Author Topic: MinSun always  (Read 5276 times)

dara

  • Guest
MinSun always
« on: January 27, 2010, 11:38:07 pm »
ff MinSun pertamaku... tulung dibaca dan d komen yaahh.. [bye] [biggrin]

Share on Bluesky Share on Facebook


dara

  • Guest
Re: MinSun always
« Reply #1 on: January 27, 2010, 11:44:25 pm »
Hitam dan Putih
   [smiley-gen013]  [smiley-dance013]


CHAPTER 1

Goo Hye Sun melihatnya ketika cowok itu memasuki café Shinhwa. Keberadaannya tak mungkin tak disadari. Apalagi dengan rambut itu, hitam-mengkilat itu. Dan kebencian itu telah jauh meresap ke dalam setiap sel darah, menyalakan alarm dari kehadirannya. Mata coklat itu bak mata pemangsa yang seakan sanggup menembus, membaca pikirannya seperti buku yang terbuka. Darah Hye Sun mendidih dan rasa panas yang familiar mengalir melalui setiap pembuluh darah. Ya, hanya dengan menatap sosok itu, kebencian itu sekan menyeruak dan tak sanggup dia sembunyikan dari wajahnya.

Cowok itu tersenyum sinis. Tak heran. Mungkin hanya itu yang bisa dilakukannya selama dia hidup.

Lee Min Ho.

Si cowok popular, Prince Shinhwa menatapnya dengan pandangan benci yang sama, pandangan benci yang tak dapat dibandingkan kuantitasnya antara kebencian Hye Sun pada keparat itu atau sebaliknya. Seakan tak ingin menyimpan kebencian itu untuk dirinya sendiri, cowok itu berbisik dengan kedua sahabatnya, Kim Joon dan Kim Bum. Mereka menyeringai. Tentu saja. Mereka tak beda dan sama brengseknya dengan pemimpinnya.

Hye Sun memalingkan wajahnya berharap rasa panas itu segera hilang. Dia duduk di antara Kim Hyun Joong dan Lee Jun Ki, berusaha menghiraukan si rambut hitam brengsek itu seperti yang dilakukan kedua sahabatnya.

Tuhan, kebencian ini takkan pernah berakhir, Hye Sun sering berkata dalam hati. Benarkah seperti itu, dia bertanya-tanya. Hye Sun merupakan salah satu dari mereka yang percaya, manusia adalah abu-abu; tak ada yang hitam dan tak ada yang benar-benar putih. Bahwa yang terjahat pun dalam dunia ini mempunyai sisi putih walaupun sedikit kuantitasnya. Namun, Lee Min Ho adalah pengecualian. Dia seperti iblis. Badboy. Tak ada yang baik dalam dirinya. Pangeran Shinhwa. Indah. Tapi arogan.

Batas antara dirinya dengan Min Ho sungguh jelas. Semua orang dapat melihatnya sejelas refleksi diri dalam cermin. Kedua sisi itu begitu nyata. Begitu berbeda. Begitu berlawanan. Begitu—

Terpisah.

“Apa tujuan Lee Min Ho diciptakan ke dunia ini?” geram Jun Ki setiap kali dia, Hye Sun, dan Hyun Joong, selesai terlibat keributan dengannya. Jun Ki hampir selalu meributkan keeksistensian makhluk itu. Jun Ki dan Hye Sun harus lebih sering bertemu dengan Min Ho yang menghadiri rapat-rapat organisasi sekolah mereka rutin tiap minggu. Hye Sun selalu menenangkan Jun Ki, mengatakan untuk mengacuhkan cowok keparat itu. Tapi, Hye Sun tahu, dia sendiri tak mungkin mengacuhkan keberadaannya. Karena dia memang nyata. Dia eksis di dunia yang sama dan di masa yang sama.

Dan bagaimanapun juga Jun Ki benar. Demi Tuhan, apa tujuan Lee Min Ho diciptakan ke dunia ini?

Mungkin sebagian anak perempuan di Shinhwa lebih tahu dibanding mereka. Koreksi: semua anak perempuan. Rambut hitam dengan mata cokelatnya serta tubuh yang proporsional seakan menyerap segala keindahan yang Min Ho lewati. Ya, Hye Sun mengakui ketampanan Lee Min Ho si Pangeran Shinhwa, kapten tim olimpiade kimia untuk sekolahnya, dan anggota OSIS. Tetapi—f**k—dia sangat membencinya. Dan Dia tak pernah keberatan terus mengulangnya dalam hati.

Aku benci dia.

Hye Sun juga menginginkan Min Ho mengakui keberadaannya. Min Ho harus menyadarinya. Well, Hye Sun tahu, dirinya berhasil terhadap cowok-cowok yang lain. Mereka menyadari Hye Sun sebagai wanita setelah penampilan perdananya pada pesta dansa sewaktu mereka kelas lima. Sejak saat itu, secara konsisten mereka mulai meliriknya. Dan kadang dia menikmatinya. Semua anak cowok itu diam-diam meliriknya—walaupun sering kali tidak terang-terangan. Namun Min Ho yang paling berbeda dari semuanya. Cowok itu tidak pernah menatapnya seperti yang dilakukan cowok lain. Tatapan itu tak pernah lebih dari tatapan penuh keangkuhan dan merendahkan. Sungguh memuakkan.

Min Ho tak perlu mengatakan apapun untuk membuat Hye Sun muak. Dia hanya perlu menatapnya saja, seakan Min Ho tahu hanya dengan menatap, dia sanggup membuat gadis itu frustasi. Frustasi akan kebencian yang mendidihkan darahnya. Dan kemudian dia memperlihatkan senyum mengejeknya yang terkenal seakan-akan berkata—

“Aku memandangmu rendah.”

Aku benci padamu.

Lagi. Begitu mudah mengatakan kata-kata itu padamu. Dan yang paling menyedihkan, aku tak tahu kapan aku harus berhenti mengatakan hal itu. Sangat buruk membenci seseorang seperti itu.

Tetapi kecuali untukmu, Min Ho.

Karena aku tak keberatan untuk mengulang kata-kata itu untukmu.


***


“Kita sudah membicarakannya. Dan karena kita sudah mempunyai tanggung jawab pada tugasnya masing-masing, ada baiknya—” kata Ketua Murid Putri, Goo Hye Sun, pada pertemuan para anggota OSIS pada sore harinya.

“Goo, tidakkah kau harus mengatakan sesuatu?” Min Ho bergumam dengan sinisme yang tidak berusaha dia tutupi. Dia selalu senang memperlihatkannya.

Hye Sun mengerling singkat, berusaha untuk sabar. “Aku sudah menjawab semua pertanyaanmu, Lee.“

“Katakanlah sesuatu, Ji Hoo,” sahut Min Ho pada rekannya untuk membela.

Yoon Ji Ho si Ketua Murid Putra menarik napas. “Goo—”

“Tidakkah kalian sadar kita mempunyai sesuatu yang lebih penting untuk diurus saat ini?” potong Hye Sun sambil mengetuk-etukkan jemarinya tak sabar di atas meja. “Ini terlalu kekanak-kanakan.”

Min Ho berdiri dan menghadap anggota-anggota lain. “Maafkan aku atas interupsinya, ladies and gentlemen. Dan maafkan atas keterlambatan tadi. Tetapi percayalah kesalahan ini jelas tak hanya disebabkan dari pihak kami saja. Pengumuman jelas tidak sampai pada telinga yang tepat.” Min Ho mengerling ke arah Hye Sun dengan pandangan menyalahkan. Lalu dia berdeham sejenak mengumpulkan wibawa. Wibawa—my arse!

“Lee Min Ho―” geramnya.

Tapi seperti biasa Min Ho tak peduli. Dan Hye Sun tak heran ketika Min Ho terus bicara. “Sebagai Ketua Murid Putri yang terhormat, dia harus bisa mengintegrasikan perbedaan di antara kita. Dengan mengesampingkan rasa benci, misalnya. Serta,” Dia terhenti lagi untuk memberikan efek dramatis. Demi Tuhan! Bagaimana dia bisa mengatakan hal-hal seperti itu? Mengesampingkan rasa benci?!?! “Dia harus bertindak secara profesional dan bertanggung-jawab agar tidak mencampuradukkan perasaan pribadi dengan tugas.”

Hye Sun merasa wajahnya merah padam, hampir tak dapat menahan kekesalan. “Kurasa, tadi kita sudah membahas masalah itu sejelas-jelasnya, Lee Min Ho,” katanya sesopan mungkin, namun dengan segala kemarahan yang tertahan tersembunyi secara implisit dalam setiap kata-katanya.

Jun Ki mengangkat tangannya. Wajahnya menyiratkan perasaan muak. “Hye Sun benar-benar sudah memberitahumu. Di koridor itu. Mungkin kau terlalu sibuk dengan rapatmu sendiri yang penuh cekakak-cikikik dengan gadis jalang itu. Kau ingat?”

“Oh, benarkah, Lee Jun Ki?” tanya Min Ho, berpura-pura terkejut.

“Ya, Lee Min Ho. Tidakkah kau menerima pesanku?”

Min Ho kembali menatap Hye Sun. “Maaf, pesan apa?”

“Tugasmu untuk membawa bokongmu ke sini. Pesan itu cukup jelas.”

Min Ho mengangkat bahunya. “Aku tak mengerti, pesan yang mana?”

“Pesan tentang rapat OSIS yang diadakan di kelas biologi pukul 3 sore,” Hermione berkata tak sabar. “Kurasa itu sudah sangat jel—“

“Ooooh. Itu,“ Min Ho mengangguk-angguk. “Maksudmu ketika kau menabrak bahuku, lalu wajahmu merah karena semua buku-bukumu berjatuhan, lalu kau menyemburkan omong kosong yang abstrak di sela-sela napasmu?”

Beberapa murid tertawa cekikikan. Ketua Murid Putra tertawa. Sedangkan Hye Sun melemparkan pandangan menegur ke arah semuanya.

“Kau sudah di sini sekarang, Lee Min Ho. Jangan buang waktuku,” tukas Ron.

“Jun Ki, sudahlah,” tegur Hye Sun. Dia tahu jika diteruskan, pembicaraan mereka akan sampai tahap yang benar-benar dia ingin hindari.

Namun sepertinya Min Ho berpikiran lain. “Jangan apa,Lee Jun Ki?” Dia menatap Jun Ki, memulai kofrontasinya. “Tahukah kau bahwa kau mengganggu pandanganku semenjak rambut pirangmu—”

Hye Sun mulai merasakan pertanda. “Hentikan―”

“Ada apa dengan rambutku, hitam?” sela Jun Ki.

“Membuat mataku iritasi, kantung sampah,” balas Malfoy.

“Congkel saja matamu keluar, kecoak bus—”

“HEENTIKAAAN!” serunya dengan volume suara yang lebih keras dari yang diharapkan. Wajahnya memerah―entah lebih karena malu atau karena marah. Dia menyilangkan kedua tangannya untuk membentuk huruf X. “Tutup mulut kalian berdua.”

Woo Bin tertawa kecil, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Hye Sun merasa pening di kepalanya. Tidakkah ada yang bersikap dewasa di sini? Seharusnya dia harus mulai terbiasa dengan hal ini. Demi Merlin, dua tahun adalah seharusnya waktu yang cukup lama untuk mencoba membiasakan diri. Tapi, dia menyadari sepenuhnya bahwa dia takkan pernah terbiasa dengan keparat itu.

Ketua Murid Putri. Itulah ambisi Hye Sun selama tahun ke enam kemarin. Dan dia berhasil. Tak anak perempuan lain yang dapat menandingi popularitasnya. Goo Hye Sun yang sedang mengalami masa keemasannya. Gadis terpintar di Shinhwa. Murid terpintar di Shinhwa. Jadi, dia memperoleh jabatan itu.

Dan dia kira segalanya akan beres dengan kepemimpinannya—bersama Yoon Ji Ho sebagai Ketua Murid Putra. Yoon Ji Ho cukup baik dengan jabatannya. Tapi tetap saja—dia anak buah Lee Min Ho. Seperti murid-murid yang lain yang menjadi kaki tangan si brengsek itu, dia takkan senang berada di dekat Goo Hye Sun. Lee Min Ho tetap Lee Min Ho. Tempatnya segala kejahatan. Dan celakanya, Yoon Ji Ho tetap mendapat pengaruh yang sangat besar dari Min Ho pada posisinya.

Min Ho awalnya banyak dijagokan untuk menjadi Ketua Murid Putra. Popularitasnya sangat mendukung. Dia adalah cowok yang paling populer saat ini setelah Hyun Joong. Dia dengan nama depan keluarga Lee yang tersohor. Dan dengan wajah itu—

Oh, brengsek. Aku tak percaya, aku mengakui dia tampan.

Sebagai Kapten tim olimpiade, sepertinya dia terlalu sibuk menjalankan tugasnya sebagai Pangeran Shinhwa yang setia. Mungkin dia memang masih berminat, namun jelas para guru tidak akan setuju. Dia memiliki catatan buruk sebagai anak nakal. Dia terlalu suka mengintimidasi orang. Dia hampir tidak pernah dihukum karena mereka –dia dan kaki tangannya- memang jago mengakali peraturan. Jadi walaupun dia gagal menjadi Ketua Murid, melalui Yoon Ji Ho cowok itu tetap dapat memperlihatkan—mempertahankan bahwa dia masih memiliki kekuasaan dan pengaruh.

Goo Hye Sun—Ketua Murid. Lee Min Ho—anggota.

Hye Sun unggul karena posisinya lebih tinggi dari keparat itu. Jadi dia bisa sebebas mungkin menghukuk jika suatu kali cowok keparat itu mulai melontarkan kata-kata yang tidak koheren dari mulutnya. Benar begitu, kan?

Salah.

Tentu saja seorang Lee Min Ho takkan diam saja di bawah kendali seorang Goo Hye Sun. Cowok itu takkan pernah secara sukarela menjadi bawahan seseorang yang mungkin seumur hidup dia panggil bangau jelek. Takkan ada dalam kamusnya. Maka di sinilah mereka. Hye Sun, Jun Ki, Ji Ho, dan Min Ho memperlihatkan pertahanan terbaik mereka di depan para anggota lain sebagai penonton dan penilai pertunjukkan reguler itu.

Oh, Lee Min Ho. Mengapa kau tak diam saja. Diam dan dengar. Jangan buang tenagamu. Carilah gadis yang dapat membantumu menghabiskan tenagamu di atas ranjang. Oh, aku benci padamu. Aku benci padamu.

Hye Sun berdeham untuk mengembalikan kewibawaanya. “Okee…” Hye Sun menghela napas.

Min Ho mengalihkan pandangan sambil mendengus.

“Baiklah,” kata Hye Sun lagi.

Ji Ho menghela napas tak sabar. “Well, rapat sudah berjalan baik,” katanya dengan nada mengejek menimpali oke-baiklah singkat dari Hye Sun. “Lakukan saja tugas kalian dengan baik.”

Hye Sun berdeham lagi. “Adakah yang—”

“Rapat bubar,” Ji Ho memotong.

A-apa? Whoa, tunggu dulu!

“Hei! Kita belum selesai,” sahut Hye Sun berusaha mengumpulkan perhatian setiap orang. Dia menatap Ji Ho dengan kesal, lalu kembali menatap para anggota. “Sebelum kalian pergi, aku ingin bertanya apa kalian mempunyai pertanyaan?”

Min Ho duduk dengan malas, mencemooh. “Jika ada pertanyaan, kami akan bartanya dari tadi, idiot.”

Hye Sun mengacuhkannya. Tapi, pipinya terasa panas lagi. Dia merasakan pandangan permusuhan dari bangku Jun Ki. Wajah sahabatnya itu merah seakan dapat keluar asap setiap saat. Hye Sun bersumpah dia dapat melihat urat di kepalanya berkedut-kedut.

Oh, Tuhan. Seandainya aku dapat menjahit bibirnya sehingga dia tak dapat melontarkan senyuman sinis brengseknya itu.

Para anggota menunggu dalam diam, menatap rekan-rekannya yang lain.

Hye Sun berdeham. “Oke,” sahutnya. “Rapat bubar.”

Min Ho segera keluar dari ruangan setelah dia memberikan tatapan permusuhan pada gadis itu. Ji Ho segera bergabung dengannya. Berangsur-angsur semua anggota meninggalkan ruang kelas itu. Kemudian perasaan lelah menyelimuti Hye Sun seperti biasa. Rasa lelah itu hampir sama dengan mengelilingi sekolah Shinhwa sebanyak lima putaran. Kelelahan yang selalu terjadi sehabis rapat OSIS.

Jun Ki bergabung dengan Hye Sun, hendak membuka mulut.

“Tutup mulutmu,” sahut Hye Sun. Dia membereskan tasnya lalu memakainya di pundak.

“Aku belum mengatakan—”

“Apapun yang hendak kau katakan, lebih baik telan lagi.”

Jun Ki berjalan di samping Hye Sun. “Memangnya aku–”

“Oh, aku benci dia,” kata Hye Sun parau. Tangannya di atas kepala, frustasi.

“Siapa?”

“Well, siapa lagi menurutmu?”

Jun Ki terkekeh. “Bukan berita baru. Itu juga yang akan aku katakan.”

“Aku tahu,” gerutunya. Dia menggeleng-geleng sedih. “Tapi aku sendiri yang harus mengatakannya.”

“Jika ini mengenai siapa yang berhak mengatakannya, well, aku sangat berhak,” gumam Jun Ki dengan nada meninggi. “Keparat itu dengan sengaja menyembunyikan buku tugasku di  pada pelajaran astronomi tadi pagi. Perlu dua jam untuk  mencarinya.”

“Tapi sekarang sudah kau temukan,” kata Hye Sun sambil memperhatikan buku yang sedari tadi di tangan Jun Ki.

“Astaga! Ini bukan tentang sudah ditemukan atau belum. Masalahnya, mereka kurang ajar … dia―,” Jun Ki sulit mengatakannya seakan hal tersebut sama parahnya dengan Jun Ki lolos tes olimpiade biologi

“Aku mengerti.”

Koridor mulai agak lengang ketika mereka melewati belokan terakhir ke arah menara asrama putri. Di sana mereka menjumpai David membuat onar lagi. Penjaga sekolah berteriak uring-uringan kepada anak kepala sekolah itu. Dia menghentikan David mengganggu anak-anak kelas satu. Guru fisika –So Yi Zhung- kebetulan lewat. Dia menjewer telinga David dan membawanya keruang kepala sekolah yang ada di lantai 7.

“Genolus busuk.” Hye Sun memaki tindakan Yi Zhung yang seenaknya menjewer telinga anak berumur 3 tahun

Didalam asrama, Hye Sun dan Jun Ki bertemu Ga Eul. “Oh, bagus, bagus. Aku baru menemukan sebuah lagu yang hebat. Kalian beruntung menjadi yang pertama mendengarnya.” Dia berdeham, mempersiapkan tenggorokannya.

“Lebih bagus lagi jika kau tutup mu—“ Jun Ki menyela.

Terlambat. Ga Eul sudah memulai nyanyiannya. Suaranya lumayan untuk drama opera. Tapi, tak satu pun dari mereka menyukai opera. Bagi mereka, suara itu hanya berupa lengkingan menyakitkan dengan nada alto. Lengkingan yang seakan ingin mengalahkan empat oktaf nada teriakan David.

Jun Ki-lah yang mengambil inisiatif. “Bagus, Ga Eul!” teriaknya keras untuk mengambil perhatian cewek itu. “Tetapi kurasa kami tak berhak atas kehormatan menjadi pendengar lagu barumu yang pertama kali. Mungkin anak-anak tim olimpiade fisika ingin mendengarnya.”

Yeah, dengan kata lain, carilah korban lain.

“Kalian akan menyesal jika tidak men—”

“Sekarang minggirlah,” bentak Jun Ki dengan nada tak sabar.

Ga Eul menggerutu. Diapun segera berlari keluar asrama.

“Aku sedang tidak mood untuk menimpali cewek itu,” gumam Jun Ki ketika mereka melanjutkan perjalanan menuju ruang santai asrama cewek.Cahaya yang hanya berasal dari lampu gantung cukup menyelimuti ruangan itu dengan baik. Biasanya sofa-sofa yang terjejer di sana di depan perapian, diduduki beberapa anak kelas lima. Aaron dan Wu Zhun tampak duduk di bangku dekat jendela sambil bermain catur. Ruang santai sedang tidak terlalu ramai. Banyak dari mereka yang sudah mulai turun ke café Shinhwa untuk makan malam. Hanya ada beberapa anak yang tingkat tiga yang sibuk mengerjakan PR mereka di sudut ruangan.

Hye Sun melihat Hyun Joong duduk di depan perapian sambil menggosok kotak platinum  pemberian ayahnya dengan kain. Hyun Joong tak menyadari kedatangan kedua sahabatnya. Matanya fokus ke kotaknya. Kotak itu tampaknya sudah bersih mengkilap. Bahkan Hye Sun dapat melihatnya bersih mengkilat sebelum dia dan Jun Ki mendekati Hyun Joong. Tapi Hye Sun tak mengatakan apapun.

“Hyun Joong,” sapa Jun Ki. Dia menghentakkan dagunya ke arah Hyun Joong.

Hyun joong hanya menoleh singkat. “Ya.”

Hye Sun dan Jun Ki melambaikan salam singkat kepada Aaron dan Wu Zhun, kemudian kembali lagi ke Hyun Joong.

“Bantai dia, Joongi,” kata Jun Ki kemudian.

Hye Sun langsung tahu pembicaraan ini akan mengarah ke mana. Awalnya Hyun Joong hanya melongo mencerna kata-kata Jun Ki yang absurd itu. “Apa?” tanyanya bingung.

“Bantai dia.”

Pengulangan itu tak membantu apapun. “Siapa?”

“Kurasa dia berbicara tentang Lee Min Ho,” sahut Hye Sun datar.

Hyun Joong mulai paham. “Tak perlu kau perintahkan lagi.”

“Kalahkan dia telak.“

Hyun Joong menghiraukannya. Hye Sun menaruh tasnya di atas meja lalu duduk di sebelahnya. Hyun Joong tak bertanya apa-apa lagi pada Hye Sun karena dia tahu beginilah yang terjadi sehabis rapat OSIS. Hampir setiap kali.

“Buat dia malu sebelum dia dapat berkedip,“ kata Jun Ki membandel. “walaupun dia ketua tim sekarang. Dia takut padamu, Harry, karena dia tahu bahwa dia takkan pernah bisa melebihimu dalam olimpiade kimia itu darimu.”

“Yeah,” sahut Hyun Joong.

“Jangan biarkan—”

“Pasti―Jun Ki,” sahut Hyun Joong tak sabar.

“Bagus,” sahut Jun Ki.

Hyun Joong menatap Hye Sun lalu memutar bola matanya.

Hye Sun mengangkat bahu, tak berminat menjelaskan penyebab kelakuan sahabat mereka. “Jadi,” kini giliran Hye Sun bersuara dan mengganti topik. Dia menatap Jun Ki sambil menghela napas seakan seperti habis dari perjalanan yang jauh. “Kau masih sibuk akhir-akhir ini? Menjadi orang yang paling dipercaya bisa mengalahkan sekolah lawan  pasti sulit sekali.”

“Aku hanya anggota dalam tim. Sedangkan kau, Ketua Murid sepertimu mengepalai ratusan anak. Kurasa tugasmu lebih ribet.”

“Tapi jika kau membuat timmu kalah, kepalamu sendiri bisa dicincang ratusan anak, Hyun Joong.” Hye Sun menatap tangan Hyun Joong menggosok-gosok kotaknya . Dia ingin berkata bahwa kotaknya sudah mengkilat seperti batu mulia. Namun dia mengurungkannya. “Tapi tentu saja aku tahu kau pasti bisa menang. Kau Kim Hyun Joong. Cucu seorang raja Korea. Pewaris tahta kerajaan Korea.”

Harry mengerling singkat. “Kau belum menyebutkan bahwa aku anak-yang-hidup-dan-diuber-uber-terus-ratu-Korea-dan-mungkin-besok-mati,” gumamnya datar.

“Ah,” hanya itu yang Ron katakan sambil mengangguk.

“Hyun Joong,” tegur Hye Sun. “Kau tidak boleh berpikiran seperti itu.”

“Entahlah,” ujar Hyun Joong. Dia mengemas peralatan untuk membersihkan kotak miliknya. “Kurasa situasi ini makin runyam. Ayah dan ibuku terus memaksaku untuk segera meninggalkan sekolah dan segera menjadi raja. Mungkin aku hanya paranoid. Tiap hari aku terpaksa memberikan alas an-alasan konyol agar tetap berada di sini dengan kalian. Ya ampun! Aku paranoid sekali!”

“Kau akan baik-baik saja. Ada paman Song, dia akan terus mempertahankanmu di sini,” kata Jun Ki. “Aku lebih kuatir dengan Lee Min Ho. Dia baru dapat ponsel model terbaru.”

“Ya ampun, Jun Ki,” tegur Hye Sun. “Sampai kapan kau mau membicarakan dia? Aku mulai bosan mendengarnya.”

“Aku pernah lihat ponselnya di perusahaan Shin-Wha,” kata Hyun Joong. “Hei, ponsel itu memang produk keluaran Shin-Wha.”

“Kalahkan dia, Joongie.”

“Hyun Joong pasti akan mempermalukan Lee Min Ho, Jun Ki,” geram Hye Sun.

“Jangan biarkan dia—”

“DIIAAAAMMMM!!!”


***


“—Lebih cepat lagi!”

Min Ho berseru dari belakang meja laboratorium. Dia menatap semua anggota timnya. Min Ho percaya, inilah tim terbaik mereka sejauh ini. Mungkin selama enam tahun terakhir yang pernah dimiliki Shin-Wha. Semua diletakkan di posisi yang tepat dengan keahliannya masing-masing. Mereka sudah terlalu lama dikalahkan oleh sekolah desa itu—tapi tidak tahun ini.

Kini aku kapten mereka. Takkan ada yang sama lagi.

Takkan ada yang sama.

“Hey, Ao Chuan!” Seru Min Ho pada anggota tim bertubuh besar itu. “Sudah aku katakan untuk cepat mengerjakan soal-soal itu! Kita akan bermain seperti yang telah direncanakan. Itu juga berlaku untukmu, Hyun Joong!”

Ao Chuan mengumpat, merasa dipermalukan.

“F**k you. Kau pikir kau lebih hebat?” Min Ho menyipitkan matanya, menatap Ao Chuan tajam. Cowok berambut pirang kusam itu langsung terdiam.

Min Ho harus bertindak super tegas untuk mengatur semua anggota timnya. Dia ingin menang. Dia harus menang. Melalui kepemimpinannya, Shin-Wha harus menang.

Min Ho sudah tahu semua gosip itu. Bahwa berkat nama besar keluarga Lee-lah, Min Ho terpaksa dimasukkan ke dalam tim. Dan dengan tambahan nama sang pewaris tunggal kekayaan Lee dirasa sudah bisa dipastikan tercatat dalam deretan nama anggota tim olimpiade Kimia. Dalam posisi ketua tim yang katanya posisi paling hebat.

Orang-orang bodoh. Hanya gosip yang mereka tahu. Mereka tak tahu kehebatanku. Mereka belum tahu. Tapi akan tiba saatnya nanti ketika mereka akan mengetahuinya. Tahun ini mereka akan mengetahuinya.

“Min Ho, hari sudah gelap. Sudahi saja untuk hari ini,” kata Joe Cole, sambil melepas kacamatanya. “Kurasa latihannya sudah cukup untuk hari ini. Kita sudah latihan habis-habisan.”

Min Ho mengelap keringat dari pelipisnya. “Sebentar lagi.”

Tapi dia melihat Joe benar. Semua anggota timnya sudah kepayahan. Tak ada energi lagi. Namun, ini belum cukup, brengsek. Belum cukup. Kekalahannya tahun lalu sungguh menyakitkan. Dan Min Ho ingin sekali tahun ini mereka menang.

“Setengah jam lagi, Joe,” sahutnya kepayahan. Nafasnya pun sudah terengah-engah. Kemudian dia berjalan ke arah anggota timnya yang lain, Kang San, sedang latihan mengerjakan soal yang ada didalam buku. Serta merta Min Ho berteriak, “Berikan bolpoin itu padaku!”

Cowok itu menoleh bego, melempar bolpoin pada Min Ho. Sang kapten mengambil buku yang dipegang cowok itu dan menyuruh semua anggota tim mengeliling mereka. Dengan cepat Min Ho menjelaskan urutan pengerjaannya

Dia melempar bolpoin itu lagi kepada Kang San. “Seperti itu, Kang San.”

Sejumlah penonton melihat latihan mereka. Umumnya para gadis tentunya. Min Ho tahu mereka menonton dirinya. Dia dalam jas laboratorium putihnya. Min Ho tahu, karena setiap Min Ho menatap mereka, mereka itu cekikikan tak karuan.

Menggelikan.

Setengah jam akhirnya berlalu. Otak mereka benar-benar terkuras habis. Min Ho ingin mandi di asramanya dan berendam air panas, tak ada orang yang mengganggu. Kalau dia masih sanggup turun untuk makan malam, dia akan makan. Tapi sepertinya ranjang terasa lebih menggoda. Tubuhnya sudah lelah sekali memprotes untuk istirahat.

Min Ho memasuki asrama putra sambil menenteng tasnya yang penuh dengan buku-buku tebal. Dia melirik café Shinhwa. Deretan meja sudah dipenuhi dengan berbagai makanan. Denting sendok, garpu, dan pisau terdengar di tiap sudut. Anak-anak hampir memenuhi bangku-bangku cafe itu untuk makan malam. Bau makanan yang mengundang selera, menghentikan langkahnya untuk pergi ke ruang asrama putra. Min Ho tergoda untuk masuk ke sana dan mengambil apa saja yang bisa dia ambil untuk dibawa ke kamarnya. Dia melintasi deretan meja-meja panjang dan bergabung dengan teman-temannya.

“Min Ho,” sapa Kim Bum sebagai pengganti sapaan hai. “Berlatih mati-matian?”

“Untuk yang terbaik,” sahut Min Ho sekenanya.

Min Ho melihat tumpukan makanan di atas meja. Ikan bakar, ayam panggang, kentang tumbuk, dan lain-lain menggugah selera. Mereka tampaknya seakan enak sekali dan mendadak dia merasa lapar. Perutnya berbunyi. Min Ho menelan ludahnya. Satu gelas penuh sari jeruk dia habiskan tanpa jeda. Dia mengambil sebuah garpu lalu menusuk satu ekor ikan bakar berbumbu oriental dengan garpu yang kemudian dia daratkan ke piringnya—tak peduli dengan tangannya yang kotor.

Di ujung meja, Kim Joon sedang berkelakar. “…akhirnya bertanya, ‘Lihat tiang listrik dekat jalur kereta itu?’. Vampir satu dan kedua menjawab, ‘Ya, kami melihatnya.’ Vampir ketiga berkata, ‘Aku habis membenturnya!’”

Ji Ho tertawa terbahak-bahak sampai jus yang dia minum nyaris menyembur dari mulutnya. Kemudian dia tersedak dan terbatuk-batuk. Min Ho terkekeh, memberikan serbet untuk mengelap mulutnya. Kim Joon ikut tertawa—entah karena menertawakan leluconnya sendiri atau karena menertawakan Ji Ho.

Tak jauh dari meja mereka, Klub Fans Kim Hyun Joong juga sedang tertawa-tawa. Entah apa yang mereka tertawakan. Gumpalan rambut hitam dan coklat, itu mencolok di antara murid-murid yang lain: Jonggiii, Joonie, dan bangau jelek Goo. Sangat menjengkelkan mendengar keberisikan mereka. Min Ho menyumpah dalam hati, mengutuk keeksistensian Kim Hyun Joong dan pengikut-pengikutnya.

Min Ho mendengus.

“Aku sekelas dengan Mikaela Reuel pada pelajaran Biologi,” kata Ji Ho, menunjuk sekilas seorang gadis berambut pirang madu di bangku kedua dihadapan meja mereka. “Man,Dia hot. Kelas sedang panas dan bikin gerah kemarin. Dia melepas satu kancing kemejanya yang paling atas. Tuhan…kau harus melihatnya berkeringat. Wuuuhhh, membuatmu tegang,” Dia menghembuskan napas penuh hasrat.

Min Ho mengikuti arah pandangan Ji Ho. “Dia memang cewek tercantik di Shin-Wha.”

“Kau tak berniat mendekatinya, mate?” kata Ji Ho lagi. Dia mengambil apel dan langsung menggigitnya. “Aku tahu sekali, seleramu sangat tinggi.”

“Dia miskin, Ji Ho, ayahnya hanya seorang OB diperusahaan ayahku,” kata Min Ho, tersenyum sinis. “Tak akan pernah terbersit di benakku.”

Ji Ho tertawa. “Darah biru selalu pilihan pertama, Min Ho?” Dia menyeruput sari jeruk dari gelasnya. “Tapi setahuku dia mempunyai hubungan darah dengan mantan Perdana Menteri Korea.”

“Tapi dia bukan anaknya, tak ada yang bisa mengalahkan kita,” kata Min Ho setelah menelan sepotong bagian besar ikan itu dimulutnya. “Kau tahu darah biru selalu yang terbaik. Darah biru memang yang paling pantas menduduki posisi teratas dimana pun.”

“Benar. Tapi itu tidak menghentikan kita untuk menikmati yang indah-indah yang bukan darah biru, kan?” gumam Ji Ho. Dia terdiam sejenak lalu menambahkan, “Lihat…Goo Hye Sun juga cantik.”

Min Ho menatapnya. “Huh?”

“Dia,” sahut Ji Ho seraya menghentakkan dagunya singkat ke arah Hye Sun duduk.

Min Ho mencibir, “Dia?” Dia menatap gadis berambut hitam panjang dan sedikit bergelombang itu di dalam kelompok Hyun Joong fansclub itu.

“Ya,dia.”

Min Ho tidak heran mengapa laki-laki berpikiran seperti itu.

Ya, tak ada yang dapat dipungkiri lagi. Bangau jelek itu entah bagaimana dapat memutar takdirnya menjadi angsa. Kim Bum pernah membuat lelucon mengenai dirinya-yang-tegang ketika melihat Goo Hye Sun keparat itu roknya tersingkap karena angin pada pelajaran Biologi yang diadakan diluar kelas. Atau ketika cewek itu membungkuk untuk mengambil bukunya yang jatuh. Kim Bum menjelaskan bagaimana bentuk tubuhnya, halus kulitnya, dan semua yang membuatnya bergidik. Goo Hye Sun menjadi begitu menarik. Tapi tentu tidak untuk seorang Lee Min Ho. Tak ada hal-hal di dunia ini yang dapat merubah takdirnya sebagai bangau miskin jelek itu. Tidak pula dengan roknya yang pendek, kulitnya, kakinya, bibirnya—

Tak ada yang dapat merubah asalnya. Dari sisi mana dia berasal.

Si buku-berjalan kebanggaan Shin-Wha. Keparat yang berteman dengan si Joonie dan Jooongii. Sang putri dari si Trio Emas. Dan dia tetaplah seorang bangau jelek.

“Aku, Kim Bum, dan Kim Joon bertanya-tanya, apakah dia masih mempertahankan keperawanannya atau tidak,” ujar Ji Ho tersenyum lebar. “Lihat bagaimana si itik buruk rupa dapat tumbuh seperti sekarang. Menurutmu, Kim atau Lee yang mendapat kehormatan itu? Atau Goo Jun Pyo? Mereka kan sempat mempunyai hubungan pada tahun ke empat. Menurutmu, Min Ho?”

“Orang konservatif, kutu buku, kebanggaan-seluruh-ShinWha, seperti dirinya?” gumam Min Ho mengejek. “Kau bercanda.”

Ji Ho mengangkat bahu. “Kenapa tidak? Dia sudah dewasa. Semua orang dewasa ingin merasakannya. Aku yakin dia menyadari bahwa banyak laki-laki yang putus asa, menatap penuh hasrat ke arahnya. Bahkan banyak cowok-cowok sekolah yang tergabung dalam fansklubmu juga mengakuinya. Well, kau tahu pasti bahwa mereka juga pandai menilai barang mana yang bagus dan barang mana yang patut disingkirkan.”

“Tapi tak ada yang merubah apa yang menjadi takdirnya, Ji Ho. Bangau jelek. Miskin,” gumam Min Ho tak sabar.

Ji Ho mengangguk kecewa. Dia menghela napas berat. “Sayang sekali. Kita bukan di sisi yang sama, Goo Hye Sun,” katanya seraya mengangkat gelasnya untuk bersulang seakan-akan Hye Sun duduk di depan hidungnya. “Mengapa semua yang hebat-hebat harus orang miskin,“ gerutunya.

“Mereka tak sehebat itu.”

Tak lama kemudian, Ginger datang bersama Miranda untuk bergabung dengan Min Ho dan kawan-kawan. Ginger melambai pada teman-temannya di meja seberang sebelum akhirnya duduk di sebelah Min Ho. Dia memamerkan tentang busana yang yang baru di belinya ketika dia dan Miranda diam-diam pergi dari Korea ke Paris akhir pekan kemarin. Dia memang selalu memperhatikan penampilan. Dia cukup cantik, tapi terlalu sibuk dengan make up. Peralatan konsmetiknya lebih berat dibandingkan dengan buku-buku pelajaran dalam tasnya.

Kim Joon dan Kim Bum bergantian melontarkan lelucon. Min Ho tidak begitu berniat bergabung dan hanya sekedar menjadi pendengar. Kali ini gerombolan mereka semakin ramai karena Miranda ikut serta. Tawa gadis itu sungguh membahana. Lusinan set mata langsung mengerutkan kening melirik ke meja disudut café Shinhwa yang mereka tempati seperti biasa. Tapi dia tidak malu dan tampak tak berusaha menutup-nutupi.

“Hai, Min Ho,” bisik Ginger di telinganya ketika kawan-kawan yang lain sibuk dengan lelucon Kim Joon.

Min Ho meminum habis jus di pialanya. “Ginger,” balasnya.

“Kita semakin jarang bertemu,” ujarnya.

Min Ho mengangkat bahu. “Kau tahu, aku sibuk. Kau bisa melihatnya dari keadaanku sekarang, kan? Otakku habis terkuras untuk berpikir senyawa-senyawa sialan itu dan tubuhku berteriak meminta istirahat di ranjangku yang nyaman lebih awal.”

“Baiklah,” sahutnya singkat. “Mungkin besok malam?”

Min Ho mengangkat bahunya lagi, “Mungkin bisa, mungkin tidak.”

Jawaban itu jelas tak membuat Ginger puas. Namun dia tahu menanyakannya lebih lanjut malah akan membuat kemungkinan Min Ho mengatakan “tidak” menjadi jauh lebih besar. Maka dia diam saja.

Sebuah ceri terlempar ke arah kepala Min Ho. Min Ho mengumpat pelan.

Ji Ho berkata dia bermaksud melempar ke arah Kim Bum, tapi cowok berbadan besar itu berhasil menghindar. Bagus, Kim Bum. Itu menandakan bahwa selama ini kau bisa bergerak. Well, prestasi terbesarnya, Min Ho menebak. Kesal karena serangannya yang gagal, Ji Ho mengejar Kim Bum. Min Ho tertawa memandang mereka berlari sampai keluar aula. Lalu, matanya tak sengaja menangkap sosok itu.

Goo Hye Sun.

Dia tak menyadari pandangan Min Ho karena sibuk dengan kawan-kawannya. Min Ho merasa muak. Karena kehadirannya. Keberadaannya. Teman-temannya. Statusnya. Dia akan selalu seperti itu. Tak akan ada yang merubah dari apa yang membentuknya. Tak akan ada yang berubah.

Cih!



CHAPTER 2

“Litheas yang tumbuh baik adalah seperti ini.”

Keesokkan harinya di ruang biologi. Guru biologi mengancungkan tongkat yang digenggamnya kearah tanaman berbunga itu yang digambar pada blackboard.

Hye Sun mengamati tanaman itu dengan seksama. Tampaknya sama seperti tanaman bunga pada umumnya. Batangnya berwarna hijau kecoklatan. Hye Sun pernah melihatnya di buku. Jika sudah mekar, bunganya sangat indah dan besarnya seperti bunga matahari. Namun warna kelopaknya lebih oranye. Dan bunga yang ada di kelas biologi ini masih berupa kuncup dan belum mekar.

“Tanaman ini berumur satu tahun. Adakah yang dapat menjelaskan kegunaan litheas?”

Mudah. Sangat mudah, sebenarnya.

Hye Sun dengan cepat mengacungkan tangannya ke udara. Semua mata memandang kearahnya, menunggu penjelasan Hye Sun yang mungkin tidak akan dipahami oleh sebagian kelas.

“Lithelas mempunyai banyak kegunaan,” Hye Sun memulai. “Intisari dari lithelas sering dibuat penyedap makanan dan memberikan efek kenikmatan yang tiada duanya. Orang-orang juga banyak menggunakan lithelas sebagai penghias rumah karena bunganya yang indah. Pada jaman dahulu, lithelas menjadi obat penangkal racun yang sangat mujarab. Tapi, sekarang mulai ditinggalkan karena para ahli sudah menemukan tanaman yang lebih efektif dari lithelas.”

“Bagus sekali, Miss Goo Hye Sun,” kata guru itu. Dia mengembalikan akar tanaman itu ke dalam tanah. “Lithelas tetap menjadi tanaman favorit di rumah-rumah untuk dirawat.”

Guru itu kemudian berjalan ke arah sebuah lemari kaca di sudut kelas. Dia mengeluarkan sebuah toples kaca penuh berisi biji-bijian berwarna coklat. Wanita itu tersenyum. “Ini bibit-bibit lithelas, anak-anak.”

Para murid berbisik-bisik sambil memandangnya penuh keingintahuan.

“Sebaiknya kalian perhatikan dengan sungguh-sungguh.” Guru itu tersenyum. “Karena ini yang akan menjadi proyek kalian sampai awal musim semi,” katanya kemudian.

Bisik-bisik para murid segera saja berubah menjadi dengungan yang memenuhi ruang kaca itu.

Guru berambut cepak itu menyuruh semua murid berbalik ke arah lantai kosong di belakang mereka. Lantai itu dipenuhi dengan pot-pot tanah liat berukir aneka bentuk dan kondisi. Tingginya sekitar tiga puluh sentimeter. Ada yang kondisinya masih bagus, ada yang sudah retak di sana-sini, dan yang sudah gompel. Masing-masing sudah berisikan tanah yang sudah terisi tiga seperempat bagian.

“Silakan masing-masing ambil sebuah pot,“ guru itu menginstruksikan.

Lalu terjadilah kehebohan. Masing-masing anak berebut meraih pot-pot yang bentuknya paling bagus. Hye Sun tetap berdiri sabar untuk menunggu kerumunan itu membubarkan diri. Lalu setelah mengambil sebuah pot yang retak-retak di sana-sini dan bentuknya paling jelek, Hye Sun kembali ke bangku untuk menunggu instruksi selanjutnya.

Guru biologi mengeluarkan biji-biji tanaman itu dari toples kaca dan membagi rata kepada semua murid.. Hye Sun mengangkat telapak tangannya dan dalam hitungan detik biji-biji itu sudah aman dalam genggamannya

“Kalian masing-masing mendapatkan 20 bibit lithelas,” kata guru biologi. “Waktu tanam yang baik adalah awal musim gugur. Jadi pada awal musim semi nanti, lithelas kalian dapat mekar sempurna. Dengan kata lain, kalian memiliki waktu seminggu ini untuk menanamnya sebelum musim panas benar-benar berakhir. Proyek ini akan menjadi nilai tengah semester. Kalian hanya perlu memperlihatkan satu tanaman hasil kerja kalian yang paling baik tumbuhnya.”

“Maaf, guru,” kata Jun Ki seraya mengerutkan keningnya. “Kami hanya tinggal menanamnya begitu saja?” tanyanya.

“Tentu saja tidak, Mr Lee Jun Ki,” sahut guru itu sabar. “Mereka tentu saja perlu dirawat.” Guru biologi itu kembali menatap murid-murid. “Adakah yang mengerti bagaimana cara merawat lithelas?”

Hye Sun mengangkat tangannya. Dia mendapati lagi bahwa hanya dia seorang yang mengacungkan jarinya.

Demi Tuhan. Apa tak ada yang pernah baca buku?

“Cara merawat lithelas sebenarnya mudah-mudah sulit,” katanya. “Apabila kita mengerti ciri-cirinya dengan mudah kita tahu apa yang sedang dibutuhkan tanaman itu. Misalnya, jika tanaman itu mempunyai akar yang lebih besar dari normalnya berarti dia memerlukan pupuk kotoran kelelawar lebih banyak.”

“Bagus.”

“Cara menanam lithelas secara lengkap dapat kalian pelajari di buku cetak kalian halaman dua ratus dua belas.”

Lonceng berbunyi. Guru biologi itu membereskan alat-alat miliknya. Sebelum beberapa anak-anak keluar kelas, dia menambahkan, “Setiap pelajaran kalian jangan lupa meminta pupuk kotoran kelelawar padaku. Dan tanyakan saja apabila menemui kesulitan.”

Hye Sun, Jun Ki, dan Hyun Joong tergogoh-gopoh membawa pot itu ke ruang kamar mereka masing-masing. Tapi, ditengah perjalanan, Jun Ki dan Hyun Joong memutuskan akan menggunakan ruang santai asrama putri untuk merawat tanaman-tanaman mereka. Hye Sun yang semula protes, menjadi terdiam ketika cewek-cewek fansklub Hyun Joong menyetujuinya (“Minggir, minggir!” seru Jun Ki ketika melewati segerombolan orang untuk memberinya jalan lewat). Mereka tak boleh sembarangan berlari-lari di koridor sekolah seperti yang tertulis di buku peraturan Shinhwa. Hal itu jelas menyulitkan mereka ketika hendak menaiki lift. Dan Hye Sun nyaris tersungkur ketika anak kelas satu mendorongnya. Dia tak melihatnya karena sibuk menjaga keseimbangan. Untung saja Hyun Joong langsung menahannya.

Mereka tiba di depan pintu asrama putri. Di depan pintu itu ada beberapa murid kelas satu yang sedang menunggu. Ga Eul tak membukakannya untuk mereka (lebih tepatnya tidak mengijinkan mereka masuk). Tentu saja. Dia mencoba menyanyikan lagu ciptaannya yang terbaru setelah beberapa waktu lamanya tidak menemukan korban yang tepat—dan tidak mencoba kabur. Anak-anak cewek itu menatap Hye Sun, Jun Ki, dan Hyun Joong penuh harap bahwa mereka bertiga akan melakukan sesuatu untuk menyelamatkan mereka.

“Yya, Ga Eul,” Hye Sun berkata.

Wajah Ga Eul bertambah antusias ketika melihat kerumunan baru itu. “Oh, kalian juga harus mendengarnya.“

“Ga Eul,” Hye Sun mengulangnya.

Ga Eul menatap Hye Sun dengan kesal. Tapi dia menyingkir dari depan pintu berukuran 5x2 meter itu. Terima kasih, Tuhan, karena tangan Hye Sun sudah kaku dan mulai terasa kesemutan membawa pot itu.

Anak-anak yang lain mendesah lega, memberikan pandangan terima kasih pada Hye Sun. Ga Eul gusar ketika anak-anak kelas satu hendak meninggalkannya. “Tunggu, kalian belum mendengar laguku yang paling—“ katanya pada anak-anak kelas satu itu. Tapi, mereka sudah melarikan diri mengikuti Hye Sun ke dalam asrama, dan meninggalkan Ga Eul di belakang.

Hye Sun, Jun Ki, dan Hyun Joong menaruh pot-pot itu di atas karpet. Hyun Joong menghempaskan dirinya ke atas sofa seraya melonggarkan dasinya karena kepanasan. Hye Sun melepaskan jubahnya dan melemparnya ke sofa kosong terdekat.

Sunny yang sedang berbincang-bincang dengan teman sekamarnya, terheran melihat ketiga orang itu dengan barang bawaan yang tidak biasa. Dia menghampiri mereka seraya mengangkat alis. “Apa yang kalian bawa?” katanya sambil memperhatikan pot-pot itu.

“Singkat kata, ini proyek pelajaran biologi kami sampai awal musim semi,” kata Hye Sun sambil menunjuk pot-pot itu.

“Sepertinya menarik,” gumam Sunny.

Jun Ki mengerutkan kening. “Ah, tidak juga.”

Jun Ki menghempaskan dirinya di atas sofa di samping Hyun Joong. Dia mengambil buku cetak biologinya dari dalam tasnya. “Halaman berapa cara menanamnya, Hye Sun?”

“Dua ratus dua belas.”

Sunny menatap pot-pot itu penuh antusias. Harry menjelaskan lebih lanjut proyek lithelas itu padanya.

“Lithelas?” tanya Ginny kemudian kepada Hye Sun. Tanpa menunggu jawaban Hye Sun, dia melanjutkan, “Omma pernah menceritakan tentang  lithelas padaku. Di rumah kerabat kami yang berada di Jeju banyak terdapat lithelas. Kata omma, paling baik merawat tanaman itu diperbukitan, bunganya akan lebih indah daripada litheas yang ditanam disekitar perkotaan,”

“Bagaimana bisa?,” tanya Jun Ki.

Sunny tersenyum. “Ya mungkin karena udara perbukitan masih bersih dari polusi dibandingkan udara perkotaan”

“Hei, bagaimana bisa? Mereka sama-sama udara.” Bantah Jun Ki

Sunny memutar bola matanya.

“Kupikir, apa yang dikatakan Sunny benar,” kata Hye Sun.

Perbukitan─bunga yang indah─nilai memuaskan. Seberkas ide terlintas di benaknya.

Hye Sun ikut melihat buku Jun Ki dan membacanya sejenak. Kemudian, perhatiannya kembali ke pot itu. “Tanamlah bibit lithelas sedalam lima ruas jari.” Dia berpikir sejenak. “Tak sulit. Mudah kelihatannya,” gumam Jun Ki.

Hye Sun menemukan sendok di atas meja untuk menggali permukaan tanah hingga mencapai kedalaman yang cukup. Hyun Joong dan Jun Ki bangkit dari sofa lalu mengikutinya dengan saling bergantian menggunakan sendok itu. Mereka berdua memasukkan bibit itu dengan menyebarnya sekaligus.

“Tidakkah salah satu dari kalian ada yang bisa berpikir logis?” tanya Hye Sun kesal pada kedua sahabatnya itu.

Hyun Joong menatap Hye Sun tak sabar. “Memangnya apa yang harus dipikirkan?”

“Ya, omma?” sahut Jun Ki pada Hyun Joong.

Hye Sun menghiraukan nada sinis mereka. “Jangan terlalu dekat jaraknya. Beri sedikit ruang pada masing-masing bibit untuk akar mereka,” katanya.

Kedua cowok itu menatap potnya. Sepertinya mereka baru sadar Hye Sun memang benar. Betapa bodohnya.

Hyun Joong dan Jun Ki memperbaiki cara menanam mereka tanpa berkata apa-apa. Kali ini mereka melakukannya tanpa sendok karena tak sabar. Karpet itu menjadi kotor oleh tanah-tanah yang berceceran. Kemudian mereka kembali menimbun bibit itu dengan tanah.

Cara kerja para cowok itu jauh dari rapi. Noda-noda tanah bertebaran. Letak bibit yang tak teratur. Sunny sepertinya lebih paham. Dia membantu Jun Ki. Namun Jun Ki menyuruhnya diam saja karena dia pikir dia bisa melakukannya sendiri. Setelah menggerutu pada Jun Ki, Sunny memutuskan untuk menolong Hyun Joong, merapikan tanah dan letak bibit di atas tanah.

Setelah selesai dengan kesibukannya sendiri, Jun Ki mengambil bukunya lagi tanpa memperdulikan keadaan tangannya. Kini buku itu pun menjadi kotor dengan noda kecoklatan. Wajahnya serius membaca setiap instruksinya.

Hye Sun hanya memasukkan empat butir. Berusaha tak dilihat teman-temannya, dia masukkan sisanya ke dalam saku.

Jun Ki membaca buku itu. Dia mengerutkan keningnya. Lalu dia mencoba membacanya lagi. “Air pertama untuk menyiramnya adalah air yang sudah dicampur pupuk kelelawar.” Dia berpikir sejenak lalu memandang Hye Sun. “Air yang sudah dicampur pupuk kelelawar?” ulang Jun Ki.

Hyun Joong baru selesai berkutat dengan tanahnya. “Apa?” tanyanya.

“Tertulis di buku ini,” gumam Jun Ki. Dia memberikan buku itu kepada Hyun Joong. Sekarang buku itu dua kali bertambah kotor di tangan Hyun Joong. “Harus disiram air yang sudah dicampur pupuk kelelawar.”

Sunny mengangguk. “Well, sebaiknya malam ini kalian mengunjungi guru biologi kalian dan meminta pupuk kelelawar.”

“Aku setuju kalau begitu,” sahut Hye Sun. “Kini hanya tinggal merawatnya saja.”

Jun Ki membaca bukunya lagi. “Setelah disiram oleh air untuk pertama kalinya, lithelas harus disiram dengan air biasa setiap pukul empat sore selama tiga minggu awal mereka tumbuh,” gumamnya. “Mudah.”

“Mudah,” ulang Hyun Joong. Dia menepuk-nepukkan kedua tangannya untuk membersihkannya dari noda. Butir-butir tanah jatuh mengotori karpet.

Mereka tergopoh-gopoh membawa pot-pot itu ke balkon kecil di sisi jendela yang berada disamping ruang santai asrama. Pot-pot itu dijejerkannya menyamping. Di sana adalah tempat yang tepat untuk merawatnya karena itu satu-satunya tempat di ruang santai asrama putri yang sering disinari cahaya matahari sepanjang hari. Jun Ki bersikeras dia menginginkan tempat paling ujung agar memperoleh sinar paling banyak. Hye Sun dan Hyun Joong mengalah.

“Hei, aku harus pergi,” sahut Hye Sun kemudian.

“Ke laboratorium lagi?” tanya Sunny.

“Ya, begitulah.”

Sunny tertawa. “Kadang kupikir, asramamu itu bukan disini, melainkan laboratorium.”

“Tempatnya memang di sana,” ujar Jun Ki mencibir.

Hye Sun menghiraukannya. Dia mengambil jasnya yang tergeletak di atas sofa lalu memakainya lagi. “Oke, teman-teman. Kita bertemu ketika makan malam nanti.”

“Bye,” sahut Sunny.

Hye Sun melambai kepada mereka berdua, lalu keluar dari asrama.

Dia melewati koridor yang penuh murid-murid. Setelah itu, Hye Sun berbelok menuju lift. Dia mengacuhkan segerombolan cowok-cowok kaki tangan Lee Min Ho yang menggoda dan bersiul padanya ketika dia menunggu dentingan lift.

Kadang Hye Sun menikmati pandangan cowok-cowok pada dirinya. Namun, apabila yang menatapnya cowok-cowok bawahan Lee Min Ho, pandangan itu terasa memuakkan.

Dan di antara mereka, tak ada Lee Min Ho.

Hye Sun ingin Min Ho menyadari kehadirannya. Menyadari kehadiran seorang gadis yang biasa dia sebut dengan bangau miskin jelek. Hye Sun akan senang, apabila Min Ho ada ketika anak buahnya memandangi gadis itu—paling tidak karena mereka menyadari Hye Sun ada. Dia ingin menunjukkan dirinya sebagai sosok gadis yang lebih dari sekedar bangau jelek yang miskin yang Min Ho ejek setiap saat. Bahwa dia telah tumbuh menjadi seseorang yang tak pernah Min Ho bayangkan.

Hye Sun melangkah keluar sekolah Shinhwa melalui halaman belakang sekolah.

Tunggu.

Keluar sekolah. Bukan ke laboratorium. Dia berbohong pada teman-temannya?

Well, ya benar. Karena dia memiliki rencana.

Hye Sun keluar sekolah melalui jembatan. Dia mengikuti jalan setapak yang menjauhi sekolah. Dia memastikan tak ada orang yang melihatnya. Kemudian dia melihat ratusan pohon jati yang daunnya sudah berguguran. Dia tahu rute tercepat ke bukit belakang sekolah tanpa memasuki terowongan. Karena pada dasarnya terowongan itu digunakan untuk melarikan diri melalui jalan bawah tanah pada masa perang sekitar seratus tahun yang lalu. Jadi, terowongan itu bukan rute tercepat.

Dia melewati hutan jati itu. Para murid cenderung ketakutan dengan hutan karena imej Hutan Berhantu yang sudah melekat dalam benak mereka. Bahaya itu. Hewan-hewan berbahaya itu. Dan kegelapannya. Tapi Hye Sun sudah percaya pada kemampuannya sendiri. Dia ingin sekali berahautan itu sangat indah pada waktu terang. Pepohonan raksasa tumbuh rapat. Sinar matahari yang sulit menembus hutan itu, menciptakan bias-bias yang indah seperti sulur di tiap sela-sela dedaunannya.

Tak lama kemudian, Hye Sun melihat rumah yang pernah ditempati oleh penjaga sekolah terdahulu itu. Tak banyak berubah. Tetap menyeramkan seperti dulu.

Dia tak memasuki rumah bobrok itu. Dia hanya melewati halaman samping tak terawat yang dipenuhi rumput liar yang tak terpangkas hingga tumbuh tinggi. Kemudian dia memasuki pepohonan lagi dan menemukan padang rumput kecil. Seratus meter tak jauh darinya, danau terlihat terhampar luas. Tempat itu tak akan didatangi siapapun. Imej menyeramkan tentang Hutan Berhantu menyebabkan orang akan berpikir dua kali untuk ke sana.

Tempat yang tepat, pikirnya. Ide tentang ingin melaksanakan proyek terakhirnya di sekolah dengan nilai yang sangat-sangat memuaskan terlintas di benaknya setelah mendengar cerita Sunny. Aku harus mendapatkannya.

Ya, aku harus mendapatnya.

Hye Sun mengeluarkan bibit-bibit lithelas itu dengan tersenyum lalu masuk lagi ke dalam hutan.


***


“Min Ho.“

Min Ho tak menjawab. Cewek itu hampir selesai mengancingkan kemejanya. Dan tangan Min Ho terhenti membuka kenop menuju pintu keluar. Dia berbalik, menatap si cewek itu dengan malas. Si cewek berjalan perlahan menghampiri Min Ho sambil tersenyum menggoda. Dia menarik ujung lengan cowok itu perlahan, menatap Min Ho dengan melalui bulu matanya yang lentik.

“Yang tadi itu menakjubkan. Kapan kita bisa bertemu lagi?”

Min Ho mengangkat bahu. “Kita lihat saja.”

“Bisakah kau meninggalkan urusanmu dulu? Kau tampak terburu-buru.” Gadis itu memberikan kecupan kilat di ujung bibirnya. Dia meluruskan keliman kemeja Min Ho dengan jemarinya. “Apa kita harus selesai sekarang?”

“Ya,” sahutnya singkat, melangkah lalu menutup pintu di depan wajah gadis itu.

Koridor terlihat lebih sepi daripada biasanya. Dia melewati menara jam, menuju ke lingkar batu tinggi di ujung jembatan di belakang sekolah. Dia bertemu si culun, Will Harper, ketika melewati jalan setapak dekat kolam renang. Cowok bertubuh kecil itu menyapanya basa-basi dan mengingatkannya melatih formasi baru pada latihan olimpiade esok sore.

“Yeah. Ingatkan aku lagi besok,” balas Min Ho, bersemangat.

Will melambai. “Pasti.”

Min Ho tersenyum sekadarnya.

Ketika Will berbelok untuk masuk ke kastil Shinwha dan hilang dari pandangannya, Min Ho meneruskan langkahnya. Tak ada lagi orang dalam perjalanan itu. Dia keluar dari jalan setapak lalu memasuki hutan. Pepohonan di hutan itu cukup lebat. Namun cukup lebat untuk menghalangi sedikit sinar matahari. Dan hutan itu tidak sunyi. Burung-burung masih berkicau walaupun matahari sudah tinggi. Seekor kelinci melompat ke arah semak-semak rimbun ketika dia datang. Tak lama kemudian, hutan itu habis berganti padang rumput kecil dengan danaunya.

Min Ho memandang sekelilingnya. Dia menemukan apa yang dia cari. Anjing itu tampak mencolok dengan alam di sekitarnya. Anjing itu berjenis husky dan lebih menyerupai serigala daripada anjing pada umumnya. Bulunya yang abu-abu dan putih kontras dengan rerumputan hijau menguning dan tinggi-tinggi. Matanya yang hijau menatap tajam hewan buruannya. Instingnya sebagai serigala tetap dimilikinya. Kofu–namanya- menyadari tuannya sudah datang, namun dia menghiraukan Min Ho. Dia tengah sibuk memakan hewan buruannya—mungkin kelinci.

Setelah mendengus kesal teracuhkan oleh anjingnya sendiri, dia duduk di bawah sebuah pohon di tepi hutan itu.

Min Ho berbaring di atas rerumputan dengan kedua tangan di belakang kepalanya sebagai bantalan. Lalu memejamkan matanya. Dia dapat merasakan rumput liar yang panjang itu menggelitik kulit dan wajahnya ketika angin berhembus pelan. Dedaunan yang bergantung di dahan-dahan pohon melindunginya dari sinar matahari siang di awal musim gugur itu. Udara musim gugur yang khas kini mulai tercium jelas.

Dan tempat itu sangat sempurna untuknya. Tempatnya setiap kali dia ingin menikmati waktu luang. Sangat menenangkan. Jauh dari Shinhwa. Tapi jauh dari bahaya hutan terlarang. Takkan ada orang yang mendekati tempat itu. Cewek-cewek bodoh itu atau mereka yang menjilat kebesaran keluarga Lee. Min Ho memang menikmatinya, namun toh kadang dia juga bisa merasa bosan.

Lima. Jumlah itu yang dia lakukan di ranjang bersama gadis yang berbeda dalam satu minggu ini. Melelahkan. Semua hal itu membentuk imej siapa Lee Min Ho sebenarnya. Si Casanova. Semua sudah mengetahui seberapa nakalnya dia. Dan Min Ho menyukainya. Kemampuan seorang Lee Min Ho terhadap lawan gendernya, mengharapkan dirinya, dan putus asa olehnya.

Namun tak ada perasaan yang terlibat. Terlarang. Dia menyukai gadis-gadis itu yang memohon padanya. Tapi dia mencintai dirinya sendiri. Ginger merupakan gadis yang paling banyak menghabiskan waktu paling banyak bersamanya. Semua juga sudah mengetahuinya. Dia senang bersama Min Ho. Min Ho bangga mengetahui Ginger kecanduan padanya. Gadis itu sering menggumamkan nama Min Ho. Dan Min Ho menikmatinya. Tapi tak ada yang lebih. Tidur dengannya—dan gadis lain—menjadikannya seperti olah raga. Dan ibarat olah raga, maka hal itu pun setara dengan bakat.

Min Ho menikmati kenyamannya di tempat itu. Tak ingin bertemu dengan siapapun. Dan dia merasa dia sudah tertidur karena ia mendengar suara teriakan seorang gadis yang sayup-sayup.

Mimpinya mungkin. Beberapa detik kemudian, teriakan itu hilang. Namun teriakan itu tergantikan oleh suara gonggongan. Awalnya kecil, lalu membesar ketika Min Ho mendapatkan kesadaran dari tidurnya.

Kofu menggonggong di dalam hutan.

Mungkin ada kelinci bodoh ingin menjajal kekuatan rahang Kofu padanya dengan melewati anjing itu. Tapi kenapa harus sekarang, Min Ho berpikir. Mengganggu waktu—brengsek— luangku.

“Tinggalkan makhluk keparat itu!” Min Ho berseru.

Matanya tetap terpejam, berusaha kempali ke alam bawah sadarnya. Tapi, hal itu tak berguna. Suara Kofu tetap terdengar dan semakin keras. Min Ho putus asa. Dia duduk dengan kesal. “Brengsek,” Min Ho mengumpat pelan. Apakah ada tempat yang jauh dari peradaban di sekitar sini?

Min Ho berdiri lalu berbalik ke arah hutan menuju gonggongan Kofu. Dia tahu, anjing itu takkan berhenti menggonggong hingga dia mendapatkan buruannya. Pernah suatu malam Min Ho meninggalkan Kofu yang sedang mengonggongi tupai di atas pohon. Lalu keesokan paginya, dia melihat anjing itu tetap berada di bawah pohon dengan mengibaskan ekornya. Hewan itu menunggu sehari penuh dengan menatap ke atas pohon untuk menunggu tupai bodoh itu keluar.

Suara Kofu terdengar semakin keras seiring bertambah dekatnya dia dengan anjing itu. Dia melewati semak belukar. Lalu dia melihatnya.

Kofu menyalak ke arahnya. Gadis itu berjongkok di atas pohon. Wajahnya menyiratkan ketakutan. Anjing itu menatapnya dari bawah dan terus menggonggong keras dengan riang—well, tentunya gadis itu tak menyadari Kofu sedang riang. Gadis itu menyadari kedatangan Min Ho. Dia berusaha menyembunyikan rasa takut dari wajahnya dan berganti melempar pandangan ini-salah-mu. Dia segera menarik roknya untuk menutupi pahanya perlahan—Min Ho menatap kulit itu sedetik—lalu gadis itu membenarkan posisi kakinya—berusaha untuk tidak lebih dari sedetik. Dan jelas sekali dia tak ingin Min Ho mengetahui ketakutannya. Dan Min Ho tahu, dia juga tak berniat meminta tolong padanya. Tak akan, sebenarnya. Min Ho tahu pasti. Karena gadis itu berambut coklat bergelombang. Matanya berwarna coklat madu keras kepala. Dan dia—

Goo Hye Sun.

Apa yang sedang dia lakukan di hutan ini? Tidakkah dia memiliki tempat lain yang lebih layak—dan masuk akal untuknya—daripada di sini? Well, aku di sini karena ingin jauh dari peradaban. Itu masuk akal untukku. Tapi tidak untuknya.

Setelah puas dengan pandangan ini-salah-mu-nya, Hye Sun kembali menatap Kofu. Kelihatannya kini dia bingung siapa yang harus lebih dipersalahkan. Karenanya, dia kembali menatap Min Ho.

“Seharusnya dari awal aku tahu ini memang perbuatan busukmu, Lee Min Ho!” tukasnya galak.

Apa? Awalnya kebingungan menyergap Min Ho. Apa maksudnya? Memangnya apa yang aku lakukan? Kalau aku tahu dia datang, dengan senang hati memang aku akan membuatnya hidup seperti di neraka.

Lalu perlahan Min Ho mulai menyadarinya. Hye Sun telah menuduhnya, menyuruh Kofu untuk menggonggongi gadis itu. Min Ho tersenyum, memutuskan meneruskan peran sebagai orang yang baru saja membuat Goo Hye Sun sial. Min Ho bersandar pada pohon di belakangnya dan memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Dia tak berniat membela diri karena apa yang yang membuat Hye Sun kesal, jelas takkan membuat Min Ho keberatan.

“Sepertinya kau tak butuh bantuan,” katanya, mengejek posisi yang tidak menguntungkan itu. Kofu mendengar suara Min Ho di belakangnya lalu memutuskan untuk berhenti menggonggongi Hye Sun.

“Siapa yang kelihatannya seperti membutuhkan bantuanmu?” serunya lebih menyerupai pernyataan ketimbang pertanyaan.

“Kau?”

Hye Sun membuka mulut, hendak membalas. Namun sepertinya dia mengurungkan niatnya—tak tahu apa yang harus dia katakan. Wajahnya merah padam. Min Ho tahu, dirinya tepat sasaran. Min Ho senang melihatnya seperti orang bodoh. Tak seperti biasanya yang selalu tangan terangkat di kelas.

Hye Sun hendak mengeluarkan serangannya lagi. “Aku takkan menerima bantuan dari keparat yang menyebabkan orang terpaksa menerima bantuannya.”

Min Ho tersenyum. Hye Sun benar-benar tampak bodoh jika sedang panik begitu. “Siapa yang bilang aku akan membantumu, Goo Hye Sun.”

“Aku memang tak pernah minta, brengsek!”

“Oke,” sahut Min Ho singkat.

“Baik.”

“Kofu, gigit dia!”

Kofu kembali menyalak dengan keras. Hye Sun terkejut dan nyaris kehilangan keseimbangan. Namun, dia menemukan keseimbangannya dengan memegang dahan kecil yang ada di depannya.

“Keparat.”

“Terima kasih kembali.”

Hye Sun memutar bola matanya. Lalu, dia menatap ke sekelilingnya, mencari jalan keluar. Ke tanah, pepohohan, semua arah kecuali menatap Min Ho.

Min Ho menghampiri anjing itu, membungkuk, dan menggaruk belakang telinganya. Kofu diam dalam sekejap. “Bagaimana bisa kau naik tapi tak bisa turun?”

“Dengan mudah aku turun apabila kau dan anjing bodohmu itu pergi.”

“Yeah, bagus kalau begitu,” ujar Min Ho sinis. “Sedang apa kau disini?”

“Well, itu…itu—”

Hye Sun tak mengatakan apa-apa. Wajahnya merah padam lagi. Dia menatap suatu tempat di bawah, atas rerumputan. Tanamannya tergeletak di sana.

“Enyahlah, Lee Min Ho,” geram Hye Sun tak sabar. “ Aku hanya butuh kau dan anjingmu pergi dari sini sehingga aku bisa turun.”

“Jangan kuatir, Goo Hye Sun,” Min Ho menyahut. “Tak ada yang lebih indah dari tidak melihat bangau jelek di muka bumi ini.” Dia berbalik meninggalkannya. “Sampai jumpa. Ciao.”

Mungkin dia sebenarnya bermasalah di balik otaknya. Idiot atau semacamnya. Bangau Jelek takkan ada yang pernah beres. Tak bisa dibandingkan dengan darahnya. Bagaimanapun pintarnya, rupa wajahnya, tubuhnya―

Min Ho memanggil Kofu untuk mengikutinya. Mereka berbalik dan menuju balik semak-semak dari tempat dia berasal tadi, berharap dapat melanjutkan tidur siang yang terganggu oleh si bangau miskin jelek keparat itu. Tak jauh dia melangkah, kemudian dia mendengar suara debam keras disambung suara rintihan, “Ouch!”

Goo Hye Sun. Tak dapat diragukan lagi, dia bersama kepala batunya sukses terjun bebas mengikuti gaya gravitasi. Tapi seperti biasa…

Siapa peduli.


Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Re: MinSun always
« Reply #2 on: January 28, 2010, 03:07:57 am »
wuaawww ada ff lagi  [jumpy] [jumpy] [jumpy]
thanks dara ff nya seru keren

gyaaaaaaaaa pemaen BBF reunian niy ada harry potternya jg hehehe [biggrin] [biggrin] [biggrin]

ealah hyesun musuh bebuyutan to ma mino ckckck ampe segitu bencinya ati2 loh hyesun n mino benci tu artinya bener2 cinta xixixi

[AddEmoticons04256] [AddEmoticons04256] [AddEmoticons04256]
mino [AddEmoticons04249] tu dari hyesun tengil bgt siy jd orang sombong, semena2 de el el [head break] [head break] [head break] ngatain orang bangau miskin jelek hammer2 hammer2 hammer2

Lima. Jumlah itu yang dia lakukan di ranjang bersama gadis yang berbeda dalam satu minggu ini. Melelahkan

busyeeeetttttttttt dah mino ckckckck gempor donk [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] walah udah ga segelan donk segel udah dibuka [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff]

penasaran ma lanjutannya ditolongin ga tu hyesun jatuh dari pohon
dara cepetan diupdate yak [AddEmoticons04258]


ADAM COUPLE SELCA

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
Re: MinSun always
« Reply #3 on: January 28, 2010, 06:48:27 am »
second  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] dara sista jd ini yah yg diminta kemaren  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] gud gud

sista cuman mo ngasih sedikit komentar  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

so far ceritanya bagus tapi jujur diawal daku bingung banget ma castnya mang ada berapa banyak orang coz disono ada lee min ho, kim bum, kim jun, hyung joon tapi juga ada woo bin n ji hoo  [chin] [chin] [chin] kl emang ceritanya ada dua kubu bersebrangan akan lebih baik kl dikasih semacam daftar castnya n penjelasan singkat so pembaca awam seperti daku kagak bakal bingung coz saking banyaknya cast n kl boleh kasih sedikit koreksi lebih baik castnya dibatasin aja tapi fokus bukan banyak tapi kurang fokus jdnya rada ngaburkan cerita  [biggrin] [biggrin] [biggrin]

miane kl banyak comel  [biggrin] [biggrin] [biggrin] nothing wrong with the idea of this story tapi yh itu kl bisa jalan ceritanya bisa lebih diperjelas n fokus oke  [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] gud luck ditunggu update selanjutnya  [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: MinSun always
« Reply #4 on: January 28, 2010, 09:37:37 am »
dara, thanks ya udah bikin ff di sini  [biggrin] and spt yg lain nih, gw juga rada bingung dgn jumlah cast yg selangit mana ada aaron and wu zhunnya lagi, terus udah ada hyun joong kok ditambah ji hoo lagi, ama kimbum and yi jeong  [hmpfh] bingung ngung ngung deh  [laughing] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Re: MinSun always
« Reply #5 on: January 28, 2010, 09:25:13 pm »
Moga kali ini ga nyasar lg... Annyong dara n gomawo dah
post ff. Senang mkn banyak
yg post ff di sini...Dara: Ff
kamu dah bagus hanya sprt kt
endree cast-a
membingungkan bg pembc.
Aq ngerti maksud u mo crt
ttg minsun tp ambil karakter
n ltr belakang harry potter n
friend. Maksudmu
ghs=hermione,
lmh=draco, junki=ron n
hyun jong= harry bnr ga? Klo
mang maksudmu bgt buat aja
catatan ttg karakter msg2x
cast n sinopsis-a spy pembc
ga bingung. Mianhae klo
koment-a ga berkenan...
Ditunggu chp 2..AZAA

dara

  • Guest
Re: MinSun always
« Reply #6 on: January 28, 2010, 10:11:00 pm »
all : makasih banyaaaak atas komen sama sarannya. emang bener castx kebanyakan, ff ini sebenarnya ff yg aku buat khusus harPot, tapi itu zaman dulu banget. sekarang kan lagi tergila-gila sama MinSun jadi di ubah aja yaa.. gak papa kan [smiley]. sarannya pasti aku ikutin

moga pembaca sekalian gak bosan [lovestruck]

chapter selanjutnya bakal aku posting. ditunggu ya [smiley]

amira : kayaknya kamu berbakat jadi peramal deh, emang karakternya aku ambil dari HarPot, sesuai penjelasan di atas.

sekali lagi, semoga gak bosan [smiley]

dara

  • Guest
Re: MinSun always
« Reply #7 on: January 28, 2010, 10:22:59 pm »
CHAPTER 3

“Hye Sun. Kau tak mendengarku,” gerutu Jun Ki ketika makan siang.
Jun Ki memutar bola matanya. “Tak ada yang perlu kudengar, Jun Ki. Aku tahu apa yang akan kau katakan. Jadi, jangan buang napasmu sia-sia.” Dia menyeruput jus alpukat dari gelasnya.
“Ya ya ya,” Jun Ki mencibir. Dia mengambil paha ayam yang besar dan menggigitnya penuh emosi. “Au takprelu mbuang napasu utukEe mino siaanitu.”
“Telan dulu, bodoh. Jangan buka mulutmu jika sedang mengunyah. Menjijikan!”
“Kacrewet kali hriini.”
“Jun Ki!” Hye Sun melempar sebutir anggur padanya lalu mengerutkan kening. “Dan aku juga membuang napasku sia-sia untuk menutup mulutmu jika saja kau terus menggerutu,” kata Hye Sun jengkel.
Jun Ki minum dari gelasnya. “Itu salahnya karena lahir di dunia ini,” balas Jun Ki sambil menghentakkan kepalanya ke arah Lee Min Ho di meja paling sudut di café Shinhwa. Hye Sun tak mau mengikuti arahnya.
Lee Min Ho sedang menjadi pusat perhatian teman-temannya. Bukan sedang. Tapi selalu. Bukan hanya oleh teman-temannya, tetapi juga setiap dia melewati segerombolan anak perempuan di koridor atau bahkan di café Shinhwa. Kelihatannya dia tampak benar-benar menikmati perhatian itu. Entah apa yang dia katakan sehingga membuat teman-temannya terbahak-bahak.
Jun Ki mendengus. “Dasar banyak tingkah—”
“Hei,“ Hye Sun menegurnya.
“—si brengsek itu—”
“Diamlah.”
“Dia selalu—”
“JUN KI!”
Jun Ki melempar pandangan ada-apa-denganmu padanya.
“Well, adakah satu hari saja tak ada orang yang menyebut namanya?” tanya Hye Sun. Ia berganti menatap Hyun Joong. “Hyun Joong, lakukan sesuatu terhadap teman bodohmu ini. Dia membuatku gila dengan ocehannya itu.”
Hyun Joong mengangkat bahu seraya nyengir lebar. “Bagaimanapun juga dia benar, Hye Sun. Kau tahu sendiri, kan?” gumamnya datar. Kemudian dia menatap Jun Ki. “Apabila kau berencana menguliti Lee Min Ho hidup-hidup, membuat konspirasi memenggal kepala besarnya—“
“Mencincang tubuhnya,” Jun Ki menimpali sambil terkekeh.
“—atau apapun segala bentuk tindakan hari-pembebasan-dari-segala-kejahatan-yang-merajalela, aku mendukungmu, teman,” kata Hyun Joong, mengangguk seakan dia serius dengan segala perkataannya. “Kau tahu dimana kau dapat menghubungiku jika suatu saat memerlukan bantuan.”
Jun Ki nyengir lebar pada sahabatnya itu. Mereka melakukan high-five. “Paling tidak harus ada seseorang yang harus membebaskan dunia ini dari segala bentuk kejahatan, Hye Sun.” Senyuman lebar muncul di wajahnya.
Hye Sun memutar bola matanya. “Oh, tutup mulut kalian berdua.” Hye Sun menyeruput minuman dari gelasnya. “Kasihan sekali para manusia di Korea ini. Menggantungkan hidupnya pada teman si idiot bodoh ini.“
“Semua yang terjadi selalu dengan jalan yang tak terduga,“ sahut Hyun Joong singkat sambil tersenyum lebar.
“Berkatilah kami,” tambah Jun Ki.
“Amin,” sahut Hyun Joong, mengepalkan kedua tangannya di depan dada seakan berdoa.
Hye Sun menyerah dengan kedua sahabatnya itu. Dia menghela napas panjang tanda putus asa. “Mungkin memang lebih baik jika Lee Min Ho berhasil mengerjaimumu juga, Hyun Joong,mungkin dengan cara menyembunyikan buku PRmu sama seperti Jun Ki, sehingga aku bisa mengerjakan PR ini dengan tenang,” gumamnya.
Gadis itu mengambil bolpoinnya didalam tas dan meneruskan pekerjaan rumah yang ditugaskan oleh guru Sejarah mereka setelah beberapa minggu mereka mulai sekolah di tahun ke tujuh: Jelaskan penyebab mengenai Hancurnya Hubungan Persaudaraan antara Korea Utara dan Korea Selatan sepanjang tiga lembar . Dia sudah menyelesaikan empat lembar bolak balik. Tiga saja tidak cukup, tentu saja. Hancurnya Kedua Negara ini tidak terjadi hanya dalam waktu semalam, bukan?
“Lee Min Ho brengsek.” Suara Jun Ki.
Gawat. Dia mulai lagi. “Yeah, aku tahu itu.”
“Dia menyembunyikan laptopku tadi!” kata Jun Ki nyaris berseru.
Hye Sun menghiraukannya.
Jun Ki menghela napas kesal. “Kau,” sahutnya. Jun Ki menunjuk Hye Sun dengan paha ayam ke lima yang sudah setengah dia makan. Jun Ki adalah bukti nyata bahwa kekesalan dapat meningkatkan nafsu makan.
“Apa?”
“Kau jangan pernah bicara padanya. Dengan Lee Min Ho,” geram Jun Ki.
“Maaf?”
“Jangan pernah bicara dengannya.”
Hye Sun memutar bola matanya. “Kau mengatakannya seakan aku sering menghampirinya mengajak dia keluar.”
“Aku tahu kau tahu maksudku,” Jun Ki menggeram (“Aku ambil sosis ayam ini. Kau tak mau, kan?”kata Hyun Joong. Dia langsung mengambil sosis itu dari atas piring Jun Ki tanpa menunggu jawabannya). “Si wajah banci itu—Si cowok cantik itu sering mempermainkan cewek-cewek. Dan reputasinya itu—”
“Aku tak bodoh,” sahut Hye Sun, merasa tersinggung.
“Oh, jelas.”
“Jadi hentikan perkataanmu yang membuatku seakan-akan orang yang bodoh.”
Jun Ki memandang Hye Sun seraya mengerutkan kening. “Tidak. Aku tidak membuatmu—”
“Ya, Jun Ki. Nada suaramu mengatakan hal itu.”
“Tidak.”
“Ya.”
“Tidak.”
“Ya—Arg, hentikan dengan ya-tidak yang bodoh ini,” geram Hye Sun. Dia terdiam sesaat untuk menarik napas seakan pembicaraan ini memakan banyak energi. “Lagipula mana sudi aku berbicara padanya. Dan tentu saja dia takkan berminat bicara padaku.”
“Jika kau berasal dari keluarga bangsawan seperti Joongie, mungkin dia akan mengejarmu. Yya, Joongie, kau berdarah biru kan? Mungkin si keparat Lee Min Ho itu akan menyukaimu.”
Hye Sun memutar bola matanya mendengar candaan Jun Ki yang menurutnya sangat garing. “Untungnya bukan,” gumam Hye Sun. Lalu dia menghela napas dengan keras, menatap Jun Ki dengan malas. “Dan sekarang benar-benar kau membuang-buang napasku sekarang.”
“Kalian sudah selesai bertengkarnya?”
Hye sun dan Jun Ki memandang Hyun Joong dengan kesal.
“Kuanggap itu sebagai ya.”
Hye Sun kembali menekuni tugasnya. Dalam hati, dia juga ingin sekali menonjok Lee Min Ho. Jun Ki juga ingin pastinya. Hyun Joong juga. Mungkin banyak juga yang lain. Padahal seharusnya ada seseorang di antara mereka yang bertindak waras. Jika ada, orang itu adalah Hye Sun. Dan ia bangga karena dia bisa menjadi penjaga-perdamaian di antara mereka berdua.
“Well, daripada membicarakan dia,” Hyun Joong menghentakkan dagunya ke arah Lee Min Ho di sisi lain. “Lebih baik membicarakan strategi apa lagi yang harus aku lakukan agar ibuku tidak membawaku dengan paksa dari sekolah ini dan menjadikanku raja cilik.”
Hye Sun senang topik kini berganti sehingga dia tak akan mendengar lagi umpatan-umpatan Jun Ki. Bicara tentang Lee Min Ho membuat udara seakan menyusut begitu saja. Tapi sayangnya topiknya tidak bertambah cerah. Mungkin hanya sedikit sepanjang tak ada nama ratu Korea yang bertindak kejam terhadap Hyun Joong di sana.
**
Gambaran langit di luar café Shinhwa sedikit berawan. Namun tetap saja matahari belum muncul. Tapi paling tidak lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya yang diselimuti awan mendung berwarna kelabu. Para murid berangsur-angsur meninggalkan bangku mereka setelah menyelesaikan makan siangnya. Sekelompok anak perempuan segera bergegas keluar menuju laboratorium Kimia sambil mengerling singkat ke arah meja tempat trio emas Shinhwa itu duduk.
“Sudah waktunya, Hyun Joong. Sebaiknya kau buru-buru ke lab,” gumam Hye Sun. Ia merogoh ke dalam tasnya mengambil kertas kosong untuk melanjutkan PRnya ke halaman lima.
“Apa?”
“Sekarang waktumu latihan, kan?” tanya Hye Sun. “Penggemarmu menunggumu beraksi.” Dia menghentakkan dagunya ke arah sekelompok anak perempuan tahun ke empat yang baru saja hilang dari pandangan di pintu café Shinhwa.
“Astaga. Bisakah aku latihan dengan nyaman?” tanyanya pada diri sendiri hampir frustasi. Dia kembali memandang kedua sahabatnya. “Kalau begitu sampai di sini saja, teman-teman.” katanya. Dia berdiri dari bangku, meminum habis jus di gelasnya. Dia mengambil sebuah apel dari keranjang buah lalu menggigitnya. “Sampai jumpa pada makan malam.” Dia melambai singkat, lalu berbalik ke arah pintu keluar. Tak lama kemudian, Hyun Joong menghilang dari pandangan mereka.
“Sayang sekali kau gagal masuk tim, Jun Ki,” kata Hye Sun.
“Yeah, aku tak menyangka aku kalah seleksi dengan anak kelas dua itu, nilai kami hanya beda 0.5 saja,” kata Jun Ki. “Kau tidak berusaha menghiburku, Hye Sun?”
“Sudah. Aku tadi bilang ‘Sayang sekali kau gagal masuk tim’.”
Jun Ki menatap Hye Sun malas. “Penghiburan yang hebat,” ejeknya. “Carilah sesuatu yang lebih ehm—bersahabat.”
“Dan apakah ide brilianmu itu, Joonie?”
“Well, Hye Sun,” Jun Ki berdeham seakan-akan ada tulang ayam tersangkut di tenggorokannya—mendadak salah tingkah. “Well—“ Jun Ki mengalihkan pandangannya dari Hye Sun. “Kamu bisa…mengajakku ke Namsan Tower atau pantai.”
“Apa?”
“.”
Kata-kata—kalimat itu mengalir sangat cepat. Hye Sun berkedip satu kali, berusaha mencernanya. Dia berkedip kedua kali, berharap menangkap inti sari kalimatnya. Tapi kemudian dia bisa menangkapnya.
Tidak. Ini tidak boleh, pikir Hye Sun.
Sejak mereka berada di tingkat lima, Hye Sun mulai berpikir mungkin ada sesuatu di antara mereka. Mungkin ada. Dulu memang pernah ada. Tapi Hye Sun sudah menyingkirkan pikiran itu jauh-jauh. Namun sejak akhir tahun kelima, Jun Ki mulai mengajaknya pergi keluar. Well, bukannya dia tak pernah mengajak Hye Sun keluar sebelumnya. Hanya saja, ajakannya menjadi agak berbeda. Dia mencari-cari alasan untuk mengajaknya keluar. Dan Hye Sun tidak bodoh untuk tidak menyadari hal-hal seperti itu. Hyun Joong kadang juga menyadarinya. Dan Hye Sun juga merasa tak nyaman. Maksudnya, bukankah mereka teman baik? Hye Sun takut segalanya akan berubah jika dia membiarkan sesuatu-yang-tak-seperti-biasanya terjadi.
Hye Sun kadang membiarkan sesuatu-yang-tak-seperti-biasanya itu terjadi. Mereka kadang sering pergi minum ke café yang ada didepan sekolah mereka jika Hyun Joong sedang sibuk dengan latihan olimpiadenya. Tapi, dia tak melihat adanya keharusan atau kecenderungan hubungan itu harus lebih dari seharusnya. Mungkin memang tidak seharusnya?
Jun Ki lebih sering bersamanya sekarang ini. Tapi hingga saat ini Hye Sun tak melihat adanya hubungan yang mungkin akan terjadi dengan Jun Ki. Maupun Hyun Joong. Maksudnya, Jun Ki adalah sahabatnya, begitu juga Hyun Joong. Apalagi karena Hyun Joong memang milik setiap orang. Dia merupakan pahlawan-penyelamat-bokong-setiap-orang.
“Hye Sun?”
“Ya,” Hye Sun berdeham. “Er—maksudku tidak. Maksudku Namsan Tower ataupun pantai itu sangat jauh Jun Ki, kita tidak akan di izinkan keluar sejauh itu.” Hye Sun menggelengkan kepalanya. Dia memutar otak. “Aku juga tidak bisa membiarkan para tukang gosip ngomong yang tidak-tidak. Terakhir kita pergi, mereka bilang kita terlihat berciuman di cafe. Dasar orang kurang kerjaan.”
“Mengapa harus peduli—”
“Aku Ketua Murid, Jun Ki. Harus jaga wibawa.”
Jun Ki terdiam sejenak. “Kau mencari-cari alasan ya?”
Hye Sun pura-pura terlalu berkonsentrasi pada perkamennya. “Apa—Jun Ki?” tanyanya seolah baru sadar bahwa Jun Ki bicara padanya.
“Ehm—tidak. Tidak ada apa-apa.”

***

Lima puluh dua. Lima puluh tiga. Lima puluh empat…
Sebutir keringat mulai menetes dari dagunya pada hitungan push-upnya kelima puluh lima di dalam salah satu ruang berdebu di rumah bobrok milik mantan penjaga sekolah. Dia menghiraukan keluhan otot tangannya yang meminta belas kasihan untuk beristirahat. Dia tak ingin berhenti walaupun seluruh tubuhnya sudah tegang dan memprotes.
Berbagai ingatan merasuki benaknya. Perlahan-lahan melayang lagi dan terhembus ke dalam memori. Ingatan yang terhembus seperti angin yang menyelinap memasuki gubuk ini pada siang hari itu. Dingin. Memilukan.
Min Ho tahu, dia marah. Dan dia kesal karena rasa marah itu. Karena dia berada di pihak yang tepat—mengapa dia harus marah. Tak lama jika waktunya tiba, Dia-yang-namanya-terlalu-agung-untuk-disebut akan memulainya. Mengambil apa yang menjadi seharusnya. Mendirikan apa yang menjadi sepatutnya.
Darah Biru.
Keluarga bangsawan Lee yang termasyur di seluruh bagian dunia. Betapa dia bangga menjadi salah satunya. Satu-satunya pewaris. Lee bukan hanya sekadar nama. Keluarga Lee adalah kebesaran.
Ketika ulang tahunnya yang ketiga belas datang, semua perencanaan itu mulai dilakukan. Kakeknya telah mengatur semuanya. Ia akan menjadi Presiden Direktur perusahaan yang bergerak di segala bidang, Lee Corporation, tepat ketika ia berumur 17 tahun. Ia ingin membantah, melawan, dan memberontak, tapi semuanya telah diatur. Lee Min Ho tidak punya pilihan. Dia ingin seperti si bangau jelek miskin itu. Menjadi seseorang yang ingin masa depannya di atur oleh dirinya sendiri.
Marah. Mungkin itu kata yang tepat.
Biasanya Min Ho kembali ke asramanya setelah latihan ceramah gratis yang ayahnya berikan lewat telepon setiap minggu. Kemudian dia akan mencari seorang anak, mencari-cari kesalahan, lalu memberi bogem mentah kepadanya. Amarah tersalurkan. Namun jika ke sekolah tampak begitu membosankan—kadang malah membawa amarah baru, hutan inilah yang menenangkannya. Selalu. Ketenangannya. Kenyamanannya. Hutannya. Dunianya yang sunyi.
Dunia nyata Min Ho tetaplah keluarganya dan perjuangannya bersama Lee Corporation. Walaupun kegundahan dan amarah selalu menyertainya tiap dia selesai membaca laporan-laporan perusahaan yang dikirim ayahnya, dia tahu dia tidak memiliki pilihan lain. Karena dia tahu apa yang dilakukan ayahnya dan almarhun kakeknya adalah benar. Semua itu demi masa depan keluarga bangsawan seperti mereka. Jadi—
Lakukan. Hancurkan. Menang.
Ayahnya benar. Lakukan. Hancurkan. Menang. Ya, ayah. Lakukan, hancurkan, dan menang. Lakukan, hancurkan, dan menang. Lakukanhancurkanmenang. Lakukanhancurkanmenang―
Bagai doa.
Tujuh puluh enam. Tujuh puluh tujuh…
Jangan ragukan, acuhkan moral, pikirkan tentang Dia. Layani Dia. Lee Corporation yang akan membawa menuju kejayaan. Keagungan para darah biru.Jangan ragukan, acuhkan moral, pikirkan tentang Dia. Layani Dia. Terus bergema. Berulang-ulang. Tak ada cinta. Jangan rasakan cinta.
Cinta?
Min Ho tak pernah memikirkan keberadaan perasaan itu. Keberadaan sesuatu yang abstrak dan tak pernah jelas. Tak ada yang perlu dipercayai darinya. Dia bahkan meragukan perasaan itu memang ada. Tidak eksis. Sama seperti meragukan cinta di antara kedua orang tuanya.
Suatu kali, suatu malam pada malam musim panas bertahun-tahun yang lalu—ketika dia pernah berpikir akan cinta di antara ayah-ibunya, dia mulai sadar akan kenyataan bahwa cinta memang absurd. Kadang Min Ho bahkan meragukan dia mendengarnya—suara ayahnya di balik kamar tidurnya dengan orang lain. Wanita lain. Bukan ibunya—istri ayahnya. Kini dia tahu, tak ada perasaan yang harus dipikirkannya. Apalagi perasaan bodoh yang tidak nyata itu. Cinta? Persetan. Layani Dia, cintai Dia.
Ya, ayah. Ya.
Delapan puluh dua. Delapan puluh tiga. Delapan puluh empat…
Ruangan itu tidak terlalu terang. Sumber cahaya berasal dari jendela yang sudah pecah. Kaca itu sudah entah dimana sehingga hawa dingin memasuki ruangan yang cukup besar untuk sebuah ruang tengah.
Hari ini setelah latihan olimpiade Kimia dia pergi ke sini untuk menyibukkan dan mengalihkan amarahnya. Dan, dia memutuskan untuk melakukan latihannya sendiri. Tetapi alasan utamanya adalah dia ingin mengosongkan pikiran. Dia berharap otaknya akan dipenuhi rasa lelah sehingga dapat melupakan semua yang berkecamuk di benaknya saat ini. Mungkin sedikit dosis rasa sakit di ototnya yang lelah akan efektif. Dan di sinilah dia di atas lantai berdebu dalam rumah ini.
Segalanya berjalan lancar sampai dia mendengar sebuah suara samar dari luar jendela. Min Ho menajamkan indra pendengaran. Terdengar suara gonggongan anjingnya lagi di kejauhan. Awalnya dia ingin menghiraukan dan melanjutkan push-upnya. Tapi ruangan itu sangat sunyi sehingga membuat gonggongan Kofu seakan semakin membesar. Hitungannya menjadi kacau.
Min Ho frustasi. “Brengseeek,” dia mengumpat pelan.
Dengan kesal karena latihannya terganggu, dia bangkit dari lantai. Debunya berterbangan ketika dia membuat gerakan tiba-tiba. Min Ho bersin sekali. “****,” sahutnya. Dia merenggangkan tubuhnya sejenak untuk merelakskan otot, lalu mengelap keringat dengan kemejanya sekadarnya.
Suara Kofu terdengar lagi. Dia melihat ke arah luar jendela. Masih terang. Pepohonan masih terselimuti oleh cahaya kekuningan. Berarti dia latihan belum cukup lama.
Min Ho berjalan menyusur koridor rumah itu. Lantai kayunya berderit ketika dia menapak di atasnya. Dia membuka pintu depan bobrok yang hampir lepas dari engselnya. Dan mengutuk pelan ketika pintu terjatuh beberapa langkah setelah dia melewatinya. Udara di luar tidak lebih dingin daripada di dalam, hanya saja udara musim gugurnya menjadi lebih terasa.
Min Ho memasuki hutan dan melewati pepohonan yang dedaunannya mulai menguning. Semakin dia berjalan memasukinya, semakin terdengar sumber suara itu. Kemudian, Min Ho melihatnya. Dia menyumpah-nyumpah karena hal itu.
Lagi.
“Kau? Lagi?” kata Min Ho jengkel. Kofu langsung terdiam mendengar suara tuannya.
Wajah Goo Hye Sun tampak mengeras, melihat Min Ho. Tak ada rasa senang dalam pertemuan tak terduga mereka untuk yang kedua kalinya. “Diamlah,” sahut Hye Sun, merah padam.
Goo Hye Sun tersentak saat melihatnya lagi. Sama seperti sebelumnya, ia ketakutan oleh Kofu. Di pohon yang sama. Dan Min Ho dapat melihat dengan posisi yang sama.
Astaga, bagaimana—bagaimana bisa—Goo Hye Sun bisa sebodoh itu.
Kemudian Min Ho tak dapat menahan diri untuk tertawa. Bukan karena situasinya, tapi karena dia ingat bahwa ini adalah kedua kalinya Goo Hye Sun melakukan kecerobohan bodoh dan memalukan. Bagaimana bisa Goo Hye Sun membiarkan dirinya terlihat begitu bodoh?
Min Ho tertawa semakin keras. Dia menghampiri pohon itu dan menatapnya dari bawah. “Kau tak bisa tinggal bilang ‘diamlah’ begitu saja, Goo Hye Sun, karena kau tidak melihat dari perspektifku. Dan aku menganggap situasi ini benar-benar lucu.”
Sepertinya Hye Sun tidak dapat memikirkan cemoohan balasan yang tepat untuk Min Ho, dia hanya diam saja. Pipinya lebih merah padam lagi.
“Lee Min Ho, enyahlah saja, oke?” kata Hye Sun frustasi.
“Kau tak punya hak mengatur apa yang kulakukan.”
“Terserahlah apapun yang kau katakan. Just—pergilah dari sini! Ya ampun, kenapa sih kau sebegitu menyebalkan?”
“Kau pikir dirimu tidak menyebalkan, otak udang?”
“TIDAK SEBESAR KKAAAAUUUU, KECOAK BUSUUUKKK!” seru Ketua Murid itu putus asa.
Min Ho tersenyum sinis, memutar bola matanya. Saling mencemooh. Mereka tampak seperti orang bodoh sekarang. Murid tahun terakhir sekolah internasional Shinhwa yang tersohor mahir dalam ejekan dan cemoohan? Para pengajar harus menyadari melihat bakat ini. Dengan begitu mata pelajaran seperti Matematika atau sejenisnya bisa di hilangkan sehingga sangat bermanfaat untuk menghindari jatuhnya korban akibat ketidakmampuan melihat angka-angka dewa yang bertaburan bagai bintang-bintang di langit. Bagus. Masukkan pelajaran ini dalam kurikulum sistem pengajaran tahun depan.
Ya ampun. Tidakkah ada yang bertindak dewasa di sini?
“Bangau miskin jelek,” balas Min Ho, mengeluarkan pamungkasnya. Dia telah melontarkan kata kuncinya. Bangau miskin jelek. Oke, dia memang tak bertindak dewasa saat ini. Tapi seorang Lee Min Ho tak boleh kalah.
Hye Sun terdiam sejenak. “Kau tahu aku tak suka menyebutku itu.”
“Aku tahu,” sahut Min Ho singkat. “Biasakanlah. Kau tahu kan, aku termasuk orang sering menyebutkannya. Dan aku akan mengatakannya lebih sering lagi.”
Goo Hye Sun menyipitkan matanya sambil mendengus. “Sulitkah agar tidak meggunakan kata-kata biadab itu? ”
“Ooooohhh, lebih sulit dari yang bisa kau bayangkan, Goo Hye Sun.”
Hye Sun menggeram habis kesabaran. “Lee Min Ho, PLEASE, pergi dari sini?”
Min Ho mengangkat alis. “Aku yang seharusnya mengatakannya.” Kofu menghampiri Min Ho dengan mengibas-ibaskan ekornya. Min Ho membungkuk untuk menggaruk belakang kuping anjing itu. “Jadi, Goo Hye Sun—” dia terhenti sejenak untuk tersenyum mengejek. “Tak bisa turun lagi, bukan begitu?”
“Setelah kau dan anjing bodohmu pergi.”
“Well, dia jauh lebih cerdas dari kepala besarmu, Goo,” ujar Min Ho.
Hye Sun mencemooh, “Dia cukup bodoh untuk memilihmu sebagai tuannya.”
“Dia cukup pintar untuk menerkam mulut besarmu jika kau turun nanti,” tukasnya. Min Ho tersinggung dan sedikit terprovokasi. Tapi kemudian dia berusaha untuk tenang dan sedikit menyebalkan—untuk membuatnya kesal.
Hye Sun terdiam. Paling tidak untuk beberapa saat. Min Ho tahu seperti apa dia. Enam tahun satu sekolah dengannya. Cukup untuk mengetahui seberapa cerewetnya Goo Hye Sun.
Gadis itu masih berjongkok, berusaha menyeimbangkan diri. Tangannya berusaha merapikan roknya menjaga agar tidak tersingkap.
Oh, Tuhan. Bagaimana Kutu buku Goo bisa memakai rok pendek seperti itu. Mungkin dialah yang sengaja ingin digoda oleh para lelaki di Shinhwa. Mungkin dia juga seorang jalang. Dan Lee Min Ho adalah satu-satunya laki-laki yang bisa berpikir logis. Goo Hye Sun adalah bangau miskin jelek, demi Tuhan!
“Jadi—” Min Ho menghela napas. “Kau berniat bertengger di sana sepanjang waktu? Sayang tak ada sang pahlawan, Goo Hye Sun? Joongie si penyelamat bokong setiap orang di Korea. Well, aku tahu dia sedang sibuk, akhir-akhir ini. Tapi bukankah ada si Joonie? Pengawal setia yang tersohor.”
Hye Sun menggigit bibirnya.
Min Ho menelan ludah.
“Bilang saja kau iri betapa mereka dicintai semua orang,” Hye Sun berkata dengan tenang. “Yang kau lakukan hanya mencari gadis yang bisa menemanimu di ranjang.”
“Yeah, yang benar saja,” Min Ho memutar bola matanya. “Apa kau tak pernah dengar gadis-gadis itu, bagaimana mereka memuja―well, apa aku bisa menyebutnya bakatku?”
Kurasa itu akan membuat Goo Hye Sun jalang itu muntah. Min Ho bisa melihat rasa jijik terpancar dari wajahnya bagai buku yang terbuka. Goo Hye Sun terlalu mudah dimanipulasi. Dia terlalu polos.
“Oh, ya ampun. Kau menjijikan,” geramnya. Kemudian dia terlihat berpikir-pikir sejenak. “Well, aku akan turun, Lee Min ho. Tapi jaga anjingmu.” katanya tegas. “Dan aku ingin kau berbalik.”
Min Ho mengerutkan keningnya, “Maaf?”
“Aku memakai rok, idiot! Kau harus berbalik dulu.”
Aku tahu itu, bodoh. Maksudku, apa bedanya? Atau apa gunanya? “Kau menuduhku mengintipmu?”
Hye Sun menatapnya tak sabar, “Berbalik saja, oke?!”
Min Ho tersenyum mengejek. Tapi perlahan dia berbalik sambil mengumpat dalam hati. Dia membuat spekulasi dalam benaknya untuk Goo Hye Sun ke tempat ini. Ini adalah Hutan yang terlarang untuk di masuki oleh para siswa. Umumnya orang takut masuk ke dalam sini. Apa dia mencari tempat sembunyi untuk saat-saat intim dengan cowok-cowok Shinhwa? (Goo Hye Sun? Yang benar saja). Atau mencari tempat untuk belajar? Pikiran yang terakhir dia buang karena Goo Hye Sun takkan mungkin datang lagi ke sini hanya untuk belajar. Belajar apa? Belajar bahwa ada binatang liar yang siap mengoyak isi perutnya setiap saat? Well, Min Ho tahu Goo Hye Sun itu cukup bodoh, tapi tak sebodoh itu untuk tak menyadari hal itu. Pastinya motivasinya lebih dari itu. Pastinya. Maka dari itu, dia kembali lagi ke sini, menyuruh Min Ho untuk pergi, dan menyuruh Min Ho berbalik memunggungi—
Tunggu.
Kenapa aku harus berbalik? Aku ingin kau berbalik, katanya. Sejak kapan seorang Lee Min Ho diperintah seorang bangau jelek? Maksudku, kenapa aku harus mengikuti perintahnya? Apa haknya memerintahku? Hoooo, dia kira aku siapa? Dia kira dia siapa?
Min Ho berbalik lagi untuk menghadapi si rambut-hitam-bergelombang itu. Namun, Goo Hye Sun tidak sedang menatapnya. Jelas dia kesulitan untuk turun dari pohon itu. Terlebih dia bukan pemanjat yang handal. Jika Min Ho melihatnya dalam situasi lain, mungkin dia akan tertawa mencemoohnya.
Namun, dia terpaku.
Kini Min Ho mengerti kenapa Hye Sun memintanya berbalik memunggunginya. Tapi Min Ho tak sudi—dan tak ingin—melakukannya sekarang. Karena sedang dia menatapnya.
Goo Hye Sun mencoba turun dengan kaki lebih dulu. Tangannya meraba-raba batang pohon. Kakinya mencoba mencari pijakan. Tapi tak dia menemukan apapun selain kulit kayu yang kasar. Roknya yang pendek menggesek batang pohon yang besar sehingga kain itu tertahan—yang benar saja—di sekitar panggulnya, memperlihatkan—mengekspos kakinya secara keseluruhan. Kaki itu. Kaki seorang Goo Hye Sun—
Min Ho membasahi bibirnya.
Jadi itulah yang dimaksudkan Ji Hoo dan penghuni laki-laki Shinhwa lainnya.
Kofu menggonggong singkat. Suara itu membuat Goo Hye Sun tersentak kaget. Juga membuat Min Ho tersadar. Konsentrasinya buyar dalam sekejap. Karena kehilangan konsentrasinya, Goo Hye Sun kehilangan pegangan dan serta merta dia terjatuh ke atas rerumputan dengan cukup keras. Dia mengaduh pelan, mengelus pinggangnya.
Min Ho menenangkan Kofu. Anjing itu menurut sambil mengibaskan ekornya.
Goo Hye Sun langsung berdiri lagi. Sejumput rambut menutupi wajahnya. Dia menyingkirkan rambutnya dari wajah lalu mengibaskan rerumputan yang menempel pada baju dan roknya. Wajahnya bersemu merah.
Min Ho tersenyum senang. Goo Hye Sun jelas merasa tak nyaman. Gadis itu merapikan bajunya dengan canggung kemudian memasang tampang marah di wajahnya.
“Pendaratan hebat. Sama seperti yang lalu,” gumam Min Ho. Dia menyilangkan kedua tangannya. “Bravo. Bravo, Jelek.”
Hye Sun berdeham gugup. “Kau tak boleh menginjakkan kaki di sekitar sini lagi.”
Min Ho mengangkat alis. “Apa?” tanyanya—mengira dirinya salah mendengar.
“Kau tak boleh minginjakkan ka—“
“Diam. Aku sudah dengar bagian itu,” sahut Min Ho tak sabar. “Apa yang membuat otak udangmu berpikir aku yang harus pergi dari sini?”
“Aku sudah bolak-balik ke sini sejak seminggu yang lalu. Aku yang lebih berhak ke tempat ini karena datang lebih dulu.”
“Oh,” respon Min Ho datar. “Benar begitu?” Kemudian dia sedikit berlagak menimbang-nimbang. “Well…gigit dia, Kofu.”
Anjing itu menggonggong nyaring. Namun dia tidak bergerak dari tempatnya. Kofu tahu tuannya hanya mengancam.
Tapi gonggongan itu sanggup membuat Goo Hye Sun ngeri. Dia tersentak kaget. “Astaga!”, serunya. Secara instingsif, dia berlindung di belakang Min Ho, mencengkram lengan kemejanya.
“Jangan sentuh aku, bangau jelek,” kata Min Ho kasar, menghentakkan tangannya agar cengkraman tangan Hye Sun lepas.
Perlindungannya hilang. Serta merta Hye Sun meraih tongkat panjang yang tergeletak tak jauh dari dirinya. Dia berdiri tegap dengan tangan terjulur dengan tongkat itu teracung ke arah Kofu-Min Ho secara bergantian. “Kau tahu aku tak sudi menyentuhmu, Lee Min Ho. Tidak untuk satu helai rambut pun.”
Kemudian sifat Kofu menjadi berubah melihat Goo Hye Sun mengacungkan tongkat padanya. Dia menggeram mengancam ke arahnya. Waspada. Namun dia cukup cerdas untuk tidak langsung menyerang dan menjadikannya bulan-bulanan tongkat Hye Sun. Diam. Memikirkan kapan untuk bergerak.
“Singkirkan hewan sialan itu dan pergi dari sini!” kata Hye Sun nyaris berseru.
“Pergi dari sini, Goo Hye Sun?” tanya Min Ho, kini mulai marah. “Katakan pada anjingku bahwa kau lebih dulu menemukan tempat ini” Min Ho menghentakkan dagunya ke arah Kofu. “Dan aku bersumpah aku akan membuat dirimu tidak akan nyaman seumur hidup. Akan kupastikan Kofu mengurusmu dengan baik. Dia tuan rumahnya, Goo Hye Sun. Dan kau harus tahu, dia sudah ada di sini bahkan sebelum kita diperbolehkan keluar sekolah untuk mengunjungi café yang ada di depan sekolah.”
“Aku tak melihatmu beberapa terakhir ini, jika ini memang kau duluan yang menempati.”
Oh,itu. Pastikan Goo Hye Sun mendengarnya dengan jelas. “Aku juga mempunyai kesibukan, Goo Hye Sun. Olimpiade, gadis-gadis, dan semua yang sulit kau bayangkan,” jawab Min Ho datar. “Right, boy?”
Anjing itu menyalak keras.
Hye Sun tersentak lagi. Min Ho terkekeh. Kofu berhenti menyalak ketika tuannya itu mengangkat salah satu tangan untuk menyuruhnya diam.
Goo Hye Sun mundur selangkah. “Jangan-lakukan-itu-lagi,” ia menggeram.
“Hadapilah. Kau yang menyebabkannya.”
Goo Hye Sun memejamkan matanya sejenak untuk menarik napas. “Jangan suruh anjingmu melakukan hal bodoh itu lagi.”
“Bukan aku yang menyebabkannya. Dan sudah kukatakan bahwa dia tidak bodoh. Dia cerdas dari yang kau bayangkan,” kata Min Ho. “Dan kini kau harus pergi, Goo Hye Sun. Aku muak melihatmu.” Dia mulai merasa tak sabar. “Kaulah yang menyusup ke tempatku. Dan aku sangat tidak menyukainya.”
Hye Sun mundur perlahan-lahan. “Biasakanlah. Karena kau akan melihatku lebih sering lagi,” Hye Sun mendesis. Dia berbalik, meninggalkan tempat itu.
Sebelum Min Ho membalas Hye Sun sudah lari memasuki semak-semak. Sosoknya hilang di balik pepohonan. Min Ho teriak dengan sekuat tenaga, berharap itik buruk rupa itu mendengarnya. Dia pasti masih bisa mendengarnya.
“Dan biasakanlah. Karena kau akan merasa hidup di neraka lebih lama lagi!”

Tunggu update selanjutnya yaa.. tapi mungkin agak lama. Soalnya lg sibuk sama ujian.
« Last Edit: January 28, 2010, 10:44:54 pm by dara »

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Re: MinSun always
« Reply #8 on: January 29, 2010, 01:34:51 am »
Wah tersanjung dibilang peramal.. Sebenar-a aq suka bc semua ff n ni ff rasa-a dah aq baca di li ttg pairing dra-mione hanya aja disini dimodify ama minsun  mk-a di chp 3 msh ada tulisan perkamen yg diganti kertas kan... Chap 3 dah lumayan hanya feel-a msh kurang greget trus antar paragraf dikasih jarak dong... Eh iya ngingatin lg nih walo disebelah dah aq ksh tau jg tp gpp dipost disini jg yaitu topic diboard n subject sama dgn judul ff utk memudahkan yg baca hal ini berlaku utk multichap ya jd tolong yg topic diboard n judul ga sama disamakan..

Offline pink_girly

  • Full
  • ***
  • Posts: 341
  • <3 MinSun
    • View Profile
Re: MinSun always
« Reply #9 on: February 01, 2010, 03:28:04 am »
wawh Keren...!  [on] [lovestruck]

tp, g agak bingng sm cast n krkter mrk d'stu... [heh] [sweat]
tp, udah bgs pngn cpt" bc CHP 4 nich...   

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: MinSun always
« Reply #10 on: February 01, 2010, 05:22:06 am »
dara, antar paragraf dikasih jarak dung, gw pusing nih bacanya, gumawo  [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Re: MinSun always
« Reply #11 on: February 01, 2010, 07:21:24 am »
Pemberitahuan untuk semua author agar mencantumkan tanggal update dijudul topic-a utk memudahkan pembaca mengetahui ff yg sdh diupdate n buat index perchap diawal page. Gomawo..

Offline kika-sisters

  • Newbie
  • *
  • Posts: 2
    • View Profile
Re: MinSun always
« Reply #12 on: February 03, 2010, 10:45:01 pm »
anyong haseyo minsun lovers....
ku kika... mau gabung boleh kan..  [biggrin]  [hello]
lam kenal ya buat smuanya  [hug]

senengnya bisa ikut di gabung disni..[2vil3jc]

lngsung komen blh ya..
buat dara, ff-nya bgus..
awalnya agak bingung bacannya   [AddEmoticons04254] [hmff]
soalnya banyak castnya , ada harry, dkk jg..
tpi lama2 seru bgt (permusuhan antara hye sun ama mino) Emoticons0423
ko' mreka ampe sgtunya ya..
n mino ko' nakal ya... pake tdur ama banyak cewe' (1 mgg 5 gadis... ) strong amat..  [drool] Emoticons0433  [sweat]

itu aj dl deh... mulai error nih...


Offline Bian

  • Newbie
  • *
  • Posts: 39
    • View Profile
Re: MinSun always
« Reply #13 on: February 04, 2010, 12:06:10 am »
anyong haseyo minsun lovers....
ku kika... mau gabung boleh kan..  [biggrin]  [hello]
lam kenal ya buat smuanya  [hug]

senengnya bisa ikut di gabung disni..[2vil3jc]

lngsung komen blh ya..
buat dara, ff-nya bgus..
awalnya agak bingung bacannya   [AddEmoticons04254] [hmff]
soalnya banyak castnya , ada harry, dkk jg..
tpi lama2 seru bgt (permusuhan antara hye sun ama mino) Emoticons0423
ko' mreka ampe sgtunya ya..
n mino ko' nakal ya... pake tdur ama banyak cewe' (1 mgg 5 gadis... ) strong amat..  [drool] Emoticons0433  [sweat]

itu aj dl deh... mulai error nih...




@ kika : anyong kika, met gbung dsni ya hehehehe driku jg msh bru dsni, bru bbrp minggu klo ndak slah hahahahahahah

Offline pink_girly

  • Full
  • ***
  • Posts: 341
  • <3 MinSun
    • View Profile
Re: MinSun always
« Reply #14 on: February 04, 2010, 01:33:30 am »
kika_sisters : Anyong kika  [hello]... slmt brgbng  [AddEmoticons04218] gw jg newbie d'sini *skitar smnggu yg lalu mngkin*...  [hmpfh]
                           Happy posting yachh...  [AddEmoticons04257]