Author Topic: Masih Sahabatku (♥ Kekasihku ♥) ~ Chapter 15, Update 08.05.2011 ^^  (Read 26486 times)

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
Loh mak yem beneran mo nikah apa mo kawen seh... [hmpfh] [hmpfh]

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
wkekekekek mak mak [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing] lama ga nyampah dimari [rofl] [rofl] [rofl] mami ni jg ikutan ganjen donk [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing]

vay ya mau nikah dulu donk moso yo kawin dulu bisa digantung di puun bayem sm ortu [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing]


ADAM COUPLE SELCA

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
tp mak yem suka kan [hmpfh] [hmpfh] wlp digantung ttp untung lho mak sudah mencoba begituan [laughing] [laughing] ~lgs di [head break] [head break] ama emak [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
em,, mang bedanya nikah n kawin opo c?????  whistling whistling whistling whistling sok2an polos ode on ah aq  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

mak yem mah paginya nikah trus malem lsung tancep dah yakk mak???  [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
atau tancep dulu baru nikah besoknya [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
MAMIIII [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] TETEP AJE DAKU KENA GOROK ORTU [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing]

mannnnnn [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] opone yg ditancep [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing]


ADAM COUPLE SELCA

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
opo yg ditancep yoo?? ko malah balik nnya toh mak yem??? kan aq ini muridmu dalam hal bgono'an niy  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
jiyakakkaka c mami bisa ja niy sehati ma aq  [hmff] [hmff] [hmff] [hmff]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
oki, sip la [smiley-dance013] [smiley-dance013] [hmpfh]

mak yem, ingat manis dulu sengsara kemudian, ga apa2 kan [hmpfh] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
oki, sip la [smiley-dance013] [smiley-dance013] [hmpfh]

mak yem, ingat manis dulu sengsara kemudian, ga apa2 kan [hmpfh] [laughing]
jiah muncul dah peribahasa mami... [hmpfh] [hmpfh]

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
oki, sip la [smiley-dance013] [smiley-dance013] [hmpfh]

mak yem, ingat manis dulu sengsara kemudian, ga apa2 kan [hmpfh] [laughing]

apa ya mam kamsudnya bs dijelaskan wkekekekek sok polos [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing]


ADAM COUPLE SELCA

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
mak yem, maksudnya tuh habis makan permen yg banyak (manis), keesokan harinya tenggorokan jadi sakit (sengsara) jd mesti ke dokter deh [biggrin] maso gitu aja polos hammer2 hammer2 ga percaya ahhh [goodgrief]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
mak yem, maksudnya tuh habis makan permen yg banyak (manis), keesokan harinya tenggorokan jadi sakit (sengsara) jd mesti ke dokter deh [biggrin] maso gitu aja polos hammer2 hammer2 ga percaya ahhh [goodgrief]

yg daku tau kan tumbuk menumbuk belah membelah mam halah wkakakakak [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing]


ADAM COUPLE SELCA

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
Mo belah apaan neh...??  [AddEmoticons04259] belah duren ya...  [AddEmoticons04258] [AddEmoticons04263] [AddEmoticons04263]

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
ADDITIONAL CAST

KIM JOON as WOO BIN




KIM SO ROO as Pak Seong




CHAPTER 8


Pagi itu Ji Sung masih terlentang di kasurnya, pandangannya menerawang ke langit-langit kamarnya, semalam ia bahkan tidak tidur sama sekali. Ia sudah mencoba memejamkan matanya namun tetap tidak bisa tidur. Pikirannya menerawang kembali ke kejadian tadi sore di mercusuar.

Saat Eun Cha tenggelam dalam tangisannya, mengeluarkan segala beban yang ditanggungnya saat itu. Ji Sung hanya berdiri diam berpikir keras apa yang membuat Eun Cha sedih seperti itu, pada saat Eun Cha selesai menangis dan mereka duduk berdua di lantai bersandar pada dinding mercusuar melihat langit yang mulai memerah karena senja, Eun Cha masih diam. Matanya bengkak namun ia sudah tidak menangis lagi. Matanya lurus memandang garis pemisah antara langit dan lautan.

“Ji Sung-ssi apa kau tahu jarak terjauh di bumi ini ada dimana” Tanya Eun Cha pelan dan tiba-tiba.

“Hmmmm” Ji Sung bergumam pelan. “bumi dengan langit, setidaknya itulah yang sering kudengar” sahut Ji Sung kemudian. Eun Cha menggeleng.

“Tidak, bumi dan langit tidak perduli berapa jauhnya mereka terpisah namun masih ada garis batas yang membuat mereka begitu dekat, sebuah garis yang menyatukan bumi dengan langit seperti itu” Eun Cha menunjuk kearah sebuah garis horizon. “Lihat, sangat jelaskan”




Ji Sung memandang kearah telunjuk Eun Cha. “Ternyata langit dan bumi sangat dekat jika dilihat dari sini” gumam Ji Sung pelan. Eun Cha menganggukkan kepalanya tersenyum kecil.

“Bahkan mereka lebih dekat daripada kami” Eun Cha bergumam pelan. Ji Sung menoleh memandang Eun Cha dengan pandangan bingung.

“Sekarang aku sadar kalau jarak terjauh didunia ini adalah jarak antara aku dengan dia” sahut Eun Cha kemudian.

“Kemarin aku baru saja tahu sebuah kenyataan. Jawaban dari segala pertanyaanku selama ini, kenapa ia selalu bersikap dingin padaku” Eun Cha mulai bercerita.

“Ayahku, dia orang yang sangat dingin, ia tidak pernah berpaling barang sejenak untuk ku, sedangkan ibuku sebenarnya orang  yang sabar namun ia selalu takut kehilangan ayah karena ia sangat mencintainya. Ibu selalu berusaha untuk kelihatan serasi dengan ayah supaya ayah tidak pergi meninggalkannya. Sepanjang ingatanku belum pernah sekalipun ayahku memelukku. Saat aku ingat bahwa sekalipun kami tidak pernah pergi ke suatu tempat sebagai seorang keluarga. Pemandangan kami duduk semeja dan makan bersama adalah sesuatu yang langkah dan jarang terjadi” Eun Cha berhenti sejenak, menarik nafas dalam-dalam.

“Sekarang aku tahu bahwa aku hanyalah alat yang digunakan oleh ibu untuk mengikat ayah, tidak lebih” lanjut Eun Cha.


*******************

Ji Sung tersadar dari lamunannya saat seseorang mengetuk pintu kamarnya, dengan malas ia beranjak dari tempat tidurnya kemudian ia membuka pintu kamar.

“Tuan muda, tuan besar menunggu anda untuk sarapan” seorang pelayan yang mengetuk pintu memberitahukan Ji Sung sesuatu. Ji Sung hanya menjawab dengan anggukan, kemudian pelayan itupun berlalu pergi.

‘Ia sudah pulang’ gumam Ji Sung pelan menyandarkan tubuhnya di pintu kamarnya. Sejenak kemudian ia pergi ke kamar mandi membasuh wajahnya kemudian turun ke ruang makan dimana ayahnya telah menunggunya disana. Saat melihat putra tunggalnya datang Mr. Goo meletakkan koran yang dibacanya tadi, tersenyum kearah Ji Sung.

Ji Sung duduk di kursi yang berada disamping ayahnya. Pelayan datang menghidangkan sarapan untuk mereka.

“Bagaimana kabarmu nak?  Ayah dengar sekarang kau mulai rajin ke sekolah” Mr. Goo mulai membuka percakapan dengan Ji Sung.

“Nee, aboji” jawab Ji Sung pendek senyuman tipis menghiasi wajahnya.

“Syukurlah kalau begitu” jawab Mr. Goo dengan nada canggung.

Kemudian mereka berduapun sarapan tanpa berbicara lagi. Suasana menjadi sangat canggung bagi keduanya. Mereka memang selalu seperti ini, karena Mr. Goo adalah seorang pengusaha yang super sibuk dan sangat jarang berada di rumah. Hari-harinya lebih banyak di habiskan di Seoul atau diluar negeri untuk urusan bisnis, maka pemandangan mereka duduk bersama di meja makan adalah hal yang langkah terjadi, namun Mr. Goo meskipun sesibuk apapun ia tetap selalu memantau Ji Sung.

“Ehm…” Mr. Goo berdehem pelan saat sarapan mereka usai. Ji Sung menoleh ke ayahnya.

“Hari ini kau libur kan bagaimana kalau kita pergi main golf bersama” tawarnya kepada Ji Sung.

“Ah, miane aboji aku ada urusan” tolak Ji Sung

“Oh, kau mau pergi berkencan?” Mr. Goo bertanya menyelidik

“Ah, ahniyo aku hanya benar-benar ada urusan” Ji Sung menggaruk-garuk kepalanya.

“Oh begitu” sahut Mr. Goo pelan, sedikit kecewa terpancar di matanya. “Baiklah kalau begitu mungkin lain kali” sahutnya kemudian mencoba tersenyum.

“Ne…” sahut Ji Sung, ia kemudian beranjak dari ruangan itu setelah sebelumnya berpamitan kepada ayahnya.

“Ah Ji Sung-aa….” Seru Mr. Goo tiba-tiba, Ji Sung berpaling kearah ayahnya

“Mengenai penawaran ayah tempo hari, ayah harap kau bisa melaksanakannya” Ji Sung menjawab dengan menganggukan kepalanya pelan kemudian berlalu.


*******************


Siang itu di sebuah café and bar kecil di pinggiran kota Jeju

Ji Sung duduk di kursi yang terletak di sudut ruangan, menghisap sebatang rokok dimulutnya. Pandangannya menerawang saat seseorang datang mendekatinya.

“Yo yo what’s up man” seorang pemuda tampan seumuran dengannya mendekatinya dan menyapanya. Ia mengulurkan tangannya kearah Ji Sung dan di sambut oleh Ji Sung, mereka bersalaman dengan cara anak muda kebanyakan.

“Woobin-aa” Ji Sung menjawab pendek. Kemudian Ji Sung memberikan isyarat kepada Woobin untuk duduk. Woobin mengacungkan tangannya memanggil salah satu pelayan dan memesan sebuah minuman kepada salah satu pelayan café and bar itu.

“Masih siang sudah minum bir” Tanya Ji Sung masih menghisap rokoknya.



“Yah, bagaimana lagi” sahut Woobin cuek, senyuman tersungging dibibirnya. Woobin kemudian mengambil sebatang rokok milik Ji Sung dan menghisapnya dalam-dalam.

“Bagaimana tanganmu, kapan kau bisa balapan lagi. Men, race tanpamu sama sekali tidak menarik” sahut Woobin kembali. Ji Sung hanya menjawab dengan senyuman masih menghisap batang rokok yang kini tinggal setengah.

“Secepatnya, lukaku sudah sembuh tinggal melepas jahitan saja. Aku juga sudah tidak sabar ingin berlari lagi” sahut Ji Sung tersenyum kecil sembari menghembuskan asap rokoknya.

“That’s My Bro” sahut Woobin tertawa senang. Seorang pelayan datang membawakan pesanan Woobin kemudian merekapun kembali berbincang-bincang cukup lama sampai mereka lupa waktu.



*******************

Sore itu Ji Sung diantar Woobin dengan motornya. Mereka menuju ke tempat Jin Ahjumma karena Ji Sung memintanya.


Brum…brum….

Suara motor meraung-raung saat mereka sampai didepan. Kemudian, Ji Sung turun dan masuk ke dalam restoran milik Bibi Jin. Tentu saja saat Bibi Jin melihat Ji Sung iapun menyambut dengan senyuman kecut dan mata melotot.

“Hey, sudah kubilangkan jangan meraung-raungkan motormu di depan depotku ini berisik tahu”

“Miane ahjumma bukan aku tapi dia” Ji Sung menoleh kearah Woobin dan tentu saja kali ini Bibi Jin melotot ke Woobin yang hanya meringis sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Dasar kalian berdua sama saja” sahut Bibi Jin.

“Ah Bibi berikan aku seperti biasanya” potong Ji Sung cepat sembari berlalu menuju ke beranda. Ji Sung tahu kalau tidak dihentikan maka Bibi Jin bisa mengomeli mereka tanpa henti

“Aku juga nek” sahut Woobin cuek mengikuti Ji Sung.

Bibi Jin melotot kesal, bibirnya cemberut melihat Woo Bin yang tertawa dengan cueknya.
“YYaaaa….Dasar anak-anak kurang ajar”

10 Menit Kemudian …….

“Maaf sudah menunggu lama, silahkan menikmati hidangannya” suara seorang gadis mengagetkan Ji Sung dan Woobin.

“Eun Cha” teriak Ji Sung kaget. Eun Cha menoleh, ia juga kaget.

“Ap..apa yang kau” suara Ji Sung terpotong, ia memandang Eun Cha yang berdiri dengan membawa nampan dan memakai sebuah celemek di bajunya. Ji Sung masih bingung. Woobin ikut memandang Eun Cha ikut bingung. Saat Eun Cha akan membuka mulutnya tiba-tiba Bibi Jin datang

“Mulai hari ini ia bekerja disini” jelas Bibi Jin.

“Mwo???” sahut Ji Sung dan Woobin berbarengan.  Eun Cha menganggukkan kepalanya pelan dan tersenyum.

“Tapi bagaimana bisa?” sahut Ji Sung pelan setengah menggumam.
“Kebetulan tadi siang ia datang kemari dan menanyakan pekerjaan, dan aku rasa tidak ada salahnya lagipula tidak ada ruginya mungkin dia bisa menarik pelanggan-pelanggan baru dengan kecantikannya, karena aku sudah cukup bosan dengan kalian” canda bibi Jin.

Mendengarnya Eun Cha hanya tertunduk malu, pipinya yang putih merona kemerahan.

“Ehm….. baguslah kalau begitu jadi aku tidak perlu memandang wajah nenek tua yg membosankan ini, kenalkan aku Woobin” Woobin tertawa usil melihat Bibi Jin ia mengulurkan tangannya kearah Eun Cha.

“Eun Cha” sahut Eun Cha membalas uluran tangan Woo Bin.

“Wah kau cantik sekali, kau sudah punya pacar? Kalau belum aku mau mendaftar jadi pacarmu” sahut Woobin cuek menggoda Eun Cha yang menjadi tambah malu. Eun Cha hanya tersenyum kecil.

“Eun Cha jangan tertipu dengan anak ini dia playboy kelas berat” sahut Bibi Jin menjulurkan lidahnya kearah Woobin.

“Yya, nenek…., hey Eun Cha jangan dengarkan kata nenek ini dia hanya iri denganku” mereka kemudian tertawa. Ji Sung hanya tersenyum, dalam hatinya ia merasa sedikit cemburu dengan perkataan Woobin tadi. Ji Sung memandang Eun Cha yang tersenyum memperhatikan “pertengkaran” Bibi Jin dan Woobin.



*********************

Malam itu Eun Cha dan Ji Sung berjalan pulang bersama. Mereka berdua berjalan menyusuri jalanan yang lumayan sepi.

“Gomawo” sahut Eun Cha memecah keheningan diantara mereka. Ji Sung hanya mengernyitkan alisnya.

“Untuk apa” sahutnya

“Sudah mau mengantarku” sahut Eun Cha tersenyum.

“Tidak juga kebetulan kita searah” sahut Ji Sung, mereka berdua tersenyum. Saat mereka tiba di taman kota Eun Cha menghentikan langkahnya. Pandangannya menyapu kearah taman dan berhenti di sebuah ayunan. Ji Sung mengikuti arah pandangan Eun Cha kemudian iapun berjalan menuju ke ayunan tersebut. Ia kemudian duduk di salah satu ayunan itu dan mulai mengayunkan dirinya.

Eun Cha tersenyum melihat Ji Sung, iapun kemudian menyusul Ji Sung. Eun Cha duduk di ayunan di sebelah Ji Sung dan mulai mengayunkan tubuhnya pelan menikmati suasana malam yg tenang itu, melamun. Tiba-tiba Eun Cha merasa tubuhnya berayun keras, saat ia menoleh ke belakang ia melihat Ji Sung di belakang mendorong ayunan miliknya.

“Yya….” Teriak Eun Cha

“Hahaha… tenang saja pegang yang  erat nanti kau jatuh lagi” sahut Ji Sung masih mengayun keras. Ji Sung tertawa melihat wajah Eun Cha yang setengah ketakutan.

“Yya.. hentikan…” Eun Cha meneriaki Ji Sung namun Ji Sung bukannya malah memelankan ayunannya tapi justru lebih memperkuat dorongannya.

“YYAAAAAAAAAAAA” teriak Eun Cha ketakutan. Saat itulah Ji Sung menghentikannya. Saat berhenti, Eun Cha menarik nafasnya dalam-dalam. Jantungnya masih berdegup dengan kencang, wajahnya pucat.

“K..Kauuu” umpat Eun Cha. Ji Sung tidak menghiraukannya, ia kembali duduk di ayunan miliknya. Eun Cha tiba-tiba mendorong tubuh Ji Sung dari belakang sampai Ji Sung terjatuh.

“Yash….” Umpatnya. Eun Cha tertawa melihat Ji Sung yang tersungkur. Ji Sung yang merasa kesal mencabut beberapa rumput dengan tangannya dan melemparkannya kearah Eun Cha yang menertawakannya.


*********************


“Gomawoyo” Eun Cha tersenyum sembari mengucapkan terima kasih saat mereka berdua sampai di depan rumah Eun Cha. Ji Sung hanya tersenyum dan mengangguk pelan.

“Aku pergi” pamitnya. Eun Cha menganggukkan kepalanya pelan. Ji Sung berlalu. Eun Cha memperhatikan punggung Ji Sung yang perlahan menjauh sampai menghilang dengan senyuman tersungging di bibirnya.



Saat Ji Sung sudah menghilang dari pandangannya, Eun Cha pun berbalik masuk ke rumahnya.

“Omma” teriak Eun Cha kaget melihat ibunya yang berdiri di depan pagar.

“Siapa dia, kekasihmu yah. Ah sayang sekali omma hanya melihat punggungnya saja” tanya Nyonya Lee.

“Ah…ahniyo omma dia teman sekelasku” Eun Cha menyahut malu sembari menggaruk-garuk kepalanya.

“Hmmm, benarkah lalu kenapa kau jadi malu seperti itu” goda Nyonya Lee.

“Ommaaaa…” Nyonya Lee tertawa melihat reaksi Eun Cha.


*********************

Setelah masuk ke dalam kamarnya, Eun Cha membaringkan tubuhnya di ranjangnya. Mencoba memejamkan matanya namun semakin dipaksa semakin ia tidak bisa tidur. Akhirnya iapun beranjak menuju ke meja tulis di kamarnya dan mengeluarkan buku sketsanya. Ia kembali menuju ke ranjangnya kemudian mulai menggoreskan tinta di selembar kertas skestanya. Eun Cha tersenyum saat ia melukis, hatinya merasa tenang.

Keesokan harinya.


“Eun Cha bangun sayang sudah jam berapa ini kamu tidak sekolah” Nyonya Lee mengguncang tubuh Eun Cha pelan. Dengan sedikit malas, Eun Cha membuka matanya. Mengedip – ngedipkan matanya sampai ia terbangun.

“Ye, omma” sahutnya pendek

“Cepat mandi, omma tunggu dibawah untuk sarapan” Nyonya Lee tersenyum kemudian beranjak pergi menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Eun Cha beranjak dari ranjangnya. 15 menit kemudian ia sudah selesai dengan semua rutinitasnya dan menuju ke bawah. Nyonya Lee sudah duduk di depan meja saat Eun Cha menghampirinya. Mereka berdua memulai sarapannya.

“Ehm, Eun Cha”

“Ye, omma ada apa”

“Mulai hari ini omma akan mulai mencari pekerjaan”

Eun Cha terdiam sebentar, kemudian iapun tersenyum.

“Omma tidak ingin bergantung kepada siapapun lagi, jadi omma harap kau tidak akan putus sekolah di tengah jalan”

“Hmmm, omma sebenarnya aku juga sudah bekerja, meskipun gajinya kecil namun aku rasa bisa untuk membiayai diriku sendiri”

“Tidak nak, kau tidak perlu seperti itu, pikirkan saja sekolahmu biar omma yang memikirkan biaya hidup kita”

“tapi ma” perkataan Eun Cha terpotong oleh Nyonya Lee

“Sayang, tidak ada tapi, bagaimanapun omma ingin kau mengutamakan sekolahmu. Mengenai biayanya biar omma yang memikirkannya. Omma tidak ingin konsentrasi belajarmu terganggu dengan kau bekerja meskipun itu hanya kerja sambilan”

“Omma tolong, kali ini saja aku ingin mengikuti kata hatiku sendiri, dan mengenai pelajaranku omma tidak perlu khawatir aku janji pekerjaanku tidak akan mempengaruhi pelajaranku” Baru kali ini Eun Cha membantah ibunya, namun kali ini ia sangat tegas dengan pilihannya, tidak ada keraguan sama sekali. Akhirnya setelah lumayan lama berdebat Nyonya Lee pun mengalah.

“Baiklah tapi ingat dengan janjimu yah” Eun Cha tidak menjawab hanya tersenyum.

“Gomawo, omma” sahut Eun Cha tersenyum. Mereka berdua melanjutkan sarapannya.
“Omma” sahut Eun Cha tiba-tiba. Ia seperti ragu-ragu untuk melanjutkan.

“Wegude?” sahut Nyonya Lee lembut. Eun Cha terdiam, tiba-tiba perasaan ragu-ragu menyelimutinya. Ia menelan ludahnya sendiri.

“Eeeee….aku…”

“Kenapa sayang, ada apa lagi” sahut Nyonya Lee cemas.

“Ah, ahniyo, lupakan saja mungkin lain kali” sahut Eun Cha pelan. Kemudian ia beranjak dari meja makan dan mulai membereskan piring dan gelasnya dan mulai menuju wastafel saat Nyonya Lee mencegahnya cepat.

“Sudah tinggalkan saja nak, pergilah nanti kau terlambat” Nyonya Lee menyahut piring dan gelas yang ada di tangan Eun Cha. Eun Cha mengangguk pelan tersenyum kecil kemudian memeluk Nyonya Lee dan mencium pipi ibunya.

“Omma, saranghamnida” sahut Eun Cha berpamitan. Ia meraih tas sekolahnya dan beranjak pergi.

Nyonya Lee terpaku melihat kepergian Eun Cha, memperhatikan punggung Eun Cha seraya bergumam pelan.

“Ibu tahu apa yang ingin kau tanyakan Eun Cha, haruskan ibu memberitahukan semuanya kepadamu. Seandainya kau tahu kebenarannya, mungkin kau akan membenci omma dan juga dia” gumam Nyonya Lee pelan. Wajahnya tiba-tiba menjadi murung.



*********************

Pagi itu dikelas gaduh tidak seperti biasanya. Saat Eun Cha masuk ke kelas, semua temannya menoleh ke arahnya. Suasana tiba-tiba menjadi hening, beberapa teman-temannya berbisik-bisik sembari melihat kearah Eun Cha. Eun Cha menjadi bingung dengan pandangan menyelidik dari teman-temannya, namun ia tetap berusaha untuk tidak terpengaruh dan mencoba bersikap seperti biasanya. Eun Cha pun duduk di mejanya saat seseorang menghampirinya.

“Hey Eun Cha si nona sempurna” Eun Cha menoleh ke Hye Ri teman sekelasnya. Pandangan Hye Ri sangat dingin dan sinis.

“Wae?” sahut Eun Cha tenang mencoba tersenyum walaupun sebenarnya ia merasa agak terganggu karena Hye Ri selalu menyudutkannya. Hye Ri tersenyum sinis kearahnya.
“Benarkah kau pernah mencuri?”  sahut Hye Ri culas. Ia tertawa keras. Eun Cha terdiam.

“Ternyata si nona sempurna kita ini seorang kleptomania yah” Hye Ri kembali tertawa sinis. Eun Cha menatap Hye Ri  dingin, ia masih terdiam

“Kenapa, kau heran aku tahu darimana? Hahaha Eun Cha…. Eun Cha…. Kau ini sungguh sangat naïf sekali” Hye Ri masih terus menyerang Eun Cha.

“Nona sempurna huh ternyata semua itu hanya topeng untuk menutupi dirimu yang sebenarnya yah” Hye Ri masih terus menyudutkan Eun Cha, ia terus menerus mengatai Eun Cha sinis.

“Memangnya kenapa? Kenapa hal itu sangat mengganggumu hah.” sahut Eun Cha kemudian.

“Kenapa katamu?” sahut Hye Ri cepat “Hey, hellooooo miss perfect” lanjutnya kali ini dengan gayanya yang amat sangat menyebalkan.     

“Tentu saja dan bukan hanya aku saja semuanya kini merasa terganggu bagaimana kami bisa tenang jika ada seorang klepto berkeliaran disini”  Hye Ri berdiri berkacak pinggang.

“K..Kauuu” sahut Eun Cha namun ia terpotong oleh bunyi bel masuk. Hye Ri tersenyum sinis. Saat itu Ji Sung melintas masuk ke kelas, saat melewati bangku Eun Cha, Ji Sung melirik Eun Cha dengan sudut matanya, melihat Eun Cha yang tertunduk. Sepanjang pelajaran Eun Cha terus merasa risih dengan pandangan teman-temannya yang berubah, jika ia melihat atau mencoba berbicara dengan teman-teman sekelilingnya mereka menjadi pura-pura tak acuh dan menghindarinya. Eun Cha merasa sangat frustasi dan sedikit gusar. Ji Sung memperhatikan semua tingkah Eun Cha dari bangkunya.

Pada saat istirahatpun suasana masih sama, semua teman-temannya berubah menjadi dingin, bahkan pada saat Eun Cha berjalan rata-rata dari mereka yang melihat Eun Cha berbisik-bisik. Gossip memang cepat sekali beredar, tidak jarang juga di antara mereka mengejek Eun Cha. Inilah hidup, seperti sebuah pepatah “karena nila setitik rusak susu sebelangga” kali ini Eun Cha benar-benar harus menelan kenyataan pahit. Tidak tahan dengan semua itu, Eun Cha berlari menuju keatap sekolahnya.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” Eun Cha pun berteriak keras melepaskan semua beban dan perasaan yang sejak tadi ditanggungnya. Selesai berteriak iapun terduduk di tepi pagar dan mulai menangis.

“Untuk apa kau menangis dan apa yang kau tangisi” suara Ji Sung mengagetkan Eun Cha. Eun Cha menoleh ke samping, Ji Sung kini berdiri di sampingnya memandang ke langit. Eun Cha mengusap air matanya dengan punggung tangannya.

“Aku…” sahutnya pelan. “Bagaimana ini…” sahutnya lagi

“Bagaimana apanya? Mana yang lebih kau takutkan sebenarnya. Kehilangan imagemu atau teman-temanmu?” sahut Ji Sung datar. Eun Cha tersentak ia tidak menjawab. Ia hanya menatap Ji Sung tajam.

“Kenapa apa aku menembak tepat sasaran? Ck kau ini sangat transparent, sangat mudah ditebak” sahut Ji Sung kembali

“Mwo??”

“Image atau chingu, mana yang lebih penting bagimu” sahut Ji Sung kembali

“Yya…” teriak Eun Cha.

“Kenapa? Tidak terima? Kalau begitu buktikan kalau aku salah” timpal Ji Sung. Eun Cha terdiam.

“Masihkan sebuah image penting bagimu huh?” Tanya Ji Sung kembali. “Dan Chingu, apa arti chingu bagimu, apa itu chingu?”

Eun Cha tersentak. Ia berdiri menatap Ji Sung tajam. Kemudian

Plakkkk 



Eun Cha menampar pipi Ji Sung keras, meninggalkan bekas merah dipipi Ji Sung.

“KAU, keterlaluan. Kau memang keterlaluan” teriak Eun Cha. Bibirnya bergetar menahan amarahnya, mengepalkan tangannya.

“Kau hanya takut ditinggalkan, sadarlah this is the real life, suatu hari nanti kau akan menghadapi dunia yang lebih kejam daripada ini kalau kau terus seperti ini maka selamanya kau hanya akan menjadi sebuah boneka hidup” sahut Ji Sung pelan namun tajam, Ji Sung beranjak meninggalkan Eun Cha. Eun Cha tersentak mendengar perkataan Ji Sung.

Saat Eun Cha kembali ke kelasnya saat bel masuk berbunyi seorang guru memberitahukan Eun Cha untuk menuju ke ruang bimbingan. Eun Cha berdiri dari tempatnya dan berjalan keluar diikuti oleh pandangan teman-temannya, bahkan saat ia berjalan melewati Hye Ri, Eun Cha melihat Hye Ri yang tersenyum sinis mengejeknya.

Tok…Tok..Tok…


Eun Cha mengetuk pintu ruang bimbingan saat ia sudah berada di depan ruangan tersebut.

“Masuklah” suara guru pembimbing terdengar dari dalam. Eun Cha menarik nafas berat kemudian masuk ke dalam.

“Duduk”  Pak Seong guru pembimbing mempersilahkan Eun Cha duduk. Eun Cha kemudian duduk di kursi di depan Pak Seong, kepalanya menunduk.

Tok…Tok..Tok…


Kembali terdengar suara pintu yang diketuk dari luar.

“Masuk” kembali Pak Seong memerintahkan orang yang mengetuk pintu untuk masuk dan duduk saat orang tersebut sudah masuk ke dalam ruangan. Eun Cha tidak tahu siapa yang dipanggil juga oleh Pak Seong karena ia tidak berani menaikkan kepalanya.

“Sudah lengkap, baiklah kita mulai sidang hari ini” suara Pak Seong mulai terdengar serius.

“Lee Eun Cha dan Goo Ji Sung, apakah kalian tahu kenapa aku memanggil kalian kesini sekarang?” Tanya Pak Seong. Eun Cha tersentak mendengar perkataan Pak Seong barusan, ia menoleh ke samping, Ji Sung sedang duduk dengan tenangnya menyandarkan bahunya sembari membekap kedua tangannya di dadanya. Saat pandangan mereka beradu, Ji Sung hanya menatap Eun Cha yang melongo bingung. Mereka terdiam beberapa saat saling memandang.

“Ehhmmm” Pak Seong berdehem keras. “Nona Lee, bisakah kau simpan kekagumanmu terhadap temanmu ini untuk nanti setelah kalian selesai disini” Kembali Pak Seong berkata, membuat Eun Cha menjadi salah tingkah.

“Dan kau anak muda, apakah bisa menjawab pertanyaanku tadi?” kali ini Pak Seong menatap kearah Ji Sung.
“Pertanyaan yang mana?” sahut Ji Sung cuek. Pak Seong tertawa geli mendengar jawaban Ji Sung, kemudian ia berdiri kemudian duduk di meja di depan Ji Sung.

“Benar-benar anak muda jaman sekarang tidak sopan terhadap orang tua” gumam Pak Seong. Ia menatap Ji Sung memegang bahu Ji Sung dan menepuk-nepuknya.

“Baiklah kalau memang tidak ada yang menjawab biar aku jelaskan kepada kalian berdua” sahut Pak Seong kembali. Eun Cha dan Ji Sung menatap Pak Seong.

“Kalian aku panggil kemari karena kalian berdua kedapatan membolos hari Jum’at kemarin? Apakah aku benar” Tanya Pak Seong melihat kearah Eun Cha dan Ji Sung bergantian.

“Benar” sahut Ji Sung pendek, sedangkan Eun Cha hanya menganggukkan kepalanya pelan. Pak Seong tersenyum seraya menggelengkan kepalanya pelan.

“Nona Lee kenapa anda membolos? Sepanjang ingatanku selama aku menjadi guru pembimbingmu baru sekali ini aku memanggilmu kemari, kalau untuk tuan muda ini aku tidak akan berkomentar banyak karena sudah cukup banyak laporan yang datang padaku jadi aku sudah tidak kaget”

“Ak..Aku…” Eun Cha menjawab gugup.

“Pak kalau begitu kenapa anda memanggilku kemari” potong Ji Sung tiba-tiba. “Kalau anda ingin men skors ku maka lakukan saja kenapa anda harus repot-repot memanggilku” lanjutnya.

Pak Seong tertawa kecil. Eun Cha terdiam melihat Ji Sung.

“Ck ck ck… anak muda apa aku sedang bertanya padamu? Kau ini sungguh sangat tidak sabaran sekali”

Ji Sung terdiam. Begitupun Eun Cha.

“Kalau anda bertanya kenapa dia membolos, aku lah yang memaksanya mengikutiku” sahut Ji Sung tiba-tiba. Eun Cha tersentak

“Wow, benarkah lalu apa alasannya sampai ia mau mengikutimu nak?” Tanya Pak Seong kembali

 “Karena aku mengancamnya”

Eun Cha akan membuka mulutnya saat ia melihat Ji Sung menatapnya tajam seolah memberinya isyarat untuk tidak bicara.

“Well…well…well… bravo” Pak Seong menepuk pundak Ji Sung pelan. Pak Seong beranjak dari duduknya. Meletakkan tangannya di dalam saku celananya kemudian berkata kepada Eun Cha dan Ji Sung.

“Kalian berdua ini memang partner yang baik, hey Ji Sung-aa aku dulu juga pernah muda sepertimu dan aku juga pernah mengalami hal seperti ini” Pak Seong berkata sambil tersenyum dan mengerling kearah Ji Sung. “Kalian mengingatkan aku saat aku muda dulu” Pak Seong tertawa kecil pandangannya menerawang. Eun Cha dan Ji Sung saling berpandangan heran.

“Dulu saat aku seumuran kalian aku tidak suka dinasehati, dan aku juga tau kalau kalian juga pasti tidak suka dengan nasehat-nasehat kan jadi aku hanya akan memberi tahu satu hal, nona Lee karena ini kesalahan pertamamu maka kali ini aku hanya mengingatkanmu saja dan untuk pemuda ini, hey apa benar kemarin kau sudah membuat Pak Jang mati kutu?” Tanya Pak Seong pelan setengah berbisik. Wajahnya terlihat sangat usil sekarang.

Ji Sung mengernyitkan alisnya bingung. “Pak Jang?” tanyanya.

“Guru bahasa inggris yang sedikit menyebalkan itu”  Pak Seong sedikit berbisik mendekatkan wajahnya kearah Ji Sung dengan mimik muka yang lucu. Ji Sung menganggukkan kepalanya masih sedikit heran dengan perkataan Pak Seong.
Pak Seong tiba-tiba tertawa geli. Eun Cha dan Ji Sung saling berpandangan kembali heran. Saat sadar Pak Seong kembali bersikap tegas.

“Ehmm…” Pak Seong berdehem pelan membetulkan sikapnya. Eun Cha dan Ji Sung menjadi ikut geli mereka berdua tersenyum melihat tingkah guru mereka yang sedikit nyentrik itu.

“Ssttttt ini rahasia” sahut Pak Seong, kemudian ia mulai menceritakan sesuatu yang akhirnya berujung dengan menggosipkan Pak Jang.


*********************


TO BE CONTINUED…….


chapter berikutnya adalah last chapter flashback mian membuat kalian semua bosan  [hmff] [hmff] [hmff] n yippie finally my hubby back  [hmff] [hmff] [hmff]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
horeeeeeeeeeeeeee diupdate jg setelah bertahun2 [jumpy] [jumpy] [jumpy]

yaaa spt yg diperkirakan, flasback lagi, flashback lg [hmpfh] [hmpfh] tp ga apa2 deh, yg penting byk minsunnya [lovestruck] [lovestruck]..

gw suka ama karakter pak seong di sini, bener tuh katanya, murid2 skrg udah ga spt murid2 dulu, percuma kalau mereka dinasehati apa yg mereka lakukan, pasti deh mereka menantang habis2an, bergaul layaknya seorg teman itu yg dibutuhkan [biggrin] ..

good job noona b, and jgn lupa update minolin jg ya [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun