Author Topic: Unconscious Love ~Chapter 13, update 7 August 2011  (Read 36695 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: Unconscious Love ~sop iler dulu
« Reply #825 on: May 17, 2011, 08:31:04 am »
Mami, ita boong. Gw gak pernah minta update UL kok, gw cuman minta ijin hiatus gw ditambah, itung2 hadiah kelulusan gw *pasang muka polos*
berarti ga perlu update ini ya [what] [what] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]
[head break] [head break] enak aja. UPDATEEEEEEEEE   [hmpfh]
kata si pengemar setia UL aka voldi ga perlu diupdate [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: Unconscious Love ~sop iler dulu
« Reply #826 on: May 17, 2011, 09:03:10 am »
update
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: Unconscious Love ~sop iler dulu
« Reply #827 on: May 17, 2011, 09:29:38 am »
update
ga salah nih [what] [what] gw lagi ga mood gara2 piku toplessnya jiro wang [hmpfh] [hmpfh] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline el_minoz

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
  • upssss.....
    • View Profile
Re: Unconscious Love ~sop iler dulu
« Reply #828 on: May 17, 2011, 09:38:09 am »
cuma mo nambahin para pendemo hi9
update...update..dem..dem..
dem
update...update...update...

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Unconscious Love ~sop iler dulu
« Reply #829 on: May 17, 2011, 10:31:59 am »
update
ga salah nih [what] [what] gw lagi ga mood gara2 piku toplessnya jiro wang [hmpfh] [hmpfh] [laughing]

tapikan udah diobatin ama toplesnya minho CH  [hmff]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: Unconscious Love ~sop iler dulu
« Reply #830 on: May 17, 2011, 09:49:08 pm »
Mami, ita boong. Gw gak pernah minta update UL kok, gw cuman minta ijin hiatus gw ditambah, itung2 hadiah kelulusan gw *pasang muka polos*
berarti ga perlu update ini ya [what] [what] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]
[head break] [head break] enak aja. UPDATEEEEEEEEE   [hmpfh]
kata si pengemar setia UL aka voldi ga perlu diupdate [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

update
ga salah nih [what] [what] gw lagi ga mood gara2 piku toplessnya jiro wang [hmpfh] [hmpfh] [laughing]

update
ga salah nih [what] [what] gw lagi ga mood gara2 piku toplessnya jiro wang [hmpfh] [hmpfh] [laughing]

tapikan udah diobatin ama toplesnya minho CH  [hmff]


hadeuh hadeuh hadeuh,...besok2 gw minta minho ama hye sun foto toples bareng dech biar cepet di up date ama mami [on] [on] [love eyes] [love eyes] [drool] [hmpfh]

yang ada bukan poto doang ni MINSUN langsung bikin dedek  [hmpfh] [hmpfh]




    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: Unconscious Love ~sop iler dulu
« Reply #831 on: May 21, 2011, 12:53:52 am »
gw update ini hari ini [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: Unconscious Love ~sop iler dulu
« Reply #832 on: May 21, 2011, 02:45:04 am »





"Siapa bilang saya takut pada Junpyo?!!!! Jemput saya di hari itu, sunbae!! Dan kuperingatkan sekali lagi. Aku tak pernah takut pada si sok ganteng itu!!

--

"Siapa yang menyuruhmu ke sini?"

--

“So Yi Jeong!! Benar kau, So Yi Jeong?” .. “Yuki—Yukie Hashimoto—ingat? perpisahan di musim panas, semester terakhir sekolah menengah Shin Hwa?”

“Katanya, Junpyo ngamuk-ngamuk setelah kau tak sengaja menjatuhkan bunga Lili yang didapatnya dari seseorang. Dia langsung memutuskanmu saat itu juga, tanpa memberimu kesempatan untuk minta maaf. Benar begitu?”

---

“Kau boleh maksa kembali padanya …Kalau kau memang mau melanggar aturan! Kau dengar perkataan si pembawa acara tadi kan?! Yang berhadapan denganmu sekarang adalah PASANGANMU!!”

--

“Saya punya ide. Kemarilah!”

“Kau yakin?”

“Tentu saja! Kita tak melakukan sesuatu yang melanggar hukum, ataupun menyakiti orang lain. KITA HANYA BERJUANG BUAT SESUATU YANG SEHARUSNYA KITA MILIKI. That’s all … “



****



Junpyo menghempaskan tubuhnya ke kursi. Saat itu, musik yang diputar dari piring hitam di sudut ruangan sudah berhenti, dan para pasangan yang menari sejak beberapa waktu lalu juga sudah kembali ke tempatnya masing-masing.

Tampang Junpyo terlihat kuyu. Dihirupnya sampanye yang tadi disambar dari meja tengah ruangan, sampai habis, .. kemudian menghempaskan gelas yang sudah kosong tersebut ke meja di dekatnya. Setelah itu sepasang tangannya dilipat di depan dada, .. menatap kosong bayang-bayang orang yang berseliweran di depan matanya. Dia menghembuskan nafas kuat-kuat. Pesta ini sudah membuatnya bosan.

“Goo .. Jun Pyo .. “

Tiba-tiba terdengar panggilan dari sampingnya. Junpyo menoleh, dan alisnya berkerut begitu mendapati seorang wanita muda yang cantik dan berpostur proporsional—tidak terlalu kurus dan tidak terlalu berisi, sudah berdiri di sebelahnya. Wanita itu tersenyum. Senyuman yang Junpyo yakin, mampu membuat semua kaum adam bertekuk lutut. Jujur saja, termasuk dirinya sekarang. Namun gengsinya yang sangat tinggi, tidak mengijinkannya memperlihatkan semua itu.

“Ya, kau .. ?” ucap Junpyo.

“Lupa?” Wanita itu agak memiringkan kepalanya, .. sementara senyuman masih setia tersungging di bibirnya yang ranum dan merah muda terpoles lipstick.

“Maaf.” Sesal Junpyo. “Saya rasa, .. belum pernah ketemu nona .. “

“Kau sudah lupa rupanya. .,” kata wanita itu. Untuk kemudian dia mengulurkan tangan pada Junpyo. “Saya Yukie Hashimoto. Apa kau ingat?” ujarnya dengan mata dipicingkan. Berharap mendapat sedikit saja reaksi dari Junpyo.

Tapi nampaknya Junpyo benar-benar sudah melupakannya. Postur jangkung itu sedikit bergerak, namun demikian .. tidak terlihat tercekat, ataupun terkejut dari sikapnya. Gerakannya lebih berupa orang yang melongarkan otot-ototnya yang terasa kaku.

“Yukie Hashimoto?” Junpyo mengulangi nama itu. “Memangnya kita pernah bertemu di mana?” tanyanya kembali, meminta penjelasan.

“Kau benar-benar sudah lupa .. “ Tersirat kekecewaan dalam suara Yuki. “Saya ini mantan pacarmu waktu sekolah menengah dulu. Ingat?”

“Pacar .. ?” Junpyo bergumam pelan. Tampak jelas dia sedang berpikir keras. Beberapa detik berlalu, dan itu sudah terasa sangat lama bagi Yuki. Namun pada akhirnya, Junpyo mengangkat pundaknya. “Sosoengheyo, saya tidak ingat .. “ Kemudian dia berdiri dari kursinya begitu melihat Jandi kembali dari kamar kecil yang berada di luar ruangan itu. “Permisi .. “ Dia mengangguk pendek pada Yuki. Namun sebuah tarikan menghentikan langkahnya.

Junpyo menoleh dengan alis berkerut. “Weeyo?” tanyanya tajam.



Junpyo memang tertarik pada Yuki saat pandangan pertama. Tapi jangan mengira, dengan begitu dia akan melancarkan serangan-serangan mautnya. Keagresifan wanita ini sudah membuatnya muak setelah dia bertanya-tanya terlalu banyak.

“Kau berhutang padaku, ingat?” Yuki berseru tertahan.

“Mwo?”

“Musim panas sepuluh tahun yang lalu .. “ Yuki mendekati Junpyo sampai berdiri tepat di depannya. “Kau memutuskanku tanpa alasan yang jelas .. ,” desis wanita itu lirih. “ .. karna seikat lili. Kau ingat? .. Aku ingin tahu kenapa, Junpyo-a .. “

Mata Junpyo melebar. “Lili?” Dia ingat sekarang.

Kejadian sepuluh tahun yang lalu, hampir mendekati penghujung semester akhir di tahun ajaran kedua Shin Hwa High School yang diikutinya. Kejadian yang membuatnya murka, sangat murka!! Sehingga memutuskan begitu saja cewek yang sudah dikencaninya selama dua bulan. Dia lupa nama cewek itu, .. tapi samar-samar, parasnya yang tirus dan runcing kembali terbayang di pelupuk matanya. Benar, wanita di depannya ini mempunyai kemiripan dengan cewek yang diputusnya waktu itu. Walaupun sekarang tubuhnya lebih padat berisi karena bukan cewek tanggung lagi, persamaan tersebut tidak mungkin dipungkiri. Dia wanita yang sama.

“Tadi katamu—namamu Yukie Hashimoto .. ?”

Yuki mengangguk.

“Saya rasa, saya mengingatnya sekarang .. ,” tukas Junpyo hambar.

“Jinja?” Yuki terlihat bersemangat.

“Ne.” ujar Junpyo.

“Baguslah kau mengingatnya .. “ Yuki merapatkan kedua telapak tangannya hingga menimbulkan bunyi halus.

Saat itu, Jandi sudah sampai di depan mereka dengan raut malas.

“Saya selesai .. ,” ucap Jandi pada Junpyo.

“O—“ Junpyo mengalihkan perhatiannya dari Yuki ke Jandi. “Kenapa tampangmu begitu?”

“Memangnya kenapa?” tukas Jandi. “Saya ingin pulang!”

“Tapi pestanya belum selesai!” sergah Junpyo.

“Masa bodoh!” balas Jandi cuek.

“Geum Jan Di.. ?” Sapaan pelan dan mendadak itu menghentikan pertengkaran kecil antara Junpyo dan Jandi.

“Benar kau Geum Jan Di?” Yuki tersenyum sembari menepuk halus lengan Jandi.

Jandi menatap Yuki. Sesaat dia terlihat berpikir. Tidak sampai semenit matanya melebar. “Yukie?!!!” serunya dengan nada melengking. Membuat Junpyo segera menjatuhkan getokan yang cukup keras di batok kepalanya. “Aushh!!” teriak Jandi.

“Kau berisik sekali!” delik Junpyo.

“Emang menganggumu?!!” balas Jandi tidak mau kalah.

“Ya iya dong!” bentak Junpyo. “Tidak hanya mengangguku. Tapi menganggu tamu-tamu yang lain!”

“Huh—“ Menyadari kesalahannya, Jandi segera memonyongkan bibirnya.

“Sudah tahu kesalahanmu?” ejek Junpyo.

“Ne!!” teriak Jandi. “Tapi tetap aja kau salah sudah mengetok kepalaku!” Tanpa memberi kesempatan Junpyo untuk menyadari tindakan selanjutnya, Jandi melayangkan kepalan mungilnya di jidat Junpyo. “Rasakan .. ha .. ha .. “ Jandi bersorak-sorak kegirangan melihat tampang menciut Junpyo.

“Yaishh—Geum Jan Di!!!”

“Ha .. ha .. ha .. “ Jandi meleletkan lidahnya.

“Kalian .. ,” suara halus Yuki kembali terdengar. “ .. tidak berubah ya?” Dia tersenyum sambil melirik Junpyo, kemudian ke Jandi, begitu silih berganti.

“Eh—“ Jandi segera mengembalikan sikapnya ke sikap wajar. Dia berdiri tegak ketika menjawab pertanyaan Yuki. “Maksudmu?” Yang berupa pertanyaan daripada jawaban.

Yuki mengeleng. “Tidak apa-apa … “ Kemudian dia beralih pada Junpyo. “Bisa kita bicara sebentar?”

Junpyo mengerutkan alisnya. “Untuk apa?”

“Hanya pembicaraan ringan .. ,” sahut Yuki. “Tidak bolehkah?”

“Saya tidak tertarik .. dan, Aww—“ Belum selesai perkataan Junpyo, kepalan Jandi sudah mendarat di kepalanya. “Aushh—kau ini kenapa sih?!” Dia mempelototi Jandi.

“Seorang gadis minta bicara baik-baik denganmu, kenapa ditolak?” dengus Jandi. “Lagipula kalian sudah lama tidak bertemu. Apa salahnya berbincang-bincang sebentar? Mungkin banyak yang ingin Yuki biacarkan padamu!” lanjut Jandi dengan pandangan tajam ke Junpyo.

Junpyo mendelik. Mulutnya dibuka bersiap membantah, namun Jandi sudah mengalihkan perhatian pada Yuki. “Saya tinggal kalian berdua, Yuki-a. Kalau ada yang tidak dimengerti tanyakan saja padanya … ,” Jandi melirik Junpyo. “Jangan segan-segan. Kalau dia memang sudah melakukan kesalahan, saya tidak akan membiarkannya begitu saja. Dia harus bertanggungjawab .. “

“Kesalahan apa?!!” tukas Junpyo berang.

“Mana saya tahu!” balas Jandi. “Tapi menurut apa yang kudengar sepuluh tahun yang lalu, kau memutuskan Yuki tanpa alasan yang jelas. Karena itu, kau harus menjelaskannya sekarang juga! Tidak ada alasan menghindar .. “

“Mwo?! Kau memerintahku?!” tukas Junpyo tidak senang.

“Tidak!” sahut Jandi sambil lalu. “Kurasa tidak ada seorangpun yang berani memerintahmu. Seperti juga aku, .. sangat sangat malas meladenimu .. “ Setelah menyelesaikan perkataannya, Jandi bergerak menjauhi mereka.

“Yaa—Geum Jan Di!!” teriak Junpyo.

Tapi walau sudah diulang beberapa kali, Jandi tetap tidak menghentikan langkahnya. Gadis itu sampai di deretan kursi sudut ruangan, kemudian menjatuhkan dirinya di sana.

“Huh—“ Junpyo menghembuskan nafas kuat-kuat. Setelah memberikan pandangan mencekik buat Jandi, yang dibalas dengan meleletkan lidah oleh gadis itu, dia berbalik kembali pada Yuki.

“Kau ingin membicarakan sesuatu?” tanyanya datar.

Yuki mengangguk. “Ne .. “

“Berhubungan dengan kejadian sepuluh tahun yang lalu?” lanjut Junpyo.

“Ne .. ,” sahut Yuki lagi.

Junpyo mengangguk pendek. “Okay kalau begitu. … Walaupun, aku benar-benar tidak semangat mengungkitkatnya kembali .. “ Paras ganteng itu terlihat malas. Sesaat kemudian dia melanjutkan lagi, “Ikut denganku ke sana .. ,” katanya sambil menunjuk ke meja yang tersusun minuman-minuman beralkohol.

“Weeyo?” tanpa sadar Yuki bertanya.

“Saya haus, pingin minum .. ,” sahut Junpyo cuek sembari berjalan kearah yang dimaksudnya.

Yuki melongo. Untuk sesaat dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dilihatnya Junpyo meraih segelas sampanye yang berada di susunan paling atas kemudian menegaknya sampai habis. Perlahan gadis itu menghela nafas. Mau tidak mau dia menghampiri Junpyo. Setelah sepuluh tahun, sikapnya yang cuek tetap tidak berubah .. , pikir Yuki sambil mengeleng-gelengkan kepala.


******



Jandi mengerucutkan bibirnya melihat Junpyo berbincang-bincang seru dengan Yuki. Saat itu dua puluh menit sudah berlalu. Dan dari kekakuan, pergaulan kedua orang muda itu terlihat mendapat kemajuan. Junpyo mulai tersenyum sepuluh menit yang lalu, kemudian ditimpali ketawa-ketawa ringan dari Yuki. Jandi melihat semua itu dan mencibir. Lalu dia menyesap sampai setengah sampanye di tangannya.

Tanpa Jandi sadari, Yijeong memperhatikan adegan-adegan tersebut dari kejauhan. Pemuda itu mendesah. Reaksi Junpyo begitu bertemu Yuki sudah diperkirakannya sejak semula, namun sikap Jandi sungguh agak mengagetkannya.

Benarkah dia melihat kekecewaan tersirat dari wajah mungil itu?

Yijeong berharap tidak. Jandi tidak mungkin menaruh perasaan ke Junpyo. Itu tidak mungkin! Mereka sudah berteman sejak lama, dan dia tahu—jika memang Jandi menyukai Junpyo, tidak mungkin hubungan mereka masih seperti ini. Mereka memiliki banyak kesempatan buat bersama, orangtua mereka masing-masing mengijinkannya, dan ini diketahui Yijeong dengan pasti. Madam Kang menyukai Jandi dan sudah menganggapnya seperti putri kandungnya sendiri. Jadi, …kenapa mereka tidak memanfaatkan kesempatan itu jika memang saling mencintai? Jawaban yang paling masuk akal dari semua itu adalah .. Jandi dan Junpyo sama sekali tidak menaruh perasaan apa-apa satu sama lain. Namun, walau begitu .. Yijeong tidak berani memastikannya setelah melihat ekspresi Jandi.

Yijeong menghembuskan nafas perlahan. Setelah meluruskan badannya yang menyandar di dinding ruangan, dia bergerak mendekati Jandi. Tapi langkahnya terhenti begitu melihat Jihoo juga menghampiri Jandi. Alis Yijeong berkerut. Tersirat ketidaksenangan di wajahnya. Ditatapnya Jihoo dengan pandangan menusuk. Tapi itu hanya sebentar. Setelah melirik Junpyo dan Yuki, lalu beralih pada Jandi dan Jihoo, dia memutuskan mengundurkan diri dari ruangan itu buat mencari udara segar.


******



“Jandi-a, kenapa sendirian di sini? Kemana Junpyo?” tanya Jihoo begitu sampai di depan Jandi.

Jandi mengangkat kepalanya yang tadi ditundukan. Menjawab pertanyaan Jihoo, dia menunjuk ke sudut ruangan dengan bibirnya. Jihoo mengikuti arah yang ditunjuk tersebut, dan melihat Junpyo dan Yuki yang sedang berbincang sambil ketawa-tawa kecil.

“Gadis itu .. ,” mata Jihoo menyipit. “Putri dari Tuan Hashimoto, pemimpin sekaligus pemilik Japan’s YS Group … “

“O—“ Jandi segera berpaling padanya. “Sunbae kenal Yuki?”

“Yuki?” Jihoo balik bertanya.

“Dia .. “ Jandi menunjuk Yuki yang sekarang terlihat mendaratkan tangannya di lengan Junpyo. Melihat itu, Jandi segera mencibir.

“Tidak .. ,” jawab Jihoo sembari mengamati reaksi Jandi. Dia merasa ada yang tidak beres, tapi tidak tahu apa itu. “Saya tidak mengetahui namanya. Saya hanya mengetahui parasnya lewat pertemuan beberapa kali dengan ayahnya. Saat itu, Nona Hashimoto juga hadir dalam pertemuan-pertemuan tersebut walaupun tidak secara langsung. Weeyo?”

Jandi mengeleng. “Aniyo. Saya hanya mengira sunbae mengenal Yuki .. “

“Apa Junpyo mengenalnya dengan baik?” Jihoo balas bertanya. “Mereka terlihat akrab .. “

“Ne .. ,” jawab Jandi pelan. “Junpyo dan Yuki pernah pacaran waktu sekolah menengah dulu. Yuki teman sekelasku .. dan Junpyo beberapa tingkat di atas kami .. “

“O—“ Jihoo mengangguk-angguk mengerti. “Jadi, .. kalian semua satu sekolah?”

“Ne.” Jandi tersenyum. Mengingat masa sekolah dulu, membuat semangatnya mendadak timbul kembali. “Satu sekolah tapi tidak satu tingkatan. Saya dan Yuki duduk di tingkat menengah pertama, kelas tiga .. sedangkan Junpyo, begitu juga Yijeong, berada di tingkat menengah atas, kelas dua.”

“Begitu?” Jihoo menimpali sambil menyungingkan senyumnya. “Masa-masa itu pasti menyenangkan ya?” tanyanya lebih lanjut.

Jandi mengiyakan. “Benar.” Lalu dia terlihat berpikir sebentar sebelum melanjutkan perkataannya. “Akan lebih menyenangkan lagi kalau si Junpyo tidak selalu mengusik ku dengan permintaan-permintaannya yang menyebalkan itu .. “

“Menyebalkan?” ungkap Jihoo tidak mengerti. “Maksudmu, dia selalu menyusahkanmu?”

“Bisa dibilang begitu .. ,” sahut Jandi sambil memberenggut.

“O ya—seperti apa itu?” tanya Jihoo tertarik.

“Eh—“ Jandi segera terbungkam.

“Rahasia?” selidik Jihoo beberapa saat kemudian.

Jandi mengangkat bahunya. “Tidak juga .. ,” ujarnya dibuat seringan mungkin. “Hanya saja—saya tidak ingin membicarakan keburukan orang .. “

Jihoo tertawa. “Ya tidak apa-apa kalau begitu .. “

“Miane, sunbae .. “

“Sudah kubilang tidak apa-apa .. ,” tukas Jihoo menenangkan. Ditaruhnya tangannya di pundak Jandi, kemudian menepuknya pelan. “O ya, punya waktu menemaniku ke suatu tempat?” tanyanya kemudian.

“Ke .. mana .. ?” tanya Jandi sambil mengangkat alisnya.

“Jepang.”

“Jepang?!” Mata Jandi membundar.

“Ne, Jepang .. “ Jihoo mengangguk. “Ada perlombaan Ice Skating se-Asia yang diadakan di Jepang seminggu mendatang. Aku akan menghadirinya, selain karna olahraga itu memang kegemaranku, juga untuk mendukung sahabatku semasa kelas junior dulu, yang ikut serta dalam perlombaan tersebut. Aku sudah berjanji untuk memberi dukungan padanya. Bagaimana? Apa kau tertarik?”

“Itu .. “ Jandi terlihat ragu-ragu.

“Kenapa?” tanya Jihoo sambil mengamati gerak-geriknya. “Kau takut tidak diijinkan Junpyo?”

“Mwo?” Kepala Jandi yang tertunduk segera terangkat. “Maksud sunbae?”

“Bukannya kau sedang mempertimbangkan bagaimana caranya bicara pada Junpyo?” Jihoo balas bertanya.

“Mwo?” Jandi melebarkan mata bundarnya. “Kenapa saya harus minta ijin padanya?” Terlihat jelas dari paras Jandi, bahwa dia sangat tersinggung oleh perkataan Jihoo.

“Jinja?” Jihoo tersenyum tipis. “Kalau begitu, kau ikut kan?”

“Eh—“ Jandi tercekat. “Saya .. saya tidak berkata akan pergi .. “

“Jadi?” Senyum Jihoo menghilang. Perlahan-lahan alisnya berkerut. “Apa lagi kendalanya? Setahuku, kau sangat mengemari ice skating . .”

“Memang . .,” jawab Jandi serba salah. Merasakan kekecewaan Jihoo, beserta kebaikan-kebaikan yang sudah diberikannya selama ini, membuatnya tidak tega menolaknya. “Miane sunbae. Saya hanya .. tidak tahu caranya memberitahu Madam Kang. Apa yang harus kukatakan padanya .. ?”

“Bilang saja yang jujur .. ,” tukas Jihoo cepat.

“Eh—“

“Bilang padanya kalau kau ikut denganku ke Jepang buat menonton perlombaan ice skating yang diselenggarakan di sana .. “

“Ta .. tapi .. “ Jandi terlihat ragu-ragu.

“Kalian cuma bertunangan, Jandiya. Bukan menikah!” tukas Jihoo. “Jadi mereka tidak berhak melarangmu ke mana-mana. Lagipula kau hanya menonton perlombaan, bukan melakukan sesuatu yang tidak pantas .. “

“Hm—“ Jandi bergumam pelan.

“Kau tidak bermaksud mengurung diri dalam penjara kan?” selidik Jihoo tajam. “Sadarlah, Jandiya. Beri dirimu kesempatan. Bukan untuk memilih, tapi untuk menikmati hidup ini .. “

“Hm—“ Gadis itu masih termangu di tempatnya.

“Kau agak berubah .. ,” lanjut Jihoo dengan nada yang lebih pelan. “Di mana Jandi pantang menyerah yang kukenal? Kau sembunyikan, atau sudah mati?”

Jandi mengangkat wajahnya dan menatap Jihoo.

“Aku bukannya mau mengurui .. ,” ucap Jihoo. “Ataupun memaksa. Kau sendiri yang bilang, hubungan kalian tidak mungkin. Setelah setahun, semua akan kembali seperti semula. Jadi untuk apa kau mengekang diri?”

“Ehmm—kapan berangkat?” sergah Jandi tiba-tiba.

Jihoo tersenyum. “Empat hari lagi .. “

“Jemput aku saat itu, sunbae .. ,” kata Jandi mengambil keputusan.

“Jeongmal?” tanya Jihoo memastikan. Senyumnya semakin lebar, mengisyaratkan kemenangan. Ternyata sindiran-sindirannya mempan juga.

“Ne!” sahut Jandi. “Akan kunikmati hidup ini seperti saran sunbae. Goo Jun Pyo, atau apapun yang berhubungan dengannya, tidak akan berpengaruh padaku .. ,” lanjutnya dengan tekad bulat.

“Ok. Sunbae akan menjemputmu hari itu, sekitar pukul 10 .. “

“Gumawo .. “ Jandi mengangkat gelasnya, kemudian menghabiskan sisa sampanye yang masih tertinggal setengah.

“Masih mau dansa?” tawar Jihoo.

Jandi mengerang. “Aniyo. Saya ingin pulang saja .. “

“Kuantar?”

Jandi mengangguk. “Gumawo, sunbae “


*****



Di sudut ruangan, sepeninggal Yuki, .. Junpyo mengalihkan pandangannya kearah Jandi berada. Dan masih sempat tertangkap oleh pandangannya Jandi yang sedang tersenyum manis pada Jihoo. Sontak saja tangan Junpyo terkepal. Rasa panas segera melonjak dari perut naik sampai ke hatinya. Emosi yang meluap membuat Junpyo mengerakan langkah lebar-lebar kearah dua orang itu.


******



Jandi baru saja menganggukan kepala menyetujui tawaran Jihoo untuk mengantarnya pulang ketika sebuah tangan kekar tiba-tiba menyambar kasar pergelangan tangannya.

“Akh—Apa-apaan ini?!!” semprot Jandi sambil mengibaskan tangan kurang ajar itu. Tampangnya yang meringgis berubah galak begitu melihat orang yang sudah berdiri di sampingnya. “KAU!!” jerit Jandi seraya menunjuk Junpyo yang menatapnya tajam. “Mau apa?!!”

“Pulang denganku!!” sahut Junpyo tegas. “Sekarang juga!!”

“Mwo?!!” Jandi mendelik. “Kenapa harus pulang denganmu? Bukankah kau datang dengan model itu?” sembur Jandi ketus sembari menunjuk Ha Ji Won yang saat ini sedang menghampiri mereka. Bibir mungilnya memanjang hampir seinci ketika melakukan itu. “Seharusnya kau pulang dengannya!!”

“Junpyo-a .. ,” sapa Ji Won sambil tersenyum manis ketika sudah sampai di depan mereka.

“Pulang kataku!” tukas Junpyo tajam tanpa mengubris Ji Won. Tangannya kembali meraih pergelangan tangan Jandi, namun dengan sigap ditepis gadis itu.

“Tidak mau!!” tolak Jandi mentah-mentah. “Saya pulang dengan sunbae saja! Dan kuperingatkan, jangan sekali-kali menyentuhku!!”

“Mwo?!!” Junpyo melotot. Segera ditariknya tubuh Jandi kearahnya. “Tidak bisa!!” bantahnya keras. “Kau harus pulang denganku!”

“Wee?!!” teriak Jandi.

“Goo .. Jun .. Pyo .. “ Di tengah-tengah pertengkaran sengit itu, Ji Won melerai dengan mengeluarkan suaranya. “Saya sudah sangat capek. Bisakah kau mengantarku pulang?” pintanya halus, seakan takut permintaan itu akan membuat amarah Junpyo semakin meluap.

Dan perkiraannya benar saja. “Kau pulang saja sendiri!!” sahut Junpyo ketus, dan sama sekali tidak memandangnya. Emosi yang meletup membuat pemuda itu tidak mampu berpikir jernih lagi.

Ji Won yang merasa dibentak membelalakan matanya. “Goo Jun Pyo—kau .. ,” tanyanya kaget. “Apa aku tidak salah dengar?”

“Tidak!!” balas Junpyo masih dengan nada yang sama, .. ketus dan panas. Lalu dia kembali meraih tangan Jandi. Kali ini berhasil. Digenggamnya erat-erat pergelangan tangan gadis itu hingga tak berkutik. Sebagaimana kerasnya-pun Jandi memberontak, tetap tidak mampu melepaskan cengkraman Junpyo.

“Yaa—lepas!!” jerit Jandi.

“Shido!!” sahut Junpyo lantang.

Jihoo yang melihat kekasaran Junpyo, berusaha menolong Jandi dengan menyentuh pelan lengan Junpyo.

“Lepaskan Jandi, Junpyo-ssi … Kau menyakitinya .. ,” ujar Jihoo memperingati.

Namun bukan Junpyo namanya kalau dia menyerah begitu saja. Lagipula, keadaannya sekarang sudah seperti kehilangan akal sehat. Dia tidak mengubris Jihoo, malah semakin keras menghentak tangan Jandi.


“Pergi!!” tukas pemuda kriwil itu sambil ‘setengah menyeret’ memaksa Jandi pergi bersamanya.

“Yaa—“ ringgis Jandi.

“Goo Jun Pyo!!” seru Jihoo.

“Bukan urusanmu!” potong Junpyo segera. Dia berpaling dengan cepat kearah Jihoo. “Ini tidak ada sangkutpautnya denganmu! Masalah antara kami bisa kami selesaikan sendiri. Jadi saya harap, anda tidak ikut campur!!” lanjutnya ketus.

Sementara itu, Ha Ji Won memperhatikan dalam diam. Gerahamnya terkatup rapat. Dengan kepalan yang dikepal, dia berbalik dan berlalu dari hadapan mereka dengan langkah lebar-lebar. Kau akan menyesal, Goo Jun Pyo-ssi! sumpahnya dalam hati.


*****



Sementara itu, di seberang ruangan .. Yuki mendekati Yijeong yang memisahkan diri dari keramaian.

“Kenapa termenung seorang diri?” tanya gadis itu dengan nada mengoda.


Yijeong mengangkat wajahnya, kemudian memberikan senyum sekadarnya pada Yuki. “Tidak apa—“

“Tadi saya berbincang ama Junpyo .. ,” kata Yuki sambil menjatuhkan diri di bangku sebelah Yijeong. Dia melanjutkan sambil mempermainkan jemari-jemari lentiknya yang terpoles cat kuku warna pink. “Semula dia masih kesal, .. mungkin karna saya menyinggung peristiwa sepuluh tahun lalu .. “

“O ya--?” Yijeong segera beralih padanya. “Selanjutnya bagaimana?”

Yuki tersenyum. “Setelah saya berjanji melupakan peristiwa itu dan berjanji tidak akan mengungkitnya lagi, akhirnya Junpyo bersedia menerimaku kembali sebagai sahabatnya .. Ya--hanya sekedar sahabat biasa, .. tidak apa la--itu kan sudah permulaan yang baik .. ," ujar Yuki sembari mengedipkan sebelah matanya.

Yijeong menanggapi dengan mengangguk pendek. “Kurasa rencana kita berjalan lancar .. ," ujarnya pelan, .. wine di tangannya diteguknya sampai habis.

Yuki melebarkan senyumnya sambil mengangguk puas. "Ne. Rencana kita berjalan lancar .. ," desisnya penuh kemenangan, .. dan ikut meneguk minuman beralkohol yang sejak tadi dijepitnya di antara telunjuk dan jari tengah.

*****



“Lain kali jaga sikapmu!” ujar Junpyo di sela-sela telinga Jandi begitu mereka sudah berada di luar lapangan hotel Grand Hyatt. Nadanya ditekan sangat dalam sehingga terlihat jelas dia masih kesal. “Jangan sembarangan nyetrum pria lain!” sambungnya sambil mendelik Jandi.

“Mwo?” Jandi berpaling dengan cepat. “Apa maksudmu?” tanyanya sengit.

“Tidak ada!” sahut Junpyo sambil menghampiri mobilnya yang pintunya sudah dibukakan supir. “Saya hanya memperingatimu supaya tidak mempermalukanku .. “

“Siapa yang mempermalukan siapa?” jerit Jandi. Dengan tampang sangar, dia mempelototi Junpyo. “Kau yang memulainya! Nona Ha Ji Won, terus Yuki .. Sekarang kau menyalahkanku mempermalukanmu—hah?”

“Apa aja deh—“ tukas Junpyo malas. Ditekannya kepala Jandi kemudian didorongnya punggungnya hingga masuk ke mobil. “Yang jelas, menjauhlah dari skandal tidak perlu—“ lanjutnya sambil menutup pintu.


*****



Dua hari berlalu dalam kesenyapan, .. tidak terdengar pertengkaran-pertengkaran yang biasanya senantiasa meramaikan Goo's mansion. Selama itu, Jandi tidak mengubris Junpyo. Sekalipun berulangkali pemuda itu berusaha mengajaknya bicara, ataupun melakukan sesuatu buat menarik perhatian dan (menunjukan??!!) penyesalannya? Apa mungkin?

Seperti hari ini, .. Jandi baru saja keluar dari kamar mandi ketika Junpyo sudah memasang tampang manis di depannya.

"Hi, Jandi-ya ... " Junpyo mengerak-gerakan telapak tangannya di depan Jandi. "Mau keluar?"

Jandi mendelik, untuk kemudian mengambil jalan memutar, melewati Junpyo.

Junpyo berbalik. "Yaa--" teriaknya. "Geum Jan Di!! Mau kemana?"

Jandi tidak mengindahkan, .. dengan langkah lebar-lebar, setengah berlari, dia menuruni tangga.

"GEUM JAN DI!!!!"

"TAHAN SUARAMU!! JANGAN TERIAK-TERIAK BEGITU, SAYA BELUM MATI!!" Jandi kembali dengan tampang sangar. "Apa mau mu, Goo Jun Pyo?!!!" tukasnya kasar.

"Saya tanya baik-baik, kenapa nggak jawab?!" dengus Junpyo. "Mau ke mana?"

"Keluar!!" sahut Jandi segera, .. dan teramat cepat.

Junpyo kembali mendengus. Kali ini mengeluarkan nafas lewat hidungnya, .. menghembusnya sangat keras sehingga menimbulkan bunyi yang tidak enak didengar. "Saya tahu keluar! Tapi kemana?"


"Apa urusanmu?!!" tanya Jandi sambil berkacak pinggang.

"Saya ingin tahu! Dan saya berhak tahu agar kau tidak ...

.. mempermalukanmu, begitu?!!!" tukas Jandi, .. memotong perkataan Junpyo dengan segera. Dia mempelototi Junpyo dengan sepasang matanya yang bulat besar.

"Kau sudah tahu!" sahut Junpyo bangga. "Karna itu kuperingatkan, .. "

"Aku malas meladenimu, Junpyo-ssi .. ," potong Jandi cepat. Dia kembali membalikan badan dan meneruskan langkahnya. "Ada urusan penting yang harus kuurus daripada mengubrismu!!"

"Yaa--aku belum selesai!" protes Junpyo sembari memutar badannya. Dilihatnya Jandi sudah sampai beberapa anak tangga di bawahnya. "Dan kau belum bilang mau kemana!"

Jandi tidak perduli, dan tidak menghentikan langkahnya.

"GEUM JAN DI!! TIDAK MAU JAWAB PERTANYAANKU?!!"

"SHIDO!!!" balas Jandi sekeras-kerasnya, .. sampai-sampai dua orang pelayan yang sedang menaiki tangga segera menempelkan diri ke dinding.

Jandi sampai di lantai bawah, dan bergegas-gegas berlalu ke pintu depan, .. meninggalkan Junpyo yang menghentak-hentak kaki di tempatnya.

"Geum Jan Di sialan!! Selalu saja menentangku! Huh--"


*******



"Bagaimana keadaannya, dok?" tanya Jandi begitu memasuki rumah sakit jiwa ‘Seoul’.

Seorang dokter muda beserta dua orang suster tampak berjalan mendahuluinya. “Lebih lumayan, agashi .. ,” sahut dokter muda tersebut.

“Hn—“ Jandi kemudian tidak bertanya lebih banyak lagi.

Mereka sampai di depan sebuah kamar yang lebih persis disebut penjara. Jeruji-jeruji besi yang tinggi dan cukup besar menghalangi langkah menuju ke dalam. Di dalam sana, agak memojok di sudut kamar, terlihat satu sosok tak berekspresi menyandar di dinding dengan pandangan kosong tertuju ke lantai. Tangan dan kakinya terikat kain. Jandi mengernyitkan alisnya. Dia memutar tubuh dan menghadapi tim medis rumah sakit yang sekarang dengan setia menanti di belakangnya.

“Kata anda, dia lebih lumayan?”

Dokter muda itu mengangguk. “Ne, agashi. Sudah jauh lebih baik dari waktu datang pertama kali. Paling tidak, Jaekyung-ssi sudah tidak berteriak-teriak histeris dan memukul orang lagi. Anda tahu sendiri bagaimana parahnya waktu dia dimasukan ke sini?”

Jandi menghela nafas. “Ya, saya tahu dr. Kim .. ,” lalu dia menerawangkan pandangan kepada Jaekyung kembali. Postur kaku yang terlihat seakan tak bernyawa itu tetap tidak bergerak dari tempatnya. “Kira-kira, .. kapan dia akan sembuh, dok?”

“Ini sukar diramalkan, agashi . .,” ujar dr. Kim dengan penuh sesal. “Saya tidak bisa memberitahu waktu yang tepat, .. tapi melihat perkembangannya, jaekyung-ssi pasti mampu berdiri kembali .. Anda tidak perlu khawatir .. “

“Jeongmal?” tanya Jandi.

“Semoga saja .. “ dr. Kim tersenyum menenangkan.

“Mungkinkah .. dalam waktu kurang dari setahun .. ?” lanjut Jandi penuh harap.

“Sosoengheyo, agashi . .” dr. Kim membungkuk sedikit. “Saya tidak bisa memastikannya buat agashi. Penyakit yang diderita Jaekyung-ssi bukan karna stress, tapi penyakit turunan. Jadi saya berharap, agashi bisa bersabar .. “

Jandi mengangguk. Perlahan, dia memutar tubuh kearah Jaekyung, .. lalu berujar pelan, “Andai saya punya waktu sebanyak itu .. “ Lalu bibirnya ditekan, digigit sampai terasa nyeri. Mungkin itu sebagai hukuman buat kesalahan yang dirasakannya selama ini. “Miane, Jaekyung-a .. karna saya, penyakit mu kumat .. Saya berjanji, akan membuat Junpyo minta maaf padamu. Dia harus bertanggungjawab buat kesalahannya. Selama itu, saya tidak akan membiarkan dia .. berkeliaran dengan ‘kesenangan-kesenangannya’ akan wanita .. ,” tekad Jandi dengan mata berkilat, .. tangannya terkepal seiring desahan yang keluar dari mulutnya.


******



Junpyo mengerutu sambil menuruni anak tangga. Waktu itu sudah hampir sore dan kakinya dihentak-hentakan berulangkali ke anak tangga yang tidak bersalah itu.

“Si Geum Jan Di tak tahu diri, jam segini belum pulang! Pasti berkeliaran dengan para pria itu, .. Sudah kubilang berapa kali untuk tidak mempermalukanku! Selalu saja tidak dengar. Sepertinya, sebelum menyiksaku sampai mati, anak itu tidak akan berhenti dengan kelakuan-kelakuannya yang keterlaluan itu .. Selalu menentangku—huhh— “

Langkah Junpyo tercekat di anak tangga paling bawah begitu melihat Mr. Jung melintas di lorong bawah dengan sebuah berkas yang cukup tebal tergenggam di tangannya. Asisten pribadi itu sedang menuju ruang kerja Hae Jeang dengan terburu-buru.

“Mr. Jung!!” tegur Junpyo.

Mr. Jung berhenti tepat di depan pintu ruang kerja Hae Jeang. Dia menoleh, kemudian tersenyum pada Junpyo. “Doronim .. ,” sapa pria itu hormat.

Junpyo menghampirinya dengan kepala terangkat tinggi-tinggi. “Kau sudah pulang, .. berarti .. “ Junpyo mengelus-ngelus dagu buat membenarkan dugaannya.

Mr. Jung melebarkan senyumnya. “Ne, doronim. Kang Hae Jeang-nim sudah kembali dan sekarang berada dalam ruangannya .. “

Junpyo mengangguk puas. “Bagus!” tukasnya seraya mengibaskan tangan di depan Mr. Jung. “Kalau begitu, saya temui dia. Ada yang ingin kubicarakan .. ,” katanya sambil membuka pintu, tanpa mengetuknya lagi.

“Tapi, doronim . .” Mr. Jung mencegahnya dengan cepat. “Hae Jeang-nim sangat sibuk. Beliau sedang menantikan dokumen-dokumen ini buat diperiksa. Saya rasa, beliau tidak punya waktu buat doronim .. “


“MWO?” Junpyo membelalak dengan tangan masih menempel di gagang pintu. “Kau kurang ajar sekali, Mr. Jung. Apa begini cara kerja seorang asisten pribadi? Memprotes perintah majikannya?!!” bentak Junpyo.

“Bukan begitu, doronim .. Hanya saja ..

“Ribut sekali!” teriakan keras memutus perkataan Mr. Jung.

Junpyo dan Mr. Jung menoleh secara bersamaan. Hae Jeang tampak menatap mereka dari balik koran yang dipegangnya. Alis wanita paruh baya itu berkeryit.


“Hae Jeang-nim, .. doronim—dia .. “

Sebelum Mr. Jung menyelesaikan perkataannya, Hae Jeang sudah terburu mengibaskan tangannya. “Kau keluarlah dulu, Mr. Jung .. , dan letakan saja berkas-berkas tersebut di sini, saya akan menandatanganinya nanti .. “

Mr. Jung mengangguk. “Ne, Hae Jeang-nim . .,” lalu dia masuk ke dalam ruang kerja Hae Jeang, .. meletakan dokumen di tangannya, kemudian kembali ke pintu. Dia membungkuk hormat pada Junpyo, .. yang dibalas dengan cuek oleh pemuda itu.


******



Junpyo mendorong pintu sampai terpentang lebar, kemudian melangkah panjang-panjang ke meja kerja Hae Jeang.


"Ada apa?"

Hae Jeang menatap Junpyo, .. seakan menuntut jawaban darinya begitu dilihatnya paras keras putranya tersebut menjadi sangat serius. Sepasang tangan Hae Jeang kemudian menekan daun meja, ... dan alisnya berkerut, .. menyelidik melalui tingkah Junpyo itu.

"Aku mau kembali ke kamarku!!" sahut Junpyo ketus.

"Mwo?!" Hae Jeang melebarkan matanya. "Kenapa?" tanyanya kemudian.

Junpyo mendengus, .. lalu menghempaskan tubuh jangkungnya di kursi di depan Hae Jeang. "Ide gila apa itu?!!" balasnya dengan mata mendelik. "Sekamar dengan Jandi walau belum resmi menikah? Huh--!!"

"Apa salahnya?" tanya Hae Jeang tanpa mengangkat kepalanya. Digesernya berkas yang tadi diletakan Mr. Jung ke pinggir meja, lalu menghadapi Junpyo. "Kalian tidak benar-benar sekamar, apalagi seranjang--" lanjut wanita itu kalem.

"Mwo?!!" jerit Junpyo. "Aush!!" Kepalan tangannya lalu mendarat di daun meja dengan cukup keras, .. membuat Hae Jeang segera meliriknya tidak senang. Dia merasa kelakuan Junpyo sudah di luar batas.

"Jaga sikapmu, Goo Jun Pyo! Begini caranya bicara dengan orangtua?"

Namun, Junpyo tidak menghiraukannya. "Di kemanakan otakmu?!" ujarnya keras dan menantang. "Dengan berbuat begitu, privasiku jadi terganggu, tahu?!!"

"Mwo?! Privasi?!!" Tak terbayangkan melihat Hae Jeang tertawa sengit. "Apa omma tidak salah dengar, Junpyo-a? Kau bicara tentang privasi? .. Memangnya kau pernah protes tentang privasi yang terganggu gara-gara seorang wanita? Bagaimana dengan hubunganmu dengan mantan-mantanmu itu?!!"

"Itu lain!" tukas Junpyo cepat.

"Lain? Apanya yang lain?" tuntut Hae Jeang segera.

Ketegangan semakin mencekam ruangan tersebut. Junpyo menegakan badannya hingga membujur kaku, sedangkan Hae Jeang, mengangkat dagunya dengan pandangan menuntut.

"Pokoknya lain!!" sergah Junpyo akhirnya, .. tanpa berani lagi membalas tatapan Hae Jeang. "Lagipula, .. " lanjutnya ragu-ragu. " .. siapa suruh pintu penghubung dalam kamarku tidak ada kuncinya .. "

"Kuncinya sudah ada dalam kamar Jandi!" sahut Hae Jeang tenang.

"Aish--Di situ letak masalahnya!" Junpyo mengacak-ngacak rambutnya stress. "Kenapa kunci tersebut tidak dipasang di kamarku?"

"Untuk menjaga privasi Jandi!" sahut Hae Jeang cuek.

"Mwo?!!" Junpyo mencondongkan badan ke depan. "Lalu bagaimana denganku?" lanjutnya kesal.

"Kau tidak perlu ... " Hae Jeang mengangkat pundak sambil menarik kembali dokumen-dokumen di atas mejanya, .. kemudian mempelajarinya dengan seksama. Sesekali tangannya membubuhkan tanda-tangan yang diperlukan pada dokumen-dokumen tersebut. "Tidak ada yang akan dirugikan jika Jandi sampai tidak ‘sengaja’ melihatmu .. " Sampai di sini, wanita itu berhenti. Senyum tipis segera tersungging di bibirnya.

"MWO?!! Yaishh!!" Tentu saja perkataan Hae Jeang menimbulkan reaksi besar dari Junpyo. Dia sampai tersentak bangun dari kursi yang didudukinya.

"Sudah! Kembali ke kamarmu sekarang!" Sebelum Junpyo meneriakan protes-protesnya kembali, Hae Jeang sudah mengibaskan tangannya sebagai isyarat tidak ingin diganggu lagi. "Omma harus menyelesaikan pekerjaan ini dan berangkat ke Jepang nanti malam. Jadi Junpyo-a, tinggalkan omma sendiri!"

Junpyo mengatupkan gerahamnya. "Lalu bagaimana dengan perkataanku tadi? Kapan aku dapat pindah kembali ke kamar ku yang dulu?"

"Tidak bisa!" jawab Hae Jeang tanpa menoleh.

"Mwo?!"

"Kamarmu sudah dijadikan perpustakaan, .. jadi terimalah apa adanya!"

"MWOO?!!" jeritan Junpyo melengking tinggi. "Kenapa bisa begitu?!!"

Hae Jeang meletakan dokumen yang sedang dihadapinya, kemudian menatap Junpyo. "Karna ini yang terbaik buat kalian! Sekarang keluarlah! Ingat, selama omma pergi, jangan melakukan yang tidak-tidak. Omma akan meninggalkan Mr. Jung di sini untuk mengawasimu .. "

"Saya belum selesai!"

Hae Jeang mengangkat tangannya. "Cukup!" katanya dengan gaya mengusir. "Omma benar-benar sibuk."

"Huh!!" Junpyo berdiri dari kursi, dan menyepak kaki meja sampai menimbulkan suara berdentam keras, .. lalu dia berputar ke arah pintu dan melangkah keluar.

Hae Jeang mengikuti tingkah Junpyo sembari mengeleng-gelengkan kepala.


********



Jandi menyeret kopernya keluar dari Goo's mansion. Dengan dikejar seorang pelayan muda yang tampak berlari-lari kecil di belakangnya.

“Nyonya muda, biar .. biar saya saja yang bawakan kopernya .. “ Begitu, berulangkali, si pelayan mengajukan permohonannya. Wajah tirus itu terlihat begitu memelas dan pucat. Dia sedang ketakutan.

“Tidak usah .. “ Perkataan itu juga yang terlontar dari bibir Jandi sejak tadi. Tapi, walaupun begitu, senyum menenangkan senantiasa tersungging di bibir mungilnya. “Saya bisa bawa sendiri. Kau kembalilah bekerja .. “

Namun, tindakan Jandi itu tetap tidak berhasil. Pelayan tersebut masih saja terlihat ketakutan. Dengan bersikeras dia ‘merebut’ koper Jandi ‘sehalus mungkin’. “Nyonya .. “

Melihat kekerasan hati itu, dan menyadari dari mana sumber ketakutan pelayan tersebut, .. akhirnya Jandi menyerah. Dia menghela nafas, untuk kemudian menyerahkan koper di tangannya. “Ghamsamida ..”

Pelayan muda itu membungkuk berkali-kali, lalu mendahului Jandi menuju ke halaman depan yang teramat luas dan banyak ditanami bunga warna-warni.

Tepat pada saat itu, sebuah Porche hitam memasuki halaman melalui jalan setepak yang cukup lebar. Pintu dibuka dan Junpyo keluar dari mobilnya. Alis pemuda itu langsung berkerut begitu didapati Jandi sedang berdiri di sana, dengan sebuah koper yang cukup besar dibawakan pelayan.

Dihampirinya Jandi dengan langkah lebar-lebar.


“Mau ke mana?” tanya Junpyo sambil melirik koper di tangan pelayan yang sedang ketakutan setengah mati di tempatnya. Pelayan tersebut menunduk dalam-dalam, tidak berani membalas tatapan murka dari Junpyo.

“Saya mau pergi beberapa hari .. ,” sahut Jandi ringan.

“Pergi?” Kerutan di jidat Junpyo semakin dalam. Dengan kasar direbutnya koper Jandi dari genggaman si pelayan. “Memangnya mau ke mana? Woy—Geum Jan Di! Tanpa seijinku, kau tidak boleh ke mana-mana! Araso?!!”

“Tahu palamu!!” Jandi merebut kembali kopernya, .. hingga membuat Junpyo membelalakan matanya. Dia tidak menyangka Jandi akan bersikap begini padanya. “Aku mau ke Jepang, dan kembali seminggu setelah itu. Jangan sekali-kali mengikutiku, atau kukupas kulitmu!!”

“Mwo? Ke Jepang?” Junpyo makin terlihat tidak senang. “Buat apa ke Jepang? Dan dengan siapa? Kenapa tidak mendiskusikannya dulu padaku—hah? Aku tidak suka ke Jepang, tahu?”

Jandi meredupkan matanya. “Emang siapa yang pergi denganmu?”

“Kau .. “ Junpyo mengangkat telunjuknya, namun segera ditepiskan Jandi.

“Sudah! Masuk sana!” tukas Jandi malas. “Saya sedang menunggu sunbae menjemputku … “

“Sunbae? Yoon Ji Hoo?” tanya Junpyo tak percaya.

“Ne!” sergah Jandi. “Ada yang salah?! Tidak boleh?!!”

“Tentu saja!” sahut Junpyo ketus.

“Kenapa?!!” Karna tidak terima, Jandi membusungkan dadanya.

“Karna .. aku tidak ingin ada skandal .. ,” alasan Junpyo setelah berpikir beberapa detik. “ .. keluyuran dengan cowok lain, dan bukan tunangan sendiri, itu bisa menimbulkan skandal memalukan .. “

Jandi berdecak. “Seperti kau—?”

“Mwo?” Junpyo tersentak. “Yaa—kau,.. bisanya hanya adu mulut mulu!” bentaknya kesal. “Pokoknya, kau tidak boleh pergi dengan Jihoo!!” lanjut Junpyo sembari menarik kerah baju Jandi.


“Yaa—“ Jandi menghentakan tangan Junpyo dari kerah bajunya.

Bertepatan saat itu, mobil yang dibawa supir Jihoo berhenti di depan mereka. Supir tengah baya itu keluar dari mobil dan membukakan pintu buat Jihoo.

“Anyong, Jandiya .. “ Jihoo tersenyum pada Jandi.

Jandi membalasnya dengan senyum lebar.


Dan seperti baru menyadari keberadaan Junpyo di situ, Jihoo memicingkan matanya. “O—Junpyo juga di sini .. “

Junpyo mengatupkan mata hingga segaris. “Ya. Saya kira penglihatan Jihoo-ssi bermasalah hingga tidak melihatku.” Gerutunya kesal. “Padahal posturku satu kali lipat lebih gede dari Jandi ..,” lanjutnya mengomel.

Jihoo mengulum senyumnya. “O—mian, Junpyo-a. Saya tidak bermaksud begitu .. “

“Kau sengaja .. ,” balas Junpyo kembali. Sungguh, hatinya sangat panas sekarang. Bukan saja karna dia tidak dianggap oleh Jihoo, tapi terlebih, Jandi kelihatannya tidak berniat membatalkan rencananya, sama sekali. Gadis itu malah mempelototinya begitu dia berkata-kata kasar pada Jihoo.

“Sudah, sunbae!” tukas Jandi segera. “Jangan digubris si keriting ini! Sebaiknya kita berangkat sekarang, .. nanti terlambat .. “

Dagu Junpyo sudah hampir jatuh ke lantai ketika mendengar panggilan Jandi padanya. Buatnya, itu sudah penghinaan besar. Apalagi diucapkan di depan seorang pria macam Jihoo, .. yang sudah dianggap sebagai rival beratnya. Bukan hanya dalam hal mendapatkan perhatian wanita, .. mengingat paras menawan dan sikap menarik dari Jihoo, .. tapi juga dalam persaingan bisnis, .. karna Jihoo merupakan direktur utama dari Yoon’s Power Korea yang mulai terkenal dan disegani di Korea.

“Baiklah .. ,” jawaban Jihoo mengejutkan Junpyo dari keterkejutannya yang berkepanjangan. Dilihatnya pria berambut pirang tersebut membantu Jandi memasukan koper ke dalam bagasi, kemudian membukakan pintu buatnya. Semua Jihoo lakukan sendiri walaupun supirnya setia menemani dan membantunya setiap saat. Dari situ dapat terlihat, bahwa Jihoo pria sejati. Hal ini membuat hati Junpyo makin panas. Dia juga tidak tahu kenapa.

“Kau nekat pergi?” tanya Junpyo, tajam dan dingin pada Jandi.

“NE!” sahut Jandi dengan sikap menantang. “Memangnya apa yang bisa kau lakukan? Melarangku lagi? Sudah kubilang kau tidak berhak, Junpyo-a .. ,” lanjut Jandi malas. Dia bersungguh-sungguh, .. dia sudah sangat malas dengan sikap dan alasan Junpyo yang dirasanya tidak masuk akal ini. “Tentang kekhawatiranmu—saya jamin, saya tidak akan mempermalukanmu, ataupun nama besar Goo. Kepergianku ke Jepang, real hanya melihat pertunjukan. Tidak lebih dari itu … ,” sambung Jandi dengan nada dibuat lebih halus. Dia tidak ingin mendengar rengekan-rengekan Junpyo lagi.

Junpyo hanya bisa mematung di tempatnya. Nada yang memelan, sangat tidak biasa, .. yang didengarnya tadi seolah mempunyai daya magis. Jandi belum pernah bicara sehalus ini padanya. Jadi ketika Jandi masuk ke dalam mobil, begitu juga Jihoo berikut supirnya, .. dan mesin distarter, kemudian dijalankan, .. Junpyo belum juga sadar dari ketermanguannya. Baru setelah badan mobil yang cukup besar itu sudah berada agak jauh dari pandangannya, dia tersentak kaget.

“Aush!!” teriak Junpyo sembari melayangkan tinjunya. “Tunggu!!”

Junpyo bermaksud mengejar mobil Jihoo, .. namun tepukan halus di pundaknya segera membuatnya berpaling dengan kesal.

“MWO?!!” jerit Junpyo. “Tidak lihat saya sedang sibuk ya?!!!”

“Sosoengheyo, doronim .. “ Orang itu, yang ternyata Mr. Jung, membungkukan badan dengan raut menyesal.

“Tuan Jung?!” Alis Junpyo berkenyit. “Ada apa?” tanyanya dengan setengah mengumpat.

Mr. Jung tersenyum. Dia sadar, kalau sudah seperti ini, berarti perasaan tuan mudanya ini sedang tidak baik.

“Saya datang karna permintaan doronim .. Apa doronim lupa?”

“Permintaanku?” Tanpa sadar Junpyo menyentuh kepalanya. Kemudian mengaruk-garuknya bingung. “Emang aku memintamu ke sini?” Pemuda itu malah balas bertanya.

Mr. Jung melebarkan senyumnya, .. lalu mengangguk halus. “Ne, doronim .. “

“Ada keperluan apa ya?” Bola mata Junpyo berputar ke atas, .. terlihat berpikir keras. Tapi rupanya, peristiwa yang dialaminya barusan sudah membuatnya melupakan segalanya. Setelah—sekitar lima menit berpikir, dia masih juga tidak menemukan jawabannya. Dengan kesal Junpyo mengibaskan tangannya. “Sudahlah! Saya malas berpikir sekarang .. “

Junpyo berbalik ke arah mansion dengan tangan terkepal.


Untuk kesekian kalinya, Mr. Jung tersenyum. Kali ini, sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. Dia kemudian mengikuti langkah Junpyo yang sudah sampai di depan pintu. Tiba-tiba Junpyo berbalik.

“Mr. Jung!!” panggilnya bersemangat.

“Eh—“ Mr. Jung menghentikan langkah seketika. “Dhe, doronim?” tanya asisten pribadi itu kaget.

“Siapkan pesawat pribadiku .. “ Junpyo menyengir lebar. “Kita berangkat ke Jepang sekarang juga .. “  Kepala Junpyo agak tertunduk, .. dengan pandangan tertuju ke depan. Sedangkan senyum tak lepas dari bibirnya, .. tampang itu terlihat puas. Ya, sangat puas dengan rencana yang sedang tersusun dalam otaknya.

“Mwo? Jepang?” Sekarang, Mr. Jung yang dibuat bingung. Alisnya berkerut ketika menatap Junpyo. Raut pemuda itu membuatnya berpikir, pasti ada sesuatu!

“Untuk apa ke Jepang, doronim?” Mr. Jung memberanikan diri bertanya. “Bukankah kita masih ada rapat penting yang mesti dihadiri di sini?”

“Pekerjaan di Jepang lebih mendesak .. ,” sergah Junpyo cepat, .. sembari meneruskan langkahnya, masuk ke dalam rumah.

“Tapi sudah ada Hae Jeang-nim .. “ Mr. Jung masih berusaha membantah. “Beliau sudah lebih dari cukup buat mengurusi bisnis-bisnis di Jepang. Lagipula, Kang Hae Jeang-nim tidak pernah berkata membutuhkan doronim di sana .. “

“Sudah, cukup!!” umpat Junpyo kesal. “Kau sewot banget! Pokoknya siapkan pesawat pribadiku. Untuk masalah di sini, kau urus saja sendiri! Tidak perlu mengikuti ku ke Jepang kalau begitu!”

“Tapi .. “ Mr. Jung memperlebar langkahnya, sampai menghalangi langkah Junpyo. “Hae Jeang-nim meminta saya tinggal buat membantu doronim .. “

“Maka itu ..” Junpyo nyengir lebar. “Kau diperlukan di sini. Tinggal aja .. ,” ujarnya sambil melewati Mr. Jung yang langsung mengangga di tempatnya.

“Doronim!!”

Junpyo mengangkat tangan tanpa menoleh. “Begitu saja! Lakukan perintahku!”

Tidak terlihat oleh Mr. Jung, cengiran di wajah Junpyo semakin lebar.



“Kau ingin mempermalukanku, Jandiya … ?” Junpyo berdecak sambil mengeleng dengan ekspresi mengejek. “Tidak semudah itu … Kau akan mengetahui apa yang akan kulakukan, segera .. dan setelah itu, kau akan tahu .. aku tidak semudah itu dipermainkan! Apalagi olehmu dan lusinan pria itu!”

#gubrakk, Junpyo ngawur ..


********
« Last Edit: May 21, 2011, 02:47:15 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] akhirnya update juga??? ayo Jun Pyo... segera susul jandi ke jepang!!!  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Ajegileeeeeee tom n jerry makin parah aja brantemnya ckckck mas jp mbok ngalah dikit kek sm jandinya jd tukang kuntit de di jepun pst hal2 konyol bakal dilakuin jp hedeh jp2 kpn elu nyadar kalo uda jatcin sm jandi 


ADAM COUPLE SELCA

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
GOO JUN PYOOOOOO ni org pgn gw hammer deh bilang Jandi tkt mempermalukan dirinya, apa kagak kebolak tuh?? JP da cembokur mampus toh ama kdkatan JD and JH.,hehehe. Ayo JP susulin cln bini ke japon tp pake cara halus dunk ke JD biar JD juga dgn senang hati mau ikut pulang,hmf. Mami, tengkyu ya mam udinan di update tp sumpeh ni chap plg gw demen coz JP cembokur JD jg cembokur cuma lom sadar2,hmf


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
GOO JUN PYOOOOOO ni org pgn gw hammer deh bilang Jandi tkt mempermalukan dirinya, apa kagak kebolak tuh?? JP da cembokur mampus toh ama kdkatan JD and JH.,hehehe. Ayo JP susulin cln bini ke japon tp pake cara halus dunk ke JD biar JD juga dgn senang hati mau ikut pulang,hmf. Mami, tengkyu ya mam udinan di update tp sumpeh ni chap plg gw demen coz JP cembokur JD jg cembokur cuma lom sadar2,hmf
elu paling demen ama chp ini, gw plg mampus ama chp ini, soalnya udah lama gw tinggalin [laughing] [laughing]

junpyo kan orgnya gengsian, lagian dia suka pikun, makanya dia blg jandi yg mempermalukan dirinya n bukan sebaliknya [hmff] [hmff] sifat yg satu ini pula yg membuat dia ngelupain kata2 yg pernah diucapkannya ke jandi, yg terus diingat jandi ampe sekrg, hingga dia terus membatasi dirinya dgn jp [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Ajegileeeeeee tom n jerry makin parah aja brantemnya ckckck mas jp mbok ngalah dikit kek sm jandinya jd tukang kuntit de di jepun pst hal2 konyol bakal dilakuin jp hedeh jp2 kpn elu nyadar kalo uda jatcin sm jandi 
junpyo ga perlu ngalah ama jandi,, kan dia kalah terus dari jandi [hmpfh] [laughing] [laughing]


EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
[smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] akhirnya update juga??? ayo Jun Pyo... segera susul jandi ke jepang!!!  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
"yup, siap bos!!" kata Junpyo [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
aduh, tyata gue jadi bosnya junpyo.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]