Author Topic: Unconscious Love ~Chapter 13, update 7 August 2011  (Read 37891 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
UPDATEEEEEEEEEEEE ! ! ! ! ! ! !
elu minta ini mulu hammer2 hammer2

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Biarin...kan sekalian nyampah [hmpfh]

UPDATE ! !
UPDATE ! !
UPDATE ! !
UPDATE ! !
UPDATE ! !
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
UPDATEEEEEEEEEEEE ! ! ! ! ! ! !
elu minta ini mulu hammer2 hammer2
mami !!!!!!!!!!!!!! kapan nich FF  Jundi yg ni di up date??????? dah sebulan nich.
moso mo ampe tunggu si daze di jebol ama si rathhot [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Chainezz_Vian

  • Guest
Mii, klo msh binggung ma0 update yg mana.   aQ reques yg ini ato gk yg rath HOT yo mii. . . Oce? Hwaiting! [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
miiiiii aku request duo kembar ama rathwat [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Duo kembar fic mami yg mana sih? [what]

UPDAAAATTEEEEEEEEEEE ! ! ! hammer2
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
kok pada request semua [heh] [heh]

voldi, duo kembar tuh fi detektif itu, si sihwan and minchan 'the sounds of death' [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

dLu

  • Guest
Menanti update all fanfic from mrs.Lee and friends : )

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Oooooh.....yang horor toh?? Ya ya ya....

Ye mami....kan tinggal ff ini doang yg belum diupdate.. hammer2
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
voldi sayang, ff ini mungkin besok bisa diupdate [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
YAAAAAAAAYYYYYYYYYYYY ! ! ! ! ! ! !

Tengkyu sowmach mami....
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
YAAAAAAAAYYYYYYYYYYYY ! ! ! ! ! ! !

Tengkyu sowmach mami....
sama2,, gw usahain ya,, mati2an nih ampe ga makan, ga tidur and ga buang [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline vvah

  • Newbie
  • *
  • Posts: 90
    • View Profile
YAAAAAAAAYYYYYYYYYYYY ! ! ! ! ! ! !

Tengkyu sowmach mami....
sama2,, gw usahain ya,, mati2an nih ampe ga makan, ga tidur and ga buang [hmff]
uwaa mami bela2in mpe bgadang n ga buang hjat y mi? hehe. thx mi mw d updte .

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
YAAAAAAAAYYYYYYYYYYYY ! ! ! ! ! ! !

Tengkyu sowmach mami....
sama2,, gw usahain ya,, mati2an nih ampe ga makan, ga tidur and ga buang [hmff]
denger2 ada yg mn update ni,hehehe. Waduh kacian mami demi  mo update ul mami sampe ga makan, ga tidur and ga buang?? Buang apa mam? (sambil mikir) jgn ampe sakit ya mam. Pokoknya gw tg updatean UL,mami hwaiting!!


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




Pintu salah satu ruang VIP hotel Shin Hwa terbuka. Langkah Junpyo terhentak di ambang pintu. Matanya melebar perlahan.

“Ka .. kamu .. ?” suaranya tercekat di tengorokan tanpa mampu mempercayai penglihatannya sendiri.

Sedangkan orang-orang yang duduk mengelilingi meja panjang di tengah ruangan memadanginya keheranan. Apalagi wanita muda yang menoleh ke arahnya, alisnya berkerut sangat dalam.

“Mwo? Goo Jun Pyo,, mengapa ada di sini?”

“Seharusnya aku yang bertanya padamu?” suara Junpyo mengeras. Dia melangkah lebar mendekati mereka. “Mengapa kamu berada di sini,, hahh?!! Bukankah enak bermain di Jepang—tanpa memberitahuku?!!” Bola matanya membesar dengan ekspresi murka.

“MWO?!” gadis itu berdiri dari tempat duduknya. “Kamu salah minum obat ya? Kenapa marah-marah tak karuan?”

“Ne,, Ne,,!!” Junpyo mengangguk-angguk dengan gigi bergemelatuk. “Tentu saja kamu berdoa saya salah minum obat. Biar tidak menganggu kesenanganmu, kan?” urat-urat leher Junpyo menyembul semua.

“Kamu sudah gila.” Sahut gadis itu. Kemudian dia menjatuhkan diri kembali ke kursi. “Percuma bicara denganmu!” wajahnya langsung berpaling ke arah lain.

“Tentu saja!” sambar Junpyo ketus. “Lebih enak menghilang dari hadapanku. Begitu kan Geum Jan Di-ssi?”

Jandi menoleh, “Kamu .. “

“Sudah .. sudah .. ,” Hae Jaeng menyela. Perhatiannya tertuju pada Junpyo. “Duduklah dulu, Junpyo-a .. ,” katanya dengan nada dibuat lebih halus.

Junpyo menarik jasnya, kemudian menghempaskan diri ke belakang kursi yang ditunjuk Hae Jeang—tepat di sebelah Jandi. Ditatapnya gadis itu. Tapi Jandi segera membuang muka ke arah lain. Tidak sudi dia melihat wajah yang tadi marah-marah tanpa alasan ini.

“Saya yang mengundang keluarga Geum di acara makan malam hari ini .. ,” sambung Hae Jaeng yang langsung disambut pandangan bertanya dari Junpyo.

“Mwo? Untuk apa?”

“Tidak untuk apa-apa.” Jawab Hae Jeang sambil tersenyum pada omma dan appa. “Hanya pertemuan untuk mengikat kembali persahabatan lama. Sudah lama kita tidak berkumpul bersama. Benar-kan tuan dan nyonya Geum?”

“Iya benar.” Omma tertawa. “Sudah lama sekali ya? Sekitar—hmmm—mungkin sudah lebih dari tiga tahun. Kita terlalu sibuk sih. Hari-hari besar juga tidak membuat kita berhenti dari pekerjaan .. “

“Iya .. ,” Hae Jeang membenarkan. “Mungkin hanya masalah anak-anak yang bisa bikin kita berhenti .. ,” kemudian mereka tertawa bersamaan.

Tapi tidak dengan Jandi dan Junpyo. Mereka memandangi para orangtua silih berganti. Kecurigaan—itu yang terpancar dari mata mereka.

“O ya, Jandiya .. ,” panggil Hae Jeang.

Jandi menoleh. “Ne, madam Kang?”

“Bagaimana keadaanmu? Apa sudah baikkan?”

“Ne.” Jandi mengangguk. “Masih sedikit membekas di wajah. Tapi kata dokter akan pudar beberapa hari lagi .. “

“Syukurlah kalau begitu .. ,” kata Hae Jeang lembut.

Melihat itu, bibir Junpyo tertarik ke atas. “Lucu sekali .. ,” katanya hambar. “Hae Jeang-nim, sejak kapan sehalus ini?”

“Goo Jun Pyo!” tegur Hae Jeang segera. “Jaga sikapmu!” lanjutnya dengan nada dibuat sepelan mungkin. “Jangan malu-maluin di depan keluarga Geum .. “

Junpyo membungkam. Dia melirik omma dan appa, kemudian ke Jandi yang memain-mainkan sendok di tangannya. Merasa diamati, gadis itu menoleh. Tepat saat itu pandangannya bertemu dengan pandangan Junpyo.

“Weo? Masih ingin bertengkar denganku?” tanyanya dengan sikap menantang.

Alis Junpyo berkerut. “Kamu selalu begitu!”

“Mwo?!”

“Selalu urakan dan kasar!” Junpyo tersenyum menyindir.


“Saya ragu ada pria yang akan tertarik pada .. “

Sebelum ucapannya habis, sebuah serbet yang sudah digulung sukses melayang ke wajahnya.

“YAA--,” Junpyo menyingkirkan serbet tersebut dengan jengkel. “Bisa tidak yang lembut sedikit?!“

“Terhadapmu--tidak! Weee!!,” Jandi menjulurkan lidahnya.

“Kamu .. ,” Junpyo mendelik tajam. “Dasar cewek Bengal!”

“Biarin,, daripada kamu playboy kelas teri!” balas Jandi sengit.

“APA? Kelas teri katamu? Rupanya kamu belum tahu kehebatanku?”

“Memangnya apa yang berani kamu lakukan?” Jandi membusungkan dadanya.

“Nanti kamu lihat saja!” ancam Junpyo.

“Ho ho ,, saya takut nih!” sindir Jandi kesal.


“Rupanya kamu memang tidak akan berhenti sebelum mendapat pelajaran. Saya akan … ”

“Cukup Junpyo-a … ,” Hae Jeang melerai perdebatan yang semakin sengit antara putranya dengan Jandi. “Makanan mulai disajikan. Bertengkarnya nanti saja .. “

Junpyo mendengus keras. Tubuhnya terhempas ke belakang. Dilipatnya sepasang tangan di depan dada dengan nafas memburu. Sedangkan pandangannya tajam tertuju ke depan. Dia terlihat tidak puas dengan perselisihan yang terpotong setengah barusan. Jandi menekuk wajahnya. Perhatiannya mengikuti gerakan-gerakan para pelayan hotel yang meletakkan piring-piring berisi makanan di atas meja.

Makan malam dimulai sepuluh menit kemudian. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Sesekali para orangtua melirik putra-putri mereka sambil tersenyum penuh arti. Kemudian mereka saling memberi isyarat yang tidak tertangkap oleh Junpyo dan Jandi. Tarikan-tarikan alis dan gerakan-gerakan bibir yang tidak terucap, cukup menjelaskan semuanya. Rencana-rencana yang telah disusun tapi yang tidak akan dilaksanakan malam ini. Junpyo dan Jandi mesti diberi waktu sedikit untuk saling mendalami sebelum rencana pernikahan mereka dilakukan. Tekad Hae Jeang dan orangtua Jandi.

Dua muda-mudi yang tidak menyadari gelagat-gelagat mencurigakan dari orangtua masing-masing mulai menikmati hidangan-hidangan di atas meja. Jandi tampak bersemangat. Berulangkali dia menusuk makanan-makanan dengan garpu di tangannya. Piringnya terisi penuh sekarang. Sambil mengulum senyum dia membawa makanan-makanan tersebut ke mulutnya.

Junpyo memperhatikan semua itu dengan seksama. Tak tertahankan dia tersenyum perlahan. Kekesalannya tadi mencair laksana bongkahan es yang tertimpa panas matahari. Cusssss!! Menghilang begitu saja.

“Enak?” tanya Junpyo.

Jandi mengangguk. Seperti juga Junpyo, kemarahannya lenyap begitu saja. “Ne.” jawabnya dengan pipi mengelembung. “Dan kamu?”

Junpyo tertawa. “Melihatmu makan saya sudah kenyang.”


“Weo?” tanya Jandi tak mengerti.

“Itu .. ,” Junpyo menunjuk cuping hidung Jandi. “Cara makanmu—menakutkan .. “

“GOO JUN PYO!!” teriak Jandi serak. Makanan yang belum sempat ditelannya tersangkut di tengorokan. Dia terbatuk-batuk keras.

“Heyy gwencana?” tanya Junpyo kaget.

Jandi mengibas-ngibaskan tangan ke belakang. Batuknya semakin keras.

“Jandya,” Junpyo menyambar gelas di depannya kemudian mendekatkannya ke mulut Jandi. “Ayo minum air dulu .. “

Jandi menurut. Diteguknya air dalam gelas di genggaman Junpyo. Semula pelan. Tidak begitu membantu. Akhirnya ditengaknya air tersebut sampai habis. Jandi megap-megap kemudian.

“Gwencana?” tanya Junpyo khawatir. Ditepuk-tepuknya punggung Jandi guna meringankan penderitaannya.

“Hhhh—Ne,” mendadak didorongnya lengan Junpyo. “Kamu—mau membunuhku, ya?”

“Aniyo,” bela Junpyo. “Kamu sendiri yang reaksinya kebesaran.”

“Mwo?” mata Jandi terbelalak lebar. “MASIH TIDAK MAU MENGAKU SALAH!” teriaknya keras. Junpyo selalu sukses menjungkir-balikan emosinya. Dia mendelik. “Kalau bukan karna perkataanmu, aku tidak akan tersedak tahu?!” dengusnya marah.

“Sudah anak-anak!” terdengar suara berwibawa dari seorang pria. Appa meletakkan sendok di tangannya ke atas meja kemudian memperhatikan Jandi dan Junpyo. “Saatnya makan tidak baik berbicara. Nikmatilah apa yang tersaji di depan mata kalian tanpa berteriak-teriak seperti itu .. “

Jandi menunduk perlahan. “Miane, appa .. ,” dia melirik Junpyo yang saat itu menoleh padanya. Jandi langsung mencibir. Sedangkan Junpyo, menyipitkan matanya—dongkol.


=== ******** ===




Jandi memandangi meja kerja Jaekyung—kosong. Karena kepergiannya ke Jepang, kabar ini baru diterimanya tadi pagi. Jaekyung ternyata telah mengundurkan diri dari ‘Korean News’ sejak kemarin. Alasan yang diberikannya pada direktur Yeon tidak jelas. Katanya masalah keluarga. Tapi dia tidak mengutarakannya secara terperinci.

Menurut direktur Yeon, Jaekyung kelihatan sangat tertekan. Berulangkali dia kedapatan berbicara sendiri. Kadang tersenyum. Kadang terlihat muram. Dan waktu ditegur dia akan tersentak kebingungan.

Apa karena Junpyo? tanya Jandi dalam hati.

Dia sudah tidak mengikuti perkembangan hubungan dua orang ini sejak beberapa hari terakhir. Dia tidak bertemu Jaekyung setelah kepulangannya ke Korea. Sedangkan Junpyo, sampai matipun dia tidak akan menanyakan hal seperti ini. Tentang hubungan-hubungannya dengan wanita-wanita yang dikencaninya? Huhh—Junpyo pasti akan kegeeran jika dia menanyakannya. Dia sudah membayangkan apa yang akan dikatakan Junpyo.

”Weo? Kamu peduli padaku?” Jandi langsung mencibirkan bibir ke atas.

“Jandi-ssi, teleponmu!!” seorang pegawai berlari kearah Jandi. Ponsel di tangannya berteriak-teriak keras.

Jandi menoleh. “O gumawo, Rim-a … “ Jandi menerima ponsel yang disodorkan wanita muda tersebut.

Dilihatnya layar ponsel. Tampangnya langsung berubah jengkel. Setelah berdecak kesal, dia menekan tombol terima.

“YO—ada apa?” teriaknya keras.

Diam sejenak di ujung telepon. Tidak diketahui Jandi, Junpyo langsung menjauhkan ponsel di tangannya begitu Jandi berteriak sumbang.

“Yaa—yaa—berapa kali aku peringatkan, jangan berteriak-teriak seperti itu?” sembur Junpyo.


“Peduli amat!” sambar Jandi. “Ada apa?”

Terdengar Junpyo menghela nafas. “Sudah makan?”

“Belum.” Jawab Jandi cuek. “Memangnya kenapa?”

“Kalau begitu kita lunch bersama .. Saya akan menjemputmu .. “

“Mwo?” alis Jandi berkerut. “Tidak usah!” tolaknya tegas. “Saya makan di kantor siang ini. Banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan .. Sudah ya, saya putus sekarang .. “

“MWO? Yaaa—Geum Jan Di, saya belum ha .. “

Tutttt .. Jandi melempar ponsel ke dalam tasnya. Tubuhnya dihempaskan ke kursi kemudian dia menarik map file dari atas meja. Digelutinya berkas-berkas yang ada di dalamnya selama beberapa menit. Ketika dia menjangkau cangkir berisi teh dari sudut meja, sebuah kardus kecil diletakkan seseorang di sebelahnya. Jandi menengadah. Seorang pegawai setengah baya yang bertugas di mail room tersenyum lembut padanya.

“Apa ini?” tanya Jandi.

“Bungkusan buat agashi .. Tidak tahu apa isinya. Alamatnya juga tidak ada .. Hanya tertulis nama agashi di atas kertas pembungkusnya .. “

Alis Jandi berkerut perlahan. “Ok. Taruh saja di situ. Thanks, pak Ki .. “

“Sama-sama.” Jawab pria itu—masih dengan senyum lembutnya. Tangannya kemudian terangkat--mengacungkan jempolnya. “Agashi terlihat segar hari ini. Lebih cantik dari biasanya. Bersyukur kecelakaan itu tidak fatal ..”

Jandi tertawa pelan. “Pak Ki ada-ada aja.” Kemudian dia menganggukkan kepalanya. “Ya, beruntung itu hanya kecelakaan kecil. Jika tidak, saya mungkin harus dioperasi supaya tidak salah dikenali ama orang-orang yang mengenalku .. ,” katanya dengan gaya bercanda.

Pegawai pos itu tertawa. “Agashi memang selalu hangat.” Kata pria itu sambil melambaikan tangannya. “Baiklah, kalau begitu saya permisi. Pekerjaan bapak masih banyak. Semoga hari-hari agashi lebih cerah lagi .. “

“Thanks .. ,” balas Jandi terharu.

Setelah kepergian pak Ki, Jandi melanjutkan kembali pekerjaannya. Lima menit berlalu dan bungkusan itu tiba-tiba menarik perhatiannya. Map file digesernya ke sudut meja. Kemudian tangannya menyentuh bungkusan tersebut.

“Bungkusan apa itu?!”

Pertanyaan mendadak itu mengejutkannya. Jandi menoleh dan alangkah terkejutnya ketika jidatnya hampir menabrak dagu Junpyo.

“Yaa--,” langsung didorongnya pemuda itu ke belakang. “Mengejutkan saja!” serunya dengan nafas tertahan. “Kenapa ke sini?” wajah Jandi bersemu merah saking marahnya. “Sudah kubilang tak ada waktu makan siang denganmu! Apa itu tidak jelas?”

Junpyo berdecak kesal. Digesernya tubuh Jandi dengan kasar. “Saya belum mengataimu telah begitu berani memutuskan pembicaraan kita, ehh kamu malah marah-marah tak karuan?!” perhatiannya terjatuh ke bungkusan di meja kerja Jandi. “Dan apa ini?” lanjutnya curiga.

“Apa urusanmu?” Jandi merampas bungkusan tersebut. “Ini milikku!”

“Dari siapa?” mata Junpyo melebar.


“Sudah kubilang bukan urusanmu!” ketus Jandi. “Lagipula tidak ada alamatnya di sini!!” Tangannya segera merobek kertas pembungkus kardus dan berniat membuka penutupnya.

Tiba-tiba Junpyo tersentak. Sebuah bayangan berkelebat di otaknya—cengiran sadis Jaekyung.“Tunggu!!” serunya.
 
Jandi menoleh. Dirasakan tangan Junpyo menahan gerakan tangannya. Dia langsung melotot.

“MWO?!!”

“Berikan bungkusan itu padaku!”

“Mwo?! Yaa—ini milik pribadi!!”

“Berikan kataku!”

Tanpa menunggu reaksi Jandi, Junpyo merampas bungkusan tersebut. Gadis itu tersentak kemudian melompat-melompat berusaha meraih kardus yang diacungkan ke atas oleh Junpyo.

Junpyo memutar tubuh berkali-kali guna menghindari serangan Jandi. Tangan kanannya merogoh ke dalam saku celana dan mengeluarkan ponselnya. Dengan jempol ditekannya beberapa tombol kemudian membawanya ke telinga. Tak sampai lima detik, sambungannya terjawab.

“Anyongheseyo, doronim. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Mr. Jung dengan nada tenang dari seberang.

“Carikan saya ahli pembongkar bom, Mr. Jung!” cetus Junpyo cepat.

Jandi segera menghentikan usahanya. “Bom?!” dia menatap Junpyo.

“Bom, doronim?!” pertanyaan yang sama terlontar dari Mr. Jung.

“Iya bom. Granat, bahan peledak atau sejenis dengan itu.” Teriak Junpyo. “SEKARANG JUGA, Mr. Jung. Di kantor Korean News.” Kemudian dimasukkannya kembali ponsel itu ke saku celana.

“Bom katamu?” ulang Jandi keheranan. “Kamu becanda?”

“Tidak!” kata Junpyo tegas. Beberapa saat dia terdiam. Setelah menghela nafas, dia berkata, “Ada sesuatu .. tapi … ,” dia berpikir sebentar, kemudian mengeleng perlahan. “ .. ah sudahlah .. “

“Ada apa?” tanya Jandi curiga. “Ada yang kau sembunyikan?”

“Tidak!” kata Junpyo. “Hanya dugaan .. “

“Lalu apa itu?” Jandi berkeras.

“Sudah kubilang hanya dugaan!!” ujar Junpyo kesal. “Bisa tidak kamu tidak bertanya-tanya lagi?”

Jandi memanjangkan bibirnya--cemberut. “Ya sudah kalau tidak mau jawab. Kenapa marah-marah begini?”

“Hatiku gelisah. Jadi diamlah!” Junpyo meletakkan kardus di tangannya ke atas meja. “Sebelum ahli pembongkar bom datang, jangan menyentuh bungkusan ini lagi. Araso?!” dia berpaling pada Jandi.

“Ne, ne, araso!”

          
=== ******** ===




Beberapa menit kemudian regu pembongkar bom tiba. Mereka mengeluarkan semua peralatan dan mulai bekerja. Keadaan menjadi heboh ketika salah seorang ahli tersebut mengangkat tangannya memberi isyarat kepada semua pegawai Korean News untuk meninggalkan gedung itu.

“Bagaimana?” tanya Junpyo tegang. “Positif?”

Si pemimpin membuka maskernya. “Ne, tuan Goo. Tidak termasuk bom yang efektif karena cara pembuatannya sangat kasar dan sederhana. Saya yakin pembuatnya sangat amatir. Tapi kami tidak menutup kemungkinan bom ini akan meledak. Jadi demi amannya, tempat ini harus dikosongkan.”

Junpyo mengangguk kemudian berbalik menghadapi para pegawai yang saling mendorong satu sama lain.

“Bagaimana ini?”

“Saya tidak ingin mati di sini.”

“Oh tuhan, bom .. tidak bisa dipercaya .. “

Gumaman-gumaman lirih dan teriakan-teriakan keras terus terdengar.

Junpyo mengangkat tangannya. “Dengarkan saya. Keluar sekarang juga dari sini.” Junpyo memberikan aba-abanya. “Satu-persatu, jangan saling mendorong. Jika tidak, kalian akan terluka! Sebaiknya sebagian memakai lift dan sebagian lagi turun lewat tangga darurat. Itu akan lebih menghemat waktu. Ingat jangan saling mendorong! Sekarang keluarlah!”

Para pegawai mulai keluar sesuai pengaturan Junpyo. Walaupun kecemasan mengayuti hati masing-masing, mereka tetap mengikuti perintah. Dorongan kecil masih terjadi tapi tidak mengkhawatirkan. Ruangan itu akhirnya bersih tujuh menit kemudian. Sekarang tinggal Junpyo, Jandi dan regu pembongkar bom.

Junpyo meraih lengan Jandi dan menariknya. “Ayo kita keluar!”

Jandi menoleh linglung. “Bom?!” katanya masih tak percaya. “Bagaimana mungkin? .. Padaku? Si .. siapa yang mengirimnya?” dia menatap Junpyo. “Kamu pasti tahu. .. Iya, kan? .. Siapa Junpyo-a?” didorongnya tubuh pemuda itu.

Alis Junpyo berkerut. “Menanyakan dalam keadaan begini? Dikemanakan otakmu?” sembur Junpyo—marah. Ditariknya tangan Jandi keras-keras. “Keluar kataku!!”

“Tapi .. ,” Jandi berusaha menarik kembali tangannya. “Lepas .. Akhh sakit .. “


“Kalian harus keluar, agashi!”

Perkataan itu membuat Jandi berpaling.

Pemimpin regu pembongkar bom tersenyum padanya. “Jika kalian tidak keluar, kami tidak bisa bekerja .. ,” katanya berusaha memberi penjelasan.

“Kamu dengar?!” dengus Junpyo. “Selalu menyusahkan saja .. “

“Ne. Ne!!” Jandi berteriak. “Saya memang menyusahkan!” lanjutnya berang. “Memangnya siapa yang menyuruhmu ke sini?”

Dipukulnya dada Junpyo secara membabi-buta dengan tangan kanannya. Junpyo meringis. Hantaman demi hantaman sukses tertanam di dada bidangnya. Dia terbatuk-batuk keras.

Sekali hentak, Jandi melepaskan diri dari genggaman Junpyo. Didorongnya tubuh jangkung itu ke belakang, kemudian dia berbalik—berlari dari ruangan tersebut.

“YAA—GEUM JAN DI!” Junpyo mengejarnya. Brakkk,, kepalanya membentur pintu yang dihempaskan Jandi. Junpyo berteriak keras. Jidatnya memerah—semerah buah jambu. “YAISHHH—anak ini!! HEYY GEUM JAN DI!!” dia berteriak lagi. Tapi percuma. Jandi sudah menghilang dari hadapannya. Dia sempat mendengar suara ‘ting’ dari elevator yang mulai bergerak ke bawah.

“Sialan! Tidak menungguku?!”

Junpyo menendang pintu elevator tersebut keras-keras. Satu lagi kesalahannya. Dia berteriak keras. Ujung-ujung kakinya ngilu dan terasa berdenyut-denyut. Dia yakin kalau sepatu kulitnya dibuka, jari-jari kakinya sudah membengkak sebesar gajah.

“Huhhh!!”

Tertatih-tatih Junpyo menyeret langkahnya ke tangga darurat di sebelah deretan lift tersebut. Dibukanya pintu berat itu kemudian mulai menuruni anak tangga yang agak curam dengan hati-hati.    

 
=== ******** ===




Peristiwa kemarin mengemparkan seluruh Korea. Berbagai media massa memuat berita tersebut. ‘Gedung Korean News dirongrong teroris’—begitu garis besar dari percobaan pemboman terhadap Jandi. Beruntung pihak media massa lain tidak mengetahui kenyataan ini. Jadi berita yang tersebar hanya berkaitan dengan bom yang tidak meledak itu tanpa disangkut-pautkan dengan nama Jandi—pewaris tunggal Korean News.

Hae Jeang melempar koran di tangannya ke atas meja. Wajahnya mengeras. Junpyo yang berdiri di hadapannya melirik lewat sudut mata—berlagak tak peduli.

“Lihat apa akibat dari perbuatanmu?” sembur Hae Jeang marah. “Sudah berapa kali omma ingatkan, jangan bermain-main dengan api!” telunjuknya menekan-menekan daun meja—tak sabar. “Kamu hampir mencelakakan Jandi, Junpyo-a! Jika sampai terjadi sesuatu dengannya, omma lihat bagaimana hatimu melalui semua ini?!”

Junpyo melipat lengannya di depan dada. “Si Jaekyung berengsek. Dia akan menerima pelajaran dariku!” gerahamnya terkatup rapat. Mata tajam itu bersinar penuh tekad.

“Jadi kamu juga menganggap ini perbuatannya?”

Junpyo memandang ommanya. “Saya rasa tidak ada yang lain.”

“Hmm—bagus kamu sudah putus darinya. Walaupun terlambat tapi yahh .. ,” Hae Jeang mengangkat bahunya. “Paling tidak kita tahu wajah asli dibalik kedok itu .. “

Junpyo menurunkan tangannya kemudian berbalik ke arah pintu. “Saya akan mendatanginya. Semua ini tidak berhubungan dengan Jandi jadi harus dibereskan sekarang juga. Saya tidak ingin dia melakukan sesuatu yang lebih gila lagi .. “

“Tunggu!” seru Hae Jeang. Dia menyambar tas genggam kecil dari atas meja. “Omma ikut denganmu. Sekalian kita hubungi Jandi .. “

“MWO?” Junpyo berbalik.


“Untuk apa membawa Jandi ke dalam masalah ini?”

“Karena Jandi sudah terkait di dalamnya .. ,” jawab Hae Jeang. “Kita harus menjelaskan sejelas-jelasnya pada Jaekyung kalau Jandi tidak tersangkut dalam masalah ini .. “ ditatapnya Junpyo. “Supaya Jandi terlepas dari petaka .. “

Junpyo mendesah kemudian mengangkat pundak pasrah. “Terserah madam Kang saja .. “

Dia meneruskan langkah ke luar dari ruang kerja yang sangat luas itu. Hae Jeang berada di belakangnya. Mr. Jung yang menunggu di luar segera membungkukkan badannya begitu melihat kemunculan kedua majikannya.

“Siapkan mobil untukku, Mr. Jung. Kita akan ke suatu tempat. Dan jangan lupa menjemput Jandi di rumahnya. Saya dengar kantor Korean News ditutup hari ini, kan?”

Mr. Jung mengangguk. “Ne. Kalau tidak salah masih ada pemeriksaan di sana. Kardus yang menyimpan bom itu sendiri tidak terdapat sidik jarinya sehingga para polisi mengadakan permeriksaan lebih lanjut hari ini. Mungkin besok sudah bisa dibuka lagi.”

Hae Jeang mengangguk. Dia berjalan ke depan melewati Mr. Jung yang mulai memberikan perintah kepada sopir untuk mengambil mobil di tempat parkir dan menunggu mereka di depan gedung Shin Hwa lewat ponsel di tangannya. Hae Jeang sampai di sebelah Junpyo.

“Apa kamu ikut dengan mobil kami, Junpyo-a?”

Junpyo menjawab tanpa menoleh. “Tidak. Saya akan mengemudi sendiri. Mobilku masih berada di parkiran depan .. “

Hae Jeang mengangguk. “Baiklah kalau begitu. Kami akan menjemput Jandi dulu. Kita bertemu di depan apartemen perempuan itu.”

Junpyo mengangguk pendek. Langkahnya diperlebar. Sebentar saja dia sudah menghilang dari hadapan Hae Jeang yang mengeleng perlahan.
“Anak ini … kapan akan berubah?”


=== ******** ===




Jandi mengedarkan pandangan berulangkali keluar jendela. Dia semakin heran. Tempat yang dituju ini tidak dikenalnya. Ketika diajak pergi oleh Hae Jeang, dia memang tidak tahu apa-apa. Wanita berwibawa yang duduk di sebelahnya tidak menjelaskannya. Dia hanya tersenyum dan meminta Jandi mengikutinya saja. Katanya ada keperluan penting sehingga mau tak mau Jandi mengikutinya tanpa bertanya lebih lanjut.

Perlahan limousine mewah yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah apartemen tua yang agak bobrok.

Jandi mengerutkan alisnya dalam-dalam. “Di sini?”

“Ne.” Hae Jeang tersenyum. “Junpyo juga kemari.” Telunjuknya tiba-tiba menunjuk ke depan. “Dia sudah sampai rupanya. Itu mobilnya diparkir di sana .. “

Jandi mengikuti arah telunjuk Hae Jeang. Sebuah lotus merah khas Junpyo terlihat terparkir di depan—agak terlindungi oleh sebuah pohon besar. “Mengapa dia ke sini?” pandangannya dipertajam ke depan. Tidak terlihat sosok Junpyo di sana. “Memangnya apa urusannya dengan kepentingan madam Kang?” dia beralih pada Hae Jeang. “Apa madam yang memintanya?”

“Kamu cerdik.” Puji Hae Jeang. Dia tertawa perlahan. “Masalah ini berkaitan dengan kalian berdua .. “

“Mwo?” mata bulat Jandi melebar. “Apa maksud … “

Tok .. tok .. tok .. , ketukan halus di kaca jendela menghentikkan perkataannya.

Jandi menoleh dengan raut tidak senang. “MWO?” teriakannya tercekat begitu seraut wajah yang sangat dikenalnya menyembul dari balik daun jendela. Tubuh jangkung itu condong ke depan. Hidungnya menyentuh kaca jendela di sebelah Jandi. Begitu dekat jarak mereka seakan bibir pemuda itu hampir mengapai bibirnya.

“YAA--,” Jandi langsung menarik diri ke belakang. Matanya terbelalak lebar. “APA YANG KAU LAKUKAN DI SITU?!” teriaknya keras.

Junpyo mengetuk kaca jendela lagi. Mulutnya komat-kamit dan tangannya menunjuk-nunjuk ke dalam.

“MWO?” tanya Jandi tak mengerti.

Junpyo menunjuk lagi. Dengan wajah berkerut Jandi menurunkan kaca jendela. “Mwo?”

“Kamu mengerti isyarat tangan nggak sih?!” kesal Junpyo.

Mata Jandi semakin membulat. “MWO?! Kamu .. kamu kira .. isyaratmu yang tak tentu arah itu bisa dimengerti haah?”

Jandi menampar keras tangan Junpyo yang tersampir di bingkai jendela. Pemuda itu menarik tangannya sambil meringis kesakitan.

“Sudah! Jangan bertengkar lagi.” tak sabar, Hae Jeang yang melihat pertengkaran tersebut mengeluarkan suaranya. “Masih ada hal penting yang harus kita selesaikan, Junpyo-a .. ,” lanjutnya sambil menatap Junpyo lekat-lekat.

“Benar.” Anak muda itu tersadar.

Dia menjulurkan tangan ke dalam mobil dan membuka pintu di sebelah Jandi. Kemudian dilepaskannya sabuk pengaman yang masih melingkari tubuh mungil tersebut—diikuti pandangan terkejut gadis itu. Lalu ditariknya tangan putih mulus yang berusaha menghindar tersebut. Tapi terlambat. Gerakan Junpyo lebih gesit. Dengan gampang dia berhasil membawa Jandi keluar dari mobil.

“Yaa—lepaskan!!” protes Jandi. “Apa-apaan ini? Mau ke mana?”

“Ikut saja!” jawab Junpyo tanpa berpaling.

“Kamu juga ikut kami, Mr. Jung. Saya tidak ingin sesuatu yang tidak diharapkan terjadi.” Samar-samar perkataan Hae Jeang tertangkap oleh pendengaran Jandi.

Tubuh mungil itu menjadi kaku. Dia tidak berontak lagi terhadap perlakuan Junpyo. Susah payah dia mensejajarkan langkahnya dengan tapak Junpyo yang lebar.

“Heyy ada apa sebenarnya?”

“Sudah kubilang ikut saja.” Sahut Junpyo dingin.

“Rahasiakah?” Jandi berusaha mengorek lebih dalam.

Tapi Junpyo tidak menjawab. Jandi menyenggol lengannya. Pemuda itu tetap tak bereaksi. Akhirnya Jandi hanya bisa memanjangkan bibirnya--menyerah.
“Baiklah. Anggap saja saya tidak pernah menanyakannya!” dia berpaling ke arah lain. “Dasar pelit!!”


=== ******** ===




Mata Jaekyung terbelalak lebar begitu mendapati siapa yang berdiri di depan pintu apartemennya. Jandi juga tidak kalah terkejutnya dengan Jaekyung. Kedua gadis itu saling menunjuk.

“Jaekyung!” ujar Jandi.

“Kalian!!” seru Jaekyung, bersamaan. Kemudian sikapnya berubah dingin perlahan-lahan. “Ada apa?”


“Jangan bilang anda tidak tahu maksud kedatangan kami, Jaekyung-ssi?” Hae Jeang menyengir. Dia melangkah ke dalam apartemen—melewati Jaekyung begitu saja. Begitu angkuh seakan dia pemilik rumah yang harus dihormati.

Jaekyung menoleh padanya. “Saya tidak mengerti perkataan anda .. “

“O ya?” alis Hae Jeang terangkat ke atas. Diedarkannya pandangan ke seluruh bagian ruangan. Lalu perhatiannya jatuh pada foto kumal yang terpasang dalam sebuah bingkai foto yang sudah retak ujung-ujungnya. Hae Jeang mendekati meja di mana foto itu diletakkan. “Jadi .. ini ibumu?” disentuhnya foto tersebut.

“Kamu mau apa?” teriak Jaekyung. “Singkirkan tanganmu dari foto itu?!” Dia bermaksud menerjang Hae Jeang tapi langsung dihentikan Mr. Jung.

“Tenang nona.”

“Jangan sentuh foto itu!!” teriak Jaekyung histeris. “Jangan sentuh kataku!”


“Jaekyung-a .. ,” Jandi menutup mulut—shock. “A … apa yang terjadi padanya?” tanyanya pelan.

“Orang yang bermaksud mencelakakanmu adalah dia .. ,” jawab Junpyo.

Jandi menoleh. “Maksudmu .. bom yang kemarin?”

Junpyo mengangguk.

“Ta .. tapi mengapa?” tanya Jandi heran. “Saya … saya tidak pernah melakukan sesuatupun yang … yang mungkin menyakiti hatinya .. “

“O ya?” Jaekyung tertawa keras. “Apa kamu tahu kalau si berengsek ini memutuskanku setelah kecelakaan yang terjadi padamu?”

“MWO?” Jandi sangat terkejut. “Benar begitu, Junpyo-a?” tanyanya pada Junpyo.

“Tentu saja tidak!” sahut Junpyo. “Kamu bukannya percaya padanya, kan? Saya memutuskan seorang cewek karena kamu?! Oh come on Jandya,, berpikirlah yang rasional!”

Jandi berpikir sejenak, kemudian mengangguk. “Ya, perkataanmu benar juga.”

Ketawa Jaekyung semakin keras. Sampai mengelegarkan ruangan itu. “Ha .. ha .. sepasang muda-mudi yang tolol, bego .. ha .. ha .. Sungguh menyedihkan .. ha .. ha .. “

“Apa katamu?!” Junpyo jadi berang. Dia mendekati Jaekyung dan menarik bajunya. “Apanya yang menyedihkan?! Siapa yang kau katai tolol, bego hahh?!!”

“Tentu saja kamu, Junpyoku sayang!” Jaekyung menyeringai. “Ckckck, perasaan sendiri saja tidak tahu, masih berlagak playboy. Sungguh mengelikan!”

“MWO?!” Junpyo semakin murka. Ditekannya tubuh Jaekyung ke dinding. Kemudian dihempaskannya berulang kali sampai Jaekyung meringis kesakitan.

Melihat itu Mr. Jung segera menarik lengan Junpyo sehingga tekanannya terhadap Jaekyung terlepas. “Cukup, doronim! Anda bisa membunuhnya!”

Tepat saat itu, Jaekyung berteriak keras. Tangannya menyambar sesuatu dari lemari dan menerjang ke arah Jandi. Benda tersebut berkilat mengarah ke perut Jandi.

“AWAS!!”

Peringatan Hae Jeang menyadarkan Junpyo. Dengan sigap didorongnya tubuh Mr. Jung yang menghalangi jalannya dan berlari kearah Jandi dan Jaekyung berada.

Jandi terlihat pucat pasi. Dia mundur dengan sempoyongan. Benda tajam di tangan Jaekyung yang ternyata sebilah pisau dapur beberapa inci lagi mengenai tubuhnya. Jandi memejamkan mata dan berteriak keras.

Tamat sudah! Aku akan mati mengenaskan buat sesuatu yang tidak kulakukan. Goo Jun Pyo—sumpah mati kamu harus membayarnya di kehidupan mendatang. Jika memang ada kehidupan itu, posisi kita harus terbalik. Aku yang akan mempermainkanmu dan kamu akan menjadi pelayanku. Menuruti semua perintahku. Dengar itu, Goo Jun Pyo?!

Jandi menyentuh perutnya. Tidak terasa sakit. Mengapa? Dia membuka mata perlahan. Terdengar teriakan Jaekyung yang menyayat hati, kemudian diikuti suara ketawanya yang mengiris. Dia ambruk ke lantai dengan Junpyo menguncinya dari atas. Pisau di tangannya sudah terlepas—melayang ke pojok ruangan—berputar-putar kemudian berhenti dengan ujungnya yang  runcing dan tajam berkilat membentur dinding.

“Gwencana, Jandya?” tanya Hae Jeang yang sudah berada di sebelahnya.

Jandi mengangguk lambat-lambat. Suaranya tak mampu dikeluarkan. Peristiwa barusan membuat lututnya lemah. Dia hampir pingsan. Sungguh mati, pengalaman tadi akan menjadi sejarah paling kelam sepanjang hidupnya. Dia mengira akan mati. Akan terbunuh di ujung pisau Jaekyung.

Tubuh Jandi oleng. Pandangannya jadi kabur. Dalam hitungan detik dia jatuh ke depan. Kalau saja tidak segera ditahan oleh Junpyo yang posisinya sudah digantikan Mr. Jung, dia pasti sudah tersungkur ke lantai.

“Jandya!!” Junpyo menguncang tubuh Jandi. “Heyy Geum Jan Di!” teriaknya sambil menepuk-nepuk pipi Jandi. “Sadar,Jandya! Jangan menakutiku!” dia melakukan usahanya lagi. Berulangkali. “Saya mohon buka matamu! Yaa—Geum Jan Di!!”

“Cukup, Junpyo-a.” Tegur Hae Jeang. “Jandi sudah pingsan. Ayo bawa dia ke mobil.” Dia beralih kepada Mr. Jung. “Telepon polisi, Mr. Jung.” Lalu ditatapnya Jaekyung dengan ekspresi dingin. “Tapi saya rasa percuma. Dalam keadaan begini dia tidak bisa dimintai pertanggung-jawabannya. Mungkin dia akan dimasukkan ke rumah sakit jiwa seperti ibunya .. “

Junpyo melirik Jaekyung kemudian menghela nafas berat. Untuk pertamakali dia menyesali perbuatannya. Seharusnya dia mendengarkan peringatan Jandi dulu. Bahwa Jaekyung berbeda dengan wanita-wanita yang pernah dikencaninya. Mungkin bukan dalam arti gila yang dimaksud Jandi. Tapi itu tidak jauh berbeda. Dia yang menyebabkan penyakit gadis itu kambuh.

Junpyo mengangkat tubuh Jandi dan berjalan pelan keluar dari apartemen itu.



Hae Jeang mengikuti kepergiannya dengan tatapan sendu.
“Semoga kamu mengambil hikmah dari kejadian ini, Junpyo-a .. “                

 
=== ******** ===




Tiga hari berlalu sudah. Jaekyung dimasukkan ke rumah sakit jiwa karena kondisi mentalnya yang benar-benar parah. Dia tidak memberikan reaksi apa-apa terhadap lingkungan dan orang-orang di sekelilingnya. Jaekyung hanya bisa menundukkan kepala. Dan kadang-kadang terbahak-bahak tanpa alasan. Atau bernyanyi kemudian menanggis tersedu-sedu seperti anak kecil. Semua tindakannya memperlihatkan ketidakseimbangan jiwanya yang sangat dominant. Bahkan Jandi yang mengunjunginya beberapakali, tidak dikenalinya.

Acara makan malam kembali dirancang oleh Hae Jeang dan orangtua Jandi malam itu. Semula Jandi dan Junpyo menolak menghadirinya. Tapi begitu didesak dengan alasan makan malam tersebut sebagai syukuran terhadap terhindarnya Jandi dari malapetaka yang hampir merenggut nyawanya akhirnya dua muda-mudi tersebut bersedia menerimanya.

Makan malam diselesaikan dalam waktu setengah jam. Junpyo mengambil gelas dari atas meja ketika ommanya mulai bersuara.

“Malam ini—selain dinner bersama, ada hal yang ingin kami bicarakan. Saya dan orangtua Jandi .. “

Junpyo mendekatkan gelas tersebut ke bibirnya.

“Masalah ini sebenarnya sudah lama kami diskusikan .. ,” lanjut Hae Jeang. Yang diiyakan appa dan omma.

Junpyo memandanginya. Gelas itu sekarang sudah menempel di bibirnya.

“Kami rasa sudah saatnya rencana ini diutarakan kepada kalian. Memberi waktu kalian untuk saling mendalami sifat masing-masing ternyata salah. Ya, kalau dipikir-pikir kalian sudah mengenal lama sekali jadi tidak perlukan waktu itu … “

Junpyo mengangkat bibir gelas tersebut kemudian mereguk air di dalamnya.

“Masalah tersebut adalah rencana pernikahan kalian … “

Brurrrr,, air yang belum sempat ditelan Junpyo tersembur semua. Semprotannya jitu mengenai Jandi yang duduk di kursi di depannya. Tak pelak lagi wajah, leher sampai ke gaun yang dikenakan gadis itu basah semua.

“YAISHHH!!” teriak Jandi sambil meloncat dari tempat duduknya. Bukan hanya perbuatan Junpyo yang mengejutkannya, terlebih kabar yang dibawa Hae Jeang seperti petir menyambar di siang bolong.

“MWO?!!” teriak Jandi dan Junpyo berbarengan. Pemuda itu juga melompat dari posisinya. Mata mereka terbelalak lebar—tak mampu mempercayai apa yang barusan didengarnya. Dipandanginya orangtua mereka silih berganti kemudian beralih saling menatap. Telunjuk mereka terangkat bersamaan.

“DENGAN-NYA?!”

“Ne .. ,” jawab omma pelan. “Memangnya kenapa? Ada masalah?”

“Huhh!! Bunuh saja saya!” Jandi membuang mukanya.

“Benar. Bunuh saya sekalian!” sambung Junpyo.

Jandi berpaling pada Junpyo—mengatupkan gerahamnya. Kemudian berpindah kepada orangtuanya dan Hae Jeang. “Tidak bisa!”

“Saya juga tidak mau!!” sambar Junpyo.

Jandi mendelik padanya. “Saya tidak sudi!”

“Selera saya tidak serendah itu!” mata Junpyo melebar.


“PABO!!” bentak Jandi.

“Gadis Bengal!” Junpyo tidak mau kalah.

“Playboy murahan!” sambut Jandi dengan sikap menantang.

“Mwo, murahan?!” Junpyo komat-kamit. Tangannya terkepal erat. “Apa maksudmu?”

“Sangat jelaskan?!” Jandi mengejek. “Mana ada playboy sepertimu. Sok ganteng, sok berkuasa, .. pokoknya sok segala-galanya .. “

“Mwo?! Yaa—aku tidak perlu sok, tahu?! ,” teriak Junpyo. “Aku memang ganteng, berkuasa dan memiliki segala-galanya. Jika tidak, para wanita tidak akan menempel terus di sisiku!”

“O ya?” Jandi tertawa pendek. “Tapi jangan lupa, semua berkat bantuanku!”

“OMONG KOSONG!” Junpyo jadi berang. Tangannya dikibaskan dengan risih. Ya, perkataan Jandi mengenai sasarannya. “Saya tidak membutuhkan bantuanmu!”

“Kalau begitu kita lihat saja!” Jandi membusungkan dadanya.

Hae Jeang tiba-tiba mengangkat tangannya. “Sudah .. “

Junpyo dan Jandi berpaling serempak ke arahnya. “POKOKNYA SAYA TIDAK MAU MENERIMA RENCANA PERNIKAHAN INI!!” teriak mereka bersamaan, tegas—menyela perkataan Hae Jeang—membuatnya tersentak keras karena tidak mengira reaksi mereka sebesar ini.

“Walaupun kami memaksa?” tanya Hae Jeang setelah berhasil menguasai perasaannya.

“IYA!” jawab Jandi dan Junpyo.

Pandangan mereka bertemu. “TIDAK AKAN!” perkataan tersebut terlontar bersamaan dari mulut mereka. Perlahan-lahan mata mereka menyipit penuh ancaman.

“Kalau begitu .. ,” Hae Jeang berdiri dari tempatnya. Dia melirik appa dan omma. Kedua orang itu mengangguk seakan menangkap apa yang dimaksud wanita itu.

Hae Jeang berjalan ke tempat Jandi dan meraih tangannya. “Kamu ikut denganku, Jandya .. “

“Mwo? Ke mana?”

“Ada yang ingin kubicarakan.” Katanya lembut. Kemudian dia berkata pada Junpyo, “Kamu tinggal di sini, Junpyo-a. Temani tuan dan nyonya Geum .. “ Hae Jeang mengerakkan tangannya yang memegang tangan Jandi. “Ayo!”

Jandi mengikuti Hae Jeang dengan kebingungan. Sesekali dia melirik orangtuanya.

“Pergilah sayang .. ,” kata omma.

“Kami akan menunggumu di sini .. ,” sambung appa.

Jandi mengangguk. Sebentar saja dia dan Hae Jeang sudah menghilang dari ruangan itu. Junpyo mengerutkan alisnya perlahan. Apa yang akan dikatakan ommanya pada Jandi—itu yang dipikirkannya sekarang. Gelagat para orangtua ini mencurigakan. Perhatian Junpyo kembali pada omma dan appa.

Dia berusaha tersenyum, kemudian menjatuhkan diri kembali ke kursi yang tadi didudukinya. Keadaan jadi hening. Omma dan appa terlihat mempersiapkan diri sebelum mengeluarkan rencana-rencana yang telah disusun sebelumnya dengan Hae Jeang.

                  
=== ******** ===
« Last Edit: September 25, 2010, 10:44:09 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun