Author Topic: [RPF] Minsun ~ Life is Beautiful ~ chapter 9. last update, 04 Agustus 2010  (Read 17722 times)

Offline cynoer luv minsun

  • Newbie
  • *
  • Posts: 76
  • My lovely couple "MINSUN"
    • View Profile
Endreeeeeeeeeeeeeeeeeee gomawo sangat

TOP BGT, lanjutkan yach
cepet2 nh Q dah ga' sabar

Offline Bian

  • Newbie
  • *
  • Posts: 39
    • View Profile
endreee, gud gud hahaha
i like it hehhee [smiley-gen013] [smiley-gen013]
cuma mau tnya nie, geun suk sbnrnya nma nya spa? tae kyung or geun suk ??
or dia cuma ngejain mi nam aja pke nma tae kyung?? [chin]

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
Bian namanya tetep Geun Seuk dia cuman ngerjain Minam aja kok  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] ntar ada kok chapter lanjutan neh couple  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline Bian

  • Newbie
  • *
  • Posts: 39
    • View Profile
 [chin] [smiley-gen013]
gt tah, yo wis i tnggu ya chap brikutny,,, he2x.

Offline IZZ

  • Police
  • Full
  • *****
  • Posts: 271
  • MinSun Is Real ^^
    • View Profile
Thanks ndree udah diupdate ^^
ndreeeee MINSUN nya koq dikit banget malah gak ada kontak sama sekali, hehe..udah kangen ni ma mereka ^^
ahahahaha..bagus ndree dimasukin hyung nim, gw juga suka ma couple ini, couple binkyo juga...
jadi si mino ma geun suk adek kakak, trus hye sun ma shin hye juga adek kakak?? waw..waw..mantabs...

tapi si mino kan aslinya ma geus suk seumuran ya, emang mino kadang dandanannya boros sich ada FF di soompi mino umurnya 29 tahun dan si joonie itu adek sepupunya,padahal kan joonie hyungnya mino wkwkwkwk...

ditunggu chapter selanjutnya yah, oya makasiiiiiiiiiii...chapternya lebih panjang ^^
siggy by endree noona ^^v

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
Izz as u're wish sista  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] daku ampe pusing ngarangnya  [laughing] [laughing] [laughing]

yup yup mang mereka kakak adek disini coz pertimbangannya yah ntu mereka rada mirip n mino muka boros umur  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] bisa di  [head break] [head break] [head break] ma mami neh daku  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

kl minam tuh keponakannya hyesun, hyesun bibi kecilnya tapi dari sodara jauh ceila bingung daku ngomongnya  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] anyway busway tenang aja sista ntar tak buatin full minsun chapter dah  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] kl ini kan masih perkenalan masing2 character + permasalahannya meskipun daku ndiri gak tau udah cukup mengena pa gak  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

gomawo wat kritik n saran2nya buat perbaikan di chapter2 berikutnya  [hug] [hug] [hug]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
noona b,  [head break] [head break] enak aja suamiku dibilang tampang boros, kan aslinya imuittttt banget  [hmpfh] [hmpfh] terus si mino ama geun suk kan beda marga kok bisa jd kakak adik sih  [laughing] [laughing] ..

gw lom baca nih, klu uda dibaca gw edit ya  [smiley-dance013]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
yah mami kan beneran tuh si mino muka boros umur gak kayak bininya  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

emang seh marganya beda namanya juga FF hasil pemaksaan  [laughing] [laughing] [laughing]

okay2 mami ditunggu dah lanjutan FF bengkoknya nah lho  [laughing] [laughing] [laughing]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
CHAPTER 4

“apa… kamu kecopetan ? lalu karena kau mengejar pencopet itu makanya kau tersesat?” Hyesun mencecar Minam dengan pertanyaan setelah mereka sampai dirumah, wajahnya yang putih pucat menjadi merah padam, darah naik di otaknya, kepalanya pusing tidak bisa berfikir jernih. 

“Yah… apa yang kau pikirkan hah, bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu, bagaimana aku harus menjelaskan kepada ayah dan ibumu hah…… kau ini” lanjutnya

Hyesun masih terus mengomel kepada keponakannya itu. Wajahnya merah padam, pandangannya tajam kearah Minam. Minam hanya bisa terdiam dan menundukkan kepalanya. Dia tahu dia salah karena memang sifatnya yang ceroboh dan tidak ingin kalah. Berapa lama mereka terdiam. Hyesun masih menatap tajam kearah Minam yang masih tertunduk. Kemudian dia mulai melihat Minam menangis tersedu-sedu. Hyesun menggigit bibir bawahnya, tadinya dia sangat marah namun setelah dilihatnya Minam yang mulai menangis akhirnya dia menjadi tidak tega dan sedikit melunak.

“Unnie… miane…cheongmal miane… aku… aku tahu aku salah, kumohon unnie jangan marah” seru Minam lagi masih terisak-isak. Pipi dan hidungnya menjadi merah seperti tomat. Perlahan Hyesun mendekati Minam, dipeluknya keponakannya itu , sambil mengusap-usap kepalanya.

“Sudahlah, unnie tidak marah padamu, unnie hanya khawatir, maaf aku sudah agak keras padamu” Hyesun berbicara sambil menatap Minam. Di letakkannya kedua tangannya di wajah keponakannya itu. Lalu dia tersenyum. Minam juga balas tersenyum. Minam menggeleng-gelengkan kepalanya pelan “Tidak unnie kau memang berhak memarahiku, aku memang ceroboh dan emosian” masih terisak.

“Kalau begitu mulai sekarang kau harus berjanji tidak akan melakukannya lagi, mengejar pencopet, kau tahu, kau sudah membuat aku jantungan. Lebih baik aku kehilangan semua uangku daripada aku harus melihatmu kenapa-napa” Hyesun berbicara kali ini dengan nada bijaksana, senyumannya menenangkan hati Minam.

Minam yang mendengarnya menjadi terharu. Dia sangat sayang sekali dengan bibi kecilnya ini karena dimatanya  bibinya ini orang yang sabar, dia tahu sekali kalau bibinya marah itupun karena dia salah. Mereka sangat akrab, sejak kecil Minam dan Hyesun selalu bersama-sama. Hyesun orang yang selalu menghiburnya dan selalu ada disampingnya saat dia membutuhkan teman untuk berbagi. Sebagai anak tunggal dia sering merasa kesepian saat orang tuanya sibuk bekerja. Karena itu saat dia mendengar Hyesun pulang ke Korea tanpa pikir panjang diapun langsung menyusul bibinya itu. Orang tuanya yang tahu kedekatan mereka tidak bisa menghalangi putrinya ini karena mereka tahu kalau putrinya ini sangat keras kepala dan tidak bisa dilawan jika sudah menginginkan sesuatu.

“Sudahlah cepat pergi tidur, hari sudah malam besok aku harus bangun pagi”

“Iya unnie… gomawo” sahut Minam. Sesaat kemudian diapun beranjak ke kamarnya.

“Minam-ssi sebelum tidur jangan lupa telepon paman dan bibi dulu” Hyesun tiba-tiba berteriak kearah Minam yang sudah berada di tangga. Minam membalikkan badannya dan hanya mengangguk kearah bibinya itu. Kemudian diapun berlalu menuju ke lantai atas.

Sampai dikamarnya direbahkannya dirinya di kasur. Pikirannya kembali melayang ke kejadian yang baru dialaminya tadi. Tadinya dia ingin memberikan kejutan kepada bibinya dengan tidak mengabarkan kedatangannya. Barang-barangnya dikirimkan terlebih dahulu. Dia ingin menikmati suasana kota Seoul yang sudah lama dia tinggalkan karena mengikuti ayah dan ibunya yang berkerja di luar negeri.

Saat dia tengah menikmati jalan-jalan santainya tiba-tiba tasnya dijambret dari belakang. Minam yang kaget kemudian ikut mengejar copet itu tadi. Dia berlari sekuat tenaga. Sial baginya tempat dia berjalan tidak terlalu ramai sehingga pencopet itu berhasil lolos. Saat Minam sudah kehabisan nafasnya, mendadak dia sadar kalau dia sudah berada di tempat yang asing.

Dengan langkah gontai dia berjalan, bingung dirasakannya. Sekarang dia sedang berdiri di sebuah taman dipinggiran kota, suasananya sangat sepi dan sedikit menyeramkan. Dia merinding. Tapi segera dihapuskannya pikiran-pikiran yang menyeramkan itu dari otaknya. Saat dia berjalan ingin mencari bantuan itulah tiba-tiba kepalanya terantuk sesuatu sebuah kaleng.

Lama dia melamun di atas kasurnya, tiba-tiba dia teringat kembali pemuda itu yang mencium pipinya. Matanya terbelalak diusap-usapnya lagi wajahnya. “sial.. kenapa aku teringat orang aneh itu lagi, Tae Kyung” gumamnya pelan sambil menepuk nepuk pipinya.

“Aaarrrrggghhh…..” pemuda itu sungguh tidak sopan. Gumamnya lagi namun dia tersenyum kecil saat terbayang lagi pemuda itu. “Oh, Minam ada apa denganmu, kau sudah gila . Yah!!!  apa kau suka dengan dia… iya aku pasti sudah gila” Minam kembali bicara kepada dirinya sendiri. Sebentar kemudian dia menuju ke kamar mandi. Dibasuhnya wajahnya dan menggosok giginya. Kemudian diapun memutuskan untuk mandi sebelum tidur.

06.00 pagi ……..

Minho terbangun di sofa, alih-alih tertidur dia malah tidak bisa tidur sama sekali. Pikirannya dipenuhi oleh adiknya. Jauh di dalam hatinya dia sangat menyesal dengan sikapnya kemarin tetapi diwaktu yang sama dia juga merasa kesal dengan adiknya itu.

Kemudian dia berjalan ke kamar mandi, mencuci muka dan menggosok gigi. 10 menit kemudian dia sudah bersiap untuk pergi ke tempat Pak Kim. Seperti biasanya dikayuhnya sepedanya. Cuaca hari ini sedikit mendung dan agak dingin. Saat dia sampai disebuah jembatan mendadak dia menghentikan sepedanya. Matanya memandang ke arah seorang gadis yang juga tengah berada di jembatan itu.

“Aaaaaa…. Kenapa harus mendung sih, padahal kan aku sudah cape-cape datang dan rela bangun pagi kesini” gadis itu berbicara sendiri sedikit kesal. Minho masih memandang gadis itu. Gadis itu kemudian menoleh ke arah Minho yang sedang melihatnya dan terkejut dengan kehadiran Minho dsana.

“Kau….” seru gadis itu “Lee… Min… Ho… kan” serunya lagi.

Minho yang tersadar akhirnya ingat, gadis itu gadis yang hampir membuatnya kehilangan nyawa kemarin. Sejenak dia merasa heran apa yang dilakukan gadis itu pagi-pagi buta begini di atas jembatan. Dilihatnya lagi gadis itu dengan pandangan menyidik, pikiran buruk menghantui dirinya tentang gadis itu.

“Yah… apa…apa yang kau lakukan disini” katanya terbata-bata “Kau…kau tidak bermaksud untuk..untuk…” Minho tidak melanjutkan kata-katanya wajahnya tiba-tiba menjadi pucat.

Hyesun yang melihat Minho ikut merasa heran dengan tingkah Minho. Sejenak dia berpikir kemudian dia tertawa seolah-olah bisa menebak apa yang dipikirkan oleh Minho.

“Hahaaha… kau pikir aku akan melompat ke bawah begitu” serunya tertawa. Matanya yang lebar sampai menyipit menahan tertawanya. Minho menjadi salah tingkah. Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“eee…. lalu apa yang kau lakukan disini hah, pagi-pagi buta di atas jembatan, kalaupun ada orang lewat selain aku pasti mereka juga akan berpikir sepertiku” sahut Minho berusaha membela dirinya.

“Aku?? Hmm, aku hanya ingin melihat matahari terbit yang pertama kali semenjak aku menginjakkan kakiku di Seoul ini kau tahu”

“Tapi ternyata suasananya tidak mendukung sama sekali.. benar-benar sial” lanjut Hyesun lagi. Minho hanya tersenyum kecil dia merasa sedikit geli karena sudah berpikir yang bukan-bukan

Klik……..

Minho terkejut, gadis itu mengambil fotonya dengan kamera Polaroid yang dia letakkan di pangkuannya.

“Kau… kenapa kau…” Minho tampak kebingungan bercampur malu membayangkan wajahnya sendiri

“Karena kau tersenyum” Hyesun berbicara lembut kepada Minho dan tersenyum, tiba2 wajahnya terasa hangat dia merunduk tidak berani menatap Hyesun. “Setidaknya, aku mendapatkan obyek pertamaku hari ini menggantikan mentari yang masih enggan tersenyum padaku hari ini” Lanjut Hyesun lagi sambil memperlihatkan foto itu sekilas. Minho yang masih bingung hanya bisa berdiri terpaku. Kembali digaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Hey, kau mau kemana Minho-ssi” Hyesun kembali bicara kepadanya.

“Aku mau pergi bekerja” Minho hanya menjawab datar “Oh.. aku pergi dulu” sahutnya lagi. Kemudian diapun pergi meninggalkan Hyesun dan mengayuh sepedanya ke tempat Pak Kim. Gadis yang aneh gumam Minho dalam hati. Hyesun hanya melihat saja Minho yang berlalu. Sejenak kemudian diapun ikut pergi.

“Pagi pak Kim” seru Minho sesampainya di tempat pak Kim. Seutas senyuman tersungging di wajahnya. Pak Kim yang melihatnya balas tersenyum.

“Pagi nak, bagaimana kabarmu hari ini apa kau sudah pergi ke café yang aku beritahukan kemarin” Pak Kim bertanya kepada Minho

“Sudah pak dan aku mulai bekerja besok” jawab Minho masih tersenyum. Ditangannya sudah ada sekeranjang susu dan koran yang harus dia kirimkan hari ini. “Tapi aku masih akan bekerja disini saat pagi pak” lanjut Minho lagi “Kalau bapak masih membutuhkanku tentunya”

Pak Kim yang mendengarnya hanya tersenyum “Tentu saja nak, lakukan sesukamu” jawab pria setengah baya itu.  Setelah berpamitan terlebih dahulu Minho pun kemudian berlalu.

Sementara itu ditempat yang lain

“Hei bocah nakal, jam berapa ini ayo cepat bangun kau tidak pergi sekolah” suara seorang wanita membangunkan Geun Seuk yang tertidur di sebuah sofa.

“Oh…Auntie kau sudah pulang” Geun Seuk masih setengah terbangun, matanya masih menyipit. Sejenak kemudian dia terbangun lalu terduduk di sofa.

“Auntie kepalamu….memang sejak kapan aku sudah jadi setua itu” wanita itu bersungut-sungut ke arah Geun Seuk. Disulutnya sebatang rokok kemudian dia duduk di sebuah bar stood di apartemennya. Geun Seuk yang mendengarnya hanya tertawa kecil melihat kekesalan wanita itu.

“Masih lebih baik aku panggil kau auntie daripada ahjuma ato granny” Geun Seuk masih terus menggoda wanita itu.

“Yah, bukanya aku sudah bilang padamu panggil aku noona…N.O.O.N.A araso” sahut wanita itu lagi. Geun Seuk yang berhasil menggoda wanita tertawa puas melihatnya.

“aaa araso..araso auntie ups I mean my Jun Hee noona” Geun Seuk masih tertawa. Jun Hee hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Geun Seuk.

“Sudah cepat pergi nanti kau terlambat lagi” seru Jun Hee. “Lagipula aku mau tidur aku capek, woaaaaaa” Jun Hee menutup mulutnya yang menguap kemudian berjalan menuju kamarnya, dari dalam kamar dia sempat berteriak ke arah Geun Seuk  “Untuk sarapan seperti biasa saja”.


Sejenak kemudian Geun Seuk bangkit dari sofa. Dia menuju ke kamar mandi untuk bersiap-siap ke sekolah seperti biasa. Sudah 2 bulan ini dia tinggal di apartment milik Jun Hee. Bergantian dengan Jun Hee, Geun Seuk hanya ke sana pas malam hari saja karena pada malam hari, Jun Hee bekerja di sebuah bar sebagai penyanyi dan bartender disana sampai pagi.

10 menit kemudian dia sudah bersiap untuk berangkat, sebelumnya dia membuat kopi di coffee maker dan memanggang beberapa roti. Dia selalu melakukan itu sebelum pergi. Diambilnya sekotak juice yang ada di kulkas, mulutnya masih menggigit salah satu roti panggangnya sementara dia menyiapkan yang lain. Kemudian diapun keluar menuju ke sekolahnya yang letaknya tidak seberapa jauh dari apartemen itu.

Scene berpindah lagi ke Minho

Setelah selesai dengan tugasnya dan berpamitan pada Pak Kim, Minho pun melanjtkan harinya ke Construction Site dimana dia bekerja sebelumnya. Hari ini dia juga ingin berpamitan kepada Won Bin Sunbae karena mulai besok dia akan bekerja di café Manolin. Hari itu cuaca masih agak mendung namun tidak hujan.

Sesampainya disana dia segera mencari Won Bin. Didapatinya seniornya itu disalah satu sudut bangunan memeriksa konstruksi yang masih setengah jadi. Minho pun mendekati Won Bin yang masih berjongkok mengecek konstruksi pagar.


“Anyong, sunbae-nim” suara Minho mengejutkan Won Bin. Kepalanya menoleh ke arah suara itu. Minho berdiri dibelakangnya, diwajahnya tersungging sebuah senyuman. Won Bin yang melihatnya seperti itu agak bingung campur kaget karena tidak biasanya Minho bersikap seperti itu. Sesaat kemudian dia bangkit.

“Oh Minho kau sudah datang” Won Bin tersenyum. “Hmmm, melihat senyummu hari ini sepertinya ada sesuatu yang baik yang terjadikan?” Rasa penasaran mulai merasuki Won Bin, seingatnya baru kali ini dilihatnya Minho tersenyum lebar seperti itu.

“Ahniyo sunbae aku hanya ingin memberitahumu sesuatu, sepulang kerja nanti bisakah kita bicara, maaf aku kemarin tidak bisa minum denganmu karena aku harus menjenguk ibuku” sahut minho dengan nada menyesal.

“Hahaha, gwenchana, aku mengerti kok lagipula kau kan sudah menelponku kemarin” sahut Won Bin menepuk pundak Minho. “Baiklah nanti pulang kerja kita ke tempat langgananku” sahutnya lagi.

“Gomawo sunbae, kalau begitu aku permisi dulu” sahut Minho tersenyum. Kemudian diapun pergi bekerja seperti biasa. Hari itu entah kenapa dia menjadi semangat bekerja, walaupun cuaca mendung, sama sekali tidak mengganggunya. Dia tetap menjalani pekerjaannya dengan semangat.

Di kediaman Goo

“Unnie… kau kemana saja, pagi-pagi kau sudah pergi kau bahkan melewatkan sarapanmu” Minam langsung nyerocos begitu melihat bibinya yang baru datang itu. Hyesun yang melihat Minam hanya tersenyum penuh misteri kepada Minam dan berhasil membuat Minam penasaran setengah mati. Masih dengan cueknya dan tidak memperdulikan Minam, Hyesun malah menuju ke kamarnya. Dikayuhnya kursi roda dengan kedua tangannya. Melihatnya Minam lalu berlari ke arahnya dan membantunya mendorong dari belakang.

“Gomawo dongsaeng” seru Hyesun masih tersenyum. Sesampainya mereka di kamar, Hyesun lantas meletakkan kamera Polaroid yang sejak tadi di pangkunya. Minam hanya memperhatikan tingkah bibinya itu, kemudian matanya menangkap sesuatu.

“Aigoo, tampan sekali dia” Seru Minam melihat sebuah foto Polaroid yang diletakkan oleh Hyesun di meja kamarnya. “Unnie… siapa dia pacarmu yah” Minam tersenyum penuh arti kepada Hyesun.

“Aneyo… dia hanya orang yang kebetulan kutemui pagi ini” kata Hyesun malu-malu. Kemudian dikeluarkannya beberapa lembar foto Polaroid lain dari saku jaketnya. Minam melihat satu persatu gambar-gambar hasil jepretan bibinya itu dan berdecak kagum.

“Unnie, kau seharusnya menjadi fotografer saja” Gumam Minam masih melihat satu persatu foto itu.

“Kau ini bicara apa, aku hanya iseng tau. Bagaimana bisa menjadi seorang fotografer kalau hanya bermodal kamera Polaroid saja” sahut Hyesun malu-malu. Sejenak kemudian dia mengeluarkan sebuah album foto dari rak buku yang ada di mejanya. Ditatanya satu per satu foto itu di dalam album, senyuman kecil menghiasi bibirnya, Minam hanya memperhatikan bibinya saja tanpa bermaksud membantunya karena dia tidak ingin mengganggu kesenangan Hyesun. Setelah selesai dengan semua foto hari ini Hyesun pun meletakkan kembali album tersebut di tempatnya semula. Kemudian pandangannya ke arah Minam yang sedang duduk di tepi kasurnya.

“Dongsaeng, apa rencanamu hari ini” katanya

“Tidak ada unnie aku masih kosong, memangnya kenapa?”  balas Minam menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kalau kau tidak ada acara bagaimana kalau kau menemaniku ke cafénya Kyo unnie, lagipula kau juga belum bertemu dengan Kyo unnie kan”  lanjut Hyesun lagi.

“Ah, iya hampir saja aku melupakan Kyo unnie hahaha, baiklah unnie kapan kita berangkat, sekarang nanti” seru Minam semangat. Hyesun yang melihat tingkah keponakannya ini hanya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya saja.

Manolin café siang itu….

Siang itu masih agak sepi hanya beberapa pengunjung di café yang tengah menikmati makan siang atau sekedar bersantai sambil minum kopi. Hari itu cuaca memang sedang mendung dan hujan meskipun tidak deras namun cukup mendinginkan suasana. Hyesun dan Minam sampai di Manolin Café. Hye Kyo yang melihat kedatangan mereka terutama melihat Minam sangat terkejut karena mereka sudah sangat lama tidak bertemu. Kemudian mereka memilih duduk sambil berbincang santai disalah satu sudut café itu. Hye Kyo menghidangkan beberapa cake favorite adik dan keponakannya itu serta segelas coklat hangat untuk teman berbincang mereka.

Minam melihat ke sekitarnya, dia terkagum-kagum dengan desain dan interior café itu terutama lukisan-lukisan milik Hyesun yang dipajang disana.

“Minam-ssi kapan kau datang, kenapa tidak memberitahuku. Dasar kalian berdua ini memang suka sekali mengejutkan aku” Hye Kyo bertanya pada Minam yang masih sibuk memperhatikan sekitarnya.

“Oh Kyo unnie aku baru datang kemarin malam jadinya aku tidak sempat ketemu langsung karena Hyesun unnie bilang kau sekarang tinggal disini” jawab Minam. Senyuman tersungging dibibirnya.

Hye Kyo : “Lalu apa rencanamu, sampai kapan kau akan tinggal disini, bagaimana dengan sekolahmu”

“Oh yah aku belum memberitahu Sun unnie dan Kyo unnie kalau mulai sekarang aku akan tinggal dan bersekolah disini” seru Minam tiba-tiba. Hyesun yang sedang menyeruput coklat hangatnya sangat kaget mendengar pernyataan Minam yang tiba-tiba itu, hampir saja dia menumpahkan coklatnya.

“Mwo…. Apa kau bilang” seru Hyesun kepada Minam sedikit terbatuk-batuk karena tersedak.

“Iya, mulai sekarang aku akan tinggal dengan kalian dan bersekolah disini” Minam masih dengan tampang polosnya memandang kedua bibinya itu bergantian lalu tersenyum lebar. Hye Sun dan Hye Kyo hanya bisa saling memandang sebelum akhirnya Hye Kyo berbicara kembali pada Minam.

“Lalu bagaimana dengan ayah dan ibumu sayang, apa mereka sudah tahu rencanamu ini” kata Hye Kyo. Alisnya terangkat masih penasaran dengan jawaban Minam.

“Minam-ssi, kapan kau memutuskan hal itu” seru Hyesun menimpali perkataan kakaknya. Minam masih terdiam dan berpikir.

“Aku memutuskannya tadi pagi unnie dan aku sudah menelpon ayah dan ibu dan mereka juga sudah setuju” jawab Minam polos. Hye Sun dan Hye Kyo lagi-lagi hanya bisa saling memandang, mereka hanya menghela nafasnya tidak begitu kaget karena mereka sudah tahu betul karakter keponakan mereka itu yang selalu berbuat spontan dan tidak bisa dilawan kalau sudah memutuskan sesuatu.

“Lalu, apa kau sudah memilih sekolah yang akan kau tuju nanti” kali ini Hye Sun yang berbicara kepada Minam.

“Belum” Minam hanya menjawab pendek, masih dengan tampang polosnya. “Sudah kuduga” Hye Kyo memandang ke arah Hye Sun, mereka berduapun tertawa.

“Kyo unnie, kenapa tidak ada piano disini” Minam tiba-tiba bertanya kepada Hye Kyo. Hye Kyo memandang ke Hyesun yang hanya mengangkat kedua bahunya.

“Piano?? Kau ingin bermain piano disini?? Kenapa, bukannya dirumah juga sudah ada dongsaeng” Hyesun menjawab pertanyaan Minam dengan ragu. Namun kemudian dia tersenyum ke arah Hye Kyo.

“Kyo unnie kurasa ide Minam bagus juga” tiba-tiba Hyesun berbicara. Kali ini Hye Kyo yang ganti bingung. Di pandanginya Minam dan Hye Sun satu persatu.

“Maksud kalian, kita buat sebuah panggung untuk piano dan kalian berdua yang akan memainkannya begitu” Hye Kyo bertanya kepada Minam dan Hyesun.

“Kyo unnie, ide yang bagus itu dan akan lebih baik lagi kalau ada live bandnya, seperti kebanyakan café di eropa” Minam menyahut semangat.

“Minam-ssi, siapa yang akan bermain band disini nantinya, kau ini ada-ada saja” Hye Kyo tertawa geli melihat Minam yang cemberut. “ah sudahlah, aku pikir-pikir dulu deh nanti aku bicarakan dengan Hyun Bin oppa” lanjut Hye Kyo. Hyesun yang mendengarnya hanya tersenyum, dia menyeruput minumannya sedangkan Minam terlihat lebih semangat menanggapi idenya itu, setengah merajuk kepada Hye Kyo. Kemudian merekapun larut dalam pembicaraan-pembicaraan lainnya sambil menikmati makanan dan minuman mereka dan bersantai di sana.

Malam itu disebuah bar dipinggir kota, Minho dan Wonbin tengah bersantai sambil minum beberapa gelas soju. Sebuah bar yang tidak seberapa besar namun cukup nyaman. Ornamennya minimalis. Sebuah panggung kecil live music terdapat di sudut bar tersebut. Suasana masih sepi hanya ada beberapa pengunjung disana. Lama Minho hanya terdiam hanya memperhatikan sekitarnya. Sesekali dia dan Won Bin berbicara membahas bar itu dan tertawa kecil sampai seorang wanita yang juga bartender di bar itu datang menghampiri dan menyapa mereka. 


“Hai, tampan bagaimana kabarmu? Tumben kau kemari?” wanita itu berbicara kepada mereka sambil tersenyum

“Ah, Jun Hee-ssi. Kabar baik, kebetulan hari ini aku ingin mampir kemari jadi aku ajak saja sekalian temanku” Won Bin bicara sambil melirik kearah Minho.
Minho yang agak malu-malu kemudian memperkenalkan dirinya kepada Jun Hee. “Anyong” katanya pendek sambil menjabat tangan Jun Hee.

“Jun Hee-ssi, kenalkan ini Minho, Minho dia Jun Hee penyanyi sekaligus bartender dan juga pemilik tempat ini” Won Bin memperkenalkan mereka. “Jun Hee ini dia penyanyi yang hebat, suaranya sangat dahsyat kau pasti tergila-gila kalau mendengar suaranya” Lanjut Won Bin tertawa ke arah Jun Hee.

“Kau ini bisa saja, kalau aku sehebat itu pasti aku sekarang sudah jadi penyanyi terkenal” kali ini Jun Hee menyahut sambil tertawa kecil. Minho hanya memperhatikan mereka berdua dan tersenyum melihat tingkah mereka.

“Hei, kenapa kau belum bernyanyi. Ayolah aku sudah kangen ingin mendengarkan nyanyianmu” sahut Won Bin lagi. Jun Hee tersenyum kepada Won Bin. “Boleh saja, asal kau yang menemaniku bermain” kali ini Jun Hee tersenyum menggoda Won Bin.

“Go sunbae, aza” Minho pun ikut menggoda Won Bin, kembali dia tertawa kecil. Won Bin hanya tertawa, Jun Hee menarik tangan Won Bin kemudian merekapun berjalan kearah panggung live music. Jun Hee memberikan sebuah saxophone kepada Won Bin dan Won Bin menerimanya, kemudian Jun Hee pun mulai menyanyikan lagu I know nothing else but love dengan diiringi saxophone oleh Won Bin.

geudae naegyeote seon sungan / The moment you stood next to me
geu nunbichi neomu joha / I liked the ways your eyes looked (at me)

eojeneun ureotjiman / Though I cried yesterday,
oneureun dangsinttaeme / today because of you
naeireun haengbokhalkkeoya / My tomorrow will be happy.

eolguldo ani meotdo ani ani / Neither his face nor his style
budeureoun sarangmani pillyohaesseoyo / I just needed his tender love

jinagan sewol modu ijeobeorige / To forget all the time that has passed
dangsin eobsin amu geotdo ijenhal su eobseo / I can now no longer do anything without you

sarangbakken nan molla / I know nothing else but love


Minho dan beberapa pengunjung yang ada dsana ikut terlarut dalam nyanyian Jun Hee, agak kaget juga dia melihat sunbaenya yang ternyata juga mahir memainkan saxophone. Sedikit terhanyut oleh suasana itu sampi tidak sadar ketika mereka selesai bermain. Tepuk tangan meriah menyadarkan Minho dari lamunannya.

“Wah, sunbae ternyata kau jago juga, aku baru tahu” Minho menatap Won Bin dan tersenyum ketika Won Bin menghampirinya. “Salah satu kepribadianku yang lain” Won Bin menjawab pertanyaan Minho dan tertawa. “Dia selalu saja begitu, merendahkan diri untuk meningkatkan mutu” Jun Hee menimpali jawaban Won Bin. “Padahal permainan dia tidak kalah dengan master dunia lainnya” Kali ini Jun Hee tertawa menggoda Won Bin. “Ah, sudahlah. Kalian lanjutkan saja aku harus melayani tamu-tamuku yang lain” Jun Hee kembali bicara dan berpamitan kepada kedua lelaki yang ada di depannya “Minho-ssi enjoy your drink” Jun Hee bicara kepada Minho yang hanya tersenyum “Gomawo noona” sahutnya.

Won Bin dan Minho pun kembali menikmati soju mereka dan menikmati beberapa batang rokoknya sampai kemudian Minho berbicara kepada Won Bin tentang pekerjaan barunya. Won Bin awalnya terkejut namun setelah itu dia tersenyum dan memberikan dukungannya kepada Minho. Tidak terasa 3 jam berlalu merekapun kemudian berpamitan kepada Jun Hee.

“Nomu… kamsahamnida! ” Minho berterima kasih kepada Won Bin saat mereka sudah berada di Halte Bus. “Anieyo, kau tidak perlu berterima kasih seperti itu, aku ikut senang kalau kau bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik Chuka duimnida Minho-ssi, Hangunul bimnida!” Won Bin menepuk pundak Minho bangga. “Kalau ada yang bisa aku bantu, jangan pernah sungkan-sungkan memintanya padaku kau selalu tahu dimana menemukanku” kembali Won Bin tersenyum.

“Iye, kamsahamnida” Minho kembali mengucapkan terima kasih dan membungkukkan badannya kepada Won Bin, mereka berdua tersenyum kemudian mereka pun berpisah.

Pagi itu setelah sebelumnya mengantar susu dan koran seperti biasanya, Minho pun bersiap-siap pergi ke tempat kerjanya yang baru di café manolin. Saat dia keluar rumah dan menuruni tangga apartemennya dilihatnya Bo Young berdiri di depan halaman apartemennya. Saat dia melihat Minho kemudian diapun berjalan mendekati Minho

“Anyong haseyo, Minho oppa” Bo Young tersenyum kepada Minho. Minhopun membalas senyumannya.

“Bo Young-ssi, ada apa tumben pagi-pagi kau kemari” Minho bertanya kepada Bo Young.

“Oppa kudengar mulai hari ini kau akan bekerja di café, aku datang membawakan bekal makan siang untukmu” kembali Bo Young tersenyum dan menyodorkan bekal makanan kepada Minho.

“Yah, sudah kubilang kau tidak perlu repot-repot seperti itu” Minho kembali menimpali. Dia hanya berdiri tidak menerima bekal yang dibawa oleh Bo Young. Bo Young menjadi cemberut melihat Minho yang tidak mau menerima bekalnya. Dia hanya diam tangannya masih menyodorkan bekal makanan itu bibirnya cemberut. Minho yang melihatnya menjadi serba salah kemudian dengan agak terpaksa dia menerima kotak bekal yang disodorkan oleh Bo Young.

“Baiklah kali ini aku terima, tapi tolong jangan lakukan lagi, araso” Minho berbicara dengan nada suara datar ke arah Bo Young yang tersenyum puas. Kemudian Minhopun berpamitan kepada Bo Young karena takut terlambat ke tempat kerjanya. “Minho Oppa, aza..aza.. fighting” Bo Young berteriak menyemangati Minho, Minho hanya tersenyum “Cepat pulang” sahutnya kemudian berlalu.

Pagi itu di Manolin café, Minho yang sudah datang kemudian pergi menemui Hye Kyo yang menjadi manajer disana dan melaporkan kedatangannya untuk bekerja. Hye Kyo yang melihat kedatangan Minho kemudian memberikan sedikit pengarahan kepada Minho tentang tugas-tugasnya dan menjelaskan kalau nanti dia akan dibantu oleh seseorang untuk beberapa hal karena Hye Kyo akan pergi keluar kota selama satu bulan. Minho mendengarkan penjelasannya dengan seksama sampai kemudian Hye Sun datang mendekati mereka.

“Sun-a, kau sudah datang cepat kemari” Hye Kyo berteriak kearah Hyesun. Minho pun menoleh ke belakang dan dilihatnya Hyesun “Kau….” Minho terkejut begitu juga Hyesun. “Ah, Minho-ssi” Hyesun tersenyum kaget melihat Minho. “Kalian sudah kenal??” Tanya Hye Kyo kepada Hyesun ragu-ragu.

“I..iya, kira-kira begitulah” Hyesun hanya menjawab sekilas dan tersenyum penuh misteri ke Hye Kyo.

“Oh… baguslah kalau begitu, jadi aku tidak perlu repot-repot mengenalkanmu lagi, Minho-ssi mulai hari ini dia akan jadi partner kerjamu, dia adalah wakil manajer yang akan menggantikan aku selama aku pergi, kenalkan adikku Goo Hye Sun” Hye Kyo berbicara kepada Minho yang mendadak bengong dan tidak bisa berkata-kata.

“Anyong haseyo, Minho-ssi, mohon kerjasamanya” Hyesun berbicara sambil membungkukkan badannya. “ah anyong….haseyo Goo hye..sun agashi”  Minho menjawab dengan canggung. “Ah panggil saja Hyesun jangan terlalu formal, biasa saja lagipula aku juga masih baru disini jadi mohon bimbingannya” Hyesun menyahut sambil tersenyum kepada Minho. Ditatapnya pemuda dihadapannya itu, Hyesun mulai merasa kagum melihat pemuda di depannya itu, tinggi dan tampan, Minho yang dipandangi seperti itu hanya bisa menunduk malu.

“ehm… ehm…” Hye Kyo berdehem mengagetkan keduanya. “Kalau begitu sudah clear sekarang, Sun-ah tunjukkan pada Minho-ssi café ini dan apa saja yang harus dia kerjakan, Minho-ssi hari ini kau masih training, adikku akan menjadi pembimbingmu hari ini karena kebetulan partner kerjamu si Seung Gi sedang cuti” Hye Kyo berbicara melihat kearah Minho kemudian kearah Hye Sun sambil tersenyum menggoda. Hyesun hanya bisa melotot kearah kakaknya itu, mendadak dia merasa canggung kemudian diapun tersenyum kearah Minho.
 
“eh, Minho-ssi ikut aku” Hyesun berbicara pelan dia tidak berani menatap wajah Minho, kemudian mereka berduapun berlalu setelah sebelumnya berpamitan kepada Hye Kyo. Hye Kyo yang menatap punggung mereka hanya tersenyum geli melihat adiknya yang salah tingkah itu. Setelah itu merekapun berkeliling café itu, Hyesun menjelaskan kepada Minho tiap2 ruangan yang ada disana kemudian merekapun sampai di lantai bawah melalui lift yang memang ada di rumah itu.

Lantai bawah bangunan café Manolin adalah galeri lukisan, lukisan-lukisan karya hyesun dipasang disana. Minho memperhatikan satu persatu lukisan yang di pasang disana, dia terkagum-kagum melihat lukisan-lukisan yang dipasang disana sampai kemudian matanya tertuju kepada sebuah plat nama yang ada dalam sebuah lukisan dan nama si pelukis adalah Hyesun sendiri. Matanya terbelalak tidak percaya “Mwoooo,,, kau yang melukis semua ini??” Minho bertanya dengan nada heran bercampur kagum. Hyesun hanya tersenyum tidak menjawab pertanyaan Minho.  “Wah kau sungguh berbakat Hyesun agashi” Minho kembali bicara dengan polosnya.

“Yah,,, sudah kubilang jangan panggil aku agashi panggil saja aku Hyesun araso”
“Ruangan ini adalah galeri lukisan tapi nantinya akan ada sebuah piano, jadi semacam lounge kalau pengunjung ingin bersantai sambil menikmati music atau mereka mau bermain music mereka akan ditempatkan disini” Hyesun mencoba mengalihkan perhatian Minho. “Ruangan di lantai paling atas adalah ruangan karyawan, kalau kau ingin istirahat atau makan siang kau bisa gunakan ruangan itu” lanjutnya lagi.  Minho hanya mengangguk-anggukkan kepala saat mendengarkan penjelasan Hyesun. “Oya kudengar kau pernah menjadi barista di sebuah café” Hyesun spontan bertanya kepada Minho yang masih sibuk memperhatikan ruang galeri.

“Iye… aku memang pernah bekerja menjadi barista tapi tidak lama” sahutnya pelan kepada Hyesun

“memangnya kenapa…?” Minho balik bertanya kepada Hyesun

“Oh…tidak apa-apa, berarti kau sudah bisa menyajikan kopi? Aku tidak perlu repot-repot mengajarimu kan” lanjut Hyesun tersenyum ke arah Minho

“Aku hanya bisa membuat ice coffee saja, kalau coffee latte atau semacamnya aku masih belum bisa jadi anda harus mengajariku” sahut Minho tersenyum kecil.

“Oh.. begitu yah.. hehehe…” Hyesun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Anda baik-baik saja” Minho menatap Hyesun heran.

“ah… tidak.. maksudku iya… aku baik-baik saja hehehe” Hyesun menyahut pelan kemudian perlahan meninggalkan Minho. “Minho-ssi…ayo” Hyesun memanggil Minho, kemudian Minho pun mengikuti Hyesun dibelakangnya. Hari itu Hyesun memberikan pengarahan kepada Minho tentang semua yang menjadi tugas-tugasnya mulai dari menyambut tamu sampai menyajikan coffee latte. “Tugasmu adalah membuat kopi dan segala hal yang berhubungan dengan kopi itu saja untuk cake dan makanan itu pekerjaan si Seung Gi”

Minho mencatat semua yang harus dia lakukan di otaknya. “Yang paling penting dalam menyambut tamu adalah dengan memberikan mereka senyuman” Hyesun kembali menimpali dia melihat kearah Minho. “Coba kau praktekkan sekarang yang sudah aku ajarkan tadi”. “Anggap saja aku sebagai tamu disini” Sahut Hyesun lagi tersenyum.

Minho yang sedikit malu-malu dan sedikit canggung akhirnya mulai mempraktekkan hasil les kilat Hyesun.

“Selamat datang….” badannya membungkuk “Mari ikuti saya”. Minho masih dengan nada datar dan sedikit canggung. Hyesun mengernyitkan kedua alisnya. “Yah,, mana senyumannya… senyum…aza” Hyesun tertawa menggoda Minho sementara Minho hanya bisa salah tingkah dan menunduk malu.  Kemudian diapun mengulangi “Selamat datang…. mari ikuti saya”. Tersenyum canggung. Hye Kyo yang memperhatikan adiknya dari jauh ikut tersenyum geli melihat Hyesun yang terus menggoda Minho karena senyumannya yang canggung.

“Yah… sudahlah kau ini, kenapa susah sekali untuk tersenyum tulus” Hyesun berbicara kepada Minho lembut, sementara Minho hanya diam. Minho sudah akan membuka mulutnya tiba-tiba hyesun menyahut “aush… pokoknya kau harus terus belajar araso” Hyesun terus menggoda Minho. Dia tertawa, wajahnya terlihat sangat cantik saat tertawa, bibirnya yang mungil dan berwarna merah serta deretan gigi putihnya yang rapi membuat Minho tersipu.

Kemudian Hyesun pun melanjutkan pelajarannya. Mereka kini menuju ke dapur. Hyesun mengajari Minho menyajikan kopi dengan latte dia mempraktekkan keahliannya mengukir gambar di cangkir berisi kopi. Minho memperhatikan dengan detil sesekali dia mempraktekkan seperti yang diajarkan oleh Hyesun.
“Kelihatannya mudah tapi sangat susah” gumannya pelan. “Tidak usah buru-buru aku dulu juga perlu waktu seminggu untuk menguasainya” sahut Hyesun melihat kebingungan Minho. “Aku akan mengajarimu pelan-pelan sampai kau bisa” sahutnya lagi. Kali ini dia menggambar sebuah bunga di atas kopi. Minho melihatnya lagi dengan seksama memperhatikan gerakan tangan Hyesun yang mulai menuangkan cream ke dalam kopi sampai membentuk sebuah bunga dan kepala panda di cangkir yang lain.


Ayo sekarang giliranmu. Hyesun mempersilahkan Minho. Diambilnya creamer kemudian dituangkan sedikit-demi sedikit ke kopi itu dan masih gagal. “Coba lagi” Hyesun bicara lembut sambil tersenyum. Minho kembali mencobanya, tiba-tiba Hyesun meletakkan tangannya diatas tangan Minho dan mengarahkannya. Minho terkejut. Dilihatnya Hyesun yang berkonsentrasi menggambar, dia tidak tahu kalau Minho memperhatikannya karena posisinya yang duduk sementara Minho berdiri disampingnya. “Nah… sudah selesai, lihat mudah kan” seru Hyesun senang. Minho yang tadinya bengong perlahan melepas tangan Hyesun, wajahnya memerah karena malu, jantungnya berdegub cukup kencang.

“I…iya” sahutnya canggung. Hyesun memandang heran kemudian dia sadar dengan apa yang terjadi barusan.

“ah.. miane..aku… hehehe” Hyesun menyahut pelan dan tertawa canggung. Kembali dia menggaruk-garuk kepalanya.

“oh tidak apa-apa” sahut Minho lagi, tersenyum kecil merasa tidak enak karena sudah membuat suasana menjadi aneh. Kemudian “Oh.. kau teruskan belajar aku mau permisi sebentar” pamit Hyesun tiba-tiba. Kemudian diapun pergi meninggalkan Minho. Wajah Hyesun juga memerah malu dia tidak ingin Minho melihatnya seperti itu karena itulah dia memutuskan untuk pergi.
Saat jam istirahat Minho menuju ke lantai paling atas tempat istirahat karyawan. Sebuah rooftop terbuka disamping. Disana terletak sebuah meja dan kursi taman. Minho memilih untuk duduk disana. Dibukanya kotak bekal yang diberikan oleh Bo Young tadi pagi. Sebuah kotak makan yang dibungkus tas Hello Kitty berwarna pink. Minho agak geli melihatnya, kemudian dikeluarkannya kotak makan yang ada didalamnya beberapa buah Kimbap dan Yubu chobap. Perlahan diambilnya sebuah sumpit yang juga diletakkan disana. Saat dia tengah asik makan tiba-tiba dikejutkan oleh suara.


“Waaahhh kelihatannya enak” Hyesun tiba-tiba berada di belakangnya. Minho menoleh ke Hyseun yang tersenyum kepadanya. “Hmm pasti pacarmu yah yang membuatnya” Hyesun menggoda Minho yang masih mengunyah makanan di mulutnya, dia agak tersedak kemudian diambilnya sebuah jus dan meminumnya.

“ah, tidak kok” Minho menjawab malu-malu.

“yah, kau malu yahhhh” Hyesun tersenyum iseng terus menggoda Minho. “anda mau?” Minho menawarkan kotak makan itu kearah Hyesun. “Aniyo… aku sudah makan tadi, silahkan lanjutkan makanmu Minho-ssi lagipula aku tidak enak karena orang yang menyiapkannya pasti orang yang special kan” Hyesun menolak halus tawaran Minho.

“Tidak juga kok” Minho hanya menjawab pendek. “Hmm” Hyesun menggumam pelan, mereka saling menatap mata mereka bertemu, Hyesun mengalihkan pandangannya dan mengayuh kursi rodanya ke tepi pagar meninggalkan Minho. Merentangkan tangannya lebar-lebar menikmati hawa yang sejuk. “Ahhh,,, sejuknyaaa, seandainya setiap hari sejuk seperti ini mendung tapi tidak hujan” gumamnya. Minho hanya memperhatikan Hyesun. Dipandanginya punggung gadis itu, ada yang menarik tentang gadis itu, seingatnya dia tidak pernah mengeluh meskipun dia harus duduk di kursi roda, dia juga gadis yang cukup atraktif dalam pandangannya selalu tersenyum dan tertawa tidak pernah terlihat sedih. Matanya yang bulat dan besar selalu memancarkan harapan dan kebahagian namun disisi lain Minho juga merasakan ada kesedihan di dalamnya, entahlah dia hanya merasa seperti itu. Setelah selesai makan dan menghabiskan minumannya, kemudian dia berjalan menghampiri Hyesun.


Minho berdiri disamping Hyesun. Melihat pemandangan kota yang tampak jauh. Lama mereka hanya diam tanpa bicara apapun. Diliriknya gadis itu masih tersenyum, matanya yang indah bersinar memancar bahagia. Kemudian Minho berjongkok di samping Hyesun. "Aku ingin tahu, bagaimana kamu melihat dunia dari ketinggian 100 cm," Minho tiba-tiba berjongkok di sebelah kursi roda Hyesun.

"Kamu aneh," timpal Hyesun, "biasanya semua orang selalu bilang...’Semangat, Hyesun-ssi'...pasti sulit ya hidup di atas kursi roda.."  Minho tidak menjawab hanya tersenyum. Kemudian dia berdiri dan sesaat kemudian dia berjongkok kembali. Hyesun memandang Minho dengan heran.

“Ternyata memang sedikit berbeda yah” gumamnya pelan melirik ke arah Hyesun. Hyesun terdiam, sedikit heran dengan pemuda itu, namun tidak berani bicara atau menatap pemuda itu lebih lanjut. Mereka hanya seperti itu sampai waktu istirahat selesai dan merekapun kembali ke kesibukannya masing-masing.

Malam itu di kediaman Goo

“Unnie… kau sudah pulang” teriakan Minam menyambut kedatangan Hyesun. Terkadang Hyesun merasa seperti ibu bagi Minam karena sifat manja anak itu. Gadis yang tengah beranjak dewasa. Meskipun wajahnya cukup cantik tapi dandanannya sangat tomboy. Rambutnya yang dipotong pendek hampir menyerupai laki-laki kadang membuat Hyesun dan Hyekyo mengelus dada.

“iya aku pulang” sahut Hyesun tersenyum kepada Minam yang memeluknya dari belakang. “Bagaimana harimu, ada kabar apa. Minam-ssi apa ada telepon dari papa” lanjt Hyesun.

“Hmm, tadi aboji menelpon dia bertanya kenapa aku bisa ada disini dan dia juga bilang kalau akhir bulan ini akan pulang setelah urusan konser amalnya selesai” Minam menjawab pertanyaan Hyesun dengan nada manjanya. “Oh iya unnie aku sudah mendapatkan sekolah yang aku mau” 

“Mwo… apa kau bilang” Hyesun menajamkan telinganya

“Aku bilang aku sudah mendapatkan sekolah yang aku mau dan aku juga sudah mendaftar disana, tinggal minta tanda tangan persetujuan dari waliku saja” Minam bicara dengan cueknya.

“Ap..apa.. yah!!! Kau ini kenapa tidak membicarakan dulu denganku dan Kyo unnie, kau ini selalu saja” Hyesun menghela nafasnya dalam-dalam kepalanya mendadak pusing. Minam selalu saja seperti itu bertindak semaunya dan tanpa pikir panjang.

Minam : “Tapi unnie… aku suka tempat ituuu”

Hyesun :“La..lalu dimana kau akan ber sekolah, kenapa prosedurnya begitu mudah”

Minam : “Hmmmm aku akan bersekolah di Shinhyun High School hehehe karena aku ingin punya banyak korea makanya aku mau kesana, unnieeeee boleh yah, yah..yah..yah…”
Minam merajuk kepada Hyesun. Mendengar penjelasan Minam, Hyesun menjadi lega karena ternyata tidak seperti yang dia bayangkan kalau Minam akan bertindak semaunya seperti biasa. Ternyata anak itu sudah mulai tumbuh dewasa pikirnya.

“Yah, kenapa kau tidak masuk internasional school saja, bukankan lebih mudah bagimu karena kau sudah terbiasa dengan orang-orang asing dan lebih memudahkan kau untuk berinteraksi karena kau lama hidup di luar negeri”

“ah unnie aku kan bosan, lagipula aku mau memperdalam kecintaanku terhadap korea” Minam menyahut Hyesun dengan nada bangga. “Lagipula, tidak ada jeleknya disana aku mau punya gank cewek yang bisa aku ajak pesta piyama dan bergosip sepuasnya” lanjut Minam sambil tertawa, matanya melebar menandakan kalau dia bahagia dengan pilihannya itu. Hyesun hanya tersenyum melihatnya.

“Baiklah kalau begitu, apa saja yang kau butuhkan katakan padaku nanti aku bantu” Hyesun tersenyum. “Hmmm aku lapar, ayo kita makan” lanjut Hyesun. Kemudian mereka berdua pergi ke ruang makan dan menikmati hidangan makan malamnya sambil membicarakan tentang rencana Minam selanjutnya.


 [sweat] [sweat] [sweat] akhirnya selesai juga update mohon kritik n sarannya n mian kl chapter ini rada lebay  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]


And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline pink_girly

  • Full
  • ***
  • Posts: 341
  • <3 MinSun
    • View Profile
Hoo....reee.................. !!!  [clap] [clap] [clap]
akhirnya CHP 4nya di update... thx ya oenni...

Dakuw mw bca dlu akh CHP 4nya...

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
 [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]finally c endoz gemoz update jg niy ff.... [clap] [clap] [hmff] [hmff]...
gomawo ya onnie dah dberesin jg niy chp,,,, mw kabur bntr jg ah tuk bca niy chp,,,,n_n...
 [bye] [bye] [bye] [bye] [bye]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
sudah baca nih heheeh thanks ya noona b udah diupdate  [smiley-dance013] [smiley-dance013]
wahhh chp ini keren, gw suka dengan interaksi minsun  [smiley-gen013] [smiley-gen013]
jadi ga sabar buat chp selanjutnya ...  [biggrin]
perkembangan setiap karakter di chp ini sangat bagus, semangat ya noona b, feel gw ama karakter minsun udah dpt nih, kerja noona udah becus banget  [hmpfh] ~dibomb ama noona berengsek, emang chp sebelumnya tuh lom becus ya  [laughing]

« Last Edit: February 21, 2010, 10:17:33 am by endree_noona »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
sudah baca nih heheeh thanks ya noona b udah diupdate  [smiley-dance013] [smiley-dance013]
wahhh chp ini keren, gw suka dengan interaksi minsun  [smiley-gen013] [smiley-gen013]
jadi ga sabar buat chp selanjutnya ...  [biggrin]
perkembangan setiap karakter di chp ini sangat bagus, semangat ya noona b, feel gw ama karakter minsun udah dpt nih, kerja noona udah becus banget  [hmpfh] ~dibomb ama noona berengsek, emang chp sebelumnya tuh lom becus ya  [laughing]



mami  [smiley-whacky103]  [laughing] [laughing] [laughing]

thx ya mi commentnya jadi tersandung neh  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
tersandung apa tersanjung  [hmpfh] ~pura2 bego  whistling

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
22nya  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

mi dicari anak2 dispazzbox gak ada u gak rame katanya daku biar ada temen berantem wat ngeramein  [laughing] [laughing] [laughing]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^