Author Topic: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~CHAPTER 18, ENDING, update 27 Mar'12~  (Read 43793 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~SPOILER~
« Reply #1170 on: March 27, 2012, 08:14:56 am »
---->sambungan dari sebelah Hface Hface Hface



Air laut yang kelam bergulung-gulung menuju pantai. Ombak pecah dengan deburan keras menampar dinding-dinding karang pinggir laut menciptakan buih-buih putih yang terlihat pekat. Aku menghentikan langkah ketika sebuah bayangan menyita perhatianku. Seseorang, .. atau tepatnya sebuah sosok mungil yang tidak mungkin salah kukenali, terlihat sedang berdiri menendang-nendang air laut yang mencapai garis pantai dengan sepasang kaki polosnya, .. dia--Goo Hye Sun.

  

Aku memutar arah, berjalan lambat tapi tegap kearah Hyesun.

  

"Hyesun-a .. "

  

Kaki Hyesun yang sudah diangkat buat menyapu pasir-pasir halus di bawah kakinya .. terhenti. Tubuhnya sedikit menegang.

  

"Kenapa berada di sini?"

  

Pundak Hyesun terayun lemah ke bawah, terlihat agak lega begitu mengenali suaraku. Dia berbalik dan melebarkan senyumnya.

  

"Hi ... ," Hyesun mengangkat tangan, melambai-lambaikan padaku.

  

"Kau tidak tidur?" Aku melihat jam tangan kulit yang melingkar di tangan kiriku, sudah pukul 10 malam. Lalu kumasukkan sepasang tanganku ke saku celana dan meneruskan langkah mendekati Hyesun. "Ini sudah malam ... "

  

"Aku tidak bisa tidur ... ," kata Hyesun sambil mengangkat gaun tipis panjang yang dikenakannya. "Bagaimana denganmu sendiri?" tanyanya, sambil mengembalikan perhatian ke laut lepas.

  

"Aku habis memeriksa kembali apa yang kita buat hari ini .. " Aku berhenti di sebelah Hyesun, ikut menerawangkan pandangan ke tengah laut. Bintang-bintang bertaburan di angkasa, memberi nuansa yang sedikit menyejukan di tengah deburan ombak yang terlihat menganas di permukaan laut.



 

"Hn--" Hyesun mengangguk, tanpa melepaskan pandangannya dari laut kelam yang terbentang di depan matanya. "Laut malam sangat indah ya?"

  

"Hn--" Aku berpaling pada Hyesun, dan menatapnya lekat-lekat. "Kau tidak bertanya padaku tentang kelanjutan proyek kita?"

  

Dalam keremangan malam, kulihat Hyesun tersenyum. Dia masih pada posisi semula, tidak beralih padaku. "Segalanya akan beres selama ada kau--"

  

Aku terkekeh pelan. "Kau begitu percaya padaku?"

  

"Ini bukan hanya masalah kepercayaan, tapi profesionalitas--" Hyesun berpaling padaku. "Kau seorang arsitek yang sangat profesional!"

  

Aku menyentuh kepala Hyesun, mengucek gemas poninya yang terjuntai manis sedikit menutupi mata.

 

"Semuanya beres. Sketsa, bahan-bahan yang akan digunakan, para pekerja, .. semuanya sudah lengkap. Pelaksanaannya tinggal dilakukan minggu depan. Tuan Mok sudah kuhubungi dan mereka sangat puas dengan hasil kerja kita ... "

  

"Begitu ... ?" Hyesun kembali melayangkan pandangannya ke laut lepas, seperti tidak mendengar, ataupun tidak begitu perduli akan penjelasan-penjelasanku mengenai proyek yang kami tangani. "Kau tahu kenapa aku sangat menyukai laut?"

  

"Eh?" Aku memicingkan mata, menyapu wajah Hyesun dengan pandangan bertanya.

  

"Laut memberi kenyamanan padaku ... ," Hyesun tersenyum lembut dengan kelopak mata yang hampir meredup ketika semilir angin menyapu wajah dan menerbangkan rambutnya. Dia menghirup udara dalam-dalam dan menahannya, berlaku seperti mencium aroma yang teramat disukai pada penciumannya. "Dia seperti keluarga, seperti sebuah rumah yang selalu menyambut kedatanganku. Aku bebas mengerakan seluruh tubuhku, bebas menyepak dan menendang pasir-pasirnya yang lembut dan halus. Gelombang-gelombang dan ombak-ombak yang menampar keras terasa begitu nyaman di kakiku. Aku suka perasaan ini … “

  

Aku memperhatikan Hyesun, ikut tersenyum dengan perasaan .. yang mungkin .. terdengar ‘konyol’ untuk yang dirasakannya.

  

“Kau sangat aneh .. “

  

Hyesun membuka matanya, … berpaling padaku dan tersenyum samar.

  

“Sangat ajaib membayangkan ideku akhirnya menjadi kenyataan, .. Impian yang sudah lama terpendam dalam hatiku ….,” ujar Hyesun halus.

  

Aku mengenyitkan alis, memikirkan kata-kata Hyesun, “Maksudmu?”

  

“Aquarium di bawah air, yang akhirnya disetujui pihak China Assets .. ,” sahut Hyesun.

  

“O itu—“ Aku mengangguk-angguk, mengelus-ngelus dagu sambil menatapnya lekat. “Aku juga tidak menyangka Tuan Mok akan menyetujuinya .. “

  

“Mwo?!” Hyesun membulatkan mata dan berpaling seketika padaku. “Bukannya kau sudah memperhitungkan sebelumnya bahwa ide ini akan berhasil begitu kau menyetujuinya sewaktu kuutarakan pertama kali di pulau ini waktu itu .. ?”

  

“Anhi .. ,” jawabku jujur. “Aku memang bilang, idemu itu dapat dilaksanakan, namun … aku sadar, biaya yang dibutuhkan untuk itu akan sangat besar. Aku juga tidak terlalu yakin Tuan Mok akan menyetujuinya . waktu representasi ... “

  

“Tapi kau tetap menambahkannya dalam proyek yang kita bikin?” tukas Hyesun cepat.

  

Aku menatap Hyesun. Mengangguk pelan buat menjawab pertanyaannya.

  

“Weeyo? Kenapa kau lakukan tindakan bodoh itu?” tanya Hyesun terdengar bergetar. Aku melihat matanya berembun hingga membuatku terperangah. Kenapa dia menangis?

  

“Kau tahu dengan melakukan tindakan senekat itu, .. bisa-bisa proyek Sanna jatuh ke tangan Bosco?”

  

“Aku tahu …” desahku pelan.

  

“Lalu kenapa?!” tuntut Hyesun sengit. Bulir-bulir air sudah melepas jatuh dari pelupuk matanya.

  

Aku terdiam. Kulepaskan pandanganku ke laut lepas. Haruskah kujawab pertanyaan Hyesun dengan jujur?

  

“ Minho -a … “

  

Aku tidak merespon. Kutatap kumpulan bintang-bintang yang masih berkelap-kelip menghiasi langit. Kelihatan tidak ada yang berkurang dari jumlah mereka. Kupicingkan mata, .. ‘mereka’ begitu dekat, … keindahan alam ini .. seolah terjangkau oleh tanganku. Aku sekarang tahu, kenapa Hyesun begitu mencintai laut. Ternyata laut di tengah malam, sangat indah … tak terlukiskan hanya dengan kata-kata.

  


  

"Minho-ssi?”

  

Panggilan pelan itu menyadarkanku. Aku berpaling pada Hyesun dan membalas tatapannya memelas. Kuharap dia tidak menanyakan alasan itu kembali.

  

“Kepercayaan, … yang kau janjikan padaku … “

  

Aku termangu. Sejenak aku tidak mampu bereaksi. Kuhela nafas dalam-dalam lalu memejamkan mata. Sepertinya, aku sudah tidak mungkin menyembunyikan alasan dibalik ini sendiri. Hyesun sudah mengeluarkan senjata pamungkasnya, kepercayaan yang kujanjikan padanya.

  

“Aku hanya mencoba untuk … mewujudkan impian masa kecilmu. Aku tidak tahu apa itu akan berhasil tapi … impian dari seorang gadis kecil .. harus diwujudkan, apapun resikonya .. “

  

Hyesun mengigit bibir. Nafas yang ditahannya ketika aku memberikan jawaban yang ingin diketahuinya, berhembus dengan tersengal-sengal. Hyesun mengeluarkan isak yang semakin keras lewat hidungnya. Dia berusaha menahan, namun usahanya sia-sia begitu hatinya begitu tersentuh. Dan .. ini, yang paling tidak ingin kulihat darinya.

  

“Jangan menangis .. “

  

“Pabo .. ,” desis Hyesun. “Kau mempertaruhkan karirmu hanya demi … mewujudkan impian dari seorang anak gadis umur 5 tahun yang belum tahu apa-apa, bukankah itu terdengar sangat konyol? .. Kau akan ditertawakan begitu orang-orang mengetahui alasan dibalik pembuatan aquarium air ini .. “

  

“Aku tidak perduli … ,” Aku mengangkat pundak. “Apa yang perlu kutakuti selama kau tetap tersenyum dan bahagia?”

  

Hyesun termangu. “ Minho -a … “

  

“Hn—“ Kurasa, aku salah ngomong kembali. Seharusnya aku tidak mengeluarkan kata-kata yang akan membuatnya menangis lagi.

  

“Gumawo .. “ Hyesun tiba-tiba merangkul pinggangku dan memelukku erat-erat. “Terimakasih buat semuanya … “

  

“Hn—“ Aku mengelus pelan kepala Hyesun. “Kau jadi sensitive—“

  

Hyesun terkekeh pelan. Mungkin dia menganggap kata-kataku mengelikan. Kusentuh punggungnya, dan kupererat pelukan pada tubuh Hyesun, lalu kudaratkan kecupan lengket di bibirnya.

  


  

"Aku mendapat kabar dari Angel dua hari yang lalu .. ,” kataku sambil menghirup pelan aroma rambut Hyesun. Wangi mawar yang tidak begitu kental memasuki hidungku. Aku menghirupnya kembali, kali ini lebih dalam, … aku tersenyum, .. aroma ini .. tidak pernah kuketahui darinya.

  

Hyesun menengadah, dan menatapku. “Angel?”

  

Aku mengangguk. “Ne!”

  

Kalian masih berhubungan? Pertanyaan tersebut tergambar jelas dari wajah Hyesun.

  

“Kurasa, tidak ada yang perlu disembunyikan lagi .. “

  

“Maksudmu?”

  

“Angel akan menikah dan dia mengundang kita untuk menghadiri pesta pernikahannya dengan Raymond setelah kelahiran bayi mereka, lima bulan kemudian … “

  

Mulut Hyesun mengangga perlahan-lahan. Kelihatan sekali dia sangat terkejut. “Raymond?” Dia mengulangi nama itu. “Raymond Lam?”

  

Aku mengangguk.

  

“Raymond bawahanmu ..?”

  

Kembali, aku mengangguk.

  

“Dia dan Angel?” Hyesun makin membulatkan matanya. Dia seolah tidak mampu mempercayai berita yang baru didengarnya ini.

  

“Iya—“ Akhirnya aku menyahut.

  

“Bagaimana mungkin?” Hyesun mengerutkan wajahnya kebingungan. “Dan tadi kau bilang, bayi mereka?”

  

“Ne!”

  

“ Lima bulan kemudian … ?”

  

Aku mengangguk dan menghela nafas. Sudah cukup rasanya mengiyakan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Hyesun buat jawaban yang sudah kuutarakan sebelumnya.

  

“Jadi, .. berarti … mereka … “ Hyesun menutup mulutnya, menatapku horor, seolah aku makhluk paling mengerikan di dunia ini. Dia mundur selangkah dan menekankan telapak tangannya di dadaku.

 

“Hyesun-a .. ,” kusentuh tangan Hyesun, “ .. gwencana .. ?” tanyaku khawatir. Dia terlihat tidak begitu baik, tubuhnya agak oleng dan keadaannya buruk.

  

“Anhi!” Hyesun mengeleng cepat. “Jadi .. hubungan kalian .. “

  

“Sudah kubilang kan , bukan karna kau?” sahutku cepat.

  

“Dan kau menyembunyikannya. Kau memendamnya hanya untuk dirimu sendiri … ? .. Weeyo .. ? .. Kenapa kau begitu bodoh … ? Disakiti .. , tapi kau masih melindunginya .. sampai akhir … “

  

“Aku tidak pernah merasa disakiti .. ,” aku tersenyum samar. “Aku hanya tidak ingin melihat kau bimbang dan ragu, .. bertanya-tanya buat hal yang terjadi di antara kami. Dan aku tahu kau tidak akan, .. karna itu aku memutuskan untuk tidak membahasnya. Seperti perkiraanku, kau mempercayaiku. Kau tidak pernah ragu ketika kukatakan tidak mampu mengungkapkan alasan yang sebenarnya dibalik perpisahan kami. KAU—tetap percaya dan mendukungku! Ini yang membuatku kuat selama ini, Hyesun-a. Kepercayaan darimu. Kau yang tidak pernah menanyakan apapun tapi berbuat banyak padaku, … gumawo.”

  

Hyesun terdiam. Matanya basah bersimbah air yang mengalir laksana aliran sungai dari pelupuk matanya. Kedua tangan Hyesun menutupi bibir, memandangku dengan raut yang sulit untuk kucerna. Mungkin ada kepedihan di sana , .. dan mungkin juga ada rasa haru yang membuatnya sulit untuk berkata-kata.

  

Hyesun mengangguk. Bibirnya digigit pelan, senyum hangat samar-samar tersungging dari bibirnya. “Aku percaya. Aku percaya apapun darimu. Kau selalu punya alasan yang baik dibalik semua yang kau lakukan. Karna itu aku percaya. Terutama yang berhubungan dengan wanita, .. aku tahu kau tidak pernah akan mengkhianati ataupun menyakiti mereka, .. karna kau begitu menghargai wanita .. karna itu juga, … aku menyanjungmu tinggi-tinggi .. “

  

“Pabo .. ,” Sebuah getokan pelan mendarat di jidat Hyesun. Dia meringgis kecil, mengerucutkan bibirnya lalu tertawa

 

Lima menit berlalu, .. keadaan jadi hening. Kami saling merangkul dengan erat, sampai sayup-sayup kudengar suara Hyesun berkumandang pelan di gendang telingaku.

  


  

"Kau ingin tahu … apa yang kulakukan selama ini .. ?”

  

“Hah?” Aku menunduk dan menatapnya. “Apa?”

  

“Setelah perpisahan kita, .. apa yang kulakukan? … Kenapa bisa muncul mendadak di sini, sebagai seorang arsitek dari Great Building ? .. Bagaimana caranya aku sampai bisa diterima di situ? Dan kenapa tiba-tiba saja, aku bisa menguasai bahasa Canton yang dulu kuanggap sangat memusingkan .. ?”

  

Setelah terdiam beberapa menit, “Wee?” Mulutku bergerak, bertanya pelan.

  

Hyesun tersenyum. Dia terlihat ringan ketika menjawab, seolah tidak ada beban lagi yang menghimpit dadanya. “Kau sudah mengetahui segalanya tentang Sammul. Dan seperti yang pernah kukatakan padamu sewaktu di Canada dulu, aku tidak pernah bercita-cita untuk menjadi seorang wartawan. Semua kulakukan hanya untuk membalas budi kedua orangtua angkatku. Mereka ingin aku jadi wartawan … jadi, .. jadilah aku seorang wartawan. Mereka ingin aku seperti Jihoon oppa, maka .. dengan usaha keras, aku lakukan dan mewujudkannya walau dengan setengah hati. Sejak dulu aku tidak pernah bisa menolak permintaan orang lain .. “ Sampai di sini Hyesun terdiam, dia tersenyum kecut. Menyibak helai-helai rambut yang menutupi wajahnya, Hyesun melanjutkan …

  

“ … tapi, .. setelah pertemuanku denganmu, .. merubah sega-galanya. Teguran-teguranmu menyadarkanku ..  impian harus dijangkau dengan tangan sendiri. Dia tidak datang begitu saja tanpa usaha. Jika aku memang menyukai dan mencita-citakannya, aku harus berusaha sendiri untuk mewujudkannya. Setelah hari itu, aku jadi punya tekad dan keberanian untuk mengungkapkan semuanya. Aku mengatakannya pada omma, appa dan Jihoon oppa, .. tentang keinginanku untuk menjadi seorang arsitek dan bukannya wartawan seperti yang mereka kira selama ini, .. dan kau tahu? tidak dikira ternyata .. mereka mendukungku. Mereka sama sekali tidak marah terhadap keputusanku. Bahkan Sam, .. orang yang sudah begitu baik, yang telah bersedia menerimaku bekerja apa adanya di kantornya, .. kau tahu sendiri kan aku begitu tidak profesional dalam pekerjaanku, selalu melakukan kesalahan-kesalahan yang tidak perlu, .. tidak mengatakan sepatahkatapun selain menerima keputusanku … “

  

Aku mendengarkan cerita Hyesun dengan kusyuk. Tidak terbersit sedikitpun dalam benak ku untuk membantahnya, sekalipun Hyesun menyinggung nama Sammul dengan mata berbinar-binar.

  

“Dia senangtiasa mengantarku ketika belajar malam. Dulu aku memang pernah mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan arsitektur, sebelum memutuskan mengambil bidang jurnalistik. Jika dia tidak sempat, Jihoon oppa yang akan mengantarku. Dan kebetulan waktu itu, pamannya Sam, Tuan Yoon, yang merupakan direktur Great Building cabang Korea sedang mencari arsitek baru. Tidak diperlukan pengalaman ataupun pendidikan resmi untuk itu. Sam mengabari dan merekomendasikanku sehingga akhirnya aku diterima bekerja di sana . Bukan pekerja yang mempunyai kedudukan penting karna di situ aku hanya membantu merapi-rapikan rancangan-rancangan yang sudah dibikin sesuai dengan kehendak para arsitek senior. Beberapa bulan kemudian, ada permintaan dari induk perusahaan Hongkong untuk mengirimkan dua orang arsiteknya ke situ. Penyeleksian dilakukan, dan ajaibnya …. aku dan salah seorang arsitek muda handal yang terpilih. Dia—tidak mengherankan karna merupakan arsitek yang sudah menuai banyak prestasi, … tapi aku, tidak punya prestasi apa-apa. Aku tidak punya apa-apa! Aku sama halnya dengan selembar kertas putih yang belum dipoles, .. tidak punya pengalaman apa-apa di bidang arsitektur bangunan, .. kenapa mereka memilihku? … Setelah memikirkannya berulangkali, aku rasa .. cuma dua alasan yang paling masuk akal, entah mana di antara mereka, apakah karna aku satu-satunya orang yang menguasai bahasa Canton di kantor itu, ataukah hubunganku dengan Sam dan Tuan Yoon yang menjadi penyebabnya … aku tidak tahu .. “

  

Aku menarik nafas dalam-dalam, .. “Selanjutnya .. ?”

  

“Selanjutnya, di sinilah aku!” Hyesun berteriak lantang. “Semula aku menerimanya dengan setengah hati, tapi begitu mendengar namamu … Kembali aku terkejut dan berpikir-pikir, Sekali lagi takdir berbicara, … ‘Dia’ membawaku kembali padamu, dan bukannya jatuh ke tangan Bosco dan timnya .. “

  

“Karna itu, kau akhirnya memutuskan untuk datang kemari .. ?” Aku bertanya lambat-lambat.

  

“Anniyo!!” Hyesun mengeleng cepat. “Tujuanku dari semula memang ingin berada di sisimu! Membantumu sebagai partner kerja! Sebagai sahabatmu! Sebagai … soulmatemu … , orang yang selalu ada .. di saat kau butuhkan … “

  

Aku menatap Hyesun .. lekat, .. seribu kata ingin kuucapkan, namun … bibirku tidak mampu berkata-kata.

 

“ … bukan karna tahu orang yang akan menjadi bossku ternyata kau yang menyebabkanku memutuskan untuk kemari, akan tetapi … karna sesungguhnya alasan dibalik semua itu, dari semula memang kau … yang membuatku ada di sini … “

  

“Hn—“ Aku mengangguk. Mataku terpejam, .. kupererat rangkulan di pinggang Hyesun, .. membawa tubuh mungilnya semakin tenggelam dalam balutan tubuhku. “Kau … selamanya akan menjadi .. orang yang paling kubutuhkan … Baik suka maupun duka …. Hanya kau seorang … dari dulu hingga sekarang, .. tidak akan pernah berubah … “

  

Hyesun menahan nafas mendengar kata-kataku. Kepalanya ditekan, menyusup hingga makin tenggelam di dadaku. Aku merasakan helaan nafasnya, .. menerpa hangat pori-pori kulitku hingga perlahan masuk sampai ke kalbu. Butiran air hangat membasahi dadaku, .. merembes masuk hingga terasa di kulitku yang sedikit dingin akibat terpaan angin malam.

  

“Hyesun-a … ,” aku memanggil pelan, .. takut menganggu lamunannya yang terasa sudah hampir sampai ke alam tidur. Kurasakan hembusan nafasnya yang berubah teratur dan tenang, .. halus membelai-belai kulit leher dan dadaku sepuluh menit kemudian.

  

Tidak kurasakan respon dari Hyesun. Aku menundukkan kepala sedikit dan melihat matanya sedikit melek dari balik kelopak matanya yang bergerak-gerak, seperti menunggu perkataanku selanjutnya.

  

“Minggu depan, aku berangkat ke Seoul . Sebelum proyek Sanna ini resmi dimulai, aku bermaksud mengunjungi makam omma dan memindahkan abu appa ke sisinya .. “

  

“ Seoul ?” Hyesun menegakkan badan dan memandangku. Matanya sedikit melebar, seolah tidak percaya dengan pendengarannya. “Kau bilang … Seoul ?”

  

“Ya, Seoul !” Aku mengangguk.

  

“Ke .. kenapa … ?” Hyesun memiringkan kepalanya. “Kau … tidak takut … ? Bukankah selama ini … “

  

“Memang semula aku takut!” tukasku, memutus perkataan Hyesun yang tersendat-sendat. “Bahkan sangat takut! Sejak kecil aku selalu takut membayangkan kenangan-kenangan masa lalu tersebut. Aku terlalu ngeri membayangkan semuanya pergi dariku, meninggalkanku begitu saja! Dunia menjadi sangat tidak adil bagiku yang masih memerlukan kasih sayang seorang ibu, ‘mereka’ sangat kejam ketika membiarkanku berjuang sendiri di masa remaja. Tidak ada yang bisa kuharapkan selain tanganku sendiri! Tidak ada yang bisa kujadikan pegangan dan batu loncatan di saat aku membutuhkannya! WEEE?? Kenapa?!!! Aku selalu menanyakan pertanyaan ini selama berpuluh tahun, siapa yang mampu menjawabnya? Tidak seorangpun!” Aku menatap Hyesun, mengatupkan gerahamku ketika kurasa aliran panas mulai mendesak keluar dari bagian perut hingga ke tenggorokan. Aku sangat marah.

  

“Aku tidak sadar ketika sudah menjadi seseorang yang sangat tertutup. Aku tidak sadar ketika berusaha menjauhkan diri dari dunia yang sebenarnya sudah melahirkan dan menjadikanku seseorang yang berhasil. Aku hanya tahu, semua kugapai dengan tanganku sendiri, tanpa bantuan orang lain. Aku hidup karna aku mampu, tidak ada hubungannya dengan masa lalu! Karna itu aku sangat benci diingatkan, aku lebih memilih untuk melupakan segalanya. Sampai ‘kecelakaan kerja’ itu membawaku kembali ke negara yang sangat ingin kuhapus dari ingatanku, .. sampai pertemuan tidak sengaja yang terjadi pada kita, … sampai kusadar, kenyataannya bukan begitu. Kau yang menyakinkanku, kau yang menyadarkanku, Hyesun-a … ,” suaraku perlahan-lahan menjadi tenang. Kupegang kedua tangan Hyesun, mengenggamnya erat-erat, menekan dan meremasnya penuh perasaan. Kutatap langsung ke bola matanya, memintanya untuk mengerti apa yang kurasakan sekarang ini.

  
 

"Kau yang mengatakan padaku bahwa … mungkin mereka juga tidak ingin begitu. Mungkin mereka tidak ingin meninggalkanku berjuang sendiri. Jika saja mereka bisa memilih, mereka pasti akan memilih menemaniku seumur hidup. JIka saja mereka diberi kesempatan untuk itu, mereka pasti akan melakukannya. Tapi takdir berkata lain, jadi tidak seorangpun yang bisa disalahkan buat kecelakaan yang telah terjadi. Kau yang menyadarkanku akan kenyataan ini Hyesun-a, kenyataan yang selama ini membuatku buta dan tidak ingin tahu. Kau yang menyakinkanku kembali! Tanpamu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi denganku … Akankah aku berubah menjadi sekarang? Ataukah aku akan terus hidup dalam kemunafikan? .. “ Aku mengeleng, .. menghela nafas berat, “ .. aku tidak tahu .. “

  

“Kau puas .. dengan dirimu yang sekarang .. ?” tanya Hyesun sengau.              

  

Aku menatapnya dalam-dalam, … tersenyum .. lalu mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaannya.

  

“Sangat puas. Aku bersyukur telah bertemu denganmu, .. mengenalmu, dan menjadikanmu sebagai orang terpenting dalam hidupku selain kedua orangtuaku … “

  

“Hn—“ Hyesun menyambut jawaban dariku dengan anggukan kepala. Dia tersenyum, .. senyum yang sangat samar namun mampu memberi keyakinan padaku .. bahwa dia tahu arti dari pernyataanku. “Lalu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?”

  

“Karna itu, pergilah denganku!” Tiba-tiba aku menarik Hyesun ke dalam pelukanku. “Pergilah denganku ke Seoul … ,” aku berbisik di dekat daun telinganya, .. menjatuhkan dagu bertumpu di pundak dan tenguknya. “ .. aku ingin kau berangkat denganku, … menemaniku ke makam omma … Aku akan merasa lebih kuat dengan kau berada di sisiku .. “

  

“A … aku … ?” Suara Hyesun bergetar. Terdengar jelas aliran nafasnya yang mendadak menjadi memburu. “ … kau ingin aku yang .. “

  

“NE!” Aku memotong cepat. Tidak kuberi kesempatan Hyesun yang kembali membuka mulut akan membantah untuk mengeluarkan suaranya. “Proyek Sanna bisa menunggu! Aku ingin menyelesaikan masalah kita dulu, secepatnya .. “

  

“A .. apa?!!” tanya Hyesun yang berubah gugup.

 

“ Ada saja!” tukasku keras. “Berjanjilah dulu padaku!”

 

“Janji?”

  

“Ne, janji!” ulangku tajam.

  

“A … aku … tidak bisa menolaknya … ?” tanya Hyesun lambat-lambat setelah melihat kekerasan wajahku.

  

“Tidak!” ujarku dengan dagu sedikit dinaikkan. “This is an order, Miss Goo!”

  

“Yeah—“ Hyesun mengangkat pundaknya. “Aku tidak punya pilihan—“ lanjut Hyesun yang segera menjatuhkan wajahnya di dadaku. Dia tertawa terkekeh, mungkin sebagai reaksi kemenangan terhadap lakonnya barusan yang sempat mengelabuiku. Dia semakin nakal? Ya, untuk kesekiankalinya aku merasakan perubahannya ini.

  

Aku mengangkat tanganku, kemudian mengacak dan meremas rambut Hyesun dengan gemas.

  

“Kau semakin berani!!”

  

  

*******

  

  

Sebuket bunga kuletakkan di atas nisan tua yang terlihat sudah lama tidak terpelihara dan terjamah orang. Rumput-rumput liar tumbuh memenuhi bagian atasnya, yang sudah berupa puing dan menutupi tulisan-tulisan yang sudah mengabur pada sebuah patok kecil dan panjang yang hanya terbuat dari kayu tua yang tertanam di atas tanah. Sebagian rumput-rumput tersebut sudah kering dan layu tertimpa mentari siang di musim panas.

  

"Omma ... aku kembali ... ," aku berujar lirih, sambil menatap nanar gundukan tanah tua yang terlihat begitu menyedihkan dan mengiris kalbu di depan mataku. "Miane ... sangat terlambat ... Maafkan anakmu .. yang tidak berbakti ini, omma ... " Suaraku bergetar .. dan tanpa mampu kutahan lagi ketika dua garis air mulai merembes dari mataku. "Miane .... miane .... "

  

" Minho -a ... "

  

Kurasakan tangan Hyesun yang hangat dan lembut menyentuh lenganku. Aku mengigit bibir, tanpa terasa ... guci kecil dalam pelukanku kugenggam semakin erat.

  

"Selama ini ... aku .. aku berlaku ... tidak mau tahu apa-apa .. " Pandanganku melemah. Ketika airmata menderas dari pelupuk mataku, ... aku sadar, .. betapa aku merindukan omma, dan bagaimana aku belum pernah mengalirkan airmata sebanyak ini. " ... aku selalu menghindar, .. aku tidak pernah mau mengungkit apapun tentang dirimu dan juga tidak ingin memikirkan apapun yang telah terjadi di masa lalu. Aku tidak ingin mengingatnya! Aku ... aku ngeri akan perasaan terbuang itu, omma. Aku bahkan .... bahkan tidak ingin menginjakkan kaki di tanah ini kembali. Aku ingin melupakan segalanya, ... ingin memulai hidup baru dengan apa yang kucapai dengan tanganku sendiri .... "

  

Gesekan pelan terdengar dari sebelahku, .. Hyesun kembali menyentuh lenganku.

  

" Minho -a ... ahjuma akan mengerti ... ," ujar Hyesun lirih. Dia berusaha menghiburku walau sepasang matanya sudah sembab karna menangis. " ... beliau pasti mengerti akan perasaanmu ... Jangan menyalahkan dirimu untuk itu ... "

  

Aku menghela nafas berat, menepuk punggung tangan Hyesun yang menempel di lenganku.

  

"Aku melarikan diri untuk waktu yang lama, .. sangat lama. Sampai ... " Aku menoleh pada Hyesun, .. memberikan pandangan berterimakasih padanya. " ... sampai takdir mempertemukanku dengannya, omma, ... " Aku mengangkat tangan, dan menyentuh wajah Hyesun. " ... merubah segalanya ... "

  

" Minho -a ... "

  

"Perasaan yang aneh ... ," aku mendesis halus, " .. perasaan yang tak terungkap hanya dengan kata-kata. Aku merasa membencinya pada saat pertama, tapi ... perlahan-lahan berubah begitu sadar .. dia selalu muncul dan ada di saat aku membutuhkannya .... "

  

Hyesun membalas tatapanku, matanya meredup ketika kuhapus bulir-bulir airmata dari pipinya. Hyesun mengenggam tangan kiriku erat-erat, seolah ingin memberi kekuatan bagiku untuk melanjutkan semua pengakuan dan dosa ini.

  

"Semula aku tidak percaya yang namanya takdir. Apalah artinya perjumpaan kesekiankali yang tidak diduga, semua hanya kebetulan semata! Namun dengannya, .. aku menjadi percaya .. semua bukan kebetulan semata, bukan ketidaksengajaan, .. tapi dia memang dikirimkan Tuhan, dikirimkan oleh seseorang yang aku cintai, mungkin itu omma atau appa, kepadaku ... untuk membantu dan menyadarkanku .. bahwa apa yang kupunyai, masa-masa yang pernah kujalani, meski suka maupun derita, adalah berkah yang harus kusyukuri. Tidak ada yang salah dari hidupku, bukan ketidakberuntungan ketika omma meninggalkanku, begitu juga ketika menyusul appa yang meninggalkanku, .. bukankah semua menjadikanku lebih kuat dan mandiri dalam menjalani hidup ini? Hyesun, hanya Hyesun yang mengingatkanku akan kenyataan ini!"

  

Kutekan kuat-kuat guci di tangan kananku, mencengkram pinggirnya, lalu perlahan-lahan .. meletakkannya di atas batu nisan omma.

  

"Omma, aku membawa pulang abu appa. Aku tahu, beliau sangat ingin tinggal di sini ... bersamamu,  selamanya di sisimu ... "

  

"Iya, ahjuma ... ," Hyesun menimpali, sambil menatap nisan omma. " Minho sudah melakukan tugasnya sebagai anak ... Dia melakukan apa yang seharusnya dilakukannya sejak dulu ... "

 

Aku menunduk, menatap ujung sepatuku yang sudah menjadi sangat kotor oleh tanah. "Miane ... "

  

" Minho -a .. " Hyesun menarik tanganku, .. memaksaku untuk menatapnya. Sepasang tangannya ditangkupkan di wajahku, dan menatapku lekat-lekat.  "Kau tidak bersalah, Kau dengar?!! Kau sudah melakukan yang sepantasnya dilakukan! Tidak ada lagi hutangmu, baik terhadap Tuhan, maupun orangtuamu!"

  

Aku membalas tatapan Hyesun dengan raut sendu, ... menyelami kembali kata demi kata yang keluar dari bibirnya. Untuk beberapa lama kami tidak bersuara, hanya saling menatap dalam diam. Semilir angin menerbangkan rambut dan pakaian kami. Daun-daun kering berseliweran dengan lembut, melayang-layang di udara yang untuk kemudian lambat-lambat bergoyang-goyang jatuh ke atas tanah. Beberapa menit berlalu ketika aku mulai tersenyum perlahan-lahan. Kukalungkan lengan ke leher Hyesun dan memutar tubuhnya menghadap ke nisan omma.

  

"Lihat dia, omma! Dia adalah Goo Hye Sun! Dia merupakan wanita yang kuceritakan tadi. Dan dia ... akan menjadi mantumu!"

  

"MWO?!!" teriak Hyesun kaget, sampai-sampai tubuhnya agak merenggang dan lepas dari rangkulanku. Suara Hyesun tercekat, dan sepasang matanya terbelalak lebar menatapku.

  

"Kenapa?" Aku mengodanya. "Jangan bilang setelah penghiburan dan kekhawatiranmu tadi, kau tidak punya perasaan apa-apa padaku?"

  

"Itu lain!!" seru Hyesun keras.

 

"Lain bagaimana?"

 

"Aku tidak mengingkari perasaanku terhadapmu, .. "

  

"Lalu?" potongku cepat. "Apa masalahnya?"

  

"Namun aku tidak pernah berkata, bersedia jadi istrimu!" sahut Hyesun lantang. "Lagipula, kita baru memulai hubungan ini!" Hyesun berkelit sengit.

  

"Itu masalahnya?" Aku menaikkan alis sebelah kanan, tersenyum mengejek sembari merogoh dan mengeluarkan sesuatu dari balik saku celana. Kusodorkan sebuah kotak kecil yang sekarang sudah terbuka penutupnya pada Hyesun. "Lalu, .. bagaimana jika dengan ini? Apa kau bersedia menerimanya?"

  

"I .. ini ... " Hyesun terperangah lebar. Dia sangat kaget hingga kakinya mundur selangkah. Aku sangat puas begitu melihat matanya terbelalak, berbinar dalam selapis embun tipis yang perlahan melapisi bola matanya. Hyesun menangis. "Kau ... "

  

"Terkejut? Terharu?" Aku tersenyum lembut. Kusentuh punggung tangan Hyesun, mengeluarkan cincin bertahta berlian dari dalam kotak dan bermaksud menyematkannya di jari manis Hyesun.

 

"Kau .. sudah merencanakan semua ini ... ?" Hyesun menarik tangannya hingga terlepas dari tanganku.

  

"Ne .. ," aku menatap Hyesun lekat-lekat.

  

"Kau sengaja membawaku ke sini, ... mengungkapkan segala-galanya di hadapan nisan orangtuamu ... supaya aku .... menerimamu .. ?"

  

"Ne!" kuulangi jawaban itu. Kali ini kutarik tangan Hyesun, membawanya kembali dalam pelukanku. "Aku memang merencanakan semuanya. Sengaja membawamu kemari, mempersiapkan lamaran sederhana sebagai kejutan yang kuharap, akan berkesan di hatimu." Aku menekan halus pundak Hyesun, sedikit menunduk dan menghujam ke dalam matanya. "Aku tidak pernah memikirkan semua ini ketika bersama Angel. Jangankan merencanakan sebuah lamaran yang istimewa, bahkan untuk membicarakan masalah pribadiku saja, aku enggan .... ," perkataanku selanjutnya .. terlontar keluar seperti bisikan halus di telinga Hyesun. "Karna itu Hyesun-a, aku sadar .. dan ingin kau percaya, kau--sangat berharga bagiku ... "

  

Hyesun terisak pelan. Pundaknya bergerak halus mengikuti gejolak perasaannya saat ini. Hyesun mengangkat tangan dan menghapus butiran airmata yang mengalir membasahi pipi dengan punggung tangannya.

  

"Kau .. selalu membuat .. segalanya ... terasa sulit .... "

  

"Hah?" Mataku melebar tak mengerti. "Apa?"

  

"Kau menciptakan keadaan ini, sementara hatiku belum siap ... "

  

"Dhe?" Alisku berkenyit.

  

"Aku tidak pernah berkata siap menjadi istrimu__" Hyesun kembali menghapus airmatanya dengan punggung tangan, sampai tidak tersisa lagi dari wajahnya yang putih mulus. Rautnya yang tadi sendu perlahan-lahan berubah cerah. Hyesun tersenyum dan menyenggol pelan lenganku.

  

"MWO?!" Aku mendelik. "Apa maksudnya ini, Goo Hye Sun?"

  

"Sudah jelas bukan?" Hyesun menyengir nakal. "Untuk saat ini aku tidak bisa menerima lamaranmu! Mungkin setelah ... setelah 30 hari kemudian, dan perasaanku masih sama dan tidak berubah terhadapmu, aku akan mempertimbangkannya kembali ... "

  

"Goo Hye Sun!!" Aku menegur keras. Kata-kata yang dikeluarkan Hyesun sangat mengejutkanku. Terus terang saja, aku tidak pernah memikirkan penolakan terhadap lamaranku akan terlontar dari bibirnya. "Aku sangat serius!"

  

Hyesun mengatupkan bibirnya yang tersenyum nakal. "Aku juga serius ... ," jawabnya dengan lantang, seolah ingin menyakinkanku jika dia juga tidak main-main. "Beri waktu pada kita masing-masing, 30 hari ... "

  

"30 hari bagaimana?!" jawabku jengkel. "Bahkan perpisahan kita yang berbulan-bulan saja tidak merubah perasaanmu terhadapku! Lalu perubahan apa yang bisa kau bayangkan akan terjadi di 30 hari mendatang?"

  

"Aku tidak tahu!" Hyesun mengangkat pundaknya. Suaranya terdengar lantang dan tegas namun senyum mengoda tidak hilang dari bibirnya begitu memalingkan wajah dariku.

 

"Goo Hye Sun! Kau makin berani!"

  

"Aku tidak perduli!" sahutku dengan kekerasan yang tidak melemah. "30 hari atau tidak sama sekali?!"

  

"Kau serius?" Jidatku berkerut.

 

"Tentu saja!" tukas Hyesun seyakin-yakinnya.

  

Kami terdiam setelah itu. Saling bertatapan tanpa ada sepatah-katapun yang terucap. Kutatap Hyesun dalam-dalam, memperhitungkan apa yang dikatakannya, .. dan juga memikirkan betapa berani dan bandelnya dia. Hyesun melebarkan matanya, sedikit menunduk seakan menanti jawaban selanjutnya dariku.

  

"Baik. Kuterima tantanganmu!" jawabku akhirnya, sambil menyengir 'sinis' padanya.

  

Hyesun tertawa, .. serta merta tangannya bergerak kilat 'menyentil' pelan jidatku. "Yaaa--gitu dong!"

  

"Yaissshhh!! Kau ini minta dihajar!" Tanganku bergerak cepat, bermaksud melakukan pembalasan terhadap Hyesun. Namun Hyesun lebih cepat, tidak kusangka tubuh mungil tersebut berkelit dengan gesit. Aku berlari mengejarnya, dan kurang beruntung tubuh kecil tersebut tidak berimbang kecepatannya dariku. Dalam sekejap saja Hyesun sudah meraung-raung minta ampun dalam gelitikanku.

  

"Yaaaa___yaaaa____Ampun, .. ha ... ha ... Lepas! Geli, Minho -a .. "

  

"Makanya, jangan macam-macam denganku!" Aku menyengir lebar.

  

"Iya, iya, tahu!" Hyesun mengangkat tangannya, menyerah.

 

Aku tertawa, lalu mendaratkan telapak tanganku di pucuk kepalanya. Kuelus kepala Hyesun dengan lembut. Hyesun kemudian mengenggam tanganku, menyelipkan jari-jemarinya di sela-sela tanganku. Aku membalas perlakuan Hyesun dan meremas tangannya hangat-hangat. Kudaratkan sebuah kecupan kecil pada jidatnya.

 


  

Hyesun memejamkan mata. Begitu sepasang mata bulat besar itu dibuka kembali, senyum indah yang mampu meluluhkan hatiku terkembang di bibirnya.

  

Kuayun tangan Hyesun dan mengajaknya melangkah ke kursi panjang yang terletak tidak begitu jauh dari situ. Hyesun bergerak, berjalan beriringan di sampingku. Baru tiga langkah, Hyesun menoleh ke belakang, menatap nisan omma.

  


  

Hyesun's POV ...

  

Terimakasih telah memberikan hadiah terindah padaku, Lee Ahjuma. Terimakasih karna telah mempertemukan kami. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah 30 hari nanti, namun aku percaya, apapun itu ... kami akan mampu melaluinya. Cobaan terberat telah kami lalui, ... 30 hari yang sangat membingungkan tapi sekaligus penentuan tersebut telah berakhir, ... kami menjadi dewasa karna perubahan-perubahan yang terjadi ... Dan kami tahu, semua menjadi lebih baik … sangat baik ...

 

  

  

________ THE END __________

  

  

  

author’s note : yeahhhhh, akhirnya TDC ending juga,, terimakasih buat partisipasi dari para pembaca selama ini,, dan buat noona b and sis ell yang meminta adegan HOTTTT buat pasangan TDC, mian mengecewakan lollll

  

See you di epep2 yg lain, guysssss!!!!
« Last Edit: March 27, 2012, 08:38:43 am by Be my self »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
WHOOAAAA AKHIRNYA DI UPDATE JUGA  Hface Hface Hface Hface [clap] [clap] [clap] [clap] Thanks mom [lovestruck]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
WHOOAAAA AKHIRNYA DI UPDATE JUGA  Hface Hface Hface Hface [clap] [clap] [clap] [clap] Thanks mom [lovestruck]
[hmpfh] [hmpfh] Hface Hface awasssss, mengecewakan loh [hmff] [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

younee

  • Guest
gomawo updateannya mom [lovestruck]
Akhirnya TDC slsai jg. jd inget dulu pas belum punya akun disini, tiap baca updatean TDC geregetan pengen komen, ga trasa skrg udh slsai #curhatmodeon
endingnya ga mngecewakn kok,meskipn mreka hrus nunggu 30 hr lg aku yakin prasaan mreka ga akn brubah. ya kan mom ? apalah arti 30 hri klo slamanya mreka akan brsama.. ^^

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
komennya mana [head break] [head break] [head break] [hmpfh] [hmpfh]

comment menyusul kalo udah selesai baca ya mom, mau tidur dulu besok gue kan sekolah  [cheekkiss]

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
mamiiiiiiiiiiiiiiiiiiiu good ending. hyesun yg ceroboh benar2 berubah jd hyesun yg berani dan nakal. minho yg cuek dan terkesan ga pnah mau peduli menjadi sosok yg melankolis namun bisa mulai membagi kisah hdpnya dgn org lain dan bersikap perhatian thdp org yg disayanginya. keduanya mengalami perubhan ke arah yg  lbh baik. gw suka hyesun yg suka godain mh. dan lamaran mh ga banget deh. masa ngelamar di kuburan ya ...walau maksudnya melamar dihadapan org tua tp tetep aja judulnya kuburan,lol .....tampang mh yg kaget lamarannya di tolak hyesun benar2 bs gw bayangin dan sgt kocak pastinya , apalagi dgn kebandelan hs yg suka bgt godain mh. no Hot tp it's a sweet and beautifull ending. thirthy day changes ...semoga hs kgk nolak lamaran mh.

mamiiiiiii, tengkyu buat endingnya. [smiley] [lovestruck]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
mamiiiiiiiiiiiiiiiiiiiu good ending. hyesun yg ceroboh benar2 berubah jd hyesun yg berani dan nakal. minho yg cuek dan terkesan ga pnah mau peduli menjadi sosok yg melankolis namun bisa mulai membagi kisah hdpnya dgn org lain dan bersikap perhatian thdp org yg disayanginya. keduanya mengalami perubhan ke arah yg  lbh baik. gw suka hyesun yg suka godain mh. dan lamaran mh ga banget deh. masa ngelamar di kuburan ya ...walau maksudnya melamar dihadapan org tua tp tetep aja judulnya kuburan,lol .....tampang mh yg kaget lamarannya di tolak hyesun benar2 bs gw bayangin dan sgt kocak pastinya , apalagi dgn kebandelan hs yg suka bgt godain mh. no Hot tp it's a sweet and beautifull ending. thirthy day changes ...semoga hs kgk nolak lamaran mh.

mamiiiiiii, tengkyu buat endingnya. [smiley] [lovestruck]
sebenarnya takut digetok ama ending ini #lirik2noonb [laughing] [laughing]

iya mereka berubah,, mh jd perhatian ama org sekitarnya sedangkan hs bukan hs penurut lg,, mereka berubah sesuai jalan cerita #keinginanauthornye [hmff] [hmff]
mh mah emang geblek deh, moso ngelamar di kuburan [hmpfh] ya maksudnya baik sih tp amit2 deh [heh] [heh] hs nolak bukan karna ga suka ama mh, hanya saja dia ga mau hubungan mereka berakhir seperti itu,, dia pingin waktu tuk memulai sesuatu yg baru. dia tahu permintaannya itu hanya membuang waktu, walau gimana, cintanya masih tetep ke mh. waktu 30 hari itu bukan untuk mendalami karna sesungguhnya mrk sudah saling memahami, tapi hanya ingin digunakan hs untuk mencari jalan mengenai kepastian akan masa depan #ngomongopoya [sweat] [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Roxanne

  • Full
  • ***
  • Posts: 259
    • View Profile
mommyyyy....maap baru komennn niiiiiiiiii........  [AddEmoticons04228] [AddEmoticons04228] [AddEmoticons04228]

thank you buat ending yang indah... semuanya bahagia ya...  [arms] [arms] [arms] [arms] [arms] [arms]

mi,gak ada thirty days changes II ???  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
mommyyyy....maap baru komennn niiiiiiiiii........  [AddEmoticons04228] [AddEmoticons04228] [AddEmoticons04228]

thank you buat ending yang indah... semuanya bahagia ya...  [arms] [arms] [arms] [arms] [arms] [arms]

mi,gak ada thirty days changes II ???  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

nggak kok, si sammul ga berakhir bahagia #plakkk
tdk pernah akan ada THIRTY DAYS CHANGES II [sweat]
Thanks dah baca n komen, dear [cheekkiss]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Mamiii...gomawo sudah penuhin request kita finalin nih ff cumannn satu aja mi kurangnya....kurang ono noh... [huglove] [huglove].. [rofl] [rofl]

30 hari pertemuan mereka memang sudah mengubah ke dua insan berlainan jenis itu tapi moso harus nunggu 30 hari lagi buat yakinkan keputusan tuk masa depannya sih...

Dasar nih mh maksud  mo romantis tapi ngelamar kok dikuburan sih ya ngacirlah hs  [rofl] [rofl] [rofl]

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
makasih mami updatenya  [flowers] , setelah penantian panjang  [rofl], tapi..kenapa cuma segini mami ENDING nya  [dry] , padahal pinginnya sampai mereka nikah  [hug] , walaupun dengan ada HOT nya  [hmpfh] , tapi.. disini aku salut sama Hye dia sangat mempercayai Minho  [heh] apa pun yang minho katakan tidak menuntut penjelasan lebih  [biggrin] , minho seh ngelamarnya di kuburan  [dry] jadilah lamarannya di tolak  [goodgrief] , coba kalau di tempat yang romantis mungkin Hye engga bisa nolak  [on] , berarti ini masih ada lanjutan nya kan mami  [chin] , se'engganya satu chap lagi  [heh] kan masih nunggu 30 hari buat hye menjawab lamaran minho  [biggrin]  Hface   

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Mamiii...gomawo sudah penuhin request kita finalin nih ff cumannn satu aja mi kurangnya....kurang ono noh... [huglove] [huglove].. [rofl] [rofl]

30 hari pertemuan mereka memang sudah mengubah ke dua insan berlainan jenis itu tapi moso harus nunggu 30 hari lagi buat yakinkan keputusan tuk masa depannya sih...

Dasar nih mh maksud  mo romantis tapi ngelamar kok dikuburan sih ya ngacirlah hs  [rofl] [rofl] [rofl]
not request kalian, tp emang dah niat semula tuk tamatin ff ini [laughing] [laughing] Hface Hface kurang opo [what] ga ngerti whistling whistling

30 hari tuh waktu buat para pembaca tuk nentuin nasib lead ff ini [hmpfh] [hmpfh] lamaran mh tuh luar biasa tau,, lain dr yg lain [laughing] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
makasih mami updatenya  [flowers] , setelah penantian panjang  [rofl], tapi..kenapa cuma segini mami ENDING nya  [dry] , padahal pinginnya sampai mereka nikah  [hug] , walaupun dengan ada HOT nya  [hmpfh] , tapi.. disini aku salut sama Hye dia sangat mempercayai Minho  [heh] apa pun yang minho katakan tidak menuntut penjelasan lebih  [biggrin] , minho seh ngelamarnya di kuburan  [dry] jadilah lamarannya di tolak  [goodgrief] , coba kalau di tempat yang romantis mungkin Hye engga bisa nolak  [on] , berarti ini masih ada lanjutan nya kan mami  [chin] , se'engganya satu chap lagi  [heh] kan masih nunggu 30 hari buat hye menjawab lamaran minho  [biggrin]  Hface   
ga afdol klu semua cerita berakhir nikah and punya anak,, enaknya tuh ada yg gantung, happy iya, ga happy juga iya sesuai penafsiran pembaca [hmpfh] [hmpfh]

pengumumannnnnnnnnnn!!!! ga ada kelanjutan buat ff ini lagi,, dah habiss bisss bissssssssssssssssssssssssssssssss Hface Hface

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun