Author Topic: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~CHAPTER 18, ENDING, update 27 Mar'12~  (Read 43793 times)

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
 happybday happybday update yang ini dong mamii jangan lupa kasih bumbu bumbu hot nya

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
mami mami mami, duo kembar kpn update ? [what] [what]
udh sbulan lho mi [sweat]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
MO NAGIH UPDATE SEKALIAN NYAMPAH DIMARI  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]


[smiley-gen013] MAMI HAPPY B'DAY YOWWWW TAMBAH TUWA LOEEEE YG DEWASA GAK USAH PAKE REBUTAN MINO LAGI UDAH SERAHKAN MINO, RAYANG, DLL KE TANGAN NOONA DIJAMIN AMAN, DAMAI, TENTRAM N SENTOSA HIDUP LOE  [hmpfh]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
MO NAGIH UPDATE SEKALIAN NYAMPAH DIMARI  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]


[smiley-gen013] MAMI HAPPY B'DAY YOWWWW TAMBAH TUWA LOEEEE YG DEWASA GAK USAH PAKE REBUTAN MINO LAGI UDAH SERAHKAN MINO, RAYANG, DLL KE TANGAN NOONA DIJAMIN AMAN, DAMAI, TENTRAM N SENTOSA HIDUP LOE  [hmpfh]
[head break] [head break] [guns] lenyap dr tret ini hammer2 hammer2

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




Hari keduapuluh tiga, ... Jum'at, 25 Desember 2009 ...

Setelah berakrhirnya pesta penyambutan Natal di Grand Hotel, kami berpisah. Karena tinggal di wilayah yang sama--apartemen yang mereka tempati berada dalam satu kawasan--Hyesun diantar pulang oleh Sammul. Aku memandangi kepergian mereka, beserta para undangan yang lain, sampai punggung mereka menghilang dalam mobil yang telah disediakan pihak Florest Capital buat pada undangan. Mobil besar tersebut meninggalkan jalan besar di depan hotel lima menit kemudian.

Aku berdiri mematung setelah kepergian mereka. Raymond cs sudah berlalu dari hotel ini beberapa waktu yang lalu. Mereka kuberi libur sehari sehingga malam ini mereka bisa berpesta gila-gilaan di sebuah bar di tengah kota. Semula mereka mengajakku tapi aku menolaknya. Bukan karena capek, aku hanya tidak bersemangat mengikuti acara mereka. Memang dari dulu aku tidak menyukai acara begituan.

Para petinggi Florest Capital dan Great Building juga berlalu tidak lama kemudian. Tinggallah aku seorang diri sekarang. Tawaran tuan Ma untuk mengantarku kutolak dengan halus. Akhirnya tuan Ma hanya bisa menyisihkan seorang supirnya untuk menemani dan mengantarku pulang. Keadaan jadi sunyi setelah itu. Aku menengadah ke atas. Malam yang cerah. Bintang-bintang gemerlapan di atas langit sambil sesekali diselingi percikan-percikan kembang api yang dilepaskan dari berbagai arah. Sungguh pemandangan yang indah. Walaupun begitu aku menghela nafas perlahan. Malam yang indah .. tapi sayang ... hatiku tak seindah malam ini ...


Kemudian aku memutar tubuh kearah pria setengah baya yang menungguku di dekat sebuah Mercedes warna hitam. "Kita pergi sekarang .. "

Pria itu membungkuk dengan hormat. "Yes, sir .. " Dengan sigap dia membuka pintu belakang buatku, lalu menutupnya dengan pelan. Dia berjalan ke jok depan--mengambil posisi di bangku kemudi. Mesin mobil meraung halus setelah dihidupkan. Perlahan-lahan Mercy hitam tersebut membelah lapangan luas di depan dan memasuki jalan raya besar yang sedikit basah oleh gerimis.


***********



Goo Hye Sun ...

"134 .. 135 ... 136 ... 1 .. 37 ... AKHHHHH!!!!!" Aku meloncat dari tempat tidur. "TIDAK BISA!! MATA INI SAMA SEKALI TIDAK BISA DIAJAK KOMPROMI!!!" Aku mengucek-ngucek rambut dengan frustasi--benar-benar putus asa.

Aku keluar dari kamar dengan tampang lesu kemudian beranjak ke dapur. Kutuang segelas air hangat dan membawanya kembali ke kamar. Aku berjalan ke jendela yang gordennya tidak ditutup dan berdiri di sana. Memperhatikan pemandangan di luar. Kuhirup air dari gelas secara perlahan--lumayan menghangatkan di udara sedingin ini.

Samar-samar kudengar bunyi kembang api meletup di kejauhan. Sinarnya menghiasi langit dari berbagai penjuru. Aku mempertajam pandangan ke depan. Lampu-lampu kecil berwarna-warni yang menghiasi dua sisi jalan di luar sana, ditambah gemerlapnya bintang-bintang di langit menambah indah dan hangatnya suasana. Aku menghirup air lagi--sampai tandas. Kemudian aku berbalik dan meletakkan gelas yang sudah kosong ke atas meja kecil dekat tempat tidur. Tertangkap olehku boneka singa berkaki panjang yang kuperoleh dari pesta Grand Hotel—tergeletak di atas meja itu.


Aku tersenyum dan menepuk kepalanya. Entah mengapa boneka ini selalu membuatku tersenyum sejak kubuka dua puluh menit yang lalu. Mungkin tampangnya yang serius, terutama sepasang kakinya yang panjang mengingatkanku pada seseorang. Sekali lagi kuelus kepalanya yang terbuat dari kain lembut.

Kemudian aku memutar tubuh perlahan. Bergerak ke lemari kecil yang menempel di dinding dan mengeluarkan sebuah mantel tebal kemudian memakainya. Setelah memadamkan lampu di kamar itu dengan menyisakan sebuah lampu dinding tetap menyala, aku keluar dari apartemen itu.

Aku menyelusuri jalan kecil yang ditamani tanaman-tanaman pendek di kedua sisi sampai berhenti di depan pintu apartemen lain yang bersebelahan dengan apartemen yang kutempati. Ragu-ragu aku mengulurkan tangan ke pintu itu, tapi segera kutarik kembali ketika teringat perkataan Sammul sekitar setengah jam yang lalu.

"Ya, dia tidak begitu sehat. Kepalanya sakit setelah pesta tadi." Aku menepuk kepala dengan perasaan menyesal. "Bagaimana mungkin aku sampai melupakannya?" Aku mengeleng perlahan, "Sebaiknya biarkan dia istirahat dulu."

Setelah mengambil keputusan, aku berbalik kearah sebaliknya dan meneruskan langkahku. Tanpa sadar aku semakin keluar dari kawasan perumahan itu. Kurapatkan mantel di depan dada begitu angin tiba-tiba bertiup dengan kencang. Aku menengadah ke atas. Langit masih cerah. Tidak ada segumpal awanpun yang menutupi cakrawala.

Aku berjalan terus. Berulangkali bunyi kembang api yang diletuskan ke udara mengejutkanku. Sampai di depan sebuah taman aku berhenti. Selama beberapa puluh menit ke depan aku tidak bergerak. Perhatianku tertumpah ke tanaman-tanaman bunga yang tidak mati di musim dingin. Sungguh ajaib.


***********



Lee Min Ho ..

Aku menghempaskan tubuh ke belakang. Kursi yang menahan tubuhku berderak-derak parau memprotes beban berat yang menimpanya. Aku melemparkan sketsa di tangan ke atas meja di depan. Kepalaku menengadah dan mataku terpejam perlahan. Setelah setengah jam mencoba konsentrasi dengan pekerjaan akhirnya sia-sia saja.



Aku berdiri dari kursi dan berjalan ke meja pendek di depan sofa. Sebuah kotak dengan penutup warna merah yang terikat pita emas di sekelilingnya terletak di sana. Aku mengambil kotak tersebut. Memperhatikannya sesaat kemudian meletakkannya kembali ke atas meja. Aku menuju meja bar kecil di dekat pintu dan menuang segelas sampanye. Setelah itu aku kembali dan menjatuhkan diri di atas sofa. Kuhirup sampanye itu. Hmmm--terasa nikmat. Aku menghirupnya lagi. Habis setengahnya kuletakkan gelas tersebut ke atas meja. Kotak kado di sebelah kembali menarik perhatianku.

Aku meraih kotak tersebut. Kali ini tidak kuperhatikan lagi. Aku melepas pita yang mengikatnya kemudian membuka penutupnya. Sesaat aku mengangga. Kukeluarkan benda dari dalam kotak dengan hati-hati. Sebuah miniatur taman--lengkap dengan pondoknya yang mungil, juga bangku panjang di sudut taman, beserta tanaman-tanamannya dan air mancur kecil. Dahiku berkerut perlahan. Ada orang kepikiran memberi hadiah hasil karya sendiri di pesta itu? Walaupun tidak sempurna--sudut-sudut pembuatannya terlihat kasar--aku tersentuh juga dengan niat tulus orang ini. Aku berdiri, dan membawa miniatur tersebut ke lemari kaca dekat jendela. Aku memajangnya di situ.

Beberapa saat kuperhatikan keadaan dalam ruangan—terasa sangat sunyi dan senyap. Aku menghembuskan nafas perlahan. Tidak bisa!! Walaupun dicoba konsentrasi tetap percuma saja! Aku butuh udara segar. Setelah berpikir begitu, aku meraih mantel panjang yang tersampir di kursi. Memakainya kemudian keluar dari rumah.

Aku memasuki jalan berkerikil yang membatasi deretan rumah di sebelah kiri dan kanan. Kuhitung-hitung perumahan di situ termasuk jarang jumlahnya. Hanya ada beberapa—dua di antaranya sudah ditempati olehku dan Raymond cs--dan jaraknya berjauhan antara satu dengan yang lain. Perlahan jalan yang kutempuh mulai menurun di depan—sebagian tertutupi oleh rumput dan tanah yang agak basah akibat hujan beberapa waktu yang lalu. Menjadikan sepatu kets merah yang membalut sepasang kakiku sedikit terlapisi tanah lembek.

Aku mendengus. Agak menyesal juga mengambil jalan tanah ini. Seharusnya aku mengambil arah sebaliknya—masuk dari jalan besar—itu akan lebih memudahkan perjalanan yang kumaksudkan hanya untuk santai ini. Tapi apa boleh buat aku tidak bisa berbalik sekarang. Jarak yang kutempuh sudah cukup jauh dan bila aku berbalik sepatuku akan lebih banyak berlepotan tanah lagi. Pulangnya saja lewat jalan besar .. , aku menetapkan dalam hati.

Lalu jalan tanah itu mulai menyambung ke jalan raya. Agak lumayan sekarang karena jalan ini terbuat dari aspal halus. Kugosokkan berkali-kali sepatu ketsku ke pinggir jalan. Setelah agak bersih, aku masuk ke jalan raya yang sangat jarang kendaraan itu. Aku berjalan selama sepuluh menit sampai gerbang sebuah taman menyita perhatianku. Kembang api masih terus dinyalakan sampai saat itu. Bunyinya sangat keras tapi hasilnya begitu menawan dengan serpihan-serpihan warna-warni yang berkerlap-kerlip di udara. Sangat selaras dengan terangnya sinar bintang-bintang yang mengantung di langit.

“Malam yang indah …. Andai saja aku tidak sendirian, kedinginan di sini .. ,” desahku halus, “Andai saja … dia bersamaku … “

Aku mulai melangkah ke dalam taman. Tanaman-tanaman yang jarang kulihat dan yang tak kuketahui namanya segera menyambut kedatanganku. Aneh juga melihat tanaman-tanaman yang tidak gugur di musim dingin. Apalagi bunga-bunganya masih setia bertengger di tangkainya yang terlihat kokoh. Semua perpaduan yang antik bagiku—yang tidak begitu mengerti tentang tumbuh-tumbuhan.

Aku mendekati tanaman-tanaman tersebut. Memperhatikannya dengan seksama. Samar-samar bunyi gemerisik memasuki telingaku. Aku menoleh ke samping. Semak-semak dekat situ bergerak-gerak, kemudian sebuah bayangan kecil melesat keluar. Aku langsung mundur ke belakang.

Seekor anak anjing ras chihuhua berwarna coklat gelap menatapku dengan sepasang mata bulatnya yang besar. Mataku melebar perlahan. Bagaimana mungkin di taman sesuram ini terdapat anak anjing seperti ini? Dia tidak mungkin anjing liar karena dia kelihatan terpelihara dengan baik. Bulu-bulunya teratur dengan rapi, begitu juga kuku-kukunya—terawat dengan sempurna. Iya, anak anjing ini membuatku begitu terpesona sehingga memperhatikannya sedemikian rupa.

Ekor si chihuhua ini bergerak-gerak lincah. Dia berputar-putar di tempat kemudian mendekatiku. Kepalanya menunduk dan dia mulai menjilati celana jeans panjang yang membalut sepasang kakiku. Aku tertawa lebar. Dia kelihatan sangat lucu. Apalagi sekarang kepala mungilnya menengadah dan memandangiku dengan sinar mata bersahabat. Aku berjongkok dan menghadapinya.

“Heii .. ,” kuelus kepala mungilnya. “Kamu mau bersahabat denganku ya?”

Aku tertawa lagi ketika tiba-tiba dia merangkak ke atas pangkuanku.

“Ha .. ha .. kamu benar-benar ingin bersahabat denganku rupanya .. “

Aku mengangkat tubuhnya kemudian berjalan ke bangku panjang yang berada di situ. Kujatuhkan diri di sana dan memainkan jemariku di atas tubuh anak anjing itu.


“Aku Lee Min Ho … ,” kataku, “dan siapa namamu?”

Tentu saja dia tidak bisa menjawab. Tapi ajaib dia menyalak beberapa kali. Aku kembali mengacak-acak bulunya yang pendek dan halus.

“Jadi ini jawabanmu? Kau kira saya bisa mendengar bahasa anjing--ha?”

Dia kembali menyalak. Aku tertawa lagi—kali ini lebih lebar. Dia kelihatannya mengerti apa yang kukatakan. Matanya tak berkedip ketika menatapku.

“Chocho!! Kemana kamu?”

Teriakan halus itu membuatku mengangkat wajah dari makhluk kecil dalam pangkuanku. Aku berpaling. Tidak seorangpun terlihat dari asal suara itu. Semak-semak di belakang sangat tenang dan gelap. Aku menajamkan pandanganku. Mataku menyipit perlahan. Mengapa suara tadi terdengar tidak asing?

“Chocho?!! Apa kamu di situ?”

Suara tadi terdengar lagi. Aku segera terlonjak dari tempatku. Benar, suara itu …

Semak-semak di belakang tersibak dan seseorang keluar dari sana. Tidak salah dugaanku, Hyesun sekarang berdiri di hadapanku. Sepasang tangannya memangku dua anak anjing lainnya. Dia kelihatan sangat terkejut—begitu juga denganku. Tapi hanya sesaat. Tak sampai lima detik aku dan dia tertawa secara bersamaan.


“Dia anak anjingmu?” aku menyodorkan anak anjing di tanganku ke depan.

“Bukan!” Hyesun mengeleng. “Tadi saya bermain-main dengan mereka.” Dia menunduk ke kedua anak anjing dalam pelukkannya. “Mereka milik sepasang muda-mudi di sana.” Kemudian dia berpaling ke semak-semak di belakang—yang menutupi arah pandang ke kolam kecil. “Mereka sedang … ,” dia kelihatan ragu-ragu untuk melanjutkan perkataannya.

“Ya?!”

“Hmm—sudahlah!” dia tersenyum kaku. “O ya, apa yang kau lakukan di sini?”

“Bukankah seharusnya saya yang menanyakan pertanyaan ini?” balasku begitu teringat pada waktu. “Kamu tahu jam berapa sekarang?”

Hyesun melirik jam tangannya. “Pukul 2 lewat seperempat .. ,” jawabnya polos.

“Dan kamu masih berkeliaran di sini?” mataku melebar—tak percaya. “Kamu sendirian? Mana Sammul?”

Hyesun memajangkan bibirnya ke depan. Dia terlihat manis kalau lagi cemberut. Terus terang amarah yang melandaku sirna begitu saja. Tapi aku tidak ingin memperlihatkannya. Aku memandanginya dengan tampang garang.

“Bagaimana?”

“Sam tidak bersamaku.” Hyesun menjatuhkan dirinya di bangku. “Kami berpisah setelah acara di Grand Hotel. Dia bilang kepalanya terasa sakit. Jadi mungkin dia sudah tertidur sekarang. Saya tidak ingin menganggunya jadi kuputuskan jalan-jalan sendiri.” Dia mengelus-ngelus kepala dua anak anjing dalam pangkuannya. “Saya tidak bisa tidur.” Lanjutnya dengan nada pelan.

Aku duduk di sampingnya. Anak anjing—si Chocho—masih dalam rangkulan tanganku. “Mengapa? Kamu mengidap insomnia?” tanyaku agak khawatir.

Dia mengeleng dengan cepat. “Tidak! Bukan itu!”

“Lalu?!”

“Saya hanya banyak pikiran, dan .. ,” mata Hyesun melirik ke atas—seperti memikirkan jawaban yang tepat buat pertanyaanku. “… mungkin ditambah berisiknya letupan-letupan dari kembang api … ,” dia tersenyum perlahan. “Hanya itu .. “

Aku mengangguk. “Kamu harus beristirahat yang banyak setelah ini .. “

“Ne .. ,” jawabnya lembut.

“Anak anjing ini .. ,” aku mengangkat makhluk mungil di tanganku. “Chocho-kan namanya?”

“Ne.” sahut Hyesun. “Dan ini Sugar .. ,” dia menepuk kepala anak anjing berbulu ikal kecoklatan, “ sedangkan yang ini Snow .. ,” dia mengangkat anak anjing satunya, “dia sejenis dengan Chocho. Dari ras Chihuhua juga .. “ kemudian dia tertawa perlahan. “Mungkin mereka pacaran .. “

“Mungkin saja .. ,” jawabku asal-asalan. “Lalu apa mereka tidak perlu dikembalikan ke pemiliknya?”

Tawa Hyesun terhenti. Dia berdeham perlahan. “Mereka … ,” kata-katanya tidak berlanjut.

“Kenapa?” aku berdiri dari posisiku. “Sebaliknya mereka dikembalikan saja. Tidak enak kalau pemiliknya mencari-cari mereka .. “

Aku bermaksud mengambil Sugar dan Snow dari tangan Hyesun tapi dia segera menyusut.

“Tidak bisa!!”

“Mengapa?” tanyaku. “Kamu tidak bermaksud memilikinya-kan?” keningku mulai berkerut. “Jangan lupa Hyesun-a, … kita bukan orang sini! Kamu tidak bisa membawa mereka ke Korea.”

“Bukan begitu!!”

“lalu?!”

“Mereka .. mereka .. “

“Mengapa kamu segagap ini?!” tanyaku lebih keras dari tadi.

“Sepasang muda-mudi itu … “

“Ya?!”

“Mereka sedang … ,” Hyesun mengigit bibir keras-keras. “Mereka sedang …. Bermesraan .. “

Hening seketika. Hyesun menundukkan kepalanya perlahan-lahan. Lewat lampu taman yang berhasil menyorot wajahnya, aku melihat sepasang pipi itu mulai memerah. Keajaiban yang kesekiankalinya terjadi padaku. Dia begitu mempesona jika sudah malu-malu begini. Aku menjatuhkan diri kembali di sebelahnya. Kami tidak berkata-kata selama beberapa menit ke depan. Dapat kulihat Hyesun tidak berani mengangkat wajahnya. Aku mengulum senyum perlahan.

“Jadi tugas kita menjaga anak-anak anjing ini sementara pemiliknya bermesraan?”

“Dhe?!” Hyesun mengangkat wajah dan memandangiku.

“Bukankah begitu?”

“O .. ,” mulut Hyesun terbuka. “Miane … Aku tidak bermaksud menyita waktumu .. “

“Heii Goo Hye Sun!!”

“Ne?“

“Sudah berapa lama kamu tidak meminta maaf padaku?”

“Hah?!” mulut itu kembali terbuka.

Aku tertawa dan mengucek rambutnya. “Kamu ini!” kataku gemas. “Lain kali jangan minta maaf lagi.”

“O ha .. ha .. ,” dia ikut tertawa.

Suasana jadi meriah dipenuhi suara ketawa kami. Sementara kembang api masih memenuhi cakrawala. Chocho, Snow dan Sugar menyalak bersamaan—seperti mengerti suasana hati kami.

“Indah ya?” aku menatap langit.

“Iya … ,” Hyesun mengikuti gerakanku. “Menurutmu .. apa Korea juga seindah ini?” tanyanya pelan.

Aku berpaling padanya. Wajah putih mulus itu terlihat silau akibat pantulan sinar kembang api dan bintang. “Pasti .. “

Hyesun membalas pandanganku. “Apa kamu merindukan Korea?”

Dia menatapku sangat lekat dan aku mengerti arah pertanyaannya.


Aku menghela nafas kemudian menjawab—suaraku terdengar agak parau—, “Kamu ingin mendengar yang sesungguhnya?”

Hyesun mengangguk. “Aku tahu tidak berhak menanyakan ini tapi … “

“Aku merindukan Korea … ,” selaku, yang langsung disambut ekspresi sedikit kecewa darinya.

“Memang .. ,” matanya berkilat-kilat oleh air yang mulai mengenangi pelupuk mata.


“Seharusnya begitu .. ,” dia mengigit bibir kemudian menundukkan kepalanya.

“Bukan itu maksudku!” ujarku cepat dengan nada menyesal. “Aku memang merindukan Korea, tapi ini dalam arti sebenarnya.” Aku menyentuh rambutnya. “Dulu aku tidak menyukai Korea tapi sekarang .. aku mencintainya. Dan itu karena kamu, Hyesun-a .. “

Hyesun mengangkat kepalanya. Tanganku berpindah dari rambut ke wajahnya. Kuelus kulit sempurna itu dengan lembut. “Tentang Angel …. Aku tidak bisa berbuat lain. Kamu tahu itu-kan?”

Hyesun membalas pandanganku. Matanya terpejam dan .. dua butir air bening mengalir turun dari pelupuk matanya.

“Hyesun-a .. “

Dia mengeleng perlahan. “Saya tidak apa-apa .. ,” jawabnya di sela-sela isakkan halus. Dia tersenyum. “Saya mengerti .. “

“Gumawo .. ,” kataku sambil meraih tubuhnya ke dalam pelukan. “Dan .. miane .. “

“Tidak apa-apa .. ,” suaranya terdengar serak di telingaku. “Ini sudah nasib karna kita bertemu belakangan.” Dia membalas pelukanku. Bahkan sangat erat. “Di kehidupan kemudian .. aku ingin dipertemukan dulu denganmu .. ,” dia melepaskan pelukannya dan memandangiku dengan sikap menuntut. “dan kamu harus menjadi milikku. Tidak boleh tidak!!”

Tawaku langsung pecah melihat keseriusannya. “Ini Goo Hye Sun yang kukenal?” wajahku condong ke depan. Kusentuh pelan jidatnya dengan ujung telunjukku sehingga matanya terpejam. “Mengapa kamu jadi semaksa ini? Kemana sifatmu yang penurut?”

Dia langsung manyun. “Saya tidak ingin selalu begitu. Kamu bisa berubah, mengapa saya tidak?”

“Ok araso .. ,” aku mengangkat tangan ke atas. Senyumku masih terhias di bibir. “Kita sama-sama berubah. Itu tidak jadi masalah … asal … ,” perkataanku terhenti. Hyesun segera memandangiku dengan sinar mata bertanya. Aku kembali menyentuh wajahnya. “Perasaan kita tidak berubah .. ,” lanjutku pelan. “Promise?!”

Bibir Hyesun terbuka perlahan. Dia tidak mampu berkata-kata. Dan entah apa yang ada dalam pikiranku ketika aku bergeser semakin dekat ke arahnya. Bibir ranumnya masih terbuka ketika hidungku menempel di pipinya. Hembusan nafasnya yang hangat menerpa wajahku. Aku melihat matanya terpejam dan tanpa pikir panjang lagi kulumat bibirnya. Tubuh Hyesun menegang. Dia mendesah dan membalas ciumanku lambat-lambat. Bibirnya terasa lembut—seperti ciumanku yang sudah-sudah.


“Anak-anak ada di sana!!”

Teriakkan keras dalam bahasa Korea itu membuat kami tersadar. Hyesun segera mendorong tubuhku menjauh darinya. Sepasang pipinya memerah seketika.

“Oh maaf kami menganggu kalian!!” suara tadi terdengar lagi.

Lepas dari kekagetan aku menoleh ke belakang. Sepasang muda-mudi sudah berdiri di belakang bangku yang kami duduki. Sekarang mereka memutari bangku panjang ini dan sampai di depan kami.

“Onnie ternyata ada yang menemani .. ,” kata si gadis dengan senyum mengoda.

“Bu .. bukan begitu .. ,” sahut Hyesun gugup. “Kami .. kami hanya sahabat karib .. “

Aku menghela menghembuskan nafas perlahan. Sifat gugupnya kambuh lagi. Segera kutarik tangannya sambil menghadapi dua orang asing di depan. “Seperti yang kalian lihat .. ,” aku tersenyum. “Apa kalian menjemput anak-anak anjing ini?”

“Ne.” si pemuda menjawab. Dia menerima Chocho yang kusodorkan sementara tangan yang satu mengambil Snow dari bangku. Si gadis melakukan hal yang sama. Dia mengangkat Sugar dan memeluknya erat-erat.

“Gumawo sudah menjaga anak-anak kami, onnie dan oppa .. ,” kata si gadis. Tiba-tiba tangannya terjulur padaku. “Kita belum berkenalan. Namaku Cluei Song. Orang Korea juga seperti onnie. Sedangkan dia .. ,” dia menunjuk pemuda di sebelahnya. “Lawrence Kang, pacarku. Nama oppa siapa?”

“Lee Min Ho .. ,” aku menerima jabatan-tangan mereka secara bergantian.

Setelah perbincangan ringan selama beberapa menit, pasangan tersebut berlalu dari hadapan kami dengan membawa puppiesnya. Keadaan menjadi hening sepeninggal mereka. Hyesun tidak berani membalas pandanganku. Kepalanya tertunduk sangat dalam. Tentu saja semua itu akibat ciuman hangat tadi. Aku terlalu bisa membaca pikirannya.

Aku menunduk melihat jamtangan kulit yang melilit pergelangan tangan kiriku. Sudah pukul setengah empat. Angin bertiup semakin kencang. Aku mendengar Hyesun mengigil. Aku berpaling padanya. Tubuhnya terlihat bergetar. Tangannya merapatkan mantelnya di depan dada. Aku menghela nafas kemudian melepaskan mantel panjang yang kupakai. Kusampirkan mantel tersebut ke tubuhnya. Dia langsung memprotes.

“Tidak usah! Nanti kau kedinginan.”

“Aku tidak apa-apa.” Jawabku. “Aku tidak ingin melihatmu sakit jadi jangan membantah lagi!”

Dia terdiam. Aku memperhatikan keadaan di sekitar situ.

“Udara semakin dingin sebaiknya kita pulang sekarang .. ,” aku berdiri dari bangku dan membantunya ketika tubuhnya agak oleng. “Aku akan mengantarmu … TIDAK!” sahutku tegas begitu melihatnya akan bersuara. “Kamu tidak boleh menolak. Lihat jam berapa sekarang!”

“Tapi .. “

“Diamlah!” aku menyela. “Sekarang di mana tempat tinggalmu? Arah sini?” aku menunjuk ke sebelah kanan.

Dia mengeleng. “Tadi saya masuk lewat gerbang belakang.”

“O, kalau begitu ayolah!”

“Apa kamu sejurusan?” tanyanya ragu-ragu. Dia berlari-lari kecil mengejarku yang sudah berjalan lebih dulu.

“Aku bisa berjalan memutar lewat jalan besar .. ,” jawabku tanpa menoleh.

“Kamu tidak perlu repot-repot. Saya bisa pulang sendiri .. “

“Tidak repot!” sahutku pasti. “Seharusnya saya mengambil jalan itu tadi. Sepatuku berlepotan tanah gara-gara masuk lewat jalan tanah .. “

“Jadi tidak apa-apa?!” tanya lagi.

“Iya, tidak apa-apa kok!”                                  
 

***********



Kami sampai di depan apartemen Hyesun. Sesuatu yang mengejutkanku selama melintasi jalan ke apartemen ini, ternyata tempat tinggalnya dekat dengan rumahku. Hanya terpisah satu blok di belakang. Aku menoleh ke kiri dan kanan—seperti menjawab pertanyaan dalam benakku, Hyesun berkata. “Sam tinggal di apartemen sebelah .. .”

Dia menunjuk ke apartemen sebelah kiri yang gelap kemudian memutar anak kunci yang sudah dimasukkan ke lubang kunci. Pintu terbuka tanpa suara. Aku mengigil perlahan. Udara yang sangat beku ditambah mantel yang kupinjamkan pada Hyesun membuatku kedinginan.

Hyesun melepas mantel yang menyampir di pundaknya kemudian mengembalikannya padaku. Aku menerimanya dan segera kupakai.

“Gumawo .. ,” katanya.

“Hmm—,” gigiku bergemelatuk hebat. Kugosok-gosokkan tangan di seputar tangan dan dada.

“Kamu .. tidak apa-apa kan?” tanya Hyesun khawatir.

Aku mengeleng. “Cuma kedinginan .. ,” jawabku dengan suara gemetar.

“Kalau begitu masuklah sebentar .. ,” kata Hyesun. “Saya bisa menghangatkan coklat panas buatmu. Wajahmu terlihat pucat sekali .. “

“Apa tidak menganggu?”

“Tidak!” jawab Hyesun cepat. “Saya hanya cukup menghangatkannya di atas kompor. Coklat tersebut sudah saya buat sebelum usaha tidur yang gagal.”

Aku mengangguk. “Baiklah.”

Hyesun melebarkan jalan masuk ke dalam apartemen. Aku tersenyum kecil—agak risih juga membayangkan hanya kami berdua dalam apartemen ini. Aku berjalan masuk diikuti Hyesun. Pintu ditutup setelah kami berada di dalam.


***********



Hyesun meletakkan secangkir coklat di depanku.

“Punya kamu?” tanyaku.

Dia mengeleng. “Aku sudah minum ketika keluar tadi.”

Aku mengangguk. Kuambil cangkir dari atas meja dan menyeruput isinya. Terasa nikmat. Hangatnya terasa sampai ke ubun-ubun.


“Agak baik-kan?”

“Ne.” Aku menaruh cangkir yang telah kosong ke atas meja.

“Nambah lagi?”

Aku mengeleng perlahan. “Tidak. Cukup satu cangkir saja. Aku bukan pengemar coklat.”

“O .. “

Kemudian kami terdiam dalam waktu bersamaan. Hyesun meremas-remas tangannya. Dia terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi segera dibatalkannya begitu pandangannya bertemu dengan pandanganku.

“Wegude? Ada yang ingin kau katakan?” tanyaku—berlagak tidak tahu maksudnya.

“Aniyo.” Jawabnya pendek.

Sunyi lagi sampai aku mengeluarkan permintaan yang membuat Hyesun terperanjat dari tempatnya. “Boleh saya tidur di sini malam ini?”

“MWO?!!”

Aku tertawa—tak mampu menahan geli melihat ekspresi wajahnya. “Tenang saja. Tidak seperti yang kau pikirkan.”

“Aniyo!” dia mengeleng keras-keras. “Saya tidak berpikir apa-apa!”

“O ya?” godaku. “Tapi mengapa reaksimu seperti itu?”

“MWO?! Saya .. saya .. “

“Sudahlah!” aku menyela begitu melihatnya kebingungan setengah mati. “Saya tidak akan mengodamu lagi.” Sambungku—mencoba menenangkannya. “Aku hanya tidak ingin menyentuh udara dingin untuk saat ini, Hyesun-a. Kepalaku terasa sangat berat. Aku yakin akan demam jika memaksakan diri berkeliaran di luar. Lagipula aku tidak punya maksud lain .. “

“Tapi .. ,” Hyesun terlihat masih kebingungan. “Apartemen ini hanya ada satu kamar tidurnya .. “

“Begitu?” alisku terangkat. “Saya bisa tidur di sini kalau begitu .. ,” aku menepuk sofa yang kududuki. “Tidak masalah bagiku .. “

“Sofa ini?” Hyesun kelihatan tidak percaya. “Dengan tubuh sejangkung kamu?”

“Yah mungkin akan sedikit kesusahan .. ,” aku tertawa hambar. “Tapi gimana lagi? Kamu juga tidak akan mengijinkanku tidur sekamar denganmu-kan?”

“Ehmm—,” Hyesun membuang muka kearah lain. “Jika .. jika tidak ada cara lain, saya … saya tidak keberatan .. “


“Mwo? Kamu serius?”

Hyesun segera berdiri dari tempatnya. “Saya akan mengeluarkan selimut dulu. Kamu .. kamu bisa masuk ke dalam kamar lima menit kemudian .. .”

Tergesa-gesa dia masuk ke dalam kamar tidurnya yang terletak paling ujung. Aku melihat sosoknya menghilang dibalik pintu kamar. Sesaat aku mengangga, kemudian perlahan-lahan aku mengaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Masih keheranan dengan sikapnya yang aneh.  


***********



Kami tidur dengan posisi saling memunggungi. Entah sudah berapa lama kami berada dalam posisi yang sama. Hyesun tidak bergerak sedikitpun—nafasnya saja tidak kedengaran—sehingga aku khawatir dia sudah menjadi arca. Aku berbalik perlahan-lahan sampai punggungnya terlihat olehku.

“Kamu .. sudah tidur?” tanyaku pelan.

Dia tidak bereaksi. Aku menghembuskan nafas perlahan. Mungkin dia memang sudah tertidur!, pikirku dalam hati. Tapi tubuhku menjadi kaku ketika tubuhnya bergerak—sangat lambat sampai menghadapiku. Dia kelihatan tersentak mendapati wajahku begitu dekat dengan wajahnya.

“Ohh!!” dia berseru tertahan. Mulutnya mengangga lebar.

“Mian .. ,” balasku tak kalah histerisnya.

Aku langsung duduk tegak di atas ranjang. “A .. apa tidak sebaiknya saya tidur di luar saja?” aku menatapnya kebingungan.

Kami saling melempar pandang dengan serba salah. Kakiku sudah turun ke lantai ketika dia berseru lirih.

“Saya … saya rasa tidak apa-apa. Gwencanayo .. “

“Kamu yakin?”

Dia mengangguk. “Ne.”

Aku kembali menjatuhkan tubuh di atas ranjang—di sebelahnya. Keadaan jadi kaku sejenak. Pandanganku melayang ke langit-langit kamar. Aku tidak berani menatapnya karena aku yakin saat ini perasaannya sedang kacau. Ya, untuk pertamakali tidur seranjang dengan seorang cowok, siapa yang tidak? Tapi mungkinkah?

“Apa ini pertamakalinya?” aku memberanikan diri bertanya.

“Mwo?” aku menangkapnya berpaling padaku lewat sudut mata.


“Pertamakalinya tidur seranjang dengan seorang cowok?” aku menoleh padanya.

Lagi-lagi sepasang pipi yang memerah itu membuatku terpesona. Dengan cepat Hyesun menoleh ke arah lain—ke jendela yang gordennya terbuka. Samar-samar sinar lembut dari bintang-bintang yang mengantung di langit memasuki ruang kamar.

Aku bergerak merangkul tubuhnya. Daguku bertumpu di tenguknya yang hangat. Dia tidak perlu menjawab aku sudah mengetahui jawabannya jadi aku tidak bertanya lebih lanjut. Hyesun bergerak-gerak dalam rangkulanku. Dia kelihatan tidak nyaman dipeluk mendadak olehku.

“Yaa—lepas .. “

“Shido!” tolakku di sela-sela telinganya. “Aku ingin memelukmu seperti ini. Hanya untuk malam ini—jadi ijinkan saya, Hyesun-a … ,” pintaku dengan suara sengau. “Lagipula begini lebih hangat, kan?”

Hyesun tidak menjawab. Tapi dia juga tidak berontak lagi. Kami terdiam dalam posisi aku merangkulnya dari belakang. Pandangan kami terarah ke luar jendela.

“Malam ini indah ya?”

Hyesun mengangguk. “Ne, indah sekali .. “

“Aku teringat padamu di kala melihat pemandangan di luar sana. Membayangkanmu muncul di hadapanku, berada di sisiku dan tersenyum padaku.” Desahku lirih. “Aku bersyukur kita dipertemukan lagi oleh-Nya. Menurutmu apakah ini takdir?”

Hyesun tidak merespon pertanyaanku. Sepasang matanya terpejam perlahan.

“Bahkan boneka ini .. ,” aku agak merangkak bangun dari pembaringan—melewati tubuh Hyesun, dan menjangkau boneka singa berkaki panjang di atas meja dekat ranjang. “ .. tidak kupercaya dia akan jatuh ke tanganmu .. “

Hyesun langsung berpaling padaku. “Maksudmu, ini kadomu?!” tanyanya terkejut.

“Ne .. ,” jawabku dengan mata tak berkedip.

“Oh!” matanya terpejam lagi. “Lebih tidak dipercaya lagi, kadoku juga jatuh ke tanganmu .. ,” matanya terbuka dan memandang hampa langit-langit di atasnya.

“MWO?!” seruku.

Hyesun tertawa hambar. “Permainan nasib ya? Entah baik atau buruk?!”

Oh Tuhan,, untuk saat ini tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain memeluknya seerat-eratnya. Aku meraup tubuhnya dan menenggelamkan wajahku di lehernya. Kuhirup wanginya yang khas. Kemudian kukecup pelan. Aku mendengarnya mendesah.

“Miane, Hyesun-a … “

Dia mengeleng pelan. “Tidak perlu minta maaf. Aku tahu kamu tidak menginginkan semua berjalan seperti ini.” Wajahnya bergerak kearahku sehingga pandangan kami bertemu. “Justru karena sifatmu ini, aku .. aku menyukaimu. Karena kamu memperhatikan perasaan orang lain. Kamu tidak egois. Kamu menghargai kasih sayang, tidak hanya cinta nafsu antara pria dan wanita.”

Tangannya menyentuh pipiku sehingga mataku terpejam. “Karena itu saya mencintaimu .. Minho-a .. “

Aku mempererat rangkulan di tubuhnya. “Kamu salah .. ,” desisku di telinganya. “Aku sangat egois, Hyesun-a. Dulu,, bahkan aku tidak pernah mau pusing-pusing memikirkan perasaan orang lain. Aku berubah karenamu .. “

Kemudian kami tidak bersuara lagi. Cukup dengan rangkulan yang erat—saling menyentuh satu sama lain, sudah mampu menyalurkan semua kasih sayang dan kerinduan yang kami rasakan selama ini. Kami terlena ke alam mimpi hanya dalam waktu lima menit. Pikiran-pikiran penat, baik oleh pekerjaan atau masalah lain, terlupakan begitu saja.  

    
***********



Tubuhku bergerak. Tanganku mencari-cari sesuatu tapi tidak ketemu. Aku tersentak bangun. Apakah Cuma mimpi? Tapi tidak! Ini bukan tempat tinggalku jadi kejadian semalam bukan mimpi. Mataku menyipit perlahan. Sinar terang dari mentari pagi menerobos masuk lewat kaca jendela menyilaukan pandanganku.

“Kamu sudah bangun?”

Sapaan pelan itu membuatku berpaling. Hyesun muncul dengan pakaian yang sudah diganti. Rambutnya agak basah dan dia memakai kacamatanya lagi setelah beberapa waktu lalu aku tidak melihatnya.  
  
“Pagi .. ,” balasku sambil menatapnya tak berkedip. Aku menyukai penampilannya pagi ini. Sejujurnya dalam pandanganku kacamata tebal itu tidak membuatnya jelek. Bahkan dia terlihat lucu dengan mata yang kelihatan lebih besar akibat efek dari kaca yang melengkung itu.

“Pagi .. ,” Hyesun tersenyum. “Sarapan yang kupesan sudah tersaji di atas meja. Sebaiknya kamu membersihkan wajah dulu. Aku menunggumu di luar .. “

Hyesun membuka lemari dan mengambil sweater warna merah dari dalam. Dia memakai sweater itu kemudian berpaling padaku. “Bergegaslah. Nanti makanannya dingin.”

Aku mengangguk. Setelah merengangkan otot-otot yang terasa kaku, aku turun dari ranjang.

“Apa kamu ada acara hari ini?” tanya Hyesun ketika aku sampai di depan pintu kamar mandi.

Aku menoleh padanya. “Aniyo. Raymond cs sudah kuliburkan jadi hari ini aku harus berkutat sendiri dengan pekerjaan yang menumpuk .. “

“O .. ,” Hyesun mengangguk.

“Memangnya kenapa?” tanyaku dengan pandangan menyelidik.

“Tidak apa-apa.” Jawab Hyesun. “Cepatlah!” dia berlalu dari hadapanku begitu saja.

Kepalaku bergerak ke samping. Aku mengangkat bahu kemudian masuk ke kamar mandi.

 
***********



Sepuluh menit kemudian aku dan Hyesun menghadapi sarapan hari ini di ruang depan. Makanan-makanan yang terhidang di atas meja termasuk sederhana. Semangkuk oatmeal di tambah sepotong toast yang sudah diolesi mentega dan jam blueberry buatku sedangkan Hyesun memilih telur dadar dengan ham. Dua gelas orange juice di letakkan di sebelah piring kami masing-masing.

“Saya tidak tahu apa yang kamu sukai .. ,” kata Hyesun. “Dari kunjunganku di apartemenmu waktu itu .. ,” dia mengigit bibir perlahan. Aku yakin dia teringat kembali pada ciuman pertama kami. Ciuman panas waktu kunjungannya yang pertama di apartemenku—kira-kira setengah bulan yang lalu. “saya rasa kamu .. kamu termasuk pecinta makanan sehat .. ,” lanjut Hyesun.

Aku tersenyum. “It’s ok. Ini sudah cocok buatku .. “

“Chinja?!” Hyesun bernafas dengan lega. “Syukurlah kalau kamu menyukainya .. “

Aku menoleh ke samping dan mengulum senyum. Kuambil gelas dari atas meja dan meneguk orange juice dengan nikmat. Setelah itu kami mulai sarapan. Tidak ada yang bersuara. Dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring terdengar lumayan nyaring. Kami menghabiskan makanan-makanan dalam piring dalam waktu duapuluh menit. Setelah mengelap bibir dengan serbet, aku kembali mereguk orange juice yang tinggal setengahnya.

“Apa kamu ada acara lain malam ini?” tanyaku sambil meletakkan gelas ke atas meja.

“Aniyo .. ,” Hyesun meletakkan sendoknya di atas piring yang sudah kosong kemudian meraih gelas orange juicenya. “Weo?!”

“Bagaimana kalau kita makan malam bersama?”

Ajakkanku hampir membuat Hyesun tersedak. Juice yang sudah ditengaknya seteguk ditelan dengan susah payah. “MWO?!” matanya terbelalak lebar memandangiku.

“Malam ini aku akan makan malam sendirian.” Katanya ringan. “Raymond cs ada acara lagi. Jadi apa kamu bisa dinner bersamaku?”

Hyesun mengangguk seperti sapi dicucuk hidungnya. Aku tertawa ngakak melihat ekspresi wajahnya yang lucu. Segera kusentil pipinya dengan gemas. “Aku akan menjemputmu nanti malam—sekitar pukul 6 sore. Jadi bersiap-siaplah.”

Hyesun mengangguk lagi dengan patuh. Aku berdiri dari kursi dan menyentuh lengannya. “Aku harus pergi sekarang, Hyesun-a. Mesti bertarung kembali dengan pekerjaan-pekerjaan yang tertunda.”

“Aku akan mengantarmu ke depan.” Hyesun berdiri dari posisinya.

Aku mengangguk. Kami berjalan ke pintu depan dengan beriringan. Hyesun membuka pintu kemudian kami melangkah keluar. Betapa terkejutnya kami begitu mendapati Sammul sedang berjalan ke arah kami dari jalan setapak di depan. Pria muda itu kelihatan tidak kalah terkejutnya dengan kami. Langkahnya agak memelan. “Minho-ssi .. ,” ujarnya lirih. Tapi tidak cukup lirih untuk tidak tertangkap olehku.

Aku dan Hyesun saling berpandangan beberapa saat. Kepala Hyesun tertunduk perlahan. Aku menepuk lengannya dan mengajaknya mendekati Sammul. Dia mengangguk kemudian mengikuti langkahku.

“Good morning Sammul Chan .. ,” sapaku begitu sampai di depan pemuda itu. Tanganku bersidekap di depan dada.


“Sam .. ,” Hyesun mengikuti dengan lemah di sebelahku.

Sammul mengangguk. “Pagi .. ,” balasnya sambil memandangi kami dengan pandangan bertanya.

“Saya harus pergi sekarang .. ,” aku menepuk lengan Sammul dengan gaya akrab. “Sampai ketemu lagi.”

Aku menoleh pada Hyesun dan tersenyum padanya. Gadis itu membalasku kikuk. Kemudian aku beralih pada Sammul. “O ya, pesta kemarin sangat hebat .. “ Kembali kusentuh pundaknya.

Dia tersenyum kaku. Aku mengangkat tangan ke atas. “Bye .. ,” kemudian berlalu dari hadapan mereka. Jalan yang kutempuh sekarang dari arah sebaliknya. Tidak akan kusentuh lagi jalan tanah yang lembek itu.    


***********



Goo Hye Sun …

Sepeninggal Minho, Sammul menatapku lekat-lekat. Aku menjadi risih dipandangi begitu. Aku berusaha tersenyum tapi terasa hambar.

“Mengapa dia bisa berada di sini sepagi ini? Apa kalian … ?”

“Tidak!” jawabku cepat. “Bukan seperti yang kau pikirkan!”

“Jadi?”

Aku tidak mampu menjawab. Apa Sammul akan percaya padaku kalau di antara kami tidak terjadi apa-apa setelah semalaman tidur dalam satu ranjang? Rasanya tidak mungkin.

“Saya sadar tidak berhak menanyakan ini, Hyesun-a.” kata Sammul pelan. “Tapi sebagai sahabatmu .. saya tidak ingin kamu menyesal buat sesuatu yang seharusnya tidak kamu lakukan. Kamu tahu-kan Minho-ssi tidak sendirian. Gadis yang kita lihat waktu di Namsan tower .. “

“Saya tahu .. ,” selaku. “Saya sangat mengerti.” Aku membalas pandangannya. “Seperti yang saya katakan bukan seperti yang kau pikirkan .. “

“Bagus kalau begitu .. ,” Sammul menghela nafasnya kemudian dia tersenyum perlahan. “Sekarang bersiaplah. Kita keluar sebentar lagi .. “

Mataku melebar. “Kemana?”

“Kenneth tadi menghubungiku. Ada barbeque di villanya dan dia mengundang kita ke acara kita .. Kelihatannya akan ramai karena beberapa staff Florest Capital juga hadir di sana .. “

“Sekarang?”

“Ne. Ambil tasmu. Aku akan menunggumu di sini.”

Aku mengangguk. Terburu-buru aku berlari ke dalam rumah. Mengambil tas selempang yang tergeletak di sofa kemudian kembali lagi ke serambi depan. Kukunci pintu depan dengan anak kunci yang kuambil dari dalam tas lalu berjalan kearah Sammul.

“Sudah beres?”

Aku mengangguk.

“Bagaimana dengan mesin penghangatnya? Apa sudah dimatikan?”

“Ne. Sudah kumatikan sejak bangun tidur tadi.”

“Bagus. Kalau begitu kita berangkat sekarang. Aku akan menyetir hari ini.”

Sammul tersenyum lebar dan aku membalasnya. Aku menyejajari langkahnya yang cukup lebar. Sesekali dia berhenti untuk mengimbangi langkahku. Dia memang sangat pergertian. Sayang saya tidak bisa membalasnya dengan apa-apa, karena hatiku .. sudah dicuri pria lain. Sesalku dalam hati. Lee Min Ho—andai saja dia .. dia sebebas dirimu. Mungkin perjalanan cinta kami tidak seperti ini ..


***********



Lee Min Ho ..

Aku sampai di apartemen Hyesun sekitar pukul 6:15 sore. Agak terlambat limabelas menit dari waktu yang kujanjikan. Sketsa-sketsa Florest Hotel terlalu menyita perhatianku. Kutekan bel di pintu depan. Tak sampai semenit pintu tersebut terbuka. Hyesun berdiri di depanku dengan terbalut kemeja kotak-kotak panjang warna coklat dan putih. Luarannya dia mengenakan mantel sepinggang dipadu syal panjang warna abu-abu sedangkan bagian bawahnya celana jeans ketat warna hitam membalut sepasang kakinya yang jenjang. Kacamata tebal itu tetap bertengger di hidungnya. Rambutnya yang sebahu dibiarkan tergerai melambai-lambai halus tertiup angina.

“Miane saya terlambat .. ,” kataku setelah puas menikmati penampilannya yang walaupun agak tomboy tapi terlihat memukau.

Dia tersenyum. “Tidak apa-apa. Saya juga baru pulang sebentar kok. Ini juga baru habis mandi.”

“Kamu keluar?” tanyaku dengan alis berkerut. “Dengan Sammul?”

“Ne.” Hyesun menjawabku dengan nada ringan. Seakan tidak menangkap nada dingin dalam suaraku. “Habis barbeque dari villa Kenneth.”

“Oh lalu bagaimana kamu bisa makan malam denganku kalau perutmu sudah terisi semua?”

Dia tertawa kecil sambil mengibaskan beberapa helai rambut yang menutupi jidatnya. “Tenang saja. Berapa banyakpun bisa kuhabiskan.”

“Apa kamu gorilla?”

“Aniyo!” sahut Hyesun kaget. “Saya barbequenya tadi siang. Sekarang perutku sudah lapar.”

“Kamu tidak dinner sama Sammul?” aku sadar pertanyaanku sudah melebihi batas tapi tidak bisa dicegah. Pertanyaan tersebut melontar begitu saja dari bibirku.

“Saya kan sudah janji denganmu.” Jawab Hyesun keheranan.

“Ne, benar. Jika bukan janji denganku, kamu pasti sudah makan malam dengannya! Benar, kan?” Ok, ini sudah benar-benar keterlaluan. Apa hakmu cemburu padanya, Minho-a? Sejak kapan kamu merasakan perasaan cemburu yang sangat kuat seperti ini? Perasaan, selama bersama Angel kamu tidak pernah begini.

Hyesun tertegun. “Kamu kenapa, Minho-a?”

Aku langsung menghindari pandangannya. “Tidak apa.” Aku berbalik. Tanpa menunggunya aku berjalan dengan langkah lebar masuk ke jalan berkerikil yang membelah pemukiman tersebut.

“Yaa—tunggu saya!!”

Hyesun berlari mengejarku sambil berteriak-teriak. Tapi aku tidak berhenti. Aku terus berjalan tanpa menoleh padanya. Perasaanku masih kesal, panas atau apalah itu. Hyesun sampai di dekatku dengan nafas terengah-engah. Bisa dimaklumi kakiku yang panjang menyulitkannya mengimbangi langkahku.

“Huhhuhh—a .. apa yang terjadi?” dia bertanya di sela-sela nafasnya yang memburu.

Aku berpaling padanya. Tidak menjawab, hanya menatapnya lekat-lekat. Wajahnya yang putih terlihat memerah akibat olahraga tidak perlu tadi. Aku berpikir untuk beberapa saat—bertanya-tanya dalam hati. Perlukah kemarahan tidak perlu ini?! Dia tidak bersalah. Mengapa harus menerima hukuman dariku? Jika kamu tega memutuskan Angel, kamu baru berhak cemburu tak karuan seperti ini, Minho-a. Tapi sekarang,, dia bukan siapa-siapamu. Dia hanya seorang teman. Hanya sebatas teman. Kamu tidak berhak mengatur jalan hidupnya.

“Ada apa?”

Pertanyaan itu menyentakku. Aku mengeleng perlahan. “Tidak. Tidak apa-apa.” Jawabku sambil tersenyum. Tanpa diduganya tanganku melingkar ke lehernya yang hanya sampai di dadaku. Dia tersentak dan mundur sedikit. Tapi aku tidak membiarkannya menghindar. Kembali kutarik tanganku sehingga tubuhnya merapat kearahku.

“Yaa—“

“Kenapa?” aku tersenyum simpul. “Kamu malu berjalan denganku?”

“Aniyo!” bibirnya manyun beberapa mm membuatku ngakak. Dia semakin semberut melihat reaksiku yang begitu besar. “Lucu-ya?”

“Ne.” aku menjawab dengan serius. Kemudian tubuhku condong ke arahnya. “Kamu .. kamu terlihat lucu dan .. manis kalau lagi cemberut seperti ini .. “

“Yaa—!!!” tangan Hyesun bergerak berniat mencubitku. Tapi dengan sigap aku menghindar. Sudah kuperkirakan dia akan berbuat begitu. Mengapa? Bukankah selama ini dia tidak seberani ini? Aku juga tidak tahu. Hanya feeling …


***********



Begitu lampu ruang depan menyala, Hyesun langsung terpukau dengan apa yang tersedia di atas meja.

"Ini ... "

Aku mengulum senyum melihat reaksinya.


"Ka .. kamu mempersiapkannya sendiri?" tanyanya tak percaya. Di dekatinya meja makan yang sudah dirias sedemikian rupa dengan lambat-lambat.

Berpuluh tangkai mawar merah terangkai dalam vas kaca di atas meja. Tiga batang lilin terpasang di tempat lilin dari perak di sebelahnya. Dan dua piring besar berisi steak hampir matang yang terlihat lezat tertaruh di depan dua kursi yang saling berhadapan. Dua gelas dari kristal terletak di samping piring-piring tersebut. Sementara sebotol anggur keluaran tahun 1983 berada di tengah-tengah meja.

"Ka .. kamu .. melakukannya sendiri?" dia berpaling padaku.

Aku mengangguk sambil mengeser sebuah kursi dan menyilahkannya duduk. "Ne. Semula berencana makan di luar tapi setelah dipikir-pikir lebih santai makan di rumah .. "

Hyesun menjatuhkan diri di kursi secara perlahan-lahan. "Tapi .. dari mana kamu ... belajar ini?"

"Weo?!" bibirku tertarik ke atas. "Kamu meragukan kemampuanku?"

"Anhi!" dia mengeleng dengan cepat. "Hanya saja ... ini ... ," dia memandangi dengan takjub. " .. ini .. terlalu luar biasa .. "

Aku tertawa renyah. "Kalau begitu kamu harus menghabiskannya .. "

"Kau mempelajarinya, kan? Maksudku hidangan ini ... "

"Saya belajar dari buku .. ," jawabku ringan. Aku berdiri dari kursi dan menuang anggur ke dalam gelas-gelas kristal di atas meja.



"Apa kamu suka anggur?"

Hyesun mengangguk. "Ne .. "

Aku mengambil salah satu gelas yang sudah terisi anggur dan mencium baunya. "Hmmm--kelihatannya lumayan .. "


Aku meletakkan gelas satunya di depan Hyesun. "Kamu cobalah!"

Hyesun meraih gelas tersebut. Mengoyangkannya sebentar kemudian menghirupnya pelan-pelan.

"Bagaimana?"

Hyesun tersenyum. "Kualitasnya bagus .. Harum dan manis .. "

Aku mengangguk puas. "Berarti sales itu tidak salah merekomendasikannya padaku .. "

"Kelihatannya kamu menghabiskan banyak waktu buat acara makan ini?!"

"Tentu saja." jawabku sambil menghirup anggur dari gelas di tanganku.

"Bukannya kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan hari ini?" tanyanya dengan nada mengoda. "Itu yang kau katakan ketika menjemputku tadi .. "

"Tidak ada yang bisa disembunyikan darimu--hah?" Aku langsung tertawa ngakak. "Tapi benar kok aku sangat sibuk hari ini .. ," lanjutku lagi. "Aku hanya bisa menyisihkan waktu sedikit buat persiapan-persiapan kecil ini. Itupun susah sekali .. "

Hyesun ikut tertawa. "Jangan khawatir. Aku percaya padamu kok .. " katanya menyakinkan.

Aku membalas pandangannya sekilas. "Lalu .. apa lilin-lilin ini perlu dinyalakan .. ," perhatianku kemudian terpusat pada lilin-lilin di atas meja. "Akan lebih romantis jika dinyalakan .. "

Hyesun tidak menjawab.

"Bagaimana?" tanyaku.

Hening seketika. Aku mengalihkan perhatian padanya. "Hyesun-a .. "

Dia tetap tak menjawab. Pandangannya tiba-tiba berubah sendu. "Hyesun-a,, .. wegude?!"

 
***********
« Last Edit: November 13, 2010, 03:18:32 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Alin

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1002
    • View Profile
Mami thank da update long chap lgi..kasian ya mereka saling cinta tpi nga bisa terhalang ma si angelinong..mam cepet satuin dong mrk

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
mami gomawo dah update yoooooo [arms] [arms]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Chainezz_Vian

  • Guest
Mii, gumawo uda di update [flowers] [flowers]  long chap lg mantap ^.^   
         
wktu di awal" cwit bnget mii,   apa lg wktu di taman,   tp wktu dinner itu hye sun tiba"  sedih,  knpa mii?  Inget angel ya mii?     
       
Thx mii uda rajin bnget update. . . [lovestruck]       
semangat!! [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
 [AddEmoticons04284] [AddEmoticons04284] cerita yang romantis ditambah pikku yang menarik...
Mami...feelnya dapet bangett gumawo mam
sedih nya kalo cinta tapi tak bisa memiliki  Emoticons0429

fara

  • Guest
Gomawo mi udh diupdate [flowers] [flowers] [flowers] [flowers] [flowers]
yeayy minho ma hyesun so sweet bgt makan malemnya [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
seneng pas minho ma hyesun tidur sekasur udh ngarep bgt ada yg hwat - hwat mi eh ternyata mereka cuma pelukkan doang padahal kan suasananya udh mendukung buat hwat-hwatan mi [hmff] [hmff] [hmff]
semoga kejelekkan angel cepet terbongkar ya biar ngga ada penghalang hubungan minho ma hyesun lg [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
mami  [hug] wah makasi mi ini, loooooooooong chapter  [jumpy]  [smiley-dance013] si donna update si mami juga update  [clap] baca dulu ah, thank's mi  [cheekkiss]

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
 [clap] [clap] [clap] mamiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii thanks udah diupdate [hug] [hug] [cheekkiss] [cheekkiss]

kirain yg ditempat hyesun bakalan terjadi sesuatu yg diinginkan khilaf gt mam [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing]
drpd mino cepetan putusin angel ntar putusnya gara2 ketauan angel udah begonoan sm ray ye mam biar nyahok si angel [dry] [dry] [dry]



ADAM COUPLE SELCA

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
Mami matur sembah nuwun buat long chaptnya... [clap] [clap] [clap] jarang-jarang neh  [hmpfh]
Apa Minho masih ragu mam dg perasaannya ke Hyesun  [what] sepertinya dia juga berat untuk mutusin Angel  [sweat]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Mami matur sembah nuwun buat long chaptnya... [clap] [clap] [clap] jarang-jarang neh  [hmpfh]
Apa Minho masih ragu mam dg perasaannya ke Hyesun  [what] sepertinya dia juga berat untuk mutusin Angel  [sweat]

ada aja deh [hmpfh] [hmpfh]

dia ga ragu ama perasaannya ke hyesun. dia cuma hmmm--tipe pria rasional. elu ngerti maksud gw kan?

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Aku membalas pandangannya sekilas. "Lalu .. apa lilin-lilin ini perlu dinyalakan .. ," perhatianku kemudian terpusat pada lilin-lilin di atas meja. "Akan lebih romantis jika dinyalakan .. "

Hyesun tidak menjawab.

"Bagaimana?" tanyaku.

Hening seketika. Aku mengalihkan perhatian padanya. "Hyesun-a .. "

Dia tetap tak menjawab. Pandangannya tiba-tiba berubah sendu. "Hyesun-a,, .. wegude?!"


mi, itu si hye sun kenapa ya ?  [chin] penasaran nih  [sweat]

ayo donk mi, buat si minho tau kalo si angel udah tidur ama raymond  [goodgrief] kalo udah gitu kan nanti si minho putusin si angel  [devil2] , terus jadian sama hyesun   [lovestruck]

next chapter yg di update si rathyan ya mi  [hmpfh] [laughing]

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-