THIRTY DAYS CHANGES-PERUBAHAN TIGA PULUH HARI
Author : Lovelyn
Genre : Romance

SONG OF THE STORY :
CAST:




SPECIAL
![[hmpfh]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/hmpfh.gif)

goo meei ~~ Chainezz_Vian ~~ Vio23 ~~ itaraya ~~
Riwayatku, Lee Min Ho ....
Mempunyai asal usul yang menyedihkan bukanlah keinginan dari siapapun di dunia ini. Begitu juga denganku. Lahir dari keluarga sederhana dengan kehidupan yang berliku-liku membuatku harus mandiri sejak remaja. Ayahku adalah keturunan Cina yang lahir di Hong Kong. Menjadi yatim piatu setelah kedua orangtuanya yaitu kakek dan nenekku meninggal dalam sebuah kecelakaan tragis berpuluh-puluh tahun yang lalu.
Ayah yang saat itu baru berusia delapan tahun terpaksa harus ikut dengan keluarga jauh satu-satunya yang sudah pindah ke Korea. Sebelum kelahiran anak dari keluarga Cheung, ayah cukup disayang dalam keluarga itu. Tapi setelah kelahiran bayi itu, ayah hanya diperlakukan seperti orang asing.
Setelah menyelesaikan sekolah menengah disana, ayah tidak mampu melanjutkan sekolahnya lagi. Keluarga Cheung tidak mau mengeluarkan biaya untuk kuliah ayah. Dengan perasaan tertekan ayah terpaksa pindah ke luar kota. Rencana ayah itu sama sekali tidak mendapat larangan dari keluarga Cheung yang memang dari semula sudah tidak menyukai kehadirannya di rumah itu.
Ayah menjalani kehidupan yang cukup berat setelah keluar dari keluarga Cheung. Tapi semua dapat dijalaninya dengan tabah. Apalagi setelah perkenalannya dengan seseorang yang teramat penting dalam hidupnya. Orang itu adalah ibuku. Beliau merupakan seorang perawat di sebuah rumah sakit kecil yang terletak di dekat kantor di mana ayah bekerja. Beliau juga anak yatim piatu seperti ayah.
Perkenalan pertama mereka terjadi ketika ayah menderita sakit perut yang luar biasa sehingga harus dirawat di rumah sakit itu. Ayah dan ibu saling jatuh cinta pada pertemuan pertama. Hubungan mereka berjalan mulus sampai ke jenjang pernikahan setengah tahun kemudian.
Satu-satunya anugerah yang paling berharga dari pernikahan itu adalah kelahiranku. Ayah selalu mengatakannya kepadaku ketika beliau masih hidup. Aku menghabiskan masa kecil hingga remaja di Korea. Ketika aku berusia 14 tahun dan masih duduk di sekolah menengah pertama, ibu menderita sakit parah yang akhirnya merenggut nyawanya. Setelah kematian ibu, ayah memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, Hong Kong. Lalu dimulailah kehidupanku di sana.
*****************
Tahun pertama cukup sulit bagiku untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan yang sama sekali asing itu. Ayah yang bekerja sebagai pegawai rendahan di sebuah perusahaan kecil di Central selalu sibuk dengan pekerjaannya. Beliau tidak mempunyai waktu untuk menemani dan mengajariku tentang segala sesuatu yang sangat kuperlukan dalam masa pertumbuhan itu.
Segala sesuatu terbiasa kulakukan sendiri sejak remaja. Beruntung bagiku, teman-teman yang kukenal semua berkepribadian baik sehingga aku tidak sampai tersesat di jalan tidak benar. Aku bisa mandiri di usia yang relatif muda. Lain dengan teman-temanku yang kebanyakan sudah terbiasa dimanja orang tua.
Ketika aku memulai kuliah semester pertama, ayah mengalami nasib yang sama dengan kakek dan nenek. Kecelakaan yang sangat tragis. Sebuah truk besar yang melanggar rambu lalu lintas melindas tubuh ayah ketika menyeberangi jalan raya pada waktu kerja. Setelah kematian ayah, tinggallah aku seorang diri di dunia ini.
Uang yang didapat dari perusahaan asuransi yang dibeli oleh perusahaan dimana ayah bekerja cukup untuk membiayai kuliahku di bidang arsitek desain hingga selesai. Setelah itu jalan hidupku cukup mulus. Aku berhasil memasuki 'Great Building', perusahaan yang bergerak di bidang buiding desaigner terkenal di Asia dengan berpusat di Korea.
Selama dua tahun terakhir semua berjalan sesuai dengan keinginanku. Dari pekerja pemula sampai dipercaya memimpin sebuah tim elite yang berisi perancang-perancang muda berbakat di perusahaan. Tidak pernah ada kesalahan yang kulakukan. Semua majikan menyukai hasil kerjaku. Mereka tidak pernah mengeluh dan menyalahkan apa yang kulakukan. Semuanya seperti telah teratur dalam genggaman tanganku. Akan tetapi .. sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Peribahasa ini sangat cocok dengan keadaanku sekarang.
************
Permulaan Desember 2009 .......
Kuhempaskan tubuh ke kursi panjang di belakang. Kursi itu tergoyang lemah setelah menanggung berat badanku. Perlahan mataku terpejam. Nafasku terdengar berat di telinga.
tokkk ... tokkkk .. tokkk ...
Aku membuka mata dan berpaling ke arah pintu. Ketukan pelan masih terdengar dari sana.
"Masuklah !! .. ", suara yang keluar dari mulutku terdengar agak serak.
Pintu terbuka dan seorang gadis muda yang berparas cantik dan berambut panjang berombak, dengan tubuh tinggi semampai memasuki ruangan. Dia tersenyum padaku. Aku mengangguk pelan kepadanya. Dia mendekatiku dan meletakkan setumpuk file di hadapanku. Senyumnya masih tersungging di bibir.
"Masih dipusingkan dengan masalah itu?", tanyanya lembut.
Aku berusaha tersenyum padanya walaupun sangat terpaksa. Gadis di hadapanku itu lalu meletakkan tangannya ke atas tanganku. Aku tahu dia berusaha menghiburku.
"Thanks ....", kataku dengan suara yang sudah lebih enak didengar, tidak seserak tadi.
Kemudian hening sejenak. Kami berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Setelah menghembuskan nafas panjang, aku kembali berkata :"Saya akan terbang ke sana besok dan melihat sendiri apa sebenarnya yang telah terjadi ... "
Gadis itu terbelalak mendengar rencanaku. Matanya yang indah memancarkan sinar tidak percaya.
"Apakah harus kamu yang melakukannya? Tidak bisakah diwakili Raymond?"
Aku segera mengelengkan kepala dengan tampang serius.
"Tidak, Angel!! ... Kali ini saya harus melakukannya sendiri .. masalah ini sangat besar, sudah menyangkut nyawa dari beberapa orang pekerja .. ini adalah tanggungjawabku, gedung yang didirikan itu adalah hasil karyaku ... apa yang sebenarnya terjadi harus diketahui olehku .. "
Angela Yeung, gadis yang kupacari sejak dua tahun lalu itu mengangguk pelan. Dia tidak begitu menyukai rencanaku. Aku tahu itu dengan pasti.
"Kamu bisa ikut denganku, kan? Kami juga memerlukan seorang pengacara untuk menyelesaikan masalah ini .. ", kataku kemudian.
Mataku menatap lekat kearahnya. Angel membalas tatapanku. Dia mengeleng perlahan. Tapi senyum lembut masih tersungging di wajahnya yang runcing.
"Tidak .. tidak sekarang!! .. kamu tahu kalau mama sekarang masih berada di rumah sakit dan memerlukan perawatanku .. lagipula pekerjaanku tidak bisa kutinggalkan begitu saja ... "
Nafasku kembali berhembus dengan berat. Aku kecewa. Sangat kecewa. Harus menginjakkan kakiku kembali di Korea setelah 10 tahun meninggalkannya merupakan cobaan yang berat bagiku. Apalagi negara itu telah menciptakan kenangan buruk di masa laluku. Sebenarnya aku telah bersumpah bahwa seumur hidup aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku lagi di sana. Kalau bukan karena masalah serius ini, aku tidak akan melakukannya. Sungguh aku tidak ingin melakukannya.
"Kamu jangan kecewa begitu, Min ho .. saya berjanji .. tiga hari, beri saya waktu tiga hari ... saya akan bergabung denganmu tiga hari kemudian .. ", Angel melanjutkan kata-katanya yang tadi terpotong.
Mataku terbelalak lebar. Angel tersenyum nakal kepadaku. Sekarang aku tahu bahwa dia sengaja mempermainkanku dengan perkataannya yang pertama. Aku berlari kearahnya dan mengangkat tubuhnya keatas.
"Yuhuiiiiiii .. !!!!! ", teriakku keras.
"Ha .. ha ..ha ... ahhhhh ... "
Angel tertawa lepas dengan berpengangan erat di leherku. Dia takut aku menjatuhkannya ke lantai. Aku tidak perduli dengan kekhawatirannya. Kebahagiaan sudah membuatku lupa segalanya. Aku berputar di tempat dengan Angel yang masih dalam pelukanku.
****************
Hari pertama .......
Setelah sepuluh tahun akhirnya aku kembali lagi ke sini. Kota Seoul, kota kelahiranku ... sudah sangat berubah. Kenangan masa kecil perlahan merasuki pikiranku. Hidup sederhana tapi cukup bahagia. Yang disayangkan semuanya begitu pendek. Setelah kematian ibu, semuanya berubah. Aku mengeleng perlahan. Berusaha untuk mengusir semua kenangan pahit itu.
Sekarang aku dan timku, Raymond cs, sedang dalam perjalanan ke tempat tinggal sementara yang sudah dipersiapkan oleh perusahaan, dimana kami akan menginap selama sebulan lamanya. Pikiranku sudah cukup jernih setelah usaha keras yang kulakukan tadi. Pandanganku terlempar keluar jendela. Tidak banyak pohon yang tertanam sepanjang jalan raya. Gedung-gedung bertingkat sudah mendominasi setiap sudut kota.
Kemudian pandanganku jatuh ke banner besar dengan tulisan 'Great Building and Seoul Spirit, Co.' yang terpasang di atas sebuah gedung besar setengah jadi yang berdiri kokoh di sebuah lapangan besar sebelah kanan jalan raya.
"Hentikan mobilnya Mr. Kim !!!! ", teriakku mendadak, dalam bahasa korea.
Mr. Kim melirik sekilas dari kaca spion depan. Dia mengangguk pelan, lalu memperlambat laju mobilnya. Dan akhirnya memarkir mobil tersebut di pinggir jalan raya yang tidak bergaris kuning. Raymond yang duduk disampingku mengerutkan alisnya. Dia mengikuti arah pandangku lalu menghela nafas.
"Apakah tidak sebaiknya kita istirahat dulu setelah perjalanan yang cukup melelahkan ini? .. Leader tidak bermaksud bekerja sekarang, kan?", tanya Raymond dengan tampang cemas.
Aku tertawa perlahan. Tampang Raymond benar-benar memelas. Begitu juga dengan tiga rekannya yang lain.
"Tidak, saya hanya ingin melihat dulu keadaan di sini .. kalian tidak perlu ikut denganku .. pulanglah ke apartemen dan beristirahatlah yang cukup .... berperangnya besok saja he ..he .. "
Aku membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Raymond menjulurkan leher dan menyisipkan kepalanya keluar jendela.
"Leader tidak apa-apa kan melakukannya sendirian?", tanyanya.
Aku mengacungkan jempol sebagai tanda akan baik-baik saja. Raymond mengangguk kemudian menarik dirinya kembali ke dalam mobil.
"We can go now, Mr. Kim ... "
Mesin mobil dihidupkan dan sebentar saja mobil itu sudah melaju di jalan raya, meninggalkan abu yang cukup banyak ke belakang.
*************
Sekarang aku berdiri tegak di depan gedung setengah jadi yang terpisah oleh lapangan berumput tebal. Wajahku mendongak ke atas dan memperhatikan gedung yang baru berdiri setengahnya itu. Gedung bertingkat yang seharusnya didirikan dengan tingkat lima puluh itu kelihatan menyedihkan dengan panggung yang masih menempel di samping dan alat-alat pengungkit yang masih berserakan di sekelilingnya.
Di tengah lapangan tampak segerombolan orang yang sedang mendorong satu sama lain. Berbagai kamera dan alat perekam tergenggam di tangan mereka. Kelihatannya mereka adalah para wartawan yang sedang meliput berita dari peristiwa tragis yang terjadi beberapa hari yang lalu. Aku bermaksud menerobos kumpulan para wartawan itu ketika dua orang petugas keamanan menghalangi langkahku.
"Maaf tuan, tempat ini sudah dipugar, orang yang tidak berkepentingan dilarang memasuki daerah ini, jadi harap tuan pergi dari sini sekarang juga ... "
Dahiku berkerut mendengar perkataan yang tidak bersahabat itu. Aku tetap tidak beranjak dari tempatku walaupun kedua security itu sudah mengunakan tangannya, mendorongku ke belakang. Emosiku mulai bangkit. Dan hampir saja kuledakkan kalau saja tidak teringat olehku bahwa mereka hanya melakukan tugasnya.
Dengan enggan aku mengeluarkan kartu pengenal 'Great Building' dari saku kemeja dan memperlihatkannya kepada mereka. Untuk sejenak kedua orang itu saling melempar pandangan satu sama lain. Kemudian keduanya membungkuk hormat kepadaku.
"Ohhh maafkan kami tuan .. kami tidak tahu kalau anda adalah utusan dari Great Building Hong Kong .. Apakah tuan berniat menemui Mr. Jung sekarang juga? Beliau sedang berada di dalam gedung sekarang ... "
Aku segera mengangkat tangan ke atas.
"Tidak!! .. saya hanya ingin melihat-lihat keadaan sekitar sini ... hari ini saya datang dengan status non-formal jadi kalian tidak perlu menghubungi Mr. Jung ... "
Kedua orang itu kembali saling melempar pandangan. Mereka mengangguk pertanda mengerti.
"Tapi keadaan disini sedang tegang sekarang .. sebaiknya kami membuka jalan buat tuan supaya bisa memasuki gedung itu dengan lebih leluasa ... ", tawar mereka.
Kualihkan perhatian ke depan lagi. Keributan mulai terdengar dari kumpulan para wartawan di barisan depan. Aku mengangguk. Apa yang mereka katakan itu benar adanya. Akan sulit bagiku untuk menerobos kumpulan para wartawan itu jika sendirian. Kedua orang petugas keamanan yang sigap itu mulai bekerja. Mereka mendorong para wartawan yang menghalangi jalan ke kanan dan kiri satu persatu. Aku mengikuti jalan yang telah dibuka oleh mereka dari belakang. Para wartawan yang tidak mengenalku itu tetap saja membidikan kameranya kearahku. Sinar-sinar menyilaukan mulai menyakitkan sepasang mataku yang memang sudah lelah.
Dengan susah payah akhirnya aku berhasil keluar dari kepungan para wartawan yang haus berita itu. Begitu terlepas dari barisan paling depan, aku menghembuskan nafas lega. Baru saja aku berniat melanjutkan langkah ke depan ketika tiba-tiba teriakan keras terdengar dari belakang. Aku berbalik. Gerombolan di belakang itu terdorong ke depan dan seseorang yang berada di barisan depan terpental keluar. Dan tak pelak lagi kepala orang itu mendarat keras di dadaku.
Pakkkkkkkk ........................
"Akhhhhhhhhhhhh ............... ", teriakan yang hampir bersamaan keluar dari mulut kami.
Orang itu mendongakkan wajahnya. Ternyata dia seorang gadis. Kulit putih mulusnya menjadi merah di bagian jidat akibat menabrak dadaku tadi. Sepasang matanya yang besar berputar kesana kemari dengan gelisah dibalik kacamatanya yang cukup tebal. Sedangkan rambutnya yang pendek terselip di balik kupluk merahnya. Dia kelihatan sangat gugup.
"Joesonghaeyo .... ", dia membungkukkan badan berkali-kali kearahku.
Dahiku berkerut. Gadis ini membuat perasaanku tidak senang. Entah mengapa semangatku yang tadi mengebu-gebu langsung lenyap begitu melihat tampang gugupnya. Mulutku terbuka, bersiap mengeluarkan suara ketika seseorang menerobos keluar dari barisan di belakang kami.
"Heiiii Goo Hye Sunnnn .. apa yang kamu lakukan disini? ... saya kan tadi menyuruhmu menunggu Mr. Jung keluar dari dalam gedung, mengapa kamu malah ikutan yang lain berbaris disini? ... ayooo ikut denganku!!!". Orang yang keluar dari barisan para wartawan tersebut langsung menarik tangan si gadis gugup yang kelihatan bodoh itu pergi dari situ.
Gadis gugup dengan tampang bodoh itu masih menengok kearahku. Bibirnya mengucapkan permintaan maaf berkali-kali sampai akhirnya lenyap di antara kumpulan orang-orang disana. Aku mengeleng keras. Perasaan tidak senang itu masih menganjal di hatiku. Sekali lagi aku menyalahkan kedatanganku kesini.
****************
Goo Hye Sun ....
Lagi-lagi aku disalahkan oleh Hyo Joo. Sebenarnya dia sendiri yang menyuruhku merebut barisan depan supaya bisa mendapatkan foto-foto bagus dari Mr. Jung. Tapi setelah ternyata Mr. Jung telah pergi lewat pintu belakang dan kami tidak berhasil mendapat selembar fotopun, sekarang aku yang disalahkan.
Lima belas menit kemudian, keadaan di sekeliling gedung itu menjadi sepi. Para wartawan yang lain sudah bubar semua setelah mendapat kabar bahwa Mr. Jung sudah pergi dari tempat itu. Aku berdiri membisu di tempat. Sementara Hyo Joo melirik jam tangan merahnya.
"Hmmmm .. kamu pulang saja ke kantor sekarang, Hyesun aa .. saya masih ada kerjaan lain .. tapi ingat liputan hari ini harus kamu tulis, sesingkat apapun itu, araso ... "
Aku mengangguk. Kalau sudah begini aku sangat membenci diriku sendiri. Selalu saja menyetujui perkataan orang lain walaupun hati kecilku memberontak. Hyo Joo memberikan bawaannya yang berupa tas jinjing besar kepadaku. Aku menerima dengan pasrah. Kemudian dia meninggalkanku seorang diri.
Aku berjalan lesu dengan bawaan yang berat. Sangat lelah. Seperti hari-hari biasa yang kujalani. Aku memasuki cafe' kecil yang terletak di gedung sebelah. Kuedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. Cafe' itu sudah penuh oleh pelanggan. Tidak ada tempat yang tersisa kecuali sebuah kursi di meja paling sudut dekat jendela yang sudah diduduki oleh seorang pria.
Aku berjalan ke kasir dan memesan secangkir cappucino. Dengan susah payah aku membawa kopi beserta semua bawaanku ke meja di sudut ruangan. Badanku sudah terasa remuk. Kujatuhkan diri ke kursi kosong yang berhadapan dengan pria yang telah duduk disana. Kuletakkan semua bawaanku ke lantai dan mulai menghirup kopi yang tertutup oleh busa susu itu. Aku tidak menyadari kalau pria dihadapanku sejak tadi memperhatikan semua gerak gerikku.
Kringgg ... kringggg .... kringggg .....
Aku tersentak. Dengan gugup kuraih tas besar dari lantai dan mulai mengeledah isinya. Tidak kutemukan. Sementara bunyi ponsel itu semakin nyaring. Aku semakin gelisah. Kuangkat tas itu keatas dan menuangkan isinya ke meja. Semua isi tasku berserakan di atas meja. Ada beberapa malah jatuh ke lantai. Dan .. malang bagiku, ponsel yang sejak tadi kucari terpental dari meja dan mendarat sukses ke dalam cangkir pria di hadapanku.
"Heiiiiiiiiiiiiii .............. apa-apaan ini???", pria itu berteriak keras.
Aku sangat terkejut. Ketakutan mulai menghinggapiku. Bagaimana mungkin kesalahan ini bisa terjadi? Aku mendongak kearahnya.
"Joesonghaeyo ... maafkan saya .. saya tidak sengaja .... saya akan mengganti kopi anda .. sekali lagi joesonghaeyo ... ", aku membungkuk berkali-kali kearahnya.
Pria itu mengambil ponsel dari dalam cangkir kopi dengan jempol dan telunjuknya.
"Menurutmu mahalan mana, kopi atau ponsel?", tanyanya dengan nada dingin.
Aku tertegun. Sekali lagi aku menatapnya. Kali ini dahiku berkerut. Wajahnya kelihatan tidak asing bagiku. Tapi aku tidak ingat dimana pernah melihatnya.
"Hahhh????", mulutku tergangga lebar ketika mendengar pertanyaannya itu.
"Kamu terus-terusan minta maaf karena telah menjatuhkan ponsel ke cangkir kopiku makanya saya jadi ingin tahu apakah kopiku ini lebih mahal dari ponselmu?", pria itu kembali mengajukan pertanyaannya.
Aku mengangkat tangan dan mulai mengaruk kepalaku yang tidak gatal.
"Saya sudah membuat kopi tuan tidak bisa diminum makanya saya harus minta maaf kepada tuan .. joesonghaeyo .. ", aku kembali membungkukkan badan kearahnya.
Pria itu menghembuskan nafasnya.
"Sejak pertama melihatmu, kamu sudah minta maaf terus menerus kepadaku dan tidak kukira setelah pertemuan kedua tetap saja begitu ... "
Aku termangu. Samar-samar kejadian satu jam yang lalu kembali terbayang dalam pikiran.
"Ohhhhhh ... yang kutabrak tadi .. ahhhh .. mianata ... dan ... ohhhhh tuhanku .. aku harus pergi sekarang, telepon itu mungkin dari kantor .. kopimu akan kubayar ... "
Tergesa kumasukkan seluruh barang yang berserakan di atas meja dan lantai juga ponsel dalam genggaman pria itu ke dalam tas. Kukeluarkan uang 7.000 won dan meletakkannya di hadapannya. Dia memprotes tapi aku sudah beranjak dari situ dengan barang bawaan di kedua tanganku.
Pemuda itu, yang tidak lain adalah Lee Min Ho memperhatikan uang dihadapannya dengan mulut komat kamit.
"Dasarrrr gadis gila ..... huhhhhh ...... saya harus cepat-cepat menyelesaikan semua masalah ini dan pulang ke Hong Kong, jika tidak saya juga akan menjadi gila ... "
**************
Aku sampai di kantor sekitar pukul 4 sore. Para rekan kerja langsung mengelilingiku. Mereka bukan menyukaiku sehingga mengelilingiku seperti itu. Kumpulan file di tangan mereka beterbangan ke meja kerjaku yang sudah penuh oleh file lain.
"Seperti biasa ya, Hyesun a ..... ", kata mereka hampir bersamaan.
Aku mengangguk. Semua bawaan kujatuhkan ke lantai. Perlahan kujatuhkan diri ke kursi dekat meja kerja.
"Dongsaeng aa ..... "
Sentuhan lembut di pundak membuatku berpaling. Kakak angkatku, Joo Ji Hoon, sudah berdiri di sampingku.
"Ohhh oppa ..... ", desahku pelan.
"Dimana Hyo Joo? Bukankah tadi dia keluar bersamamu?", Ji Hoon mengerutkan alisnya sambil menatap tajam kepadaku.
"Ohhh Hyo Joo sunbae katanya masih ada urusan lain jadi dia menyuruhku pulang duluan ... ", jawabku pelan.
"Ada urusan lain katanya ... huhhhh .. selalu saja begitu ... dia selalu memperalatmu ... dia hanya mengunakanmu untuk membantunya membawa peralatan kerjanya saja ... ", suara Ji Hoon bergetar karena menahan emosi yang siap meledak.
"Oppa jangan begitu, .. saya baik-baik saja kok ... ", kataku, berusaha untuk memadamkan api kemarahannya.
Ji Hoon menghela nafas panjang. Dia tahu bahwa tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengubah kebiasaan burukku itu.
"Ya, sudah .. segeralah selesaikan pekerjaanmu .... "
Aku mengangguk. Ji Hoon kembali ke meja kerjanya. Dan aku memulai pekerjaan yang menumpuk dihadapanku.
*************
Pukul 6:30 sore .....
Semua karyawan sudah mulai meninggalkan kantor satu persatu. Aku masih sibuk dengan berita olahraga dalam genggaman tangan yang seharusnya bukan bagian dari departemenku ketika Ji Hoon sudah berada di sampingku.
"Apakah kita bisa pergi sekarang?", tanyanya.
Aku mengalihkan perhatian dari kumpulan kertas di tanganku kearahnya dengan tampang melongo. Untuk beberapa saat aku tidak mengerti arti dari perkataannya.
"Kamu lupa kalau hari ini ulangtahun appa?", tanya Ji Hoon lagi. Wajahnya berkerut.
"Ahhhh tidak!! tentu saja saya tidak lupa .... tapi .. saya tidak bisa pergi sekarang ... pekerjaanku masih banyak ... ", jawabku dengan tampang memelas.
Ji Hoon mengedarkan pandangan ke meja kerjaku yang berantakan.
"Apakah perlu oppa tinggal disini dan membantumu?"
Aku mengeleng cepat.
"Tidak!! Oppa jangan melakukan itu ... jika oppa juga tinggal disini, siapa yang akan menemani appa dan omma di hari yang penting ini .."
Setelah mengatakan itu, aku membuka laci meja kerja bagian bawah dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah yang terikat pita emas dari dalamnya. Kuletakkan kotak kecil itu ke tangan Ji Hoon.
"Tolong berikan ini kepada appa dan sampaikan kata selamat ulangtahun dariku ... "
Ji Hoon tidak beranjak dari tempatnya. Tatapannya masih terarah tajam ke mataku. Tampangku semakin memelas. Akhirnya dia menarik nafas panjang dan menyerah. Perlahan dia kembali ke meja kerjanya dan meraih tas ransel yang tergeletak di lantai, kemudian berjalan keluar dari situ.
**************
Pukul 7:30 malam .... Lee Min Ho ...
Aku baru selesai membersihkan diri. Dan membalutkan sweater tebal ke tubuh ketika ponsel di meja depan berbunyi. Agak tergesa aku berlari keluar dari kamar mandi menuju ponsel terletak. Kuraih ponsel berwarna putih mulus itu dan melirik nama yang tertera di monitor. Senyum tipis langsung tersungging di bibirku.
"Hallo .. Angel ... "
"Ya, Min Ho ... bagaimana keadaan disana?", suara Angel menyahut sapaanku dari seberang.
"Buruk .. lebih buruk dari perkiraanku semula .. tapi jangan khawatir, saya masih mampu menanganinya ... dan .. kapan kamu akan bergabung denganku ?"
"Saya percaya dengan kemampuanmu, Min Ho .. jadi jangan putus asa ... mama hari ini sudah keluar dari rumah sakit, keadaan beliau sudah baikan .. saya rasa saya bisa menepati janjiku, tunggu saja .. tiga hari lagi saya akan bergabung denganmu ..."
"Baiklah, saya akan menantikan kedatanganmu .... "
"Ya sudah kalau begitu .. sampai ketemu lagi, Min Ho ... "
"Bye ... Angel ... saya berharap bisa segera bertemu denganmu .. banyak masalah dan orang-orang tidak menyenangkan yang saya temui hari ini ... saya sangat merindukanmu ... "
Hubungan telepon diputuskan. Perutku yang belum diisi sejak tadi siang berbunyi nyaring. Aku melangkah ke dapur. Mengeledah semua laci tapi tidak menemukan makanan yang kuinginkan. Begitu juga dengan lemari es yang kosong melompong. Aku mendesah tertahan. Benar-benar menyebalkan. Sejak tiba di korea ini tidak ada yang beres.
Bergegas aku masuk ke kamar dan menganti pakaian. Jas panjang yang membalut tubuhku kuikat rapat-rapat di bagian pinggang. Udara di luar sangat dingin. Dengan agak mengigil aku keluar dari apartemen yang sepi itu.
************
Goo Hye Sun .....
Perutku mulai keroncongan. Kubuka laci satu persatu. Tidak ada makanan pengenyang perut yang tersisa. Hanya beberapa batang coklat dan sekantong permen yang ada disitu.
"Huhhhh .... ", desahan berat keluar dari mulutku. 'Tidak bisa begini, saya harus mencari makanan di luar, saya sangat lapar sekarang'.
Kuraih jaket tebal yang tersampir di kursi dan memakainya. Ketika bermaksud keluar dari situ, aku teringat sesuatu. Tergesa aku berbalik dan mengeledah meja kerja yang berantakan. Dua menit kemudian kutemukan seuntai kunci yang terselip diantara kertas-kertas yang berserakan di meja. Kuraih kunci itu dan berlari keluar.
************
Aku sampai di 7 Eleven yang terletak di lantai dasar gedung dan mulai memasukkan beberapa gelas mie instant ke dalam keranjang. Aku tidak mau berpikir untuk makan makanan yang enak lagi. Yang penting sekarang adalah makanan siap seduh, cepat dan praktis untuk dimasukkan kedalam mulut.
Aku berlari ke kasir dan menjatuhkan ranjang yang kupengang kehadapannya. Beberapa saat kemudian orang itu menyebutkan harga yang harus kubayar. Aku merogoh ke dalam saku jaket tapi tidak kudapatkan dompetku disana. Saku celana juga tidak ada. Penyakit gugupku mulai kambuh. Berkali-kali aku melakukan tindakan yang sama. Merogoh kesana kemari namun tetap tidak kutemukan dompet itu.
"Joesonghaeyo ... saya rasa .. saya rasa dom ... dompetku ketinggalan ... ", kataku dengan suara gemetar.
Orang itu melongo kearahku. Aku membungkuk berkali-kali kearahnya. Begitu juga permintaan maaf terlontar berulangkali dari mulutku.
"Joesonghaeyo ... joesonghaeyo ..."
"Barang yang dia beli masukan dalam pembayaranku ... ",
Perkataan itu membuatku terperanjat. Aku langsung mengangkat wajah dan menoleh kebelakang. Dan .. ternyata pria itu lagi. Dia berjalan kesampingku dan menuangkan semua belanjaannya ke meja kasir. Aku membisu, tidak dapat mengeluarkan suara. Lima menit kemudian kami keluar dari toko dengan tampang kaku.
"Nihhh ... ", pria itu menyodorkan kantong yang berisi mie instant kepadaku.
Aku menerimanya sambil membungkukkan badan.
"Khamshamida .... dan maafkan saya tadi .. saya tidak bermaksud curang, hanya saja dompet saya ketinggalan di kantor ... oh ya, kamu tunggu saya disini, saya akan keatas dan mengembalikan uang yang telah kamu keluarkan tadi ..."
"Sudahlah .. lupakan saja .. ", kata pria itu dingin. Wajahnya tidak bersahabat. Kemudian dia melanjutkan perkataannya lagi.
"Anggap saja ini bayaran buat kopi yang telah kamu ganti sore tadi ... ",
Sebelum aku mampu mengeluarkan suara, pemuda itu sudah beranjak dari tempatnya. Tapi hanya sampai beberapa langkah, dia berbalik lagi kearahku.
"Saya tidak ingin bertemu lagi denganmu dan saya berharap ini merupakan perjumpaan kita yang terakhir kalinya .. sejak bertemu denganmu siang ini, sudah banyak hal buruk yang terjadi padaku ... "
Aku tertegun. Perhatianku terpusat ke punggungnya yang semakin lama semakin mengecil dan akhirnya lenyap dari hadapanku. Hal buruk katanya ... benar, pertama aku menabraknya, kedua ponselku jatuh kedalam cangkir kopinya yang belum tersentuh dan yang terakhir ini lebih parah lagi, dia harus membayar untuk sesuatu dan seseorang yang belum dikenalnya.
Kembali, untuk kesekian kalinya hari ini, aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya kuat-kuat. Setelah itu aku mulai melangkahkan kaki, memasuki gedung 'Daily News' yang sudah kelam terbalut dewi malam.
*************
Mie gelas sudah kuseduh. Kubawa ke tempat kerja dan meletakkannya ke pojok meja yang masih kosong dari kertas-kertas yang bertaburan. Pandanganku beredar ke meja kerja yang berantakan. Sebagian pekerjaan yang diserahkan kepadaku sudah kuselesaikan sedangkan sebagian lagi masih menumpuk di meja.
Kujatuhkan tubuh ke kursi dan mulai mengerjakan pekerjaan yang tersisa. Aku begitu larut dalam pekerjaan itu sehingga lupa waktu. Setengah jam kemudian baru teringat olehku mie gelas yang terlantar di pojok meja. Aku meniup nafas kuat-kuat dan mendesah panjang. Kuraih mie gelas itu dan membuka tutupnya. Sekali lagi hembusan kuat keluar dari mulutku. Mie di dalam gelas itu sudah mengembung semua. Seleraku langsung lenyap. Tapi aku tidak punya pilihan lain kecuali memakannya.
Baru saja aku menyumpit mie itu dan bermaksud membawanya ke mulut ketika suara berisik dari belakang mengejutkanku. Aku berpaling dan menajamkan penglihatanku ke sana. Pintu kantor direktur Chan terbuka. Direktur muda yang baru memimpin kantor koran kami selama seminggu setelah mengantikan ayahnya, pak presiden direktur, Mr. Chan tua, keluar dari ruangan itu.
Aku sangat terkejut. Tergesa kujatuhkan mie gelas di tanganku ke atas meja dan mulai menutupi semua kertas di hadapanku dengan koran lama. Tapi terlambat, direktur muda, Sammul Chan, sudah berdiri di sampingku. Aku langsung gelisah. Mataku terpejam rapat dan bibirku bergetar hebat. Kugigit bibir bawah dengan kuat.
Sammul memandangiku sesaat. Aku dapat merasakan pandangannya yang tajam. Kemudian dia memindahkan pandangan kearah meja. Disingkirkannya koran yang menutupi sekeliling meja. Aku semakin merapatkan sepasang mataku.
"Hmmmm .. saya perhatikan kamu bekerja sampai larut malam terus setiap hari ... "
Aku membisu, tidak mampu mengeluarkan suara. Sammul kemudian melanjutkan perkataannya.
"Lembur setiap malam tidak menunjukkan bahwa kamu giat bekerja tapi menunjukkan bahwa kamu itu pekerja yang lambat ... kamu tahu apa yang akan kulakukan terhadap seorang pekerja sepertimu?"
Aku sangat terkejut mendengar pertanyaannya. Kepalaku terangkat dan Mataku langsung terbelalak lebar kearahnya.
"Sa .. sa .. ya ... joesonghaeyo ... "
Sammul mengenyit. Pandangannya kembali beredar ke atas meja. Dan matanya semakin menyipit ketika melihat berita olahraga, entertainment, iklan dan bahkan resep masakan berserakan di sana. Diraihnya salah satu dari kertas itu dan mengarahkannya kepadaku.
"Apakah ini juga merupakan tugasmu? Resep masakan? ... bukankah kamu itu bagian headline? Mengapa berita yang lain juga kamu kerjakan?"
Pertanyaan bertubi-tubi itu tidak mampu kujawab. Sammul mengelengkan kepalanya. Kemudian perhatiannya jatuh ke mie gelas yang terletak di meja.
"Ini makan malammu? ... ohhh ... kenakan jaketmu dan ikut saya keluar ... "
Mataku semakin melebar. Kacamata di hidungku melorot ke bawah. Dengan gugup kudorong kacamata itu keatas.
"Ayo, kita makan di luar saja! .. pekerjaan itu ditinggalkan dulu, nanti saya akan membantumu mengerjakan semuanya ... "
Aku semakin terkejut. Bagaimana mungkin direktur Chan bisa bersikap sebaik ini kepadaku? Sebelum keterkejutanku hilang, Sammul menarikku berdiri dari tempat duduk sementara tangannya yang satu lagi meraih jaket yang tersampir di sandaran kursi.
***************
bersambung ke chapter 2 ~~~