Author Topic: My Everything II (That's My Promise), chapter 5 FINAL updated 7 Agustus 2010  (Read 20417 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
I love this story,,!
Cerita yg plng aq tnggu,,.
Crta yg plng seru,,.
Great job bwt mami,,.
He he he he,,.
Buruan di update mam,,.
Udh gak sbr pngn bca lnjtan crtana,,.
hahaha thanks buat komentarnya, sekrg jg sedang gw bikin, baru selesai part ke 3 nih jd bersabar dulu ya [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
He he he,,.
Belum ya,,.
SEMANGAT MI!!

Offline neiya

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1006
  • Location: depoook
    • View Profile
Oke deeh mii.. Aku pasti sabar menunggu *) cups mwaaaaaah..

Offline Aurel " lusy" Aurellya

  • Junior
  • **
  • Posts: 227
  • kyaaa jun pyo sexy bgeth
  • Location: padang, indonesia
    • View Profile
Yoii mii pasti aqo sabbarr kok..
Yg smagad ya mamiii , neiya..
Yuki, salam kenal :D
only u in my bottom heart, no body else, but u in over the world...

Offline Aurel " lusy" Aurellya

  • Junior
  • **
  • Posts: 227
  • kyaaa jun pyo sexy bgeth
  • Location: padang, indonesia
    • View Profile
Yoii mii pasti aqo sabbarr kok..
Yg smagad ya mamiii , neiya..
Yuki, salam kenal :D
only u in my bottom heart, no body else, but u in over the world...

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
Mi aku stand by disini ya... nunggu chap perdana EPRITHING... Emoticons0424 Emoticons0424 Emoticons0424

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
Mi aku stand by disini ya... nunggu chap perdana EPRITHING... Emoticons0424 Emoticons0424 Emoticons0424

boleh kutan ngantri dsni jg kan sizt???? [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
mami aq jg kut nunggu dgn setia yaahh mi,, [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
sip la [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline avonturir_fitri

  • Newbie
  • *
  • Posts: 51
  • ordinary
    • View Profile
jam berapa nih mam , my epriting perdana terbit???  [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257] [AddEmoticons04257]


_______still minsun in our HEART________

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
satu jam lagi [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
Mi aku stand by disini ya... nunggu chap perdana EPRITHING... Emoticons0424 Emoticons0424 Emoticons0424

boleh kutan ngantri dsni jg kan sizt???? [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
mami aq jg kut nunggu dgn setia yaahh mi,, [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

YOI SIZT...  [AddEmoticons04262]

satu jam lagi [hmpfh]

WADUH MI... MBOK YA DI-POST SEKARANG AJA DAH... [AddEmoticons04269]

Offline avonturir_fitri

  • Newbie
  • *
  • Posts: 51
  • ordinary
    • View Profile
haduh.. mi.. aku besok sekola loh... gabisa terlalu malem nih.....
[/size][/b][/b][/b][/b] [AddEmoticons04269] [AddEmoticons04269] [AddEmoticons04269] [AddEmoticons04269]
« Last Edit: April 04, 2010, 09:04:33 am by avonturir_fitri »


_______still minsun in our HEART________

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile





Jum'at, pukul 10:15 pagi, universitas Shin Hwa ...

Edelweiss Yoon, yang biasa dipanggil Edys, memperhatikan kedua sahabat yang dikenalnya setengah tahun yang lalu dengan seksama.




Han Chae Yeong, tidak hanya cantik, bentuk tubuhnya juga sempurna, seperti seorang model. Tinggi, berdada montok, mempunyai pinggang yang ramping dan bottom penuh yang sangat kencang dan padat. Body yang biasa disebut orang 'S besar'.Walaupun dia tidak begitu pintar dan hanya berasal dari keluarga biasa, tapi apa yang dimilikinya cukup untuk membuat semua pria tergila-gila padanya.



Park Shin Hye, gadis tercute yang pernah Edys lihat dan kenal. Murid pindahan seperti dia. Selalu ceria, bertubuh mungil ~ya walaupun ini tidak berbeda jauh dengannya, dan mempunyai latar belakang yang sangat bagus. Baik itu pendidikan maupun keluarganya. Keluarga Park tidak begitu terkenal di Korea tapi perusahaan mereka mempunyai landasan yang kuat di Amerika. Walaupun Shinhye terlihat sempurna,  ada sesuatu dari gadis ini yang tidak disukainya. Gadis ini terlalu bawel. Selalu mengulangi apa yang sudah dikatakannya. Salah satunya ..  ya yang sekarang mereka bicarakan.



Edys menghembuskan nafas perlahan. Dikibaskannya rambut coklat lebat berombaknya ke belakang. Rambutnya yang menakjubkan itu tergerai sampai ke pinggang. Dia mengangkat tangan dan menyangga dagunya. Masih segar dalam ingatannya .. bagaimana setelah bertahun-tahun bertualang dari negara satu ke negara lain ~yang mengakibatkan pendidikannya terganggu~ akhirnya dia memutuskan untuk menyelesaikan kuliahnya di negara ini. Dan sejak kepindahannya ke Korea dua gadis dihadapannya inilah yang paling dekat dengannya.

"Jadi idolamu itu akan pulang ke Korea?", tanya Chaeyeong pada Shinhye tak bersemangat. Ini bisa dimaklumi karena setiap kebersamaan mereka yang dibicarakan Shinhye, itu .. itu .. dan itu terus.

"Iya, .... kalian percaya tidak ?", jawab Shinhye berseri-seri.

Edys tersenyum. Goo Jan Pyo! ... dia mengenal orang itu. Oh tidak! ..Bukan!! .. kata-kata itu tidak begitu tepat! ... Dia hanya pernah berjumpa dan mengetahui keberadaan orang itu. Dan itu juga sudah puluhan tahun yang lalu. Bayangan orang itu sudah benar-benar terhapus dari ingatannya. Dia sudah melupakan tampang Goo Jan Pyo. Kalau ... misalnya .. mereka bertemu di tengah jalan sekalipun, mungkin dia tidak akan mengenalinya.

Dan semua itu tidak diketahui Shinhye dan Chaeyeong. Karena Edys memang tidak pernah bercerita pada mereka. Walaupun dia cukup akrab dengan kedua temannya ini tapi tetap saja tidak cukup intim untuk diajak curhat tentang semua masa lalunya. Edys merasa tidak ada gunanya dia menceritakan semua itu. Dia tidak ingin membosankan kedua sahabatnya dengan semua ceritanya. Apalagi kalau masa lalu itu akan mengecewakan kedua sahabatnya.

Terutama Shinhye, yang mengenal Goo Jan Pyo sejak kecil. Yang begitu memuja dan menyanjungnya. Mereka tinggal berdampingan waktu di Amerika. Rumah besar yang mereka tempati hanya berjarak  sekitar dua ratus meter. Keluarga Goo dan Park sudah menjalin kerjasama sejak sepuluh tahun yang lalu dan mereka berteman baik. Semua ini Edys ketahui dari Shinhye. Seperti sudah dijelaskan di atas, Shinhye selalu menceritakan hubungannya dengan Goo Jan Pyo pada Edys and Chaeyeong. Selalu diulang-ulang sehingga membuat kedua sahabatnya itu muak dan tidak mau mendengarnya lagi. Sampai hari ini ... tiba-tiba Shinhye memberitahukan kalau keluarga Goo akan memindahkan pusat perusahaan 'Shin Hwa'  ke Korea.

"Iya, percaya .. percaya ... Kamu tidak perlu mengulang terus berita itu ... ", jawab Chaeyeong kesal.

Shinhye tersenyum malu. Pipinya mulai memerah. Edys tertawa perlahan. Dia tidak perduli dengan Goo Jan Pyo, tapi .. melihat kebahagiaan Shinhye dengan berita ini, dia ikut senang dan bersyukur pemuda yang selalu diagung-agungkan sahabatnya akan menetap di negara ini.

"Lalu kapan dia akan tiba di sini?", tanya Edys, sekedar basa basi.

Shinhye membulatkan matanya dan langsung menjawab dengan bersemangat.
"Jum'at depan! ... pesawat pribadi keluarga Goo akan tiba di Korea jum'at depan .. "

Edys mengangguk dengan senyum yang masih tersungging di bibir, walaupun hatinya tidak terlalu menaruh perhatian pada jawaban itu. Chaeyeong langsung mencibir. Dia kelihatan benar-benar muak dengan percakapan ini. Chaeyeong memang tidak mengenal dan tidak mengetahui kebesaran nama Goo Jan Pyo. Karena itu dia tidak pernah tertarik dengan cerita Shinhye. Dia tidak pernah menaruh perhatian terhadap dunia bisnis jadi tidak mengherankan kalau sebelumnya dia tidak pernah mendengar nama Goo Jan Pyo.Yang diketahui gadis ini hanya pria tampan dan kaya dari universitas Shin Hwa. Dan juga mantan murid sini seperti Song Jae Bin dan So Ga Jeong. Dua pemuda yang sangat terkenal karena ketampanan dan kekayaan keluarganya.

Chaeyeong berdiri dari kursinya dan agak menarik rok mini pendek yang dikenakannya ke bawah. Kaos di atas pusar membalut ketat tubuhnya. Dengan tangan kanan, Chaeyeong menyapu bibirnya yang terpoles lipgloss orange berkilat. Dia kelihatan sangat feminim dan mengairahkan. Dan Edys yakin Chaeyeong sangat menyadari daya tariknya itu.
"Saya harus pergi sekarang ...", katanya, sambil meraih tas kulit yang tergeletak di atas meja.

"Mau kemana, Chaeyeong-ya? .. Saya belum selesai nih!!", sahut Shinhye, sengit.

Chaeyeong segera mengangkat tangannya, "Cukup! .. Saya tidak tertarik dengan Janpyo oppamu! ... Saya ada janji dengan Seulong, ..  kalian tahu kan, bagaimana hotnya dia?". Chaeyeong mengedipkan sebelah mata dengan senyum menggoda.

Edys tertawa tertahan. Chaeyeong selalu seperti ini. Begitu ada pria menarik sedikit saja pasti langsung diembatnya. Edys ikut mengedipkan matanya yang hijau botol kearah Chaeyeong. Sedangkan Shinhye, cemberut di tempatnya.

Chaeyeong memajukan badannya dan memeluk Edys erat-erat.
"Saya akan menghubungimu nanti malam, dear .. ". Lalu dia berpaling pada Shinhye, "Bagaimana denganmu, dear .. masih kesal padaku? ... Tidak mau memberiku pelukan perpisahan kah?"

Shinhye mengangkat wajah kearah Chaeyeong. Lalu dia tersenyum perlahan. Shinhye berdiri dari kursinya dan memeluk Chaeyeong.
"Hati-hati di jalan ... ".

"Thanks ...".

Chaeyeong mendorong kursi yang tadi didudukinya ke belakang. Dia melambaikan tangan kearah Edys dan Shinhye sambil melangkah dari situ. Meninggalkan kedua sahabat yang memandangi kepergiannya.

---------------------


Seminggu kemudian, Jum'at, pukul 08:00 malam, ruang makan keluarga Yoon ...

Edys mengambil serbet dari atas meja dan mengelap bibirnya. Kemudian diletakkannya kembali serbet itu ke atas meja. Lily Adams, ommanya, memandangi putri semata wayangnya itu dengan senyum lembut.

"Bagaimana kuliahmu, Edysya? ... Sudah bisa menyesuaikan diri dengan universitas Shin Hwa?"

Edys mengangkat wajah kearah Lily.
"Seperti yang omma ketahui, saya selalu bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang saya tempati .."

Lily tertawa perlahan, "He .. he .. omma mengetahui itu, sayang ... "

"Appa belum kembali?", Edys balik bertanya. Pertanyaan ini sebenarnya sudah ingin diajukannya sebelum makan malam dimulai tapi ditahannya. Appanya, Yoon Ji Hoo, telah berjanji akan kembali dari tugasnya di Beijing hari ini.

"Belum, ... ada rapat dadakan yang harus appa hadiri hari ini jadi appa akan kembali besok siang ... ", jawab Lily.

Edys mengangguk sambil menundukkan wajahnya perlahan. Dia sangat merindukan appanya. Dan ini tidak mengherankan karena Jihoo memang sangat dekat dengannya.

"Oh ya, Edysya .. besok malam kamu tidak ada acara kan?", tanya Lily tiba-tiba.

Edys mengangkat wajahnya lagi, menghadapi Lily.
"Ada! .. Saya akan pergi nonton konser musik dengan Chaeyeong ... Memangnya ada apa, omma?"

"Ohhh .. batalkan acara itu, sayang .. ", jawab Lily, lebih terdengar seperti perintah daripada jawaban.

"Weooo?", tanya Edys tidak mengerti.

"Paman dan bibi Goomu sudah tiba di sini dan appa sudah membuat perjanjian makan malam bersama .. Bukan hanya dengan mereka tapi juga dengan keluarga Song dan So ...Jadi Edysya, apapun acaramu itu harus dibatalkan!"

"Tapi ... konser ini sudah saya nantikan sejak dulu, 'Paris Musical' kelompok musik yang sangat hebat, dan mereka jarang mengadakan konser di Asia,  saya tidak ingin melewatkannya! .. Lagipula saya sudah susah payah membujuk Chaeyeong ikut denganku setelah Shinhye menolakku mentah-mentah gara-gara janjinya dengan pria idamannya,  .. Omma tahu kan kalau dia tidak pernah tertarik dengan musik?", rengek Edys.

"Tidak ada tapi, Edysya ...", sahut Lily tegas. "Kamu harus membatalkannya! .. Apapun alasanmu itu, omma tidak akan menerimanya!!"

"Apa acara makan malam itu tidak bisa ditunda? .. Bagaimana kalau lusa malam?". Edys berkeras dengan keinginannya.

"Tidak bisa! .. Acara ini sudah tertunda! ... rencana semula, acara tersebut akan diselenggarakan malam ini tapi karena Jundi baru akan tiba besok pagi jadi makan malamnya dirubah besok malam  ...", jawab Lily sambil mengamati Edys.

"Jundi? .. Dia tidak datang bersama keluarganya?", tanya Edys keheranan.

"Iya ...."

"Tapi .. weooo?", tanya Edys lagi.

"Seperti dirimu, Jundi juga tidak suka diatur .... Dia tidak suka hidup dalam kekayaan keluarga Goo ... Dia lebih suka bertualang kesana kemari .. Hidup layaknya gadis biasa ... ". Lily menghentikan perkataannya sebentar. Diperhatikannya Edys dengan seksama. Putrinya itu tidak menyahut, hanya memandanginya dengan kening berkerut. Kemudian Lily melanjutkan perkataannya, "Karena itu kamu harus hadir dalam acara besok malam ... tidak ada alasan lain! Arasso?!!!!"

Edys langsung tertegun. Tidak biasanya ommanya ini begitu tegas. Apalagi terhadapnya. Keluarga Goo!! Gara-gara keluarga sial ini dia harus kehilangan kesempatan emas bertemu 'Paris Musical'. Menyesal sekali dia kembali ke Korea. Kalau dia masih berada di Paris akan mudah baginya bertemu dengan group musik kesayangannya itu.

"Edys !!!"

Panggilan keras itu menyadarkannya dari lamunan. Dia kembali memandangi Lily.

"Batalkan acara itu, kata omma! ... Apapun acaramu besok pagi omma tidak perduli! .. Yang jelas kamu harus kembali paling lambat pukul 5 sore, arasso?!!"

Sepasang mata bening berwarna hijau botol yang sangat mirip dengan Lily itu mulai berair.
"Saya .. saya tidak punya pilihan lain kan?"

Lily mengangguk tegas. Sikapnya malam ini, agak mengerikan bagi Edys.

"Omma tidak bermaksud memaksamu, Edysya ...  tapi kamu tahu sendiri kan bagaimana penting dan berartinya keluarga Goo bagi appa? .... mereka semua, keluarga Goo, Song, So dan keluarga kita sudah bersahabat dari kecil  .. Dan dari dulu kami selalu berharap keluarga-keluarga kita bisa berkumpul bersama lagi dengan anggota lengkap ........ Pertemuan-pertemuan kita dari puluhan tahun yang lalu selalu tidak lengkap, selalu saja ada di antara kalian yang tidak bisa menghadiri pertemuan keluarga itu ... Terutama kamu dan Janpyo! .. Kalau tidak salah pertemuan terakhir kalian saat liburan natal empat belas tahun yang lalu ... "

Edys membisu di tempatnya. Dia menatap Lily dengan pandangan semu. Kemudian dia berdiri dari kursi dan membalikkan badan kearah pintu.



"EDYSS!!", teriak Lily.

Edys segera memutar tubuhnya kembali ke Lily.
"Arasso, arasso!! .. Saya akan pulang sebelum jam 5 sore! .. Omma puas kan?!!", kemudian dia berlari dari ruangan itu.

Lily mengeleng sambil menghembuskan nafas perlahan, "Anak ini ..... "

------------------------


Keesokan harinya, pukul 01:05 siang ....

"Ada apa, Edysya? ... tampangmu kusut sekali, .. bukankah nanti malam kamu akan bertemu group musik kesayanganmu? .. Mengapa kamu tidak bersemangat?", tanya Chaeyeong, tanpa menghentikan gerakan tangannya yang sedang membilah berpuluh syal yang terlipat rapi di etalase toko yang mereka kunjungi.

Edys menyandarkan punggungnya ke kaca besar yang terletak di dekat etalase itu. Dia menghembuskan nafas kuat-kuat. Jidatnya berkenyit dan sepasang matanya menyipit. Wajah asing yang menarik itu terlihat sangat keruh.
"Acara nanti malam batal!!"

"MWOOO??", teriak Chaeyeong. Sepasang tangannya langsung menghentikan kesibukannya. Matanya terbelalak lebar dengan pandangan tak percaya ke Edys.

"Jangan memandangiku seperti itu!! .. Itu bukan kesalahanku!!", sahut Edys kesal.

"Tapi mengapa? ... Saya mengira tidak ada yang bisa menghalangi tekadmu untuk bertemu 'Paris Musical'?". Chaeyeong masih memandangi Edys dengan pandangan bertanya. Kerutan yang sangat dalam menghiasi keningnya.

Edys mendengus keras, "Semua itu gara-gara kedatangan sahabat appa, ... Saya dipaksa menghadiri acara makan malam yang sudah mereka rencanakan!!"

Chaeyeong terngangga untuk sesaat, kemudian dia tertawa tertahan. Dipaksa? Aneh sekali penggunaan kosakata Edys.

kring ... kring .. kring ....

Deringan yang nyaring itu membuat keduanya tersentak. Tergesa Edys mengeluarkan ponsel dari dalam tas Channelnya.

"Yeboseyo! ... Ohh appa! Sudah kembali? ...iya, arasso! .. Saya akan pulang tepat waktu, jadi appa jangan khawatir! .. Sudah, sampai di sini saja pembicaraan kita ... Tidak! Saya sudah janji makan siang bersama Chaeyeong jadi saya tidak bisa makan dengan appa .. Iya, byee .. "

Edys menutup ponsel dan memasukannya ke dalam tas. Tampangnya semakin keruh.



"Jadi benar-benar batal nih?", tanya Chaeyeong. Matanya berkilat dan itu bisa dimaklumi karena dari semula dia tidak berminat dengan pertunjukkan 'Paris Musical'.

"Iya batal ...!!", sahut Edys, sambil membalikkan tubuh dan keluar dari butik itu.

"Yaaaa ... tunggu saya!!", teriak Chaeyeong.

Gadis berpostur tinggi itu segera memutar tubuh dan mengejar Edys dengan terburu-buru. Rencananya untuk membeli syal buat ulangtahun ommanya gagal gara-gara kekesalan Edys.

--------------------------


"Makan di sini?", tanya Chaeyeong tak percaya.

Edys paling benci makanan mentah. Bagaimana mungkin dia menganjurkan makan siang di restoran Jepang? Chaeyeong memperhatikan Edys dengan seksama. Sahabatnya ini masih waras kan? Dia semakin aneh saja.

Edys mengangkat bahunya.
"Memangnya kenapa?", tanyanya cuek.

Tanpa memperdulikan pandangan ngeri Chaeyeong, Edys memasuki restoran Jepang yang didekorasi apik itu. Semua yang ada di sana terlihat kuno tapi tidak ketinggalan jaman. Kesan anggun dan antik lebih terasa daripada kesan kadaluarsa.

"Heiiiii!!! .... Lihat!!! .. Bukankah itu Shinhye??"

Tiba-tiba .. Chaeyeong memegang lengan Edys dan menariknya ke belakang. Tangan satunya lagi menunjuk ke depan. Matanya terbelalak lebar. Melihat tampang Chaeyeong, Edys mengenyitkan alisnya. Kemudian dia mengikuti arah yang ditunjuk gadis itu.

Benar!! .. Shinhye duduk di salah satu meja, tepat dihadapan mereka. Hanya dipisahkan dua buah meja. Seorang pria dengan jas rapi tak bercacat, seperti habis disetrika berjam-jam,  memunggungi mereka. Wajahnya tidak terlihat, tapi rambut hitamnya yang ikal lebat langsung membuat Edys muak.

"Ayo kesana!!", kata Chaeyeong bersemangat, sambil melingkarkan tangannya ke lengan Edys dan menariknya untuk diajak ke tempat Shinhye.

"Yaaaa ...!!!", protes Edys, "Untuk apa kita menganggu kesenangan orang?"

"Saya ingin lihat bagaimana tampang pria yang selalu diagung-agungkan Shinhye ... ", bisik Chaeyeong sambil tersenyum nakal.

"Yaaaa ..., Jangan seiseng itu!!! .. Shinhye bakal ngamuk ... ", Edys balas berbisik.

"Ikut saja!!".

Chaeyeong nekat menarik tangan Edys ke meja Shinhye.

"Hi, dear!! .. ternyata benar ini kamu! Saya kira salah mengenali orang he .. he ...", sapa Chaeyeong ceria ke Shinhye. Ditepuknya lengan sahabatnya itu sambil melirik pria yang duduk di sampingnya.

Shinhye sangat terkejut melihat kehadiran Chaeyeong dan Edys di situ. Dia langsung terperanjat dari tempatnya.
"Ohhhhh ..... ottoke?"

Edys tersenyum kecut. Dia menganggukkan kepala perlahan ke Shinhye. Dia merasa menyesal dengan keusilan Chaeyeong.
"Anyong, dear ... Miane telah mengganggumu ... "

Tiba-tiba .. Chaeyeong menyenggol tangannya. Edys langsung berpaling, "Mwoo??"

"Dia .. tampan juga ! ... Tidak, sangat tampan malah!", bisik Chaeyeong sambil mengerakkan kepalanya kearah pria di depan Shinhye.

Edys mengikuti arah yang dimaksud Chaeyeong. Pemuda itu melirik sekilas kearah Chaeyeong, kemudian pandangannya berhenti tepat dan melekat ke mata Edys selama beberapa detik. Edys sangat terkejut dan canggung diperhatikan seperti itu. Matanya langsung melirik ke segala arah. Bibir pemuda itu agak tertarik keatas. Senyum mengejek? Edys juga tidak tahu. Sesaat kemudian, pandangan pria itu tertuju kearah Shinhye lagi.



"Kamu tidak bermaksud mengenalkan sahabatmu pada kami, Shinhye-ya?". Chaeyeong tersenyum mengoda.

Shinhye menjatuhkan tubuhnya kembali ke kursi di belakang. Dilihat dari wajahnya, mudah ditebak kalau dia tidak senang dengan kehadiran Edys dan Chaeyeong di situ.
"Ini Janpyo oppa ...", kata Shinhye sambil mengarahkan tangannya ke Janpyo, "Oppa, .. mereka sahabatku .. Edelweiss Yoon dan Han Chae Yeong!", tangannya berpindah ke Chaeyeong dan Edys.

"Senang bertemu denganmu Janpyo-ssi .... ", kata Chaeyeong sambil tersenyum semanis mungkin. Dia mengulurkan tangannya kearah Janpyo.

Bibir pemuda itu kembali tertarik keatas. Edys mendesah tertahan. Dia benci sekali dengan ekspresi pemuda ini. Untuk apa dia bersikap seperti itu. Tersenyum? atau mengejekkah yang tersirat dari wajah itu?

Tanpa mengeluarkan suara, Janpyo menerima uluran tangan Chaeyeong. Disentuhnya tangan gadis itu selama sedetik. Ya, hanya sedetik sehingga membuat tampang Chaeyeong langsung berubah. Ini wajar karena Chaeyeong tidak pernah diperlakukan para pria seperti itu. Kemudian Janpyo mengulurkan tangannya pada Edys. Sepasang mata Edys langsung terbelalak lebar.

"Tidak ingin berkenalan denganku?" , tanya Janpyo dengan suaranya yang dalam dan agak serak.

"Hahhh ... ??". Edys semakin membelalakan matanya.Dan sebelum sempat menjawab pertanyaan itu, ponsel dalam saku celana Janpyo berbunyi.

kring ... kring ... kring ....

Janpyo mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Memperhatikan sejenak monitor ponsel itu, kemudian menekan salah satu tombol.

"O Mr. Choi, ... Bagaimana? .... Ok, kalau begitu saya akan kembali sekarang!! ... Tidak masalah! saya tidak ada acara lain ... dan persiapkan semua datanya untukku ... "

Janpyo menutup ponselnya tanpa berpamitan terlebih dahulu dengan teman bicaranya. Edys dan Chaeyeong saling berpandangan. 'Pemuda aneh!!', pikir mereka.

Janpyo bangkit dari kursi yang didudukinya dan berkata pada Shinhye.
"Saya harus pergi sekarang ... "

Mulut Shinhye mengangga.
"Tapi .... makanannya belum datang ... "

"Ada yang harus saya kerjakan .. Mr. Choi sudah menungguku di kantor .. ", kata Janpyo dengan suaranya yang khas.

"Secepat ini? .... Oppa baru tiba kemarin, sudah masuk kerja?", tanya Shinhye, tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.

"Saya tidak suka membuang waktu ... ", jawab Janpyo pendek.

Tangannya bergerak, mengibas jas rapi teramat lurus yang dikenakannya seakan ada debu yang menempel di jas itu.
"Selamat tinggal nona-nona ... ".

Janpyo agak membungkukkan badannya kearah mereka. Kemudian dia mengerakkan kaki, melewati mereka. Ketika dia lewat disamping Edys, mata gadis itu melebar perlahan. 'Gila! Dia tinggi sekali .. '

"OPPA ..... !!!", Shinhye berteriak keras. Beberapa pasang mata para pelanggan di restoran itu langsung menoleh kearah mereka.

Janpyo menghentikan langkahnya, tepat di ambang pintu yang tidak begitu jauh dari meja yang tadi mereka tempati. Kemudian, perlahan .. dia membalikkan badannya, menghadapi mereka. Tatapannya melekat ke mata Shinhye. Pandangan itu sangat dingin. Dia tidak mengeluarkan suara, hanya memandangi Shinhye.

"Ha .. hati-hati .. di jalan ... ", kata Shinhye, pelan dan terbatah-batah.

Janpyo masih dalam posisi semula selama setengah menit. Kemudian dia tersenyum perlahan. Kali ini benar-benar tersenyum. Bukan hanya berupa tarikan bibir keatas. Edys langsung tertegun. Senyuman itu sangat, sangat dan sangat manis. Senyum termanis yang pernah dilihatnya. Bahkan, mantan pacarnya si Jun Sugishima, yang orang Jepang  dan yang menurutnya mempunyai senyum termanis selama ini kalah darinya.



"Senyumnya menawan sekali .. ". Chaeyeong menyenggol tangannya.

Edys langsung berpaling kearah Shinhye dan dia sangat lega ketika melihat sahabatnya itu tidak mendengar kata-kata Chaeyeong. Edys mendelikkan matanya kearah Chaeyeong.

"Gumawo ... "

Suara Janpyo membuat Edys berpaling. Pemuda itu melambaikan tangan kearah mereka. Dan ... hanya perasaannya atau bukan? ... Pandangan pemuda itu jatuh tepat ke matanya  selama beberapa detik. Hati Edys langsung berdegup kencang dan wajahnya terasa panas. Untuk kesekian kalinya, dia merasa benci dengan pemuda itu. Dia tidak suka  perasaannya sendiri terhadap tatapan Janpyo. Dia bukan gadis ingusan karena dia sudah berpacaran berpuluh kali. Tapi .. untuk pertama kalinya dia merasakan perasaan seperti ini terhadap tatapan seorang pria. Dan dia sama sekali tidak mengerti perasaan apa ini. Benci? .. Pasti itu! .. Itu perasaan benci, karena ... ya, karena peristiwa 'Paris Musical' ... tidak mungkin ada penjelasan lain ....

"Edysya, apakah kamu sakit? .. Pipimu merah sekali ... "

Pertanyaan Shinhye menyadarkan Edys. Tubuhnya tersentak dan dia segera berpaling kearah sahabatnya itu. Sedangkan Janpyo, sudah menghilang dari hadapan mereka.

"Ohh .. saya .. gwencana ..", jawab Edys pelan.

"Kalau begitu duduklah! .. Kita makan siang bersama ... "

Edys mengangguk. Kemudian ketiga gadis itu duduk mengelilingi meja bundar dihadapan mereka. Tidak lama setelah itu, makanan yang dipesan dihidangkan ke atas meja.

"Habis ini kita shopping ... ". Chaeyeong mengeluarkan idenya dengan mata bersinar.

"Ok ..", Shinhye langsung menyetujui.

Edys menghembuskan nafas perlahan sebelum menjawab.
"Tapi hanya sebentar, .. Saya harus pulang sebelum pukul 5 sore, kalau tidak omma akan mengulitiku .... "

Shinhye dan Chaeyeong terbahak mendengar kata-kata Edys.

------------------------------


Goo's Mansion, 07:12 P.M. ....

Acara makan malam antara keluarga Goo, Yoon, So dan Song dimulai. Ruang makan yang sangat luas itu dipenuhi puluhan orang. Kursi-kursi yang terdapat di sana tidak ada yang kosong. Semuanya mengelilingi meja makan panjang dari kayu berkilat yang sudah dihidangi berpuluh macam makanan lezat dan istimewa. Anggur dan champagne  terbaik tertuang ke gelas kristal yang diletakkan dihadapan mereka.       

Kegaduhan mewarnai ruangan itu ketika mereka mulai berbincang satu sama lain. Para orangtua sibuk dengan pembicaraan mereka sedangkan para anak yang sudah dewasa saling mengolok dan bersendagurau.

Edys tertawa keras ketika mendengar pembicaraan antara Jaebin dan Gajeong dengan Jundi. Kedua pemuda itu sedang mengoda gadis muda berusia delapan belas tahun itu.



"Apa katamu? ... Kamu cuma suka pemuda seperti paman Goo!!", teriak Jaebin.

"Berarti ..  si JANPYO dong ... ", sahut Gajeong sambil tertawa keras.

Ruangan itu semakin berisik begitu suara ketawa mereka pecah dalam waktu bersamaan.

HA ... HA .. HA ....

Jundi langsung cemberut.
"Bukan!! .. Bukan oppa! ... Saya tidak suka pria berambut keriting .. "

Sekali lagi ..... suara ketawa mengelegar dalam ruangan itu. Masih dengan senyum lebar di bibir, Edys melirik Janpyo, yang duduk dihadapannya. Pemuda itu menoleh sebentar kearah Jundi, setelah itu ..  dia kembali sibuk dengan makanannya. Dia tidak kelihatan terpengaruh dengan gurauan dan ejekan sahabat-sahabat dan dongsengnya. Edys mengeleng perlahan. "Benar-benar pemuda aneh ...... "

Merasa diperhatikan, Janpyo mengangkat wajahnya. Dan ... pandangan mereka langsung bertemu. Janpyo agak menyipitkan matanya. Edys menjadi gugup. Untuk yang .... entah keberapa kalinya, dia merasa gugup bertatapan dengan pemuda itu. Dia semakin membencinya.

Mengapa sepasang mata itu begitu tajam? Dia bukan keturunan ELANG kan? Terus ... hidung itu .... , benci! benci sekali dengan hidung yang sangat mancung dan lurus itu!! ... Mantan pacar terakhirnya, si Nick Ewing, orang Amerika itu saja tidak semancung dan selurus itu, huhhhhhhh ..... Dan ... bibir itu, apakah itu bibir manusia? .. Bagaimana mungkin ada bibir sepenuh dan semerah itu? .... Apa jadinya kalau bibir itu sampai menyentuhnya?

'OHHHH .. TIDAKKKKKKKK!!! ... APA YANG KAMU PIKIRKAN, EDYSYA?!! ... HENTIKAN PIKIRAN MENGERIKAN ITU!!!', teriak Edys dalam hati.

Dan dia bisa bernafas lega ketika suara Jundi mengalihkan pandangan Janpyo darinya.

"Saya sudah bertemu pemuda seperti itu!!!", teriak Jundi.

"Ohhh ya, dimana?", tanya Gajeong, masih dengan senyuman menggoda.

"Saya .. saya tidak ingin membicarakannya dengan oppa ... ", jawab Jundi.

"Yaaaa .. Goo Jun Di, bilang saja kamu menolak kami!!", kata Jaebin.

Jundi tidak menjawab. Dia meneruskan makannya, tanpa menoleh kearah Gajeong dan Jaebin lagi. Kedua pemuda itu tersenyum lebar sambil menangkat bahunya.

Di sebelah lain ....

"Heii, Jihoo-ya, si Edys makin mirip istriku saja!!", kata Junpyo, sambil melirik Edys yang duduk di seberang meja, dekat Lily.

Jihoo terkekeh perlahan.
"He .. he .. kamu harus maklum, Junpyo-ya! ... Istriku kan sangat  menyukai Jandi ... Waktu mengandung dia selalu berharap putri kami akan seperti Jandi .. dan setelah lahir ternyata bukan sifatnya yang mirip, malah wajahnya yang mirip .... Kalau saja warna rambutnya tidak coklat dan warna matanya tidak hijau, mungkin dia akan seperti kembarannya Jandi dan Jundi .. ha .. ha .... Saya lihat Jundi juga sangat mirip Jandi, tapi itu bisa dimaklumi karena kamu begitu memuja Jandi .. ha .. ha ... "



"Yaaa .. Yoon Ji Hoo, ingin mampus ya??!!", teriak Junpyo. Dia mendelik kearah Jihoo.

"Heiii .. kalian, jangan seperti anak kecil lagi!! .. Malu sama anak-anak, tahu?!!", kata Jandi keras, sambil mengenyitkan alisnya.

Woobin, Jaekyung, Yijeong dan Gaeul tertawa tertahan melihat perdebatan kedua sahabat mereka.

"Goo Jun Pyo tetap saja tidak berubah .... ", bisik Woobin ke telinga Yijeong.

"Yang mengherankan si Jihoo masih saja melayani kegilaannya ... ", Yijeong balas berbisik, yang langsung dibalas dengan tertawa keras dari Woobin.

Sepuluh menit kemudian .... mereka sudah mulai menyelesaikan makan malam yang tersedia di hadapan mereka.

Janpyo menaruh garpu dan pisau ke kedua sisi piringnya yang sudah kosong. Kemudian dia mengambil serbet dan mengelap bibirnya. Dia melakukan semua itu dengan tenang. Tidak terusik dengan keadaan di sekitar ruangan itu. Setelah menaruh serbet ke atas meja, dia mengambil gelas anggur dan meneguknya pelan. Edys melirik pemuda itu lewat sudut matanya. 'Benar-benar contoh pemuda terhormat ... ', gumamnya dalam hati.

Janpyo menaruh gelas kristal itu ke atas meja. Kemudian dia melipat kedua tangan di depan dada. Matanya tertuju ke depan. Edys masih meliriknya dengan kepala tertunduk, pura-pura menghadapi piringnya yang hampir kosong. Wajah pemuda itu tidak memperlihatkan perasaannya. Sepasang mata yang sangat tajam itu tidak berkedip mengarah ke satu titik dihadapannya. Apakah pandangan itu tertuju padanya atau tidak? Edys juga tidak tahu. Pemuda ini memiliki wajah poker yang tidak bisa dipahami. Kamu tidak akan pernah bisa menebak apa yang dipikirkannya.

kring ......... kring ............. kring .................

Perhatian Janpyo perlahan terarah kepada Jundi. Deringan itu berasal dari tas yang tersampir di kursi yang diduduki Jundi. Tergesa Jundi mengeluarkan ponselnya. Memperhatikan sejenak monitor ponsel dengan kening berkerut. Kemudian dia memencet sebuah tombol ...

"Yeoboseyo ..... " Mata Jundi melebar. Kelihatannya ada yang mengejutkannya. "Tunggu sebentar ... . Dengan gugup Jundi berlari ke sudut ruangan dan berbicara pelan sambil menutupi mulut dan ponsel dengan tangannya.

Edys mengangkat wajah dan memperhatikan wajah Janpyo yang berkerut. Pandangan pemuda itu tertuju kepada dongsengnya.

"Janpyo-ya, bagaimana dengan permulaanmu di sini?". Pertanyaan yang tiba-tiba itu membuat Janpyo menoleh kearah Woobin.

"Baik paman Bin .. ", jawab Janpyo pendek.

Sebuah bayangan yang melintas dihadapannya segera membuat perhatiannya terarah ke depan lagi. Alisnya kembali berkenyit. Jundi terlihat tergesa keluar dari ruangan itu.

"Tidak sulit untuk menyesuaikan diri kan?", tanya Woobin lagi.

"Tidak!", jawab Janpyo, dan sebelum Woobin bertanya lebih lanjut, Janpyo segera berdiri dari tempatnya, "Mian, paman Bin .. saya permisi sebentar .. ". Dia mengangguk pelan, mendorong kursinya ke belakang dan melangkah kearah pintu.



"Janpyo-ya ... mau kemana?", teriak Jandi.

Janpyo membalikkan tubuhnya.
"Cari udara segar, omma ... ", jawabnya sambil menoleh kearah Jandi. Kemudian dia berbalik lagi dan keluar dari ruangan itu.

"Dasar anak aneh!!!".

Kata-kata Junpyo masih tertangkap oleh telinganya ketika dia sudah berada di lorong luar.

----------------------


Janpyo sampai di halaman depan, dan dia mengedarkan pandangannya ke segala arah. Tidak didapatinya bayangan Jundi. Keadaan di sekitar situ agak gelap karena cahaya yang diperoleh sangat terbatas. Hanya sinar rembulan dan beberapa lentera kecil yang bertengger di tiang-tiang tinggi sepanjang halaman taman yang ada di situ.

Janpyo berlari-lari kecil di sekitar taman, sambil mengedarikan pandangannya. Masih tidak dilihatnya bayangan Jundi. Lima menit kemudian matanya menangkap sesosok bayangan menyandar di pilar dekat air mancur kecil di tengah taman. Janpyo segera mendekati orang itu.

"Ohhh ... Janpyo-ya ...!! ". Orang itu segera berdiri tegak di tempatnya.

"Kemana Jundi?", tanya Janpyo dengan suara tajam.

Pemuda itu menunjuk ke depan dengan bibirnya. Janpyo mengarahkan pandangan kearah yang ditunjuk pemuda kekar itu. Dan sekarang terlihat olehnya Jundi sedang berbicara dengan seseorang berpostur tinggi sekitar sepuluh meter di depan.

Janpyo menyipitkan matanya, berusaha memperjelas pandangan kearah orang itu. Tapi ... karena keadaan di situ sangat redup, sekeras apapun usaha untuk mempertajam pandangannya, tetap saja wajah orang itu tidak terlihat jelas olehnya. Janpyo menghembuskan nafas perlahan dan mulai melangkahkan kaki ke sana.

"Janpyo-ya ... ". Pemuda yang tadi ditanyainya langsung menyentuh lengannya.

Janpyo menoleh kearah pemuda itu.
"Jangan khawatir! .. Saya hanya ingin mengetahui siapa orang itu! "

Pemuda itu mengangkat bahunya.
"Fine ..., terserah kamu ... "

Janpyo menatap pemuda itu sejenak, kemudian meneruskan langkahnya. Semakin mendekat kearah Jundi dan orang yang bersamanya, wajah Janpyo semakin berkenyit. Mengapa dia merasa tidak asing dengan sosok itu? Di mana dia pernah bertemu dengannya? Apakah orang itu dikenalnya?

Orang itu tiba-tiba mengangkat wajah dari Jundi, dan mengarahkan pandangannya ke Janpyo. Perasaan familiar itu semakin kuat menghinggapi hati Janpyo. Dia segera mempercepat langkahnya. Melihat itu, orang yang bersama Jundi, setelah mengatakan sesuatu, segera membalikkan badan dan berlalu dari situ.

Ketika Janpyo sampai di sebelah Jundi, orang itu sudah menghilang dari pandangan.

"Apa yang oppa lakukan di sini?", tanya Jundi dengan kening berkerut. Ditariknya tangan Janpyo, kesal.

Janpyo tidak menjawab. Dia masih mengarahkan pandangannya ke depan. Orang itu sudah benar-benar lenyap dari pandangannya. Kemudian Janpyo menoleh kearah Jundi dan memandanginya dengan sorot mata tajam.
"Siapa orang itu?"

"Mweoo? .. Orang itu hanya mengembalikan dompetku, lalu apa masalahnya?". Jundi membalas pandangan Janpyo dengan sikap menantang.

"Kamu tahu berbahaya berada di luar dengan orang asing?". Janpyo menekan perkataannya.

Wajah Jundi langsung memerah. Didorongnya Janpyo ke belakang.
"Saya tidak sendirian di sini! ... Michael akan melindungiku!!"

"Michael berada sekitar sepuluh meter di belakang, .. Dia tidak akan melihat jelas apa yang terjadi di sini ... Jika orang itu berniat melakukan sesuatu yang membahayakanmu, dia bisa melakukannya begitu saja!! Arasso?!", kata Janpyo dengan suara ditekan.

"Saya tidak mau mendengar penjelasan oppa!! ... Saya bukan anak kecil lagi, jadi mohon oppa memberi kebebasan padaku!!", teriak Jundi. Sekali lagi dia mendorong Janpyo ke belakang, kemudian berlari kearah rumah.

"Michael, ikut denganku ke dalam!!", teriaknya, begitu melewati pemuda bernama Michael yang masih menyandar di pilar dekat air mancur.

Janpyo memandangi mereka dengan ekspresi datar. Topeng poker kembali menyelubungi wajahnya. Michael mengangkat kedua tangan ke atas dengan senyum pasrah, lalu membalikkan badan mengikuti Jundi masuk ke dalam rumah.



Janpyo mengikuti kepergian mereka dengan pandangannya. Lalu .. untuk terakhir kalinya dia berpaling ke belakang dan memusatkan perhatian kearah, dimana menghilangnya tamu tak diundang itu. Selama beberapa menit dia berdiri dengan posisi seperti itu. Setelah puas, dia berbalik dan masuk ke dalam rumah.

Udara semakin dingin dan rembulan malu-malu bersembunyi di balik awan.

-----------------------------

~~ to be continued ~~


PS : M version akan dikirim ke pm masing-masing besok [biggrin] [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline sunny.mino

  • Newbie
  • *
  • Posts: 22
  • MINSUN love ya !!!
  • Location: Indonesia
    • View Profile
wah gomawo dah update mi,,, [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] mau ngacir baca dulu ahh,,,, [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] M version.a bsok ya miiii... [jumpy] [jumpy] [jumpy] [jumpy]
okelah,,,,,jngan lupa low mi pm-in aku [jumpy] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]


M I N S U N             
                      IS
                            MY
                                  LOVE

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Asyk udh di update,,.
Makasih mam,,.
Bca dlu ah,,.