Author Topic: Angel By My Side~Chapter 22 Updated 9 January 2011~  (Read 51184 times)

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
karin, ga membosankan kok [biggrin] gw ga baca chp 15 nya bukan karna udah bosan tp emang ga tahu udah diupdate [heh] jd mian rin cayang [hmpfh] [hmpfh] ...
gw ttp mengharapkan updatean dr elu kok, jd jgn putus asa, ayo fighting [smiley-gen013] [smiley-gen013]

rin cayang tapi akhirannya  [hmpfh] [hmpfh]
gimana sih..  [hmpfh] [hmpfh]
baru pulang les. masih cape.. tunggu aku ganti baju dulu deh... hehehe.. [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff]

yg sabar ya... huehehhhhehehehehhehehehehehe.... [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing]

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
Seperti biasa, gk ada piku, karena aku gk ahli mencari piku yg pas... atau lebih tepatnya, males.  [hmff] [hmff]
maaf kalo membosankan...  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

Angel By My Side-CHAPTER 16

   “Baik…”Hye Sun menjawab dengan yakin. “Aku menghargai kau yang akan memperlakukanku sebagai orang biasa, bukan Tuan Putri lagi—“

   Min Ho diam saja ketika Hye Sun menjawab seperti itu.

   “Ingatanmu berarti sudah pulih sebelum kita membuat perjanjian itu. Jadi, aku tidak perlu repot-repot mengulanginya lagi—”kata Hye Sun, setelah itu, ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela mobil.

   Hening. Tidak ada suara di dalam mobil itu selama beberapa saat.

   Min Ho kemudian berkata lagi. “Dan kalau kau ingin tahu alasan kenapa aku masih mau merendahkan diriku dengan ikut andil dalam pernikahan ini. Satu-satunya alasanku mau menikah denganmu adalah karena ibuku. Ia akan mati karena serangan jantung apabila aku tidak jadi menikah denganmu. Dia sangat menyayangimu dan ia selalu berharap kau akan menjadi menantunya.”

   Sunyi lagi. Hye Sun tampaknya tidak mau memberikan reaksi atas perkataan Min Ho yang tadi.

   “Kita akan tinggal di rumahku—“Min Ho berkata lagi untuk memecahkan kesunyian itu.

   Dengan tatapan yang kosong ke arah jendela, Hye Sun menjawab Min Ho,“Kau tidak perlu memberitahunya—“

   “Bukan di Lee’s Mansion—“

   Perkataan yang ini yang mampu membuat Hye Sun memutar kepalanya ke arah Min Ho. “Apa? Apa maksudmu?”

   “Untuk tidak menimbulkan kecurigaan, kita akan tinggal serumah dan agar kita lebih mudah beraktivitas seperti biasanya, tanpa begitu diperhatikan ibuku,”sambung Min Ho, ia memainkan kedua tangannya yang berada di atas pangkuannya, pandangannya lurus ke depan, tidak menatap Hye Sun. “Aku memutuskan kita tidak akan tinggal di Lee’s Mansion—“

   “Lee Min Ho.”Hye Sun mengucapkan kata per kata itu dengan penekanan yang jelas. “Kenapa tidak mendiskusikan ini denganku?”

   Min Ho kemudian memutar kepalanya ke arah Hye Sun. “Karena kau telah memberikanku privilege untuk mengatur-ngaturmu sesuka hatiku setelah menikah nanti. Aku bisa melakukan semuanya, kan, sebab aku adalah pihak yang dirugikan jika menunggu sampai Seoul Sun berdiri?”

   Hye Sun mengernyitkan alisnya, ia mencengkram gaun pengantin yang masih ia pakai. Kemudian, ia merapatkan jaket yang ia pakai untuk melindungi diri dari udara musim dingin karena gaun pengantin yang terbuka itu. Seseorang yang ada di hadapannya ini bukan Min Ho yang dulu, ia yakin itu.
***
   Hye Sun agak kesal soal betapa jauhnya lokasi rumah yang akan ditinggalinya nanti. Setelah satu jam perjalanan, tak ada tanda-tanda Pak Yoon, supir Min Ho, akan berhenti dan mereka telah sampai ke tujuan mereka.

Kenapa memilih rumah di tempat yang jauh dari kota seperti ini? Kenapa tidak menyewa apartemen di tengah kota saja? Bukankah itu akan lebih mempermudah aktivitas sehari-hari?

Tangan Hye Sun bermain-main di jaketnya, memainkan kancingnya, setelah sudah bosan sekali memandang ke luar jendela, pemandangannya monoton, paling hanya pohon-pohon dan tanah kosong saja.
   
Ini perasaanku atau mobil itu kemudian memberi tanda-tanda akan berhenti?

Ia kemudian mengangkat kepalanya dan sadar ternyata mereka telah memasuki kawasan pantai dan tepat sebelah kirinya adalah hutan yang cukup lebat, ia sepertinya terlalu asyik memainkan jaketnya sendiri sampai tidak memperhatikan lokasinya yang benar-benar ‘wow’. Tempat ini terletak benar-benar di ujung sekali. Tak terjamah kebisingan kota sama sekali.
   
Hye Sun segera memperhatikan Min Ho yang segera membuka pintu untuk keluar dari mobil itu. Dengan enggan, Hye Sun turun dari mobil itu sambil kerepotan dengan gaun pengantin yang benar-benar ribet sekali itu. Ia melihat rumah yang terletak beberapa kaki di atasnya, berdiri kokoh, dindingnya terbuat dari kaca, terdiri atas dua lantai yang sekarang kacanya ditutup oleh tirai, tapi jika nanti dibuka, Hye Sun yakin akan memperlihatkan view ganda; view hutan dan view pantai.
   
Kegiatannya menganalisis rumah itu kemudian terhenti ketika Pak Yoon memanggilnya dengan halus. “Agashi, udara sangat dingin. Lebih baik Anda masuk saja ke dalam bersama Tuan Muda. Koper-koper milik Anda akan saya bawakan—“
   
Hye Sun tersenyum dan mengangguk ke arah Pak Yoon yang membawa dua koper miliknya, “Aku belum mau masuk dulu—” Pandangannya kemudian teralih pada Min Ho yang sekarang sudah dalam perjalanan menaiki tangga, baru separuh jalan saja. Jalanan di sekitarnya cukup terang karena penerangan lampu jalan. Tapi, Hye Sun tak bisa memungkiri kalau rumah yang terlihat gelap gulita dari tampak luarnya telah mampu membuat bulu kuduknya merinding. Ia benci gelap. Ia tak suka gelap. Jadi, ia menunggu sampai Min Ho memasuki rumah itu dan menyalakan lampu rumah di lantai bawah.
***
   “Ini kamarmu—“kata Min Ho sambil melipat tangan di depan dada, mengedarkan pandangannya ke kamar yang tepat menghadap pantai itu. “Tepat sebelah kamarmu adalah kamarku. Dan di sebelah sana, ruangan yang tidak terpakai—“
   
“Gudang, maksudnya?”Hye Sun melirik ke arah Min Ho, lalu mengalihkan pandangannya ke kamar yang tembus pandang itu, kamar itu masih kosong melompong.
   
“Errrr… Kalau kau mau bilang begitu.“jawab Min Ho. “Sudah malam, aku ingin istirahat.”
   
Nyaris saja Min Ho keluar dari kamar itu, tapi suara Hye Sun menghentikannya. “Kenapa, sih, kau mencari rumah di tempat seperti ini? Kenapa tidak real estate atau condominium saja? Lokasi rumah ini tidak strategis sekali, jauh dari perkotaan.”
   
Min Ho berbalik lagi ke arah Hye Sun, ia menjawab dengan entengnya. “Kurasa, aku juga punya satu privilege untuk melindungi hal-hal yang bersifat privasi.“ Tanpa ba bi bu lagi, Min Ho melangkah pergi dari kamar itu.
***
   24 Desember 2006, 02.27 am
   
   Min Ho melipat tangan di depan dadanya sendiri. Pakaiannya sudah berganti menjadi sweater tangan panjang dengan celana panjang, mengingat hari ini masih musim dingin di Korea.
   
Di hadapannya, seorang gadis tidur dengan sweater warna putih dan diliputi oleh selimut tebal bermotif garis-garis. Gadis itu, tenang sekali, damai, sampai-sampai hati Min Ho yang melihatnya menjadi damai juga.
   
Kamar itu remang. Beberapa bintang glow in the dark yang ada di langit-langit kamar itu agak berpendar. Sedangkan, sebuah lampu di samping tempat tidurnya masih menyala, tidak menunjukkan tanda-tanda akan padam.
   
Kamu memang bukan Tuan Putriku lagi, Goo Hye Sun. Tapi, kamu tetap malaikatku. Dan suatu hari nanti, aku ingin kamu tahu menyadari kalau malaikatmu selama ini adalah aku, orang yang selalu di sampingmu.
   
Dengan tatapan yang menggetarkan, Min Ho masih terus menatap Hye Sun.
   
Rasa sakit ini memang cukup sampai di sini. Karena, selanjutnya, yang ada hanya kebahagiaan, kebahagiaan bersamamu, atau mungkin bersama anak-anak kita.
   
Aku hanya sedang ingin melakukan kata-katamu di radio dulu itu,  “Seseorang baru akan merasa memiliki ketika ia merasa kehilangan”.  Aku berharap, kau akan merasa memiliku sebagai malaikatmu ketika kamu merasa kehilanganku.
   
Tapi, aku tak akan menghilang seluruhnya dari hidupmu. Aku masih akan mengawasimu. Kau tak perlu tahu aku ada di mana, yang penting aku bisa terus menjagamu. Lagipula, aku juga tak akan melupakan perempuan yang telah membuat luka di sini.
   
Tangan Min Ho naik ke atas dadanya.
   
Sekarang secara perlahan ia berjalan menuju meja rias, lalu mengangkat sweaternya, udara dingin segera menerpa dirinya ketika ia mengangkat sweaternya itu.
   
Dan di sini.
   
Min Ho melihat luka yang panjang di perut itu.
   
Di sini.
   
Sekarang, tangan Min Ho naik ke arah tengkuknya.
   
Juga di sini.
   
Tangan itu menggeliat ke arah punggungnya, di sana terdapat luka memar yang tidak bisa hilang padahal sudah hampir enam tahun berlalu sejak kejadian itu—ia masih ingat persis kejadian pada tanggal 9 November 1999.
   
Aku tidak akan melupakan luka ini. Luka ini—adalah salah satu alasan bagiku untuk mempertahankanmu.Waktu itu, karena luka ini ada karena aku mencintaimu, karena luka ini ada karena aku tetap mempertahankanmu, karena luka ini ada karena cinta pertamaku, gadis yang pertama dan yang terakhir yang tak akan pernah berhenti kucintai. Aku tidak pernah menyalahkanmu atas semua ini, tapi aku harus tetap mengakui kalau kau memang penyebab atas semua ini, dan juga menjadi penyebab kenapa aku mau bertahan sampai sekarang ini.
***
   Hye Sun menguap lebar. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali. Ia juga membasahi bibirnya dengan air liurnya sendiri. Ketika ia memandang ke depannya, tenggorokannya tercekat.
   
Lelaki dengan sweater terangkat yang menunjukkan punggung dengan luka yang panjang akibat bekas operasi berdiri tegap di depan cermin rias, entah apa yang sedang dilakukan pria itu.
   
Hye Sun sekarang memandang sekitar, ia tidak salah, ini kamar yang tadi Min Ho bilang adalah kamarnya. Lalu, kenapa Min Ho bisa ada di sini?
   
Dan, Oh My! Apa itu? Luka apa itu?
   
Tubuh Hye Sun terguncang, ia gemetar.
   
Memang sejak kapan Min Ho punya luka seperti itu? Hye Sun tahu persis, ketika dulu masih SMP dan SMA 1, mereka sering berenang bersama-sama bertiga, dan setahu Hye Sun, tidak ada luka seperti itu, dan sekalipun mata Hye Sun memang tidak jeli dan ingatannya rada tidak beres, kalau dilihat dari bekas luka yang sebesar itu, seharusnya ia ingat Min Ho juga pernah memberitahunya tentang luka itu.
   
Untuk beberapa saat, Hye Sun hanya bisa diam, ia lupa menegur pria itu atas keberadaannya yang tidak seharusnya di sini.
   
“Kau…”Tapi, desahan itu benar-benar pelan sekali, suaranya tidak bisa keluar, entah karena apa.
   
Sepertinya aku sedang kelelahan sekali sampai bermimpi—
   
Sambil memegangi kepalanya, Hye Sun mengerjap-ngerjapkan matanya kembali sebelum akhirnya kembali ke alam bawah sadarnya.
***
   24 Desember 2006 07.16 am

   Langkah-langkah kaki terdengar ketika Hye Sun keluar dari kamarnya menggunakan sepasang sandal rumah yang berwarna biru tua. Ia menguap lebar, tangannya terangkat untuk menutupi mulutnya yang terbuka itu.
   
Ia menuruni tangga dengan mencengkram pegangan tangga itu dengan erat.
   
“AWASS!!!”Jeritan itu terdengar ketika Hye Sun tanpa melihat-lihat lagi ingin melangkahkan kaki ke tiga anak tangga terakhir.
   
Hye Sun dengan wajah yang masih mengantuk menoleh ke arah sumber suara itu.
   
“Mwo?”
   
Tapi, sebelum diberitahu apa yang terjadi sebenarnya, Hye Sun sudah keburu melihat ke bawahnya, beberapa kardus bertumpukan di dekat anak tangga yang, jika tidak diberitahu tahu Min Ho, akan ia pijaki.
   
“Oh… Sorry—“Hye Sun segera berkata seperti itu dan menyingkirkan satu per satu kardus berukuran sedang itu agar dapat mempermudah dirinya sendiri untuk berjalan.
   
Min Ho hanya mengawasi perempuan dengan piyama itu berjalan ke arah dapur dari sudut matanya dengan tubuh tak bergerak sedikit pun. Min Ho duduk bersila di lantai sambil berusaha melihat gadis yang sekarang berjalan ke kulkas itu.
   
“Stock makanan untuk sebulan ke depan—“kata Min Ho ketika melihat perempuan itu terlihat heran dan bingung dengan makanan di dalam kulkas yang membludak itu. “Oh, ya—Aku mau memberitahumu hal-hal yang harus kau perhatikan di rumah ini.”

“Jangan pernah masuk ke dalam ruang bawah tanah itu. Itu ruang kerjaku.”kata Min Ho dengan tenang.

Hye Sun kemudian menutup pintu kulkas dengan tangan kosong. Ia melirik Min Ho sejenak. Ia baru sadar kalau di depan pria itu ada sebuah pohon natal berukuran cukup besar, yang sudah dihias sebagiannya, di atas tangan pria itu terdapat berbagai macam hiasan natal, ada bintang, malaikat, permen tongkat, dan teman-temannya itu.

“Kalau kau tidak beri tahu, mungkin aku juga tidak akan pernah masuk ke dalamnya—“jawab Hye Sun tak kalah tenang. “Karena, aku tak memperhatikan kalau ada ruang bawah tanah di rumah ini—“

“Oh… Right… Berarti aku telah salah langkah—“balas Min Ho sambil memutar badannya ke hadapan Hye Sun yang jauh berada di hadapannya. “Oh, ya. Ada lagi. Aku menyewa seorang pembantu, namanya Bibi Na. Tugasnya mengerjakan segala tugas rumah tangga. Tapi, ia pulang hari—“

Hye Sun manggut-manggut, selagi ia tidak disuruh mengerjakan tugas rumah tangga di sini, ia pikir tidak begitu buruk tinggal di rumah ini bersama Min Ho.

“Dan—Ada satu hal lagi—Aku tidak mau kau kerja—“kata Min Ho lagi. “Aku melarangmu berhubungan dengan dunia bisnis ataupun entertainment. Kau cukup di rumah saja.”
   
Dengan hal yang satu ini, kening Hye Sun berkerut dalam. “Memang untuk apa kalau aku di rumah? Toh, aku bukan benar-benar istrimu—Dan lagi pula apa yang akan aku lakukan di rumah?“
   
“Karena kamu bukan istriku, makanya…”
   
Belum sempat Min Ho menyelesaikan kalimatnya, Hye Sun mengangkat tangannya, tanda mengerti, sekaligus menyerah. “Oke. Lalu, ada apa lagi yang perlu aku ketahui?”
   
“I think—Nothing—“jawab Min Ho sambil menatap Hye Sun lekat-lekat. “Tapi, aku tidak mau melihatmu membawa pria ke dalam rumah ini. Bukan masalah apa. Tapi, bagaimanapun juga ini adalah rumahku. Jadi, aku tidak mau ada hal-hal yang tidak sopan terjadi dalam rumahku ini—“
   
Setelah Min Ho berkata seperti itu, wajah Hye Sun berubah menjadi merah, menahan marah. Pria? Memangnya dia mau membawa siapa ke rumah ini? Hantu Geun Seuk? “Tenang saja, Min Ho-ssi. Aku tahu apa yang namanya batasan.”
   
“Oh… Aku menghargai itu…”Min Ho manggut-manggut.
   
“Ada lagi?”
   
Hye Sun baru akan berbalik ke kamarnya dengan kekesalan dan kedongkolan dalam hatinya, tapi suara Min Ho menghentikannya. “Hari ini malam natal—Aku hanya ingin mengingatkanmu untuk pergi ke gereja untuk pengakuan dosa dan misa.“
   
Dengan asal-asalan Hye Sun mengibaskan tangannya. “Tidak usah pedulikan tentangku! Kenapa tidak pergi ke kantor saja, sih?”
   
“Hari ini kantor memang libur—“jawab Min Ho dengan tenang, tanpa emosi.
   
Oh Sh!t ! Seharusnya Hye Sun memang ingat kalau hari ini memang sudah termasuk hari libur di Korea. Wajahnya yang merah menjadi tambah merah.
   
“Jadi, kau akan SEHARIAN berada di sini?”tanya Hye Sun dengan tampang kesal.
   
“Tidak juga. Kira-kira satu jam nanti aku akan pergi ke luar sebentar.”jawab Min Ho, nada tenangnya itu membuat Hye Sun emosian. “Aku harap kau benar-benar akan pengakuan dosa hari ini—Karena, aku agak prihatin dengan dosamu yang memalsukan sebuah pernikahan antara kita berdua. Mungkin minta penitensi akan membuatmu setidaknya lebih baik.”
   
Oh. Okay. Lelaki ini telah mengingatkannya tentang hal itu. Dan Hye Sun sekarang memang benar-benar merasa ia harus pergi ke gereja.
***
   Gereja St. Lucia

Pada awalnya, Hye Sun pikir ia harus mengendarai mobil lebih jauh untuk mencapai tempat ibadah, tapi ternyata, kebetulan sekali Hye Sun menemukan gereja yang lumayan dekat dengan rumah itu.
   
Ia agak lega setelah mengakui dosanya. Dengan agak takut-takut, ia menyebutkan dosanya yang paling utama tadi, “Aku telah memalsukan pernikahanku dengan suamiku sekarang ini. Jadi, dia bukan suamiku sebenarnya.”
   
Ia tentu saja malu mengucapkan hal itu, apalagi ia seorang model internasional yang memang sangat mudah dikenali. Badannya sampai bergetar di dalam ruangan. Pastor yang mendengarkannya berkata begitu pun sampai terkesiap di tempatnya. Tercengang. Sepertinya baru kali ini ia mendengar dosa se’unik’ itu. Ia tak dapat bicara sampai akhirnya memberi penitensi karena telah ‘bermain-main’ dengan sebuah pernikahan yang dianggap sakral dan suci itu.
   
Dengan sebuah gaun selutut lengan pendek bermotif bunga-bunga, sebuah sepatu hak tinggi putih, dan kacamata hitam besar, setelah melakukan penitensi, ia segera melangkahkan kaki keluar dari gereja dan mencari mobil Mercedes Benz nya yang terparkir dengan manis.

“Nak—“panggil seorang wanita dengan suara bergetar, mencegah Hye Sun melanjutkan langkahnya. “Aku boleh minta waktumu sebentar?”

   Hye Sun segera menoleh ke belakang, kacamata hitam besar yang dari tadi tergantung di wajahnya segera dilepas, ia segera membungkuk ketika melihat wanita setengah baya dengan pakaian yang serba biru itu, wanita itu berkerudung, terlihat sangat bijaksana dan baik hati, keriput di wajahnya tambah menunjukkan kalau dirinya memang sudah tua.
   
“Aku Suster Gemma Park, Kepala Biarawati di Biara ini”kata biarawati itu, sambil berjalan sambil mendekat, mempersempit jarak antara mereka berdua. “Anda punya waktu, Nona?”
   
Hye Sun tersenyum, senyum kaku.
   
“Namamu?”Suster Gemma bertanya dengan nada yang keibuan.
   
“Goo Hye Sun.”
   
“Aku tidak pernah melihat Anda di Gereja ini. Tapi, aku pernah melihatmu sekali di majalah dan koran. Selamat datang di keparokian kami.”Senyum keibuan muncul dari wajah kepala biarawati itu. “Malam ini ada misa malam Natal—Aku akan sangat senang apabila Anda mau mengikuti misa malam ini.”
   
“Misa malam natal?”ulang Hye Sun lagi. Selama enam tahun belakangan ini, ia memang selalu absen dari misa malam natal maupun misa natal, alasannya apalagi kalau bukan karena sibuk. Natal tahun 1999 ia tak bisa ke Gereja. Natal maupun malam Natalnya di Amerika dari tahun 2000 sampai 2003  biasanya hanya dirayakan kecil-kecilan bersama Geun Seuk. Natal tahun 2004 sampai 2005 pun tidak ada perayaan istimewa, palingan hanya pohon natal kecil di rumahnya. Jadi, misa malam Natal jadi kedengaran agak asing di telinganya. “Saya akan ijin pada suami saya—Semoga saja dia mengijinkan.“
   
“Suami Anda Tuan Lee Min Ho, kan?”Suster Gemma bertanya pada Hye Sun, yang dibalas anggukan kecil dari Hye Sun. “Dia orang yang baik. Baik sekali. Aku yakin dia adalah suami yang baik juga.”
   
Hye Sun memaksakan diri untuk tersenyum , padahal dalam hatinya, karena kejadian tadi pagi, mendengar nama Min Ho telinganya terasa sangat panas. “Suster kelihatannya sudah tahu banyak tentang—err—suami saya.”
   
“Aku pertama kali bertemu dengannya dua tahun lalu dan dia adalah donatur terbesar bagi gereja ini—“Suster itu kembali menunjukkan senyumnya. “Aku kenal cukup baik dengannya.”
   
Hye Sun tersenyum saja mendengar perkataan itu.
   
“Nak—“Suster itu kembali memanggil Hye Sun. “Jangan lupa. Malam ini pukul 21.15. Misa terakhir.”
***
   “Suster?”Min Ho tersenyum lebar ketika mendapati Suster Gemma datang ke arahnya. “Sudahkah?”
   
“Ne.”Suster itu tersenyum. “Jangan pernah sungkan meminta bantuanku. Kau sudah dianggap seperti anak sendiri oleh aku dan suster-suster yang berada di sini—“
   
Min Ho memperlebar senyumnya,“Gamsahamnida, Suster—“
   
“Dia gadis yang cantik dan sopan. Tak heran kalau kau bisa sangat menyayanginya.”Suster Gemma mengelus pundak Min Ho. “Suatu saat, aku yakin kau pasti akan mendapatkannya.”
 ***
   Gereja St. Lucia ; 08.54 pm

   Belum ada tanda-tanda kedatangannya. Benar-benar sangat mengecewakan. Dari tadi Min Ho berada di sini. Tidak pulang ke rumah atau ke mana pun. Ia terlalu sibuk memikirkan kejutan malam natal yang ia persiapkan khusus untuk istrinya.
   
Lampu menyala berkelap-kelip di jalan itu. Suasananya memang sepi, tapi terlihat hidup karena warna-warni lampu yang ada di sekeliling bangunan gereja itu. Semua ini khusus untuk Hye Sun, Min Ho ingin menjadikan malam natal kali ini berkesan baginya.
   
“Min Ho, dia belum datang?”Suster Gemma bertanya dengan suara bergetarnya.
   
Udara malam ini cukup dingin sampai Suster Gemma mempunyai alasan untuk mengkhawatirkan Min Ho yang malam ini hanya memakai trenchcoat dan celana panjang hitam, bajunya terlihat tipis, tidak tebal. Tapi, untungnya, Min Ho sudah terbiasa dengan cuaca yang dingin seperti ini. Ia tidak mengeluh dan masih menunggu di depan gereja itu, di dekat lapangan parkir gereja itu yang sudah penuh dari tadi, berharap ia akan mendapati sebuah mobil yang ditumpangi oleh Hye Sun.
   
Min Ho menggeleng. “Dari tadi tidak ada telepon masuk darinya, aku sudah mencoba menelpon berkali-kali, ke rumah dan ke ponselnya. Tapi, tidak diangkat—“
   
“Apa tidak sebaiknya kau pulang dulu?”tanya Suster Gemma dengan suara yang pelan. “Aku takut terjadi sesuatu.”
   
“Terakhir kali tadi berbicara dengan Anda, apa ada yang aneh?”tanya Min Ho dengan nada yang agak menyelidik.
   
“Tidak. Dia baik-baik saja—“Suster Gemma meyakinkan. “Tapi, dia mungkin sakit ketika pulang dari sini. Lebih baik kau pulang dulu, cek keadaannya.”
   
Raut wajah Min Ho memang menunjukkan ekspresi khawatir. Tapi setelah sejenak berpikir, ia memasukkan tangan ke dalam saku trenchcoat-nya. “Kita masuk ke dalam saja, Suster. Sepertinya dia lupa.”
   
Ya. Gadis itu pasti lupa. Tapi, mengapa? Mengapa harus seperti ini terus? Dari dulu selalu begitu. Selalu menyakitinya. Gadis itu selalu menunjukkan sikap tidak nyaman jika Min Ho mengganggu waktunya bersama Geun Seuk, tapi jika terjadi sesuatu atau Geun Seuk tiba-tiba absen dari hari Hye Sun, Min Ho selalu menjadi pelariannya.
   
Hal ini membuat Min Ho tersadar. Kebiasaan yang dimiliki perempuan itu dan belum bisa dihilangkannya sampai sekarang adalah menyakitinya. Sedangkan, kebiasaan Min Ho yang belum bisa ia hilangkan sampai sekarang adalah mencintainya—Sederhana. Klise. Mungkin pasaran. Tapi—Terlalu konyol jika kita mencintai orang yang tidak mencintai kita. Jika saja Hye Sun bisa bilang dia mencintainya, dia mungkin bisa menganggap diri bukan manusia tolol lagi—
***
   Motor Harley Davidson itu diparkirkan di depan mobil BMW milik Hye Sun yang terparkir manis di depan rumah berdinding kaca transparan itu.
   
Langkah Min Ho lemas. Ia bertumpu pada pegangan tangga agar bisa mengumpulkan tenaga untuk menaiki tangga yang menghubungkannya ke rumahnya.
   
Lampu rumah itu menyala, kecuali kamar yang tidak terpakai itu. Gelap. Tidak bernyawa. Min Ho menukar sepatunya dengan sandal rumah ketika sampai di pintu masuk rumahnya.
   
Ia menengok ke ruang tamu. Bodoh memang. Hye Sun tak mungkin berada di sana ketika jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Ia kemudian naik ke atas, menuju kamarnya. Tapi—Tidak! Kakinya entah kenapa malah melangkah ke kamar yang hanya diterangi cahaya redup dari lampu kecil yang terletak di atas nakas. Dia ingin membelokkan arah jalannya, tapi, tangannya malah naik ke gagang pintu di hadapannya, menekannya ke bawah, sampai pintu kamar itu terbuka.
   
Ia kemudian baru sadar, kalau Hye Sun tidak ada di atas tempat tidurnya. “Hye Sun?”panggil Min Ho pelan dengan suara sengaunya.
   
Penglihatan Min Ho tidak terjangkau untuk melihat Hye Sun. Ia kemudian berusaha mencari Hye Sun di teras, tapi Hye Sun juga tidak ada. Panggilannya mulai mengeras. “Hye Sun.”
   
Baru saja ia berbalik dan menutup pintu teras itu. Hye Sun baru terlihat olehnya. “HYE SUN!!!”Min Ho menjerit dengan keras. Hye Sun terkapar di atas lantai dengan tank top yang melekat di badannya dan celana panjang jeans hitam setumit. Darah berceceran di sekitarnya dan sebilah pisau ada di dekatnya. Hye Sun merintih kesakitan, masih sadar, tangan kanannya memegang tangan kirinya yang masih belum bisa berhenti berdarah.
   
“Hye Sun!!!”Min Ho berteriak lagi dan menghampirinya. “Rumah sakit—“Min Ho teringat dan tangannya masuk ke dalam saku trenchcoatnya. Tangannya bergetar hebat. Nama pertama yang ada di list contactnya adalah Adrianna Romano, psikolog yang menjadi mentornya, mentornya dalam berbahasa Inggris juga.
   
“Hello? Min Ho?”Suara Adrianna terdengar di seberang sana, sedangkan Min Ho hampir menangis karena ketakutan. Bukan takut dengan darah. Bukan takut dituduh menjadi pembunuh Hye Sun. Tapi, ia takut kalau Hye Sun bisa mati sewaktu-waktu.
   
“ADRIANNA!!!!”Suara Min Ho menguat, tapi kemudian melemah lagi ketika mengucapkan dua kata “Hye Sun—“
   
“Ada apa?”tanya Adrianna dalam bahasa Inggris. “Tenang. Jangan panik.”
   
“Hye Sun mencoba bunuh diri. Ia sekarang berada di depanku. Aku tidak tahu apa yang terjadi karena aku baru pulang ke rumah. Apa yang harus kulakukan?”
   
“Bawa Hye Sun segera ke rumah sakit, Min Ho”Adrianna mendadak panik juga. “Segera.”
   
“Tapi—“
   
“Tapi apa? Kau takut dituduh pembunuhnya dengan menyentuhnya?”
   
“Bukan! Aku tidak bisa mengendarai mobil—“
   
“Min Ho, you’re just kidding. Right?”
   
“Nope!”Min Ho berkata dengan frustasinya. “Ottoke. Apa yang harus kulakukan? Adrianna—Aku sendiri di rumahku. Rumah baruku jauh dari perkotaan.“
   
“Min Ho—“Baru saja Adrianna ingin memberi solusi, baterai ponselnya drop. Dengan kesal dan frustasi Min Ho membuang ponsel itu ke atas ranjang.
   
“Hye Sun. Bertahan, please—“Min Ho kemudian memberanikan diri meraup Hye Sun dalam gendongannya. Ini parah sekali. Hye Sun memang sudah beberapa kali mencoba bunuh diri pasca meninggalnya Geun Seuk, tapi baru kali ini Hye Sun berhasil menjalankan rencananya itu.
   
Dengan cepat Min Ho berlari ke bawah dengan Hye Sun di dalam gendongannya. Hye Sun merintih. “Min Ho—“desahnya.
   
“Pabo! Kenapa harus bunuh diri?”
   
“Geun Seuk datang—“
   
Air mata Min Ho sudah menetes ketika ia melihat air mata mulai menari-nari di pelupuk mata Hye Sun. Hye Sun kemudian berkata lagi. “Dia bilang ‘Miane’—“
   
“Jangan menyebut nama Geun Seuk di saat-saat seperti ini!”seru Min Ho. “Please—Aku mohon—Lihatlah aku—“
***
   Min Ho mondar-mandir saja seperti setrika dari tadi. Ibu Hye Sun, Lee Hye Young sedang ada urusan di luar kota. Kakak Hye Sun, Goo Hye Jung masih berada di Paris bersama Oh Byung Hyun, suaminya. Sekarang Min Ho hanya bisa mengharapkan kehadiran ibunya, karena ayahnya sedang mempunyai urusan juga di luar negeri.
   
   “Please—“Min Ho menggumam tidak jelas. Ia merasa orang paling bodoh di dunia. Ia mencoba mengendarai mobil lagi, tapi, ia tidak bisa. Alhasil, ia menggunakan motor Harley-nya untuk mencapai rumah sakit ini. Ia sudah mempertimbangkan beberapa hal. Dan ia akan mengutuk dirinya sendiri kalau hal itu terjadi. Bagaimana kalau misalnya Hye Sun malah masuk angin? Atau Hye Sun malah terjatuh dari motor karena kondisinya yang lemah? Untung saja yang terakhir tidak terjadi, tapi yang pertama mungkin saja.
   
   Kemudian, dengan langkah yang bergetar, ia menuju ke telepon umum. Menekan-nekan tombol di telepon umum itu sampai menjadi rangkaian nomor yang dia inginkan.
   
   “Yeobsoyo?”Suara dari seberang sana mulai terdengar.
   
   Min Ho berusaha menahan isakannya, karena ia berposisi sebagai lelaki sekarang ini. “Hye Sun—Hye Sun—“
   
   “Heh?”Wanita itu tidak mengerti. “Ini Min Ho?”
   
   “Yes.”Min Ho menjawab.
   
   “Apa yang terjadi pada Hye Sun?”
   
   “Dia mencoba bunuh diri, Dara. Kelihatannya keadaannya parah sekali.”Min Ho menjawab dengan nada lirih. “Wajahnya pucat sekali ketika aku membaringkannya di atas ranjang rumah sakit—Aku takut—Aku takut kalau dia tertekan menjadi istriku.“
   
   “Aku perlu ke sana?”tanya Dara pelan, menawarkan diri.
   
   “Ibuku dalam perjalanan ke sini.”Min Ho mencegah keinginan Dara dengan alasan kedatangan ibunya. “Aku tak mau ia salah paham kalau kau ada di sini—“
   
   “Min Ho, kau tidak terdengar baik-baik saja.”Dara berkata dengan serius.
   
   Memang tidak. Kapan Min Ho baik-baik saja? Namun, ia memang harus kelihatan baik-baik saja di depan semua orang.
   
   “Kau tidak perlu datang ke sini—“cegah Min Ho pelan, namun dengan suara yang agak tegas.
   
   “I have no choice”Dara menjawab dari seberang sana. “Yang penting, kau tenangkan dirimu dulu.”
   
   “Oke. Bye—“Min Ho mengucapkan kata-kata perpisahan.
   
   “Bye—“

***

   “Keluarga Nona Goo Hye Sun?”Seorang dokter UGD yang cantik keluar dari ruang UGD.
   
   “Ya. Saya suaminya—“jawab Min Ho, ia mendadak kelabakan sendiri.
   
   “Untung persediaan darah golongan A masih banyak.”Dokter UGD itu membuka pembicaraan. “Dia baik-baik saja. Hanya saja, kondisinya lemah dan ia sedang demam sekarang. Mungkin ini karena Anda membawanya ke sini naik motor. Tapi, Anda tepat waktu dalam menyelamatkannya, terlambat beberapa menit saja, kemungkinan terburuklah yang akan kita terima.”
   
   “Oh. Terima kasih, Dok.”Min Ho membungkuk ke arah dokter wanita itu, tapi dokter itu buru-buru mengangkat tangannya. “Tidak usah berterima kasih. Ini kewajibanku.”
***
   “Anyeong—“

   Ketika Hye Sun membuka matanya, cahaya matahari segera masuk ke dalam matanya. Bau rumah sakit. Ia tak suka rumah sakit.

   “Hye Sun—“Suara lembut memanggil halus nama Hye Sun.

   Hye Sun memalingkan wajah ke sumber suara yang memanggilnya. Kemarin ia bermimpi soal Geun Seuk. Pikirannya masih kacau sekarang. Di mimpinya, berkali-kali Geun Seuk meminta maaf pada dirinya dan menyuruhnya menyampaikan permintaan maaf bagi Min Ho. Setelah itu, Geun Seuk pergi dari mimpinya. Terlalu frustasi, yang Hye Sun ingat ia langsung pergi ke dapur, mengambil pisau, dan memutuskan untuk mengeksekusi dirinya sendiri.

   “Na Young Ajuma?”Mata Hye Sun masih nanar ketika ia melihat wajah seorang perempuan yang sangat keibuan.

   “Hye Sun, kau benar-benar membuatku scott jantung.”Na Young berkata dengan serius. “Jangan lakukan hal konyol, Hye Sun. Please—Kau menantuku. Anakku membutuhkanmu dan kalian masih belum mempunyai anak. Kalian belum memberiku cucu.”

   “Na Young Ajuma—“sela Hye Sun. “Miane—Aku kalap kemarin.”

   Hye Sun kemudian melihat selang infuse yang terpasang di tangan kanannya. Luka di tangan kirinya akibat ia berusaha mengiris nadinya sudah diperban rekat-rekat.

   “Min Ho hampir kehilangan suara ketika memberitahu kau yang bunuh diri—“lanjut Na Young. “Dia benar-benar khawatir sampai aku cemas ia akan mati karena mengkhawatirkanmu—“

   Hye Sun hanya tersenyum kecil. Benarkah sekhawatir itu? Bukankah Min Ho bilang kalau dia sudah tidak akan memperlakukannya sebagai Tuan Putri lagi? Bukankah Min Ho tidak sama lagi seperti Min Ho yang dulu?

   “Hye Sun—“panggil Na Young pelan. “Kau memutuskan untuk begitu bukan karena Min Ho, kan?”

   Hye Sun mendelik sedikit ke arah Na Young, hanya sedikit, kemudian ia memainkan tangannya, dan menjawab dengan suara yang super pelan dan lembut, “Tidak.”

   “Kau tahu Hye Sun,”Na Young Ajuma tersenyum sambil meraih tangan Hye Sun dan menggenggamnya erat-erat. “Kalau ada masalah dengan Min Ho, kau bisa cerita pada Omma kapan saja. Aku ini, kan, ibu mertuamu. Sudah berpengalaman juga dalam menghadapi suami. Lagipula, aku bisa memarahi Min Ho jika dia benar-benar keterlaluan.”

   “Omma?”ulang Hye Sun dengan nada lirih. Apa makna kata itu baginya? Seorang Omma baginya bukan apa-apa. Ia tahu Ommanya mencintainya. Tapi—Ia tak pernah merasakan kasih sayang Ommanya secara langsung. Ommanya selalu dan terlalu sibuk. Dari dulu, hidupnya hanya bersama Geun Seuk. Di Amerika pada tahun 2000 sampai 2004-an juga begitu, ia hidup tanpa kasih sayang orang tua. Untungnya perhatian Geun Seuk mampu membuatnya merasakan kehangatan tanpa kasih orang tua sekali pun.
   
   “Ya. Omma.”Na Young tersenyum. “Aku ibu mertuamu. Anggap saja aku seperti ibumu sendiri.”
   
   “Omma—“ulang Hye Sun sekali lagi.
   
   “Omma punya hadiah untukmu—”Na Young kemudian mengulurkan tangan ke dalam tas besarnya dan ketika tangannya keluar, sebuah kotak perhiasan dari beludru biru terlihat. “Ini.”
   
   “Apa ini?”Hye Sun menyambut tangan Na Young yang mengulurkan kotak perhiasan itu.
   
   “Ini hadiah untukmu, yang sudah mau memanggilku Omma—“Na Young tersenyum. “Yang sudah mau menjadi menantuku, anak perempuanku. Sekaligus, hadiah Natal untukmu—“
   
   “Natal?”ulang Hye Sun.
   
   “Tidak boleh tidak menerimanya—“Na Young mendesakkan kotak perhiasan itu ke tangan Hye Sun.
   
   “Omma—“desis Hye Sun lirih.
   
   Na Young mengangguk-ngangguk lalu mengelus puncak kepala Hye Sun. “Perhiasan ini kuberikan untuk menantuku satu-satunya. Yang akan memberikan cucu yang sehat dan gembul bagiku—“
   
   Cucu? Apa tidak terlalu jauh untuk berpikiran seperti itu? Ia tak mungkin memberikan cucu bagi keluarga Min Ho. Karena pernikahan ini, palsu—
***
   Sekitar pukul tujuh malam, ia kembali ke rumah sakit. Pikirannya sungguh kacau sampai ia tidur berjam-jam di rumahnya. Ibunya menyarankannya untuk benar-benar istirahat, karena tak perlu diberitahu pun, ibunya pasti sudah tahu kalau anaknya sedang kacau.
   
   Ketika tangan Min Ho naik ke gagang pintu, ingin membuka pintu itu, ibunya membuka pintu itu dari dalam dan keluar dari kamar rumah sakit itu.
   
   “Omma?”
   
   Ibunya tersenyum ke arahnya, lalu merengkuh Min Ho dalam pelukannya. “Aku bercerita banyak hal dengan istrimu—“bisik ibunya pelan.
   
   “Jeongmal?”Min Ho kemudian melepaskan pelukannya dengan ibunya.
   
   “Yeah.”jawab ibunya sambil tersenyum. “Aku bilang padanya kalau aku ingin Hye Sun junior dan aku juga ingin punya Min Ho kecil.”
   
   “Omma—“
   
   “Shhhh…”desis ibunya. “Jangan bicara lagi. Masuk sana. Besuk istrimu—”
***
   “Hye Sun?”panggil Min Ho dengan suara pelan, terlalu pelan. Lampu kamar itu masih menyala, tentu saja. Hye Sun memang selalu benci jika sekelilingnya gelap. Malah, ia bisa berubah jadi paranoid jika lampu di sekitarnya padam semua.
   
   Hye Sun sedang terbaring di kasur itu, terlihat lemah dan tak berdaya. Matanya yang besar kemudian terbuka dan melirik sedikit ke arah Min Ho. “Kau—“
   
   Min Ho menghela napas dan bertanya dengan pelan dari jarak jauh. “Kau baik-baik saja?”Di saat bersamaan, Hye Sun juga berkata. “Gomapta—“
   
   Min Ho kemudian berjalan mendekati tempat tidur itu, diamatinya Hye Sun baik-baik. Hari ini, Min Ho membawa tas selempang yang berukuran cukup besar. Tidak biasanya sekali.
   
   “Kau tidak perlu berterima kasih—“jawab Min Ho.
   
   “Aku baik-baik saja—“Sekarang giliran Hye Sun yang menjawab.
   
   “Aku pikir kau tidak akan bilang begitu kemarin malam—”Min Ho mengangkat sudut bibirnya sedikit agar bisa membentuk sebuah senyuman.
   
   “Telah merepotkanmu. Mianata—“Hye Sun berkata lagi dari atas tempat tidurnya.
   
   “Errr—“Belum sempat Min Ho berbicara, suara kembang api mulai terdengar dan kembang api dengan berbagai macam warnanya mulai muncul dari kegelapan langit malam Seoul.
   
   “Whoa—“Hye Sun mendecak kagum sambil mengalihkan pandangannya ke arah  jendela transparan itu. “Ini malam tahun baru?”
   
   “Bukan. Hari ini—Hari Natal—“jawab Min Ho dengan suara yang amat pelan. “Kau suka?”
   
   Hye Sun mengangguk. “Chuayo—“
   
   Min Ho tersenyum. Kaki panjangnya menyeret sebuah kursi mendekat ke arahnya, sedangkan Hye Sun masih dengan serius melihat kembang api itu. Ia duduk di atas kursi itu sambil mengorek-ngorek isi tas selempangnya. Satu stel pakaian terlipat manis di dalam tas selempang itu. Sebuah selimut kecil berwarna biru juga terlipat rapi di sana. Dan—Sebuah amplop coklat yang berukuran besar menyumbul dari antara isi tas itu.
   
   “Hye Sun—“panggil Min Ho pelan, ia mendongak dan melihat tatapan kagum Hye Sun ke arah kembang api itu. Hye Sun sepertinya masih belum menyadari panggilannya, Min Ho kemudian memanggilnya sekali lagi. “Hye Sun—“
   
   “Mmm?”Hye Sun memalingkan wajahnya ke arah Min Ho.
   
   “Ini.”Min Ho menyodorkan amplop coklat itu ke arah tangan Hye Sun yang sudah bersiap menyambut amplop itu. “Anggap saja hadiah natal dariku—“
   
   Di dalam amplop coklat itu terdapat berlembar-lembar kertas yang halaman awalnya berjudul.

Divorce Agreement
   
   Hye Sun membacanya satu per satu. Sampai ke halaman belakang yang menyebutkan kalau setelah bercerai, Hye Sun mendapatkan 10 persen dari harta kekayaan keluarga Lee.
   
   Setelah yakin Hye Sun sudah selesai membaca, Min Ho menyodorkan sebuah bolpoin warna hitam untuk Hye Sun bertanda-tangan di atas kertas itu. Hye Sun menyambut bolpoin itu. Dan Min Ho mengarahkan pandangannya ke kembang api yang masih menyala-nyala itu, tidak berani melihat ke arah Hye Sun dan melihat kemungkinan terburuk.
   
   “Kamu pikir aku akan menandatanganinya?”Hye Sun bertanya, membuat Min Ho mengalihkan pandangannya dan menatap Hye Sun yang masih terlihat serius membaca surat perceraian itu.
   
   “Should be—”Min Ho menjawab dengan nada datar.
   
   “You’re wrong—”Hye Sun menjawab dengan nada yang tidak kalah datarnya.
   
   “Aku masih belum bisa bercerai darimu—“desah Hye Sun, ia mengembalikan surat itu ke tangan Min Ho. “Hari ini, aku baru mulai percaya kalau ibumu benar-benar akan serangan jantung jika aku tidak menikah denganmu, dan hari ini juga aku percaya kalau Omma-mu sangat menyayangiku, bukan sebagai menantu, tapi sebagai anak perempuan.”
   
   Min Ho tidak tahu harus bereaksi apa. Kalau ia harus senang, ia juga tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya. “Jadi, ini untuk Ommaku?”
   
   Hye Sun mengangguk halus. “Dia menceritakan bagaimana ia menginginkan Hye Sun dan Min Ho junior.”
   
   Min Ho terkesiap dan menatap Hye Sun lekat-lekat.
   
   “Tapi—Sayangnya kita tidak mungkin memberikan cucu bagi ibumu.”bisik Hye Sun pelan, pelan sekali. “Pernikahan kita—Palsu—”
   
   Min Ho menunduk dalam-dalam ketika Hye Sun mengatakan hal itu. Rencananya untuk bersikap dingin terhadap perempuan ini, toh, gagal juga. “Hye Sun—“panggil Min Ho lirih.
   
   “Hmmm?”
   
   “Kau tidak tertekan dengan pernikahan ini?”tanya Min Ho terus terang dan ia merasa benda yang hangat mendarat di puncak kepalanya yang menunduk dalam-dalam.
   
   “Tidak.”
   
   “Kemarin kau ingin bunuh diri—“
   
   “Gara-gara Geun Seuk—“
   
   Min Ho menengadah ke arah Hye Sun, tangan Hye Sun yang hangat masih berada di atas kepalanya.
   
   “Dia mendatangi mimpiku—”Hye Sun berkata seraya mengangkat tangannya dari kepala Min Ho. “Dia bilang ‘Miane’—Dan dia bilang Jeongmalmiane padamu—“
   
   “Aku sendiri tidak tahu ia salah apa—”Hye Sun berkata lagi terus terang. “Tapi, sebelum ia meninggal, ia memang sempat bilang padaku kalau ia bersalah padamu—“
   
   Min Ho terdiam. Ia tahu kesalahan Geun Seuk padanya. Kesalahannya. Min Ho tahu.
   
   “Apa dia pernah berbuat salah padamu?”tanya Hye Sun hati-hati.
   
   Min Ho menggeleng pelan, pelan sekali. “Tidak—Kalaupun ada, kesalahannya hanya kesalahan kecil.”
   
   “Min Ho-ya—“bisik Hye Sun pelan. “Kamu masih mencintaiku?”
   
   Min Ho kaget dengan pertanyaan yang satu ini. “Ti—Tidak—“Min Ho akhirnya menjawab dengan gagap, ia tidak bisa menjawab pertanyaan ini dengan baik.
   
   “Apa aku bagimu?”tanya Hye Sun lagi.
   
   “Teman. Sahabat?”Min Ho menjawab lagi dengan suara yang tak kalah pelan, ia menunduk dalam-dalam. “Aku selalu mencoba untuk memperlakukanmu seperti orang asing. Tapi, aku selalu tidak bisa. Dan aku membenci hal itu. Aku selalu khawatir jika terjadi apa-apa padamu.”
   
   “Min Ho—“bisik Hye Sun pelan. “Kau adalah sahabat terbaikku yang ku punya sekarang ini. Terimakasih untuk kemarin.”
   
   Min Ho mendongak, menengadah ke arah Hye Sun. Mata bulat dan besarnya terlihat meneduhkan. Wajahnya putih mulus tanpa cacat. Jaminan yang paling menjanjikan bagi Hye Sun adalah Min Ho yang tidak mempunyai perasaan apa-apa padanya. Jaminan yang paling penting dalam pernikahan palsu ini adalah mereka tidak saling mencintai. Dan untuk saat ini, menjadi sahabat Hye Sun sudah lebih dari cukup.
***
END OF CHAPTER[/color][/size]   

[/size][/color]
« Last Edit: June 19, 2010, 06:18:10 am by karin.lullaby »

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

yg dilakukan geunsuk ke minho udah mulai terbuka sedikit di chp ini ya [biggrin] [biggrin] berarti next chp udah bener2 terungkap dong [devil2] cepatan ya rin [hmpfh] [hmpfh] ....

terus si hyesun jgn dibuat keras kepala spt itu lagi dong hammer2 hammer2 payah nih dia, makin lama makin menyebalkan aja [angry] [angry] mentingin diri sendiri mulu, klu emang ta suka .. cepat ttd surat perceraian itu hammer2 hammer2 jgn gara2 menyadari kasih sayang omma minho lgs berubah 180 derajat kyk gitu [head break] [head break]

yg terakhir, thanks udah diupdate, cepatan update lg ya [hmff] [hmff]

senangnya jd komentator pertama, bukan terakhir spt chp lalu [laughing] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Aurel " lusy" Aurellya

  • Junior
  • **
  • Posts: 227
  • kyaaa jun pyo sexy bgeth
  • Location: padang, indonesia
    • View Profile
Akirnya update jugaa..
Gumawo karinn..
Hikksss ni chap bener2 dalem dan bkin nyesek bacanyaaa...
Mreka bedua sama2 mengingkari prasaan mreka, pdahal kan mreka sling mcintai, tp mreka malah berusaha untuk bsikap dgin satu sma lainn..
Anyway, ga membosankan kok karinn...
Aku pgen tahu kpn mreka bkalan nydar yaa??
Apa yg bkin mereka nyadar nantiny ats prasaan mreka yg ga bs lepas satu sama lain??
Update next chap jgn lama2 yah karinn..
only u in my bottom heart, no body else, but u in over the world...

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
[smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

yg dilakukan geunsuk ke minho udah mulai terbuka sedikit di chp ini ya [biggrin] [biggrin] berarti next chp udah bener2 terungkap dong [devil2] cepatan ya rin [hmpfh] [hmpfh] ....

terus si hyesun jgn dibuat keras kepala spt itu lagi dong hammer2 hammer2 payah nih dia, makin lama makin menyebalkan aja [angry] [angry] mentingin diri sendiri mulu, klu emang ta suka .. cepat ttd surat perceraian itu hammer2 hammer2 jgn gara2 menyadari kasih sayang omma minho lgs berubah 180 derajat kyk gitu [head break] [head break]

yg terakhir, thanks udah diupdate, cepatan update lg ya [hmff] [hmff]

senangnya jd komentator pertama, bukan terakhir spt chp lalu [laughing] [laughing]

mestinya aku bikin tandatangan surat cerainya aja yaaa..  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
karin, yup aku setuju, mentingan bikin hs ttd surat perceraian itu deh, udah kesel bgt ama hs, mendingan ama dara deh upsssssssssss keceplosan [sweat] [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
karin, yup aku setuju, mentingan bikin hs ttd surat perceraian itu deh, udah kesel bgt ama hs, mendingan ama dara deh upsssssssssss keceplosan [sweat] [sweat]

kumpulkan pasukan untuk buat ff MINDARA... hahahaahahahah [laughing] [laughing] [laughing] [laughing]
*digebukin*

ayuuukkkk... si mino jadi sm dara ya???? wkawkawka...  [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing]

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
Akirnya update jugaa..
Gumawo karinn..
Hikksss ni chap bener2 dalem dan bkin nyesek bacanyaaa...
Mreka bedua sama2 mengingkari prasaan mreka, pdahal kan mreka sling mcintai, tp mreka malah berusaha untuk bsikap dgin satu sma lainn..
Anyway, ga membosankan kok karinn...
Aku pgen tahu kpn mreka bkalan nydar yaa??
Apa yg bkin mereka nyadar nantiny ats prasaan mreka yg ga bs lepas satu sama lain??
Update next chap jgn lama2 yah karinn..

hyesun gk ngingkari perasaannya kok...
dia emang maish belum ada perasaan apa" sama minho...  [laughing] [laughing] [laughing] [laughing]

minho sudah nyadar di chap ini...
kita tunggu hyesun aja yaa....  [biggrin] [biggrin] [biggrin] [biggrin] [biggrin]

next chap gk janji juga deh gk lama" lagi.. hehe...  [sweat] [sweat] [sweat]

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline resti_cute

  • Newbie
  • *
  • Posts: 1
    • View Profile
Anyong haseyo...
Lam kenal karin aku newbie nih,
Aku suka bgd lo bca ff kamu,gara2 direkomen ama temen aku..

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Karinn!?!?
Penyok2 karinn dulu,,
Makasih karin yang cuantikk n baik hati,wkwkwk
Akhrnya diupdate juga,
Cup cup cup cup
I lope u pull dah...:D

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
Anyong haseyo...
Lam kenal karin aku newbie nih,
Aku suka bgd lo bca ff kamu,gara2 direkomen ama temen aku..

anyeonghaseyo, sist resti~~~
salam kenal juga...
met nyampah di thread ini.....
tapi jangan kaget ya kalo awalnya di  [arms] [arms] [arms] [arms] [arms] [arms]...
akhirannya pasti kena  [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] sampe   [collapse] [collapse] [collapse] .
hahaha... *bikin takut newbie*
becanda kok sist resti...
tapi aku dulu juga gitu awalnya di  [arms] [arms] [arms], akhirannya di [head break] [head break] [head break]sama di [angry] [angry]mulu...  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing]

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] karin,,,, berhasil lg bkin hati maknyuzzzzz niy drimu....

apanya yg sudah mulai membosankan c karin??? wong aq selalu menunggu niy ff kan ff terdalem yg ada dsni mnurut aq sizt.. [cry] [cry] [cry] [cry] [cry]

iya dsni hyesun dah mulai mw anggep mino sahabat lg, n mulai membuka prsaan sdkit.. pa krna mimpi Geun Seuk itu yuaaa????

ada kisah apa dibalik luka itu ya??? oenasaran bgt,,, makanya msti  [head break] [head break] [head break] [head break]niy c karin dah kentang bgini soalnya, [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
Karinn!?!?
Penyok2 karinn dulu,,
Makasih karin yang cuantikk n baik hati,wkwkwk
Akhrnya diupdate juga,
Cup cup cup cup
I lope u pull dah...:D

terima kasih atas pujiannya... huahahaha...
aku memang cuantikkk... baik hati... *jadi narsis deh...  [laughing] [laughing] [laughing]*
udh ah... jgn muji lagi... nanti terbang ke langit ke tujuh...  [rofl] [rofl] [rofl]

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile


CIE,,,CIE,,, Karin dipuji abisss2an,, moga ja krna dpuji gni jd update cepet yaaa sizt virna...AMIN punk punk punk punk[/size][/size]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
[smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] karin,,,, berhasil lg bkin hati maknyuzzzzz niy drimu....

apanya yg sudah mulai membosankan c karin??? wong aq selalu menunggu niy ff kan ff terdalem yg ada dsni mnurut aq sizt.. [cry] [cry] [cry] [cry] [cry]

iya dsni hyesun dah mulai mw anggep mino sahabat lg, n mulai membuka prsaan sdkit.. pa krna mimpi Geun Seuk itu yuaaa????

ada kisah apa dibalik luka itu ya??? oenasaran bgt,,, makanya msti  [head break] [head break] [head break] [head break]niy c karin dah kentang bgini soalnya, [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

kok kentang sih??? gk ahhhhh..  [biggrin] [biggrin] [biggrin] [biggrin]
kalo kentang tuh si mami love sm kak neiya...  [laughing] [laughing] [laughing]

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE