Author Topic: *LOVE & CAREER* (Lovelyn, Miny and Luveliprincess) ~ chp 30 (final) '20 Nov 10  (Read 19579 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
IKUTTTTTTTTTTTTTTTTT


 [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break]


 [ranting] [ranting] [ranting] [ranting] [ranting] [ranting] [ranting] [ranting]


 [hammer] [hammer] [hammer] [hammer] [hammer] [hammer] [hammer] [hammer] [hammer]

 [smiley-whacky103] [smiley-whacky103] [smiley-whacky103] [smiley-whacky103] [smiley-whacky103]

 [hmff] [hmff] [hmff] [hmff]


siapa yg elu [head break] [head break] noona b? si miny ya, gara2 ga diupdate terus [hmpfh] ~pura2 bego whistling

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline lluluMH

  • Newbie
  • *
  • Posts: 79
  • I like her style boyish but still beauty love it
    • View Profile
annyeonghaseyo,,,  [arms] [arms]  [bye] [bye]
mami love *boleh ya panggil mami jg* n k' endree salam kenal yaa,,  [AddEmoticons04218]
mami kok malah hore sih..??  [AddEmoticons04256] [AddEmoticons04256] [AddEmoticons04256]  [hammer] [hammer] [hammer] mami love,,
kita kan dah butuh asupan gizi nih mi,,, dah mupeng nih mi,,  [love eyes] [love eyes] [love eyes]
miny,, ayoo cepet d update,,,,  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
[lovestruck]
EUNHAE IS SAME LIKE MINSUN !!!!!!!!!! LOL

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
lulu, enak aja datang2 lgs [head break] [head break] mami, nih rasain, gw [head break] [head break] balik, mampus lu [hmpfh] [hmpfh] .
kan pekerjaan gw menumpuk say, nah klu miny ga update kan updatean gw jg terundur deh [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline lluluMH

  • Newbie
  • *
  • Posts: 79
  • I like her style boyish but still beauty love it
    • View Profile
hahahaha,, miane mami,,,  [AddEmoticons04228]
abis na si mami,, wong kita lg butuh asupan gizi dy malah horeee,,  [AddEmoticons04284] [AddEmoticons04284]
[lovestruck]
EUNHAE IS SAME LIKE MINSUN !!!!!!!!!! LOL

Offline lluluMH

  • Newbie
  • *
  • Posts: 79
  • I like her style boyish but still beauty love it
    • View Profile
lulu, enak aja datang2 lgs [head break] [head break] mami, nih rasain, gw [head break] [head break] balik, mampus lu [hmpfh] [hmpfh] .
kan pekerjaan gw menumpuk say, nah klu miny ga update kan updatean gw jg terundur deh [laughing]
yyaaahh kalo begitu mah mami puas kami tewas donk mi,,,  [ohmy] [ohmy] [ohmy]
[lovestruck]
EUNHAE IS SAME LIKE MINSUN !!!!!!!!!! LOL

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
lulu, gw puas, kalian tewas ehhh gwnya gemes deh, awas kalian jgn lemas ya, kan udah tewas tuh [hmpfh] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline lluluMH

  • Newbie
  • *
  • Posts: 79
  • I like her style boyish but still beauty love it
    • View Profile
lulu, gw puas, kalian tewas ehhh gwnya gemes deh, awas kalian jgn lemas ya, kan udah tewas tuh [hmpfh] [laughing]
eetttdddhh dah si mami kyknya seneng amat kita tewas,, gara2 butuh pitamin kgk d ksh2,,,  [AddEmoticons04284] [AddEmoticons04284] [AddEmoticons04284]
[lovestruck]
EUNHAE IS SAME LIKE MINSUN !!!!!!!!!! LOL

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
lulu, bakal gw kasih pd saat yg tepat [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline lluluMH

  • Newbie
  • *
  • Posts: 79
  • I like her style boyish but still beauty love it
    • View Profile
okoee..okee..  Emoticons0423 Emoticons0423 ta' tunggu mi,,
tapi jangan lama2 yyooo,,  [nono] [nono] [nono] [biggrin] [biggrin] [biggrin]
[lovestruck]
EUNHAE IS SAME LIKE MINSUN !!!!!!!!!! LOL

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
lulu, bakal gw kasih pd saat yg tepat [hmpfh]

JADI WEEKEND KAN MI?

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
lulu, bakal gw kasih pd saat yg tepat [hmpfh]

JADI WEEKEND KAN MI?
usahain deh, tp yg bengkok2 dulu ya [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline lee sunkyu

  • Newbie
  • *
  • Posts: 48
    • View Profile
" MamI.... Q jUGa BTuH phITAmING nIH...
q tuNgGU yA MIII,,,,^_^ [lovestruck]

Offline minyounglee

  • Admin
  • Junior
  • *****
  • Posts: 165
    • View Profile
CHAPTER 27

Tidak ada seorangpun di kafe klasik itu kecuali Yong Chan, Eun Ho, Mr Kim, dan wanita tua pemilik kafe. Musik mengalun pelan seiring mereka berbincang seru. Kejadian akhir-akhir ini sangat mengejutkan mereka, bahkan para fans yang berbalik mendukung sungguh tidak dapat dipercaya, namun begitulah kenyataannya. Tawa lega sudah dapat dilepas dari masing-masing pihak, untuk kedepannya bisa dipastikan semua akan berjalan dengan lancar.

“Tidak dapat dipercaya, mungkin kalian memang jodoh dari Surga.” Mr. Kim menepuk bahu Yong Chan yang duduk disebelahnya. Ia tersenyum ramah, tidak ada amarah yang tersisa pada raut wajah tuanya. Seolah kejadian tadi hanyalah angin lalu yang menguap tanpa bekas.

