Author Topic: Unconscious Love ~Chapter 13, update 7 August 2011  (Read 37191 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile





Junpyo bertolak dari Korea dengan jet pribadinya dan mendarat di bandara Tokyo sekitar pukul 4 sore. Dia tersenyum puas dan membusungkan dada begitu melangkah keluar dari bandara. Berhasil mengelabui Mr. Jung agar tetap berada di Korea buat mengurus segala keperluan Shin Hwa untuknya, terus terang saja membuat Junpyo bangga. Dengan begitu, dia tidak perlu disalahkan ommanya, Kang Hae Jeang, buat kenekatannya meninggalkan pekerjaan-pekerjaannya di Korea.

Junpyo tahu kalau Madam Kang sedang mengurus keperluan bisnisnya di negara yang sama, kan?

Seorang sopir keturunan Korea yang telah diperintahkan Mr. Jung untuk menjemput Junpyo, terburu-buru membukakan pintu begitu melihat pria jangkung yang dikenalinya sebagai Junpyo keluar dari pintu utama bandara.

“Apa langsung ke hotel, Tuan Goo?” tanya sopir tersebut setelah Junpyo telah duduk dengan manis di bangku jok belakang.

“Menurutmu bagaimana?” Junpyo balas bertanya dengan juteknya.

Si sopir terpaksa hanya bisa tersenyum memelas. Dengan pelan dia menutup pintu di samping Junpyo. Setelah menaruh bawaan ke bagasi belakang, dia kembali ke kursi kemudi. Sebentar kemudian mesin dihidupkan. Mobil bermerk Mercedes warna abu-abu pekat tersebut meraung halus meninggalkan area parkir bandara.


_________ ~~~ __________

“Saya mau makan .. ,” kata Junpyo tiba-tiba, begitu mobil sudah setengah perjalanan dari bandara menuju hotel.

Pak sopir melirik dari kaca spion di depannya. “Eh—kata Tuan tadi, mau ke hotel dulu?”

Junpyo berkenyit kesal. “Apa saya bilang begitu?”

Sopir malang itu jadi kikuk. “Ta .. tadi Tuan bilang begitu .. ?”

“Saya hanya bilang--‘MENURUTMU BAGAIMANA?’ Saya memberi kesempatan padamu untuk mengambil keputusan, ajushi. Dan sekarang, perutku sangat lapar. Saya ingin makan! … Saya tidak pernah memberi perintah padamu untuk ke hotel dulu—jadi, jangan menyalahkan seolah saya telah melakukan kesalahan besar!” omel Junpyo panjang lebar—tajam dan menusuk. (gw geleng2 kepala deh. Si JP egoisnya ga ketulungan. Kacian dah pak sopir hahaha )

Pak sopir tak bersuara. Selain ekspresi takut yang diperlihatkannya, .. mulut yang agak jontor miliknya itu sampai mengangga lebar. Si ajushi melongo bak kebo bodoh.

“Ajushi!!” tegur Junpyo ketika tidak mendapat respon dari si ajushi. “Bagaimana ini?”

“Eh!” Ajushi terlonjak kaget. Segera saja dia mengalihkan perhatian ke jalan begitu sebuah mobil memotong dari jalur berlawanan, hampir menyerempet mobil mereka. Terburu-buru ajushi meminggirkan mobil ke pinggir jalan dan memperlambat laju mobil tersebut. “Kita tetap ke hotel, tapi makan dulu di salah satu restoran yang ada di sana. Ba .. bagaimana menurut Tuan?”

Saya harus menanyakannya dengan jelas—Tidak boleh terkecoh lagi dengan perkataannya yang ngambang! Ajushi bersumpah dalam hati. Majikan yang satu ini—Labil!

Junpyo berpikir sebentar, .. sampai akhirnya dia mengangkat bahu menyerah. “Terserah .. ,” katanya kemudian, mengambil keputusan dengan sangat terpaksa. Seolah ada pisau tajam ditekankan di lehernya, mengancam supaya dia mengambil keputusan itu.
Tubuh jangkung Junpyo sudah teramat lelah untuk dibuat membantah walau ingin sekali dia melakukannya. Pada saat ini—dia ingin makan sushi. Entah mengapa—hasrat itu tiba-tiba menghantui dirinya. Mengingat mulut Jandi yang dipenuhi makanan yang namanya sushi, Junpyo menelan tertahan. Liurnya hampir saja mendesak keluar dari sudut bibirnya.

“Araso, Tuan Goo .. “

Junpyo memejamkan sepasang matanya.


Dia berusaha mengusir bayangan Jandi dengan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi—sedikit menengadah dan menerawangkan pikirannya ke masalah lain. Jawaban ajushi sangat samar memasuki pendengaran Junpyo, dan sepertinya—tidak tertangkap sama sekali oleh pria jangkung itu.


_________ ~~~ __________

Jandi mengeluarkan bawaan-bawaannya dari dalam koper. Sementara tangannya sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk yang bertengger di atas kepalanya. Jandi habis mandi setelah istirahat cukup lama dalam kamar hotel yang dipesankan Jihoo untuknya.

Jandi meletakan tumpukan pakaian yang terlipat rapi di atas ranjang. Beberapa potong kemeja yang perlu digantung—dibuka dan dikibasnya pelan. Untuk kemudian digantungkannya pada gantungan baju yang diambil dari dalam lemari. Sedangkan keperluan-keperluan kecil lainnya, seperti alat-alat kosmetik, sikat gigi dan obat-obatan ditaruhnya di laci lemari pendek dekat ranjang.

Tidak berapa lama kemudian ketukan di pintu menghentikan kesibukan Jandi.

TOK, TOK, TOK ..

“Jandiya . .” Terdengar panggilan dari luar.

Jandi mengenalinya sebagai suara Jihoo. “Masuk, sunbae .. ,” sahut Jandi sambil memasukan setumpuk pakaian ke dalam lemari.

Pintu kamar Jandi terbuka, dan seraut wajah nongol dari ambang pintu.

“Belum selesai?” tanya Jihoo.

Jandi meluruskan badannya dan memutar tubuh kearah Jihoo. “Sebentar lagi .. ,” katanya sambil tersenyum manis. “Tadi saya ketiduran hingga agak terlambat bangun. Sunbae ada masalah mencariku?”

Jihoo masuk ke kamar Jandi dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa lengan yang menyandar di dinding. “Sudah saatnya makan malam … ,” kata pria itu sambil menunjuk jam kulitnya yang memberi kesan mahal dan antik. “Berapa lama lagi kau siap?” lanjut Jihoo sembari melirik koper Jandi yang hampir kosong.

Jandi ikut melihat ke dalam kopernya. “Mungkin .. lima menit .. ,” jawab Jandi sambil mengeluarkan tumpukan pakaian terakhir. “Saya mesti ganti baju dulu. Emang kita makan di mana, sunbae?—Biar saya bisa menentukan pakaian apa yang harus saya pakai .. “

“Yang casual saja .. ,” sahut Jihoo sambil menyilangkan kakinya. Sedangkan kedua tangannya bertumpu di lengan sofa. “Kita makan jajakan jalanan—Bagaimana?”

“Jajakan .. jalanan?” Jandi menghentikan langkahnya yang hampir mencapai lemari. Dia memutar tubuh kearah Jihoo. Menatap pria itu bersungguh-sungguh. “Sunbae serius?”


“Tentu saja .. “ Jihoo tertawa. “Weeyo? Kau kelihatannya terkejut sekali?”

“Aniyo .. “ Jandi mengeleng dengan cepat. “ .. hanya saja .. “

“Hanya saja?” Jihoo memotong dengan sepasang pupil beriak-riak mengoda Jandi.

“Sa … saya .. “ Jandi melirik gugup. “ .. saya tidak menyangka sunbae .. punya kebiasaan jajan di jalan .. Orang dengan status seperti sunbae—su .. sulit dipercaya .. “ Jandi membuka mulut lebar-lebar.

Tawa Jihoo makin menguasai kamar Jandi. “Saya juga orang biasa, Jandiya. Dulu—sebelum memutuskan kembali ke New York, saya sering makan jajakan jalanan bersama Woobin dan kawan-kawan .. Kau tahu—makanan kecil yang dijajakan di jalan-jalan Seoul tuh sangat beragam dan enak?“

“Woobin?” Ya, Jandi ingat sahabat Jihoo di kumpulan skateboard jalanan itu.

“Kau pernah melakukannya?”

“Eh--?” Jandi tersentak kaget. “Maksud sunbae?”

“Jajan di jalan—apa kau pernah melakukannya?”

Jandi sedikit menundukan kepala dan berpikir. “Pernah—tapi itu, .. sudah lama sekali. Waktu saya masih sangat kecil. Ajudan Lee pernah mengajak ku membeli sesuatu di sebuah stand di pinggir jalan. Tapi saya lupa makanan apa itu—sesuatu yang bulat dan sangat kenyal .. “

“Ternyata kau pernah melakukannya .. “ Jihoo berkejap takjub.

Jandi tersenyum malu-malu. “Itu sudah lama sekali .. Hidup saya bebas, tapi tidak sebebas sunbae … “

Jihoo tertawa. “Orangtuaku memang tidak pernah mencampuri kehidupanku .. “

“Sunbae sangat beruntung .. “

“Ne .. ,” Jihoo mengangguk.

“Namun kurasa, itu juga tergantung pada kepribadian masing-masing .. ,” Jandi menambahkan beberapa saat kemudian. “Banyak milioner muda seperti sunbae malah menjalankan kebebasan mereka dengan tidak benar. Mereka terjerumus dalam pergaulan liar—berfoya-foya dan menghambur-hamburkan kekayaan keluarga mereka untuk hal-hal tidak perlu. Tidak seperti sunbae—yang selalu tahu apa yang dilakukan .. “

“Kurasa—“ potong Jihoo. “Jajan jalanan bukan hal menarik yang perlu dibanggakan seperti yang kau perumpamakan tadi .. “ Dia tersenyum menggoda Jandi.

Jandi hanya bisa tertawa mendengarnya. “Ha .. ha .. memang .. , tapi paling tidak—sunbae lain dari yang lain. Coba saja suruh Junpyo melakukan itu, sumpah—dia pasti sudah mencak-mencak tak karuan .. “
Mengingat ekspresi yang mungkin terjadi pada Junpyo jika disuruh melakukan kebiasaan orang kebanyakan, tawa Jandi makin mengelegar. Tangannya berulangkali menekan perutnya yang terasa kram saking banyaknya tertawa.

“Kau sangat mengenalnya .. “ Senyum Jihoo jadi samar.


“Anak itu sih jangan ditanya—naïf dan gengsinya selangit … “ Jandi menekan perutnya semakin keras. Tawanya tidak juga reda—malah jadi makin keras.

“Mungkin … dia terbiasa dimanja sejak kecil .. “

Tanpa sadar, … Jandi melepas tangan dari perutnya. “Justru sebaliknya .. “ Tawa yang semula mengelegar keras, perlahan-lahan memelan. Sampai, berhenti sama sekali. Pandangan Jandi berubah redup.

“Dimanja dengan uang—iya. Tapi kasih sayang, …Junpyo tidak mendapatkannya. Karna itu—dia menjadi naïf dan egois begitu .. “ Suara Jandi bergetar ketika mengucapkan kata-kata ini. Riak-riak kecil menghiasi bola matanya yang semula bersinar cerah.

Kemuraman Jandi membuat Jihoo berdeham pelan. Dia mencoba mengalihkan perhatian kearah lain. Jihoo berdiri dari ranjang, dan meraih tangan Jandi.

“Kacha—bersiaplah. Saya akan menunggumu di luar. Ganti bajumu dan kita makan di luar . .”

Jandi mengucek mata dengan punggung tangannya. Dia berusaha tersenyum pada Jihoo. “Sunbae tunggu saya—“

Jihoo mengangguk. “Tentu .. “ Ditatapnya Jandi untuk beberapa lama, .. sampai gadis itu merasa risih diperhatikan begitu.

“Sunbae keluarlah … “

“Jangan terlalu memikirkannya—“ nasehat Jihoo setelah ragu-ragu sebentar. “Junpyo pasti akan menemukan kebahagiaannya. Begitu hari itu datang—kau tidak perlu memusingkan dia lagi, Jandya. Kebohongan-kebohongan semu tersebut akan berlalu .. “

Jandi tersenyum kecut. “Kuharap begitu ..” ujarnya lirih.

Tapi, benarkah .. ? Jandi tidak mengerti mengapa dia jadi ragu kini. Kenapa hati ini terasa pedih membayangkan kedatangan ‘hari itu’? Dia sungguh-sungguh tidak mengerti.

Sentuhan halus di lengan sebelah kanan mengagetkan Jandi.

“Gwencana?” tanya Jihoo khawatir.

Jandi tersenyum. “NE!” Dia menjawab dengan nada dibuat seriang mungkin.

Kemudian Jandi membungkuk—mengambil sehelai kemeja kotak-kotak yang agak longgar dan sepotong jeans ketat biru di antara tumpukan pakaian yang lain.

“Saya akan menunggumu di luar .. ,” terdengar Jihoo berkata.

Jandi mengangguk dari posisinya yang memunggungi Jihoo. “Ne .. “

Jihoo menatap nanar punggung Jandi yang bergerak-gerak halus ketika memperbaiki letak tumpukan pakaian yang agak berantakan di lemari. Pria muda itu menghela nafas. Setelah beberapa saat, Jihoo memutar tubuh ke arah pintu, melangkah berat meninggalkan Jandi. Pintu kamar ditutup dengan sangat pelan.

Jandi yang belum menyadari kepergian Jihoo—menutup pintu lemari di depannya begitu dirasa semua pakaian sudah tertata rapi. Dia berbalik dengan sangat pelan. Kepalanya agak dimiringkan ketika tidak mendapati keberadaan Jihoo di situ. Jandi menoleh ke pintu yang sudah ditutup rapat. Dia tersenyum. Dengan langkah yang sangat pelan Jandi menuju ke kamar kecil yang dihubungkan dengan kamar itu.


_________ ~~~ __________

Junpyo melompat bangun dari ranjang yang dibaringinya sejak beberapa menit yang lalu. Iris pekat miliknya mengapai dinding yang terlihat buram akibat penerangan terbatas dari lampu meja. Keringat dingin mengucur deras—tanpa henti.

Junpyo beralih ke jam kecil yang berdiri manis di meja dekat ranjang. Saat itu sekitar pukul 8 malam. Dinner diselesaikannya setengah jam yang lalu, dan yang ingin dilakukannya sekarang adalah ‘TIDUR’. Namun, kelihatannya—mata dan pikirannya tidak bisa diajak kompromi. Bayangan Jandi dan Jihoo yang sedang tertawa-tawa akrab menguasai hati dan pikirannya.

Paras yang semula terlihat angker itu kemudian berubah dalam sekejap. Junpyo berkenyit. Sepuluh jari-jemarinya yang panjang dan ramping mengacak-ngacak rambut frustasi.

“Aushh!!” Junpyo menendang kaki ranjang. “Bisa gila kalau terus-terusan begini!!” Rambut keritingnya semakin berantakan setelah tangannya mengibas-ngibas sembarangan.

“Saya butuh udara segar!!” Akhirnya Junpyo mengambil keputusan.

Sweater handuk yang melilit tubuh jangkungnya dilempar ke pinggir ranjang dan diganti dengan kemeja kotak-kotak warna krem lembut yang dipadu dengan jeans ketat hitam dan mantel putih panjang selutut. Junpyo meraih dompet dan ponselnya kemudian memasukan ke dalam saku mantel. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal—dengan menyempatkan diri membenarkan style rambutnya yang berantakan di depan kaca—


—Junpyo meninggalkan ruang kamarnya.


_________ ~~~ __________



Jandi sudah menghabiskan waktu hampir satu jam dengan menyikat habis jajakan jalanan dari stand-stand yang tersebar di sepanjang jalan kumuh sebuah gang sempit di sudut kota Tokyo. Dia tertawa-tawa sambil memperlihatkan sepasang tangannya yang mengenggam dua tusuk bakso ikan pada Jihoo.

“Wowww—this’s fantastic, sunbae!!” teriak Jandi.

Jihoo ikut tertawa sambil memasukan sebuah bakso ikan ke dalam mulut dan mengunyahnya. “Kau suka?”

Jandi mengangguk kuat-kuat. “NE! I like it very much. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini. Seperti ..  mencuri sesuatu, dan--tidak ketahuan. Ha .. ha .. perasaan ini sangat hebat .. “

Jihoo tertawa ngakak mendengar perumpamaan Jandi. “Suka sih boleh-boleh saja. Tapi jangan makan terlalu banyak. Nanti kau sakit perut .. “

Jandi melahap tusuk bakso ikan di tangannya. “Jangan khawatir, sunbae. Daya serap tubuhku sangat bagus .. “ Gadis mungil itu mengedipkan sebelah matanya dan mengangkat jempol kanan ke atas.


_________ ~~~ __________

Junpyo melajukan mobil yang ‘diambilnya’ secara ‘paksa’ dari ajushi tanpa arah yang pasti. Pikirannya melayang saat itu. Tertuju pada Jandi yang sekarang entah di mana. Dia sudah memerintahkan ajushi untuk menyelidiki keberadaan Jandi dan Jihoo. Dan menurut petugas hotel di mana Jandi dan Jihoo tinggal—kedua orang itu sejak dua jam yang lalu sudah meninggalkan hotel dan sampai saat itu belum kembali.

Junpyo memencet klakson kesal begitu beberapa kendaraan menutupi jalannya. Para sopir dalam mobil-mobil di depan tampak terkejut.  Mereka menoleh pada Junpyo dengan alis berkenyit. Junpyo tidak perduli. Dengan membabi-buta dia menyelip di antara celah-celah sempit mobil-mobil yang memenuhi jalan hingga mendapat gerutuan-gerutuan tajam dari para sopir yang sudah jengkel setengah mati karna jalan-jalan mereka terhambat oleh kecelakaan kecil di depan.

Junpyo melewati mereka dengan seringai sinis terukir di wajahnya.


_________ ~~~ __________

Keributan tiba-tiba terjadi di gang sempit itu. Para pedagang kecil yang sedang menjajakan dagangan-dagangannya beranjak pontang-panting begitu melihat beberapa petugas berseragam putih-putih berlari kearah mereka. Di tangan para petugas tersebut tergenggam tongkat. Suara peluit yang ditiup berulangkali membahana memekakan telinga.

“Berhenti di situ!!”

Dua orang petugas yang berada pada barisan paling depan berteriak keras. Mereka mengerak-gerakan tongkat di tangan mereka pada para pedagang kecil yang terlihat ketakutan. Stand-stand atau gerobak-gerobak dadakan berseliweran di samping Jandi.

Mata bundar Jandi terbelalak lebar. Dia beringsut ngeri. Jandi tidak tahu apa yang terjadi, .. dan tidak mampu menghindar ketika sebuah stand pejajak manisan meluncur kearahnya. Jandi berteriak keras.

“AKHHH!!!”

Dirasakan sebuah tangan kekar menarik lengannya. Jandi membuka mata perlahan dan mendapati Jihoo sudah berada di sampingnya--sedang mengamati keadaan sekeliling dengan pandangan liar dan waspada.

“Ayo pergi dari sini!!” Ajak Jihoo dengan suara ditekan. Wajahnya mulai terlihat pucat.

“A .. apa .. yang terjadi, .. sunbae ..?” tanya Jandi dengan suara bergetar. Kakinya yang kaku tidak mampu digerakan. Namun Jihoo menariknya dengan sangat kuat—ditambah keadaan yang semakin kacau, membuat Jandi—mau tidak mau memaksakan kakinya untuk melangkah.

“Sunbae .. “

“Razia .. ,” sahut Jihoo pendek.

“Oh—“

Jandi tidak bertanya-tanya lagi. Dia mengerti sekarang. Ternyata para petugas tersebut sedang menjalankan tugas mereka. Melakukan pembersihan terhadap pedagang-pedagang yang tidak mempunyai ijin dagang resmi.

Jandi menengadah ketika merasakan titik-titik air menyentuh kulitnya. Namun perhatiannya pada reaksi alam yang tiba-tiba itu; hujan yang datang secara mendadak; tidak berlangsung lama. Hanya sepersekian detik perhatiannya harus dialihkan kembali ke situasi yang sedang dihadapinya dengan Jihoo saat ini. Keadaan tak sedap dalam gang sempit di mana mereka berada menjadi semakin brutal.

Jandi dan Jihoo berlari sambil menghindari terjangan-terjangan gerobak-gerobak yang setiap saat bisa saja mengenai tubuh mereka. Begitu juga tabrakan-tabrakan dari orang-orang yang berlari lintang pukang dibelah hujan yang semakin lama semakin deras. Sekujur tubuh mereka sudah sangat basah, .. sampai langkah-langkah panjang yang hampir mencapai ujung gang. Jihoo mengenggam tangan Jandi erat-erat.


_________ ~~~ __________

Rintik-rintik hujan yang mengenai kaca jendela depan mengakibatkan pandangan Junpyo agak kabur. Ditambah konsentrasi yang terbagi antara keberadaan Jandi yang entah di mana, .. Junpyo hampir menabrak sebuah stand yang tiba-tiba meluncur keluar dari lorong gelap di depannya.

****!!”

Junpyo segera membanting stir. Roda-roda mobilnya mendecit keras ketika berhenti secara mendadak. Junpyo mengangkat kepala yang menempel di gagang kemudi dengan sepasang mata terbelalak lebar. Ternyata tidak hanya satu gerobak yang dilihatnya sekarang. Tapi juga gerobak-gerobak lain yang semakin banyak—menghambur keluar, laksana air bah yang ditumpahkan—bergemuruh riuh. Junpyo memperhatikan pemandangan di depannya dengan mulut mengangga. Untuk pertama kalinya dia melihat pemandangan seperti ini. Apa yang terjadi, sebenarnya?

Sampai dua sosok—tidak! Yang benar tuh—salah satu sosok mungil yang serasa dikenal dari dua sosok di antara kerumunan orang-orang tersebut menyita perhatiannya.


“Jandi .. “ Junpyo berdesis pelan.

Tangannya segera meraih pintu dan meloncat keluar mobil.

“GEUM JAN DI!!” teriak Junpyo.

Langkah dua orang di depan terhenti.

“Goo Jun Pyo .. ?” Jandi mengerutkan alisnya. Suaranya bergetar—entah itu takut atau kedinginan.

Jandi berbalik dengan gerakan lambat-lambat.

“GOO JUN PYO!!” teriak Jandi histeris begitu melihat Junpyo. Ketakutannya saat itu tumpah seketika. Airmata berlinang deras membasahi wajah Jandi. Bercampur dengan air hujan yang menerpa sekujur tubuhnya.

Junpyo melangkah panjang-panjang, kemudian berlari kearah Jandi dan Jihoo.


Namun belum lagi langkahnya mencapai tempat Jandi dan Jihoo berada, .. sebuah stand yang didorong dengan kekuatan penuh melaju kearah Jandi.

“GEUM JAN DI!!! AWASSS!!”

Peringatan Junpyo terlambat. Gerobak tersebut sudah hampir menyentuh Jandi. Jihoo yang berada di sebelahnya sangat terkejut. Tangannya bergerak bermaksud menarik Jandi buat menghindari bahaya yang menghadang. Namun …

“AKH!!” Jandi berteriak keras dan tersungkur ke jalan aspal yang berlobang di sana sini.

“GEUM JAN DI!!”

Seru Junpyo dan Jihoo bersamaan. Jihoo yang berada di dekat Jandi segera berjongkok buat memeriksa keadaan Jandi.

“Gwencana?” tanya Jihoo khawatir. Disentuhnya tangan Jandi, lalu beralih pada lututnya yang bergetar hebat.

Jandi meringgis sambil mengigit bibirnya. Lututnya yang mendarat duluan di jalan beraspal—robek dan berdarah. Sedangkan telapak tangannya yang digunakan untuk menyangga tubuhnya ketika jatuh, tergores cukup dalam. Darah segar merembes dari luka goresan tersebut.

Junpyo yang sudah sampai di dekat keduanya, segera menepis tangan Jihoo dan mendorongnya.

“JANGAN SENTUH DIA!!” Mata yang bersinar bak elang itu mengobarkan amarah. Yang seolah mampu membakar Jihoo saat itu juga.

“Junpyo-a .. ,” desis Jihoo lirih. Dipelototi Junpyo seperti itu—dia tidak bisa berbuat apa-apa. Jihoo tahu—kesalahan besar sudah dilakukannya. Membawa Jandi ke tempat seperti ini hampir membuat gadis yang dicintainya celaka. Bagaimana mungkin aku sampai melakukan kesalahan ini? Jihoo merutuk diri berkali-kali.

“Jika sampai terjadi apa-apa pada Jandi, saya bersumpah—TIDAK AKAN MELEPASKANMU, JIHOO-SSI!” Junpyo mengatupkan gerahamnya rapat-rapat. Lalu dia beralih pada Jandi yang masih meringgis sambil menekan jidatnya. “Gwencana, Jandiya .. “ Suara Junpyo menjadi lembut. Disentuhnya jidat Jandi khawatir. “Kau merasakan sesuatu?”

“Goo Jun Pyo .. ,” oceh Jandi tak sadar.


“O—na Goo Jun Pyo . .” Junpyo segera mengenggam tangan Jandi. “Gwencana? Apa kau sadar ..?”

Tidak terdengar sahutan dari Jandi. Junpyo merasakan genggaman di tangannya mengendor. “JANDIYA!!” Junpyo kemudian menguncang-guncang tubuh Jandi yang terkulai dalam dekapannya. “GEUM JAN DI!!”

“Di .. dia pingsan .. ?”

Jihoo menyadarkan Junpyo akan kenyataan ini. Junpyo mengangkat wajah menatap Jihoo, .. sementara hujan masih saja tidak mau berhenti. Menguyur sekujur tubuh—menjadikan rambutnya yang keriting dan panjang menjuntai lemah menutupi hampir seluruh wajahnya.

Pandangan Junpyo kabur tertutup hujan ketika menatap Jihoo penuh amarah. Sedangkan keadaan di sekitar situ mulai sunyi. Para pedagang kecil yang tidak berhasil melarikan diri—digerek para petugas ke dalam mobil dinas mereka. Sementara yang beruntung—sudah ngacir entah kemana. Mungkin mereka sedang memperhatikan dari salah satu sudut—bagaimana rekan-rekan senasib mereka ditangkap oleh para petugas dan dibawa pergi.

“Aku tidak akan memaafkanmu jika sampai terjadi apa-apa pada Jandi!!” kata Junpyo pada Jihoo dengan nada yang keras dan menusuk.

Jihoo mendesah. Kepalanya menunduk menyapu jalanan yang basah oleh air hujan. Dia mengigil. Bukan hanya dingin yang dirasakan dari hujan penyebabnya, tapi dia takut terjadi apa-apa pada Jandi. Penyesalan mendalam tak henti-hentinya merasuki hatinya. Kenapa mengajak Jandi ke sini? Kenapa? Kenapa? Pertanyaan yang sama itu terus-menerus berputar dalam kepala Jihoo.



Jihoo mengangkat kepala dan bermaksud menyentuh Jandi.

“Dia harus dibawa ke rumah sakit .. “

Namun Junpyo lebih cepat. Menepis tangan Jihoo sebelum sampai ke tubuh Jandi. “Singkirkan tanganmu!!” Kemudian Junpyo mengangkat Jandi dengan sepasang tangannya. Tatapannya meredup ketika melihat wajah yang pucat dan basah dalam dekapannya. “Aku tahu apa yang seharusnya kulakukan … “ Tatapan itu berubah dingin ketika beralih pada Jihoo.

Jihoo berdiri dari jongkoknya. “Junpyo-a … dengarkan .. “

“Cukup!” potong Junpyo cepat. “Yang ingin kulakukan saat ini adalah mengantar Jandi ke rumah sakit. Dan bukan mendengar omong kosongmu. Tapi jangan dikira aku akan membiarkan masalah ini begitu saja, Yoon Ji Ho-ssi! Kau yang mengajaknya ke sini, dan kurasa kau juga sudah berjanji akan menjaganya baik-baik. Tapi lihat apa yang kau lakukan? Huh!!”

Junpyo memutar tubuh dengan Jandi dalam gendongannya. Dia sama sekali tidak memberi kesempatan Jihoo untuk berkata lebih lanjut. Pintu mobil dibuka dengan susah payah, setelah itu Junpyo mendudukkan Jandi dengan hati-hati di bangku. Lalu dia memutari badan mobil ke bangku sebelahnya. Mesin dihidupkan dengan agak tergesa-gesa. Raungan halus terdengar, dan perlahan-lahan Mercy abu-abu itu bergerak meninggalkan tempat itu. Menyisakan Jihoo yang masih menatap kepergian mereka dari tempatnya.

Pria muda itu menarik nafas. Dia menyusut perlahan, … sampai punggungnya terasa menyentuh sesuatu yang dingin. Jihoo menyandar di dinding kumuh sambil menerawangkan pandangannya ke atas langit.        

  
_________ ~~~ __________

Junpyo mondar-mandir di depan ruang rawat itu. Sesekali melirik pintu, berharap segera dibuka. Dan ketika belum jua, dia akan mondar-mandir kembali. Mulutnya komat-kamit tak menentu. Tubuh yang basah tidak menjadikannya berhenti. Sepasang tangannya juga mengacak-ngacak rambut dengan frustasi.

Sudah hampir satu jam lamanya Jandi berada di dalam, dan belum ada tanda-tanda pintu tersebut akan dibuka. Dan--sudah hampir satu jam lamanya juga, Junpyo melakukan gerakan seperti orang tidak waras itu. Sampai-sampai para pasien dan petugas rumah sakit yang kebetulan melintas di situ—langsung menatapnya heran dan bingung. Mungkin mereka mengira, ‘ORANG INI SUDAH GILA’.

Pintu rawat dibuka dengan pelan. Seorang dokter—dengan ditemani dua orang suster, keluar dari ruang rawat dan langsung menyita perhatian Junpyo.

Junpyo berlari kearah mereka dan menarik lengan baju dokter tersebut dengan sepasang mata terbeliak lebar. “Bagaimana keadaannya, dok?!” tanya Junpyo dalam bahasa Jepang yang sangat fasih.

Dokter tengah baya itu tersenyum menenangkan Junpyo. Setelah memberi isyarat dengan anggukan pendek kepada dua suster di belakangnya untuk meninggalkan mereka, dia berbalik kembali—menghadapi Junpyo.

“Nona Geum—lukanya tidak parah .. “

“Apa?!” Junpyo menguncang tubuh sang dokter—tak percaya. “Benarkah?!! Dokter serius? Tapi, tadi dia sampai pingsan loh—“

Dokter itu tersenyum. Menurunkan tangan Junpyo dari lengannya. “Dia sungguh tidak apa-apa. Luka di bagian lutut dan tangannya hanya cedera ringan—tidak sampai mengenai tulang. Setelah dibersihkan dan diberi obat, akan segera sembuh. Semula yang mengkhawatirkan tuh justru keadaan lambungnya … “

“Lambung?” Junpyo mengenyit heran. “Emang ada apa dengan lambungnya, dok?”

Pak dokter balas menatap heran. “Tuan tidak sadar kalau dia salah makan?”

“Salah makan?” Tampang Junpyo berubah keras kini. Dia menjadi sadar apa yang sebenarnya telah terjadi.


Sang dokter mengangguk. “Iya. Nona Geum keracunan makanan. Selain karna makan terlalu banyak—kelihatannya, makanan-makanan tersebut juga .. tingkat kebersihannya diragukan. Kami sudah melakukan operasi cuci lambung terhadap Nona Geum, .. dan keadaannya sekarang sudah stabil. Tapi, .. apa tuan tidak tahu itu?”

“ .. “ Junpyo tidak bersuara.

“Tuan bersamanya, kan?” tanya dokter itu lebih lanjut. “Tuan yang membawanya kemari, .. Jadi tuan pasti bersamanya ketika dia menyantap makan malamnya. Apa tuan .. tidak apa-apa?” Dokter tersebut menatap Junpyo penuh selidik. Seakan khawatir Junpyo akan mengalami sakit di lambung seperti yang dialami Jandi.

Junpyo berdehem dan berkelit dengan risih. “Saya tidak apa-apa!” tandasnya kemudian. “Apa saya bisa melihatnya sekarang?”

“O—“ Dokter itu membuka mulut kemudian mengangguk-anggukan kepalanya. “Tentu. Anda boleh melihatnya, dan membawanya keluar karna nona Geum sudah cukup sehat untuk keluar rumah sakit .. “

“Terimakasih .. “ Junpyo tidak ingin menanggung akibat dari--sang dokter mengulangi ceramahnya. Bergegas-gegas dia melewati postur yang agak bungkuk tersebut--membuka pintu ruang rawat Jandi dan .. melesat ke dalam.  


_________ ~~~ __________

Pandangan Junpyo bertemu dengan tatapan lemah dari Jandi. Langkah Junpyo agak tersendat di depan pintu. Dia berhenti selama beberapa detik. Dan setelah menarik nafas dan memantapkan diri, barulah dia menghampiri Jandi dengan langkah yang sedikit diseret. Melihat keadaan Jandi, emosi yang menguasainya tadi—hilang seketika. Tangan yang terkepal—mengendor perlahan. Junpyo menjatuhkan tubuh jangkungnya di pinggir ranjang—membelakangi Jandi. Dia tidak berucap apa-apa.


“Goo Jun Pyo .. ,” panggil Jandi lemah.

“ .. “ Tidak ada sahutan dari Junpyo.

Terdengar Jandi menghela nafas. “Kau marah .. ?”

“ … “ Masih tidak ada reaksi dari Junpyo.

“Kau marah, kan .. ?”

“ …. “ Tetap membisu.

“Kau pasti marah .. “ Jandi akhirnya mengambil keputusan setelah menyadari Junpyo yang keras kepala tidak mungkin dipancing dengan pertanyaan itu. Sekali pemuda ini mengambil keputusan untuk membungkam—maka .. selamanya dia akan bertahan, karna—begitulah dia, ‘Goo Jun Pyo’ yang dikenalnya.

Junpyo menoleh perlahan-lahan dari posisinya. Namun, dia tetap tidak mengeluarkan suara. Ditatapnya Jandi dengan pandangan yang tak tertafsirkan.

Mata Jandi melebar begitu mengingat sesuatu. “Kau memarahi sunbae?” tebaknya tiba-tiba.

Junpyo yang semula adem—terlonjak kaget. “Yaa—Geum Jan Di!!!”

“Kenapa?!” Jandi meraih dan menarik lengan mantel Junpyo yang basah. “Sunbae tidak salah apa-apa!”

Junpyo mengeram dan menepis lepas tangan Jandi dari lengan mantelnya. Jandi yang tidak mau kalah segera menekan dirinya bangun dari ranjang. Namun keadaannya yang lemah, ditambah telapak tangannya yang terluka dan masih terasa nyeri luar biasa, membuat tubuhnya goyah.

“AKHHH!!” Jandi berteriak keras, dan tubuhnya terhempas kembali ke ranjang.

Junpyo menoleh cepat.

Jandi mengigit bibir kemudian mencengkram lengan Junpyo dengan buku-buku jarinya. “Kau .. tidak boleh menyalahkan .. sunbae .. ,” kata Jandi di sela-sela nafasnya yang memburu. “ .. dia tidak bersalah .. “

Junpyo menepis tangan Jandi dengan kasar. “Demi dia, kau berdebat denganku?!” Mata elangnya melebar tajam, menakutkan. “Dia yang menjadikanmu begini, Geum Jan Di!! Sadarlah!!” Junpyo hampir berteriak ketika mengeluarkan kata-kata ini.

Tubuh Jandi melemah. Dia merasa capek dan tidak ingin bertengkar dengan Junpyo. Tangan yang tertepis ke kasur ditariknya kembali. Tertelungkup di perutnya yang masih terasa mules dan tidak nyaman. Jandi membuang muka ke arah lain.

“Saya tidak ingin bertengkar denganmu. Keluarlah .. Saya ingin istirahat .. “

Ajaib. Reaksi lemah dari Jandi mampu membuat emosi Junpyo teredam seketika. Junpyo menghela nafas menatap Jandi.

“Jandiya .. saya tidak bermaksud … “

“Pergilah .. ,” potong Jandi tanpa berpaling kearah Junpyo.

Lalu dia tidak mendengar suara lagi. Entah apa yang dilakukan Junpyo setelah mendengar perintahnya—Jandi tidak ingin tahu. Sampai .. sepasang tangan kekar terasa pada tubuhnya, .. dan mengangkatnya dari ranjang.

Jandi menoleh dengan gerakan cepat. Dia tersentak kaget dan memekik tajam. “AKHH—Goo Jun Pyo!! Apa yang kau lakukan?!! Turunkan saya!!” Dan, pukulan bertubi-tubi PUN—mendarat di dada Junpyo.

Junpyo mengenyitkan alisnya, dan menahan untuk tidak berteriak. Pukulan-pukulan Jandi yang telak mengenai dadanya terasa nyeri. “Dokter bilang kau boleh keluar rumah sakit sekarang. Dan kurasa—kau tidak bisa jalan sendiri mengingat lututmu yang terluka cukup parah. Saya tidak ingin membuang waktu dengan mendorongmu pakai kursi roda, .. jadi begini lebih baik .. “

“Tidak! Biarkan saya jalan sendiri!” Jandi bersikeras. Pukulan terakhir mendarat di lengan Junpyo.

Junpyo meringgis. Kali ini dia tidak bisa menahannya lagi. Jandi memukul dengan sedikit mencubit kulit lengannya dengan kuku-kukunya yang runcing dan tajam.

“Berhentilah memukul dan mencakarku . .,” desis Junpyo. “ … jika kau tidak ingin jatuh .. “

“Siapa suruh kau sewot?!” Jandi mencibir.

“Itu karena kau keras kepala, tahu?” bantah Junpyo tak mau kalah.

“Cih—“ Jandi meruncingkan bibirnya. Setelah itu membuang muka ke samping. Tanpa sadar—kepalanya menyandar di dada Junpyo. Terus terang saja, dia merasa capek dan lelah. Apa yang terjadi selama beberapa jam ini membuatnya ingin istirahat sebanyak-banyaknya.

Lalu kedua orang yang sudah mengenal sejak kecil, namun sering berselisih pendapat itu—tidak mengeluarkan suara lagi. Junpyo mencengkram erat tubuh Jandi dalam gendongannya dengan pandangan tertuju ke depan. Sedangkan Jandi memejamkan mata dengan kepala menyampir di pundak Junpyo.



_________ ~~~ __________

”Kenapa membawaku kemari?!!”

Jandi mendelik ketika Junpyo membaringkan tubuhnya di ranjang miliknya, Goo Jun Pyo.

“Saya tidak ingin mengambil resiko kau tidak ada yang urus .. ,” jawab Junpyo sambil berjalan ke pintu.

“Yaa!! Saya bisa jaga diri sendiri. Tidak perlu kau pusing!!” teriak Jandi.

“Berhentilah berteriak! Ini sudah malam!” Junpyo memperingati dari ambang pintu. “Jika kau tidak ingin dilempar keluar dari hotel ini—pejamkan matamu dan beristirahatlah. Saya akan keluar sebentar dan melihat-lihat apakah bisa mendapatkan sesetel sweater buatmu untuk diganti .. “

“Goo Jun Pyo!!”

BUK, ..

Teriakan Jandi hilang seiring ditutupnya pintu oleh Junpyo.

“Aush—Goo Jun Pyo sialan!”  Jandi melayangkan tinjunya ke udara.


_________ ~~~ __________



”Agak baikan?” tanya Junpyo setelah Jandi menghabiskan semangkuk bubur yang dipesan lewat servis hotel.

Jandi mengangguk sambil meletakan mangkuk kosong di tangannya ke atas meja kecil dekat ranjang. Lalu dia meneguk air yang tersedia di atas meja.

“Gimana?” tanya Junpyo tidak sabar.

Jandi mengelap bibirnya dengan serbet, lalu berpaling menghadapi Junpyo. “Apa kau tidak lihat anggukan dariku?” Jandi balas bertanya kesal.

“O—“ Junpyo manggut-manggut saja diperlakukan begitu. Aneh kan? Lol Kemudian dia menerima gelas kosong yang disodorkan Jandi dan menaruhnya di atas meja.

“Nambah!” tukas Jandi cepat dengan nada agak .. merengek?



Junpyo berpaling. Dia tidak salah dengar, kan? “Nambah?” tanya Junpyo melongo.

“Ne!” Jandi bersungut-sungut. “Saya sangat haus nih—“

Junpyo berdecak. Dengan agak tidak rela, dia berjalan menjauhi bibir ranjang. Menuju meja teh yang terletak di tengah ruangan. Junpyo menuang air dari poci yang terisi air, kemudian membawanya kembali pada Jandi.

“Nih—“ Disodorkannya gelas di tangannya sambil membuang muka.

 Junpyo merasa harga dirinya agak terinjak-injak diperlakukan Jandi begini. Tapi mau bagaimana lagi? Dia selalu berubah menjadi seorang loser kalau Jandi sudah merengek atau berbicara dengan nada sedikit halus saja. Huhh—Ini merupakan kelemahan terbesar dari seorang Goo Jun Pyo.

“Gumawo .. “ Jandi mengerling pada Junpyo, sambil tersenyum simpul dari posisinya. Diletakannya gelas yang sudah kosong kemudian merebahkan tubuhnya secara perlahan-lahan di atas ranjang. Sepasang matanya dipejamkan. “Saya ingin istirahat .. keluarlah .. “

Namun gerakan halus terasa di ranjangnya.

“Miane .. “

Jandi terperanjat. Segera dibukanya sepasang matanya. Berkejap-kejap sebentar lalu menoleh cepat ke sisinya. Junpyo sudah berbaring di sana—dengan pandangan menerawang ke atas langit-langit kamar.

“Yaa—Goo Jun Pyo!! Apa yang kau … “

“Miane .. “ Permintaan maaf yang jarang-jarang terdengar dari seorang Goo Jun Pyo, berkumandang kembali.

“ ..” Mulut Jandi jadi terkunci.

Junpyo menghela nafas kemudian memutar tubuh perlahan-lahan kearah Jandi. Pandangan mereka bertemu kini. Jandi dapat melihat penyesalan yang sangat mendalam di iris pekat itu.

       
 
”Hanya ini yang bisa kukatakan .. ,” desis Junpyo pelan. Setelah itu, dia terdiam. Menjatuhkan pandangannya pada selimut putih yang tertimpa tubuhnya.

“Kenapa .. ?” tanya Jandi lemah. “Kenapa minta maaf padaku .. ?”

“Saya tidak menjagamu dengan baik .. ,” tukas Junpyo dengan nada yang masih sangat pelan.

Jandi jadi ingin tertawa sekarang. Entah mengapa, .. terbersit perasaan, kalau ini Junpyo yang sama—Junpyo yang dikenalnya waktu masih kecil, ketika duduk di taman kanak-kanak dulu. Dan bukannya Junpyo yang mata keranjang, dan suka gonta-ganti wanita setelah menginjak masa remaja.

“Kalau saya boleh tahu, .. kenapa kau bisa sampai muncul mendadak di sini .. ?”

Alis Junpyo tiba-tiba berkenyit kaku. Namun dia tidak berucap apa-apa.

“Kau takut sunbae tidak menjagaku dengan baik?” tebak Jandi, ngasal.

“Itu .. tentu saja!” Mendapat celah berkelit—Junpyo menyahut dengan cepat. Dia tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya, kan?—Bahwa kedatangannya itu disengaja? Dia sengaja mengikuti Jandi karna takut tunangannya ini mempermalukannya di depan umum dengan berduaan bersama pria lain? Huhh—bunuh saja dia kalau hal itu sampai ketahuan Jandi!

“Dan kenyataannya—benar begitu, kan?” lanjut Junpyo sinis.

“Mwo?” Jandi melebarkan matanya.

“Dia tidak menjagamu dengan baik!” tandas Junpyo.

“Oh—“ Jandi menyunggingkan senyumnya. Jadi benar, itu alasannya Junpyo muncul mendadak di Jepang ini?—

Lalu mereka tidak mengatakan apa-apa lagi. Jandi melayangkan pandangannya ke pojok ruangan. Sedangkan Junpyo mendekam dalam selimut. Dia merasa lega karna Jandi tidak memburunya dengan pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut.

“Saya jadi ingat sesuatu .. ,” gumam Jandi pelan.

Junpyo mengangkat wajah padanya. “Mwo … ?” tanya Junpyo tidak kalah pelannya.

“Perkataanmu dulu—Dulu sekali … “

Junpyo mengenyitkan alisnya. “Apa itu?”

Jandi berpaling pada Junpyo. “Saya tidak memiliki apapun. Mungkin maksudmu waktu itu—kau tidak memiliki kasih sayang yang begitu dibutuhkan. Saya ingat waktu itu—perkataan tersebut kau gunakan untuk menghiburku. Hanya ada sedikit kebisingan—katamu. Saat itu, saya ingin tertawa. Keresehan kau jadikan sebuah kebanggaan .. “ Jandi tersenyum lebar mengingat kenangan masa lalunya bersama Junpyo. “Sungguh memalukan .. “

Junpyo menyimak dalam diam. Kalau dalam keadaan biasa, mungkin dia sudah protes habis-habisan. Namun melihat senyum Jandi yang begitu lebar dari nostalgia yang seharusnya ‘Menginjak’ harga dirinya tersebut, .. semua seakan terbayarkan sudah.

Jika kau merasa kesepian .. ,” lanjut Jandi dengan pandangan menerawang. Sinar matanya berubah redup. “Saya akan membawa keramaian itu padamu … Demi melihatmu bahagia—kelelahan-kelelahan tersebut terlupakan sudah .. “

“I .. itu yang kukatakan .. ?” tanya Junpyo setelah terdiam selama beberapa saat.

Jandi mengangguk.

“Kapan?” tanya Junpyo lebih lanjut.

Jandi tidak menjawab. Hanya senyum kecut yang tiba-tiba melintas di wajahnya, .. hanya sebentar. Kemudian dia memejamkan mata. Membiarkan alam mimpi menyapanya.

“Yaa—Geum Jan Di!”

Terasa sebuah tangan menguncang tubuhnya. Namun Jandi mengacuhkannya begitu saja.

“Kau belum jawab pertanyaanku—“ dengus Junpyo kesal. “Jangan tidur dulu. Jawab—kapan saya pernah mengatakan kata-kata itu! Yaa—Jandiya!!”

Guncangan-guncangan kembali dirasakan Jandi. “Geum Jan Di!!”

“Berisik!!” semprot Jandi. Pukulan telak mendarat di lengan Junpyo.

“AKHH!!” jerit Junpyo.

“Sekali lagi kau ganggu tidurku—kau akan mati! Kau dengar itu?!!”

“Kau belum jawab .. “

Bantahan Junpyo terputus begitu Jandi mengarahkan telunjuk di dekat matanya.

“LAGI?!” ancam Jandi.

“Huh!” Junpyo membuang muka. “Memangnya kapan aku pernah mengatakan perkataan seperti itu?” Dia bergumam sendiri.

Jandi menghela nafas untuk kemudian memejamkan mata kembali. “Kau memang tidak pernah bersungguh-sungguh dengan setiap perkataanmu .. ,” ujarnya pelan dan tidak jelas. Hingga Junpyo segera meliriknya heran.

“Mworagu?”

“Tidak ada!” sahut Jandi agak keras. “Saya hanya berkata—penyakit pikunmu makin parah!”

“MWO?!!” Mata Junpyo terbeliak lebar. “Pikun?!!”

“Ne!” tandas Jandi seketika.

“Siapa yang pikun?!!” teriak Junpyo tidak terima.

“Tentu saja kau!!” sahut Jandi tanpa membuka matanya.

“Yaa—Geum Jan Di … “

“Berisik!!!”

PLETAK!! Getokan keras mendarat di jidat Junpyo.

“AWWW!! GEUM JAN DIIII!!”

BUKK!! Kali ini guling yang berada di sudut ranjang mencium batok kepala Junpyo.

“AUSSHH!! GEUM JAN … “

Telunjuk Jandi tiba-tiba sudah menekan batang hidung Junpyo. “Tidur, atau mati!!” ancam Jandi dengan sepasang mata melotot tajam.

“AISHH!!” Junpyo menepis tangan Jandi.

Kemudian tubuhnya yang tadi agak ditarik dari ranjang, dihempaskannya kembali sampai menimbulkan bunyi berdebam keras.

“Aku tidak pernah berkata begitu .. ,” celoteh pria berambut keriting itu, keras kepala. “Kau hanya membohongiku saja .. “

“Terserah!”

BUKK!! Guling tadi kembali mengenai Junpyo.

“Aushh—Geum Jan Di!! Bisa tidak kau .. “

“Zzzzzz … “ Ngorok jadi-jadian yang cukup keras diperdengarkan Jandi.

“Huhh!!” Tampang Junpyo berubah merah padam. Dicuekin begini—siapa lagi yang berani melakukannya kecuali Jandi? #wink


_________ ~~~ __________
« Last Edit: August 07, 2011, 08:00:52 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
Sudah update peluk mami..
Nah kan buang aja jihoo ke sumur
Kirain bakalan ada yg on on,mengingat ini bulan puasa jadi tunda dulu hmff
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN

Offline My My

  • Junior
  • **
  • Posts: 165
    • View Profile
Mamiiiiiii Thanx dah update,,GJP bener2 dech pikun'a gak ketulungan,,,,masa omongannya ndre gak inget sama sekali
Tapi emang bner si,biasanya yang ngmong itu gampang bgt lupain,,,kebalikannya ma yang di kasih omongan(GJD red):p:p

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Sudah update peluk mami..
Nah kan buang aja jihoo ke sumur
Kirain bakalan ada yg on on,mengingat ini bulan puasa jadi tunda dulu hmff
buang jihoo ke sumur [what] bukannya yg lbh pantas dibuang ke sumur tuh junpyo ya [hmpfh] dia pan yg srg buat jandi sedih?ya, wlp kebahagiaan jandi ttp pd junpyo [heh]
nurut gw sih si jh lbh perhatian ama jandi,, lagian dia tuh pria impian, baik n mencintai dgn tlus,, lain ama jp yg ga menyadari pdrasaannya [sweat]
kusus utk kecelakaan kali ini, tdk ada seorgpun yg menginginkannya, bgt jg jh
[biggrin]
on versi jundi di ff ini?hoho masih lama atuh,, biar mereka sadar akan perasaan masing2dulu deh [heh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Mamiiiiiii Thanx dah update,,GJP bener2 dech pikun'a gak ketulungan,,,,masa omongannya ndre gak inget sama sekali
Tapi emang bner si,biasanya yang ngmong itu gampang bgt lupain,,,kebalikannya ma yang di kasih omongan(GJD red):p:p
iya benerrrr,, apalagi jp tuh seorg pria, perasaannya tdk akan sepeka jandi,, tp gimanapun, gw yakin klu dia tuh tlus wkt mengucapkannya [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Alin

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1002
    • View Profile
wah uda update...waduh liat jundi disini bener2 tom n jerry bnget,tpi gw ykin klo sala satu ada yg pergi pasti yg satunya bakal bener2 kehilangan,bru aja lembut2 dikit uda main gebuk2kan,si jp disini ampir ky si jp di bof,kpn mi mrk dijadiinnya masi lamakah? Gw pngen tau klo tom n jerry bermesraan apakah bakal tonjok2an apa malah bisa jdi lebih panas dr rathdaze?..semua itu hnya mami yg tau.. [biggrin]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
wah uda update...waduh liat jundi disini bener2 tom n jerry bnget,tpi gw ykin klo sala satu ada yg pergi pasti yg satunya bakal bener2 kehilangan,bru aja lembut2 dikit uda main gebuk2kan,si jp disini ampir ky si jp di bof,kpn mi mrk dijadiinnya masi lamakah? Gw pngen tau klo tom n jerry bermesraan apakah bakal tonjok2an apa malah bisa jdi lebih panas dr rathdaze?..semua itu hnya mami yg tau.. [biggrin]
gw jg lum tahu [hmff]
iya, jp di sini plg mirip jp di bof,, dia bisa egois, mau menang sendiri,, terkadang terlht jutek and kekanak2,,klu dah marah--mengerikan, tp pas perhatian-ga usah blg,, dia bisa berubah seratus delapan luluh derajat, sweet mampus [lovestruck]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

siti minsun

  • Guest
akhirnya ff ne sadar juga dr mati surinya [hmff]..
..thanks mam udah update n long chap lagi  [cheekkiss]

masih kaya tikus ma kucing ya....bikin pusing liat tingkah mrk [sweat]
ko jauh kangen bila dekat pasti bertengkar trussssssssss
dasar JP pria paling aneh tp tetap romantiz [hmpfh] [hmpfh]
kapan ya mrk akan memahami perasaan masing2..  [chin] [chin]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
akhirnya ff ne sadar juga dr mati surinya [hmff]..
..thanks mam udah update n long chap lagi  [cheekkiss]

masih kaya tikus ma kucing ya....bikin pusing liat tingkah mrk [sweat]
ko jauh kangen bila dekat pasti bertengkar trussssssssss
dasar JP pria paling aneh tp tetap romantiz [hmpfh] [hmpfh]
kapan ya mrk akan memahami perasaan masing2..  [chin] [chin]

setelah adanya kecelakaan kecil [hmff]
kaya kucing n tikus pan dah jadi maskotnya couple yg satu ini, say. jd susah dibuat mesra2an,, bnr kata elu, jauh kangen tp dekat bertengkar jln teyus [hmpfh]
terua terang gw jg ga tahu alur ff ini mau dikemanakan,, ya berjln apa adanya deh slm masih ada yg suka n nungguin [heh] #lirik2 voldi yg lum nampain batang idungny [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
thank oyu mami update nya  [flowers]
bisa di bayangkan gimana muka / [angry] Jun pyo ke Jiho  karna tidak baik menjaga jandi   [hug] sampai ucapan kasar juga terluntar dari mulut jun pyo   [angry] apa lagi jandi keracunan makanan jajanan pingir jalan  [bored] semakin murka lah junpyo  [whip] sebenarnya perasaan mereka ke masing" gimana seh  [what] apa rasa peduli sebagai seorang sahabat dari kecil atau sudah berubah jadi perasaan   [lovestruck] kalau jun pyo kayanya kepeduliannya ke jandi sudah beda apa lagi mengiangat kecemburuannya kalau jandi dekat" dengan namja lain terutama Jiho selalu memakai alasan supaya jangan mempermalukannya di depan umum, tapi.. perasaan jandi yang penuh tanda tanya  [what] apa kah  jandi sudah ada perasaan yang beda ke jun pyo  [chin] apa lagi jandi tahu banyak tentang jun pyo sampai ucapan jun pyo waktu mereka masih kecil jandi masih ingat  [drool] hubungan yang rumit tapi.. masih ada sisi kepedulian dari ke duanya walau pun sering bersilisih paham atau  [head break]  [hmff] .

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
ampunnnnnnnnnnnn nih anak 2 udah tidur sekamar aja masih maen timpuk2an  [sweat] [sweat]

maen yg laen kek maen dokter2an gitu  [hmff] [hmff]

mam ini akurnya masih lamakah  [what]

Offline Namutz

  • Junior
  • **
  • Posts: 197
  • nona goo is inspiring women
    • View Profile
ahirnya penantian panjang terbayar sudah dengan updetan yang panjangggggggg tingkyuuuuuu mommy [cheekkiss] [cheekkiss]
heee tom and jerry adalah maskot ff nie bacanya berasa beda, jengkel yang menyenangkan ,,,,,,, jengkel tapi senyum
itu sensasi rasa yang ada pada pembaca, sedangkan tokoh nya sendiri selalu perang dimana saja tapi dalam hati selalu cinta
bikin go jon pyo semakin blingsatan seperti cacing kepanasan mooom gara gara cembokur nya yang luar biasa asik mom kekeekeeke
dan eke akan selalu menjadi penggemar setia UL kekeekeke ff yang lain juga tentunya.tingyu and selalu semangat buat mommy [AddEmoticons04225] [AddEmoticons04225] [AddEmoticons04225] [AddEmoticons04225] [AddEmoticons04225] [AddEmoticons04225]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
ahirnya penantian panjang terbayar sudah dengan updetan yang panjangggggggg tingkyuuuuuu mommy [cheekkiss] [cheekkiss]
heee tom and jerry adalah maskot ff nie bacanya berasa beda, jengkel yang menyenangkan ,,,,,,, jengkel tapi senyum
itu sensasi rasa yang ada pada pembaca, sedangkan tokoh nya sendiri selalu perang dimana saja tapi dalam hati selalu cinta
bikin go jon pyo semakin blingsatan seperti cacing kepanasan mooom gara gara cembokur nya yang luar biasa asik mom kekeekeeke
dan eke akan selalu menjadi penggemar setia UL kekeekeke ff yang lain juga tentunya.tingyu and selalu semangat buat mommy [AddEmoticons04225] [AddEmoticons04225] [AddEmoticons04225] [AddEmoticons04225] [AddEmoticons04225] [AddEmoticons04225]
thank youuuuuu [AddEmoticons04225] [AddEmoticons04225] [AddEmoticons04225] lol
iya tom and jerry tuh maskotnya ff ini. jd harapan mereka jadi sepasang merpati masih lama [laughing] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
ampunnnnnnnnnnnn nih anak 2 udah tidur sekamar aja masih maen timpuk2an  [sweat] [sweat]

maen yg laen kek maen dokter2an gitu  [hmff] [hmff]

mam ini akurnya masih lamakah  [what]
kebiasaan, jeng, jd dimaklumi aja. namanya jg tom and jerry [hmpfh] [hmpfh]
mereka ga suka main dokter2an tuh [hmff] [hmff]
akurnya .. nuggu daze lahirin anak keduanya [laughing] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun