Author Topic: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~CHAPTER 18, ENDING, update 27 Mar'12~  (Read 43579 times)

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
Re: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~sop iler sop iler lol
« Reply #1065 on: July 05, 2011, 09:44:35 am »
akhirnya bisa log in juga [sweat] [sweat] ada apa ya?? update ya?? mana mana?? [what] [what]

Love you more than I can say

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~sop iler sop iler lol
« Reply #1066 on: July 05, 2011, 10:08:50 am »





Suasana bergulir dalam diam. Setelah meletakan berkas-berkas yang dipersiapkan sebelumnya di atas meja, Hyesun tidak berkata apa-apa lagi. Dia mengambil setumpuk sketsa yang kusodorkan padanya, lalu mulai mempelajarinya dengan seksama. Selama lima menit kuperhatikan dia.

“Hyesun-a .. “

Dia mendongak, kemudian tersenyum perlahan.


“Waktu kita sangat sempit, .. bagaimana kalau .. kita lanjutkan ini .. ,” Hyesun mengangkat sketsa di tangannya, “ … dulu, sebelum membicarakan masalah kita. Kurasa … Masalah kita bisa ditunda .. “

Aku membalas tatapannya selama beberapa detik, .. selanjutnya mengangguk pelan. Lalu, beginilah kami …. Hanyut dalam pekerjaan, .. bergelut dalam diam.


__________oOo___________



Dua puluh menit kemudian … pintu kantor ku diketuk dari luar.

TOK .. TOK .. TOK ..

“Masuk!” perintahku tanpa beralih dari berkas-berkas yang kuhadapi.



Sisa dari Raymond cs, yaitu Ken, Nathan dan Joe memasuki ruangan dengan sketsa-sketsa yang menjadi bagian tugas dari mereka. Begitu mendapati keberadaan orang lain dalam ruangan itu, .. apalagi mengenali orang itu sebagai cewek yang telah mereka kenal sebelumnya, .. para pengikutku itu terlihat sangat terkejut.

“Leader, dia—“ Ken menunjuk Hyesun. “Kenapa bisa berada di sini?”

Aku mengangkat pundak. “Bukankah dia sudah menjadi bagian dari tim kita?”

Ken mengangguk pelan. “Iya, memang. .. Tapi, kenapa dia bisa berada dalam ruangan leader?”

“Saya yang masuk sendiri. Sorry .. “ Hyesun berdiri dari kursi dan membungkukan badannya dalam-dalam pada Raymond cs. “Ini menyalahi aturan, saya tahu. Seharusnya saya menunggu di luar sampai mendapat perintah untuk masuk baru masuk. Namun, .. saya sudah menunggu cukup lama, jadi .. “ Hyesun tidak menyelesaikan penjelasannya. Dia tersenyum penuh penyesalan.

Raymond cs mengangguk. Sepertinya mereka bisa menerima penjelasan Hyesun.

“Kami yang seharusnya minta maaf, nona .. ,” Nathan mengeluarkan suaranya. “Kami melupakan keberadaan nona sehingga membiarkan nona menunggu terlalu lama. Tidak mengherankan kalau nona tidak sabar dan mengambil inisiatif masuk sendiri .. “

Hyesun tersenyum kaku. Dia sungguh-sungguh menyesali tindakannya. “Sorry .. “

“Tidak apa .. ,” sahut Nathan. “Dan .. selamat bergabung dengan kami. Saya Nathan, .. dan ini .. ,” tangannya beralih ke yang lain, “ .. Ken and Joe .. “

“Hy .. “ Hyesun menjulurkan tangan kemudian menjabat tangan Raymond cs yang terulur padanya. “Saya Goo Hye Sun. Senang berkenalan dengan anda sekalian .. “

Setelah acara perkenalan sederhana itu, Hyesun dan yang lain mengambil posisi mengelilingiku. Nathan mengumpulkan sketsa-sketsa yang sudah diselesaikan mereka, dijadikan satu untuk kemudian menyerahkannya padaku.

“Harap diperiksa kembali, leader .. “

Aku mengangguk. “Kita diskusikan bersama .. “


__________oOo___________



Kami tenggelam dalam pendiskusian serius terhadap Proyek Sanna sampai jam makan siang tiba. Setelah menghabiskan lunch sederhana di kantin kecil lantai terbawah gedung Great Building ini, kami melanjutkan pembahasan yang tertunda. Beberapa keputusan telah diambil, tapi entah mengapa .. masih dirasa ada sesuatu yang menganjal. Sebagaimanapun kerasnya kami berpikir, .. tetap terasa ada yang ganjil dalam rancangan kami.

Waktu menunjukan pukul setengah enam sore kala itu. Waktunya pulang kantor. Nathan dan Joe meregangkan otot-otot mereka dengan menjulur tangan dan kaki panjang-panjang. Sedangkan Ken menguap di tempatnya. Sepasang matanya yang agak sipit sudah memerah sejak tadi. Kelihatannya, si bungsu ini sangat mengantuk—efek dari begadang yang sering dilakukannya. Anak yang satu ini memang selalu keras kepala dan tidak mau mendengar nasehat orang untuk istirahat yang banyak.

Hyesun membereskan berkas-berkas yang sudah jadi dan menumpukannya jadi satu kemudian meletakannya di hadapan ku. Aku menerimanya, .. dan mengamatinya sebentar. Sesaat kemudian aku mengangguk dan beralih pada mereka.

“Untuk hari ini cukup sampai di sini. Kita lanjutkan lagi besok .. “ Ku amati mereka satu-persatu, .. terutama Raymond cs, dari Nathan sampai si bungsu Ken yang sudah terantuk-antuk di kursinya. “Ingat, istirahat yang cukup. Besok malam, kita mungkin harus lembur buat menyelesaikan bagian-bagian yang tersisa .. “

Nathan, Joe dan Ken (yang bangun mendadak dari kantuknya) melonjak kegirangan. “Ne, leader .. “

Lalu, terburu-buru mereka berlomba meninggalkan ruang kantorku. Melihat reaksi mereka yang besar, aku jadi ngakak sendiri.

“Anak-anak itu .. benar-benar … ,” kataku sambil mengeleng-gelengkan kepala.


“Mereka sudah terlalu capek buat proyek kali ini. Biarkanlah mereka istirahat .. “

Perkataan Hyesun membuatku berpaling padanya.

“Kau berkata seperti sudah lama mengenal mereka .. ,” kataku mengodanya.

Hyesun tersenyum. “Lalu bagaimana denganmu, bos?,” dia menyengir lebar. “Diteruskan, .. atau lanjut besok saja?”

Aku mengelus-ngelus dagu, dan kembali menjatuhkan diri di atas kursi dan meraih beberapa lembar kertas dari tumpukan sketsa yang sudah dirapikan Hyesun. “Kau pulanglah dulu, aku masih harus memeriksa denah-denah ini. Siapa tahu didapatkan ide mendadak yang dapat membantu memperlancar proyek ini .. “

“Kau berniat lembur sendiri?” tanya Hyesun.

Aku menghentikan kegiatanku dan berpaling padanya. Tanpa sadar, denah di tanganku jatuh ke atas meja. “O ya, kau tinggal di mana?” Aku balas bertanya begitu menyadari kenyataan ini. Aku masih belum mengetahui apa-apa tentang kedatangannya ke Hongkong ini. “Apa perlu kuantar pulang?”

Hyesun tersenyum lalu mengeleng perlahan. “Aniyo. Saya bisa pulang sendiri. Tapi, .. jika kau berniat lembur seorang diri maka, .. aku akan menemanimu ..,” lanjutnya dengan penuh tekad yang terpancar dari matanya.

Namun aku segera mengeleng dengan cepat. “Tidak. Saya tidak perlu kau bantu. Kau pulanglah! Saya tidak ingin melihatmu sakit hanya karna bekerja terlalu keras .. “

“Aku ke sini hanya dengan tujuan membantumu!” tukas Hyesun cepat. “Bekerja bersamamu. Hanya dengan tujuan itu. Jadi, jeobal .. biarkan aku menemanimu di sini … “

Pandangan kami bertemu dalam tatapan yang sangat lekat. Aku melihat bara membakar di bola matanya. Penuh tekad dan kesungguhan yang tidak mungkin dibantah.

“Jeobal .. ,” mohon Hyesun sekali lagi. Kali ini suaranya terdengar pelan dan bergetar.

“Sebenarnya .. ,” ucapku ragu-ragu. “ … bagaimana caramu .. bisa sampai berada di sini? .. bekerja di Great Building? .. Dan, … sejak kapan kau belajar bahasa Canton? … Penggunaan bahasamu tidak buruk. Apa yang sebenarnya kau lakukan selama tiga setengah bulan terakhir ini, Hyesun-a .. ?”

Hyesun menyengir tiba-tiba. “Aku akan menceritakannya setelah proyek kita resmi diterima pihak China Assets …,” janjinya. “Tapi sebelum itu, masih banyak yang harus kita lakukan .. “

Dia menjatuhkan diri di depanku kemudian menyambar sebagian denah yang tadi kuperiksa. “Kurasa, masih ada sesuatu yang menganjal di sini, .. tapi apa ya? Hmm—mungkinkah masih ada cara lain yang lebih baik daripada mengikuti konsep-konsep dasar yang sudah ada .. “ Hyesun menyibak-nyibak lembaran denah di tangannya. “Penghematan energi terhadap pemanfaatan kekuatan alam, kedengarannya tidak membantu .. “ Paras mungil itu mengeleng perlahan. “Terlalu banyak waktu yang dibutuhkan. Tapi kalau, .. menguras energi yang berlebihan dengan mendirikan pemukiman-pemukiman elite dan mewah, terus terang saja, .. saya juga tidak setuju .. Seperti keinginanmu, lindungi alam dari perusakan-perusakan tidak perlu, .. itu yang paling diperlukan saat ini. Dunia ini sudah terlampau rusak … “

Kuperhatikan keseriusannya dari balik kacamata yang kupakai. “Kau .. mengerti maksud dibalik semua ini … ?” tanyaku perlahan, dengan nada yang hampir tak percaya.

Hyesun mengangkat wajah dari denah di tangannya. “Tentu saja. Jika tidak, .. untuk apa aku mendukungmu mempertahankan konsep itu?” Dia tersenyum. “Jangan khawatir, pasti ada cara lain .. “ Kemudian, dia tenggelam kembali dalam kegiatannya.

Tanpa sadar aku tersenyum. Senyuman yang semakin lama semakin lebar. Akhirnya, .. ya akhirnya ada yang bisa menyelami dan memahami maksudku. Dan aku bahagia karna orang itu Goo Hye Sun.

Aku mengalihkan perhatian darinya ke lembaran-lembaran denah yang berserakan di atas meja. Sebentar saja kami sudah tenggelam kembali ke proyek yang harus segera kami selesaikan.


__________oOo___________



__________oOo___________



Sekitar dua jam kemudian aku mengerak-gerakan sekujur badan yang terasa penat sambil mengeser dokumen beserta lembaran-lembaran denah yang kuhadapi ke tengah meja. Kumundurkan kursi ke belakang dan berdiri dari posisiku.

“Waktunya makan malam ..,” kataku pada Hyesun yang masih tekun dengan kertas-kertas besar di tangannya. “Kita makan di luar atau .. ,” namun pertanyaanku belum selesai, terpotong oleh tangan Hyesun yang terangkat dengan cepat. Perhatiannya masih tertuju sepenuhnya pada kesibukan-kesibukannya.

“Tidak. Di sini saja .. ,” tukas Hyesun. “Apa saja boleh, tidak masalah. Saya tidak mau mood dan ide yang sudah mulai terbentuk dalam kepalaku menghilang begitu saja gara-gara hal kecil seperti makan malam .. “

Aku terkekeh pelan. Dia benar-benar sudah berubah dari Hyesun yang kukenal beberapa bulan lalu. Dia tidak lagi terlihat gugup, paling tidak dalam waktu beberapa jam sejak pertemuan kami kembali di Hongkong ini, .. apalagi melakukan kesalahan-kesalahan dalam melakukan pekerjaannya. Dia terlihat sangat efisien. Dia seorang arsitek junior profesional sekarang. Berlainan sekali dengan Hyesun yang selalu membuatku gemas dan stress. Namun, .. bukankah itu yang membuatku tertarik dan ingin selalu menjaganya selama ini? Jadi, .. apakah perubahan itu baik bagiku? Akankah aku tetap menyukainya sedangkan dia bukan lagi bidadari lemah yang menarik perhatianku untuk menjaga dan menolongnya setiap saat?


Aku mengeleng perlahan sementara, .. senyum halus masih saja tersungging di bibirku. Tidak! Dia akan tetap menjadi Hyesun yang mampu membuatku bertekuk lutut. Apapun perubahan yang terjadi padanya. Yang kusukai darinya bukan sifat-sifatnya, melainkan orang dan kepribadiannya. Aku menyukai apapun yang ada pada Hyesun, tanpa terkecuali. Mungkin saja dia tidak memerlukan topangan dari ku lagi sekarang, .. dan mungkin juga perasaan untuk melindunginya sudah lenyap, .. tapi, .. aku jadi berpikir—tidak buruk bukan kalau sekali-kali justru kau yang diperhatikan dan dibantu oleh orang yang ingin kau lihat setiap saat dan setiap detik?

Aku mengamati Hyesun yang masih disibukan dengan kertas-kertas di depannya. “Cuma ada mie seduh. Mau?”

Hyesun melirik sekilas, lalu menganggukan kepalanya.

“Ok.” Aku mengangkat tangan ke atas. “Tunggu saya sebentar. Siap saji sepuluh menit kemudian .. “

Hyesun tersenyum dari balik selembar denah yang dipegangnya. “Gumawo . .” Setelah itu, dia tidak memperdulikan ku lagi. Dia kembali tenggelam dalam kesibukannya.

Aku tersenyum ketika berjalan ke pintu dan membukanya. Sebelum menutup pintu tersebut, .. untuk terakhir kalinya kusempatkan melihat postur punggungnya yang terbujur kaku menghadapi serentetan kertas di atas meja, .. sebelum pergi menuju pantry untuk menyeduh mie gelas yang kujanjikan padanya.


__________oOo___________



”Aku merasa ada yang lebih baik dari konsep ini .. ,” kata Hyesun sambil meletakan mie seduh yang sudah kosong di tangannya.

“Iya, .. lalu apa?” balasku sambil mengamati lembaran-lembaran rumit yang terhampar di depanku. Berulangkali pensil di tanganku mengetuk-ngetuk daun meja. “Laut luas berair jernih, .. daratan yang rata dan lapang .. Cuaca bagus dan bersuhu stabil, terkendali dan mudah diprediksi .. kemudian dilengkapi dengan sinar matahari yang mencukupi sepanjang hari, serta tenaga angin yang memadai di  malam hari .. Apa lagi kekurangannya?” Kugelengkan kepala perlahan. “Aku tidak mengerti, .. di mana letak kendala dari konsep yang kuterapkan?”


“Waktu . .,” jawab Hyesun pendek, .. seakan takut menyinggung perasaanku.

“Ya .. ,” Aku menghela nafas panjang. “Waktu. Selalu itu yang menjadi kendalanya. Kita selalu berbentrokan dengan waktu. Sedangkan prinsip orang kaya, waktu adalah uang .. “ Aku menyandarkan punggung ke sandaran kursi dan menerawangkan pandangan ke langit-langit ruangan. Kemudian sepasang mataku kupejam rapat-rapat.



“ .. karna itu mereka tidak akan mengeluarkan biaya hanya untuk sebuah percobaan yang belum tentu membuahkan hasil … ,” lanjut Hyesun pelan.

Aku menyetujui. “Benar … “

Sesaat kemudian, kami sama-sama terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Jika saja ada cara yang masih menumpukan inti dari proyek ini pada konsep semula, dengan tidak mengurangi konsep laba dan mempersingkat waktu yang mereka setujui, mungkin .. “ Aku terdiam. Samar-samar, .. konsep itu mendadak muncul dalam pikiranku. Mataku melebar.

“WISATA AIR!!” seruku dan Hyesun bersamaan.

Aku menatapnya tak percaya. “Kau juga berpikiran begitu?”

Hyesun mengangguk. Tubuhnya dicondongkan kearahku. “Menurutmu, apa itu akan berhasil?”

Aku mengangguk mantap. “Tentu saja! Setahuku, banyak negara-negara kepulauan yang memanfaatkan potensi laut mereka sebagai objek wisata. Dan kebanyakan dari itu sangat berhasil. Sebagai contohnya, Maldives misalnya, .. atau Bali dan juga Sanya di Hainan, .. yang kemungkinan besar akan menjadi saingan berat dari pulau Sanna. Wilayah-wilayah tersebut menjadi tujuan wisata yang sangat digemari turis-turis dari penjuru dunia sekarang. Dan kurasa .. “ Aku mengangguk puas. “Pulau Sanna akan menjadi bagian dari mereka .. “

“Tapi, .. sudah terlampau banyak daerah-daerah wisata seperti itu .. ,” kata Hyesun agak ragu. “Apa Sanna mampu bersaing dengan mereka? Kira-kira cara apa yang bisa kita terapkan untuk melebihi mereka? Paling tidak, berbeda dari tempat-tempat wisata yang sudah ada?”

Aku tersenyum. Perlahan kuangkat tangan dan menjitak pelan batok kepalanya. “Sudah kubilang kan, kita berpegang pada konsep semula? .. Pulau Sanna akan menjadi daerah wisata air satu-satunya yang digerakan dengan tenaga alam .. Semuanya serba alamiah di sini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang perusakan terhadap lingkungan. Saya rasa, para turis akan tertarik begitu mendengar konsep ini. Masih banyak yang perduli terhadap perlindungan alam .. “

“Bisa?” tanya Hyesun, masih ragu dan tidak begitu yakin.

“Tentu saja .. “ Aku berusaha menyakininya dengan mengangguk dalam-dalam. “Kau lupa potensi-potensi dari pulau Sanna yang kujabarkan tadi? .. Pulau Sanna kaya akan energi/panas matahari di siang hari, .. dan angin di malam hari. Kita bisa memanfaatkan kedua hal ini untuk mengerakan system kerja di Pulau Sanna .. “

“Jeongmal?” Mata bundar Hyesun melebar dibalik lens coklat tuanya.

“Ne .. “ Aku tertawa begitu melihat reaksinya yang terlalu besar.

Hyesun ikut tertawa sambil menepuk-nepuk lenganku berulangkali. “Kau sangat pintar .. “


Aku cuma bisa nyengir tidak nyaman mendengar pujiannya. “Hanya satu kendalanya sekarang .. ,” tukasku cepat, berniat membuyarkan kecangungan yang tercipta gara-gara pujiannya.

“Mwo?” tanya Hyesun sambil mengalihkan perhatian dari kerisihanku. Atau .. dia sama sekali tidak melihat dan menyadarinya?

“Skala pulau Sanna hanya diketahui dari peta, .. begitu juga keadaan geografisnya. Jadi selama ini, kami membuat denah hanya berpatokan pada peta yang sudah ada, dengan sistem mengira-ngira … Tidak ada yang akurat di sini .. ,” kataku sambil mengetuk-ngetuk denah-denah di atas meja.

Aku berhenti sebentar sambil memperhatikan garis-garis rapi dan rumit yang tergores dari pensil berbeda tebal dan tipis di kertas-kertas yagn terhampar di meja kerjaku. “Kurasa, .. saya perlu terbang sekali ke sana dan melihat sendiri bagaimana keadaan pulau itu yang sebenarnya. Mungkin dengan begitu, .. akan didapatkan ide-ide lain yang lebih sempurna daripada ini .. “

“Kau akan pergi ke pulau Sanna?” tanya Hyesun segera.

Aku mengangguk. “Ne .. “

“Sendirian?” tanya Hyesun kembali.

Aku menyahutnya dengan anggukan pelan.

“Kapan?”

“Mungkin besok sore .. “ Aku mengangkat bahu.

“Berapa lama?”

Rasanya aku ingin tertawa mendengar pertanyaan-pertanyaannya yang seperti menginterogasi. Tapi melihat raut muramnya, aku tidak jadi melakukannya.

“Tidak lama, .. mungkin hanya sehari. Saya akan menyuruh Nathan memesankan tiket pesawatnya untuk ku besok pagi .. “

Hyesun mengangguk pelan. “Bolehkah saya ikut denganmu .. ?” Pertanyaan yang sangat halus. Saking pelannya sampai hampir tak terdengar. Namun, aku masih mampu mendengarnya.

“Tentu saja. Kenapa tidak?” tukasku cepat. “Saya akan membutuhkan seseorang yang mampu membantuku di sana. Tapi bukan anak-anak yang lain karna mereka terlalu ribut, .. makanya kuputuskan pergi sendiri. Tapi kalau kau mau ikut, .. aku dengan senang hati menyetujuinya .. “

“Jinja?” Mata bundar itu melebar untuk kedua kalinya.

“Ne … “ Aku mengucek poninya sampai berantakan. “Siapkan dirimu besok . .”

“Ne!” sahut Hyesun dengan semangat mengebu-ngebu. Sangat kontras dengan mimiknya tadi yang terlihat sendu. Membuatku tak kuasa menahan tawa.

“Sekarang kita lanjutkan perombakan menurut ide yang sudah didapat .. Aku yang menentukan letak dan kau yang mengambar. Bagaimana? Apa kau bisa?”

Hyesun mengangkat tangannya yang memegang pensil dan menempelkannya di jidat. “Sure, boss!!”

Aku tidak tahan untuk tidak mengetok kepalanya. Dia terlalu mengemaskan dalam ekspresi seperti itu. Hyesun memekik pelan dan langsung protes begitu kepalan tanganku mendarat terlalu keras di kepalanya.


__________oOo___________



Dua jam kemudian, kepalaku terasa semakin berat. Aku sangat mengantuk sehingga sepasang mata ini terpejam perlahan-lahan .. tanpa dapat kukendalikan lagi. Sesaat aku tersentak. Mataku terbuka kembali. Kukejapkan berulangkali, berusaha mengusir rasa kantuk yang semakin mengigit. Namun, semua itu tidak membuahkan hasil.

Bayangan Hyesun yang sedang mengores-goreskan pensil di tangannya semakin kabur. Akhirnya aku tidak kuat lagi. Kepalaku terkulai lemas di atas meja, dan aku tertidur seketika. Pensil di tanganku terlepas, .. bergulir di meja sampai jatuh ke lantai. Tidak kuketahui lagi apa yang dilakukan Hyesun selanjutnya.

“Setelah ini, bagaimana?” tanya Hyesun. “Apakah pondok-pondok ini  sebaiknya dipindahkan agak ke atas pantai saja, atau dibiarkan seperti apa adanya?” Hyesun mengangkat wajahnya. Lalu tertangkap oleh penglihatannya sosok yang sudah terkulai di atas meja. Sejenak diamatinya paras sempurna itu. Kemudian, .. Hyesun tersenyum sambil mengelengkan kepala perlahan.

Hyesun meletakan pensil di tangannya, .. meregangkan otot-ototnya sejenak, sebelum menghampiri sosok tersebut. Mantel yang tersangkut di sandaran kursi disampirkannya di tubuh jangkung itu. Kemudian Hyesun kembali ke kursinya. Diamatinya sebentar wajah yang tertidur pulas dan tenang di atas meja. Dia tersenyum.

Lalu Hyesun membungkuk dan mengeledah sebentar tasnya yang tergeletak di lantai. Dia mengeluarkan sebuah handycam kecil dan menfokuskannya pada pria di depannya. Hyesun menekan sebuah tombol dan mulai merekam.

“Pria ini--Lee Min Ho .. ,” ujar Hyesun pelan, seakan takut membangunkan pria yang sedang tertidur pulas di hadapannya, .. sambil sesekali pandangannya dialihkan kepada pria tersebut. Senyum tipis yang teramat lembut tersungging di bibir mungilnya. “ .. aku masih ingat, .. bagaimana pertemuan pertama kami. Tidak bisa dibilang menyenangkan. Tidak! Bahkan teramat sangat menyebalkan baginya, aku tahu .. “ Sampai di sini, Hyesun tersenyum kembali. “Aku selalu menyusahkannya. Namun entah mengapa, .. dia tidak pernah kapok menolong dan membantuku walau bibirnya berkata lain. Dia selalu berhujat tidak ingin bertemu kembali denganku, .. ini akan menjadi pertemuan terakhir, katanya. Namun entah mengapa (lagi-lagi aku tidak mengerti) kenyataannya tidak begitu. Dia akan muncul kembali di hadapanku. Menyanggaku di saat yang tepat, .. di mana aku merasa sulit berdiri di bawah telapak kaki ku sendiri. Dia memberi kekuatan yang sangat besar bagiku. Karena dia, aku berubah. Karena dia, .. aku jadi tahu bahwa hidupku sangat berarti bagi diriku sendiri, bukan hanya bagi orang lain. Di sini, .. aku ingin mengucapkan terimakasih. TERIMAKASIH atas segala kebaikan dan perlindungannya .. ,” Lalu Hyesun menurunkan kamera di tangannya, .. sampai pandangannya terarah langsung pada sosok yang sedang tertelungkup di atas meja. “Hei—Lee Min Ho, ssi! Kau dengar ini baik-baik. Apapun yang terjadi, .. kau harus mengingatku, .. araso? Bagaimanapun kehidupan kita kelak, .. jangan sampai melupakanku. Seperti aku juga, .. tidak akan pernah melupakanmu. Sekalipun sampai tua atau pikun, .. walau aku melupakan segalanya, .. aku tidak akan melupakan yang namanya .. Lee Min Ho .. Ini janjiku padamu .. “

Hyesun menekan mati tombol perekam. Kemudian tangannya yang memegang kamera terayun lemah di samping kursi. Tatapan nanar itu masih tertuju pada sosok di depannya. Perlahan dihapusnya dua bulir airmata yang menuruni pipinya. Sesaat kemudian, dia tersenyum, .. senyuman yang teramat tulus. Hyesun mengangkat tas yang masih tergeletak di atas lantai kemudian memasukan handycamnya ke dalam tas tersebut. Diperhatikannya kembali pria yang tertidur pulas di depannya.

“Kau tidak akan pernah tahu .. betapa aku mencintaimu. Sekalipun hanya menemanimu, .. melihatmu berhasil dalam karirmu, .. itu sudah lebih cukup bagiku. Aku tidak mengharapkan apa-apa lagi .. Semoga kau … bahagia selalu, Minho-a … “


__________oOo___________



Aku dan Hyesun mendarat di bandara kecil Hanna sekitar pukul 5 sore keesokan harinya. Udara mulai terasa sejuk walau matahari masih memancarkan sinarnya yang agak-agak hangat. Hyesun merapatkan mantelnya di depan dada begitu kami berada di halaman depan bandara, menunggu mobil jemputan dari China Assets yang sudah dijanjikan sebelumnya.

“Dingin?” Aku bertanya sambil mengamati jari-jemarinya yang sibuk mengosok-gosok sepasang lengannya yang terbalut mantel cukup tebal.

Hyesun tersenyum sambil mengelengkan kepalanya. “Hanya sedikit kok .. “

Aku melepaskan jaket yang kukenakan kemudian menyampirkan ke pundaknya. “Pakai ini. Jangan sampai kedinginan . .”

“Tapi .. “ Hyesun berusaha menolak. “Bagaimana denganmu?”

“Aku tidak apa-apa .. ,” sahutku segera. “Lagipula, aku masih memerlukan bantuanmu. Jadi jangan sampai jatuh sakit . .”

Hyesun akhirnya tidak membantah lagi. Dia mengangguk seraya menundukan wajahnya yang sudah bersemu merah. “Gumawo .. ,” ucapnya pelan.


Aku bermaksud mengodanya ketika bunyi klakson yang ditekan dua kali mengusik ketenanganku. Aku berpaling ke arah datangnya suara itu. Sebuah van yang masih baru berhenti di samping kami, dan sopirnya yang berkulit agak gelap keluar dengan senyum yang dibuat seramah mungkin. Yang justru membuatku muak terhadapnya.

“Jemputannya sudah tiba .. ,” kataku sambil berpaling pada Hyesun, .. dengan sengaja mengalihkan perhatian dari sopir yang cengar cengir tidak karuan itu.

Hyesun terlihat tersenyum simpul. Entah karna dia bisa membaca pikiranku atau memang geli terhadap ekspresi sopir tadi yang menjadi penyebabnya, hingga membuat senyumnya semakin lebar. Aku mencuekannya begitu saja. Kutolak sopir yang bermaksud menolongku memasukan muatan ke bagasi. Setelah menyesakan semuanya ke belakang mobil, kuhempaskan tubuhku di jok belakang, dengan diikuti Hyesun yang sedari tadi hanya memperhatikan kejengkelanku dari tempatnya sambil mengigit bibir menahan senyum.


__________oOo___________



”Pihak China Assets bilang, kita boleh langsung memulainya .. ,” kataku sambil mengamati keadaan pantai yang mulai diselimuti lembayung sore. Sinarnya yang keunggu-ungguan menyapu sampai ke batas pantai dan laut. Sedangkan cakrawala di atas sana masih dilingkari garis-garis kuning dan jingga dari serpihan-serpihan mentari siang yang belum pudar warnanya.

“Harus memulai dari mana?” tanya Hyesun yang sudah sampai di sampingku.

Aku menoleh padanya. “Terserah. Mau mulai dari mana sama saja .. “ Lalu perhatianku kembali tertuju ke depan. “Pernah lihat laut seindah ini?” tanyaku tanpa sadar.

Hyesun menatapku sejenak lalu memusatkan perhatiannya ke arah yang kumaksud. “Pernah .. ,” ujarnya halus.

Jawaban itu segera membuatku berpaling. “Pernah?” Alisku berkenyit. “Kapan .. dan .. di mana?” tanyaku menyelidik. Aku tidak mengerti mengapa menanyakan ini, .. namun yang jelas, jawabannya tadi membuatku curiga.


“Dulu .. ,” jawab Hyesun dengan pikiran dan pandangan menerawang. “ .. sekitar tiga bulan yang lalu .. “ Tiba-tiba dia berpaling padaku. “ .. di Canada!”

“Maksudmu?” Alisku berkenyit semakin dalam. “Waktu .. itu .. ?”

“Kau masih ingat?” Hyesun balas bertanya. “Saat itu .. adalah saat penentuan. Penentuan terhadap karirku .. dan juga sesuatu yang kurasa—harus kulepas. Aku tidak pernah menyesalinya karna .. aku merasa .. itulah laut terindah yang pernah kulihat … “

“Hyesun-a .. “ Perkataannya membuatku mendesah lirih.

“Kau tidak perlu mengatakan apa-apa!” tukas Hyesun cepat. Senyum tulus segera tersungging di bibirnya. “Karna aku tidak pernah berharap .. “

“Bukan begitu .. “ Aku berusaha meluruskan namun Hyesun segera melanjutkan perkataannya.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang .. ?" tanya Hyesun sambil melongok ke kanan dan kiri.

“Goo Hye Sun .. “

“Jangan membahasnya lagi, jeobal … “ Hyesun kemudian menunduk sambil mengais-ngais pasir dengan kakinya yang tak beralas. Sepasang sandal pantainya tertenteng di tangan kanan. “Sebaiknya kita mulai membahas proyek kita. Apa yang harus kita lakukan buat memperbaharui desain denah yang ada? … “ Hyesun kemudian menerawangkan pandangannya kembali ke tengah laut. “ … kira-kira .. apa yang mesti ditambahkan atau dikurangi dari proyek ini .. “

Aku menghela nafas. Melihat gelagatnya, kurasa dia tidak ingin didesak. Hyesun membutuhkan waktu buat menenangkan diri sebelum mendengar penjelasanku, aku tahu. Dia masih belum siap buat sebuah kegagalan. Namun, .. bukan kegagalan yang kujanjikan padanya. Apakah tidak sebaiknya kuutarakan sekarang juga—bahwa aku telah putus dengan Angel? Bahwa hanya dia yang ada dalam hatiku selama ini? .. Akan tetapi, begitu melihat raut wajahnya, .. aku tahu dia tidak ingin mendengar penjelasan berbentuk apapun yang berhubungan dengan Angel saat ini.

Aku ikut melayangkan pandanganku ke tengah lautan yang mulai kelabu. “Menurutmu, .. apa yang paling menjanjikan dari laut?” aku balas bertanya.

Hyesun tersenyum di posisinya yang masih menghadap ke laut. “Sejak kecil .. saya selalu mengagumi pemandangan laut. Ikan-ikan besar dan kecil, beraneka warna dan jenis, .. begitu juga makhluk bawah laut lainnya, .. berenang hilir mudik .. mengikuti arus, kemanapun arus tersebut membawa mereka .. “ Gadis itu tiba-tiba berpaling padaku. “Aquarium laut!” serunya cukup keras dan nyaring.


“Mwo?!” tanyaku kaget dan heran, .. juga sedikit tidak mengerti dengan celetukan mendadaknya. “Maksudmu?”

“Sebuah aquarium besar yang melengkung di dasar laut .. ,” kata Hyesun sambil membentuk lengkungan lebar dengan sepasang tangannya. “Tidak usah terlalu dalam dan panjang, yang penting mampu mempertunjukan semua keindahan laut yang akan membuat semua orang terkagum-kagum .. “

“Maksudmu .. ,” ujarku lambat-lambat. “ .. mengali dasar laut dan membangun sebuah aquarium besar dari kaca yang panjang dan melengkung?”

Hyesun mengangkat telunjuknya. “Dhe. Itu maksudku—“

Aku terdiam untuk beberapa saat.

“A .. apa itu tidak mungkin?” tanya Hyesun yang menjadi ragu begitu melihat reaksiku. “Sulit untuk dilakukan?”

Aku mengeleng perlahan. “Tidak juga …” Kemudian kuangkat jempol padanya. “Itu bisa diusahakan. Kedengarannya masukanmu menarik .. “

“Jinja?” Hyesun melebarkan sepasang matanya bulat-bulat.

“Ne. Kita hanya perlu menahan arus air, kemudian memasang alat buat mengebor dan sekaligus memasang kaca panjang yang diperlukan. Para pekerja yang berpengalaman akan melakukan itu dengan baik … “

“O—“ Hyesun terlihat terkagum-kagum mendengar penjelasanku—yang sesungguhnya, .. aku juga tidak begitu yakin tahap-tahap itu yang akan dilakukan. Yang kuketahui, .. hanya pengetahuan dasarnya saja. Selebih itu, .. aku hanya mengira-ngira.

“Selanjutnya, .. apa lagi idemu?” tanyaku kemudian.

Hyesun tampak berpikir sebentar. “Olahraga air. Seperti surfing, berlayar atau menyelam. Terus, di pantai bisa didirikan pondok-pondok tertutup dan terbuka buat berteduh dan berjemur seperti konsep semula .. “

Aku mengangguk-angguk mendengar penjelasan Hyesun. “Terus? Ada lagi?”

Hyesun mengeleng. “Lalu bagaimana denganmu? Ada ide?”

“Hmm—Tidak banyak.” Aku mengelus-ngelus dagu. “Sebenarnya, aku sedang memikirkan teori aquarium bawah laut yang kau utarakan tadi. .. Akan sangat bagus rasanya kalau kita juga memanfaatkan arus laut sebagai poros gerak dari tenaga yang kita butuhkan. Jika saja tenaga matahari dan angin yang diperlukan tidak mencukupi, .. kita masih mempunyai cadangan lain .. “ Lalu kakiku mulai bergerak menyusuri pantai. “Bagaimana menurutmu?”

“Aku tidak begitu memahami teori hemat guna yang kau terapkan .. ,” kata Hyesun sambil mengikutiku.

Langkahku terhenti seketika. Aku berpaling padanya. “Kau tidak mengerti?” tanyaku dengan alis berkerut. “Lalu kenapa kau mendukung ideku begitu saja?”

Hyesun tersenyum. “Aku memang tidak begitu mengerti,” sahutnya yakin. “Namun, .. kau pasti punya teori sendiri. Dan aku percaya padamu—“

Hanya itu, .. hanya kata ‘Percaya’ yang kedengaran sederhana dan berkesan murahan itu, mampu membuat mulutku terkatup dan pandanganku hanya tertuju padanya.

Kami berdiri saling berhadapan. Hyesun dengan sepasang sandal yang masih tergenggam di tangannya, .. sedangkan aku dengan sweater yang tersampir di pundak, berkibar-kibar tertiup angin .. sementara air laut yang sudah semakin tinggi mengapai dan menampar-nampar kaki kami yang tidak beralas sepatu. Senja makin menurun dan kabut kelam yang sedikit dingin terasa menusuk sampai ke tulang. Pandangan kami sudah agak dikaburkan oleh sapaan dewi malam yang perlahan mengantikan sore.

Aku bergerak perlahan mendekatinya. “Dingin?” tanyaku pelan.

Hyesun mengangguk, .. namun dia tidak menjawab. Aku melihatnya mengigit bibir yang sudah agak membiru, .. menandakan dia benar-benar kedinginan. Kulepas sweater yang terikat antara pundak dan leherku, kemudian menyampirkan di tubuh mungilnya yang hanya terbalut gaun pendek berlengan panjang dan jaket tipis.

“Kita pulang saja ke hotel. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan di sini .. Besok pagi-pagi sekali kita telusuri pulau ini. Saya ingin tahu seberapa luas sebenarnya pulau beserta pantai yang memugari pulau ini .. beserta hutan dan bukit kecil yang bernaung di atasnya ...“

Sekali lagi Hyesun menganggukan kepalanya. Dia pasrah saja begitu aku menuntunnya kembali ke hotel kecil yang letaknya tidak jauh dari pantai.


__________oOo___________



"Selesai?" Aku memajukan kursi ke depan dan melongok kesibukan Hyesun yang baru saja membubuhkan goresan panjang pada lembaran terakhir sketsa yang ditekuninya sejak beberapa jam yang lalu.

Hyesun mengangkat wajah dan meletakan pensil di tangannya. "Ne." jawabnya sambil menjulurkan leher kearahku. "Bagaimana denganmu?" Dia balas bertanya.

"Sudah selesai sejak tadi .. ," jawabku sambil tersenyum padanya.

"Jinja?" Mata bulatnya melebar. "Kenapa tidak memberitahuku? .. Jika aku tahu, .. bisa kupercepat pembuatan sketsa-sketsa ini .. ," katanya sambil memanyunkan bibirnya.


Aku mengangkat pundak sebagai jawaban, sambil menyengir lebar melihat ekspresinya yang terlihat lucu .. lalu tanganku terulur padanya. "Berikan denah-denah tersebut padaku. Akan kuperiksa dulu. Jika tidak ada masalah, kita cukupkan sampai di sini buat hari ini .. "

Hyesun mengangguk kemudian menyodorkan setumpuk sketsa yang sudah jadi padaku. Aku menerima dan mulai menekuninya, .. sebentar saja ruangan tersebut menjadi sunyi. Kami tenggelam dalam kesibukan masing-masing, .. tidak ada yang mengeluarkan suara. Aku sibuk memeriksa rancangan-rancangan yang dibuat Hyesun, .. sedangkan Hyesun sendiri--memperhatikanku sambil memain-mainkan bibirnya.



Lima menit berlalu dan Hyesun melirik jam dinding yang tergantung di dekat pintu. Saat itu sudah hampir pukul 7 malam dan perutnya mulai keroncongan. Hyesun menjatuhkan dagunya sampai bertumpu di atas meja, .. pikirannya jadi menerawang ke pada Raymond cs yang sudah meninggalkan ruangan ini sejak satu setengah jam yang lalu.

"Bagaimana?" tanya Hyesun begitu melihat ku meletakan tumpukan denah yang kutekuni sejak tadi. Dagunya yang bertumpu di meja segera ditariknya sampai berhadapan denganku. Mata bundar itu berkejap-kejap penuh harap.

Aku mengamatinya sejenak dengan ekspresi mengoda. Setelah itu .. "Beres!" Aku mengacungkan jempol padanya.

Hyesun berhembus lega sambil mengelus-ngelus dadanya. "Syukurlah .. Aku mengira akan lembur lagi seperti kemarin-kemarin .. " Dia tersenyum dengan sangat manis.

Aku membalas senyumnya sambil menyusun kumpulan denah yang agak berantakan. "Persiapkan dirimu buat makan malam .. ," kataku tanpa memandangnya. Aku masih disibukan dengan kegiatan berbenah. Meja kerjaku sangat berantakan sejak dijadikan ajang tempur dari beberapa hari yang lalu. "Setelah merapikan rancangan-rancangan ini, kita makan di luar .. "

Hyesun meloncat turun dari kursinya. "Ok, boss!" sahutnya antusias. Tangannya dengan cepat menyambar sebuah buku catatan yang agak tebal dari atas meja kemudian mendekapnya erat-erat di depan dada. Dia segera beranjak ke pintu. "Aku siap dalam waktu lima menit!" seru Hyesun sambil mengedipkan matanya.

Aku tertawa. "Ok .. "


__________oOo___________



Kami menghabiskan makan malam di sebuah restoran kecil yang terletak di pusat Central dalam waktu satu jam. Hujan mulai turun begitu kami keluar dari restoran tersebut. Hyesun menaungi kepalanya dengan sepasang tangan dan melangkah lebar-lebar bermaksud menerobos hujan.

"Yaish--apa yang kau lakukan!!" Aku menariknya kembali sambil mengomel. Kuamati gaunnya yang sudah basah sebagian. Juga rambutnya yang mulai menitikan air dan menempel ketat di wajahnya yang putih mulus. "Kau jadi basah!"

Hyesun memanjangkan bibir sambil memperhatikan penampilannya. "Aku bermaksud menghentikan taxi yang lewat tadi .. "

"Mwo?" Alisku berkerut. Segera saja kuputar tubuh ke samping. Sekarang terlihat jelas olehku sebuah taxi yang sedang melaju ke jalan besar. Sambil menghela nafas panjang-panjang, aku berbalik kembali kepada Hyesun. "Kau bermaksud pulang sendiri?"

"Ne," jawab Hyesun.

"Begitu? Lalu, .. apa gunanya aku?!" tegurku agak keras. "Mengajakmu makan bersama, .. itu berarti--menjadi tugasku mengantarmu pulang, araso?"

"Hn--" Hyesun menundukan wajah dalam-dalam. "Mianeyo .. ," desahnya pelan.

Aku kembali menghela nafas. Kali ini terdengar berat. "Kau tinggal di mana?" tanyaku kemudian.

Sejujurnya, ... selama hampir sebulan pertemuan kami kembali, .. aku belum mengetahui apapun tentang dia. Mengapa dia sampai bisa berubah dari seorang wartawan junior menjadi  arsitek amatir? (memang sih dia pernah mengungkapkan tekad dan keinginannya buat meraih cita-cita sebagai seorang arsitek seperti ku waktu di Canada dulu, .. hanya saja, aku tidak pernah mengira dia benar-benar melakukannya .. dan secepat ini? Dalam waktu yang sangat dekat?) Bagaimana dia melakukannya? Prosesnya? Dan apa pula alasannya memilih Great Building? Apakah benar hanya untuk bekerja bersamaku seperti yang dikatakannya waktu itu? .. Lalu, .. di mana dia tinggal selama ini? Hyesun masih merupakan misteri. Dia tidak pernah menceritakan apa-apa padaku.

"Bisa memberitahuku sekarang?" Aku menatapnya lekat-lekat.

"Mwo?" Hyesun balas menatapku penuh tanya.

"Di mana kau tinggal?" ulangku tak sabar.

"O--" Hyesun membuka mulut lebar-lebar sampai membentuk 'O' besar.

"O apanya?!" tukasku gusar. "Apa itu rahasia? Aku tidak boleh mengetahuinya?"

"Tidak!" potong Hyesun cepat. "Bukan begitu!"

"Lalu .. ?"

Hyesun tidak menjawab. Tangannya malah diangkat dan menadah hujan yang makin lebat.

"Kau tinggal sendiri .. atau .. " Pertanyaaku tidak berlanjut. Entah kenapa aku tidak punya kekuatan untuk melanjutkannya. Aku takut kalau pertanyaan tersebut akan dijawab .. 'Aku tidak sendiri' ..

Namun reaksi Hyesun membuatku lega. Dia berpaling dengan cepat dan menukas tegas. "Saya tinggal sendiri!"

Aku tersenyum. "Di mana?"

"Di sebuah apartemen sederhana yang berada di ujung selatan Admiralty .. "

Kemudian keadaan menjadi hening. Kami tidak mengeluarkan suara lagi. Suasana terselubungi dalam diam. Hanya senyum lebar yang terukir di wajah masing-masing yang menjadi saksi bisu di malam beraura dingin tersebut. Hujan makin lebat .. menitik turun membasahi segala sesuatu yang ada di bumi, .. membawa pergi hawa panas dan aroma lembab dari asap-asap knalpot dan debu-debu jalanan  .. Siramannya yang menyejukan seakan menjadi pengait dan penyatu dua hati yang saling membutuhkan dan memahami.

Aku melepaskan mantel dan menyampirkannya di pundak Hyesun. Dia melirik sekilas, .. namun tidak mengatakan apa-apa. Sesaat tubuhku merapat kearahnya. Secara perlahan.. tapi pasti, Hyesun menyandarkan kepalanya di dadaku.

 

__________oOo___________



Perubahan-perubahan terhadap Proyek Sanna yang kami lakukan berjalan dengan lancar dan selesai pada waktunya.

Beberapa hari kemudian rapat penentuan keputusan terhadap Proyek Sanna antara tim ku dan tim Bosco oleh pihak China Assets dan Great Building dilaksanakan. Rapat tersebut dihadiri para petinggi dari kedua perusahaan yang bersangkutan.

Rapat dimulai dengan representasi dari tim Bosco. Dengan gaya angkuh kebanggaannya, Bosco menerangkan dengan seksama konsep dari proposal yang mereka buat. Tidak ada yang berubah dari konsep yang mereka terapkan, .. mungkin hanya sedikit perombakan di sana sini, namun itu bukan perubahan yang berarti. Mereka tetap mempertahankan pemukiman elit dan mewah yang hanya mampu terjangkau oleh orang-orang kaya yang sudah menjadi dasar buat proyek ini.

Bosco menjatuhkan diri kembali ke kursi dengan senyum puas yang sedikit mengejek begitu mendapat sambutan yang tidak mengecewakan dari pihak China Assets. Begitu juga dari pihak kami sendiri, .. Tuan Lau memujinya dengan mengangkat jempol ke atas. Bosco mangut-mangut kemudian melipat sepasang tangan di depan dada. Setelah itu menyengir kearahku.


Aku hanya bisa membalasnya dengan tarikan bibir ke atas. Malas rasanya melayani orang seperti dia.

“Sekarang giliran anda, Tuan Lee … ,” terdengar suara Tuan Mok yang ditujukan padaku.

Aku agak tersentak dan perlahan berdiri dari kursi. Sesaat kugunakan untuk menenangkan diri dengan membungkukan  badan sedikit kearah orang-orang yang mengelilingi meja panjang di ruang rapat ini.

“Begini .. ,” mulaiku. Dan serentetan ide yang tertuang dalam proposal di hadapanku mengenai bagaimana seharusnya lahan pulau Sanna dibuka Pun gencar berluncuran dari bibirku. Sampai kepada inti dari rancangan kami, yang merupakan bagian penting dan yang terakhir dari proposal di tanganku, .. aku berhenti. “ …intinya hanya satu—area pariwisata air yang murni digerakan oleh alam .. “

Tuan Mok kelihatan mengangguk-anggukan kepalanya. “Anda yakin itu dapat terlaksana?”

Aku mengangguk mantap. “Sure. Kami sudah memeriksanya dengan seksama sebulan yang lalu. Dan tidak ada masalah jika menjalankan konsep ini di pulau Sanna. Pulau tersebut menjanjikan potensi alam yang sangat besar. Akan sangat disayangkan kalau disia-siakan .. “

“Berapa lama waktu yang diperlukan .. “

“Tidak lama .. ,” jawabku. “Mungkin hanya beberapa bulan atau setahun dari konsep pemukiman elit yang diajukan tim Bosco .. “ Aku melirik para rival yang duduk di hadapanku. Terlihat mata Bosco melebar, .. mungkin dia tidak senang timnya kukaitkan dengan representasi terhadap rancangan kami. Aku mengangkat bahu cuek kemudian mengembalikan perhatianku pada Tuan Mok.

“Saya menyukai ide kalian .. ,” kata pria tengah baya yang terpisah dua kursi di sampingku.

“Tuan Mok .. “ Bosco berdiri dari kursinya dan terlihat akan protes. Namun Tuan Mok segera mengangkat tangan buat menghentikannya.

“Tenang dulu. Dengarkan penjelasanku .. “

“Tuan sudah bilang bahwa teori hemat guna itu membuang waktu dan dana percuma .. ,” tukas Bosco sengit.

“Ya, memang … “ Tuan Mok mengakui.

“Lalu … kenapa .. ,” bantah Bosco tidak mengerti.

Tuan Mok tersenyum menenangkan. Perlahan ditepuknya pundak Bosco, .. berulang-ulang. “Ada kalanya .. penghematan energi dan perlindungan lingkungan itu perlu. … Selama teori dan pengembangan dari rencana tersebut tidak bertentangan dengan prinsip laba yang kami, orang-orang bisnis, pahami—kurasa, .. tidak ada salahnya kami mencobanya. .. Lagipula, waktu yang diperlukan tidak panjang atau berlarut-larut .. ,” Tuan Mok berdiri dan kembali menepuk pundak Bosco. Kali ini agak keras. “Kadang-kadang .. .. Mempertahankan sesuatu yang lama tidak buruk, .. namun menemukan sesuatu yang baru dan dapat menarik konsumen, itu yang paling dipuji. Pandai-pandailah memutar haluan dan mengambil keputusan yang paling baik, anak muda .. Pikirkan dan camkan ini baik-baik .. “ Kemudian pria itu berpaling pada kami. “I pass your idea, guys. Siapkan proposal lengkapnya dan antarkan ke kantorku besok. Aku akan segera menandatanganinya .. “

Tuan Mok berputar menghadapi Tuan Lau yang sudah berdiri dari kursinya. “Aku ada urusan penting dan harus pergi sekarang. Terimakasih atas representasi bermutu yang kuterima hari ini. Orang-orang anda hebat-hebat semua .. “

Tuan Lau terlihat sangat puas menerima pujian dari Tuan Mok. “Biar kuantar keluar, Tuan Mok .. ,” tawarnya kemudian.

“Baik .. Terimakasih .. “ Tuan Mok menerimanya dengan senang hati.

Setelah itu kedua petinggi dari dua perusahaan besar tersebut meninggalkan kami. Sepeninggal mereka, keadaan jadi riuh. Raymond cs melemparkan kertas-kertas di tangan mereka sampai berhamburan di meja dan lantai. Ken tiba-tiba menunjuk kearah tim Bosco yang wajahnya sudah hangus seperti terbakar arang.

“Who is the loser now?!” Ken tersenyum mengejek.

Aku segera menyentuh lengannya. “Jangan. Apa kau ingin cari masalah lagi?”

Bosco mendengus, .. dia berdiri dari kursi dan menendang kaki meja sampai meringis halus. Bibirnya ditekuk menahan sakit. Dengan amarah yang sudah di ubun-ubun, dia meninggalkan kami, .. diekori dengan setia para pengikutnya yang menundukan kepala semua.

“Katanya kau arsitek junior yang berbakat, tapi buktinya . .,” samar-samar aku mendengar umpatan Bosco pada desainer baru yang bekerja padanya. “ .. kalau tahu begini, .. saya bakal memilih arsitek yang satunya. Kau tidak membantu .. “

Aku berpaling pada Hyesun dan tersenyum padanya. “Beruntung dia tidak memilihmu . .”

Hyesun ikut tersenyum. Sepertinya dia tahu maksudku, .. atau tepatnya, mungkin dia mendengar umpatan-umpatan Bosco terhadap arsitek muda malang tadi.


__________oOo___________



”Kau ikut merayakan kemenangan hari ini dengan kami?” tanyaku pada Hyesun saat pulang kantor. Aku menyejajari langkahnya sementara Raymond cs sibuk bersendagurau di belakang.

Tidak kusangka Hyesun mengeleng. “Tidak, mianeyo. Saya sudah ada janji buat dinner malam ini. Lain kali saja .. “

“Kau ada janji dinner?” Alisku berkerut. Hal ini sangat aneh. Setahuku, .. dia tidak memiliki seorang temanpun di sini selain kami.

“Ne .. “ Hyesun menyadarkan lamunanku. “Dia akan menjemputku ke rumahnya .. “

“Siapa?”

Sebelum pertanyaanku terjawab, .. bunyi klakson yang mengaung dari  Mercy perak yang terparkir di halaman gedung menyita perhatian kami. Jendela mobil diturunkan sampai setengah dan, .. seraut wajah yang selalu membuatku tidak senang terpatri dari balik kaca yang berwarna gelap. Sammul Chan.

“Sam!” teriak Hyesun sambil melambaikan tangannya. Sammul membalas dari dalam mobil sambil tersenyum tipis. Hyesun kemudian berpaling kembali padaku dan berkata dengan nada yang agak keras. Dia terlihat sangat antusias. “Aku pergi dulu. Sam sudah menjemputku .. “

“Kau pergi bersamanya?” Tanpa sadar aku bertanya dengan nada dingin.

“Ne … “ Hyesun mengangguk keras. “Aku ada janji makan malam dengan keluarganya .. See you, Minho-a .. “

Agak terburu-buru Hyesun berlari kearah mobil Sammul.

“Kau sudah lama menungguku?” Sempat kudengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Hyesun.

Sammul mengeleng sambil masih memusatkan perhatian padaku. Dia mengangkat tangan dan melambaikannya padaku.

“See you, Lee Min Ho-ssi!” serunya dari dalam mobil.

Aku tersenyum kecut dan membalasnya dengan hambar. Kuangkat tangan dengan setengah hati dan melambai malas padanya.

Hyesun membuka pintu depan dan masuk duduk di sebelah Sammul. Setelah memasang sabuk pengaman, dia beralih kembali padaku. “Dah—“

Mercy perak tersebut mengerung halus dan perlahan-lahan beranjak meninggalkan areal Great Building. Aku mengamati kepergian mereka dalam diam. Sejenak kulihat mobil tersebut melambat kemudian berhenti di stand kecil yang berfungsi sebagai pengisian minyak yang berada tidak jauh dari tempat kami berdiri.

“Leader, Hyesun tidak ikut dengan kita?”

Pertanyaan Joe tidak kugubris. Tiba-tiba aku berbalik pada mereka. “Aku tidak ikut dengan kalian …,” kataku dengan nafas memburu.

“What?”

“Kalian pergi saja sendiri!” ujarku tidak sabar. “Untuk pembayarannya masuk-kan ke dalam rekeningku .. “ Tergesa-gesa aku berlari meninggalkan mereka.

“Hoy—leader!! Mau kemana?!” teriak Ken.

“Ada urusan penting yang harus ku urus—segera!” balasku tanpa berpaling padanya.

Aku memutari tikungan gedung dan berlari semakin kencang menuju tempat parkir yang berada di lantai bawah tanah gedung ini.


__________oOo___________


ps : .. hoho akhirnya sesai juga. Gw bukan seorang arsitek, jadi mengenai desain mendesain, denah mendenah ataupun istilah2 yg berhubungan dgn desain gedung, gw ga ngerti. Mian klu penggunaan bahasa gw gaje bin lebay hahaha,, btw, baru sadar klu chp ini full of minsun lol

Diharapkan komennya, guysssss ...

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Setelah penantian panjang selama berbulan2 akhrnya diupdate juga,mami komawo cupcupmmmuahhh. Mami, menurut gw di chap ini walau tdk ada adgan kissu perkissuan*pdhl td sempet berharap pas minsun hujan2an ada kiss scene,lol. Tp jujur ini chap byk menguras emosi maksudnya baik minho dan hyesun sdh menyadari betul jika mereka saling mencintai namun blm diungkapkan. Gw agak sedih waktu hyesun shoot minho yg lg tidur dgn camera nya berharap minho tdk akan melupakannya karena hyesun jg tdk akan melupakan minho yg baginya adalah seorang pelindung. Bahkan saat hyesun menyatakan perasaan cintanya pd minho bener2 bikin gw terharu. Minho jg ingn mengatakan pd hyesun bahwa hub. Dgn angel udah berakhr dan minho mencintai hye sun. Nah loh kenapa hyesun tiba2 dinner ama kel.Sam ,apa hyesun mau jd bgan dr kel.Sam? ,maksudnya apa hyesun mau married ama sam?? Gw jg penasaran apa alasan hye sun membantu minho di great building,apa ada kaitannya jg dg sam,maksudnya sam dan hyesun ada perjanjian yg berhub.dg proyek yg ditangani minho?? Mami,itu minho mau ngekorin hye sun ya mam,cembokurnya kumat ye si minong,?? Ye mam ni chp full of minsun,hehe. Cuma sayang kgk ada Minsun's bed scene,hmf -p


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Wow, hye sun mau ktemu ma keluarga sam? Mau apa ya?


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Wow, hye sun mau ktemu ma keluarga sam? Mau apa ya?


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Wow, hye sun mau ktemu ma keluarga sam? Mau apa ya?


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Wow, hye sun mau ktemu ma keluarga sam? Mau apa ya?


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Setelah penantian panjang selama berbulan2 akhrnya diupdate juga,mami komawo cupcupmmmuahhh. Mami, menurut gw di chap ini walau tdk ada adgan kissu perkissuan*pdhl td sempet berharap pas minsun hujan2an ada kiss scene,lol. Tp jujur ini chap byk menguras emosi maksudnya baik minho dan hyesun sdh menyadari betul jika mereka saling mencintai namun blm diungkapkan. Gw agak sedih waktu hyesun shoot minho yg lg tidur dgn camera nya berharap minho tdk akan melupakannya karena hyesun jg tdk akan melupakan minho yg baginya adalah seorang pelindung. Bahkan saat hyesun menyatakan perasaan cintanya pd minho bener2 bikin gw terharu. Minho jg ingn mengatakan pd hyesun bahwa hub. Dgn angel udah berakhr dan minho mencintai hye sun. Nah loh kenapa hyesun tiba2 dinner ama kel.Sam ,apa hyesun mau jd bgan dr kel.Sam? ,maksudnya apa hyesun mau married ama sam?? Gw jg penasaran apa alasan hye sun membantu minho di great building,apa ada kaitannya jg dg sam,maksudnya sam dan hyesun ada perjanjian yg berhub.dg proyek yg ditangani minho?? Mami,itu minho mau ngekorin hye sun ya mam,cembokurnya kumat ye si minong,?? Ye mam ni chp full of minsun,hehe. Cuma sayang kgk ada Minsun's bed scene,hmf -p
bed scenenya ada tp gw skip,, maksudnya bed scene sendiri2,, setiap manusia pan butuh tidur [hmff] [hmff]
penjelasan buat pertanyaan2 lue akan terjawab di next chp [jumpy] [jumpy] [clap] [laughing] [laughing]

sisicia, semangat banget ama 4 postingan [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Gumawo mam dah update,,,hye sun mau ngpain dinner ma kluarga sam,,,truz knpa hye sun gk mau mndengar pnjelasn min h0 tntang angel....next jgn lma2 ya mam updatenx....

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Gumawo mam dah update,,,hye sun mau ngpain dinner ma kluarga sam,,,truz knpa hye sun gk mau mndengar pnjelasn min h0 tntang angel....next jgn lma2 ya mam updatenx....
sama2,, jawaban knp hyesun dinner bareng keluarga sammul and knp pemuda itu sampai berada di hk, akan diketahui di chp selanjutnya #gubrak [hmpfh]
hyesun ga mau mendengar penjelasan mjnho ttg angel dah gw jelasin di atas,, dia ngerasa ga kuat buat kehilangan,, dia ngerasa segalanya dah baik sekrg. selama dia msh di sisi minho, wlp hanya utk membantunya, hyesun sdh mrs puas,, dia tdk menginginkan apa2 lg,,

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

iiuuu

  • Guest
ya ampuuuun mamiiiiii...... ane bener bener terharuuuu.... setelah perjuangan anjang.... akhirnya udate juga.....lol



soooooooo sweeeeeeeeet banget hyesun begitu cintaama minho ya mam???????????????????
udah mam, abis kelar proyek nikahin aja di kua........... biar jebooooollllll [on] [on] [on] [on] [on] [on] [on] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] tete ye mam ane demennya yang jebol jebol..... abisss suntuk sih denger beritanya si papi.......lol


ayoooo mammmm..... lanjutkan, ini tinggal 1 chapt lagi kan??????????

hwaiting mamiiiiii [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
ya ampuuuun mamiiiiii...... ane bener bener terharuuuu.... setelah perjuangan anjang.... akhirnya udate juga.....lol



soooooooo sweeeeeeeeet banget hyesun begitu cintaama minho ya mam???????????????????
udah mam, abis kelar proyek nikahin aja di kua........... biar jebooooollllll [on] [on] [on] [on] [on] [on] [on] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] tete ye mam ane demennya yang jebol jebol..... abisss suntuk sih denger beritanya si papi.......lol


ayoooo mammmm..... lanjutkan, ini tinggal 1 chapt lagi kan??????????

hwaiting mamiiiiii [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
ya mungkin tinggal 1 chp lagi,, tp gw jg ga tahu deh lol
la pan dah gw bilangin ga ada acara jebol menjebol di sini,, klu mau cetak gawangg minta aja ke noona b [hmpfh]

hmm,, yg lain pade kemana ya? katanya minta updatean, yg ngomen kok dikit hammer2

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
Thank mami updatannya  [lovestruck]
Jujur walua pun engga mengerti soal arsitik tapi.. Updatannya mami kali ini benar'' hebat , gambaran'' soal IDE proyeknya Minho  yang di tuangkan di ff ini bagus ko mami g ada yang lebay, apa lagi kali ini updatnnya kali ini senang banget soalnya full momen's minsun , tapi.. Ada sedihnya juga soalnya pertemuan mereka kali ini tidak ada pembhasan di luar proyek makanya hyesun masih mengira kalau minho sma (lupa namanya angel ya mam ?? ) akhirnya proyek di menangkan pihak minho , di akhir chap sedih juga Minho di tinggal hyesun pergi makan malam .

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Thank mami updatannya  [lovestruck]
Jujur walua pun engga mengerti soal arsitik tapi.. Updatannya mami kali ini benar'' hebat , gambaran'' soal IDE proyeknya Minho  yang di tuangkan di ff ini bagus ko mami g ada yang lebay, apa lagi kali ini updatnnya kali ini senang banget soalnya full momen's minsun , tapi.. Ada sedihnya juga soalnya pertemuan mereka kali ini tidak ada pembhasan di luar proyek makanya hyesun masih mengira kalau minho sma (lupa namanya angel ya mam ?? ) akhirnya proyek di menangkan pihak minho , di akhir chap sedih juga Minho di tinggal hyesun pergi makan malam .
pan minho ngekorin dr belakang so .. ngapain sedih wkk,, cembokornya kumat tuh si minong [lovestruck]
o ho,, ga lebay ya [what] pdhl gw ngerasa lebay n maksa bgt [sweat] thanks buat komen n dukungannya, dear,, elu udah kyk minho aja buat gw,, jd terharu hiksss #aslilebay [laughing],, abaikan

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Setelah penantian panjang selama berbulan2 akhrnya diupdate juga,mami komawo cupcupmmmuahhh. Mami, menurut gw di chap ini walau tdk ada adgan kissu perkissuan*pdhl td sempet berharap pas minsun hujan2an ada kiss scene,lol. Tp jujur ini chap byk menguras emosi maksudnya baik minho dan hyesun sdh menyadari betul jika mereka saling mencintai namun blm diungkapkan. Gw agak sedih waktu hyesun shoot minho yg lg tidur dgn camera nya berharap minho tdk akan melupakannya karena hyesun jg tdk akan melupakan minho yg baginya adalah seorang pelindung. Bahkan saat hyesun menyatakan perasaan cintanya pd minho bener2 bikin gw terharu. Minho jg ingn mengatakan pd hyesun bahwa hub. Dgn angel udah berakhr dan minho mencintai hye sun. Nah loh kenapa hyesun tiba2 dinner ama kel.Sam ,apa hyesun mau jd bgan dr kel.Sam? ,maksudnya apa hyesun mau married ama sam?? Gw jg penasaran apa alasan hye sun membantu minho di great building,apa ada kaitannya jg dg sam,maksudnya sam dan hyesun ada perjanjian yg berhub.dg proyek yg ditangani minho?? Mami,itu minho mau ngekorin hye sun ya mam,cembokurnya kumat ye si minong,?? Ye mam ni chp full of minsun,hehe. Cuma sayang kgk ada Minsun's bed scene,hmf -p
bed scenenya ada tp gw skip,, maksudnya bed scene sendiri2,, setiap manusia pan butuh tidur [hmff] [hmff]
penjelasan buat pertanyaan2 lue akan terjawab di next chp [jumpy] [jumpy] [clap] [laughing] [laughing]

sisicia, semangat banget ama 4 postingan [hmpfh] [hmpfh]

mamiiiiiiiii, berarti next chap beneran bakal ada bed scene dunks#maksa mode on [hmpfh] mami tayank kalo ada adegan begono jgn di skip dunks ,kalo kata Abah gw mubazir [hmpfh] [hmpfh] ,mam up date berrywine dunks ane kangen sangad ama ni duo bocah yg lagi kasmaran [hmpfh]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho