Author Topic: *LOVE & CAREER* (Lovelyn, Miny and Luveliprincess) ~ chp 30 (final) '20 Nov 10  (Read 19803 times)

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
LOh belom diupdate toh...
Bukannya mo update hari sabtu Mi? [Upss bukannya yg bilang gtu si Oki  [hmpfh] [hmpfh]]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
chapter ini full of Wosae couple [hmpfh] [hmpfh] masalah mereka selesai sampai di sini, and ... sebenarnya ff ini bisa ditamatin ampe di sini tp ga gw lakuin [laughing] [laughing] .. selamat dinikmati dan minta komentarnya ya [hmpfh] [hmpfh] selanjutnya giliran luv, bakal tunggu setahun nih updateannya [hmff] [hmff]



CHAPTER 28



Malam itu, setelah menghabiskan makan malam yang sangat istimewa dengan Yong Chan, Eun Ho menghayati deretan syair lagu dalam kumpulan kertas di tangannya. Lagu-lagu tersebut terdapat dalam album perdana yang akan diliris tidak lama lagi. Mulut Eun Ho bersenandung kecil mengikuti bait-bait lagu yang diselusuri lewat pandangannya.

Samar-samar terdengar olehnya bunyi air mengalir dari keran air di dapur. Eun Ho tersenyum perlahan. Saat ini dia merasa seperti seorang wanita yang sudah menikah. Yong Chan, selaku suami, sedang mencuci piring. Sedangkan dia, selaku istri, sedang sibuk dengan pekerjaannya. “Apa ini tidak terbalik ya?”, Tanya Eun Ho dalam hati, sambil tersenyum sendiri. Dia mengeleng perlahan, lalu kembali lagi ke kesibukkannya.

Entah berapa lama berlalu, dia sudah tidak mendengar suara air ditumpahkan dari dapur ketika tiba-tiba sebuah tangan melingkar ke lehernya dari belakang. Eun Ho segera berbalik dan mendapati Yong Chan sedang tersenyum padanya. Jarak kekasihnya ini sangat dekat dengannya sehingga dia bias merasakan hembusan halus dari nafasnya yang memabukkan.

“Weoo?”, tanya Eun Ho lembut, sambil tersenyum.

Yong Chan tidak menjawab. Dia merogoh sesuatu dari kantong celemek berbentuk hati yang masih dipakainya. Setelah dikeluarkan, Eun Ho bisa melihat kalau benda itu adalah sebuah kotak segiempat dari beludru merah. Yong Chan menyodorkan kotak tersebut ke depan Eun Ho.

“Igo, mwoo?”, tanya Eun Ho dengan kening berkerut.

Yong Chan tersenyum lebar, lalu membuka kotak itu. Mata Eun Ho langsung terbelalak lebar ketika melihat apa yang terdapat dalam kotak mewah itu.
“I … go … “, suaranya bergetar hebat.

Yong Chan mencium lembut kepala Eun Ho. Lalu dia mengeluarkan cincin dari kotak beludru dan mendekatkannya ke tangan gadis itu.

“Kemarin, saya tidak memberimu cincin ketika mengajakmu menikah .. karena itu sekarang, saya memperbaikinya .. “

Yong Chan berdiri dari posisinya dan berjalan ke depan Eun Ho. Kemudian dia menjatuhkan diri di samping gadis itu.
“Apakah kamu mau menerimanya, Eun Ho-ya? Saya bersumpah akan memberikan semua yang terbaik padamu, karena kamu yang paling penting dalam hidupku .. “

Mata Eun Ho mulai berkaca-kaca. Bibirnya gemetar sehingga dia tidak dapat bersuara menjawab permintaan Yong Chan. Dia hanya bisa mengangguk berulang-kali.

Yong Chan tersenyum bahagia. Dia memakaikan cincin itu ke jari manis Eun Ho dan mencium lembut bibirnya. Seluruh wajah Eun Ho sudah basah oleh airmata. Yong Chan semakin memperdalam ciumannya. Airmata gadis itu terasa asin ketika memasuki mulutnya. Melepaskan ciuman dari bibir Eun Ho, Yong Chan memeluknya erat-erat.

“Masih ingat bagaimana pertemuan kita?”, tanya Yong Chan tiba-tiba.

Eun Ho memandanginya, lalu tersenyum lebar.
“Tentu saja!”, kemudian dia menyandar ke dada Yong Chan, “ .. waktu itu, kamu memaksaku menjadi asistenmu. Sesuatu yang tidak masuk akal, sehingga membuatku berpikir kalau kamu hanya mempermainkanku …”. Mendadak, Eun Ho menegakkan badannya. Sebuah pertanyaan tiba-tiba berkelebat dalam pikirannya. “Sebenarnya .. apa maksudmu berbuat begitu?”, tanyanya, sambil memandang lekat ke mata Yong Chan.

Pemuda itu mendesah perlahan.
“Hhhhh .. entahlah .. “

“Mwooo?”

“Saya juga tidak tahu mengapa! Saya sering menanyakan hal itu, dan sampai sekarang saya tidak menemukan jawabannya. Mungkin … mungkin ini yang dinamakan takdir .. Kamu adalah takdirku, Eun Ho-ya .. “

Eun Ho tersipu malu mendengar jawaban Yong Chan.
“Kamu .. kamu percaya takdir ..? “, tanyanya pelan.

“Dulu tidak! Tapi sekarang, saya mempercayainya!”, jawab Yong Chan tegas.

Eun Ho mengangkat wajahnya yang tertunduk ke lantai.
“Chinja? .. Berapa besar .. “

“Seratus persen!!”. Jawaban Yong Chan terdengar lebih keras dari tadi.

“Weoo?”, tanya Eun Ho ingin tahu.

“Karena kamu! Setelah bertemu denganmu, saya percaya seratus persen pada takdir. Saya bertemu denganmu karena ada sesuatu yang mengaturnya dan Dia adalah Tuhan. Ini yang dinamakan takdir ..”

Eun Ho tersenyum lagi. Wajahnya bersemu merah, tapi hatinya sangat bahagia. Tidak pernah terbayangkan, bahkan seumur hidupnya, kalau seseorang akan muncul dan mencintainya begitu tulus seperti cara Yong Chan mencintainya.

“Kamu tahu tidak?”, lanjut Yong Chan, (Eun Ho segera meliriknya) “ .. kalau sebelumnya, .. saya sama sekali tidak mengenal dan tidak mengerti apa itu cinta … Hubunganku dengan Dam Ah begitu, cinta pertama waktu masih sekolah menengah juga begitu. Hubungan itu dipenuhi keegoisan, tidak mau menyerah dan ingin menang sendiri. Saya tidak pernah tahu kalau cinta itu membutuhkan pengorbanan, sampai … “, Yong Chan menoleh pada Eun Ho dan, pandangan mereka bertemu, “ … sampai saya bertemu denganmu .., kamu yang merubahku, Eun Ho-ya … Saya bukan seorang kekasih yang baik sampai kehadiranmu. Kamu malaikatku … Hanya bersamamu, semua keegoisanku menguap seperti asap, .. tidak berbekas ..”

“Memangnya .. bagaimana hubunganmu dengan Dam Ah?”. Eun Ho mengigit bibir setelah pertanyaan itu meluncur keluar dari bibirnya. “Miane .. saya .. saya tidak bermaksud .. “. Kepalanya menunduk perlahan.

“Tidak apa … “. Yong Chan mengetok pelan kepala Eun Ho sehingga membuat gadis itu mengangkat kepalanya lagi. “Tidak ada rahasia antara kita, Eun Ho-ya. Jadi kamu bebas menanyakan apapun .. Saya dan Dam Ah .. “. Yong Chan memulai ceritanya, “ .. kami bertemu sekitar tiga tahun yang lalu, dalam acara pembukaan kelas pengajaran acting yang diadakan YT Entertainment setiap tahunnya .. Kami belajar acting bersama, melalui masa-masa sulit bersama dan hubungan kami juga berjalan seiring kebersamaan itu. Sangat alami. Tidak ada yang memulai terlebih dahulu. Kami hanya merasa kalau kami memang seharusnya bersama. Tidak terpikir oleh kami, hubungan itu seperti apa, sampai .. masalah muncul ketika saya mulai terkenal, sedangkan Dam Ah masih harus berjuang dari nol …”

“Apakah .. apakah, kamu pernah menyesali putusnya hubungan kalian?”, tanya Eun Ho pelan.

“Mengapa bertanya begitu?”, Yong Chan balik bertanya.

“Karena .. karena saya tidak pernah menebak bagaimana .. bagaimana perasaanmu saat itu … Saya tidak bisa membaca pikiranmu. Setelah putusnya hubungan kalian tersebar di media massa, kamu … kamu hanya menyibukkan diri dengan pekerjaan, tanpa .. tanpa pernah menyinggung nama Dam Ah ….”, jawab Eun Ho terputus-putus.

“Kamu memperhatikanku saat itu?”, goda Yong Chan.

“Saya .. saya kan asisten pribadimu, tentu saja .. saya .. saya memperhatikanmu ..”, jawab Eun Ho gugup. “Lagipula .. saya takut kamu .. kamu masih marah padaku karena .. tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian di tangga darurat .. “, lanjutnya, membela diri.

Yong Chan tertawa perlahan.
“Ha .. ha .. waktu itu saya memang kesal padamu, tapi saya tidak marah selama itu kok. Saya hanya ingin mempermainkanmu dan .. sekali lagi, saya juga tidak tahu mengapa …”

“Lalu .. putusnya hubungan kalian?”, tanya Eun Ho penuh selidik.

“Mungkin sedikit!”, jawab Yong Chan. “Bukan karena menyesal, saya yakin itu! .. Lebih karena saya tidak bisa menerima keputusan sepihak dari perusahaan. Tapi walaupun begitu, kamu bisa melihat saya tidak berjuang untuk hubungan itu, .. karena saya merasa tidak perlu. Karirku lebih penting dari hubungan apapun. Lihat keegoisanku kan? Itulah aku yang dulu .. “

Eun Ho mengangguk. “Araso! .. Lalu cinta pertama itu?”, tanyanya lagi.

“Ha .. ha .. Saya harus berbuka ria dihadapanmu ya, Lee Eun Ho?”, goda Yong Chan.

“Kamu boleh memilih tidak menjawabnya, Goo Yong Chan-ssi!!”. Ancam Eun Ho dengan pura-pura bermaksud melepas cincin yang sudah dipakaikan Yong Chan di jari manisnya.

“Yaaaaaaaa!!!”. Yong Chan segera menarik tangan Eun Ho. “Saya tidak bilang tidak akan menjawabnya .. jadi hentikan tindakan ini!! “

Eun Ho tertawa keras. “Ha .. ha .. jadi ..?”

“Itu hanya cinta monyet! Tidak ada yang lebih! Kami berpacaran layaknya pasangan remaja lainnya. Berpegangan tangan, nonton bersama dan mengerjakan pekerjaan rumah bersama. Tidak ada yang special. Bahkan berciumanpun tidak. Itu bukan cinta, hanya pertemanan biasa. Yang beda, status kami dihadapan orang lain. Kami mengaku pacaran jadi ya status kami sepasang kekasih. Dia yang mengejarku dan aku yang memutuskannya ketika kami tamat dari sekolah menengah ... Kami berpisah baik-baik jadi jangan terlalu dipersoalkan hubungan itu.”

“Hanya itu?”, selidik Eun Ho.

“Memangnya ada yang lain?”

“Hubunganmu hanya dengan kedua wanita itu?”. Eun Ho kelihatan tidak percaya.

“Iya!”, jawab Yong Chan sambil berdecak keras. “Ckkk .. kamu tidak percaya?”

Mendadak, Eun Ho tertawa keras. “Ha .. ha .. ha .. “

“LEE EUN HOOO!!!”

“Miane .. ha .. ha .. tapi .. tapi ini sangat ha .. ha … sangat lucu … ha .. ha .. Saya mengira .. bagaimana hebatnya Yong Chan, tapi .. ha .. ha .. ternyata .. ha .. “

“LEE EUN HOO!!! Sudah cukup ketawanya?!! Ini tidak lucu!!!”, teriak Yong Chan, lebih keras dari tadi.

“Miane .. he .. he .. Iya, tidak lucu!! Kekasihku .. jempolan karena tidak playboy dengan wajah setampan ini.. “. Eun Ho menyentuh wajah Yong Chan dan mulai menghentikan suara ketawanya yang mengelegar.

“Lalu bagaimana denganmu?”, tanya Yong Chan, sambil memejamkan mata perlahan ketika tangan Eun Ho mengelus lembut pipinya.

Eun Ho meletakkan tangan ke pangkuan ketika mendengar pertanyaan Yong Chan. Kepalanya mulai tertunduk.
“Saya .. saya .. , ini pertama kalinya saya pacaran ..”. Eun Ho mengangkat wajah sambil mengigit keras bibir bawahnya. Resiko akan ditertawakan Yong Chan sudah siap diterimanya ketika jawaban itu meluncur keluar dari bibirnya.

Tapi Yong Chan tidak tertawa. Pemuda itu malahan membawanya ke dalam pelukan. Sangat erat dan hangat. Sepasang mata Eun Ho langsung terpejam.

“Gumawo .. “. Kata yang pendek dan sederhana ini merayap masuk ke dalam hatinya. Memberikan kenyamanan dan kepastian akan posisinya dalam hati Yong Chan. Eun Ho membalas pelukan Yong Chan. Dua titik air bening mengalir keluar dari sepasang matanya yang terpejam.

----------------------------


Yong Sae memeriksa penampilannya, untuk terakhir kali di depan kaca besar dalam kamar. "Hmmm ... sempurna .. ", desisnya halus. Gaun pendek dari sutra lembut berwarna putih itu terlihat manis membaluti tubuh mungilnya. Yong Sae tersenyum puas, "Penampilan istimewa untuk hari istimewa .. ".

Setelah meraih tas selempang kecil dari kain berwarna serupa dari atas ranjang, Yong Sae bergegas keluar dari kamarnya. Dia berlari sepanjang lorong tengah. Melewati ruang makan dimana Mr. dan Mrs. Goo sedang sarapan.

"Yong Sae-a!!!"

Teriakan itu menghentikan langkahnya. Yong Sae berbalik menghadapi Mr. dan Mrs. Goo.

"Kamu mau kemana?", tanya Mrs. Goo.

"Sa .. saya .. ada janji di luar omma .. ", jawab Yong Sae, berusaha menutupi kegugupannya.

"Janji?", dahi Mrs. Goo berkenyit. Matanya menyelusuri gaun yang dipakai Yong Sae. "Pentingkah janji itu?"

"Ne ..", jawab Yong Sae segera.

"Kamu tidak sarapan?"

Yong Sae mengelengkan kepalanya. "Saya akan sarapan di luar ..", jawabnya cepat.

"Tapi .. omma dan oppa bermaksud keluar bersamamu setelah sarapan, dan mencarikan hadiah ulangtahun buatmu hari ini .."

"Tidak perlu ..", sahut Yong Sae.

"Mwo?"

"Hmm .. kita bicarakan ini nanti malam saja, ma .. Saya benar-benar harus pergi sekarang ...". Yong Sae bergegas menuju pintu depan.

"Ingat pulang sebelum jam 7 malam Yong Sae-a!!! Oppamu akan merayakan ulangtahun bersamamu tahun ini!!".

Teriakan keras dari Mr. Goo menggema sampai ke pintu depan. Yong Sae menjulurkan leher dari ambang pintu. "Ne!!!", jawabnya.

---------------------------------


Sudah hampir setengah jam Yong Sae berdiri di seberang jalan raya, tepat di depan gedung Seoul Corporation. Tampangnya yang semula ceria mulai berubah gelisah. Berkali-kali dia melirik jam mungil yang melingkari lengan kirinya. Belum terlihat tanda-tanda orang yang ditunggunya keluar dari dalam gedung megah tersebut.

Sepuluh menit berlalu. Yong Sae mulai putus asa. Dia mendesah keras. Ketika bermaksud meninggalkan tempat itu, salah satu dari sekelompok orang yang keluar dari dalam gedung langsung menarik perhatiannya. Dong Wo tampak bersalaman dengan beberapa orang berpakaian rapi dengan sikap resmi. Mereka berbincang-bincang sebentar.  Setelah itu, orang-orang berpenampilan resmi tersebut berpisah dengan Dong Wo dan beberapa bawahannya.

Yong Sae segera menyeberangi jalan raya dan berlari kearah Dong Wo begitu pemuda tersebut sudah memutar tubuh kearah gedung Seoul Co.

"DONG WO OPPA!!!!"

Dong Wo menghentikan langkahnya. Dia berbalik, dan kelihatan sangat terkejut melihat keberadaan Yong Sae di tempat itu.

"Yong ... Sae ... ?? .. Ottoke?"

Yong Sae sampai di depannya dengan wajah berseri-seri.
"Oppa punya waktu sarapan denganku?", tanyanya, tanpa basa-basi.

Dong Wo melirik jam tangan yang melingkari tangan kirinya. "Sekarang?". Dia balas bertanya dengan kening berkenyint. Tanpa menatap Yong Sae.

"Iya! Bisakah?", tanya Yong Sae lagi. Tampangnya berubah gelisah.

"Kamu belum sarapan jam segini?". Dong Wo mengangkat wajah dan mengalihkan perhatian kearahnya.

Yong Sae mengeleng perlahan.

Pemuda itu mempertajam pandangannya. "Tapi .. saya masih ada pekerjaan lain. Lagipula saya sudah sarapan .. ", tolaknya halus.

Yong Sae langsung terpaku. Dia seperti orang yang kehilangan kesadarannya, sampai telapak tangan Dong Wo yang besar dan dingin menempel pelan di lengan kirinya.
"Saya harus pergi sekarang. Sampai ketemu lagi ..."

Pemuda itu memutar tubuhnya, bermaksud pergi dari situ.

"TAPI, HARI INI ULANGTAHUN SAYA!!". Tanpa disadari, kata-kata keras itu terlontar keluar dari mulut Yong Sae.

Dong Wo langsung menghentikan langkahnya. Dia berbalik dengan cepat, berhadapan langsung dengan gadis belia itu.
"Mwo?"

"Lupakan saja!!". Yong Sae memutar tubuh dengan bibir tergigit keras. Hatinya hancur. Maksudnya bangun pagi-pagi sekali dan berdandan habis-habisan buat pertemuannya dengan pemuda ini, tapi dia tidak melihatnya sama sekali.

Tiba-tiba, sebuah lengan terulur, mengenggam erat dan menarik tangannya. "Ayo sarapan bersama!!"

Mata Yong Sae terbelalak lebar ketika mendapati siapa yang mengatakan itu padanya. "Oppa ...", desahnya lirih, tidak dapat mempercayai penglihatan dan pendengarannya sendiri.

Dong Wo tersenyum padanya. "Saengailchukae, adik kecilku ..."

"Bukankah oppa tadi bilang masih ada pekerjaan lain?"

"Saya bisa menunda pekerjaan tersebut. Saya akan menelepon Mr. Park dan membatalkan rapat siang nanti .. ", jawab Dong Wo. "Ayo pergi!!". Sekali lagi, dia menarik tangan Yong Sae.

Gadis itu tersipu malu, kemudian mengikuti langkahnya.

-----------------------


Setelah menghabiskan sarapan bersama, Dong Wo memulai pembicaraan di antara mereka.

"Lalu, hadiah apa yang kamu inginkan dariku buat ulangtahunmu ini?"

Yong Sae tidak segera menjawab pertanyaan Dong Wo. Dia memperhatikan pemuda itu dengan seksama. Pandangannya sangat tajam dan mengandung arti mendalam. Pandangan yang membuat Dong Wo gelisah. "Tidak!!!! Jangan permintaan itu!!", teriaknya dalam hati. Tanpa menyadari apa arti dari larangan tersebut.

"Hari ini ulangtahunku yang keempatbelas ... ", kata Yong Sae. "Aku bukan gadis kecil lagi. Umurku sudah bertambah satu tahun .. "

Dong Wo tertawa perlahan sambil menyentuh kepala gadis itu. Dia berusaha melakukan itu dengan wajar tapi tetap saja dia terlihat gugup.
"He .. he .. tapi kamu tetap .. adik kecil ... "

"Saya bukan!!!", teriak Yong Sae, sambil mengibaskan tangan Dong Wo. "Jika saya mau, saya bisa melakukan apapun yang saya inginkan, termasuk pacaran!!!!"

Dong Wo tertegun. Dia tidak mampu membantah perkataan tegas Yong Sae. Untuk pertama kalinya dia merasa gugup berhadapan dengan seorang wanita. "TIDAK!!!", Dong Wo membantah keras. Yong Sae bukan wanita! melainkan hanya seorang gadis cilik yang kekanak-kanakan dan egois. Karena itu, dia gugup dan tidak bisa membantah gadis ini. Dia berbeda dari wanita-wanita yang pernah mengisi dunianya.

Dong Wo berusaha keras menolak dampak-dampak lain, yang untuk pertama kalinya, ditimbulkan seorang wanita dalam hidupnya.

"Saya tahu oppa memahami maksudku!!", lanjut Yong Sae. Tidak ada cara lain buatnya selain meneruskan pengakuan yang telah dimulainya tadi. Dia tidak dapat berhenti lagi. "Apa kita bisa memulainya?"

"Tidak!!!", sahut Dong Wo cepat. " ... Ehh maksudku, kamu masih muda ... ", dia berusaha memelankan volume suaranya ketika melihat kekecewaan Yong Sae. Entah mengapa hatinya terasa sakit melihat perubahan itu. " .. duniamu penuh warna. Masih banyak yang mesti kamu rasakan. Bukan hanya hubungan pria dan wanita tapi juga cita-cita dan masa depan. Kamu mesti menjalani itu, Yong Sae-a ...". Dong Wo mencondongkan tubuhnya ke depan, " ... miane, saya tidak bisa menerimanya .. dan saya yakin suatu saat, kamu juga akan menyesal dengan tindakan kekanak-kanakan ini .. "

"Saya tidak akan menyesalinya!!", sahut Yong Sae.

"Miane, saya tetap tidak bisa menerimanya ... ". Dong Wo mengangkat bahu perlahan.

Yong Sae mengangguk, kemudian tersenyum kecut. Sudah diduganya dari semula kalau jawaban ini yang akan didapat dari Dong Wo.

"Kalau begitu ... ", lanjutnya pelan, " .. apakah oppa bisa memenuhi permintaanku yang lain?"

"Apa itu?", tanya Dong Wo ragu-ragu.

"Saya tidak akan menyulitkan oppa, jadi jangan khawatir .. "

"Saya tidak .. ". Dong Wo kebinggungan sendiri. Dia berusaha menghindari pandangan kecewa dari Yong Sae. " ... katakanlah ... ", akhirnya Dong Wo berkata lirih.

"Berikan saya sekeping coklat setiap oppa pulang dari dinas luar negeri .. ", pinta Yong Sae.

"Mwo?"

"Oppa tidak mengabulkannya?", tanya Yong Sae gelisah.

"Oh tidak. Tentu saja tidak jadi masalah ... ". Dong Wo tersenyum perlahan.

Yong Sae mengangguk puas. "Hmm tidak buruk ... ", bisiknya pelan.

"Mwo?"

"Tidak apa-apa!!", sahut Yong Sae dengan cepat dan keras. Dia segera meraih gelas di hadapannya, kemudian meminum air dingin dari gelas tersebut. Senyum puas masih terhias di wajahnya. Sedangkan Dong Wo, mengamatinya dengan pandangan bertanya-tanya.

--------------------------------


“Apa katamu??”, tanya Nathan dengan mata terbelalak lebar. Suaranya terdengar keras karena dia tidak mempercayai apa yang baru saja didengarnya dari Choi Young.

Gadis di depannya tersenyum malu-malu. Pipinya bersemu merah, tapi jawaban yang keluar dari mulutnya sangat tegas.
“Saya bilang kalau saya bersedia menerima permintaanmu padaku, pabo-ya .. “

“Chinja??!!”, Nathan mengoyang tubuh Choi Young dengan sepasang tangannya, “Kamu .. kamu bukan mempermainkanku kan?”

Tampang Choi Young berubah cemberut. “Yaaaa apa saya seperti bercanda? Jika kamu tidak menerimanya, saya akan menarik perkataanku sekarang juga!!”, sambungnya dengan nada ancaman.

“TIDAKKK!!!!”, teriak pemuda itu cepat, “Kamu tidak bisa melakukannya!!!”. Dia segera meraih tubuh ramping gadis itu ke dalam pelukannya, “Kamu tahu kalau saya mengharapkan ini sudah dari setahun yang lalu .. “, bisiknya lembut di telinga Choi Young.

Gadis itu tidak mampu menjawab. Dia hanya tersenyum bahagia sambil mempererat dekapan pemuda itu.

“Saya sudah memikirkannya baik-baik dan saya sudah merasa pasti dengan perasaan ini padamu ….”. Choi Young menyandarkan kepalanya ke dada bidang yang memberikan sejuta kedamaian dalam hatinya tersebut. “Keraguan yang dulu pernah menghantuiku karena .. karena perasaan yang tidak kumengerti terhadap Yong Chan telah hilang, … dengan Yong Chan hanya sebatas kekaguman seorang wanita terhadap seorang pria, perasaan itu tidak abadi, semula, mungkin saya sangat tertarik padanya tapi seiring bergilirnya waktu dan kebersamaan kita ..
“, Choi Young mendonggakan wajahnya, memandangi Nathan dengan sinar mata penuh cinta, “….. saya bisa berkata dengan pasti kalau Cuma kamu satu-satunya pria dalam hatiku .. “, lanjutnya lembut.

Nathan tersenyum. Perlahan, kepalanya menunduk dan mengecup lembut bibir Choi Young yang agak terbuka. “Gumawo .. “, desisnya pelan.

Lalu, mereka sama-sama tersenyum. Senyuman penuh kebahagiaan. Laksana sinar matahari pemberi pengharapan di pagi hari, dan laksana cahaya rembulan pemberi kelembutan dan ketentraman di malam hari.

---------------------------------


“WAHHHH INDAH SEKALI, YOON-A!!!!!”, teriakan Yong Na memecah kesunyian di pinggiran pantai Oahu, Hawaii, di pagi buta itu. Sepasang matanya tak berkedip, terarah ke lingkaran besar berwarna kuning keemasan yang bersinar lembut dan sedikit menyilaukan mata, perlahan naik dari batas laut di ujung sana.   

“Sudah saya katakan padamu dari seminggu yang lalu kalau pemandangan ini tidak ternilai oleh bentuk materi apapun, sekarang kamu mempercayainya kan?”, tanya Choi Yoon puas. Pandangannya, seperti juga Yong Na, terarah ke matahari yang beranjak naik ke atas langit. Hari belum terang benar sehingga cahaya yang disebarkan mentari pagi itu terlihat lebih menakjubkan dari yang dapat mereka bayangkan.

Yong Na mengangguk dengan antusias. Matanya bercahaya, tidak kalah indahnya dengan sinar mengagumkan yang terpajang di depan mata mereka. Di samping kebahagiaannya saat ini, terbersit sedikit penyesalan dalam hati Yong Na. Mengapa baru sekarang dia mengikuti ajakan Choi Yoon menyaksikan matahari terbit setelah lebih dari seminggu berada di pulau Oahu?

Dua minggu yang lalu, Choi Yoon memenangkan dua tiket utama ke Hawaii dalam turnamen online games Selam Seminggu. Dan itu merupakan kejutan paling berharga yang dihadiahkan suami tercintanya. Masih segar dalam ingatan Yong Na, bagaimana dia menanggis haru-biru ketika mendengar kabar dari ponsel Choi Yoon yang tertinggal di rumah. Saat itu dia tidak mempercayai semuanya. Dia mengira telah dipermainkan orang iseng yang gemar main telepon. Tapi begitu dikonfirmasi ulang oleh penyelenggara dan Choi Yoon sendiri mengakuinya, barulah dia dapat mempercayainya.

Semuanya terjadi seperti dalam alam mimpi. Mereka menerima tiket hasil kemenangan Choi Yoon, mempersiapkan semua yang diperlukan buat keberangkatan ke pulau Oahu, Hawaii, diantar pergi dengan senyum kebahagiaan dari orang-orang yang mereka cintai dan akhirnya menginjakkan kaki di pulau impian mereka.

Yong Na tersenyum perlahan. Bayangan-bayangan tersebut sudah terjadi lebih dari seminggu yang lalu. Dia dan Choi Yoon menghabiskan bulan madu termanis yang tidak mungkin terungkapkan dengan kata-kata. Semua sangat sempurna. Baik itu hotel yang mereka tinggali, tempat-tempat yang mereka kunjungi, makanan-makanan yang mereka nikmati dan pemandangan-pemandangan yang mereka serap, semua tidak ada cacatnya. Sehabis dari Hawaii, mereka akan bertolak ke Paris. Mereka akan menghabiskan waktu selama dua minggu di sana.

Mentari pagi semakin meninggi di atas kepala mereka. Sinarnya mulai memanas dan menyilaukan mata. Yong Na dan Choi Yoon mengangkat tangan ke atas, berusaha menghalangi sinar menyakitkan itu masuk ke mata mereka. Sudah lebih dari satu jam mereka duduk di atas pasir putih dekat pinggiran pantai Oahu yang mulai ramai oleh para wisatawan.

Yong Na menoleh kearah Choi Yoon. Senyum manis tidak terlepas dari wajahnya yang oval lembut. Dia sangat bahagia hari ini. Menyaksikan matahari terbenam sudah sering dilakukannya, tapi menikmati matahari terbit, ini pengalaman pertama baginya. Yong Na terlalu malas untuk bangun pagi. Dan dia bersyukur Choi Yoon memaksanya bangun sehingga dia tidak melewatkan anugerah Tuhan yang maha besar ini.

“Yoon-a .. “, panggil Yong Na.

Choi Yoon mengamati istrinya. Dia tidak memberi tanggapan terhadap panggilan halus tersebut. Hanya matanya yang tidak berkedip, menatap lurus ke mata Yong Na.

“Gumawo .. “, lanjut Yong Na.

“Kamu puas? Apakah kamu bahagia Na-a?”, tanya Choi Yoon lembut.

“Ne ..”. Yong Na menyandar ke dada Choi Yoon. “Saya bahagia, .. sangat bahagia, Yoon-a. Saranghe …”

Choi Yoon tersenyum. Perlahan, dia mendaratkan ciuman halus ke jidat Yong Na. “Saranghe ..”

------------------------------


Drama ‘Love and Career’ berakhir dua hari yang lalu.

Farewell party buat drama tersebut berlangsung sehari sebelumnya. Semua pemain, kru, berikut produser, sutradara dan para wartawan, hadir dalam pesta tersebut. Berbagai pertanyaan diutarakan para wartawan kepada para pemain, terutama buat pemeran utama pria dan wanita, Dillon Eyre dan Kang Dam Ah.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut kebanyakan berpusat pada gosip hubungan mereka. Apakah gosip itu benar dan bagaimana mereka akan menjelaskan tentang foto-foto mesra mereka yang sudah beredar di internet selama ini? Dillon dan Dam Ah langsung membisu. Tidak ada seorangpun dari mereka yang berani mengambil inisiatif menjawab pertanyaan tersebut.

Melihat reaksi itu, kedua manajer dari artis bersangkutan segera mengambil-alih posisi mereka untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mematikan itu. Dan .. jawaban apalagi yang dapat diberikan para manajer artis selain membantah keras gosip yang dapat menghancurkan karir para artisnya.

Dam Ah sedang menyeruput kopi panas dari cangkir dalam genggaman tangannya ketika sebuah suara menyapanya dari belakang.

“Bisa kita bicara?”

Dam Ah menoleh, dan mendapati Dillon sudah berdiri tepat di belakangnya. Wajah pemuda itu terlihat agak pucat dan tidak ada senyuman terhias di wajah asingnya yang menarik.

“O Dillon … ada yang penting?”, tanya Dam Ah, ragu-ragu sejenak, sambil berusaha memperlihatkan senyumannya.

Dillon mengangguk. “Yes, .. can we?”

Dam Ah menelan ludah dengan susah payah, kemudian menangguk pelan.

Dillon menjatuhkan diri di depan gadis itu. Mereka duduk berhadapan. Saling menatap dengan gelisah. Dam Ah mempermainkan jemarinya sambil sesekali melirik pemuda itu. Kira-kira apa yang akan dikatakannya?

“So … what will you say?”

“Just break up!!”

Jawaban yang tidak disangka-sangka itu keluar begitu saja dari mulut Dillon.

“Mwo??!!!”, teriak Dam Ah. Sepasang matanya terbelalak lebar. Setelah Yong Chan, sekarang giliran Dillon minta putus darinya. Sungguh tidak dapat dipercaya!! “Are you serious?”

Mata Dillon terpejam perlahan. “I’m sorry .. “

“Bukan ini yang ingin saya dengar!!!”, teriakan Dam Ah semakin keras. Hatinya sangat sakit tapi matanya tidak berair. Tidak!!! Tindakan pemuda ini tidak cukup untuk membuatnya meneteskan airmata!!! Tidak akan pernah!!! “Give me the reason!!Now!!”, pintanya tegas.

Dillon tidak segera menjawab. Dia memperhatikan sekeliling café dengan seksama. Beruntung di jam segitu pengunjung café tidak banyak, sehingga teriakan Dam Ah tidak sampai menarik perhatian massa. Beberapa orang dalam café tersebut dikenalnya. Mereka dari YT Management dan mengetahui jelas hubungannya dengan Dam Ah.

Setelah menarik nafas panjang, Dillon mengalihkan perhatiannya kembali pada Dam Ah.
“I love you, Dam Ah-ssi and I want you know that .. I really do .. but it’s not enough to face all the rumour of us … I’m not Yong Chan and I think my love wasn’t that strong, so .. I’m really sorry … “

“So .. that’s the reason to break up with me? Your love wasn’t strong enough?”, tanya Dam Ah tak percaya.

“Kamu tahu kalau saya sangat mencintaimu, Dam Ah-a ..”, jawab Dillon memelas.

“Lalu mengapa harus putus?”

“Karena .. saya sangat menderita dan saya yakin kamu juga begitu … “

“What do you mean?”, tanya Dam Ah dengan kening berkenyit. “Mengapa kamu berpikir aku menderita? Apa yang membuatku menderita?”

“Kejadian kemarin!! Wawancara di farewell party ‘love and Career’! Kamu tidak mampu menjawab pertanyaan bertubi-tubi dari para wartawan, seperti juga saya, jadi saya yakin kalau kamu juga menderita seperti saya .. “

Dam Ah terpaku. Jawaban itu langsung mengunci hati dan mulutnya.

“Selama seminggu terakhir saya tidak dapat tidur nyenyak. Gosip yang beredar itu membuatku berpikir berpuluh bahkan beratus kali, apa yang seharusnya kulakukan untuk melindungimu. Mungkin ini bukan jalan terbaik dan mungkin kamu akan membenciku karena mengambil keputusan sepihak, tapi … seperti yang kukatakan tadi, cintaku tidak sebesar cinta Yong Chan. Aku tidak mampu mengaku kepada dunia luar tentang hubungan kita karena .. karena aku tidak mempunyai kekuatan untuk menanggung akibat dari perbuatan itu. Aku terlalu lemah .. mungkin …. “, Dillon menunduk perlahan, “ … mungkin aku terlalu .. egois .. “

“Mengapa .. mengapa hubungan kita tidak … tidak dibiarkan berjalan seperti ini saja?”, tanya Dam Ah, pelan dan penuh harap, “ .. Biarkan perkataan orang! Kita tidak perlu menghiraukannya!”

Dillon mengangkat wajahnya, “Tidak bisa .. “, jawabnya cepat.

“Weo?”

“Karena kita hidup di dunia para fans. Orang-orang yang selalu mengikuti gerak-gerik kita. Sedikit saja kesalahan, mereka akan mengetahuinya ..”

“Jadi tidak ada cara lain?”, tanya Dam Ah putus asa.

“Miane .. “, jawab Dillon penuh penyesalan. “Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Mungkin hubungan kita akan diterima beberapa tahun lagi, atau .. mungkin juga kita akan menemukan jalan keluar lain buat masalah ini. Itu harapanku, Ah-a. Tapi untuk sekarang, ini jalan terbaik. Kamu akan selalu menjadi orang paling berharga dalam hati dan hidupku. Biarkan waktu menguji cinta kita!”

Dillon menyentuh wajah Dam Ah. “Kamu mau menerimanya kan?”

Dam Ah tidak menjawab, karena dia memang tidak punya kekuatan untuk menjawab. Bibirnya seperti terkunci. Apa yang dapat dikatakannya kalau semua yang dijelaskan pemuda ini persis yang dirasakannya selama ini? Tidak bisa memejamkan mata karena mengkhawatirkan karir masing-masing! Takut terjadi sesuatu dengannya dan ingin melindunginya dengan segenap jiwa dan raga!

“Dam Ah … “

Panggilan halus Dillon menyadarkan Dam Ah dari lamunannya. Pemuda itu menatapnya redup. Dia terlihat tidak rela melakukan keputusan yang telah diambilnya. Dam Ah tersenyum perlahan. Dia merasa agak terhibur menerima tatapan sendu tapi menyejukkan hati dari Dillon.

Kemudian … dia menganggukkan kepalanya.

---------------------------


Dong Wo dan Nathan keluar dari restoran Shiro, tempat mereka menghabiskan makan siang hari itu, dan melewati toko kecil yang menjual berjenis coklat dan kue-kue manis dengan berbagai rasa, bentuk dan warna. Mendadak, Dong Wo menghentikan langkahnya tepat di depan barisan bermacam kotak coklat yang terpajang di etalase kaca toko tersebut.

Nathan juga menghentikan langkahnya ketika mendapati Dong Wo sudah tidak berada di sampingnya. Dia mundur beberapa langkah, sampai posisinya sejajar dengan pemuda yang membisu di depan toko. Nathan mengikuti arah pandangan Dong Wo.
“Weo, dongseng-a? Ada yang menarik?”, tanyanya penasaran. Sepanjang mata memandang, tidak ada sesuatu yang menarik perhatiannya dari toko itu. Dan dia yakin, tidak juga bagi Dong Wo. Dari dulu, adik sepupunya ini tidak suka manisan. Apalagi coklat. Dia sangat membenci rasa lengket dan manis dari makanan yang satu ini.

“Hyung-a, jika seorang gadis belia yang umurnya berbeda jauh darimu, memintamu untuk membelikan sebutir coklat buatnya setiap kali dinas dari luar negeri, apa yang akan kamu lakukan?”, tanya Dong Wo pelan, tanpa mengalihkan perhatian ke Nathan.

“Maksudmu, seorang gadis belia tertarik padamu?”, tanya Nathan kaget.

Dong Wo menoleh padanya. “Saya tidak berkata begitu!!”.

“Tapi maksud pertanyaanmu seperti itu!!!”, sahut Nathan tegas.

“Well …. “, Dong Wo mendesah perlahan, “Jika seperti dugaan hyung, apa yang harus saya lakukan?”

“Jika begitu hanya ada dua cara. Pertama, turuti permintaannya maka bebanmu akan berkurang, gadis cilik mudah dihibur kok. Dan kedua, saya tidak menganjurkan kamu melakukannya, yaitu berpura-pura tidak ingat permintaan itu … anggap saja kamu tidak pernah mendengarnya. Jika dia menanyakan itu, katakan padanya kalau masalah kecil tidak pernah tersimpan dalam otakmu. Walaupun akhirnya dia mungkin sangat membencimu tapi kamu benar-benar akan terlepas dari tangannya …”

Dong Wo menyaring semua perkataan Nathan dalam otaknya. Kemudian dia melirik barisan coklat dalam toko lagi.

“Siapa gadis cilik itu? Apakah saya mengenalnya?”, sambung Nathan.

“Hyung tidak perlu tahu ..”, jawab Dong Wo, tanpa bergerak dari posisinya.

Nathan tersenyum simpul,“Masih bermaksud membeli coklat?”, godanya.

Dong Wo mengalihkan perhatian padanya. Sepasang matanya langsung menyipit. Gurauan Nathan tidak disukainya.

“Let’s go!!”, ujarnya tegas. Lalu dia bergerak dari tempat itu. Diikuti Nathan yang masih tersenyum-senyum nakal.

-----------------------------


Seminggu kemudian ..

Dong Wo berada di Sydney, Australia, dan akan tinggal di sana selama dua minggu dalam rangka menghadiri konferensi Tic Tac, model telepon terbaru, yang diselenggarakan Telex Digital, salah satu partner kerja terbesar Seoul Corporation dan beberapa meeting penting lainnya.

Keluar dari ruang konferensi hotel Ritz Carlton, Dong Wo, ditemani asistennya, Mr. Park, berjalan sepanjang lorong hotel menuju aula depan. Ketika melewati sebuah toko coklat yang terletak dalam gedung hotel tersebut, Dong Wo menghentikan langkahnya. Begitu juga Mr. Park. Dia berdiri tegak dengan sikap sempurna. Walaupun hatinya bertanya-tanya apa yang sebenarnya menarik perhatian majikannya dari toko tersebut, dia tidak mengeluarkan suaranya.

Dong Wo berdiri dengan posisi serupa dan berkutat dengan pikirannya selama beberapa menit. Permintaan Yong Sae bermain-main dalam otaknya. Apa yang harus dia lakukan? Ketika kakinya bergerak dua langkah ke pintu masuk toko itu, dia menariknya kembali.

Dong Wo mengeleng perlahan. Tidak! Dia tidak boleh memberi harapan semu pada Yong Sae. Hubungan mereka sangat tidak mungkin. Mustahil! Itu kata yang paling tepat. Selain usia mereka yang terpaut jauh, Yong Sae bukanlah tipe idamannya.

Setelah mengambil keputusan bulat, Dong Wo meneruskan langkah, keluar dari hotel Ritz Carlton. Mr. Park mengamatinya dengan pandangan bertanya. Tapi tetap saja dia tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Dia bukanlah orang yang suka mencampuri urusan pribadi orang lain, apalagi urusan pribadi majikannya.

-----------------------


"Mwo??!! Ho .. llywod?!!. Sepasang mata Yong Chan terbelalak lebar kearah Mr. Kim. Dia tidak bisa mempercayai pendengarannya sendiri. Bagaimana mungkin? Tawaran bermain dalam salah satu film hollywod untuknya dan Eun Ho? Ini bukan mimpi kan?

Yong Chan melirik Mr. Jung dan Mr. Moon. Kedua manajer itu mengangguk sambil tersenyum lebar. Akhirnya Yong Chan mempercayainya.
"Tapi ... saya dan Eun Ho sudah memutuskan menikah dua bulan lagi .... ", sambung Yong Chan serius. "Kami akan sangat sibuk hari-hari ke depan .. "

"Undur rencana itu, Yong Chan-a! Ini kesempatan emas bagi kalian untuk terkenal di hollywod. Dan kesempatan ini tidak datang setiap saat. Sutradara yang menganjurkan kalian itu sangat terkenal dan semua film yang digarapnya masuk box office, jadi kami yakin, di dalam tangannya, karir kalian juga akan sukses .. ", kata Mr. Jung.

"Tapi Eun Ho, ... dia ... dan dunia musiknya ... ". Yong Chan ingin membantah, tapi segera dipotong Mr. Kim.

"Kamu jangan mengkhawatirkan Eun Ho. Kami sudah membicarakannya dengan Great Music Plus, dan mereka setuju bekerjasama dengan kita. Rekaman buat peluncuran CD premium Eun Ho akan dilanjutkan di Amerika."

"Apakah Eun Ho menyetujuinya?", tanya Yong Chan menyelidik. Dia tidak pernah mendengar berita ini dari Eun Ho, jadi dia yakin kalau calon istrinya itu tidak tahu-menahu dengan semua ini.

"Kami akan segera menghubungi Eun Ho dan meminta persetujuannya. Kami yakin dia tidak keberatan ... ", jawab Mr. Kim. Dia menoleh kearah Mr. Moon dan mengangguk padanya. "Lakukan itu, tuan Moon!"

"Baik Mr. Kim ...". Mr. Moon membungkukkan badannya, kemudian berlalu dari hadapan mereka.

"Bagaimana Yong Chan-a?"

Yong Chan menoleh pada Mr. Jung. Selama beberapa menit, dia tidak menjawab.

"Apa pernikahan kalian bisa diundur?", tanya Mr. Jung lebih lanjut.

Yong Chan mendesah perlahan. "Kalian tahu bagaimana berartinya Eun Ho dalam hidupku kan?", dia balas bertanya. "Kami melalui banyak rintangan berat baru bisa bersama. Mengundur pernikahan kami, sejujurnya, akan merupakan sesuatu paling akhir yang mungkin saya lakukan!! tapi .. seandainya Eun Ho menyetujuinya, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya akan mendukungnya .. "

Mr. Kim langsung merapatkan tangannya sehingga menimbulkan suara 'plok' keras.
"Bagus! kalau begitu kita tinggal menunggu keputusan Eun Ho-ssi ..."

--------------------- 


Kembali dari Sydney, Dong Wo langsung mendapat telepon dari Yong Sae, untuk bertemu dengannya di café Bimba, yang terletak di lantai dasar gedung Seoul Corporation.

Dong Wo sampai di café tersebut sekitar jam 2 siang. Agak terlambat dari waktu yang mereka janjikan. Begitu melihat kemunculannya, Yong Sae langsung melambaikan tangan dan berseru ceria.

“Dong Wo oppa!!! Di sini!!!”

Dong Wo berhenti sejenak. Memperhatikan gadis belia yang kelihatan sangat gembira itu dari jarak delapan meter.

“Oppa!!!!”, teriak Yong Sae lagi. Kali ini lebih keras, sehingga beberapa pengunjung segera melirik kearahnya dengan kesal.

Dong Wo tersenyum, agak terpaksa. Kemudian mendekati gadis itu.
“Hi …”, balas Dong Wo sekedarnya.

Tanpa basa-basi, Yong Sae menyodorkan tangan ke hadapan Dong Wo.

“Mwo?”, tanya pemuda itu.

“Oppa lupa?”. Yong Sae balas bertanya. Keningnya berkerut dan bibirnya maju ke depan.

“Mian .. Ada apa sebenarnya?”, tanya Dong Wo dengan sikap menyesal.

“Janji oppa!!”, sahut Yong Sae, kesal.

“Janji?! Apa yang saya janjikan?”

“Coklat!! Oppa berjanji membelikan coklat buatku setiap pulang dari dinas luar negeri!!”, jawab Yong Sae, tidak sabar. “Jangan katakan padaku kalau oppa melupakannya!!”

Dong Wo segera menepuk jidatnya, “Ohhh mian, saya benar-benar lupa … “

“Oppa!!!!”

Sepasang mata Yong Sae mulai memerah. Melihat itu, Dong Wo menjadi tidak tega. Maksud semula ingin membuat gadis itu kesal padanya dan melupakan semua harapan-harapannya yang tidak masuk akal. Tapi, begitu maksudnya sudah tercapai sedikit, dia menjadi iba pada Yong Sae.

“Mian .. “, tangannya bergerak, menyentuh lengan gadis itu. “Lain kali oppa berjanji tidak akan melupakannya .. “

Yong Sae mulai terisak halus. Lengannya menyusut, hingga terlepas dari sentuhan Dong Wo.
“Oppa .. oppa tidak pernah menganggap permintaan itu kan?”

“Yong Sae-a … “, desis Dong Wo. Kepalanya tertunduk perlahan, dan penyesalan menyusup masuk ke dalam hatinya. "Miane .... "

Isakan Yong Sae semakin keras. Air bening yang mengalir keluar dari sudut mata juga semakin deras. Yong Sae segera mengangkat tangan ke atas dan menghapus airmata tersebut dengan telapak tangannya.

"Hu .. hu .. saya ... saya mengajukan permintaan itu, bukan ... bukan karena saya ingin mengikat oppa hu .. hu .. saya ... saya melakukan itu karena ... karena saya ingin oppa selalu .. selalu teringat padaku ... hu .. Setiap .. setiap oppa melihat coklat, oppa akan teringat padaku. Hanya ... hu .. hu .. hanya itu ... "

Dong Wo terperangah. Dia merasa semakin bersalah mendengar pengakuan itu. "Miane ... ", hanya perkataan itu yang dapat diulangnya terus, terus dan terus. Pada saat ini, Dong Wo sangat membenci dirinya sendiri karena telah menyakiti hati gadis kecilnya.

"Mengapa ... hu .. hu .. mengapa oppa tidak memberi kesempatan pada diri sendiri? hu .. hu ... Ada pepatah, hargailah orang di hadapanmu sebelum anda menyesal telah melepaskannya ... hu ... apakah oppa mengetahui artinya?". Suara Yong Sae mengeras, dan dia menekan kata-kata yang keluar selanjutnya, "Hargai orang di hadapanmu!!"

Dong Wo tidak bereaksi dari posisinya. Kata-kata itu membuatnya terpana, tapi dia tidak punya kekuatan untuk menanggapinya. Melihat itu, Yong Sae sangat kecewa. Dia segera berdiri dari kursi dan berlari dari situ. Isakan keras mengiringi kepergiannya. Dong Wo mendesah keras. Dia mengetok kepala berkali-kali. Apa yang telah dilakukannya?!!! Dasar, pabo!!!!

-----------------------


Dua minggu kemudian, Yong Chan dan Eun Ho berangkat ke Hollywood, Amerika, bertepatan dengan kembalinya Choi Yoon dan Yong Na dari bulan madu dari Paris, Perancis.

Yong Chan dan Eun Ho akan berada di Hollywood selama setengah tahun untuk syuting film 'Apple's Maps' yang disutradarai Silver Morgan, salah satu sutradara paling berpengaruh di sana. Berlainan dengan Yong Chan yang hanya syuting film 'Apple's Maps', Eun Ho tenggelam dalam kesibukan di dapur rekaman sehabis dari lokasi syuting.

Presentase pertemuan mereka semakin menipis dengan kesibukan yang selangit itu. Selain pertemuan di lokasi syuting dan hal-hal yang berhubungan dengan film bersangkutan, waktu mereka habis seluruhnya dengan kesibukan sendiri-sendiri.

Kalau ditanya, apakah Yong Chan menyesal menerima tawaran main film Hollywood? Menyesal telah mengundur pernikahannya dengan Eun Ho? Menyesal karena waktu yang dimiliki mereka untuk bersama semakin sedikit? Maka jawabannya adalah IYA. Dari semula dia sudah menyesali keputusan Eun Ho. Tapi dia tidak dapat menolaknya karena dia sudah bersumpah akan menuruti semua permintaan gadis itu. Lagipula, apa yang dikatakan Eun Ho benar semua. Mereka tidak boleh egois dengan hanya memikirkan kebahagiaan sendiri. Masih banyak fans yang harus mereka perhatikan dan jaga perasaannya.

Para fans sudah rela menerima hubungan mereka, jadi mereka juga harus memberi yang terbaik bagi para fans. Mereka tidak boleh mengecewakan pendukung-pendukung mereka selama ini. Dan cara satu-satunya adalah membuat para pengemar merasa tersanjung dengan apa yang berhasil diraih idola-idolanya. Maka, di sinilah Yong Chan dan Eun Ho berada sekarang. Berusaha menembus dunia Hollywood yang tidak mudah dilakukan para artis Asia.

-----------------------


Selama dua bulan, Dong Wo tidak bertemu Yong Sae. Beberapa kali dia berusaha mendatangi Yong Sae di sekolah, tapi gadis itu menghilang begitu saja dari situ walaupun waktu itu masih terlalu dini untuk meninggalkan sekolah.

Tanpa Dong Wo ketahui, Yong Sae memang sengaja menghindarinya. Begitu melihat kemunculan pemuda tersebut di gerbang depan sekolah, gadis itu segera memutar haluan dengan keluar lewat pintu belakang sekolah berpagar rendah. Setelah penolakan dari Dong Wo, dia belum siap menghadapi pemuda itu.

Dong Wo semakin gelisah akhir-akhir ini. Sesuatu yang tidak dipahami terjadi padanya. Pekerjaan yang selama ini merupakan sesuatu terpenting dalam hidupnya menjadi terbengkalai. Hanya sebuah wajah yang terus-menerus bermain dalam pikirannya. Isakan dan kekecewaan, berikut kata-kata yang ditekan keras itu tidak bisa dibuang dari otaknya. GOO YONG SAE!!! Mengapa bayangannya begitu kuat?

Siang itu, seperti biasa, Dong Wo menunggu Yong Sae keluar dari sekolah. Berpuluh-puluh pasang mata langsung meliriknya. Bukan saja karena jumlah kemunculannya di situ yang menarik perhatian para siswa, tapi juga Ferrari mewah dengan warna merah darah menyala yang disandarinya.

Dong Wo melirik ke dalam gerbang depan. Masih tidak terlihat bayangan Yong Sae. Dong wo menghembuskan nafas keras-keras. Tiga menit kemudian, Mr. Park mendekatinya. Pria setengah baya itu membisikkan sesuatu di  telinganya. Mata Dong Wo melebar perlahan.
"Chinja?", tanyanya, tidak mampu mempercayai perkataan itu.

"Ne, tuan So ...", jawab Mr. Park sopan.

Dong Wo segera berlari ke dalam sekolah. Dia melewati aula depan, terus .. menyusuri lorong dalam yang panjang, melewati taman yang cukup luas, sampai di depan pintu belakang sekolah. Samar-samar pandangannya menangkap sosok yang sangat dikenalnya, melangkah keluar dari pintu tersebut.
"GOO YONG SAE!!!". Teriakannya menggema di lapangan belakang yang sepi.

Yong Sae menghentikan langkah dengan segera. Dia menoleh dan sangat terkejut mendapati Dong Wo berlari kearahnya. Dia langsung memutar tubuh dan bermaksud melarikan diri dari pemuda itu.

"BERHENTI DI SITU!!!"

Yong Sae tidak perduli teriakan Dong Wo. Dia melesat cepat dari tempat itu, menuju halte bis di sebelah kiri gerbang depan sekolah.

"BERHENTI, KATAKU!!!". Teriakan itu terdengar lagi.

Yong Sae terus berlari, tanpa berani berpaling ke belakang. Lalu, sebuah tangan yang kuat tiba-tiba menarik lengan kirinya. Yong Sae kehilangan keseimbangan dan terpental beberapa langkah ke belakang. Tubuhnya menabrak keras dada Dong Wo.

"Akhhh .... ". Dong Wo mengigit bibir bawahnya kuat-kuat. Dadanya terasa nyeri akibat tabrakan itu.

"A .. apa maumu?". Yong Sae segera mendorong Dong Wo ke belakang.

"Kita perlu bicara!!", sahut Dong Wo, sambil mengelus dadanya yang masih terasa sakit.

"Tidak ada yang perlu dibicarakan!!". Tampang Yong Sae menjadi dingin. Dia memutar tubuh dengan pelan dan mulai melangkah dari posisinya.

"ADA!!". Dong Wo kembali menariknya ke belakang. Pandangan mereka bertemu. "Ada yang ingin saya bicarakan. Dan ini sangat penting .. "

"Semua sudah jelas kan?", tanya Yong Sae sinis.

"Saya berubah pikiran!!", sahut Dong Wo cepat, membuat Yong Sae mengerutkan alisnya.

"Apa maksudmu, presiden So?"

"Saya bersedia memberi kesempatan pada hubungan kita. Saya akan menunggumu selama 4 tahun, sampai usiamu genap 18 tahun. Sampai saat itu, kita akan merundingkan kembali hubungan ini .. ", jawab Dong Wo dengan senyuman terhias di bibirnya.

"Maksudmu?.. Saya tidak mengerti sama sekali .... "

"Maksudku sangat jelas, Yong Sae-a. Saya tidak akan menghindarimu, ataupun menyakiti perasaanmu selama empat tahun mendatang. Apapun permintaanmu akan saya penuhi. Tentu saja bukan sebagai seorang kekasih! Tidak! Belum sampai ke situ! Tapi, walaupun begitu, saya ingin kamu mengetahui sesuatu kalau .. SAYA MENYUKAIMU."

Yong Sae langsung terperangah. Dong Wo menyukainya? Ini bukan mimpi kan? Yong Sae menyubit lengannya keras-keras untuk menyakinkan pendengarannya, tapi dia langsung berteriak keras ketika kulit lengannya langsung memerah dan terasa sakit.
"AKHHH .... "

"Pabo-a!!". Dong Wo meraih tangannya dengan cepat. "Apa tidak ada cara lain untuk membuktikan kebenaran ini selain menyakiti diri sendiri?", dia mengelus halus pergelangan tangan Yong Sae yang mulai membiru.

"Gumawo ... ", Yong Sae segera menarik tangannya, "Gwencana-o .. "

Dong Wo menatapnya lekat-lekat, "Tapi kamu juga harus berjanji padaku ... "

"Mwo?"

"Jalani hidupmu seperti biasanya. Jangan menghindar dari pria yang mengejarmu! Beri kesempatan pada dirimu sendiri untuk mengenal pria lain. Berhubunganlah layaknya remaja-remaja seusiamu! Kamu masih sangat muda, Yong Sae-a, dan masih banyak yang harus kamu pelajari. Mungkin ... merasakan manisnya cinta pertama dengan pria seusiamu dan merasakan pahitnya putus cinta. Saya akan menunggumu selama itu. Jika setelah empat tahun, perasaanmu tidak berubah, saya berjanji akan memulainya denganmu!!"

"Chinja?", tanya Yong Sae serius.

"Ne .. ", jawab Dong Wo.

"Kalau begitu kamu juga harus berjanji padaku .. ". Yong Sae tersenyum lebar.

"Mwo?"

"Tidak ada wanita lain selama empat tahun ke depan!!!", jawab Yong Sae tegas.

Tawa Dong Wo langsung pecah. "Ha ... ha .. ha ... "

"Oppa!!", rengek Yong Sae, "Saya serius!!!"

"Ha .. ha ... ok, deal ....", jawab Dong Wo dengan mata bersinar, "Tidak ada wanita lain! Saya tidak akan melirik siapapun sebelum hubungan kita menjadi jelas .. "

"Oppa ... ". Yong Sae menghambur ke dalam pelukan Dong Wo, tanpa perduli lagi dengan pandangan orang sekitar, "Gumawo ... ", bisiknya halus sambil mempererat pelukannya.

-------------------


Pertengahan bulan Juli ....

Jae Won melepaskan headphone dari telinganya, meletakkan peralatan tersebut ke atas meja, kemudian keluar dari ruang rekaman yang sudah digelutinya selama empat jam.

"Jae Won-ssi, ada seorang wanita yang katanya sahabat karibmu, sedang menunggu di ruang depan ...", teriak seorang ahjuma padanya.

"Ne, noona. Ghamsamida ... ". Jae Won menganggukkan kepala pada ahjuma, yang tidak lain dan tidak bukan adalah noona stylishnya.

Setelah membetulkan penampilannya yang agak berantakan di depan kaca, Jae Won berlalu dari situ. Dia menuju ruang tunggu depan. Jae Won sampai di sana dan mendapati seorang wanita sedang memunggunginya. Wanita itu berbalik perlahan ketika mendengar bunyi sepatu Jae Won.

Dan ... mata Jae Won langsung melebar ketika mengetahui siapa wanita itu..
"Song Hye Jin??!!! Ba .. bagaimana mungkin .... ?"

"Anyeongheseyo, Jae Won-a ... ", sapa Hye Jin sambil tersenyum manis.

--------------------------

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
hola mi...

lama gak in di mari...

udah di apdet ma mami...

wuahhhh...banyak sekali ketinggalannya...

belum baca mi... mau Emoticons0422 dulu baca...


mi...kok da tante Hye Jin...?

baca dulu ah...makin penasaran...

 [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff]

Offline lee sunkyu

  • Newbie
  • *
  • Posts: 48
    • View Profile
mamiii... tenkyu udah di update!! wah.... belum ending yah?

Offline pink_girly

  • Full
  • ***
  • Posts: 341
  • <3 MinSun
    • View Profile
Mamiii...
akhirnya update juga.. [smiley-dance013] [smiley-gen013] [smiley-dance013]
Mi, aduh kog d'undur prnikhan mrka..?? kacian jga ng liat mrka.. trus ga kacian ama qt yg stia mnggu mrka dpt babynya.. ? [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
Ok.. semangat buat author yg selanjtunya... !! [smiley-gen013] [smiley-dance013] [smiley-gen013] [smiley-dance013]

Offline lluluMH

  • Newbie
  • *
  • Posts: 79
  • I like her style boyish but still beauty love it
    • View Profile
horeeee udh update  [clap] [clap] [clap]

thanks yo mi udh d update  [hug] [hug] mami... [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

tp kenapa requestan ku gk d lakuin..?  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
moment chanho nya knp dikit bgt toh mi..?  [hmpfh][head break] [head break] [head break] deh sm mami, udh d update msh d protes... hehehe..
[lovestruck]
EUNHAE IS SAME LIKE MINSUN !!!!!!!!!! LOL

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
ilulu, bagian chanho kan udah hampir ending jd ya mesti utamakan couple lain, nah karena hubungan wosae couple masih rumit ya mesti diceritakan lebih byk biar ga terlantar, kasihan kan klu semua couple udah menuju titik terang, si wosae masih mengantung entah di mana [laughing] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline neiya

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1006
  • Location: depoook
    • View Profile
Setuuuju miii..wosae harus jadi ya mi! Jangan dipisahiiiin :( hiks..

Miii...kira" ini tamat di chapt berapa mi? Jangan lama" iaaa...



Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
neiya, wosae ga berpisah kok, mereka udah buat perjanjian buat 4 thn mendatang, klu iman yong sae kuat ~lirik si miny [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] , mereka pasti bersama [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
wew udah upate ta [smiley-gen013] [smiley-gen013] [hug] [cheekkiss]

ntar kalo yong sae ndak kuat iman dong woo buat aku aja sini siap menampung kok [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing]


ADAM COUPLE SELCA

Offline Echyn MinHo LeeSun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 635
  • gaya ala RATHOT + CASSAMINONG.. haha
  • Location: manado
    • View Profile
t'q mamiiiiii.......... [jumpy] [jumpy] [jumpy] [jumpy] [jumpy] [jumpy] [jumpy]
akhirnya di updte jugaaa.......... [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing]
berarti kali ini giliran yg bengkok2 d update kan mi?????????  [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff]
http://i54.tinypic.com/2w30vac.jpg[/img]

favorite couple
MinSun
KhunToria :D [/center]

Offline Echyn MinHo LeeSun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 635
  • gaya ala RATHOT + CASSAMINONG.. haha
  • Location: manado
    • View Profile
t'q mamiiiiii.......... [jumpy] [jumpy] [jumpy] [jumpy] [jumpy] [jumpy] [jumpy]
akhirnya di updte jugaaa.......... [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing]
berarti kali ini giliran yg bengkok2 d update kan mi?????????  [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff]
http://i54.tinypic.com/2w30vac.jpg[/img]

favorite couple
MinSun
KhunToria :D [/center]

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Thanks mi, sudah diupdate tapi lanjutannya bakal lama ya...kan si luv super sibuk kayaknya...

Suka banget ama Wosae couple, akhirnya dong wo sadar juga klo dia suka ma yong sae.. Cuman kasihan nih masa di buat si Yong sae yang ngejar dong wo..Miny, lu gak marah di bikin begitu ma si mami..?

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Thanks mi, sudah diupdate tapi lanjutannya bakal lama ya...kan si luv super sibuk kayaknya...

Suka banget ama Wosae couple, akhirnya dong wo sadar juga klo dia suka ma yong sae.. Cuman kasihan nih masa di buat si Yong sae yang ngejar dong wo..Miny, lu gak marah di bikin begitu ma si mami..?
habis, ga masuk akal klu dong wo yg ngejar yong sae [hmpfh] dong wo kan nyadar bgt perbedaan usianya dgn yong sae, dan hubungan mereka yg amat sgt mustahil [biggrin] [biggrin] .. klu yong sae sih masih sangat muda dan blm sadar atau mengerti klu hubungannya dgn dong wo itu tidak bakal berhasil, dia berpendapat klu saling mencintai sehrsnya bersama dan tdk perlu memperdulikan hal lain, berbeda dgn pandangan dong wo ttg hubungan dgn seorang wanita [biggrin]

echyn, ff bengkok2 lum bisa diupdate, gw sibuk bgt, lagian sekrg lg sakit kepala [heh] ga bisa berpikir jernih deh, jd bersabar ya [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline lluluMH

  • Newbie
  • *
  • Posts: 79
  • I like her style boyish but still beauty love it
    • View Profile
ilulu, bagian chanho kan udah hampir ending jd ya mesti utamakan couple lain, nah karena hubungan wosae couple masih rumit ya mesti diceritakan lebih byk biar ga terlantar, kasihan kan klu semua couple udah menuju titik terang, si wosae masih mengantung entah di mana [laughing] [laughing]

oooo iya yak, lupin aku sm si wosae,  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

ya wes ta' tunggu next chap nya ya mi *wlpn pst lama nunggunya*  [hmpfh]..

dan cpt smbuh ya mi, biar yg bengkok2 cpt update nya  [hmpfh] [hmpfh]
[lovestruck]
EUNHAE IS SAME LIKE MINSUN !!!!!!!!!! LOL