Author Topic: Unconscious Love ~Chapter 13, update 7 August 2011  (Read 36681 times)

Offline gantang ricky prabowo

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
  • i know you so well
  • Location: JAKARTA
    • View Profile
ayo mi... segera di update....
 [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]
Hidup sukses, bahagia dunia khirat, membahagiakan orang banyak, bermanfaat untuk agamaku amin ya allah..

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Update
kenapa say [what] ada masalah ama gw ya [what] gw denger dr anak2, elu bakal keluar dari CM [cry] [cry] balik lagi dong. UL lagi gw usahain nih,, ya wlp belum dimulai [sweat] rencananya sih gw mulai malam ini, klu sempat [sweat]

ayulu mam, voldi ngambek gara2 ff paporitnya ga diupdate2,, mami sih kelamaan  hammer2

sabar ya voldi  [briggin]  sejam lagi mami bakal update UL   [hmff]

Offline itaraya

  • Senior
  • ****
  • Posts: 722
  • ~can' t take my eyes off you~
    • View Profile
sabar ya voldi  [briggin]  sejam lagi mami bakal update UL   [hmff]
ya...liko asbak di hammer ama mami loch...
wong mami mau update daze ama rath kok hari ini...
mam di tunggu ya update UL nya
[lovestruck][lovestruck]
saggy credit to mami love

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
mamiiiii eke dah kgen berat ama ff yg satu ini [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
mamiiiii eke dah kgen berat ama ff yg satu ini [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
hampir selesai tp lum update piku [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




Jandi membuka pintu penghubung pemisah kamarnya dengan kamar Junpyo pagi itu. Dia menyandar sebentar di daun pintu sambil memperhatikan keadaan sekelilingnya.


Tampangnya langsung mengerut begitu mendapati seraut wajah yang sangat dikenalnya tersembul dari balik selimut tebal di atas ranjang, dekat deretan jendela besar.



Jandi mendengus pelan, lalu melintasi ruangan itu menuju pintu keluar. Namun setelah berada di depan pintu langkahnya terhenti. Dia berpikir sebentar. Bibirnya manyun beberapa mili. Agak jengkel dia berbalik kembali ke tengah ruangan, dan berjalan cepat menuju tempat tidur.

Srettt, ditariknya selimut tebal yang menyelimuti tubuh jangkung di atas ranjang.

“Bangun pemalas!!!”

Selimut tersebut dicampakan Jandi di atas lantai berkapet bulu-bulu halus.

“Bangun!!!” Kembali diguncangnya tubuh itu. “Bangunnnn!!” Makin lama makin keras.

Tapi percuma saja. Pemilik tubuh jangkung itu tak memperlihatkan reaksi apa-apa.

“Goo Jun Pyoooo!!!” teriak Jandi keras-keras.

“Huhh!!” Ditamparnya pundak Junpyo jengkel. “Masih tak mengindahkanku?!” Mata Jandi melotot lebar-lebar. “Kalau begitu jangan menyalahkanku. Kau akan merasakan akibatnya—huhh!!”

Jandi mengatup kedua tangannya kemudian mengarahkannya ke telinga Junpyo. Dia mengambil nafas dalam-dalam, setelah menahannya sebentar, dia menempelkan mulutnya ke telinga Junpyo lewat sepasang tangannya yang terkatup berbentuk corong.

“KEBAKARANNNNNN!!!! AYO CEPAT BANGUNNNNNNN!!!!” Jandi berteriak sekeras-kerasnya.

Junpyo langsung tersentak bangun—gelabakan, hingga kepalanya berbenturan dengan kepala Jandi yang berada sangat dekat dengannya.

“Akhhh!! Pembokat sialan, pingin mampus ya? Pingin dipecat ya??!!” bentak Junpyo bertubi-tubi sambil mengaruk-garuk kepalanya stress dengan mata masih terpejam dan tanpa menyadari siapa yang ditabraknya barusan.

“Junpyo brengsek!!!” Jandi mendorong Junpyo sampai terhempas kembali ke ranjang. Tangannya mengelus-ngelus jidatnya yang terasa sakit. “Kepalaku benjol nih!!”

“Geum Jan Di-ye?!” Mata Junpyo terbelalak lebar. “Kenapa .. kenapa bisa berada di .. Oh--!!” dia langsung menepuk jidatnya. Dan kibatnya dia segera meringis keras karna—seperti Jandi, jidatnya juga membengkak akibat benturan tadi. “Benar!” dia mendesis pelan. “Kau tinggal di sini sekarang .. “


Jandi mendelik. “Ne! Kukira kau sudah pikun sampai melupakannya. Semua itu gara-gara kau, bego!!”

“Mwo, aku?”

“Ne. Tentu saja kau, goblok!!”

“Kau ini—gadis berandal!!” omel Junpyo sambil menekan jidat Jandi.

“Apa perdulimu?!!” Dengan kesal Jandi mendorong Junpyo sampai terguling jatuh ke lantai.

“YAA—GEUM JAN DIIIII!!!!” Teriakan Junpyo mengelegar dalam ruangan itu. Setelah jidatnya, sekarang hidungnya yang menjadi korban. Akibat tindakan Jandi, hidungnya sukses mencium lantai. Dia segera merangkak bangun sambil mengelus-ngelus hidung kesayangannya.

“Hey—mau ke mana?!” teriaknya begitu mendapatkan Jandi sudah sampai di depan pintu.

“Sarapan!!” sahut Jandi tak kalah kerasnya. “Terserah kau mau malas-malasan sampai kapan. Aku sangat lapar dan ingin makan. Terhadapmu, aku sudah menyerah!! Masa bodoh deh!!” Jandi menghambur keluar.

Junpyo mendengus sambil melayangkan tinjunya ke udara.

“Aishh—bisa gila kalau terus-terusan begini!! Sampai kapan harus tinggal serumah dengannya? Sekamar lagi? Semua ini gara-gara dua nenek sihir itu—si Ha Jae Kyung dan madam Kang. Aishhh!!!”

Junpyo mengomel-ngomel sendiri, layaknya orang gila beneran.


***** oOo *****



Jandi baru memulai sarapannya ketika Junpyo memasuki ruang makan. Dia melirik pemuda itu sekilas, mempelototinya sebentar, kemudian berbalik kembali ke makanannya cuek.



Junpyo menarik kursi di hadapan Jandi kemudian duduk di sana. Ditatapnya gadis itu dengan seksama. Perlahan tangannya meraba jidatnya—terasa berdenyut-denyut. Dia meringis kecil.

Gadis geblek ini kelihatannya tak merasa bersalah buat tindakannya dalam kamar tadi!, Junpyo mengerutu dalam hati. Walaupun jidat Jandi juga terlihat benjol seperti jidatnya, tetap dia tak bisa terima dibangunkan dengan cara itu oleh Jandi—berteriak-teriak keras dekat genderang telinganya? Emangnya dia tuli apa, sampai harus berteriak sekeras itu? Hampir saja dia tuli benaran karna kegilaan gadis ini.

“WEE?!!!” Jandi menegur dengan tiba-tiba.

Junpyo tersentak kaget. “Hah?!” Mulutnya terbuka lebar.

“Apa yang kau lihat? Sudah puas mempelototiku?”

“Mwo? Kau .. ”

Sebelum teriakan Junpyo berlanjut, seorang pelayan menaruh sebuah piring berisi sarapan di hadapannya.

“Sarapannya, doronim .. “

Junpyo melotot. “Cabut sekarang juga dari ruangan ini! Dan sebelum ada perintah dariku, jangan sekali-kali masuk kemari!!” dia berteriak sambil berpaling ke pelayan lain di sebelah Jandi, “Kau juga!!” bentaknya keras.


Kedua pelayan malang tersebut mengangguk ketakutan. Mereka menyingkir dari hadapan Junpyo dengan tergesa-gesa. Daun pintu hampir ditabraknya. Gugup, keduanya segera berbelok dan menghambur keluar.

“Yaa—“

Tiba-tiba serbet di tangan Jandi, yang sudah digumpalnya menjadi bulatan besar, mendarat di jidat Junpyo—persis di benjolan bekas tabrakannya tadi.

“Ssss!!!” Junpyo mendesis.

“Kau—“ Jandi menunjuknya. “Apa susahnya bersikap lebih baik terhadap para pelayan? Mereka tuh manusia juga. Walaupun hanya pelayan, mesti dihargai. Semua manusia di dunia ini punya hak dan martabat yang sama. Kau tak boleh memandang rendah status mereka. Tanpa bantuan mereka, kau tak dapat melakukan apa-apa. Araso, Goo Jun Pyo?!”

Junpyo mencibir sambil meraba jidatnya. “Sungguh disayangkan … ,” sindirnya halus.

“Mwo?!” sembur Jandi jengkel. Bagaimana tidak jika setelah penjelasannya yang panjang lebar tadi, pemuda ini malah berkomentar tak jelas.

“Sungguh disayangkan kau tak jadi biarawati .. ha .. ha .. ha .. “

Plop, telur mata sapi dalam piring Jandi melayang dan mendarat tepat di kemeja Junpyo.

“Aishh—“

Junpyo meloncat bangun sehingga telur tersebut jatuh ke lantai.

“Kotor semua!!” gerutunya. “Kalau lempar, mikir-mikir kek. Lihat, kemejaku jadi kuning kayak kena kotoran!!” Junpyo menunjuk bagian dadanya yang berbekas kuningan telur.

“Biarin!!” damprat Jandi masa bodoh. “Kau juga ngomongnya nggak mikir-mikir! Siapa yang biarawati?!”

“Bukannya begitu?” Junpyo mencibir. “Mana ada cewek yang belum pernah pacaran di usia sepertimu? Kalau bukan biarawati, apa namanya?” lanjutnya dengan nada menyindir.

“Mwo? YAA—GOO JUN PYOOOOOO!!!!”

Plang!! Junpyo berhasil menangkis sendok yang dilemparkan Jandi dengan piringnya. Alhasil, makanan dalam piringnya berserakan ke mana-mana—sebagian di atas meja, sebagian lagi di lantai dan kursi.

“Aishh—Geum Jan Di!! Lihat apa yang kau lakukan?!”


***** oOo *****



Sementara itu, di luar ruang makan, para pelayan saling berbisik dengan kebingungan.

“Ribut sekali … ,” kata salah seorang dari mereka, penuh kekhawatiran. “Apa perlu kita masuk saja?”

“Kau ingin dipecat ya?” sahut yang lain. “Tadi kan doronim sudah bilang, tak ada perintah darinya dilarang masuk ke ruang makan .. “

“Tapi .. ,” pelayan pertama terlihat ragu-ragu. Tangannya saling meremas berulangkali. “Apakah tak apa-apa membiarkannya begitu saja? Maksudku .. hubungan doronim dan nyonya muda terasa jangal. Mereka bertengkar terus. Aku takut terjadi apa-apa pada mereka .. “

“Ah—kau pelayan baru tak tahu apa-apa!” celetuk pelayan yang lebih tua. Usianya mungkin jauh di atas mereka. Dia merupakan pelayan paling senior di Goo’s Mansion. “Doronim dan nyonya muda memang sudah begitu sejak dulu. Sebelum pertunangannya dengan doronim, nyonya muda sering bertandang kemari—bahkan sejak kecil. Terutama pada hari-hari penting seperti tahun baru, Natal dan … yang lebih sering tuh waktu doronim sakit. Nyonya muda senantiasa menemani dan menjaga tuan muda kita. Mereka akan berhenti dari kebiasaan beradu mulut buat sejenak dan saling melengkapi kebutuhan masing-masing saat itu. Tapi walaupun demikian, pertengkaran akan terjadi lagi setelah doronim agak baikan. Selalu begitu. Mereka saling membutuhkan sekalipun tak menyadarinya sama sekali.”

“Jadi … , sungguh tak apa-apa?” tanya pelayan gugup tadi, masih terlihat ragu-ragu.

“Percayalah. Saya sudah bekerja selama duapuluh tahun di sini. Saya melihat sendiri bagaimana doronim dan nyonya muda tumbuh dewasa. Sifat dan kebiasan mereka kuketahui dengan jelas .. ,” kata pelayan paling tua, berusaha menenangkan pelayan pertama.

“Hmm—tapi … “

Brakk .. obrolan para pelayan terhenti ketika pintu ruang makan di depan mereka terhempas dengan keras. Mereka segera berpaling kearah suara itu. Ternyata pintu tersebut sudah dibuka Junpyo.

“Kami selesai makan!!”

Junpyo berjalan dengan kepala ditengadah dan dada dibusungkan--melewati kumpulan pelayan itu. Para pelayan langsung membungkuk dalam-dalam.

“Ne, doronim!” jawab mereka serempak.

Jandi yang mengekor dari belakang ikut membungkukan badannya kepada para pelayan—membuat mereka terkejut.

“Mianeyo .. ,” kata Jandi. “Maaf merepotkan … “

“Tak apa … ,” sahut para pelayan pelan. Mereka tak mengerti mengapa Jandi meminta maaf pada mereka tapi permintaan maaf itu ditanggapi juga oleh mereka.

Para pelayan saling berpandangan sebentar kemudian berpaling kembali kearah Jandi dan Junpyo, sampai mereka menghilang dari pandangan.

“A .. apa yang terjadi?” tanya si pelayan gugup.

Pelayan kedua mengangkat bahunya. “Tak tahu. Tapi pakaian doronim dan nyonya muda terlihat kotor … “

Mereka saling berpandangan lagi. Beberapa detik berlalu. Serentak ketiga pelayan itu memutar badan dan menghambur ke dalam ruang makan yang pintunya tak ditutup.

“Omo—habis perang?!!!”

Mereka berseru secara bersamaan. Ruangan itu berantakan. Meja panjang di tengah ruangan taplaknya sudah tertarik sampai menjuntai ke lantai. Makanan-makanan berserakan di mana-mana. Baik kursi, meja maupun lantai, kotor semua.

“Apa .. setiap hari .. akan begini, sunbae-nim?” tanya pelayan pertama dan kedua lemas.


***** oOo *****



Junpyo melempar kemeja yang berlepotan bekas sarapan ke sofa dan mengantinya dengan hoddy warna abu-abu, setelah itu dia membilah-bilah dalam lemari kemudian menarik keluar sebuah jeans ketat warna hitam dari tumpukan celana lain yang terlipat rapi. Dia berjalan ke tengah ruangan dan membuka celananya. Sesaat apa yang dilakukannya terhenti. Tubuhnya menjadi kaku. Sesuatu teringat olehnya. Dengan cepat dia berpaling ke pintu penghubung kamarnya dengan kamar Jandi. Tak ada tanda-tanda ada orang yang akan keluar dari kamar itu. Tergesa-gesa dia memakai celana jeans yang tadi diambilnya dan menghembuskan nafas lega.

“Huh—ide gila si nenek sihir lambat laun bakal membuatku sinting!!” dengus Junpyo. “Jadi tak punya privasi gara-gara pintu berengsek itu tak berkunci!! Kenapa harus sekamar sementara kami bukan suami istri? Emang sudah gila tuh orang! Heran kenapa bisa sampai keluar dari perut orang itu?!!!” dia mengomel-ngomel sendirian—mencaci-maki Hae Jaeng, ommanya.

Setelah puas, dia menyepak celana kotor di dekat kakinya ke depan sofa. Dia berjalan ke jendela besar di ujung kamar dan melihat keluar. Hari sudah beranjak siang kala itu. Beberapa pelayan tampak sibuk di taman—memangkas dan menyiram tanaman, ataupun menganti beberapa tanaman yang sudah layu dengan yang baru.

Junpyo menghembuskan nafasnya. “Membosankan!!”

Dia berbalik dan berjalan ke pintu penghubung.

Tok .. tok .. tok ….

“Jandya!!”

“Mwo?!!” terdengar sahutan dari kamar Jandi.

“Hmm—begini … ,” Junpyo berpikir sejenak.

“Mwo?!!”

“Kita kan libur seminggu setelah pertunangan kemarin …. “

“Lalu?!”

“Bagaimana kalau kita rundingkan acara selama liburan ini? Mulai hari ini, bagaimana? Ok?” tanya Junpyo dari balik pintu.

“Memangnya apa yang akan kau lakukan?” Jandi balas bertanya.

“Nonton! Hari ini aku pingin nonton. Ada sebuah film yang ingin kutonton lama sekali tapi aku tak punya waktu. Aku akan menyuruh Mr. Jung menyiapkan bioskop pribadiku sekarang juga!”

“Tak bisa!!!” teriak Jandi. “Hari ini aku ada acara lain!”

“Mwo?!!” Mata Junpyo terbelalak lebar. “HEY—GEUM JAN DI!!” Buk, buk, buk, .. digedornya pintu itu keras-keras. “Keluar!! Kita bicarakan secara langsung. Aku paling benci berbicara dengan dilapisi dinding seperti ini!!!”

Drekkk, Junpyo mundur selangkah. Pintu penghubung tersebut dibuka dari dalam. Seraut wajah datar langsung menatapnya dengan pandangan menusuk.

“Ini pintu, bukan dinding!” kata Jandi dengan nada mendesis.

Tubuhnya menegak. Dengan ekspresi dingin dia melewati Junpyo. Mulut pemuda itu melebar perlahan-lahan.

“Yaa—mau ke mana?” Junpyo segera mengejar Jandi yang sudah berganti pakaian dengan gaun pendek yang teramat manis.


Jandi berdecak tanpa berpaling. “Bukan urusanmu!!” katanya sambil berjalan kearah pintu keluar satu-satunya dalam kamar itu.

“Yaa—Geun Jan Di!!” teriak Junpyo.

Namun Jandi tetap tak mengubrisnya. Dia sudah membuka pintu dan berjalan keluar. Junpyo mengerutu kesal sambil mengejar keluar. Segera disambarnya lengan Jandi. “Mau ke mana, kataku?!!”

“Sudah kubilang bukan urusanmu!!” Jandi mengibas tangan Junpyo dengan kasar. “Aku punya hak untuk ke manapun juga. Tak perlu melapor padamu!!”

“Kau tunanganku!!” jerit Junpyo sampai suaranya parau.

“Tunangan?!” Jandi tertawa hambar. “Lalu apa masalahnya?” lanjutnya dengan sikap menantang. “Jangan lupa pertunangan ini hanya palsu belaka, Junpyo-ssi! Hanya sementara dan akan berakhir dalam waktu setahun. Kita punya alasan sendiri-sendiri mengapa menerima ide gila tentang pertunangan ini. Jadi kita tak punya ikatan apapun yang tak boleh dilanggar. Selama aku dan kau tak melakukan sesuatu di luar batas yang bakal mencemarkan nama baik keluarga, semua sah-sah saja!”

“Justru itu … ,” kata Junpyo dengan nafas agak memburu. “Aku khawatir kau bakal melakukan sesuatu yang akan mencemarkan nama baik Goo .. “

“Mwo?!” Mata Jandi terbelalak lebar. Pemuda ini makin menjengkelkannya. Tampang Jandi mengeras.Dengan sekuat tenaga didorongnya pemuda itu sampai mundur beberapa langkah. “Aku ada janji dengan Jihoo sunbae dan Yijeong, puas?!!”

“MWO?!” Junpyo terbeliak. “Kau janji keluar bareng pria lain di hari pertama pertunangan kita?!! Dua pria sekaligus?!!”

“Apa maksud pertanyaanmu?” tanya Jandi murka. “Kau mengenal mereka dengan baik. Mereka sahabat-sahabat kita, Goo Jun Pyo-ssi. Apalagi Yijeong—kita mengenalnya sejak kecil. Bagaimana mungkin kau berpikir seperti itu terhadapnya? Apa kau tak malu? Lagian, .. sekali lagi—pertunangan ini palsu! Kau tak perlu berlagak perduli begitu. Dasar, kau ini memang tak pernah suka melihatku senang!!!”

“Bukan begitu!!” bantah Junpyo kalang-kabut. Perkataan Jandi membuatnya sadar dari sikapnya yang tak masuk akal. “Aku … , hanya saja jika kau pergi, bagaimana denganku? Apa yang harus kulakukan? Di rumah, sendirian?”

“Aishh—“ dengus Jandi kesal. Tangannya memukul udara. “Kau kan bisa menelepon teman-teman wanitamu yang seabrek itu. Mau model, artis, atau para konglomerat, tinggal kau pilih aja. Apa masalahnya?”

“Aishh—“ balas Junpyo. “Memangnya kau anggap aku ini apa?” serunya marah.

“Playboy—of course!!” Jandi melewati Junpyo. “Aku sudah terlambat. Nggak punya waktu berlama-lama denganmu. Kau nonton aja sendiri. Kalau tidak—ajak para pembokat menemanimu buat nonton bersama ..”

Junpyo memutar tubuhnya. Sosok Jandi sudah menghilang di tikungan tangga yang menurun ke lantai bawah.

“YAA—GEUM JAN DI, TUNGGU DULU!!”

Junpyo mengejar Jandi sampai di anak tangga pertama. Dia melihat Jandi sudah menapakan kaki di lantai bawah. “AKU IKUT DENGANMU!!” serunya sambil berlari turun.

Jandi berpaling kearahnya. “Tak bisa! Kau di sini saja!!” balasnya dengan mata mendelik.

“Nggak mau!!” Junpyo mengeleng keras-keras. Sekarang dia sudah sampai di depan Jandi.

“Persetan!!” teriak gadis itu garang. “Awas kalau ketahuan kau mengikutiku!!” sambungnya dengan nada mengancam.

“Yaaa—“

“Awas!!” Jandi mengangkat tinjunya. “Aku sungguh-sungguh Goo Jun Pyo. Jangan mengikutiku. Jika kau melakukannya, aku benar-benar akan murka!!”

“Jandya .. “

“Segitu saja.” Jandi mengibaskan tangannya. Dia memutar badan, tapi hanya dalam hitungan detik dia berbalik lagi. Mendadak dia tersenyum. “Selamat bersenang-senang, uri Junpyo sayang .. ,” katanya sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Aishh—“ jerit Junpyo.

Jandi tertawa terbahak-bahak. Dia melambai pada Junpyo dan mengerak-gerakan tangannya ke kedua arah—tampak sangat santai dan terbebas dari tekanan. Bahkan dia bersenandung kecil ketika melintasi ruangan itu. Sekarang hanya tinggal Junpyo yang mengerutu sendiri di tempatnya.


***** oOo *****



”Sunbae … Yijeong-a .. ,” sapa Jandi begitu sampai di restoran yang sudah dijanjikan. Dia melambai-lambaikan tangannya ke dalam ruangan lewat pintu yang sudah dibuka seorang pelayan. Wajahnya berseri-seri. “Hy .. “

Pelayan pria berpenampilan formal itu kemudian menyilahkannya masuk ke dalam ruangan. Baik Jihoo dan Yijeong sudah berada dalam ruangan itu. Jandi membungkuk pada pelayan tadi.

“Ghamsamida .. “ Kemudian dia masuk ke dalam ruangan khusus itu.

Jihoo dan Yijeong berdiri secara bersamaan dari kursinya. Mereka saling berpandangan selama beberapa detik. Ada sinar tak senang terpancar dari mata mereka. Kemudian mereka berjalan ke kursi yang belum diduduki dan menariknya berbarengan. Sekali lagi pandangan mereka bertemu—penuh ancaman.

“Duduklah Jandiya .. ,” kata mereka bersamaan.

Langkah Jandi tersendat. Diliriknya kedua pemuda itu silih berganti. Mengapa dia merasakan atmosfir nggak enak dalam ruangan ini?

“Gumawo … “ katanya pelan.

Jandi menjatuhkan diri di kursi itu dan mengigit bibirnya. Jihoo dan Yijeong melepaskan pegangannya pada kursi Jandi, kemudian kembali ke tempat masing-masing. Mereka masih saling menatap ketika sudah duduk berhadapan.

“Jandiya …. ,” panggil Yijeong.

“Hah?” Jandi terperanjat. “Ne?”

“Kenapa begini?”

“Mwo?” tanya Jandi tak mengerti.

“Kau dan Junpyo! Aku mendengarnya dari tuan Son begitu mendarat di bandara pagi ini … “

“Oh—“ Jandi membuka mulutnya.

“Benar kabar ini?”

Jandi mengangguk pelan.

“Aku juga kaget setengah mati. Pekerjaanku di New York membuatku kehilangan berita-berita di sini. Ditambah pertunangan kalian tak tersebar luas. Aku juga baru mengetahuinya kemarin malam. Lewat seorang karyawan Shin Hwa. Tapi kau dan Junpyo-ssi—kedengarannya sangat mustahil .. ,” sela Jihoo.

Jandi berpaling padanya. “Ya, aku tahu .. “

“Kenapa tak memberitahuku? Apa ada masalah dibalik semua ini?”

“Anhi sunbae .. ,” Jandi mengeleng pelan. “Hanya keputusan keluarga kami ..” katanya berdusta. Ya, tak ada gunanya membicarakan masalah Jaekyung pada mereka. Baik Jihoo maupun Yijeong tak akan mengerti. Mereka juga tak mengenal Jaekyung jadi percuma saja.

“Hanya itu? Aku tak percaya!” sela Yijeong. Dia menatap Jandi dengan pandangan menyelidiki. “Jika benar hanya keputusan keluarga, kalian pasti sudah membantahnya habis-habisan. Aku sangat mengenalmu dan Junpyo, Jandiya. Tak ada yang bisa memaksakan kehendak pada kalian, apalagi masalah pertunangan sebesar ini. Tidak juga madam Kang. Aku ingat bagaimana kalian memberontak keras waktu beliau bergurau mengatakan bahwa kalian sangat cocok satu sama lain beberapa tahun yang lalu .. “

Jandi diam seribu bahasa.

“Pasti ada masalah lain. Benar kan?”

“Jangan mendesak-ku, Yijeong-a … ,” sahut Jandi lemah. “Biarpun aku menjelaskan semuanya, kau tak akan mengerti. Kau juga akan menganggapku gila—aku yakin itu. Lagipula .. pertunangan ini hanya berlangsung satu tahun. Tak akan lama … “

“Jandiya, aku akan senantiasa membantumu—berada di sisimu. Kau tahu maksudku kan?” Mendadak suara Yijeong melembut.

Mulut Jandi terbuka perlahan—mengangga. Apa maksud Yijeong? Mengutarakan …. Belum habis pikirannya, suara Jihoo terdengar.

“Begitu juga denganku, Jandiya. Walaupun perkenalan kita belum lama tapi … perasaanku padamu berbeda. Kau … melebihi semua wanita yang pernah kutemui. Kau mengerti aku—kau memahamiku. Berada di sampingmu membuatku tenang dan nyaman … “

Apa-apaan kedua pria ini?![/b] Mata Jandi terbelalak lebar.

“Jandiya … “

Tiba-tiba Jihoo memegang tangannya.

“Aku bersedia menunggumu. Setahun—setelah kau terlepas dari semua ikatan dengan Junpyo, kita mulai hubungan ini, ya?”


“Jandiya … “

Jandi segera berpaling kearah sebaliknya. Matanya masih terbeliak lebar saat itu. Apalagi Yijeong juga meraih tangannya. Jandi memperhatikan dengan ekspresi ngeri yang teramat sangat. Mimpi apa dia tadi malam sampai kedua pria ini akan mengutarakan perasaan kepadanya dalam waktu bersamaan? Apa yang harus dilakukan?

“Aku lebih memahamimu Jandiya .. ,” ujar Yijeong sambil mendelik kearah Jihoo.

“Tapi hobi kita sama, Jandya .. ,” Jihoo membalas tatapan Yijeong tajam-tajam. “Sebuah hubungan bisa terjalin baik jika sepasang kekasih mempunyai topic yang sama buat dibicarakan … “

“Tapi terkadang akan membosankan .. ,” desis Yijeong. “Topik baru jauh lebih menarik.” Kemudian dia berpaling pada Jandi. “Aku bisa mengajarimu hal lain, Jandiya .. “


“Mempelajari sesuatu yang tidak kita sukai sama saja membuang waktu sia-sia … ,” ujar Jihoo santai. “Lebih baik konsentrasi ke sesuatu yang benar-benar kita cintai .. “

“Siapa bilang?” seru Yijeong. “Ilmu pengetahuan tuh tak mengenal … “

Brakk,

“Cukuppp!!” Jandi mengebrak meja. Dia meloncat berdiri sambil menutup telinga rapat-rapat dengan sepasang tangannya. “Kalian berdua—saling menyahut silih berganti, tak karuan!! Bisa mempertimbangkan perasaanku nggak? Apa yang kupikirkan dan apa keputusanku?!!”

“Jadi?!!” Kedua pria itu menatapnya secara bersamaan, penuh harap—menunggu jawaban darinya.

Jandi tertegun. Tangannya diturunkan perlahan-lahan. Matanya berkejap-kejap, tak tahu harus bagaimana.

“Jandiya?!!”

“A .. aku … aku .. tak tahu … ,” jawab Jandi serba salah. Pandangannya beralih ke segala penjuru—tak menentu. Untuk pertama-kalinya dia menerima pengakuan dari pria—dua orang sekaligus? Wajar jika dia kebingungan begitu.

Gelabakan, Jandi meraih tas ranselnya. Dia mendorong kursi yang tadi didudukinya ke belakang, kemudian bergegas lari ke pintu.

“JANDIYA!!” Teriak Jihoo dan Yijeong.

“A .. aku .. akan memikirkannya dulu. Sampai ketemu lagi .. ,” dengan gugup Jandi membuka pintu. Begitu sampai di lorong luar, dia melongok kembali ke dalam ruangan. “O ya, aku tak makan siang sama kalian hari ini … hmmm—aku pergi dulu, anyong … “ Dia membungkuk kemudian berlari dari tempat itu.

Jihoo dan Yijeong saling berpandangan. Kemudian mereka mencibir bersamaan.


***** oOo *****



”Nyonya muda … “

Dua orang pelayan menyambut kepulangan Jandi.

“Anyong .. ,” Jandi membalas dengan nafas tersengal-sengal.

“Ada apa, nyonya muda?” tanya salah seorang dari mereka khawatir. “Ada yang mengejar nyonya? Nafas nyonya memburu begitu?”

Jandi mengelengkan kepalanya. “Anhi! Aku hanya … hanya melihat kecoa di luar tadi … “

“KECOAAA??!!” jerit para pelayan histeris.

Jandi segera mengangkat tangannya. “Sudah pergi kok .. “ katanya sambil tersenyum menenangkan. Kayaknya alasannya itu keterlaluan.

“Oh—“ kebisingan tadi berangsur-angsur mereda.

“Aku mau istirahat sekarang .. ,” kata Jandi sambil berjalan kearah tangga. “O ya, tolong siapkan makan siangku. Aku tak sempat makan tadi.”

“Ne … “

Jandi berhenti di anak tangga paling tengah. Dia menoleh pada para pelayan. “Apa Junpyo berada di kamarnya?”

“Anhi, nyonya muda. Doronim keluar sesaat setelah kepergian nyonya .. “

Jandi mengangguk. “Araso-yo.” Kemudian dia tersenyum. “Gumawo. Aku akan turun ke ruang makan sepuluh menit lagi .. “

“Ne … “


***** oOo *****



Jandi membuka pintu kamarnya—yang benar, kamarnya dan kamar Junpyo. Kamar itu sudah tertata rapi sekarang. Selimut terlipat di tengah ranjang, pakaian kotor yang semula berserakan di sofa sudah disingkirkan dan gorden jendela sudah diganti dengan yang baru. Jandi masuk ke dalam ruangan sambil menekan tombol lampu yang ada di dinding.

Klik … lampu kristal besar di langit-langit kamar tak menyala. Alis Jandi berkerut. Walaupun saat itu hari masih siang tapi ruangan tersebut termasuk redup sehingga memerlukan cahaya tambahan. Jandi menekan sekali lagi. Tetap tak menyala. Jandi mengulanginya lagi, lagi dan lagi. Sama saja.

“Bola lampunya terbakar?” Dia memicingkan mata ke lampu kristal di atas.

“Mungkin saja … ,” dia menjawab sendiri.

Lalu Jandi mengangkat kursi yang terletak di dekat meja teh, membawanya ke tengah ruangan—tepat di bawah lampu kristal tersebut. Setelah itu dia berdiri di atasnya. Tangannya berusaha menjangkau bola lampu yang terpasang tinggi di atas, tapi tak berhasil. Sebagaimanapun kerasnya usahanya, sampai berjinjit, tetap tak teraih. Menyentuh saja tidak. Jandi menghembuskan nafasnya.

“Sial!!”

Dia turun dari kursi dan mengamati sekelilingnya. Apa akalnya sekarang? Jandi berjalan ke meja teh dari kayu di sudut kiri ruangan kemudian menariknya ke dekat kursi tadi. Dia menaruh kursi itu di atas meja teh lalu memanjat naik. Dia mengangkat tangan. Yup, sekarang tangannya berhasil mengapai bola lampu.

“Apa yang kau lakukan?!!”

Brakk, kursi yang diinjak Jandi agak oleng ke samping. Gadis itu terperanjat dan segera mengatur keseimbangannya. Tangannya mengelus-ngelus dada begitu kursi tadi berhasil diundur ke posisi semula.

“Yaa—Goo Jun Pyo—mengejutkan saja!!” jerit Jandi.

“Apa yang kau lakukan?!” Junpyo mengoyang kursi yang diinjak Jandi.

“Yaa—“ protes gadis itu dengan wajah pucat. “Hentikan ulahmu!!”

“Turun sekarang juga!!” bentak Junpyo. “Berbahaya tahu? Jadi cewek kok manjat-manjat kayak monyet!!”

“Bola lampumu mati!!” sahut Jandi dari atas.

“Mwo?” mata Junpyo terbelalak lebar. “Yaa—kau kan bisa nyuruh para pembantu mengantinya. Apa gunanya mereka jika masalah sekecil ini saja harus kau sendiri yang melakukannya?!”

“Mereka tak tahu .. ,” bela Jandi. “Lagipula ini masalah kecil. Kau sendiri juga bilang begitu. Aku bukan orang jompo jadi bisa melakukannya sendiri … “

“Turun kataku!!!”

“Tunggu sampai kulepas bola lampu ini!”

“Turun!!” Junpyo kembali mendorong kursi penyangga tubuh Jandi.

“Yaaa—!!!”

Salah satu kaki kursi meluncur keluar dari meja penyangganya. Alhasil, badan kursi tersebut oleng dan beserta bebannya, si Jandi, terpelanting ke belakang.

“AWASSS!!!”

Hupp,, Junpyo berhasil menangkap tubuh Jandi.

Sementara brakk .. kursi tadi terhempas ke lantai.

Junpyo dan Jandi bergulingan di atas lantai sampai terhenti dengan posisi Junpyo menimpa Jandi dari atas. Tangan kanan Junpyo menyangga kepala Jandi sehingga tak berbenturan langsung dengan lantai.

“Gwencana?” tanya Junpyo khawatir.

Jandi membuka matanya yang tadi terpejam erat. Dia menghela nafas berat. “Ne .. “

“Hhh—syukurlah .. ,” Junpyo bernafas lega. Kemudian dia melanjutkan, “Kau—lain kali, jangan sebodoh itu lagi!!” katanya dengan nada mengomel.

“Mwo?” mata Jandi terbeliak lebar. Ketakutannya tadi sirna begitu saja melihat tampang menjengkelkan dari Junpyo.

“Bukankah begitu? Siapa suruh kau sok tahu pakai mengantikan pekerjaan tukang lampu di rumah ini?”

“MENYINGKIR DARI TUBUHKUUUU!!!!” Teriak Jandi di gendang telinga Junpyo. “KAU YANG BEGO, TOLOL, PABOOOOOOOOOO!!!!”

Bukkkk, Jandi mendorong Junpyo keras-keras sampai terhempas ke lantai.

“JANGAN SEKALI-KALI MENYENTUHKU LAGI!!”

“Yaa—jelek-jelek, oh anhi—“ Junpyo mengeleng sambil meringis kesakitan. Punggungnya sukses berbenturan dengan lantai marmer akibat dorongan tiba-tiba dari Jandi. Dia melanjutkan, “ .. maksudku, ganteng-ganteng begini, aku penolongmu tahu?”

“Tapi kau juga yang hampir mencelakaiku!!” Jandi beranjak bangun dari lantai.

“Yaa—tak menolongku? Punggungku sakit nih!!” Junpyo mengulurkan sepasang tangannya pada Jandi dengan nada memelas.

“Huhh—mengesalkan!”

Jandi meraih tangan Junpyo dan berusaha menariknya berdiri. Tapi dia terkelabui. Junpyo segera menyentak lengannya sehingga tubuhnya tertarik dan mendarat di atas tubuh Junpyo.


“Ha .. ha .. ha .. ,” Junpyo tertawa puas.

“Yaa—Goo Jun Pyo!!!” Jandi berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Junpyo.

“Ini hukumannya bermain-main dengan tuan muda Goo Jun Pyo, uri Jandi sayang … “ Teriak Junpyo kesenangan sendiri terhadap kemenangannya—dikira kemenangannya padahal ….

Plop, tiba-tiba Jandi mengarahkan telunjuknya ke mata Junpyo.

“Mampus kau!!”

“AKHH—GEUM JAN DIIIIIIIIIIIIIII!!!!!”

Junpyo segera menutup wajahnya dengan sepasang tangan buat menghindari serangan Jandi. Tanpa membuang peluang besar ini, Jandi segera beranjak bangun dan melarikan diri ke kamarnya. Brakk, pintunya ditutup dengan keras. Tinggal Junpyo yang masih terbaring di lantai. Wajahnya mengerut.

“Aishhh—tak mungkin kalah terus!!”              

      
***** oOo *****
« Last Edit: December 05, 2010, 03:38:22 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

fara

  • Guest
Gomawo mi udh diupdate [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
junpyo sama jandi makin ngga akur aja sampe2 lempar-lemparan makanan [laughing] [laughing] [laughing]
trus pas scene yg jandi ketemu ma jihoo dan yijeong jg lucu bgt mi mereka sampe berebutan jandi gitu hehehehehe...

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Gomawo mi udh diupdate [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
junpyo sama jandi makin ngga akur aja sampe2 lempar-lemparan makanan [laughing] [laughing] [laughing]
trus pas scene yg jandi ketemu ma jihoo dan yijeong jg lucu bgt mi mereka sampe berebutan jandi gitu hehehehehe...
iya si jihoo ama jiyeong emang udah suka jandi. ingat nggak wkt di rumah sakit, mereka udah perang mata, saling melirik tajam. si junpyo mesti hati2 nih,, tar tikusnya dicuri orang [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline kelinci_hilang

  • Senior
  • ****
  • Posts: 518
    • View Profile
Pertanyaanya sekarang cuma satu [hmpfh] Kemanakah tuan muda Goo Jun Pyo ketika Nyonya muda Geum Jandi bertemu dgn Yijeong dan Ji hoo? [hmpfh] [hmpfh] [rofl]

Offline kelinci_hilang

  • Senior
  • ****
  • Posts: 518
    • View Profile
Pertanyaanya sekarang cuma satu [hmpfh] Kemanakah tuan muda Goo Jun Pyo ketika Nyonya muda Geum Jandi bertemu dgn Yijeong dan Ji hoo? [hmpfh] [hmpfh] [on] [rofl] jangan-jangan ngikutin dan mematamatai Jandi lagi [on] [on]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Pertanyaanya sekarang cuma satu [hmpfh] Kemanakah tuan muda Goo Jun Pyo ketika Nyonya muda Geum Jandi bertemu dgn Yijeong dan Ji hoo? [hmpfh] [hmpfh] [on] [rofl] jangan-jangan ngikutin dan mematamatai Jandi lagi [on] [on]
no, si jp keluyuran ama teman modelnya yg lain [sweat] [sweat] mana berani dia memata2i jd setelah diancam bgt ama jd [hmpfh] [hmpfh] wlp galak, dia kan takut ama tendangan berputar jd [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline el_minoz

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
  • upssss.....
    • View Profile
thanxxxx momm dah d update
walaupun kudu nunggu berabad" wkwkwkwk

wah kangen neh liat jandi n junpyo berantem!kn udah lempar"an makanan,next chap pukul"an pake guling y mi!biar kayak lomba 17'an hoaha9

wah jandi d tembak 2 co sekaligusss!coba junpyo tahu pasti seruuu....
harus buat junpyo cembokur truzz y mi!bales dendam cz dah manfaatin jandi dulu y!hoaha9

d tunggu lanjutannya wkwkwkw n smoga lancar ide y so g perlu nunggu se abad lg (lebay.com)hmph..hmph

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
thanxxxx momm dah d update
walaupun kudu nunggu berabad" wkwkwkwk

wah kangen neh liat jandi n junpyo berantem!kn udah lempar"an makanan,next chap pukul"an pake guling y mi!biar kayak lomba 17'an hoaha9

wah jandi d tembak 2 co sekaligusss!coba junpyo tahu pasti seruuu....
harus buat junpyo cembokur truzz y mi!bales dendam cz dah manfaatin jandi dulu y!hoaha9

d tunggu lanjutannya wkwkwkw n smoga lancar ide y so g perlu nunggu se abad lg (lebay.com)hmph..hmph
thanks udah dibaca [hmpfh] ide gw lancar kok, cuma males aja ditumpahkan ke tulisan [hmpfh] [hmpfh] sip deh soal pukul2an pakai guling, bakal gw petimbangkan buat chp2 selanjutnya [lovestruck] [lovestruck] .. jp sih always cembokor di UL [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

fara

  • Guest
Gomawo mi udh diupdate [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
junpyo sama jandi makin ngga akur aja sampe2 lempar-lemparan makanan [laughing] [laughing] [laughing]
trus pas scene yg jandi ketemu ma jihoo dan yijeong jg lucu bgt mi mereka sampe berebutan jandi gitu hehehehehe...
iya si jihoo ama jiyeong emang udah suka jandi. ingat nggak wkt di rumah sakit, mereka udah perang mata, saling melirik tajam. si junpyo mesti hati2 nih,, tar tikusnya dicuri orang [hmpfh] [hmpfh]
iya mi si junpyo mesti hati2 nih soalnya saingannya banyak trus jihoo & yijeong kan jg ngga kalah ganteng dan tajir dari junpyo. Makin kalang kabut dah junpyo [hmff] [hmff] [hmff]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Gomawo mi udh diupdate [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
junpyo sama jandi makin ngga akur aja sampe2 lempar-lemparan makanan [laughing] [laughing] [laughing]
trus pas scene yg jandi ketemu ma jihoo dan yijeong jg lucu bgt mi mereka sampe berebutan jandi gitu hehehehehe...
iya si jihoo ama jiyeong emang udah suka jandi. ingat nggak wkt di rumah sakit, mereka udah perang mata, saling melirik tajam. si junpyo mesti hati2 nih,, tar tikusnya dicuri orang [hmpfh] [hmpfh]
iya mi si junpyo mesti hati2 nih soalnya saingannya banyak trus jihoo & yijeong kan jg ngga kalah ganteng dan tajir dari junpyo. Makin kalang kabut dah junpyo [hmff] [hmff] [hmff]
iya [hmff] [hmff] [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun