ADDITIONAL CAST FOR THIS CHAPTER :
Song Hye Kyo - Secretary Song or Lee Min Ho's Secretary
Angel By My Side
Chapter 4 “Selamat datang di Bandara Internasional Leonardo Da Vinci, Roma. Kita ada di zona waktu yang berbeda. Waktu di Roma lebih lambat 8 jam daripada waktu di Seoul. Sekarang jam telah menunjukkan pukul 8.12 pada pagi hari waktu Roma. Selamat menikmati perjalanan Anda!”suara pramugari itu membahana di seluruh isi pesawat dengan bahasa Korea dan Inggris yang lancar.
Hye Sun tak dapat tidur selama 20 jam ini. Ia hanya memejamkan mata 30 menit sekali, setelah itu, ia akan terbangun lagi, terkadang Geun Seuk akan muncul dalam pikirannya, mengingat satu-satunya alasan kuat untuk pergi ke Roma sebenarnya bukan untuk merelaksasikan diri, tapi untuk menikmati kota impian Geun Seuk ini, berharap dapat menemukan jiwa Geun Seuk dalam kota ini.
“Goo Hye Sun-ssi, kita sudah sampai sekarang.”kata pramugari itu. Hye Sun masih enggan beranjak dari kursi penumpang, tapi, ia kemudian melepaskan sabuk pengaman dan keluar dari pesawat pribadinya itu.
Suasana Italia terasa begitu berbeda ketika ia keluar dari pesawat itu.
Ini adalah negara impianmu Geun Seuk, negara yang sangat kau inginkan untuk pergi bersama istrimu… Tak kusangka aku akan ke sini, sendiri…
Geun Seuk pernah berjanji bahwa ketika mereka menikah dan berbulan madu, ia akan membawa Hye Sun ke Italia, sebagai seorang perempuan pertama yang mendapat kehormatan untuk berjalan berdampingan dengannya, namun, harapan itu telah sirna.
Hye Sun ingin sekali membayangkan kalau Geun Seuk sedang berdiri di sampingnya… Tersenyum padanya… Menjelaskan Hye Sun tentang Italia… Tapi, sekeras apa pun ia membayangkan, ia tahu itu hanya akan tambah menyakiti hatinya, karena pada kenyataannya, Geun Seuk tak ada... Ia hanya ada di sini dalam wujud yang tak kelihatan, malaikatku…
Selesai mengurus imigrasi, akhirnya ia keluar dari Bandara Internasional Leonardo Da Vinci, ia pergi ke hotel yang ia sudah pesan hanya dari beberapa minggu lalu, Castello della Castelluccia.
“Jauh dari pusat kota dan kebisingannya. 15 kilometer dari pusat kota Roma. Hotel itu sebenarnya bekas istana pada abad ke-13, yang terletak pada sebuah hutan. Arsitektur interior dan eksteriornya sangat menarik dan memukau. Harganya pun sangat pantas dengan semua yang bisa kau dapatkan di hotel itu. $156.”
Geun Seuk berkata seperti itu suatu hari. Ketika Hye Sun meminta dengan manja agar Geun Seuk mengantarkannya ke sana suatu hari, Geun Seuk mengiyakannya,
‘suatu hari’, katanya,
‘ketika mereka sudah menikah.’ sambil bercanda soal bagaimana ia akan mengumpulkan uang 156 dollar Amerika. Tapi tentu itu bukan masalah bagi Geun Seuk.
Esoknya, petualangannya di Roma benar-benar dimulai. Meskipun Hye Sun mengakui kalau bahasa Italia sangat kurang, ia masih tak dapat memungkiri kalau ada bahasa Universal di sini, bahasa Inggris. Semua percakapannya pada orang-orang tertentu di Italia menggunakan bahasa Inggris-nya yang sangat fasih, terang saja, Hye Sun telah mendapatkan warga negara Amerika. Bagaimana ia bisa tidak berbicara menggunakan bahasa Inggris?
Hotel itu jauh dari pusat kota Roma, tapi ia akhirnya pergi juga ke Colosseum, tempat yang dipuja-puja oleh orang Roma itu.
“Gedung pertunjukan yang besar atau amphitheatre ini termasuk salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia. Nama aslinya adalah ‘Flavian Amphiteatre’. Didirikan oleh Raja Vespasian dan terselesaikan oleh anaknya, Titus. Banyak sekali perdebatan tentang tahun dibuatnya, ada yang bilang colosseum didirikan pada 79 SM tapi, ada juga yang berpendapat Colosseum dibuat 70-82 MS. Asal nama Colosseum sendiri berasal dari nama patung yang berdiri 130 kaki atau 40 m yang bernama Colossus. Colosseum didirikan untuk menampung 50.000 penonton. Tempat yang dipuja-puja di Roma itu, dulu adalah tempat penyelenggaraaan sebuah pertunjukan spektakuler dan sadis, pertunjukan antara binatang atau venetaiones, pertarungan antara tahanan dan binatang, eksekusi tahanan atau noxii, pertarungan air atau naumachiae, dan pertarungan antara gladiator atau munera. Selama ratusan tahun itu, diperkirakan ribuan orang maupun binatang mati di pertunjukkan Colosseum. Sadis? Sekali.”Suara itu terngiang lagi dalam benak Hye Sun. Kenapa ia bisa seingat ini dengan perkataan Geun Seuk? Tapi, seingatnya, masih banyak sekali celotehan Geun Seuk tentang bangunan ini.
Dengan langkah berat, ia meneruskan perjalanannya ke café di dekat Colosseum, Café Colosseum yang terletak di Jalan Upper Mount Gravatt.
“Aku belum pernah ke sini. Namun, aku mau yang pergi bersamaku untuk pertama kalinya suatu hari nanti adalah kau.”
Dengan perasaan campur aduk, Hye Sun meminum cappuccino itu.
Kemudian, ia ingin beranjak dari café itu segera, menuju tempat selanjutnya yang telah menjadi tujuannya sejak ia di Korea. Ia memanggil taksi dan menuju ke tempat yang sangat jauh dari tempatnya sekarang, Galleria Borghese atau Villa Borghese.
“Ini adalah Galleria Borghese yang amat menawan. Sangat layak untuk dikunjungi ketika kau di Roma. Semua orang percaya, kalau patung-patung itu adalah karya pematung yang sangat terkenal, seperti Bernini dan Canova.” “Aku menyukainya Geun Seuk-a!!!”seru Hye Sun dalam hati.
Karya Gianlorenzo Bernini dan Canova masih berdiri tegak di sini. Dan semua tepat mengena dengan deskripsi dari Geun Seuk. Dulu, Hye Sun pernah berpikir kalau dia dan Geun Seuk tak akan pernah satu pikiran tentang karya seni dari Italia. Itu terjadi setahun lalu, perdebatan alot mereka yang akhirnya membuat Hye Sun mengingat perdebatan itu seumur hidup, itulah sejarah bagaimana kata-kata ‘Angel By My Side’ itu pertama kali muncul dan disusul kemudian oleh ‘Angel By Your Side’.
“Tapi, menurut buku yang kubaca Gianlorenzo Bernini adalah pematung, maestro untuk Illuminati!”seru Hye Sun ketika itu.
“Ya. Betul. Akhirnya kau menyadari juga ia seorang maestro.”jawab Geun Seuk. Hye Sun salah menjawab lagi, padahal ia tak sudi menyebut Bernini seorang maestro. “Dan dia adalah pematung paling hebat menurutku. Aku mencintai karya-karyanya sama seperti aku mencintai karya Michelangelo.”
“Tapi lihat saja seragam Garda Swiss itu! Seperti badut!”Hye Sun tambah berani mengemukakan pendapatnya.
“Itu memang bukan karya terbaiknya. Tapi, Michelangelo tetap seorang seniman yang sangat luar biasa.”jawab Geun Seuk lagi dengan tenang.
“Terserah kau! Memang tak ada yang lebih indah dari karya-karya seniman Italia itu?”tanya Hye Sun, dengan frustasi ia menatap ke arah lain, ke arah mana pun selain ke arah Geun Seuk.
“Ada. Tapi hanya satu.”kata Geun Seuk masih dengan nada yang tenang. “Kau. Kau lebih indah dari karya seniman Italia itu. Karena kau adalah malaikat di sisiku. Angel by my side.”
Hye Sun tersenyum. Kali ini, ia sudah mulai bisa satu pikiran dengan tunangannya itu. Hari sekarang sudah mulai gelap. Dengan langkah berat ia meninggalkan galeri itu.
Italia ternyata tak begitu buruk untuk Hye Sun. Esoknya, ia pergi ke Basilika Santo Petrus di Vatican City.
“Salah satu karya Michelangelo pujaanku. Kita harus ke sana suatu hari nanti.”Ia melihat Basilika itu. Michelangelo memang luar biasa. Dan ia sekarang baru sadar betapa seringnya Geun Seuk membicarakan Italia dan betapa besarnya minatnya pada Italia sekarang.
Dengan waktu 7 hari lagi ia harus mengunjungi semua tempat yang pernah disebutkan Geun Seuk ketika ia masih hidup. Colosseum, Galleria Borghese, Basilika St. Peter, Piazza Navona, Santa Maria Sopra Minerva, Via Frattina, Villa Adriana, Santa Maria della Vittoria dan masih banyak lagi tempat yang Hye Sun pikir tak akan pernah mau Hye Sun kunjungi dalam hidupnya, ia kunjungi juga.
Gereja Santa Maria Sopra Minerva, Santa Maria della Vittoria, dan Villa Adriana bahkan pernah membuatnya cemburu.
Geun Seuk memujanya, ia menyukai namanya, dan itu sangat mengganggu Goo Hye Sun.Minerva. Vittoria. Adriana. Geun Seuk menyukai tiga nama itu. Dan pernah bercanda bahwa jika ia harus menikahi seorang perempuan asing. Seorang perempuan dengan nama Minerva, Vittoria, dan Adriana ada di list teratasnya. Tentu saja ini membuat Hye Sun yang marah besar ketika itu.
Via Frattina. Tempat itu ternyata membuat jiwa gila belanja Hye Sun kumat lagi. Ia mengingat-ngingat kapan terakhir kalinya ia belanja sampai 10 kantung. Merk-merk baju di sana tak ada yang menggoda Hye Sun untuk berhenti dari kegiatan belanjanya,
Max Mara, Flavio Castellani, Cesare Paciotti, Patrizia Pepe, Tru Trussadi, Stefanel, Andrea Fabiani, Marella, Frey Wille.
Hye Sun juga harus terpesona pada salah satu karya Bernini,
sekali lagi.
“Piazza Navona. Air mancur karya Bernini. Aku dapat melihatmu di atas sana.”
“Apa? Mana? Aku? Mana?”desak Hye Sun tak sabar. Hye Sun segera memperhatikan gambar Piazza Navona itu dengan seksama. “Aku tak melihatnya! Huh… Kau hanya ingin menarik perhatianku, ya? Bernini, kan, tak mengenalku! Mana mungkin ada aku di karyanya!”
Geun Seuk tahu, ‘malaikat’-nya ini pasti sedang marah.
“Angel.”kata Geun Seuk hampir berbisik dengan suaranya yang lembut. “Lihat puncak obelisk itu.”
Burung merpati?
Wajah Hye Sun tambah merah padam. Ia disamakan dengan burung merpati?! Geun Seuk sungguh kelewatan kali ini.
“Maaf, ya, Geun Seuk, aku tak tersentuh sama sekali.”jawab Hye Sun, sambil berpura-pura bersikap angkuh.
“Burung merpati adalah simbol pagan dari malaikat.”jawab Geun Seuk dengan tenang. Suranya amat menyenangkan sekaligus menenangkan.
“Aku?”Hye Sun tergagap. “Malaikat? Angel?”
Ia telah salah sangka. Sebenarnya, ia seharusnya sudah tahu kalau Geun Seuk adalah orang yang pengertian, dan tak akan mau
mengatakan lelucon konyol hanya untuk menarik perhatiannya.
“Ya, Hye Sun-a.”kata Geun Seuk pelan. “Tak kusangka Bernini mengingatmu dalam mengerjakan karyanya.”
Hye Sun terdiam. Sepi dalam waktu yang lama. Lama-lama, wajah yang tadinya terpisah jauh itu, akhirnya mendekat—
***
Sepuluh hari itu telah usai, ia harus ke Amerika dan kembali lagi ke ‘dunia’ yang selama ini ia sadar ia inginkan, tapi ia lepaskan demi Geun Seuk.
Ia akan pergi lagi ke New York dan meninggalkan Italia sebentar lagi. Kakinya terasa berat untuk meninggalkan Italia, negara kebanggaan Geun Seuk selama ini, negara yang bahkan Geun Seuk inginkan untuk tinggal di sini setelah menikah.
Ketika ia keluar dari taksi yang mengantarnya dari Castello Della Castelluccia menuju Bandara Internasional Leonardo Da Vinci.
Tapi, tatapannya terpaku pada telepon umum di dalam boks merah dekat bandara. 10 hari sudah ia tinggal di sini dan meninggalkan Korea tanpa menghubungi Min Ho, ibunya, dan Hye Jung Unnie.
Dengan segala keberaniannya, ia memutar nomor telepon kantor Lee Min Ho. Menguntungkan sekali bahwa telepon umum ini bisa digunakan untuk sambungan internasional.
“Halo?”sapa Hye Sun ketika mendengar telepon ini sudah diangkat. “Tolong sambungkan aku dengan Pak Direktur Utama, Lee Min Ho.”
“Hmmm… Apakah Anda keberatan jika saya bertanya Anda ini siapa?”tanya resepsionis itu.
“Aku…"Hye Sun menahan napas.
Sekarang aku sendiri yang tidak bisa jika tidak menghubunginya. "Goo Hye Sun…”
***
Seoul, 18 Februari 2006, 08.45 pm
Min Ho sedang di ruang rapat ketika itu. Dengan pikiran yang tak fokus dan dikuasai rasa kantuk, ia memperhatikan seorang insinyur yang sedang mempresentasikan desain mall terbaru hasil kerjasama Lee Corporation dengan sebuah perusahaan Amerika.
Tapi, celotehan Inggris pria ini, ditambah lagi dengan penerjemah yang setia menerjemahi ke dalam bahasa Korea, malah membuat ia tambah sakit kepala. Ia sangat kurang tidur akhir-akhir ini. Pekerjaannya yang menumpuk selalu menuntutnya tinggal di perusahaan sampai larut malam, belum lagi pikirannya yang sekarang hanya dipenuhi oleh Goo Hye Sun dan Goo Hye Sun.
Pikirannya ruwet sekali, perusahaan Amerika tak tahu diri ini tahu-tahu mengundurkan rapatnya. Tak tanggung-tanggung. Mereka menyatakan
meeting cancelled ‘till 8 pm. Padahal pada janjinya, mereka bilang kalau mereka akan memulai rapat pada pukul 5 sore.
Dasar perusahaan kurang ajar! Seenaknya saja!Min Ho tak biasanya seperti ini. Ini mungkin efek dari kelelahannya selama ini. Tapi, bukan itu saja. Rasa rindu juga menguasai dirinya. Lebih kuat dari sebelum-sebelumnya. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, nama Goo Hye Sun berputar-putar dalam benaknya.
Suara insinyur dan penerjemah itu sekarang terasa samar sama sekali. Namun diperhatikan sekretarisnya yang berada di dekat pintu rapat diselenggarakan tiba-tiba menerima telepon. Sekretaris Song berusaha memperkecil volume suaranya hingga tak kedengaran sama sekali. Setelah itu, ia menutup ponselnya dan mendekat pada Min Ho yang konsentrasinya sedang buyar sama sekali.
“Tuan Muda Lee, ada telpon.”kata Sekretaris Song. Min Ho memegang kepalanya sendiri. Ingin memberi tatapan seperti
‘Tolong, aku sudah cukup pusing. Jangan ganggu aku lagi’. Tapi, Sekretaris Song masih belum selesai dengan perkataannya. “Dari Nona Goo Hye Sun. Jika Anda mau menerima, saya akan meminta resepsionis menyambungkannya.”
“Apa?”tanya Min Ho dalam bisikan. “Goo Hye Sun?”
Sekretaris Song mengangguk. “Mau saya sambungkan?”
“Sambungkan segera.”bisik Min Ho segera. Ia bangkit berdiri sambil membetulkan jasnya, wajahnya gembira sekali, ia sudah tak dapat menahan gejolak perasaannya akhir-akhir ini.
“
Sorry, but meeting cancelled ‘till 9.15 pm.”ucap Min Ho dalam bahasa Inggris pada satu ruangan itu. Semua di ruangan itu terkesiap apalagi insinyur yang sedang membawakan presentasi itu, sampai-sampai pointer-nya terjatuh dari tangannya.
“
What? Cancel?!”tanya insinyur itu yang membawakan presentasi itu, sedangkan tim kerjanya yang lain tak dapat berkata apa-apa.
Apa bedanya kita, Bung? Kau tadi menyatakan kau mengundur rapat ini selama 3 jam! “
I will right back in fifteen minutes.”kata Min Ho sambil berlari menuju ruangannya. Ia menekan tombol merah yang berkedip-kedip di teleponnya dan segera mengangkatnya.
“Halo.”kata Min Ho pada suara di seberang sana. Ia masih berdiri di samping mejanya. Menunggu jawaban dari Hye Sun yang masih terdiam.
“Halo. Aku baru saja ingin menutup telponnya.”jawab Hye Sun dari seberang sana. Suaranya tak berubah, masih lembut dan sangat anggun. Dan sampai sekarang ia masih tak tahu bagaimana suara seorang Goo Hye Sun yang bisa menenangkan perasaannya, menghangatkan jiwanya, meskipun gadis itu tak bermaksud untuk itu.“Kudengar tadi ada rapat.”
“Bagaimana kabarmu?” kata Min Ho dengan lembut pada Hye Sun. Ia tak memikirkan perkataan Hye Sun tadi.
“Baik. Sangat baik. Aku hari ini akan ke New York. Seharusnya aku sudah check in sekarang. Tapi, aku pikir akan lebih baik jika aku menelponmu terlebih dahulu. Bagaimana kabarmu?”tanya suara lembut itu.
“Baik. Hanya sedikit sibuk. Jadi kau akan berangkat ke New York sebentar lagi?”
“Ya. Dan sepertinya, aku harus check in sekarang. Aku hanya mau menanyakan keadaanmu.”kata Hye Sun lagi. “Sudah dulu, ya. Aku memakai telepon umum. Jadi, tak perlu melacak nomor teleponku. Jal isseo.”
Tiba-tiba sambungannya terputus. Dengan putus asa Min Ho menutup telepon itu.
Aku belum bilang ‘I love you’, tapi kau sudah menutup teleponnya. Percakapan mereka bahkan tidak sampai lima menit, walaupun dengan begini para insinyur dari Amerika itu tak akan mengomel padanya.
“Pak Direktur?”panggil Sekretaris Song sambil masuk ke dalam. “Anda sudah selesai?”
“Ya. Aku sudah selesai.”kata Min Ho. “Suruh mereka tunggu beberapa menit lagi. Aku perlu, hm, menjernihkan pikiranku.”
“Baik, Pak.”
Setelah sekretarisnya meninggalkan ruangannya semua terasa sangat sunyi. Ia ingin sekali ia tertidur di sini agar ia tak perlu mengikuti jalannya rapat itu. Tapi, kemudian, ia sadar akan tanggung jawabnya. Dengan langkah jontai ia kembali lagi ke ruang rapat yang tak menyenangkan itu.
Hye Sun, aku mohon sekali, jangan membuatku merasakan penyesalan ketika aku sudah sampai sejauh ini, ketika aku sudah mendapati diriku jatuh ke jurang yang paling dalam ini, ketika aku tahu kalau aku tak bisa lagi memikirkan cara untuk merangkak keluar dari jurang ini. Tolong. Sungguh, aku tak akan pernah rela melepaskan perasaan ini, perasaan yang membuatku bertahan selama ini.***
END OF CHAPTER