Author Topic: Angel By My Side~Chapter 22 Updated 9 January 2011~  (Read 51198 times)

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
Ada yg tw gk bagaimana seseorang  yg dewasa bs jadi kekanak-kanakan?? Selain dgn cara amnesia, maupun mendadak gila.. Hehe... Ada yg tw? Mami, izz, pink, riri, help me(dgn nada kyk JP pas bts ma HS di NC)

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline pink_girly

  • Full
  • ***
  • Posts: 341
  • <3 MinSun
    • View Profile
mungkin karena jatuh cintrong  [lovestruck].... [hmpfh]  [rofl]

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
Mungkin jga tuh... Jatuh cintrong bukanny bikin mino dewasa, malah tmbh kekanak"an... Wkwk... Sist pink bs aja... Wkwk... Oh y, aku udh bikin sebagian chap 6 dan chap yg ini bakal jadi long chapter... (Melupakan kalau angka 6 sbnrny angka sial..) tapi kykny masih ada unsur Geun Seuk dikit"... Hehe.. Gk papa ya... Doain aja chap 6 bs jadi momen first kiss MinSun(kalo keadaan tdk maksa bgt).. Hehe..

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline pink_girly

  • Full
  • ***
  • Posts: 341
  • <3 MinSun
    • View Profile
Mungkin jga tuh... Jatuh cintrong bukanny bikin mino dewasa, malah tmbh kekanak"an... Wkwk... Sist pink bs aja... Wkwk... Oh y, aku udh bikin sebagian chap 6 dan chap yg ini bakal jadi long chapter... (Melupakan kalau angka 6 sbnrny angka sial..) tapi kykny masih ada unsur Geun Seuk dikit"... Hehe.. Gk papa ya... Doain aja chap 6 bs jadi momen first kiss MinSun(kalo keadaan tdk maksa bgt).. Hehe..

kita doaiin kog sizt...wah... beneran MinSun kiss...? [on] [lovestruck]

jadi, ga sabar nunggu Chap 6nya... [lovestruck]

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
Re: Angel By My Side~Chapter 5 Updated 9 March 2010~
« Reply #94 on: March 11, 2010, 06:47:02 am »
 [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]miane yaaa sizt Karin.... aq kra HS msk mngement MH. [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
bnr2 slah art niy jd malu aq [AddEmoticons04254]. huaa tak sbar chp 6 nya niy Karin,,,,,, punk punk punk punk punk

UPDATE [smiley-gen013] [smiley-gen013]UPDATE [smiley-gen013] [smiley-gen013]UPDATE [smiley-gen013] [smiley-gen013]UPDATE [smiley-gen013] [smiley-gen013]


mumpung lg musin demo UPDATE dsemua tret jd aq mw nularin dsni jg yaa sizt,, gpp yaaaa [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Surie_Riri

  • Full
  • ***
  • Posts: 297
  • i'm silent reader, mian...
    • View Profile
Mungkin jga tuh... Jatuh cintrong bukanny bikin mino dewasa, malah tmbh kekanak"an... Wkwk... Sist pink bs aja... Wkwk... Oh y, aku udh bikin sebagian chap 6 dan chap yg ini bakal jadi long chapter... (Melupakan kalau angka 6 sbnrny angka sial..) tapi kykny masih ada unsur Geun Seuk dikit"... Hehe.. Gk papa ya... Doain aja chap 6 bs jadi momen first kiss MinSun(kalo keadaan tdk maksa bgt).. Hehe..

waaaaah  mau ada first kiss minsun  [AddEmoticons04235] [AddEmoticons04235] [AddEmoticons04235]
dah ga sabar nungguinnya [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
[lovestruck]

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Re: Angel By My Side~Chapter 5 Updated 9 March 2010~
« Reply #96 on: March 11, 2010, 10:02:57 pm »
yah si hs napa ga ksh tau dulu klo cuma 1thn jd-a hj jg ga tau tp walo hj sembunyiin kontrak tetap aja ketahuan coz brt-a dah nyebar di mjlh n inet..kacian mh nih jd-a

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
Re: Angel By My Side~Chapter 5 Updated 9 March 2010~
« Reply #97 on: March 11, 2010, 11:21:46 pm »
FIRST KISS?? [love eyes] [love eyes] [love eyes]

Ayo dg sizt,, di UPDATE chp6 nya,, pnsran sngat niy aq jdnya???? [chin] [chin] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
semangat yaa sizt Karin.... [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
Re: Angel By My Side~Chapter 5 Updated 9 March 2010~
« Reply #98 on: March 14, 2010, 04:42:40 am »
Kyknya lagi pada berduka nih gr" si HS gk jadi ke Jepun...  [AddEmoticons04241] [AddEmoticons04241]
Aku juga mau demo nih... Bener deh...  [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234]
Monyong bener... Kyknya akhir" ini kudu off di dunia maya...
Takut mendengar berita" tidak menyenangkan lagi dan bikin sakit hati...  [AddEmoticons04219] [AddEmoticons04219]
Siapa lagi Yoon Gae Sang... Badan six pack gk jelas, mending hubby ke mana"...  [smiley-gen013] [smiley-gen013]
Mudah-mudahan kgk jadi deh... Tuh project... Onnie kyknya dari yang cakeppp sebuju buneng sekarang malah mau main sm yg tampang om-om sih....  [wacko] [wacko] [wacko] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

Ok deh... Nih super long chapternya di update ya....  [banned] [biggrin]  [clap] [clap]
Biar pada gk gerah denger berita Unnie yg kurang mengenakkan akhir" ini... (kecuali berita MAGIC yang tayang lebih cepat..)
Pokoknya kalau mau ada project kalau gk sam Bi harus sm si Hyung nim!!!!(maunya...)  [heh] [heh]

First kissnya... Batal ya... Heheh==== Mian all...  [heh] [heh] [heh]

Chapter 6

ADDITIONAL CAST FOR THIS CHAPTER :
CLEMENCE POESY as RACHELLE KOURVENSKI--HYE SUN'S BEST FRIEND AND A FAMOUS DESIGNER


   Seoul, Korea, 15 Mei 2006, 03.35 pm

   Sebulan terakhir ini sama sekali tak bisa dibilang bulan yang ringan, malah penuh cobaan. Min Ho terus menyibukkan diri sampai ia benar-benar bisa mati di depan laptopnya, tapi ia tak bisa menyembunyikan maksud yang sebenarnya, ia hanya ingin mengalihkan dirinya dari pikirannya tentang Hye Sun, karena sedetik saja ia melamun, ia tahu, wajah Hye Sun dapat memenuhi seluruh benaknya, dan menghipnotis pikirannya.

   Tiba-tiba terdengar ketukan pelan.

   “Pak Direktur?”

   “Pak Direktur?”ulang suara itu lagi.

   Min Ho yakin ia sedang melamun sekarang. Dan ketika akhirnya sadar dari lamunannya itu, ia berkata kecil, “Masuk—“
   
Sekretaris Song masuk sambil memperhatikan atasannya baik-baik.
   
“Gwenchanseumnida?”tanya Sekretaris Song dengan tatapan menerawang. Walaupun sebenarnya, ia sudah tahu kalau atasannya ini tak pernah baik-baik saja sejak sebulan lalu.
   
“Gwenchana. Ada apa, Hye Gyo-ssi?”tanya Min Ho dengan sopan, lalu ia mempersilahkan Sekretaris Song duduk di hadapannya.
   
“Ada undangan dari Amerika.”jawab Sekretaris Song sambil melambaikan amplop coklat besar.

“Mereka mengundang Anda pada acara pelelangan untuk menggalang dana amal di New York.”kata Sekretaris Song pada Min Ho.

“Mengingat acara ini diadakan sehari setelah kita mengadakan rapat dengan klien kita di New York. Jadi bagaimana?”Sekretaris Song akhirnya menyerahkan amplop itu pada Min Ho.

“Menurutmu apa ada waktu?”tanya Min Ho pada Sekretaris Song yang sekarang menegakkan posisi duduknya setelah melihat Min Ho yang sudah selesai membaca proposal itu.

“Kita bisa menghadirinya.”jawab Sekretaris Song pada Min Ho yang mengangguk-angguk dari tempatnya.

“Baiklah. Atur saja jadwalnya sebaik mungkin. Kita pergi ke acara ini.”jawab Min Ho sambil mengembalikan proposal itu beserta amplopnya pada Sekretaris Song.

Baru saja Sekretaris Song ingin melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu, Min Ho memanggilnya lagi.

“Hye Gyo-ssi—“panggil Min Ho dengan suara pelan, tapi tentu saja masih dapat didengar oleh Hye Gyo yang sekarang sudah berbalik ke arah atasannya.

