Author Topic: The Curse - Chapter Sixteen, Updated 30 Mar'13  (Read 20433 times)

Offline Winda Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 679
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter One, update 23 dec'11
« Reply #30 on: December 26, 2011, 02:30:39 am »
Congratulation u/ FF barunya  [clap] [clap] [clap] [clap]

Sist mau koreksi dikit di part ini...


Quote
"Nikahi saja mereka...nikahi mereka, yeobo. Dengan begitu aku tak akan terpisahkan oleh Kae Bi" Ujar Mrs.Goo seakan memohon, dan malah membuat sang suami menjadi naik pitam

Gimana klo kata "nikahi" itu diganti dg "nikahkan", biar lebih pas maknanya...  [biggrin]

Thanks u/ FF barunya, jangan lupa sering2 diupdate ya...  [hmpfh] [hmpfh]


terima kasih atas partisipasinya. Hehehe thanks ya buat koreksinya kak, gue memang belum begitu mahir merangkai dan memperkaya kata-kata, itu juga lagi belajar. Sip insyaAllah bakal sering di Update kok. Sekali lagi makasih untuk koreksi dan udah baca Ff gue :D

[lovestruck] and in another life, we believe... love never die [lovestruck]

Offline Winda Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 679
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter One, update 23 dec'11
« Reply #31 on: December 26, 2011, 02:32:53 am »
congrats tuk ff barunya, mian belum baca, ane cuma mau nyampah di mari aja kok [on] [on]
baca dulu ntar komen menyusul ocre



sip gapapa kok, haha ngerusuh juga gapapa kak. Ok, makasih ya atas partisipasinya di ff gue :D

[lovestruck] and in another life, we believe... love never die [lovestruck]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter One, update 23 dec'11
« Reply #32 on: December 26, 2011, 07:56:59 am »
jiah g nyangka,my lilsista bkin ff dimari lg..suka suka,ini crita yg aneh itukan?yg si hye itu bla bla n mh jd bla bla??hmm kae bi n joon sung gw tunggu nikahanx,krn gw jg mau mnta tanggungjwb ma hyon
yaaaaaa kakak gue. I Miss you so much *bighug. Hah cerita aneh apa? Huahahaha iya yang bla bla bla bla...... Jadi tar pas update gue bilangnya bla-bla-bla aja ya bilangnya wkkkk. Ngapain minta tanggung jawab sama Hyun Woo? Emang lo di hamilin juga? Wah parah hahaha. Makasih ya udah baca

jadi beneran cerita yang itu [chin] [chin] [chin] wah mudah2an endingnya kae bi n joong sung gak saling bla bla bla [goodgrief] [goodgrief] [goodgrief]. kan kasian anaknya entar hammer2, lagian gue yakin joon sung gak mampu bla bla bla kae bi [hmpfh]
kalo updatenya ngomong bla bla semua ntar, readernya gimana [rofl] [rofl]. Hyun Woo emang kurang ajar abis manis sepah dibuang [ranting] [ranting] [ranting]..Update lagi dong [biggrin] [biggrin]
[/size][/color][/b]

iiuuu

  • Guest
Re: The Curse - Chapter One, update 23 dec'11
« Reply #33 on: December 28, 2011, 07:36:07 pm »
eneng... akhirnya baru bisa komen... ayoo lanjut chapt 2 nya.. awas ya bikin yang sdih sdihh...  [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] [nono] ayoo lanjuuuuttttt [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline mbah dukun

  • Junior
  • **
  • Posts: 142
  • My Name Is JangKelin
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter One, update 23 dec'11
« Reply #34 on: December 29, 2011, 03:15:20 am »
sudah hari kamis sayang,update gih

Offline Winda Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 679
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter One, update 23 dec'11
« Reply #35 on: December 29, 2011, 08:04:10 am »
Aku buta akan rasa
Aku terpalang batas
Aku culas, Aku hanyalah pria yang tak bermateri tinggi dengan kau yang mensejajarkan diri di sampingku. Aku berbeda, sangat dan begitu Jauhnya. aku sadar akan hal itu.
Membuatmu di posisi seperti ini, aku tidak tahu apakah akan lebih baik?
Membuatmu bergetar ketika melihat ku, dengan sikap gila yang aku lakukan. Sehingga aku terjebak di titik yang lebih dalam. Jangan tanyakan,  Aku mohon jangan pernah menanyakan sisi lain dari Jiwa-ku ini.
Karena, Bukan aku yang menginginkannya. Bukan aku yang menuntunnya mendekat ke arahmu! Bukan aku sama sekali!


THE CURSE




CHAPTER TWO


Goo Mansion terlihat begitu gelap, Lampu di setiap sudut ruangan telah dimatikan. Para pelayan beristirahat dari pekerjaannya, memilih untuk menghabiskan waktu senggang mereka dengan tertidur pulas dikamar masing-masing. Kae Bi berjalan lunglai, membiarkan gaun tidurnya menjuntai halus hingga menyapu lantai dari satu anak tangga ke anak tangga lainnya. Berjalan pelan, menuju dapur. Sekilas ia lewati ruang keluarga yang begitu sepi, Cahaya diruangan itu terlihat remang. Karena lampu knop di sudut ruangan menyala redup. Kae Bi semakin memperjelas arah pandangnya saat dilihat, sofa yang membelakangi posisinya di duduki seseorang.


"Jangan berfikir aku akan memaafkanmu jika kau menikah dengan Bajingan itu!"


Suara dingin dan mencekam itu tertembus di gendang telinga Kae Bi, membuatnya membujur kaku. Menutup mulutnya rapat-rapat. Kini bayangan hitam itu berdiri dari sofa yang di dudukinya tadi. Membalikan tubuhnya Ke arah Kae Bi. Membuat wanita cantik itu tersadar oleh tatapan matanya yang tajam, menikam.


"Setelah kau menjalankan pernikahan ini. Aku harap kau tak akan mengusik aku dan istriku lagi. Tinggalah bersama pria laknat itu" Mr.Goo perlahan berjalan Ke Arah Kae Bi, kini terpampang jelaslah pandangan mata yang begitu meruncing, terus memandang Kae Bi sedari tadi. Mr.Goo mendelik tajam. Sikapnya bukan lagi seperti seorang ayah untuk gadis malang itu. Ia bagai pria berarogan tinggi dan pendendam.


"Aku akan berbaik hati, mengizinkan CALON SUAMI mu itu untuk tetap bekerja di perusahaan ku. Tapi" Mr.Goo mengatupkan rahangnya keras. Kae Bi masih berdiam, membisu. Ia baru tersadar, inilah sisi lain dari sifat sang Ayah yang sama sekali ia tidak ketahui. "Untuk menjadi menantuku, Jangan bermimpi! Aku tak akan pernah menganggapnya sebagai bagian dari keluarga Goo! Terutama denganmu! Sadari itu!" Hardiknya keras sambil mengepalkan tangannya. Kae Bi memejamkan mata, mendengar gunjingan itu. Hatinya semakin pedih, sangat dan amat dalam.


"Seterusnya kau menjalani hidup seperti apapun di luar sana, aku tak akan perduli! Dan jangan berfikir aku akan kembali seperti dulu..... Menyanjungmu tinggi sebagai putri keluarga Goo. Kau yang membuat segalanya menjadi berubah, ingat itu. Ingat sampai nafasmu tak berhembus!" Tekan Mr.Goo dengan rasa bencinya yang mengakar kuat. Ia membalikan tubuhnya, membelakangi Kae Bi. Hingga linangan air mata gadis itu tak telihat dengan kasat matanya.


"Kau bukan ayah yang aku kenal.... Kau bukan ayah yang aku kenal seperti dulu" Gumam Kae Bi seketika, menahan isakannya. Memandang punggung tegap itu dengan seksama. Mr.Goo menghentikan langkahnya. Ia memejamkan mata, menahan luapan dari segala puncak emosinya.


"Tanyakan sendiri, pada dirimu. Apa yang membuat aku seperti ini. Rasa sakit hatiku lebih banyak mengalir dari pada air mata yang keluar dari pelupuk matamu!" Jawabnya dengan membara, tanpa membalikan tubuhnya ke arah Kae Bi. Setelahnya, ia mulai lagi melangkah menaiki satu persatu anak tangga, lalu menghilang bersama bayangannya.


Kae Bi tersungkup, ia terisak tak berdaya. Memegang dadanya yang sesak, sesekali mengerjapkan mata menahan air mata yang mengalir deras. Sebegitu salahnyakah dia? Hingga mendapat prilaku seperti ini dari sang Ayah? Jujur saja, Ia sudah menahan semua ini, menahan semua tekanan yang terus datang kepadanya. Mencoba tetap tegar, bertahan. Karna ia percaya tuhan masih berlaku adil padanya. Namun, setelah merasa lebih dalam. Melihat sikap sang Ayah yang benar-benar tak memperdulikannya, yang segera ingin menyingkirkannya. Kae Bi lelah, Ia benar-benar tak sanggup menahan semua ini.


***


"Apa? Jadi dia mengandung anak mu, Joon Sung?" Bibi Yoon terpenjarat tak percaya, Ia menatap Joon Sung membulatkan kedua matanya. Membuat pria itu terdiam menundukkan kepala. Gae In yang berada di hadapan Joon Sung, terperangah tak percaya. Matanya mulai berkaca-kaca seakan menahan pilu yang sejak tadi tumbuh di dalam hatinya. Ia mengigit bibirnya kuat-kuat menghindari air mata yang akan datang mengalir di pipinya.


"Aigo, sudah sejauh mana hubungan kalian? Apa bibi mengenal perempuan itu?" Tanya Bibi Yoon penasaran, wanita paruh baya itu menatap Joon Sung begitu lekat. Seolah mengharapkan jawaban yang terlontar dari mulut pria itu.


"Hemh, Aku sudah melangkah Jauh bersamanya. Tidak, bibi dan Gae In tidak mengenalnya sama sekali" Dusta Joon Sung, ia terpaksa berbohong juga kepada Bibi Yoon dan Gae In mengenai perihal kehamilan Kae Bi. Bibi Yoon mengangguk, ia tak mau mengorek informasi lebih jauh tentang hubungan Joon Sung dan kekasihnya. Ia tahu Joon Sung paling tidak suka di berikan pertanyaan tentang kehidupannya, pria itu sangat tertutup.


"Yasudahlah lagi pula semuanya telah terjadi. Dan Bibi bangga karna kau mau bertanggung jawab dan menikahi gadis itu. Beruntung sekali dia mendapatkan mu, Kim Joon Sung. Bibi semakin tak sabar ingin melihat kekasihmu itu, pasti sangat cantik" Pujian hangat terlontar dari ucapan lembut Bibi Yoon. Joon Sung tersenyum nyaris tak terlihat, membayangkan wajah Kae Bi di benaknya. Berbeda halnya dengan Gae In yang seakan semakin teriris perih mendengar pujian itu. Ingin secepatnya ia melenyapkan pandangan Joon Sung yang sekarang ini berada di depannya. Menghela nafas berkali-kali guna menghilangkan rasa sesak yang berkecambukan terus-menerus.


"Ibu ayo pulang, ini sudah sangat larut. Aku harus membersihkan rumah" Ucapnya seketika, melempar pandangannya pada Bibi Yoon. Membuat wanita tua itu, menatapnya lekat. Joon Sung ikut mengalihkan penglihatannya pada Gae In. Tapi wanita itu mengacuhkannya.


"Baiklah. Aku juga mau melanjutkan rajutanku, yang tertunda tadi" Gumam Bibi Yoon. Gae In segera berdiri dari duduknya, menuntun sang Ibu untuk beranjak dari tempat itu. Kedua wanita itu berjalan beriringan sampai di depan pintu Apartement Joon Sung.


"Oh iya, aku hampir lupa" Seru Bibi Yoon seketika, membuat Gae In melepaskan rangkulan tangannya pada pundak sang Ibu. Bibi Yoon berbalik pandang ke arah Gae In


"Aku lupa pakaian kotor Joon Sung. Kau ini bagaimana? Biasanya kau yang tak lupa mengingatkannya pada Ibu" Ucap Bibi Yoon pada Gae In. Membuat gadis itu sedikit kikuk. Gae In melihat Joon Sung yang tersenyum sederhana, seolah ikut bergidik geli melihat tampang Gae In ke arahnya.


"Sebentar bibi, Biar aku ambilkan pakaian kotornya" Balas Joon Sung. Bibi Yoon memang buruh cuci untuk Joon Sung sejak pria itu menetap di Apartement ini. Karna keramahan serta kemurahan hati wanita itu, membuat Joon Sung dekat dengan keluarga Yoon. Bibi Yoon tinggal di pemukiman sederhana yang terletak di belakang gedung Apartement ini. Selain menjadi buruh cuci, terkadang ia juga sering menyempatkan diri membersihkan Apartement bersama Gae In, putri tunggalnya atau membuat makan malam untuk Joon Sung. Suami Bibi Yoon sudah lama meninggal akibat terkena serangan jantung. Joon Sung sudah menganggap Bibi Yoon dan Gae In sebagai keluarga kecil untuknya. Merekalah yang membantu serta mengisi Hari-hari Joon Sung saat sedang berada di rumah.


"Baiklah kalau begitu bibi pulang duluan ya. Nanti biar Gae In yang mengambil pakaian kotornya" Ujar Bibi Yoon. Joon Sung mengangguk dan segera pergi menuju kamarnya. Gae In melempar pandangannya pada sang Ibu. Merasa kesal, kenapa harus dirinya yang menunggu dan mengambil pakaian itu.


"Yoon Gae In, Ibu pulang dulu. Ingat segera pulang dan jangan mampir kemana-mana. Arraseo?" Ucap Bibi Yoon lalu membuka Handle pintu


"Ne" Jawab Gae In singkat saat sang Ibu sudah mulai melangkah dan menghilang di balik daun pintu yang berdiri kokoh di hadapannya.


Sekitar tiga menit Gae In sudah menunggu. Ia meringis kecil, ingin segera pergi dari ruangan ini. Ia mulai terlihat bosan, melipat kedua tangannya di dada. Tak lama berselang, Joon Sung keluar dari kamar dengan membawa tas genggam yang  berukuran besar berwarna hitam. Joon Sung berjalan ke arah Gae In. Membuat wanita itu membuang pandangannya, berpura-pura tak memandang Joon Sung. Ia hanya memfokuskan diri pada lukisan berukuran minimalis yang berada tepat di depan pandangannya.

"Ini"

Joon Sung memberikan tas genggam itu ke arah Gae In. Sekarang, wanita itu mengalihkan pandangannya pada Joon Sung sekilas. Lalu mengambil tas genggam yang tadi di berikan Joon Sung ke arahnya. Keduanya sama-sama terdiam. Gae In tidak tahu harus bagaimana lagi, ia telihat seperti orang linlung yang tak mempunyai tujuan. Ada hasrat yang mengganjal di hatinya. Ia ingin menanyakan kepastian itu pada Joon Sung, bahwa pria itu akan benar-benar menikah. Akan menghilang dan mengubur dalam-dalam perasaan Cinta Gae In untuknya.


"Joon Sung-ssi" Gae In memberanikan diri menyebutkan nama itu. Joon Sung memandang Gae In seolah memberi respon dengan bahasa tubuhnya. Gae In memantapkan hatinya lagi saat melihat tatapan itu. Ini yang selalu dirasakannya, terhanyut di dalam pandangan mata dan segala lekukan sempurna wajah Joon Sung. Membuat hatinya semakin getir, ia takut terlampau batas.......mencintai Joon Sung lebih dalam dan lebih dalam untuk waktu yang cukup lama. Gae In bersiap membuka mulutnya, ia harus menanyakanya......mendengar langsung dari mulut Joon Sung.


"Apa.....apa kau yakin, akan benar-benar menikah dalam waktu secepat ini?" Gae In meramas genggaman tas hitam tadi dengan kedua tangannya. Sekuat tenaga ia menepis perasaan gugup itu, menutupi tingkah mencurigakannya. Joon Sung mengamati gerak-gerik Gae In yang terlihat begitu aneh.  


"Aku serius" Jawab Joon Sung cepat, membuat Gae In terkeluh. Perasaan itu datang lagi, rasa sakit dan semua kekecewaan menjadi satu. Wanita itu merasa ini semua tidak adil, sangat tidak adil untuknya.


"Kau sangat mencintainya?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut Gae In tanpa bisa ia cegah, membuat Joon Sung sedikit tersentak mendengar itu. Ia memandang Gae In tak percaya. Lalu mengerjapkan matanya guna mencerna perkataan Gae In di dalam otaknya.


"Apa yang kau bicarakan? Ada yang berbeda darimu Yoon Gae In, Kau menyembunyikan sesuatu?" Selidik Joon Sung yang merasakan perubahan sikap Gae In padanya. Ia membulatkan kedua matanya mendengar ucapan Joon Sung


"A....aku hanya ingin me.....nanyakan saja...." Gae In terlihat kikuk dengan intonasi suaranya yang gagap.


"Aku mencintainya bahkan lebih dari aku mencintai diriku sendiri" Jawab Joon Sung cepat tanpa melanjutkan mendengarkan penjelasan Gae In. Selalu seperti ini, selalu berdusta......melakukan apapun diluar batas demi selekuk wajah Kae Bi yang menghias di dalam relung hatinya. Menjadi tak terkendali dan tidak dapat menguasai akal pikiran sendiri. Sementara itu, Gae In terdiam. Semakin meremas keras genggaman tangannya pada tas hitam itu. Kenapa kau harus mengatakannya, Kim Joon Sung! Bilang ini hanya mimpi, hanyalah mimpi.....lalu setelah itu kau kembali kepadaku, kembali ke dalam hidupku..... Aku sangat mencintaimu! Jerit Gae In dalam hati. Sirna sudah harapannya.


"Aku pulang dulu, Joon Sung-ssi" Ucap Gae In bergetar, ia menatap Joon Sung cepat lalu berjalan, manjangkau Handle pintu. Joon Sung hanya berdiam menyaksikan tingkah Gae In, gadis itu benar-benar berbeda malam ini. Ia tidak seperti Gae In yang biasanya. Tapi Joon Sung segera menepis prasangka buruk itu di dalam hatinya, ia menggeleng perlahan, lalu berjalan ke arah kamarnya.


Sementara itu, Gae In berjalan tertatih di koridor Apartement Joon Sung. Air mata tak sanggup di bendungnya. Ucapan dan pernyataan Joon Sung tadi, bagai membunuh jiwanya secara tidak langsung. Gae In terus berjalan membawa tas genggam tadi, air mata semakin deras mengaliri pipinya. Ia tidak tahan, ini semua begitu menyesakkan untuknya. Gadis itu mengambil langkah kesamping, menopang tubuhnya bersama dinding kokoh berwarna coklat.


"Aku mencintaimu Kim Joon Sung...... Aku sangat mencintaimu!" Gumamnya lirih. Runtuh sudah pertahananya. Ia mulai terisak, perlahan tubuh indahnya itu tidak dapat di kuasainya lagi. Tas genggam yang sedari tadi berada di tangannya, kini terjatuh. Perlahan tubuhnya pun meringkuk, Gae In duduk di lantai kayu dengan warna yang mendominasi setiap sudut koridor itu.


"Aku tidak siap kehilanganmu secepat ini. Empat tahun selama nafasku berhembus dengan cinta untukmu, Joon Sung! Kau seharusnya menyadari itu!" Sentak Gae In, terisak. Mengigit bibirnya menahan perasaan yang bergejolak. Ia menghela nafas perlahan, guna mengurangi emosi yang semakin mencuat. Menghentikan isakannya. Gae In mencoba berdiri, menguasai tubuhnya lagi. Ia menggenggam tas hitam tadi. Lalu melangkah perlahan sambil menghapus sisa-sisa air mata yang membekas di pipi.


Tanpa Gae In sadari, sesosok pria berdiri memandangnya dari kejauhan. Menatapnya lekat, pria itu hanya membisu. Masih menjabarkan sekaligus mencermati ucapan bertubi-tubi dari Gae In. Ia meletakkan kedua tangannya dalam saku celana. Berdiri tegap memandang punggung ringkih yang kini sudah menghilang.


"Maafkan aku, Yoon Gae In" Gumam Joon Sung terus menatap kosong ke arah depan pandangannya. Tak pernah ia bayangkan akan menjadi serumit ini. Tapi apa yang harus di perbuatnya? Ia sama sekali tidak bisa membalas perasaan Gae In, tidak bisa. Kae Bi..... Benar-benar hanya gadis itulah yang mengisi relung hatinya, tanpa Joon Sung sadari



***


Pagi menjelang, matahari menerangi seoul dan seluruh isinya. Membuat burung-burung bercicit-cicit kecil bahkan berterbangan di ranting pepohonan. Embun menghiasi berbagai dedaunan. Kae Bi terbangun dari tidurnya, mengerjapkan mata saat di rasa sinar matahari dan cahayanya menembus hangat ke dalam tubuh mungilnya. Ia menguap kecil, lalu mencoba beranjak dari pembaringannya. Kae Bi mematut dirinya di cermin besar yang memperlihatkan semua lekuk tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Perhatiannya terpusat pada mata bulatnya yang memerah sembab, lingkaran mata itu terlihat jelas.


"Kae Bi-aa, Kau sudah bangun sayang?"


Gadis itu mengalihkan pandangannya, berbalik kebelakang saat dilihat sang Ibu kini berjalan ke arahnya. Merangkul Kae Bi dalam pelukannya erat-erat, membuat gadis itu merasa nyaman seketika, mencium aroma parfume lembut yang menyeruak masuk ke dalam hidungnya. Mrs.Goo mencium hangat puncuk kepala Kae Bi, mengelus dengan sayang rambut panjang nan indah bergelombang milik gadis itu


"Sayang, pernikahanmu berjalan dua hari lagi. Tapi maaf kami hanya menikahkanmu di pencatatan sipil saja, kau tahu kan? Ibu hanya bisa membantu menikahkanmu saja.... Selanjutnya, ibu sudah di kekang oleh Ayah untuk tidak mencampuri urusanmu lagi" Ujar Mrs.Goo sambil terus merangkul Kae Bi dalam pelukannya. Membuat gadis itu mulai berpikir keras. Pernikahan ini benar-benar terjadi? Ia akan menikah dengan pria yang sama sekali asing baginya, yang baru muncul di dalam kehidupannya? Mustahil memang.


"Ibu..... Apakah....apakah sebaiknya jika pernikahan ini dibatalakan.....saja?" Ucap Kae Bi bergetar ketakutan. Mrs.Goo segera melepas pelukan lembutnya, menangkup wajah Kae Bi dengan kedua tangannya. Ia tersentak mendengar ucapan Kae Bi. Melemparkan pandangan bertanya ke arah gadis itu


"Kenapa begitu sayang? Kau... Kau mau jika anak dalam kandunganmu tidak memiliki seorang Ayah?" Tanya Mrs.Goo, membuat Kae Bi semakin urung. Ia menggeleng perlahan, menyusuri rasa bimbangnya.


"Aku......aku hanya takut.....aku takut Ayah akan semakin murka" Terangnya sambil mengigit jarinya, merasa gugup. Membuat Mrs.Goo mengelus pipi lembut itu


"Kau mau jika di asingkan dan tidak pernah bertemu ibu lagi? Begitu, hemh?" Tukas Mrs.Goo meyakinkan Kae Bi, gadis itu menggeleng pelan lagi. Ia benar-benar tak bisa membayangkan jika dirinya di asingkan dan terpisah jauh dari sang Ibu, Kae Bi merenung. Mrs.Goo menatapnya lalu membawa putri kesayangannya itu ke dalam dekapannya lagi.


"Kalau begitu, jalani saja semuanya. Dan lagi apa salahnya? Kau dan Joon Sung saling mencintai, bukan? Dia ayah kandung dari janin yang ada di dalam rahim-mu, Kae Bi-aa. Ingat, Dia berhak mengasuh anak-mu dan jangan pernah sesekali kau mengingkari ikatan itu, Tuhan akan murka Kae Bi" petuah itu membuat Kae Bi terdiam, harusnya ia sadar ketika melakukan tindakan bodohnya bersama Hyun Woo. Harusnya ia memikirkan masa depannya saat akan melakukan hal itu! Bukan hanya terpancing janji dan semua umbaran Cintanya, bukan! Itu bukan cinta yang murni sama sekali, berlaku hanya untuk gejolak nafsu yang membara, ia dan Hyun Woo tak bisa memahami satu dengan yang lainnya, mereka hanya memikirkan karunia Tuhan yang seolah mentakdirkan mereka untuk bersama. Dan sekarang apa hasil dari itu semua? Kae Bi yang menanggung jeritan pedih ini, siksaan ini. Sedangkan Hyun Woo? Kae Bi benar-benar kehilangan jejak pria itu. Mrs.Goo melepaskan pelukannya pada Kae Bi, ia tersenyum ketika melihat Kae Bi sedang mencermati nasehat yang di ucapkannya tadi.


"Oh iya sayang, Kau sudah memberitahu Joon Sung mengenai acara pernikahan kalian?" Tanya Mrs.Goo membuat Kae Bi terpenjarat. Benar saja, Joon Sung belum mengetahui hal ini sama sekali.


"Belum. Biar aku nanti yang memberitahunya. Aku akan pergi ke Apartementnya pagi ini" Jawab Kae Bi, membuat Mrs.Goo tersenyum. Wanita anggun itu mengelus kepala Kae Bi dengan sayang.


"Dia tampan. Jujur saja ibu tepanah melihat muka seperti pahatan dewa itu" Mrs.Goo mengulum senyumnya. Membuat Kae Bi terdiam, tak mampu merespon apapun. "Jadi dia tinggal di Apartement? Mempunyai Jabatan sebagai Ketua tim penyusun marketing? Hemh, Pemuda mapan. Dia juga Gantle, mau bertanggung Jawab dan meminang-mu di depan ibu" Seru Mrs.Goo lagi sambil melirik Kae Bi yang tidak menunjukkan Ekspresi apapun. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya.


"Yya Kae Bi-aa? Kenapa kau melamun, sayang?" Sentak Mrs.Goo, mengahancurkan pikiran dan imajenasi gadis itu. "Kau melamun kenapa? Memikirkan Joon Sung?" Tanya Mrs.Goo membuat Kae Bi menjadi kikuk. Gadis itu bersiap dengan elakkannya,  Mrs.Goo menjadi bergidik geli melihat tingkah Kae Bi.


"Selamat Kae Bi-aa. Ibu memberkati-mu selalu, sayang. Jadilah istri yang terbaik untuk Joon Sung. Membuat Rumah Tangga kalian terbina selalu. Ingat ya, Kau adalah wanita yang memilik peran penting untuk Joon Sung. Cintai dia selalu, buat dia senyaman mungkin denganmu.....buat dia selalu Mencintai-mu" Ucap Mrs.Goo sambil menuntun Kae Bi saat di lihat putrinya itu bergetar menahan tangis. Kae Bi mengeluarkan air matanya, ia mendekap Mrs.Goo kian erat


"Apakah setelah aku menikah, aku tidak akan pernah bertemu ibu lagi? Apakah kita tidak akan bersama lagi? Jawab aku, ibu" Desak Kae Bi melimpahkan ketakutannya. Gadis itu dilanda keadaan yang memberatkan. Ia takut tidak akan pernah merasakan kasih sayang dari sang Ibu seperti saat ini.


"Meskipun tidak sering. Ibu akan selalu  menyempatakan diri untuk menjenguk-mu dan Joon Sung. Tapi ingat, ini tanpa sepengetahuan Ayah. Ibu akan menyisihkan separuh waktu dari kegiatan Ibu di luar rumah. Tenang saja, sayang. Ibu akan selalu menjaga-mu dari kejauhan" Jawab wanita itu menenangkan. Kae Bi tersenyum hangat mendengar ucapan itu, mendekap sang Ibu lebih erat dan lebih dalam lagi.


"Jam berapa ini? Bukankah tadi kau bilang akan pergi menemui Joon Sung." Mrs.Goo melepaskan pelukannya. Kae Bi hanya mengangguk mendengar pertanyaan itu. Sang Ibu menuntunnya ke arah pintu kamar mandi. "Mandilah sana, Jangan membuat Calon Suami-mu lama menunggu" Balasnya di selingi senyuman.


Kae Bi menutup pintu kamar mandinya. Berjalan menjuru ke ruangan luas itu. Mengahampiri bath-up, duduk di tepian wadah besar itu. Menyalakan keran yang mengaliri air hangat di dalamnya, menambah busa sabun dari sebotol yang berisi cairan yang ia takar. Setelah semua sudah siap. Kae Bi melepas semua pakaian yang dikenakan. Bergerak perlahan masuk kedalam bath-up tadi. Menenggelamkan dirinya dalam-dalam. Menutup mata mencoba menyingkirakan diri dari kegalauan yang ia rasakan. Tapi bayangan itu muncul, ia teringat kata-kata sang Ibu. Joon Sung dan Hyun Woo bertabur di dalam pikiran serta jiwanya, Kae Bi menarik nafas perlahan guna menyusuri dalam-dalam apa yang akan di perbuatnya setelah ini


"Seharusnya bukan Joon Sung yang melakukan ini semua....bukan. Hyun Woo.....kau yang seharusnya ada di posisi Joon Sung saat ini....tapi kenapa!? Kenapa kau malah pergi!" Kae bi menjerit, memercik air-air dengan amarahnya. Nafasnya memburu cepat sangat dan menderu.


"Aku akan menemunkan-mu Hyun Woo-ssi! Setidaknya kau harus tau bahwa di rahim ku ini, telah tertanam Janinmu!" Gumam Kae Bi masih dengan amarah yang bergejolak tinggi. Ia membasuh mukanya dengan air hangat itu....memejamkan matanya lagi, mengubur emosi yang tak terkendali.


***


"Yya Ah Ra-ssi berhenti menangis seperti itu! Jangan membuatku tambah panik!" Jung Min terus melirik Ah Ra yang sedang menangis sambil terisak di belakang kursi kemudinya. Dong Bin mengalihkan pandangannya pada Ah Ra dan kemudian menatap Jung Min yang memfokuskan diri pada stir mobilnya lagi.


"Biarkan sajalah si Childish itu menangis. Nanti juga kalau sudah bertemu Joon Sung dia akan diam sendiri" Balas Dong Bin cuek, lalu mengintai pandangannya ke arah luar jendela mobil


"Apa yang kau ucapkan Dong Bin-ssi! Kau yang bilang Jika Joon Sung yang menghamili anak presdir Goo, Hah! Lihat, jika semua itu tidak benar! Aku akan membunuhmu Hidup-hidup!" Ah Ra mencengkeram kerah kemeja Dong Bi dari belakang. Menjerit bak orang kesetanan. Jung Min menghentikan mobilnya. Melepaskan cengkraman Ah Ra dari kerah kemeja Dong Bin.


"Park Ah Ra! Kau menyakitinya, jangan seperti ini! Lepaskan" Jung Min mulai menggapai pergelangan tangan gadis yang mengganas itu. Dong Bin meringis, menahan rasa sakit akan cekikan Ah Ra di leher Jenjangnya


"Aaa....ahhh Ra-ssi.. Kau.....kau membunuhku!" Tekan Dong Bin dengan sekuat tenaganya. Jung Min segera membuka seat belt yang ia kenakan. Lalu, membuka pintu mobil secara cepat. Menuju tempat Ah Ra yang sedang meringkuk ke depan, mencengkram Dong Bin lebih dalam.

"Lepaskan dia, Ah Ra-ssi! Apa kau sudah gila!" Jung Min menyeret Ah Ra cepat, meraih pergelangan tangan itu dengan kuatnya. Membawa Ah Ra keluar dari mobil. Menarik pergelangan tangan gadis itu, menekannya kuat. Lalu, menghempaskannya dengan Kasar. Membuat Ah Ra meringis kesakitan


"Apa yang kau lakukan pada Dong Bin!? Jika kau mau meluapkan kemarahan, marahlah pada Joon Sung! Jangan kepadanya!" Teriak Jung Min membuat Ah Ra tersentak ketakutan. Gadis itu bergetar Hebat. Dong Bin. Keluar dari mobil secara Tertatih. Berjalan menghampiri Jung Min dan Ah Ra


"Aku.....aku....aku sakit hati. Sung Jung Min, Apa kau tahu! Aku benci Joon Sung.... Aku benci Kim Joon Sung! aku....aku sangat mencintainya, Jung Min-ssi....tapi kenapa ia melakukan semua ini! Ia seperti membunuhku secara langsung!" Ah Ra memukul dada bidang milik Jung Min bertubi-tubi. Membuat pria itu memejamkan matanya menahan rasa sakit. Perlahan gadis itu meringkuk di atas aspal jalan yang kasar. Menangis sejadi-jadinya sambil terisak tak berhenti


"Aku benci....aku benci, kenapa aku harus mencintainya! Joon Sung-ssi, Katakan semua ini hanyalah mimpi!" Jerit Ah Ra mengais-ngais aspal bebatuan kerikil kecil itu. Terlalu banyak hati dan cintanya yang di luapkan untuk Joon Sung. Gadis itu amat sangat mencintainya....segala yang ada pada diri Joon Sung seakan mampu menyeretnya, memberikan rasa cinta tak terhingga untuk lelaki itu.


"Mianhe Ah Ra-ssi jika berita ini terlalu menyakitkan untukmu. Tapi, aku mendengar sendiri jika Joon Sung yang mengaku bahwa....." Jung Min segera melemparkan pandangan tajamnya Ke arah Dong Bin. Seakan menyuruh pria itu menghentikan dan tidak melanjutkan ucapannya.


"Bangunlah Ah Ras -ssi, Kau mau mendengarkan penjelasan Joon Sung, Bukan? Tapi ingat, ketika kau sudah bertemu Joon Sung, kendalikanlah emosi-mu itu. Kau tahukan, Joon Sung seperti apa?" Ujar Jung Min. Menopang tubuh gadis itu untuk berdiri. Dong Bin segera membantu, ikut memapah Ah Ra. Ketiganya berjalan. Memasuki Hyundai hitam milik Jung Min.


Ah Ra tampak termenung sendiri, sambil menyusuri pemandangan di balik jendela mobil. Tidak ada yang berani mengerluarkan suara lagi. Termasuk Dong Bin, ia hanya terdiam kaku meluruskan pandangannya ke depan bersama Jung Min. Sesampainya Di Lobby parkiran Apartement Joon Sung, ketiganya tetap bungkam. Keluar dari mobil dengan tenang. Memasuki lift yang membawa mereka menuju lantai kamar Joon Sung. Ketiganya berjalan di koridor panjang dan luas itu. Ah Ra tak hentinya menarik nafas guna menghilangkan berbagai perasaan yang menjalar di hatinya, melangkah pelan di belakang Jung Min dan Dong Bin.


"Ingat Ah Ra-ssi. Stay calm down" Dong Bin berucap sambil menepuk pelan bahu Ah Ra, memberikan kekuatan pada gadis yang terbujur kaku di belakangnya itu. Jung Min menekan bel pintu Hitam dengan design modern yang terpampang kokoh di hadapannya.


Pintu itu di buka oleh Joon Sung, pria itu berpenampilan casual. Sangat sederhana dengan kaos hitam bermerk FredPerry keluaran terbaru dengan celana pendek berwarna senada. Ia menatap Jung Min, Dong Bin, dan Ah Ra silih berganti.  "Kalian?" Seru Joon Sung masih tetap memandang ketiga temannya. Ia mulai tersadar mengerjapkan matanya


"Ayo masuk" Ajak Joon Sung, membuka pintu lebih lebar, Jung Min dan Dong Bin berjalan bersamaan. Ketika Ah Ra melangkah dan beradu tatapan pada Joon Sung, gadis itu sedikit gemetar, giginya bergelematuk menahan rasa pedih melihat lekukan wajah sempurna milik lelaki tampan itu. Sekuat tenaga ia menahan perasaannya, mulai melangkah menyusul Jung Min dan Dong Bin. Membuat Joon Sung melemparkan pandangan bertanya ke arah gadis itu. Lalu menutup pintu Apartement rapat-rapat.


Jung Min duduk di samping Ah Ra sedangkan Dong Bin mengambil tempat di samping Joon Sung. Keempatnya sama-sama terdiam. Joon Sung melipat kedua tangannya di dada, seperti biasa selalu tetap tenang dan terlihat kaku. Ah Ra terdiam, meratapi Joon Sung begitu dalamnya. Jung Min dan Dong Bin saling melempar pandangan, mendesak satu sama lain untuk mengeluarkan suara terlebih dahulu.


"Joon Sung-ssi, Berita itu sudah beredar di semua penjuru perusahaan dan para karyawan Goo Seoul Corp. Dan benarkah kau memang berhubungan dengan putri Presdir Goo?" Ucap Jung Min membuka pembicaraan. Joon Sung masih tetap tenang dan menatap Jung Min


"Aku sudah memikirkan Jika berita itu akan tersebar cepat, mungkin sampai di koran berita pagi ini. Itu lihat" Jawab Joon Sung sambil menuntun arah pandangnya ke meja tamu yang di atasnya terdapat koran pagi. Sontak Jung Min, Dong Bin, dan Ah Ra mengalihkan pandangannya pada koran yang berisi berita mengenai Joon Sung dan Kae Bi.


"Kau benar-benar serius berhubungan dengan putri tunggal Presdir Goo?" Tanya Dong Bin sedikit terkesiap. Ia membulatkan matanya ke arah Joon Sung, seakan tak percaya Jika teman satu regu tim-nya ini menjalin kasih dengan perempuan, anak Presdir pula. Pasalnya, seperti Dong Bin dan teman yang lainnya tahu, Jika Joon Sung adalah lelaki dingin dan begitu kaki dangan yang namanya 'wanita' menjalin komitmen saja mereka tak pernah membayangkan, apalagi mengetahui Joon Sung berpacaran.


"Ku pikir kalian dapat menyimpulkannya setelah melihat dan membaca berita itu. Kalau tidak serius, aku tidak akan mau sampai bertanggung jawab seperti ini" Jawab Joon Sung, kini membuat ketiga temannya menganga lebar. Ah Ra semakin sesak, matanya mulai berkaca-kaca. Ia menutup mulutnya rapat-rapat


"Mwo!? Kau gila Joon Sung-ssi. Bagaimana mungkin.....kau sampai melangkah sejauh itu? Kami pun tidak di beri tahu" Timpal Dong Bin lagi, membuat Joon Sung menyeringai kecil lalu membuang pandanganya cepat


"Haruskah aku menyampaikan setiap urusan pribadiku pada kalian? Hemh?" Balas Joon Sung kepada Dong Bin. Membuat ketiga orang itu terkeluh mendengarnya. Ah Ra semakin mencoba tegar, melihat Joon Sung yang benar-benar sama sekali tidak menyadari perasaannya untuk lelaki itu.


"Lalu bagaimana dengan Presdir Goo? Beliau merestui hubungan-mu dengan puterinya?" Sekarang giliran Joon Sung yang terkeluh mendengar pertanyaan Jung Min. Ia menerawang jauh. Membayangkan Kae Bi yang terus menangis ketika tamparan mendarat kasar di pipinya, Joon Sung bisa merasakan betapa sesaknya menjadi Kae Bi. Mengingat dan membayangkan tangisan gadis itu membuat Joon Sung kesal, ia mendelik tajam.


"Aku di pecat dan persetan dengan semua itu!" Jawabnya menekan seolah melampiaskan kekesalannya pada ucapan tadi.


"Mwo!? Kau di pecat? Aigo, mana bisa?" Tutur Dong Bin tidak terima. Jung  Min dan Ah Ra membujur kaku tak percaya. Gadis itu menatap Joon Sung semakin lekat dengan mata yang sudah berkaca-kaca, meminta air itu mengalir dari pelupuk Ah Ra.


"Demi gadis itu kau rela seperti ini, Joon Sung-ssi? Jika saja saat ini dia tidak mengandung anak-mu, apakah cintanya akan sebesar seperti yang kau rasakan? Apakah ia juga mencintai-mu?" Hati Joon Sung mati untuk sesaat. Otaknya tidak dapat mencerna kalimat itu, semua pertanyaan Ah Ra membuyarkan. Bagaimana ia bisa tahu semua itu? Dia sama sekali tak punya jawaban untuk pertanyaan seperti itu. Dia tidak mengenal Kae Bi, bahkan menulusuri perasaan gadis itu...tidak pernah sama sekali.


"Jangan mencampuri urusan-ku lebih dalam" Sanggah Joon Sung dengan alasan yang dibuatnya. Habis sudah kesabaran Ah Ra. Gadis itu beranjak dari posisinya, membuat Dong Bin dan Jung Min menatapnya, menciptakan sorot mata ketakutan.


"Aku seperti ini karna aku perduli! Aku perduli, Joon Sung-ssi!" Jerit Ah Ra, menguraikan air matanya yang tertahan sejak tadi. Joon Sung mendongakkan kepala menatapnya. Pria itu ikut berdiri perlahan, mensejajarkan pandangannya pada Ah Ra.


"Aku tahu rasa itu, Ah Ra-ssi. Tapi aku mohon dengan hormat, hapuslah.....hapuslah semuanya untuk ku. Mianhe, ku harap kau mengerti" Joon Sung memperlembut intonasi suaranya, menjaga perasaan Ah Ra agar tak tersakiti lebih jauh lagi.


"Kau tahu ini menyakitkan? Dan jangan mengucapkan kata maaf dengan mudahnya! Kau tak pernah tahu, setiap kali kau di beri teguran oleh ayah? Ketika di rumah tak hentinya aku memohon kepada beliau agar tidak menegur-mu terlalu keras. Setiap kali kau makan siang di kantin perusahaan, aku selalu meminta petugas makanan itu untuk menambahkan porsi makan-mu agar lebih banyak. Setiap kali kau ditugaskan sesuatu di luar kota, aku menanyakannya pada Jung Min dan Dong Bin, aku tak ingin terpisah dan beranjak jauh dari-mu! Aku memendamnya dan itu sangat sulit Joon Sung-ssi!" Ucapnya panjang lebar. Ah Ra bergetar dan terisak lirih, ia menghapus air mata yang masih mengalir deras


"Dan sekarang pun aku masih berharap ini semua hanya mimpi. Aku......aku tidak siap untuk kehilangan-mu secepat ini, Joon Sung-ssi! Tidak sekarang" Sambungnya lagi sambil menggeleng lemah. Ketiga pria di ruangan itu hanya bisa berdiam mendengar pengakuan sederhana dari Park Ah Ra. Mereka tidak menyangka jika Ah Ra mengungkap semua sampai sedetail itu. Joon Sung berdiam, kenapa seperti banyak hati yang di sakitinya?



***


Kae Bi mengendarai camry merahnya, membelokkan gagang stir menuju Lobby parkiran Apartement Joon Sung. Ia menghentikan mobilnya, kemudian membuka seat belt yang dikenakannya. Keluar dari pintu, Kae Bi berjalan dengan Anggun. Tak sedikit mata pria-pria di lantai dasar memandangnya, begitu terpesona. Kae Bi mengenakan dress minim berwarna biru tua, dengan design polkadots membitik putih di setiap polanya, tangan terutup sampai siku. Ia terlihat lebih cantik lagi, dengan rambut coklatnya yang panjang dan tergelombang indah. Detakan-detakan sepatu high heelsnya memenuhi suara di sepanjang koridor yang terasa sunyi. Ia sedikit kikuk, merangkai kata demi kata yang akan di ucapkan. Ketika sudah sampai di depan pintu itu, Kae Bi kembali terdiam. Ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, guna mengurangi kegugupan. Ia sentuh bel itu sehingga berdenting.


Joon Sung mengalihkan pandangannya. Begitupun Jung Min, Dong Bin, dan Ah Ra. Mereka serentak menengok ke arah pintu, ketika mendengar suara bel yang berdenting nyaring. Joon sung menyumpahi, semoga itu bukan Gae In yang setiap pagi mengantarkan pakaian bersihnya dan menyiapkan sarapan untuknya. Pria itu berjalan, meraih handle pintu, Joon Sung membukanya. Kae Bi muncul dengan senyum agak getir, Joon Sung menatapnya begitu dalam. Ia terkejut sekali melihat Kae Bi datang.


"Aku datang untuk memberitahu kabar pernikahan" Seru Kae Bi. Pandangannya segera meruncing saat di lihat beberapa orang menghiasi ruangan tamu Joon Sung. Ia terpaku, sedikit ketakutan.


"Kau.....kau sedang menerima tamu?" Tanya Kae Bi, semakin dirasakannya ketiga orang di dalam Apartement itu mengamatiya secara terperinci. Jujur saja itu membuat Kae Bi risih. Ia milirik Ah Ra sekilas, gadis itu menatapnya tajam. Membuat Kae Bi menundukkan kepala.


"Ayo masuk, mereka teman-temanku di kantor" Ajak Joon Sung. Kae Bi menggeleng dan itu membuat Joon Sung semakin bingung.


"Anhiyo. Lebih baik aku pulang terlebih dahulu. Aku tidak ingin menganggu acara kalian" Kae Bi tersenyum kaku. Joon Sung menatapanya keheranan.


"Yya tentu saja tidak, Goo Kae Bi. Kami malah senang jika kau mau bergabung" Seketika Dong Bin berseru sambil melemparkan senyumnya. Kae Bi melihat itu, Jung Min juga menampakkan wajah berserinya, seolah menyetujui ucapan Dong Bin tadi.


"Aku tidak suka, jika dia berada disini!" Semua terpenjarat kaget mendengar ucapan Ah Ra. Gadis itu memandang Kae Bi sinis, membuatnya ketakutan. Joon Sung mengamati tatapan mata Ah Ra dan Kae Bi yang semakin menundukkan kepala, bergantian. Ia berjalan menghampiri Ah Ra, berdiri tegap di hadapan gadis itu


"Jangan menatapnya seperti itu! Kau membuatnya ketakutan!" Sentak Joon Sung geram. Pria itu menekan setiap kata-katanya. Ah Ra tersenyum kecut, berbalik menatap Joon Sung sinis. Perlahan  ia berjalan menghampiri Kae Bi dengan setiap tatapan menikamnya


"Dasar murahan! Memberikan semuanya untuk mendapatkan Joon Sung!" Hardik gadis itu, yang kini memberikan tatapan membunuh untuk Kae Bi. Membuat gadis malang itu terdiam, semakin memejamkan mata. Joon Sung menganga lebar mendengarnya. Rahangnya mengatup keras mendengar hinaan Ah Ra untuk Kae Bi. Ia berjalan gesit, mengampiri punggung Ah Ra. Diraihnya pergelangan tangan itu dengan kasar, Joon Sung menekannya kuat. Memberikan rasa sakit untuk Ah Ra, sehingga ia meringis.


"Jangan pernah menghinannya, Bodoh! Aku yang ingin memilikinya! Aku tak akan segan-segan berlaku kasar seperti ini jika kau menyakitinya! Bahkan menyentuhnya sehelai rambutpun.....tak akan aku biarkan, Minggir!" Tekan Joon Sung dengan membara. Kae Bi ikut mendongakkan kepala. Joon Sung menghempaskan Ah Ra dengan kasar, menghampiri Kae Bi dan menggenggam tangan mungil milik gadis itu. Jung Min dan Dong Bin segera bertindak, mereka menopang Ah Ra yang terjatuh akibat hempasan kasar tadi.


"Kau tak apa, Ah Ra-ssi? Ayo bangun" Dong Bin memapah Ah Ra. Gadis itu meangis kesakitan, meringis tertahan. Jung Min melepaskan rangkulanya pada Ah Ra. Memberi kode pada Dong Bin untuk membawa Ah Ra keluar. Kae Bi dan Joon Sung membuka jalannya, membiarkan Ah Ra untuk keluar dari ruangan itu.


"Aku mencintaimu Kim Joon Sung! Dan aku tidak akan pernah berhenti" Tutur Ah Ra yang kini berada Di Hadapan Joon Sung, air mata mengalir begitu derasnya. Membuat polesan make-up gadis itu sedikit luntur. Kae Bi mengerjapkan mata dan menelan ludahnya mendengar pernyataan itu. Ia merasa bersalah dan amat sangat. Jadi itulah alasan Ah Ra menghinanya tadi? Karna ia mencintai Joon Sung. Sungguh memberatkan, Kae Bi merasa menjadi perempuan perebut jika seperti ini. Dong Bin segera menarik Ah Ra, agar gadis itu melanjutkan langkahnya. Mereka kini hilang di balik pintu. Jung Min tersisa sendiri di ruangan itu. Ia berjalan menghampiri Joon Sung dan Kae Bi


"Mianhe Joon Sung-ssi..... Kae Bi. Maafkan sikap Ah Ra tadi. Kami akan pamit pulang. Dan tolong jangan tersinggung tentang ucapan Ah Ra tadi, Kae Bi-ssi. Kami turut bahagia atas pernikahan-mu dengan Joon Sung. Selamat" Ucap Jung Min sambil tersenyum lalu membungkukan badannya. Melangkah menuju pintu yang tadi di lalui Dong Bin dan Ah Ra. Kae Bi tersenyum menerima pernyataan Jung Min.


Joon Sung dan Kae Bi saling terdiam. Kae Bi risih melihat Joon Sung yang terus menatapnya tak berhenti. Gadis itu meremas jari-jemarinya guna menghilangkan kegugupan. Alih-alih memalingkan wajah, Joon Sung tak pernah berkedip sedikitpun ketika memandang Kae Bi. Tersadar seketika, Kae Bi kembali memikirkan Park Ah Ra, jelas dan ucapan gadis itu mampu menjangkau gendang telinganya. Mengaku terang-terangan kalau dirinya sangat mencintai Joon Sung dan tak akan pernah mengakhiri perasaannya itu.


"Gadis tadi mencintaimu, Joon Sung-ssi" Ujar Kae Bi memecahkan Keheningan. Membuat Joon Sung tersadar kembali. Lelaki itu membuang pandangan, mendongak menatap langit-langit ruangan Apartement-nya.


"Dan perduli apa? Aku tidak mencintainya" Jawab Joon Sung cuek, melipat tangannya di dada. Kae Bi jadi kikuk sendiri, Joon Sung benar-benar terlihat kaku


"Seharusnya kau menjaga perasaannya. Ia terpukul sekali mendengar berita ini" Gumam Kae Bi menundukkan kepala sambil memasang wajah memelas. Membuat Joon Sung menyunggingkan senyumnya sekilas, lalu merubah raut wajahnya lagi.


"Berhenti membahasnya, dan beritahu kenapa kau ke sini?" Sambar Joon Sung seketika. Kae Bi menatapnya sambil berpikir. Mulai serius dan kembali ke tujuan utamanya


"Ibu bilang pernikahan berjalan dua hari dari sekarang. Tapi kita menikah hanya di pencatatan sipil saja. Dan aku tidak mau melakukan itu semua!" Kalimat terakhir Kae Bi membuat Joon Sung tercekat. Pria itu menoleh dengan pandangan bertanya? Joon Sung mulai mengerti


"Kau membatalkannya karna Park Ah Ra? Heh, perduli sekali? Kau sama saja memaksakan kehendak" Sepertinya Joon Sung salah tanggap, dan lagi siapa yang membatalkan rencana ini hanya karna Park Ah Ra? Meskipun tidak memungkiri kalau itu juga menjadi alasan. Tapi intinya bukan hal itu yang utama.


"Aku akan meminta pertanggung jawaban untuk orang yang seharusnya berada di posisi-mu saat ini. Aku akan semakin berdosa bila terus menjeratmu dalam masalah ini. Jadi sekarang, sebaiknya kau berterus terang kepada Ayah jika kau tidak melakukan hal itu, kau tidak bersalah" Kae Bi berucap serius pada Joon Sung, wajah gadis itu berubah sendu.


"Dan jika orang yang kau minta pertanggung jawabannya, menolak? Bagaimana? Apa yang akan kau lakukan?" Benar saja, Kae Bi mengigit bibir bawahnya seolah menghidari ketakutan. Pertanyaan Joon Sung tadi membuatnya terdiam tak bisa berkutik sedikit pun. Kemungkinan seperti itu pasti ada. Apalagi melihat gelagat Hyun Woo yang hilang entah kemana.


"Kau mau di asingkan dari negri ini? Kau mau hidup-mu hancur begitu saja? Tidak lihat ibu-mu meratap sedih dengan keadaan seperti ini? Kau....."


"Memang hidupku sudah hancur! Aku memang menjijikan! Kau dengar? Aku menjijikan!" Jerit Kae Bi, mengeluarkan air matanya cepat. membuat Joon Sung menatap kaku, tidak menyangka Kae Bi akan meluapkan emosinya. Gadis itu berdiri sambil mengepalkan tangan erat, membuat Joon Sung terkesiap dari posisinya


"Jika saja aku sudah lelah.....mungkin aku akan mati atau membunuh bayi di dalam perutku ini!" Joon Sung beranjak dari posisinya, mengintai Kae Bi dengan pandangan lekat.


"Apa kau sudah gila!? Dia tidak berdosa, Nona Goo! Hentikan pemikiran itu!" Sentak Joon Sung menatap tajam ke arah Kae Bi


"Aku benar-benar lelah Joon Sung-ssi! Aku begitu nista, tuhan membuat-ku terpuruk Jatuh. Aku tak tahu dosa apa yang aku perbuat, di masa lalu? Balasan karma entah dari siapa? Aku benar-benar tidak kuat menahan semuanya!" Tukas Kae Bi mengeluarkan isakannya. Mengelus dadanya yang sesak, membuat Joon Sung semakin terpaku. Pria itu melemah, hatinya mencelos


"Aku merasa menjadi manusia yang malang, lebih dari pengemis-pengemis di jalan yang masih mempunyai sedikit kebahagiaan. Terpuruk sendiri tanpa orang-orang yang mencintaiku selama ini! Mereka pergi begitu saja......mereka meninggalkan-ku sendiri! Dan lelaki dari bayi ini? Hhhh, aku benci! Kau tahu Joon Sung-ssi aku menjadi buta dan menutup kedua mataku karenanya! Aku tidak sanggup, sungguh.....aku sangat letih" Joon Sung tersadar ketika sesuatu turun dari pelupuk matanya, mengiring.....mengalir ke pipi. Air mata? Joon Sung menangis. Dengan cepat ia menghapusnya, menghampiri Kae Bi yang masih terisak sambil menutup wajah memerahnya dengan kedua tangan. Joon Sung berjalan perlahan, dengan ragu meraih tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya. Dan sial! Ia semakin sesak ketika tubuhnya bersentuhan dengan Kae Bi, matanya mulai berkaca lagi. Joon Sung merutuk, kenapa ia jadi selemah ini?


"Berhenti menangis Kae Bi-aa. Aku mohon berhenti menangis seperti itu" Pinta Joon Sung lembut, perlahan meraih salah satu tangan Kae Bi yang masih menutupi wajah cantik itu. Matanya memerah, isakannya begitu cepat, Joon Sung melihat itu semua. Lalu menangkup wajah ketakutan itu dengan sebelah tangannya


"Aku tak akan membiarkan-mu sendiri seperti ini. Aku semakin enggan untuk meninggalkan-mu" Joon Sung menatap kedua mata bulat itu


"Dengar, apapun yang kau ingin lakukan....aku pasti akan memberikan jalan keluarnya. Tapi jangan seperti ini Kae Bi, jangan sekalipun kau berfikir akan melakukan tindakan bodoh karna kau tak layak hidup di dunia ini.....aku... Buatlah aku sebagai penopang-mu. Ingat! Aku tak suka melihat kau selemah ini" Joon Sung menggenggam erat jemari itu. Merasakannya dengan penghayatan, melihat mata Kae Bi lebih dalam.


"Tapi....tapi dia harus tahu Joon Sung-ssi. Setidaknya ia harus tahu jika aku....aku tengah mengandung anaknya.... Dia harus tahu itu!" Ucap Kae Bi seperti menekan lagi, menangis pilu memejamkan matanya. Membuat Joon Sung membawa tubuh Kae Bi ke arahnya, kali ini pelukan itu semakin mengerat.


"Baiklah, Aku akan membantu-mu dan akan mundur jika lelaki itu akan bertanggung jawab.... dan akan menjamin kesetiaannya pada-mu......" Punggung yang naik-turun itu, di elusnya dengan lembut. Joon Sung mendekap Kae Bi begitu dalam, merasakan aroma tubuh gadis itu di dalam hembusan nafasnya.


"Tapi jika dia menolak itu semua! Jangan pernah kau menemui dan berusaha mencarinya lagi. Arraseo? Aku tak akan membuat-mu mengenal Bajingan seperti itu!" Perintahnya, Kae Bi mengangguk kecil di dalam dekapan itu. Ada sesuatu, lamanya mereka berdiam membuat suatu suara terasa begitu berdetak. Kae Bi merasakannya....merasakaan saat dia bersandar di atas dada bidang milik Joon Sung.


"Bisakah kau melepaskan pelukan ini" Pinta Joon Sung, membuat Kae Bi melepaskan rangkulannya. Wajah gadis itu sedikit memerah bersemu. Ia salah tingkah untuk pertama kalinya di depan Joon Sung


"Bolehkah aku Jujur?" Tanya Kae Bi memulai lagi dengan intonasi nada yang terdengar ragu.


"Apa?" Balas Joon Sung cepat


"Aku tak pernah bertemu dengan-mu sebelumnya. Apakah kita saling mengenal satu-sama lain? Entahlah.....mungkin saat di masa lalu? Dan, jelaskan alasan itu....kenapa kau mau membantu-ku sampai sejauh ini? Itu....itu sangat tidak mungkin kau lakukan, Jika kita belum mengenal satu sama lain?" Tanya Kae Bi silih berganti dengan menggebu. Seolah mengharapkan Jawaban yang ia inginkan dari mulut Joon Sung. Berbeda halnya dengan pria itu, ucapan Kae Bi serasa bagai pistol yang menadahnya saat ini. Membuatnya menjadi buyar akan logika dan segala pemikiran, Joon Sung seperti orang yang kebingungan, susah untuk merangkai kata-kata


"Memang. Dan percaya atau tidak.....aku tidak mengenalmu sama sekali....tidak sebelum kejadian itu.....tidak setahun atau dua tahun yang lalu.....dan tidak di masa lalu....." Jawab Joon Sung seperti berbisik halus, menatap Kae Bi meruncing. Membuat gadis itu sedikit ketakutan. Kae Bi benar-benar harus memutar otaknya sekarang, jawaban yang di berikan Joon Sung tidak sesuai dengan pengharapannya.


"Joon Sung-ssi"


Kae Bi dan Joon Sung serempak menengadahkan pandangan ke asal suara itu. Dan orang yang mempunyai suara tadi menatap Kae Bi dan Joon Sung silih berganti. Ia sedikit tercengang, Apalagi Kae Bi. Pandanganya tak pernah luput dari gadis itu. Menatapnya dari ujung kaki hingga ke kepala. Membuat Kae Bi melemparkan pandangan bertanya Ke arah Joon Sung. Pria itu membalas tatapan Kae Bi tak mengerti, lalu setelahnya dia bergumam


"Yoon Gae In"


***

Malam menjelma. Lampu-lampu memenuhi sudut kota Melbourne ibu kota bagian negara Victoria di Australia. Kota yang berkembang pesat seiring kemajuannya itu, tampak indah. Rialto Towers yang merupakan gedung tinggi kedua di Melbourne tak kalah mempesona. Terhiasi dan berdirinya Hotel berkelas tinggi yaitu InterContinental dibawah gedung itu. Kamar dari salah satu hotel megah ini tampak gelap. Hanya cahaya remang dari luar jendela dan asap rokok yang menyengat. Seorang pria duduk di sofa besar yang terasa nyaman, bagai raja yang tengah menikmati waktu senggangnya. Ia menghisap rokok-nya lagi lalu menghempaskan asap itu perlahan-lahan. Tiba-tiba saja ia menjangkau I Phone yang terletak di sudut mejanya, memperhatikan Handphone yang  sudah tidak di jamahnya lagi saat berada di Korea.


"Wow.....wow... Bravo!" Serunya sambil menyeringai licik ketika layar Handphone itu terpampang jelas di hadapannya. Hyun Woo membaca huruf-huruf itu dengan seksama. '85 Missed Call From Goo Kae Bi'


"Dia mulai ketakutan dan itu berarti Rencana ini berhasil" Gumam Hyun Woo dingin. Ia menyentuh TouchScreen itu, memilih menu dari I Phonenya. Senyumnya bertambah menyeramkan ketika melihat gambar perempuan yang begitu cantik di layar lebar yang ia genggam. Dendam itu menjalar kuat ketika melihat senyuman cantik yang terukir di wajah Kae Bi. Ia berdalih kecil mencibir


"Senyum mu memang manis sekali, dan kau pernah menyerahkan itu semua hanya untuk ku....... Heh, gadis Bodoh!" Rutuknya. Pancaran Api Amarah terlihat di sana. Membuatnya memejamkan mata. Ia memang membenci ketika melihat senyuman itu, tapi entah...setengah dari lubuk hatinya yang terdalam berkata lain. Hatinya berdesir ketika memandangnya lebih dekat. Hyun Woo segera menepis perasaan itu jauh-jauh. Tidak! Perasaan itu tidak pernah ada untuk Kae Bi, ia mengelak Jauh.


"Aku bisa saja membunuh mu waktu itu, Tapi......aku akan membuat mu menderita terlebih dahulu Goo Kae Bi"


***



END CHAPTER
« Last Edit: April 07, 2012, 01:14:35 pm by Winda Minsun »

[lovestruck] and in another life, we believe... love never die [lovestruck]

Offline My My

  • Junior
  • **
  • Posts: 165
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Two, update 29 dec'11
« Reply #36 on: December 29, 2011, 11:07:05 am »
AKU BINGUNG

INI KENTANG SISTA,,MALEM TAHUN BARU UPDATE LAGI KAN [what] [what] [lovestruck] Emoticons0427 [AddEmoticons04246] [hmff]

Offline Winda Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 679
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Two, update 29 dec'11
« Reply #37 on: December 29, 2011, 06:45:39 pm »
AKU BINGUNG

INI KENTANG SISTA,,MALEM TAHUN BARU UPDATE LAGI KAN [what] [what] [lovestruck] Emoticons0427 [AddEmoticons04246] [hmff]


Bingung kenapa? Hooooooooo tidak, justru updatean gue majuin biar malem tahun baru ga update huehehe. Makasih udah baca

[lovestruck] and in another life, we believe... love never die [lovestruck]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Two, update 29 dec'11
« Reply #38 on: December 29, 2011, 07:38:18 pm »
thx y dh update..dvh bpakx kae bi ntar tau rasa kalo joon sung ingatanx kembli.yg gw pnasarn si hyun woo apa ada hub.darah ma joon sung?kok dia pengen blas dendam jg..kasian kae bi jd objek bls dendam 2lelaki.hadeh..yoi kvdu update scpatx.
[/size][/color][/b]

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Two, update 29 dec'11
« Reply #39 on: December 30, 2011, 08:27:08 am »
kyaaaa langsung ngebut baca chap 2..ane kok demen ama hyun woo ya win.suka yg antagonis kekekeke  [hmpfh]

hyun woo balik itu mau balas dendam ke mr goo apa kae bi?? [what]
update lagi win ditunggu [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Two, update 29 dec'11
« Reply #40 on: December 30, 2011, 10:15:56 am »
makasih ya updatenya  [flowers]
malam" baca ff yg nyesak  [cry] appanya KB benar" murka yangg ketolongan ya  [angry] aku aja ngebayangin nya rasa ngeri  [bored] tatapan serta kata"nya menusuk kehati  [dry] engga heran KB mewek  [cry] dengarnya , di pernikahan JS ini beberapa yeoja yang terluka hanya bisa gigit jari  [bav] ah ran  [head break] kelewatan banget seh marahnya sampai kata"in KB wanita murahan  [nono] untungnya JS membela  [drool] JS emang pelindung yang sangat nyaman buat KB  [hug] nextnya bakalan jadi menikah neh  [smiley-dance013]

iiuuu

  • Guest
Re: The Curse - Chapter Two, update 29 dec'11
« Reply #41 on: December 30, 2011, 06:04:17 pm »
makasii uda update...  [huglove] [huglove] [huglove]kemana ya si hyun woo?????? [chin] [chin] [chin] [chin] [chin] joon sung emang baek hati banget yaa.... semoga lama lama appa kaebi tau yang sebenarnya dan gak nyalahin joon sung lagi.....n pastinya semoga joonsung bakal dapet cinta nya kaebi.. [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] oke neng next chapt 3 cepet yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa................. [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Two, update 29 dec'11
« Reply #42 on: December 30, 2011, 11:31:23 pm »
Winda tengkyu udinan di up date [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Joon Sung banyak yg mencintainya ya, Ara dan Gae In dan keduanya sudah di TOLAK MENTAH2 ama Joon sung coz yg bersangkutan udah kadung cinta mati ama Kae Bi [hmpfh]

iya gw juga penasaran tuch dengan alasan Joon Sung membantu Kae Bi , apa murni untuk menolong saja yg dilandasi cinta atau Joon Sung memang sudah ditakdirkan untuk membantu Kae Bi ??? atau ada hal lainnya???? [chin]


Gae In jangan2 denger lagi kalo Joon Sung bukanlah ayah dari bayi yang dikandung ama Kae Bi [ohmy] [ohmy]


Hyun Woo awalnya pasti bersenang 2 atas penderitaan Kae Bi , tp dijamin kedepannya pasti dirinya lah yg bakalan sengsara saat tahu dia dan Kae Bi mempunyai anak dan Kae Bi beserta anaknya sudah menjadi milik orang lain aka KIM JOON SUNG [goodgrief]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Winda Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 679
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Two, update 29 dec'11
« Reply #43 on: January 01, 2012, 11:56:53 am »
thx y dh update..dvh bpakx kae bi ntar tau rasa kalo joon sung ingatanx kembli.yg gw pnasarn si hyun woo apa ada hub.darah ma joon sung?kok dia pengen blas dendam jg..kasian kae bi jd objek bls dendam 2lelaki.hadeh..yoi kvdu update scpatx.

iya, thx juga udh di baca :D. Hubungan darah? Hemh, elu liat aja entar, mungkin org kepercayaan ortunya Joon Sung kali ckkk. Sip

[lovestruck] and in another life, we believe... love never die [lovestruck]

Offline Winda Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 679
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Two, update 29 dec'11
« Reply #44 on: January 01, 2012, 12:00:06 pm »
kyaaaa langsung ngebut baca chap 2..ane kok demen ama hyun woo ya win.suka yg antagonis kekekeke  [hmpfh]

hyun woo balik itu mau balas dendam ke mr goo apa kae bi?? [what]
update lagi win ditunggu [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]


nah kok gitu? Mungkin elu punya pandangan tersendiri kali ya sama Hyun Woo, hahaha. Bales dendam sama keduanya kali, kan ga dapet bapak anak nya juga jadi. Makasih ya udh baca

[lovestruck] and in another life, we believe... love never die [lovestruck]