Author Topic: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~CHAPTER 18, ENDING, update 27 Mar'12~  (Read 43560 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~SPOILER~
« Reply #1155 on: March 21, 2012, 05:38:37 pm »
yg ini blum sesai gw bikin,, mian ya blum bisa diupdate,, gw usahain weekend nanti deh [sweat] [sweat] #endingtuhplgmemusingkan [wacko] [wacko]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~SPOILER~
« Reply #1156 on: March 22, 2012, 02:02:13 am »
yg ini blum sesai gw bikin,, mian ya blum bisa diupdate,, gw usahain weekend nanti deh [sweat] [sweat] #endingtuhplgmemusingkan [wacko] [wacko]

[smiley-gen013] [smiley-gen013] semangat mom  [smiley-gen013] [smiley-gen013]
tapi jangan lupa, weekend harus rus rus update  [goodgrief] [hmff]

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~SPOILER~
« Reply #1157 on: March 22, 2012, 07:32:50 am »
yg ini blum sesai gw bikin,, mian ya blum bisa diupdate,, gw usahain weekend nanti deh [sweat] [sweat] #endingtuhplgmemusingkan [wacko] [wacko]

[smiley-gen013] [smiley-gen013] semangat mom  [smiley-gen013] [smiley-gen013]
tapi jangan lupa, weekend harus rus rus update  [goodgrief] [hmff]

ending tuh susah bknnya, ga spt chp2 biasa klu ada yg ketinggalan, tnggal ditambahin aja di chp selanjutnya,, kalau ending ga bisa, mesti dijabarin selengkap2nya,, udah ditambahin eh masih ada aja yg kurang, yg blum dijelasin [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~SPOILER~
« Reply #1158 on: March 22, 2012, 09:08:05 am »
ending tuh susah bknnya, ga spt chp2 biasa klu ada yg ketinggalan, tnggal ditambahin aja di chp selanjutnya,, kalau ending ga bisa, mesti dijabarin selengkap2nya,, udah ditambahin eh masih ada aja yg kurang, yg blum dijelasin [sweat]


 [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing]

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~SPOILER~
« Reply #1159 on: March 22, 2012, 05:42:06 pm »
ending tuh susah bknnya, ga spt chp2 biasa klu ada yg ketinggalan, tnggal ditambahin aja di chp selanjutnya,, kalau ending ga bisa, mesti dijabarin selengkap2nya,, udah ditambahin eh masih ada aja yg kurang, yg blum dijelasin [sweat]


 [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing]
[head break] [head break] [head break] [hmff] [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

younee

  • Guest
Re: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~SPOILER~
« Reply #1160 on: March 22, 2012, 10:43:30 pm »
MOMMY…
HWAITING…!!!
ane tunggu updateannya…^^

shileehye

  • Guest
Re: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~SPOILER~
« Reply #1161 on: March 24, 2012, 10:04:51 am »
ngikut lahh momy nyok update yang ini..  [hmpfh] [biggrin]

Offline Dindin

  • Newbie
  • *
  • Posts: 76
    • View Profile
Re: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~SPOILER~
« Reply #1162 on: March 25, 2012, 01:50:43 am »
update update update  [smiley-gen013]  [smiley-gen013]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~SPOILER~
« Reply #1163 on: March 25, 2012, 02:22:59 am »
selasa ya [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline goo meei

  • Full
  • ***
  • Posts: 404
  • i love MINSUN
  • Location: denpasar
    • View Profile
Re: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~SPOILER~
« Reply #1164 on: March 25, 2012, 05:48:14 am »
selasa ya [sweat]
gitu ya mi [chin] iya gpp mam...chap selanjutnya dah pasti ending ya mam??^^

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~SPOILER~
« Reply #1165 on: March 25, 2012, 11:01:10 pm »

JANJI MANIS MU JANJI MANISMU JANJI MANISMU MANAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

 
Hface Hface Hface Hface Hface Hface Hface Hface Hface Hface Hface Hface Hface Hface Hface Hface Hface Hface Hface Hface
 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
 [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]
 Hface Hface Hface Hface Hface Hface Hface Hface Hface Hface Hface Hface Hface Hface Hface Hface Hface Hface Hface Hface
 [hmpfh]  [hmff] [heh] [kiss]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~SPOILER~
« Reply #1166 on: March 26, 2012, 08:32:20 pm »
ga bisa copy dr MW, ga tau kenapa [cry] [cry]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Re: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~SPOILER~
« Reply #1167 on: March 26, 2012, 08:58:52 pm »
ga bisa copy dr MW, ga tau kenapa [cry] [cry]

Kenapa gak bisa mi ?
Ayo mi semangat.... [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] Hface Hface  [concert] [concert] [AddEmoticons04260] [concert] [concert] kalau mami up date hari ini aku besok deh...

kenapa ya min klo sudah chap2x terakhir susah banget buatnya... [chin] [chin]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~SPOILER~
« Reply #1168 on: March 26, 2012, 11:39:35 pm »
ga bisa copy dr MW, ga tau kenapa [cry] [cry]

Kenapa gak bisa mi ?
Ayo mi semangat.... [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] Hface Hface  [concert] [concert] [AddEmoticons04260] [concert] [concert] kalau mami up date hari ini aku besok deh...

kenapa ya min klo sudah chap2x terakhir susah banget buatnya... [chin] [chin]
emberrrrrrr, siss,, chp terakhir tuh yg bkn puyeng [wacko]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~SPOILER~
« Reply #1169 on: March 27, 2012, 08:14:06 am »
Kilasan chapter lalu ....

  

Hoy—leader!! Mau kemana?!” teriak Ken.

  

“Ada urusan penting yang harus ku urus—segera!” balasku tanpa berpaling padanya.

  

Aku memutari tikungan gedung dan berlari semakin kencang menuju tempat parkir yang berada di lantai bawah tanah gedung ini.

  

  

  

  


  

  

  

  

Aku sampai di sebelah mobil yang dibawa Sammul tepat pada saat seorang karyawan menarik handle katup selang dari lubang tangki dan Sammul siap menjalankan mobilnya. Kuhempas kaca jendela di samping kemudi dengan kepalan tanganku kencang-kencang sampai menimbulkan bunyi berdebam keras.    

 

"Minho-ssi?" Sammul menatap heran dari balik jendela kaca mobilnya.

  

" Minho ?" Kepala Hyesun ikut terjulur dari balik pundak Sammul. Dia menatapku, .. lalu berbalik pada Sammul yang kemudian berpaling padanya, saling menatap, sebelum akhirnya beralih kembali padaku, .. kelihatan tidak kalah bingungnya dengan Sammul.

  

Sammul menurunkan kaca mobil dan sedikit menjulurkan kepalanya. " Ada yang ketinggalan, Minho-ssi?"

  

Aku mengeleng dengan nafas tersengal-sengal. "Ti .. tidak ... , hanya .. saja .. " kuambil udara dalam-dalam, berusaha mengatur nafasku ke tahap normal, sebelum melanjutkan kata-kataku yang saat ini, sungguh_ingin sekali kuutarakan. Aku tidak ingin menyesal dan mengambil resiko Hyesun meninggalkanku dalam keadaan begini, sebelum hubungan kami menjadi jelas.

  

"Ya?" Sammul tersenyum. "Pelan-pelan saja. Atur dulu nafasmu, Minho-ssi"

  

Hyesun yang duduk di sebelah Sammul manggut-manggut. " Ada apakah?" tanyanya kemudian.

  

" Ada yang ingin kubicarakan denganmu, Hyesun-a ... ," kataku, setelah pernafasanku teratur baik.

  

"Aku?" Hyesun menunjuk dirinya, terlihat heran dengan perubahan sikapku yang tiba-tiba. Aku yang selama ini seperti tidak perduli, menjadi sedikit memaksa. "Sekarang?"

  

"Ne!" Aku mengangguk keras-keras.

  

"Ta .. tapi," Hyesun melirik Sammul yang bersamaan menoleh padanya. " ... sudah kubilang kan , aku ada dinner bersama ayah Sam?"

  

"Jangan pergi dengannya!" Entah kekuatan apa yang membuatku mengeluarkan permintaan ini, .. mungkin, .. yah, mungkin saja aku sudah tidak sanggup menanggung perasaan ini lagi. Perasaan tertekan yang membuatku sesak, hingga tidak bisa bernafas dan berpikir normal.

  

"Mwo?!" Hyesun menatapku tidak mengerti. "Kenapa?" tanyanya lebih lanjut, dengan alis berkenyit dalam-dalam.

  

Sammul ikut mengenyitkan alisnya, namun lain dengan Hyesun yang saat ini sedang kebingungan, Sammul seperti mampu menebak maksud dari perkataanku.

  

"Aku tahu apa yang terjadi pada kita sangat ..., sangat sulit untuk dijelaskan hanya dengan kata 'jangan pergi', ataupun .. 'tinggal-lah di sini bersamaku', Hyesun-a ... ," aku berkata pelan, sambil menatap Hyesun dengan sorot mata yang berubah redup. " ... tapi, aku ingin kau tinggal. Apapun alasan dibalik semua ini, sungguh--aku ingin kau tinggal di sini, … bersamaku .. "

  

Sepasang mata bundar yang tadi sempat terbelalak itu, perlahan-lahan meredup. Hyesun menatapku dengan irisnya yang pelan-pelan diselimuti kabut. Aku melihat dua butir airmata perlahan-lahan mengalir menuruni pipinya. Secercah cahaya yang tadi, seolah sempat tertangkap penglihatanku, tidak kuyakini lagi kebenarannya.

  

"Hyesun-a ... "

  

"Kenapa kau mengatakan itu .... ," Hyesun mendesah lirih. "Kenapa .... "

  

"Hyesun-a, aku ... " Aku jadi serba salah. Sungguh, aku tidak mengerti di mana letak kesalahan dari perkataanku.

  

"Aku tidak apa-apa ... , meninggalkan semua yang ada di Seoul hanya untuk membantumu di sini ... ," Hyesun berkata pelan, mengigit bibir bawahnya, kemudian menundukkan kepala dalam-dalam. "Hanya dengan melihatmu, berada di sampingmu, .. ataupun mendukungmu melakukan apa yang kau sukai, itu sudah lebih dari cukup bagiku. Aku ... tidak mengharapkan lebih. Berada di sisimu, sebagai ... sebagai seorang teman yang bisa dijadikan tempat pencurahan perasaan, sudah merupakan kehormatan bagiku, dan aku menyanjungnya tinggi-tinggi. Sungguh, .. aku tidak pernah bermimpi hubungan ini ... akan lebih .. dari itu, .... tapi sekarang--" Hyesun mengangkat wajahnya, menatapku penuh sesal, "--kau merusak segalanya dengan kata-kata itu, Minho -a, .. dengan permintaan itu, .. Ottoke? ... Kenapa kau mengatakannya? … Apa yang harus kulakukan lagi jika ... pegangan ini sudah tidak mampu kupertahankan?"

  

"Hyesun-a ... " Aku bergerak pelan, menjulurkan tangan dan menyentuh pundak Hyesun. Walau agak terhalangi oleh Sammul yang duduk di antara kami tapi, itu tidak menjadikanku untuk tidak menghiburnya. Melihat kesedihan Hyesun, membuat hatiku sakit. "Kenapa kau berkata begitu?"

  

Sammul bergerak membuka pintu mobil. Aku segera mundur, memberi jalan baginya untuk turun. Seperti menyadari kehadirannya di situ agak canggung, Sammul mengundurkan diri, berjalan ke salah satu mesin pompa bensin dan menyandarkan punggungnya di situ.

  


  

Aku mengembalikan perhatian dari Sammul kepada Hyesun. " Ada apakah?"

  

Hyesun tidak memandangku. Tatapannya menyapu nanar high heels yang dipakainya. "Hubunganmu dengan Angel, .. bagaimana mungkin ... kau berkata begitu padaku ... ," ucap Hyesun lirih, " ... bagaimana mungkin kau memintaku tinggal ... di sisimu, bersamamu ... sementara …"

  

"Angel?" Aku tersentak. Nama yang disebutkan Hyesun tiba-tiba menyadarkanku akan satu hal, .. benar, aku belum mengatakan apa-apa tentang kelanjutan hubunganku dengan Angel, putusnya hubungan kami yang diselesaikan secara baik-baik. Lalu ...  bagaimana mungkin aku mengharapkan Hyesun menerimaku? Pantas saja Hyesun begitu tertekan begitu kuutarakan permintaan itu, karna Hyesun mengira aku masih bersama Angel.

  

"Kau salah paham, Hyesun-a .. " Aku tersenyum, dan sebelum melanjutkan penjelasanku, aku menarik pintu dan masuk ke dalam mobil, duduk di sebelah Hyesun. "Aku dan Angel sudah putus, beberapa bulan setelah kepulangan kami dari Seoul . Kami membicarakannya secara baik-baik dan mengambil keputusan, itu jalan yang terbaik bagi kami. Hubungan tersebut sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Meskipun kami berlagak tidak perduli, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara kami, tapi ... tetap tidak berhasil. Karna kendala itu telah ada sejak dulu--"

  

Hyesun hanya bisa melebarkan matanya mendengar penjelasanku. Mulutnya yang mungil dan kemerah-merahan terbuka perlahan-lahan sedangkan matanya mengisyaratkan keraguan. Mungkin Hyesun tidak mampu percaya, ya_bagaimana tidak jika selama ini aku tidak pernah menunjukan apa-apa. Aku tahu ini kesalahanku. Kedatangannya yang mendadak di Hongkong ini, telah membuatku melupakan segala-galanya. Hanya melihatnya, aku sudah sangat bahagia. Aku mengira Hyesun dapat menebak atau melihat, jadi tidak perlu dijelaskan. Aku telah melupakan bahwa keretakan hubunganku dengan Angel sangat penting bagi permulaan hubungan kami yang terkatung-katung selama ini.

  

"Putus ... ?" Hyesun berkata terputus-putus, memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar. "Kau ... dan Angel?"

  

Aku mengangguk. "Ya?"

  

"Beneran putus ... ?"

  

Kali ini aku tersenyum. "Sudah kubilang iya--"

  

"Karna aku ... ?" tebak Hyesun dengan wajah miris.

  

"Tentu saja bukan!" sahutku cepat. "Kenapa kau bisa berprasangka begitu?"

 

Hyesun menunduk, meremas jari-jemarinya silih berganti. "Lalu ... kenapa?"

  

Aku menghela nafas, kusentuh punggung tangannya, mencegahnya untuk menyakiti diri lebih lanjut. "Dengar Goo Hye Sun, ... apapun yang terjadi antara kami, tidak ada hubungannya denganmu, .. araso? Kami berpisah, karna ada sesuatu ... "

  

"Sesuatu?" Hyesun mengangkat kepalanya, menatapku ingin tahu. "Masalah apa?"

  

Aku terdiam, mengalihkan pandangan ke depan. Menatap kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya. "Aku rasa, aku tidak berhak membeberkan penyebab dibalik semua ini. Aku harus melindungi privasi Angel, Hyesun-a. Kuharap kau mengerti--" Perlahan kualihkan perhatian pada Hyesun. "Bukannya ingin menyembunyikan masalah ini darimu, tapi ... percayalah, putusnya hubungan kami tidak ada hubungannya denganmu ... "

  

"Tidak boleh kau katakan?"

  

Aku mengangguk. "Mianeyo ... "

  

"Hn--" Hyesun terlihat berpikir, beberapa saat berlalu sebelum dia akhirnya mengangguk dan tersenyum padaku. "Baiklah. Aku menghargai keputusanmu .. "

  

"Kau ... ," dahiku berkenyit, " .. tidak menyalahkanku?"

  

Hyesun mengeleng. Senyum tulus masih berkembang di bibirnya. "Dari semula sudah kukatakan, aku menyukaimu karna kau bisa menghargai wanita. Kalau kau sudah memutuskan, aku percaya padamu .... "

  

"Gumawo--" Aku tersenyum pada Hyesun. Menyentuh pundaknya, sebagai tanda penghargaan terhadap perhatiannya yang begitu besar padaku. ".. Oleh karna itu, Hyesun-a, tinggal-lah di sini bersamaku, jangan pergi dengannya .. ," lanjutku kemudian, sambil melirik Sammul yang sedang menyandar di sisi mesin pompa bensin dengan sepasang tangan terselip di saku celana.

  

"Pergi?" Hyesun membulatkan matanya, seolah baru menangkap arti perkataanku. "Maksudmu, dengan Sam?"

  

"Ya, tentu saja!" jawabku. "Aku berharap kau meninggalkannya dan memilihku, karna kutahu Hyesun-a, yang kau cintai itu AKU! Dan kita yang berjodoh, bukankah takdir sudah membuktikannya berulangkali ... "

  

Hyesun mengedipkan matanya sekali, memindahkan pandangan pada Sammul, kembali lagi padaku, setelah itu .. dia tidak kuasa menahan tawanya. "Kau kira aku dan Sam pacaran?"

  

Aku mengenyitkan alis. "Bukankah begitu?"

  

"Tentu saja bukan!" Tawa Hyesun seketika meledak saat itu juga. Dia menutup mulut dengan sepasang tangannya, memandangku geli. “Kenapa kau sampai berpikir begitu, hahaha?”

  

“Kau masih bisa ketawa?” Aku mengenyitkan alis, membalas tatapannya dengan raut agak terganggu. “Kau yang memberiku perasaan itu, prasangka itu!”

  

“Aku??” Hyesun menunjuk dirinya, masih dengan ekspresi geli yang terpancar jelas dari wajahnya yang bersemu merah muda.

 

“Tentu saja!” tuduhku tak mau kalah.

  

“Ha ha ha, sejak kapan kau menjadi seorang penuduh? Aku tidak pernah melihatmu yang seperti ini ..”

  

“Semua gara-gara kau!” tuduhku kembali. “Aku seperti ini karna kau! Kau yang merubah segala-galanya dariku!”

  

“Hm—“ Hyesun mengangguk-angguk sambil mengulum senyumnya, “lalu … apakah semua itu .. baik .. ?” tanya Hyesun dengan suara yang dipelankan.

  

Aku menatap Hyesun, memandangnya dengan pandangan tak berkedip. Selama beberapa detik aku tidak menjawab, hanya mengamati wajahnya yang saat ini membalasku dengan tatapan menuntut kepastian.

  

“Yah—“ Akhirnya aku menjawab, dengan nada sedikit mendesah. Entah kenapa suaraku tiba-tiba menjadi parau. Kuangkat tanganku dan menyentuh wajahnya. “Yah—semuanya menjadi lebih baik. Menjadi sangat baik karenamu .. “

  

“Kau tidak berbohong?” Hyesun menatapku sendu.

  

Aku mengeleng, dengan tidak lupa mengembangkan senyum tulus padanya. “Tidak! Aku berubah menjadi sosok yang sangat baik karenamu. Ini kenyataan yang tidak bisa dibohongi, bahkan Raymond cs saja berpendapat begitu … “

  

“Raymond cs?” Hyesun mengangguk-angguk. Dia terlihat sedikit geli. “Aku tahu mereka sangat berarti bagimu .. “

  

“Ya—Dan itu baru kusadari kini, setelah kehadiranmu .. ,” jawabku sungguh-sungguh.

  

“Hn—“ Hyesun mengangguk-angguk kembali, sambil mengalihkan pandangannya ke high heelsnya yang berwarna kuning gading. “Sekarang, apalagi yang ingin kau ketahui?” tanya Hyesun tiba-tiba, sementara perhatiannya masih  berpusat pada kakinya.

  

“Mwo?” Aku mengejapkan mata, memandang Hyesun tidak mengerti.

 

“Pasti banyak pertanyaan dalam otakmu .. ,” Hyesun mengangkat kepalanya dan menatapku. Dia tersenyum, sedikit mengejek dengan sudut bibir kanannya yang agak tertarik ke atas. “Jangan mengatakan tidak ada, karna aku sangat mengenalmu!” sela Hyesun cepat begitu melihatku sudah akan mengeluarkan suara. “Aku bahkan lebih mengenalmu sekarang, Minho-ssi. Jadi, tanyakanlah!” Hyesun mencondongkan badan hingga wajahnya berada tepat di hadapanku. “Terutama .. yang berhubungan dengan Sam!” Bibir mungil itu mencibir tipis.

  

“Goo Hye Sun!!” Aku menegur dengan alis berkerut. Suaraku cukup tajam tapi tidak sampai membuat Hyesun gentar. Gadis yang berubah nakal ini masih saja cengigiran di depanku. “Kau semakin berani?!”

  

“Tapi kau suka!” tangkis Hyesun cepat. “Aku tahu kau suka perubahanku!”

  

“Okay!” Aku mengangkat tangan tanda menyerah. Bertengkar dengan Hyesun, aku tahu—sudah tidak mungkin kulakukan. Aku tidak mungkin lagi menang darinya! “Sekarang, apa yang akan kau katakan?”

  

“Lalu, apa yang ingin kau ketahui?!” tantang Hyesun, tanpa memberi kesempatan bagiku untuk mempertahankan harga diri. Sepertinya, Hyesun ingin memaksaku mengeluarkan semua uneg-uneg dalam hatiku.

  

“Baik” Kutahan perasaanku, agar tidak sampai mengeluarkan kedongkolanku terhadapnya. “Kenapa kau sampai ada janji makan malam bersama keluarga Sammul? Apa yang telah terjadi?”

  

Perkataanku belum selesai ketika tiba-tiba, .. raut Hyesun perlahan-lahan berubah muram. Sepasang bola matanya yang tadi bersinar-sinar nakal, sekarang menjadi redup.

  

“Kau ingat dengan perjumpaan mendadak kita di bandara, saat pulang dari Canada?” tanya Hyesun halus.

  

“Ne .. “

  

“Perjumpaan yang tidak direncanakan ya?” Hyesun tersenyum kecil. Senyum yang tidak bisa dibilang bahagia, tapi sedikit mengandung daya magis.

  

“Selalu begitu .. ,” Aku mengakui. Perjumpaan kami memang selalu terjadi pada saat-saat tidak terduga, hingga sampai saat ini aku selalu bertanya-tanya, apakah ini yang dinamakan takdir?

  

“Saat itu sebenarnya .. Sam mendapat panggilan mendadak dari asisten ayahnya. Tuan Chan, aboji Sam, … menderita penyakit .. pembengkakan serius pada ginjalnya … “

  

“Oh—“ Bibirku terkelu. Aku menatap Hyesun tanpa mampu berkata-kata.

  

“Karna itu kami harus kembali ke Seoul pada hari itu juga. Tapi tidak dikira .. ,” Hyesun tersenyum hambar, “ .. kami bertemu dengan kalian yang pulang hari itu juga … “

  

Aku membuka mulut, .. tapi tidak jadi mengeluarkan suara begitu Hyesun segera melanjutkan ceritanya.

  

“Begitu sampai di Seoul dan berpisah dengan kalian, aku ikut Sam menjenguk ayahnya. Setelah diperiksa dengan teliti oleh para dokter spesialis, ayah Sammul ternyata menderita kanker pada ginjalnya .. “

  

“Apa??” Mataku melebar. Perasaan yang kutahan sejak tadi, akhirnya tidak mampu terbendung lagi. Kusentuh dan tekan pundak Hyesun. Tidak begitu keras namun cukup membuatnya melebarkan matanya padaku. “Lalu, apa yang terjadi kemudian?”

  


  

"Beliau menjalani terapi. Baru dua hari yang lalu, dia dan Sam kembali ke Hongkong. Seminggu kemudian, Sam akan membawanya ke Amerika untuk menjalani pengobatan lebih lanjut .. “

  

“O—“ Aku mengangguk-angguk, tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana menghadapi kabar yang mengejutkan ini. Kualihkan pandanganku pada Sammul, yang saat ini kebetulan berpaling padaku. Pria itu tersenyum dan mengangguk kecil, sebelum memalingkan wajahnya kearah lain, seolah takut menganggu pembicaraanku dengan Hyesun.

 

Aku menarik nafas, .. merasa kasihan dan sedikit bersalah padanya. Seharusnya aku tidak mengajukan permintaan yang terasa keterlaluan pada Hyesun pada saat seperti ini. Meninggalkannya, yang saat ini tentu sangat memerlukan dorongan kekuatan dan perhatian dari orang-orang yang dekat dengannya.

 

“Sam dan keluarganya yang menjadi penopangku selama beberapa bulan ini .. “

  

“Eh?” Aku berpaling pada Hyesun. “Apa katamu?”

  

Hyesun tersenyum. Dia membetulkan posisi duduknya sebelum melanjutkan kata-katanya yang terpotong oleh pertanyaanku.

 

“Selama beberapa bulan perpisahan kita, terjadi banyak hal … Aku yang …, hm—kurasa itu tidak perlu dijelaskan sekarang, … Semua masalah dapat terselesaikan dengan adanya dukungan bantuan Sam dan ayahnya. Mereka sudah menolongku, .. sangat .. sangat banyak. Karna itu, mereka sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri. Aku sudah menganggap Sam seperti oppaku, begitu juga Tuan Chan, sudah kuanggap seperti ayahku sendiri. Dan kau tahu, .. mereka sangat menyayangiku?“

  

“Karna itu kau menerima undangan makan malam mereka?”

  

“Bukan, .. makan malam bersama sudah menjadi hal yang biasa bagi kami .. “

  

Aku berpikir sejenak,“Kalau begitu,… pergilah!” selaku tiba-tiba.

  

“Hah?!” sampai-sampai Hyesun tersentak kaget. Dia sangat terkejut, .. matanya melebar, .. mungkin, dia tidak mengira aku akan mengeluarkan restu itu.

  

Aku tersenyum, mengangguk buat menyakinkan Hyesun. "Pergilah! Pekerjaan kita bisa menunggu, yang penting sekarang .. selesaikanlah dulu apa yang kau rasa, semestinya kau lakukan dan selesaikan. Proposal yang diminta Tuan Mok bisa kami susun dan kirimkan besok ke China Assets, jadi kau tidak perlu khawatir. Semua rancangan tersebut sudah lengkap, tinggal kami poles dan susun kembali agar lebih rapi. Untuk pekerjaan itu, kami bisa melakukannya sendiri. Sedangkan untuk pelaksanaan proyek Sanna, belum akan dimulai dalam waktu terdekat. Mungkin baru minggu depan .. atau minggu berikutnya, pembangunan tersebut baru bisa dilakukan ... "

  

"Kau .. memberiku libur .. ?" Hyesun membuka mulutnya perlahan-lahan. Namun dia segera membantah keras. "Tidak bisa! Aku tidak bisa bersenang-senang sedangkan kalian berjuang sendiri!" tolak Hyesun mentah-mentah. "Jangan membuatku merasa tidak berguna!"

  

"Apanya yang bersenang-senang?!" Aku menepuk pundak Hyesun, menatapnya cukup tajam. "Kau libur bukan untuk bersenang-senang, namun buat menemani dan menghibur orang yang sudah membantumu sangat banyak! Kau yang bilang sendiri, Tuan Chan sudah seperti abojimu. Pantaskah kau membiarkannya menghadapi keadaan seperti ini, sendiri? Walau ada Sammul-ssi di sisinya tapi aku yakin ... dia juga memerlukan dukungan darimu ... "

  

"Kau ... " Hyesun terdiam, tidak mampu membalas teguran-teguranku yang terdengar keras dan tegas.

 

"Aku yakin, kau juga berpikir begitu .. Benar bukan, Goo Hye Sun?"

  

"Kau ... tidak keberatan .. ?" tanya Hyesun pelan-pelan.

  

"Tidak!" Aku mengeleng, mencoba meraba maksud dari pertanyaan Hyesun. "Kenapa kau bertanya begitu? Kenapa aku harus berkeberatan?"

  

Hyesun mengeleng, seolah tidak tahu jawaban yang harus diberikannya padaku. "A .. ku .. tidak tahu. Hanya saja, ... kupikir .. kau tidak suka aku dekat-dekat .. dengan keluarga Sam ... "

  

"Karna itu, berjanjilah!" tukasku tiba-tiba, memutus perkataannya. Cukup keras hingga membuat Hyesun membulatkan matanya padaku.

  

"M .. wo .... ?"

  

"Seminggu kemudian, .. kau harus kembali padaku! Tidak boleh tidak!"

  

"Hah??!!" Hyesun mengejap-ngejapkan sepasang matanya. Bibir mungil miliknya sampai mengangga lebar mendengar permintaan yang terdengar tidak wajar dariku.

  

"Jaga kepercayaanku ... ," suaraku memelan.

  

"Kepercayaan .. ?" Kulihat bibir Hyesun bergerak mengulangi kata itu. Dia memusatkan perhatian pada mataku, seakan bermaksud mengapai makna dari kata tersebut.

  

"Ya, kepercayaan .. ," aku mengangguk. "Mulai dari sekarang, .. aku akan belajar mempercayaimu. Karna itu kuharap, .. kau juga akan mengerti aku. ‘Percaya’, mungkin kata yang gampang untuk diucapkan, namun kita tahu__sangat sulit mewujudkannya. Tapi mulai detik ini, aku ingin mencobanya demi kau … “

  

“Kau percaya padaku … ?” tanya Hyesun pelan-pelan.

  

“Ini wujud dari janjiku padamu!” sahutku yakin.

  

“Dan .. kau tidak takut?” Hyesun mendesis.

  

“Takut!” jawabku jujur. “Bahkan sangat takut! Namun aku tahu, ini diperlukan buat kelangsungan hubungan kita .. “

  

“En—“ Hyesun mengangguk-angguk, seakan mulai memahami apa yang kurasakan saat ini. Dia menarik nafas dalam-dalam, menahannya sebentar sebelum mengeluarkannya dengan wajar lewat hidungnya. Nafas Hyesun terdengar sangat pelan dan lembut kini. Tatapannya terpusat ke depan, ke kaca mobil yang terpoles bersih.

 

“Waktu makan malamnya sudah sampai?”

  

Hyesun agak terkesiap mendengar pertanyaanku. Kelopak matanya yang hampir merapat, memicing lebar. Dalam sekejap dia berpaling padaku.

  

“Eh, jam berapa sekarang?”

  

“Setengah delapan .. ,” kataku sambil melirik jam tangan yang kupakai.

 

Hyesun mendesis pelan. “Sudah waktunya .. “

  

Aku merengangkan sandaran dari badan kursi dan menarik handle pintu. “Aku akan memanggil Sammul .. “ Hyesun belum sempat mencegah, aku sudah mendorong pintu hingga terbuka. “Sam!!” Aku memanggil Sammul dan mengerakan tangan kearahnya.

 

Sammul mengalihkan perhatian dari ponsel yang sedang ditekannya padaku. Dia membuka mulut, tersenyum ramah. “O—sudah selesai?!” Sammul melepaskan punggungnya dari sandaran pada pinggir mesin pompa bensin dan berjalan kearah kami. “Aku tidak menganggu bukan?”

  

“Tentu saja tidak!” Agak terburu aku mendaratkan kakiku di atas jalan aspal dan keluar dari mobil. “Jika belum selesai, aku tidak akan memanggilmu!” lanjutku ‘sedikit’ menyindir.

  

Sammul tertawa sengau.

  

“Minho-ssi cara bicaranya masih saja sekeras ini … “

  

“Mian, tapi terhadapmu sepertinya aku … ,” Aku melirik Sammul, mengamatinya dari atas ke bawah. “.. harus tetap waspada … ,” lanjutku sambil menyengir kecil.

  

“Ha .. ha .. kenapa?” Sammul tertawa, … namun pertanyaannya mengambarkan kebingungan.

  

Aku kembali melirik Sammul dengan pandangan sedikit mencemooh, .. yang sebenarnya kulakukan untuk mengodanya. “Karna kau terlalu menarik!”

  

“Kau bercanda, Minho-ssi .. “ Sammul memperlebar senyumnya, yang kini__tidak diikuti tawa yang membahana tadi.

 

“Tidak!” Aku mengeleng cepat. “Aku tidak pernah bercanda untuk hal yang satu ini!” sahutku jujur. “Kau memang sangat menarik! Tidak hanya menarik, tapi kau juga sangat baik. Teramat baik untuk disakiti .. ”

  

“Hn—“ Sammul terlihat agak canggung di tempatnya. Pundak lebarnya bergerak sedikit, menyentuh pintu mobil yang sudah terbuka. “Anda berkata begitu mungkin … aku harus mempertimbangkan untuk mengejar dan mendapatkan Hyesun bila dia disakiti kembali .. “

  

Tanganku terangkat, membentuk kepalan yang kudaratkan di pundak Sammul, “Coba saja jika berani … “

  

“Ha .. ha .. ha .. “ Sammul mengangkat sepasang tangannya, menyerah. Dia mengelengkan kepala sambil tertawa, “Tidak, tidak! Aku tidak akan melakukannya!” sahutnya keras-keras. Suaranya berubah pelan dan .. ditekan ketika melanjutkan, “ … karna kutahu, sebagaimana kerasnya pun aku berusaha, itu tidak akan berhasil, .. orang yang ditunggu dan yang dicintainya, hanya kau seorang .. “

  

Aku berpaling menatap Hyesun dari balik kaca jendela. Dia tersenyum padaku, melambaikan tangannya tanpa tahu atau menangkap pembicaraanku dengan Sammul.

  

“Ya, aku tahu .. ,” aku berkata lirih. “ … aku tahu itu sejak dulu .. “

  

Tanpa kusadari, .. Sammul menatapku redup dari posisinya yang agak menyamping di badan mobil. Samar-samar, selapis embun jatuh dan mengalasi selaput matanya. Sammul mengangkat kepala dan menengadah, membiarkan udara menghapus lapisan embun dari matanya. Dia tersenyum perlahan-lahan, .. senyuman yang terlihat sangat tulus dan tidak mengandung keraguan kembali, sama sekali.            

  

  

  

******

  

  

  

  

“Hyesun tidak ikut dengan kita, leader?” tanya Ken sambil berusaha menyaingi langkahku yang panjang-panjang menuju pintu utama gedung Great Building.

  

“Mungkin tidak .. ,” jawabku tanpa menghentikan langkahku, sambil menyibak-nyibak lembaran-lembaran sketsa yang diserahkan Nathan tadi padaku.

  

“Tidak?!!” Ken menghentikan jalannya. “Bagaimana bisa? Dia kan bagian dari kita, … jika dia tidak ikut, apalah artinya kita?” Ken tiba-tiba menyenggol Joe yang lewat di sebelahnya. “Benar tidak, Joe?”

  

“Eh?” Joe tersendat, “Maksudmu?”

  

“Kau ini gimana sih?!” dengus Ken. “Kita kan sepaket, jika ada yang tidak ikut di antara kita, kan jadi ada yang kurang?”

 

“Ehm—“ Joe berpaling padaku. “Benar juga yang dikatakan Ken, leader. Apa Hyesun sungguh-sungguh tidak ikut dengan kita?”

  

“Nah, apa kataku!” ujar Ken bangga, merasa pendapatnya diperhatikan dan tidak lagi sebagai anak bungsu yang tidak diperhitungkan keberadaannya.

 

Aku menutup map besar di tanganku lalu mengembalikannya kepada Nathan. “Aku juga tidak tahu .. ,” kataku. “Hyesun ada urusan sendiri. Aku memberinya waktu seminggu untuk menyelesaikan masalahnya  dan Ini .. baru hari keenam jadi ya, … “ aku mengangkat pundak, “ .. tidak tahu .. “

  

“Yahhh—“ Ken berseru, “.. jadi, bagaimana ini .. ?”terburu-buru dia mengejar kami yang sudah jauh meninggalkannya.

  

“Kita ke bandara sekarang!” kataku mengambil keputusan, tanpa berbalik ataupun memperdulikan Ken yang memonyong-monyongkan bibirnya.

 

Ken mempercepat langkahnya dan mulai berlari-lari kecil di belakang kami.

  

“Serius kita berangkat tanpa menunggu Hyesun, leader?” tanya Nathan penuh perhatian.

 

Kurasakan tatapan Nathan menyapu punggungku, namun aku berlagak tidak menyadarinya. Kubuka pintu utama gedung Great Building yang terbuat dari kaca besar lalu berjalan keluar, menuju ke mobil yang sudah menunggu kami.

  

“Leader?”

 

Nathan menyentuh lenganku.

  

Aku menghela nafas dan menghentikan langkah dan gerak tanganku yang bersiap membuka pintu mobil.

  

“Hyesun belum mengabariku. Aku tidak tahu dia berada di mana sekarang.”

  

“Kenapa leader tidak meneleponnya saja?” Joe menyela begitu sampai di sebelah kami, sementara Ken menatapku tak berkedip, seolah menantikan jawaban dariku. Nafasnya tersengal-sengal begitu sampai di dekat kami.

  

Tanpa sadar, kupererat genggaman pada pinggir pintu mobil. “Aku sudah berjanji memberi kebebasan padanya seminggu ini … ,” jawabku pelan, sembari menarik pintu hingga terbuka. “ .. aku tidak ingin menganggunya .. “

  

“Menganggu bagaimana?” Tiba-tiba Nathan menghalangi jalanku untuk masuk ke dalam mobil. “Benar kata Ken, kita ini satu tim! Seharusnya dia bisa memperhitungkan hal yang paling penting .. “

  

“Ini kepercayaan!!” Aku menyela keras. Menatap Nathan dengan pandangan menyayat. “Ini kepercayaan dariku! Yang kujanjikan padanya!”

  

"Leader .. " Nathan terperangah. Mulutnya tiba-tiba terkunci, tidak menyangka reaksi sebesar ini yang akan didapatkannya dari kata-katanya barusan.

  

"Kita ke bandara ... ," kataku pelan. Irisku meredup, sedikit menyesal juga buat bentakan yang telah kukeluarkan padahal aku tahu, ini bukan kesalahan Nathan. Dia tidak tahu apa-apa tentang hubunganku dengan Hyesun!

  

"Sorry, leader ... ," ujar Nathan kemudian, dengan nada lemah yang terdengar sangat menyesal. "Seharusnya aku tidak berkata seperti itu ... Hyesun_pasti tahu apa yang harus dilakukannya ... "

  

Aku menghela nafas mendengar kata-kata Nathan. "Sudahlah .. ," kubuat gerakan halus dengan tangan, supaya Nathan tidak bertanya lebih lanjut. "Lupakan semuanya ... Naiklah ... " Aku berpaling pada Joe dan Ken. "Kalian juga, naiklah ke dalam mobil. Jangan sampai terlambat sampai ke bandara .. "

  

 



  

…..

  

  

Sebuah sosok yang terasa familiar, dengan tubuh mungilnya yang mondar-mandir di depan gate masuk bandara, membuatku menghentikan langkah secara mendadak. Nathan, Ken dan Joe yang berjalan tidak jauh di belakang hampir menabrak ku.

  

“What’s going on?” Ken mengenyitkan alis dengan pandangan menegur, sedangkan Nathan dan Joe saling melempar pandang. Mungkin mereka berpikir aku menjadi sangat aneh hari ini.

  

“Ada apa?” tanya Joe.

  

Aku tidak menjawab namun memusatkan pandangan ke depan. Mataku kupicingkan.

 

“Kenapa?” ulang Joe, sambil mengalihkan perhatian mengikuti arah pandanganku. “Goo Hye Sun .. ?” Joe mengangga. Ken dan Nathan yang mendengar nama Hyesun disebut-sebut, segera mengeser Joe ke samping.

  

“Benar!!” seru Ken dan Nathan bersamaan. "Itu Goo Hye Sun!"

  

“Hi!” Sosok yang ternyata benar Hyesun melambai-lambaikan tangannya.

 

Aku masih mengenyitkan alis, perlahan memalingkan wajah menatap Nathan, Ken dan Joe buat memastikan kebenaran ini. Ketiga bawahanku ini meloncat-loncat dan bersorak-sorak membalas sapaan dari Hyesun.

  

"HYESUNNNN!!!"

  

Aku mengembalikan perhatian pada Hyesun. Benar, itu dia! Goo Hye Sun! Dia tersenyum nakal padaku. Aku berjalan lambat-lambat mendekati Hyesun.

  

"Ba ... bagaimana bisa .... ?"

  

"Aku mendengarnya ... " Hyesun menekan bagian dadanya. " .. di sini ... "

  

"Mwo?"

 

Hyesun tertawa. "Kau tidak percaya?"

  

"Jangan mempermainkan leader, Hyesun-a!" tegur Nathan yang sudah sampai di dekat kami--aku dan Hyesun. Joe dan Ken menghentikan larinya begitu mencapai tempat tujuan, di belakang Nathan.

  

"Kalian juga tidak percaya?" Hyesun berpaling pada 'Nathan' cs.

  

"Daaaa--" Ken mencibir, memperlihatkan rasa tak percaya yang sangat tinggi. Begitu juga Nathan dan Joe yang mengelengkan kepalanya.

  

"Apa kalian tidak pernah mendengar yang namanya soulmate?" Hyesun memutar badan hingga berdiri sejajar denganku. Tiba-tiba dia melingkarkan pergelangan tangannya di lenganku. "Beginilah hubungan kami ... " Hyesun meletakan tangannya di dada. "Semua berasal dari sini, dan aku ... bisa merasakannya ... " Hyesun berpaling padaku, tersenyum manis dan menarik lenganku kearahnya. "Benar kan , Minho -a?"

  

Aku mengatup setengah kelopak mataku dan melepaskan diri dari kukungan tangan Hyesun. Kujitak pelan jidatnya. "Jangan main-main! Katakan padaku apa yang telah terjadi, ... Kenapa kau tiba-tiba muncul di sini?"

  

"Yaaa--" Hyesun mendecak dan mengelus-ngelus jidatnya. "Kau tidak percaya?"

  

"Menurutmu?" Tubuhku condong ke depan, hampir menabrak wajah Hyesun yang berada dekat di sebelahku. "Kau bilang tadi hubungan kita berasal dari hati, .. Jadi menurutmu, apa aku tidak tahu kau sedang bercanda atau tidak?"

  

"Ehmm--" Hyesun berdeham kecil. Dia berusaha melepaskan diri dari pandanganku. Sepasang bola mata Hyesun berputar kesana-kemari, lalu berhenti pada jari-jemarinya yang bergerak lincah di atas batas pinggangnya. "Ketahuan rupanya .. ha ha .. " Hyesun tertawa lebar.

  

"So?" Aku memiringkan kepala ke kiri, menatap Hyesun lekat-lekat. Bukan maksudku untuk memojokkannya, aku hanya ingin dia tahu bahwa aku bukanlah orang yang mudah dibodohi, apalagi oleh dia, wanita yang sudah begitu kukenal.

 

"Sam tiba-tiba memutuskan untuk membawa ayahnya berangkat ke Amerika hari ini. Mereka berangkat dengan pesawat yang paling pagi. Karna tidak ada lagi yang bisa kulakukan jadi aku memutuskan untuk kembali ke kantor. Sebelum itu, aku menelepon dulu dan Tuan Tang mengatakan kalian berangkat ke pulau Sanna hari ini. Oleh karena itu kuputuskan untuk menyusul ke bandara, bergabung dengan kalian sebelum terlambat ... " Hyesun berhenti untuk mengambil nafas. "Dan ternyata aku tepat waktu. Ketika kalian melihatku, sebenarnya aku baru sampai lima menit yang lalu .. "

  

Aku mengangguk-angguk mendengar penjelasan Hyesun. "Jadi semua bisa dijelaskan bukan?" ujarku, 'sedikit' mengejek.

  

"Hey--tidak juga!" bantah Hyesun begitu melihatku seakan-akan cuek terhadap kehadirannya. "Jika bukan takdir, Sam tidak mungkin secara tiba-tiba merubah rencananya, berangkat ke Amerika tanpa alasan yang jelas ..."

  

Aku termangu. "Kau masih percaya?"

  

"Tentu saja!" sahut Hyesun tegas. "Tidak bisa tidak percaya, karna sudah terlalu banyak 'ketidaksengajaan'. Semua tidak akan terjadi jika tidak ada yang mengaturnya. Dan dari semula aku percaya, itu yang dinamakan takdir .... "

  

“ Ada apa sebenarnya.. ?” sela Joe bingung. Dia menatap Nathan dan Ken yang terlihat saling menatap tidak mengerti. “Pembicaraan apa ini?”

  

Nathan mengangkat pundaknya. “Bisa leader jelaskan?”

  

“Hyesun, apa yang kau omongin?” sambung Ken sambil menarik lengan baju Hyesun.

  

Aku dan Hyesun saling melirik, sementara Ken, Nathan dan Joe saling melempar pandang, .. menanti jawaban dari kami.

  

Beberapa menit berlalu dalam diam.

 

“Kami rasa … kami bisa menebaknya .. ,” mulai Joe pelan-pelan.

  

“Kalian … bersama, bukan .. ?” lanjut Nathan sambil menunjuk aku dan Hyesun.

  

“YOOO!! Kok bisa?!!” teriak Ken tiba-tiba, hingga membuat kami tersentak di tempat.

  

“Yaaa—kau mengejutkan saja!” protes Hyesun sambil menutup telinganya rapat-rapat.

  

“Ini tidak benar kan ?!!!” tanya Ken yang kelihatan masih tidak mampu mempercayai tebakan Joe dan Nathan barusan.

  

Aku menatap Ken datar, .. begitu juga Nathan dan Joe. Hyesun mendecak-mendecakan lidahnya.

  

“Dasar—tulalit!!!”

  

Aku, Hyesun, Nathan dan Joe bergerak bersamaan meninggalkan Ken yang memandangi kepergian kami dengan tampang cengo.

  

“YAAA—Apaan sih?!!!” Ken mengaruk kepalanya.

  

“Berdirilah terus di situ maka kau akan ketinggalan pesawat!!” teriak ku tanpa berpaling pada Ken yang melebarkan matanya.

  

“WHATTT?!!!” Mata Ken terbelalak. Tergopoh-gopoh dia mengejar kami, yang sudah cukup jauh meninggalkannya. “YAAA—TUNGGU AKUUUU!!!”

  

  

  

*******


bersambung ke halaman sebelah ----> [hmpfh]
« Last Edit: March 27, 2012, 08:20:03 am by Be my self »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun