Author Topic: My Everything II (That's My Promise), chapter 5 FINAL updated 7 Agustus 2010  (Read 20485 times)

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
 [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] UPDATE dong MAMI,,,,,,,,,,,  Emoticons0424 Emoticons0424 Emoticons0424 Emoticons0424
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
[AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] UPDATE dong MAMI,,,,,,,,,,,  Emoticons0424 Emoticons0424 Emoticons0424 Emoticons0424

Sist awas di  [head break] [hammer] [head break] ama mami loh...
nTuh kan baru diupdate 10 tahun lalu ups 10 hari lalu  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
Skr kan giliran si bengkok-bengkok  [lovestruck] [on] [hmpfh]

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
di updet dunk mi....

udah gak sabar nieh...bener-bener penasaran...

di  [guns] hammer2 [hammer3] [head break] [hammer] [fighting] ma mami...


iya dweh mi...demi mami tercinta  [hmff] [hmff] [hmff]

setia menunggu...

SEMANGAT ya mi...

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
ff ini mungkin baru bisa diupdate hari sabtu atau minggu jd mohon perhatiannya ya [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
ff ini mungkin baru bisa diupdate hari sabtu atau minggu jd mohon perhatiannya ya [hmpfh]

oyi oyi akan saya perhatikan dan tunggu dg sabar... [eat]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
kukan setia menunggu....
 [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] sleep1 sleep1 sleep1 sleep1 sleep1 sleep1 sleep1 sleep1 sleep1 sleep1 sleep1 sleep1 sleep1 sleep1 sleep1 sleep1 sleep1 sleep1 sleep1 sleep1 sleep1 sleep1 sleep1 sleep1
tp GPL yach, hehehe


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
yup...akan selalu menunggu mi demi My ever...

apapun untuk my every...

 punk punk punk punk punk punk punk punk punk punk punk [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
thanks [hmpfh]

Yah tak pikir mo diupdate skrg mi... [hmpfh] [hmpfh]

udah dibilangin nanti hari sabtu. Eh, ini hari sabtu kan? Jadi gak paph mnta skrng..

UPDATE UPDATE UPDATE...
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
thanks [hmpfh]

Yah tak pikir mo diupdate skrg mi... [hmpfh] [hmpfh]

udah dibilangin nanti hari sabtu. Eh, ini hari sabtu kan? Jadi gak paph mnta skrng..


UPDATE UPDATE UPDATE...

kali aja sist si ammi berubah pikiran n mau update kemaren.... [hmpfh] [hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




tok .... tok ... tok ...

"Masuk!!". perintah keras terdengar dari dalam ruang kantor Janpyo.

Mr. Choi meraih gagang pintu dari metal berkilat dan menariknya. Daun pintu tersebut terbuka dengan satu tarikan. Mr. Choi melangkah ke meja kerja Janpyo dengan sebuah map file tergenggam di tangannya. Dia meletakkan map itu di depan Janpyo, yang kelihatan berkutat dengan tumpukan dokumen di hadapannya.

Janpyo menghentikan kesibukkannya. Dia melirik sekilas map file berwarna kuning terang itu, kemudian mengangkat wajah menghadapi Mr. Choi dengan pandangan bertanya.


"Ini data-data J.M. Corporation, doronim .. ". Mr. Choi segera memberikan penjelasannya.

Janpyo terpaku untuk ke sepersekian detik. Setelah menganggukkan kepala, dia meraih map itu, membuka dan mulai menyusuri tulisan yang tercetak rapi di dalam dengan sepasang matanya.

"Ternyata, selama dua bulan terakhir, terjadi pergolakan hebat dalam tubuh J.M. .. ". Mr. Choi memulai laporannya. "Investasi tidak akurat dan salah dari Mr. Wills telah mengakibatkan kerugian besar bagi J.M. ..  Saham-saham dan property yang dijual tidak mampu menutupi kerugian itu! J.M. hampir bangkrut, kalau saja .. tidak ada kemunculan tiba-tiba dari seorang penyelamat ... "

Janpyo mengangkat wajah dan mengalihkan perhatian dari file dihadapannya ke Mr. Choi.
"Penyelamat?", keningnya agak berkenyit.

Mr. Choi membungkukkan badannya.
"Ne, doronim .."

"Siapa dia?", tanya Janpyo tenang. Dia merasa bisa menebak jawaban Mr. Choi selanjutnya. Tapi, dia bukan orang yang mudah puas dengan jawaban tidak pasti, jadi dia mengeluarkan pertanyaan tersebut.

"Lee Jae Min, doronim!!", jawab Mr. Choi, sambil menekankan nama itu.

"Lee Jae Min?", Janpyo mengulangi nama tersebut dengan nada pelan.

"Iya, doronim!! .. Orang itu menyalurkan dana yang sangat besar ke tubuh J.M., dan juga membeli kembali saham-saham yang sudah dilepas Mr. Wills. Hampir 70% kekayaan J.M. jatuh ke tangannya. ... Dia melakukan beberapa pembaharuan yang mampu menyelamatkan J.M. dari kebangkrutan, dan juga mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan tersebut, hanya dalam waktu sebulan!!"

"Sehebat itukah dia?!". Janpyo menatap tajam Mr. Choi. Meminta kepastian darinya.

Mr. Choi ragu-ragu sejenak sebelum menjawab.
"Tidak jelas, doronim .. ", katanya, sambil menunduk perlahan.

"Tidak jelas?", ulang Janpyo, "Apa maksudmu?"

"Tidak seorangpun pernah bertemu dengannya .. ", jawab Mr. Choi. "Semua ide dan perintah orang itu dilakukan dengan diwakili oleh ... oleh tuan muda Jang Geun Suk .. ". Mr. Choi menghentikan perkataannya. Dia memperhatikan Janpyo dengan tampang khawatir.

Benar saja, begitu mendengar nama Jang Geun Suk, raut wajah Janpyo berubah perlahan.
"Jang Geun suk?"

Mr. Choi menganggukan kepalanya.
"Iya, doronim, .. karena itu tuan muda Geunsuk bisa menjadi direktur utama dari J.M. cabang Korea, .. dia mempunyai peranan penting dalam kebangkitan J.M. .. "

"Lalu, bagaimana dengan Mr. Wills?", tanya Janpyo, yang sudah kembali ke sikap semula.

"Mr. Wills masih bertugas di J.M. pusat, tapi posisinya sudah digantikan Lee Jae Min, .. mantan presiden direktur itu tidak mempunyai kedudukan penting lagi, posisinya hanya berupa direktur biasa dan tidak berarti sama sekali .. ". Mr. Choi memberikan penjelasan sambil tersenyum sendu dan mengelengkan kepalanya.

Janpyo menyipitkan pandangan ke depan.
"Lee Jae Min! Lagi-lagi Lee Jae Min! Siapa sebenarnya orang itu?! ... ", dengusnya.

"Doronim!!!". Sepasang mata Mr. Choi tiba-tiba terbelalak lebar. "Mungkinkah .. Apakah tidak mungkin kalau ... kalau ... ", perkataan Mr. Choi tercekat di tenggorokan.

Janpyo meliriknya dengan kening berkenyit.
"Ada apa Mr. Choi?"

Mr. Choi menelan ludahnya, "Apakah .. apakah tidak mungkin Lee Jae Min dan tuan muda Geunsuk itu orang yang sama .. ?". Mr. Choi menghembuskan nafas lega setelah berhasil mengeluarkan dugaannya.

Janpyo langsung mengelengkan kepalanya, "Tidak mungkin!! Geunsuk tidak memiliki kecerdikkan itu! Lagipula .. dia tidak memiliki modal sebesar itu!!"

Mr. Choi mengangguk mendengar penjelasan Janpyo. Dia memperhatikan seksama tampang majikan mudanya yang kelihatan kusut. Janpyo, tidak seperti Janpyo yang dikenalnya. Pemuda tenang yang tidak pernah memperlihatkan perasaannya itu, kali ini terlihat gelisah.

Janpyo menghembuskan nafas perlahan. Setelah melempar file di tangannya ke meja, dia memutar kursi yang didudukinya menghadap jendela.
"Mr. Choi ... ", panggilnya lirih.

"Ya, doronim .. "

Janpyo tiba-tiba memutar kursinya lagi. Sangat cepat hingga berhadapan dengan Mr. Choi.
"Siapkan pesawat pribadiku buat penerbangan ke New York lusa nanti!", perintahnya, padat dan jelas.

Mr. Choi sangat terkejut.
"Ke New York, doronim? Berhubungan dengan J.M.? Tapi, .. mengapa? .. J.M. hanya perusahaan kecil, doronim tidak perlu turun tangan sendiri .. "

"Saya tidak perduli dengan J.M.! Yang saya khawatirkan hanya Geunsuk! .. Saya ingin mengetahui apa sebenarnya dibalik semua ini, ... oleh karena itu saya harus menyelidikinya sendiri!". Janpyo meraih file yang berisikan data-data J.M. dari meja kerjanya. Memperhatikannya dengan seksama, setelah itu meletakkannya kembali ke atas meja.

"Apakah doronim memerlukan bantuanku?", tanya Mr. Choi.

Janpyo segera mengelengkan kepalanya, "Tidak!! .. Anda sangat diperlukan di sini, Mr. Choi. Saya akan berangkat sendiri, dan .. pastikan Michael menjaga Jundi dengan baik. Saya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya ... "

"Ne, doronim .. ". Mr. Choi membungkukkan badannya.

"Anda boleh keluar sekarang, Mr. Choi!!". Janpyo mengibaskan tangan ke atas dan kembali tenggelam dalam kesibukkannya.


Mr. Choi memperhatikannya sejenak, setelah itu dia memutar tubuh kearah pintu. Belum sampai lima langkah dia bergerak, suara Janpyo terdengar lagi.

"Mr. Choi, saya akan ke universitas Shin Hwa setengah jam lagi! Ada urusan yang harus dibicarakan dengan Mr. Kim. Anda tidak perlu ikut denganku! Aku akan segera kembali buat rapat jam 2 siang nanti .. "

Mr. Choi menganggukkan kepalanya, kemudian berlalu dari situ.


--------------------



Edys meraih ranselnya dan bergegas keluar dari perpustakaan yang sudah agak sepi dari para mahasiswa. Empat hari berlalu sudah dan hubungannya dengan Eunhye dan Chaeyeong semakin renggang. Dia sering dibiarkan seorang diri oleh kedua sahabatnya yang sedang tidak akur itu.

Edys melintasi lapangan parkir dengan langkah lebar. Kepalanya tertunduk dan terpusat ke majalah dalam genggamannya, sehingga tidak menyadari kehadiran seseorang yang baru keluar dari ferrari merah keluaran terbaru di sampingnya.

brukkk ...., tak pelak lagi, Edys menabrak orang itu.

"Ohh sosoengheyo ..", dengan gugup Edys mengangkat wajahnya. Dan .. sepasang mata yang bundar dan besar itu langsung terbelalak lebar ketika mendapati siapa sebenarnya orang itu. "Ka .. kamu ...", suaranya tertahan di tenggorokan.

"Ehmmm ... ". Janpyo berdeham perlahan. Berusaha membersihkan tenggorokannya yang tiba-tiba tersumbat.

"A .. apa yang kamu .. lakukan di sini?", tanya Edys agak pedas setelah berhasil mengendalikan dirinya.

Janpyo tidak segera menjawab. Tangannya bergerak, mengancing jas bagian atas yang terbuka. Setelah itu dia mengibas halus kerah kemeja dalamnya yang sedikit kusut.

"Heiii!! Saya bertanya padamu! Mengapa kamu tidak menjawab? Apa sebenarnya yang kamu lakukan di sini?!", teriak Edys.

Janpyo mengalihkan perhatian dari penampilannya kepada Edys.
"Apa saya tidak boleh berada di sini?", dia balik bertanya dengan tenang.

Edys menjadi gugup. "Tidak! bukan! bukan begitu!! Maksudku, kamu bukan siswa di sini jadi ..", Edys menghentikan perkataannya secara mendadak. "Heii!! .. Saya yang bertanya terlebih dahulu padamu, mengapa kamu balik bertanya?", Edys tersungut-sungut sendiri.

Pemuda itu mengangkat bahunya, seakan tidak melihat kejengkelan Edys. Sambil menjawab pertanyaan gadis itu, dia mulai melangkahkan kakinya, menuju gedung universitas Shin Hwa.
"Saya ada keperluan dengan Mr. Kim!"

Mulut Edys mengangga. Pemuda yang empat hari lalu mendaratkan ciuman mendadak ke bibirnya itu berlalu begitu saja. "Yaaaaaaaaa ....!!!"

Edys memperhatikan punggung Janpyo yang semakin mengecil dari pandangannya. Dia tidak bergerak sedikitpun dari posisinya walaupun pemuda jangkung itu sudah sampai di pintu utama gedung yang berjarak beberapa puluh meter dari tempatnya berdiri. Sosok itu mulai mengabur ketika tiba-tiba dia menghentikan langkahnya. Tubuh Edys langsung tersentak.

Janpyo memutar tubuhnya sehingga berhadapan langsung dengan Edys. Tubuh gadis itu semakin menengang. Janpyo tidak bergerak selama beberapa detik. Dia sedang berpikir. Entah apa yang dipikirkannya! Edys sama sekali tidak bisa menebaknya.

Lalu pemuda itu mulai menuju kearahnya. Langkahnya sangat tegap. Dia kelihatan sangat menawan dalam balutan kemeja putih tipis dan jas hitam yang berkibas-kibas tertiup angin ketika berjalan. Dengan kaki sepanjang itu, Janpyo hanya memerlukan waktu tiga menit untuk sampai dihadapannya.

"Mwoo .. ? .. A .. apa lagi yang akan kamu lakukan? .. Di .. di sini banyak orang .. jangan sekali .. kali .. kamu .. ". Edys tidak sanggup meneruskan perkataannya. Dia mundur beberapa langkah ke belakang. Semakin gugup dan ngeri berhadapan langsung dengan pemuda itu.

"Memangnya apa yang akan saya lakukan?". Janpyo tersenyum tipis. Sudut bibir kanannya tertarik ke atas, membentuk ejekan halus. Ekspresi wajah yang paling dibenci Edys.


"Ka .. kamu .. "

"Saya tidak akan menciummu, kalau itu yang kamu maksudkan!", sahut Janpyo.

Mata Edys terbelalak lebar. Dia sangat terguncang dengan perkataan Janpyo. "Bu .. bukan itu maksudku .. ", bantahnya cepat. Pada saat itu dia sekali ingin melarikan diri dari hadapan Janpyo. Jika perlu, lenyap sekalian dari muka bumi. Matanya berusaha mencari tempat pelarian, tapi tidak ditemukannya. Malahan, terakhir pandangannya bertemu kembali dengan tatapan pemuda di hadapannya.

Edys bisa bernafas lega ketika menangkap sikap tenang Janpyo. Pemuda itu sama sekali tidak terusik atau penasaran melihat tingkahlakunya. Dan sekali lagi, sifat tersebut membuat Edys bertanya-tanya sebenarnya pemuda itu terbuat dari apa. Daging? Darah? atau ... apakah dia mempunyai roh? Mengapa perasaannya tidak terbaca sama sekali.

"Jillya ...", panggil Janpyo pelan.

"Mwo??!!". Tanpa dapat dicegah, Edys berteriak keras.

Beberapa siswa yang lewat di dekat mereka segera berpaling dan saling berbisik satu sama lain.

Janpyo tidak segera menjawab. Seperti biasa dia mempertimbangkan perkataan selanjutnya. Tiba-tiba dia mendekatkan wajahnya ke wajah Edys.


"Mwo ..? ", tanya gadis itu gugup.

"Besok, pukul 2 siang, Namsan Tower .. ", jawab Janpyo dengan nada datar.

"Mwo??". Edys memperhatikan Janpyo dengan pandangan bertanya.

"Saya menunggumu di sana .. ". Setelah mengatakan itu, Janpyo berbalik kearah gedung universitas Shin Hwa dan mulai melangkahkan kakinya.

"Heii .. apa maksudnya ini??!! Mengapa saya harus ke sana? Mengapa saya harus mengikuti keinginanmu??"

Janpyo menghentikan langkahnya. Dengan lamban dia memutar tubuhnya.
"Saya akan berangkat ke New York lusa malam dan baru akan kembali lima hari kemudian .. "

Edys sangat terkejut mendapat berita mendadak dari Janpyo.
"Ke New York ..?", gumamnya pelan.

"Iya! .. Kita tidak akan bertemu selama seminggu ..". Janpyo menatap Edys lekat-lekat.

"Itu .. itu tidak ada urusannya denganku ... ". Edys segera berbalik ke mobil dengan sopir yang sudah menunggunya sejak tadi.

"Jika kamu ingin bertemu denganku, datanglah!!! Saya akan menunggumu di sana, sampai selarut apapun, Jillya!!"

Teriakkan Janpyo masih sempat tertangkap oleh telinganya, sampai Mr. Bae, sopir pribadinya, menutup pintu mobil di sebelahnya.

-----------------------


Salju sudah turun dari tadi siang. Edys merapatkan mantelnya di depan dada, sambil menyeruput coklat panas dari cangkir porselen dalam genggamannya. Pandangannya terarah keluar jendela. Kegelapan mulai menyelimuti jalanan di luar sana. Lampu-lampu penerangan bertiang tinggi di pinggir jalan raya mulai dinyalakan. Memantulkan berkas halus keputihan dari serpihan-serpihan salju yang beterbangan ke udara akibat perputaran roda-roda kendaraan yang memadati jalan raya.

"Grrrr ....!!!"

Suara itu membuat Edys mengalihkan perhatiannya. Chaeyeong meringkuk di kursi, tepat dihadapannya, dengan terbalut gaun tipis yang hanya dilengkapi jaket pendek dari kulit berwarna coklat tua. Sepasang tangannya menempel ke cangkir berisi kopi panas yang masih mengepulkan asap tipis.

Edys tersenyum perlahan. "Saya benar-benar salut padamu!", katanya, sambil mengacungkan jempol ke atas.

"Mwo?", tanya Chaeyeong. Suaranya bergetar dan giginya bergemelatuk hebat akibat menahan rasa dingin yang menjalari seluruh tubuhnya.

"Bagaimana kamu bisa berkeliaran di udara sedingin ini dengan pakaian seminimal itu?". Edys memandangi sahabatnya dengan penuh kekaguman.

Chaeyeong tidak menanggapi perkataan Edys. Tangannya masih mengenggam erat cangkir yang berhasil memberi sedikit kehangatan bagi kulit tangannya yang membeku. Sedangkan pandangannya dilemparkan keluar jendela.
"Pemandangan yang tertutup salju sangat indah ya?", tanyanya, membelokkan pembicaraan kearah lain.

"Iya .. ", jawab Edys. Senyuman tidak terlepas dari wajahnya yang putih bersih.

"Kalau kita melihatnya dari tempat tinggi akan lebih perfect lagi, misalnya dari Namsan Tower .. ", lanjut Chaeyeong. Pandangannya menerawang ke langit kelam.

Deg! .., hati Edys berdegup mendadak, tanpa dimengertinya. "Namsan Tower! Dimana saya mendengar kata-kata tersebut terakhir kalinya? Belum lama ini! Saya pasti itu!", batin Edys.

"Kalau dari kereta gantung yang bergerak pelan, mungkin akan romantis sekali ..". Perkataan Chaeyeong selanjutnya hanya samar-samar tertangkap pendengaran Edys.

"Namsan Tower?". Nama itu terlontar begitu saja dari mulut Edys.

Chaeyeong langsung memandanginya. "Iya, Namsan Tower! Memangnya kenapa? Kamu ingin ke sana?"

"Tidak!!", Edys mengeleng cepat. "Saya hanya merasa .... ", dia berpikir sebentar. Keningnya berkenyit, sebelum akhirnya melanjutkan perkataan tadi, ".. merasa pernah mendengarnya akhir-akhir ini, .. Siapa yang telah mengucapkannya padaku ya?". Edys tampak berpikir keras.

"Besok, pukul 2 siang, Namsan Tower .. ". Tiba-tiba perkataan tersebut melintas dalam otaknya.

"Astaga!!!!!". Edys meloncat dari kursi yang didudukinya. Wajahnya berubah pucat, mulut mengangga yang ditutupi dengan tangan dan sepasang mata terbelalak lebar.


Edys sangat terkejut, sehingga membuat Chaeyeong khawatir.
"Ada apa? Gwencana Edysya?"

Edys tidak menjawab. Dia segera meraih ransel yang tergeletak di atas meja, kemudian berkata gugup, "Saya .. saya harus pergi sekarang!! .. Ada masalah yang terlupakan olehku .. "

Dia menepuk pundak Chaeyeong, dan tergesa menuju pintu depan 'Canteen', cafe kecil yang terletak dekat universitas Shin Hwa.

"Heyyyy .. bagaimana acara nonton filmnya??!!!", teriak Chaeyeong, yang terdengar lebih seperti protesan.

Edys memutar tubuh kearahnya. "Miane Chaeyeong-ya, saya tidak bisa ikut denganmu! Kita buat janji lain kali saja! .. Saya benar-benar harus pergi sekarang ..". Dalam sekejap, Edys lenyap dari hadapannya.

"Huhhh ... padahal saya sudah menyisihkan waktu buatmu, sehingga kencanku dan Seulong diundur ..", gerutu Chaeyeong.

---------------


Edys menginjakkan kaki di depan lapangan Namsan Tower yang luas dan terselimut salju, tepat pada pukul tujuh malam. Angin bertiup kencang, menerbangkan serpihan-serpihan salju ke udara dan membawa suhu membekukan yang mendirikan bulu roma.

Edys mempererat lilitan syal di lehernya, sambil merapatkan mantel tebal di depan dada. Tapi usaha untuk menghangatkan diri dengan kedua cara itu percuma saja. Perlahan, udara membekukan itu merambat masuk ke dalam kulit tubuhnya.

Edys menghembuskan nafasnya yang beruap tebal. Lingkaran-lingkaran uap itu mengepul ke udara, berbaur menjadi satu dengan embun malam di musim dingin. Edys mengedarkan pandangannya ke segala arah. Begitu juga tubuhnya, berputar kesana kemari, berusaha menangkap sosok jangkung yang dicarinya. Lima menit berlalu, dan dia tidak mendapatkan bayangan Janpyo di sana.

Edys memundurkan payung yang menaungi kepalanya ke belakang. Dia sudah putus asa ketika sebuah sosok yang meringkuk di pojok pagar rendah, agak terhalangi sebatang pohon, hampir duapuluh meter dari tempatnya berdiri, menarik perhatiannya. Rambut lebat dan ikal berwarna hitam pekat itu sangat dikenalinya. Begitu juga postur tubuh dan sepasang kaki panjang yang terjulur ke depan itu. Semuanya tidak asing baginya. Tergesa-gesa Edys mendekati sosok tersebut. Dan benar saja dugaannya. Orang itu Goo Jan Pyo.

Edys menjulurkan tangan yang memegang payung kearah Janpyo. Salju yang masih turun sampai detik itu tertahan oleh payung ditangannya.


Merasa sentuhan-sentuhan membekukan dari serpihan-serpihan salju yang mengenai wajahnya menghilang begitu saja, Janpyo mengangkat wajahnya. Tatapannya bertemu dengan tatapan tajam dari Edys.
"O sudah datang ... ", ujar Janpyo pelan. Suaranya terdengar serak dan kering.


"Pabo-a!!! Buat apa kamu melakukan ini? Saya tidak akan berterimakasih padamu, araso!!", teriak Edys.

Janpyo terbatuk perlahan. Bibirnya bergetar dan pucat. Wajahnya seputih kertas.
"Hukk ..se .. seperti yang .. yang saya janjikan padamu ... ", jawabnya dengan gigi bergemelatuk hebat.  

"PABO-A!!!", teriak Edys lagi. Kali ini lebih keras dari tadi. Tangannya bergerak membantu Janpyo bangkit dari posisinya. "Apa kamu bisa berdiri?"

Janpyo tidak menjawab. Atau, mungkin dia tidak punya tenaga untuk menjawab. Dia mengumpulkan kekuatan terakhirnya untuk berdiri. Tapi begitu dia berhasil menyangga tubuh dengan susah payah, raganya itu tidak bisa diajak kompromi, langsung ambruk ke tubuh Edys.

"Heii .. Janpyo-a!! Gwencana?", teriak Edys sambil menguncang tubuh Janpyo.

Pemuda jangkung itu tidak bereaksi. Edys kembali menguncangnya. Tapi tetap saja tidak mendapat tanggapan darinya.

"Janpyo-a ... ", gumam Edys, lirih.

"Hmmm .... ", terdengar jawaban halus dekat telinganya.

Edys langsung menoleh, dan pipinya menempel di wajah pemuda yang terkulai lemas di bahunya.
"Akhhh .. ". Edys berteriak keras ketika merasakan bara api membakar pipinya.

Janpyo membuka mata perlahan. Wajah pucat itu sudah memerah. Bahkan sangat merah. Sedangkan matanya redup, tidak bercahaya.
"Sa .. saya .., mungkin saya demam ...."

"Kamu berada di udara terbuka selama lima jam, tersiram salju dan kedinginan selama itu, tentu saja kamu sakit .... ", sahut Edys kesal.

Janpyo tersenyum. Senyuman yang biasanya sangat dibenci Edys. Sudut bibir yang tertarik keatas, tanpa memperlihatkan giginya. Tapi kali ini senyuman itu membuat hati Edys berteriak. Senyuman terpaksa yang sangat memelas.

"Saya rasa .. acara yang sudah dipersiapkan .. tidak bisa dilaksanakan sesuai rencana ...". Janpyo mengangkat tangan ke atas dan memijit keningnya, "Kepalaku sangat berat dan pening .. ", katanya dengan hembusan nafas panjang.

"Kalau begitu kita pulang saja! Apakah kamu bisa berjalan?", tanya Edys.

Janpyo mengangguk pelan. "Mobilku terparkir di situ .. ". Tangannya menunjuk ke daerah parkir sekitar sepuluh meter dari situ.

Mata Edys terbelalak lebar. "KAMU GILA YA? ... masih berniat menyetir dengan keadaan seperti ini!!!", teriak Edys. Dia segera mengangkat tangan ke atas ketika melihat Janpyo bermaksud mengeluarkan suaranya. "Jangan bicara lagi! Kali ini saya yang mengambil keputusan! .. Saya akan memanggil taxi sekarang juga!"

Edys mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dengan cepat dia memencet beberapa nomor yang sudah dihapalnya di luar kepala. Dia kelihatan sangat tegang dan terburu-buru. Janpyo melirik Edys lewat sudut matanya. Dia tersenyum perlahan. Kepalanya masih menyandar di bahu gadis itu. Kemudian, dia menutup mata secara perlahan-lahan ketika merasa kepalanya semakin berat dan tubuhnya semakin membeku.


--------------------


Jandi menyelimuti tubuh Janpyo dengan selimut tebal dan hangat. Keadaannya sudah diperiksa dengan teliti oleh dokter Kim. Dia hanya terkena demam biasa akibat menghirup terlalu banyak udara dingin. Temperatur tubuhnya turun drastis. Tapi keadaannya tidak begitu parah. Setelah minum obat resep dari dokter Kim, Janpyo tertidur pulas di ranjangnya.

"Gumawo dokter Kim .. ", kata Jandi.

Dokter keluarga itu mengangguk kecil. Setelah membungkukkan badannya, dia mengundurkan diri dari situ. Jandi mengalihkan perhatian pada Edys yang sejak tadi masih mematung di tempatnya.

"Gumawo Edysya .. "

"Mwo??!!". Edys tersentak dari lamunannya.

Jandi tersenyum kecil.
"Terimakasih telah mengantar Janpyo pulang .. ", jawabnya lembut.

"Ohhh .. ", desah Edys, "Tidak apa-apa .. "

Keheningan mulai menyelimuti tempat itu, ketika Jandi memeriksa keadaan Janpyo lagi. Dia menempelkan telapak tangan ke jidat Janpyo, kemudian bergumam perlahan.
"Hmmm ... demamnya sudah agak menurun .. "

Edys memperhatikan punggung wanita dihadapannya. Sosok seorang ibu yang baik dan penyayang. Janpyo pasti bangga memiliki seorang ibu seperti Jandi.

Edys membuka mulut, berniat mengatakan sesuatu tapi segera diurungkannya ketika Jandi berbalik kearahnya.

"Edysya, bagaimana kalau kamu makan malam di sini?"

Edys mengeleng cepat. "Soseongheyo bi Jandi, saya tidak bisa menerima tawaran bibi! .. Saya masih ada urusan lain, jadi saya permisi dulu .. ". Edys membungkukkan badan dalam-dalam kepada Jandi.

Wanita itu menghela nafasnya. Kemudian mengangguk perlahan.
"Baiklah, bibi tidak akan memaksamu, .. sampai ketemu lagi Edysya, dan sekali lagi terimakasih telah membawa Janpyo pulang ..."

Edys mengangguk pelan. "Sama-sama bi .. ". Dia masih berdiri di posisi semula setelah mengucapkan kata-kata itu. Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu tapi ragu-ragu mengeluarkannya. Jandi menangkap keraguannya itu.

"Weo?"

"Ehhmmm ...", Edys bertaut hebat dengan pikirannya. Antara mengeluarkan keingintahuannya atau tidak. Begitu menangkap pandangan bertanya dari Jandi, akhirnya dia mengeluarkan pertanyaannya juga. "Apakah .. dia tidak apa-apa berangkat ke Amerika besok, bi? ... Dia tersiram hujan salju hampir 5 jam lamanya, saya .. saya khawatir tubuhnya tidak mampu bertahan .. ".

Jandi tersenyum perlahan. Kepalanya mengeleng halus sambil melirik Janpyo yang tertidur pulas di atas ranjang.


"Kamu jangan khawatir, Edysya! .. Dia akan baik-baik saja. Pertahanan tubuh Janpyo sangat kuat. .. Dua tahun yang lalu, dia bahkan pernah terjangkit penyakit yang lebih parah dari ini, dan dengan ajaib dia sembuh dalam waktu kurang dari empat puluh jam .. "

"Jadi .. dia tetap akan mengikuti jadwal semula?", tanya Edys dengan penyesalan yang berusaha dipendamnya.

Jandi memperlebar senyumnya. "Kalau kamu mengenal Janpyo dengan baik, kamu akan tahu kalau dia tidak pernah merubah rencana yang sudah dibuatnya! .. Dia hanya akan membatalkan jadwal itu kalau memang tidak perlu, .. tapi ingat! dia tidak pernah merubahnya!!"

Dengan lamban, Edys menundukkan kepalanya. Kesenduan dan kesedihan terpancar jelas dari wajah dan sikapnya, yang tidak terlepas dari perhatian Jandi.

"Edysya, biar bibi mengantarmu sampai ke halaman depan .. "

Perkataan lembut itu mengejutkan Edys. Gadis bermata hijau botol itu segera mengangkat wajahnya.
"Aniyo, .. bibi tidak perlu melakukan itu! Saya bisa pulang sendiri ... ". Edys segera membungkukkan badannya, "Sampai ketemu lagi bi Jandi .. "

Setelah menatap Janpyo sebentar, Edys berlalu dari hadapan Jandi.

"Fuhhh ..... ", Jandi menghembuskan nafas panjang-panjang.

Bayangan Edys sudah lenyap dari pandangannya selama dua menit ketika dia berbalik kearah Janpyo. Begitu sampai di samping ranjang, dia memperhatikan wajah putra satu-satunya itu. Tangannya mengelus lembut pipi Janpyo.
"Kamu masih berusaha kan, sayang? .. Kamu tidak bisa melupakannya? benar kan? sekeras apapun usahamu, kamu masih mengingatnya? .. Janjimu itu! omma masih mengingatnya, dan omma akan selalu mendukungmu, sayang!"

--------------------------


Edys uring-uringan seharian dalam kamarnya. Chaeyeong dan Shinhye yang mengajaknya keluar pada saat berbeda tidak digubrisnya. Dia tidak bersemangat melakukan apapun hari ini. Hatinya gelisah dan sekujur tubuhnya lemas tak bertenaga. Edys menelungkup di ranjang laksana ulat betina yang memakan terlalu banyak makanan sehingga tidak bisa mengerakkan badannya.

"Huhhh .. mengapa dia tidak menghubungiku? Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah sudah baikan? Demamnya, sudah turun kah?"

"OHHH TIDAKKK!!!!". Edys langsung membalikkan badan dan tersentak bangun dari pembaringan. Dia duduk dengan sepasang mata terbelalak lebar dan sepasang tangan menutupi mulut.

Setelah mendesah keras, dia menutup wajah rapat-rapat dengan kedua tangan.

"Apa yang kamu pikirkan, Edysya? .. Mengapa dia, dia dan dia terus yang bermain dalam otakmu?", umpat Edys dalam hati.

Tangannya bergerak memijat tulang hidungnya keras-keras. Dengan sepasang mata masih terpejam rapat, Edys mengigit bibir bawahnya.
"EDELWEISS YOON, SADARLAH!!!! .... JANGAN RACUNI PIKIRANMU DENGAN BAYANGAN PEMUDA ITU!!!!", teriakan Edys mengelegar dalam kamarnya yang luas dan didominasi warna pink.

Setelah memukul kepala sendiri berulangkali, Edys menegakkan badannya. Mulai detik ini dia harus melupakan pemuda itu. Dia bertekad menghapus Janpyo dan semua yang berhubungan dengan pemuda tersebut dari pikirannya. Pandangan Edys yang berubah tajam terarah ke depan.

Tapi .. itu hanya sebentar, sesaat kemudian sinar matanya meredup kembali.
"TIDAK!!! SAYA TIDAK DAPAT MELAKUKANNYA!!! .. BAYANGANNYA TERLALU KUAT!!!"

Tanpa disadari Edys, tangannya meraih ponsel dari meja rias kecil di sebelah ranjang dan mulai memencet nomor-nomor yang berseliweran dalam otaknya. Begitu ponsel tersebut ditempelkan ke telinga, jawaban langsung terdengar dari seberang.

"Good afternoon, Shin Hwa!! .. Ada yang bisa saya bantu buat anda?"

"Ehmmmm .. ", Edys berusaha membersihkan tenggorokannya yang tersumbat. "Saya .. saya ingin membuat janji dengan Goo Jan Pyo-ssi .. "

"Soseongheyo agashi, pak direktur sedang rapat di luar. Apakah ada pesan yang bisa saya sampaikan pada beliau?", tanya wanita di seberang.

"Tidak! Kira-kira kapan dia pulang? .. Saya ingin bicara sendiri dengannya!"

"Soseongheyo agashi, setelah rapat pak direktur tidak akan kembali ke kantor. Beliau akan terbang ke Amerika dua jam kemudian .... jadi, jika agashi punya pesan sebaiknya tinggalkan padaku. Aku akan menyampaikannya pada pak direktur .. "

"Kalau begitu lupakan saja!!". Tanpa menunggu perkataan lebih lanjut, Edys menutup pembicaraan dan melempar ponsel itu ke ranjang.


"GOO JAN PYO SIALAN!!!! AWAS JIKA PULANG, KAMU AKAN MERASAKAN AKIBATNYA!!! APA SUSAHNYA MENYISIHKAN WAKTU SEDIKIT SAJA BUAT MENGABARI KEADAANMU!! SESIBUK ITUKAH DIRIMU??!", teriak Edys keras-keras. Nafasnya memburu sehingga dia harus mengambil udara banyak-banyak untuk mengisi paru-parunya. Tapi belum puas dengan teriakan tadi, dia membuka mulut lagi, "PABOOOOOOO-AAAAAAAAA!!!!!!"


Edys mulai terisak-isak. Tangannya memukul ponsel yang tergeletak di ranjang. "Pabo-aa ... ", suaranya memelan dan sinar matanya mulai meredup. "Pabo-aa ... ", desahnya halus.

----------------------------


Pembukaan J.M. Corporation cabang Korea diberitakan secara besar-besaran selama seminggu terakhir oleh berbagai media massa, baik dalam maupun luar negeri. Wajah Jang Geun Suk terpampang hampir di seluruh majalah dan Koran bisnis. Dia menjadi begitu terkenal sehingga hampir seluruh majalah dan Koran tersebut menjadikannya sebagai model sampul.

Berita-berita tentangnya juga ramai dibicarakan orang.

Eksekutif muda dengan beribu ide cemerlang yang mampu menyelamatkan J.M. Corporation dari kebangkrutan. Masa depan perusahaan yang perlu diperhatikan dan diperhitungkan oleh perusahaan-perusahaan besar sekorea. Ini dia MR. JANG GEUN SUK!! Mungkin perusahaan anda akan menjadi partner kerja atau .. saingannya di kemudian hari.

Demikian garis besar berita-berita tersebut. Dilengkapi pose menantang dari Jang Geun Suk, jari tangan kanan dijentikkan dan sebelah mata berkedip ke kamera dengan bibir tertarik ke atas, membentuk senyuman mengejek.

Janpyo menjatuhkan diri ke sofa yang terletak di tengah ruang santai. Pandangannya terpusat ke majalah Times yang diberikan Mr. Choi padanya dua puluh menit yang lalu, sewaktu dalam perjalanan dari bandara ke Goo’s mansion. Dia menatap lekat foto Geun Suk yang yang tercetak di majalah tersebut.

Bibir Janpyo terkatup rapat. Satu minggu berada di New York, tidak ada kemajuan yang diperolehnya. J.M. seakan sebuah misteri yang tidak terpecahkan. Begitu juga pemimpinnya, Lee Jae Min! Tidak seorangpun mengenal atau pernah bertemu dengan orang itu. Tapi anehnya, nama itu berpengaruh besar terhadap semua karyawan J.M. Pemimpin maya tersebut sangat disegani oleh bawahannya. Walaupun dalam melaksanakan semua kebijaksanaannya diwakili Jang Geun Suk, Lee Jae Min tetap tidak bisa dianggap enteng.

Janpyo mulai membuka lembaran-lembaran majalah dalam genggamannya. Begitu cermat dia mengikuti berita-berita tersebut sehingga tidak menyadari kehadiran Jundi dan Michael dalam ruangan itu.



Jundi menghentikan langkahnya, tepat di hadapan Janpyo. Tangannya menarik lengan Michael dan memberi isyarat dengan lirikan mata kearah Janpyo, yang masih serius berkutat dengan majalah didepannya.

Michael mengikuti arah pandangan Jundi. Keningnya berkerut begitu mengetahui maksud gadis itu. ‘Janpyo menghabiskan waktu dengan sebuah majalah?. Itu sangat menherankan! Biasanya dia lebih memilih menerima laporan dari Mr. Choi daripada melakukannya sendiri. Apa sebenarnya yang menarik dari majalah tersebut?’

Michael bermaksud mendekati Janpyo, tapi segera ditahan Jundi. Gadis itu mengeleng perlahan.
“Biar saya saja! .. Kamu istirahatlah, Michael-a! Besok kita masih ada acara penting .. “

Sepasang mata Michael melebar, “Benar kamu akan ke acara itu?”, tanyanya tak percaya.

“Tentu saja!! Saya kan sudah diundang ..”, jawab Jundi tegas, walaupun tidak keras. “Sudah!!! Kamu pergi sana! Bersihkan diri dan tidurlah yang nyenyak ..”, usir Jundi dengan bibir dimonyongkan.

Michael menarik nafas berat. “Fuhhh .. anak ini sama sekali tidak bisa dibantah!!”. Setelah mengangkat pundak, Michael berlalu dengan langkah gontai.

Sepeninggal Micheal, Jundi mendekati Janpyo, yang masih menyusuri tulisan-tulisan di majalah dengan sudut matanya. Dia sama sekali tidak terpengaruh atau menyadari keberadaan dongsengnya itu.

“Oppa, apa itu?”. Jundi berusaha melirik majalah dalam genggaman Janpyo. Tapi tidak berhasil, karena begitu mendengar suaranya, Janpyo segera menyilangkan sepasang tangan di atas majalah tersebut.

Pemuda itu mengangkat wajah dan menatap Jundi.


“O Jundiya!! Sejak kapan kamu berada di sini, dan …”, melirik ke seluruh sudut ruangan, “… mana Michael?”

“Oppa mencarinya?”, tanya Jundi, “Dia sudah kusuruh beristirahat … tapi jika olppa mencarinya saya akan …”

“Oh tidak!!”, potong Janpyo cepat, “Lupakan saja!!”

“O .. “. Jundi memanjangkan bibir ke depan, sedangkan matanya masih berusaha menjangkau majalah yang ditutupi Janpyo.

“Apa itu?”. Dia kembali bertanya.

Janpyo mengangkat tangannya, “Ini? Bukan apa-apa! Hanya berita pembukaan J.M. Corporation .. “

“J.M. Corporation?”. Jundi mengulangi perkataan itu. Telinganya agak tertarik ke atas.

Melihat reaksi itu, Janpyo segera menatapnya dengan pandangan menyelidik. “Iya, kenapa memangnya? Kamu mengenal perusahaan itu?”,

Jundi segera mengelengkan kepalanya. “TIDAK!!! Bagaimana mungkin saya mengenalnya? .. Oppa tahu sendiri kan kalau saya paling tidak suka mencampuri urusan perusahaan?!!!”

“Bagus kalau begitu!!”, sahut Janpyo tenang. “Perlu saya peringatkan, mereka bukan kumpulan orang-orang biasa! Masih banyak rahasia yang tersimpan dalam perusahaan tersebut, yang belum diketahui oleh kami. .. Jangan sekali-kali kamu melibatkan diri dengan mereka, terutama pemimpinnya!!”

Kata ‘pemimpinnya’, yang sengaja ditekan oleh Janpyo, membuat Jundi menegakkan badan. “Pemimpinnya? O .. oppa mengetahui tentang dia?”, tanyanya agak tercekat.

Janpyo memperhatikannya. “Tentu saja!”

Jundi kelihatan lebih gelisah lagi. “Si .. siapa?”

Janpyo tidak menjawab. Dia menyodorkan majalah di tangannya pada Jundi. Gadis itu menerima majalah tersebut dan mengamatinya dengan pandangan bertanya. Kelegaan langsung tersirat dari wajahnya ketika melihat wajah Geunsuk tercetak di cover majalah tersebut.
“Jang Geun Suk …”, nada suaranya terdengar ceria.

“Iya, Jang Geun Suk! Kenapa? Kamu kelihatan lega .. “. Janpyo memandanginya dengan pandangan menyelidik.

“Tidak! Tidak apa-apa!”, jawab Jundi cepat,. Dia segera mengembalikan majalah tersebut pada Janpyo. “Saya .. saya harus beristirahat sekarang .. Selamat malam, oppa …”, tergesa dia melangkah dari situ.

“Apakah kamu mengenal Jang Geun Suk?”

Pertanyaan tersebut membuat Jundi menghentikan langkahnya. Dia berbalik kearah Janpyo.
“Tidak! Mengapa oppa bertanya begitu?”

“Dia bukan orang sembarangan! Jika kamu mengenalnya, usahakan untuk menghindarinya .. “, jawab Janpyo serius.

Jundi tertawa perlahan. “He .. he .. tentu saja … , oppa jangan khawatir, saya tidak mempunyai hubungan dengan orang itu … “

Beberapa detik, keheningan menyelimuti mereka. Jundi berdeham perlahan ketika mendapati pandangan tajam Janpyo masih tertuju padanya.
“Hmmm .. saya .. saya benar-benar harus istirahat sekarang .. Sa .. saya sangat .. sangat capek .. “


Dengan gugup, Jundi berlari dari situ. Janpyo masih berada dalam posisi semula. Alisnya berkerut perlahan. ‘Ada sesuatu yang disembuinyikan, Jundi .. “, desisnya dalam hati.

  
 


Edys keluar dari kamar sambil menguap lebar. Agak malas dia menuju ruang makan. Beberapa pelayan terlihat sibuk menyiapkan sarapan di ruangan itu. Salah satu dari mereka meletakkan sebuah piring terisi penuh makanan ke hadapannya.

"Gumawo .. ", ujar Edys pelan.

Dia mulai menikmati sarapannya ketika kepala pelayan, tuan Park, mengulurkan nampan berisi dua buah amplop padanya. Edys langsung mengalihkan perhatian ke nampan tersebut. Diperhatikannya sejenak dua buah amplop yang berada di atasnya. Kemudian mengangkat wajah ke tuan Park. Memperhatikannya dengan pandangan bertanya.
"Ada apa ini?"

Tuan Park membungkuk dengan hormat.
"Ini dari tuan besar, agashi .."

"Dari appa?", kening Edys berkenyit. Lalu dia meraih amplop yang lebih kecil. Yang lebih mirip amplop surat.

Edys membuka amplop itu, dan mengeluarkan selembar surat yang ditulis dengan tinta hitam. Gaya tulisan itu sangat dikenalnya. Itu tulisan Jihoo, appanya. Perlahan, Edys menyusuri kata-kata dalam surat tersebut.

Sosoengheyo, Edys sayang! Appa dan omma tidak bisa menemanimu sarapan pagi ini. Kami ada acara mendadak. Konferensi penting yang harus kami hadiri sekarang juga. Kami belum sempat memberitahumu karena undangannya kami terima tadi malam.

Ada sesuatu yang ingin appa minta darimu, sayang! Kamu lihat amplop berisi kartu undangan peresmian J.M. Corporation yang diberikan tuan Park? Appa dan omma tidak bisa menghadiri acara tersebut karena waktunya bersamaan dengan konferensi yang kami hadiri. Karena itu sayang, appa ingin kamu mewakili kami menghadirinya.

J.M. merupakan perusahaan yang mempunyai masa depan cemerlang. Di kemudian hari, Yoon's pasti berkesempatan bekerjasama dengannya. Appa tidak ingin membuang kesempatan emas ini dengan tak mengacuhkan undangan mereka. Jadi Edys sayang, kamu mau membantu appa kan? Kamu jangan merasa takut akan sendirian di sana. Appa sudah meminta seseorang untuk mengantarmu ke sana.

Salam sayang selalu,
appa dan omma


"Huhhhh ... apa yang saya ketahui tentang perusahaan?", dengus Edys dengan wajah cemberut. Dia melempar surat itu ke atas meja. Hembusan keras keluar dari mulutnya.

Setelah itu dia meraih amplop satunya lagi, yang berwarna krem lembut. Membukanya dengan asal-asalan. Sebuah kartu undangan berwarna serupa dikeluarkannya. Setelah membaca sekilas nama-nama, jabatan-jabatan dan waktu yang tertera di kartu itu, Edys melemparkannya kembali ke atas nampan.

Lalu, tanpa menunjukkan perasaan apa-apa padahal hatinya kesal setengah mati, gadis itu meneruskan sarapannya. Lima belas menit kemudian dia meneguk tegukan terakhir jus orange dari gelas di hadapannya. Setelah selesai, Edys berlari ke kamarnya.

Saat itu sudah pukul 8 pagi, dan acara peresmian J.M. akan dimulai satu jam lagi. Tergesa-gesa dia menganti piyama yang membalut tubuhnya dengan gaun panjang warna putih yang dibelikan Lily minggu lalu. Baru saja dia mengikat rambut coklat lebatnya ke belakang dengan dibantu seorang pelayan, pintu kamar diketuk dari luar.


tok .. tok .. tok ...

"Masuk!!", perintah Edys.

Pintu terbuka dan tuan Park mendekatinya dengan sikap hormat yang sangat sempurna.
"Tuan muda Goo sudah menunggu di luar, agashi .. ", lapornya.

Edys langsung menghentikkan kesibukkannya. Dia berbalik kearah tuan Park dengan mata terbelalak lebar.
"MWOO? Siapa katamu?!!"

"Tuan muda Goo Jan Pyo, agashi ..", tuan Park mengulangi perkataannya.

Edys menekan kepala keras-keras dengan sepasang tangannya. Dia tidak bisa mempercayai pendengaran sendiri. Goo Jan Pyo!! Benarkah itu Goo Jan Pyo?! Dia sudah pulang? Dan sekali lagi, dia tidak mengabarinya.

"Agashi!!", panggil tuan park. Suaranya agak nyaring sehingga menyentak Edys dari lamunannya.

"OHhh .. ada apa?", tanya Edys gugup.

"Kata Janpyo doronim, dia diminta tuan besar membawa serta agashi ke dalam acara pembukaan perusahaan J.M. ... tadi, saya memintanya masuk ke dalam rumah tapi dia menolaknya, .. Janpyo doronim lebih memilih menunggu di halaman luar, itu sudah lebih dari sepuluh menit yang lalu, .. Jadi .. apakah agashi akan menemuinya sekarang atau .. "

"Biarkan dia menunggu dulu!!!", potong Edys cepat.

Tuan Park membungkukkan badannya. "Ne, agashi .. ", lalu dia keluar dari kamar itu.

Untuk memberi pelajaran pada Janpyo, Edys sengaja menghabiskan waktu dua puluh menit dalam kamar dengan segala kegiatan tidak perlu. Sebentar-sebentar dia membetulkan penampilan di depan cermin. Kemudian melipat baju yang sudah terlipat rapi dari lemari. Di saat yang lain dia mengelap jendela kaca yang sudah berkilap dengan kain yang dikeluarkan dari laci paling bawah.

Edys keluar dari rumah dengan wajah berkeringat dan nafas memburu. Gaun panjang yang dikenakannya sudah agak kusut di bagian bawah, dan rambutnya yang semula terikat rapi juga sedikit berantakan. Wajah itu terlihat lesu, walaupun tetap tidak mengurangi kecantikannya yang alami dan sedikit asing.

Di gerbang depan, dia menghentikan langkah sekitar sepuluh meter dari pintu gerbang besi yang bergerigi tajam ketika melihat Janpyo sedang bersandar ke kap depan porche merahnya. Pandangan pemuda jangkung itu terarah ke ujung sepatu kulitnya yang berkilat tertimpa mentari pagi. Semula, pemuda tersebut tidak menyadari kehadirannya. Setelah dia berhenti dengan detakan keras dari hak sepatu yang dikenakannya, barulah pemuda itu mengangkat wajahnya.


"O sudah tiba?"

Edys tidak mengubris pertanyaan itu. Dia memandangi Janpyo dengan sinar mata tajam.

"Berangkat sekarang?", tanya Janpyo lagi. Tapi tetap tidak diindahkan Edys.

Janpyo menyipitkan sepasang matanya, kemudian dia membalikkan badan, membuka pintu mobil buat Edys.

"Untuk apa kamu ke sini? Setelah seminggu menghilang tanpa kabar, untuk apa kamu muncul lagi??!!!"

Teriakkan Edys menghentikan gerakan Janpyo. Pemuda itu berbalik dan memandanginya.
"Saya tidak menghilang begitu saja! Apa kamu tidak mendapat pesan dariku? Aku meminta Mr. Choi menyampaikannya sebelum keberangkatanku ke New York ... "

Edys langsung tertawa kecut. "Ha .. ha .. benar, pesan itu!!! .. Jillya, saya akan pulang seminggu lagi. Setelah itu saya akan mencarimu. ... Hanya itu!!! Hanya itu kan??!! ... kamu .. pabo-a!! Bukan itu yang ingin saya dengar!!"

Mendengar itu, Janpyo tertegun di tempatnya. Edys mulai terisak-isak dan dia tidak tahu harus berbuat apa.
"Miane .. ", ujarnya lirih, penuh penyesalan. Sesuatu yang tidak pernah dilakukannya seumur hidup.

"Kamu .. pabo-a!!!!". Edys berlari kearah Janpyo dan melayangkan pukulan berkali-kali ke dada bidang pemuda itu. "Hu .. hu ... bukan itu, bukan perkataan tersebut yang ingin saya dengar waktu itu!!! .. Kamu tahu bagaimana gelisah dan takutnya diriku .... Malam itu, kamu demam tinggi dan ... saya .. saya takut sesuatu akan terjadi padamu ... dan .. kamu .. si bodoh .. pergi begitu saja keesokan harinya, tanpa ... tanpa mengabariku bagaimana .. bagaimana keadaanmu ... hu ... hu ... "

Mulut Janpyo mengangga. Perlahan, dia menarik gadis yang menanggis tersedu-sedu itu ke dalam pelukannya. "Miane .... ", hanya perkataan itu yang dapat dikeluarkannya.


"Kenapa ... kenapa kamu setega ini? Hu ... hu ... muncul mendadak dalam hidupku, tanpa ... tanpa kumengerti perasaan ini .... Lalu bersikap .. bersikap tidak perduli padaku ... Apa .. apa sebenarnya yang kamu pikirkan? APAAAA??!!! .. Saya benci padamu!!!! BENCI!!!! ... MENGHILANGLAH DARI KEHIDUPANKU!!!!". Edys mendorong Janpyo ke belakang sehingga rangkulan pemuda itu terlepas dari tubuhnya.

"Jillya ... ", desah Janpyo pelan.

"BERHENTI!!!", Edys langsung mengangkat tangan kanan ke atas dan menghapus airmata yang masih mengalir keluar dengan tangan satunya. "Saya tidak ingin mendengar panggilan itu lagi!!!", segera, dia memutar tubuhnya kearah Yoon's mansion.

"Jillya!!!"

Teriakan keras dari Janpyo membuat Edys menghentikan langkahnya.
"MWOO??!!!", suaranya mengelegar di cuaca cerah pagi itu. Menyebabkan rombongan burung-burung gereja yang beterbangan kembali ke sarangnya, dengan makanan tergigit di paruh berlari terbirit-birit. Mata Edys yang masih memerah dan sedikit bengkak mendelik tajam kearah Janpyo.

"Masuklah dulu! .. Masalah itu kita bicarakan lagi nanti .. ", jawab Janpyo, pelan dan sendu.

"SIDOO!!!", teriak Edys. Dia membalikkan tubuhnya lagi.

"Baiklah kalau begitu ... "

Kata-kata itu segera menarik perhatian Edys. Dia berbalik kearah pemuda itu. Keningnya berkenyit, sambil menunggu kelanjutan perkataan selanjutnya.

"Saya akan menelepon Mr. Choi dan memintanya untuk menemanimu! .. Atau ... kamu lebih suka ditemani Jaebin dan Gaejeong? ... Yang saya ketahui, mereka belum menentukan partner yang sesuai ... ". Kata-kata yang meluncur dari mulut Janpyo sangat tenang setelah berhasil mengendalikan dirinya.

"MWOO?"

"Paman Yoon memintaku membawamu serta dalam acara tersebut, jadi saya bertanggungjawab seutuhnya terhadapmu karena itu saya harus melakukannya ... jika kamu tidak suka pergi denganku maka saya harus mencari orang yang dapat dipercaya untuk menemanimu .. Sekarang kamu boleh memilih salah satu jalan itu, pergi denganku atau dengan yang lain?", jawab Janpyo tegas.

“GOO JAN PYO!!!”

Janpyo mengangkat bahu dan meletakkan tangannya ke atas pintu mobil yang sudah dibukanya sejak tadi.
“Jadi .. bagaimana, Jillya? Saya tidak punya waktu bertengkar denganmu, ikut sekarang atau saya menelepon sekarang juga!!”

Janpyo mulai merogoh ke dalam saku celananya. Dia mengeluarkan ponsel berpinggiran emas dari sana dan mulai menekan nomor yang dimaksudnya..

“PEMUDA BERENGSEK!!!”

Edys merebut ponsel tersebut dan melemparnya ke dalam mobil. Setelah itu, tanpa menoleh sedikitpun pada Janpyo, dia menerobos masuk ke dalam mobil dengan sepasang tangan mengangkat tinggi-tinggi gaun yang dikenakannya. Pemuda itu memperhatikan kelakuannya dalam kediaman seribu bahasa. Dia tidak kelihatan terpengaruh dengan sikap Edys. Setelah meraih ponsel yang tergeletak agak oleng di bangku kemudi dan menaruhnya kembali ke dalam saku celana, Janpyo masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankan porche merahnya, keluar dari kediaman Yoon.



Janpyo dan Edys memasuki kantor J.M. Corporation secara bersamaan. Tangan kanan gadis itu bergayut dalam lingkaran lengan Janpyo, sedangkan tangan kirinya menarik gaun panjang yang membalut ketat tubuhnya. Ujung gaun itu selalu terinjak hak tinggi mungil dari sepatu yang dikenakannya sehingga membuatnya merasa tidak nyaman. Wajah Edys cemberut. Berulangkali dia melirik kesal kearah Janpyo.


Ruangan di mana mereka berada sekarang cukup luas dan ditata dengan apik. Semua peralatan yang melengkapi tempat itu baru dan sangat menarik. Kantor J.M. terbagi menjadi dua bagian dan berada di lantai berbeda. Kantor buat para atasan berada di lantai atas, sedangkan kantor di lantai ini, selain disediakan bagi para pekerja, juga dipergunakan untuk rapat dan konferensi-konferensi penting lainnya, seperti acara hari ini.

Para undangan mulai memasuki ruangan ketika jam yang ditentukan buat acara tersebut sudah sampai. Dua orang petugas di pintu depan mendekati Janpyo dan Edys ketika mereka berdiri di ambang pintu. Kedua orang itu membungkuk perlahan kearah mereka.

Dan sebelum petugas tersebut mengeluarkan suara, Janpyo sudah menyodorkan dua kartu undangan kepada mereka. Salah satu dari mereka menerima kartu undangan tersebut. Membuka dan menelitinya.

“O Goo Jan Pyo-ssi dari Shin Hwa dan Edelweiss Yoon-ssi dari Yoon’s Foundation?”

Janpyo mengangguk pendek, diikuti Edys. Kedua petugas tersebut tersenyum perlahan dan mengayunkan tangannya, mempersilahkan mereka masuk ke dalam ruangan.

“Selamat datang di J.M. Corporation, tuan dan nona! .. Semoga waktu anda hari ini bisa dilewatkan dengan ceria bersama kami .. “.
  
Tanpa memberi respon apa-apa, Janpyo dan Edys melangkah ke dalam ruangan. Saat itu, keadaan di dalam sudah ramai. Beberapa undangan yang mengenali Janpyo langsung mengerumuninya dengan berbagai pertanyaan.  Semua pertanyaan itu berpusat ke masalah pengumpulan saham-saham Shin Hwa secara besar-besaran oleh J.M.

Edys terdesak oleh kerumunan tersebut, dan pengangannya terlepas dari lengan Janpyo. Agak terpojok, dia terdorong beberapa langkah ke belakang. Wajahnya yang sudah sendu terlihat semakin gelap oleh peristiwa itu. Lima menit dia berada dalam posisi serupa sampai didengarnya jawaban keras dari Janpyo.

“Maaf tuan-tuan dan nona-nona sekalian, hari ini saya tidak akan membicarakan Shin Hwa! . J.M. yang menjadi tokoh utama di sini .. !!”

Janpyo menerobos keluar dari kepungan para undangan yang semakin membludak. Begitu melihat Edys, dia langsung meraih tangan gadis itu, dan menariknya dari situ. Edys membuka mulutnya, bersiap memprotes tapi segera terdiam begitu melihat keseriusan Janpyo. Pemuda berpenampilan sempurna itu melirik ke belakang. Dia berhembus pelan ketika melihat orang-orang tersebut tidak mengikutinya.

“E .. DYSYA!! Dan oppa …O .. OTOKKE ….?”

Suara yang sangat dikenal itu membuat Janpyo dan Edys berpaling secara bersamaan. Tangan mereka masih saling bergandengan satu sama lain, dan itu tidak disadari oleh mereka sendiri.

Mata Edys terbelalaik lebar ketika mendapati siapa yang berdiri dihadapannya.
“Shinhye-a … “, desahnya halus.

Janpyo juga terkejut, tapi dia tidak memperlihatkan perasaannya.
“Park Shin Hye, mengapa kamu bisa berada di sini?”, tanyanya tenang.

“Mengapa saya bisa berada di sini?”, Shinhye mengulangi pertanyaan itu dengan pandangan tak percaya. “Apa bukan saya yang seharusnya menanyakan pertanyaan itu? Mengapa oppa bisa berada di sini dengan … “, dia berpaling ke Edys, “ … Edys? Apa hubungan kalian?”

Edys langsung melepaskan tangannya dari genggaman Janpyo. “Bukan seperti yang kamu bayangkan, Shinhye-a ..”, sahut Edys cepat, “Kami … “

Perkataannya terputus ketika Janpyo, tanpa memberi komando terlebih dahulu, melewati mereka, menuju pojok depan dekat meja panjang yang dihiasi beraneka bunga. Ada sesuatu, atau tetapnya seseorang yang menarik perhatiannya di situ. Pandangannya terarah lurus ke orang itu. Edys mengikuti pandangannya dan berusaha menangkap apa yang dilihat Janpyo. Tapi, tarikan keras dari Shinhye di lengannya mengembalikan perhatiannya kembali pada gadis yang sedang marah besar itu.

“Jawab pertanyaanku!!!!”, perintah Shinhye keras.

“I .. tu … “. Bibir Edys seperti terkunci dan tidak mampu melanjutkan perkataan selanjutnya.

---------------------------
« Last Edit: May 15, 2010, 03:44:29 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
pertamaaaaaa......

cuhiiiyyyy.... udah di apdet ma mami...

keren mi....  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

kayaknya bakal terjadi perang besar antara Shihye ma Edys ya mi....*sok teu...*

wah itu si Jan Pyo kayak Jun Pyo ja waktu jaman mudanya dulu  [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] kencan di namsan tower...

 [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff]

semangat mi...ditunggu chapter berikutnya *di [head break] mami...baru di apdet udah minta lagi...  [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
pertamaaaaaa......

cuhiiiyyyy.... udah di apdet ma mami...

keren mi....  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

kayaknya bakal terjadi perang besar antara Shihye ma Edys ya mi....*sok teu...*

wah itu si Jan Pyo kayak Jun Pyo ja waktu jaman mudanya dulu  [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] kencan di namsan tower...

 [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff]

semangat mi...ditunggu chapter berikutnya *di [head break] mami...baru di apdet udah minta lagi...  [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff]
nih yang pertama [hmpfh] [hmpfh] ....
gw udah blg dr semula klu ff ini byk moment yg mengingatkan kita pd bof [hmpfh] siap2 aja sis the next chp jg ada scene dr bof [lovestruck] [lovestruck]...

and gw mau blg klu kencan si janpyo ga sama ama appanya, yg sama tuh ama junpyo bof [laughing] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
pertamaaaaaa......

cuhiiiyyyy.... udah di apdet ma mami...

keren mi....  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

kayaknya bakal terjadi perang besar antara Shihye ma Edys ya mi....*sok teu...*

wah itu si Jan Pyo kayak Jun Pyo ja waktu jaman mudanya dulu  [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] kencan di namsan tower...

 [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff]

semangat mi...ditunggu chapter berikutnya *di [head break] mami...baru di apdet udah minta lagi...  [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff]
nih yang pertama [hmpfh] [hmpfh] ....
gw udah blg dr semula klu ff ini byk moment yg mengingatkan kita pd bof [hmpfh] siap2 aja sis the next chp jg ada scene dr bof [lovestruck] [lovestruck]...

and gw mau blg klu kencan si janpyo ga sama ama appanya, yg sama tuh ama junpyo bof [laughing] [laughing]


iya mi...itu kamsudnya... [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff]  [hammer3] [hammer3] [hammer3] [hammer3]

 [rofl] [rofl] [rofl] [rofl] [rofl] [rofl] [rofl] [rofl] [rofl] [rofl] [rofl]

iya mi...habis namanya sama kayak yang di BOF jadinya gitu...  [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff]

miane mi...  [biggrin] [biggrin] [biggrin] [biggrin] [biggrin] [biggrin]


always menunggu dengan setia mi...

terima kasih buat apdet-annya...
 [hug] [hug] [hug] [hug] [hug] [hug] [hug] [hug] [hug]