Spoiler
“Aku bersumpah—” Kae Bi tercekat mati saat menatap Joon Sung yang meneloh serta menusuk tajam lewat iris gelap yang sedikit tertutup oleh beberapa helai rambut yang menjuntai di kening pemuda itu.
“Aku tidak pernah menyesalinya! Tidak saat ku tahu kenyataan pahit yang akan ku jalani—tidak ketika aku di emban tanggung jawab untuk melindungimu, kulakukan karena aku benar-benar tulus. Aku tidak akan menuntut lebih dan berupaya membuatmu dalam kejanggalan. Tapi hanya satu ..., Aku mohon percaya padaku! Yakini bahwa aku tak akan pernah berpaling, tak pernah ingin kita berada dalam keterpurukan lagi. Aku mohon—” Kalimat terakhir yang di ucapkannya terasa begitu pilu dan berat. Joon Sung segera berpaling lagi dan menunduk sejenak di hadapan Kae Bi. Membuat wanita itu mematung dengan sejuta perasaan yang bergejolak tak menentu.
“Tak dapatkah kau mampu untuk sedikit mempercayaiku ..., walaupun sedikit—Hanya sedikit asa mu yang kau tuai kepadaku”
“Joon Sung—”
“Aku juga ingin membuatmu bahagia”
“Katakan, Seberapa besar kau menginginkanku ?” Kae Bi tidak langsung menjawab. Ia cukup tersendat dan tergelonjak malu. Wajahnya bersemu kembali dan terus menghindar dari pandangan Joon Sung.
“Aku —”
“Apa susahnya menjawab, Nona manis?” Ia mulai mendekat, membuat Kae Bi semakin kikuk dengan pemikiran yang semakin melemah. Ia nyaris ingin mengakhiri kegiatan tersebut karena dirasanya tak akan kuat berada dalam waktu lama bersama Joon Sung —bertahan lebih lama dan terjerat dalam pesona pemuda ini.
“Aku punya sesuatu” Bisik Kae Bi dengan senyuman. Joon Sung nampak sedikit bergeming dari gerakannya dan ikut mengamati Kae Bi. Wanita itu terdiam, seakan mengumpulkan semua suhu yang menjalar di tubuh mereka.
“Tutup matamu” Perintah Kae Bi.
Joon Sung mulai memejamkan kedua mata. Kae Bi sedikit menghela nafas dan menyemat tangannya begitu erat pada jemari Joon Sung.
“Kae Bi-aa” Panggilnya lembut. Kae Bi segera berpaling dan melihat sang ibu yang tengah tersenyum kearahnya. “Tidak perlu cemas jika kau memikirkan tentang Ayah— karena ia yang menyuruh ibu kesini untuk mengundang kalian”
“Benarkah?” Tanya Kae Bi ragu-ragu. Ia memberi pandangan serius, menangkap pernyataan yang rasanya sulit untuk di terima akal. Kae Hwa mengangguk dan disusul dengan membuka suara
“Ne sayang. Ayahmu telah berbicara kepada ibu— Ia ingin Kau dan Joon Sung hadir sebagai bagian dari keluarga Goo” Joon Sung yang sedari tadi hanya mengamati pembicaraan kedua wanita tersebut, kini mulai menoleh kepada Kae Bi. Wanita itu terlihat gusar ditempatnya, Joon Sung mulai memberi pikiran-pikiran kecil dalam otaknya. Ia membaca perasaan Kae Bi yang seperti menyimpan sejuta keraguan dan ketakutan. Joon Sung tahu apa yang ada di dalam pikiran gadis itu.
“Baik. Oh ya— untuk saat dimana kau menolongku beberapa hari yang lalu..., aku ucapkan terima kasih”
“Ne, aku senang bisa membantu” Balas Hyun Woo yang tak mengalihkan pandangannya pada Kae Bi. Membuat Joon Sung meruncing tajam. Masih segar dalam pikiran pria itu saat terakhir kali mereka bertemu.
“Jelas karena kau sering berada di sekitar kami—” Kali ini Joon Sung membuka suara datar. Ia menoleh ke arah Hyun Woo dan memberikan tatapan tajam.
“Jelas kau mampu menolongnya saat itu karena kau salalu mengikuti kami dari kejauhan”
Tinggal Hyun Woo dan Joon Sung yang tersisa, mereka saling bertatapan menilik dengan iris gelap masing-masing dan tak henti bertumpu sampai sosok Joon Sung berjalan begitu saja mendahului Hyun Woo.
“Aku meliburkan mereka” Jelasnya yang kali ini menggunakan nada Dingin. Sementara Kae Bi masih tidak menangkap kata-kata Joon Sung dengan sempurna.
“Untuk apa? Ini bukan hari libur dan lagi kau juga harus berangkat ke kantor”
“Tidak—” Jawab Joon Sung. “Hari ini hanya ditugaskan untuk rekan tim marketing saja. Mereka menyusun laporan observasi yang telah kubuat”
Kae Bi manggut-manggut mengerti mendengar penjelasan Joon Sung. Ia membuang pandangan sejenak dan mulai berpikir menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Melihat Kae Bi yang nampak terus berpaling seperti orang kebingungan, membuat Joon Sung tersenyum kecil.
“Lagi pula—” Ia mengayunkan sepasang kaki jenjangnya untuk mendekat ke arah Kae Bi, hingga tepat kedua tangannya mendekap tubuh mungil itu begitu erat.
“Kita butuh Privasi” Bisikan itu membuat Kae Bi membujur kaku seperti organ-organ dalam tubuhnya tidak berkontraksi dan berelaksasi dengan baik. Ia mengerjapkan mata berulang kali tak percaya jika Joon Sung mulai mencumbu bagian ceruk lehernya begitu dalam.
Pendek ya? Hahaha, salahkan kepada reader2 yg kerjaanye nuntut nih ff mulu-_- buat kak imah,via, nd aii tuh ya utang gue udah lunas. Ini masih setengah chapter, dan kemungkinan adegan-adegan yg kalian baca jaraknya pasti berdekatan, so! Secara ga langsung gue udpate kilat dong lol. Update mungkin masih lama, ditunggu aja ya