Author Topic: Angel By My Side~Chapter 22 Updated 9 January 2011~  (Read 52030 times)

Chainezz_Vian

  • Guest
Re: Angel By My Side~Chapter 19 Updated 14 Juli 2010~
« Reply #915 on: August 10, 2010, 04:58:34 am »
Haii karin. . .
Ia. . .uda 1bln lbh. . .
Nah, kn uda 1bln lbh nie ff ngang'gur jd nanti bgitu update ampe 5 page ya *_*
Hehe. Qiding xD

update!  Semangat!!! >_<

Offline siska

  • Newbie
  • *
  • Posts: 62
    • View Profile
Re: Angel By My Side~Chapter 19 Updated 14 Juli 2010~
« Reply #916 on: August 10, 2010, 07:50:58 am »
betul betul betul [upin02]

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
Re: Angel By My Side~Chapter 19 Updated 14 Juli 2010~
« Reply #917 on: August 10, 2010, 11:31:43 pm »
 [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] sesuai janji,,, FM bummie dah bres, mami jg dah update bengkok... so wktunya niy ff drimu update dooong riiinn.. [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

dtunggu secepatnya yaaa riin.... [clap] [clap] [clap]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Rizkyta_A

  • Junior
  • **
  • Posts: 169
  • my first lovely couple
  • Location: depok
    • View Profile
Re: Angel By My Side~Chapter 19 Updated 14 Juli 2010~
« Reply #918 on: August 10, 2010, 11:42:39 pm »
 agree [AddEmoticons04254]

update [AddEmoticons04231] [AddEmoticons04245] [AddEmoticons04220]

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
Re: Angel By My Side~Chapter 19 Updated 14 Juli 2010~
« Reply #919 on: August 11, 2010, 08:41:33 am »
aku sudah berusaha sebaik mungkin buat bikin nih ff jadi nyambung..  [laughing] [laughing] [laughing]
dari tadi  aku lakukan itu ngedit" nih ff ini mulu walaupun sebenernya, sindrom males lagi kambuhh..  [wacko] [wacko]

mian ya kalo jelek... aku sudah berusaha sebaik mungkin...  [sweat] [sweat] [sweat] [sweat] [sweat]
bentar lagi mesti tidur nih. tlg dikomen ya all...  [biggrin] [biggrin] [biggrin] [bye] [bye]

ADDITIONAL CAST :
HAN CHAE YOUNG

JESSICA SNSD as JESSICA

SONG YOON AH

HAN GA IN

CHOI SIWON


CHAPTER 20

Karena aku tahu jelas, bersamanya, ia akan selamanya bahagia. Sekalipun, aku juga jelas tahu, membiarkannya bersama pria lain, sama artinya dengan selamanya terluka..."





   “LEE MIN HOOOO!!!”
   
“Waeyo, Hye Sun-a?”Dahi Min Ho berkerut heran ketika ia mendapat telepon dari Hye Sun yang dipikirnya masih ngambek dan jutek padanya itu.
   
“Jadi, selama ini kau membohongiku, bukan, salah, KAU mempermainkanku?”Hye Sun dengan suara kerasnya itu mengajukan pertanyaan yang mengejutkan Min Ho itu.
   
“Min Ho—Cepat kemari. Urus urusanmu nanti—“Suara Appa Min Ho mulai terdengar ketika Min Ho menghadap ke arah jendela, menjauh dari kedua orangtuanya ketika ia mendapat telepon dari Hye Sun.
   
“Ini dari Hye Sun—Tolong tunggu sebentar—“Min Ho menjauhkan ponselnya dari dirinya agar Hye Sun tidak mendengar pembicaraannya dengan ayahnya.
   
“LEE MIN HOOO!!!”
   
“Ya?”
   
“Jangan mengucapkan ‘ya’ itu seperti kau adalah orang paling tidak berdosa di dunia ini!”teriak Hye Sun dari seberang sana. “Jadi, Dara sebenarnya bukan kekasihmu?”
   
“Setahuku, aku tidak pernah bilang begitu—“Min Ho menjawabnya dengan nada yang tenang dan pelan, takut ketahuan kedua orang tuanya.
   
“Yaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!”
   
“Kalau dari Hye Sun, suruh dia kemari saja—Dia sudah bangun, kan?”Ibunya mengusulkan ide. Sepertinya perkataan ibunya itu terdengar oleh Hye Sun, ia segera berteriak di telepon. “SIROYOO!! Tidak mau ke sana!!!”
   
“Apa maksudmu membohongiku?”tanya Hye Sun dengan nada yang tegas.
   
“Sumpah, Demi Tuhan, aku yakin waktu itu kau tidak memberiku kesempatan untuk menjawab dan menjelaskan—“Min Ho bersungguh-sungguh dengan suara yang kecil. “Bukan maksudku untuk berbohong—“
   
“Ah! Geotjimal! Lee Min Ho, aku harus membuat perhitungan denganmu yang sudah membohongiku!! Pulang sekarang!!”seru Hye Sun nyaring. “Kau tidak tahu kalau aku tuh sudah kacau sekali! Eh—maksudku—Lupakan! Pulang sekarang!”   

“Aku harus berada di sini, Hye Sun-a. Maaf, hari ini aku tidak punya waktu, aku tidak akan pulang sebelum pukul sembilan malam—“Min Ho berkata dengan nada yang penuh penyesalan. “Ada dinner dengan klien penting. Orangtuaku akan menahanku di sini—Sorry—Kau tahu aku dan ayahku bertemu sekali-kali—So—“

“Oke. Sana ! Kau benar-benar menyebalkan ! Jangan heran jika pulang-pulang, kau tidak akan menemukanku di rumah!”teriak Hye Sun dari seberang sana, membuat telinga Min Ho benar-benar sakit, sebelum akhirnya Hye Sun memutuskan sambungan teleponnya.
***
   
“Mr. Lee—“panggil klien yang ada di depannya dengan sungguh-sungguh. “Saya dari tadi menghitung kalau Anda sudah tidak mendengarkan pembicaraanku selama tiga kali.”
   
“Jwesonghamnida.”Min Ho segera tersadar dari lamunannya. Jangan heran jika pulang-pulang, kau tidak akan menemukanku di rumah! Perkataan Hye Sun terdengar lagi di kepalanya. “Saya harus ke toilet dulu—“
   
Sambil berdiri dari kursi meja makan restoran Prancis di salah satu hotel bintang lima itu, ia melirik jam tangan yang terlingkar di tangan kirinya. 08.13 pm. Ketika sampai di toilet pria, ia segera mengeluarkan ponselnya, menelpon nomor telepon rumahnya itu, namun tidak diangkat-angkat oleh Hye Sun.

Jangan-jangan ancamannya benar? Ia menelpon Goo Mansion, tapi, mereka bilang tidak ada orang di rumah. Ibu mertuanya sedang menjalankan business trip ke Spanyol, Hye Jung sedang berada di Paris, seperti biasa, dengan suaminya, Oh Byung Hyun. Dan Nona Muda kedua tidak menampakan diri akhir-akhir ini sejak menikah dengan Min Ho. Ponsel Hye Sun pun aktif, namun tidak diangkat.
   
“Mungkin dia ketiduran—”Min Ho mencoba meyakinkan dan menghibur dirinya sendiri, walaupun, ia tahu sekali, Hye Sun orang yang gampang tidur dan gampang terbangun oleh suara apa pun juga, termasuk suara telepon. “Mungkin ia tidak sengaja menjawab. Ia malas.” Nah, yang itu mungkin benar. Kesalahpahaman yang telah tercipta antara mereka soal status Dara bagi Min Ho bisa saja membuat Hye Sun marah dan tidak mau mengangkat telepon.
   
Min Ho menghela nafasnya dengan panjang. Ia sepertinya harus segera cek di rumah, jika Hye Sun tidak mau mengangkat teleponnya seperti ini terus. Jika tidak ada di rumah juga—Apa yang harus ia lakukan??
***
   Bar Charmele(ctr)on, di waktu yang sama, 08.13 pm.

   Musik di klub malam bergengsi di Seoul itu terdengar sangat keras. Tidak biasanya Hye Sun masuk ke klub malam seperti ini. Ia cenderung tidak kuat minum alcohol dan membenci pesta seks yang biasa diadakan di tempat ‘seremang’ ini. Namun, setelah mempertimbangkan dengan matang, ia tadi sudah mengambil keputusan setelah shopping seharian di berbagai kawasan perbelanjaan yang ada di Seoul, ia akan mendatangi pesta di klub malam, berhubung ia sedang bad mood.

   Setelah ke salon dan berganti baju, ia sekarang sudah berubah menjadi seorang perempuan yang terlihat glamour dan doyan pesta. Rambutnya yang sudah sebahu itu ditata rumit, make upnya tipis, namun elegan. Gaun tube top yang jatuh di atas lututnya itu sangat fashionable, mengingat gaun itu memang keluaran terbaru di butik yang semua harganya mempunyai 6 digit angka nol di belakang angkanya.

   Ia melihat teman-teman sesama modelnya ketika tahun 2004-an lalu yang sekarang masih memilih profesi yang sama. Semuanya menatapnya dengan takut lalu menunduk. Hye Sun memang tidak menjalin hubungan baik dengan rekan seprofesinya di Korea.

Bukan karena merasa diri lebih tinggi karena ia sudah lebih dahulu berlenggak-lenggok di catwalk Hollywood, namun, lebih karena ia yang tidak suka berbaur dengan orang lain selain Geun Seuk, tunangannya saat itu. Ia merasa nyaman dan cukup dengan Geun Seuk saja.

Ketika ia berkecimpung di dunia permodelan Korea, Hye Sun mendengar dirinya menjadi perbincangan menarik di antara model-model lainnya, tentang apakah dirinya tidur dengan salah satu designer pria atau fotografer pria atau editor in chief pria, sampai ia benar-benar laku keras, tentang bagaimana latar belakang keluarganya, tentang penolakan Hye Sun yang tidak halus ketika ia mendapat gaji hampir lima ratus juta won untuk berpose panas untuk salah satu majalah pria, padahal lima ratus juta won bukan uang yang sedikit, tentang banyak hal, namun ada yang membuat Hye Sun kesal dan melabrak mereka habis-habisan. Tentang Geun Seuk.

Mereka bicara tentang betapa dekatnya dirinya dan Geun Seuk, mereka memakai istilah anjing dan majikannya, ketika mereka menjelaskan yang anjing dan tak punya pikiran itu Geun Seuk karena mau mengikuti Hye Sun yang menurut mereka sombong itu. Ketika itu, Hye Sun memarahi mereka semua dengan gencar, sampai-sampai mereka tidak ada yang berani menatap mata Hye Sun sampai sekarang ini.

Namun, ada beberapa yang tidak menatapnya dengan takut, Jessica and the gank, gank yang sebenarnya dimotori Yoon Eun Hye, model yang waktu itu pernah cari gara-gara dengan Hye Sun dan dijebloskannya ke rumah sakit jiwa, sedang melihatnya lekat-lekat, dengan mata yang memancarkan kemarahan akibat bagaimana Hye Sun membuang Eun Hye, ketua gank mereka begitu saja ke rumah sakit jiwa.

Hye Sun sendiri tidak peduli. Ia berjalan terus di bar itu ketika ia bertemu dengan Han Chae Young, model senior, yang termasuk salah satu model yang tidak punya sejarah permusuhan dengan Hye Sun. “Hye Sun! Tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini—”

“Chae Young Onnie!”

“Hey. Lama tidak berjumpa. Ngomong-ngomong, setahun terakhir ini aku berada di Jepang bersama suamiku, makanya, bulan Januari lalu, aku tidak bisa datang ke pemakaman Jang Geun Seuk dan pernikahanmu karena baru saja aku pulang kemarin.“Chae Young tersenyum lebar dengan bibirnya yang penuh dan padat itu. Hye Sun hanya membalasnya dengan senyum lemas. “Araseo, araseo—Walaupun sudah menikah lagi, aku yakin kau tidak akan melupakan Geun Seuk sebagai satu-satunya pria yang selalu setia di sampingmu itu. Aku bahkan masih ingat bagaimana dia menemani hampir dalam setiap pemotretan. Tapi, percayalah, dia pria baik, dia akan diterima di atas sana.”

“Onnie—“

“Hye Sun—Kau sudah bertemu, Han Ga In, Song Yoon Ah, dan lainnya? Aku baru berkomunikasi lagi dengan mereka kemarin, selama di Jepang, aku tidak pernah mengingat-ngingat tentang Korea. Semua terfokuskan pada anak semata wayangku.”Chae Young kemudian mengganti topik pembicaraan ketika melihat ketidaknyamanan Hye Sun dengan topik yang dibicarakan mereka tadi.

“Belum, Onnie—Terakhir bertemu dengan Ga In, Yoon Ah Onnie itu saat pernikahanku.“

“Kau sekarang mau bergabung dengan kami? Aku merindukan saat-saat mengobrol—”

Hye Sun baru saja ingin mengangguk ketika ia melihat seorang pria dengan kemeja putih yang agak transparan dan tipis dan celana ketat terlihat sedang mabuk di salah satu bar di klub itu. Ia baru menyadari siapa pria itu ketika pria itu membalikkan badannya dan menggoda salah satu perempuan di dekatnya dengan agak linglung. Perempuan itu terlihat tersinggung, ia mendorong pria itu sampai terjatuh, untungnya, lelaki itu bisa bangkit lagi dan kembali menghadap bar.

“Onnie duluan saja, ya—Aku melihat temanku di sana—“Hye Sun tersenyum pada Chae Young Onnie yang sekarang terlihat agak kecewa, namun akhirnya senyumnya mengembang lagi. “If you have a little time, just join us, okay?”

“Ne.”jawab Hye Sun sambil tersenyum mengiringi kepergian Chae Young Onnie dari sana. Hye Sun kemudian mendekat ke bar itu. Lelaki itu sekarang menaruh kepalanya di atas meja bar itu, membuat si bartender pria menggeleng-geleng sendiri.

Hye Sun segera mengangkat wajah pria mabuk itu ketika ia menghampirinya. Dan ternyata benar saja—

Dia adalah Andrew Choi Si Won. Si Won adalah rekan seangkatannya yang playboy kelas kakap, namun tidak bermasalah dengan nilainya dan tidak pernah membuat pelanggaran, seorang atlet yang handal ketika Hye Sun bersekolah di Seoul International High School, tempat di mana Hye Sun dicap sebagai siswi manis, baik, ceria, dan ramah pada semua orang. Tentu saja, dia adalah kelinci manis ketika berhadapan dengan publik, namun ketika ia tahu kalau aman rasanya untuk membuka sisi macannya atau ketika ada orang yang seperti mengusik dirinya, ia menunjukkan sifat aslinya. Galak, agak sombong, bawel, namun tetap penceria.

“Mantan OSIS sesi olahraga SIS? Choi Si Won?”Hye Sun mengarahkan wajah Si Won ke arahnya. Dari antara semua anggota OSIS, Hye Sun tahu kalau Siwon satu-satunya yang ia kenal dengan baik. Siwon adalah pribadi supel dan mudah bersosialisasi, hal itu membuatnya selalu bisa memenangkan hati wanita, kendati pun  pesonanya tidak bekerja pada Hye Sun. “Siwon yang playboy? Kenapa kau bisa mabuk di sini?”

Tapi, percuma saja, lelaki itu tidak menjawab. Ia kemudian bertanya pada bartender pria itu, “Berapa gelas ?”

“Sepuluh, mungkin sebelas—“Bartender itu menjawab, kemudian ia beralih pada pelanggan lain yang telah menyerukan pesanannya.

Secara mengejutkan, Siwon kemudian mengangkat kepalanya, ia melambaikan tangannya pada Hye Sun. “Kau?”

“Aku Hye Sun—“Hye Sun menjawab cepat-cepat. “Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di pesta ini. Aku pikir kau masih di luar Korea.”

“Akhirnya aku bertemu dengan orang yang menyedihkan juga sepertiku—“Siwon bicara.

“Mworago?”Dahi Hye Sun berkenyit dalam.

“Aku tidak menghadiri pemakamannya. Aku minta maaf—“Siwon menunduk ketika mengatakan hal yang membuat Hye Sun bingung sendiri.

“Dua hari sebelum kematiannya, ia mengunjungiku di London dan memberikanku undangan pernikahan kalian—“Mata Siwon sekarang terlihat terbuka dan tertutup berkali-kali.

“Kau sedang bicara tentang siapa?”Hye Sun bertanya dengan keheranan yang amat sangat. Namun, yang menikah dan hampir menikah dengannya hanya dua pria. Geun Seuk dan Min Ho. Namun, Min Ho kenyataannya masih hidup sampai sekarang. Jadi, apa Siwon sedang membicarakan Geun Seuk?

Namun, Siwon seumur-umur tidak pernah terlihat dekat dengan Geun Seuk. Bicara pun hanya seperlunya. Perkataan Siwon jelas sangat tidak masuk akal. Hye Sun saja sangsi kalau Geun Seuk mengingat Siwon sebagai daftar undangan, bagaimana kalau Siwon malah bilang ia memberikan undangan pernikahan mereka berdua secara langsung? Mustahil sekali. Tak dapat dipercaya.

“Ke pemakamannya—Aku ingin ke pemakamannya—Terkutuklah segala macam pekerjaanku yang menghalangiku untuk pergi ke Seoul—Terkutuklah segala sesuatu yang dibenci Geun Seuk—Please, antarkan aku ke sana. Agar aku bisa menangisinya. Please—”

“Geun Seuk? Kau pasti sedang bercanda, kan?”Hye Sun tertawa sendiri, mencoba meyakinkan dirinya kalau, kemungkinan yang sedang dibicarakan Siwon adalah Geun Seuk sangat kecil. Lagipula, Hye Sun tahu, Geun Seuk bukan tipe yang bisa cocok dengan tipe yang pecicilan seperti Siwon. Yang mencintai alam kebebasan yang ia miliki.

“Kau—“Tangan Siwon tiba-tiba saja terangkat pada pipi mulus Hye Sun, membuat Hye Sun terkejut setengah mati karenanya. “Dia mencintaimu lebih dari ia mencintai Harley dan golf—“

“Mwo? Kau benar-benar bicara sembarangan—”Hye Sun tersenyum canggung. Kali ini, ia beralih pada bartender yang ada di belakang bar itu, ia mengeluarkan beberapa puluh ribu won dan menyerahkannya pada bartender itu. “Tolong pastikan orang ini pulang. Pikirannya sudah kacau—Bicaranya saja sudah aneh-aneh—“

Bartender itu hanya mengangguk. “Ne, Agashi—“

Hye Sun segera memutar badannya dengan agak ragu. Matanya berkedip beberapa kali. Setelah berbicara dengan Siwon yang mabuk, tak disangka, ia ikut-ikutan linglung.

“Goo Hye Sun!”

Sepasang tangan mendarat di atas pinggangnya yang ramping. Hye Sun tercengang. Ia terpana dengan perlakuan orang itu. “Kau tidak tahu bagaimana ia mencintaimu—“

“Siapa?”

“Geun Seuk—“bisik suara itu dengan halus di telinganya. Nama itu membuat sekelilingnya serasa damai. Hidupnya terasa tenang seketika. Yang ada hanya desiran angin yang sepoi-sepoi.

Jang Geun Seuk—Malaikat di sampingnya itu? Pria yang seharusnya menjadi ayah dari anak-anaknya itu? Pria yang selalu mencintainya itu? Tidak perlu ada pemberitahuan resmi—Hye Sun tahu—Hye Sun mengerti—Betapa besar ia mencintai dirinya—

Hye Sun terpana di tempatnya. Tidak mampu berbuat apa-apa. Bahkan berbuat sesuatu untuk melepaskan pelukan itu. Matanya berkaca-kaca sekarang. Seluruh tubuhnya lemas semua. Ia hanya mampu menghela nafas pendek, lalu melepaskannya lagi.

Sebegitu dahsyatkah efek dari nama itu pada syaraf-syaraf otak dan pendengarannya? Semua terasa begitu damai. Musik yang keras itu perlahan lenyap dari pendengarannya. Orang-orang tidak ada di sekitarnya. Yang ada di pikirannya hanya malaikatnya seorang.
   
Bibirnya bergerak secara tiba-tiba. “Angel By My Side—Jang Geun Seuk—”
***
   Min Ho baru saja tiba di klub malam Charmeleon dengan diantar supirnya. Di depan pintu masuk, ia segera disambut dengan raut wajah penuh kepanikan oleh Dara dan beberapa bodyguardnya yang beberapa menit yang lalu menghubunginya dan memberitahu Min Ho tentang keberadaan Hye Sun di pesta tahunan bar Charmeleon itu.
   
“Dia di dalam?”Min Ho bertanya dengan panik. Ia tak sempat berbicara panjang lebar, dengan segera ia memasuki klub malam itu. “Dia bersama siapa? Aku dari tadi mencarinya keliling Seoul, tapi tidak ketemu. Ponselnya juga tidak aktif. Aku jelas sangat terkejut kalau dia ke sini—“
   
“Dia bersama seorang pria yang sedang mabuk di dalam. Tadinya, aku membiarkannya karena kupikir mereka sepertinya saling kenal, tapi, ketika aku tahu kau sedang mencari-carinya ke mana-mana, aku segera menelponmu—“Dara menjelaskan panjang lebar. “Apa mungkin dia kekasih Hye Sun?”
   
“Aku tahu Hye Sun, dia tak mungkin bisa melupakan Geun Seuk secepat ini, jadi tenang saja—“Min Ho merasa langkahnya semakin lemah sendiri. Lututnya semakin lemah ketika ia melihat Hye Sun sedang dipeluk oleh seseorang dari belakang. Dan yang lebih parah, Hye Sun terdiam saja, tidak bereaksi apa-apa atas perlakuan orang itu.
   
Min Ho tak dapat melihat wajah orang itu untuk beberapa saat. Ketika akhirnya lelaki itu memunculkan wajahnya sendiri, barulah Min Ho mengenali orang itu.
   
Bayangan masa lalu menyeramkan dan menyakitkan kembali terulang. Seperti roll film yang berjalan mundur dalam otaknya. Bagaimana mereka menyakitinya. Bagaimana mereka semua memperlakukannya tidak seperti manusia—Bagaimana mereka menertawakannya—Bagaimana mereka menganggapnya sebagai pecundang—Bagaimana mereka membuang dirinya begitu saja di jalan—Bagaimana—Bagaimana Min Ho ingin sekali melompati bagian itu, tidak mau bagian itu menjadi bagian dari sejarah hidupnya—
   
Dara segera mengguncang tangan Min Ho. “Min Ho?”
   
Namun, Min Ho belum bisa kembali dari dunianya sendiri—Ia ingat ketika mereka menginjaknya—Memukulinya—Ia ingat ketika hari itu, ia sudah berpikir waktunya sudah habis di dunia ini—Ia ingat ketika Hye Sun muncul dalam benaknya ketika bahkan dirinya sendiri sudah ingin mati—Hye Sun saat itu adalah sebuah mimpi indah yang diiringi oleh kenyataan menyakitkan.
   
Min Ho maju satu langkah, tangannya terkepal. Choi Si Won—Mimpi buruknya—sekarang berdiri dengan memeluk wanita yang dia cintai—Kenapa ia selalu kalah? Kenapa? Kenapa ia tidak bisa memenangkan apa-apa? Dan kenapa juga yang mengalahkannya selalu dan hanya orang-orang dari Gang LockHeart itu?
   
Ketika Min Ho semakin dekat, Min Ho menarik lengan Hye Sun hingga ia terlepas dari pelukan Siwon. Hye Sun kaget setengah mati karena perlakuan Min Ho.
   
“Jauhi istriku—Jangan sentuh dia—“Min Ho berkata dengan nada tenang, namun menegangkan, pada Siwon yang berdiri di hadapannya.
   
“Kau—“Siwon sekarang mengeluarkan suaranya.
   
“Hye Sun—Pulang—Ikut aku.”Min Ho berkata dengan sungguh-sungguh. Siwon kemudian menarik lengan Hye Sun yang satunya lagi dengan mata yang tidak fokus, semua orang juga tahu kalau Siwon sedang mabuk sekarang. “Dia tidak akan mau pulang denganmu—“
   
“Jangan sentuh dia—“Min Ho memelototi tangan Siwon yang menggenggam lengan Hye Sun. “Lepas—“
   
“Aku tidak mau—“Siwon menjawab dengan nada yang sangat gentleman, cengkramannya di atas tangan Hye Sun mengeras.
   
“Jangan suruh aku bersikap kasar—Kau tahu kalau aku tidak bisa—“Min Ho berkata dengan tegas. Tangan Dara mendarat di atas lengan kanannya yang bebas. “Hey—Kau lebih baik menyelesaikan urusanmu baik-baik—“
   
“Memang siapa bilang kau bisa bersikap kasar, Pecundang?”Siwon bertanya dengan senyum mengejek.
   
Min Ho melepaskan genggaman Dara di atas lengan kanannya. Ia mengepalkan tangan dan mendaratkan tinju itu di atas pipi Siwon, membuat lelaki itu tersungkur ke lantai, genggamannya di atas Hye Sun terlepas begitu saja. Tangannya menggenggam tangan Hye Sun lebih kuat. “Ikut aku pulang—“
   
“Lepas—“Hye Sun memelototi tangan Min Ho yang mencengkram tangannya. Tentu saja, masalahnya dengan Min Ho belum kelar, ia tak mungkin akan diam saja jika disuruh oleh Min Ho. “Kau bukan siapa-siapa di sini—Jadi, lepas—Aku akan pulang ke rumah ketika aku mau—“
   
“Ayo pulang—“Min Ho menggenggam tangan Hye Sun lebih erat dari sebelumnya.
   
“Aku bilang lepas!”teriak Hye Sun sambil bergerak-gerak untuk membebaskan tangannya dari cengkraman Min Ho, namun sekeras apa pun ia berusaha, tangan Min Ho tetap menguncinya.
   
“Ikut aku pulang—Kau tahu kau seharusnya tidak berada di sini—“Min Ho berkata lagi dengan nada tenang. Namun, Hye Sun tetap memberontak darinya, ketika ia berhasil, ia berlutut di samping Siwon. “Gwenchanayo?“
   
“Ikut aku pulang, Hye Sun-a—“pinta Min Ho sekali lagi, meraih lengan Hye Sun yang bebas. Hye Sun kemudian menepisnya. “Andwae—“
   
“Tolong, Hye Sun—“
   
“Dia bilang dia tidak mau!”Siwon berteriak dengan lantang dan keras secara tiba-tiba. “Keparat!”Siwon kemudian memukul wajah Min Ho dengan keras. Hye Sun segera menutup mulutnya sendiri dengan salah satu tangannya, syok sekali.

Posisi Siwon sekarang berada tepat di atas tubuh Min Ho. Orang-orang di klub malam itu memekik keras, kebanyakan yang perempuan menyembunyikan wajahnya sendiri.
   
“Geun Seuk—Dari semua yang ada di dunia ini—Kau satu-satunya yang ia benci—“Siwon memukul Min Ho sekali lagi. Min Ho tak dapat melawan, kekuatannya tidak bisa dibandingkan dengan kekuatan Siwon yang merupakan mantan atlet handal di SMA SIS. Tangan Siwon  yang terkepal itu mendarat lagi di atas pipi Min Ho. “Lemah, bodoh, sok berani, sok kuat, sok pintar—“
   
    Hye Sun terdiam di tempatnya melihat perkelahian itu, ia dalam keterkejutan yang amat sangat. Dara terperangah melihatnya di tempatnya berdiri. Seorang bodyguardnya berusaha melerai Min Ho dan Siwon. Namun, Siwon tak bisa dihentikan sama sekali. Tangannya terus terkepal dan meninju wajah Min Ho, pukulan paling keras, ia arahkan perut Min Ho sendiri.
   
   “Keparat!!!! Beraninya kau menikah dengan wanita Geun Seuk!”teriak Siwon semakin menggila. Sedangkan Min Ho sendiri terlihat sangat lemah di bawah Siwon, bibirnya berdarah.
   
   “Choi Siwon—Kau tidak tahu dia, sekalipun dia sahabatmu—Dia—bukan orang seperti yang kau kira—”Min Ho menjawab dengan nada lemah. Nafasnya terengah-engah. Ia menyerah. “Dia bukan orang yang akan melakukan kesalahannya untuk kedua kalinya—Dia adalah orang yang selalu menyadari kesalahannya dan tak akan mengulanginya lagi—“
   
   “Brengs3k, kau jelas tahu kalau membencimu bukan sebuah kesalahan!”teriak Siwon sambil meninju pipi Min Ho lagi.
   
   “Itu kesalahan—“Min Ho berdesis dengan mulut yang bersimbah darah.
   
   Siwon meninju wajahnya lagi dengan kemarahan yang amat sangat, namun, Min Ho melanjutkan, “Dari segala hal yang ada, dia selalu lebih baik dariku. Namun, membenciku membuatnya kalah dariku—Aku tidak pernah membencinya—Aku tersenyum ketika ia menggandeng Hye Sun di sisinya—"

"Karena aku tahu jelas, bersamanya, Hye Sun akan selamanya bahagia."lanjut Min Ho lagi. "Sekalipun, aku juga jelas tahu, membiarkannya bersama Geun Seuk, sama artinya dengan selamanya terluka..."
   
   Tetapi Siwon tidak bereaksi apa-apa dengan perkataan Min Ho, ia meninju lagi dada Min Ho yang bidang dan datar, membuat darah yang keluar dari mulut Min Ho semakin banyak.
   
   Jumlah bodyguard Dara semakin banyak untuk melerai mereka berdua. Wajah Min Ho sudah lebam sana sini. Perutnya sesak, sakit sekali akibat pukulan keras dari Siwon. Dadanya juga terasa sesak. Keadaannya sudah sangat parah.
   
   Hye Sun terdiam di tempatnya. Ia duduk di dekat kedua pria yang sedang bertengkar itu dan mendengar segala percakapan mereka. Kedua tangannya berada di atas lantai, berusaha menopang tubuhnya. Matanya yang besar dan bulat terarah ke lantai. Bibirnya terkatup rapat. Ia linglung. Yang dari tadi Siwon dan Minho bicarakan—Apa maksudnya?
   
   Tiba-tiba sebuah tangan dingin menyentuh lengannya yang tidak tertutup kain. “Hye Sun-a—Ayo bangun—“
   
   Siwon masih menggila di tempatnya, sekalipun ia dan Min Ho telah dipisahkan. Min Ho sendiri terkapar di lantai, memegangi perutnya sebelah kiri, dekat lambung.
   
   Seorang bodyguard Dara mengangkatnya dari lantai. Ia melirik majikannya, Dara yang sedang membantu Hye Sun untuk berdiri. “Nona Dara—Tuan Lee mau dibawa ke mana?”
   
   “Ke mobilnya saja—“jawab Dara pendek.
   
   “Han, tolong bantu aku mengantar perempuan ini ke mobil Min Ho—“
   
   “Ne, Agashi—“jawab bodyguard bernama Han itu dengan patuh.
   
   Kedua orang itu memegangi Hye Sun—Hye Sun sekarang sudah mulai kembali normal. Namun, pikirannya masih sesak karena percakapan kedua pria itu dan perkelahian mereka berdua.

   Hye Sun berbalik secara spontan ke arah Siwon yang masih terlihat spontan, ia membungkukan badannya sedikit. “Apa yang kalian bicarakan tadi?”
   
   “Tanya si keparat itu!”teriak Siwon dengan murka. “Tanya si Pecundang itu!”

   Dara kemudian memaksanya untuk berbalik dan meninggalkan pria itu. “Kalau kau mau tahu kebenaran, jangan pada orang mabuk seperti itu—Kau harus menanyakan hal ini pada Min Ho—Dia akan menjawabnya dengan jujur kalau itu maumu dan kau senang dengan hal itu.“bisik Dara di telinga Hye Sun.

   Min Ho sekarang ada beberapa meter di depannya, sedang dibopong oleh dua orang bodyguard. “Dan tentunya—Kau harus tahu kapan waktu yang tepat—“
   
***

   “Tolong bawa dia ke Seoul International Hospital—“Setelah Dara mengantar Hye Sun ke mobil itu dan memastikan Min Ho ada di dalam mobil, ia segera mengamanahkan supir Min Ho, Pak Yoon untuk membawa Min Ho ke rumah sakit.
   
   Hye Sun berada di dalam mobil. Ia mematung sambil sesekali melirik Min Ho yang memegangi lambungnya dan meringis kesakitan berkali-kali. Hye Sun semakin menyudutkan dirinya ke pintu mobil, membuat jarak antara dirinya dan Min ho semakin menjauh. Ketika ia sadar jarak itu sudah tidak dapat diperlebar lagi, ia kembali melirik Min Ho.

   Perkataan Dara kembali terngiang di pikirannya. Min Ho akan menjawab, tapi dia harus tahu waktu yang tepat untuk menanyakan. Yang penting, bukan saat ini. Min Ho yang sedang meringis kesakitan bukanlah Min Ho yang enak untuk diajak berbicara.
   
   Mobil itu kemudian perlahan bergerak maju. Lalu, Hye Sun mengalihkan pandangannya ke langit malam Seoul. Dia berpura-pura tidak peduli pada Min Ho yang sedang meringis kesakitan. Padahal, rintihan dan erangan itu terdengar jelas dari mulut Min Ho.

   “Pak Yoon—Kita ke rumah—“Min Ho memberi perintah yang memecahkan keheningan mobil itu.
   
   “Ke rumah sakit—“Hye Sun dengan spontan menimpali.
   
   “Rumah—“
   
   “Rumah sakit—“
   
   “Rumah—“tegas Min Ho dengan nada final, tak dapat diganggu gugat lagi. Ia meringis kesakitan memegangi lambungnya yang sakit tak tertahankan.
   
   Keheningan yang tercipta di mobil itu terpecahkan lagi akibat suara ponsel yang berdering. Ponsel itu berada di antara Hye Sun dan Min Ho. Itu ponsel Min Ho. Tanpa diminta, Hye Sun segera mengangkatnya untuk Min Ho, me-loudspeakernya, karena ia tahu Min Ho sudah cukup menderita dengan keadaannya sekarang.
   
   Dari seberang sana, terdengar suara yang bergetar dan lemah lembut. “Nak, kau telah menemukannya?” Min Ho segera menoleh ke arah suara itu. Hye Sun mendekatkan ponsel itu kepada Min Ho. Ia kemudian mengarahkan pandangannya ke jendela mobil, berpura-pura tidak mendengarkan dan tidak peduli pada percakapan itu.
   
   “Sudah—“jawab Min Ho, wajahnya tersenyum ketika menjawab pertanyaan itu, sekalipun ia terlihat masih kesakitan.
   
   “Suster Gemma—Lambungku sakit—“Min Ho kemudian berkata dengan nada yang bergetar, air matanya mengalir pelan dari matanya. “Inikah yang namanya stigmata?”
   
   Hye Sun segera menoleh ke arah Min Ho ketika ia mengatakan hal itu. Ia tidak bisa lagi berpura-pura tidak peduli. Rasa sakit yang telah diderita Min Ho pasti adalah rasa sakit stadium akhir.
   
   “Namun, tidak ada kenikmatan—“Min Ho berbicara lagi. Bibirnya bergetar ketika mengucapkan hal itu. Air mata mengalir di pipinya. “Mereka bilang stigmata adalah kenikmatan, kan? Namun, aku tidak mengalami kenikmatan, yang ada hanya rasa sakit—“
   
   “Anakku—Bukan stigmata—“jawab suara bergetar itu di seberang sana.
   
   “Lambungku sakit—“Min Ho kembali meringis kesakitan, air matanya keluar begitu saja dari matanya. Bibirnya bergetar hebat.
   
   Stigmata—Kenikmatan luar biasa ketika seorang anak manusia merasakan betapa hebatnya rasa sakit yang dialami Yesus ketika disalib. Hye Sun tahu hal itu dari guru agamanya ketika SMP. Sakit, namun nikmat luar biasa.
   
   “Kau akan baik-baik saja, Nak—“Suara itu terdengar kembali. “Orang baik seperti dirimu—Tuhan tidak pernah meninggalkanmu—“
   
   Min Ho tampak tidak mampu lagi menjawabi suara bergetar itu. Sambungan itu terputus tiba-tiba. Sinyal ponsel itu tiba-tiba kosong. Hye Sun menaruh ponsel itu di kantong serbaguna yang ada di depannya.
   
   Ia ingin bertanya tentang percakapannya dengan Siwon tadi, namun, rintihan yang keluar dari mulut Min Ho membuatnya mengurungkan niatnya. Perlahan, ia mendekat pada Min Ho yang masih meringis kesakitan dan memegangi perutnya bagian kiri bawah. Min Ho memejamkan matanya, air matanya jatuh bebas begitu saja. Bibirnya masih bergetar tak karuan.
   
   Ketika Hye Sun dalam masa-masa tersulitnya, Min Ho selalu ada. Ketika Hye Sun membutuhkannya, Min Ho selalu ada. Ketika Hye Sun memohon pada Min Ho untuk berada di sampingnya, Min Ho ada. Tapi, kenapa, ketika Min Ho membutuhkannya, ia sepertinya selalu tidak ada? Kenapa ketika Min Ho tadi mengajaknya untuk pulang, ia tidak menggubrisnya? Kenapa selalu perasaannya yang selalu dia pikirkan dan yang harus dimenangkan?

   Ketika Min Ho kesakitan tadi, bahkan Hye Sun masih ingin bertanya pada Min Ho untuk menjawab rasa penasarannya. Kenapa ia tidak bisa peduli pada Min Ho? Kenapa malah Dara yang menyadarkannya untuk peduli pada Min Ho? Kenapa ia selalu tidak bisa menahan perasaannya yang egois itu?
   
   Perasaan sebalnya pada Min Ho—yang kalau dipikir-pikir tidak masuk akal—telah membuat Min Ho seperti ini. Kalau saja ia tadi menurut, tidak mungkin seperti ini jadinya. Secara perlahan, Hye Sun melingkarkan tangannya ke sekeliling pinggang Min Ho, matanya terpejam rapat.
   
   “Mianhae—“Suara pelan Hye Sun mulai terdengar. “Aku egois—“
   
   Min Ho melirik Hye Sun yang menyandarkan dagunya di atas pundak Min Ho. “Mianhae—“ Pelukannya semakin erat pada Min Ho. Sudah berkali-kali ia menyakiti dan tidak peduli pada Min Ho. Namun, pria ini selalu tidak bisa tidak peduli padanya. Hal-hal seperti itu membuatnya merasa tidak adil, ia menyesal karena ia tidak peduli.
   
***

   Dalam pelukan hangat itu, Min Ho membatin sendiri dalam benaknya. Kesakitannya berangsur-angsur hilang. Suasana di sekitarnya mendadak damai. Siwon yang tadi baru mampir lagi dalam kehidupannya, sejenak terlupakan. Masa remajanya yang berantakan, seakan terhapus dari sejarah hidup seorang Lee Min Ho. Inikah stigmata? Kesakitan luar biasa yang kemudian dibayarkan oleh kenikmatan surgawi seperti ini? Jika saja, dia bisa merasakan hangatnya di pelukan malaikat setiap ia kesakitan seperti ini, Min Ho akan dengan rela, tersakiti—untuk yang kesekian kalinya—  
***

End Of Chapter



« Last Edit: August 11, 2010, 08:50:10 am by karin.lullaby »

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
thanks karin udah diupdate [smiley-gen013] [smiley-gen013] akhirnya desakan gw berguna jg [hmpfh] [hmpfh]
gw sebel bgt wkt minho dipukuli ama siwon, hyesun tdk bereaksi apa2 hammer2 bahkan berteriak aja dia tidak [sweat] [sweat] emangnya hatinya terbuat dr apa ya? sebagai sahabat aja sehrsnya dia ditolongi, tp dia tdk melakukannya. gw bener2 kecewa ama hyesun. wlp terakhir dia memahami kesalahannya tp ttp aja sudah terlambat. apa jdnya klu wkt itu minho sudah mati, penyesalannya ga berguna lg kan hammer2

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
thanks karin udah diupdate [smiley-gen013] [smiley-gen013] akhirnya desakan gw berguna jg [hmpfh] [hmpfh]
gw sebel bgt wkt minho dipukuli ama siwon, hyesun tdk bereaksi apa2 hammer2 bahkan berteriak aja dia tidak [sweat] [sweat] emangnya hatinya terbuat dr apa ya? sebagai sahabat aja sehrsnya dia ditolongi, tp dia tdk melakukannya. gw bener2 kecewa ama hyesun. wlp terakhir dia memahami kesalahannya tp ttp aja sudah terlambat. apa jdnya klu wkt itu minho sudah mati, penyesalannya ga berguna lg kan hammer2

syok kali mam  [hmff] [hmff] gk tau deh. gue lg pusing nih...
lo kayak gak tau aje, si mino kan gede badannya, si siwon sixpacknya mantep, so...
kalo hyesun yg ngelerai kasian juga kan gepeng gara2 kegencet...  [laughing] [laughing] [laughing]

kalo minho udh mati, tamatlah ff ini *baca doa*...
gue dari dulu tuh padahal kepengennnnn banget bikin ff yg minonya metongggg...
aduh... tapi gk kesampean  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
hahahaha....  [hmff] [hmff] [hmff]

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
karin, maksudnya tuh bukan dilerai [heh] plg tidak teriak2 histeris gitu, kan perasaannya ke minho udah ga sedingin dulu lg. tp kok pas peristiwa penganiayaan siwon ke minho, dia ga bereaksi apa2 hammer2

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
Waduh banyak kali yg update neh  [AddEmoticons04217] Jadi bingun mo baca yg mana dulu  [AddEmoticons04254] [AddEmoticons04279]

fara

  • Guest
Karin gomawo udh diupdate [flowers] [flowers] [flowers]
minho kasian bgt babak belur dipukulin ma shiwon [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry]
please karin jgn buat mino metong dund [hmpfh] 

Chainezz_Vian

  • Guest
Ua, sist thx uda d update. . . >"<

Ckck c hyesun th lg ngambek ma mino, koQ mlh k club c. . . Aduh"

ia sist chap ini pas awal" emang gk bgitu nyambung ama chap 19'a, tp k sana'a uda oke t.o.p koQ. . .

Ow ya, yg spoilr'a th d return ulang ya sist?

Oce dech, semangat trus ya bwt next chap'a. . . ^^

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
 [clap] [clap] [clap] thanks karin udah diupdate [hug] [cheekkiss]

IDEMMMMM dah sm mami mino dipukulin kyk gt hyesun kok ga berbuat apa2 siy [dry] [dry] nyebelin ni malah mingkem aja walaupun shock tp seengak2nya treak kek hammer2 hammer2 hammer2 hammer2 hihi jd gondok sm hyesun nih [goodgrief] [goodgrief] [goodgrief]

jd dulu siwon jg pernah mukulin mino ya rin ampe ada luka itu [chin] [chin] [chin] kpn yg sweet2 nih rin [smiley-dance013]


ADAM COUPLE SELCA

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Karinn....
Kamu kok tega bener sih bikin minong menderita huuuu huuuu huuuu ..nangis bombay dah  dah chap 20 tapi masih lum ada yang sweet...[cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry]
 [cry] [cry] [cry]

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
karin, gomawo updatetannya [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
ya ampun, kasian bner si mino [cry] [cry] [cry]
udah digebukin, gak ditolong ama hye sun lagi [cry] [cry] [cry] [cry]
sadis bener [AddEmoticons04241] [AddEmoticons04241] [AddEmoticons04241]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
maaf sista, baru bisa komen...  [heh] [heh] sebenernya udah baca tadi pagi [heh] [heh] [heh]

sependapat ma mami... Hye sun cuma diem aja... apa saking shock n bingungnya ma percakapan Si won ma minho...? sebernernya ada apa sih... apa berhubungan ma sakitnya min ho itu...

jadi ada campur tangan Geun seuk juga ya...?
tapi kenapa ampe kayak gitu sih... ampe luka dalam...

kasihan banget tuh minho... bukan cuma luka batin tapi juga luka badan  [goodgrief] [goodgrief] [goodgrief]

kapan tuh semuanya bakal terungkap... apa habis ini ada yang sweet sweet sista...?

chapter berikutnya ditunggu ya  [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]