Author Topic: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~CHAPTER 18, ENDING, update 27 Mar'12~  (Read 43776 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Hoereee... [smiley-dance013] [smiley-gen013] [smiley-dance013] [smiley-gen013]
SENENG BANGET neh pas denger bsk mami mw update next chap neh ff  punk punk punk
FIGHTING MI... [smiley-gen013] d'tnggu ya bsk... *peyok" duyu  [hug]*

Upzz...
Mi, klo ada M nya pm k gw ya.... [hmpfh]
yaa kan udah gw blg cerita 30 hari ini ga ada m versionnya [head break] , elu gimana sih [hmpfh] ....
lum selesai nih, masih dlm proses pembuatan [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline pink_girly

  • Full
  • ***
  • Posts: 341
  • <3 MinSun
    • View Profile
Hoereee... [smiley-dance013] [smiley-gen013] [smiley-dance013] [smiley-gen013]
SENENG BANGET neh pas denger bsk mami mw update next chap neh ff  punk punk punk
FIGHTING MI... [smiley-gen013] d'tnggu ya bsk... *peyok" duyu  [hug]*

Upzz...
Mi, klo ada M nya pm k gw ya.... [hmpfh]
yaa kan udah gw blg cerita 30 hari ini ga ada m versionnya [head break] , elu gimana sih [hmpfh] ....
lum selesai nih, masih dlm proses pembuatan [biggrin]

[AddEmoticons04257] mi, tpi klo mami buat yg kyk gini  [on]  [love eyes]  [drool] jgn lpa pm gw ye...  whistling punk [hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
pinq, iya deh, klu gitu tunggu yg bengkok2 ya [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline pink_girly

  • Full
  • ***
  • Posts: 341
  • <3 MinSun
    • View Profile
pinq, iya deh, klu gitu tunggu yg bengkok2 ya [hmpfh]

oh,ye...? ada  [love eyes] [drool] [on]nya kah mi...? [hmpfh]
klo yg bengkok" gw setia menunggu kog mi pa lgi klo ada  [bav] nya... [AddEmoticons04231]  [hmpfh]

D'tggu ya mi bengkok" sama next chap ne ff... punk punk punk

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
ok pinq, tp yg bengkok2 ga bisa cepat ya soalnya lum dibuat nih [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile





Lee Min Ho ...

Hari ketigabelas ... selasa, 15 Desember 2009, pukul 07:45 pagi ....
Tidak terdengar jawaban dari kamar Angel. Keningku berkenyit perlahan. Aku yakin dia berada di dalam, karena boots yang dikenakannya tadi malam tergeletak begitu saja di lantai, dekat pintu depan. Aku berdiri selama beberapa menit di depan pintu kamar Angel dan memasang telinga, berusaha menangkap suara yang mungkin terdengar dari kamarnya. Tapi, tetap saja kesunyian dan keheningan yang kudapati.

"Mungkin dia sangat lelah setelah begadang semalaman! .... Sebaiknya saya membiarkannya tidur saja ..". Berpikir begitu, aku beranjak ke meja kerja yang terletak di ruang depan, menuliskan sebuah pesan pendek di kertas kecil yang ada di sana, kemudian kembali lagi ke depan pintu kamarnya. Kuselipkan kertas tersebut ke celah bawah pintu.

Setelah itu, aku menuju lemari kayu di tengah ruangan, meraih mantel panjang yang tergantung di sana dan memakainya. Udara pertengahan bulan Desember di Korea terasa sangat dingin. Diramalkan, salju akan turun dalam waktu dekat.

Aku sampai di lorong luar apartemen. Udara dingin langsung menerpa wajahku. Agak mengigil, kurapatkan mantel panjang yang kupakai ke depan dada.




Lalu ... tiba-tiba .. bayangannya melintas dalam pikiranku. Munkin udara dingin penyebabnya. Adegan yang tidak asing dalam ingatanku. Tubuhnya yang terbalut pakaian tipis, berkeliaran di udara dingin, pada permulaan bulan Desember saat perjumpaan kami yang keempat kali.  Bagaimana dia meringkuk, kedinginan di sudut lorong bawah tanah, tempat kami berteduh dari hujan lebat.

Dia tidak berani mendekatiku. Terlihat segan dan takut padaku. Tapi, di detik lain, dia bersenandung kecil seiring rintik-rintik hujan yang dijatuhkan ke bumi. Tanpa disadari ... aku tersenyum perlahan.



"Goo Hye Sun! .. Mengapa? ... Mengapa kamu selalu membuatku tersenyum dan kesal dalam waktu bersamaan? ... Tertawa dan marah secara serempak? ...". Aku mengeleng dengan senyuman yang masih terhias di bibir.

Aku tidak bertemu dengannya sejak kejadian dalam taman, tiga hari yang lalu. Entah mengapa, aku memikirkannya sekarang. Aku ingin dia hadir dihadapanku saat ini juga. Sebenarnya apa yang sedang dilakukannya? Apakah dia juga kedinginan sepertiku di sini? Atau .. dia sedang berada dalam ruangan yang dilengkapi sistem penghangat? Apakah dia merindukanku? ..

AKU MERINDUKANNYA! .. Ya, pertama kalinya aku mengakui, walaupun hanya dalam hati, bahwa aku merindukannya. Perasaan rindu yang sangat lain dengan perasaan rindu yang kurasakan terhadap Angel. Perasaan yang sangat kuat. Perasaan yang selalu muncul setiap ada sesuatu yang mengingatkanku padanya.

Lalu .. apakah aku menyukainya? .. Pasti! .. Aku berani memastikan jawaban ini. Walaupun aku ragu perasaan ini merupakan perasaan cinta. Tapi .. suka? .. Aku benar-benar menyukainya.

------------------------------------


Kamar Angel .....

Dengan tampang kebinggungan karena tidak tahu harus berbuat apa, Angel memasang pendengarannya tajam-tajam. Perkataan dari balik pintu sudah tidak terdengar lagi. Tangannya masih menjambak rambutnya sendiri. Sementara butiran airmata mulai mengalir turun dari pelupuk matanya. Isak tanggis terdengar perlahan.

Lima menit berlalu. Pandangan Angel yang masih terfokus ke depan, menangkap selembar kertas kecil menyelip masuk lewat celah di bawah pintu kamarnya. Angel terpaku melihat kertas itu. Kemudian .. gerakan halus dari samping, membuatnya berpaling. Raymond menguap lebar dan membuka mata yang masih setengah terkatup.



Angel sangat terkejut ketika melihat Raymond membuka mulut, siap mengeluarkan suara. Dengan sigap dia mengulurkan tangan dan membekap mulut Raymond. Dia langsung berpaling ke pintu kamar dengan perasaan khawatir. Sedangkan Raymond terbelalak lebar dengan apa yang dilakukannya. Tangan kanan Angel membekap mulutnya sangat erat, sehingga membuatnya hampir tidak bisa bernafas.

Raymond berusaha melepaskan tangan Angel dari mulutnya. Tapi tidak berhasil. Entah apa yang menyebabkan tenaga gadis itu menjadi luar biasa.

"Ssstttt .... !!", desis Angel, sambil menempelkan telunjuk ke mulutnya.

Dahi Raymond berkenyit. Dia tidak mengerti maksud gadis itu. Sampai .. suara samar dari pintu depan yang ditutup perlahan, menyita perhatiannya. Raymond mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Sekarang dia sadar apa yang terjadi. 'Telah terjadi sesuatu antara dia dan Angel tadi malam ... '. Raymond menutup mata perlahan.

Angel melepaskan bekapannya dari mulut Raymond. Kepalanya menunduk perlahan. Airmata yang tadi tertunda, sekarang mengalir lagi. Bahkan semakin deras. Isakannya juga semakin keras.
"Hiksss ... hiksss .... "

Raymond mendesah perlahan, "Sorry .... "

Angel langsung mengangkat tangannya.
"Cukup!! hu .. huhhh .. Saya .. saya .. tidak mau mengungkit kejadian .. kejadian tadi .. malam lagi .... hu .. hu ... Lupakan semuanya .. dan .. saya .. saya tidak ingin Minho sampai .. mengetahui semua .. ini ... huhh .. huuu ... "

"Angel ... ", panggil Raymond pelan, "Sekali lagi .. maaf .. tapi .... "

Angel mengangkat wajahnya, "Tapi ...? .. Kamu .. hu .. kamu tidak bermaksud .. huhhh .. memberitahu Minho, kan? ... Saya mengenalmu, Ray .. Kamu .. kamu tidak akan .. melakukannya kan?"

Raymond terdiam. Dia menghembuskan nafas kuat-kuat. Mengapa kejadian ini harus terjadi? Melihat kesedihan dan penyesalan Angel, hatinya sangat sakit. Terluka seperti diiris berpuluh pisau yang menancap langsung ke dalam hatinya. Tanpa terasa, dua butir air bening menitik dari sudut matanya.

"Sorry .. i'm really sorry .. Saya sangat menyesal dengan kejadian ini .. Semua ini salahku, seharusnya saya bisa menahan diri ... dan ... "

"Saya tidak ingin mendengarnya .. huhh .. huhh ...". Angel kesenggukan dengan selimut yang ditarik rapat menutupi tubuhnya.



"Kamu harus mendengarnya, Angel!!". Raymond menarik kedua tangan Angel yang sudah menutupi wajahnya, "Harus!!, katanya, lebih tegas lagi. "Cepat atau lambat, leader akan mengetahuinya! .. Kamu tidak bisa menyembunyikan ini selamanya, ... Jika kamu tidak jujur, masalah ini akan menjadi noda tersembunyi di balik hubungan kalian ... "

"TIDAKKK!!". Angel menarik tangannya dari genggaman Raymond, dan menutup telinganya rapat-rapat. "TIDAK BISA!! .. Minho tidak akan memaafkanku dan .. dia juga tidak akan memaafkanmu .... "

"Saya tidak memerlukan maaf dari leader .. Yang saya inginkan hanya kebahagiaanmu ...", kata Raymond, pelan dan lembut.

Angel menurunkan tangannya perlahan.
"Saya sangat mencintai Minho, dan saya tidak ingin kehilangan dia ... ", dia berhenti sebentar, kemudian melanjutkan perkataannya, "Saya tidak ingin hanya karena .. karena kesalahan ini .. hubungan kami berakhir begitu saja ... ", kemudian dia menatap Raymond lekat-lekat, "Karena itu Raymond, saya mohon .. kamu tidak membocorkan kejadian ini pada Minho ... "

"Tapi .. seperti yang saya katakan ... ", Raymond berusaha membantah, tapi langsung terdiam ketika mendapati pandangan memohon dari Angel, " .. baiklah .. ", desahnya perlahan.

"Thanks .. ", ucap Angel, sambil menghapus airmata yang masih mengalir keluar dari pelupuk matanya.

------------------------------


Lee Min Ho ....

Sekitar tujuh menit kemudian, aku sampai di tempat parkir dengan pikiran yang masih melayang. Para bawahanku sudah menungguku di sana. Tapi .. dahiku berkenyit perlahan.



"Mana Raymond?", tanyaku.

Mereka saling berpandangan. Kelihatan tidak kalah herannya denganku.

"Ray bukannya bersama leader ya?", Ken balas bertanya.

"Tidak!!", jawabku pendek.

Kemudian aku merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel dari sana.

-----------------------------


Adegan beralih ke kamar Angel ...

Raymond menghembuskan nafas perlahan. Kemudian dia beranjak bangun dari pembaringan dan meraih pakaian yang berserakan di lantai. Dia mulai memakai pakaiannya ketika ponsel di celana yang masih tergeletak di lantai berbunyi. Raymond agak tersentak, begitu juga Angel. Dia melirik gelisah ke asal suara itu.

Tergesa .. Raymond berjongkok dan merogoh ke dalam saku celananya. Dia mengeluarkan ponsel yang masih berbunyi itu dan memperhatikannya sejenak.

"Leader ... ", bisiknya pada Angel. Sangat halus, seakan takut terdengar oleh dinding bisu.

Mulut Angel terbuka perlahan. Dia mengeleng kearah Raymond. Berharap pemuda itu tidak salah menjawab.

Raymond mendesah halus, kemudian menekan tombol di ponsel, dan membawa ponsel itu ke telinganya.

"Hello! .. Leader! ... Saya?", berhenti sebentar dan berpaling kearah Angel. Wanita itu mengelengkan kepala keras-keras.



"Saya sedang dalam perjalanan ke kantor!", akhirnya jawaban ini yang keluar dari mulut Raymond. "Tadi saya ada keperluan sebentar di luar .. Tidak! .. Saya tidak memberitahu yang lain ... Iya! .. Jangan khawatir, saya akan tiba lima menit setelah kalian ... ok, bye ... ".

Raymond menutup ponselnya. Dia menghembuskan nafas perlahan. Begitu juga Angel. Sepasang matanya terpejam. Dia merasa lega. Lega karena Raymond bersedia berbohong demi dia.

"Thank you ... ", ucapnya halus.

------------------------------------


Goo Hye Sun .....

Kantor koran 'Daily News' .....
Berita terbaru dari peristiwa tragis pendirian gedung 'Great Building & Seoul Spirit' akhirnya keluar juga. Dua perusahaan besar yang bersangkutan dalam pendirian gedung tersebut, beserta beberapa sponsor utama mengadakan konferensi pers untuk menjelaskan dan memperbaiki berita simpang siur yang beredar di masyarakat, sore harinya.

Aku ditugaskan direktur Park, kepala bagian departemen berita utama/headline, dimana aku ditempatkan, untuk meliput berita itu. Tampangku langsung cemberut begitu mengetahui tugas yang diembankan padaku. Aku tidak suka dengan tugas itu.

Bekerja di luar lapangan sangat menguji kecepatan dan kecermatan sistem kerja. Dan itu semua di luar kemampuanku. Seperti diketahui, aku hanyalah seorang wartawan junior yang ceroboh dan tidak berpengalaman. Semua tugas luar lapangan yang diserahkan ke dalam tanganku pasti berakhir mengecewakan.

Tugas meliput permulaan peristiwa tragis itu begitu. (data-data yang kuperoleh sangat sedikit, sedangkan Hyo joo yang lebih berpengalaman tidak membantuku, bahkan ... aku sampai menjatuhkan ponsel ke dalam cangkir kopinya .. => sampai di sini, aku tersenyum perlahan ..).

Dan .. tugas meliput berita pemalsuan surat waris yang dilakukan Mr. Han, pengacara keluarga Song, terhadap kliennya, nyonya Song tua, yang mengakibatkan skandal perselingkuhan antara Mr. Han dan Mrs. Song, menantu dari nyonya Song tua itu, terbongkar, juga berakhir seperti itu. (semua perlengkapan perangku, termasuk kamera, mesin perekam, sampai alat pendeteksi arah, yang seluruhnya milik perusahaan, tertinggal dalam bis yang kutumpangi. Kalau saja Sammul tidak mengeluarkan suara, membelaku, mungkin aku sudah dilabrak habis-habisan oleh direktur Park waktu itu. Dan beruntung keesokan harinya, semua perlengkapan itu dikembalikan oleh petugas kantor bis. Dan sekali lagi, ini karena pertolongannya).

Lee Min Ho!!! .. Aku teringat kembali padanya. Sudah berapa lama kami tidak bertemu? .. Dua hari? .. Tapi .. mengapa aku merasa sudah berbulan-bulan? .. Mengelikan sekali .... Aku ingin sekali bertemu dengannya, sehingga .. begitu mendengar nama 'Great Building & Seoul Spirit' semangatku langsung kembali. Wajahku yang cemberut berubah ceria. "Mungkin dia akan berada di sana! .... Tentu saja dia akan berada di sana! Dia arsitek yang bertugas merancang gedung itu, jadi dia harus berada di sana!", paksaku dalam hati.

Selain aku, Hyo joo juga ditugaskan meliput berita itu. Tidak! Lebih tepatnya lagi dia memaksa ikut denganku. Dia mengemukakan berbagai alasan yang akhirnya terpaksa diterima oleh direktur Park. Kami berangkat sekitar pukul tiga sore. Dan seperti biasa, semua perlengkapan dalam tas besar diberikan padaku, sedangkan Hyo Joo hanya menenteng tas kecilnya yang bermerk terkenal. Aku mendesah perlahan. Tidak bisa membantah karena .. inilah aku.

--------------------------------------


Lee Min Ho ...

Kantor 'Great Building Korea', pukul 03:00 sore ...



Aku meletakkan sketsa Florest Hotel yang sudah kurubah berulangkali ke meja kerja. Pandanganku agak kabur karena terlalu lama berkutat dengan sketsa rumit itu. Aku melepaskan kacamata dan meletakkannya ke meja. Dengan jempol dan jari telunjuk, aku memijit-mijit pelan tulang hidung bagian atas, berusaha menyegarkan pandangan dan pikiran yang sumpek.

perlahan, ketukan di pintu mengalihkan perhatianku .. tok .. tok .. tok ...

"Masuk!!"

Pintu ruang kantor dibuka dari luar. Raymond memasuki ruangan dengan agak gugup. Entah apa yang terjadi dengan anak ini! Seharian sikapnya sangat aneh dan banyak kesalahan yang dilakukannya. Tidak biasanya dia seperti ini.

"Leader mencariku?", tanyanya pelan.

"Kamu tidak apa-apa kan?", aku balas bertanya.

Raymond melebarkan matanya, "Maksud leader?"

"Kamu kelihatan pucat dan .. gugup ... Kesalahan-kesalahan tidak berarti dan tidak biasanya kamu lakukan terjadi semua ... "

Raymond mengigit bibir perlahan, "Tidak, saya baik-baik saja! ... Hanya .. mungkin karena kurang tidur ... "

Aku langsung menepuk kening dan mengeluarkan suara 'AHH', "Benar!! .. Sorry, saya lupa kalau kemarin malam kamu menemani Angel! .. Saya berharap dia tidak menyusahkanmu! ... Dia belum bangun ketika saya keluar rumah ... Kemarin malam dia bermain sampai larut malam kan?"

Raymond tidak menjawab pertanyaanku. Dia kelihatan semakin gugup. Aku tersenyum perlahan. Mungkin dia benar-benar kurang tidur. Angel bisa sangat gila kalau sudah kecewa. Dan saya tahu kemarin malam dia sangat marah.
"Terimakasih karna kamu telah menjaganya semalaman, Ray .. ". Aku menepuk bahu Raymond sebanyak dua kali.




Dia tetap tidak menjawab pertanyaanku. Kepalanya tertunduk dan pandangannya terpusat ke lantai yang dilapisi permadani tebal.

"Jadi maksud leader memanggilku?", tanya Raymond, berusaha mengalihkan pembicaraan ke masalah lain.

Aku menghela nafas perlahan. Mungkin Raymond dibuat kesal oleh Angel tadi malam sehingga dia kelihatan enggan mengungkit peristiwa semalam.

"Oh ya .. rancangan gedung 'Great Building & Seoul Spirit' perlu dirubah bagian atasnya .. "

"Apaaa??", Raymond segera mengangkat kepalanya, "Tapi mengapa? Masalahnya kan tidak terletak pada rancangan kita?"

"Itu atas permintaan dari kedua belah pihak! .. Mereka tidak puas dengan hasil rancangan dulu .. "

"Tapi .. itu kan sudah disepakati sebelum pendirian gedung itu! .. Bagaimana mungkin sekarang baru mengungkapkan rasa tidak puas terhadap semua rancangan itu? ... Apa mau mereka? Setelah semua kejadian itu terjadi .. ohh .. ". Suara Raymond terdengar makin keras.

Aku mengangkat bahu, "Kita tidak punya pilihan lain .. "

"Jadi .. leader menyetujuinya?"

Aku menghembuskan nafas kuat-kuat.
"Fuhh .. sudah kubilang kita tidak punya pilihan lain! .. Saya tidak ingin berselisih lagi dengan mereka, lakukan saja apa yang mereka kehendaki!! .. Proyek Florest Hotel sudah sangat menyita tenagaku, .. Aku masih tidak bisa menentukan laut buatan itu akan ditaruh dimana huhhh ... Hari-hari yang melelahkan!!"

Raymond memperhatikanku dengan seksama.
"Tidak seperti leader ..!!"

"Apa?", tanyaku padanya.

"Menyetujui pendapat orang! ... Merubah desain sendiri dengan begitu mudah! .. Sama sekali bukan leader yang saya kenal!"

Aku tersenyum kecut mendengar perkataan Raymond.
"Mungkin saya sudah berubah, Ray! ... Sejak menginjakkan kaki di sini, saya berubah secara perlahan ... Tapi itu tidak buruk kan? .. Saya tidak keras kepala lagi seperti dulu!! Itu akan lebih memudahkan kelancaran proyek-proyek kita ... "

"Tapi .. saya lebih menghargai leader yang dulu ...", kata Raymond pelan.

Aku menghela nafas perlahan.
"Orang tidak bisa selalu berpaling ke belakang, Ray .... Semua akan berubah seiring perkembangan waktu, .. begitu juga saya! .. Saya hanya orang biasa, ... begitu ada sesuatu yang merubahku, aku tidak bisa menghindarinya ... "

Raymond menatap lekat padaku. Sinar mata bertanya terpancar jelas dari matanya. Itu wajar, karena tidak biasanya aku berfilsafat panjang lebar begitu. Aku tersenyum perlahan. Kemudian aku meraih mantel panjang yang tersampir di kursi kerja dan menepuk pelan punggungnya.
"Saya pergi dulu! ... Ada yang harus kulakukan sekarang, .... Soal perubahan desain gedung itu saya serahkan ke tangan kalian, kerjakan saja dulu! .. Saya akan memeriksanya besok!"

Aku berjalan kearah pintu dan bermaksud keluar dari ruangan itu, tapi tertunda oleh perkataan Raymond selanjutnya.
"Leader akan menghadiri konferensi pers sore ini?"

Aku berbalik ke belakang dan menghadapinya.
"Tidak! .. Konferensi itu tidak ada sangkutpautnya dengan bidang kita! .. Mereka semua sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan peristiwa yang sebenarnya terjadi!", aku berhenti sejenak, keningku berkenyit sambil melanjutkan perkataanku yang tertunda, ".. Saya akan ke gedung 'Great Building & Seoul Spirit', ada yang ingin kuperiksa di sana ... mungkin .. ada ide yang akan didapatkan di sana sehubungan dengan bagaimana merubah rancangan gedung itu ..."

Aku berdiri dalam posisi itu selama beberapa menit. Kuperhatikan Raymond, tapi dia tidak mengeluarkan suaranya.
"Lakukan saja yang kuperintahkan padamu! .. Saya pergi sekarang!"

Aku membalikkan badan dan keluar dari ruangan itu. Ketika berada di lorong luar, aku meliriknya lewat jendela kaca yang gordennya terbuka. Raymond masih berada dalam posisi semula. "Dia terlihat aneh hari ini .. ", gumamku dalam hati, sambil melanjutkan langkahku, menuju lift yang terdapat di luar kantor bagian desain itu.

------------------------------


Goo Hye Sun ....

Konferensi pers akan dimulai sekitar jam empat sore. Aku dan Hyo joo tiba di sana, sepuluh menit lebih awal. Kami mendapat tempat di tengah ruangan. Semua wartawan dari berbagai media, baik koran, televisi maupun radio, dan orang-orang yang berhubungan dengan peristiwa itu sudah mengerumuni ruangan ini. Semua dari mereka saling berbisik satu sama lain. Sesekali sinar blitz berkelebat di ruangan itu. Para wartawan rupanya sedang mencoba kamera-kamera di tangan mereka. Konferensi pers ini sangat menarik perhatian mereka.

Aku memejamkan mata perlahan. Suasana di sini sangat berisik, dan aku dibuat tidak tenang. Aku membuka mata, setelah berhasil menenangkan perasaan untuk sejenak, kemudian aku melirik Hyo Joo yang duduk di sampingku. Dia kelihatan tenang dan tidak terpengaruh keadaan sekelilingnya.

Sepuluh menit kemudian ....

Orang-orang dari 'Great Building' dan 'Seoul Spirit, co.', juga beberapa sponsor utama, memasuki ruangan dan mengambil tempat di depan panggung yang sudah disiapkan sebelumnya oleh pihak penyelenggara.

Aku mendesah perlahan. Mengapa aku tidak melihatnya? Mengapa dia tidak berada di antara orang-orang itu? .. Bukankah dia bagian dari 'Great Building'? Bukankah dia punya kedudukan yang cukup penting? .. Tapi .. mengapa dia tidak menghadiri konferensi pers ini? .. Mengapa? ...

Aku tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mulai berkelebatan dalam pikiranku. Pandanganku mulai mengabur. Acara selanjutnya tidak tertangkap oleh pendengaranku. Penjelasan-penjelasan dan perkataan-perkataan dari mereka yang berada di atas panggung, lewat begitu saja dari perhatianku.

Yang kupikirkan hanya DIA. LEE MIN HO!! ... Berada di mana dia sekarang? Apa yang dilakukannya? Apakah dia memerlukan pertolongan seseorang? Dia kelihatan aneh dan tertekan pada perjumpaan kami yang terakhir!! .. Bagaimana mungkin dia mengakui aku sebagai pacarnya di depan Sammul?! Itu aneh kan? .. Dia pasti sedang tertekan! .. Tapi .. apakah dia memang memerlukan pertolongan seseorang? .. Dan kalaupun benar begitu, orang itu pasti bukan aku ...

Aku mengeleng cepat. 'BUKAN AKU!!!', teriakku dalam hati. Kugigit keras bibir bagian bawah, 'Pasti bukan aku!!', sahutku, lebih pelan dari tadi.



Senggolan keras di lengan kanan, segera menyadarkanku dari lamunan. Aku berpaling ke sebelah. Hyo Joo memandang tajam padaku.
"Kamu tidak mengambil gambar-gambar mereka? .. Dan .. ohhhh .. apa yang kamu lakukan dengan kertas dan pensil di tanganmu itu? .. Kamu tidak menuliskan apapun di sana!! ... Dan .. tuhan!!! .. Alat perekammu belum dinyalakan???!!". Mata Hyo Joo terbelalak lebar padaku. "GOO HYE SUNNN!!!", teriaknya keras.

Beberapa wartawan di sekeliling kami mulai menoleh dan mengerutkan wajahnya. Aku menjadi gugup dan memandangi Hyo Joo dengan tampang bersalah.
"Soseongheyo .. Saya .. saya tidak terbiasa dengan acara meliput berita seperti ini ..."

Hyo Joo memejamkan mata perlahan.
"Kamu ... ", nada suaranya ditekan, kemudian dia membuka mata dan memandangiku seakan ingin menelanku ke dalam perutnya, " .. untung saya sudah merekam semuanya .. Jika hanya mengharapkanmu, saya bisa dibunuh direktur Park!!!"

"Soseongheyo ... ". Kepalaku tertunduk semakin dalam.

"Sudahlah!! ... Acaranya sudah selesai, .. kamu pulang dulu dan bawa semua data-data ini! ... Saya masih ada keperluan lain. Jika direktur Park bertanya padamu, .. bilang saja .. hmmm .. masih ada yang harus kuliput berkaitan dengan berita ini dan kamu pulang duluan karena data-data yang harus segera kamu klasifikasi. Ingat!! Jangan sampai salah ngomong!!"



Hyo Joo berdiri dari tempatnya. Setelah memperbaiki jeans dan kaos ketat yang menempel di tubuh, dia meninggalkanku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak bisa membantah karena aku memang tidak mampu. Yang bisa kulakukan hanya terngangga dengan tampang bodoh di kursi yang kududuki.

Para wartawan lain juga mulai meninggalkan ruangan itu satu persatu. Sedangkan orang-orang yang berada di atas panggung ternyata sudah keluar dari ruangan itu lima menit yang lalu tanpa kuketahui. Aku menghembuskan nafas perlahan.

Dengan lemas, aku memasukkan semua peralatan yang berserakan di lantai dan kursi yang diduduki Hyo Joo ke dalam tas besar yang kubawa. Tas itu terasa berat ketika kuangkat. Sekali lagi aku menghembuskan nafas perlahan. Kusilangkan tas besar itu di depan dada dengan tangan kanan, sedangkan tangan satunya lagi menjinjing tas yang lebih kecil. Aku keluar dari ruangan itu dengan agak sempoyongan. Maklum, bawaanku terlalu banyak dan aku terlihat seperti orang mabuk. Kalian bisa membayangkan bagaimana keadaanku? ... Ha .. ha .. ha .. gadis konyol yang menyedihkan!! Tapi dia menyukaiku!! I guess, ..  maybe ............ Aku juga tidak tahu .. huhhhh ...........

---------------------------------



Lee Min Ho ...........

Pukul 06:12 sore ......
Setelah keluar dari kawasan gedung 'Great Building & Seoul Spirit', aku menuju ke sudut selatan kota Seoul dengan Cadillac hitam yang dipinjamkan perusahaan. Mendadak aku merindukan ibu dan ingin menghabiskan waktu malam ini bersamanya. Dan tempat yang membuatku merasa dekat dengannya hanya tempat tinggal kami dulu.




Aku tersenyum perlahan. Hasil dari pemeriksaan tadi cukup memuaskan. Aku sudah mempunyai sedikit gambaran bagaimana merubah struktur atas gedung itu. Kulajukan mobilku semakin cepat.

Aku tiba di sudut kota yang masih dalam proses pembangunan itu sekitar dua puluh menit kemudian. Lampu-lampu dari jalan, taman dan gedung-gedung bertingkat di sana mulai dinyalakan. Sinarnya yang berwarna-warni, berkedip-kedip lembut di sore menjelang malam hari itu. Kelihatan sangat indah, dan menyambut Natal yang sebentar lagi akan tiba.

NATAL!! .. Mengingat ini, aku tersenyum kecut. Sudah berapa lama sejak perayaan Natal paling berkesan dalam hidupku? ... Mungkin sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu!! ... Natal-Natal dalam sepuluh tahun terakhir tidak tertanam dalam hatiku. Hanya aku habiskan dengan makan malam bersama ayah, selama enam tahun, dan Angel, selama tiga tahun. Tidak ada yang istimewa.

Berbeda ketika ibu masih hidup. Beliau selalu memanjakanku dengan makanan lezat yang terlihat sederhana, juga hadiah hebat dan menarik yang terlihat kecil dan tidak berarti. Apa itu? ... Hmm .. apakah kalian pernah dihidangkan makanan-makanan khas daerah pedalaman? Aku tidak pernah melihat makanan-makanan itu sebelumnya! Karena itu aku sangat terkejut dan menitikkan airmata waktu itu. Aku yakin kalian tidak pernah mengalaminya!

Lalu .. apakah kalian pernah mendapat hadiah berupa sweater sulaman tangan sendiri? Robot kayu buatan sendiri? Atau bingkai foto yang dibuat dari kayu harum karena rendaman berpuluh macam bunga? Yang di belakangnya terdapat pesan 'Simpan kenanganmu bersama orang yang paling kamu cintai'! ... Pernahkah? .. Saya yakin kalian juga tidak pernah mendapat hadiah-hadiah seperti itu.

Semua itu ibu berikan dengan hati tulus dan tanpa pamrih. Aku sangat terharu setiap mendapat kejutan-kejutan dari ibu. Aku sangat mencintainya. Dia lebih dari segalanya bagiku. Seorang ibu dan juga pelindungku. Dapat kalian bayangkan kan bagaimana tersiksanya hatiku ketika ibu meninggalkanku?

Aku keluar dari mobil, dan menyandarkan punggungku di sana. Sejenak, kuedarkan pandangan ke seputar tempat itu. Tidak berubah dengan kedatanganku tiga hari yang lalu. Kemudian aku menunduk perlahan. Kugali tanah gembur di bawah kaki dengan sepatu kulitku.



Tiba-tiba ... sebuah telapak tangan mendarat keras di lenganku ............

"Lee Min Hooo??"

Panggilan mendadak itu membuatku segera mengangkat wajah. Dan ...

"Goo Hye Sunnn??", teriakan yang tidak kalah keras keluar dari mulutku.

Kami berpandangan dengan tampang melonggo. Mulut yang sama-sama terbuka dan sepasang mata yang berkedip berulangkali.
 
"A .. apa .. yang kamu lakukan di .. sini?", tanyaku gugup.

Hyesun tidak menjawab. Matanya masih terbelalak lebar. Dia mungkin sangat terkejut dengan keberadaanku di sini, begitu juga denganku.

Setelah berhasil mengendalikan diri, aku mulai mengamatinya. Dia masih setia dengan dandanannya yang sangat khas. Kacamata tebal, wajah halus terpoles bedak tipis dan gaun panjang sederhana menempel di tubuh mungilnya. Bedanya kali ini, dia cukup cerdik dengan membungkus tubuhnya dengan jaket. Dua kantong plastik besar tampak terjinjing di tangannya. Aku melirik dua kantong plastik itu sekilas, kemudian kembali memandanginya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?". Aku mengulangi pertanyaan tadi.

Hyesun berdehem kecil setelah sadar dari keterkejutannya. Dia meletakkan dua kantong besar di tangannya ke kap mobil bagian depan, kemudian menghadapiku.
"Saya tinggal di sini ... ", jawabnya.

"MWOOOO??". Aku yakin kalau bola mataku sudah seperti akan meloncat keluar dari rongga mata ketika mendengar jawabannya. "Apa katamu?", sambungku, keras.

"Saya tinggal di sini ... ", Hyesun mengulangi jawabannya. "Lalu .. mengapa kamu bisa berada di sini?", dia balas bertanya.

"Saya .. ". Aku tertegun, dan tidak mampu meneruskan perkataan itu. Aku kembali mengamatinya lekat-lekat. Dia mulai terlihat grogi. Sepasang matanya melirik ke segala arah dan pipinya mulai merona merah.

Aku tersenyum perlahan dalam hati. Mengapa dia selalu terlihat mempesona jika sudah malu-malu seperti ini? Aku sangat merindukannya! Sungguh mati aku sangat merindukannya! Aku ingin sekali menarik tubuh mungilnya dan membawa tubuh itu ke dalam pelukan! Memberi kehangatan padanya. Dia terlihat kedinginan dengan balutan jaket yang tidak begitu tebal itu. Atau .. itu hanya perasaanku saja?

Tapi .. tentu saja aku tidak mungkin melakukannya. Bahkan ciuman di apartemen itu sudah merupakan kesalahan besar! .... Aku tidak ingin menyakitinya! Bidadari rapuh seperti ibu! .. Iya, dia terlihat sangat mirip dengan ibu. Apakah itu yang membuatku suka padanya? Mungkin! aku juga tidak tahu ...

"Ayo, kita berbicara di situ saja!".

Aku menyentuh lengannya dan menunjuk kursi panjang dari kayu yang terdapat di pinggir jalan. Hyesun mengikuti arah telunjukku. Dia mengangguk perlahan. Tangannya bergerak, meraih kantong besar yang tadi diletakkannya di depan kap mobilku. Aku mendecak keras dan merampas dua kantong besar dari tangannya.
"Barang-barang ini tidak akan diambil orang!!", kataku tidak sabar. Dia memandangiku dengan pasrah. "Sebenarnya kamu habis dari mana?", sambungku.

"Saya habis belanja dari supermarket .. ", jawabnya pelan, "Benar tidak masalah ditaruh di situ?", lanjutnya ragu-ragu.

Aku menghembuskan nafas kuat-kuat. Sambil memejamkan mata perlahan, aku membuka pintu mobil dan menaruh dua kantong plastik itu ke bangku jok depan.
"Kalau begini kamu tidak khawatir lagi kan?"

Aku berpaling kearahnya dan mendapati dia tersenyum padaku.




"Kamu ini .. ". Tanganku terulur, dan mengetok pelan kepalanya. Dia menunduk malu-malu. Pipinya mulai merona merah lagi.

"Ayo kesana!!". Aku meraih dan mengandeng tangannya. Mengajaknya menuju kursi panjang yang terletak tidak begitu jauh dari situ.

-------------------------------------


"Jadi benar kamu tinggal di sini?", tanyaku, ketika kami sudah duduk di kursi panjang yang menghadap ke beberapa gedung baru.

Hyesun tidak menjawab. Dia hanya mengangguk perlahan. Tangannya kemudian terangkat, menunjuk salah satu gedung yang berada di tengah, antara gedung-gedung lain yang sedang dalam tahap pembangunan.
"Di situ ... ", jawabnya kemudian, sangat pelan.

"Mwooo?", teriakku keras.

Hyesun langsung berpaling padaku.
"Wegude?"

Aku menatapnya. ".. Karena .. karena ... itu tempat lahirku ... ", jawabku halus.

"Mwoo?", mata Hyesun terbelalak lebar. Kemudian dia memperpelan suaranya ketika melihat tampangku yang berubah sendu, "Gwencana .. ?"

Aku merasakan tangannya menyentuh lenganku. Dan sepasang matanya yang bening menatap dalam ke mataku. Begitu menenangkan dan menyejukkan. Kemudian aku mengalihkan pandangan ke depan, terarah ke gedung-gedung kelam, beberapa puluh meter di sana.



"Sepuluh tahun yang lalu .. apartemen itu merupakan sebuah rumah sakit tua ..", jariku menunjuk apartemen yang tadi ditunjuk Hyesun. "Ibu ... ", aku berpaling padanya, "Maksudku .. omma, .. dulu bekerja di rumah sakit itu .. dan aku dilahirkan di situ juga .. "

"Gedung itu baru didirikan dua tahun yang lalu ... ", kata Hyesun, seakan ingin menjelaskan kapan rumah sakit tua itu dibongkar.

"Jadi .. dua tahun yang lalu ... ", kataku dengan senyum kecut.

"Kamu .. kamu memiliki banyak kenangan di sini?"

Aku tidak menjawab pertanyaannya. Telunjukku terarah ke depan, menunjuk pada bangunan tua yang terletak di sudut paling kiri jalan. Bangunan dari bata merah itu terlihat kumuh.

"Dulu ayah bekerja di situ ... "

Hyesun mengikuti arah telunjukku.
"Itu kantor pengangkutan ... dan kalau tidak salah akan digusur pihak kontraktor bulan depan ...". Begitu sampai di sini, Hyesun segera berpaling padaku. Wajahnya berkerut dan matanya terpejam perlahan. Aku melihatnya memukul mulut sendiri. "Miane .. saya .. saya tidak bermaksud ... ". Kata-katanya berhenti sampai disini. Dia kelihatan sangat menyesal dengan perkataan yang terlontar begitu saja dari mulutnya.

Aku tertawa perlahan.  Suaraku bergetar dan tampangku semakin kecut.

"Miane .... ". Hyesun menundukkan wajah dalam-dalam.



Aku menoleh padanya.
"Itu bukan kesalahanmu, jadi kamu tidak perlu minta maaf ... "

"Tapi .. saya .. saya mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya saya katakan .. ". Hyesun mengangkat wajah perlahan, "Mianata, Minho-ya ... "

Untuk kesekian kali, aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. "Kamu lihat taman di belakang sana .. ?", aku berpaling ke belakang dan menunjuk ke taman yang masih dalam proses pembuatan, "Dulu ... saya dan beberapa teman sering bermain sepakbola di sana! ... Di situ terdapat lapangan rumput yang sangat luas ... Tapi sekarang sudah dirubah menjadi taman kota ... Sebentar lagi, daerah sini akan menjadi menjadi pusat perumahan yang ramai .... "

Kemudian aku menatapnya dalam-dalam. "Kamu tahu tidak?"

"Mwo?", tanyanya cepat.

"Saya tidak pernah menceritakan ini pada siapapun. Masa lalu dan semua kenangan pahit itu, hanya tertanam dalam hatiku selama ini ... ", aku tersenyum pahit, "Entah mengapa saya sampai mengeluarkannya padamu!!"

"Apakah benar semuanya hanya kenangan pahit?".

Pertanyaan itu sangat mengejutkanku.
"Mwooo?"

"Maksudku .. aku tidak menangkap sesuatu yang pahit dalam ceritamu. Semua masa lalu itu merupakan kenangan terhadap omma dan appamu kan? .. Jadi .. bagaimana mungkin kamu merasa semua itu merupakan kenangan pahit?"

Sekali lagi ... pertanyaan itu begitu menguncangku.
"Karena ... karena mereka meninggalkanku ... ", jawabku pelan, "Mereka meninggalkan kenangan manis pada masa kanak-kanak dan .. itu .. itu sangat pendek! ..... Kamu tidak bisa membayangkan bagaimana saya harus berjuang mempertahankan hidup, melawan semua tantangan dan badai yang menyerang pada masa remajaku .. Itu sangat sulit!! .. Kamu sama sekali tidak tahu apa-apa!!", suaraku mengeras. "Mereka juga tidak tahu apa-apa!! .. Mereka membiarkanku berjuang sendiri!!!". Aku mengarahkan tinju ke udara dan mengayunkannya dengan keras.

Hyesun tiba-tiba menaruh tangannya ke bahuku.
"Mungkin mereka juga tidak ingin begitu! ..", kemudian dia mengelengkan kepalanya keras-keras, "Tidak! Saya yakin orangtuamu tidak menginginkan hal itu terjadi. Jika mereka diberi kesempatan untuk memilih, mereka akan memilih menemanimu seumur hidup ..."

Aku menghentikan tingkahlaku seperti orang gila itu, dan berpaling kearahnya. Memandanginya dengan sinar mata bertanya.
"Maksudmu?"

"Saya yakin semua orangtua seperti itu.", Hyesun tersenyum perlahan. Senyum yang sangat menyejukkan. "Kamu masih beruntung memiliki kenangan-kenangan manis itu, sedangkan saya ... ", dia berhenti selama beberapa detik. Aku memandanginya dengan kening berkenyit. "Kamu tahu kalau omma dan appa bukan orangtua kandungku?", dia bertanya tiba-tiba.

Mataku langsung terbelalak lebar. "Mwo?"

Hyesun terkekeh perlahan. Tidak terpancar kesedihan atau penyesalan dari paras lembut itu.
"He .. he .. kamu tidak perlu terkejut, saya tidak sedih atau menyesalkan kenyataan ini. Mereka sangat menyayangiku. Begitu juga Jihoon oppa .. karena itu saya tidak bisa menolak keinginan mereka ...".

Aku mengerti arah pembicaraannya. Ya, keinginan mereka supaya dia menjadi seorang wartawan terkenal. Sesuatu yang sama sekali tidak disukainya.

" .... yang saya sesalkan .. saya tidak pernah tahu bagaimana tampang orangtua kandungku ...", suara Hyesun memelan. Wajahnya menjadi sendu, "Saya tinggal di panti asuhan sejak bayi .. dan diadopsi oleh omma dan appa ketika berusia lima tahun ... Suster yang mengasuhku pernah mengatakan kalau orangtua kandungku meninggal dalam kecelakaan pesawat ketika saya masih bayi .. dan saya tidak mempunyai keluarga lain sehingga harus dimasukkan ke panti asuhan ... "

Aku hanya bisa membisu ketika mendengar cerita Hyesun. Ceritanya sangat menyentuh hatiku. Kalau dibandingkan dengan masa lalunya, semua yang telah terjadi padaku bukan apa-apanya.




Benar kata Hyesun, paling tidak aku masih memiliki kenangan-kenangan manis bersama appa dan omma. Mengapa aku masih menyalahkan nasib? Memang benar perjuanganku sangat berat! Tapi ... bukankah appa sudah meringankan bebanku dengan meninggalkan uang hasil dari pembayaran asuransi kematiannya?

"Jika bukan karena uang itu, apakah kamu bisa meneruskan kuliahmu? Apakah kamu bisa menjadi arsitek seperti keinginanmu?", teriakan-teriakan itu seperti menyadarkanku dari penyesalan-penyesalan yang selama ini menghantui hidupku.

Aku duduk dengan tubuh tegak. Hyesun masih memandangiku. Sekarang dia kelihatan khawatir.
"Gwen .. gwencana ..?", tanyanya.

Aku tersenyum dan .. tiba-tiba memeluknya erat-erat.
"Gumawo ..", kataku sambil mempererat pelukan di tubuhnya.

"Un .. untuk apa?", tanyanya gugup.

Aku melepaskan pelukanku dan memandanginya dengan mata bersinar.
"Untuk semuanya! .. Semua yang kamu katakan padaku!"

"Kamu .. kamu tidak marah?"

Mataku menyipit, "Mengapa saya harus marah?", aku balas bertanya.

"Karena .. saya seperti menguruimu ..", jawabnya pelan.

"Ha .. ha .. ", aku tertawa renyah. "Apa yang kamu katakan benar adanya, jadi .. mengapa saya harus marah?"

Hyesun mengeleng keras. Dia kelihatan kebinggungan dengan pertanyaanku.
"saya .. saya tidak tahu ... "

Aku menghentikan suara ketawaku dan memandanginya dengan seksama. Tanpa sadar, aku mengulurkan tangan ke depan dan menyentuh wajahnya.
"Saya tidak marah .. ", kataku. Dan .. aku sangat terkejut ketika mendapati suaraku berubah lembut dan penuh perasaan. "Gumawo .. "

Hyesun sangat terkejut, kemudian dia mengangkat wajahnya yang tadi tertunduk ke bawah. Sekarang pandangan kami bertemu. Sangat dekat, hanya berjarak beberapa senti. Sinar matanya yang meredup begitu memukau. Bibirku terbuka perlahan. Mengapa dia selalu terlihat begitu .. begitu ajaib? Pipinya yang merona merah dan bibirnya yang berkilat tanpa perlu dioles lipgloss, seperti menantangku untuk menyentuhnya. Tapi, aku tidak boleh melakukannya kan? Dia bukan milikku. Akan sangat tidak adil kalau aku menyentuhnya.

Lagi-lagi dia terlihat sangat rapuh. Sangat mirip dengan ibu. Bahkan, dia juga anak yatim piatu seperti ibu. Ketika aku menyelusuri wajahnya dengan tanganku, sepasang mata redup itu terpejam perlahan.

"Dia menantikan ciumanmu, Minho-ya! .. Ayo, tunggu apa lagi?", kata sebuah suara dalam hatiku. Aku mengeleng keras, "TIDAKK!! Jika aku melakukannya, hubungan kami akan menjadi lebih rumit lagi!!! Dan ini tidak adil baginya!", teriakku dalam hati.

"Tapi kamu mengharapkannya kan Minho-ya?! .. Jujur saja kalau kamu sangat merindukannya?", suara itu terdengar lagi.

Aku tertegun, dan kembali mengamati wajah malaikat di hadapanku. Tanganku masih mengelus lembut pipinya, dan posisi wajahnya yang agak mendongak membuatku menelan ludah perlahan.

"Ini kesalahan kan? ... Ini bener-bener kesalahan kan?". Aku berusaha meneriakkan kata-kata ini dalam hati. Tapi tetap, pertahananku jebol juga.

"Persetan dengan aturan! Persetan dengan semuanya! Apa salahnya kalau dia bukan pacarku? Aku menginginkannya, SEKARANG JUGA"

Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Dapat kurasakan hembusan halus nafasnya yang agak tertahan. Apakah dia kelihatan gugup? Tentu saja! karena dia memang selalu begitu. Bidadariku yang menarik karena kepolosan dan cerobohannya. Mungkin semula aku sangat sebal dengan semua kecerobohannya. Tapi ... setelah dipikir lebih lanjut, karena sifatnya itu pula yang membuatku panas dingin. Aku bisa tertawa dan sekaligus marah karena semua kecerobohannya.

Wajahku semakin mendekat ke wajahnya. Sampai hidungku menyentuh hidungnya, sekujur tubuhnya langsung menegang. Aku membuka bibir perlahan, dan mendaratkan ciuman ke bibirnya. Dia mendesah halus. Kemudian aku melumat bibirnya dengan lembut. Bibirnya agak terbuka, seperti menanti ciuman yang lebih bergairah dariku.




Aku menjulurkan lidah ke dalam mulutnya. Dia mendesah semakin keras. Kulingkarkan lengan ke lehernya dan semakin memperdalam ciumanku. Rongga mulutnya terasa hangat dan panas. Aku ikut mendesah pelan. Aku mengunci wajahnya dan melumat bibirnya dengan gairah tinggi.

Kemudian .. samar-samar .. telingaku menangkap bisikan-bisikan halus dari sekeliling kami. Aku membuka mata perlahan. Nafasku masih memburu akibat ciuman bernafsu tadi. Aku melirik Hyesun, yang masih berada dalam pelukanku. Sepasang matanya juga terbuka. Mungkin dia juga terganggu dengan suara berisik di sekeliling kami.

Secara bersamaan, kami mengedarkan pandangan berkeliling. Orang-orang yang lewat di situ sudah mengelilingi kami. Mereka saling berbisik satu sama lain. Tangannya menunjuk kearah kami berulangkali sambil tersenyum simpul.

Hyesun langsung melompat bangun dari tempat duduknya. Dia berlari kearah mobilku sambil menutupi wajahnya dengan tangan.

"HYESUN-YAAAAAAAA ... ", panggilku keras.




Tapi dia tidak berpaling padaku. Aku melihatnya membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Aku berlari ke sana tanpa memperdulikan tudingan berpuluh pasang tangan padaku. Aku membuka pintu mobil dan duduk di sampingnya.

Wajah Hyesun terlihat pucat. Aku menyentuh lengannya, tapi dia segera menutup telinga rapat-rapat dengan sepasang tangannya.

"Saya tidak mau dengarrr!!!", teriaknya keras.

Aku mendesah perlahan.
"Hyesun-yaa ... "

Dia tidak menanggapiku. Tangannya masih dirapatkan di telinganya. Sepasang matanya terpejam rapat.

"Miane ... ", kataku pelan.

Kemudian .. hanya keheningan yang menyelimuti Cadillac hitam itu. Kami sama-sama tidak mengeluarkan suara. Hanya berkutat dengan pikiran masing-masing. Dewi malam mulai menutupi tempat itu. Hyesun bergerak perlahan. Dia meraih dua kantong plastik yang tadi kutaruh di situ.

"Saya .. saya harus pergi sekarang ... ", ujarnya, pelan.

"Deeee??". Mataku melebar, menatap lekat kearahnya.




Bagaimana mungkin dia berniat pergi begitu saja dari sini tanpa mendiskusikan terlebih dahulu insiden yang terjadi tadi?

------------------------

TO BE CONTINUED

  
 
« Last Edit: April 10, 2010, 11:08:01 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline neiya

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1006
  • Location: depoook
    • View Profile
First coment^^


Mi mamiii.. Next chaptnya pokonya c angel ama reymonnya udaa ketauan ya mi ama c mino!


Hm.. Aku suka bgt dh sa adegan yg terakhir :p hihi.. Ciyuman di tengah" orang.. Co cwit ^^

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
Ohhhh... Aku mau jatuh dari kursiku pas tau mami udpate TDC hari ini..
Sedangkan ABMS last part buat chap 10 belum kutulis sama sekali...  [heh] [heh]

Mam... Jadinya tunggu mami update yg bengkok" aja yaaa...  [biggrin] [biggrin] [biggrin]

MAMMMM... I LOVE THIS CHAPTER!
Walaupun memang gk ada adegan terlalu hot nya...
but... so sweet banget!!!
setuju deh sama neiya...

mungkin di hari ke30 ada adegan di kamar apartemen minho ya miii...  [on] [on] [drool] [drool]
haha...  [biggrin] [biggrin]

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
 [clap] [clap] [clap] [clap] Thx Dah Update FF yg dah 2bulan tak terjamah ini yakk mi  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]  [head break] [head break] [head break] [head break] [head break].
mkin seru ja niy ff,, mantebz dah mi.. n dtunggu update'an ff yg lainya jg yakk mi..oke punk punk punk punk
wah,, psti mami bru slsai puyengnya deh bis mkirin niy FF  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh], semngat mi,, maknyuzz dah niy ff. [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
mam tak kusangka dikau update yg ini duluan malah yg 2 ff u yg baru di telantarin  [head break] [head break] [head break] [head break] [hmff]

mi sip dah neh chapter mulai dalem [lovestruck] tapi mi ada sedikit koreksi neh  [hmff]

karena tidak biasanya aku berfirasat panjang lebar begitu

bukannya filsafat yah  [biggrin]

but secara keseluruhan mantaf dech ceritanya palagi pas kata2 yang ini

"Orang tidak bisa selalu berpaling ke belakang, Ray .... Semua akan berubah seiring perkembangan waktu, .. begitu juga saya! .. Saya hanya orang biasa, ... begitu ada sesuatu yang merubahku, aku tidak bisa menghindarinya ... "

bener tuh orang bisa berubah kl dia mau berubah atau ada yg merubahnya memang cinta seperti itu yh mi  [lovestruck]

sekali lagi gud jub mi buat perkembangan ceritanya palagi kl inget u dulu gak niat banget mo ngelanjutin neh FF  [hmff] [hmff] [hmff]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
annyong haseyo
LAM kenal semuanya...

buat mami thank dah diupdate [cheekkiss]
hehehe
aku suka bgd ma chap ini,
tp kok cuma bentar kiss-nya [hmff]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
oki, gw udah ga terlalu pusing lg ama ff in, jd ya ceritanya bisa berjalan lancar [hmpfh] [hmpfh]

karin, bener2 minta di [head break] [head break] [head break] deh, janjinya kan gw update ff yg mana aja elu jg mesti update, tdk ada kata [nono] [nono] ayo cepat update [smiley-gen013] [smiley-gen013] bengkok2 kan lum gw tulis sedikitpun [hmpfh] nah abms kan cuma tinggal last part jd lebih cepat update di elu dung drpd di gw [laughing] [laughing]

neiya, ciumannya sweet ya, pdhl si hyesun udah malu setengah mati ketahuan byk org [hmpfh] [hmpfh] .. ga janji deh say klu next chp hubungan angel dan raymond bakal ketahuan ama minho, kita lht bgmn kelanjutannya aja, gw masih lum ingin memikirkannya, fokus ama cerita yg lain dulu [biggrin]

hi virna, newbie ya, salam kenal jg hehehe .. thanks ya udah ngikutin ff ini [biggrin] kissnya bentar ya say, ya mau gimana lg, wkt asik2nya bikin mereka kiss, gw baru ingat klu mereka berada di tempat umum [hmpfh] jd mau ga mau mesti dicut ampe di situ karena ketahuan org byk [laughing] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
iya mam
aku newbie
tp aku udah lama ngikutin ff2ny mami...
mam,pm-in my everything yg m-ver dong,,hehehe [hmff]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
noona b, lol kok postingan elu kelewatan ama gw [hmpfh] [hmpfh] mian baru bisa merespon komentar elu [smiley-dance013] [smiley-dance013] iya filsafat [hmpfh] ~pantasan gw merasa aneh wkt bacanya, ternyata salah tulis toh ehhh salah artinya ya [laughing] [laughing] maklum say, indo yg pas2an ya spt ini [laughing] [laughing]

Quote
bener tuh orang bisa berubah kl dia mau berubah atau ada yg merubahnya memang cinta seperti itu yh mi 
dua2nya ada kaitannya say, org bisa berubah karena desakan keadaan spt yg dihadapi minho, sebuah tekanan yg berat dr pekerjaannya, capek dgn segala sesuatu yg spt memukulnya secara bersamaan ~lho berfilsafat kyk minho nih [hmpfh] [hmpfh] .. and of course because love too [smiley-gen013] [smiley-gen013]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
dasar kirain ketularan pikunnya hyesun di FFnya si bleh  [head break] [head break] [head break] [hmff]

mam tuh yg 2 lagi mana atuh lanjutannya  whistling

olaa virna akhirnya dikau nyemplung juga dimari  [hmff] [hmff] [hmff]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^