Author Topic: * Bag Scandal * ~Chapter 14 update 290312~  (Read 32901 times)

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
kakak kok kentang  [what] [what] [what]
mana yang swit switnya nehhh #maunya  [hmpfh] [hmpfh]

jangan bikin hye koma donk jangan ya jangannn  [ranting]
gumawo setelah 2 tahun dirimu kombek kakak kyaaaaaaa  [clap] [clap] ayo lanjuttttt [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
kakak kok kentang  [what] [what] [what]
mana yang swit switnya nehhh #maunya  [hmpfh] [hmpfh]

jangan bikin hye koma donk jangan ya jangannn  [ranting]
gumawo setelah 2 tahun dirimu kombek kakak kyaaaaaaa  [clap] [clap] ayo lanjuttttt [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

@aii, gomawo sambutannya. [flowers] [flowers]
 Kenapa kentang & kenapa sadness sudah aku jelasin di atas, next chap tunggu aja moga gak lama coz banyak gangguan nih nulisnya.  [heh] 

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Spoi next part :

Ketua Goo kembali duduk dengan senyum tak lepas dari wajahnya yang memancarkan kebahagiaan, sementara Hye Sun berdiri mematung dengan alis bertaut, ia tidak habis pikir kenapa kakeknya ada di sana dan sebenarnya mereka ada di mana karena seingatnya beliau sudah lama meninggal dunia.

“Sun-aa…kenapa kamu berdiri saja di sana dan tidak menyapa halmoni…ayo ke mari..” Kata Ketua Goo dengan senyum yang welas asih membuyarkan lamunannya.

Hye Sun menoleh ke wanita yang di sebut Ketua Goo dengan Halmoni, wanita itu tersenyum ramah dan membuka ke dua tangannya mengundang Hye Sun untuk memeluknya.

“Sun-aa…ayo ke mari sayang.”

Tubuh Hye Sun refleks bergerak dan memeluk neneknya, tidak terasa beberapa bulir air bening menetes dipipinya dan perasaan hangat menyeruak dalam dirinya.

Walau banyak pertanyaan yang berkelebat dikepalanya tapi tak satupun yang ke luar dari mulutnya. Ia menikmati kebersamaannya dengan ke dua orang tua itu, mereka bercanda dan bersenda gurau. Perhatian ke dua orang tua itu berlimpah dengan kasih sayang hingga Hye Sun melupakan peristiwa yang terjadi padanya kenapa ia sampai ada di sana dan di mana mereka sekarang.

Setelah beberapa waktu Ketua Goo tertidur tidak jauh dari Hye Sun dan neneknya, wajahnya tertutup dengan buku yang dibacanya.

Hye Sun berbaring di pangkuan neneknya dengan mata terpejam, sementara neneknya membelai kepalanya dengan penuh kasih sayang yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya.

 “Apa amoni dan aboji sudah lama menunggu kami..?” Tanya seorang lelaki muda.

“Tentu saja yobo, coba lihat aboji sampai tertidur.” Sahut seorang wanita muda.

“Ssstttt…kalian akan membangunkan mereka.” Kata Halmoni lembut.

Hye Sun mendengar suara lelaki yang bertanya yang di jawab oleh seorang wanita dan suara neneknya. Hye Sun penasaran siapa yang berbicara dan kelihatannya ke dua orang muda itu akrab dengan nenek dan kakeknya tapi kenapa ke dua orang itu memanggil kakek dan neneknya aboji dan amoni bukannya Ketua Goo hanya punya satu anak.

OOooooooo [ohmy] [ohmy] [ohmy]


Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Re: * Bag Scandal * ~Chapter 12 part 2, spoiler
« Reply #498 on: January 30, 2012, 02:33:32 am »
Updateeeeeeeee

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: * Bag Scandal * ~Chapter 12 part 2, spoiler
« Reply #499 on: January 30, 2012, 09:53:11 am »
eonni, hye sun ga metong kan? itu cuma mimpi aja kan?, minong buru bangunin hye sun dr koma nya, [heh]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Re: * Bag Scandal * ~Chapter 12 part 2, spoiler
« Reply #500 on: January 30, 2012, 08:40:43 pm »
Updateeeeeeeee

@adinda...klo di up date sekarang entar kentang lagi deh coz baru 5 halaman

eonni, hye sun ga metong kan? itu cuma mimpi aja kan?, minong buru bangunin hye sun dr koma nya, [heh]

eonni, hye sun ga metong kan? itu cuma mimpi aja kan?, minong buru bangunin hye sun dr koma nya, [heh]

kamu tebak aja hs metong apa kagak  [hmff] [hmff]

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
Spoi next part :

Ketua Goo kembali duduk dengan senyum tak lepas dari wajahnya yang memancarkan kebahagiaan, sementara Hye Sun berdiri mematung dengan alis bertaut, ia tidak habis pikir kenapa kakeknya ada di sana dan sebenarnya mereka ada di mana karena seingatnya beliau sudah lama meninggal dunia.

“Sun-aa…kenapa kamu berdiri saja di sana dan tidak menyapa halmoni…ayo ke mari..” Kata Ketua Goo dengan senyum yang welas asih membuyarkan lamunannya.

Hye Sun menoleh ke wanita yang di sebut Ketua Goo dengan Halmoni, wanita itu tersenyum ramah dan membuka ke dua tangannya mengundang Hye Sun untuk memeluknya.

“Sun-aa…ayo ke mari sayang.”

Tubuh Hye Sun refleks bergerak dan memeluk neneknya, tidak terasa beberapa bulir air bening menetes dipipinya dan perasaan hangat menyeruak dalam dirinya.

Walau banyak pertanyaan yang berkelebat dikepalanya tapi tak satupun yang ke luar dari mulutnya. Ia menikmati kebersamaannya dengan ke dua orang tua itu, mereka bercanda dan bersenda gurau. Perhatian ke dua orang tua itu berlimpah dengan kasih sayang hingga Hye Sun melupakan peristiwa yang terjadi padanya kenapa ia sampai ada di sana dan di mana mereka sekarang.

Setelah beberapa waktu Ketua Goo tertidur tidak jauh dari Hye Sun dan neneknya, wajahnya tertutup dengan buku yang dibacanya.

Hye Sun berbaring di pangkuan neneknya dengan mata terpejam, sementara neneknya membelai kepalanya dengan penuh kasih sayang yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya.

 “Apa amoni dan aboji sudah lama menunggu kami..?” Tanya seorang lelaki muda.

“Tentu saja yobo, coba lihat aboji sampai tertidur.” Sahut seorang wanita muda.

“Ssstttt…kalian akan membangunkan mereka.” Kata Halmoni lembut.

Hye Sun mendengar suara lelaki yang bertanya yang di jawab oleh seorang wanita dan suara neneknya. Hye Sun penasaran siapa yang berbicara dan kelihatannya ke dua orang muda itu akrab dengan nenek dan kakeknya tapi kenapa ke dua orang itu memanggil kakek dan neneknya aboji dan amoni bukannya Ketua Goo hanya punya satu anak.

OOooooooo [ohmy] [ohmy] [ohmy]



eonni kapan update  [drool] [dry]

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
Re: * Bag Scandal * ~Chapter 12 part 2, spoiler
« Reply #502 on: January 31, 2012, 08:58:22 am »
Updateeeeeeeee

@adinda...klo di up date sekarang entar kentang lagi deh coz baru 5 halaman

eonni, hye sun ga metong kan? itu cuma mimpi aja kan?, minong buru bangunin hye sun dr koma nya, [heh]

eonni, hye sun ga metong kan? itu cuma mimpi aja kan?, minong buru bangunin hye sun dr koma nya, [heh]

kamu tebak aja hs metong apa kagak  [hmff] [hmff]

Andweeeeeeeeeeeee  [nono] [nono] Klo hye sun metong ntar minong ma sopo? Masa' yo muncul kembaran hye sun  [what] [nono] [nono]

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Re: * Bag Scandal * ~Chapter 12 part 2, spoiler
« Reply #503 on: January 31, 2012, 07:07:10 pm »
Updateeeeeeeee

@adinda...klo di up date sekarang entar kentang lagi deh coz baru 5 halaman

eonni, hye sun ga metong kan? itu cuma mimpi aja kan?, minong buru bangunin hye sun dr koma nya, [heh]

eonni, hye sun ga metong kan? itu cuma mimpi aja kan?, minong buru bangunin hye sun dr koma nya, [heh]

kamu tebak aja hs metong apa kagak  [hmff] [hmff]

Andweeeeeeeeeeeee  [nono] [nono] Klo hye sun metong ntar minong ma sopo? Masa' yo muncul kembaran hye sun  [what] [nono] [nono]

@Vayza : HS metong apa kagak baca aja di next chap ya [hmff] whistling whistling
tak kasih bocoran dikitlah :
“Seperti yang paman dan bibi lihat, dari tadi malam sampai sekarang ia seperti ini..belum ada perubahan.” Sahut Min Ho berusaha mengalihkan pandangannya ke tempat lain supaya bulir-bulir bening dimatanya tidak di lihat oleh orang lain.

@Imah : belum tau kapan moga aja sebelum akhir minggu ini coz masih pendek nih nanti katanya entar kentang & bikin penasaran lagi [goodgrief] [dry] aja sabar aja ya [hmpfh]

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Re: * Bag Scandal * ~Chapter 12 part 2, spoiler
« Reply #504 on: February 01, 2012, 07:30:24 am »
uniie... Sesuatu banget akhirnya ini ff berlanjut lagi [lovestruck]  tapi itu spoiler beneran ga kebaca ama aku wkk ol di hp sih lol

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
Spoi next part :

Ketua Goo kembali duduk dengan senyum tak lepas dari wajahnya yang memancarkan kebahagiaan, sementara Hye Sun berdiri mematung dengan alis bertaut, ia tidak habis pikir kenapa kakeknya ada di sana dan sebenarnya mereka ada di mana karena seingatnya beliau sudah lama meninggal dunia.

“Sun-aa…kenapa kamu berdiri saja di sana dan tidak menyapa halmoni…ayo ke mari..” Kata Ketua Goo dengan senyum yang welas asih membuyarkan lamunannya.

Hye Sun menoleh ke wanita yang di sebut Ketua Goo dengan Halmoni, wanita itu tersenyum ramah dan membuka ke dua tangannya mengundang Hye Sun untuk memeluknya.

“Sun-aa…ayo ke mari sayang.”

Tubuh Hye Sun refleks bergerak dan memeluk neneknya, tidak terasa beberapa bulir air bening menetes dipipinya dan perasaan hangat menyeruak dalam dirinya.

Walau banyak pertanyaan yang berkelebat dikepalanya tapi tak satupun yang ke luar dari mulutnya. Ia menikmati kebersamaannya dengan ke dua orang tua itu, mereka bercanda dan bersenda gurau. Perhatian ke dua orang tua itu berlimpah dengan kasih sayang hingga Hye Sun melupakan peristiwa yang terjadi padanya kenapa ia sampai ada di sana dan di mana mereka sekarang.

Setelah beberapa waktu Ketua Goo tertidur tidak jauh dari Hye Sun dan neneknya, wajahnya tertutup dengan buku yang dibacanya.

Hye Sun berbaring di pangkuan neneknya dengan mata terpejam, sementara neneknya membelai kepalanya dengan penuh kasih sayang yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya.

 “Apa amoni dan aboji sudah lama menunggu kami..?” Tanya seorang lelaki muda.

“Tentu saja yobo, coba lihat aboji sampai tertidur.” Sahut seorang wanita muda.

“Ssstttt…kalian akan membangunkan mereka.” Kata Halmoni lembut.

Hye Sun mendengar suara lelaki yang bertanya yang di jawab oleh seorang wanita dan suara neneknya. Hye Sun penasaran siapa yang berbicara dan kelihatannya ke dua orang muda itu akrab dengan nenek dan kakeknya tapi kenapa ke dua orang itu memanggil kakek dan neneknya aboji dan amoni bukannya Ketua Goo hanya punya satu anak.

OOooooooo [ohmy] [ohmy] [ohmy]




kakak ga mudeng ama spoilernya  [what] ayo update aja  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN

Offline Namutz

  • Junior
  • **
  • Posts: 197
  • nona goo is inspiring women
    • View Profile
Re: * Bag Scandal * ~Chapter 12 part 2, spoiler
« Reply #506 on: February 01, 2012, 07:48:02 am »
kakak ayooo cepetan updete semangattttttttt

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Re: * Bag Scandal * ~Chapter 12 part 2, spoiler
« Reply #507 on: February 01, 2012, 07:20:10 pm »
uniie... Sesuatu banget akhirnya ini ff berlanjut lagi [lovestruck]  tapi itu spoiler beneran ga kebaca ama aku wkk ol di hp sih lol

emang  [hmff] [hmff] karena aku lagi senang dapat berita yang menggembirakan  [jumpy] [jumpy] [jumpy] sehingga mood ku lagi bagus buat lanjutin walo chap 12nya masih kentang tapi paling gak sudah usaha  [hmpfh] [hmpfh]
nasib lu @vir gak bisa baca spoinya ya sabar aja tunggu aku up date  [rofl] [rofl] [rofl]

@aii & namutz : sabar ya klo gak sore ni maka besok aku update..

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Re: * Bag Scandal * ~Chapter 12 part 2, update 02022012
« Reply #508 on: February 01, 2012, 09:43:26 pm »
Chapter 12

Part 2


Hye Sun terbangun dan mendapati dirinya berada di tempat yang gelap, bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya. Seingatnya ia berada di tempat parkir Namsan Park berusaha menolong Min Ho dan ketika Min Ho tidak beranjak dari tempatnya berdiri sementara api mulai berkobar yang diikuti bunyi ledakan, tanpa pikir panjang ia berbalik dan menarik lengan Min Ho lalu berlari menjauh dan bersembunyi di balik pohon besar yang ada di sana namun ia terpental akibat ledakan ke dua tapi ia berhasil menjauhkan Min Ho dari sumber bahaya.

Samara-samar ia juga ingat Min Ho berteriak panik memanggilnya & ketika kelopak matanya terbuka dilihatnya wajah Min Ho yang tampan sangat khawatir dan mulutnya terus memanggil-manggil namanya, berusaha mengajaknya bicara supaya tidak hilang kesadaran tapi walau ia sudah berusaha untuk tetap membuka mata namun kelopak matanya terasa berat & kantuk menjalarinya untuk secepatnya mengistirahatkan mata dan pikirannya. Kata-kata Min Ho tidak terdengar jelas lagi ditelinganya hingga berangsur-angsur hilang dan ketika terbangun ia sudah berada di tempat gelap itu.

Hye Sun membuka matanya lebar-lebar berusaha mencari jalan dan ia melihat cahaya kecil dikejauhan. Dengan langkah pelan dan hati-hati, ia menyusuri jalan gelap menuju cahaya yang terasa begitu jauh karena ia merasa sudah cukup lama berjalan tapi cahaya itu tak kunjung digapainya namun tak patah semangat ia terus melangkahkan kakinya dan akhirnya cahaya itu makin lama makin jelas.

Hye Sun sampai di ujung cahaya, ia mengerjap matanya berkali-kali karena silau dan dengan kelopak mata setengah menutup ditelusurinya tempat itu. Hye Sun melihat ke belakang dan ke depan terasa kontras sekali seperti berada di film-film jaman dulu yang masih hitam putih.

Dengan menarik napas panjang Hye Sun melangkahkan kakinya melewati tempat yang di kiri kanannya putih semua. Beberapa lama melangkah ia mendengar suara orang bicara dan bercanda dan tanpa disadarinya ia sudah berada di sebuah taman yang indah di mana banyak orang sedang piknik bersama keluarganya.
Hye Sun berjalan sembari melihat ke kiri dan kanan, ia ikut merasakan kebahagian keluarga-keluarga yang berpiknik di sana di mana ke dua orang tua duduk beralas kain atau selimut sementara anak-anak bermain layangan atau main kejar-kejaran bahkan ada yang bermain petak umpet dengan orang tuanya, ada juga keluarga yang duduk-duduk bersenda gurau sembari memakan bekal, di samping itu ada pasangan yang lelaki atau perempuan membaca buku dan pasangannya berbaring dipangkuan. Terbersit rasa iri dihatinya karena sudah lama ia dan keluarganya tidak pernah lagi piknik karena kesibukan dan berbagai macam alasan. Seingatnya hanya waktu ketika ia kecil saja mereka sering piknik.

Mata Hye Sun tertumpu pada sepasang orang tua di mana si lelaki sudah kelihatan seperti kakek-kakek sementara si wanita masih terlihat muda. Kelihatan sekali mereka pasangan yang sangat mesra dan romantis walau usia mereka terpaut jauh. Cukup lama Hye Sun mengamati pasangan itu sampai ia tersentak dengan kesadaran bahwa yang lelaki sangat familiar baginya dan yang wanita sepertinya pernah dilihatnya.

Pandangan Hye Sun tidak lepas dari pasangan itu dan melihat gerak-gerik, sikap dan perhatian si lelaki kepasangannya mengingatkannya pada Ketua Goo aka Kakeknya. Hye Sun mengingat kembali perhatian kakek padanya dari sikap, gerak dan tutur katanya. Hye Sun tersadar dari lamunannya dan dengan langkah besar mendekati pasangan itu.

“Haraboji…” Ucap Hye Sun pelan di depan pasangan tersebut.

Ke dua orang itu serentak menoleh dan tersenyum kepadanya membuat Hye Sun bingung.

“Sun-aa … Kenapa lama sekali, kami sudah menunggumu..” Jawab Ketua Goo berdiri dan memeluk Hye Sun.

Hye Sun tersenyum dan balas memeluknya, hanya Ketua Goo yang memanggilnya dengan nama “sun” karena menurut orang tua itu Hye Sun adalah matahari hidupnya.

Ketua Goo kembali duduk dengan senyum tak lepas dari wajahnya yang memancarkan kebahagiaan, sementara Hye Sun berdiri mematung dengan alis bertaut, ia tidak habis pikir kenapa kakeknya ada di sana dan sebenarnya mereka ada di mana karena seingatnya beliau sudah lama meninggal dunia.

“Sun-aa…kenapa kamu berdiri saja di sana dan tidak menyapa halmoni…ayo ke mari..” Kata Ketua Goo dengan senyum yang welas asih membuyarkan lamunannya.

Hye Sun menoleh ke wanita yang di sebut Ketua Goo dengan Halmoni, wanita itu tersenyum ramah dan membuka ke dua tangannya mengundang Hye Sun untuk memeluknya.

“Sun-aa…ayo ke mari sayang.”

Tubuh Hye Sun refleks bergerak dan memeluk neneknya, tidak terasa beberapa bulir air bening menetes dipipinya dan perasaan hangat menyeruak dalam dirinya.

Walau banyak pertanyaan yang berkelebat dikepalanya tapi tak satupun yang ke luar dari mulutnya. Ia menikmati kebersamaannya dengan ke dua orang tua itu, mereka bercanda dan bersenda gurau. Perhatian ke dua orang tua itu berlimpah dengan kasih sayang hingga Hye Sun melupakan peristiwa yang terjadi padanya kenapa ia sampai ada di sana dan di mana mereka sekarang.

Setelah beberapa waktu Ketua Goo tertidur tidak jauh dari Hye Sun dan neneknya, wajahnya tertutup dengan buku yang dibacanya.

Hye Sun berbaring di pangkuan neneknya dengan mata terpejam, sementara neneknya membelai kepalanya dengan penuh kasih sayang yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya.

 “Apa amoni dan aboji sudah lama menunggu kami..?” Tanya seorang lelaki muda.

“Tentu saja yobo, coba lihat aboji sampai tertidur.” Sahut seorang wanita muda.

“Ssstttt…kalian akan membangunkan mereka.” Kata Halmoni lembut.

Hye Sun mendengar suara lelaki yang bertanya yang di jawab oleh seorang wanita dan suara neneknya. Hye Sun penasaran siapa yang berbicara dan kelihatannya ke dua orang muda itu akrab dengan nenek dan kakeknya tapi kenapa ke dua orang itu memanggil kakek dan neneknya aboji dan amoni bukannya Ketua Goo hanya punya satu anak.

Karena penasaran Hye Sun membuka matanya perlahan, dari sudut matanya ia melihat sepasang pasangan yang berumur pertengahan dua puluhan duduk berdampingan dengan mesra di depan halmoni salah satu tangan mereka jarinya saling mengait, yang wanita tubuhnya mungil, kulitnya putih dan wajah cantik yang dibingkai oleh rambut hitam lurus yang panjang tergerai dipermanis dengan mata berwarna coklat. Melihat wanita muda itu tampak tidak asing dimatanya. Sementara pria muda disampingnya tubuhnya tinggi tegap dengan wajah tampan dan mata berwarna hitam, dilihat sekilas mirip dengan Ketua Goo tapi tanpa kulit keriput karena usia. Mungkin ketika muda Ketua Goo penampilannya seperti lelaki ini pikirnya.

Nenek mengelus lembut pipi Hye Sun dengan senyum menghias wajahnya memperhatikan pasangan muda didepannya dan diri cucunya. Menyadari cucunya sudah bangun senyumnya makin merekah.

“Nyenyak tidurnya sayang…?” Tanya halmoni lembut.

Hye Sun hanya tersenyum, ia melihat kepasangan di depan mereka dan kembali melihat keneneknya dengan pandangan bertanya.

“Kamu lupa siapa mereka..?” Tanya neneknya pelan seperti berbisik seakan mengerti yang dipikirkan Hye Sun.

Hye Sun hanya menganggukkan kepalanya pelan, sebenarnya ia mau mengatakan kalau ia tidak mengenal mereka tapi kata-kata itu tidak ke luar.

“Sun-aa….mereka orang tuamu sayang.” Kata halmoni lebih lanjut dengan senyum yang tidak pernah hilang dari wajahnya.

Hye Sun terpana dan tanpa sadar duduk menghadap keneneknya, pandangannya diarahkan ke pasangan muda yang asyik bercengkerama dan kemudian keneneknya minta kepastian yang di jawab dengan anggukan halus.
Ia merasa itu tidak mungkin karena postur dan wajah pasangan ini tidak sama dengan ke dua orang tuanya yang selama ini membesarkannya. Diperhatikannya pasangan muda itu dengan seksama, memang ada sesuatu dari mereka yang membuatnya merasa familiar, entah apa itu ia tidak bisa memastikannya.

Wanita muda itu menoleh ke Hye Sun dan tersenyum tapi Hye Sun hanya menatap tak berkedip ke mereka. Ia memberi isyarat kesuaminya untuk melihat ke depan dengan matanya. Suaminya menghentikan aktifitasnya menggoda sang istri dan mengikuti pandangan istrinya.

“Aigoo…Sun-aa !” Hye Sun terkejut namanya di panggil, ternyata pasangan muda itu menatapnya penuh selidik.

“Sun-aa…kenapa menatap kami seperti itu ?” Wanita muda itu berkata dengan mulut maju beberapa centi dan pipi yang memerah. “Yobo…ini salahmu tidak bisa menahan diri didepannya….mommy kan malu..” Wanita muda itu menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menyembunyikannya di dada sang suami.

Hye Sun tidak bisa berkata-kata hanya bisa melongo melihat tingkah “ibunya”

Suaminya hanya tersenyum jahil dan mengerling ke Hye Sun, tangannya membelai kepala sang istri dengan mesra dan mencium pucuk kepalanya.  “Kenapa malu dengan anak sendiri…Sun-aa pasti juga pernah diperlakukan romantis oleh pacarnya, iyakan Sun-aa?”

“Mwo…” Istrinya menatap wajah suaminya lalu ke Hye Sun “Sun-aa..benarkah itu ?” Tanyanya menatap Hye Sun dengan sorot mata tidak percaya sementara pipi Hye Sun memerah tomat, lalu menatap suaminya “Yobo…Sun-aa kan masih kecil kenapa kamu berpikiran begitu..?” Istrinya berpura-pura marah.

“Ibunya” berdiri dan mendekati Hye Sun, mengelus wajahnya “Lihat..wajahnya memerah, Sun-aa pasti malu.” Katanya kepada sang suami yang di sambut cengiran menggoda.

Hye Sun tidak bisa berkata apa-apa di depan ke “dua orang tua”nya, ia hanya bisa tersenyum dan bahagia melihat kebersamaan mereka dan hal ini membuatnya iri dengan kemesraan ke “dua orang tua”nya.

Ketua Goo sudah terbangun dan mereka mulai memakan bekal sembari bercanda. Terlihat dengan jelas keluarga itu sangat bahagia dan waktu sepertinya berhenti karena suasana di sana tetap tidak berubah, matahari bersinar dengan cerah tapi tidak terasa panas dan udara terasa sejuk.

Hye Sun seperti mendengar seseorang memanggil namanya dengan samar, ia berusaha membuka telinganya lebar-lebar. Suara itu kadang terdengar kadang tidak. Hye Sun berdiri dan mengedarkan pandangannya tetapi sejauh mata memandang tidak ada orang yang dikenalnya atau berlari kearahnya.

“Hye Sun…!!!”

Suara itu kembali terdengar dan Hye Sun melihat kesekelilingnya tanpa berkedip. Tingkah laku Hye Sun tidak luput dari ke “dua orang tua”nya dan kakek neneknya.

“Sun-aa…ada apa sayang..?” Tanya Ketua Goo tampak khawatir.

“Iya sayang…ada apa..?” Tanya yang lain.

Hye Sun menatap mereka satu persatu dengan wajah bingung dan sorot mata bertanya.

“Apa kalian mendengarnya ?”

“Mendengar apa sayang…kami tidak mengerti maksudmu ?” Jawab “ayah”nya bingung.

“Suara itu…” Sahut Hye Sun tampak berpikir.

“Suara apa Sun-aa…?” Tanya “ibu”nya menatap Hye Sun dengan bingung, ia menoleh kesuaminya minta penjelasan tapi hanya gelengan kepala yang di dapat.

“Ada orang yang memangil-manggil nama saya..” Kata Hye Sun pelan, sementara ke empat orang didekatnya saling memandang heran.

“Kami tidak mendengar apa-apa Sun-aa, selain orang bercanda gurau & anak-anak yang berteriak senang.” Kata Ketua Goo

“HYE SUN…!!!”

Suara itu terdengar lagi dan kali ini sangat jelas membuat Hye Sun terlonjak kaget.

“Suara itu…” Hye Sun terperangah menyadari suara itu milik siapa, sekali lagi ia mengedarkan pandangannya yang diikuti oleh ke empat orang tersebut tapi orang yang dicarinya tidak ada.

Seakan mengerti apa yang dicari cucunya ketua Goo berkata :

“Siapa yang kamu cari Sun-aa…?”

Hye Sun menoleh ke kakeknya yang mencari jawaban.

“Min…Ho… suara itu …. yang memangil-manggil saya Lee Min Ho-Ssi..”Sahut Hye Sun pelan hampir seperti bisikan.

“Di sini tidak ada Lee Min Ho, Sun-aa.” Kata “ayah”nya mengingatkan.

Hye Sun berbalik menatap “ayah”nya nanar, perasaan cemas, khawatir, dan takut merayapinya.

“Apa maksud daddy ?” Hye Sun mencengkeram lengan “ayah”nya tetapi lelaki itu tidak menjawab malah meraihnya dan berusaha memeluknya tapi Hye Sun menepisnya dan berpaling ke kakeknya yang membuang muka ke samping.

“Harabojiii…ada apa sebenarnya ? apa maksud daddy ?” Hye Sun mencengkeram ujung mantel kakeknya dan menarik-nariknya, Ketua Goo tidak bereaksi sorot matanya menandakan ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.

“Sun-aa, tenanglah sayang..” “Ibu” dan neneknya berusaha menenangkannya.

Hye Sun berbalik ke halmoni yang sedang membelai kepalanya dan ibu yang memeluk bahunya

“Halmonii…mommy….tolong katakan, apa yang telah terjadi padanya…”

Hye Sun menatap mereka satu-satu dengan sorot mata minta penjelasan tapi mereka hanya diam membisu. Hye Sun merasa keluarganya menyembunyikan sesuatu yang menambah kecemasannya.

Hye Sun berusaha mengingat kejadian sebelum ia ada di sana, seingatnya Min Ho selamat dari ledakan itu dan yang terluka adalah dirinya karena waktu ia memegang belakang kepalanya ada darah segar menempel ditangannya tapi kenapa Min Ho tidak bersamanya dan malah meninggalkannya sendiri di tempat gelap hingga ia berada di sana bersama kakek dan neneknya yang sudah meninggal dan suami istri yang dikatakan orang tuanya padahal orang tuanya sedang ada di Pulau Jeju. Lalu kenapa ia bisa mendengar suara Min Ho memanggil-manggil namanya sedangkan orang disekitarnya tidak mendengar sama sekali, apa ini halusinasinya saja atau apakah ia sudah mening…Hye Sun memegang kepala dan menggeleng-gelengkannya.

Ke empat orang itu menatap cemas dan khawatir kepada cucu dan anak mereka, Ketua Goo menatap istri dan anaknya menyiratkan mereka harus mengatakannya.

“Sun-aa… Sebaiknya kamu segera kembali nak… sepertinya belum saatnya kita berkumpul bersama.” Kata Ketua Goo dengan nada sedih.

Hye Sun menoleh ke kakeknya dengan dahi mengernyit, ia bingung dengan maksud Ketua Goo.

“Mwo… Kembali…? Maksud harabojii..?” Hye Sun bergerak mendekati kakeknya dan menatap langsung ke dalam matanya mencari penjelasan.

“Iya sayang…tempatmu bukan di sini…ada yang menghambat untukmu tetap berada di sini…jadi pulanglah nak..” Ketua Goo menatapnya dengan sendu begitu pula yang lain dan mengisyaratkan Hye Sun untuk meninggalkan mereka.

Hye Sun menatap mereka satu persatu dengan sedih, baru saja ia mereguk kebahagiaan berkumpul dengan keluarganya tapi sekarang mereka harus berpisah untuk waktu yang tidak bisa mereka perkirakan. Orang-orang yang dipandanginya menganggukkan kepala dengan senyum sedih.

Hye Sun belum beranjak dari tempatnya walau keluarganya sudah merelakan kepulangannya dan memintanya segera pergi. Panggilan Min Ho sudah tidak terdengar lagi tapi hatinya juga berat untuk tetap tinggal bersama keluarganya.

“Sun-aa…pergilah nak sebelum semuanya terlambat dan meninggalkan penyesalan yang mendalam pada dirimu.” “Ayah”nya menasehati dan tersenyum tulus.

“Tapiii…bagaimana caranya…? Saya tidak tahu..” Hye Sun menatap mereka dengan sorot mata tak terbaca.

“Yakinlah dengan dirimu sendiri, kata hatimu akan menuntunmu kembali…Ingat Sun-aa, kami semua menyayangimu dan jangan menyalahkan siapapun atas semua yang terjadi.” Kata Ketua Goo bijak.

Hye Sun menatap kembali satu persatu keluarganya dan berusaha menyimpannya di kepala supaya sewaktu-waktu bisa dia buka lagi lembaran itu. Kemudian ia berbalik dan hendak melangkah tapi bukannya maju ke depan ia malah berbalik dan memeluk mereka semua seakan enggan untuk berpisah. Setelah merasa yakin dengan keputusannya, ia berbalik dan melangkah pergi dengan cepat, takut air yang sudah menggenang di kelopak matanya tumpah ke luar di depan mereka, ia tidak ingin keluarganya melihat kesedihannya.

Setelah jauh Hye Sun menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya, bulir bening dari matanya sudah tidak bisa dibendungnya lagi, ia ingin melihat keluarganya tapi keluarganya sudah tidak ada ditempatnya demikian juga keluarga lain yang sedang berpiknik di sana, digosok-gosoknya mata mungkin karena air mata maka penglihatannya kabur tapi apa yang ia lihat tidak menipunya dan taman itu tiba-tiba menghilang dari pandangannya. Ia seakan tersedot ke sebuah lubang yang gelap karena tiba-tiba semuanya gelap gulita dan badannya terombang-ambing tak jelas.

***<<<>>>****


H -3 dari hari pernikahan

Pukul 06:00

Rumah Sakit Seoul

Mr. & Mrs. Goo berjalan dengan langkah cepat menelusuri lorong rumah sakit diikuti oleh Mr. Kim. Raut muka mereka terlihat letih & lelah karena tidak sempat istirahat begitu semua urusan selesai mereka langsung balik ke Seoul.

Mr. Park langsung berdiri dan menundukkan kepala dengan hormat melihat Mr. & Mrs. Goo mendekat. Mereka berbicara sebentar lalu Mr. & Mrs. Goo masuk ke ruangan ICU di mana Hye Sun  di rawat.

Min Ho yang sedang tertidur sambil menggenggam jemari Hye Sun yang bebas terbangun mendengar pintu terbuka. Ia menoleh ke pintu dan segera berdiri dan menunduk hormat sembari memberi salam begitu melihat siapa yang datang.

“Bagaimana keadaannya …?” Tanya Henry tanpa memandang ke Min Ho tapi menatap Hye Sun dengan perasaan pilu, ia jadi ingat janjinya pada Ketua Goo karena tidak bisa melindungi cucunya.

Sementara Myra segera mendekat dan mengelus lengan Hye Sun kemudian menelusuri tubuh gadis yang terbujur kaku tak bergerak disampingnya hanya dadanya saja yang naik turun menandakan gadis tersbut masih hidup.

“Seperti yang paman dan bibi lihat, dari tadi malam sampai sekarang ia seperti ini..belum ada perubahan.” Sahut Min Ho berusaha mengalihkan pandangannya ke tempat lain supaya bulir-bulir bening dimatanya tidak di lihat oleh orang lain.

“Hhhhye…sunnn…di..aaa… dia menangis.” Kata Myra terbata-bata menatap Hye Sun tak berkedip dan mengelus pipi yang basah. Sementara bulir-bulir air bening juga menetes dari matanya.

Min Ho dan Henry segera mendekat seakan tidak percaya dengan yang dikatakan Myra. Min Ho menyentuh kelopak dan bulu mata Hye Sun yang basah, otomatis satu tangannya yang lain merogoh saku celananya dan mengeluarkan sapu tangan kemudian melapkannya ke pipi Hye Sun dengan pelan dan penuh perasaan, sorot penuh harapan terpancar dari matanya walau itu tipis tapi tetap ada dan ia tidak boleh patah semangat.

Sesaat mereka seakan hanyut dengan harapan itu lalu Henry mendekati Min Ho dan membisikkan sesuatu. Min Ho menatap calon mertuanya kemudian mengangguk. Mereka lalu ke luar ruangan dan Henry mengajak Min Ho berbicara di lorong yang tidak jauh dari Ruang ICU.

“Lee Min Ho…tolong katakan apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa bisa sampai seperti ini..?” Tanya Henry dengan serius.

Min Ho menarik nafas panjang dan kemudian mengeluarkannya lewat mulut.

“Sosongheo paman…saya tidak bisa menjelaskannya…karena saya sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi.” Min Ho menarik nafas lagi berusaha menenangkan dirinya sebelum melanjutkan, Henry hanya memandang Min Ho dengan sorot mata tidak puas.

Setelah terdiam beberapa saat dan menimbang untung ruginya, akhirnya Min Ho mengatakan semua yang telah terjadi walaupun ada beberapa bagian yang dieditnya tapi ia menceritakan yang sebenarnya.

Setelah mendengar penjelasan Min Ho, Henry hanya diam termangu, ia tidak menduga hal seperti itu terjadi lagi di keluarga Goo.

Setelah dapat menguasai emosinya, Henry meminta Min Ho untuk tidak menceritakan masalah tersebut kepada siapapun termasuk polisi dan mengajaknya kembali sebelum mereka di cari.

<<<>>>

Di dalam ruangan Myra meratapi kondisi Hye Sun, walau pelan tapi tetap terdengar jelas sedu sedannya sembari mengelus wajah dan meremas jemarinya.

“Ketua Goo…sosongheo, kami tidak bisa melindunginya.” Kata Myra di sela tangisnya, dikepalanya berkelebat peristiwa-peristiwa masa lalu yang semakin membuatnya sedih dan hujan air mata makin deras tanpa bisa ditahannya.

<<<>>>

Hye Sun masih terombang-ambing di dalam kegelapan yang tidak ada habisnya, Ia seperti berada di samudera luas yang gelap dan tidak berbatas, kakinya seakan tidak berpijak di bumi tapi melayang di udara tapi ia tetap berusaha melangkahkan kakinya kemana ia hendak pergi walau dengan susah payah karena sesekali badannya seperti terlempar.

Di tengah usahanya ia mendengar suara tangis sayup-sayup, sedu sedan itu hilang timbul dan diantaranya terdengar kata-kata yang juga tidak jelas hanya Ketua Goo yang jelas tertangkap oleh telinganya. Ia tidak tahu siapa yang menangis dan dari mana suara itu karena sejauh mata memandang hanya kepekatan yang terlihat, ia berupaya untuk mencari dan menggapai suara itu tapi sia-sia. Setelah itu tidak terdengar lagi walau sesekali sedu sedan itu samar terdengar.

<<<>>>

Myra tersentak dari lamunanya dan cepat-cepat membersihkan wajahnya begitu mendengar suara kenop pintu di putar, ia menarik dan mengeluarkan nafas pelan supaya tidak kentara kalau barusan batinnya terguncang dan dengan sikap tenang serta senyum tipis menghias wajahnya yang lelah menyambut suami dan calon menantunya.

Mata ke tiga orang itu memandang ke tubuh yang terbaring kaku dan pikiran mereka semua melayang kemana-mana tanpa ada suara yang ke luar. Mereka semua refleks melihat ke pintu begitu terdengar suara pintu terbuka dan seorang wanita berpakaian serba putih masuk dan mengingatkan mereka kalau pasien perlu istirahat dan hanya boleh satu orang yang menemaninya serta mengatakan dokter akan memeriksa kondisi pasien 30 menit lagi jika tidak ada hal darurat yang menghalanginya.

Henry minta maaf bahwa hal itu tidak akan terjadi lagi dan mengucapkan terima kasih.

Setelah mencatat yang tertera di monitor dan memeriksa keadaan Hye Sun suster tersebut pergi.

Henry menatap Myra dan Min Ho lalu berkata :

“Sebaiknya kalian berdua pulang dan beristirhat, biar aku yang jaga Hye Sun.”

“Tapi paman saya tidak bisa…” Min Ho membantah tapi di potong oleh Henry.

“TIDAK Lee Min Ho!…kamu harus pulang.” Kata Henry tegas tidak mau di bantah.

“Sosongheo paman…saya akan tetap di sini.” Sahut Min Ho keras kepala.

“Lee Min Ho-ssi, kamu juga harus menjaga kesehatanmu sendiri, tadi Mr. Park mengatakan kalau kamu juga terluka dan sempat pingsan…bagaimana kamu bisa menjaganya kalau keadaanmu sendiri tidak stabil.” Kata Henry mencemooh.

Myra hanya memperhatikan mereka berdua tanpa berusaha menengahi, ada sesuatu yang membuatnya penasaran dengan sikap dan tatapan Henry terhadap calon menantunya yang tidak biasa dan hal itu kentara sekali terlihat dimatanya waktu mereka kembali dari luar. Myra sebenanrnya hendak menanyakan apa yang terjadi tapi urung karena suster masuk dan mengingatkan mereka jadi ia harus sabar menunggu dan akan minta penjelasan pada suaminya.

Min Ho menatap Henry dengan mata berapi dan tangan mengepal, otaknya serasa mendidih dan ia mengutuk keterusterangan Mr. Park namun ditekannya kuat-kuat emosinya karena bagaimanapun kata-kata calon mertuanya ada benarnya tapi ia tidak bisa beristirahat dengan tenang sebelum Hye Sun membuka mata dan ia mengetahui kondisi sebenarnya dari calon istrinya.

“Luka saya tidak parah paman hanya lecet dan memar jadi tidak perlu mengkhawatirkan saya dan saya masih bisa menjaga Hye Sun dengan baik.” Kata Min Ho dengan susah payah mengendalikan suaranya supaya tidak terlihat emosinya yang menggelegak.

Henry sudah hendak membuka mulut membantah tapi keburu diingatkan oleh istrinya dengan tatapan tajam.

“Lee Min Ho…Bibi dan paman tahu pentingnya arti Hye Sun bagimu tapi jika kamu sampai jatuh sakit pasti Hye Sun tidak akan senang…jadi pulanglah.” Kata Myra lembut sembari menepuk bahu Min Ho.

Min Ho menunduk merenungkan kata-kata Myra dan Henry, dengan tarikan nafas panjang ia menengadah dan tersenyum kecil kepada Myra dan Henry.

“Baiklah saya akan pulang tapi saya mohon paman dan bibi berjanji menghubungi saya jika ada perubahan atau apapun tentang Hye Sun..” Kata Min Ho menangkup ke dua telapak tangan di dada dan menggerakkannya naik turun.

“Tentu saja kami akan menghubungi karena kamu kan calon suaminya jadi jangan khawatir..” Sahut Myra keibuan, sedangkan Henry hanya menganggukan kepalanya.

Min Ho menyadari calon ayah mertuanya bersikap dingin kepadanya setelah mengetahui apa yang menimpa putrinya tapi ia tidak mau berpikir yang aneh-aneh karena wajar seorang ayah marah pada tunangan putrinya karena tidak bisa melindungi dan menyelamatkan anak kesayangannya.

Min Ho mendekati Hye Sun meremas jemarinya dan mengelus wajahnya kemudian membungkukkan badannya untuk mencium keningnya dan membisikkan sesuatu ditelinganya. Sebelum berpaling ia mengusap kelopak matanya sendiri untuk menyembunyikan air bening yang menetes di situ. Ia menundukkan kepala tanda hormat dan mengucapkan salam pamit kepada calon mertuanya lalu menghilang di balik pintu walau sempat mengintip Hye Sun sejenak lewat bahunya.

Setelah kepergian Min Ho, Myra memandangi suaminya yang terdiam kaku ditempatnya menatap Hye Sun dengan raut yang sulit di baca.

“Henry…” Myra memanggil suaminya pelan tapi Henry tidak menjawab, Myra pikir karena suaranya pelan maka suaminya tidak mendengar jadi ia panggil lagi tapi tetap tidak bereaksi seakan dia tidak sedang ada di sana. Myra menyentuh pundak suaminya dan menepuk-nepuknya sembari manggilnya.

Henry tersentak dari lamunannya begitu merasakan pundaknya di tepuk dengan kuat, ia mendapati Myra menatapnya dengan mata melotot dan pandangan menuntut penjelasan.

“Mwo…?” Henry mengedarkan pandangannya ke sekitar lalu ke Myra tetapi Myra masih menatapnya seperti tadi. “Kenapa kamu menatapku seperti itu…? Dan kenapa kamu masih berada di sini ?” Henry pura-pura kesal karena Myra belum juga meninggalkan rumah sakit untuk mengalihkan perhatian dan berupaya pandangannya tidak bertubrukan dengan istrinya.

“Katakan yang sebenarnya padaku Henry…” Kata Myra dengan kelopak mata yang melebar.

“Mengatakan apa…? Aku tidak mengerti…” Sahut Henry dan masih mencoba mengalihkan perhatian dengan membetulkan letak selimut Hye Sun yang sebenarnya tidak perlu.

“Ayolaah Henry...aku tahu ada yang kamu sembunyikan dariku yang berhubungan dengan Hye Sun dan hal itu mengganggu pikiranmu…”  Kata Myra berusaha membujuk, mengikuti kemana suaminya melangkah hingga terpojok tapi Henry menyembunyikan pandangannya dari istrinya. Myra memegang dagu suaminya dan mengangkatnya hingga mata mereka bertemu.

Sesaat lamanya mereka bertatapan dalam diam berusaha menyelami pikiran pasangannya dan Myra bisa merasakan kegalauan Henry. Ia memeluk Hendry dan membisikkan sesuatu ditelinganya.

Dalam pelukan istrinya Henry sesenggukan tanpa suara hanya tetesan air bening membasahi pipinya.

“Peristiwa...itu…terulang…lagi…” Kata Henry terbata-bata di sela tangisnya.

Myra merenggangkan pelukannya “Jadi maksudmu…yang terjadi pada Hye Sun sama seperti yang dialami oleh Tuan dan Nyonya muda …” Ia menatap mata suaminya yang sembab mencari kebenaran. Di sana ia tidak mendapatkan kebohongan karena Myra tahu suaminya tidak pandai berbohong di samping itu Henry menggerakkan kepalanya naik turun dengan lemah menguatkan jawabannya.
Myra kembali memeluk suaminya, kali ini lebih erat disertai dengan air mata yang tumpah bagai danau yang jebol.

Cukup lama mereka dalam keadaan begitu sampai suara kenop pintu di putar memisahkan mereka dan dengan buru-buru menghapus jejak air mata di wajah. Mereka serba salah tingkah menyadari siapa yang datang karena malu dengan mata yang sembab.

<<<>>>

Hye Sun merasa tubuhnya tidak lagi terombang-ambing dan kadang seperti hanyut terbawa arus, ia sudah bisa melangkah normal dan kakinya juga berpijak tapi apa yang ada di bawah kakinya ia tidak tahu, yang dirasakannya tempat itu datar dan rata terus terasa dingin seperti berpijak di ubin hanya saja tempat itu seperti tidak berbatas dinding karena sejauh ia melangkah tidak sekalipun ia terantuk walau menurut perasaannya jalannya tidaklah lurus seperti garis.
  
Hye Sun sudah terbiasa dalam kegelapan sehingga ia merasa tidak takut dan tubuhnya tidak terasa sakit lagi walau awalnya tersedot ke sana seluruh badannya seperti di tinju dan dipukuli, apalagi jika ia merasa terlempar dan hanyut dalam pusaran yang membuatnya seperti berputar-putar tidak jelas.

Sesaat kemudian ia melihat seberkas cahaya, dengan langkah besar ia berusaha untuk cepat sampai di mana cahaya itu berada. Kemudian sayup-sayup terdengar suara, ia tidak mendengar jelas kalimat yang diucapkan hanya gumaman yang tertangkap oleh telinganya. Kemudian telinganya menangkap orang berbicara dengan nada emosi dan nama Min Ho di sebut-sebut kemudian suara perempuan setelah itu ia merasa kepalanya sakit dan berputar-putar hingga ia jatuh tersungkur dan tidak ingat apa-apa lagi.

<<<>>>

Di ruang Perawat lantai 10

Beberapa perawat sedang bercanda di sela tugas mereka merawat pasien, ada perawat yang sedang membaca catatan pasien dan ada juga yang duduk bersandar sambil memejamkan matanya mengistirahatkan tubuhnya sejenak.

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh lampu yang berkedip-kedip di dinding bertuliskan ICU di bawah lampu kecil sebesar bola senter dan bunyi bel nyaring tidak berhenti. Perawat yang bertugas di bagain ICU segera berlari ke luar menuju ruangan tersebut sementara temannya menghubungi dokter yang bertugas.

<<<>>>

Di suatu tempat

14.00

Min Ho berada di suatu tempat yang asing, ia merasa belum pernah ke sana sebelumnya. Didepannya ada sebuah rumah kecil yang sederhana dan disampingnya ada taman yang besar dan terawat rapi. Min Ho menyusuri jalan setapak yang ada di taman itu dan dikejauhan ia melihat sekelebat bayangan seseorang. Min Ho bergegas mengikuti bayangan itu yang kadang terlihat dan kadang hilang tertelan pohon dan tanaman menjalar yang ada di taman itu. Min Ho merasa akrab dengan sosok yang berjalan jauh di depannya.

Tiba-tiba sosok itu menghilang di balik tanaman berjejer rapi yang menyerupai pagar. Min Ho semakin mempercepat langkahnya yang besar. Ia mengedarkan pandangannya kesekelilingnya mencari sosok yang membuatnya penasaran. Akhirnya ia menemukannya, sosok itu sedang mengatur bawaannya di depan dua gundukan dan di masing-masing ujungnya ada batu pipih dengan guratan. Semakin dekat jaraknya ia jadi tahu yang didepannya adalah makam dan makam yang ada di sana bukan hanya dua itu karena 4 meter ke belakang ada lagi dua makam berdampingan.

Sosok yang membelakanginya masih mengatur bawaannya dan setelah selesai kemudian ia berdo’a. Min Ho terpana mengenali sosok yang sedang berdo’a itu, pantas ia serasa akrab dengannya ternyata sosok itu adalah Hye Sun dan makam yang sedang dijiarahinya ada nama Goo dinisannya.

Min Ho hendak memanggil calon istrinya namun karena Hye Sun sedang khusuk berdo’a ia membatalkannya, lebih baik ia menunggu sampai Hye Sun selesai berdo’a dan memperhatikannya dari jauh.

Sekitar 15 menit kemudian dilihatnya Hye Sun berdiri dan mengambil tas yang masih penuh tidak jauh darinya. Min Ho bergegas melangkah tapi ia kembali menghentikannya karena Hye Sun bukan berbalik kearahnya tapi malah melangkah ke depan dan menuju dua makam yang berdampingan di belakang makam yang tadi didatanginya.

Akhirnya Min Ho kembali ketempatnya semula menunggu dengan pikiran bertanya-tanya makam siapa yang sekarang didatangi Hye Sun, kalau makam pertama ia yakin pasti itu makam Ketua Goo dan istrinya lalu makam ke dua itu makam siapa menjadi tanda tanya besar dikepalanya.

Karena asyik dengan pikirannya sendiri sehingga Min Ho tidak menyadari kalau Hye Sun sudah berjalan kearahnya dan tinggal beberapa langkah. Mendengar bunyi sepatu yang berbenturan dengan jalan bercor semakin mendekatinya membuyarkan lamunannya. Ia menengadahkan mukanya yang tadi menunduk menekuri bunga-bunga yang sedang bermekaran di bawah dekat kakinya, matanya menelusuri Hye Sun dari ujung kaki hingga kepala dan dari pengamatannya Hye Sun tidak kekurangan apapun alias sehat wal afiat membuatnya tersenyum bahagia.

Senyum itu terus mengembang hingga Hye Sun sejajar dengannya dan ia mengikuti Hye Sun melangkah. Setelah beberapa langkah Min Ho bingung dengan sikap Hye Sun yang diam dan tdak melihat kearahnya bahkan ia merasa senyum tipis yang menghiasi bibir mungil itu bukan ditujukan untuk dirinya. Min Ho menggapai lengan Hye Sun untuk menggandengnya tapi hanya angin yang didapatnya. Kemudian coba dirangkulnya bahu Hye Sun dari belakang tapi tidak terjangkau malah Hye Sun tetap berjalan semakin menjauhinya. Min Ho memanggil-manggil Hye Sun tapi yang di panggil tidak menoleh seakan tidak menyadari kehadirannya membuat Min Ho bingung dengan apa yang terjadi pada Hye Sun. Ketidakpedulain Hye Sun membuatnya semakin frustasi apalagi setelah ia mengejarnya dan menghadangnya, Hye Sun terus melangkah melewati dirinya seakan dirinya seperti bayangan yang bisa ditembus.
 

***<<<>>>****

« Last Edit: February 02, 2012, 07:40:30 pm by Amira »

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: * Bag Scandal * ~Chapter 12 part 2, up date 02022012
« Reply #509 on: February 02, 2012, 03:29:18 am »
yeayyy di up date, baca dulu ye baru di comment [hmpfh] [huglove] [lovestruck]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho