Author Topic: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~CHAPTER 18, ENDING, update 27 Mar'12~  (Read 43541 times)

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
YA AMPYUNN LUM JG UPDATE NIY FF MI!!!!!!!!!!!!!!!!

Ikut bkin mami puyeng kya c makkk2 itu ah,,,,, [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

UPDATE [smiley-dance013] [smiley-dance013]UPDATE [smiley-dance013] [smiley-dance013]UPDATE [smiley-dance013] [smiley-dance013]UPDATE [smiley-dance013] [smiley-dance013]

 [concert] biar tambah rame kya kawinan d'kampung2 ah,,,,,,, [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
IKUTAN OKI LUKMAN  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]


UPDATE...UPDATE..UPDATE....


BAWA TEMAN SEKOMPI  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]



And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Dah mo 4 mgg ya ni ff blm diupdate...Mi, aq cmn ingetin doang ni dah hampir sebln tp ga nagih updatean ya mi *entar aq ditagih updatean jg* kabur sblm di hammer mami..

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
 [AddEmoticons04256] ih c makk nem bner2 mau di [head break] [head break] [head break] [head break] niy,,,,,,,

jiyyaaahhh sizt amira a.k.a bultang msa drimu lsng cabut c sizt????? [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]
tkut di hammer2 hammer2 hammer2 c mami yaaa????

klo aq c ga takut coz dah da [AddEmoticons04286] penangkal maut [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
MAMI BAWEL ON TARGET  [hmpfh]



AYO BIKIN PETISI SUPAYA SI MAMI UPDATE SEKARANG JUGA



KALAU TIDAK KITA SERAAAAAANGGGGGG













SEKIAN DAN TERIMA KASIH  [hmff]



And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
ya sorry deh sayang pada, gw sibuk nih, baru sempat ol sekarang, ok gw lanjutin ngetik ff ini dulu cu [bye]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
 [AddEmoticons04239]ru mau diketik mi???? aq kira malah dah tgl UPDATE aja gtu [AddEmoticons04259]
okeee dah,, yg pnting mah d'update jaa dah pkknya mah.hahahaha [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile



Hyesun menanggis semakin keras. Dia masih tidak menjawab pertanyaanku. Tidak juga menanggapi kekhawatiranku.

"Yaa ...!!". Aku berjongkok dan menepuk lengannya.

Dia mengangkat wajah, memandangiku. Keadaannya sangat memprihatinkan. Wajah yang basah oleh airmata, hidung berlendir dengan cuping kemerahan, mata redup tak bercahaya dibalik kacamatanya, ditambah rambut pendek awut-awutan yang menempel di wajahnya yang basah.



"Ada apa?", tanyaku lagi. Kali ini lebih pelan dan halus. Suara kubuat selembut mungkin supaya tidak menambah kehisterisannya.

Hyesun masih terisak keras di tempatnya. Nafasnya memburu. Terlihat jelas dia berusaha mengendalikan perasaannya dengan susah payah.

"Gwencana?". Kutepuk lengannya sekali lagi.


Sambil terisak keras, Hyesun mengelengkan kepalanya. Tangannya terangkat dan menunjuk kearah bis yang sudah menghilang di antara ramainya lalu lintas siang hari itu.

"Mwoo??!!". Aku mengikuti arah yang ditunjuk Hyesun tanpa tahu apa maksudnya. Mengaruk kepala sebentar seperti orang bodoh. Kemudian beralih lagi padanya. Kuulurkan tangan berusaha membantunya berdiri.

"Jangan menanggis di sini! .. Lihat itu, orang-orang sudah berdatangan. .. Nanti mereka mengira saya menyakitimu ... Ayo, berdirilah!!"

Hyesun memandangiku dengan tampangnya yang memelas. Kemudian dia meletakkan tangannya ke telapak tanganku yang sudah terulur kearahnya. Aku tersenyum dan menarik tangannya sedangkan tanganku yang satunya lagi memegang lengannya yang lain.

Dengan susah payah Hyesun berdiri dari tempatnya. Dia masih terisak-isak. Aku mengeleng perlahan.
"Sebaiknya kamu minum sesuatu untuk menenangkan diri, ... Di seberang sana ada sebuah cafe kecil. .. Kita kesana saja, bagaimana?"

Hyesun mengangguk dengan bahu terguncang keras.
"Soe .. song .. hu .. hu .. he .. yo ..hu ..hu .."

--------------------------------------

"Coklat panas ... ". Aku menyodorkan secangkir coklat panas ke depan Hyesun, sementara tanganku yang satu lagi menaruh secangkir latte ke atas meja.

Hyesun mengangkat wajahnya. Memandangiku sejenak, kemudian meraih cangkir berisi coklat panas yang kusodorkan. Sekarang kami sudah berada di cafe kecil yang terlihat dari seberang jalan sana.



Perasaan Hyesun sudah agak terkendali. Hanya sebentar-sebentar terdengar isak tertahan dari mulutnya. Dan juga pundaknya yang bergerak seiring dengan isak tanggis yang masih tersisa. Dia membawa cangkir berisi coklat itu ke mulut dan menyeruputnya perlahan.

"Sudah agak baikan?"

Dia mengangguk.

"Sekarang, ceritakan padaku apa sebenarnya yang terjadi?"

Hyesun mengalihkan perhatian dari cangkir di tangannya kearahku. Wajahnya memerah lagi.

"Stop!!", teriakku keras, berusaha menghentikan isak tanggis yang mulai keluar dari mulutnya. "Jika kamu menanggis terus .. saya tidak tahu bagaimana harus membantumu!!"

Hyesun mengigit bibir bawahnya. Menahan keras supaya suara tanggisnya tidak pecah lagi.
"Soesongheyo ... ", katanya pelan, dengan suara serak akibat terlalu banyak menanggis.

"Soooo?"

Hyesun menghapus dua butir airmata yang mengalir keluar dari sudut mata dengan punggung tangannya. Terisak sebentar, kemudian menjawab dengan suara gemetar dan terputus-putus, "Kamera ... perekam .. milik .. hu .. hu .. perusahaan dan .. semua .. hu .. hu .. sumber berita yang .. yang dipercayakan  ... Hyo Jo sunbae padaku .... hu .. ter .. tertinggal di .. di ... bis yang tadi .. kutumpangi ... "

"MWOOOOO??". Mataku terbelalak lebar, "Maksudmu ... perangkat perangmu tertinggal di bis? semuanya?"

Hyesun mulai menanggis lagi.
"Hu .. hu ...apa... apa ..hu .. yang .. harus kulakukan .. hu ... ?"

Mataku terpejam perlahan, 'Gadis ini! entah apa yang ada dalam otaknya?'
"Jangan menanggis lagi! .. Tanggisanmu membuat hatiku kacau!"

"Soe .. song .. he ..yo ....", katanya disela-sela isak tanggis yang mulai mengeras.

"Sudahlah!", kukibaskan tanganku, kesal. "Kamu masih ingat dengan nomor bis itu?"

"Aniyo .. ", katanya sambil mengeleng perlahan.

"Lalu bagaimana dengan jurusan bis itu, kamu masih ingat?"

Hyesun memandangiku, berusaha menangkap arti dari kata-kataku tersebut. Tapi setelah beberapa lama, dia akhirnya menyerah.

"Bagaimana? Masih ingat?", tegurku ketika melihatnya tidak bereaksi terhadap pertanyaanku tadi.

"I .. i .. ya ...", jawabnya gugup.

"Bagus! .. kalau begitu kita tinggal menelepon perusahaan pusat bis tersebut dan memberitahukan tentang peralatan perangmu yang tertinggal di situ .. kita cukup memberitahu jurusan bis itu  .. dan hmmm .. sekitar jam dua siang bis tadi berhenti di terminal sana ... "

Hyesun masih terus memandangiku. Matanya melebar perlahan. Mungkin hal ini baru kepikiran olehnya.
"Ohhh .. mengapa saya tidak memikirkan jalan ini tadi?"

Aku memandanginya lekat-lekat. Ingin sekali aku melabraknya habis-habisan. Tapi tampang polos itu membuatku tersenyum dan tergelak tanpa dapat dikendalikan. Aku mengulurkan tangan kearahnya, kemudian mengetok kepalanya pelan.
"Yaaa .. bukannya kamu ini seorang wartawan ya? Bagaimana mungkin pengetahuan ini tidak diketahui olehmu?"



Hyesun mengaruk kepalanya sambil tersenyum malu-malu.
"Mian .. tapi kamu tidak bisa menyalahkanku! .. menjadi seorang wartawan sama sekali bukan keinginanku .. "

Dahiku berkerut.
"Bukan keinginanmu? .... Maksudmu cita-citamu bukan menjadi seorang wartawan?"

Hyesun mengangguk perlahan. Senyuman yang tadi tersungging di bibirnya lenyap sudah.

"Lalu .. mengapa sekarang kamu menjadi wartawan?"

Hyesun terdiam beberapa saat. Tangannya saling meremas satu sama lain. Kemudian diputarnya cangkir berisi coklat yang masih tersisa setengah itu dengan perasaan gundah.
"Karena appa dan omma ingin saya menjadi wartawan seperti Jihoon oppa ... ", jawabnya pelan. Sangat pelan sehingga hampir tak terdengar.

Aku menarik nafas perlahan, menahannya sebentar, kemudian menghembuskannya kuat-kuat. Kutatap wajahnya lebih tajam lagi.
"Karena orangtuamu maka kamu menjadi wartawan? Sesuatu yang tidak kamu sukai?"

Hyesun langsung mengangkat wajah kearahku, "Bagaimana kamu tahu kalau saya tidak menyukainya?"

Aku tertawa mengejek.
"Ha .. ha .. kamu bilang menjadi wartawan bukan keinginanmu jadi bagaimana kamu bisa menyukainya?"

Hyesun mengaruk kepalanya dengan tampang linglung.
"Benar ... ", jawabnya pelan, "Tapi karena appa dan omma menginginkannya jadi saya tidak bisa menolak ..", lanjutnya, lebih pelan lagi.

Keningku berkerut, semakin tidak sabar menghadapi kepasrahannya terhadap segala sesuatu dalam hidupnya.
"Apa kamu tidak punya pendirian sendiri? .. Orang lain menyuruhmu berdiri! kamu berdiri, menyuruhmu duduk! kamu duduk  .. Inikah pedoman hidupmu? Tidakkah kamu ingin melakukan segala sesuatu berdasarkan keinginanmu sendiri?"

Hyesun menundukkan wajahnya lagi.
"Soesongheyo ... ", katanya pelan.

Aku segera mengangkat tangan keatas.
"STOP!! .. Saya tidak ingin mendengar perkataan maaf dari mulutmu lagi! ... Hilangkan kebiasaan itu!"

Hyesun tidak menjawab. Wajahnya yang tertunduk dan sikapnya yang memelas membuatku iba. Perlahan aku menaruh tanganku di atas tangannya yang masih saling meremas.
"Saya bukannya ingin mendesakmu atau memaksamu, ... tapi coba kamu pikirkan, kamu tidak bisa begini terus, Hyesun-a.."

Hyesun mengangkat wajah memandangiku. Dia tetap membisu. Aku tersenyum perlahan, berusaha untuk menenangkan hatinya.
"Lalu .. kalau boleh saya tahu apa cita-citamu? .. Apa yang akan kamu lakukan jika kamu tidak menjadi wartawan?"

Hyesun tersenyum. Pertama kalinya aku melihat dia tersenyum hari ini.
"Saya ingin menjadi arsitek sepertimu ... ", jawabnya bersemangat.

"O ya?", aku tertawa renyah, "Ha .. ha .. pantesan waktu pameran minggu lalu kamu kelihatan sangat tertarik dengan semua maket yang dipamerkan di sana .. "

"Salah! .. Saya hanya tertarik pada kreasi juara pertama yaitu hasil karyamu .. ". Hyesun membetulkan perkataanku dengan sepasang mata berbinar-binar dari balik kacamatanya.

Suara ketawaku langsung lenyap. Kuperhatikan dia. Kelihatan benar dia bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Hatiku tersentuh melihat kebahagiaannya ketika membicarakan sesuatu yang dia sukai.
"Gumawo ... Hmm .. apakah kamu tidak ingin mewujudkan impianmu?"

Wajahnya mulai berubah. Senyum yang tadi tersungging di bibirnya sudah hilang. Matanya meredup.
"Saya tidak bisa dan .. saya tidak mampu ... Saya tidak bisa menolak permintaan appa, omma dan Jihoon oppa .. Sesungguhnya saya .. saya tidak pernah bisa menolak permintaan siapapun ..."

Aku menghembuskan nafas perlahan.
"Berjanjilah padaku!"

Hyesun memandangiku, "Mwoo?"

Aku membalas pandangannya, lekat tak berkedip, "Saat perjumpaan kita selanjutnya, kamu akan berubah .."

Kami saling menatap. Hyesun tidak segera menjawab pertanyaanku. Entah karena dia tidak mampu menjanjikan itu padaku atau memang dia tahu tidak mampu melakukannya. Lima menit kemudian, dering ponsel menyadarkan kami dari kebisuan panjang.

Hyesun tersentak dan segera mengeledah tasnya dengan gugup. Setelah berhasil mendapatkan ponsel itu, tergesa dia mengeluarkannya dari dalam tas. Dannn ... peristiwa dulu hampir terulang lagi. Ponsel itu terlepas dari tangan Hyesun. Terpental dari meja dan hampir jatuh kedalam cangkir kopi di hadapanku kalau saja aku tidak segera mengangkatnya keatas.

Mata Hyesun terbelalak lebar, "Lagi ..? "

"Tidak! .. ha ..ha .. kali ini reaksiku lebih cepat .. ", aku tertawa keras. Hyesun langsung tertunduk malu.



Masih tertawa keras, aku menaruh cangkir kopi keatas meja. Kuketuk kepalanya, pelan. Hyesun tersenyum simpul. Pipinya merona merah. Tapi itu hanya sesaat. Detik berikutnya, dia tersentak dan segera meraih ponsel yang tergeletak di atas meja.
"Ohhh .. Hyojoo sunbae .. meneleponku ...A ..a .. ku harus pergi .. sekarang ... "

Tergesa Hyesun meraih dompet dan bermaksud mengeluarkan uang untuk membayar coklat yang telah kubelikan padanya. Aku segera mengangkat tangan, melarangnya.
"Biar saya yang mentraktirmu ..."

Hyesun mengangguk. Dia tidak membantah lagi, tidak seperti pertemuan kami pada hari pertama. Mungkin karena dia sedang diburu waktu. Dia memasukan ponsel dan dompet ke dalam tas, berdiri dari kursi,
"Saya pergi sekarang .... ", dia membungkuk kearahku, "Ghamshamida .. ", kemudian dia berdiri dari kursi dan berlari kearah pintu.

"HYESUN-A!!!"

Hyesun menghentikan langkahnya dan berbalik kearahku.

"JANGAN KHAWATIR TENTANG KAMERA DAN DATA YANG TERTINGGAL ITU! .. SEMUANYA PASTI KEMBALI!!", aku berteriak kepadanya sambil tersenyum, menenangkan.

Hyesun juga tersenyum. Dia mengangguk perlahan.
"GUMAWOO .."

Kemudian dia berlalu dari hadapanku. Meninggalkan kenangan mengelikan yang selalu kuperoleh jika bersamanya.

--------------------------------

Hari Kesepuluh ..., sabtu pukul setengah duabelas pagi ...

Aku berdiri di pintu depan apartemen yang ditinggali Raymond cs, di sebelah apartemenku. Sambil menunggu hasil penyelidikan dari pihak asuransi dari peristiwa yang terjadi pada pembangunan gedung Great Building & Seoul Paradise, selama beberapa hari ini aku disibukkan dengan proyek Forest Hotel yang tertunda akibat kejadian tragis itu.

Sudah beberapa hari Angel tidak menghubungiku. Dan aku juga tidak berinisiatif menghubunginya. Entah karena malas atau karena aku memang tidak tertarik dengan kegiatannya di sana. Tapi kalau dipikir secara seksama, aku memang tidak pernah menghubunginya lebih dahulu jika kami ada pekerjaan di luar negeri . Tidak pernah!

Selama beberapa hari ini tidak ada peristiwa menyenangkan yang terjadi padaku selain kesibukan, kesibukan dan kesibukan setiap hari. Kecuali kemarin ... ada sebuah hal paling baik yang kuterima, yaitu menerima telepon pemberitahuan dari Hyesun kalau perlengkapan perangnya sudah kembali.

Raymond membukakan pintu buatku setelah ketukan keempat kali. Begitu berada di dalam apartemen itu, aku langsung mengelengkan kepala. Kantong-kantong plastik bekas coklat, permen, chips dan botol-botol juga kaleng-kaleng berbagai minuman dari cola sampai bir, berserakan di atas meja, lantai dan sofa.

"Biasa boss, .. anak muda!!", kata Raymond, seperti menjawab pertanyaan dari pandanganku, sambil tertawa keras.

Aku mengeleng lagi. Gara-gara hari ini hari sabtu dan tidak perlu kerja, Raymond cs begadang semalaman. Ini adalah kebiasaan buruk mereka. Selaku ketua mereka, aku tidak bisa mengubah kebiasaan buruk ini, karena aku sadar hanya ini cara mereka melampiaskan semua ketengangan akibat tekanan dari pekerjaan yang berat.

Raymond memandangiku dengan pandangan bertanya ketika aku tidak mengeluarkan suara, hanya mengelengkan kepala dari tadi.
"Apakah leader ada keperluan penting datang sepagi ini?"

Seperti teringat sesuatu, aku segera merogoh ke dalam saku celana dan mengeluarkan seuntai kunci. Kusodorkan kunci itu pada Raymond. Dia melirik sekilas barang di tanganku kemudian memandangiku dengan pandangan bertanya.
"What's that?"

Aku meraih tangannya dan memberikan kunci itu padanya.
"Kunci apartemenku! .. Aku sedang menunggu fax denah Forest Hotel dari Hongkong .. Pihak sana berjanji akan menyelesaikannya sekitar pukul 3 sore dan menfaxnya kemari .. tapi sekarang saya harus keluar sebentar .. saya akan pulang sebelum pukul 3, tapi saya takut mereka akan menyelesaikannya sebelum waktu itu jadi tolong kamu menunggu fax denah itu untukku .. Jika kamu sudah mendapatkannya, segera hubungi saya .. masih banyak perbaikan yang harus dilakukan ... "

Raymond mengangguk, tanda mengerti. Dia segera memasukkan kunci yang kuberikan ke dalam saku celana.

Aku memandangi gerak geriknya tanpa mengeluarkan suara. Setelah mempertimbangkan beberapa lama, akhirnya aku mengeluarkan buku catatan kecil dari ransel yang kubawa dan menuliskan sesuatu di buku itu. Setelah itu aku merobek kertas kecil itu dan memberikannya pada Raymond.

"Jika ponselku tidak bisa dihubungi, kamu bisa mencariku di alamat ini! .. Ingat, denah itu sangat penting, jadi segera menghubungiku jika kamu sudah menerimanya!", sekali lagi aku menegaskan kata-kata ini.

Raymond mengangguk lagi.
"Memangnya ada keperluan apa leader ke sana?", tanyanya semakin penasaran.

Aku tersenyum dan .. seperti biasa, aku tidak berniat menjawab pertanyaan bersifat pribadi.
"Itu rahasia!", kulayangkan tinju ke dadanya, pelan, "Lakukan saja yang kupesankan padamu .. bye .. "

Aku berjalan ke pintu depan. Tapi sebelum sampai di luar, aku berpaling kembali kearah Raymond, "Sampah-sampah yang berserakan itu tolong dibersihkan sekarang juga!"

Raymond melonggo. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Menghembuskan nafas kuat-kuat, kemudian mulai membersihkan ruangan itu.

-----------------------------

Goo Hye Sun ....

Huhhh .. hari sabtu, yang seharusnya hari menyenangkan, menjadi hari tersibuk dan melelahkan bagiku. Hari ini, omma dan appa memutuskan pindah ke apartemen yang baru dibeli dua hari lalu.

Pukul 8 pagi, acara pemindahan barang mulai dilakukan. Walaupun rumah lama kami terlihat kecil, tidak disangka sama sekali kalau barang-barang yang dikeluarkan dari sana sangat menakjubkan saking banyaknya. Sampai pukul setengah duabelas semua perlengkapan baru berhasil dimasukkan semua ke dalam apartemen baru.

Aku sibuk menata hiasan kecil di meja rias ketika bel pintu depan berbunyi.
ting tong .. ting tong ....
 
Dahiku langsung berkenyit, "Siapa yang datang sepagi ini?"

ting tong ..., bel itu berbunyi lagi.

"Huhhh .. menyebalkan sekali! padahal kami baru pindah hari ini .. !!". Umpatan dalam hatiku terhenti ketika aku bergegas menuju pintub depan, melewati pintu kamar yang terbuka.

"Tuan Chan??!!!"



Mulutku mengangga ketika mendapati Sammul sudah berada dalam rumah lewat pintu depan yang dibukakan Jihoon oppa. Aku menatap Jihoon oppa dengan pandangan bertanya. Jihoon oppa mengangkat tangannya, pertanda kalau dia juga tidak mengetahui maksud kedatangan Sammul.

"Anyongheseoyo, Hyesun-a ... ", sapa Sammul dengan wajah berseri-seri.

Aku mengangguk perlahan, masih dengan tampang linglung.
"Anyongheseoyo .. tuan Chan .. "

"Yaaaa .. sudah kukatakan padamu untuk memanggilku Sam!!", ujar Sammul.

Aku tersentak, kaget, "Ohh .. deee .. "

"Tuan Chan .. ", panggil Jihoon oppa, "duduklah dulu .. ". Jihoon oppa mempersilahkan Sammul duduk di sofa yang masih terbungkus kain putih. Lalu dia berpaling padaku, "Temani tuan Chan, Hyesun-a! .. oppa harus berberes lagi .. "

Aku mengangguk. Jihoon oppa berjalan  ke kamarnya yang berada di sebelah kamarku.

"Tuan Chan ... "

"Sam! .. panggil saya Sam!!", potong Sammul.

"O baiklah, Sam .. Kamu mau minum apa?", tanyaku padanya. Sebelum dia menjawab, sesuatu tiba-tiba melintas dalam pikiranku, " ... bagaimana .. kamu bisa mengetahui .. keberadaanku di sini?"

Sammul tersenyum, "Saya akan menjawab pertanyaanmu satu persatu ... Bagaimana saya bisa berada di sini? he .. he .. jawabannya sangat gampang, karena saya majikanmu, jadi saya mengetahui semua biodata para karyawan .. sedangkan tentang minuman yang kamu tawarkan .. tidak usah!"

Aku mengangguk mendengar jawabannya yang panjang lebar dan jelas itu. Sambil membalas senyumannya, aku berusaha berlaku sesantai mungkin.

Selama beberapa lama Sammul membisu di tempatnya, seperti mempertimbangkan sesuatu. Setelah itu dia memandangiku dan berkata perlahan, "Hyesun-a, bisakah kamu menemaniku berjalan-jalan sebentar di luar? .. Ada yang ingin saya bicarakan?"

"Sekarang?", tanyaku heran.

"Iya, .. sekarang!!", jawabnya mantap.

Aku bimbang sejenak. Kemudian menoleh ke belakang, kudapatkan Jihoon oppa, omma dan appa sedang sibuk menata kamar mereka masing-masing, lewat pintu kamar yang terbuka.

Lalu aku beralih lagi ke Sammul. Tersenyum padanya, "Baiklah .."

Sammul tersenyum lega dan langsung bangkit dari duduknya.
"Ayo kita keluar sekarang!!"

Dia meraih tanganku. Dan dengan agak paksa menarikku keluar dari rumah.

---------------------------------

Lee Min Ho ....

Setelah sepuluh tahun, akhirnya aku menginjakkan kaki di sini lagi. Tempat lahirku. Tempat yang tidak ingin kudatangi, bahkan setelah kepulanganku pada hari kesepuluh di Korea. Aku ngeri dengan bayangan masa lalu, ngeri dengan kebahagiaan yang sudah berlalu, ngeri dengan semua perubahan-perubahan yang telah terjadi, dan ... terutama ngeri dengan wajah ibu yang sudah samar dalam ingatanku.

Sekarang aku berdiri menghadapi sebuah bangunan yang baru didirikan. Sebuah apartemen bertingkat tiga puluh, atau bahkan lebih dari itu. Apartemen kokoh dengan kesan modern. Bangunan yang telah mengusur rumah sakit tua tempat ibu bekerja dulu. Rumah sakit tua tempat ibu melahirkanku.



Mataku terpejam perlahan. Inilah yang kutakutkan. Perubahan-perubahan ini yang membuatku tidak berani mendatangi tempat ini. Sudut selatan kota Seoul yang dulu begitu tenang dengan semua bangunannya yang berkesan kuno dan lapangan berumput tempatku bermain bola. Sekarang semuanya sudah berubah, tidak ada yang tersisa, kecuali ... kantor kecil tempat ayah bekerja dulu, berada diantara bangunan modern yang sudah mendominasi daerah ini. Kantor kecil itu terlihat sangat kumuh dan ketinggalan jaman. Dindingnya yang terbuat dari bata merah ditumbuhi lumut hijau tua.

Aku menghembuskan nafas perlahan. 'Tidak lama lagi kantor tua itu pasti akan diruntuhkan dan diganti dengan bangunan modern lainnya ..'. Badanku langsung lemas dan terhempas keras ke bangku panjang yang terletak di pinggir jalan raya, menghadap taman kota yang masih dalam proses pembuatan. Keringat dingin mulai memenuhi sekujur wajah dan leherku.

Perasaan sakit waktu teringat pada ibu kembali menyerangku. Apalagi di tempat kenangan pahit itu terjadi, perasaan sakit itu makin terasa. Perasaan sakit yang tidak pernah kuutarakan kepada siapapun, termasuk Angel. Perasaan sakit yang ingin kupendam sendiri.
"Ibu .. saya pulang ... ", ujarku lirih dan hampir tak terdengar. Kepalaku tertunduk lemas.

------------------------------------

Scene beralih ke apartemen Minho ...

ting tong .....

Raymond berlari ke pintu depan dan membukanya. Dia terperangah, dengan sepasang mata terbelalak lebar.
"ANGELLL??"



Angel tersenyum manis padanya. Sebuah koper besar terletak di sampingnya.
"Good morning, Raymond Lam!!"

"Mor ..ning ..., mengapa .. kamu .. bisa berada di .. di sini?", tanya Raymond gugup dan juga heran. "Bukankah kamu mengatakan hari senin nanti baru akan tiba di sini?"

Angel mengangkat bahu sambil mengibaskan rambut panjang sepunggungnya ke belakang. Senyuman lebar masih tersungging di bibirnya.
"Saya sengaja tidak mengabari kedatanganku pada Minho .. Saya ingin memberi kejutan padanya .. Selama dua hari terakhir saya tidak menghubunginya karena sibuk menyelesaikan semua pekerjaan dari presiden Lau dan sekarang.. disinilah saya berada .. "

Angel menyeret koper besarnya ke dalam rumah. Dia berpaling kesana kemari seperti mencari sesuatu atau seseorang.
"Dimana Minho?"

Raymond merebut koper dari tangan Angel.
"Biar saya yang menaruh koper ini untukmu! .. Leader sudah menyiapkan kamar buat kedatanganmu ke sini sejak minggu lalu, tapi karena dia tidak mengetahui kedatanganmu hari ini, mungkin kamar itu belum dibersihkan ... "

Raymond membawa koper itu ke dalam kamar Angel, kamar yang berhadapan dengan dapur. Setelah itu dia keluar lagi. Di ruang depan dia mendapati Angel sudah duduk di sofa yang terdapat di sana. Gadis itu sedang memperhatikan keadaan di ruangan itu. Melihat kemunculan Raymond, perhatiannya segera dialihkan padanya.
"Dimana Minho?", tanyanya lagi.

"Leader sedang keluar .. "

"Keluar?", dahi Angel berkerut, "Sepagi ini? di hari libur? .. sangat aneh!"

"Iya, kata leader ada keperluan di luar ... "

Raymond memperhatikan Angel dengan seksama. Gadis itu kelihatan gelisah.
"Apakah kamu ada ingin segera bertemu dengan leader?"

"Kamu mengetahui keberadaannya?", tanya Angel cepat.

Raymond mengangguk. Berpikir sebentar, kemudian berjalan ke pintu depan.
"Kamu tunggu saya di sini ... ". Raymond berlalu dari situ.

Angel menunggu di tempatnya dengan kebinggungan. Dia tidak mengerti mengapa Raymond menyuruh menunggu di situ. Dia ingin bertemu dengan Minho dan bukan menunggu saja seperti ini. Sepuluh menit kemudian Raymond kembali dengan Ken Xu, salah satu anggota dari Raymond cs.

Melihat Angel, Ken menganggukkan kepala sambil menguap lebar.
"Hello Angel, nice to meet you here!!"

Angel tersenyum, kemudian mengangkat tangannya ke Ken.
"Hi Ken, habis begadang ya?"

Ken tertawa keras, "Ha .. ha .. ha .. biasa kalau lagi libur .. "

Angel ikut tertawa. Tapi begitu ingat dengan maksudnya semula, dia beralih ke Raymond.
"Ray .. apakah kamu mengetahui keberadaan Minho?"

"Iya, karena itu saya menyuruh Ken ke sini .. Sebenarnya saya diminta leader untuk menunggu fax denah penting dari Hongkong .. tapi karena sekarang saya akan mengantarmu ke tempat leader maka saya menyuruh Ken untuk menunggunya di sini .. ". Raymond berpaling ke Ken, "Ingat pesanku! segera menghubungi leader atau aku kalau denah itu sudah diterima!"

Ken mengacungkan tangannya. "Siap boss!!"

"Kalau begitu kita berangkat sekarang, Angel .. "

Angel mengangguk, kemudian mengikuti langkah Raymond, keluar dari apartemen itu.

----------------------------------

Goo Hye Sun ....

Sammul tidak mengeluarkan suara sepanjang perjalanan dari apartemen ke lift yang terletak di tengah bangunan bertingkat tiga puluh itu. Setelah berada dalam lift, Sammul juga tidak memulai pembicaraan. Dia hanya bersandar di sudut sebelah kanan lift dengan kening berkerut, seperti sedang memikirkan sesuatu yang serius.

Aku memperhatikannya tanpa berani menganggu pikirannya. Kutekan tombol G dari deretan tombol-tombol dekat pintu. Lift itu bergerak turun, tenang, tanpa guncangan sedikitpun.
Ting ....., dalam hitungan detik lift tersebut sampai ke lantai dasar. Pintu terbuka secara otomatis.

Aku menunggu Sammul keluar lebih dahulu. Dia agak tersentak dari lamunannya ketika mendengar bunyi nyaring pertanda lift sudah sampai ke lantai yang dituju. Sammul bergerak perlahan dari tempatnya. Dia melewatiku sambil memberi isyarat lewat gerakan matanya supaya aku mengikutinya.



Aku mendesah dan mulai melangkahkan kakiku, mengikuti langkahnya dari belakang. Sepanjang perjalanan, kami tetap membisu. Aku tidak tahu bagaimana harus memulai pembicaraan sedangkan Sammul masih sibuk dengan pikirannya.

Kami keluar dari pintu depan apartemen yang terbuat dari kaca besar. Menyelusuri halaman luas yang ditanami berbagai jenis rumput, bunga dan pohon. Melewati jalan bata yang diperuntukkan buat para pejalan kaki. Dan menyeberangi jalan raya kecil yang memisahkan apartemen dengan taman kota yang masih dalam proses pendirian.

Selama itu kami tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Aku hanya mengikuti langkahnya dari belakang seperti orang suruhannya. Sampai di tengah taman dekat kolam yang belum terisi air, Sammul tiba-tiba membalikan badannya. Aku yang berjalan di belakang dengan kepala tertunduk tidak bisa mengendalikan langkah dengan tindakannya yang sangat mendadak itu.

Brakkkkkkk ..., tak pelak lagi .. kepalaku sukses mendarat keras di dadanya. Karena dua kancing kemeja bagian atasnya dibiarkan terbuka, jidatku langsung mengenai kulit bagian dada itu. Jidatku terasa hangat dan detak jantungnya terdengar jelas. Samar-samar tercium wangi khas yang agak menusuk. Aroma anggur memabukkan memasuki hidungku.

Aku segera mundur ke belakang. Wajahku terasa panas. Dan satu hal kuyakini, pipiku pasti sudah memerah.
"Soesongheyo .. soesongheyo ... ". Aku membungkuk berkali-kali kearah Sammul. Aku sangat gugup dan serbasalah. Selain permintaan maaf itu, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi.

Sammul mendekatiku. Meraih pundakku dan mengunciku dengan sepasang tangannya yang kokoh, sehingga aku tidak bisa bergerak, hanya bisa memandanginya. Dia tertawa tertahan.
"Ha ... ha .. itu kesalahanku karena berbalik tanpa memberi komando terlebih dahulu  .. jadi kamu tidak perlu minta maaf .. "

Aku menatapnya tanpa mampu berkata apa-apa. Sammul kemudian menghentikan suara tawanya. Tampangnya menjadi serius, sedangkan kedua tangannya masih bertengger di pundakku.
"Apakah tabrakan tadi menyakitimu?"

"Aniyo ... ", jawabku cepat.

Sammul berdehem perlahan. Dia kelihatan gugup. Mungkin itu salah satu cara baginya untuk menghilangkan ketengangannya.
"Ehemm ... miane jika saya membuatmu binggung dengan kebisuan ini .. "

Aku langsung tersentak, "Ohhh ... gwencanayo!"

Sammul tersenyum lembut, kemudian dia melepaskan pengangannya dari pundakku. Tangannya terbuka mempersilahkanku duduk di kursi taman yang berada di pinggir kolam.
"Duduklah dulu! .. ada yang ingin saya bicarakan denganmu!"

Aku ragu sebentar. 'Apa yang akan dikatakannya?' Kegelisahan mulai menghinggapiku. Dengan serba salah aku menjatuhkan diri di bangku yang ditunjukkannya tadi. Sammul ikut menjatuhkan diri ke bangku di sampingku. Dia tidak segera mengeluarkan suara. Pandangannya terarah jauh ke depan, dimana beberapa gedung bertingkat sedang didirikan.

Memang sudut selatan kota Seoul yang baru didiaminya ini masih dalam tahap pembangunan. Semua gedung tua, baik itu rumah sakit, sekolah, perpustakaan maupun kantor pos sudah diruntuhkan dan akan diganti dengan bangunan baru.

Hampir lima menit lamanya Sammul tenggelam dalam kebisuan.

"Sam .. mul .. ", sapaku pelan.

Sammul menoleh kepadaku, sangat perlahan. Kemudian dia menghembuskan nafas panjang.
"Saya takut kalau perkataanku akan mengejutkanmu .. ", katanya halus.

Aku memandanginya tanpa dapat menangkap arti dari perkataannya.

"Hyesun-a, berjanjilah padaku .. apapun perkataanku atau permintaanku nanti, kamu .. kamu tidak akan menghindariku!". Sammul menatap lekat ke mataku.

Aku mengangguk perlahan.

"Begini .. Dad sudah lama ingin .. melihatku berumahtangga .. dan .. sebenarnya saya juga sangat ingin mengabulkan keinginan beliau .. tapi sungguh disayangkan selama ini saya belum menemukan pasangan yang cocok, seorang wanita yang benar-benar kucintai ... ", Sammul berhenti sampai di sini.

Aku memandanginya. Tanganku bergerak keatas, mengaruk kepalaku yang tidak gatal. 'Apa maksudnya mengatakan ini padaku? aku sama sekali tidak mengerti ..!'

Sammul membalas pandanganku. Sinar matanya sangat menyentuh.
"Tapi .. sekarang saya bisa mengatakan padamu, Hyesun-a .. sejak pertemuan pertama, sejak keberadaanku di Korea, saya selalu memperhatikanmu ... kamu memiliki sesuatu .. yang  .. yang istimewa ... dan saya rasa sudah saatnya saya menanyakan ini padamu, .. Hyesun-a, maukah kamu ... "

---------------------------

Lee Min Ho ...

Aku mengangkat kepala perlahan. Pandanganku jatuh ke seberang jalan, ke taman kota yang belum selesai didirikan. Dan tiba-tiba dahiku berkenyit. Sesuatu .. atau lebih tepatnya seseorang yang sangat kukenal terlihat sedang memasuki taman kota di depanku. Goo Hye sun ... tidak salah lagi orang itu adalah Hyesun! Di sampingnya berjalan seorang pria yang sepertinya tidak asing bagiku.

Aku segera berdiri dari tempatku dan berlari menyeberangi jalan, berusaha mengejar kedua orang itu. Tapi begitu sampai di depan taman, aku kehilangan jejak mereka. Dengan tergesa aku memasuki taman. Seperti orang gila aku berlari kesana kemari, tapi masih saja tidak kudapatkan bayangan mereka.

Lima belas menit berlalu sampai kudengar suara itu ..
" ..... maukah kamu menjadi pacarku ... "

Aku berjalan kedepan. Dengan tangan bergetar kusibakkan dedaunan lebat yang menghalangi pandanganku ke depan.

Hyesun tampak tersentak bangun dari tempat duduknya. "MWOOOOO???". Bola matanya seakan siap meloncat keluar dari rongga matanya.

"Saya serius Hyesun-a .. saya ingin kamu menjadi pacarku .. ". Sammul mempertegas perkataannya.

Tanpa kusadari sepasang tanganku terkepal erat. Dan sebelum Hyesun menjawab pertanyaan itu, aku keluar dari belakang mereka dengan langkah lebar.
"Hyesun-a ... "

Hyesun memalingkan wajah kearahku. Dia kelihatan lebih terkejut lagi.
"Lee Min Ho?"

Sammul mengerutkan wajahnya.
"Siapa dia, Hyesun-a?"

Hyesun membuka mulut, siap menjawab pertanyaan itu. Tapi usahanya terhenti ketika aku menariknya ke dalam pelukan.
"Saya pacarnya Hyesun!!"

Mata Hyesun terbelalak lebar. Begitu juga Sammul. Dan sebelum mereka bisa bereaksi, teriakan keras dari belakang mengejutkan mereka.

"LEE MIN HO ... APA-APAAN INI??!!"

Aku tersentak. Suara itu begitu kukenal. Tapi tidak mungkin! Tidak mungkin dia! Aku berpaling ke belakang diikuti Hyesun dan Sammul.



"Angel ... ", desahku lirih.

------------------------

~ending chapter~
« Last Edit: March 12, 2010, 07:26:58 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Surie_Riri

  • Full
  • ***
  • Posts: 297
  • i'm silent reader, mian...
    • View Profile
waaah dah diupdate  punk punk punk

makin seruuu aja ceritanya  [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

mino cembokur lagi nih sama sammul  [hmpfh], emang daku paling seneng liat mino klo cembokur  [hmpfh]

ga kebayang ekspresi mino waktu angel datang setelah bilang HS pacarnya
mino bakal kena   [AddEmoticons04249] [AddEmoticons04249] [AddEmoticons04249] angel deh.

« Last Edit: March 11, 2010, 02:18:07 pm by Surie_Riri »
[lovestruck]

Offline pink_girly

  • Full
  • ***
  • Posts: 341
  • <3 MinSun
    • View Profile
 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
Gumawo mi udah d'update....

Mi, si Hye Sun oenni hari kesepuluh udah ga pake kaca mata lagi ya...? [hmpfh]
Wah... Anjell balik aja lagi keluar negeri, biar si oppa sama oenni bisa semakin dekat.... Kan oppa juga udah ga mengharapkan kamu, coz oppa udah punya oenni... [hmpfh] [lovestruck]

D'tunggu ya mi Next Chapnya * GPL *.... [biggrin]

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
ha3x si mh jeles bgt sampe nekat say hs pacar-a..gimana reaksi angel selanjut-a klo mh say dia bener2x sarang hs...

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
woallllaaaaahhhh udah diupdate to huh si mino itu kenapa seh mengganggu aja  [head break] [head break] [head break]


lha kok aku malah condong ke sam yah seharusnya tuh dibikin aja hyesun bilang i do supaya hubby cekot2 dikit lah  [laughing] [laughing] [laughing]


kaboorrrr ah sebelum di  [guns] [head break] [hammer] [ranting] [fighting] ma pembaca yang laen  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]



And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
 [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] ASIIIQQQQ akhrnya update jg euy,,,,n_n....... ma'acih yaa mami  [weird] [xxxx]
niy pling lama dtunggu update-anya yaaakkkk whistling whistling whistling whistling [hmff] [hmff] [hmff]

makkk nem,, enak ja main kabur,,, snni aq yg [fighting] [hammer] [head break] [guns] hammer2 terakhir Emoticons0428
 [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

jgn dilupakan ff mu yg lainya ya mi,, plgi yg ru pd chp1  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]ok [clap] [clap] [clap]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
noona b, kan kebetulan terlihat ama minho jd ya pasti ganggu dung [laughing]
pinq, onnie lom berubah kok, masih aja kacamata tebalnya menempel di muka [hmpfh]

sebenarnya angel ga tahu apa yg diomongin minho, soalnya minho kan bicaranya pakai bahasa korea, dia cuma kaget lht minho peluk2 hyesun [hmpfh]
« Last Edit: March 12, 2010, 05:05:22 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
ooohhhh begono to mi nanggung amat cuman peyok2 doank sekalian aja tuh di kissu yg hot boar si angel  [collapse] sekalian  [hmff] [hmff] [hmff] trus  hang diri mati jadi hantu ketemu deh ma mino di FF hantu  [hmff] [hmff] [hmff]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^