“Boleh aku minta tolong sesuatu?”

“Tolong belikan aku majalah perempuan impor di toko buku.”jawab Min Ho lagi sambil menatap Hye Gyo sungguh-sungguh.
   
“Mwo?”
   
“Kau tahu, majalah tentang model internasional?”tanya Min Ho lagi sambil memegang dagunya sendiri, mencoba mendeskripsikan secara jelas majalah yang ia inginkan.
   
Vogue atau Elle atau apa pun itu. Kau lebih tahu, kan dari aku sendiri?”tanya Min Ho lagi. “Tentang Goo Hye Sun.”

“Ya. Untuk Anda? Dan tentang Goo Hye Sun?”tanya Hye Gyo, ia merasa aneh, walaupun sebenarnya ia sudah pernah diminta melakukan hal yang aneh tepat pertama kali ia bekerja pada Min Ho.
***
   Seoul, 17 Mei 2006, 05.45 am—Incheon International Airport
   
   “Tuan, lima belas menit lagi pesawat kita berangkat.”kata Sekretaris Song mengingatkan Min Ho yang masih saja menelusuri majalah yang baru dibelinya.
   
Min Ho mengangguk pelan, sedangkan Sekretaris Song menggeleng melihat tingkah aneh atasannya.  Walapupun ini bukan pertama kalinya, ia melihat tindakan atasannya yang sangat ‘perempuan’. Bayangkan seorang pria sepertinya memutuskan untuk membaca majalah Vogue edisi Mei dibandingkan dengan membaca majalah sport.
   
“Hye Gyo-ssi—“Min Ho berkata pelan. “Ketika sampai di Amerika, tolong carikan nomor ponsel Hye Sun-ssi yang bisa dihubungi.”
   
“Baik.”jawab Hye Gyo sambil mengangguk, ia sebenarnya sudah menyadari ini sejak lama, sejak pertama kali ia mulai bekerja pada Min Ho, kurang lebih setahun yang lalu ketika mereka masih dinas di London. Tapi, sekarang ia tak bisa lagi meragukan hal yang ia lihat selama ini. Ia yakin sekali kalau atasannya ini memang menyukai Goo Hye Sun-ssi.

Pada saat-saat tertentu, Hye Gyo akan menemukan lelaki itu termenung dengan segala macam pikirannya. Dan kadang-kadang Hye Gyo juga akan melihat lelaki itu memandangi album fotonya, dan sebuah buku tua—yang sudah lusuh dan yang selalu membangkitkan rasa penasarannya selama ini—
***   
   New York, 25 Mei 2006, 06.17 pm—Clayton Hotel, USA

   “Hye Sun—“desah salah seorang di ruangan itu—salah seorang—karena ruangan itu dipenuhi oleh manusia dengan profesi yang berbeda-beda.
   
“Ya?”Mendengar namanya dipanggil, ia spontan membuka matanya, sedangkan penata riasnya yang sekarang sedang memoleskan maskara di mata Hye Sun cemberut sambil berkata, “Kubilang jangan membuka mata.”
   
Ok, sorry, Mercy…”jawab Hye Sun sambil menutup matanya lagi. Mercy—penata rias—itu sekarang memulai pekerjaannya lagi.
   
“Hye Sun!”teriak seseorang. Kali ini Hye Sun benar-benar membuka matanya, dan Mercy kelihatan kesal bukan main.
   
Tapi, melihat Mercy yang menoleh ke suara keras dan nyaring itu, Hye Sun tak bisa menahan dirinya untuk tidak ikut menoleh.

Ma’am—“Mercy mendesah kesal. Dan disainer blasteran Rusia-Prancis yang bernama Rachélle Kourvénski itu—dengan tubuhnya yang semampai dan wajahnya yang awet muda meskipun sudah berumur hampir 40-an—berlari ke arah Hye Sun yang memakai baju rancangan terbarunya dengan penuh semangat, tapi belum apa-apa, wajah penuh semangat itu berubah seperti melihat monster.

Oh My God! Apa yang terjadi pada matamu, my lady?”tanya Rachélle—dengan aksen Prancisnya—sambil memperhatikan maskara Hye Sun yang sekarang kelihatan sangat berantakan, ketika bulu matanya disentuh terang-terangan, mata Hye Sun tak berhenti mengerjap-ngerjap. “Mercy! Apa yang kau lakukan? Lakukan semuanya dengan baik. Dia model utama kita!”

Ketika Hye Sun melihat bayangan di cermin itu, ia melihat dirinya sendiri memakai gaun warna pink muda yang sangat indah, kalau ada yang tidak beres, pasti itu rambutnya yang masih acak-acakkan dan belum ditata. Tentu saja. Ini rancangan Rachélle, dan Rachélle mustahil sekali membuat satu kesalahan pada suatu karyanya.
   
Ok, Ma’am.”kata Mercy sambil melanjutkan menata make up Hye Sun dengan tampang dongkol. Sedangkan, Rachélle memperhatikan cara kerja Mercy dengan teliti.
   
Hye Sun, my dear, aku harus menemui model yang lain. Bye, Honey.”ucap Rachélle sambil mengecup kedua pipi Hye Sun dengan hati-hati. Setelah itu, ia berlalu dari tempat itu dan menyapa model yang lain.
   
“Hye Sun, mau minum apa?”tanya Hyo Joo—yang sekarang berada tepat di samping Hye Sun—dengan bahasa Korea.
   
“Tidak usah.”jawab Hye Sun sambil tersenyum halus.
   
“Ok—“jawab Hyo Joo.

 “Ponselku ada padamu, kan, Hyo Joo?”tanya Hye Sun sambil menoleh ke arah Hyo Joo setelah Mercy selesai menata make up-nya. Tapi sekarang, Mercy memanggil satu orang lagi untuk menata rambutnya setelah make up dan pakaian Hye Sun telah selesai. Pakaian ini adalah pakaian terbaik sekaligus terbaru dari Rachélle Kourvénski. Disainer yang sudah lumayan dekat dengan Hye Sun, sepertinya, salah satu disainer yang melonjak karena Hye Sun kembali lagi ke dunia modeling.

“Uh? Ya.”jawab Hyo Joo sambil memperhatikan Hye Sun yang sekarang ditata rambutnya.

“Astaga!”jerit Hyo Joo dengan penuh keterkejutan. Sesuatu bergetar dari dalam tasnya, tapi bukan ponselnya sendiri, melainkan ponsel Hye Sun.

 Hyo Joo memperhatikan layar itu baik-baik. Nomornya tidak diketahui, tapi itu video call. Sempat ragu beberapa saat, akhirnya Hyo Joo mendongak ke arah Hye Sun.

“Hye Sun, video call untukmu, tapi unknown number.”kata Hyo Joo. “Mau diangkat?”

“Ya. Sini.”

Hye Sun mengulurkan tangannya sendiri untuk menerima ponsel yang masih bergetar itu, ketika ia menekan tombol Hye Sun mengulurkan tangannya sendiri untuk menerima ponsel yang masih bergetar itu, ketika ia menekan tombol Hye Sun mengulurkan tangannya sendiri untuk menerima ponsel yang masih bergetar itu, ketika ia menekan tombol Yes, ia tak melihat orang yang melakukan video call tersebut.

Baru beberapa saat kemudian, Hye Sun berkata pelan. “Hello?”

“Orang usil?”tanya Hyo Joo khawatir, ini bukan pertama kalinya ada telepon dari fans maupun anti Hye Sun, sebelumnya pernah ada. Dan menurutnya orang itu sudah sakit jiwa.

Hye Sun mengangkat bahu. “Hello, anybody there?”tanya Hye Sun sekali lagi.

Ia sudah membulatkan tekad, jika masih tidak ada jawaban. Ia akan memutuskan sambungannya. Dan ketika ia baru saja ingin menekan tombol No. Wajah itu muncul. Wajah yang jujur saja dia rindukan selama ini. Wajah seorang laki-laki yang sedang tersenyum tulus pada dirinya—
***
New York, 25 Mei 2006, 06.50—Perjalanan ke tempat pelelangan

Min Ho dapat melihat wajah itu. Astaga! Tuhan, aku tak dapat bernapas!

Tak ada yang berubah, malah perempuan itu tambah cantik.

Untuk beberapa saat, Min Ho tak bisa mengarahkan wajahnya ke kamera ponsel itu. Sampai akhirnya ia bisa mengendalikan diri, ia tersenyum ke kamera itu.

“Hye Sun, gwenchanseumnida?”tanya Min Ho sambil tersenyum kalem.

“Oh? Ne. Gwenchanayo.”jawab Hye Sun, gadis ini terkejut, itu kelihatan sekali dari guratan wajahnya. Tapi sekarang, Hye Sun jadi kelihatan tidak senang sekali dengan telepon dari Min Ho yang tiba-tiba.

“Aku di New York sekarang.”kata Min Ho pendek. Hye Sun tersenyum sambil mengangguk.

“Kau dapat nomor ini dari mana?”tanya Hye Sun tiba-tiba.

“Hm? Nomor ini, kau mungkin harus tahu bagaimana berusahanya Song Hye Gyo-ssi untuk mendapatkan nomor ini.”jawab Min Ho halus dan pelan.

“Bisakah kita bertemu, Hye Sun-a?”tanya Min Ho tiba-tiba.

“Tidak!”teriak Hye Sun dari seberang sana, ia terlihat sangat terkesiap, kemudian ia menggigit bibir bawahnya. Wajahnya hari ini dimake up. Tentu saja, Min Ho dapat membedakan bagaimana wajah Hye Sun tanpa make up atau pun dengan make up

“Jeongseosoyo, Lee Min Ho-ssi.”lanjut Hye Sun dengan nada menyesal. “Aku tak bisa.”

Min Ho menggeleng halus. “Kau tak perlu menyesal, Hye Sun-a. Aku tahu kau sangat sibuk dengan jadwalmu. Jaga kesehatanmu saja. Bye.

“Min Ho!”panggil Hye Sun, keras dan tiba-tiba. “Kapan kau akan pulang?”

“Jika saja aku masih punya setahun lagi, mungkinkah kau akan menemuiku?”tanya Min Ho. “Atau malah kau akan mengusahakan aku pergi secepatnya?”

Hye Sun terdiam sambil menggigit bibirnya.

“Tenang saja, Hye Sun-a. Aku tak akan mengganggu kehidupan pribadimu.”jawab Min Ho halus, tanpa bermaksud menyakiti perempuan itu.

Kemudian, ia menekan tombol merah di ponsel itu, dan memasukkannya lagi ke dalam sakunya.

“Pak—“panggil Hye Gyo.

“Tolong belikan aku majalah di sana.”potong Min Ho sambil memberikan beberapa dola pada Sekretaris Song yang sedang menatapnya dengan prihatin.

“Majalah tentang Nona Goo Hye Sun?”tanya Sekretaris Song hati-hati.

“Bukankah pilihan majalah di sini lebih banyak dari di Korea? Belilah semua majalah yang membahas tentang dia.”kata Min Ho pelan sambil memberi isyarat untuk Sekretaris Song agar segera pergi, agar sekretarisnya itu tak perlu melihat sikap sendu atasannya setelah ditolak oleh gadis yang ia cintai.
***
   New York, 25 Mei 2006, 07.26 pm—Clayton Hotel, USA

   
Hyo Joo hanya dapat memperhatikan Hye Sun yang mendadak diam sejak mendapat telpon tadi.
   
Yang dilakukan Hye Sun dari tadi adalah menghembuskan napas dalam-dalam dan melepaskannya lagi, ia melihat foto dalam dompetnya. Hyo Joo sempat melirik foto itu sebentar, dan hanya dapat melihat dua lelaki tampan yang sedang mengapit seorang perempuan manis di tengah mereka.
   
“Apa kau lapar? Mau kubelikan makanan?”tanya Hyo Joo prihatin.
   
“Setengah jam lagi acaranya dimulai. Aku tak akan mengijinkan diriku sendiri untuk bertambah gemuk. Itu akan menjadi hujatan bagi orang banyak.”gumam Hye Sun pelan.
   
Hyo Joo mengangguk mengerti. Kemudian Hye Sun masih sibuk dengan pikirannya sendiri, tanpa memperhatikan keadaan sekitar.
   
“Aku mau pergi sebentar, ya, Hye Sun.”kata Hyo Joo. Namun ia teringat sesuatu dan berbalik sambil berbisik. “Kalau kau mau obat penenang, ini aku tinggalkan.”
   
Hye Sun menerima obat penenang itu dan hanya meremasnya erat-erat.
***
   New York, 25 Mei 2006, 07.36—Perjalanan

   Min Ho menelusuri majalah itu dengan seksama. Melihat foto-foto Hye Sun yang bertebaran di dalam majalah itu. Dan kemudian ada satu artikel yang menarik perhatiannya.


   HS : Aku akan menghadiri fashion show milik temanku, Rachélle Kourvénski pada akhir minggu ini. Aku akan mengenakan rancangan terbaru dan terbaik dari Rachélle. Sudah lama sekali rasanya aku tak menghadiri acara amal.


   “Apa ini?”tanya Min Ho pada dirinya sendiri ketika membaca deretan kalimat itu.

   “Hye Gyo-ssi, boleh kulihat proposal sekaligus undangannya?”tanya Min Ho, ia tak tahu apa yang dia pikirkan sekarang, tetapi secara naluriah hal itu terlintas di benaknya.

   “Hm? Baik, Pak Direktur.”


Sekretaris Song segera menyerahkan amplop coklat beserta undangannya itu. Dengan cepat Min Ho membuka undangannya itu, membacanya dengan teliti.


Acara           : Pelelangan Busana Rancangan Rachélle Kourvénski dalam  
                        rangka penggalangan dana amal.
Tempat      :  Clayton Hotel, New York, USA
Tanggal    :  25 Mei 2006
Waktu      :  08.00 pm-selesai

Special Guest :Hye Sun-Ku

[/b]

Bilang kalau aku tidak salah. Rachélle Kourvénski. Apakah Hye Sun akan hadir di sana nanti? Ke acara pelelangan itu?

“Hye Gyo-ssi, acara yang kita kunjungi ini fashion show?”tanya Min Ho, tak dapat menahan kegembiraan dalam suaranya.

“Iya, Pak.”jawab Sekretaris Song dari bangku depan.

Min Ho serasa ingin merosot dari tempatnya sendiri.

Selalu punya cara. Selalu ada rencana. Selalu ada kesempatan. Oh, terimakasih, Tuhan…
***
   New York, 25 Mei 2006, 07.46 pm

   
“Everyone! Ready in 15 minutes!”teriak Rachélle dari pintu ruangan itu dengan pakaiannya yang super elegan dan berkelas, ia baru saja berganti baju setelah menyadari kalau ia terlalu sibuk memikirkan modelnya dari pada dirinya sendiri.
   
“Hye Sun, my dear.”Ketika ia mendekati Hye Sun, ia segera menatap mata besar perempuan itu yang terhias oleh maskara. “Kau pasti tahu jelas selama setahun aku tidak melihatmu, aku lumayan kaget melihat perubahan yang ada padamu, I mean, mana Hye Sun yang cerewet, ceplas-ceplos, dan santai itu? Kau jadi tegang sekali sekarang. And did you know I like you old self?”
   
“Rachélle, everything is going to change.”jawab Hye Sun, tapi matanya tak menatap Rachélle. Ia mengakui, semua orang juga tahu kalau ia yang sekarang sudah berubah, tapi bahkan dirinya sendiri tak menyadari apa yang berubah itu, dan sekalipun ia sadar, dapatkah ia mengubah sesuatu yang sifatnya alamiah?

Rachélle tersenyum pasrah melihat teman yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri itu. “Prepare your self. I will go to the stage. Don’t disappoint me, Dear…”
   
Rachélle kemudian memberi kecupan kilat di kedua pipi Hye Sun. Hye Sun masih terdiam di tempatnya.
   
Rachélle sedang memberikan pidato pembuka pada orang-orang di depan sana. Dan Hye Sun hanya termenung sambil merasa waktu berjalan cepat sekali.
   
Hye Sun!”teriak seseorang dengan aksen aneh dan sengau. Suara itu melafalkan namanya seperti Hey San.
   
Hye Sun yang sedari tadi terdiam di tempatnya tiba-tiba saja terkesiap dan hampir merosot dari kursinya. Dengan langkah cepat ia menuju suara itu.
   
“C’mon, dear.”Perempuan itu mencoba memberikannya semangat.
   
MC di luar mulai mengeluarkan kata-kata untuk membangkitkan semangat penonton di situ untuk melelangnya dengan harga tinggi.
   
“Here up. The really extraordinary gown from Rachélle Kourvénski. Elegant, classy, luxurious. Very limited in this world. Now, our new rising model is wearing that gown. Our lovely model, Hye Sun-Ku!!”
   
Hye Sun melangkahkan kaki keluar dari sana menuju panggung itu. Dengan langkah anggunnya, ia mengikuti alunan musik. Gaun yang elegan itu terlihat luar biasa sekali padanya, ia memakai kalung dengan panjang yang berbeda di lehernya yang terbuat dari berlian Swarovski, tangan-tangannya dipenuhi oleh gelang-gelang yang tidak mengurangi keanggunannya sedikit pun, sepatu platform putih, belum lagi rambut hitamnya yang ditata habis-habisan ke atas, yang menambah kesan cantik pada dirinya.

 Semua mata menuju padanya, flash-flash kamera paparazzi itu jatuh tepat ke arahnya, kamera yang menyala tak henti-hentinya menyorot wajah putihnya yang memakai make up ringan. Setelah ini tak ada yang berani meragukan kehebatan Rachélle dan selera Hye Sun dalam dunia fashion.
   
“We open the price from $50.000. Who can give higher price for this gown?”
   
“$65.000!”teriak seorang perempuan tua dengan dandanan menor di sana.   

“$75.000!”teriak seorang perempuan muda yang manis.

Perempuan yang satunya tak mau kalah. “$85.000!”

“$100.000!”teriak perempuan yang lebih tua. Pelelangan ini jadi semakin panas karena dua orang perempuan yang berebut ingin memiliki gaun itu.

“$150.000!”Kemudian setelah itu diam sejenak, tak ada yang mengajukan harga lagi. Termasuk gadis muda yang manis itu.

“So, that’s the highest price? This gown will be $150.000?”tanya MC itu memanas-manasi.

“$200.000!”teriak perempuan yang lebih muda.

“That’s the final? $200.000?”tanya MC itu.

“$300.000!”Perempuan yang lebih tua itu tidak mau kalah. Akhirnya, diam total. Tak ada yang berani mengajukan harga lagi. Dan perempuan tua itu tersenyum senang. Tapi, ada sesuatu yang tak terduga, seorang perempuan dengan dandanan sederhana seperti wanita karir, tiba-tiba meneriakkan harga.

“$550.000!”


Kali ini diam total. Perempuan tua atau perempuan muda itu tak berani mengajukan harga lagi.
   
Hye Sun tak dapat melihat wajah perempuan itu dengan jelas. Tapi pada akhirnya, gaun yang ia pakai akan menjadi milik perempuan itu, karena tak ada yang mau melelang lebih tinggi lagi.
   
Baru saja Hye Sun ingin berbalik ke belakang panggung dengan senyum lebarnya, tiba-tiba semua lampu di ruangan itu mendadak padam—
***
   
“Apa yang terjadi?”tanya Min Ho mendadak pada Sekretaris Song yang berada di sampingnya.
   
“Mungkin listriknya korslet.”jawab Sekretaris Song pendek.
   
Di kegelapan itu, Min Ho tak dapat melihat apa-apa.
   
Baru saja Min Ho ingin meragukan pernyataan Sekretaris Song, jeritan—yang anehnya diserukan dengan bahasa Korea—menggema di seluruh ruangan.
   
“Tolong! Aku takut! Aku tak dapat melihat!”teriak suara itu.
   
Otak Min Ho terpaksa berputar lebih cepat, ke kejadian ketika ia masih kecil, ketika ia masih duduk di bangku 4 SD.
***
Flashback

   Liburan natal dan musim dingin di rumah nenek Hye Sun di desa—


 Min Ho kecil, Geun Seuk kecil, dan Hye Sun kecil berjalan di padang rumput yang luas itu dengan pakaian super tebal.

“Oh My God, how cold is this!”seru Hye Sun sambil merapatkan jaketnya.

“I’ve told you to wear your glove”kata Geun Seuk dengan sorotan mata prihatin.

“Apa sih yang kalian bicarakan?!”potong Min Ho dengan tampang heran. Ia tak bisa berbahasa Inggris dengan baik, maka ia terkadang kesulitan ketika kedua temannya ini sudah mulai berbicara bahasa Inggris.

“Min Ho- ya! Aku bilang kalau udaranya dingin sekali.”ulang Hye Sun dalam bahasa Korea. “For Godness Sake, you must learn English!”

“Aku tak bisa bahasa Inggris. Tolong jangan bicara dengan bahasa Inggris lagi, Hye Sun!”pinta Min Ho pada sahabat perempuannya ini.

“Kau harus belajar bahasa Inggris.”jelas Geun Seuk kalem.

“Aku punya guru privat bahasa Inggris! Tapi aku tak bisa berbahasa Inggris seperti kalian!”protes Min Ho, ia kesal sekali.

“Sudahlah. Kami tak akan bicara dengan bahasa Inggris lagi.”gerutu Hye Sun sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya.

Tiba-tiba saja, lampu di sekitar padang rumput yang menerangi jalan mereka padam seketika. Dan mendadak Hye Sun berteriak histeris.

“Hey! I can’t see! Help me!”teriak Hye Sun.

Min Ho mengerutkan kening, setelah tak bisa melihat wajah gadis itu, ia sekarang harus mendengar bahasa alien lagi.

“See the star! Remember!”seru Geun Seuk. Min Ho tak dapat melihat apa-apa lagi di keadaan gelap gulita ini.

Seketika kemudian, tak ada suara dan lampu itu kembali menyala.

Min Ho tak dapat berkata-kata ketika melihat kedua sahabatnya itu sekarang berpelukan erat, dengan Hye Sun yang menengadah ke langit.

“Hei! Apa—“Min Ho ingin protes, tapi kemudian ia melihat air mata yang menetes dari kedua sudut mata besar Hye Sun.

“Gwenchana, Hye Sun-a?”tanya Min Ho. Hye Sun kemudian menggeleng kecil.

“Dia baik-baik saja, Min Ho-ya. Kita pulang, ya.”jawab Geun Seuk sambil masih membekap Hye Sun dalam pelukannya. Sekarang Hye Sun menyelipkan tangannya sendiri di lengan Geun Seuk dengan tubuh yang masih bergetar.

“Eh? Aku sih terserah saja.”ucap Min Ho tanpa sadar mengikuti langkah kedua temannya. Dia baru sadar, walaupun kadang sahabat perempuannya itu dinilainya terlalu tangguh dan agak menyebalkan, ternyata ada sebagian dari diri perempuan itu yang ketakutan. Dan ia baru tahu kalau perempuan ini takut pada kegelapan.

***
   “Dia takut gelap.”bisik Min Ho pada dirinya sendiri.
   
Secara naluriah ia membuka jasnya dalam kegelapan itu. Ia masih tak mengerti bagaimana Hye Sun dapat takut dengan kegelapan. Tapi yang penting, ia sama sekali tak sudi jika harus melihat perempuan itu menangis lagi karena kegelapan.
   
Ia menyalakan ponselnya sendiri untuk membantunya menuju catwalk yang terasa sangat panjang itu. Orang-orang di sekitarnya juga mulai membuat keributan yang tak lazim.
   
Akhirnya ia menemukan sesosok perempuan hitam yang tersungkur di lantai. “Hye Sun-a!”
   
Terdengar suara tangis dari Hye Sun, cepat-cepat ia membawa kepala gadis itu ke dalam jasnya, agar gadis itu tak perlu melihat kegelapan di sekitarnya. “Kau di sini saja.”
   
Ia menyerahkan ponselnya pada Hye Sun untuk sumber penerangan di dalam jasnya.
   
“Kau tenang saja. Ada aku di sini. Pegang ponselnya baik-baik.”bisik Min Ho sambil mengeluarkan ponselnya yang satunya lagi untuknya berjalan melalui kegelapan itu.
   
“Kau—“Hye Sun terisak dalam jas itu. “Kau siapa?”
   
Min Ho tak menjawab ia ingin membawa perempuan itu keluar secepatnya dari kegelapan ini. Ia tak mampu lagi jika harus melihat perempuan ini menangis lagi.
   
Angel by your side.”bisik Min Ho secara naluriah. “Jangan takut. Jangan menangis. Aku ada di sini.”
   
Setelah itu, isakan Hye Sun makin terdengar. “Aku benci gelap! Aku mau tempat terang!”
   
Hye Sun masih menangis ketika Min Ho berhasil mengeluarkan Hye Sun dari ballroom yang listriknya padam itu, di luar keadaannya masih terang dan sepertinya hanya ballroom itu yang mengalami pemadaman listrik.
   
Dengan cepat Min Ho mendudukkan gadis itu di lantai, menyandarkannya ke dinding, dan menyibakkan jasnya dari kepala Hye Su, melemparnya entah ke mana. Min Ho dapat melihat wajahnya yang pucat pasi, tangannya yang memegang ponsel Min Ho bergetar hebat, matanya masih terpejam, dan air mata mengalir di kedua pipinya, make up-nya luntur sama sekali. “Hye Sun, gwenchana?”
   
