Author Topic: Unconscious Love ~Chapter 13, update 7 August 2011  (Read 38207 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
setelah bengkok2, ff ini yg akan gw update [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
setelah bengkok2, ff ini yg akan gw update [biggrin]

yahuyyyyyyyy asik2 kpn update nya ntar mlm ye mam [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]


ADAM COUPLE SELCA

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
setelah bengkok2, ff ini yg akan gw update [biggrin]

yahuyyyyyyyy asik2 kpn update nya ntar mlm ye mam [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]
[head break] [head break] [head break] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline LeeChanSun

  • Newbie
  • *
  • Posts: 13
    • View Profile
yeach..ff ni mw d'update
ga sbar, pngen tw lnjutan'a..
Cepetan d'post ya mi..

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
maaf kalau chp ini kebanyakan adegan jandi dan jihoonya, saya juga tidak tahu mengapa bisa begitu [laughing] [laughing] ...
tp kalau dipikir2 memang harus begitu, guna memperkuat kedudukan junpyo dlm hati jandi [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




Kilasan dari chapter lalu ....

Junpyo memejamkan matanya rapat-rapat. Dia tidak punya pilihan lain. Jika dia ingin diceramahi habis-habisan oleh madam Kang, dia bisa memilih bergabung dengan Jandi dan Jihoo. Tapi dia tidak ingin itu. Maka dia hanya bisa mengikuti jadwal sebelumnya, yaitu makan siang bersama ommanya.

"Kalau begitu kamu tidak bisa pergi dengan kami kan, Junpyo-ya?"

Pertanyaan dari Jihoo semakin mengores luka di hati Junpyo.
"Iya, iya .. kalian pergi saja sendiri!!", jawabnya kesal.

Jihoo mengangkat bahunya. Kemudian dia menarik tangan Jandi, mengajaknya pergi dari ruangan itu. Sampai di ambang pintu, Jandi melirik sekilas pada Junpyo. Ada keprihatinan terpancar dari matanya.

---------------------------------



ADDITIONAL CAST :



Kim Joon as Song Woo Bin



Jandi dan Jihoo menghabiskan makan siang di restoran Amor, salah satu restoran Perancis paling terkenal di Seoul. Setelah itu Jihoo mengajak Jandi ke suatu tempat. Semula Jandi menolak keras, tapi ketika Jihoo mendesak terus, dan mengatakan kalau tempat yang akan mereka kunjungi nanti berhubungan dengan jawaban yang belum diberikannya waktu wawancara di ruang kantor Junpyo, Jandi terpaksa mengikutinya.

Perjalanan yang ditempuh ke tempat yang dimaksud Jihoo memakan waktu limabelas menit. Mereka tiba di sana, dan langsung disambut oleh beberapa petugas dan anggota-anggota di club itu. Jandi langsung terpana ketika menyadari tempat apa yang ditunjukkan Jihoo untuknya.

- - - - - - * - * - * - - - - - -


Junpyo menjatuhkan diri ke kursi, tepat dihadapan Hae Jeang, atau yang biasa dipanggil madam Kang, daripada omma olehnya.

Hae Jeang mengamati Junpyo dengan sikapnya yang anggun dan berwibawa. Pembawaan madam Kang dari dulu, yang sangat dikenal Junpyo. Untuk sesaat wanita setengah baya itu melirik ke belakang putranya, seakan sedang mencari sosok seseorang di sana. Semua itu dilakukannya tanpa kentara sehingga tidak disadari Junpyo.

“Mana Jandi? Tidak ikut denganmu?”, tanya Hae Jeang tenang.

Junpyo memandangi ommanya dengan pandangan bertanya. “Jandi?”, alisnya berkerut.

“Iya. Bukankah dia bersamamu di kantor tadi?”

Junpyo tidak segera menjawab pertanyaan itu. Alisnya berkerut semakin dalam. “Untuk apa anda mencari Jandi, madam Kang?”, dia balas bertanya.

Hae Jang menegakkan badannya. “Jadi, dia tidak ikut denganmu?”, pertanyaan yang lebih mirip penegasan itu terlontar keluar.

Junpyo tidak memberikan tanggapan selanjutnya. Pandangannya segera dilemparkan keluar jendela panjang yang terletak di ujung ruangan VIP tersebut. Hae Jeang yang sangat hapal dengan sifat putranya, tidak bertanya lebih lanjut. Dia melambaikan tangan kearah Mr. Jung yang berdiri tidak jauh dari meja mereka.

“Apa yang kamu lakukan?”, tanya Junpyo tiba-tiba. Perbuatan Hae Jeang tadi sempat terlirik oleh matanya sehingga membuatnya segera berpaling.

“Menyuruh Mr. Jung membawa Jandi kemari!”, jawab Hae Jeang kaku. Tangannya kembali diangkat tapi segera ditekan oleh Junpyo.


“Jangan melakukan sesuatu yang menyebalkan, madam Kang!!!”, larangnya keras.

“Weo? Memangnya kenapa? Ada masalah antara kamu dan Jandi?”, suara Hae Jaeng terdengar semakin dingin.

“Tidak!!”, jawab Junpyo cuek. “Hanya saja, dia tidak akan makan siang bersama kita karena dia .. “, Junpyo menekan kata-katanya sampai di sini. “ .. dia sudah ada janji dengan yang lain ..”

Sampai di sini, keheningan menyelimuti mereka. Hae Jaeng tidak bertanya apa-apa lagi. Begitu juga Junpyo. Dia tidak mengeluarkan suara, bahkan tidak menatap ommanya sama sekali.

Lima menit kemudian, Hae Jeang mengangkat tangan ke atas dan menjentikkan jempol dan jari tengahnya sekali. Suara yang ditimbulkan tidak terlalu keras tapi cukup terdengar oleh para pelayan restoran Grace yang bertugas di ruang VIP itu.

Tidak begitu lama beranekaragam makanan ala Albania dikeluarkan, dan diletakkan ke atas meja oleh beberapa pelayan berseragam serba putih dengan celemek abu-abu hitam. Champagne juga dibuka, dan dituangkan ke dalam gelas Kristal dihadapan dua pelangan istimewa restoran Grace.

Makan siang dimulai dalam kebisuan. Hae Jeang tidak mengeluarkan suara karena itu memang sudah kebiasaannya waktu makan. Sedangkan Junpyo, dia tidak bersuara karena dia memang tidak pernah berminat membicarakan apapun dengan ommanya.

Tigapuluh menit kemudian … Junpyo meletakkan serbet yang digunakan untuk mengelap bibirnya ke atas meja. Bersamaan dengan Hae Jeang yang mengecap champagne dari gelas ditangannya dengan pelan dan nikmat. Junpyo kemudian melakukan hal yang sama. Dia meraih gelas Kristal yang disediakan baginya. Meneguk minuman itu sampai habis. Dia melakukannya dengan tergesa. Setelah meletakkan gelas kosong itu ke atas meja, dia berdiri dari kursinya.

“Saya pergi sekarang .. “, kata Junpyo dengan nada datar.

“Junpyo!!”

Panggilan tegas dari Hae Jeang menghentikan langkahnya. Niat untuk keluar dari ruangan itu jadi tertunda. Junpyo membalikkan badan kearah ommanya. Dia berdiri tegak, sekitar tiga meter dari wanita tersebut. Tidak ada keinginannya untuk mendekati meja itu lagi.

Ibu dan anak itu saling berpandangan dengan urat-urat leher yang menyembul keluar. Ketengangan mulai menyelimuti ruangan itu. Tergesa, para pelayan yang melayani makan siang mereka, keluar dari ruangan tersebut. Kebiasaan ini sudah sangat mereka pahami. Hae Jeang dan Junpyo adalah pelangan tetap restoran Grace, dan ketengangan-ketengangan dan perselisihan-perselisihan pendapat di antara mereka sudah sering terjadi. Para pelayan tidak mau mengambil resiko dilabrak habis-habisan atau dijadikan bahan pelampiasan kemarahan oleh pasangan ibu dan anak yang ajaib itu.

“Duduk di sini! Ada yang ingin omma bicarakan!”, perintah Hae Jeang.

Junpyo langsung tersenyum sinis, “Omma? Hoo, sejak kapan Kang Hae Jeang-nim merasa dirinya seorang omma?”. Senyuman di wajah Junpyo menghilang perlahan. Sikapnya berubah dingin.

Setelah menatap Hae Jeang selama beberapa detik, dia memutar tubuh kearah pintu.

“Goo Jun Pyo!!”. Panggilan tegas, dalam dan tenang itu terdengar kembali.

Langkah Junpyo terhenti. Sepasang matanya terpejam perlahan. Dia menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya keras-keras. Paru-parunya hampir meledak karena menahan emosi yang bergejolak dalam dadanya. Sambil mengigit bibir kuat-kuat, dia memutar tubuh ke Hae Jeang. Dia mendekati meja yang ditempati ommanya dengan tampang sangar.

“Apa maumu, madam Kang?”, tanya Junpyo keras.

“Duduklah!!”, perintah Hae Jeang.

Junpyo mengangkat tangan ke atas, kemudian menjatuhkan diri ke kursi yang tadi ditempatinya.
“Ok, sekarang katakan apa keinginanmu?”

“Bagaimana keadaanmu?”. Hae Jeang memulai interogasinya.

Junpyo langsung tertawa keras mendengar pertanyaan itu. “Ha .. ha … keadaanku? Kamu bercanda kan, madam Kang? Anda menanyakan keadaanku? Ha .. ha .. dunia sudah mau kiamat rupanya?”

Hae Jeang mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Putranya ini sungguh tidak bisa diajak kompromi “Goo Jun Pyo!!!”

Junpyo memandanginya dengan sikap menantang.

“Omma serius. Dan omma tahu, kamu mengerti kearah mana pertanyaan tadi. Bagaimana dengan hubungan-hubunganmu?”

“Tidak ada yang istimewa!!”, jawab Junpyo cepat.

“Benarkah? Bagaimana dengan Ha Jae Kyung?”, tanya ommanya dengan sikap menyelidik.

Mata Junpyo melebar perlahan, “Ha Jae Kyung?”

“Iya, Ha Jae kyung.”

“Itukah pekerjaan sehari-harimu madam Kang? Mematai-mataiku?”, Junpyo melonjak dari kursi dengan emosi meluap-luap.


Hae Jaeng sama sekali tidak terpengaruh dengan kemarahan Junpyo. Pertanyaan selanjutnya dilontarkan dengan nada datar, tapi cukup keras.
“Saya ingin jawaban tegas darimu, Goo Jun Pyo!! Bagaimana hubunganmu dengan gadis itu?”

Untuk kesekiankalinya untuk hari ini, Junpyo menghembuskan nafas keras-keras. Hari ini merupakan hari tersial dalam hidupnya. Setelah dicueki dan ditinggal pergi oleh Jandi, perasaannya sudah tidak terkendali, sekarang – si penyihir tua yang biasanya jarang mengurusi hubungan-hubungan pribadinya selain masalah pekerjaan, mulai melebarkan tangan dengan mengikatnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyebalkan dan tidak ingin digubrisnya sama sekali.

“Goo Jun Pyo, - bukan begitu sikap seorang anak terhadap ommanya!!! Jawab pertanyaanku!!”.

Perintah keras dari Hae Jeang mengejutkan Junpyo. Pikiran-pikiran yang berkecamuk dalam otaknya langsung buyar, pecah berkeping-keping.

“Dia, sama saja dengan yang lain.”. Jawaban Junpyo diakhiri dengan memutar tubuh kearah pintu. Dia mulai mengarahkan sepasang kaki ke depan.

“Jadi kamu tidak serius?”

Tanpa berbalik, Junpyo menjawab. “Jika jawaban itu yang kamu inginkan, benar- saya tidak menganggap serius hubungan ini. Tapi, walaupun begitu saya tidak bisa menjamin tidak akan serius di masa depan. Mungkin saja dia bisa merubahku menjadi seseorang yang mengerti makna dari cinta. Tidak seperti yang saya dapatkan dalam keluarga Goo ..”, perlahan bibir Junpyo tertarik keatas, membentuk senyuman mengejek yang teramat kecut.

Lalu dia mulai meneruskan langkahnya. Berjalan dengan tegap kearah pintu, kemudian menghilang dari situ. Hae Jeang mengikuti kepergiannya dengan sinar mata meredup. “Kamu tidak mengerti bagaimana omma sangat mencintaimu, dan ingin yang terbaikmu buatmu, Junpyo-a.”, desisnya lirih.

Mr. Jung, yang berdiri di pojok ruangan, hanya bisa menyimak percakapan ibu dan anak itu dengan mengeleng-gelengkan kepalanya.

- - - - - - * - * - * - - - - - -

 
Lapangan luas dengan panggung melengkung di bagian tengah, dilengkapi dengan beberapa tiang dan gundukan-gundukan bercat kuning terang berjajar rapi di lantai semen yang terpoles rata dan licin, terbentang di hadapan Jandi.

Sekelompok orang berseliweran dengan papan-papan selancar menempel ketat di kaki mereka, dikendalikan dengan sangat sempurna seakan-akan dilem dengan perekat tercanggih di dunia, dari gundukan-gundukan semen bergaris-garis kuning putih sampai ke panggung melengkung di ujung lapangan.

Mereka meluncur di tengah panggung melengkung tersebut, berputar mengelilingi tiang-tiang yang berdiri tegak di setiap sudut tepi lapangan, dan meloncati gundukan-gundukan semen sambil mengangkat papan selancar ke atas dengan posisi berjongkok. Musik keras, dan dentuman-dentuman nyaring dari drum-drum yang dipantulkan oleh tongkat-tongkat yang dipukul keras-keras keatasnya, mengiringi gerakan-gerakan mereka.

“Ini .. “, Jandi tidak mampu meneruskan perkataannya. Pemandangan di depan begitu menakjubkan, membuatnya kehilangan suara.

Jihoo melirik Jandi. Dia tersenyum perlahan.
“Selain ice skating, ini kesukaanku. Tempat nongkrongku dulu .. “

Jandi berpaling padanya. Dia pernah mendengar berita tentang kesukaan Jihoo pada skating, dulu .. sudah bertahun-tahun yang lalu. Tapi, itu hanya berita singkat. Tidak ada yang tertarik dengan hobinya yang satu ini selain karir ice skating yang membesarkan namanya. Berita tersebut tidak disebut-sebut lagi, tenggelam begitu saja setelah dia berhasil meraih kemenangan-kemenangan besar di olahraga yang satu itu.

Kalau ditanya, mengapa Jandi mengetahui hampir semua berita tentang Jihoo? Semua karena pemuda ini idolanya waktu remaja. Jandi sangat mencintai ice skating. Dia pernah berpikir untuk menjadi seorang iceskater profesional, tapi semua itu terpendam karena tanggungjawab terhadap ‘Korean News’. Karena itu juga, dia sangat simpatik terhadap Jihoo, yang sanggup mewujudkan semua cita-citanya walaupun dengan status pewaris tunggal dari ‘Yoon’s Power’. Dan dia tidak habis pikir bagaimana pemuda ini melakukannya. Apakah orangtuanya tidak melarang kegiatan tersebut? Ini sangat tidak masuk akal kalau mengingat betapa pentingnya kedudukan ‘Yoon’s Power’ di perekomian Eropah dan Amerika.

“Hey Yoon Ji-Hoo, saya dengar kamu kembali ke Korea seminggu yang lalu!! Tidak dikira kamu akan mengunjungi kami di sini setelah kesibukanmu yang pasti menggunung .. “, terdengar teriakan dari seorang pemuda yang sekarang berjalan ke tempat mereka.

Jandi dan Jihoo menoleh kepadanya.

“O Song Woo-Bin .. “. Jihoo segera mengangkat tangan ke atas yang disambut dengan tepukan keras dari pemuda bernama Woobin.

“Bagaimana keadaanmu? Masih sibuk bro? Sudah hampir setengah tahun ya?”, tanya pemuda di hadapan mereka beruntun-runtun.

Jihoo melebarkan senyumnya. “Ya, hampir setengah tahun kita tidak bertemu. Kalau tidak salah sejak kepulanganku musim gugur lalu. Saya baik-baik saja, and yup still busy with my jobs, those almost kill me .. heehehe ..”, Jihoo tertawa perlahan, lalu berpaling kepada Jandi, “ .. oh ya, kenalkan ini miss … “

“Geum Jan-di dari Korean News ..”,  celetuk Woobin. Menyelipkan perkataan di antara kata-kata Jihoo yang belum selesai, sehingga membuat pemuda itu melebarkan matanya.

"Kamu mengenal Jandi?"

Woobin terkekeh kecil sambil melirik Jandi, "He .. he .. saya rasa tidak ada seorangpun di Korea yang tidak mengenal ahli waris dari Korean News .. "

Jihoo mengangguk dengan mulut terbuka membentuk huruf 'O'. Woobin jadi memperkeras tawanya melihat tampang mengelikan Jihoo. Dia bermaksud melanjutkan perkataan yang tidak habis tadi ketika teriakan keras dari ujung panggung terdengar.

"Heyyyy Song Woo-bin,- kemarilah, ada yang tidak beres dengan panggung ini!!!!!".

Mereka langsung menoleh ke asal suara itu. Seorang pria melambaikan tangan kearah mereka. Woobin mengangkat tangannya.
"OK, Saya ke sana sekarang!!!!", lalu dia berbalik, menghadapi Jandi dan Jihoo, "Jika kamu ingin meluncur, skateboardnya ditaruh di tempat biasa ..", dia menepuk lengan Jihoo. Yang ditepuk menganggukkan kepalanya. Kemudian Woobin menoleh pada Jandi, "Senang berkenalan denganmu Geum Jan Di-ssi. Saya berharap kita akan bertemu lagi di hari-hari mendatang .. ".

Woobin tersenyum, disambut oleh Jandi. Gadis itu menganggukkan kepala sambil memperlebar senyumnya, "Ne, saya juga senang berkenalan denganmu, Woobin-ssi-"

Woobin meninggalkan mereka dengan langkah lebar.

Mendadak Jandi merasakan tangannya ditarik seseorang. Dia segera menoleh dan mendapati Jihoo mengayunkan tangan yang mengenggam erat pergelangan tangannya dengan senyum ceria.

"Mwo?"

"Ayo kita ke sana!", ajak Jihoo. Tangannya menunjuk ke deretan bangku di sudut lapangan. "Kita berbincang di sana saja .. "

"Tapi .. saya harus kembali ke kantor sekarang .. ", tolak Jandi halus. Walaupun dulu- dia sangat mengidolakan pemuda ini, tetap saja dia hanya orang asing. Perkenalan mereka tidak lebih dari tiga jam, dan dia merasa gugup diperlakukan begitu akrab oleh pemuda satu ini.

"Apakah wawancaramu sampai di situ?"

"Mwo?", Jandi mengenyitkan alisnya. "Apa maksud pertanyaan pemuda ini?!!" Huhhh ...

"Maksudku, pertanyaanmu 'mengapa saya meninggalkan dunia ice skating lima tahun yang lalu- dan juga nama dan julukan yang telah kudapatkan', apakah kamu tidak tertarik?", goda Jihoo dengan mata bersinar.

"Itu ..."

"Kalau kukatakan padamu, saya akan menceritakan semuanya, apakah kamu akan mendengarkannya?", tanya Jihoo dengan nada menyelidik.

Mulut Jandi mengangga. Benarkah pemuda ini akan menceritakan semuanya? Setelah rahasia itu terkubur dan tidak berhasil dikorek oleh media massa manapun! Lalu mengapa dia bersedia menceritakan semua padanya? Apa yang diinginkannya?

"Bagaimana, Jandi-a?"

Pertanyaan itu mengejutkannya. Jandi segera menatapnya lekat-lekat.
"Benar akan menceritakan semuanya padaku?"

Jihoo mengangguk, "Ne .. "

"Tapi kenapa? Saya mengira kamu tidak akan menjawabnya .. "

"Entahlah ..", Jihoo mendesah perlahan, "Saya merasa nyaman denganmu .. ", sambungnya kemudian.


Mendengar jawaban spontan dari Jihoo, Jandi semakin gelisah. Merasa nyaman dengannya? Tapi mengapa? Mereka baru saling mengenal, dan itupun dalam urusan pekerjaan. Mengapa dia berbicarakan blak-blakan begitu? Seperti dia sudah mengenalnya dalam waktu lama saja!!!

"Bersedia mendengarnya? Atau .. kamu lebih memilih menghindariku?", Jihoo mencondongkan badan ke depan, sehingga wajahnya hampir menyentuh kepala Jandi.

"Ti .. tidak .. ", Jandi langsung mundur ke belakang, " .. saya tidak menghindarimu, .. mengapa kamu berpikir begitu?", tanyanya gugup.

"Bagus kalau begitu!". Jihoo menegakkan badannya, lalu mulai melangkah ke depan. "Ayo ikut saya .. ", tanpa berhenti melangkah, dia berpaling ke belakang, sambil mengerakkan tangan pada Jandi. Mengajak gadis itu mengikuti langkahnya ke tempat yang ditunjuknya tadi.

Jandi langsung meruncingkan bibirnya. Dan untung perbuatan ini tidak terlihat Jihoo karena pemuda itu sudah berpaling ke depan. Antara menerima dan tidak, dia mengikuti langkah Jihoo dengan agak terseret.

- - - - - - * - * - * - - - - - -


Junpyo melajukan lotus merahnya, membelah kota Seoul di hari yang panas dan pengap siang itu. Pembicaraan dengan madam Kang sepuluh menit yang lalu, di restoran Amor membuat suasana hatinya yang sudah panas menjadi semakin panas.

Brakkkk ....

Pukulan keras mendarat di gagang kemudi. Sepasang matanya mulai gelap. Dingin, tidak tertafsirkan. Tanpa mengalihkan perhatian dari jalanan depan, dia merogoh ponsel dari saku jasnya. Memasang earphone ke telinga, lalu mulai memencet sebuah nomor yang sudah diatur di dalam ponsel.

tut .. tut ... tut ...., suara di seberang terdengar ...

brakkkkkkkkk ......... ponsel itu langsung melayang dari tangan Junpyo. Mendarat dengan posisi mengenaskan di bangku belakang.

"GEUM JAN DI!!!!  kemana matinya kamu, gadis berengsek?!!!!".

Teriakan Junpyo mengelegar keras, dan terlontar keluar lewat kap mobil yang terbuka. Para sopir dalam mobil-mobil yang melintas di sebelahnya langsung melirik padanya. Beberapa di antara mereka tersenyum-senyum dan tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan Junpyo. Tapi ada juga yang mengeleng-gelengkan kepalanya dengan tampang kesal.

Emosi Junpyo sudah benar-benar tidak dapat dikendalikan lagi saat ini. Dia tidak pernah merasa benar-benar dicuekkan selama ini, apalagi oleh Jandi, orang yang selalu menuruti keinginannya walaupun dengan terpaksa.

- - - - - - * - * - * - - - - - -


"Jadi .. ?", pertanyaan Jandi mengantung di udara. Saat itu dia dan Jihoo sudah menjatuhkan diri, duduk berdampingan di bangku kayu sudut lapangan tempat kelompok Woobin berluncuran dengan papan-papan luncurnya.

Jihoo melirik sekilas padanya, kemudian melemparkan pandangan ke tengah lapangan.
"Mwo?", pertanyaan menggoda itu terlontar dari mulutnya.

"Mwo?", Jandi mengulangi pertanyaan itu dengan mulut mengangga. Apa yang diinginkan pemuda ini? Mempermainkannya terus? "Tentu saja cerita yang kamu janjikan tadi!!", sambungnya kesal.

Jihoo terkekeh perlahan. Tanpa mengalihkan perhatian dari keasyikan para muda-mudi di depan sana, dia mulai berkata, "Enak sekali menjadi mereka .... "

"Jadi ... ?", Jandi mengerutkan alis. Kesabarannya mulai habis terhadap kelakuan pemuda ini.

"He .. he .. kamu orangnya tidak sabaran ya, Jandi-ya?", ejek Jihoo.

"Saya tidak tahu kalau kamu orangnya menyebalkan!!", sahut Jandi ketus.

Tampang Jihoo langsung berubah. "Kamu berpikir begitu?". Kesenduan terselip dalam pertanyaan tersebut.

Jandi termangu di tempatnya. "Miane, .. maksud saya bukan begitu. Saya ... sa ... "

"Ah sudahlah!!", Jihoo mengibaskan tangannya. "Saya tahu kamu tidak bermaksud begitu, dan .. biasanya saya juga tidak seperti ini ... "

Jandi mengangguk perlahan. "Miane .. "

Jihoo kembali melemparkan pandangan ke depan. "Saya iri dengan mereka. Dulu, saya bisa melakukan yang mereka lakukan. Tapi kalau kamu bertanya, apakah saya menyesal melepaskan semuanya ... ", dia menoleh pada Jandi, " .. maka jawabanku, tidak! Saya tidak menyesalinya, karena beginilah takdirku .. "

Jandi tidak mampu memberi tanggapan apa-apa. Dia hanya bisa menatap Jihoo lekat-lekat.

"Kamu tahu tidak kalau keluargaku berbeda dengan keluarga kaya lainnya?", tanya Jihoo tiba-tiba.

Jandi segera mengelengkan kepalanya. "Aniyo .. ", jawabnya halus.

"Keluarga kami punya prinsip, - segala sesuatu mesti dijalankan dengan jujur-", Jihoo memulai ceritanya. "Saya mempunyai perjanjian dengan dad dan mom, sebelum umur 18 tahun - saya bebas melakukan segala sesuatu yang kusukai, karena itu saya bisa sukses di arena ice skating ... "

"Begitu ... ", Jandi kehilangan kata-katanya.

Dia tidak pernah mendengar hubungan seperti ini di keluarga kaya dan terkenal seperti mereka. Dia, Junpyo dan bahkan Yijeong, juga tidak begitu. Mungkin saja orangtua mereka sangat menyanyangi anak-anaknya. Seperti Jandi, sangat menyadari kalau appa dan omma sangat mencintainya, tapi tetap saja hubungan mereka tidak sedekat itu. Tidak segala sesuatu dapat didiskusikan dan dikompromi sejelas itu. Ada sesuatu yang tidak bisa diganggu-gugat, yaitu tanggungjawab mereka sebagai pewaris tunggal dari keluarga tua yang sudah dirintis sejak dahulu kala oleh nenek moyang mereka.

"Kemenangan-kemenangan yang kuperoleh tidak terlepas dari dukungan orangtuaku, .. karena itu saya tidak bisa melarikan diri ketika tugas itu sudah menungguku. Saya melepaskan gelar, karir dan kebesaran nama di arena ice skating yang sangat kucintai dengan lapang dada. Saya tidak menyesal walaupun tetap tidak bisa benar-benar meninggalkannya. Jika ada waktu saya akan kemari, atau .. paling tidak meluncur sebentar di sela-sela kesibukanku yang menumpuk .. ", jelas Jihoo panjang lebar.

Jandi mendengarkan dengan seksama. Dia tidak mampu mengeluarkan suara sama sekali. Keluarga Yoon kedengarannya memiliki interaksi yang sangat baik. Pasti akan menyenangkan berada di tengah-tengah keluarga seperti itu.

"Lalu bagaimana denganmu, Jandi-ya?", tanya Jihoo tiba-tiba.

"Hahh??!", Jandi langsung tersentak dari posisinya. Lamunannya buyar seketika. "Mwo?"

Jihoo tersenyum perlahan. Senyuman yang sangat lembut dan menenangkan. "Apa yang kamu sukai? Atau yang kamu cita-citakan dan ingin kamu lakukan sejak dulu? Ya, selain meneruskan Korean News, - saya yakin kamu tidak benar-benar menyukai ini. Jangan katakan padaku kamu menyukainya, karena saya tidak percaya, Jandi-ssi .."

Jandi tidak segera menjawab. Tanpa disadari, dia mengigit bibir bawahnya, sebagai usaha menyembunyikan kegelisahan dari Jihoo.

"Geum Jan Di .. "

"Saya mengidolakanmu sejak dulu .. ", sahut Jandi cepat.

"Mwo?", mata Jihoo terbelalak lebar. "Apa saya tidak salah dengar?"

"Saya mencintai ice skating sejak kecil. Karena itu saya sangat mengidolakanmu. Saya masih mengingatnya dengan jelas, - ketika itu saya baru berusia duabelas tahun dan kamu ..", Jandi menatap Jihoo dengan mata berbinar, " .. si Jenius Muda, dalam usia limabelas tahun, sudah memenangkan perlombaan-perlombaan besar dan penting, baik dalam maupun luar negeri .. "

"Apakah kamu juga iceskater nasional?"

"Aniyo.", jawab Jandi, "Saya tidak pernah menyentuh yang namanya ice skating .. "

"Weo? Kamu sangat mencintainya kan?", tanya Jihoo tidak mengerti.

"Karena saya tahu itu sia-sia. Omma tidak akan mengijinkannya, apalagi appa. Saya hanya bisa bermimpi dan membayangkan diriku meluncur dengan bebas di lapangan yang sangat kucintai .. ". Kepala Jandi menunduk perlahan. Setelah beberapa tahun, mimpi itu kembali berkelebat dalam pikirannya.

Jihoo memperhatikan Jandi dalam-dalam. Entah mengapa, melihat kesedihan gadis ini membuat hatinya perih. Bahkan sangat perih. Perkenalan yang hanya beberapa jam tidak menjadikannya asing dalam hatinya. Perasaan dekat tersebut melekat erat dan semakin erat.

Kemudian dia mengulurkan tangan, meraih tangan Jandi. "Ayo meluncur bersamaku!!"

Gadis itu langsung mengangkat kepalanya, "Mwo?"

Jihoo mengoyang tangan Jandi. Senyum lembut tersungging di bibirnya, "Meluncur denganku .. ", ulang Jihoo sekali lagi.

"Tapi .. sa .. saya tidak bisa .. ", tolak Jandi dengan suara terbatah-batah.

"Saya akan mengajarimu. Percaya padaku kan?"

"Sa .. saya ... "

"Ikut saja!!", Jihoo memotong kata-kata Jandi dengan menariknya bangun dari tempat duduk. "Saya akan menjagamu .. ", sambung Jihoo halus.

"Tapi ... ".

Bantahan Jandi terpotong lagi ketika Jihoo berteriak pada Woobin. "HEY SONG WOOBIN!! SAYA MEMERLUKAN SEPATU SKATE!! DUA PASANG!!!"

Woobin yang masih sibuk dengan panggung lengkung di batas akhir lapangan, mengangkat wajahnya. Dia tidak menjawab. Hanya tangannya yang menunjuk ke lemari besi di sisi sebelah.

"DI SITU? OK, THANKS!!!", Jihoo mengangkat tangan ke atas, mengacungkan jempolnya.

Lalu dia berlari ke lemari besi dan mengeluarkan sepasang sepatu skate dengan ukuran yang sesuai dengan kaki mereka. Setelah itu, dia terdiam untuk beberapa saat di depan lemari. Berpikir sejenak, dia meraih papan seluncur dari dalam lemari.


Dia kembali ke tempat Jandi dalam waktu dua menit.

"Ka .. kamu serius?", tanya Jandi gugup.

"O, tentu saja ...", jawab Jihoo. Dia menarik tangan Jandi dan mengajaknya ke tengah lapangan. "Ayo ... "

"Ta .. tapi ... "

"Saya akan memakaikan sepatu ini untukmu .. "

Jihoo segera berjongkok di depan Jandi dan mulai menganti sepatu sport NIKE yang dikenakannya dengan sepatu skate yang tadi diambil dari dalam lemari. Jandi tidak bisa menolak perbuatan Jihoo. Dia hanya bisa termangu di tempat, memperhatikan tindakan pemuda ini. Setelah itu Jihoo menganti sepatunya sendiri.

"Ok, finish now!", Jihoo mengangkat wajah, menatap Jandi, "Can we start?"

Tanpa dapat membantah, Jandi menganggukkan kepalanya. Jihoo tersenyum dan mulai menarik tangan Jandi.

"Akhhhh ... ", teriak Jandi ketika hampir kehilangan keseimbangannya.

Jihoo langsung melingkarkan tangan ke pinggang Jandi dan menarik gadis itu kearahnya. "He .. he .. jangan takut, saya akan menjagamu .. "

"Gham .. samida ... ", ucap Jandi lega. Nafasnya terengah-engah dan dengan susah payah dia bertumpu ke lengan Jihoo.

"Kita meluncur lagi?", tanya Jihoo, berusaha menanamkan kepercayaan pada Jandi. "Kamu percaya padaku kan, Jandi-ya?"

"Iya ..", jawab Jandi dengan suara bergetar. Dia sangat takut, - takut jatuh. Walaupun Jihoo, seorang peluncur profesional, mengiringi langkahnya, tetap saja tidak bisa mengusir perasaan takut itu.

"Jangan takut! Saya akan melindungimu .. ", kata Jihoo lembut.

Jandi kembali melangkahkan kakinya. Meluncur dengan ragu-ragu. Pengangannya di lengan Jihoo semakin erat. Bahkan kuku-kukunya terbenam di jaket pemuda itu. Jihoo tersenyum melihat ketakutan Jandi. "Jangan takut .. ", ujarnya lagi.

Jandi mengangkat wajah, memandanginya. "Ne ... "

Perlahan, permainan Jandi semakin luwes. Dia mulai bergerak tenang, walaupun pengangannya di lengan Jihoo masih tidak dilepaskan.

"Bagus! Kamu hebat. Kelihatannya kamu dilahirkan dengan bakat alam .. ", puji Jihoo. "Permainanmu tidak buruk walaupun ini pertama kalinya kamu menyentuh skate .. "

Jandi tertawa mendengar pujian Jihoo. "He .. he .. semua karena ajaran sunbae .. "

"Sunbae?"

"Iya, sunbae. Kamu seniorku. Aku tidak ingin memanggilmu guru jadi panggil sunbae saja .. ", Jandi terkekeh semakin keras.

"Ok, apa saja la ha .. ha .. ", Jihoo ikut tertawa keras.

Musik dan dentuman keras dari drum-drum yang dipukulkan terus-menerus dikalahkan suara ketawa mereka.

- - - - - - * - * - * - - - - - -


Keesokkan harinya, Junpyo dan Jaekyung makan siang bersama di restoran Amor. Mereka menghabiskan makanan dari atas meja tanpa bersuara. Tampang Junpyo masih kusut dari kemarin. Dia kesal sama Jandi. Nomor gadis itu tidak bisa dihubungi sejak kemarin siang. Kemana perginya dengan Jihoo? Apa yang dilakukan mereka? Dan mengapa tidak menghubunginya, seperti yang biasa dilakukan gadis itu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus-menerus berputar dalam otaknya sehingga membuatnya tidak bisa memejamkan mata sejak tadi malam.

Jaekyung mengamati Junpyo dengan seksama dan bertanya-tanya dalam hati apa yang terjadi dengan pemuda ini.

"Gwencana Junpyo-ya?"

"O gwencana .. ", jawab Junpyo datar.

"Hmm apakah ... ", Jaekyung menghentikan perkataannya.

Junpyo langsung mengamati gadis itu dengan kening berkerut. Keraguan tersirat jelas dari wajah Jaekyung.
"Weo? Wegude?"

"Kamu, .. apakah kamu tidak mempunyai sesuatu yang ingin dikatakan?", Jaekyung balas bertanya.

"Aniyo, memangnya kenapa?", tanya Junpyo kesal.

"Doronim ... ". Kehadiran Mr. Jung membuyarkan ketengangan di antara mereka.

Junpyo berpaling padanya, "Ada apa?"

"Kang Hae Jeang-nim meminta tuan muda dinner bersama malam ini .. ", jawab Mr. Jung.

Junpyo langsung terlonjak dari tempatnya, "Mwo? Bukankah dia berangkat ke Jepang hari ini?"

"Tidak, doronim ", Mr. Jung membungkuk perlahan. "Jadwal madam Kang berubah. Presentasi di Jepang sudah diundur sampai minggu depan karena konferensi selama tiga hari dengan Mukay Capital lebih penting .. "

"Lalu .. mengapa harus mengorbankan waktuku?", tanya Junpyo dingin.

"Madam Kang ingin mendiskusikan sesuatu dengan doronim .. "

"Saya tidak punya waktu!!!", sahut Junpyo cuek. Dia mengembalikan perhatian pada Jaekyung. "Apa yang ingin kamu katakan tadi?"

"Doronim ... "

"Mr. Jung!!!". Junpyo mendelik kearahnya. "Sebenarnya kamu bekerja pada siapa? Ingat, madam Kang hanya wakil appa. Saya yang bermarga Goo, dan saya ahli waris ShinHwa. Saya satu-satunya majikan yang harus kamu hormati dan dengarkan perintahnya!!", sahut Junpyo tegas, "Araso?!"

"Ne, doronim .. ", akhirnya Mr. Jung mengundurkan diri dengan pasrah. Tidak ada gunanya dia membantah Junpyo. Majikan mudanya ini sangat keras kepala seperti madam Kang.

"Bagaimana? Bisa menjawab pertanyaanku sekarang?", Junpyo menghadapi Jaekyung lagi.

"Hmmm ... "

"Kamu tidak berniat mengantung jawabanmu terus kan? Jika begitu, akhiri saja pembicaraan ini .. "

Junpyo berdiri dari kursinya, tapi segera dihentikan Jaekyung.

"Hari ini ulangtahunku!!", katanya.

"Mwo?", alis Junpyo langsung berkenyit, "Mengapa kamu tidak memberitahukannya padaku sejak tadi?"

"Saya mengira kamu mengetahuinya .. ", jawab Jaekyung pelan.

Junpyo menghembuskan nafasnya. "Saya tidak pernah mengingat ulangtahun seseorang jika kamu mengenalku dengan baik ..". Dia menjatuhkan diri ke kursi lagi.

"Begitu .. ", ujar Jaekyung lirih.

"Apa yang kamu inginkan dariku?"

"Saya ... ", Jaekyung tidak mampu meneruskan perkataannya. Bagaimana menjelaskan pada pemuda ini kalau sebagai seorang wanita dia ingin diperhatikan lebih? Apalagi di hari ulangtahun seperti hari ini.

Kepala Jaekyung tertunduk lambat-lambat. Junpyo masih memperhatikannya. Sepasang matanya menyipit. Setelah berpikir sejenak dia berkata, "Araso, saya akan menyiapkan semuanya!"

Mata Jaekyung melebar, tapi dia tidak mengangkat kepalanya. Senyum tipis tersungging di bibirnya dan ini terlepas dari perhatian Junpyo karena dia sudah mengangkat tangan kepada Mr. Jung.

"Ne, doronim .. ", Mr. Jung sampai di sebelah Junpyo kurang dari setengah menit.

Junpyo tidak segera memberikan perintahnya. Apakah ide tepat dengan menyuruh Mr. Jung mencarikan kado buat Jaekyung? Tidak! Kayaknya tidak tepat. Seorang pria tidak mengerti keinginan seorang wanita. Mr. Jung bukan pilihan yang tepat.

"Doronim .. "

"Siapkan ruang kantor hotel Shin Hwa buatku! Saya menginginkan dekorasi yang fantastis buat perayaan ulangtahun Ha Jae Kyung-ssi", perintah Junpyo.

"Ne. Ada yang lain lagi, doronim?"

"Aniyo. Kamu bisa melakukannya sekarang juga, - Keluarlah dari sini!". Junpyo mengibaskan tangannya.

Mr. Jung mengangguk dan berlalu dari hadapan mereka. Sepeninggal Mr. Jung, Junpyo berdiri dari tempatnya, "Kamu tunggu saya di sini. Ada yang harus saya lakukan .. "

Jaekyung mengangguk. Junpyo segera berlalu ke sudut ruangan. Dia mengambil ponsel dari saku baju dan memencet nomor Jandi. 'Semoga gadis brengsek itu bisa dihubungi!!', desisnya.

"WEEE?", teriakan langsung terdengar dari seberang.

Reflek, Junpyo menjauhkan ponsel dari telinga, "Yaaaa Geum Jan Di, bisakah kamu lebih lembut?!! Teriakanmu hampir menulikan telingaku ". Junpyo mengesek telinga berkali-kali guna menghilangkan dengungan dari gendang telinga akibat teriakan Jandi.

"Shido!!!", teriakan Jandi terdengar lagi. Penolakan keras yang sering dilakukannya pada Junpyo.

"Ada apa denganmu? Mengapa nomormu tidak bisa dihubungi dari kemarin?", bagus! Pertanyaan yang tidak ada hubungannya terlontar juga dari mulutnya.

"Weo? Ada urusan apa denganmu? Saya tidak harus melapor setiap hari tentang kepergianku kan? Memangnya kamu siapa?", suara Jandi terdengar sangat kesal.

"Tentu saja harus!!", Junpyo bersikukuh dengan perkataannya. "Kamu tidak pernah melakukan ini padaku,- jadi sekarang jawab pertanyaanku, kemana saja kamu kemarin?"

"Hentikan omong kosong ini!!!", Jandi berteriak lagi, kali ini lebih keras. Dan untuk kedua kalinya Junpyo menyingkirkan ponsel digenggaman dari daun telinga.

"Geum Jan Diiii!!" Junpyo memprotes keras.

"MWo? Wee?", tanya Jandi masa bodoh.

"Kamu bisa serius tidak?"

"Tidak!!!! Sekarang katakan apa maumu?"

"Mwo??!!", Junpyo balas bertanya.

"Jangan pura-pura bodoh, Goo Jun Pyo-ssi!! Kamu tidak akan mencariku buat alasan tidak jelas, jadi katakan sekarang apa permintaanmu?

Junpyo tidak segera menjawab pertanyaan Jandi. Pandangan Jaekyung dari seberang menarik perhatiannya. Gadis itu sudah mengamatinya lama sekali. Dan Junpyo merasa tidak nyaman dengan sinar matanya. Segera Junpyo membalikan badan, menghadap dinding.

"Goo Jun Pyo, jika kamu masih membisu, saya akan menutup pembicaraan sekarang juga!!!", ancam Jandi dari seberang.

"Hey Geum Jan Di, saya masih di sini!!", seru Junpyo. "Jangan menutup ponselmu!!"

"Katakan sekarang atau ... ", Jandi mengantung kata-katanya.

"Iya iya saya akan mengatakannya sekarang juga .. "

"Mwo??!!"

"Carikan saya sesuatu yang tepat buat kado ulangtahun seorang wanita!"

"MWOOOOO!!!!", teriakan Jandi terdengar lagi.

"Geum Jan Di ... ". Junpyo memejamkan mata perlahan. Tegurannya kali ini tidak tegas, bahkan sangat lemah. Dia sudah capek memperingati Jandi tentang volume suaranya yang mengerikan.

"Ne, ne. araso!!", kata Jandi sambil menganggukkan kepala, yang tentu saja tidak terlihat Junpyo. " saya akan memelankan suaraku ..", sambungnya, " ... tapi, mengapa meminta bantuanku?!! Bawahanmu selangit kan? Jadi mengapa harus aku, aku dan aku terus?!!"

"Mengapa? Kamu sibuk?!", tanya Junpyo menyelidik.

"Aniyo. Saya hanya tidak mau dijadikan pembantumu!!!"

"Saya tidak pernah memperlakukanmu layaknya seorang pembantu .. ", protes Junpyo.

"Chinja?! Saya tidak merasa begitu!!", sahut Jandi sinis. Senyum mengejek terhias di bibirnya, yang tersembunyikan dari Junpyo.


"Lupakan itu!!!", elak Junpyo. "Berapa waktu yang kamu perlukan untuk melakukan itu?"

"MWo?!! Apakah saya sudah berjanji padamu?! Saya tidak ingin melakukannya. Segitu saja, bye!!". suara tutttttttttttttt panjang, tanda hubungan terputus terdengar.

"YAAAA GEUM JAN DI!!!! GEUM JAN DIIIIIIIII!!!!"

Teriakan Junpyo tidak menyelamatkan keadaan. Pembicaraan mereka sudah diputuskan pihak Jandi dengan kejam.

"Geum Jan Di sialan!!!!", gerutunya keras, sekeras-kerasnya.

"Goo Jun Pyo ... ". Panggilan Jaekyung mengembalikan kesadaran Junpyo tentang keberadaannya di ruangan itu.

Junpyo memutar badan dan berjalan kearahnya.

"Siapa itu? Agashi?", tanya Jaekyung halus.

Junpyo mengangguk sambil menjatuhkan tubuhnya di hadapan Jaekyung. "Dia menolak permintaanku lagi!! Sialan sekali gadis itu!!!"

brakkkk ... Junpyo mendaratkan telapak tangannya ke meja. Sepasang matanya mulai mengelap.

"Goo Jun Pyo, gwencana?", tanya Jaekyung ragu-ragu.

"O ... ". kringgggggggg .... perkataannya terputus oleh deringan ponsel. Tanpa menunggu deringan kedua dan tanpa melihat siapa yang meneleponnya, Junpyo menekan tombol terima dan membawa ponsel itu ke telinga.

"Yeoboseyo!!!", sahutnya pedas.

Sesaat keheningan menyelimuti suasana di seberang. "Yeoboseyo!! Hallo!!", ulang Junpyo.

Kemudian suara Jandi terdengar, "Saya akan melakukannya dalam waktu setengah jam. Di mana saya harus menemuimu?"

Senyum tipis langsung tersungging di wajah Junpyo. "Hotel Shin Hwa.", jawabnya pendek, berusaha keras menahan ketawanya.

"Ok. Sekian."

tutttttttttttttt ..... suara menyebalkan itu terdengar lagi dari seberang. Tapi kali ini tidak mengesalkan Junpyo. Keinginannya sudah tercapai. Jandi menyerah padanya, sekali lagi dia menang. Menang dari seorang Geum Jan Di. Senyum puas terhias di bibirnya. Dia mengangkat gelas berisi air dari atas meja, kemudian membenturkannya ke gelas Jaekyung yang terletak di meja.

"Cheerssss .... ", serunya sambil meneguk air sepuas-puasnya, layaknya orang yang tidak minum berhari-hari.

Tanpa disadari, Jaekyung memperhatikannya dengan sinar mata kucing.

- - - - - - * - * - * - - - - - -

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
horayyyy udah diupdate [smiley-gen013] [smiley-gen013] thanks mami [hug] [cheekkiss]

wew HoSun couple euy [hmpfh] [hmpfh] tp aku lebih seneng JoonSun cucok bo' [hmpfh] *ditabok mami* [hmpfh] bikin aja mam si jiho sm woo bin naksir JD biar JP makin kebakaran jenggot berasep berasep de ntar [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing]



ADAM COUPLE SELCA

Offline kimmy_minsun

  • Newbie
  • *
  • Posts: 45
  • saranghae min ho oppa 4ever
  • Location: jakarta
    • View Profile
Gumawo mami udh di update ..
itu si junpyo kpan sadar'ny sih , qlo dia cinta'ny sma jandi ,, bukanny cepet sadar malah mau bikin pesta buat jae kyung .. Huuhhh..
"Being deeply loved by someone give u strength loving some deeply give u courage" ..

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Gumawo mami udh di update ..
itu si junpyo kpan sadar'ny sih , qlo dia cinta'ny sma jandi ,, bukanny cepet sadar malah mau bikin pesta buat jae kyung .. Huuhhh..
itu inti dari cerita ini say,
gw suka si cemburu jp, ff ini bakal penuh dgn cemburunya jp [devil2] [devil2] [lovestruck]

mak yem, minta ditabok nih org [head break] [head break] woobin ga akan gw bikin ngejar jandi, udah cukup deh dgn jihoo and yijeong, tar makin rubet deh klu dikejar 3 org [heh]
« Last Edit: June 05, 2010, 09:35:54 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
gak tahan mi hiatus lama-lama....

eh udah diupdet ma mami ternyata...

horaaaaaaaaaayyyyyyyyy....

thenk u banyak mi... makasih so much...

 [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap]

gemes bgt ma jun pyo... kenapaa dia gak ikut aja...

kenapa gak jujur aja sih kalau gak rela jandi pergi ber 2an ma jihoo...

tambah gemes lagi waktu jandi akhirnya telepon balik di lagi terus setuju buat nureutin permintaan jun pyo... jun pyo kayak anak kecil habis dibeliin sesuatu...langsung baik lagi...

 [jumpy] [jumpy] [jumpy]  [rofl] [rofl] [rofl] [rofl] [rofl]

iiiihhhhhhhhhhhhh.....  [ranting] [ranting] [ranting] [ranting] gemezzzzzzzz bgeud.....

hehehehehehehehe....

 [goodgrief] [goodgrief] [goodgrief] [goodgrief] [goodgrief]


Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
seru donk mam kalo jandi direbutin 3 orang junpyo makin smangat ntar buat ngejar JD

tp ntar JD jgn dibikin gampang bertekuk lutut sm JP ye mam musti diuji dulu tu cinta nya JP ke JD pengen liat gantian gt pengorbanan JP buat JD


ADAM COUPLE SELCA

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
seru donk mam kalo jandi direbutin 3 orang junpyo makin smangat ntar buat ngejar JD

tp ntar JD jgn dibikin gampang bertekuk lutut sm JP ye mam musti diuji dulu tu cinta nya JP ke JD pengen liat gantian gt pengorbanan JP buat JD
sure hwehehehe ~ketawa setan [devil2] [devil2]

yuki, soalnya jd emang dr dulu begitu, semula dia bakal menolak mati2an rencana jp, but pus keingat ama tampang jp yg memelas, hatinya lgs down deh,..
spt kata gw ini inti cerita ff ini, 'Unconscious Love'/ cinta yg tdk disadari [biggrin] [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Aurel " lusy" Aurellya

  • Junior
  • **
  • Posts: 227
  • kyaaa jun pyo sexy bgeth
  • Location: padang, indonesia
    • View Profile
Gumawoo mamii updetannyaa..
Kiss dulu ah, mwuahc.mwuahc
tp krg puas mi, aga pendek chapnya, lagi sibuk ya mi ?
Hadduhh itu si JK brmuka 2 bget dluar polos ddlam busuk, mian mi jadi esmosi , abiz aku sbel ma JK.. Hihi
ak gemes ma c jandi plin plan , skali2 pmintaan junpyo gag dturutin np, biar jp gag seenaknya merintah..
Hoo kea.a emosi ak lagi labil mii..
Miaaaann yaa..
Update next chap ditungguuu..
[lovestruck]
only u in my bottom heart, no body else, but u in over the world...

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Gumawoo mamii updetannyaa..
Kiss dulu ah, mwuahc.mwuahc
tp krg puas mi, aga pendek chapnya, lagi sibuk ya mi ?
Hadduhh itu si JK brmuka 2 bget dluar polos ddlam busuk, mian mi jadi esmosi , abiz aku sbel ma JK.. Hihi
ak gemes ma c jandi plin plan , skali2 pmintaan junpyo gag dturutin np, biar jp gag seenaknya merintah..
Hoo kea.a emosi ak lagi labil mii..
Miaaaann yaa..
Update next chap ditungguuu..
[lovestruck]
thanks udah dibaca, emang pendek ya? tp kok gw rasa udah panjang ya [hmpfh] [hmpfh] ... jd ga plin plan kok, dia jg ga mau memanjakan jp tp mau gimana lg, dia jg ga ngerti ama perasaan ssendiri [laughing] [laughing] ~authornya aja binggung [laughing]
di next next chp, elu akan lebih benci jk [devil2] [devil2]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Aurel " lusy" Aurellya

  • Junior
  • **
  • Posts: 227
  • kyaaa jun pyo sexy bgeth
  • Location: padang, indonesia
    • View Profile
Ho'oh mi , dari updetan ff mami yg lain yg ni brasa lebih pndek, itu mnurut ku yaa..
Weeee, sini mami aku [hammer] dulu, yg bkin dia sndri malah bingung.. [hmff] [hmff]
waww, tumben mami kasi spoilerr..
Jd pnasaran mank Jk ngelakuin rncna jahat pa mi?? Uuuhh gag rela aku Jk ngedapetin prhatian junpyo, lebih gag rela lagi kalo dia ampe bkin JunDi gag bersatuu, bisa aku sumpahin dia jadi kecoa biar dbenci Junpyo..
Bhahahaha
tp aku yakin ntar pzti heppi end kan mi..??
only u in my bottom heart, no body else, but u in over the world...