Author Topic: The Curse - Chapter Sixteen, Updated 30 Mar'13  (Read 21063 times)

Offline chizumi

  • Junior
  • **
  • Posts: 132
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Fourteen, Updated 2 Feb'13
« Reply #420 on: February 07, 2013, 11:14:24 pm »
windaaaa... kata lo 3 bulan lagi
ini malah sekalinya ada endingnya bikin nyesek
jangan bilang ini awal perpisahan joon sung sama kae bi   [AddEmoticons04241] [AddEmoticons04241]
Nooooo....  Emoticons0429

but anyway tengkyu darlingggg...  [AddEmoticons04225]
langsung ya next chap  [AddEmoticons04254] [AddEmoticons04258]

Offline Winda Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 679
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Fourteen, Updated 2 Feb'13
« Reply #421 on: February 08, 2013, 01:53:21 am »
asyikk akhirnya bisa komen [smiley-gen013] [smiley-gen013]
duh my lil sista makin pintar aja  [love eyes] [love eyes] [love eyes] suka banget chap 2 terakhir ini, mereka dah baikan n romantis-romantisan  [bav] [bav] [bav] [bav].Makin suka ma karakter joon sung yang apa adanya.Pertanyaan gw nanti kalo semuanya dah kebongkar yang bakalan marah siapa nih, kae bi or joon sung  [what] [what]. next chap jangan lama-lama ya  [biggrin] thx dah update

Makasih kakak udah mampir nd dibaca storynya^.^
Bukan marah bukan benci dan bukan apapun yang berbau permusuhan diantara joon sung nd kae bi nanti stelah mengetahui semuanya. Hanya keterpaksaan. Entah deh, liat aja nxt chap gue juga belum bikin soalnya huehehe.

[lovestruck] and in another life, we believe... love never die [lovestruck]

Offline Winda Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 679
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Fourteen, Updated 2 Feb'13
« Reply #422 on: February 08, 2013, 01:54:48 am »
Mengharu Biruuuu ....... [fighting]

 [hmpfh][hmpfh][hmpfh] makasih dah dibaca

[lovestruck] and in another life, we believe... love never die [lovestruck]

Offline Winda Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 679
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Fourteen, Updated 2 Feb'13
« Reply #423 on: February 08, 2013, 01:59:28 am »
windaaaa... kata lo 3 bulan lagi
ini malah sekalinya ada endingnya bikin nyesek
jangan bilang ini awal perpisahan joon sung sama kae bi   [AddEmoticons04241] [AddEmoticons04241]
Nooooo....  Emoticons0429

but anyway tengkyu darlingggg...  [AddEmoticons04225]
langsung ya next chap  [AddEmoticons04254] [AddEmoticons04258]



ckckck, kena tipu yaaa [rofl]
Emang gue bilang joon sung ma kae bi bakal pisah ya? Engga ah, siapa yg mau misahin sih, tega bener #pasangtampangpolos
enak aja langsungggg, sini bawa minsun dulu ke rumah gue baru deh gue update langsung buat lo  [dry]
Tapi thanks ya dah mampir  [lovestruck]

[lovestruck] and in another life, we believe... love never die [lovestruck]

Offline chizumi

  • Junior
  • **
  • Posts: 132
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Fourteen, Updated 2 Feb'13
« Reply #424 on: February 08, 2013, 04:14:53 am »
windaaaa... kata lo 3 bulan lagi
ini malah sekalinya ada endingnya bikin nyesek
jangan bilang ini awal perpisahan joon sung sama kae bi   [AddEmoticons04241] [AddEmoticons04241]
Nooooo....  Emoticons0429

but anyway tengkyu darlingggg...  [AddEmoticons04225]
langsung ya next chap  [AddEmoticons04254] [AddEmoticons04258]



ckckck, kena tipu yaaa [rofl]
Emang gue bilang joon sung ma kae bi bakal pisah ya? Engga ah, siapa yg mau misahin sih, tega bener #pasangtampangpolos
enak aja langsungggg, sini bawa minsun dulu ke rumah gue baru deh gue update langsung buat lo  [dry]
Tapi thanks ya dah mampir  [lovestruck]

itu buktinya si joon sung diajak sama hyun woo, pasti bakalan ga balik deh tuh  [cry] [cry]
please abis itu gimana si kae bi?? pasti jadi ancur nie hubungan  Emoticons0429

Offline Rya

  • Newbie
  • *
  • Posts: 47
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Fourteen, Updated 2 Feb'13
« Reply #425 on: February 11, 2013, 05:48:17 pm »
 [love eyes]  mksh updateanx [hmff] [biggrin] sist joonsung kaebix jgn d pisahin yaaa alx mrk mkn so sweetttz aj

Offline Rya

  • Newbie
  • *
  • Posts: 47
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Fourteen, Updated 2 Feb'13
« Reply #426 on: February 28, 2013, 08:17:22 am »
 [cry] updateeeee pleaseeee  [bav] [bav] [bav] [bav]

Offline Rya

  • Newbie
  • *
  • Posts: 47
    • View Profile
 [whip] haaa makkkk windaaaa ayo d updateeeee  [angry] [cry]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
update yang ini yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
[/size][/color][/b]

Offline Winda Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 679
    • View Profile
windaaaa... kata lo 3 bulan lagi
ini malah sekalinya ada endingnya bikin nyesek
jangan bilang ini awal perpisahan joon sung sama kae bi   [AddEmoticons04241] [AddEmoticons04241]
Nooooo....  Emoticons0429

but anyway tengkyu darlingggg...  [AddEmoticons04225]
langsung ya next chap  [AddEmoticons04254] [AddEmoticons04258]



ckckck, kena tipu yaaa [rofl]
Emang gue bilang joon sung ma kae bi bakal pisah ya? Engga ah, siapa yg mau misahin sih, tega bener #pasangtampangpolos
enak aja langsungggg, sini bawa minsun dulu ke rumah gue baru deh gue update langsung buat lo  [dry]
Tapi thanks ya dah mampir  [lovestruck]

itu buktinya si joon sung diajak sama hyun woo, pasti bakalan ga balik deh tuh  [cry] [cry]
please abis itu gimana si kae bi?? pasti jadi ancur nie hubungan  Emoticons0429

sok taahuuuu  [head break] [head break] [head break]

[lovestruck] and in another life, we believe... love never die [lovestruck]

Offline Winda Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 679
    • View Profile
CHAPTER FIFTEEN




Pesan singkat dari Joon Sung menjawab segala perasaan resah Kae Bi. Tapi ini semua tidak lebih dari cukup, sebab tidak seperti biasanya Joon Sung berkelakuan seperti ini.


Isi pesan Joon Sung adalahnya menyuruhnya untuk pulang lebih dulu.


Kae Bi menggenggam ujung ponsel, terpaku sendiri dikeramaian pesta. Perlakuan Joon Sung belum berhasil membawa kekalutan pergi dari hatinya. Keruh menjalar di sela kerongkongannya, sebenarnya, perasaan Joon Sung yang Kae Bi serap saat ini tidak menghasilkan apapun. Semua masih bisa dikendalikan.


“Kae Bi-aa” Kae Hwa secara tiba-tiba menghampirinya dengan gerakan perlahan. “Kau tahu dimana Ayahmu? Para pemegang saham ingin bertemu dengannya”


“Ayah—” Kae Bi mendesis seraya mengedarkan pandangan ke segala arah. Di detik berikutnya ia menatap Kae Hwa dengan pandangan tak membuahkan hasil. “Aku tidak melihatnya, Ibu”


Kedua wanita itu akhirnya berpisah—Kae Hwa meminta bantuan beberapa karyawan disana untuk menemukan dimana suaminya kini berada. Sedangkan Kae Bi, ia lebih memilih mencari sosok sang ayah sendiri.


Beberapa seluk ruangan di tempat yang tidak kecil itu, di laluinya dengan pandangan kosong, tak ditemukannya Mr.Goo disana. Lalu Kae Bi beralih ke lorong sunyi yang terletak di ujung sisi hotel tersebut. Detakan High Heelsnya terdengar begitu jelas walau ia berjalan dengan gerakan lamban.


“Ayah—” Kae Bi tercekat. Tubuhnya mematung saat kedua penglihatannya berarah pada sosok pria tengah baya yang sudah terbaring kaku di lantai. Air hendak keluar dari pelupuknya begitu saja. Ia segera menyambar tubuh Mr.Goo kedalam pelukannya. Kae Bi menangis—perasaan gelap memasuki celah-celah didalam hatinya. Tak berselang lama, Kae Hwa dan yang lainnya menghampiri tempat dimana Kae Bi dan Mr.Goo berada—Suaminya tak sadarkan diri dan Kae Bi yang menangis mendekapnya dengan terisak.


Malam kelabu bagi keluarga Goo saat itu. Setelahnya suara Sirine ambulan mulai memenuhi tempat perayaan masa kejayaan Goo Seoul Corp tersebut. Kae Bi memasuki mobil sang Ibu. Hingga lotus hitam itu mulai menderu, berjalan beriringan dengan mobil Ambulan yang membawa tubuh tak berdaya milik Mr.Goo.





***




Hyun Woo membimbing Joon Sung memasuki Lee Mansion dengan berat hati. Sosok Pak Jang telah menjulang di depan pintu seraya membungkukan badan di hadapan kedua kakak beradik ini. Joon Sung tak begitu mengindahkan, ia masih menilik ke segala sisi dari bangunan mewah tersebut dengan hati-hati. Hyun Woo mengalihkan pandangan padanya lalu menatap Pak Jang yang terus memperhatikan Joon Sung dengan setengah tertegun—Hingga Joon Sung merasa kedua dari sepasang mata kini mengintainya dalam hening.


“Mianhe Doronim, Apakah—” Hyun Woo tahu pertanyaan yang akan dilontarkan Pak Jang. Ia membuka suara sumbang sebelum menatap Joon Sung kembali.


“Jika pertanyaanmu berasal dari kejadian empat belas tahun yang lalu, maka jawabannya adalah iya, Pak Jang” Pria tua itu hampir beringsut dari tempatnya. Jadi sosok pria asing dihadapannya ini adalah Lee Jae Hyun putra bungsu dari majikannya yang telah lama menghilang.


Lee Jae Hyun—Tuan muda keduanya setelah Lee Hyun Woo, yang telah ia anggap seperti putranya sendiri sebelum kejadian empat belas tahun lalu menghancurkan segalanya.


Joon Sung berpandang tanya saat melihat cara Pak Jang menatapnya dengan begitu berbeda. Lalu sosoknya berjalan lagi saat Hyun Woo mengintruksikan untuk melanjutkan langkah kembali.


Mereka berhenti tepat di sebuah ruangan bergaya elegan. Dilengkapi dengan barang-berang mewah, satu set meja kerja lalu terpampang meja besar lagi dan sepasang sofa hitamnya. Beberapa senjata api menghias disana lalu skema-skema peta yang tidak diketahui dengan jelas oleh Joon Sung.


Hyun Woo menjadi gusar, ia mengambil tempat di depan meja kerja sang Ayah. Sambil menunggu kedatangan Pria tengah baya itu, berbagai pikiran merasuk dan bersiteru dengan hati serta bagian otaknya kini. Kejelasan tentang status Joon Sung di Mansion ini, tentang kejadian empat belas tahun yang lalu, tentang perlawanan sang Ayah untuk membalaskan dendam.
Semua membuat Hyun Woo hampir mati menahan sesak. Ia mengepalkan tangan dan bergelut pada pemikirannya sendiri tanpa menyadari jika Joon Sung telah mengamati gerakan kecilnya dari kejauhan.


“Apa maksud dari semua ini?” Sekarang suara gelap itu mendominasi suasana diruangan tersebut. Hyun Woo menghembuskan nafas jengan tanpa mau menatap Joon Sung.


“Sesuatu yang akan kau benci” Jawab Hyun Woo dingin. Membuat Joon Sung menyatukan alis seraya berspekulasi pada pemikiran yang ia dapat. Perlahan ia mendekat kearah Hyun Woo dan menatap pemuda itu dengan pandangan yang telah berubah.


Kae Bi—nalarnya tertuju saat pikiran yang diserapnya mengarah pada kejadian saat dimana Hyun Woo dan lelaki misterius tadi mencoba melenyapkan wanita yang ia cintai. Mata Joon Sung berkilat dan rahangnya mengeras.


“Membunuh Kae Bi—itu yang kau maksud!?” Joon Sung kehilangan kendali. Ia menyambar kerah kemeja Hyun Woo dengan satu gerakan cepat. Menikam tajam hingga Hyun Woo rasa dirinya sulit bernafas akibat ulah adik bungsunya ini.


Tak ada perlawanan yang akan diberikannya untuk Joon Sung, sebab lututnya sudah lemas semenjak tadi. Bahkan—satu pukulan yang akan di berikan Joon Sung dengan cuma-cuma siap diterimanya jika semua dapat membuat saudara sekandungnya itu tidak perlu menyiksanya sampai sekalut ini.


“Jawab aku! Apa kau bermaksud membunuhnya kembali!?” Kali ini suara Joon Sung terdengar menekan bercampur amarah. Hyun Woo menatapnya dengan mata sendu yang diterka pemuda itu sebagai bagian dari sandiwara. Hingga Joon Sung merasa semakin muak dengan tingkah laku Hyun Woo dan hendak melayangkan pukulan ke arah wajah tampan itu.


“Itu salah satunya, Kim Joon Sung” Suara lain membuat keduanya beralih. “Membunuh putri Goo Bin Woo adalah salah satu dari tujuan kita”


“Ayah!” Hyun Woo segera menghempaskan lengan kekar Joon Sung dari kerah kemejanya. Ia berjalan tegap menghampiri Mr.Lee di ambang pintu ruangan.


Pandangan mata Hyun Woo menyuarakan kemarahan. Tidak—Joon Sung tidak boleh mendengarkan pernyataan gila yang sekejap dapat menghancurkan segalanya.


“Ia perlu tahu, Lee Hyun Woo!” Sahut Mr.Lee keras. Sementara Joon Sung masih membeku ditempatnya.


“Kita?” Mata Joon Sung semakin berkilat tajam. Apakah maksud dari tujuan kedua lelaki ini adalah melibatkan dirinya untuk melenyapkan Kae Bi? Jika begitu, maka orang-orang inilah yang akan ia lenyapkan lebih dulu, pikir Joon Sung.


“Tidak—bukan seperti itu” Hyun Woo segera menghampiri Joon Sung dan berdiri mantap di hadapan pria itu dengan nafas menggebu. Kepalan tangan Joon Sung semakin erat. Rasa amarahnya telah menyadak dada kala melihat Hyun Woo yang kini berada tepat di depannya.


“Seharusnya aku tidak pernah mempercayaimu!” Kata-kata Joon Sung seperti hantaman benda keras untuk Hyun Woo. Di detik berikutnya satu pukulan sudah diarahkan dari kepalan tangan kanan adiknya itu.
Mr Lee cukup terkejut namun tak berniat merelai keduanya. Ia masih mengamati Joon Sung dan Hyun Woo yang menurutnya tengah bersiteru bodoh. Joon Sung merampas kerah kemeja Hyun Woo lalu mengamati wajah yang dibencinya itu dalam-dalam.


“Dirimu yang seharusnya dibunuh lebih dulu!” Joon Sung mengangkat tangan bersiap lagi melenyapkan Hyun Woo dengan tinjunya, tapi kali ini pria itu tak tinggal diam. Dengan sisa kekuatan yang ada, Hyun Woo menarik lengan Joon Sung dengan satu gerakan untuk membuat perlawanan. Ia kemudian mengunci tubuh saudara sekandungnya itu lalu membantingnya tanpa pikir panjang lagi.


Nafas Hyun Woo menderu kala melihat Joon Sung yang terhempas kasar dilantai masih memegangi bagian ceruk lehernya. Ia mulai mendekat kearah Joon Sung.


“Jika saja kau tahu apa yang terjadi sebelum kau mengenal Kae Bi—mungkin satu pukulan pun, tak kan pernah kau beri untukku!” Desis Hyun Woo tajam.


Sedapat mungkin ia menahan rasa pedih yang telah menjalar sedari tadi di sekujur tubuhnya. Ia hendak menahan tangis saat menatap wajah Joon Sung—Lee Jae Hyun adik kecilnya yang lemah dan selalu menyayanginya.
Hyun Woo memejamkan kedua mata, ia segera melangkah dan bersiap keluar dari ruangan itu Jika saja Mr.Lee tidak membuka suara


“Saudaramu telah berkorban banyak untukmu, Lee Jae Hyun” Hyun Woo tercekat. Joon Sung mencoba berdiri melawan rasa sakit. Mr.Lee sedikit tersenyum penuh maksud saat memandang putra bungsunya yang kini tengah mencerna kalimat yang diucapkannya tadi.


“Lee Jae Hyun?” Bisik Joon Sung seolah bergumam sendiri pada pikirannya. Mr.Lee mengangguk lalu mengalihkan pandangan saat Joon Sung menatapnya pekat tanpa jeda. Sebuah guncangan kecil terasa memenuhi bagian kepalanya, Joon Sung berpikir keras kala rasa pening mulai menggerogoti pusat saraf dibagian otaknya.


“Empat belas tahun yang lalu..., Kau ingat?”




***




Busan




“Ibu, lihatlah! Aku mendapat nilai seratus” Joon Sung kecil berlari cepat menuju pintu kokoh rumahnya. Seperti biasa, jika ia mendapat nilai sempurna dari guru di sekolahnya pasti sang Ibu yang akan diberitahu lebih dulu.


Dengan penuh suka cita ia melangkahkan kaki lagi ke ruang dapur. Disana—Tampak Mrs.Lee yang tengah sibuk bergelut dengan hidangan makan siang, melihat sosok wanita itu, Joon Sung segera saja berlari dan memeluk tubuh sang Ibu.


“Ibu, Aku merindukanmu” Ucap Joon Sung tiba-tiba bersama dekapan kecilnya di pinggang Mrs.Lee. Wanita cantik tersebut segera saja menghentikan aktifitasnya lalu berlutut guna mensejajarkan pandangan pada Joon Sung.


“Wah, putra Ibu sepertinya bahagia sekali. Ada apa, tampan?” Hyun Min tersenyum cerah kepada putra bungsunya. Ia mengelus sayang puncuk kepala Joon Sung dan membuat tubuh mungil itu kegelian. Mereka berdua tertawa senang tanpa mengindahkan sosok yang tak jauh berbeda dari Joon Sung di balik dinding yang terhubung dengan ruang makan dan dapur.


“Ibu Lihat!” Joon Sung menunjukkan sehelai kertas tepat di hadapan Hyun Min. “Aku dapat nilai seratus!” Lanjut Joon Sung dengan nada bahagia khas anak-anak. Sang Ibu tertawa kembali lalu mengecup pipi mungil Joon Sung.


“Jae Hyun Hebat” Puji Mrs.Lee tanpa tahu jika putra sulungnya tengah melihat semua kejadian itu. Perasaan iri mulai menghinggap pada hati Hyun Woo. Ia memandang tak senang ketika melihat Joon Sung yang kini berada dalam pelukan sang Ibu.


“Jae Hyun ingin hadiah?” Mendengar pertanyaan Mrs.Lee lantas saja Joon Sung kecil mengangguk kegirangan. “Baiklah, kalau begitu nanti kita beli hadiah untukmu, tampan” Mereka tertawa bersama lagi. Hyun Woo hendak menangis saat mendengar penuturan Ibunya tadi. Mengapa hanya Joon Sung yang selalu diperhatikan? Mengapa hanya adiknya itu yang selalu diberi hadiah? Ia juga ingin seperti Joon Sung.


“Hyung” Suara panggilan itu membuat kesadaran Hyun Woo kembali. Ia melihat sosok Joon Sung kini berjalan ke arahnya seraya tersenyum senang.


“Hyun Woo Hyung, Aku dan Ibu ingin jalan-jalan, apakah Hyung mau ikut?” Hyun Woo segera memberikan tatapan tak sukanya pada Joon Sung. Ia benci—sangat membenci adiknya ini! Ia berharap Joon Sung tidak dilaharikan, ia berharap jika saja Joon Sung pergi menghilang dan tak kembali lagi. Hyun Woo ingin memusnahkan Joon Sung dalam hidupnya.


“Hyung, mau ikut tidak?” Ulang Joon Sung sekali lagi.


Dengan satu gerakan cepat ia mendorong segera tubuh adiknya itu dari hadapannya. Mrs.Lee terkejut dengan perlakuan yang diberikan Hyun Woo untuk Joon Sung. Ketika hendak menghampiri keduanya, Hyun Woo telah berlari lebih dulu. Joon Sung terdiam dan menatap kepergian sang kakak dengan raut wajah sedih. Mrs.Lee menghampirinya


“Sayang, maafkan Hyung-mu, ya? Mungkin ia merasa lelah, nanti biar ibu yang mengajak Hyun Woo-Hyung lagi” Joon Sung tetap diam. Ia menahan tangis. Selalu seperti ini—sampai kapan Hyun Woo akan mengacuhkannya? Ia sangat menyayangi saudara sekandungnya itu.


Joon Sung bahkan rela bila Hyun Woo sering menyakitinya, asalkan ia bisa terus bersama dengannya.




***


Salah satu tempat dipusat perbelanjaan seoul tengah ramai sore itu. Mrs.Lee menuntun Hyun Woo dan Joon Sung beriringan ketika mengunjungi beberapa toko mainan terlengkap di sana. Senyum cerah tak henti disunggingkan Joon Sung kala melihat sang kakak berdiri disampingnya, Ia semakin mengeratkan genggaman tangan pada Hyun Woo tanpa berniat melepasnya.


Berbeda hal dengan bocah kecil itu, Hyun Woo malah memasang raut wajah datar dan tak mengindahkan celoteh-celotoh khas Joon Sung padanya. Jika bukan karena keinginan sang Ibu untuk mengikut sertakannya dalam kegiatan ini—Hyun Woo tidak akan pernah mau bersisian dengan adiknya itu.


“Iya, aku mengajak Hyun Woo dan Jae Hyun jalan-jalan. Kau masih sibuk?” Hyun Min menjawab panggilan Mr.Lee disebrang sana seraya mengayunkan sepasang kaki, menelusuri beberapa toko di tempat itu.


“Baiklah, Jaga dirimu. Aku menunggumu bersama anak-anak dipersimpangan jalan Samchan” Setelah menutup telepon, Mrs.Lee memberi perhatian lagi kepada dua buah hatinya yang kini tengah asyik menatap replika pesawat terbang keluaran terbaru di etalase toko. Ia menghampiri keduanya.


“Putra-putra Ibu yang tampan, Jika kalian sudah mendapatkan mainan yang kalian inginkan, segera beritahu Ibu. Kita tidak bisa berlama-lama disini karena Ayah akan menjemput kalian satu jam lagi” Itulah kalimat perintah yang ia berikan untuk Hyun Woo dan Joon Sung. Setelah berkeliling cukup lama, akhirnya mereka mendapatkan mainan yang mereka inginkan.


Hyun Woo membeli sebuah roket luncur dan Joon Sung kini menggenggam robot mainan dari kartun animasi kesayangannya.
Mereka duduk dibangku yang terletak tepat didepan tempat perbelanjaan tersebut seraya menunggu kedatangan sang Ibu.


Lima belas menit yang lalu, Hyun Min meminta izin pada Hyun Woo dan Joon Sung untuk mendapatkan sebuah taksi yang akan membawa mereka ke persimpangan jalan Samchan. Cuaca mulai berubah kelabu malam itu. Sepertinya hujan akan segera turun.


“Hyung, apakah kau senang hari ini?” Joon Sung menatap harap dengan raut wajah berbinar—menanti jawaban sang kakak sambil mengembangkan senyum.


“Tidak” Hyun Woo segera membuang pandangan ketika Joon Sung semakin lekat menancapkan kedua bola mata kearah wajahnya.


Memang, hari ini bukanlah hari dimana ia marasa sesenang yang Joon Sung kira. Malah sebaliknya—ia sangat membenci hari ini dan itu pasti karena rasa iri dihatinya sudah mencapai titik jauh pada adiknya itu.


“Mengapa? Hyung kan sudah mendapatkan roket luncur yang Hyung inginkan...” Ia tersenyum jahat mendengar penuturan kecil Joon Sung.


“Karena kau!” Hyun Woo berdiri dari tempatnya dan semakin memandang Joon Sung penuh kebencian. “Aku tidak ingin kau ada disini! Aku ingin kau pergi...” Kalimat itu keluar bersama suara petir yang berpancar dari langit gelap.


Joon Sung membeku dan masih mencerna baik-baik perkataan saudara sekandungnya itu. Hingga sebuah taksi berhenti tepat di depan mereka, dan Hyun Woo telah memasuki kendaraan beroda empat itu—Joon Sung masih terdiam melawan rasa sedihnya.


“Jae Hyun-aa, cepatlah” Barulah kesadarannya kembali utuh saat sang Ibu telah membuka pintu belakang mobil untuknya.
Didalam taksi pun reaksi Joon Sung tetap sama. Bibirnya bungkam saat Hyun Min mengajaknya berbicara. Ia tampak murung—menggenggam hampa Robot mainannya. Air hendak keluar dari pelupuk mata Joon Sung, tapi ia tahan.


Taksi berhenti tepat di sebuah kedai kosong di tikungan jalan sepi itu. Joon Sung telah melangkah dan menghindari guyuran hujan dengan berteduh di sela-sela atap di kedai tersebut. Hyun Min masih menunggu Hyun Woo yang nampak mencari sesuatu di Jok mobil belakang.


“Ada apa, sayang?” Tanya Hyun Min pada Hyun Woo yang masih meraba-raba jok belakang mobil dengan jemari mungilnya.


“Ibu, roket luncurku tidak ada!” Hyun Woo hampir menjerit saat mengatakannya. Hujan semakin turun deras. Joon Sung hanya membisu menatap wajah Hyun Woo yang mulai kebingungan.


“Joungmal? Coba kau ingat, terakhir kau letakkan dimana?” Tanya Hyun Min. Hyun Woo sempat membawa pikirannya pada kejadian dimana ia terakhir kali menggenggam roket luncurnya itu. Ia ingat! Bangku yang ada di gedung tinggi itu—Hyun Woo meletakkan mainan barunya tersebut dibangku tepat di depan pusat perbelanjaan saat hendak meninggalkan Joon Sung.


“Ibu, roketku berada di bangku tempat aku dan Jae Hyun menunggu tadi. Aku yakin ada disana! Kita harus mengambilnya Ibu—kita harus mengambilnya” Kukuh Hyun Woo keras.


“Tapi sayang, Ayahmu akan tiba sebentar lagi, Jika ia tidak melihat kita disini, Ibu takut ia akan pulang lebih dulu karena mengira kita sudah tiba dirumah sejak tadi. Ponsel ibu mati, Ayahmu akan semakin sulit menemukan kita” Tutur Hyun Min lembut memberi pengertian pada Hyun Woo. Namun putra sulungnya itu tidak peduli, Hyun Woo menginginkan roket luncurnya kembali.


“Ibu biar aku yang menunggu Ayah disini” Hyun Min menoleh, melihat Joon Sung yang sudah berdiri mulus di hadapannya. “Ibu dan Hyung pergilah, Jae Hyun akan menunggu Ayah disini”


“Jae Hyun-aa” Hyun Min berlutut untuk mensejajarkan pandangan pada Joon Sung. Ia mengelus lembut pipi mungil itu dengan ibu jarinya. “Ibu akan segera kembali. Tunggu Ibu, sayang” Itulah kalimat terakhir sebelum ia meninggalkan Joon Sung seorang diri di tempat itu.


Sosok mungilnya berdiri di kegelapan bersama gemercik suara air yang telah tumpah dibumi. Joon Sung menatap taksi yang membawa Ibu dan Hyungnya dari kejauhan. Ia mulai menghela nafas dan menundukkan kepala.


Sebuah Isakkan kecil terdengar. Joon Sung menangis dalam hening dan menjinjing lemah robot kesayangannya. Tak pernah ia merasakan sakit seperti ini. Penuturan Hyun Woo terlalu keji untuk didengarnya. Adakah kesalahan yang pernah ia lakukan sampai saudara sekandungnya itu sangat membencinya?


Selama ini ia mencoba melakukan yang terbaik untuk Hyun Woo. Joon Sung pikir Hyungnya bersikap dingin seperti itu hanya karena kejadian-kejadian yang disalah pahamkan. Tapi ternyata—Hyun Woo memang benar-benar membencinya.


“Aku menyayangimu, Hyung” Bisik Hyun Woo menutup muka dengan kedua telapak tangan.
Hampir lima belas menit berlalu barulah Joon Sung menghentikan tangisnya. Ia terpaku menatap jurang dalam yang terletak di sepanjang sisi jalan besar itu.


Joon Sung menyeka sisa-sisa air dari pelupuk mata lalu mengamati Robot miliknya yang sudah tergeletak bebas di tengah-tengah jalan. Mungkin ketika ia hendak menutup wajah dengan kedua tangannya, refleks saja mainan itu terjatuh.


Joon Sung berlari kecil guna menggapai hadiah dari sang Ibu yang kini tampak tak berdaya diatas aspal. Rintik hujan tak diindahkannya lagi, Joon Sung membungkukan badan hendak mengambil Robot itu.


Ia tersenyum kecil saat mainan dari plastik itu sudah berada dalam genggamannya. Tepat saat Joon Sung akan melangkah, sebuah mobil sedan keluaran terbaru di tahun itu melaju cepat kearah Joon Sung. Sinar dari kedua lampu kendaraan yang mengarah padanya membuat Joon Sung membuka lengan untuk menutupi penglihatannya.


Mr.Goo tak dapat berpikir jernih. Deru mesin kendaraannya semakin meraung kala melihat sosok kecil Joon Sung menghalangi jalan. Ia berusaha menghentikan mobilnya namun kecepatan laju benda itu menggila.


Mobil Mr.Lee datang dari arah yang berlawanan. Ketika mengalihakan pandangan ke arah lain dari penglihatannya, ia hampir mati menahan sesak. Itu Jae Hyun—dengan sebuah sedan yang siap menanggalkan nyawa putra bungsunya. Mr.Lee segera keluar dari kendaraan, ia berlari—mencoba meraih Joon Sung dari malapetaka itu tapi...


“Jae Hyun! Jae Hyun-aa, Lee Jae Hyun!” Hyun Min dan Hyun Woo segera turun dari taksi. Jeritan kerasnya tak membuat Joon Sung melangkah setapak pun. Hingga mobil Mr.Goo berhasil melempar tubuh mungil Joon Sung hingga berguling ke jurang yang amat dalam. Darah segar dari raga Joon Sung terlihat di kap mobil sedan itu.


Hyun Woo tercekat serasa kedua kakinya tak dapat digerakkan lagi. Melihat tubuh sang Adik yang terlempar begitu saja ke dalam jurang tak mendasar, membuat dadanya sesak bagai ditancapkan beribu sembilu pisau. Joon Shik menatap nanar kearah dimana tempat Joon Sung terlempar ke dalam jurang tersebut. Matanya berkaca seakan seluruh kekuatan telah menghilang dari tubuhnya.


Bin Woo terhenyak mengepal gagang stir mobil begitu erat. Kejadian tersebut menamparnya dan merasa—sebuah dosa besar telah memenuhi sekujur tubuhnya.


“Jae Hyun-aa..., Jae Hyun-aa..., Lee Jae Hyun” Hyun Min menjerit pilu serta mengeluarkan tangisnya. Semua ini terasa menyakitkan! Tidak mungkin Joon Sung meningalkannya dengan cara seperti ini.
Joon Sung harusnya menunggu ia ditempat ini, Joon Sung tidak boleh pergi. Dengan sisa tenaga yang ada, Hyun Min sekuat hati berlari, ia perlu menyelamatkan buah hatinya itu—ia perlu menyelamatkan Joon Sung.


Namun sebuah truk barang melaju kencang dari arah yang sama seperti mobil Joon Shik. Bin Woo tercekam manakala deruan gas mobil besar tersebut semakin terdengar dan mengarah pada sesosok wanita yang akan berlari ke jurang besar tempat dimana korban yang ditabraknya terlempar jauh kesana.


Ia melihat raut wajah itu tanpa sempat berpikir lagi. Tapi, nalarnya bekerja—membuka memori saat wanita yang kini menangis seraya berlari itu, pernah hadir didalam hidupnya.


“Lee Hyun Min” Desisnya seakan bertanya kejadian apalagi yang tuhan sediakan untuknya. Suara klakson dari truk barang tersebut semakin jelas. Detak jantung Joon Shik kembali berfungsi saat kendaraan besar itu melaju dihadapannya begitu saja.
Ia menoleh cepat dan berteriak “Hyun Min-aa, Minggir!”


Serasa semua tulangnya remuk—tubuh Hyun Min telah di hantam keras dari bagian depan truk. Istrinya itu terhempas di atas aspal dengan simbahan darah yang mengalir dari sudut-sudut bagian tubuhnya. Bin Woo keluar dari dalam mobil dan melangkah tertatih ke arah Lee Hyun Min—cinta pertamanya. Wanita yang pernah mengisi hidupannya sebelum semua kejadian ini terjadi.


“Hyun Min-aa” Ia berlutut menggapai tubuh tak berdaya itu dengan segenap kepedihan. Ini pertemuan pertama setelah dirinya berpisah dengan Hyun Min beberapa tahun yang lalu, tapi mengapa harus dipenuhi dengan kejadian mengenaskan seperti ini.


“Goo—” Nafasnya sudah tidak stabil. Hyun Min berusaha membuka kedua mata yang terasa ingin tertutup selamanya. “Goo Bin Woo” Kali ini perkataannya terdengar lebih jelas.


“Hyun Min-aa, aku mohon bertahanlah..., bertahanlah” Diawal ucapan Bin Woo tersendat diliputi ketakutan. Tubuh tak berdaya itu di rengkuhnya dalam kesunyian. Ia menangis saat jemari dengan berlumur darah segar itu menggenggam lengan tangannya.


“Lama tak berjumpa—” Hyun Min memandang penuh kesedihan kala menatap Bin Woo. Hingga pria itu menangis, membalas genggaman tangan Hyun Min.


“Mianhe Hyun Min-aa, Mianhe” Sedapat mungkin ia menahan isaknya. Bin Woo semakin merengkuh Hyun Min dalam pelukannya tanpa tahu jika ditempat lain seseorang yang sejak tadi memperhatikannya dan Hyun Min nampak terpaku dan berpandang nanar.


“Kau membunuh Jae Hyun-ku..., kau membunuh anakku...”


Itulah ucapan terakhir sebelum Hyun Min benar-benar menghembuskan nafas terakhirnya. Ucapan yang menghantui Bin Woo dalam bayang-bayang kabut gelap. Penyesalan dan segala rasa bersalah menguap luas. Ia tahu, ia tak termaafkan.




***




Seoul Hospital mengiring tubuh tak berdaya tersebut ke unit gawat darurat segera. Joon Shik melangkah tagap seraya menggenggam tangan Hyun Woo yang entah sejak kapan—bocah kecil itu menangis cukup keras. Dokter menahannya di pintu masuk UGD dengan alasan bahwa Hyun Min masih dalam tahap pemeriksaan.


Sementara itu Bin Woo berada di ruangan lain, namun masih di tempat yang sama dengan keluarga Lee. Kae Hwa yang
semenjak tadi hanya menangis terdiam menunggu kedatangannya, kini wanita itu menumpahkan segalanya. Ia berlari kepelukan Bin Woo dan terisak pilu disana. Tidak ada harapan lagi—Dokter bilang jika tidak ada pendonor untuk kornea mata Kae Bi, maka mereka harus bersiap menanggung resiko yang ada, begitu penuturan Kae Hwa.


Satu jam berlalu. Seorang pria tengah baya berjubah putih keluar dari ruang UGD dan mengarahkan pandangan pada sosok Mr.Lee yang segera menghampirnya begitu tahu ia telah menjulang disana


“Bagaimana kondisinya!?” Tanyanya tanpa basa-basi. Dokter tersebut terdiam sejenak lalu mengumpulkan sisa-sisa kekuatan, ia berpandang simpati pada Mr.Lee dan membuat pria itu di terkam ketakutan dahsyat—biasanya itulah hal yang ia persiapkan jika hendak membawa berita duka pada keluarga pasien.


“Maaf” Ia menepuk bahu Mr.Lee mencoba menegarkan hati pria itu. ”Kami sudah berusaha sekuat tenaga, tapi—” Ucapannya tak diindahkan lagi.


Mr.Lee terburu-buru menghampiri Hyun Min yang sudah membujur kaku dengan seluruh tubuhnya yang di tutupi kain bewarna putih tulang dari ujung kepala hingga telapak kaki.


“Ibu, Jangan tinggalkan aku!” Itu suara tangis Hyun Woo. Ia berdiri disisi Mr.Lee seraya menggenggam jemari tangan sang Ibu yang sudah berubah warna menjadi pucat.


Raut muka Mr.Lee mengeras. Ia mengalihkan pandangan setelah menatap jenazah Hyun Min lalu meluruskannya. Ironis, dua nyawa dalam satu tragedi membuat pikirannya terasa kosong. Kesedihan sudah pasti menjalar di sela tubuhnya. Tapi—adilkah dengan cara ini? Adilkah yang tuhan hendakkan kepadanya dengan cara seperti ini!? Ulangnya seolah bertanya penuh sesak.
Jiwanya berubah gelap dan jahat, sosok manusia yang seharusnya mendapat ganjaran setimpal dengan semua ini, membuat amarahnya menyulut. Goo Bin Woo, lelaki yang tak asing lagi baginya karena persaingan yang cukup lama untuk mendapatkan hati Hyun Min—Rivalnya. Dan presepsi itu semakin kuat dengan adanya pemikiran yang ia dapat jika pria picik itu ingin menghancurkan keluarganya dengan cara seperti ini.


Baik, dia akan menerima sambutan dendam itu dengan cara yang ia bersumpah, akan menghancurkan Goo Bin Woo sampai ke sum-sum tulangnya. Lihat saja.




***



Kae Bi menyentuh dadanya yang terasa sesak mendalam. Langkahnya tersudut dan tubuhnya menopang pada bangku di lorong rumah sakit. Apa ini? Gemuruh perih mengoyak seluruh isi hatinya, sakit dan serasa seperti di cabik sesuatu yang amat keras.


Ia mengerjapkan mata berulang kali mencoba mentolerir rasa yang semakin lama membuat kepalanya ikut berdenyut. Kae Bi menyanggah hati, ia terkesiap sepenuhnya saat tahu dari mana asal perasaan yang bersarang di dalam hatinya kini.


“Joon Sung” Ucap Kae Bi yang memporak-porandakan segala kesadarannya. Ini jelas perasaan Joon Sung—ia mampu menyerapnya dengan baik. Sebenarnya, apa yang telah terjadi pada lelaki itu? Keresahan mulai muncul dan ketakutan datang seperti biasa tanpa bisa diatasi dengan baik. Ia perlu menemui Joon Sung.


“Kae Bi” Baru hendak akan beranjak dari tempat, bermaksud pergi meninggalkan tempat itu, tapi suara Kae Hwa dari bibir pintu kamar VVIP yang ditempati sebagai ruang rawat Mr.Goo seperti telah mendominasi segala gerakan yang ia buat.


“Ibu, Aku—” Ia tidak memiliki penjelasan mengenai hal ini. Yang ia inginkan hanyalah secepatnya berlari dan menemui Joon Sung untuk menanyakan kebenaran dari perasaan yang kini dirasakan olehnya.


Kae Bi tahu Joon Sung tidak baik-baik saja. “Aku akan segera kembali dan menghubungimu, Aku pergi” Kae Bi telah mengayunkan sepasang kakinya untuk membelah lorong sunyi tersebut dalam derap langkah.


Kae Hwa memandang dengan raut muka pucat pasi, apa yang telah Bin Woo lakukan pada Joon Sung—sekelebat pertanyaan itu merasuk kedalam dirinya semanjak Joon Sung tak menampakkan wajah tampannya dari saat pertengahan acara pesta, tapi.., dengan kondisi Bin Woo yang terbaring tak berdaya seperti ini, membuat Kae Hwa seperti bertanya kembali pada dirinya sendiri—apa yang telah Joon Sung lakukan pada suaminya?



***



“Kau putra kandungku”


Perlahan langkah kaki Joon Sung menapak mundur. Sebuah jeruji besar seperti menghantam sekujur tubuhnya yang kini mematri terpaku di depan Mr.Lee—ayah kandungnya, dan juga Hyun Woo—saudara sekandungnya. Serpihan-serpihan sembilu dalam jiwa serasa menggores tanpa berniat berhenti untuk melukainya.
Joon Sung tercekat mati saat mendengar kalimat terakhir dari sekian banyak kata-kata yang dituturkan padanya tadi. Apa semua ini kutukan? Air hendak keluar dari sudut matanya namun Joon Sung tahan. Ia mengepalkan tangan erat mencoba melawan rasa sakit yang hinggap di bagian kepalanya.


“Joon Sung” Hyun Woo menghampiri Joon Sung yang kini meringis kesakitan menyentuh bagian kepala belakangnya. Ingatan-ingatan silam yang pernah menghilang dari otak Joon Sung sepertinya mulai terbangun kembali.


“Kau baik-baik saja?” Tanyanya penuh raut wajah kecemasan di hadapan Joon Sung. Hingga pria itu menoleh dan menengadahkan kepala untuk bersejajar pandang pada Hyun Woo.


“Apa yang lebih baik dari hal yang ku benci!” Nada bicaranya terdengar menekan dan tajam.
Joon Sung menghela nafas perih dan ingin secepatnya pergi dari tempat ini. Ia terbelenggu beban yang teramat berat selama ini, berusaha bertahan hidup walaupun sulit, ia percaya jika kehadirannya didunia ini tidak diinginkan siapapun termasuk keluarganya, namun—kenyataan keji seperti ini serasa memutar balikan lagi keadaan, tak sepatutnya Joon Shik dan Hyun Woo yang ia benci.


“Putri Goo Bin Woo yang membuatmu membenci semua ini, bukan?” Joon Sung membeku. Kae Bi—wanita itu, bagaimana mungkin ia bisa bersikap biasa setelah kejadian ini, bagaimana mungkin ia akan bertegur sapa dengan Kae Bi layaknya seperti biasa jika saja, Ayah dari perempuan yang ia cintai adalah penyebab perpisahan dirinya dengan keluarganya! Ada dendam dari cara pandangan Joon Sung saat nama Mr.Goo tersirat dalam pikirannya. Pria itu—penghancur keluarganya.


“Memang seharusnya kulenyapkan saja dari awal, sehingga kau dan Hyungmu takkan selemah ini” Joon Shik bertutur kata menantang, membuat raut muka Hyun Woo dan Joon Sung mengeras. Sampai, derap langkah terdengar kearahnya. Joon Sung telah menjulang dan memberi tatapan dengan mata berkilat, persis sepertinya.


“Jika kau mencoba menyentuhnya, bahkan sekalipun berniat untuk membunuhnya—Aku bersumpah!” Teriak Joon Sung begitu lantang, wajahnya bersemu merah dan tubuhnya bergetar kuat. ”Kau yang akan mati disana lebih dulu!”


“Kau mencoba mengancamku demi wanita murahan itu!?” Emosi Joon Shik telah menyulut dan merayap naik sampai keubun-ubun. Satu gerakan cepat ia buat untuk menampar sebelah pipi Joon Sung menggunakan telapak tangannya.


“Ayah!” Cegah Hyun Woo yang tersendat di tengah jalan saat akan membantu Joon Sung. Ia berhenti saat Joon Shik memberikan tatapan peringatan padanya. Joon Sung meredam rasa panas di sekitar bagian wajahnya seraya mencoba berdiri tegak. Perlahan ia menatap Joon Shik kembali.


“Jadi kau ingin menyerah sebelum kau tahu kejahatan lain yang Bin Woo lakukan kepada keluarga kita!? Kau ingin mengkhianati mayat ibumu yang tak berdaya!” Kata-kata itu bagai menghancurkan fungsi saraf Joon Sung secara perlahan.
Tubuh dan jiwanya bagai tak sejalan sehingga sulit ia mengerti.


Ia naif jika dibilang tak ingin melenyapkan pria yang telah merampas kebahagiaan keluarganya, tapi—Kae Bi, ia teramat mencintai wanita itu. Kau kira semudah apa membunuh seseorang yang dicintai wanitamu?


“Apakah segala sesuatu harus dibalas dengan dendam?” Joon Sung berkata dingin.


“Dan apakah dengan memaafkan seseorang dapat membuat rasa sakitmu hilang?” Joon Shik menyeringai jahat membuat Joon Sung tersudut. “Terlebih memaafkan seseorang yang mencoba membunuhmu dan melenyapkan kebahagiaanmu” Habis sudah perkataan Joon Sung. Ia kalah telak. Karena itulah ia disini, membeku—membisu tak lagi mengeluarkan suara.


“Ayah berhenti! Kita telah cukup jauh membahas semua ini” Hyun Woo merelai marah. Ia mendekat ke arah Joon Sung.


“Ikut aku, Jae Hyun-aa” Semuanya tercekat mendengar sebutan nama Joon Sung yang keluar tanpa sadar dari bibir Hyun Woo. Keheningan merajai sejenak tapi sang kakak segera memberi pertanda pada Joon Sung agar secepatnya meninggalkan ruangan ini.


Hyun Woo tak mau Joon Sung tertekan, ia tak ingin sang Ayah menuntut adiknya itu dengan cara kejam seperti ini.
Baru beberapa langkah berdetak dan Hyun Woo bersiap menarik knop pintu, namun suara Mr.Lee menghentikan gerakan yang mereka buat.


“Tentang putri Goo Bin Woo” Sekarang Joon Sung menoleh kembali pada Mr.Lee, kegusaran menyelimuti raut wajahnya saat nama Kae Bi secara tak langsung disebut oleh ayahnya itu. “Ada sebab mengapa kita harus melenyapkannya. Bukan hanya sebagai pelampiasan rasa sakit si Goo keparat itu, terlebih lagi karena sesuatu yang bersangkutan dengan ibumu” Joon Sung seperti ingin beringsut dari tempatnya.


Rahasia apalagi yang tuhan hendak berikan. Membunuh Kae Bi jika itu yang diartikan pria ini—membayangkan saja membuat lututnya lemas.


Lubang di dada Joon Sung semakin besar, membuat lahar panas masuk kedalamnya tanpa bisa dicegah. Ia meraung perih, sungguh adakah kehidupan lain yang pantas untuknya selain ditempat ini?


“Apa maksud Ayah?” Hyun Woo bertanya. Sepertinya ia belum mengetahui sangkut-paut Kae Bi dalam kejadian empat belas tahun tersebut. Yang ada dalam benaknya, membunuh Kae Bi mungkin bisa memberikan rasa sakit yang teramat dalam pada Mr.Goo. Tapi nyatanya ia harus merevisi ulang segala pemikiran itu. Ada hal lain dibalik tujuan sang Ayah untuk melenyapkan Kae Bi.


“Aku pergi” Kalimat Joon Sung mendominasi segalanya. Lelaki itu menganyunkan sepasang kaki, berjalan cepat menuju bibir pintu dan keluar dari ruangan itu. Cukup Sudah—kenyataan pahit ini telah meluluh-lantakkan segalanya. Ia terus berjalan, keluar dari Mansion Lee dengan hati berkecamuk sedari tadi. Hujan turun membasahi sekujur tubuhnya namun tak Joon Sung indahkan.


Ketika mencapai pintu gerbang, suara klakson mobil terdengar. Joon Sung berhenti dan melihat Hyun Woo turun dari kendaraan tersebut dan hendak menghampirinya.


“Naiklah” Ajak Hyun Woo yang masih memandang Joon Sung lekat.


“Khawatirkan dirimu terlebih dahulu sebelum kau mengkhawatirkanku” Joon Sung berkata dingin. Sedikit pun—ia tak berniat memandang Hyun Woo saat ini.


“Mengkhawatirkanmu atau tidak—aku tak peduli! Aku yang membawamu kesini dan aku juga yang harus membawamu kembali, ketempat dimana seharusnya kau berada” Di kalimat terakhir nadanya terdengar sedikit lemah. Joon Sung menatap Hyun Woo dalam sekejap. Tidak banyak berpikir ia segera berjalan dan membuka salah satu pintu mobil.
Hyun Woo terdiam mengamatinya. “Maafkan aku, Jae Hyun-aa”



***



Hujan mengguyur kaca mobil Joon Sung saat kendaraan itu telah keluar dari Besment parkiran. Ia menginjak keras pedal gas dan mobil pun menderu-deru mengeluarkan suara seperti raungan. Tidak ada yang dapat menghentikan aksi gilanya ketika mengemudikan roda empat itu. Semua menyakitkan dan ia perlu pelampiasan.


Joon Sung tiba-tiba memelankan laju kendaraan saat dengan samar kedua matanya yang berkilat dapat menangkap sosok Kae Bi yang berdiri meringkuk memeluk kedua lengannya masing-masing. Wanita itu menjulang disana, tersiram rintik hujan yang datang bertubi dan membuat seluruh tubuh indahnya basah.


Benar-benar tidak waras jika ternyata memang sosok yang kini dipandangnya adalah Kae Bi. Tapi semua perawakan dan raut wajahnya yang samar karena tertutup gelapnya malam, itu sangat mirip dengan istrinya. Tak ingin diliputi rasa penasaran berkepanjangan, Joon Sung pun bergerak untuk membuka pintu mobil. Membelah derasnya rintik Hujan dan menghampiri wanita yang kini menundukkan kepalanya dalam-dalam.


“Kae Bi?” Panggilnya dalam suara sumbang. Dan benar saja. Joon Sung seperti ingin membunuh dirinya demi pembebasan rasa sakit ini. Wajah Kae Bi yang sudah benar-benar memucat di tambah tubuhnya yang sedikit mengigil kedinginan membuat Joon Sung mati rasa.


Demi tuhan, ia sudah berusaha tegar walaupun ia tahu rasanya seperti mencari jarum dalam jerami.


“Kae Bi, kenapa kau masih disini?” Nadanya terkesan lembut dan sangat khawatir. Berbeda dari biasanya dan mungkin kali pertama Kae Bi mendengar Joon Sung berbicara selembut ini padanya.


“Aku” Kae Bi hendak menjawab namun urung. Perasaan Joon Sung yang di serapnya lebih penting dari pada menjelaskan alasan mengapa ia menunggu suaminya itu ditengah guyuran hujan seperti ini. “Kau baik-baik saja?”


“Ya, aku baik” Ia menjawab dengan tegas dan dingin. Joon Sung tahu Kae Bi telah membaca perasaanya saat kenyataan pahit itu di ungkapkan tadi. Ia tahu jika wanita itu pasti akan menanyakannya tentang bagaimana ia dan perasaannya.


“Joon Sung” Kae Bi menggantungkan kalimatnya. Perkataan Joon Sung dan hatinya tak selaras. Ada yang berbeda dan ia tahu saat menatap mata lelaki itu yang terlihat redup dan murung.


“Kenapa kau masih disini?” Tanyanya sekali lagi.


“Aku menunggumu. Aku—” Kae Bi meremas ujung gaunnya yang sudah sangat basah. Ia menatap Joon Sung dengan gugup.


“Aku mencemaskanmu”


“Tapi kau tidak harus seperti ini” Ia menyelipkan kesedihan diperkataanya. “Kau bisa menunggu di parkiran. Sadarkah, aku juga mencemaskanmu jika kau bertingkah dengan caramu sendiri tanpa memikirkan yang lain”


Hujan semakin turun dengan deras. Joon Sung masih setia pada posisinya yang menjulang di hadapan Kae Bi tanpa membuat gerakan lain.


“Maafkan aku, Aku menunggu disini karena aku tidak tahu dimana letak mobilmu. Aku takut kau tidak mengetahui keberadaanku. Ponselmu tidak bisa dihubungi” Sesal Kae Bi yang memalingkan pandangan pada Joon Sung.


“Ayo pulang” Joon Sung mulai berjalan memunggunginya dan mengarah pada pintu penumpang, ia sengaja membukannya untuk Kae Bi. “Masuklah” Perintahnya yang membuat Kae Bi menurut dan melangkah, memasuki mobilnya.


Setelah menutup pintu, sambil berjalan, Joon Sung merasa sayatan pada bagian kepalanya semakin terasa berdenyut-denyut.
Ia ingin berteriak, berkata lantang pada Kae Bi bahwa ia tidak baik-baik saja saat ini. Ia sangat terpuruk. Hingga sampai ia menempatkan dirinya di jok kemudi, segalanya masih bisa diatasi. Joon Sung seperti tidak menunjukkan ekspresi apapun. Ia persis seperti biasanya.


Tapi berbeda hal pada apa yang Kae Bi rasakan. Aura gelap terlihat jelas dari cara bicara Joon Sung dan bagaimana lelaki itu menatapnya. Semuanya nampak berbeda. Sebenarnya apa yang terjadi pada Joon Sung, pikir Kae Bi. Sepeninggalnya di keramaian pesta dan mengajukan pesan teks lewat ponselnya, hingga sampai disini—disisinya, Ia perlu tahu semua hal yang dialami Joon Sung pada kejadian itu.


Sehingga membuat Kae Bi menerka. Apa karena punyusutan dana dari bagian tendernya? Pasokan wilayah pemasaran yang menipis? Atau mungkin ocehan Klien yang menyuruhnya memperbaiki persentase yang ia ajukan? Kae Bi semakin menenggelamkan pemikirannya seorang diri tanpa menyadari bahwa Joon Sung tengah memperhatikannya dalam diam.


“Ada yang ingin kau katakan?” Joon Sung mengundangnya untuk membuka suara. Inilah saat yang tepat menurutnya. Ya, Kae Bi akan menanyakan segala pemikiran yang ingin ia katakan pada Joon Sung.


“Sesungguhnya apa keperluanmu hingga harus meninggalkan acara pesta tadi?”


“Bertemu Klien yang ingin membicarakan masalah tender. Maaf tidak memberitahukanmu, karena janji itu dibuatnya tiba-tiba” Joon Sung mengalihkan pandangan dan menyentuh gagang stir mobilnya. Kae Bi hanya bisa mengangguk walaupun berusaha mempercayai alasan yang masih membuatnya terus bertanya. Benarkah hanya itu saja? tak ada yang lain seperti apa yang telah diserapnya pada perasaan Joon Sung



***



Sesudah sampai di Apartement mereka, Kae Bi dan Joon Sung hanya terdiam tanpa mengeluarkan suara. Selama di perjalanan pun hanya mereka lewati dengan mulut yang membisu. Kae Bi mulai merasa tak nyaman layaknya Joon Sung yang juga merasa bahwa keadaan ini terlalu mencekam.


Ia memerhatikan Kae Bi yang mulai melangkah menuju ruang kamar. Penampilan wanita itu sangat kacau, wajah membiru pucat kedinginan, rambut yang sedikit basah karena derasnya hujan, kemudian gaun yang mengerut semakin memperlihatkan lekuk tubuhnya. Kae Bi membungkuk ketika sampai di depan bibir pintu, ia membuka High Heelsnya lalu meletakkan di lantai begitu saja.


Joon Sung membawa kesadarannya kembali utuh dan melangkah menghampiri Kae Bi. Ia membuka jasnya dan melepaskan dasi yang dikenakan. Joon Sung menggulung lengan kemejanya yang juga masih terlihat basah lalu ia menyentuh Kae Bi dengan lembut.


“Aku akan membersihkan tubuhmu”


Kae Bi ingin menolak tapi ia tergelonjak saat melihat bola mata Joon Sung yang sangat kelam dan gelap. Lelaki itu menuntunnya ke arah kamar mandi di ruang kamar mereka. Sampai disana, Joon Sung menyalakan keran air panas di bath up dan sedikit menuangkan cairan sabun dari sebuah botol. Kae Bi hanya mampu memerhatikannya dalam diam. Saat Joon Sung bergerak ke arahnya, ia pun tak membuka suara.


“Maaf” Ia meminta izin sebelum menyentuh reseleting gaun malam Kae Bi lalu menurunkannya hingga punggung mulus istrinya itu menyeruak, membuat Joon Sung terdiam sesaat kemudian menatapnya tak peduli, melanjutkan lagi kegiatannya untuk menanggalkan seluruh pakaian yang ada di tubuh Kae Bi.


“Tidak ingin mandi bersama?” Kae Bi bertanya saat dirinya sudah tenggelam seutuhnya dalam genangan air dan busa dari sabun yang dituangkan Joon Sung tadi.


“Tidak, berikan lengan tanganmu” Joon Sung berlutut di sisi bath up dan mensejajarkan pandanganya pada Kae Bi. Sungguh cantik, memang Kae Bi layak mendapat kebahagian tak tertara, tuhan memberkatinya, Joon Sung tahu itu.


Kae Bi terkejut saat tiba-tiba Joon Sung menggosok seluruh lengan tangannya dengan busa sabun lalu sedikit naik hingga menyentuh pundak serta ceruk lehernya kemudian mengulang gerakan yang sama pada seluruh bagian tubuhnya. Pipi Kae Bi bersemu memerah saat setiap kali tak sengaja mata cokelatnya bertemu dengan mata Joon Sung.


Ia mengeringkan tubuh Kae Bi dengan handuk dan mengangkat wanita itu ke tempat tidur. Joon Sung berjalan ke lemari pakaian dan memilih sebuah piyama sutera dan memakaikannya di tubuh Kae Bi.


“Terima kasih” Kae Bi memandangnya sedikit tersenyum. Ia bahagia diberi perhatian sebesar ini oleh suaminya. Ia sudah sering mendapatkan perhatian dari orang-orang yang menyayanginya, tapi semua berbeda saat Joon Sung melakukannya. Ini semua terlalu istimewa. Ya, karena ia mencintai lelaki ini—Karena ia mencintai Joon Sung.


“Sama-sama. Sekarang tidurlah” Joon Sung mengecup singkat bibir Kae Bi kemudian membaringkan tubuh mungil itu dan menyelimutinya. Ia tersenyum saat Kae Bi tercengang setelah mendengarkan perkataannya yang lembut.


“Aku ingin kamu juga tidur” Kae Bi menggenggam jemari tangan Joon Sung sehingga membuat lelaki itu sedikit terkekeh.


“Lihat” Ia mengarahkan pandangan Kae Bi pada kemejanya yang sudah sangat basah dengan beberapa kancing di bagian atas yang sedikit memperlihatkan dada bidangnya.


“Mana mungkin aku bisa tidur dengan keadaan begini? Aku akan mandi lalu bergegas tidur disisimu, Kae Bi” Kali ini sebuah kecupan lembut di hadiahkannya lagi pada dahi Kae Bi. Sebelum pergi, Joon Sung sempat mengelus pipi halus wanita itu dan membuat Kae Bi semakin membeku atas kejutan super romantis yang diberikan Joon Sung padanya.


“Tidurlah” Sekali lagi Joon Sung mengatakannya. Kae Bi mengangguk pelan dan menarik tubuh suaminya itu ke dalam pelukannya sebelum Joon Sung hendak menarik diri dan pergi dari ranjang mereka.
Kae Bi merangkulkan kedua lengannya pada leher Joon Sung lalu menyentuh hidung Joon Sung dengan hidungnya, saling bersentuhan halus dan memberikan rasa nyaman dan hangat pada tubuh Kae Bi.


“Aku mencintaimu, Joon Sung”




***



Kae Bi kecil tersenyum riang saat berlari melewati lorong sunyi rumah sakit sambil membawa boneka beruang besar yang diberikan Ayahnya saat ia mendapatkan nilai memuaskan dari program Homeschoolingnya tahun lalu. Akhirnya ia bisa melihat semua dunia ini dengan kedua mata dari pendonor yang berbaik hati memberikan kepadanya. Operasi pengangkatan kornea matanya berjalan sempurna tiga hari yang lalu, dan dua jam tadi perban dimatanya sudah diperbolehkan terbuka.


Betapa senangnya Kae Bi. Selama ini ia mengeluh kesakitan dan menangis ketika kedua bola matanya sakit atau terkadang menjadi tak berfungsi dan semua yang ia lihat berubah gelap seketika. Tapi sekarang, semuanya telah kembali, ia bisa tersenyum cerah dan sesekali menyapa para suster yang berpapasan dihadapannya. Ia merasa bosan diruang kamar seharian, Ayah dan ibunya meminta izin pulang setelah ia selesai dengan makan siangnya.


Kae Bi berjalan kearah ruang UGD sambil memperat dekapan pada boneka beruangnya. Kebetulan saat itu pintu ruangan terbuka. Ia melihat sosok anak laki-laki yang sepertinya seumuran dengan dirinya, terbaring tak berdaya dengan luka-luka yang cukup besar di sekitar lekuk wajah dan seluruh tubuh yang tertutup baju yang sudah terlihat sangat rapuh dengan noda darah di beberapa bagiannya. Selang oksigen dan alat pemacu jantung terhias ditubuhnya yang kaku seperti tak bernafas.


Kae Bi melangkah dan tanpa disadari arahnya tertuju pada tubuh anak laki-laki itu. Tak perlu berlama-lama, kini ia sudah berada di hadapannya. Wajahnya cukup tampan jika saat ini bekas luka-luka dan beberapa noda darah tidak terlihat disana.


Kae Bi terdiam mengamati seluruh tubuh Joon Sung kecil dari atas sampai bawah. Tak terasa air mata mengalir turun begitu saja melewati pipinya. Mengapa bisa ia menangis? Kae Bi jarang merasakan rasa sakit serta ketakutan besar seperti ini, apalagi terhadap orang asing. Waktu Kae Hwa mengalami sakit tifus dan harus dilarikan kerumah sakit, rasanya tak sampai begini. Padahal ia amat mencintai Kae Hwa.


“Kamu harus bangun” Ia menggengam jemari tangan Joon Sung dan mempereratnya dengan kuat. “Aku ingin melihat kamu membuka mata dan berbagi kebahagian bersamamu, kamu harus bangun...”


Joon Sung langsung terjaga dan menghirup nafas dalam-dalam saat ingatan berupa klise hitam muncul dari alam bawah sadarnya tadi. Ia melirik Kae Bi yang masih tertidur pulas di dalam dekapannya.


Joon Sung menerawang dalam gelap. Semua kejadian tadi, semuanya—saat Kae Bi menyentuh jemarinya dan menangis untuknya saat ia tak berdaya, benarkah itu sebuah kenyataan? Atau hanya bunga tidurnya? Tapi mengapa semua terasa jelas dan benar. Walaupun tak ada sesuatu yang bisa mengingatkannya pada kejadian itu, tapi mengapa sentuhan dan tangis Kae Bi terasa begitu nyata untuknya?


Joon Sung memandang Kae Bi membisu. Di peluknya tubuh mungil itu erat-erat. Rasanya baru sejenak ia dan Kae Bi mereguk kebahagian yang indah ini. Tertawa dan berkelahi kecil bersama Kae Bi, menghabiskan waktu dengan bersandau gurau atau bahkan bercinta panas diatas ranjang, dan tidak pernah merasa sebahagia siapapun saat melihat istrinya tersenyum cantik hanya untukknya. Dan kini, ia patut menyelipkan ketakutan di tengah-tengah kebahagian itu. Pertanyaan-pertanyaan muncul dalam benaknya. Bagaimana jika Kae Bi mengetahui segalanya, segala kenyataan keji ini? Apakah Kae Bi akan meninggalkannya? Apakah Kae Bi akan membencinya?


Menyerap pemikiran-pemikiran seperti itu membuat Joon Sung sulit bernafas, tubuhnya lemas dan bisa berhenti bergerak jika semua pertanyaan tadi akan menjadi kenyataan. Ia tak siap dengan takdir yang tuhan beri seperti ini. Ia ingin bahagia bersama Kae Bi seterusnya. Melindungi wanita itu mati-matian, menjaganya, membuat Kae Bi tertawa lepas dan tersenyum cantik hanya saat berada di sisinya, bukan orang lain.


Kae Bi miliknya, miliknya yang utuh. Ia tak kan melepas Kae Bi, sekuat tenaga Joon Sung berjanji akan memperjuangkan segalanya demi wanita ini—wanita yang ia cintai.


“Joon Sung, kau belum tidur?” Kae Bi menengadahkan wajahnya ke arah wajah Joon Sung. Sungguh bukan waktu yang tepat, kenapa Kae Bi terbangun disaat ia ingin menangis—menangisi takdirnya yang terus diliputi kesedihan. Seperti tak ada akhir bahagia yang bisa ia temui disana.


“Aku terbangun. Kau pun sepertinya juga begitu” Jemarinya mengelus lembut pipi Kae Bi. Wanita itu mengangguk lemah dan memandang Joon Sung sambil mengerjapkan kedua mata. Ia nampak memikirkan sesuatu manakala Joon Sung ikut terdiam menatapnya.


“Ceritakanlah” Seperti tahu masalah apa yang membayang dalam pikiran Joon Sung, Kae Bi tiba-tiba berucap penuh arti. ”Jika aku berhak tahu, ceritakanlah kepadaku”


“Apa yang perlu kau ketahui?” Joon Sung mengamatinya begitu lekat


“Sesuatu yang bisa kau bagi bersamaku”


“Kalaupun aku harus berbagi, kebahagianlah yang akan kubagi bersamamu” Joon Sung mulai menindih tubuh Kae Bi, menggapai jemari tangannya lalu menciumnya dengan lembut.


“Ya, aku tahu. Tapi setidaknya—” Kae Bi tak melanjutkan kata-katanya lagi saat Joon Sung tengah sibuk mencumbu bagian lehernya, berusaha membuka ikatan tali yang terletak di tengah dadanya. Setelah itu, tak perlu berlama-lama, Joon Sung segera meluncurkan piyama sutera itu dari tubuh Kae Bi. Jemarinya yang cekatan mulai menjalar, menyentuh segala bagian sensitif tubuh Kae Bi dan berhenti tepat di daerah kewanitaannya.


“Apakah kau merindukanku?” Joon Sung bertanya begitu menggoda, berbisik ditelinganya tak lupa seraya meniup-niupnya, membuat Kae Bi mengerang kecil.


“Iya Joon Sung...” Ia mencengkram bahu kokoh lelaki itu saat Joon Sung secara sengaja menggerakkan jemarinya lembut disana. ”Aku merindukanmu, sangat merindukanmu” Nafasnya mulai tak stabil, Kae Bi membingkai wajah suaminya lalu mencium bibir Joon Sung secara cepat. Membuat Joon Sung bergairah dan balas melumatnya begitu dalam.


“Lalu, apa yang akan kau lakukan jika kau merindukanku?” Raut wajah bergairah Kae Bi tiba-tiba saja hilang. Pertanyaan Joon Sung membuatnya tercekat.


“Tentu saja mencintaimu lebih dan lebih lagi, memelukmu, menyentuhmu, bahkan hanya sekedar bertegur sapa padamu, jika memang hanya itu yang bisa kulakukan” Walaupun dengan muka merona merah dan diselingi kegugupan, Kae Bi mencoba menjawabnya.


Ucapan itu adalah bentuk hatinya, Kae Bi tak berbohong. Ia akan berkelakuan seperti itu jika tengah merindukan suaminya.


“Terima kasih, Kae Bi” Joon Sung mengecup lembut bibir mungil Kae Bi. Senyum tulusnya terlukis saat rasa bahagia menyelimuti hatinya saat ini. Perasaannya mulai membaik dan itu semua dapat dikendalikan oleh penuturan Kae Bi padanya. Lalu Joon Sung membelai bibir kemerahan itu dengan ibu jarinya, menyentuhnya lembut dan berkata.


“Aku mencintaimu—sungguh, saat kita dipertemukan untuk pertama kali. Saat kau menangis, tersenyum, tertawa, Aku mencintaimu, Kae Bi. Dan apapun yang terjadi, percayalah, Aku mencintaimu” Ungkapan luar biasa yang diucapkan Joon Sung.

Lelaki itu mengatakannya tanpa keraguan dan membuat Kae Bi tersenyum sekaligus menangis, ia menangis haru saat Joon Sung mengecup buku tangannya dan mengusap pinggang rampingnya dengan gerakan melindungi.

“Aku juga mencintaimu, Joon Sung” Mereka saling menatap satu sama lain. Selanjutnya Joon Sung pun membuka gerakan lagi, menanggalkan seluruh pakaian yang tersisa di tubuh Kae Bi lalu ditubuhnya. Di menit berganti erangan serta desahan Kae Bi terdengar keras saat Joon Sung memuaskan dirinya dengan penuh cinta. Lelaki itu memperlakukannya begitu lembut dalam percintaan mereka kali ini. Membuat air mata Kae Bi mengalir saat ia mencapai puncak kenikmatannya bersama Joon Sung.



***



Joon Shik mengedarkan pandangannya keluar dari kaca jendela mobil. Sosoknya melihat satu figure keluarga bahagia yang hendak menunggu sebuah kendaraan dipintu lobby rumah sakit, itu Goo Bin Woo—bersama Kae Hwan dan Kae Bi tentunya.


Dasar keparat! Iblis yang tak punya hati sama sekali, Joon Shik membatin.


Darahnya bergerumuh seperti mendidih ketika melihat rival kuatnya itu tersenyum dan mengecup lembut kening Kae Bi. Sepertinya mereka sangat bahagia untuk keberhasilan operasi pengangkatan kornea mata putri Goo itu.


Jelas operasi itu telah berhasil! Berkat kedua mata Hyun Min yang kini tersemat indah di tubuh putri Goo Bin Woo itu, jelas saja mereka dapat tersenyum bahagia seperti ini.


Tapi untuknya, Untuk semua penderitaan yang harus ia jalani? Untuk nyawa Jae Hyun dan Hyun Min? Tidakkah lelaki tua itu terlalu kejam, setelah memusnahkan dua nyawa yang paling berarti di dalam hidupnya, lalu setelahnya, dengan cara lancang ia mengajukan kedua mata Hyun Min untuk diberikan pada berlian kecil Goo itu?


Joon Shik bisa saja menuntut karena persetujuan mengenai mata Hyun Min yang akan didonorkan pada Kae Bi tak diajukan Bin Woo. Perbuatan laknat lelaki itu harusnya dilaporkan kepihak yang berwenang. Tapi Joon Shik rasa akan sia-sia saja, toh yang akan Bin Woo terima hanyalah hukuman jeruji besi dan itu tak membantu sama sekali untuk mengatasi dendam yang semakin mengakar kuat di lubuk hatinya.


Nyawa harus dibayar dengan nyawa, begitulah yang seharusnya ia lakukan.


Dengan penuh tekad ia bersumpah, dengan cara apapun, ia akan membunuh Bin Woo melalui kedua tangannya sendiri.








END OF CHAPTER








ps: Ditunggu dengan sangat utk komen, kritik, nd sarannya yg membangun :D karena dikit lagi siap-siap nih bakal pisah ma Joonbi coupleee nd biar authornya juga makin semangat update. Sekali lagi makasih utk semua readers yg selalu ngikutin nih ff, love you all [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

[lovestruck] and in another life, we believe... love never die [lovestruck]

Offline rihta pertiwi minsun

  • Newbie
  • *
  • Posts: 28
    • View Profile
windaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa makasi updatenya yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

jadi minjem modem tetangga ?  [biggrin]

baca duluu yaak

Offline miranti

  • Newbie
  • *
  • Posts: 21
    • View Profile
Thanks win udah update.. Sebenernya sedih banget banget banget sih gua .. Kalau ni FF di tamatin cepet2.. Gua mau ni cerita smpe mereka punya anak..

Hehe
Si cuek Joon sung nya udah mulai memudar euyy sekarang mah.. ROMANTISS TISS banget.. Kae bi smpe dimandiin gituh..
Joon sun juga skarang mah sering banget tuh bilang.. Aku mencintaimu..
Buat kae bi kuat yah win.. Jangan buat kae bi nyah mewek mulu.. Okk

Ditunggu momen romantisnya lebih banyak lagi..
Maksih winda cantikkkk

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
makasih winduttt updatenya, kalau mendengar certa tuan lee perbuatan tuan Go dimasa lalu memang sangat kejam apa lagi ibaratnya perempasan mata hyun min , kalau pun mau setimpal ya ambil aja nyawa tuan Go sana aku ikhlas hehehe.... karna Kae be G tahu perbuatan keji ayahnya itu.

semoga Jun song menguatkan hatinya tetap bertahan pada pendriannya mencintai dan akan selalu menjaga istrinya sampai kapan pun, apa lagi kae be sudah sangat jelas meyakinkan jun song klau dia sangat mencintai suaminya, nextnya jangan lama " ya windutttt ^^~

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
eaaaa thanks ndutt dah diupdate weww di chap ini udah kebongkar ya asal usul joonsung dan keluarganya btw abis kecelakaan itu joonsung diasuh ama siapa kok ampe bokap n hyunwoo gak bareng
wahh matanya kae bi mata nya ibunya joonsung ya itu bukan alasan knapa joonsung ngerasa deket ama kae bi kan ndut??