“Ya pasti itu,” kata Yong Chan mantap. Disusul oleh tawa renyah Eun Ho yang kemudian sedikit menyandarkan diri pada Yong Chan.

“Kurasa tidak ada yang perlu begitu dikhawatirkan lagi. Jika para fans sudah mendukung, masa depan kalian akan lebih bagus. Sebagai pasangan tentu saja yang bisa sekaligus berkarir, siapa tahu akan banyak tawaran main film bersama,” lanjut Mr.Kim cerah, ia menyeruput kopi hitam di hadapannya lalu menatap Yong Chan, “Kau tahu?Goo Yong Chan, tadinya aku sudah putus asa. Kau adalah artis kebanggaan kami. Kukira tidak akan ada harapan yang terjadi.”

Mr. Kim menghela nafas panjang lalu kembali meminum kopi. Sementara Eun Ho tiba-tiba terkaget oleh suatu getaran yang berasal dari tas putih di pangkuannya.

“Ada panggilan. Sebaiknya aku keluar dulu.” Ujar Eun Ho mengeriyitkan dahi, ia mengerjapkan mata pada Yong Chan dan membungkuk sedikit pada Mr. Kim.

Eun Ho menenteng tas kecilnya di bahu, bergegas melewati beberapa deretan meja kayu dan bar sampai sebuah pintu kaca terlihat. Eun Ho mendorong pintu itu dan dari dalam tasnya ia cepat-cepat merogoh sebuah ponsel putih yang terus berteriak-teriak minta diangkat.

“Yeobseo?” sapa Eun Ho ceria. Tapi tidak ada seorang pun yang menjawab. Suasana di jalan di depan kafe itu sangat hening, hanya ada angin yang sibuk berseliweran disela dedaunan hijau. Bahkan bagai kedap suara, nuansa klasik kafe tidak terasa lagi, tertelan oleh dinginnya suasana.
Jalan ini memang terkenal sepi, seperti semacam jalan tua, toko-tokonya juga banyak yang sudah tua. Jarang ada orang yang ingin datang, tapi ini tempat favorit Mr. Kim yang suka keheningan.

“Yeobseo?” panggil Eun Ho sekali lagi. Tetap tidak ada yang menjawab. Bulu kuduknya sedikit berdiri. Hari sudah mulai senja saat itu. Dan menurut cerita pamannya, banyak hantu berkeliaran pada jam-jam segini. Lagipula keadaan jalan ini terlihat sangat mendukung.

“Orang iseng yah!” Eun Ho mematikan ponselnya kesal dan melemparnya kedalam tas ketika ia mulai mendengar suara tangisan pilu. Tangisan panjang yang lembut tapi membuat seluruh bulu kuduknya naik merinding. Eun Ho melihat cemas ke sekeliling. Tidak ada siapa-siapa? Berasal dari mana tangisan itu?

Ia ingin cepat-cepat masuk kedalam kafe saja dan berada di pelukan Yong Chan tapi entah, ada yang menahannya untuk tetap berdiri. Seolah kedua kakinya sudah membeku di tempat dan ia takkan bisa berjalan lagi selamanya. Eun Ho semakin ketakutan tapi tak ada yang bisa diperbuatnya kecuali melirik ke kanan kiri mencari-cari asal suara. Rambut pendek Eun Ho yang dikucir dua bergoyang tertiup angin kencang. Ooh angin bertambah kencang, tanda malam akan segera tiba.

Eun Ho merasa sangat bodoh tetap berdiri disitu. Apa yang diharapkannya? Melihat seseorang yang menghampirinya sambil menangis tersedu-sedu? Mungkin. Suara tangisan yang tak berkesudahan itu membuat Eun Ho penasaran walaupun hatinya mencelos ketakutan.

“Bukan. Ini bukan hantu pasti. Tidak ada hantu disini,“Eun Ho menggelengkan kepala. Berdebat dengan pikirannya sendiri.

Tapi suara tangisan tanpa orang itu semakin kencang dan nyaring kedengarannya. Didominasi dengan suara tajam ‘hyuu’ angin. Eun Ho tak bisa berkutik, pikirannya mulai pergi kemana-mana. Jangan-jangan akan ada wanita bermuka hancur lalu berambut panjang berjubah putih yang mendekati dan memelototinya? Eun Ho meringis. Seluruh tubuhnya membeku dalam ketakutan, tak mampu berjalan. Pada akhirnya ia berjongkok karena terlalu takut.

Eun Ho memeluk lutut dan menyembunyikan mukanya. Ia kelihatan semakin konyol.

“O…,oo…,onni”

Suara gadis kecil? Suara yang bergetar pelan diselingi isak pilu itu menyapa Eun Ho dengan sedih. Suara yang sangat menusuk telinga dan menyeramkan. Eun Ho tergelak, ia tak ingin melihat siapa yang menyapanya.

Tapi ketakutan itu malah menjadi, sewaktu sebuah tangan mengelus lengan Eun Ho dengan sangat perlahan diikuti suara lagi ,”O..onni”

‘Hantu tak mungkin bisa menyentuhku?’ Eun Ho bertanya-tanya dalam hatinya yang kacau.

Ia memberanikan diri untuk sedikit mengintip dan apa yang dilihat Eun Ho?

“Onni…,”

Seorang gadis kecil. Benar-benar gadis kecil bukan hantu. Lebih terlihat seperti malaikat. Ia sangat mungil, tak sampai setinggi badan Eun Ho yang berjongkok.

“Ah?” Eun Ho sedikit kaget tapi ketakutannya meleleh begitu saja. Ia bangkit dan ragu-ragu mendekati gadis kecil yang mungkin berumur 3 atau 4 tahun itu.

“Onni..” Ia masih menangis. Air mata mengalir deras melewati pipi gembul merahnya membuat Eun Ho iba. Tapi gadis kecil itu tak terlihat seperti orang miskin, ia berpakaian lengkap dengan mantel pink muda tebal yang sangat halus dan rambut hitam panjangnya tertata rapi.

“Adik kecil siapa namamu?” tanya Eun Ho. Ia sedikit malu akan kelakuannya tadi.

Mulanya gadis kecil itu hanya terdiam menatap jalan. Tidak berani mengarahkan matanya pada Eun Ho. Tapi Eun Ho melunak dan meraih tangan mungilnya yang ternyata sangat dingin.

“Astaga. Kau dingin sekali. Apa yang kau lakukan sebenarnya disini? Mana orang tuamu?” Tanya Eun Ho kaget. “Adik manis. Ayo berbicara siapa namamu?”pancing Eun Ho lagi, mengambangkan sebuah senyum manis pada wajah putihnya.

“Chae Hee.” Bisiknya sedih.

“Chae Hee. Dimana orang tuamu?”

Chae Hee menangis dan menaikkan kedua bahu tanda tidak tahu. “Aku hilang.”

“Memang kau mau kemana? Ini jalan yang sangat sepi dan jarang pengujung lho,” jelas Eun Ho. Ia mengajak Chae Hee untuk duduk sejenak di sebuah bangku didepan kafe.

“Aku tahu. Aku..,aku ingin ke penjara onni..” bisiknya lagi pada Eun Ho.

“Mwo? Penjara?” Eun Ho terbelalak bingung.

**

“Yoon-ahhh!! Makanan sudah siap.” Yong Na berteriak memanggil Choi Yoon yang sedang bermain game online di komputernya.

“Iyaaaa..Araseooo,” Choi Yoon membalas dari kamar.

“Datang dalam hitungan lima detik atau kau tidak dapat jatah makan!” goda Yong Na sambil tertawa.

“Aduh! Jangan dong. Aku sedang bertaruh, ini bisa kalah.” Pinta Choi Yoon memelas sementara Yong Na yang sibuk menata piring di meja makan hanya tertawa pelan.

Yong Na duduk bertopang dahu menunggu suaminya dengan sabar. Dalam waktu semenit Choi Yoon sudah duduk disana bersamanya.

“Tuh kan. Tidak lama. Semenit saja dan aku menang. Yess!!” Choi Yoon mengacungkan jempolnya pada Yong Na.

“Sejak kapan kau jadi suka game online?” tanya Yong Na penasaran. Ia mulai melahap nasi dan lauk yang tersedia. Berkat ajaran Mrs Goo, ia sudah bisa memasak dengan baik sekarang.

“Mm. Entahlah. Mungkin seminggu lalu.” Jawab Choi Yoon acuh tak acuh. Ia meraih daging sapi panggang kesukaannya dengan sumpit.

“Wow. Dan sekarang kau seperti manusia gila pecandu game online, setiap pulang kerja main game. Memang istrimu game?” dengus Yong Na pura-pura marah.

“Yah.. Miyane. Bukan begitu maksudku.” Ujar Choi Yoon mengeriyitkan alis. “Omong-omong, kau ingin honeymoon kemana?” goda Choi Yoon memasang senyum termanisnya.

“Hawaii. Kau tahu itu,” jawab Yong Na singkat.

“Aloha! Aku tahu istriku tersayang memang gila dengan Hawaii.” Choi Yoon tertawa diikuti dengan Yong Na yang sekarang tersenyum simpul.

“Jadi kau ingin mengajakku kesana?” harap Yong Na.

Choi Yoon menggelengkan kepala. “Tidak juga. Aku sedang sibuk.” Choi Yoon beralasan.

Hati Yong Na mencelos kecewa. Ia bergumam kesal, “Mulai lagi? Terlalu sibuk untuk honeymoon saja?”

**

Yong Sae hendak masuk kedalam alam mimpinya ketika ia terpaksa bangun kembali karena suara bel rumah.

“AHHH!! Siapa itu? Aku benar-benar lelah!” Yong Sae bangkit dengan sederet gerutuan kesal.

Mr dan Mrs Goo tengah menghadiri sebuah seminar perusahaan sampai malam nanti. Ini baru jam 8 jadi tidak mungkin mereka sudah pulang. Yong Chan entah kemana. Jadi hari ini ia menjaga rumah sambil menunggui tiga orang untuk pulang.

“Aushh! Siapa sih? Kurang kerjaan sekali malam-malam begini,” Yong Sae berjalan keluar kamar sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Mata sendunya membuat Yong Sae berjalan sedikit sempoyongan. Hari ini memang melelahkan, Yong Sae yang termasuk siswa berprestasi harus menghadiri banyak rapat penting mengenai acara-acara yang akan diadakan di sekolahnya. Baru saja jam 7 tadi ia pulang lalu mandi dan ingin bergegas tidur sebelum ia pingsan ditempat.

Ting Tong. Ting Tong. Ting Tong.

Teriakan bel itu semakin menjadi-jadi membuat Yong Sae frustasi. “Tunggu!!Oke. Tunggu, aku sedang mengambil kunci.” Teriak Yong Sae dongkol, cukup lantang untuk tentangga sebelah dapat mendengarnya.

Yong Sae memutar kunci itu pada pintu kayu rumahnya. Gaun tidur Yong Sae tertiup angin kecil saat pintu mulai terbuka.

 “Anyeong! Kukira tak ada orang,” suara yang tidak asing lagi menyapa Yong Sae dengan gembira.

“Dong Wo oppa!!!?” Yong Sae membelalak kaget akan kedatangan tamu tak diduga ini. Seketika itu juga, rasa kantuk Yong Sae lenyap entah kemana.

“Oppa untuk apa datang malam-malam seperti ini?”

**

“Bagaimana ini?” Yong Chan mondar-mandir cemas.

“Tidak mungkin ia meninggalkan tempat tanpa pamit. Sudah 2 jam berlalu tanpa kabar. Pasti terjadi sesuatu.” Ujar Mr. Kim

“Tadi ia menerima panggilan seseorang?” Yong Chan mencoba berpikir keras. Kemana perginya Eun Ho? Cemas meliputi hati Yong Chan membuatnya tak bisa duduk dan berpikir jernih. Apa mungkin ada seorang penculik? Atau fans yang terlalu fanatic seperti Chae In? Segala kemungkinan terburuk bersinggah dalam pikiran Yong Chan.

“Kau sudah telepon dia?” tanya Mr Kim sekali lagi melihat ke sekeliling jalan untuk memastikan. Tapi tidak ada seorangpun disana.

“5 kali dan tidak aktif,” jawab Yong Chan frustasi.

“Mungkin sebaiknya aku ke kantor, mungkin ia ada disana Yong Chan. Kau coba carilah dia kemana. Tempat biasa kalian berdua datang. Okay. Tenang semua akan baik-baik saja.” Tegas Mr Kim pada Yong Chan. “Aku janji kita kan menemukan Eun Ho.”
Yong Chan menangguk ragu.

Dalam waktu beberapa menit, mobil sport merah Yong Chan sudah melesat cepat meninggalkan kafe sementara Mr. Kim bergegas ke gedung YT yang berada di dekat sana.

**

“Gumawo.” Gumam Yong Sae yang duduk bersila di sofa pada Dong Wo. Dong Wo kesini untuk memberikan Yong Sae sebuah baju. Dong Wo sudah mulai bekerja hari ini dan radi Dong Wo bertemu rekan kerjanya, Mr Bohr. Ia mengira Dong Wo sudah memiliki kekasih, maka ia memberikan sepasang couple shirt sebagai oleh-oleh dari Kanada sana. Karena bingung akhirnya Dong Wo memberikan satu dari baju itu pada Yong Sae. Dong Wo mengira Yong Sae pasti akan sangat senang.

“Ah! Tak apa adik kecil. Jangan dipikirkan.” Dong Wo meminum air yang disediakan Yong Sae lalu menatap tubuh mungil Yong Sae yang dibalut gaun tidur krem muda.

“Kau kecil sekali ya!” papar Dong Wo menyipitkan mata.

“Hah?” Yong Sae tertunduk malu. Ia semakin erat menggengam plastic putih oleh-oleh yang diberikan Dong Wo.

“Aku tidak yakin baju yang kubawa itu akan pas. Masalahnya kau terlihat lebih kurus dan mungil. Seperti anak 11 tahun?” Dong Wo menahan tawa.

“Oppa!Geumanhae! Berhenti bercanda.” Kata Yong Sae kesal karena malu.

“Hahaha. Jangan marah. Mm, sudah malam. Aku pamit ya!” ujar Dong Wo polos. Ia bangkit begitupun dengan Yong Sae, tetapi…


Ting Tong. Ting Tong. Ting Tong.

“Apakah itu Aboji dan Omoni?” Mata Yong Sae membelalak khawatir. Gawat kalau sampai orang tuanya tahu akan keberadaan Dong Wo disini. Semua akan bertambah runyam dan hubungan Dong Wo dengan orang tuanya pasti akan renggang lagi.

**

Mr Kim melangkah terburu-buru memasuki lobby sepi gedung YT. Beberapa karyawan yang lembur dengan cepat membungkuk hormat tapi ia merasa tak bisa lebih peduli. Ia juga khawatir dengan hilangnya Eun Ho secara misterius. Kebetulan Mr Moon sedang berada di lobby, maka Mr Kim dengan cepat menyapa Mr Moon.

“Gawat!! Eun Ho. Ia hilang secara misterius.” Mr Kim cepat-cepat memberitahu Mr Moon yang sedang berdiri di depan meja resepsionis.

“Apa? Bagaimana bisa?” tanya Mr Moon membelalak.

“Entah. Yang pasti ponsel tidak aktif dan tidak ada jejak. Yong Chan butuh bantuan. Mungkin kita harus memanggil polisi untuk mengantisipasi penculikan? Ini benar-benar aneh,” Mr Kim berbisik cepat.

“Mm. Mungkin memang kita harus melaporkan ini. Aku akan menelepon kantor polisi terdekat. Mr Kim, sebaiknya anda ke ruangan anda karena ada beberapa dokumen yang harus diurus.”saran Mr Moon. “Yong Chan dan Eun Ho mendapat banyak tawaran bermain film dan iklan bersama.” Tambah Mr Moon. Ia merogoh ponsel di saku lalu memencet nomor kantor polisi dekat gedung YT.

“Ya aku tahu. Sebaiknya kau cepat. Jangan sampai ini mempengaruhi Yong Chan. Apalagi ia baru sembuh.” Kata Mr Kim seraya meninggalkan Mr Moon menuju pintu lift terdekat.

Mr Moon melambaikan tangan tanda mengerti. Ia memang handal kalau sudah menyangkut ini semua. Ulah-ulah nakal Yong Chan yang membuatnya terbiasa. Mr Moon masih dengan ponsel tertempel di telinga, pergi meninggalkan meja resepsionis. Sementara seorang wartawan yang berdiri di sebelah meja resepsionis, daritadi menguping pembicaraan Mr Kim dan Mr Moon tanpa disadari.

Wartawan botak itu dengan kamera besar dilehernya mendatangi penjaga resepsionis wanita dan berbisik,” Oh jadi sekarang Eun Ho hilang? Benarkah?”

Resepsionis wanita itu terlalu kesal untuk ditanyai. Ia sudah capai lembur tapi masih harus dibuat kesal oleh wartawan. Dengan emosi ia menjawab, “Memang aku tahu? Kuntit saja Yong Chan sendiri.”

Wartawan botak yang bernama Mr Son itu sedikit terperanjat mendengar ucapan ketus wanita dihadapannya. Pikirannya mulai berputar, ya mengapa tidak ia mengikuti Yong Chan? Semua akan lebih jelas.

Mr Son menggaguk dan meninggalkan lobby menuju lapangan tempat mobil van nya diparkir.

Lalu ia mulai mencari-cari nomor Yong Chan dalam ponselnya.

“Ah, masih ada! Bagus. Sekarang tinggal telepon dan melacak keberadaannya lewat GPS.” Mr Son menggaguk dan tersenyum puas. “Lihat besok. Berita apa yang kita akan dapat Goo Yong Chan.” Ia berkata pada diri sendiri bagai wartawan yang hanya haus berita tanpa simpati.

**

“Ya, memang. Aku sadar. Aku sadar ini semua salah. Dan sekarang semua sudah terlanjur terjadi. Hanya ada penyesalan yang tersisa. Maafkan aku Eun Ho onni. Ini semua memang keterlaluan. Tiba-tiba waktu itu otakku tidak bekerja dengan semestinya, pikiranku diliputi emosi semata tanpa memikirkan akibat yang akan kutanggung.” Chae In menangis tersedu-sedu dibalik pengakuannya terhadap Eun Ho.

Eun Ho meraih tangan Chae In yang berada dibalik sel penjara akibat tindakan criminal yang dilakukannya. “Shh.. Jangan menangis. Yang sudah berlalu kita lupakan saja ya. Yang penting sekarang kau bisa bebas. Dan aku yang akan menjamin kau, Chae In. Jangan menangis, malu dilihat oleh adikmu kan.”

Chae Hee berdiri di sebelah Eun Ho yang sedang berlutut di hadapan Chae In. “Onni jangan menangis. Aboji dan Omoni menunggu kita di rumah, onni pasti akan bebas karena Eun Ho onni yang baik” Bisik Chae Hee menenangkan.

Chae In memaksakan seulas senyum pada adik perempuan satu-satunya lalu ia menatap Eun Ho lagi,” Onni terima kasih atas kebaikanmu. Aku tak tahu harus bagaimana membalasnya. Kau terlalu baik padahal aku ingin melukaimu.” Kata Chae In penuh penyesalan.

“HAN CHAE HEE!!!” Seorang wanita berumur 40 tahunan tiba-tiba muncul dan menghampiri Chae Hee, membawanya kedalam pelukannya.

“OMMAAA!!!” Chae Hee menyambut ibunya dengan gembira.

“Kau tak seharusnya nakal. Berkeliaran sendiri. Omma araso, kau ingin bersama onni, tapi bukan begini caranya, kau masih 4 tahun dan ingin pergi sendiri,” Mrs Han memeluk anaknya dengan erat. Kekhawatiran tersirat jelas pada mukanya yang lelah.

“Omma. Berterima kasihlah pada Eun Ho onni. Ia yang menemukan Chae Hee,” kata Chae In pada ibunya. “Lalu Chae Hee memberi tahu tentang penjara ini dan Eun Ho onni membawanya kesini dengan taksi.”

“Eun Ho? Lee Eun Ho? Itu kamu?” Mrs Han menatap Eun Ho tidak percaya. Ia melepaskan tubuh Chae Hee dari pelukannya dan menghampiri Eun Ho. Mrs Han perlahan berlutut, rahang mulutnya masih terbuka tidak percaya. Korban criminal putri sulungnya sedang berdiri di hadapannya.

“Lee Eun Ho-ssi.” Air mata mulai menetes pada kedua pipi tirusnya seiring ia menapakkan kedua lutut pada lantai kusam penjara, memohon.

**

 Hari semakin malam tapi tak ada kabar sama sekali. Suasana semakin buruk ketika tadi ada seorang wartawan yang ingin mewawancarainya. Padahal Eun Ho sedang hilang entah kemana tapi masih ada saja tawaran wawancara konyol.

Kemana sebenarnya Eun Ho? Masa mungkin Eun Ho diculik? Tapi kenapa tidak terdengar teriakan minta tolong tadi? Ia dibius? Dibawa paksa?

Yong Chan menggengam kemudi semakin erat sampai urat-urat tangannya menonjol jelas pada sekujur tangannya. Pikiran Yong Chan kacau. Satu sisi ia sangat khawatir, disisi lain ia ingin menghabisi siapapun yang menyakiti Eun Ho.

Sekarang ini, Yong Chan tidak tahu kemana lagi ia harus pergi. Yong Chan menggigit bibir bawahnya menyadari kenyataan pahit kalau ia sudah menghampiri semua tempat yang mungkin dikunjungi Eun Ho, Tapi hasilnya nihil.
 
Bip bip bip

Panggilan lain?

Yong Chan setengah hati meraih headset dan menempelkan pada kuping kirinya. Ia mengharapkan suatu kabar yang berguna.

“Yeobseo?”

“Goo Yong Chan!”

“Mr Kim?”

“Aku mendapat kabar, tadi ada kantor polisi di pinggiran Seoul yang memberi tahu, katanya Eun Ho sedang berada di penjara sana bersama seorang anak kecil perempuan.”

“Apa?”

**

“Yong Sae-ah ,kenapa mukamu pucat begitu?” tanya Mr Goo yang baru pulang khawatir, seiring ia masuk kedalam rumah.

“Tidak apa aboji.” Dusta Yong Sae. Padahal ia cemas setengah mati tadi, kemana harus disembunyikannya Dong Wo oppa.

“Ya sudah. Hari sudah larut. Sebaiknya kau tidur sana.” Papar Mr Goo mengelus rambut Yong Sae yang tergerai. Disusul dengan kecupan Mrs Goo, lalu mereka pun bergegas ke kamar untuk beristirahat. Yong Sae mengunci pintu dan berlari secepat kilat menuju kamarnya.

Angin AC bersemilir ketika Yong Sae masuk kedalam kamar. “Dong Wo oppa?Kau masih bersembunyi? “ Yong Sae berbisik memanggil Dong Wo yang tadi ia sembunyikan di bawah kolong meja belajar.

Yong Sae berjongkok dan menundukkan kepalanya. Tapi Dong Wo sudah terkapar kelelahan di lantai. Dengan posisi duduk, Dong Wo tertidur dan ia mendengkur di bawah meja belajar Yong Sae.

“Oh? Tidur?” Yong Sae bergumam pelan. Ia terdiam. Suara dengkuran Dong Wo yang lembut menariknya untuk memperhatikan detil wajah Dong Wo yang tampan. Jemari Yong Sae mulai tergelitik untuk menjelajahi wajah tampan Dong Wo.

Dalam hati Yong Sae baru menyadari, ternyata Dong Wo sangatlah tampan daripada yang biasa ia lihat selama ini. Kalau dilihat dari dekat, gurat-gurat wajah Dong Wo sangat menarik hati kecilnya. Yong Sae tersenyum simpul, terheran mengapa ia malah mengagumi ini semua, bukannya mengusir Dong Wo untuk pulang dari jendela.

“Jal jayo oppa,” bisiknya tepat disebelah telinga Dong Wo. Yong Sae pun naik ke ranjang dan segera tidur alih-alih menunggu Yong Chan.

“Lagipula oppa membawa kunci. Sudahlah. Aku lelah,” gumam Yong Sae. Matanya sendu dan berat, terpejam dalam hitungan menit kedalam alam mimpi yang jauh.

**

Perjalanan ke pinggir kota Seoul cukup singkat karena jalan malam sudah sepi dan rutenya tidak begitu jauh juga kalau melewati jalan-jalan kecil.

“Wah penjara? Skandal apa lagi?” dari dalam van, Mr Son menyipitkan matanya melihat Yong Chan yang melangkah terburu-buru masuk kedalam gedung penjara tua di pinggiran Seoul. “Sebaiknya aku ikuti saja.” Pikir Mr Son. Ia kelar dari van dan berlari mengikuti Yong Chan, tidak lupa dengan sebuah kamera dan recorder kecil pada genggamannya.

“Apakah di dalam ada seorang wanita bersama anak perempuan kecil?” tanya Yong Chan pada seorang polisi yang sedang jaga malam. Dari balik pintu Mr Son sudah menyalakan recordernya untuk mengabadikan momen langka ini. Tak percuma tadi ia ke gedung YT untuk mewawancarai Dam Ah, bagai ketiban rejeki si Yong Chan itu ternyata punya ‘skandal’ lain.

Polisi berbadan kekar itu mengiyakan. “Ada keperluan apa?”

Yong Chan meringis. Masa polisi ini tidak tahu bahwa dirinya aktor? Dan artis di dalam sana adalah Eun Ho kekasihnya?

“Saya Goo Yong Chan apakah kau tidak tahu?”
“Ya saya tahu. Tapi saya tidak menanyakan nama anda. Melainkan keperluan anda, Goo Yong Chan ssi,” polisi itu berkata tegas.

“Lalu apakah kau tahu di dalam itu Lee Eun Ho?”

“Ya saya tahu.”

“Kau tahu dia siapa saya?”

“Kekasih.”

“Nah mengapa anda bertanya lagi Pak Polisi. Tentu saja saya ingin menjemputnya. Permisi.” Kata Yong Chan dingin. Ia tak menghiraukan polisi yang berada di hadapannya dan segera masuk kedalam ruang tahanan.

“Hey! Jam jenguk sudah habis?” kata polisi itu memperingati.

“Aku bukan mau menjenguk. Tapi ingin menjemput. 5 menit?” tawar Yong Chan berkacak pinggang.

Sekilas polisi itu ragu, tapi akhirnya ia mengganguk.

Mr Son masih terjebak di balik pintu, untung polisi yang jaga beranjak ke toilet di sebrang meja beberapa menit kemudian, tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Mr Son berlari secepat kilat mengejar Yong Chan kedalam ruang tahanan.

Mr Son mengambil posisi dibalik sebuah lemari besar yang memisahkan ruang tahanan 1 dan 2. Yong Chan berada di ruang tahanan 2. Sangat mencengangkan keadaan disitu.

Seorang wanita 40 tahunan terisak sedang berlutut. Eun Ho yang berjongkok di depan wanita itu. Yong Chan yang berdiri tertegun. Dua anak kecil, satu didalam sel, satu lagi di menangis pelan di belakang punggung si wanita. Recorder Mr Son menyerap segala titik kesedihan dalam suasana saat itu. Ruang tahanan 2 memang sedikit sepi, hanya ada beberapa anak muda di balik sel dan sekarang semua terhanyut dalam keadaan ini.

“Maafkan anakku. Maafkan dia. Chae In tidak lebih dari seorang remaja yang labil,” Mrs Han memegang kaki Eun Ho, meminta pengampunan dengan isakan memilukan. Chae Hee menggaguk-angguk pelan mendukung pernyataan ibunya. Sementara Chae In menutup mata dalam kedua tangannya, malu. Karena tindakan criminal itu, ibunya harus memohon seperti ini.

“Mrs Han,” Eu Ho yang memiliki hati lembut tidak tahan untuk tidak menangis. Butiran air mata jatuh pada kedua pipinya. Tangisan seorang ibu itu telah menggetarkan hati terdalam Eun Ho. “Kumohon berdiri. Jangan begini. Jangan.” Masih belum sadar akan kedatangan Yong Chan, Eun Ho memeluk Mrs Han seiring ia membawanya berdiri.

Pandangan Yong Chan membeku. Eun Ho terlalu baik. Ia benar-benar malaikat yang jatuh dari sorga. Keberuntungan sebesar apa yang didapatkannya itu, memiliki Eun Ho sebagai kekasih.

“Lee Eun Ho ssi.”

“Mrs Han, saya berjanji Chae In akan bebas. Saya berjanji.” Papar Eun Ho menyeka air mata Mrs Han. Ia hanyalah wanita yang merindukan anaknya, tidak lebih. Dan Eun Ho tidak memiliki apa-apa untuk memperbaiki keadaannya selain mengembalikan Chae In kesisinya. Eun Ho memperhatikan Mrs Han dengan seksama, tubuhnya kurus, wajahnya tirus, matanya cekung hitam. Kerinduan dan batin yang tersisa sangat jelas pada setiap gurat wajah Mrs Han.

“Saya tidak punya siapa-siapa selain Chae In dan Chae Hee. Kedua putri saya,” aku Mrs Han lirih.

“Jangan bilang begitu Mrs Han,” hibur Eun Ho.

Yong Chan menghampiri Eun Ho dan memeluknya dari belakang. Berusaha menenangkan kekasihnya juga. Kedatangan Yong Chan sedikit membuat Eun Hi terperanjat namun perasaannya jadi lebih baik.

“Aboji meninggalkan kami,” tangisan Chae Hee merebak seketika.

Eun Ho menutup mulut tak percaya.

**

“Sebaik itukah dia,” Mr Son merenung. Ia tidak tahu cerita lengkapnya, tapi yang pasti kejadian tadi memberikan dimensi plus dari dirinya terhadap Eun Ho.

Mrs Son sedang berada di dalam van. Masih belum masuk kedalam rumahnya walaupun ini sudah jam 12 tengah malam. Untung ia masih lajang. Satu hal yang paling disyukurinya. “Tapi kalau kekasihnya sebaik Eun Ho, boleh juga” Mr Son bergurau pada dirinya sendiri.

Di depan Mr Son, laptop miliknya terbuka lebar sampai-sampai cahayanya membuat mata sakit. Sebuah website gossip artis-artis korea terpampang, ia adalah salah satu wartawan online disana. Mr Son memang bekerja sebagai wartawan handal baik di dunia maya maupun dunia nyata. Dan walaupun terkadang suka haus berita dan tak segan, tapi kejadian Eun Ho kali ini benar-benar membuat hatinya luluh. Bagaimana tidak? Eun Ho ingin membebaskan orang yang berniat membunuhnya. Kalau artis lain pasti sudah membawa kasus ke pengadilan, begitu pikir Mr Son.

“Ahm.., apa yang harus kutulis, harus ada berita tentang ini. Lumayan membantu, pasti akan ada semakin banyak orang yang senang pada Eun Ho.” Ia tersenyum simpul sambil bertopang dagu, mencari judul yang tepat untu momen berharga ini.

Setelah beberapa menit berpikir, Mr Son mulai mengetik. ‘LEE EUN HO – MALAIKAT YANG TURUN DARI SURGA’

**

Yong Sae terbangun oleh suara berisik dari dapur. Sudah pagi. Omma pasti sedang memasak.

Yong Sae mengumpulkan kekuatan sebelum bangkit dan hendak beranjak keluar ketika ia mengingat sesuatu.

“Dong Wo oppa!!!” pekiknya.

Yong Sae berbalik ke kolong meja belajar. Tapi Dong Wo tidak ada disitu. Yang ada hanyalah sepucuk surat.

“Dik kecil. Kenapa semalam kau tidak membangunkanku? Hm. Maaf semalaman menumpang di kamarmu. Jangan sampai orang-orang tahu atau mereka akan marah besar dan mengira aku pedofil. Jaga diri ya, kapan-kapan kita main lagi. Jangan lupa kenakan baju itu  - Dong Wo”

Yong Sae tersenyum. Kenapa ia tersenyum? Kenapa hatinya tiba-tiba dihujani seribu bunga? Ooh apa yang terjadi dengan dirinya.

Yong Sae menutup mata,” Sadar Yong Sae.!”

**

Sore itu Yong Na sedang menonton TV di ruang tamu, sementara suaminya, sangat menjengkelkan, ia bermain game online. LAGI?

Yong Na mendengus kesal. “Gila. Tiba-tiba dia jadi aneh begini.” Kata Yong Na kesal.

Kringgggggggg.

Telepon rumah berbunyi membawa Yong Na yang sedang malas untuk melangkah.

“Ah siapa sih sore-sore begini? Baru saja aku pulang kerja, ingin istirahat,” protes Yong Na.
Yong Na menempelkan telepon hitam itu pada telinganya ,”Yeobseo?”

“Apakah ini benar kediaman Choi Yoon ssi?” tanya seorang wanita di sebrang sana sopan.

“Ya.”

“Bisakah bicara dengan Choi Yoon?”

“Ini istrinya. Ia sedang bermain. Sebutkan saja apa?” kata Yong Na jengkel, ingin cepat-cepat mengakhiri pembicaraan ini.

“Oh begitu. Sayang sekali. Coba ia bisa mendengar ini langsung.”

“Apa sih?” tanya Yong Na semakin jengkel dan tak sabar.

“Kami hanya ingin mengkonfirmasi, Choi Yoon ssi mengikuti turnamen pada games online selam seminggu dan karena ia telah memenangkan 2 tiket utama jalan-jalan ke Hawaii, kami ingin memastikan ia mengambil tiket ini segera besok lalu mengurus semua keberangkatannya.”

**

“Mr Moon. Kau tidak akan percaya ini!”

Mr Kim membawa laptop miliknya dan memperlihatkannya pada Mr Moon yang sedang meneliti beberapa dokumen saat itu.

Mr Moon melihat kearah layar laptop dan sebuah berita hangat yang sedang diperbincangkan mengagetkannya.

“Lee Eun Ho malaikat dari surga?” gumamnya bingung. “Pantas sangat banyak fans Yong Chan yang menelepon hari ini dan pertanyaan mereka tak luput dari Eun Ho. Fans Yong Chan yang menyukai Eun Ho benar-benar membeludak. Ini luar biasa.” Mr Moon menggelengkan kepalanya takjub.

“Orang baik itu benar-benar mendapatkan pahalanya ya,” Mr Kim juga masih tak percaya. Padahal tadinya sangat banyak yang membenci Eun Ho. Tapi sekarang? Kenyataannya 99% orang berbalik mendukung Eun Ho dan Yong Chan.

“Lihat ini lagi!?” kata Mr Kim menunjuk pada komen-komen para fans.
   
‘Yong Chan oppa, sebaiknya kau cepat-cepat menikah dengan Eun Ho onni. Dan aku akan tenang karena kau sudah berada di sisi seorang malaikat.’

‘Bagaimana mungkin kebencian pada diriku lenyap seketika. Aku merasa bodoh untuk membenci orang sebaik itu oppa. Mianhe.’

‘Ia memang baik. Aku takjub. Membebaskan orang yang ingin membunuhnya? Bagaimana bisa? Eun Ho onni terlalu baik. Aku akui kaulah yang paling berhak atas oppa kami.’

‘Ini benar-benar liputan tersembunyi. Terima kasih, telah membongkar kebaikan Eun Ho yang terpendam selama ini. Kami telah dibutakan.’


“Dan ada rekaman atas kejadian ini. Aku sangat takjub. Pekerjaan siapakah ini? Kudengar seorang wartawan Koran ternama. Kita harus berterima kasih,” senyum Mr Kim.

Mr Moon menggaguk senang lalu ia berkata,” Oh ya. Aku hampir lupa. Ada sebuah tawaran menarik.”

“Untuk Yong Chan dan Eun Ho?”

“Mm ini sangat menarik, tapi aku belum memberi tahu siapapun. Seorang sutradara Hollywood ingin mengambil sepasang artis Korea untuk diboyong dalam film terbarunya. Hollywood!! Mereka tertarik pada Yong Chan dan Eun Ho!”

**

Eun Ho merebahkan badannya di salah satu kursi taman malam itu dengan kepalanya tertidur di kedua paha Yong Chan. Taman yang sangat sepi, tidak ada orang, tidak ada bintang, yang ada hanya bulan cincin.

“Bulannya indah,” Eun Ho menggangkat tangannya seolah bisa meraih bulan itu.

“Sama seperti kau,” gumam Yong Chan menghela nafas.

Eun Ho terkekeh lemas.

“Lelah??’

“Begitulah. Banyak yang kupikirkan sekarang,” aku Eun Ho.

“Oh ya?”

“Mm. Membebaskan Chae In, fans-fansmu, kau, karir kita, lalu rumah kita di Kanada haha. Aku merindukan Aurora.” Kata Eun Ho dengan mata terpejam.

Yong Chan tersenyum. Lalu ia mengelus rambut Eun Ho yang terserak lembut di pahanya yang dibalut celan jins hitam.

“Kau tahu,” Yong Chan ingin memulai sesuatu, sejenak ia berpikir.

“Apa? Aku bukan peramal yang bisa mengira apa yang akan kau bicarakan haha,” gurau Eun Ho.

“Daripada memikirkan semua itu. Mending kau memikirkan ini.”

“..?”

“Aku ingin melepasmu,” bisik Yong Chan.

Hati Eun Ho mencelos. Seperti ditusuk tombak dan mengkerut sehingga terasa sangat sakit.

“A..,apa?” Eun Ho mulai tergagap seiring keringat dingin keluar dari dahinya. Padahal malam ini sangat dingin.

Yong Chan mendekatkan kepalanya pada kepala Eun Ho, lalu berhenti dalam jarak yang sangat dekat. Hanya 1 centi jarak kepala mereka sekarang.

“Melepaskanmu sebagai pacarku.”

“Goo Yong Chan jangan bercanda!”

“Tidak aku tidak bercanda. Dan mengambilmu sebagai istriku. Maukah?”

Sebelum sempat menjawab, bibir Yong Chan mendaratkan sebuah ciuman bergairah pada bibir Eun Ho. Ciuman keterikatan yang membuat mereka terlena satu dengan lainnya. Lumatan demi lumatan itu, yang melarutkan keduanya. Lidah yang menjelajahi rongga mulut, mengesap rasa yang begitu nyata dalam mulut itu. Birahi tergila yang dihasilkan ketika seluruh listrik maksimum menyengat pembuluh darah dari ujung kaki sampai kepala. Jantung yang berdegup, dug..dug..dug..terlalu kencang karena dominasi birahi berlomba-lomba dengan cinta. Paru-paru yang memompa cepat, sedikit-sedikit oksigen masuk, mulut keduanya mengunci satu dengan lain begitu rapat.

Yong Chan mengangkat kepalanya ketika ia merasakan air mata Eun Ho.

“Maukah?’

“Ya.”`END CHAPTER
« Last Edit: April 28, 2010, 12:04:11 pm by minyounglee »
"One of my top escapades is to dive through this infinite world of imagination." - Me

Just tweeting...

Offline minyounglee

  • Admin
  • Junior
  • *****
  • Posts: 165
    • View Profile
drama ketiga anak keluarga Goo..

mami jangan malas2. kakuira aku mau berlena2 mulu. tuh udh di update.

selamat membaca readers. si mami loph pingsan2 ria sana ,lanjutin!
"One of my top escapades is to dive through this infinite world of imagination." - Me

Just tweeting...

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
pingsan beneran nih [sweat] [sweat]
updateannya tahun depan ya [jumpy] [jumpy]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun