Author Topic: [RPF] MinSun in LOVE  (Read 4452 times)

dara

  • Guest
[RPF] MinSun in LOVE
« on: January 28, 2010, 10:16:00 pm »
Judul : MinSun in LOVE
Author : saia sendiri…si dara
Genre : mystery and romantic

Cast :


Goo Hye Sun aka Hye Sun
 
Lee Min Ho aka Min Ho
 
Kim Hyun Joong aka Hyun Joong
 
Kim Bum aka Kim Bum
 
Kim So Eun aka So Eun
 
And the other cast….









Chapter  1

“Nanti sering-sering kabari kami ya Hye Sun”, ucap So Eun sambil memelukku. “Ne, aku akan selalu mengirim surat padamu dan Hyun Joong”, ucapku seraya melepaskan pelukan So Eun. “Tapi, dimana Hyun Joong sekarang? Dari tadi pagi aku tidak melihatnya”, lanjutku sambil mencari-cari temanku yang paling bandel itu.

Aku, So Eun, dan Hyun Joong memang sudah berteman sejak kami masih berumur 3 tahun, kami bertiga sudah seperti kembar siam. Kemana-mana kami selalu bersama, kalau aku sakit dan tidak masuk sekolah, So Eun dan Hyun Joong akan memaksa orang tua mereka agar mereka juga tidak ikut sekolah dan lebih memilih menjagaku. Orang tua kami tidak bisa berbuat apa-apa jika kami sudah seperti itu.

“Hye Sun, ayo cepat..nanti kita ketinggalan pesawat!”, suara ayahku langsung menyadarkanku. “Ne appa, tapi tunggu sebentar, aku mau bertemu Hyung Joong dulu”, ucapku sambil berlari kearah rumah Hyun Joong yang berada disamping rumahku. “Aisshhh, anak-anak ini selalu saja menyusahkan. Maaf ya pak Goo..”, ujar ibu Hyun Joong ketika melihatku dan So Eun berlari kearah rumahnya.
“Yaa, Joong,, kau dimana? Hye Sun akan segera berangkat”, teriak So Eun. Aku langsung masuk kedalam kamar Hyun Joong dan mendapati kamar itu kosong. Aku dan So Eun terus mencari Hyun Joong, tapi kami tidak menemukannya. Ayahku yang khawatir kami ketinggalan pesawat, langsung memaksaku masuk kedalam mobil. Air mataku yang sejak semalam kutahan akhirnya tumpah juga ketika aku tak menemukan Hyun Joong dimanapun. Ibu Hyun Joong hanya menasehatiku bahwa suatu saat nanti aku, So Eun, dan Hyun Joong pasti akan bertemu lagi. Sebelum mobil yang aku dan ayahku tumpangi melaju, aku sempat memberikan surat pada So Eun untuk diberikan pada Hyun Joong, So Eun menerimanya dan berjanji dia akan memberikan suratku pada Hyun Joong.

Sementara itu, dibukit dipinggiran desa Jeja, kampung halamanku, Hyun Joong berdiri memandang sebuah mobil berwarna silver melaju meninggalkan desa itu. Airmatanya pun kembali tumpah, ketika melihatku didalam mobil itu sambil memegang sebuah boneka kelinci pemberiannya saat ulang tahunku yang ke-9 tahun lalu. Tapi, tiba-tiba dari arah belakang So Eun datang dengan beruraian air mata, dengan tanpa suara ia segera menyerahkan titipan suratku padanya dan segera berlalu dari bukit tempat yang paling sering kami jadikan sebagai tempat pelarian itu. Hyun Joong hanya memandang surat beramplopkan pita kuning tersebut tanpa ada niat sedikitpun untuk membukanya. Tapi diapun akhirnya membuka surat itu ketika  melihat namaku tertulis di atas amplop itu.

 

Setelah membaca surat itu, Hyun Joong langsung kembali kerumahnya dengan lantai gontai, dalam hati ia terus mengingat isi suratku. “aku akan menunggumu Hye Sun, aku akan menunggumu!”, ujarnya dalam hati.

9 tahun kemudian, di Seoul

“happy b’day Hye Sun, happy b’day Hye Sun , happy b’day happy b’day happy b’day Hye Sun”, suara sumbang appa memenuhi kamarku. Dengan memakai topi kerucut dan membawa kue tart yang diatasnya menyala 19 buah lilin, appa mengejutkanku dengan semua itu. “kupikir appa sibuk dirumah sakit”, ujarku sambil memakan kue ulang tahunku itu. “hari ini adalah hari special anak appa tersayang, mana mungkin appa tidak meluangkan waktu untukmu”, jawab appa sambil mengecup dahiku. “tapi, apa appa tidak sibuk dirumah sakit?”, tanyaku mengingat kesibukan appa selama ini dirumah sakit yang baru dibangunnya itu. “ooohh, tentu saja tidak”, kilah appa. Tapi, beberapa saat kemudian, ponsel appa berbunyi, dilayar tertera dengan jelas nama Dr.Kim. aku tersenyum simpul ketika melihat nama itu. “appa, sudahlah, pergi saja kerumah sakit. Aku tidak apa-apa sendirian pada saat hari ulang tahunku”, kataku sambil terus memakan kue ulang tahunku. Appa terlihat bimbang, namun itu tidak berlangsung lama. Appa kemudian memaksaku untuk berganti pakaian dan ikut bersamanya kerumah sakit. Tentu aku tidak begitu saja menerima permintaannya, sejak dulu aku sangat membenci rumah sakit, dokter, juga apapun yang termasuk didalamnya. Itu semua bermula ketika ommaku meninggal 14 tahun silam. Itulah sebabnya aku juga menolak ketika appa menyuruhku untuk mengikuti jejaknya sebagai seorang dokter, dan karena itu pulalah aku lebih memilih mengambil jurusan arsitektur. “ayolah Hye Sun, sekali ini saja. Appa ingin mengenalkanmu kepada semua orang yang ada dirumah sakit. Sejak dulu, teman-teman appa ingin sekali melihatmu. Ayolah Hye Sun”, appa terus membujukku. Keinginan appa sangat kuat, sehingga mau tidak mau aku harus tetap ikut dengannya kerumah sakit.

Pakaianku sangat sederhana, hanya dengan sweater berwarna putih dipadu celana jeans ketat aku langsung membuat appa terbengong-bengong melihat penampilanku ini. “ayolah appa, nanti kita terlambat”, ujarku tersenyum simpul sambil terus berjalan kearah mobil sportku yang terparkir digarasi. Aku tidak memberi appa kesempatan untuk memprotes gaya busanaku yang terkadang sering membuatnya geleng-geleng kepala.

Tidak sampai setengah jam, aku dan appa sampai dirumah sakit Manolin. Rumah sakit ini terletak dipusat kota Seoul dan dekat dengan rumah kami, jadi tidak perlu waktu lama untuk sampai kesini. Appa segera memarkir mobilnya diparkiran khusus orang-orang penting dirumah sakit tersebut, appa memaksaku untuk ikut memarkirkan mobilku disitu, tapi aku menolaknya. Aku lebih memilih memakirkan mobilku diparkiran biasa, dan sekali lagi aku membuatnya geleng-geleng kepala.

Rumah sakit itu terdiri dari 7 lantai, ruangan appa dan orang-orang penting lainnya dirumah sakit ini terletak dilantai 5. belum selesai aku menilai bangunan mewah ini, appa langsung memperkenalkanku pada temannya yang bernama Dr.Lee. Penampilannya sangat sederhana, aku mengira-ngira umur Dr.Lee pasti seumuran appaku “ini pasti Hye Sun, anakmu yang ingin kau perkenalkan pada anakku itu?”, ujar Dr.Lee. “Ne, ini Hye Sun. Hye Sun ini dr.Lee”, aku menyalami dr.Lee dengan perasaan ragu-ragu. “memperkenalkan kepada anaknya? Apa maksudnya itu?”, tanyaku dalam hati. Belum sempat aku bertanya pada appa, appa langsung menyuruhku keruangannya dilantai 5 dan menunggunya selama dia menjalankan operasi pada salah satu pasiennya. Tanpa berkata apa-apa lagi, aku langsung menuju lantai lima.

Didalam lift, aku bertemu seorang pemuda yang kutafsir umurnya mungkin setahun lebih tua daripadaku. Penampilannya sangat keren! Tidak seperti dokter-dokter kebanyakan yang terkenal dengan penampilan rapi, dasi yang klop dengan kemejanya, dan aksesoris yang tidak kalah pentingnya, kacamata!. Penampilan dokter ini benar-benar berbeda, kemeja putih dan dilapisi sweter putih bergaris-garis yang digulung sampai ke lengan juga dipadu celana jeans ketat, dokter itu benar-benar memesona hatiku. Tak lupa jas putih dokter dan stetoskop menambah penampilannya semakin cool. Dokter itu memandangku dengan pandangan sinis.

oh tidak!!! Kenapa dokter ini sombong sekali!.

Tapi, untungnya lift yang kutumpangi sampai juga dilantai lima. Dan anehnya, dokter sombong itu juga ikut keluar.

Jadi, dokter ini termasuk orang penting dirumah sakit ini?haaa!! jadi itu yang membuatnya sombong setengah mati?aku saja yang anak pemilik rumah sakit ini tidak begitu sombong, kenapa dia yang hanya seorang dokter bisa sesombong itu?

Sepertinya dokter itu menyadari kalau sedari tadi aku memandangnya tidak suka. “ada apa?ada masalah?”, ucapnya dingin. Aku yang tidak ingin terlibat perbincangan dengannya, segera masuk kedalam ruangan appaku yang dengan jelas tertulis didepan pintunya ‘Dr.Goo’. dokter yang tidak tau siapa aku itu langsung mencegatku untuk masuk “mau apa kau diruangan dr.Goo?”, ucapnya masih tetap dengan suara dinginnya. “memangnya kenapa? Apa salah kalau aku masuk kedalam ruangan appa?”, ucapku sinis. “mwo?”, dia terlihat bingung dan kemudian dia mengamati penampilanku dari atas kebawah. “jadi kau Hye Sun? anak dr.Goo yang sering diperbincangkan orang-orang penjilat itu?”, ucapnya sambil melepas genggamannya dilenganku. “kuperingatkan kau, jangan sampai kau terlalu dekat dengan orang-orang yang ada dilantai lima ini”, lanjutnya. “penjilat katamu? Siapa yang penjilat? Dan kenapa aku tidak boleh terlalu dekat dengan orang-orang dilantai lima ini? Apa maksudmu? Siapa orang-orang yang kau maksud itu?”, rentetku dengan sejuta pertanyaan. Tanpa menunggu reaksiku, dokter sombong ini langsung menyeretku kedalam ruangannya. Aku yang kaget setengah mati tidak bisa mengelak ketika dia dengan paksa mendorongku masuk. “yaaa!! Apa yang kau lakukan!”, teriakku. “dengar ya dokter sombong, aku tidak peduli kau mau menasehatiku untuk tidak terlalu dekat dengan orang-orang yang kau maksud itu, dan kurasa tanpa nesehatmu aku pun tidak mungkin akan dekat dengan orang-orang dirumah sakit ini. Kau mau tahu kenapa? Karena aku sangat membenci rumah sakit, dokter, obat, suntik, suster, dan apapun yang ada didalam sini! Dan itu juga berarti aku tidak mungkin dan tidak akan pernah dekat dengan kalian! Arase??”, teriakku. selama seperkian detik aku berpikir pasti mulutku akan segera berbusa jika aku tidak menghentikan perkataanku barusan. Dokter sombong itu hanya memperhatikanku dengan tatapan dingin. “baguslah kalau begitu, setidaknya kau dan appamu untuk sementara aman.”, katanya. “satu hal lagi, namaku Min Ho, Lee Min Ho. Bukan dokter sombong seperti katamu barusan”, lanjutnya masih dengan suara yang dingin. Aku hanya menghela nafas tanda menyerah, aku sudah tidak mau bertanya lagi tentang apapun yang dibicarakannya.  Aku pun langsung membuka pintu yang ada dibelakang dokter itu dan bermaksud keluar dari ruangannya ketika dia dengan sengaja kembali menutup pintu itu. aku ingin sekali  memprotes kelakuannya yang sembarangan itu, tapi niatku langsung kuurungkan ketika melihat tampang gelisahnya. “yya”, ucapnya sambil terbata-bata. “pokoknya, apapun yang disampaikan ayahmu kepadamu kau harus bilang tidak. Arase?”, lanjutnya masih dengan tampang gelisahnya. Aku hanya memandangnya dengan pandangan tak percaya, dan segera meninggalkannya sebelum kekacauan di otaknya semakin parah. Aku pun segera masuk kedalam ruangan appa.

Desa Jeja

Seorang wanita berumur 41 tahun keluar dari rumah bercat kuning sederhana dan menenteng koper besar berwarna kuning dengan tergesa-gesa. Sepertinya ibu itu tidak ingin terlihat oleh orang-orang disekitarnya. Dengan cepat ia menyetop angkutan umum yang kebetulan kosong yang lewat tepat didepan rumah bercat kuning itu. “bandara pak”, ujar ibu itu.


Chapter  2

“Hye Sun, cepatlah. Nanti kita terlambat, tidak enak kan jika tuan rumah malah terlambat kepestanya sendiri?”, ujar appa sambil terus menklakson mobilnya. “appa, jika kau terus menklakson mobil seperti itu, tetangga-tetangga itu akan melemparimu dengan alat-alat masak mereka”, balasku memprotes kelakuan appaku. Malam ini masih malam ulang tahunku, appa membuatkan party untuk merayakannya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, aku menolak diadakannya party ini, tapi untuk tahun ini rayuanku tidak mempan kepadanya. Keinginan appa untuk mengadakan party ini sangat besar, jadi aku tidak bisa  menolaknya. Dua jam kemudian mobil kami sampai dipelabuhan. Satu hal yang membuatku heran, appa mengadakan b’day partyku di kapal layar ditengah lautan. “appa, kenapa harus disini? Apa sudah tidak ada tempat lain lagi di Korea?”, protesku pada appa. Appa yang mendengar keluhanku hanya tersenyum menanggapinya. Pakaianku malam ini adalah gaun putih berbentuk kenben polos, dengan pita berwarna putih yang melingkar dipinggangku. Gaun panjang ini panjangnya hingga kemata kaki dengan potongan A simetris yang membuatku terlihat semakin tinggi dan ramping. Aku hanya menjepit poni depan dengan sebuah jepitan mungil berwarna putih, selebihnya aku membiarkan rambut hitam panjangku tergerai dipunggungku yang telanjangku.  Kebetulan sekali appa tidak memprotes busanaku itu. “tamu-tamu lain sudah menunggu tuan”, ujar salah satu pria yang memakai jas komplit dengan dasinya kepada appa. “sepertinya orang ini sangat menghormati appa”, kataku dalam hati.

Ketika aku dan appa memasuki kapal khusus berlayar itu, semua tamu yang ada didalamnya langsung menengok kearah kami. “lihat, appamu ini sangat tampan, buktinya semua tamu memandang kearah kita”, bisik appa kepadaku. Aku yang mendengarnya hanya tersenyum simpul. “semuanya sudah siap? Tidak ada yang tertinggal kan pak George?”, tanya appa kepada orang yang kami temui didepan tadi. “semua sudah siap tuan”, jawab pak George itu. “baiklah, ayo kita mulai perjalanan ini”. Semua orang yang ada diruangan itu langsung bertepuk tangan ketikan mendengarnya.

Tanpa menunggu persetujuanku lagi, appa langsung memperkenalkanku pada teman-temannya yang secara keseluruhan adalah orang-orang berpengaruh di Korea. Mantan Presiden Korea-lah, Presiden Direktur dari berbagai perusahaan terkemuka didunia-lah, dan yang tidak kalah hebohnya ketika aku diperkenalkan pada ibu-ibu kenalannya. Semuanya memujiku cantik, bahkan diantara ibu-ibu itu ada yang menawarkanku untuk berkenalan dengan putra-putra mereka. Untungnya appa segera mengajakku pergi dari situ, dan melanjutkan prosesi pengenalan diriku kepada tamu-tamu lainnya.

Pesta sesungguhnya dimulai ketika kapal telah sampai ditengah lautan, appa kembali menyuruhku meniup lilin ulang tahunku. Kemudian dilanjutkan dengan pesta kembang api. Appa menyebutnya kembang api ala lautan, sedangkan aku menyebutnya kembang api yang membosankan ditengah lautan. Appa hanya tersenyum mendengar celotehanku itu.

Ketika semua orang tengah menikmati kembang api tersebut, tanpa diketahi oleh siapapun aku keluar dari tempat pesta dan pergi ke dek kapal. Tempat ini sangat sunyi dan sangat menenangkan dibanding didalam kapal yang sangat ribut. Tanpa kusadari ternyata ada seseorang yang juga berada didek itu. Orang tersebut tidak menyadari kehadiranku. Matanya tertutup, seperti sedang menghirup udara lautan.

Wajahnya sungguh sangat manis, kemudian dia tersenyum dan masih tetap menutup matanya, disaat itulah jantungku terasa berdetak kencang, lesung pipi dikedua pipinya menambah kegantengannya.

Selama beberapa menit aku memandang sosok malaikat itu, dan sepertinya dia menyadarinya. Perlahan dia membuka matanya dan langsung menengok kearahku, aku yang kaget tidak tahu harus berbuat apa. “mian, aku tidak bermaksud mengganggumu”, kataku sambil membuang muka kearah lain agar malaikat ini tidak melihat merahnya wajahku. “mengganggu juga tidak apa-apa”, jawabnya. Perlahan aku menengok kearahnya lagi, dan oh tuhan! Senyumnya sangat manis. “aku Kim Bum”, dia menjulurkan tangannya memperkenalkan diri. “aku Hye Sun”, jawabku. “aku tahu siapa kau, anak tunggal dokter Goo, pewaris utama rumah sakit internasional Manolin. Benar begitu bukan?”, lanjutnya. “oh tidak, aku tidak akan pernah menjadi penerus appa, aku tidak berminat”, jawabku. Dia hanya tersenyum *lagi* mendengar perkataanku.

Selama hampir 1 jam, aku dan Kim Bum bicara banyak. Dan sepertinya orang-orang didalam sudah menyadari ketidakhadiranku, dan konyolnya lagi, appa mengira aku terjatuh kelaut, dan tidak ada yang mengetahuinya. “sepertinya orang-orang itu mencarimu”, ujar Kim Bum ketika kami mendengar suara-suara ribut yang memanggil namaku. Kim Bum mengajakku masuk kedalam sebelum kekhawatiran orang-orang dan appa semakin parah.

“ooohh,,,Hye Sun. kau kemana saja? Appa pikir kau jatuh kelaut”, ucap appa sambil memelukku. “ne appa, aku hanya ke dek kapal”, jawabku sambil melepas pelukan appa. “ne ahjussi, Hye Sun bersamaku tadi”, tiba-tiba Kim Bum datang dari arah belakangku dan membelaku. “oh kau Kim Bum. Baguslah kalau tadi dia bersamamu”, kata appa. “kau tahu anak nakal, tadi sewaktu orang-orang tidak menemukanmu appa hampir saja menangis”, lanjut appa sambil menyentil hidungku. Sejak dulu, hanya appa yang bisa memperlakukanku begitu.

Setelah suasana kembali terkendali, appa kemudian menyuruhku untuk tidak pergi seenakku lagi. Dan appa juga mengajakku bergabung dengan komunitas dokter-dokter jenius *yang jelas-jelas sangat aku benci*. Ternyata dokter sombong yang kutemui tadi siang, ada dalam daftar dokter-dokter jenius itu. Yaaahh, baguslah! Setidaknya dia memberiku satu poin untuk penilainku terhadapnya. Appa yang tidak tahu bahwa aku dan dokter sombong itu sudah pernah bertemu sebelumnya langsung mengenalkanku padanya. Ternyata dokter sombong itu adalah anak dr.Lee, dokter yang kutemui tadi siang di lobi rumah sakit.

Kapal kembali berlabuh ke pelabuhan tepat jam 3 pagi. Aku langsung memaksa appa pulang, tapi appa *kembali* tidak sejalan pikiran denganku. Appa masih akan mengadakan pesta minum di klub mewah milik salah satu temannya. Dan kabar buruknya, appa memaksa dokter sombong itu *eh, maaf. Maksudku Min Ho* mengantarku pulang. Karena di situ ada dr.Lee aku tidak bisa menolak kehendak appa, dengan terpaksa aku pulang dengan Min Ho.

Ditengah perjalanan, aku tidak banyak bicara dengan Min Ho. Dia juga lebih banyak diam. 2 jam kemudian aku sampai dirumahku, dan DOKTER ITU JUGA TURUN!!. “demi tuhan! Apa yang dilakukannya??”, tanyaku dalam hati. Dan sepertinya dia bisa membaca pikiran *seperti Edward Cullen, si pembaca pikiran ^halah^*, “aku disuruh oleh dr.Goo untuk tetap menemanimu sampai dia pulang”, ujarnya dingin. “tidak perlu. Aku bisa jaga diri. Kau pulang saja”, kataku. “tidak bisa! Aku harus menjaga amanah dr.Goo”, jawabnya. Aku hanya menghela nafas mendengarnya. “ya sudah, ayo masuk”, kataku pada akhirnya.

Didalam rumah, aku tidak tahu harus berbuat apa. Cowok ini selalu saja membuatku susah. Setelah mengikuti ritual ulang tahunku selama 7 jam nonstop, aku sekarang membutuhkan kamar tidurku yang nyaman, tapi sekarang semua itu hanya tinggal mimpi, dokter sombong ini menghancurkan segalanya. Aku tidak butuh ditemani dokter sombong sepertinya.

Bagus! Detik ini seharusnya aku berada didalam kamarku, tapi  sekarang aku malah menemaninya menonton siaran berita, dan ini sungguh MEMBOSANKAN!!.

Lee Min Ho

“Sepertinya dia tidak menyukai keberadaanku. Daritadi wajahnya seperti ingin jatuh kelantai. Kalau bukan karena permintaan dr.Goo, mana mau aku menemaninya, benar-benar menyebalkan. Ha!! Matanya mulai tertutup, baguslah, setidaknya aku bisa menonton sepuas hatiku tanpa ada orang yang terus-terusan memandangku tidak suka. Hei, apa yang dilakukannya?? Oh tidak!! Apa ini bagian dari rencananya?? Kenapa dia menyandarkan kepalanya di dadaku?? Bagus!! Sekarang aku menjadi bantalnya setelah menjadi pengawalnya. Benar-benar sial!!”

Goo Hye Sun

“nyaman sekali, seperti bersandar didada appa”. Dengan masih menutup mataku aku memeluk lebih erat dada yang kukira dada appa. “tunggu!! Appa sudah tua, mana mungkin dia mempunyai dada sebidang ini?”, aku mulai meraba-raba dada itu. Perlahan aku mulai membuka mataku dan mendapati aku berada dalam pelukan dokter sombong itu. Aku ingin sekali memukul wajahnya, tapi fisikku tidak mampu melakukannya. Wajahnya yang tenang kelihatan sangat polos. Wajahku sangat dekat dengan wajahnya, sehingga aku bisa melihatnya dengan jelas.

Hidung yang mancung, dagu yang sempurna, kulit wajah yang sangat mulus, dan bibir yang penuh berisi. “Hei, dilihat dari dekat dokter sombong ini tampan juga

Selama beberapa menit aku memandangi wajah tampan itu, dan mimpi buruk pun terjadi. Dia terbangun dan menangkap basah aku sedang memandangnya, aku yang tidak tahu harus berbuat apa langsung berpura-pura tertidur. “jangan pura-pura tidur”, ucapnya sinis. Aku terbangun dengan mulut manyum, tetapi masih tetap dalam posisiku yang sebelumnya. Entahlah, tiba-tiba perasaan itu datang lagi, perasaan yang dulu pernah kurasakan pada Hyun Joong dulu, perasaan hangat ketika dipeluk seseorang, kali ini aku merasa seperti dipeluk oleh omma. Dia hanya tersenyum sinis melihatku dengan ekspresi seperti itu. “hey anak manja, mau sampai kapan kau memelukku?”, tanyanya. Secara perlahan aku melepaskan pelukanku *walaupun sebenarnya aku tidak rela*, dan bermaksud masuk kekamarku, tetapi dihentikan oleh suara telepon. Aku berharap dokter itu mau mengangkat teleponnya, tapi dia malah kembali tidur. Aku menghela nafas dan segera bangkit untuk mengangkat telepon itu. “yeobseo”, “yeobseo”, jawab seseorang yang sepertinya kukenal. “appa”, seruku. Min Ho yang sedang tertidur terlonjak kaget ketika mendengar suaraku. “ada apa?”, tanyanya. “aniyo”, jawabku singkat. “appa, appa kemana saja?”, tanyaku setelah Min Ho kembali tidur, “appa sekarang ada dirumah sakit. Ada pasien yang sedang sekarat disini. Kau sudah makan?”, “belum. Aku mau menunggu appa saja, supaya kita bisa makan sama-sama”, jawabku. “tidak perlu Hye Sun, appa masih akan lama dirumah sakit. Kau makan duluan saja. Min Ho masih ada dirumah?”, tanya appa lagi. “ne appa”, jawabku, “appa ingin bicara dengannya, tolong berikan telepon padanya”, perintah appa. Aku langsung membangunkan Min Ho dan menyerahkan telepon yang kugenggam padanya. Awalnya aku ingin menguping pembicaraan appa dan Min Ho, tapi ternyata pembicaraan itu sangat penting sehingga Min Ho terpaksa keluar dari ruangan itu agar aku tidak bisa mendengar pembicaraan mereka. 10 menit kemudian dia kembali keruangan, dan menyuruhku untuk segera mandi dan berganti pakaian. “memangnya kita mau kemana?”, tanyaku galak setelah dengan paksa dia menyuruhku untuk melaksanakan perintahnya. “aku mau mengajakmu makan”, jawabnya acuh. “yaa, ngomong-ngomong boneka kelincimu itu sudah tidak layak pakai lagi. Lebih baik kau membuangnya, atauu  menggantinya dengan yang baru”, lanjutnya sambil tertawa mengejek. Aku terdiam mendengarnya. Boneka kelinci itu diberikan Hyun Joong sekitar 10 tahun lalu, saat ulang tahunku yang ke 9. aku mengingat-ngingat kapan terakhir kali aku mengirim surat kepadanya dan So Eun, dan seingatku itu sudah lama sekali sekitar 8 tahun yang lalu. Min Ho yang melihatku terdiam langsung meminta maaf, karena dia pikir aku tersinggung oleh kata-katanya. “mian, aku hanya bercanda”, katanya pelan. Aku yang mendengarnya langsung masuk kedalam mobil sportnya yang berwarna merah, dan duduk diam disana sampai dia masuk kedalam mobil dan mengemudikannya.

15 menit kemudian kami sampai disalah satu restoran mewah ala Eropa, biasanya aku selalu memperhatikan arsitektur-arsitektur suatu bangunan yang kudatangi, tapi kali ini aku lebih banyak diam. Aku juga lebih banyak menuruti permintaan Min Ho ketimbang harus bertengkar dengannya. Tidak lama kemudian, makanan pesanan kami datang juga, aku menghabiskan makananku tidak sampai 10 menit. Min Ho yang melihatku makan serakus itu hanya diam. Setelah itu, aku langsung mengajaknya kerumah sakit, aku ingin bertemu appa dan minta izin agar aku bisa pergi ke desa Jeja, aku terikat janji dengan Hyun Joong untuk selalu mengunjunginya bila aku punya waktu. Tapi Min Ho tidak mengijinkannya, katanya appa sekarang sedang sibuk tidak bisa diganggu.. “memangnya kau mau kemana?”, tanyanya ketika kami sudah berada dalam mobil. “desa Jeja”, jawabku singkat. “desa Jeja? Mau apa kau disana?”, tanyanya lagi. “hanya berlibur”, jawabku sambil tersenyum. Ingatanku kembali melayang ke 10 tahun yang lalu. Hyun Joong bersembunyi dariku sesaat sebelum aku pindah ke Seoul. Aku sangat merindukannya sekarang ini, sejak dulu pun hanya So Eun yang sering membalas suratku. “mau kutemani?”, tanyanya lagi. “mwo?”, aku benar-benar bingung dengan pertanyaannya. “aku bersedia menemanimu ke desa itu. Bagaimana?”, aku hanya terdiam mendengar penawarannya itu. “yya, bagaimana? Ingin kutemani tidak?”, tawar Min Ho lagi. “tidak perlu, lagipula appa pasti akan kesepian ditinggal sendirian”, jawabku sambil tersenyum. Min Ho hanya mengangguk mendengarnya. “yya, kenapa tiba-tiba baik terhadapku? Bukankah biasanya kau selalu dingin?”, tanyaku sambil tersenyum mengejek. “kau baru mengenalku kemarin siang”, jawabnya sambil tersenyum lagi. “apa yang kau dan appa bicarakan ditelepon tadi?” lanjutku, “oh, hanya soal pasien”, jawabnya singkat. Percakapan terhenti, dan kami pun kembali terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing.

Appa sudah tidak pulang selama tiga malam, dan selama itu juga Min Ho terus menginap dirumah. Setiap hari appa lebih banyak berbicara ditelepon dengan Min Ho dibandingkan denganku, itupun Min Ho sering keluar ruangan. Aku mulai curiga dengan tingkah appa dan Min Ho, ketika aku memaksa Min Ho untuk kerumah sakit untuk bertemu appa, dia selalu melarangku, alasannya appa sibuklah, sedang keluar negerilah, macam-macam alas an Min Ho berikan untukku. Sudah seminggu Min Ho menginap dirumahku, dan jangan pikir selama itu aku selalu akur dengannya. Pertengkaran kami lebih banyak dimulai karena hal-hal yang sepele. Pada malam ke 8 Kim bum datang kerumah dengan maksud untuk menemaniku juga. “kurasa kau tidak perlu menemani Hye Sun karena sudah ada aku disini”, ujar Min Ho sinis. Aku yang sudah terbiasa dengan sikap dinginnya menanggapinya cuek, dan mempersilahkan Kim Bum masuk “yyaa…apa yang kau lakukan? Dasar bodoh!”, teriak Min Ho. “ini rumahku, aku berhak memasukkan siapa saja kedalam sini. Araso?”, jawabku sinis. Min Ho hanya membuang wajahnya dan berlalu keruang keluaga untuk menonton TV. “kurasa kedatanganku kesini tidak diharapkan”, ujar Kim Bum. Belum sempat aku menjawabnya, Min Ho sudah berteriak dari ruang keluarga “kau memang tidak diharapkan!”, maki Min Ho. “diamlah!”, balasku sambil berteriak. “mian, dia memang begitu. Aku senang kau datang, setidaknya aku tidak selalu terkurung berdua dengan dokter sombong itu”, lanjutku dengan suara lembut. “kalau begitu kita jalan-jalan saja”, tawarnya. Tiba-tiba Min Ho masuk keruang tamu dan langsung mencengkram lenganku ketika aku bermaksud beranjak pergi. “aku tidak mengijinkanmu keluar dari rumah ini. dan  kau! Apa kau diajarkan sopan santun?”, kata Min Ho sambil menunjuk Kim Bum. “ada apa denganmu?,” aku langsung melepaskan lenganku yang digenggam erat oleh Min Ho. “kau tidak boleh pergi dengannya. Ini perintah!,” jawabnya sambil menatapku dingin.

chapter selanjutnya ditunggu ya
« Last Edit: January 30, 2010, 05:31:30 am by endree_noona »

Share on Bluesky Share on Facebook


Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Re: MinSun lagii
« Reply #1 on: January 28, 2010, 11:28:46 pm »
Wow ada ff baru lg nih...Mian blm baca jd ga bs koment ff-a.. Aq cuma mo bilang tolong di board langsung judul ff spy pembaca ga bingung jd board-a tolong di edit ya dara..

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Re: MinSun lagii
« Reply #2 on: January 29, 2010, 12:44:59 am »
Mian ya sblm-a klo komenku agak pedas...Ide crt-a bagus tp alur cerita-a datar aq ga merasa feel-a dr crt ini n karakter cast-a ga berasa feel-a trus antar paragraf hrs-a dikasih jarak n antara scene diberi tanda jd pembaca ga bingung trus chap-a khan pendek2x knp ga dijadiin 1 chp trus dibuat part/part gt... Jangan nyerah ya lanjutkan n perbaiki lg... Eh ya jangan lupa tolong modify topic diboard dgn judul ff.

dara

  • Guest
Re: MinSun lagii
« Reply #3 on: January 29, 2010, 05:15:35 pm »
Amira : gak pedas kok,kbtlan aq ska sma yg pedas" jd gag papah.. Kritik dan sarannya aku terima makasih

Offline pink_girly

  • Full
  • ***
  • Posts: 341
  • <3 MinSun
    • View Profile
Re: MinSun lagii
« Reply #4 on: January 30, 2010, 01:36:00 am »
Hy aku bru gbng lgi nich...
lam knl...  [smiley]

Bgs Fanficnya diterusin ya... FIGHTING...!!! [smiley-gen013]

dara

  • Guest
Re: MinSun lagii
« Reply #5 on: January 30, 2010, 02:27:45 am »
Hai purple_pink, salam kenal jga, aku jga masih bru d sni. Makasih atas dorongannya ya.. Aza

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Re: MinSun lagii
« Reply #6 on: January 30, 2010, 04:59:52 am »
Annyong pinky. Salam kenal n happy posting.... Dara: mianhae sblm-a klo aq ingatin sista lg tolong subject topiknya diganti dgn judul ff yg sista buat utk memudahkan n klo ff sista bukan multichapter mk akan digabung ke one shoot fanfic. Toln ong ya..Gomawo.

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: [RPF] MinSun in LOVE
« Reply #7 on: January 31, 2010, 09:36:54 am »
dara, ffnya lom selesai gw baca, klu udah selesai gw edit ya postingan gw  [biggrin]
terus index ff ini udah gw masukin ke tret rules and index .... and spt kata bultang, klu ff ini kurang dr 5 chp digabung ke short ff ya  [biggrin]

edit ============================================

dara, spt kata bultang, ffnya tuh antara satu paragraf dgn paragraf lain sebaiknya dikasih spasi biar ga pusing bacanya  [biggrin] gw tadi ampe pening2 tuh baca ff kamu  [hmpfh] [hmpfh] terus pengambaran karakternya ga ada jadi gw ga begitu tahu sifat dari masing2 castnya  [biggrin] mian ya buat koment gw yg atu ini  [heh]

yg jelas terus semangat deh, ditunggu chp selanjutnya  [bye]
« Last Edit: January 31, 2010, 10:13:56 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline LeeChanSun

  • Newbie
  • *
  • Posts: 13
    • View Profile
Re: [RPF] MinSun in LOVE
« Reply #8 on: January 31, 2010, 07:43:13 pm »
wah, FF nya T.O.P deh..[lovestruk]

Ntar, LMH ma GHS djodohin ea ma bokap'a???
[clap]

Offline cynoer luv minsun

  • Newbie
  • *
  • Posts: 76
  • My lovely couple "MINSUN"
    • View Profile
Re: [RPF] MinSun in LOVE
« Reply #9 on: February 07, 2010, 10:45:04 pm »
thx bgt dara, ff nya top bgt
i like it, ditunggu yw lanjutannya

Offline huey

  • Newbie
  • *
  • Posts: 73
  • bogosipta....saranghae...
  • Location: Semarang
    • View Profile
    • Huey is Coming
Re: [RPF] MinSun in LOVE
« Reply #10 on: September 29, 2010, 10:10:33 pm »
annyeong......  [hmff]

lam kenal smuanyaaa.... [arms]

ff ny bagus, tp karakterny blom jlas... [chin]

ni kpn dlnjutin??? punk

aza...aza.. [smiley-gen013] [smiley-gen013]