Author Topic: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~CHAPTER 18, ENDING, update 27 Mar'12~  (Read 44135 times)

Chainezz_Vian

  • Guest
Hebat nya mamii. . . .  Uda ma0 tepar tp tetep sempet buat OL. . . Salut dech. . .
gw ol sambil coba2 melanjutkan ff ini. tp ttp sulit. otak ga bisa diajak kompromi, ga spt kemarin [sweat]

wah, bisa ky gitu mii, brarti mami msti nyari rasa pangsit ky kmaren lagi. . . . Biar lancar. . . . . . Lg sistem otak nya. Wkwk XD

Oce dech mii. Cayo!!! [smiley-gen013] 
yg pnting uda usaha kn mii bwt update. . .

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




Hari keduapuluh dua, … kamis, 24 Desember 2009, waktu setempat ….

Tok .. tok .. tok …

“Masuk!” perintahku, tanpa beralih dari maket yang kutekuni.


Drekkk ….

Aku mendengar pintu dibuka.

“Leader … “

Suara Raymond memasuki pendengaranku.

“Hmm .. ,” sahutku, masih sibuk dengan rancangan maket di atas meja.

“Denah-denah Great Building & Seoul Spirit bagian kami .. “ Raymond menyodorkan kumpulan denah di tangannya sambil mengamatiku. "Apa itu?"

Aku mengangkat wajah dan menerima kumpulan denah yang disodorkan Raymond. Kutaruh kumpulan sketsa itu di atas meja. Sambil mundur selangkah ke belakang, aku memperhatikan maket itu. Sepasang tanganku menekan bagian pinggang.
"Hanya perbandingan buat sketsa-sketsa yang telah dibuat ... ," jawabku dengan nada tenang.

Lalu aku kembali ke meja kerja dan menghempaskan diri di kursi. Kuambil sketsa-sketsa yang tadi diberikan Raymond dan mulai kuperiksa  dengan teliti. Membukanya satu-persatu dan lembar-perlembar. Raymond memperhatikan keseriusanku dari seberang meja.

“Apa ada kekurangannya?” tanya Raymond khawatir.

Aku sampai pada lembaran terakhir. Pensil di tangan kananku mengetuk-ngetuk daun meja berulangkali.

“Bagaimana?” ulang Raymond.

Aku tidak menjawab. Pandanganku menelusuri garis-garis lurus dan lengkung yang terlihat rumit dari sketsa tersebut. Selesai dengan itu, aku menengadah pada Raymond. Aku tersenyum dan merapikan lembaran-lembaran sketsa yang diberikannya padaku.

“Beres!’ jawabku.

“Yeahh!!” Raymond langsung berseru keras. Tangannya mengacung ke atas dengan mata terpejam yang ditekuk keras-keras kegirangan. “Yeah! Yeah!” dia berteriak lagi, dan melompat-lompat seperti anak kecil.


“Sudah, sudah!” aku tertawa kecil. “Kendalikan emosimu, Ray. Jangan terlalu gembira dulu. Masih banyak yang harus kita selesaikan.”

Raymond menghentikan kegilaannya. Dia berbalik padaku. “Apa harus dikerjakan sekarang?” tanyanya tak rela.

Aku tertawa lagi. Kelakuannya hari ini benar-benar layaknya anak kecil.

“Sedikit lagi. Please .. ,” kataku sambil tersenyum. “Kita harus menyempurnakan segala sesuatu yang sudah kita mulai hari ini .. Jangan lupa dengan pesta air nanti malam. Waktu kita terlalu sempit untuk bersantai-santai,” sambungku. Berusaha memberi penjelasan padanya.

Raymond menatapku serius. Akhirnya dia mengangguk walaupun tidak begitu rela. “Apa itu?”

Aku mengalihkan perhatian ke meja, kemudian menarik selembar sketsa yang belum selesai.

“Bagian sauna Florest Hotel. Cuma menyempurnakan bagian belakangnya.” Aku menyerahkan denah itu pada Raymond. “Thanks .. “

Raymond mengangkat bahunya. “You’re welcome.”

Dia menerima kertas denah itu dan mulai mengamatinya. Aku tersenyum dan meneruskan kembali pekerjaan yang tertunda. Kuraih pensil dan penggaris, lalu mulai mengoreskan sesuatu di selembar kertas besar warna putih. Bertepatan dengan itu, ponselku berdering.

Kring .. kring .. kring …

“Leader … ,” tegur Raymond begitu melihat aku tidak beralih dari tumpukan sketsa di atas meja.

“Tolong diangkat, Ray! Lagi tanggung nih .. “

Raymond ragu-ragu, sebelum akhirnya meraih ponsel yang masih berteriak-teriak minta diangkat itu. Dia membaca si penelepon yang terpampang di layar monitor.

“Angel … ,” gumamnya—tak tertangkap olehku.

“Siapa?” tanyaku tanpa melepaskan pensil dan penggaris yang sedang menari luwes di atas selembar kertas desain.

“Angel …” Nama itu kembali terlontar dari bibir Raymond. Kali ini lebih keras.

Aku meliriknya. “Diangkat saja … “

“Tapi … “

Dia terlihat gelisah sehingga kesibukkan-ku jadi tertunda.

“Mengapa?” selidik-ku. “Ada masalah?”

“Ti .. tidak … ,” jawabnya gugup.

Aku semakin bingung dibuatnya. Kuletakkan pensil dan penggaris ke atas meja dan berjalan kearahnya.

Kring .. kring … kring … , ponsel yang tadi berhenti, berbunyi lagi.

“Oh .. “

Raymond tersentak. Ponsel di tangannya hampir melayang ke lantai. Aku segera menopang tangannya.

“Are you okay?” tanyaku dengan kening berkenyit—heran.

Dia mengangguk linglung. Layaknya orang yang tidak menyadari kelakuannya sendiri. Pikirannya menerawang kemana-mana karena tanganku yang melambai di hadapannya seperti tak tertangkap oleh pandangannya. Aku menjadi curiga. Mengapa begini sikap Raymond begitu melihat sambungan telepon dari Angel? Mereka sangat aneh sejak berada di Seoul. Apa telah terjadi sesuatu yang buruk antara mereka?

Kring … kring .. kring …. Suara ponsel itu terdengar lagi.

Aku mempertajam pandangan pada Raymond. Dia tetap diam di tempatnya. Aku bergerak, menyambar ponsel tersebut dari tangannya.

”Hello Angel .. ,” sapaku cukup keras.

Terdengar nada tercekat dari ujung telepon. ”Ada apa?” tanya Angel. ”Mengapa suaramu sekeras ini?”

“O nothing.” Sahutku malas. “Hanya Raymond membuatku kesal.”

Tidak terdengar suara dari seberang.

“Hello! Are you still there?” tanyaku tak sabar. Mengapa orang-orang ini jadi plin plan begini?

“Yea … ,” jawab Angel tak jelas. ”Jadi Raymond ada di situ? Bersamamu?”

“Iya.” Balasku sambil melirik Raymond. Pemuda itu segera memalingkan wajahnya sehingga alisku berkenyit lagi.“Apa kamu ingin menyapanya?” tawarku pada Angel.

”Tidak!” jawab Angel cepat dan tandas.

Membuat wajahku langsung berkerut—bertanya-tanya. “Kenapa? Apa ada masalah di antara kalian?”

”Tidak … ,“ Angel tertawa hambar. ”Memangnya apa yang bisa terjadi pada kami?”

Aku berpikir sebentar.“Entahlah," akhirnya aku menjawab. "Hanya saja,  ... kalian terlihat lain. Sangat kaku. Tidak seperti hubungan kalian yang dulu."

Angel tertawa lagi. Tapi dia tidak memberi reaksi terhadap komentarku.

"Jadi kalian baik-baik saja?" selidik-ku.

"Yeah, of course." jawab Angel dua menit kemudian.

Aku menarik nafas dalam-dalam. "Syukurlah kalau begitu ... ," ujarku setengah percaya. "Kalau ada masalah yang tidak bisa diselesaikan, harap kalian memberitahuku .."

"Yea ... ,", jawaban itu lagi yang terlontar dari mulut Angel.

Sejenak, kami terdiam. Aku melirik Raymond lagi. Kali ini, pemuda itu berlagak menekuni lembaran sketsa yang tadi kuberikan padanya. Kepalanya bergerak-gerak seiring sepasang matanya yang bolak-balik dari coretan-coretan di atas kertas tersebut. Terlihat jelas perasaannya yang tak menentu. Aku menghela nafas berat. Apa susah berbagi rahasia denganku? Terlalu angkuh dan dingin-kah aku?

"Minho ... ," panggil Angel--memecahkan kebisuan di antara kami.

"Ya?" kataku dengan nada bertanya.

"Walaupun kecepatan ... ," kata Angel--dia tertawa kecil, " .. tapi tidak di sini. Merry Christmas ... "

Aku tertawa. Ya, baru kusadari--di Seoul, Natal sudah menyapa. "Merry Christmas .. " kataku lembut. Aku mendongak. Pada saat itu aku melihat Raymond menoleh padaku. Tapi hanya sesaat dia segera berpaling kearah lain. Untuk kesekiankalinya keningku berkerut.

"Thanks .. " sahutan dari Angel yang diiringi ketawa renyah membuyarkan lamunanku.

"You're welcome .. ," kataku. "Coba kamu buka laci kedua dari lemari baju dalam kamarku!" lanjutku. "Aku sudah menyiapkan hadiah Natal untukmu sebelum keberangkatan ke sini--dalam kertas kado warna pink .. ," aku tersenyum.

"What? Really?" Angel terdengar bersorak-sorak kegirangan dari seberang. Aku bisa membayangkan dia sedang meloncat-loncat dan menari-nari dalam kamarnya.

Suara ketawaku lebih keras lagi. "Yes. Hope you like it!!"

"Everything from you, Minho ... ," suara Angel berubah lembut, " ... i love it. really, i do .... "

Aku jadi salah tingkah. "Syukurlah .. " Agak gugup aku memperbaiki posisi berdiriku--yang aku percaya tertangkap semuanya oleh Raymond.

"O ya, bagaimana pekerjaanmu di sana? sukses?"

Pertanyaan Angel membuatku sedikit bisa bernafas lega. "Yea, nggak terlalu buruk. Saya rasa bisa selesai pada waktunya."

"Bagus kalau begitu."

"Yea." kataku. Sejenak keheningan kembali menyelimuti kami. Angel tidak bersuara. Aku juga tidak bersemangat memulainya. Aku jadi berpikir, sejak kapan hubungan kami jadi begini? Seingatku dulu--hampir sebulan yang lalu, ketika kami masih di Hong Kong--walaupun tidak bisa dikatakan sangat dekat--, hubungan kami tidak sekaku ini.

"Angel ... ," tegurku.

"Ya .. ," sahutnya pendek dan ... menerawang--seakan dalam pikirannya sedang berkecamuk beribu-ribu masalah.

"Apa kamu tidak tidur di jam segini?" tanyaku--mengingat di Korea sudah jam tiga dini hari.

Sesaat tak terdengar jawaban. Hanya suara kresak-kresek yang cukup berisik tertangkap telingaku dari ujung telepon. "Apa yang kau lakukan?" tak tertahankan, pertanyaan itu terlontar dari mulutku.

"Dapat!!" Angel berteriak dari seberang. "O tas genggam Chanel?"

Mataku menyipit, "Kamu membuka hadiah Natal dariku?" tebakku.

"Yes. And it's a Chanel bag." jawab Angel. Dia tertawa.

"Ya." desahku. "Aku tidak tahu apa yang kamu sukai. Itu .. tidak mengecewakanmu kan?"

"Tas chanel terbaru?" tanya Angel dengan nada tak percaya. "Tentu saja tidak. Saya sangat menyukainya. Thanks, Minho ... "

Aku mengangkat bahu. "Sama-sama." kataku.

Kemudian aku berjalan kembali ke meja kerja--dengan pandangan Raymond yang masih terus mengawasi gerak-gerikku secara sembunyi-sembunyi.

"Masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan, Angel." Kuhempaskan tubuhku ke kursi. "Kita bicara lagi lain kali."

"Tapi ... ," potong Angel ragu-ragu.

"Apa? Ada yang lain?" Tanganku mulai bergerak-gerak di atas selembar kertas desain.

"Hmm ... ," Angel berhenti selama beberapa saat. Kemudian, " ... tidak apa-apa." jawabnya dengan suara agak ditinggikan. "Selamat bekerja, Mr. Lee. Jangan terlalu memaksa diri. Ingat jaga kesehatanmu."

Kesibukkanku terhenti mendengar perkataan Angel. "Thanks .. ," kataku--tersenyum. "Kamu juga. Jaga kesehatanmu baik-baik. See you .. bye .. "

"Bye ... ".

Aku meletakkan ponsel ke atas meja, sementara pandangan kuarahkan pada Raymond. Dia bergerak dengan kaku dari posisinya, kemudian mendekatiku.

"Aku membereskan ini dulu, leader ... ," Raymond mengangkat kertas denah yang limabelas menit lalu kuberikan padanya. Dia kelihatan gelisah dan tidak berani menatapku. Matanya melirik gelisah ke segala arah. Ketika dia bermaksud berlalu dari ruang kerjaku, aku memanggilnya.

"Ray ... "

Raymond menghentikan langkahnya. Perlahan dia berbalik kearahku.

"Ya?"

Aku mengelus-ngelus dagu dan bangkit dari kursi. "Jika ada masalah, jangan segan-segan mendiskusikannya denganku .. ," kuletakkan tangan ke pundaknya dan mengerak-gerakkannya pelan--berusaha menenangkan kegelisahannya yang semakin memuncak.

"Sa .. saya baik-baik saja." dia menghindar. Aku dapat melihatnya. "Saya hanya terlalu capek. Itu saja." lanjutnya pelan.

"Really?" tanyaku tajam. "Aku tidak ingin ada kebohongan."

"Tentu saja." dia tertawa dan terasa hambar. "Saya pergi dulu, leader .. "

"Baiklah." aku menyerah dan kembali ke kursiku. "O ya .. " sambungku sambil menarik maket yang sebelumnya kukerjakan dan mengamatinya. "Jangan terlalu memaksa si Ryan. Dia baru saja kehilangan seorang ayah dan tidak bisa menemaninya di saat-saat terakhir." aku menengadah pada Raymond. "Jika dia tidak mampu mengkonsentrasikan diri, suruh dia istirahat."

Raymond membalas pandanganku--termangu. "Leader, ini kamu?"

Wajahku berkerut--tidak mengerti pertanyaannya. "Maksudmu?"

"Apa ini leader yang saya kenal?" tanya Raymond semakin heran. Kepalanya dicondongkan kearahku. "Leader baik-baik saja kan?"

Aku tertawa kikuk dan segera menghindari tangannya yang hampir menyentuh jidatku.


"Tentu saja." jawabku. "Memangnya aku yang kamu kenal tuh seperti apa?"

Raymond berpikir sebentar. Tangannya mengelus-ngelus dagunya. "Hmm .. leader yang saya kenal, ... sangat, sangat percaya pada diri sendiri. Saya sering mengatakan ini. Leader tidak pernah mau mendengar pendapat orang lain. Tidak akan merubah pendirian dan ide-ide dari rancangan-rancangan yang telah dibuat walaupun berbagai pendapat dari luar terus menghadang. Terlalu mengagung-agungkan kemampuan sendiri. Leader juga tidak peduli dengan keadaan para bawahan. Selama pekerjaan bisa dikelarkan tepat pada waktunya, leader akan menghalalkan segala cara--bukan dalam arti negatif sih. Walaupun itu tidak kami sukai. Leader tidak pernah mau tahu." Raymond menelan ludah perlahan. "Tapi .. selama duapuluh hari terakhir, leader berubah. Bukan perubahan yang berlangsung cepat, tapi sangat terasa."

Aku tersenyum. "Lalu .. perubahan itu baik atau tidak?"

"Baik." sahut Raymond. Matanya bersinar cerah. "Leader kelihatan lebih manusiawi .. "

Aku langsung tertawa ngakak. "Kalau begitu, manusia, .. " aku menunjuknya, "Bereskan segera tugas-tugasmu."

Kutarik PC yang agak miring di atas meja--menghadap kearahku--dan dalam sekejap menenggelamkan diri kembali dalam pekerjaan-pekerjaan yang telah kutekuni sejak tadi pagi. Tangan kananku menekan bagian dagu dan bibir.


Kemudian jari-jariku mulai bergerak-gerak lincah di atas keyboard--memasukkan sketsa-sketsa yang sudah jadi ke dalam komputer.

"Jangan lupa acara nanti malam. Sekitar jam 7:30 ... ," pesanku tanpa beralih dari kesibukkanku.

"Beres .. ," Raymond mengacungkan jempolnya, lalu keluar dari ruang kerjaku.

 
**********




Goo Hye Sun ...

Grand Hotel, sebuah ballroom dengan fasilitas kolam renang di belakangnya, sekitar pukul 8:15 malam ..

"Ganti bajumu dengan ini, Hyesun-a .. "

Aku berbalik. Sesuatu melayang dari tangan Sammul ke arahku. Hup .. agak sempoyongan benda itu tertangkap oleh tanganku.

"Baju renang?" tanyaku keheranan.

"Iya, baju renang." Sammul sampai di sampingku. Dia tersenyum. "Kamu tidak membawanya kan?"

Aku mengangkat wajah--memandanginya. "Aku tidak bisa berenang. Kamu tahu itu. Lagipula ... " sambungku sambil mengelus-ngelus perutku dengan tampang memelas.

Pandangan Sammul mengikuti gerakan tanganku. Dia tersenyum lagi. "Kita tidak berenang kok," katanya menenangkan. "Habis makan memang tidak baik langsung berenang. Kita hanya berendam dalam air, ok? Dan jikapun berenang, aku akan mengajarimu, jadi jangan khawatir." Mendadak dia menarik tanganku. "Ayo, ganti bajumu!"

"Ta .. tapi ... ," aku berusaha membantah, tapi dia semakin memaksa. Tarikannya di tanganku semakin keras.

"Jangan begitu, Hyesun-a. Kita ke pesta ini karena ingin bersantai. Jadi, nikmatilah!'

Lalu dia mendorongku ke depan--ke sebuah ruangan yang pintunya tertutup. Di pintu itu tertempel sebuah plat dari besi bertuliskan 'Kamar Ganti Wanita'. Aku berdiri kebingungan di depan pintu itu.

"Masuklah! Aku juga akan menganti baju di kamar ganti pria. Kita bertemu kembali di sini."

"Tapi ... ," teriakanku tercekat di tenggorokan. Sammul sudah berlalu dari hadapanku. Perlahan sosoknya menghilang di balik pintu kamar ganti pria.

Aku menghela nafas--meniupnya kuat-kuat. Agak lemas, aku memasuki ruang ganti itu dengan mendorong pintunya yang memang tidak dikunci.

Tujuh menit kemudian aku keluar lagi. Sekarang sweater tebal dan celana panjangku sudah terganti dengan baju renang one piece. Malu-malu, sambil menarik di sana sini, aku berjalan kearah Sammul yang sedang memandang kearah lain.

"Emmm ... ," sapaku pelan.

Sammul menoleh padaku. Dia tampak mengangga--tapi hanya sesaat.


"Begitu dong." dia tersenyum. "Enjoy your time baby ... "

"A .. apa harus berenang?" tanyaku ragu-ragu. "Aku tidak yakin melakukannya."

"Tenang saja." Sammul menyambar tanganku. "Aku akan menjagamu."

Dia mengedipkan matanya. Membuat aku--mau tidak mau--tertawa simpul melihatnya.


**********




Lee Min Ho ...

bukkk ... pintu mobil depan ditutup olehku. Raymond cs keluar dari mobil setelah aku. Saat itu sudah pukul 8:30 malam--ketika van yang kukendarai berhenti di depan lapangan parkir Grand Hotel.

"Hmm agak terlambat dari waktu pembukaan acara .. ," gumamku setelah melirik jam tangan kulit yang melingkar di tangan kiri.

"Jangan lupa dengan kado-kado dan pakaian-pakaian gantinya, guys!" kataku pada Raymond sekawan.

Raymond dan Rex mengangkat dua kantong besar di tangannya.

"Siap boss!!" teriak mereka bersamaan--diikuti yang lain serempak.

Aku mengangguk puas. "Bagus!" kataku, "Kalau begitu ayo masuk ke dalam ... "

Kami memasuki lobi depan yang sangat luas. Beberapa pelayan hotel berseragam resmi langsung menyambut kedatangan kami. Begitu mengetahui identitas kami dari kartu-kartu pengenal yang kami tunjukkan pada mereka, kami langsung diantarkan ke tempat diselenggarakannya acara penyambutan Natal itu.


**********




Ballroom itu sangat luas. Dengan fasilitasnya yang luar biasa. Sebuah kolam renang yang besar dan berair bening berada agak dibelakangnya--sedikit tertutupi oleh pembatas dari kayu berbordiran yang menyentuh lantai sampai langit-langit ruangan.

Kedatanganku dan Raymond cs langsung disambut tuan Ma yang tengah berbincang-bincang dengan putra dan menantunya, Kenneth Ma dan Fenny Wu, beserta beberapa direktur kepala bagian di dekat pintu.

"Ho ho partnerku yang luar biasa, akhirnya kalian datang juga .. ," kata tuan Ma berseri-seri. Tangannya bergerak menepuk-nepuk pundakku dan raymond cs secara bergantian.

Aku ikut tersenyum dan menyambut uluran tangannya. Begitu juga Raymond cs, diikuti oleh Kenneth dan Fenny.

"Kami merasa terhormat dengan undangan ini, tuan Ma. Maaf bahwa kami terlambat."

Tuan Ma segera mengangkat tangannya. Melarangku berkata lebih lanjut. "Jangan berkata begitu, Minho. Aku tahu kalian sangat sibuk mengelarkan tugas-tugas yang kuperintahkan pada kalian. Seharusnya aku yang minta maaf karena meminta kalian datang kemari dengan tugas-tugas sebanyak itu."

Saya mengeleng. "Tidak. Itu bukan apa-apa. Kami sangat senang bisa menyisihkan waktu buat acara menarik ini."

"Bagus." kata tuan Ma. "Apa kalian sudah makan?" tanyanya lebih lanjut. "Jika belum, kalian bisa mengambilnya di meja-meja di ruang tengah. Semua makanan tersaji di sana."

"Tidak perlu repot-repot tuan Ma. Kami sudah makan waktu perjalanan kemari. Kebetulan kami juga mesti beli hadiah-hadiah buat permainan undian berhadiah nanti. Ray .. ," aku berpaling pada Raymond yang segera menangkap maksudku. Dia menyerahkan dua kantong besar yang dijinjingnya. "Ini kado-kado dari kami." kataku sambil menyodorkan dua kantong itu pada tuan Ma.

Pria setengah baya itu tertawa lebar. "Bagus!" katanya. "Permainan nanti pasti akan lebih menyenangkan dengan keikutsertaan kalian .." dia menerima dua kantong besar itu dari tanganku, kemudian melambai ke salah satu pelayan hotel yang berseragam hitam putih. "Taruh ini di timbunan kado-kado yang lain. Sekalian beri nomor-nomor di setiap kadonya. Kami akan mengundinya nanti .. "

Pelayan itu membungkukkan badannya. "Baik, pak direktur." Dia menerima kado-kado dalam dua kantong besar tersebut kemudian meninggalkan kami--melakukan perintah yang diberikan padanya.

"Tuan Lee .. ," tiba-tiba Kenneth yang dari tadi tidak mengeluarkan suara berkata. "Mengapa anda tidak bergabung dengan Sam dan Hyesun?"

Aku berpaling padanya. "Sam dan Hyesun?"

"Ya." jawabnya sambil menatapku tajam. Entah apa yang ada dalam pikirannya!
Aku merasakan pandangannya sedikit menusuk.

"Mereka sudah berada di sini?"

"Iya. Ada di kolam renang belakang ... ," jawab Kenneth tanpa berkedip.

Badanku menegak. "Kalau begitu aku akan bergabung dengan mereka." kataku sambil membalas pandangannya. "Apa tuan muda Ma juga akan bergabung dengan kami?"

Pemuda itu mengeleng. "Tidak. Saya akan menemani istriku menari di lantai dansa."

Aku mengangguk. "Selamat berdansa kalau begitu." Kemudian aku berpaling pada tuan Ma dan membungkuk perlahan. "Kami permisi dulu tuan Ma."

Tuan Ma mengangguk.

Aku beralih pada Raymond cs. "Ayo!" Mereka mengikutiku, meninggalkan para petinggi dari Florest Capital.    


 
**********




Keluar dari kamar ganti pria, aku dan Raymond cs menuju kolam renang di belakang ballroom itu. Begitu sampai di tepi kolam renang, dua orang yang saling berpegangan erat di tengah kolam membuat mulutku terkatup rapat. Gigiku bergemelatuk keras dan telapak tanganku terkepal erat.

Sammul sedang mengandeng tangan Hyesun. Pemuda itu tertawa lepas, sedangkan Hyesun mengenggam tangannya erat-erat--seakan takut tenggelam di kolam renang yang batas airnya hanya sampai bagian dada. Gadis itu ikut tertawa canggung-canggung dengan sepasang mata yang tertutup kacamata renang berpinggiran biru.



"Leader, apa berenang juga?" tanya Ryan menyentakku dari lamunan.

Aku berpaling padanya. "What?"

"Berenang." jawab Ryan. "Apa Leader renang?" ulangnya.

"O .. ," mulutku terbuka. "Nanti saja." kataku. "Kalian saja dulu .. ," aku mengerakkan tangan ke depan.

Raymond cs mengangguk. "Kalau begitu kami berenang dulu."

Kemudian, kelompok kecil itu meninggalkanku dengan berisiknya. Mereka melompat kesana kemari sambil saling mendorong sehingga si bungsu yang malang, Ryan Wong, tercebur ke dalam kolam. Aku tertawa. Kekesalanku tadi terlupakan untuk sesaat.

"Iya, begitu Hyesun-a ... Bagus. Sekarang lepaskan tanganmu.... Tidak, tidak. Jangan takut. Aku akan tetap di sini ... "

Sesaat kataku, karena perkataan-perkataan penuh perhatian itu kembali memasuki telingaku. Membuat badanku kaku. Dan pandanganku menatap mereka dingin. Perasaan yang sangat kubenci dan seharusnya tidak kumiliki. Hyesun bukan apa-apaku. Lagipula dulu aku tidak terpengaruh dengan perasaan-perasaan--benci. Ya, itu kata yang tepat.--seperti ini--dan juga ... iri-- Iri karena ingin melakukan sesuatu tapi tak bisa. Iri karena ingin melepas sesuatu tapi juga tidak bisa. Sebenarnya iri pada satu orang, Sammul Chan.

 

 
**********




Aku masuk ke dalam air dan mendekati Hyesun dan Sammul. Mereka tidak menyadari kehadiranku, masih asyik dengan kegiatan mereka--tertawa dan berteriak kecil--, sampai punggung Sammul menabrakku yang berada di belakangnya.

"Oh .. ," dia segera berpaling. "Lee Min Ho-ssi?!" serunya kaget. "Sudah sampai? Sejak kapan kamu berada di sini?" tanyanya. "Sorry saya menabrakmu."

Aku tersenyum--hambar. "Tidak apa-apa." jawabku dingin. "Saya yang seharusnya minta maaf. Apa saya menganggu kesenangan kalian?"

"O tidak." jawab Sammul cepat. "Tentu saja tidak!" dia melepaskan tangannya dari tangan Hyesun. "Kami senang kamu bergabung dengan kami di sini .. ," dia berpaling pada Hyesun. "Benar kan, Hyesun-a?"

Hyesun tidak menjawab. Dia memperhatikanku. Sepasang matanya terbelalak lebar. Terlihat jelas dia belum mampu menguasai diri dari keterkejutan dengan kehadiranku di situ. Sammul mengenyitkan alisnya, kemudian dia menghela nafas.

"Saya mengundurkan diri sebentar, Minho-a .. ," dia beralih padaku. "Ada yang ingin saya bicarakan dengan paman Ma .. "

Aku meliriknya dan mengangguk. Entah sikapku terlihat menyebalkan atau tidak, aku merasa iya.

Sammul membalas anggukanku, kemudian berenang ke pinggir. Dia keluar dari kolam, mengambil handuk yang terlipat di atas bangku dekat situ--mengeringkan diri sekedarnya, kemudian bergabung dengan tuan Ma yang sedang berbincang-bincang serius dengan beberapa kolega bisnisnya.  


**********




"Kamu terkejut?" Tubuhku condong ke depan.

"M .. wo?" tanya Hyesun gugup.

"Dengan kehadiranku ..?"

"Ah .. niyo ... ," jawabnya sambil melirik kesana kemari. Kulitnya yang putih mulus semakin pucat. Entah karena takut atau kedinginan.

"Kemarin saya sudah bilang akan menghadiri pesta ini kan? Jadi kenapa masih terkejut begitu?"

Hyesun mengeleng keras-keras. "Sudah kubilang ahniyo!"

Aku tersenyum. "Benarkah?" godaku. "Kalau begitu .... "

Aku menarik tangannya--sangat mendadak. Hyesun sampai tersentak keras. Mulutnya mengangga lebar.

"Yaa .. yaa .. mau apa?"

"Tentu saja berenang." jawabku lembut. Aku mendekatinya. "Kamu percaya padaku kan?"

Kuamati Hyesun dari jarak dekat. Semula dia tidak berani membalas pandanganku. Tapi lama-kelamaan dia mengangkat wajah juga. Pandangan kami bertemu selama dua menit. Kemudian, Hyesun mengangguk perlahan.

"Kalau begitu, kacha .. "

Aku memegang tangan Hyesun dan dia mulai mengikuti langkahku--bergerak makin ke tengah kolam. Aku menyuruhnya mengerakkan tangan dan kakinya. Hyesun melakukan itu dengan ragu-ragu. Semula terlihat sedikit canggung.

"Saya tidak bisa .. ," berulangkali dia mengatakan itu.

Aku menepuk tangan dan pundaknya. "Kamu bisa, Hyesun-a. Hwaiting!"

Dia menatapku dan aku mengangguk dengan keras. "Ayo!" Tanganku yang terkepal kuayunkan. "Kamu bisa .. iya begitu. Bagus!"

Perlahan Hyesun melepaskan pegangan tangannya dari tanganku. Dia bergerak dalam air. Walaupun tidak luwes dan masih agak takut-takut, dia melakukannya. Dia berenang sejauh dua meter. Aku berada di sebelahnya dengan tangan terkembang,  siap menyangganya setiap saat.

"Sa .. saya .. berhasil .. ," katanya megap-megap di antara mulutnya yang kemasukan air.

"Paboya ... ," Aku menariknya berdiri sehingga dia bisa bernafas dengan lebih leluasa. Kemudian tanganku menyentuh kepala dan punggungnya. "Dengan aku sebagai guru renangmu, tentu saja berhasil .. ". Lalu kami tertawa berbarengan.

"Yeahhh!!" teriak Hyesun kekanak-kanakan.


“Pabo ..”

Sekali lagi suara ketawa kami pecah, memenuhi ruangan yang cukup ramai itu.

  
**********




Setengah jam kemudian, suara salah seorang pembawa acara--dari dua pembawa acara yang ada, yaitu pembawa acara cowok dan cewek, mengetarkan seisi ruangan.

"Ladies and Gentlemen ... ," MC/Master of Ceremonies cowok memulai. "Selamat datang di Grand Hotel, acara tahunan yang diselenggarakan Florest Capital dalam rangka penyambutan Natal di musim dingin ini,” dia berhenti sebentar dan memperhatikan reaksi orang-orang dalam ruangan itu. “Saya pembaca acara kalian, Edward Chow. Bersama partner saya malam ini ….. ,”  lanjutnya sambil berpaling ke MC cewek di sebelahnya. “Sabrina Lin … “

Para undangan dalam ballroom itu bertepuk tangan meriah.

“Thanks.” Edward membungkukkan badan, lalu meneruskan perkataannya yang tertunda, “Permainan laser air sebentar lagi akan dimulai. Bagi yang sudah mendaftarkan diri, dipersilahkan memasuki kolam renang ... ," dia berhenti dan mengambil nafas. "Untuk lebih jelasnya, biar saya mengumumkan para peserta buat permainan ini .. " Dia melirik partnernya, Sabrina. Membisikkan sesuatu, kemudian MC cewek itu menyodorkan secarik kertas kepadanya.

"Baiklah .. ," lanjut Edward. "Daftar para pesertanya sudah berada di tanganku. Sekarang aku akan membacakannya satu-persatu. Bagi yang sudah dipanggil namanya, harap segera mengabungkan diri di dalam kolam .. "

Edward mulai membacakan nama-nama para peserta. Beberapa pria dan wanita dari berbagai usia maju ke depan dan masuk ke dalam kolam begitu nama-nama mereka disebut—sampai pada peserta ke-sembilan.

"Miss Goo Hye Sun .. "

Aku melihatnya tersentak.

"Aku ... ?!"

Hyesun menunjuk dirinya dengan kebingungan.

"Bagaimana mungkin?" katanya lagi.

"Itu benar." jawab Sammul. "Saya yang mendaftarkanmu .. "

"Mwo?" Mata Hyesun melebar. "Ta .. tapi .. saya tidak bisa berenang ... "

Sammul tersenyum hangat. "Permainan ini tidak diharuskan bisa berenang kok." katanya. "Kita hanya butuh keterampilan dan kerjasama yang baik dengan partner kita .. "

"Partner?" Hyesun semakin tak mengerti.

"Iya, partner." jawab Sammul. "Nanti akan diundi siapa yang akan menjadi partnermu. Lagipula hadiahnya lumayan. Sepasang angsa kristal Swarovski. Angsa yang besar dan indah."

"Miss Goo Hye Sun .. ," terdengar suara si MC cowok. "Apa ada miss Goo Hye Sun?"

"She's here!!" seru Sammul.

Tangannya terangkat, kemudian dia mendorong pelan Hyesun ke depan.

"O ini dia!" teriak Edward bersemangat. "Silahkan masuk ke dalam kolam, miss Goo .."

Aku melihat agak sungkan Hyesun melompat ke dalam kolam. Lalu si MC cewek melanjutkan tugas MC cowok. Dia membaca nama-nama peserta yang masih tersisa. Ada Raymond dan Ryan di dalamnya, termasuk .. aku.

Sial, pasti pekerjaan Raymond cs! Mereka terlalu iseng malam ini! Dengusku dalam hati.

Aku maju ke depan dan bergabung dengan para peserta lainnya. Suara-suara berisik mulai terdengar ketika kedua MC tersebut mengutarakan tata cara permainan yang sebentar lagi berlangsung.

"Begini tuan-tuan, nona-nona dan nyonya-nyonya. Permainan yang akan kita lakukan ini sangat sederhana. Setiap grup akan dibagi jadi empat pasangan. Melihat jumlah peserta, kami membaginya dalam dua grup, grup A dan grup B. Sedangkan buat pasangan-pasangannya, akan dilakukan undian supaya adil. Tuan Ma yang akan melakukannya. Karena pemasangan ini melalui undian, kami tidak menutup kemungkinan pasangan-pasangan anda sekalian mungkin dari pasangan sejenis. Jadi bisa saja cowok berpasangan dengan cowok atau cewek berpasangan dengan cewek." Edward mulai tertawa renyah.

Dan tentu saja semuanya mulai ribut dan saling mendorong. Bukan dalam arti tidak senang, tapi mereka benar-benar sudah tenggelam dalam permainan yang belum dimulai itu. Teriakan-teriakan riuh mewarnai seisi ruangan.

"Okay!" teriak Sabrina keras. "Kami tidak akan membuat penasaran para peserta lagi. Sekarang kami minta tuan Ma maju ke depan dan mengundi pasangan-pasangan buat permainan laser air ini. Nama-nama peserta sudah kami tulis dan masukkan ke dalam kotak ini .. " dia mengangkat kotak bujursangkar di tangannya.

Semua bertepuk tangan meriah. Dengan dada dibusungkan tuan Ma maju ke panggung pendek dekat kolam renang. Dia memasukkan tangan ke dalam lubang kecil yang terdapat di atas kotak tersebut. Beberapa nama mulai disebutkan. Enam pasangan sudah terpilih. Empat di antaranya ditempatkan di grup A. Di dalamnya termasuk Raymond yang terpasang dengan seorang wanita muda—manajer junior Grand Hotel.

"Miss Goo Hye Sun ... ," tuan Ma mengangkat kertas kecil di tangannya. Dia tersenyum. Setelah meletakkan kertas itu ke atas meja, dia memasukkan tangannya kembali ke dalam kotak.

Hatiku berdebar keras. Aku menoleh pada Hyesun. Matanya tertutup rapat. Aku menghela nafas berat. Rupanya dia sama khawatirnya denganku.


**********




Goo Hye Sun ...

Jangan dia! Saya mohon. Saya berharap orang itu Sammul. Jika tidak, mungkin pria atau wanita lain. Tapi jangan dia! Jangan dia lagi! Sudah cukup setelah berkali-kali Engkau mempertemukanku di saat-saat tak terduga dengannya. Jadi jangan malam ini! Malam yang sangat berkesan ini. Jangan memunculkan kembali harapanku yang sudah kubuang jauh-jauh. Jika sampai dia--jika benar namanya, saya benar-benar akan percaya kalau dia takdir yang selama ini telah Engkau persiapkan bagiku ...

"Pasangannya adalah … Mr. Lee Min Ho!"

Tubuhku gontai.

Benar dia! Apa kubilang. Benar dia. Selalu saja begitu ...

Aku merapat ke dinding supaya tidak oleng. Dia melihat padaku. Mengamati gerak-gerikku—si Lee Min Ho itu. Aku tersenyum padanya. Senyuman hambar yang sangat terpaksa. Bukannya aku tidak senang dipasangkan dengannya. Tapi sungguh, aku sangat bingung. Tidak tahu harus berbuat apa.

Minho mendekatiku. Dia mengandeng tanganku, menuntunku, seakan tahu lututku sudah lemah dan sulit digerakkan.

"Ayo bergabung dengan mereka .. ," katanya lembut.

Aku mengangguk. Berkat bantuannya, aku berhasil masuk ke dalam kolam dengan susah payah.  


**********




Lee Min Ho ....

Aku tahu ini sulit. Baginya—tentu saja. Melihat tubuhnya oleng. Kakinya gemetar. Jujur, hatiku terasa sakit. Aku tahu dia berusaha menghindariku—begitu juga yang kulakukan, kan? Tapi takdir yang berbicara. Takdir selalu berkata lain. Dia—menyatukan kami lagi. Selalu begitu!

Aku dan Hyesun berdiri dengan canggung di tepi kolam—berhimpitan dengan para peserta lain. Aku melihat Raymond memandangiku. Dahinya kerkerut. Aku tahu apa yang dipikirkannya. Dia mengenali Hyesun. Hyesun yang pernah dilihatnya di apartemenku pagi itu—di Korea, sebelum kedatangan Angel. Dia sudah curiga ada apa-apa antara aku dan Hyesun. Dan sekarang kecurigaannya pasti makin mendalam melihat keberadaan Hyesun di sini—bersamaku. Apalagi menjadi pasanganku.

Lalu suara tuan Ma yang mengumumkan deretan nama dari sisa-sisa peserta yang lain berhasil mengalihkan perhatian kami. Di antara para peserta yang diumumkan terdapat Sammul. Dia terpasang sama Ryan. Aku melihat wajah si bungsu itu memucat. Tak kuasa aku tertawa. Anak itu pasti tidak mengira akan terpasang dengan cowok dan bukan cewek-cewek kece seperti impiannya.

“Dia bawahanmu?” tanya Hyesun.

Aku mengangguk sambil tertawa keras. “Mimpi buruk baginya … “

Hyesun tersenyum. “Sam tidak separah itu.” Belanya.

Tawaku terhenti. Aku mengangkat bahu dan mengalihkan perhatian ke depan.

“Okay. Para peserta sudah terpasangkan semua.” Sabrina berkata keras. Dia terlihat bersemangat. “Kami, para panitia penyelenggara acara ini, telah mempersiapkan pistol-pistol air di lantai pinggir kolam. Tuan-tuan dan nona-nona dapat mengambilnya sendiri dan kami akan menjelaskan cara permainannya .. “

Para peserta saling mendorong ketika berlomba memilih pistol-pistol air yang dimaksud. Aku menarik Hyesun ke belakang dan mengamankannya di sudut kolam. “Tunggu saya di sini. Saya akan mengambilkan pistol-pistol itu.”

Hyesun mengangguk, kemudian mengigit bibir bawahnya gelisah. Aku mengusap kepalanya sebelum berenang ke bagian lain kolam itu, guna mengambil pistol-pistol tersebut. Para peserta lain sudah siap dengan pistol-pistol di tangan ketika aku kembali ke tempat Hyesun.

“Semua sudah mendapatkan pistol-pistol itu?” teriak Edward sambil mengangkat pistol di tangannya. “Sudah?”

“SUDAH!” sahut para peserta.

“Bagus!” Sabrina mengambil sehelai kertas lain dari saku celana pendeknya dan mulai mengamatinya. “Kalau begitu, permainannya akan segera dimulai. Ada beberapa ketentuan dari permainan ini.” Kata Sabrina. “Permainan laser air sangat menguji keterampilan, keharmonisan, rasa melindungi sesama pasangan, dan yang paling penting .. chemistry antar pasangan.”

Edward tersenyum di sebelah Sabrina. Kemudian dia menyambar perkataan Sabrina yang belum selesai. “Kami telah menyiapkan seutas tali untuk mengikat tangan para pasangan dalam permainan ini. Gunanya—pertama, untuk melihat kekompakan antar pasangan. Siapa yang talinya tidak putus atau lepas, akan menjadi jawara. Kedua, kami ingin mengetahui apakah dengan tangan terikat, para pasangan bisa bergerak dengan leluasa. Tanpa keahlian yang memadai, akan sulit menghindari serangan dari lawan dengan tangan terikat seperti itu. Cara ini merupakan penambahan dari kami, para panitia, untuk permainan laser air tahun ini. Kami berharap para peserta dapat menikmatinya.” Edward mengambil nafas sebelum meneruskan penjelasannya. “Sekarang orang-orang kami akan mengikat tangan-tangan tuan-tuan dan nona-nona. Jangan menolak, mohon kerjasamanya.”

Beberapa anggota panita masuk ke dalam air dan mulai mengikat tangan para pasangan dari peserta-peserta dalam permainan laser air itu dengan tali. Aku mengangkat tangan dan seorang panita cewek mengikat seutas tali warna merah di pergelangan tanganku. Kemudian melanjutkannya ke pergelangan tangan Hyesun. Aku mendengar Hyesun terbatuk-batuk kering. Dia sangat gugup.

“Setelah kami berhitung sampai tiga, tuan-tuan dan nona-nona boleh mulai menyemprotkan air dari pistol-pistol di tangan ke lawan masing-masing.” Sabrina berkata. “Pasangan-pasangan dari grup A melawan pasangan-pasangan dari grup B. Setiap pasangan akan dinyatakan kalah jika tali di pergelangan tangannya terputus atau lepas, dan juga terkena semprotan sebanyak 20 kali—para juri akan menghitungnya. Tiga pasangan yang dapat bertahan adalah pemenangnya. Untuk pemenang utama, yang akan mendapatkan sepasang angsa kristal Swarovski, pasangan yang dapat bertahan sampai akhir.”

Suasana agak berisik ketika para peserta saling berbisik satu sama lain. Mereka sedang mendiskusikan cara terbaik untuk menang. Aku menunduk ke arah Hyesun. Dan mendekatkan mulut ke telinganya. Dia sedikit menyusut. Mungkin terkejut dengan kelakuanku yang mendadak.

“Mwo … ? Mwo … “

Aku menariknya lebih mendekat. “Dengarkan perkataanku. Berdiri di belakangku terus! Dan tanganmu jangan berpisah dari pinggangku.”

“Mwo?” mata Hyesun terbelalak lebar. “Tapi weo?”

“Ini siasatnya.” Kataku dengan nada pelan. “Kamu tidak perlu ikut menyerang dari depan. Saya akan melindungimu dengan tubuhku, jadi kita tidak akan terkena semprotan bersamaan. Tubuhmu sangat mungil. Pasti bisa tertutup seluruhnya oleh tubuhku. Cara ini lebih bagus. Dengan begitu ikatan di pergelangan tangan kita juga tidak mudah terlepas.” Aku menatapnya lekat-lekat. Berharap dia mengerti perkataanku.

Hyesun kelihatan berpikir. Beberapa detik kemudian dia mengangguk.

“Saya akan berhitung sekarang!” teriak Edward. “Satu, .. dua, .. tigaaaaaaaaaaa …… mulai!!!”

Teriakan-teriakan keras—memekakan telinga, hingar-bingar, jeritan-jeritan histeris, dan gema yang mengaung riuh langsung mengharu-biru di ruangan itu begitu permainan dimulai. Semua peserta saling mengarahkan pistol-pistol di tangan kearah lawan. Mereka berteriak, saling menghindar, dan meringis kesakitan begitu tembakan-tembakan air itu mengenai tubuh yang hanya terbalut pakaian renang. Aku juga mengarahkan pistol di tanganku. Sedangkan Hyesun sangat manis—dia melakukan perintahku. Dia bersembunyi di balik tubuhku, sambil sesekali menembakkan pistol di tangannya.

Dalam sekejap, beberapa pasangan sudah kocar-kacir. Ikatan-ikatan di tangan mereka terlepas semua dan mereka langsung dinyatakan kalah oleh para panitia—termasuk pasangan Raymond. Tiga pasangan yang tersisa setelah permainan ke-limabelas menit itu—pasangan aku dengan Hyesun, Sammul dengan Ryan dan seorang desainer junior dari Florest Capital dengan pasangannya, seorang wanita berperawakan tinggi, salah satu istri dari manajer Grand Hotel.

Permainan berlangsung seru selama sepuluh menit ke depan. Hyesun mempererat rangkulan tangannya di pinggangku. Aku bergerak ke kanan dan kiri diikuti olehnya. Beberapa kali dia memekik kecil ketika semprotan dari pistol lawan mengenai tubuhnya lewat sisi tubuhku.

“Gwencana?” tanyaku khawatir.

“Ne. Gwencana.” Jawab Hyesun.

Aku menghela nafas lega dan melanjutkan permainan itu. Tembakan-tembakan dan teriakan-teriakan berlanjut dalam ruangan tersebut. Sampai para juri mengangkat tangan—menyatakan permainannya selesai.

“Okay, permainannya selesai sampai di sini, ladies and gentlemen.” Edward mengumumkan. “Sekarang kita akan menanti keputusan dewan juri .. Sambil menunggu, para peserta boleh berganti baju dulu. Tidak baik berlama-lama dalam air di cuaca seperti ini.”

Aku membantu Hyesun keluar dari air, kemudian mengikutinya dari belakang. Begitu juga peserta yang lain. Para peserta wanita masuk ke kamar ganti cewek di belakang kolam, dan berganti baju di sana. Aku masuk ke kamar ganti satunya—kamar ganti pria, yang berada di seberang kamar ganti wanita. Setelah mengenakan pakaianku—kaos ketat warna hitam dan celana jeans ketat warna putih terang dipadu mantel warna abu gelap, aku keluar dari kamar ganti tersebut.

Aku berpapasan dengan Sammul di luar yang juga baru selesai menganti pakaiannya. Dia tersenyum padaku. Agak malas aku membalasnya. Setelah basa-basi sedikit, kami kembali ke ruang tengah. Para peserta lain sudah berada di sana. Hyesun menyusul dua menit kemudian. Ekspresi semuanya kelihatan tegang menanti pengumuman pemenang dari dewan juri.

“Ladies and gentlemen .. ,” suara Edward, si pembawa acara, kembali mengema di ballroom itu. “Nama-nama pemenangnya sudah berada di tanganku sekarang.” Dia mengangkat sehelai kertas di tangannya. Pria itu tersenyum tipis.

“Anda semua pasti tegang menanti pengumuman ini. Sebenarnya, tiga pasangan terakhir bermain sangat bagus dan para dewan juri juga sangat pusing dalam menentukan pemenang utamanya. Setelah melalui proses pendiskusian dan pertimbangan yang cukup rumit, akhirnya para juri berhasil juga menentukan siapa pemenang pertamanya.” Edward berhenti dan menyerahkan kertas di tangannya pada Sabrina.

“Pengumuman pemenang akan dimulai dari pemenang ketiga. Bagi pasangan yang disebutkan namanya harap maju ke depan mengambil hadiah .. “ kata Sabrina.

Kemudian dia membacakan dua nama buat pemenang ketiga—Sammul Chan dan Ryan Wong. Diikuti pemenang kedua—pasangan yang satunya lagi, tuan Michael Choi dan nyonya Cheung. Jadi, sudah jelas pemenang pertamanya adalah … aku dan Hyesun.

Semua bertepuktangan, kecuali Raymond. Wajahnya mengisyaratkan tidak senang. Aku tahu dia merasa tidak adil buat Angel. Sejak dulu dia selalu berada di pihak Angel. Jadi wajar dia tidak senang melihat aku dekat dengan wanita lain. Aku berpikir sejenak. Apa perlu menjelaskan padanya bahwa hubunganku dengan Hyesun tidak seperti anggapannya? Setelah mempertimbangkannya, akhirnya aku mengambil keputusan membiarkannya saja. Percuma menjelaskannya. Aku merasa tidak perlu dan tidak akan ada gunanya.

Aku berpaling pada Hyesun. Mulutnya mengangga dengan sepasang tangan yang segera menutupinya. Dia sangat terkejut. Tidak menyangka kami menjadi juaranya. Aku tersenyum. Ekspresi polosnya masih sama dengan yang dulu. Aku mendekatinya kemudian mengandeng tangannya.

“Ayo ke panggung .. “

Hyesun menoleh padaku. “Benar kita pemenangnya?” tanyanya terbatah-batah. “Kita?”

“Ne. Kita .. ,” jawabku.

Agak linglung dia mengikutiku naik ke panggung. Dua MC pemimpin acara tersenyum dan menyalami kami.

“Congratulation .. ,” kata mereka bersamaan.

“Thanks .. “ jawabku. Hyesun takut-takut merapat ke tubuhku.

“Permainan kalian sangat hebat. Chemistry terbaik yang pernah saya lihat .. “ puji Edward.

“Thanks .. “

Edward tersenyum, kemudian beralih ke bawah panggung. “Kami mempersilahkan tuan Ma ke atas panggung lagi—acara pemberian hadiah bagi pemenang pertama .. “

Tuan Ma naik ke panggung. Dia mengambil sebuah kotak berisi dua angsa kristal sebesar dua telapak tangan dari tangan Sabrina dan memberikannya pada aku dan Hyesun.

Hyesun menerima kotak tersebut dengan tangan gemetar. Nafasnya agak memburu, dan tertahan berkali-kali. Kulihat dia sangat terharu. Alisku berkenyit. Apa ini tidak berlebihan?

“Wegude? Gwencana?”

Hyesun mengibaskan air bening dari pipinya. Dia mengangguk. “Ne. Saya hanya terharu. Ini untuk pertamakalinya saya … memenangkan sebuah perlombaan. Pengalaman pertama … “

Mataku nanar. Perkataannya sangat menyentuh. Walaupun wajahnya sudah cerah kembali—dia tersenyum-senyum menghadapi dua angsa tembus pandang dalam kotak di tangannya, ekspresinya tadi tetap tak terlupakan.

Aku menyentuh kepalanya. “Paboya … ,” untuk kesekiankalinya hari ini, kata bodoh itu meluncur dari mulutku.

Dia menengadah dan tersenyum. Senyuman terindah yang pernah aku lihat.    

   
**********




Pukul 10:45 suara pembawa acara kembali terdengar.

“Ladies and gentlemen .. ,” kata Sabrina. “Acara pengundian hadiah akan segera dimulai. Harap semuanya berkumpul di sudut kiri ruangan, dekat pohon cemara yang paling tinggi… “

Para undangan segera melakukan perintah si pembawa acara. Hanya dalam dua menit semuanya sudah berkumpul di depan pohon cemara yang terdapat tumpukan kado di bawahnya. Kado-kado tersebut berjajar rapi. Semuanya tertempel nomor-nomor berurut.

“Pengundian hadiah-hadiah dilakukan seperti tahun-tahun yang lalu. Bagi yang sudah pernah ikut di acara ini tahun-tahun sebelumnya, pasti tahu cara pengundiannya.” Kata Edward. “Kami sudah memberi nomor-nomor di kado-kado yang akan diundi. Bagi yang dipanggil namanya silahkan maju ke depan dan mengacak nomor-nomor yang terdapat dalam kotak ini .. ,” dia mengangkat sebuah kotak kecil yang telah dilubangi bagian atasnya dari lantai. “Kado yang akan didapat sesuai dengan nomor yang diambil dari kotak …”

Lalu pembawa acara itu memanggil nama para pengunjung satu-persatu. Yang dipanggil namanya sangat bersemangat—berlari ke depan, mengacak nomor-nomor dari dalam kotak, dan mendapatkan hadiah-hadiah bagian mereka. Semuanya tertawa. Kelihatannya yang hadir di situ sangat menikmati bagian acara terakhir ini.

“Miss Goo Hye Sun … ,” Sabrina berkata.

Hyesun agak tersentak. Dia berjalan pelan ke hadapan Edward dan Sabrina. Kedua pembawa acara itu tersenyum padanya.

“Silahkan!” Sabrina menyodorkan kotak di tangannya.

Hyesun mengangguk kikuk, kemudian memasukkan tangannya ke dalam kotak. Dia mengacak sebentar, kemudian mengeluarkannya lagi. Dia memberikan kertas kecil yang diambilnya pada Sabrina.

“Nomor 7 …. ,” kata Sabrina. “Hadiah nona nomor 7. Silahkan mengambilnya sendiri .. “

Aku melihat Hyesun berjalan ke tumpukan kado di lantai. Dia berdiri sebentar dan mencari-cari di antara tumpukan kado tersebut. Lalu dia mengambil sesuatu yang tidak terlihat olehku.

Apa yang diambilnya? Aku jadi penasaran.

Hyesun berbalik. Dan … aku sangat terkejut. Kotak dalam tangannya—kotak yang sangat aku kenal. Kotak sebesar 30cmX30Cm, terbungkus rapi oleh kertas kado warna emas. Kado dariku. Yang tergesa-gesa kubeli bersama Raymond cs. Kado yang tidak istimewa. Hanya sebuah singa berkaki panjang yang memegang beberapa kuntum mawar merah.

Hyesun berjalan kembali ke tempatnya—bersebelahan dengan Sammul. Aku melihatnya tersenyum dan mengelus-ngelus kotak dalam tangannya dengan puas. Tanpa tahu apa isinya? Aku menghela nafas. Dia memang selalu begitu.

“Leader, bukankah itu kadomu?” Raymond menyenggol lenganku.

Aku menoleh padanya dan mengangguk.

“Mengapa bisa begitu?” kening Raymond berkerut. “Kebetulan yang sangat aneh kan?” lanjutnya tidak senang.

Aku tidak menjawab. Kebetulan yang sangat aneh katanya? Jika aku menceritakan semua kebetulan-kebetulan yang telah aku dan Hyesun alami padanya, mungkin dia akan pingsan saat ini juga.

Pemanggilan buat pengunjung-pengunjung lain dilanjutkan. Kado-kado semakin menipis dari lantai. Hampir semua sudah mendapatkan bagiannya. Akhirnya hanya dua kado yang tersisa di lantai.

“Tinggal dua?” Sabrina tertawa. “Apa yang harus kita lakukan sekarang?” dia bertanya pada Edward.

“Untuk lebih serunya—mengingat Natal sebentar lagi tiba, bagaimana kalau kita memanggil dua peserta yang tersisa ke depan dan menyuruh mereka memilih sendiri kado mereka?” seru Edward.

“Setuju!!” teriak orang-orang dalam ruangan itu.

“Bagi yang merasa belum dipanggil namanya, silahkan maju ke depan … “

Aku melangkah ke depan, bersamaan dengan Sammul. Kami berpandangan selama beberapa saat, kemudian mengangguk pelan.  

 
**********




Goo Hye Sun …

Oh tidak!! Salah satu kado yang tersisa itu kadoku. Bagaimana ini? Siapa yang akan mendapatkannya? Apa Minho lagi?

Aku menatap ke langit-langit atas ruangan.

Kamu mempermainkanku lagi? Setelah … setelah sepasang angsa kristal ini ….

Aku menunduk ke salah satu angsa kristal yang sudah berada di tanganku.


Apa ini jawabanMu?
 

**********




Lee Min Ho ..

“Tuan-tuan harap berpaling ke belakang .. ,” kata Edward. “Kami akan memutar-mutar posisi dua kado ini, kemudian anda dapat memilihnya, kiri atau kanan, setelah hitungan ketiga. Bersamaan. Begini lebih adil. Jika terdapat persamaan pilihan, kita akan melakukannya lagi sampai berhasil … “

Aku dan Sammul berpaling ke belakang. Terdengar suara kresak-kresek ketika kado-kado tersebut dipindahkan. Berulangkali. Sampai suara Edward berkata lagi.

“Okay, perhitungan di mulai. Satu .. dua … tiga … “

“Kiri!”

“Kanan!”

Kataku dan Sammul bersamaan.

Para hadirin bertepuktangan. Aku mendengar Hyesun terpekik pelan. Aku menoleh padanya. Dia kelihatan pucat.

“Tuan Lee, kadomu—kado nomor 18 … “

Suara Edward mengalihkan perhatianku. Dia menyodorkan sebuah kotak dengan penutup warna merah yang terikat pita emas di sekelilingnya padaku.


Aku menerimanya dengan agak sungkan. Terus terang aku tidak begitu tertarik dengan acara pengundian kado seperti ini. Apalagi dengan kado-kadonya—terlalu kekanak-kanakan.

“Tuan Chan, ini kadomu … “

Aku berpaling pada Sammul. Dia sedang menerima sebuah kado berbentuk bundar yang terbalut kertas warna biru dari Sabrina. Tampangnya tidak terlihat puas. Bahkan bisa dikatakan dia sedikit kecewa.

Kami kembali ke tempat masing-masing setelah menerima kado-kado tersebut.

“Apa itu?” tanya Raymond.

Aku mengangkat bahu. “Tidak istimewa, saya rasa.”

Kemudian aku melirik Hyesun. Sammul terlihat mengatakan sesuatu padanya. Hyesun menundukkan wajahnya perlahan-lahan—putus asa.


**********




”Sepuluh detik lagi Natal menyapa kita .. ,” teriak Sabrina. Semuanya langsung berseru.

“Hitungan mundur sekarang …. ,” teriak Edward. Dia mulai menghitung diikuti yang lain, “ .. lima, .. empat, … tiga, … dua, … satu, …. Merry Christmas ….. wowwwwwwwwwwwwww!!!!!!!!”

“Merry Christmas!!” semuanya berteriak.

Plak … , sebuah bola plastik besar di tengah ruangan tiba-tiba terbuka dan menumpahkan kertas-kertas kecil berkilauan ke kepala mereka.

Plop, … plop, .. plop ….., sampanye-sampanye dibuka. Tutup beserta gelembung-gelembungnya melayang ke mana-mana. Semua tertawa, berlompatan seperti anak kecil, kemudian berpelukan erat. Bahkan ada pasangan yang berciuman mesra.

Aku mendekati Hyesun. Di sebelahnya masih berdiri Sammul. Mereka sedang tertawa lebar sambil mengibaskan serpihan-serpihan kertas tipis dari kepala mereka. Melihat kedatanganku Sammul menganggukkan kepalanya.

“Merry Christmas .. ,” katanya.

“You too .. ,” balasku.

Sesaat kemudian, Sammul memisahkan diri dari kami. Katanya mau mencari tuan Ma. Tapi aku tahu, dia sengaja memberi kesempatan padaku dan Hyesun. Untuk kesekiankali aku merasa kecil di hadapannya. Perasaan yang mungkin seumur hidup tidak akan pernah kurasakan sebelum pertemuanku dengan Hyesun. Perasaan rendah diri dan merasa diri tidak berarti. Kemana perginya rasa percaya diri yang tinggi itu? Aku semakin heran.

“Merry Christmas … ,” kataku pada Hyesun.

“Merry Christmas .. ,” sahutnya pelan.

Kami berpandangan selama beberapa saat. Keadaan terasa kaku. Seruan-seruan di sekitar situ tidak berpengaruh sedikitpun pada kami. Aku bergerak perlahan—mendekatinya. Setelah berpikir sejenak, tanganku terbuka.

“Bisa memberiku pelukan?” aku tersenyum.

“Mwo?” Hyesun sangat terkejut.

“Hanya sebuah pelukan … ,” kataku. “Pelukan penyambut Natal. Tidak bisakah?”

Hyesun terdiam. Sekarang aku berada tepat di hadapannya. Kepalanya hanya sampai batas daguku. Aku jadi berpikir, Dia semungil inikah? Mengapa baru sekarang aku menyadarinya?

“Hyesun-a …. “

Hyesun menengadah.

“Tidak bisakah?”

Dia membisu lagi. Pandangan kami bertemu dalam jarak dekat. Kemudian dia tersenyum, membuka sepasang tangannya dan memelukku erat-erat.

“Selamat hari Natal Minho-a. “ katanya. “Saya sangat bahagia bisa melewatkan malam istimewa ini bersamamu … “

Aku tersenyum dan membalas pelukannya. Kuusap kepalanya dan mendaratkan ciuman kecil di telinganya bagian kiri.

[/center

“Saya juga … ,” desahku halus. “Semoga ke depannya, semua berjalan lebih baik lagi .. ,” harapku.



Aku memeluknya lebih erat lagi, lalu membenamkan wajahku dalam-dalam di tengkuknya yang hangat dan lembut.      


**********
« Last Edit: August 21, 2010, 07:30:42 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
« Last Edit: August 20, 2010, 10:51:48 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
[head break] [head break] [guns] [guns] hammer2 hammer2 [hmff] [hmff] datang2 kena getok [laughing]

kok malah digetok seh  [angry] emang apa salahku???  [angry] [angry] [angry]
Dasar author gilo [head break] [head break] [head break] [head break]
Gw ngambek gak jadi komen n tuh piku gak cucok ma scenenya  [angry] seharusnya kan meluk dari depan bukan dari belakang  [dry] [dry] [dry]
« Last Edit: August 20, 2010, 06:33:30 pm by Vay_za »

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
cihuy udah diupdate  [smiley-dance013]

minsun ikut lomba ya mi, jd inget lomba 17 agustusan  [hmff]

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
udh update toh [hmpfh]
long chap lagi [lovestruck]
gomawo mi [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Mi, thanks sudah di update...
So sweet nih minsun & benar2x takdir yah, tiap kali ketemu secara gak sengaja trus dipasangin lomba juga gitu lalu dapat hadiah juga gitu...
aku salut ma sanmul, baik banget orangnya...jadi ingat ma someone yang sudah di alam sana demi temannya ia rela memutuskan orang yang dipacarinya belum sebulan untuk bisa bersama dengan temannya walaupun gadisnya itu tidak rela tapi ia tetap pada keputusannya & cinta memang tidak harus memiliki [cry][cry] hik...
semoga ray & angel sadar bahwa minsun kudu bersatu jadinya mau jujur pada mino yg sudah terjadi antara mareka berdua...

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
[head break] [head break] [guns] [guns] hammer2 hammer2 [hmff] [hmff] datang2 kena getok [laughing]

kok malah digetok seh  [angry] emang apa salahku???  [angry] [angry] [angry]
Dasar author gilo [head break] [head break] [head break] [head break]
Gw ngambek gak jadi komen n tuh piku gak cucok ma scenenya  [angry] seharusnya kan meluk dari depan bukan dari belakang  [dry] [dry] [dry]

kan gw rindu ama kamu say jadi ya gw getok deh,, hiksss miane jika menyakiti hatimu [cry] [cry] .. yeee si vay,, iye deh piku terakhir gw ganti [AddEmoticons04264] [AddEmoticons04264]

sis bultang, someone tuh sopo? yg special dlm hidup elu ya [biggrin] .. minsun emang takdir di sini. Dari perjumpaan pertama sampai sekrg, hampir 90% ketemuannya gara2 takdir. Mereka ga pernah merencanakan pertemuan itu. Mereka sdh menghindar karna tahu keadaan mereka ga mungkin bersama. tp bgt deh,, takdir selalu berkata lain [biggrin]

aiishin, sebnrnya ending chp ini bkn sampai di sini. rencananya masih beberapa part lg. tp karna kepanjangan ya udah gw stop ampe di situ [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
  [i love you] [i love you] [i love you] [AddEmoticons04228] [AddEmoticons04228] [AddEmoticons04241] Emoticons0423 Emoticons0426
udh gw edit tuh say,, lht ga? lht ga? jgn marah lg ya, pls [hug] [hug]

and pikunya udah gw ganti,, jg gw tambahin dua piku lg. semoga cocok deh [hmpfh] .. ayo ayo komentarnya .. gw udah begadang semalaman buat nyelesaiin chp ini loh. beneran,, begadang ampe jam 7 lebih, pagi ini [heh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Echyn MinHo LeeSun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 635
  • gaya ala RATHOT + CASSAMINONG.. haha
  • Location: manado
    • View Profile
Horay horay horay
t'q so much Mami, udah d updte .. :)
in udah hri yg k 22 kan Mi??
Brarti 8 hari lg d0nk Mam?
Tp 8 hari in, gk brarti 8 chapter lg kan?
Msi lama d0nk kalo g2.. :(
hbis in, bengkok d updte yah Mam.
Ntar mlm kalo bisa.
Haha
http://i54.tinypic.com/2w30vac.jpg[/img]

favorite couple
MinSun
KhunToria :D [/center]

Offline Alin

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1002
    • View Profile
Akhirnya diupdate jg..makasi ya mam..wah uda hari ke 22 cepetan dijadiin dong mam mrk uda ga sbr nih..abis ini update si rath ya mam apa sibengkok????

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
  [i love you] [i love you] [i love you] [AddEmoticons04228] [AddEmoticons04228] [AddEmoticons04241] Emoticons0423 Emoticons0426
udh gw edit tuh say,, lht ga? lht ga? jgn marah lg ya, pls [hug] [hug]

and pikunya udah gw ganti,, jg gw tambahin dua piku lg. semoga cocok deh [hmpfh] .. ayo ayo komentarnya .. gw udah begadang semalaman buat nyelesaiin chp ini loh. beneran,, begadang ampe jam 7 lebih, pagi ini [heh]

Ih ih ngerayu lagi  [goodgrief] [goodgrief] [goodgrief]
Nih buat lu  [head break] [head break] [head break]  [angry] [angry] [angry] banyak banget seh piku si Jintomang  [guns] [guns] [guns]

Chainezz_Vian

  • Guest
Mamii. . .
Muach. . . Muach. . . muach. . .  [lovestruck]

Gumawo mii uda d update. [flowers]
hua, mami d sini sweet momen nya banyak ya. . .  >.<   
[cry] aQ jd terharu bca'a coZ tuan takdir th baek bnget. Ma0 nyatuin minsun trus [laughing]
 
hua, mami baek bnget dech. Ampe d bela" in begadang >.< makaci [lovestruck]
   
kt mami nie chap msh ada 2part lg kn?? Uda mii post aja. . . [smiley-gen013]    Tanggung tinggal 8hr lg. . . .

Hwaiting !!! [smiley-gen013]