Min Ho mengguncang-guncangkan tubuh Hye Sun berulang kali sambil berjongkok tepat di hadapannya, ia takut kalau Hye Sun tiba-tiba tak sadarkan diri, bagaimana pun juga, ia baru saja melawan phobia-nya dan itu bukan hal yang mudah.
   
“Hye Sun!”teriak Min Ho frustasi sambil masih menaruh kedua tangannya di kedua bahu perempuan itu dan mengguncangnya beberapa kali. Ia kemudian beralih pada ponsel yang masih dipegang Hye Sun dengan tangan bergetar, Min Ho kemudian mengambil ponselnya dari tangan itu dan memasukkannya ke kantung celana dengan asal-asalan.

Beberapa detik kemudian, Hye Sun bergidik dan mulai memberi tanda bahwa sebentar lagi ia akan sadar. Tapi dengan satu gerakan yang tak terduga, ia menyelipkan tangannya sendiri di antara tangan Min Ho yang terangkat.

Min Ho terkesiap ketika merasakan gerakan yang tiba-tiba itu.

“Aku takut.”ucap Hye Sun dengan nada bergetar.

“Tidak perlu. Aku—“

“Tapi, asalkan kau di sini, aku tak akan takut.”potong Hye Sun cepat-cepat, masih dengan nada bergetar dan menangis. “Kau yang memintaku untuk melihat bintang ketika aku merasa takut pada kegelapan. Tapi aku tadi tak melihat bintang! Itu bukan salahku! Aku sungguh-sungguh tak melihat bintang! Aku bersumpah!”

“Maafkan aku yang sudah menangis. Aku janji tak akan menangis lagi jika hanya menghadapi kegelapan.”isak Hye Sun. Tapi, lama-lama, kenapa Min Ho merasa janggal? Apakah benar itu Hye Sun yang bicara? Atau… Jika memang benar perempuan itu yang bicara, apakah benar perkataan itu ditujukan untuk Min Ho?

“Aku janji aku tak akan menangis lagi, tapi kau harus tetap di sini!”seru Hye Sun dengan nada yang terisak.

“Aku—Aku janji aku akan tetap di sini.”Min Ho menjawab dengan canggung dan terbata-bata.

“Aku—Aku tidak manja, kan? Takut pada kegelapan bukan salahku, kan? Benar, kan,--“ tanya Hye Sun, masih dalam tangisannya.

Bukan. Tentu saja bukan. Tapi mulut Min Ho terasa kelu sebelum jawaban itu dapat keluar dari mulutnya, bahkan beberapa saat sebelum jawaban itu ia ucapkan Hye Sun mulai mengatakan sesuatu yang menyakitkannya, tapi serasa masuk akal untuk Min Ho sendiri. Dua kata itu, kedengaran biasa, tapi sangat mencelos baginya.“Geun Seuk?”

Tentu saja. Tak mungkin Hye Sun sedang bicara pada Min Ho. Tentu saja perempuan itu sedang tidak sadar bahwa orang yang ia bekap dalam pelukannya sekarang adalah Min Ho. Hah. Terlalu mudah untuk dicerna. Terlalu bodoh untuk Min Ho yang sudah salah sangka. Dan terlalu naif untuk Min Ho yang sudah percaya begitu mudah.
***
Inside the ballroom

Hyo Joo berputar-putar di tempatnya sendiri.

Ia benar-benar sadar kalau tadi ia baru saja mendengar teriakan seorang perempuan dalam bahasa Korea. Tapi, keadaan di sini sangat gelap, sekalipun perempuan yang berteriak itu adalah Hye Sun, tak mungkin Hyo Joo bisa menuju Hye Sun dengan selamat, dan belum tentu juga kaki Hye Sun dapat terbebas dari memar dan biru-biru.

Untung saja seketika kemudian, lampu itu dapat menyala. Dan tadaaa!!! Ia dapat kejutan yang amat istimewa. Tak ada tanda-tanda Hye Sun di atas panggung itu. Hye Sun menghilang!

Semua orang juga tampaknya menyadari hal itu. Paparazzi di ruangan itu mendadak bagaikan cacing kepanasan. Para konglomerat yang ada di sana juga menoleh kesana kemari, berusaha mencari seseorang yang hilang itu.

Astaga, mana Hye Sun? Apakah ini seperti yang di film-film? Apakah Hye Sun diculik?!

“Where’s Ms. Ku?”Akhirnya salah seorang wartawan pria membuka mulutnya setelah selama beberapa saat matanya mencari-cari Hye Sun di ruangan itu.

“Yeah, where is she?”
tanya wartawan wanita berambut pirang yang masih kelihatan muda itu.

Hyo Joo juga melihat wajah khawatir dari Madame Kourvénski. Perlahan disainer dengan wajah yang masih awet muda itu menatap Hyo Joo, seperti berusaha mendapatkan penjelasan. Walaupun, Hyo Joo saja tak tahu harus menjelaskan apa.

Tapi kemudian, ada seorang wartawan yang memutuskan ke luar ballroom.
   
“Ms. Ku!”teriak wartawan yang tadi keluar dari ballroom. “What happen?”
   
Teriakan wartawan itu secara serempak menarik perhatian semua orang—termasuk Hyo Joo—hingga akhirnya manusia-manusia itu memutuskan ke luar ballroom dengan berdesakan.
   
Baru saja Hyo Joo keluar dari ballroom itu sudah terlihat lampu-lampu flash kamera yang menusuk mata dan terdengar suara wartawan-wartawan itu yang melayangkan pertanyaan dalam bahasa Inggris.

“Ms. Ku? What happen in here?”

“Ms. Ku? Who is this?”

“Ms. Ku? Is this your new boyfriend?”

“Ms. Ku, you’ve forgot Mr. Jang?”
   
Astaga, apa yang terjadi?
   
Dengan buru-buru Hyo Joo menyuruh orang-orang, termasuk wartawan-wartawan itu untuk minggir. Dan ia tak bisa memerintah otaknya untuk memercayai apa yang sekarang ia lihat.
   
Oh My God, Hye Sun!
   
Hye Sun sedang duduk bersandar di dinding. Dan di depannya, ada seorang laki-laki berkemeja putih—dengan badan berotot yang tergambar jelas dari kemeja yang lumayan ketat itu—yang berjongkok ke arahnya dan mereka saling memeluk! Tuhan, apa yang telah Hye Sun pikirkan? Di sekitar mereka berdua, jas lelaki itu tergeletak begitu saja di lantai, menambah kesan tidak menyenangkan pada keadaan mereka sekarang.
   
“Ya! Hye Sun-ssi. Gwenchanseumnida?”tanya Hyo Joo sambil menghampiri mereka berdua yang tersungkur di lantai.
   
You!”Sekarang Hyo Joo beralih pada lelaki dengan rambut hitam berantakan itu. “Who are you?!
   
“Nona. Bawa Hye Sun pergi. Tenangkan dia.”lelaki itu berbisik dalam bahasa Inggris pada Hyo Joo yang merasakan kalau kemarahannya sudah memuncak sampai ubun-ubun. Apa yang dipikirkan lelaki ini?
   
“Bagaimana dengan Anda? Hah? Identitas Anda akan terbongkar begitu saja? Dan Anda akan menghancurkan karir Hye Sun dengan begini?”tanya Hyo Joo bertubi-tubi, ia sama sekali tak sadar kalau ia sedang berbicara dengan bahasa Korea.
   
“Sumpah! Demi Tuhan, saya tidak melakukan apa-apa!”Suara lelaki itu bertambah keras, kali ini ia berbicara dengan bahasa Korea.
   
“Anda? Orang Korea?”tanya Hyo Joo bingung.
   
“Bawa dia pergi. Aku akan mengurus diriku sendiri.”Lelaki itu berkata lagi pada Hyo Joo.
   
Hyo Joo berusaha untuk melepaskan tangan Hye Sun yang bergetar dari punggung lelaki itu. Setelah beberapa kali mencoba akhirnya ia berhasil membuka tangan yang saling mengunci itu.
   
Flash kamera masih terdengar dan pertanyaan-pertanyaan itu masih melayang di udara, walaupun di pikiran Hyo Joo pertanyaan itu sudah tidak kedengaran.
   
Hyo Joo sudah tidak memikirkan lelaki itu lagi. Tapi terakhir kali Hyo Joo sempat menendang jas hitam milik lelaki itu ke arahnya, dengan harapan lelaki itu cukup pintar untuk menutupi wajahnya sendiri.
   
Hye Sun sekarang terlihat sangat kacau. Make up-nya luntur total. Jalannya sempoyongan hingga Hyo Joo berusaha keras sekali menopang perempuan itu ke ruang ganti. Wartawan-wartawan itu masih sibuk menjepret-jepret bagian yang menurut mereka bagus. Dan ada sebagian yang tertarik untuk mengejar si lelaki yang sudah pergi entah ke mana itu.
   
“Jang Geun Seuk—“gumaman Hye Sun yang lirih terdengar ketika mereka sudah sampai ke ruang ganti. Tidak ada orang di sana. Yang ada hanya orang-orang di luar yang mencoba membuka pintu itu dengan paksa.
   
Hyo Joo kemudian mendudukkan Hye Sun ke salah satu kursi berwarna merah. Dan memperhatikan wajah itu baik-baik.
   
“Hye Sun!”teriak Hyo Joo sambil berusaha menyadarkan perempuan ini.
   
“Aku bertemu Geun Seuk tadi.”ucap Hye Sun pelan dan agak tidak jelas. “Aku juga berbicara dengannya.”
   
“Hye Sun, percayalah, siapa pun lelaki itu, melupakan kemampuannya sendiri dalam berbahasa Korea. Dia tak mungkin Jang Geun Seuk!”seru Hyo Joo.
   
Tiba-tiba Hyo Joo dapat merasakan tubuh itu tambah lemas dan Hye Sun pingsan di tempat itu.
***
   Ruang Ganti, 25 Mei 2006, 09.16 pm

   Ketika ia mencium bau cajuput oil, ia segera sadar dari pingsannya.
   
Ia sadar dan banyak sekali orang yang mengerumuninya. Ada juga model-model yang penasaran terhadap apa yang terjadi pada rekannya ini. Dan Rachélle juga Hyo Joo duduk di kursi dekat Hye Sun.
   
“Gwenchana.”ucap Hye Sun. “I’m okay, Rachélle—“
   
“Baik-baik saja bukan seperti ini caranya.”kata Hyo Joo.
   
Pakaian Hye Sun sudah berganti. Mungkin gaun itu telah diberikan pada pemiliknya. Sekarang ia memakai baju putih dengan cardigan kuning yang sangat sederhana.
   
“Dear—“

“Aku mohon aku ingin sendiri dulu.”ucap Hye Sun menginterupsi perkataan Rachélle.

Mereka pun menurutinya. Mereka berangsur-angsur pergi dari tempat itu, yang kelihatan berat hati dan dongkol hanya Hyo Joo, tapi akhirnya manajernya itu juga pergi, meninggalkan Hye Sun sendiri di kursi yang terletak di depan cermin itu.
   
Hye Sun memandangi dirinya sendiri dalam cermin itu. Ia menggigit bibir bawahnya, kemudian memegangnya karena gigitan itu terasa sakit sekali.
   
“Aku yakin itu Geun Seuk.”ucap Hye Sun pada dirinya sendiri.
   
Ia memaksa dirinya untuk percaya bahwa malaikat itu pasti sedang berada di sampingnya. Tapi, kenapa ini terlihat tidak masuk akal?
   
Tiba-tiba saja ia teringat dengan sesuatu yang ia pegang sebelum pingsan, ponsel. Ponsel orang itu.
   
Tapi, siapa orang itu? Geun Seuk?
   
Ia baru teringat sesuatu. Di ponsel itu. Di bagian atas sekali tertera sebuah nama. Sebuah nama yang membuatnya tak bisa menyuruhnya untuk mengatupkan mulutnya sendiri. Nama itu… Itu dia…!!!
***
   Hye Sun berlari sekencang-kencangnya. Itu bukan Geun Seuk. Sakit rasanya, tapi malaikat itu tak ada di sampingnya. Karena sekarang musim semi, terlihatlah rintik-rintik hujan di luar hotel itu. Ia sampai di lobby hotel itu dan dengan cepat ia menuju halaman belakang hotel itu, tempat beradanya kolam renang dan taman bermain bagi anak-anak.

Tak ada orang yang berani keluar dari hotel itu karena keadaan yang hujan. Dengan masih berlari ia duduk di pinggir taman bermain itu. Tempat yang lumayan tersembunyi jika ia memang tak ingin ditemukan oleh dunia luar.

Wajahnya basah total. Rambutnya juga sudah kembali normal. Bajunya basah kuyup. Dan air matanya mengalir, sama seperti air hujan yang sekarang juga mengalir di wajahnya.

 “Bohong, kau pembohong.”ucap Hye Sun dengan suara bergetar. “Mana? Mana malaikatku? Where’s my angel?! Di mana pun aku berada, kau akan menemukanku? Kau pembohong…!!!”

Ingatannya melayang lagi pada masa lalunya. Masa lalu yang ia ingat persis menyebabkan dirinya sendiri takut dan membenci kegelapan.
***
Flashback
   
   Pada liburan musim panas kali ini, Hye Sun, Geun Seuk, dan Min Ho beserta keluarganya masing-masing menghabiskan liburan mereka di sebuah vila milik Min Ho yang berada di dekat pantai.
   
“Ayah. Panas sekali.”rengek Hye Sun pada ayahnya ketika hampir jam setengah dua belas malam.
   
“Kau harus menghemat listrik, Hye Sun-a.”jawab ayahnya tanpa mau membuka matanya sedikit pun. Ibunya tak bergidik sama sekali mendengar percakapan itu. Kakak perempuannya tak ada di sini, karena ia menjalani summer camp di Swedia.
   
Hye Sun merasa dialah yang paling sial di sini. Ia tak boleh tidur dengan anak-anak lelaki itu yang sekarang pasti sedang tertawa cekikikan dan sedang menyalakan pendingin ruangan itu sepuasnya. Tidak seperti dirinya yang sekarang harus terjebak dengan ayahnya yang saking mencintai lingkungan akan melakukan apa saja agar lingkungan itu tidak rusak, termasuk tidak menyalakan pendingin ruangan pada musim panas seperti ini.
   
Kemudian, Hye Sun memberanikan diri untuk keluar.
   
Ia menuju ke kamar yang sebenarnya adalah kamar yang disediakan untuknya. Tapi ia menolak mentah-mentah dengan alasan tak punya teman, sambil sedikit berharap orang tua mereka bertiga menyerah dan menyuruh ia tidur dengan kedua sahabatnya itu. Lagipula apa yang akan dilakukan anak kelas 1 SD?
   
Ruangan gelap sekali. Kakinya yang kecil bergetar ketika berjalan melewati kegelapan itu. Ketika akhirnya ia masuk ke kamar itu, ia segera menyalakan lampu dan  menuju ke pendingin ruangan dan menyalakannya sampai full.
   
Betapa senangnya Hye Sun kecil ketika itu.  Ia melompat kegirangan di atas ranjang dan mulai merasakan hawa dingin di sekarang berputar di sekitarnya. Tapi kemudian, lampu mendadak padam dan pendingin ruangan juga itu juga berhenti seketika. Ia tak takut apa pun di dunia ini, selama ini ayahnya selalu mengajarkannya untuk begitu, maka ia tidak menangis ataupun berteriak.
   
Tapi, saat melihat ada seseorang yang datang, ia tak bisa menyembunyikan perasaan lega yang tak dapat terbayangkan. Kemudian ia melihat sosok hitam nanny-nya yang datang bersama bayangan dua orang di belakangnya.
   
“Nanny! Mati lampu! Apakah orang yang nanny bawa itu tukang listrik?”tanya Hye Sun riang. Hye Sun tak dapat membaca ekspresi nanny-nya di kegelapan itu.
   
“Ya. Tukang listrik yang akan menyetrummu.”kata nanny itu sambil memetikkan jarinya. Kemudian dua orang di belakangnya datang menyongsong Hye Sun.
   
“Hey! What’s this?!”teriak Hye Sun tak karuan.
   
Kedua orang itu membawa Hye Sun kecil secara paksa, mulutnya dibekap begitu saja.
   
Ayah! Ibu! Geun Seuk! Min Ho! Unnie! Jang Ahjumma! Jang Ajossi! Lee Ahjumma! Lee Ajossi!
   
Hye Sun terus berteriak dalam hati sampai ia merasa ia telah diletakkan di sebuah mobil box di kegelapan malam itu. Lampu vila mati total, demikian pula dengan lampu vila-vila lain di sepanjang garis pantai itu.
   
Hye Sun meronta-ronta. Tapi kedua tangan dan kakinya diikat begitu saja tanpa perasaan. Mulutnya juga diplester mentah-mentah  
   
 Nanny-nya kemudian ke bangku kemudi bersama kedua orang itu, meninggalkan ia sendiri di bagian belakang mobil itu.
   
Hye Sun kemudian menutup kedua matanya, mengucapkan doa dalam hati,“Tuhan, lindungilah aku—Aku mau omma! Aku mau appa! Aku mau bersama Unnie!Kalau Kau akan melindungiku sekarang, aku akan makan sayur sebanyak-banyaknya.”
   
“Darrr!”bisik seseorang. Ketika Hye Sun membuka mata, yang ia lihat hanya bayangan seseorang, ia tak bisa melihat siapa orang itu, tak ada cahaya yang masuk ke dalam matanya kecuali sinar bulan dan bintang di langit.
   
“Di mana pun kau berada, aku pasti dapat menemukanmu.”kata orang bersuara renyah itu.
   
Ah! Ini Geun Seuk!

“Ayo. Kita harus pergi.”ajak Geun Seuk sambil berbisik.

“Setelah ini kita main petak umpet bersama, ayo, kau senang main petak umpet, kan?”tanya Geun Seuk lagi.

Tapi Hye Sun menggeleng kecil. Ia tak bisa bergerak sama sekali.

“Ayo.”Bayangan itu kemudian membuka box itu dengan hati-hati dan naik ke atasnya.

Ia membekap tubuh Hye Sun yang meringkuk dan diikat ke tepi box itu. Kemudian bayangan itu turun ke bawah lagi dan merentangkan tangannya.

Kemudian deru mesin terdengar. Mobil itu bersiap-siap untuk pergi dari sana.

“Ayo. Pali!”kata Geun Seuk lagi, berusaha menekan suaranya agar tidak terdengar oleh orang yang ingin menculik Hye Sun tersebut.

Bayangan itu kemudian merentangkan tangannya lebar-lebar, berusaha menangkap Hye Sun yang sekarang berusaha menjatuhkan diri dari box itu.

Brak!

Sesaat kemudian, mobil itu berjalan terus menerus tanpa menyadari kalau Hye Sun telah melarikan diri dari mobil itu.

Yang selanjutnya terjadi, Hye Sun hanya melihat kegelapan. Dan yang ia tahu ketika ia bangun adalah nanny yang jahat bersama teman-temannya itu sudah ditangkap polisi, ia mulai takut pada sesuatu yang bernama kegelapan dan ia mulai menyukai seseorang bernama Jang Geun Seuk—

***
   Inside Clayton Hotel, 25 Mei 2006, 09.45 pm

   
Min Ho kemudian menggigit bibirnya sendiri di kamar hotel itu.
   
Ia sengaja melarikan diri dari wartawan sinting itu dengan memesan kamar hotel dan masuk ke dalamnya. Walaupun selama beberapa saat wartawan itu masih mengikutinya dan mengetuk-ngetuk pintu kamarnya, toh, lama-lama wartawan-wartawan itu pergi juga.
   
Di luar hujan. Ia tak tahu persis apakah musim semi di New York selalu begini, tapi hujannya walaupun kelihatan deras, di sisi lain sangat membantunya untuk berelaksasi sebentar.
   
Ia belum menelpon Sekretaris Song untuk memberitahunya di mana ia sekarang. Tapi tadi Sekretaris Song sempat menelpon beberapa kali pada kedua ponselnya, sebelum akhirnya ia menyerah dan memutuskan mengirim pesan singkat pada kedua ponsel itu.
   
Setelah merasa keadaan cukup aman, Min Ho menuju ke lobby hotel dengan pikiran yang ruwet.
   
Hal yang tadi itu. Apakah dapat menghancurkan karirnya? Aku tak akan mengijinkan diriku sendiri melakukan itu.
   
Kemudian, tanpa sadar, pandangannya terpaku menuju kolam renang yang sekarang diguyur oleh air hujan. Ia membuka pintu menuju kolam renang itu, mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru tempat, dan tiba-tiba saja ia dapat menangkap bayangan seseorang di dekat taman bermain yang basah kuyup dan hanya mempunyai satu lampu sebagai sumber penerangan.
   
“Hye Sun?”
   
Ia tak yakin akan penglihatannya sendiri. Bagaimanapun juga sudah sering sekali ia mengalami hal seperti ini. Kadang-kadang ketika waktu itu ia berada di London, ia akan melihat seorang perempuan yang melintas di hadapannya dan mengira itu adalah Hye Sun. Jika sekarang ia melihat bayangan menyerupai Hye Sun, itu seharusnya sudah biasa.
   
Tapi, setelah berusaha mengalihkan perhatiannya pada benda lain. Ia malah semakin yakin ia tidak salah lihat. Ia seakan dihipnotis dan tidak bisa melepaskan pandangan dari taman bermain itu.
   
Dengan langkah pasti dan ditemani guyuran hujan, ia menuju sesosok bayangan itu.
   
Hye Sun…
   
“Di mana pun kau ingin bersembunyi, aku pasti dapat menemukanmu, Hye Sun-a.”kata Min Ho lembut. Ia memperhatikan perempuan itu baik-baik, bajunya basah kuyup, rambutnya yang basah menempel ke wajahnya.
   
Hujan tak berhenti-hentinya turun sebelum akhirnya Min Ho bicara lagi, “Kau bisa sakit jika memakai pakaian setipis itu.”
   
“Biar!”teriak Hye Sun melawan hujan yang sedang turun. “Aku mau Geun Seuk. Aku mencintainya! Aku mau dia! Bukan kau!”
   
Min Ho baru saja akan menyentuh bahu Hye Sun dan berjongkok ke arahnya, sebelum Min Ho melihat bayangan dari dirinya sendiri.
   
“Hye Sun?”panggil Min Ho. “Masih ingat tentang bayangan?”
***
Flashback
   
Malam hari itu, ketiga anak sekitar umur 7 tahunan itu sedang berjalan-jalan di sekitar halaman rumah Geun Seuk yang besarnya bukan main.    

“Hey! Lihat!”seru Hye Sun, ketika Geun Seuk dan Min Ho telah mendahuluinya.

“Bayanganku besar sekali!”teriak gadis kecil itu kegirangan. Kedua sahabatnya segera menoleh ke arah gadis kecil itu yang sekarang sedang melompat-lompat.

“Kata ayahku, ketika kita besar nanti, bayangan kita akan bertambah besaaaaaaaaaaaaarrrr…”kata Hye Sun, ia berjongkok sebentar, membungkuk, berdiri, dan kemudian ia melompat hingga bayangannya menjadi tambah besar.

“Jika sudah besar, maka kita akan dewasa dan berkewajiban melindungi orang lain yang lebih kecil.”lanjut Hye Sun. “Sekarang ini, aku dilindungi oleh ayah. Tapi, kata ayahku nanti aku akan menikah dengan orang yang mempunyai bayangan lebih besar dari aku.”

Hye Sun terlihat bangga dan berseri-seri sebelum akhirnya Min Ho, sahabatnya mulai mengajukan pertanyaan yang membuat dongkol Hye Sun, “Kenapa harus menikah dengan orang yang punya bayangan lebih besar?”

“Min Ho-ya! Aku ini, kan, perempuan. Aku harus dilindungi oleh suamiku ketika aku menikah nanti.”kata Hye Sun sambil melipat tangannya di depan dada.

“Dan sekarang aku yang punya kewajiban melindungi kalian, karena aku yang punya bayangan lebih besar dari kalian.”kata Hye Sun sambil berpura-pura angkuh.

“Jadi, salah satu dari kami tak bisa menikahimu?”tanya Min Ho dengan polosnya.

“Hei…!! Lee Min Ho-ssi, who says I want to marry you? Atau salah satu dari kalian?”tanya Hye Sun sambil memanyunkan bibirnya. “Tapi, tentu saja aku tak bisa menikahi salah satu dari kalian. Is there a wife who protect her husband?”

 Geun Seuk sedari tadi tidak berkomentar sama sekali. Ia memikirkan sesuatu. Entah apa yang mengganggu pikirannya. Tapi, yang mereka berdua tahu, Geun Seuk kemudian berjalan mundur terus ke belakang hingga ia sampai di lampu taman, lalu ia berhenti.

Ia kemudian melihat ke depan. Demikian pula dengan Hye Sun dan Min Ho yang dari tadi hanya memperhatikan kelakuan sahabatnya yang aneh ini.

“See? My shadow is bigger than you.”tanya Geun Seuk dengan lembut.

“Berarti aku bisa melindungimu, kan?”

Min Ho dan Hye Sun saling melempar pandangan satu sama lain. Mereka berdua agak tidak mengerti sebelum Geun Seuk akhirnya berbicara lebih lanjut, “That’s mean, I can marry you, right?”

Mulut Hye Sun tiba-tiba terbuka, lalu tertutup. Ia membekap mulutnya sendiri dengan tatapan tak percaya.

“Mwo?”
***
   

Min Ho kemudian memperhatikan bayangannya lagi.
   
“Bayanganku lebih besar, kan?”tanya Min Ho pada Hye Sun, mengalahkan suara hujan yang turun di sekitar sana.
   
“Kau—“gagap Hye Sun.
   
“Aku yang akan melindungimu sekarang.”kata Min Ho sambil berjongkok ke arah Hye Sun, menyeka air matanya, walaupun ia sendiri tak dapat membedakan air mata dan air hujan yang ada di wajah Hye Sun.
   
Setelah itu, Min Ho memeluk gadis itu. Membekapnya dalam pelukannya.
   
“Aku minta maaf karena aku bukan Geun Seuk.”bisik Min Ho pelan.
   
Bahkan Hye Sun dapat merasakan, kalau tubuhnya yang dari tadi kedinginan segera terasa hangat ketika lelaki ini memeluknya, memberi kehangatan yang tak jelas dan dapat dideskripsikan, tetapi sungguh terasa nyata.
   
“Aku bukan Geun Seuk yang baik dan perhatian itu.”bisik Min Ho lirih, sekarang ia merasakan air yang lebih hangat dari air hujan itu mengalir di pipinya—air matanya—
   
“Tapi, tolong jangan menangis. Karena melihatmu menangis, aku juga akan menangis. Melihatmu sedih, aku juga akan sedih. Melihatmu sakit, aku juga akan sakit.”lanjut Min Ho dengan halus.
   
“Tak ada lagi yang lebih penting dari bagaimana caraku bisa bahagia.”lanjut Min Ho sambil masih membekap gadis itu dalam pelukannya. “Karena caraku untuk bisa bahagia, hanya jika melihatmu bahagia.”
   
Hye Sun tak bernapas selama beberapa detik mendengar pengakuan itu. Apa maksudnya ini semua?
   
 Hye Sun akhirnya melepaskan pelukan di tengah guyuran hujan itu.
   
“Kau—Kau adalah orang yang baik.”bisik Hye Sun dengan nada bergetar. “Tapi, jweosonghamnida—Aku tak bisa melihat orang lain selain Geun Seuk di mataku—”
   
“Mataku akan selalu terbuka dan hanya melihat seseorang.”kata Hye Sun lagi. “Dan orang itu tak akan pernah tergantikan sampai kapan pun. Mataku hanya untuk melihat Geun Seuk.”
   
Min Ho mengangguk pelan. “Dan selama ini mataku hanya untuk melihatmu. Mungkinkah aku melihat orang lain?”
   
“Aku—Aku minta maaf…!!!”seru Hye Sun, mengalahkan suara hujan yang malah bertambah lebat.
   
“Aku—Aku tak bisa menyukaimu!!! Jeongmalmianatta!!!”teriak Hye Sun lagi dengan suara serak, ia kehabisan suara.

Namun, Min Ho akhirnya memeluk perempuan itu. Membekapnya sepenuh hati.

Tidak apa-apa... Tidak masalah...
   
Akhirnya, Min Ho berbisik pelan, “Aku juga minta maaf karena aku telah mencintaimu—“
***
End of Chapter  

« Last Edit: March 14, 2010, 04:45:09 am by my_star_lullaby »

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
karin, sorry gw ga lht pertanyaan elu [sweat] and gw setuju seorang yg sdg jatuh cinta sifatnya bisa menjadi kekanak2an [biggrin] .. thanks ya udah diupdate, tp gw ga bisa baca sekarang, klu udah baca gw koment lagi [bye]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Hr ini banyak yg update ya... Disini mh sdh berani mengatakan perasaan-a walopun ditolak hs mentah2x tp mh bs mendrima-a...Cuman yg aq bingung bc flashbck waktu diculik itu dgn yg mrk main petak umpat klo bs diksh tanda jd ga bingung baca-a...

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
 [clap] [clap] [clap] [clap]thx dah update yaa sizt karin.... punk punk punk
wah snenk euy weekend ini bnyak update-an [clap] [clap] [clap] [clap]

sumpah dah niy ff yg pling bkin hati nyesek n mencelos dah,,, berasa jd minho kya gmn yaa nyeseknya sll jd bayangan ogr lain o/ wnita yg sngat dya cintai [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry].
pokoknya karin manteb dah bkin niy perasaan aq jd kutan nyesek gni skrng [heh] [heh] [heh]

cm masukan amira mang bener sizt mnurut aq,, biar kita lebih paham lg pas kejadian fleshback itu.ok punk punk

tak sbar nunggu chp brkutnya euy,,,, semangat yaa sizt karin.. [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline IZZ

  • Police
  • Full
  • *****
  • Posts: 271
  • MinSun Is Real ^^
    • View Profile
Thanks karin for super looooooonnnnnggggggg chapter  [hug] [hug]

whuaaaaaaaaa setuju ma oki, gw juga nyesek banget baca ni cerita  [cry] [cry] [cry], karin bagus membawa emosi pembacanya  punk punk, minho yaaaa....sabar ya...
gw makin suka ama karakter minho, dia udah mulai berani menyatakan perasaannya walaupun ditolak tapi dia tetap sayang ama hye sun gw suka kata2 minho terakhir dia minta maaf karena mencintai hye sun bener2 menghujam jantungku "lho koq jadi kayak lagu " HMPF...

Hmm klo dari yang gw tangkap jadi karena geunsuk yg nolong hye sun ya makanya dia mulai suka ma geun suk??
sebenarnya rada terganggu juga ama sifat hye sun kecil sedikit sombong ...

wah penasaran ama selanjutnya nih, gimana ntar dengan berita yg muncul abis insiden itu ya?? minho bkalan serba salah dengan itu kalo misalnya karir hye sun terganggu..
walaupu sekarang minho belum bisa dapetkan hati hye sun gw harap ntar klo hye sun udah sadar dia juga gak bkalan gampang dapet kepercayaan dari minho karena perasaan minho yang masih worry ama dia, jadi dia biar bisa merasa kalo minho itu bener2 berarti buat dia dan bener2 angel by her side ...


lol..komen gw koq jadi kepanjangan ya?? mian ya karin tapi gpp kan???
cepetan diupdate ya  [smiley-gen013] [smiley-gen013]

off topic: yep BT dengan hye sun onnie yg gak jadi dateng promo
oh gw tadi ada posting ttg yon gye sang di LI, tapi gw gak tau itu artis yang mana, emang udah tua yah???
gyaaaaaa....jangan sampe dech mending ma drama yg digosipin bareng seung gi
siggy by endree noona ^^v

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
izz, karakter minho wkt kecil itu lugu banget ya, makanya dia tuh selalu kalah ama geunsuk yg pintar, kacian deh tp wlp gitu gw suka ama si lugu minho drpd geunsuk [hmpfh] [hmpfh] untung gedenya dia udah pintar and cool jg hot [laughing] ~bahasa apaan nih [heh] [heh] .. pokoknya gw suka minho di sini, mungkin karena dari kecil tuh dia selalu kalah dr geunsuk jd tuh dia selalu ga percaya diri wkt bersama hyesun dan geunsuk karena itu pula dia menjadi ga berani mengutarakan perasaannya ke hyesun ..

karin, klu gitu bikin minho dikejar2 ama cewek lain dong biar si hyesun sadar klu dia ga bisa melihat minho bersama yg lain ... terus gw mau nanya nih si geunsuk ama minho siapa yg lebih kaya [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
izz, karakter minho wkt kecil itu lugu banget ya, makanya dia tuh selalu kalah ama geunsuk yg pintar, kacian deh tp wlp gitu gw suka ama si lugu minho drpd geunsuk [hmpfh] [hmpfh] untung gedenya dia udah pintar and cool jg hot [laughing] ~bahasa apaan nih [heh] [heh] .. pokoknya gw suka minho di sini, mungkin karena dari kecil tuh dia selalu kalah dr geunsuk jd tuh dia selalu ga percaya diri wkt bersama hyesun dan geunsuk karena itu pula dia menjadi ga berani mengutarakan perasaannya ke hyesun ..

karin, klu gitu bikin minho dikejar2 ama cewek lain dong biar si hyesun sadar klu dia ga bisa melihat minho bersama yg lain ... terus gw mau nanya nih si geunsuk ama minho siapa yg lebih kaya [biggrin]

 [chin] [chin] [chin]huaa ide c mami brilian jg tuh,,,, bkin hyesun jg tar jd keki liat minho dket ma cwe lain..
biar akhrnya hyesun sadar ma perasaan dya ke minho yg udah tulus sangat ke c hyesun punk punk punk punk

jah,, mami napa jadi ujung2nya hubby lagi dah, tp penggambaran minho versi mami ada benernya jg c. n itu yg bkin minho jd minder tuk deketin hyesun sejak kecil whistling whistling whistling whistling.

 [clap] [clap] [clap] [clap]tuk kain [biggrin] [biggrin] [biggrin]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "