wajah dari ruangan di depannya kearah Junpyo. Senyum kecil langsung tersungging di bibirnya ketika melihat tangan kanan Junpyo melingkari pinggang Jandi dan tangan satunya lagi memegang erat tangan gadis itu.

Sekali lagi, Yijeong menyenggolkan tangannya ke lengan Junpyo.
"Sudah beres?", tanyanya, dengan senyum mengoda dan alis dinaikan kearah Jandi.

"Mwoo?", tanya Junpyo keras. Matanya melebar kearah Yijeong.

"SSsshhh ... ", Yijeong segera mendekatkan jari telunjuk ke bibirnya sebagai tanda pada Junpyo kalau dia terlalu berisik, "Jangan terlalu keras, nanti kedengaran sama mereka yang berada dalam ruangan!!", setelah itu Yijeong tersenyum lagi, kemudian melanjutkan perkataannya, "He .. he .. saya tahu kamu mengerti kearah mana pertanyaanku!"

"Heyyyyy .. So Yi Jeong, kamu ingin mati ya!!", Junpyo berusaha menekan kata-katanya supaya tidak terlalu keras. Sedangkan Jandi yang berada dalam pelukan Junpyo hanya menunduk malu.

"Lihat! .. wajah Jandi memerah! .. ha .. ha .. ". Yijeong tertawa keras, diikuti yang lain. Woobin dengan sigap menutup pintu di depan mereka supaya suara ketawa mereka tidak kedengaran oleh Jihoo dan orangtuanya.

Jandi semakin menundukkan wajahnya. Junpyo memperhatikan Jandi dengan prihatin, kemudian dia mendelik kearah Yijeong.
"Kamu tidak perlu mengetahui bagaimana hubungan kami! .. Lebih baik kamu perhatikan istrimu, dia kelihatan pucat ... "

Yijeong menghentikan ketawanya dan berpaling pada Gaeul. Wajah istrinya itu memang agak pucat. Tapi tidak ada kekhawatiran tersirat dari wajah Yijeong. Dia tersenyum perlahan, meletakkan tangannya di atas punggung tangan Gaeul kemudian beralih kepada Junpyo.
"Istriku baik-baik saja kok! ...  dia hanya merasa mual dan sering muntah-muntah, .. jadi ya wajahnya terlihat pucat ... wanita yang sedang mengandung memang begitu .. "

Mata Junpyo terbelalak lebar. Dia langsung mengalihkan perhatiannya pada Jandi, terlihat sangat khawatir.
"O .. bagaimana jika kamu hamil juga seperti itu?"

"OOOOOOOOOOOOO!!!". Semua telunjuk langsung tertunjuk kearah Junpyo, ketika ketahuan kalau telah terjadi sesuatu antara dia dan Jandi. Mereka tertawa keras. Lorong luar itu menjadi sangat berisik.

Jandi langsung melotot kearah Junpyo dan langsung mendorong pemuda itu ke belakang.
"PABO YAAA!!"

Junpyo mengaruk kepalanya dengan tampang polos.
"Saya hanya mengkhawatirkan keadaanmu makanya saya keceplosan,  .. Jika memang mengandung itu sangat menyiksa sebaiknya kita tidak usah punya anak saja ... "

Ketika Junpyo mengatakan perkataan ini, mereka semua langsung membisu. Kata-kata yang sederhana dan polos itu begitu menyentuh perasaan mereka.

Gaeul menyenggol lengan suaminya dan berbisik, "Belajar tuh dari Junpyo ... ". Yijeong tidak bisa menyahut, hanya bisa merenungi perkataan Junpyo .

Jandi memandangi Junpyo, yang masih menatapnya dengan tampang polos. Perlahan dia mendekati Junpyo, mengangkat tangan dan mengelus wajahnya.
"Saya tidak akan merasa menderita, Junpyo-a, ... Bisa mengandung anakmu merupakan suatu kehormatan bagiku .. Saya rela dan akan menjadi wanita terbahagia di dunia jika memang tuhan mengijinkannya .. "

Junpyo terpana. Dia menunduk perlahan dan mengecup lembut bibir Jandi.


"Yaaaaaaa!! .. kalian ini tidak tahu malu!! .. Kami masih berada di sini .. SADARR!!", Jaekyung memprotes keras sambil menunjuk  kearah Junpyo dan Jandi. Tapi walaupun begitu senyuman tetap tersungging dibibirnya.

Woobin yang berada di sebelah Jaekyung segera menarik gadis itu kedalam pelukannya.
"Kalau begitu, apakah kamu juga ingin dicium, sayangku?"

Jaekyung mencibirkan bibirnya. Woobin tertawa keras.
"Saya hanya bercanda kok .. ha .. ha ..". Tapi suara ketawanya terhenti ketika mendadak Jaekyung memengang erat wajahnya dan mendaratkan ciuman panas ke bibirnya.

Kembali .. seisi lorong heboh oleh suara ketawa yang meledak bersamaan dari mulut mereka. Dua orang pelayan hotel yang mendekati ruangan khusus itu sampai dibuat tergangga oleh suara ketawa yang berisik itu.

Junpyo berdehem perlahan, berusaha mempertahankan wibawanya ketika melihat kehadiran dua pelayan hotel tersebut.
"Ehemmm .. kami sedang menunggu tuan Yoon keluar dari kamar ini dan .. kalian tidak perlu memberitahukannya pada tuan Yoon, dia sudah mengetahui kedatangan kami ..."

Pelayan hotel yang mengenal Junpyo itu segera membungkukan badannya.
"Araso Goo Jun Pyo-sii".

Kemudian, salah satu dari mereka membuka pintu ruangan itu bertepatan dengan keluarnya Jihoo dari dalam ruangan. Jihoo tampak terkejut melihat teman-temannya sudah berkumpul di situ.
"Yaaaaaaa .. mengapa kalian tidak masuk ke dalam? .. Saya sudah menunggu sejak tadi!!"

"Heyyy .. Yoon Ji Ho!! Bagaimana kami bisa masuk ke ruangan itu tanpa alasan yang jelas? .. Apa yang harus kami katakan jika paman dan bibi Yoon menanyakan maksud kedatangan kami? ... Seharusnya kamu yang menjemput kami .. ", balas Junpyo keras. Dia memang sudah kesal karena disuruh menunggu di luar ruangan seperti orang dungu.

Jihoo mengangkat bahunya. Kemudian berpaling ke teman-temannya yang lain.
"Ya sudahlah, ... ayo masuk sekarang!!"

Dia berbalik dan masuk kembali ke dalam kamar, diikuti yang lain.

------------------------------------


Mr dan Mrs. Yoon membalikan badan kearah pintu ketika mendengar suara ribut dari sana. Mata mereka terbelalak lebar ketika melihat rombongan yang memasuki ruangan.



"Junpyo, Woobin .. dan .. Yijeong ... juga .. Jandi, Gauel dan .. Jaekyung .. ohh .. mengapa kalian bisa berada di sini?!!", seru Mrs. Yoon diikuti deheman perlahan dari Mr. Yoon.

"Anyongheseyo, paman dan bibi Yoon .. ", sapa mereka bersamaan, sambil membungkukkan badannya.

"Saya tidak sengaja bertemu mereka di luar, appa dan omma ..", jawab Jihoo tak acuh.

"O .. ", Mr. dan Mrs. Yoon menganggukan kepalanya.

"Mereka boleh ikut makan bersama kan, appa?"

Mr. Yoon mengerutkan alisnya, "Tapi .. acara malam ini ... ", suaranya kedengaran ragu-ragu.

"Keluarga Adams kan belum sampai! .. jadi apa salahnya?", Jihoo berkeras dengan permintaannya, dan tentu saja ini disengaja karena dia tidak mau berhadapan sendirian dengan keluarga sepupu jauh ommanya itu.

Setelah perdebatan singkat, akhirnya Mr. dan Mrs. Yoon menyerah. Mereka mempersilahkan teman-teman putranya itu makan malam bersama. Perbincangan ringan terjadi antara mereka. Mrs. Yoon tersenyum ketika melihat kearah Yijeong.
"Yijeong-a, saya dengar dari ommamu kalau istrimu sedang hamil ya?"

Yijeong tertawa dan mengangguk perlahan, "Iya, bi Yoon ..."

"Chukae ... ", ucap Mr. dan Mrs. Yoon secara bersamaan.

"Gumawo ... "

Mrs. Yoon kemudian beralih pada Junpyo, "Lalu .. bagaimana denganmu, Junpyo-a? .. Kamu menikah lebih dulu kan, jadi kapan kamu berencana punya anak?"

Junpyo tersenyum sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Jandi.
"Secepatnya, .. bi Yoon .. "

Mrs.Yoon mengangguk puas, "Bagus! .. saya yakin omma dan appamu sangat bahagia mendengarnya .. ", kemudian dia melirik Woobin dan Jaekyung, "Dan kalian berdua!! .. saya juga sudah mengetahui hubungan kalian dari orangtua kalian masing-masing .."

Woobin dan Jaekyung mengangguk sambil tersenyum lebar. Mrs. Yoon mendesah perlahan.
"Di antara kalian berempat, tinggal Jihoo yang belum menemukan pasangannya ... "

"OMMAA!!", teriak Jihoo keras.

"Jangan khawatir, bi Yoon! .. Bukankah acara malam ini, acara pengenalan pasangan buat Jihoo?", Woobin tertawa keras ketika melihat mata Jihoo langsung terbelalak lebar.

"YAAAAA SONG WOO BINNNNNNNN!!!!"

Sesaat kemudian, ruangan itu langsung heboh oleh suara ketawa mereka. Semua tertawa terbahak-bahak,  kecuali Jihoo! yang cemberut di tempatnya.

--------------------------


Sepuluh menit berlalu ...
Pintu ruangan terbuka .. semua yang berada dalam ruangan segera memalingkan wajah kearah pintu. Seorang pria asing berumur di atas empat puluhan dan seorang wanita Korea dengan umur serupa memasuki ruangan.

"Wajah hantu kecilmu seperti itu ya?", bisik Woobin di telinga Jihoo, sehingga membuat dia segera mendelik kearahnya.

Ketika Jihoo bermaksud membalas perkataan Woobin, tiba-tiba teriakan keras terdengar ..

"PAMAN DAN BIBI ADAMS!!!??"

Dua orang yang baru memasuki ruangan itu kelihatan tidak kalah terkejutnya. Mereka terbelalak kearah Jandi.
"JANDIYAAA!!", teriak mereka bersamaan.

Jandi berdiri dari duduknya dan berlari kearah mereka.
"Mengapa paman dan bibi bisa berada di sini?", tanya Jandi dengan wajah berseri. Dia kelihatan sangat bahagia melihat kehadiran dua orang asing itu. Tapi .. sesaat kemudian, keningnya berkerut dan matanya menyapu ke seluruh sudut di belakang mereka, "Dan .. kemana onnie?"

Sebelum pertanyaan itu dijawab, Mrs. Yoon berdiri dari tempatnya dan berjalan kearah mereka.
"Chae In, duduklah dulu! .. ajak suamimu duduk juga! .. Senang bertemu denganmu lagi Robby .. ", kemudian dia berpaling kearah Jandi, "Jandiya, kamu mengenal keluarga Adams?"

Jandi menganggukan kepalanya, "Iya, bi Yoon .. "

"Kami sudah mengenal Jandi sejak sepuluh tahun yang lalu, ..  waktu itu dia baru pindah ke Roma dan rumahnya bersebelahan dengan rumah kami  .. Dia bersahabat baik dengan Lily .."

Semua mendengarkan dengan seksama penjelasan Mrs. Adams. Junpyo berdiri dari duduknya, berjalan kearah Jandi dan bermaksud mengajaknya kembali ke tempatnya. Dahi Jandi berkenyit. Ada sesuatu yang menganggu pikirannya. Sesuatu yang tidak wajar. Dia mengibaskan tangan Junpyo yang menuntunnya dan berbalik lagi ke Mrs. Adams.
"Bibi dan paman berada di sini, .. berarti .. berarti yang akan dijodohkan dengan Jihoo adalah ... adalah Lily onnie?"

Mrs. Adams menganggukan kepalanya.

Jandi semakin mengerutkan wajahnya.
"Tapi ... bagaimana mungkin? .. Sejak dulu onnie selalu menolak pria yang mengejarnya, bagaimanapun tampan dan kayanya pria itu .. Onnie selalu berkata padaku kalau dia sudah punyai pria idaman yang ingin dinikahinya kelak ... "


Mr. dan Mrs. Adams tersenyum penuh arti ketika mendengar perkataan Jandi, sehingga membuat Jandi semakin penasaran. Dia berpikir keras, sebelum akhirnya mengambil kesimpulan yang membuatnya terkejut setengah mati.
"Bu .. bu .. kan Jihoo ... kan pria .. idamannya onnie?"

"BENARRR!!", jawab Mr. Adams sambil mengangkat jempol ke udara.

"HAHHHHHHHHHH???!!"

Semua yang berada dalam ruangan itu membelalakan matanya. Jihoo sampai terlonjak dari tempatnya. Dia berkata keras,
"Omong kosong apa ini!! .. Terakhir kali saya melihat putri anda sekitar tujuh belas tahun yang lalu .. Bagaimana mungkin bayi berumur dua tahun sampai mengenaliku?!!"

"Kendalikan perasaanmu, Jihoo-a!!", perintah Mr. Yoon, lalu dia berpaling kearah Mr dan Mrs. Adams yang sekarang sudah duduk di sampingnya, "Lalu kemana Lily?"

"Anak itu ada urusan sebentar di luar, katanya sih mengajukan formulir pendaftaran ke universitas Shin Hwa .. Dia mungkin akan tiba beberapa menit lagi ... "

Hening sejenak. Jihoo meniup nafas kuat-kuat, kemudian mengulangi pertanyaannya lagi.
"Apakah paman dan bibi bisa menjawab pertanyaanku tadi?"

Sebelum Mr. dan Mrs. Adams mengeluarkan suara, pintu di belakang mereka dibuka dengan suara keras.

BAMMMMMMMMMMMMMM ....

Seorang gadis asing berambut panjang dan berpostur tinggi memasuki ruangan dengan nafas terengah-engah.
"Hhhhhh ..... soseongheyo .. sa .. saya .. hhhh .. terlambat .... "

----------------------------------


"ONNIEEEE!!". Jandi menghambur kearah gadis yang baru memasuki ruangan itu. Dia memeluk gadis itu erat-erat.

"JANDIYAA!!". Gadis bernama Lily Adams itu kelihatan terkejut melihat Jandi, "Ottoke .. ??"

"Saya sudah menikah, onnie ...  jadi saya akan tinggal di sini bersama suamiku ..", jawab Jandi, sambil melirik kearah Junpyo.

"O ... benarkah? .. chukae, Jandiya!"

"Gumawo, .. onnie,  duduklah dulu dan ceritakan padaku bagaimana mungkin pria idaman onnie bisa Jihoo adanya?"

Lily tersenyum perlahan, "Jadi .. kamu sudah mengetahuinya?"

Jandi mengangguk. Tangannya mengandeng tangan Lily, mengajaknya berjalan ke kursi yang berada di samping Jihoo.

"Anyongheseyo, Jihoo-si ..", sapa Lily halus.

Jihoo mengangguk perlahan. Sejak gadis ini memasuki ruangan, dia tidak bergerak dari tempatnya. Bukan karena tidak ingin bergerak, tapi karena dia benar-benar tidak mampu bergerak. Dia terpana. Seluruh bayangan masa lalu tentang gadis ini salah semua.

Sepasang mata hijau yang selalu terbayang di pikirannya itu ternyata tidak semenyala yang dibayangkannya. Tidak! .. mata itu sangat teduh, warna hijau yang belum pernah dilihatnya, hijau botol yang teramat bening dan dalam .. Rambut coklat itu juga tidak seterang yang dibayangkannya. Warna coklat itu lebih cenderung ke coklat lembut, sangat lebat berombak dan panjang sampai ke punggung. Kulit itu juga tidak pucat tapi putih kemerah-merahan, serupa dengan warna kulit Jandi.

"Jihoo-si ... ", Lily menyapa Jihoo dengan suara halus. Tangannya menepuk pelan lengan Jihoo sehingga menyadarkannya dari lamunan.

"Hmmm .... "

Lily tersenyum perlahan. Kemudian mengedarkan pandangan ke seisi ruangan.
"Kalian tentu penasaran bagaimana saya mengenali Jihoo setelah tujuh belas tahun berlalu kan? ... Sebenarnya terakhir kali saya bertemu dengannya dua tahun yang lalu di Roma .. "

"Apaaa?? .. Roma?"

Lily berpaling pada Jihoo, "Iya, Roma! kamu lupa? ... Mungkin kamu tidak ingat, karena kita memang tidak bertutursapa waktu itu  ..  saya yakin kamu tidak melihatku, dan walaupun melihatku sekalipun, kamu tidak akan mengenaliku .. Tapi saya mengenalimu, Jihoo-a! .. Omma memberi foto-fotomu, yang diambil  bersama paman dan bibi Yoon beberapa tahun yang lalu padaku,  dan omma juga memberitahuku kalau kamu adalah Jihoo oppa yang dulu sangat takut padaku .. Saya jadi penasaran mengapa seorang pria sepertimu bisa takut padaku, sementara semua teman sekolah pria berusaha keras mengejarku ... Sampai  .. saya melihatmu langsung tahun lalu! .. Saya berusaha menyapamu tapi kamu tidak mendengarnya dan saya juga berusaha mengejarmu tapi kamu sudah lenyap dari hadapanku .. Mulai saat itu juga saya tahu kalau saya makin penasaran padamu, dan rasa penasaran itu semakin kuat! .. Saya tidak bisa membuang bayanganmu dari ingatanku! .. Dan saya menyadari kalau mulai saat itu .. saya .. saya benar-benar jatuh sedalam-dalamnya padamu!"

Jandi tersenyum perlahan. Dia sangat tersentuh mendengar penjelasan Lily. Perlahan dia menyenggol tangan Jihoo.
"Kamu beruntung mendapatkan Lily onnie .."


Jihoo melorot dari tempat duduknya. Pandangannya nanar ke depan. Sadar atau tidak, begitu gadis itu memasuki ruangan ini, hatinya sudah bertekuk lutut padanya. Dia termakan kata-kata dan perasaan takut di masa lalu. Dia! Yoon Ji Hoo kalah telak.

------------------------


Sebulan kemudian ....
Pesta pernikahan Junpyo dan Jandi diselenggarakan besar-besaran. Kediaman Goo yang dijadikan tempat penyelenggarakan pesta pernikahan itu didekorasi sedemikian rupa. Halaman rumah yang luas sudah siap menampung beratus mobil para undangan. Bunga beranekawarna melatarbelakangi seisi ruangan, halaman depan dan taman belakang. Bahkan kolam renang juga tidak lepas dari dekorasi sesuai perintah Junpyo pada Mr. Choi.

Makanan-makanan khas dan mewah dari berbagai negara, yang dibuat khusus oleh para koki terkenal yang sengaja didatangkan dari negara-negara bersangkutan, tersaji di beberapa meja panjang di tengah ruang depan dan taman belakang. Champagne dan  wine terbaik yang dipilih seorang ahli anggur terkenal sedunia tertuang ke barisan gelas di tengah ruangan. Musik mengalun lembut dari alat musik kuno dan antik di sudut ruangan. Begitu juga di taman belakang, yang dikhususkan bagi mereka yang menyukai pesta taman/luar ruangan.

Jandi tampil cantik dengan balutan gaun pengantin rancangan Endree Kim. Begitu juga Junpyo, tampil menawan dengan balutan jas putih yang agak gemerlap, juga hasil rancangan Endree Kim. Mereka tampak sangat serasi. Semua undangan membicarakan mereka. Memuji kecantikan dan ketampanan mereka. Semua tampak bahagia dan merestui pernikahan tersebar sekorea ini.



Dua hari setelah pesta pernikahan itu, Jandi dan Junpyo, diikuti keluarga dan teman dekat mereka, termasuk F3 dan istri serta pacar-pacar mereka, terbang dengan pesawat pribadi menuju Roma. Pesta pernikahan kedua akan diselenggarakan di sana seminggu kemudian.

-------------------------


Junpyo berlari menuruni tangga dari marmer berkilat, menuju ruang bawah tanah yang terdapat di taman belakang rumah ketika mendengar tanggisan keras datang dari sana. Ruangan bawah tanah itu dibuat khusus sebagai tempat bermain dan berkumpul anak-anak. Sejenis ruang rahasia buat kebebasan anak-anak berkreasi tanpa terganggu dunia luar. Anak-anak sangat menyukai tempat itu karena mereka merasa ruangan itu sudah menjadi dunia mereka.

Junpyo sampai di tengah ruangan dan mendapati seorang gadis kecil berusia sekitar dua tahun, dengan rambut coklat ikal terduduk di lantai. Gadis kecil itu sedang menanggis keras. Junpyo segera meraih anak itu ke dalam pelukannya. Sedangkan suara berisik terdengar dari sudut ruangan, dimana tiga orang anak laku-laki kecil berusia sekitar lima tahun sedang bertengkar dan saling mendorong.

"Ohh ada apa Edys sayang? Mengapa kamu menanggis? ... cup .. cup .. jangan menanggis, nanti paman Junpyo beri permen ya?", hibur Junpyo. Tapi .. makin dihibur, tanggisan gadis cilik itu makin mengeras sehingga membuat Junpyo kalang kabut.
"Yaaa yaaaaaa .. Edys .. jangan .. jangan menanggis lagi .. yaaa .. "

Kemudian Junpyo berpaling kearah tiga anak laki-laki yang sedang bertengkar itu.
"Goo Jan Pyo, apa yang terjadi?"

Salah satu anak yang masih saling mendorong itu berbalik kearah Junpyo. Wajah anak itu sangat mirip Junpyo, bahkan rambutnya juga keriting gelap seperti rambut Junpyo.
"Jaebin dan Gajeong yang mendorong Jilly sampai jatuh ke lantai, appa .. "

Junpyo beralih kearah dua anak laki-laki lainnya.
"Benarkah begitu, Jaebin dan Gajeong? .. Mengapa kalian melakukan itu?"

"Cihhh .. ", Gajeong, putra Yijeong dan Gauel mencibirkan bibirnya.

"Kami tidak mendorong Jilly, paman Junpyo .. kami hanya tidak sengaja mengenainya ketika kami sedang bermain .. Dia terjatuh ke lantai dan itu tidak kami sengaja .. ", Jaebin, putra Woobin dan Jaekyung menjelaskan keadaan yang sebenarnya pada Junpyo. Setelah itu dia menyambungnya lagi, "Janpyo saja yang terlalu sensitif ... saya dan Gajeong paling benci dengan anak cewek, mereka terlalu cengeng .. "

"Jilly tidak cengeng!! .. Kalian yang keterlaluan, mendorongnya ke lantai ..", bela Janpyo sengit.

"Sudah kami bilang kalau kami tidak mendorong! .. apa kamu tuli? ..", teriak Jaebin.

Gajeong menyentuh tangan Jaebin, kemudian berkata dengan suara mengejek, "Sudahlah Jaebin .. Kita semua tahu kan kalau Janpyo menyukai Jilly?"

"Saya memang menyukainya! .. lalu apa salahnya?", balas Janpyo keras.

Junpyo segera menempelkan tangan ke telinganya. Teriakan-teriakan yang saling bersahutan itu membuat kepalanya pusing. Ditambah tanggisan Edys yang belum mereda membuatnya semakin pening.
"Sudah .. sudah! .. hentikan pertengkaran kalian anak-anak!"

Sesaat kemudian ... terdengar bunyi langkah kaki menuruni tangga, menuju kearah mereka. Bunyi langkah itu sangat ramai sehingga bisa ditebak kalau cukup banyak orang yang memasuki tempat itu. Junpyo dan anak-anak berpaling kearah suara itu.

"HEIII .. ADA APA INI?", tanya Jihoo dengan kening berkerut.

"Bidadari kecilmu jatuh ke lantai, Jihoo-a .."

Mata Jihoo terbelalak. Dia terlihat sangat khawatir. Dia segera berlari kearah Junpyo dan meraih Edys, yang berada dalam pelukan Junpyo.
"Mengapa bisa terjatuh? ... ohh Edys sayang, apakah kamu merasa sakit? .. katakan pada appa siapa yang mendorongmu?"

"Heii Jihoo-a, kamu jangan terlalu protektif begitu! ... Biarkan dia bangkit sendiri kalau terjatuh ... Jika kamu terus-terusan melindunginya seperti itu, dia akan tumbuh menjadi anak manja dan tidak bisa mandiri .. ". Lily sudah berada di samping Jihoo dan menegurnya ketika melihat luapan emosi suaminya itu.

"Tapi .. ", suara Jihoo tertahan di tenggorokan ketika Lily segera mendelik kearahnya.

"Sudahlah! .. masalah anak-anak, biar mereka yang menyelesaikannya .. bukankah itu alasannya mengapa kita sepakat mendirikan tempat ini? .. Semua demi kemandirian dan kebebasan anak-anak?", Jandi mengeluarkan suaranya. Semua yang berada dalam ruangan langsung terdiam. Memang benar perkataan Jandi, jadi tidak ada seorangpun yang ingin membantahnya.

"Sekarang kita naik ke atas, makanan sudah siap .. ", lanjut Jandi. Lalu dia berpaling ke anak-anak, "Kalian juga anak-anak .. Cuci tangan dan makan bersama!!"

"Horeeeeeee!!!!". Ketiga anak laki-laki itu berteriak hampir bersamaan. Mereka sudah melupakan kejadian tadi. Kemudian mereka berlari meninggalkan para orangtua yang hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala di tempatnya. Sedangkan Edys, yang berada dalam dekapan Jihoo sudah menghentikan tanggisnya.

"Saya ingin gadis kecilku segera lahir .. ", desah Junpyo tiba-tiba.

Semua orang memandang padanya, lalu pada perut Jandi yang membuncit.

"Segera my brother! .. bidadari kecilmu akan lahir empat bulan lagi, jadi kamu tidak perlu menjadikan Edys sebagai mainanmu terus ... ha .. ha ..". Woobin tertawa terbahak dengan leluconnya sendiri, yang segera mendapat godem dari Junpyo."Akhhh .."

Semua ikut tertawa dan mulai berlalu dari ruangan itu. Jandi berhenti di anak tangga terakhir, berpaling lagi ke belakang, memandangi ruang bawah tanah yang laus dengan mainan anak-anak yang berserakan di lantai. Matanya nanar ketika berbisik pelan pada Junpyo,
"Tapi semua ini akan menjadi kenangan setahun lagi, ... Keributan dan suara ketawa anak-anak tidak akan terdengar lagi di sini .. tempat ini akan menjadi tempat mati .. "

Junpyo melingkarkan tangannya ke pundak Jandi, kemudian ditepuknya lengan itu pelan, "Kita tidak punya pilihan lain, Jandiya! .. perusahaan sana memerlukan landasan kuat, karena itu kita harus pindah ke sana! .. tapi kamu jangan khawatir, suatu saat kita akan kembali lagi ke sini dan semuanya akan seperti dulu .. tidak ada yang berubah!"

Jandi mengangguk perlahan. Kemudian dia berlalu dari tempat itu dengan dituntun oleh Junpyo.

-----------------------------


Setahun kemudian .... keluarga besar Goo bersiap berangkat ke Amerika dengan pesawat pribadi. Mereka berada di lapangan terbuka, tempat pesawat pribadi akan lepas landas.

F4 dan keluarga mereka sudah saling mengucapkan pesan terakhir. Jun Hyun, Yong Hee, Junpyo dan Jandi bergerak, menuju pesawat pribadi mereka. Tapi Jan Pyo kecil masih berdiri di depan Lily, sambil memegangi tangan Edys kecil yang berada dalam gendongan ommanya.

"Janpyo-ya! .. pesawat kita akan berangkat sekarang, .. Jadi cepatlah kemari!", Jandi berteriak dari tempatnya.

Janpyo berpaling sebentar ke Jandi, kemudian beralih lagi ke Edys.
"Ingat ini, Jilly-ya! .. Suatu saat saya akan kembali, dan kamu harus ingat padaku! .. Berapa lamapun kita tidak bertemu, kamu jangan melupakanku! Ingat pesanku ini! .. "

Lily tersenyum mendengar perkataan si Janpyo kecil.
"Janpyo-ya, kamu harus merubah panggilan ke Edys! .. Mungkin dia akan melupakan panggilan itu setelah pertemuan kalian nanti .. "

Janpyo langsung cemberut.
"Mengapa harus begitu, bi Lily? .. Jilly! putri paman Jihoo dan bibi Lily .. Saya menyukai panggilan ini, dan Jilly juga menyukainya, saya tahu itu .. "

Lily hanya dapat tersenyum dan mengeleng-gelengkan kepalanya.

"JANPYO-YA!! .. SUDAH TIDAK ADA WAKTU LAGI, CEPATLAH KEMARI!!", kali ini Junpyo yang berteriak tidak sabar ke putranya. Tapi kekesalannya hanya sesaat, setelah Jandi menyenggol lengannya, dia langsung tersenyum, tangannya tertumpu pada kain yang digunakan untuk mengendong bidadari kecilnya.


Janpyo melirik sekilas ke appanya kemudian berpaling lagi ke Edys kecil. Memengang erat tangannya dengan sepasang mata yang mulai memerah.
"Saya harus pergi sekarang, Jilly-ya .. Ingat janjiku! .. Saya akan kembali padamu!!"

Setelah itu, anak laki-laki kecil berumur enam tahun itu berlari kearah keluarganya. Untuk terakhir kali mereka semua saling melambaikan tangan. Sepuluh menit kemudian, pesawat pribadi dengan tulisan Shin Hwa itu lepas landas sambil diiringi doa restu dan aimata dari orang-orang di bawahnya.

------------------------


THE END

the next short fanfic .......




« Last Edit: March 22, 2010, 12:57:53 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
loh loh udah dipost toh... Senangnya hatiku...  [clap] [clap] [smiley-gen013] [smiley-gen013] punk punk [smiley-dance013] [smiley-dance013]
Ntar mi tak baca dulu yo...  [hmpfh]

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
finally di launch juga  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] gak sia2 bawa pasukan se kampung  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

ngaboorrr baca dulu mi ntar koment lagi

dah liat pengumuman langsung dishare yo mi besok  [laughing] [laughing] [laughing]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
noona b, elu pasti kaget lht nama elu di situ [laughing] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
[color=redmamiiii,,, sini aq penyok2 dulu deh mi,,,[/color][/b]
Emoticons0424 [AddEmoticons04225] [xxxx] [weird] tuk mami cayang [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

tp aq mw kabur tuk bca niy very long chp yg sngat dinanti2 yaaa,, tar balik lg deh,heheheh.... thx so much mami...
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Permisi, mau numpang nanya, bffi itu apa ya??

Mami, ini endingnya ya? Mantannya hyesun apa kabar? Next ffnya kapan di launching ni mam?
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Permisi, mau numpang nanya, bffi itu apa ya??

Mami, ini endingnya ya? Mantannya hyesun apa kabar? Next ffnya kapan di launching ni mam?
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME