Author Topic: My Everything II (That's My Promise), chapter 5 FINAL updated 7 Agustus 2010  (Read 20401 times)

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
Wkwkwk ada yg d'usir m yg pny tret ni..jdi seyem ni aq liat mami stres d'demo pengemar.hahaha.ayo mi weekend ya.ok.he.
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline lluluMH

  • Newbie
  • *
  • Posts: 79
  • I like her style boyish but still beauty love it
    • View Profile
mami... ini begimane ceritanye gak d update2?????  [angry] [angry] banghead banghead

kalo ini lama update nya yg bengkok tambah lama dong mi....  [head break] [head break]

ayoooooo cepet update miiiiii..............

nih aku udh siapin pasukannnn...

 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

kabbbooorrrrr..... sbelum di  [head break] [head break] sm mami  [hmpfh]
[lovestruck]
EUNHAE IS SAME LIKE MINSUN !!!!!!!!!! LOL

Offline neiya

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1006
  • Location: depoook
    • View Profile
aku dataaaang [arms] [arms] [arms] [arms]
mamiiiii [biggrin]
numpang yel yel yaaa [bye]

update [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]UPDATE  [whip]UPDATE [whip] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]



SELESAII [bye] [bye]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
 whistling whistling whistling whistling cuek bebek [bye]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
whistling whistling whistling whistling cuek bebek [bye]

MAM... ONLINE.... WKWK...
DANNN...


UPDATEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE...  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
Mamiiiiii,, lama2 niy tret dsita ma negara perminsunan dah bis sepoy mat g d'urusin gni c...hufh,,,update dg mi....
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Mamiiiiii,, lama2 niy tret dsita ma negara perminsunan dah bis sepoy mat g d'urusin gni c...hufh,,,update dg mi....
diurus kok, cuma lum selesai aja, gw janji deh klu ga diupdate besok ya lusa, gw bakal ngalong malam ini [heh] [heh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline lluluMH

  • Newbie
  • *
  • Posts: 79
  • I like her style boyish but still beauty love it
    • View Profile
asik bsk atau lusa update  [clap] [clap] [clap]
bener ya mi kalo gak d apain nih???  [hmpfh]
mau yang ini  [head break] ini  [hammer] ini  [fighting] ini  [guns] atau [whip]  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]  [rofl] [rofl] [rofl]
[lovestruck]
EUNHAE IS SAME LIKE MINSUN !!!!!!!!!! LOL

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
Huaaa snenknya ru prtma x dgr mami jnji niy kyna mah.hahahaha,, thx mami mga malming bnyk update'an yg menemani.amin.hehe.
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




Kilasan chapter lalu ..

Perkataan Edys terputus ketika Janpyo, tanpa memberi komando terlebih dahulu, melewati mereka, menuju pojok depan dekat meja panjang yang dihiasi beraneka bunga. Ada sesuatu, atau tetapnya seseorang yang menarik perhatiannya di situ. Pandangannya terarah lurus ke orang itu. Edys mengikuti pandangannya dan berusaha menangkap apa yang dilihat Janpyo. Tapi, tarikan keras dari Shinhye di lengannya mengembalikan perhatiannya kembali pada gadis yang sedang marah besar itu.

"Jawab pertanyaanku!!!!", perintah Shinhye keras.

"I .. tu ? ". Bibir Edys seperti terkunci dan tidak mampu melanjutkan perkataan selanjutnya.


****************



"Itu apa??"", Shinhye mendelik ke Edys. "Hm tidak mampu menjawabnya?!", sambungnya sinis.

"Sa ... saya, .. yang jelas .. tidak seperti yang kamu bayangkan .. ", jawab Edys serba salah.

"Oh ya? Jadi apa itu? cepat katakan padaku!! Jelaskan padaku sekarang juga!!"

"Saya .. datang ke acara ini bersama Janpyo karena ... karena appa yang memintanya ... ", jawab Edys akhirnya, yang lansung dapat bernafas lega karena penjelasan yang sulit dikeluarkan itu berakhir dengan sukses terlontar dari mulutnya.

"Abojimu? Paman Yoon yang memintanya?", pertanyaan berupa gumaman terlontar dari mulut Shinhye.

"Ne .. ", Edys mengangguk perlahan.

Shinhye tampak berpikir sebentar. "Apa hubunganmu sebenarnya dengan oppa?"

Mendengar pertanyaan tersebut Edys semakin gelisah. 'Bagaimana menjelaskannya pada Shinhye? Atau, apakah tidak menjadi masalah menjelaskan pada Shinhye kalau sebenarnya dia mengenal Janpyo sejak kecil? Tidak, lebih tepatnya lagi mereka memang mengenal sejak kecil, tapi tidak begitu dekat karena mereka telah berpisah lebih dari tigabelas tahun lamanya!! Hubungannya dengan Janpyo termasuk asing. Dia tidak dapat mengingatnya lagi sampai kepulangannya sekitar tiga minggu yang lalu.

"Bagaimana? Tidak mampu menjawab pertanyaanku kah, atau .. kamu memang menyembunyikan sesuatu dariku, sesuatu yang tidak bisa dimaafkan??!", suara Shinhye bertambah keras,

Edys terhenyak, benar-benar terpojok di posisinya sebagai seorang sahabat bagi Shinhye dan sebagai seseorang yang memang tidak tahu apa-apa. 'Apa salahnya kalau dari semula ia tidak bercerita tentang mengenalnya ia pada Janpyo? Apa salahnya?! Dia melakukan semua itu karena tidak ingin menyakiti hati Shinhye, seperti yang terjadi sekarang. Apa arti Janpyo bagi Shinhye, ia sangat mengetahuinya. Janpyo adalah segala-galanya bagi sahabatnya itu. Lagipula, ia tidak pernah berpikir akan sedekat ini dengan Janpyo! Tapi ... benarkah?'. Edys mengigit bibirnya keras-keras.

Shinhye menunggu jawaban darinya dengan sepasang mata melebar. Lima menit berlalu dan Edys masih tidak mampu memberikan reaksinya terhadap pertanyaan yang sangat menyudutkan tersebut.

Sementara itu di sudut lain ruangan itu .....

****************


Janpyo berhenti tepat dihadapan seorang gadis dan seorang pemuda yang sedang berbincang-bincang dengan asyik. Pandangannya terarah tajam pada mereka tapi kedua orang itu tetap tenggelam dalam pembicaraan yang berlarut-larut tanpa menyadari kehadirannya di situ.

"Apa yang kamu lakukan di sini?", tanya Janpyo dengan suara khasnya yang dalam.

Kedua orang itu agak tersentak, kemudian secara bersamaan berpaling pada Janpyo. Si gadis membelalakan mata bulatnya yang besar.
"O .. op ..pa ... "

"Kamu berkata pada oppa tidak mengenal orang ini, dan juga tidak mempunyai hubungan apapun dengan J.M. Corporation, jadi mengapa kamu berada di sini?", lanjut Janpyo.

"Sa .. saya .... ", perkataan Jundi tergantung di udara, terputus begitu saja begitu mendapati pandangan menusuk dari Janpyo. Mungkin saja dia gadis yang keras kepala, atau mungkin saja dia tidak pernah mau mendengarkan pendapat orang, tapi .. begitu menghadapi sikap yang begini dingin dari oppanya, dia tidak mampu berkutik. Sejak dulu ia memang paling gentar pada Janpyo, apalagi kalau oppanya sudah marah seperti ini. Janpyo tidak akan teriak-teriak, atau membentaknya kalau murka. Ia hanya cukup memandangnya dengan sinar mata dingin dan berkata dengan suara tajam yang ditekan dalam-dalam, sudah cukup membuatnya mati kutu.

"Janpyo-a ha .. ha ... "

Janpyo berpaling kearah panggilan itu, dan untuk sedetik .. Jundi menghembuskan nafas yang tadi tertahan di tenggorokannya, "Fuhhh ... "

Pemuda di samping Jundi tertawa keras sambil melangkah ke tempatnya berdiri. Kening Janpyo berkenyit, 'Jang Geun Suk, ketawanya sangat dibuat-buat!!!'

" .. sudah lama tidak bertemu sahabat terbaikku, .. bagaimana kabarmu?". Geunsuk langsung melingkarkan lengannya ke pundak Janpyo.

"Apa maumu?", tanya Janpyo tegas tapi tidak keras.


"Apa mauku? Jangan mengada-ada, Goo Jan Pyo, .. Saya tahu kamu bisa menebak maksud kepulanganku ... ", bisik Geunsuk.

Sedangkan tembakan lampu blitz dari para wartawan mulai tertuju pada mereka. Kilatan-kilatan menyilaukan mata silih berganti dan berulangkali menyambar ke wajah mereka. Jundi segera mundur ke belakang. Ia paling benci menjadi sorotan seperti ini.

"Heii Jang Geun Suk-ssi dan Goo Jan Pyo-ssi ternyata saling mengenal!!! Bagaimana hubungan kalian? Saya dengar perkataan tuan Jang tadi, ternyata kalian sahabat baik, ... benarkah? Sahabat yang bagaimana, dan kalian saling mengenal sejak kapan?"

"Apakah ini ada hubungannya dengan Shin Hwa dan J.M. Corporation? Berarti perusahaan kalian berencana mengadakan kerjasama? Apakah begitu?"

"Bagaimana bentuk kerjasama itu? Menurut yang saya ketahui J.M. hanya bergerak dalam bidang jual-beli saham sedangkan Shin Hwa merupakan perusahaan raksasa yang bergerak dalam beberapa bidang, lalu apakah kerjasama tersebut bakal menguntungkan Shin Hwa?"

"Mungkinkah Shin Hwa hanya bermaksud membantu pendongkrakan harga saham J.M. yang sempat anjlok beberapa bulan terakhir di Amerika? Ya mengingat hubungan kalian yang termasuk special itu .. "

Pertanyaan-pertanyaan berkisar antara hubungan Janpyo dan Geunsuk, juga Shin Hwa dan J.M.co, berluncuran bagai pisau terbang dari mulut para wartawan. Janpyo melirik Geunsuk. Pemuda di sebelahnya tersenyum lebar.

"Heii pertanyaannya satu-persatu, saya tidak dapat menjawabnya sekaligus he .. he .. Saya dan Janpyo, .. ", Geunsuk menekan tangannya yang melingkar di bahu Janpyo, kemudian berpaling padanya, " .. bersahabat sejak di Amerika, .. sudah bertahun-tahun yang lalu, dan hubungan kami sangat baik .. benar kan, Janpyo-a?".

Senyum mengejek terpancar dari wajah Geunsuk, begitu juga sinar matanya. Janpyo tidak menjawab, ia hanya melirik sekilas pemuda itu kemudian berbalik lagi ke kamera pada wartawan.


"Goo Jan Pyo-ssi benar begitu?", tanya wartawan paling depan.

"Lalu bagaimana kaitannya dengan perusahaan kalian?", tanya wartawan satunya, yang berkacamata tebal dan kelihatan kerepotan dengan ranselnya yang mengembul.

"J.M. sangat bangga jika mempunyai kesempatan bekerjasama dengan Shin Hwa dan saya yakin Janpyo juga tidak keberatan dengan itu .. ", Geunsuk yang menjawab pertanyaan tersebut. Ia berpaling pada Janpyo lagi setelah tadi menoleh ke wartawan guna memberikan jawaban yang sebenarnya ditujukan pada Janpyo. "Benar kan Janpyo-a?"

Janpyo mengerling tajam pada Geunsuk 'Apa yang diinginkan pemuda ini dengan memberikan jawaban-jawaban yang selalu menyudutkannya tersebut? Apa dia tidak mengetahui dampaknya terhadap mereka jika semua pemberitaan tersebut tidak terjadi? Tidak benar? Yang paling diperlukan dalam dunia bisnis adalah kepercayaan, jika prinsip itu sudah hilang, tidak ada seorangpun atau perusahaan manapun yang akan bekerjasama denganmu. Apa ia sebodoh itu? Jang Geun Suk, tidak berubah dari dulu .. ' dan .. itu tidak kentara karena ia hanya melakukan lewat sudut matanya.


Para wartawan sudah mengerumuni mereka dan Janpyo belum juga memberikan jawabannya. Berpuluh mic terarah padanya, baik dari stasiun tv, radio, koran maupun majalah bisnis. Para wartawan tersebut kelihatan sangat antusias terhadap jawaban yang akan diberikannya. Janpyo memandang ke depan, ke kilatan-kilatan menyilaukan mata di depan. Tampangnya sangat tenang dan tidak seorangpun dari mereka yang mampu menebak apa sebenarnya yang ada dalam pikirannya.

Sedangkan Jundi yang semakin terhimpit di belakang layar, segera berlalu dari situ. Ia melakukannya dengan mengendap-endap karena takut ketahuan Janpyo yang sekarang sedang dikeroyok para wartawan.

Sementara itu di tempat Edys dan Shinhye berada .....

****************


"Edelweiss Yoon!!! Apa guna seorang sahabat bagimu? Tempat berkhianat? Saya baru tahu kamu orang seperti itu!!!!", perkataan-perkataan ketus dari Shinhye terdengar lagi.

"Shinhye-a ...", desah Edys putus asa. Ia sangat terkejut mendengar deretan kata-kata yang begitu menyakitkan terlontar dari Shinhye. 'Benarkah ia seseorang seperti yang diungkapkan Shinhye? Well, mungkin sedikit! Ohhhh tidakkkkk!!! Ia tidak bermaksud begitu. Bukan kesalahannya kalau pesona Janpyo menjerat hatinya. Bagus,,, sekarang ia mengakui kenyataan ini?!!!! Tuhannnn ,,, pikirannya semakin kacau saja. Mungkin ia harus memeriksakan diri ke psikiater ....'

"Sa .. saya tidak bermaksud menyembunyikan kenyataan ini darimu, .. tidak seperti yang kamu pikirkan Shinhye-a ... ", jawab Edys akhirnya, " .. saya dan Janpyo, saling mengenal karena keluarga kami memang sudah dekat sejak dulu, bahkan appa dan paman Junpyo sudah bersahabat dari kecil, begitu juga dengan keluarga Song dan So. .. Tapi setelah kepindahan keluarga Goo ke Amerika, kami sudah jarang bertemu,,, maksudku, aku dan Janpyo. Anggota keluarga yang lain sih masih sering bersua, hanya kami berdua yang selalu tidak menemukan waktu yang tepat bertemu dalam pertemuan-pertemuan keluarga yang masih dipertahankan keluarga-keluarga kami. Dan itu terjadi sudah lebih dari tigabelas tahun yang lalu. Jika kamu menanyakan padaku apakah aku mengenal Janpyo sebelum kepulangannya? Jujur aku akan menjawabmu 'tidak', karena aku memang tidak mengenalnya. Aku mengetahui kebesaran namanya tapi tampang dan sifatnya benar-benar sudah terhapus dari ingatanku .. jadi Shinhye-a, jawaban apa yang kamu harapkan dariku? Jika kamu menganggap perbuatanku tersebut merupakan sebuah kebohongan,, miane, aku tidak bermaksud begitu ... ", Edys menunduk perlahan.

Sifat yang benar-benar lain darinya. Cengeng, dan merasa ingin dimaafkan buat sesuatu yang tidak dilakukannya, Edys dulu tidak seperti ini. Ia menjadi sensitif gara-gara Shinhye dan sejujurnya ini tidak pernah terbayangkan olehnya, bahkan dalam mimpi sekalipun. Yang dipercayainya selama ini Shinhye hanya seorang sahabat yang dikenalnya setahun yang lalu, yang terpaksa dimilikinya karena statusnya sebagai murid pindahan di universitas Shin Hwa yang tidak mengenal siapapun, -sama seperti Han Chae Yeong, tidak lebih dari itu, tapi ...  ternyata ia salah!!! Anggapan tersebut salah semuanya. Shinhye mempunyai pengaruh yang besar terhadap dirinya. Melihat kesedihan Shinhye membuatnya lemah, membuatnya merasa berdosa, 'Bagaimana mungkin ia sanggup menyakiti hati bidadari lemah ini?'

"Tapi .. seminggu yang lalu oppa berkata padaku kalau .. kalau dia hanya menganggapku sebagai dongsengnya .. dan memintaku jangan berpikir yang tidak-tidak, .. dan sekarang saya melihatnya bersamamu, di tempat ini, -di tempat umum seperti ini, tidak kah itu menunjukkan sesuatu? Bahwa oppa ... oppa ingin menunjukkan kepada massa kalau ..  kalau kamu mempunyai makna lain dalam hidupnya ... ", perkataan Shinhye memelan, begitu juga sinar matanya, dari garang menjadi redup. Hati Edys semakin terpukul melihatnya.

"Aniyo, .. jangan berpikir seperti itu Shinhye-a! .. Sudah kubilang kami datang bersama karena appa memintanya dan bukan seperti bayanganmu .. "

"Kamu tidak mengenal oppa dengan baik Edysya, .. ia tidak akan melakukan sesuatu tanpa pertimbangan terlebih dahulu, seperti juga -ia tidak pernah membawa seorang wanitapun dalam acara-acara penting yang pernah dihadirinya karena tidak seorangpun wanita pantas untuk itu, tapi denganmu ... ", Shinhye mengarahkan pandangan lekat ke mata Edys, " ... ia melakukannya kan? Ia bisa saja menolak perintah paman Yoon, ia tidak harus menerimanya karena paman Yoon pasti masih mempunyai calon lain selain dia ... "

"Shinhye-a ... ", Edys kehilangan kata-katanya. Perkataan Shinhye masuk akal, dan walaupun ia tidak begitu mengenal Janpyo, ia juga tahu penerus tunggal Shin Hwa itu tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan yang jelas. 'Jadi, .. apa sebenarnya rencana pemuda itu? Membalas dendam karena ia telah melupakannya? Ingin mempermainkannya? Benarkah begitu? Tapi, .. Janpyo orangnya tidak seperti itu. Dia sangat serius dan kelihatan dewasa. Pikirannya pasti tidak sesempit itu! Tapi, .. siapa tahu juga? Hati manusia sedalam samudera yang tidak mudah ditebak!! Apalagi hati seorang Goo Jan Pyo, siapa yang mampu menebaknya?'

Edys membuka mulut, berusaha menyahut tapi tertunda oleh keributan dari seberang pojok ruangan itu. Para wartawan sedang mengelilingi sesuatu atau tepatnya seseorang, atau .. mungkin lebih? Sepasang mata Edys menyipit, siapa yang mereka kerumuni? Janpyo kah? Kalau tidak salah pemuda itu menuju ke sana tadi.
"Ada apa di sana? Ramai sekali .. "

Edys yang mulai tertarik dengan keramaian yang terjadi di depan tidak menyadari kalau Shinhye tidak memperhatikan perkataannya. Sahabatnya itu sudah menundukkan kepala dalam-dalam dan pertanyaannya tadi menguap begitu saja dari pendengarannya.

"Ayo ke sana ... ", Edys mengayunkan tangan ke Shinhye, tanpa berpaling padanya ia mulai melangkahkan kaki ke kerumunan para wartawan.


Shinhye tidak mengikuti langkah Edys. Gadis itu menyandar ke dinding perlahan, wajahnya menengadah ke langit-langit ruangan dan sepasang mata yang memerah mulai mengeluarkan airmata. Isakan halus terdengar dari mulutnya.
"Hiks ... "



lalu sebuah tangan kekar yang memegang saputangan polos warna putih terjulur padanya sehingga menarik perhatiannya. Shinhye menurunkan arah pandangannya ke tangan itu. Seorang pemuda tampan berpostur tinggi dan kekar tersenyum padanya.
"Hapus dengan ini, tidak baik dilihat orang-orang .. ", ujar si pemuda halus.

Shinhye tertegun, tanpa sadar ia menerima saputangan itu, "Gham .. samida .. "

Pemuda tersebut tidak menyahut, hanya memperlebar senyumannya. Ia terlihat sangat manis. Shinhye berpikir 'Masih ada pemuda semanis ini?'.


"Heii Michaelll!!!", tiba-tiba seorang gadis remaja hadir di antara mereka. Ia mengenakan terusan pendek berwarna kuning, memperlihatkan kulitnya yang putih mulus dan rambutnya terpotong pendek membuatnya terlihat sangat enerjik. Gaya gadis remaja sekarang yang ceria dan menarik. "Ayo pergi sekarang!!", ia menarik tangan pemuda itu.


"Weo?", tanya si pemuda tidak mengerti.

"Pergi sekarang kataku!!!", gadis tersebut melirik kerumunan di depan, "Oppa mengetahui kehadiranku .. "

"O .. ", hanya kata itu yang terlontar dari mulut si pemuda. Dengan patuh dia mengikuti langkah gadis itu. Tapi belum beberapa langkah ia menoleh pada Shinhye, "Jangan bersedih lagi ... ", ujarnya pelan sambil mengedipkan sebelah matanya.

Shinhye tidak berucap apa-apa. Ia hanya dapat mengangguk dengan linglung. Pemuda dan gadis tersebut dalam sekejap sudah menghilang dari ruang kantor J.M.

"Mengapa wajah gadis itu begitu familiar?", pikir Shinhye. "Siapa?", keningnya berkerut, berusaha keras mengingat, tapi setelah dua menit dia mengeleng perlahan. Ia tidak berhasil melakukannya.

Shinhye baru saja melangkahkan kakinya ketika mendadak -entah ingatan dari mana- sebuah bayangan dengan rambut panjang sepundak, bergelombang kecoklatan yang menaungi paras ayu berkulit putih mulus dengan dilengkapi sepasang mata bundar berwarna hijau botol yang teramat bening berkelebat di depan matanya. "Edys????!!!". Shinhye mengeleng lebih keras lagi. "Tidak!!!! Ingatan apa ini? Mana mungkin Edys?!". Sahabatnya itu berada di sini tadi, bersamanya, dan dandanannya sangat berbeda dengan gadis itu. Lagipula gadis tadi berambut pendek dan matanya tidak hijau seperti Edys.

"Tapi,, kalau begitu, siapa? Saya yakin wajahnya sangat familiar. Bukan Edys!!! Yang jelas bukan Edys!! Di mana saya pernah bertemu dengannya?". Shinhye menekan kepala dengan kedua tangannya, .. ingatan demi ingatan, bayangan demi bayangan, silih berganti berputar dalam pikirannya. Sepasang mata Shinhye terpejam perlahan.

"Oppa!!", mendadak Shinhye membuka mata lebar-lebar. "Oppa? Tapi .. mengapa? Apa hubungannya?", desis Shinhye. 'Mengapa bayangan Janpyo mendadak muncul dalam otaknya?'. Shinhye berpikir lebih keras lagi.

Lalu kenangan dua tahun lalu di Amerika memasuki memorinya. Setelah kunjungan yang entah keberapakali ke Goo's mansion, untuk pertamakalinya ia bertemu dengan anak gadis Goo, adik perempuan Janpyo satu-satunya. "Goo Jun Di ...", ujarnya pelan. Benar! Gadis tadi Jundi. Walaupun sudah dua tahun tidak bertemu dan waktu itu Jundi baru berusia enambelas tahun, ia masih bisa mengenalinya. Wajah gadis remaja itu tidak berubah, mungkin hanya sedikit tirus sekarang.

'Karena itu ketika pertamakali bertemu Edys dia merasakan sesuatu yang familiar dan dekat, karena Jundikah? Berarti persahabatannya dengan Edys selama ini hanya didasari perhatiannya yang mendalam pada keluarga Janpyo, keluarga Goo? Bukan dari hati nurani yang tulus??!!'.

Shinhye menundukkan kepalanya. "Miane Edysya ... "


****************



Edys menoleh ke belakang, keningnya berkenyit karena tidak didapat keberadaan Shinhye di sana. Sahabatnya itu berdiri di tempatnya semula, agak jauh di belakangnya. Edys menghembuskan nafas perlahan, beberapa saat kemudian ia mengalihkan perhatian ke depan lagi, menyeruak kerumunan para wartawan dan berusaha menembus pandangan ke orang-orang yang menjadi perhatian media massa. 'Apa benar orang itu Janpyo?'

"Saya tidak suka memberikan keterangan yang belum pasti!!!", suara Janpyo yang dalam dan tenang memasuki gendang telinga Edys. "Mengenai apakah Shin Hwa dan J.M. akan bekerjasama di masa mendatang atau akan bekerjasama di bidang apa, saya tidak bisa menjawabnya sekarang, Tapi satu hal yang pasti, Shin Hwa tidak punyai rencana kerjasama dengan J.M. di waktu terdekat .... ", jelas Janpyo sambil menatap lurus ke kamera para wartawan.

Kericuhan-kericuhan mulai terjadi dari kelompok para wartawan. Mereka saling sahut-menyahut dan sibuk mencatat dan merekam yang dikatakan Janpyo.

"Ha .. ha .. Goo Jan Pyo, kamu tetap cool seperti dulu, tidak berubah sama sekali ...", Geunsuk tertawa keras dan terdengar tidak wajar. Janpyo menoleh padanya begitu ia mendaratkan tepukan yang cukup keras di lengan kanannya. "Come on bro, take it easy,, i'm just kidding ... ", sahut Geunsuk dengan ketawanya yang menyebalkan.

Janpyo menepis tangan Geunsuk perlahan. Dahinya agak berkenyit, dan dengan refleks ia menarik ujung jas panjangnya yang sedikit kusut akibat kelakuan Geunsuk.

"Ho .. ho .. masih cinta kesempurnaan ha?", senyum Geunsuk mengejek.

"Kelihatannya tuan-tuan benar-benar saling memahami .. ", wartawan berkacamata tebal mengulurkan mic pada Janpyo dan Geunsuk.

"Tentu saja .. ", sahut Geunsuk cepat.

"Bagaimana denganmu Janpyo-ssi?", tanya wartawan tadi sekali lagi.

Sebelum Janpyo menjawab, perkataan nyaring dari atas panggung menarik perhatian mereka, .. semua orang langsung berpaling kearah panggung,,

"Ladies and gentlemen, acara pembukaan J.M.corporation sebentar lagi akan dimulai,,,, kami persilahkan wakil dari J.M.corporation, Jang Geun Suk-ssi, tampil ke panggung dan memberikan kata-kata sambutannya!!!

plok .... plok ... plok ...., tepuk tangan meriah terdengar dalam ruangan itu.

Geunsuk tersenyum lebar lalu mengangguk perlahan kearah para undangan. "Saya permisi dulu rekan wartawan sekalian, dan .. ", dia berpaling kepada Janpyo, " ... kamu juga Janpyo-a, bincang lagi nanti ... ". Geunsuk menepuk lengan Minho, kali ini lebih keras, -sudut bibirnya tertarik keatas membentuk ejekan dan matanya berkilat berulangkali, mengisyaratkan maksud jahat yang tersembunyi.

Sepeninggal Geunsuk, Janpyo berdiri tegak di posisi semula. Para wartawan yang tadi mengerumuni mereka mulai bubar sehingga pandangan Edys tidak terhalangi lagi. 'Benar itu Janpyo', pikirnya.

"Goo Jan Pyo!!!"

Pandangan Janpyo yang agak jatuh ke lantai terangkat pada Edys. Ekspresi wajahnya yang sangat datar sempat mengejutkan Edys. 'Terjadi sesuatukah?'. Sebelum pikiran Edys kemana-mana, Janpyo sudah mendekatinya.


"Mana Shinhye? Kamu tidak mengalami kesulitan dengannya kan?"

"Aniyo ..", jawab Edys cepat.

Janpyo mengamatinya dengan seksama, Edys menjadi gugup. 'Apa yang mesti dikatakannya sekarang? Menceritakan semua perkataan Shinhye? Tapi, apakah itu perlu?'. Lima menit lamanya mereka mematung di tempatnya masing-masing sehingga kata-kata sambutan Geunsuk yang mulai terdengar dari atas panggung hanya tertangkap samar-samar di telinga mereka.

Tiba-tiba Janpyo meraih tangan Edys.

"Yaa mau apa??", tanya Edys gugup, berusaha menepiskan genggaman Janpyo di tangannya. Tapi sekuat apapun usahanya posisi tangan Janpyo di lengannya tidak bergeming sedikitpun.

"Ikut denganku!! Aku akan menjelaskan semuanya pada Shinhye .. ", sahut Janpyo tegas.

"Yaaa ... ". Tepisan terakhir sukses total, tangannya terbebas dari genggaman Janpyo. Edys bergegas mundur ke belakang. "Sudah kubilang kami tidak apa-apa .."

"Jeongmal? Saya tidak ingin kamu merahasiakan apapun dariku Jilly-a, ". Janpyo menatap lekat ke mata Edys.

"Jeongmal .. ", jawab Edys pelan. Entah mengapa dia merasa hangat dengan tatapan Janpyo. Untuk pertamakalinya dia merasa tenang dan nyaman berada di sebelah pemuda ini. Tapi untuk sekiankalinya pula dia mengutuk diri sendiri, 'Kamu salah minum obat lagi Edysya!!'.

"Para hadirin sekalian, sekali lagi saya, mewakili J.M. dan Lee Jae Min-ssi selaku CEO dari J.M.co, mengucapkan terimakasih atas kehadiran tuan-tuan dan nona-nona di acara pembukaan J.M.corporation ini. Kami sangat bahagia dengan dukungan dari tuan-tuan dan nona-nona. Mungkin J.M. bukan perusahaan besar seperti .. Shin Hwa tapi kami berharap anda sekalian bersedia memberi perhatian lebih pada kami. J.M. akan berusaha memenuhi dan melakukan yang terbaik di masa-masa mendatang ..., ghamsamida and enjoy your time from now with us ..". Kata-kata sambutan dari Geunsuk menjadi jelas begitu mereka saling menatap dalam kebisuan.

****************
     



Janpyo dan Edys meninggalkan kantor J.M. sekitar dua jam kemudian. Saat itu acara pembukaan perusahaan tersebut belum selesai. Dan atas desakan Janpyo, Shinhye ikut dengan mereka.

Sepanjang perjalanan Shinhye tidak mengeluarkan suaranya. Dalam hati ia merasa bersalah pada Edys tapi untuk mengutarakannya ia tidak sanggup karena itu ia memilih berdiam diri. Begitu juga Edys, membisu dalam posisinya karena ia mengira sahabatnya itu masih marah padanya.

Sedangkan Janpyo sama sekali tidak terpengaruh dengan atmofir dalam mobil. Ia berkonsentrasi penuh pada gagang kemudi. Janpyo memang punya kebiasaan tidak berbicara atau melibatkan diri dengan persoalan lain saat menyetir. Baginya waspada dan keselamatan paling penting. Dia tidak suka mengambil resiko buat suatu kecelakaan yang bisa dihindari. Ini prinsipnya -dari sekian banyak prinsip penting yang diterapkan dalam hidupnya sejak kecil- yang berhasil membawa Shin Hwa ke jenjang kesuksesan melebihi ketika dipegang Junpyo dan leluhurnya yang lain.

Porche merah yang mereka tumpangi melambat perlahan begitu memasuki gerbang depan Park's mansion.

"Berhenti di sini saja oppa .. ", ujar Shinhye pelan dan lambat, dengan suaranya yang sedikit serak disebabkan berdiam diri terlalu lama. Edys segera berpaling padanya, ini merupakan perkataan pertama yang terdengar dari dalam mobil yang mereka tumpangi.

"Tidak. Saya akan mengantarmu sampai pintu depan .. ", tukas Janpyo tegas, membuat Shinhye tidak bisa berkutik sedikitpun.

Mobil berhenti tepat di pintu masuk kediaman Shinhye beberapa menit kemudian. Sesaat Shinhye tidak bergerak dari posisinya, ia berpikir sejenak bermaksud mengatakan sesuatu tapi begitu bertatapan dengan Edys, segera diurungkannya niat itu. Dia melepas sabuk pengaman, kemudian membuka pintu mobil. Dan sekali lagi dia menoleh kepada Edys yang duduk di sebelahnya.
"Bye .. ", ucapnya pelan.

Edys mengangguk perlahan, "Bye Shinhye-a .. ", balasnya, tidak kalah pelannya.

Shinhye ikut mengangguk karena hanya itu yang bisa dilakukannya. Kemudian dia keluar dari mobil.

"Tunggu sebentar, oppa akan mengantarmu .. ", sahut Janpyo dari jok depan yang jendela mobilnya sudah diturunkan.

"Tidak perlu oppa ... ", tolak Shinhye cepat.

"Berdiri di situ!!', perintah Janpyo lantang.

Shinhye tersentak dan terpaksa berdiri kaku di tempatnya, tanpa berani bergerak sedikitpun. Kharisma Janpyo membuatnya gentar, dan itu sudah sejak dulu, sejak dari perjumpaan pertama mereka.

Janpyo melirik sekilas pada Shinhye, kemudian berpaling pada Edys, "Tunggu saya .. ".

Edys mengangguk, "Ne .. "

Tanpa disadari, Shinhye melirik mereka lewat sudut matanya. Janpyo kemudian membuka pintu mobil dan beranjak keluar. Dia melewati Shinhye begitu saja, tanpa berpaling sekalipun. Shinhye sampai terpaku dengan perlakuan Janpyo. Pemuda itu sekarang semakin jauh dari jangkauannya, tergesa Shinhye mengejar Janpyo dari belakang.

****************


"Gumawo oppa .. ", kata Shinhye pada Janpyo ketika sampai di depan pintu masuk Park's mansion.

"Emmm ..", Janpyo bergumam pelan dari tempatnya. "Tentang ... "

"Araso ... ", celetuk Shinhye cepat, " ... saya memahami semuanya jadi oppa tidak perlu menjelaskannya lagi padaku! Penjelasan oppa beberapa waktu lalu sangat jelas,, oppa .. oppa hanya menganggapku seorang dongseng, .. saya mampu menerimanya, tidak,,, saya harus menerimanya kan? Tapi untuk saat ini saya tidak mampu melakukannya, saya butuh waktu, oppa ... saya butuh waktu menerima kenyataan ini .. "

"Baiklah, oppa tidak akan memaksamu, beristirahatlah dan jangan berpikir yang tidak-tidak .. ", ujar Janpyo sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Dia berusaha keras menghibur Shinhye tapi tampang dan kelakuannya yang tetap kaku tidak memperlihatkan maksud tersebut.

Shinhye tersenyum perlahan. Beginilah Goo Jan Pyo yang dikenalnya sejak dulu dan Shinhye sangat memahami dan mengenalnya. Janpyo yang perhatian dan penyayang walaupun tidak memperlihatkannya, Janpyo yang tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan seperti juga kedekatannya dengan Edys, 'pasti ada alasannya!!' dan Janpyo yang tidak suka dengan penyesalan, yang selalu mengetahui apa yang pantas dan tidak pantas untuk dilakukan.

"Masuklah ke dalam, oppa akan berdiri di sini sampai kamu berada di dalam .. "

Perkataan Janpyo menyadarkan Shinhye dari lamunan. Gadis itu mengangguk tapi tidak beranjak dari tempatnya. "Emmm tentang Edys .. ", gumamnya pelan, " .. katakan padanya, saya ... saya tidak marah lagi padanya ... saya hanya perlu waktu,, saya akan menghubunginya kalau sudah siap ... "

Janpyo mengangguk, "Araso, sekarang masuklah .. "

"Ne .. ". Shinhye berbalik ke belakang, kemudian melangkahkan kakinya ke pintu masuk dengan langkah pelan, setelah membuka pintu dengan kunci di tangannya, dia masuk ke dalam rumah. Untuk terakhir kali dia berpaling pada Janpyo dan melambaikan tangannya.

****************


Edys menunggu Janpyo kembali dari mengantar Shinhye dengan gelisah. Berkali-kali dia menoleh ke belakang sambil mengulurkan lehernya keluar jendela mobil, tapi jarak Janpyo dan Shinhye yang terlalu jauh dan agak tertutup tumbuhan merambat yang tumbuh di sekitar situ menghalangi pandangannya. Akhirnya Edys menyerah dan hanya bisa memandang nanar ke depan.

Tujuh menit berlalu, dan waktu terasa bergulir sangat lambat, hampir berabad-abad bagi Edys. Kepalanya tertunduk perlahan. 'Mengapa dia merasakan kesenyapan yang begitu mencekam?'

krek, .. sampai suara yang teramat pelan itu memasuki telinganya. Edys mengangkat wajah dan melihat Janpyo sudah berada dalam mobil. Setelah memasang sabuk pengaman, pemuda itu menoleh kepadanya.  
"Pindah ke sini .. ", perintah Janpyo sambil melirik bangku di sebelahnya.

Edys mengangguk. Dia tidak berusaha membantah Janpyo, seperti yang sering dilakukannya selama ini, ia keluar dari mobil dan berpindah ke jok depan, duduk di sebelah Janpyo. Pandangannya lurus terarah ke depan, membisu seribu bahasa.

Sampai sesuatu yang hangat tiba-tiba menyentuh tangannya. Edys menoleh dan mendapati pandangan teduh dari pemuda di sebelahnya.

"Jangan khawatir, Shinhye baik-baik saja .. ", suara lembut Janpyo memasuki telinganya, " .. dia tidak marah padamu, dia juga tidak membencimu .. beri dia waktu Jilly-a, keadaan akan kembali seperti dulu, hubungan kalian akan baik-baik saja, percayalah padaku ..."

"Jeongmal??!", sepasang mata hijau milik Edys melebar.

Janpyo tidak menjawab, ia hanya mengangguk pelan sebagai jawaban dari pertanyaan Edys. Gadis itu tersenyum lebar. Jawaban Janpyo menenangkannya, ya menenangkan perasaan yang selama beberapa jam lalu gelisah.

"Kata omma akan diadakan pertemuan keluarga sabtu malam nanti, apa kamu akan menghadirinya?", tanya Janpyo setelah hening beberapa menit.

"O .. ", Edys bergerak dari posisinya. Pertanyaan yang mendadak itu membuatnya gelisah. 'Apa maksud pertanyaan pemuda ini? Apakah dia mengharapkan kehadirannya di acara keluarga itu? Omma memang sudah memberitahunya seminggu yang lalu tentang pertemuan itu, tapi dia tidak menyangka pemuda ini akan mengundangnya langsung ..'. "Sa .. saya belum tahu,, mungkin waktu itu saya .. ada acara lain dengan Chaeyeong .. ", jawab Edys gugup.

"O begitukah?"

'Hanya perasaannya atau bukan, apakah benar ada kekecewaan terpendam dalam respon pendek itu?', Edys mengeleng perlahan. Entah mengapa dia merasakan sesuatu yang aneh memasuki hatinya. Sedih? Perasaan takut telah mengecewakannya? Atau ... atau apa, .. dia tidak mengerti sama sekali.
"Mungkin .. acara tersebut bisa .. diundur. Hmm kami hanya berencana nonton film bersama,, itu tidak penting ... ". 'Bagus, siapa yang mengajarimu mengeluarkan semua kebohongan-kebohongan ini, Edysya??!!'. Edys memejamkan matanya, merasa benci dengan perasaan yang tidak bisa dikendalikan kalau sudah berhadapan dengan Janpyo.

"Bagus. Saya akan menjemputmu malam itu!!"

"Tidak! Tidak perlu!!"

Janpyo menatapnya dengan kening berkenyit.

"Saya .. saya akan berangkat dengan appa dan omma jadi kamu tidak perlu menjemputku .. ", jelas Edys terputus-putus.

Janpyo mengangguk tanda mengerti. "Jilly-a ... ", panggilnya kemudian.

"Ne .. "

Pandangan mereka bertemu selama beberapa detik, saling menatap dalam kebisuan yang cukup menegangkan, terutama bagi Edys. Matanya menyipit perlahan-lahan, menunggu perkataan Janpyo selanjutnya tapi pemuda itu tetap membisu.

"Goo Jan Pyo ... "

"Sssttt .... ", Janpyo menempelkan telunjuk ke bibir dan meniupnya pelan.

Edys langsung menghentikan teguran yang tadi hampir terlontar dari mulutnya. Dia menutup mulut erat-erat dengan sepasang tangannya sedangkan pandangannya masih berpusat pada sepasang mata teduh Janpyo. 'Apa yang akan dilakukannya? Nah dia bergerak sekarang? Tidak!! Jangan mendekatiku, atau ... atau aku akan pingsan di sini, sekarang juga!!!', mata Edys terpejam perlahan. Mengapa? Dia juga tidak tahu.      

Dan dapat dirasakannya hembusan nafas memabukkan dari Janpyo berbarengan dengan terpejamnya sepasang bola matanya. Edys menahan nafas dalam-dalam. 'Apa yang harus diperbuatnya? Membuka pintu mobil dan berlari keluar? Atau .. melayangkan pukulan ke wajah sempurna itu sebelum dia sempat menyentuhnya? Oh tidak! mengapa kata sempurna itu lagi yang berkelebat di kepalanya?!! Atau ... '

Lamunan-lamunan tersebut berhenti sampai di situ. Sesuatu yang lembut, hangat dan harum melumat bibirnya lambat-lambat, sangat halus dan terasa .. hmm sedap .

"Ahh .... ". Tubuh Edys menegang. Demi tuhan, dia tidak pernah merasakan reaksi seperti ini ketika dicium mantan-mantan pacarnya dulu, dengan Janpyo perasaan itu sangat lain. Sangat ... sangat baru, sesuatu yang diingin dirasakannya terus-menerus, ... sangat berkesan dan tak terlupakan.


Janpyo memperdalam ciumannya. Lidahnya yang panas menjulur masuk ke mulut Edys. Tangan kanannya menekan kepala gadis itu sehingga posisi mereka semakin sempurna. Lumatan Janpyo semakin memanas. Edys tidak mampu menolak, perlahan dia membalas ciuman Janpyo. Tangannya melingkar ke tubuh kekar pemuda itu, merangkulnya erat-erat. Desahan-desahan dan rintihan-rintihan kecil terdengar ketika ciuman mereka memasuki tahap tinggi.

Beberapa saat kemudian Janpyo melepaskan ciumannya. Jarak mereka sangat dekat, dan Janpyo dapat melihat sepasang mata Edys masih terpejam dan perasaannya yang masih di awang-awang.

"Saya mengantarmu pulang sekarang .. "

"Haaa mwo??!", Edys membuka matanya dengan pandangan bertanya.

Saat itu perhatian Janpyo sudah terarah ke depan. Mesin mobil dihidupkan dalam hitungan detik, setelah itu porche merah tersebut maju perlahan dengan kecepatan sedang.


****************


Janpyo membubuhkan tandatangan pada dokumen terakhir dari sekian banyak dokumen-dokumen dan proposal-proposal yang digelutinya sejak dua jam yang lalu. Selesai dengan pekerjaannya hari ini, Janpyo menyingkirkan tumpukan file-file tersebut ke sudut kanan meja kerjanya.

Janpyo menguap sebentar, kemudian berdiri dari kursinya. Setelah melemaskan otot-otot yang tegang akibat bekerja seharian, dia memutar badan menghadap jendela, agak membungkuk ia mengedarkan pandangan keluar jendela.

Keadaan di luar sangat sunyi dengan pucuk-pucuk cemara tinggi yang basah akibat tersiram hujan deras setengah jam lalu meliuk-liuk tertiup angin, dan sangat buram karena penerangan terbatas yang diperoleh dari sinar rembulan dan bintang-bintang yang tergantung di langit tinggi.

Puas dengan penyegaran dari pemandangan luar yang monoton, Janpyo menegakkan badannya kembali, setelah itu dia beranjak dari ruang kerjanya.



Begitu sampai di lorong luar, Janpyo berpapasan dengan Jundi yang masih berpakaian lengkap buat bepergian dan tas selempang yang melingkari tubuhnya. Jundi sangat terkejut melihat kehadiran Janpyo di situ, spontan ia memutar tubuh, berbalik kearah sebaliknya. 'Mati saya!! Tertangkap juga ..". Jundi melangkah lebar, berusaha melarikan diri dari Janpyo, "Semoga oppa tidak melihatku .. "

"Goo Jun Di!!!", panggil Janpyo, "Baru pulang?", dahinya langsung berkenyit.

Jundi berhenti melangkah, matanya terpejam rapat-rapat. Setelah hitungan ketiga dia berbalik pada Janpyo sambil tersenyum semanis mungkin.
"NE!!!", sahutnya keras.

Janpyo mendekatinya, "Sudah bersedia menjawab pertanyaan oppa?"

"Mwo?", tanya Jundi linglung.

"Jang Geun Suk, mengapa kamu sampai bersamanya?", Janpyo menatap Jundi tajam-tajam.

"Fuhh ...", Jundi menghembuskan nafas keras-keras. "Oppa, bisakah oppa mempercayaiku? Mempercayaiku sekali saja? .. saya bukan anak kecil lagi, usiaku sudah delapan belas tahun. Saya tahu apa yang pantas dan tidak pantas saya lakukan .. "

"Oppa sudah memperingatimu tentang Jang Geun Suk tapi kamu tidak mau mendengarkannya, apakah ini yang dikatakan dewasa?"

"Sudah saya katakan saya tidak akrab dengan orang itu!!"

"Lalu mengapa kamu bisa hadir di acara itu?"

"Saya diundang, sebagai .. wakil dari Shin Hwa .. ", jawab Jundi dengan suara yang agak dipelankan. "Saya berjanji tidak akan melakukan sesuatu yang membahayakan Shin Hwa, ... tentang siapa itu Geunsuk, saya mengetahuinya dengan jelas, Michael sudah memberitahuku .... jadi oppa jangan khawatir .. ", Jundi meletakkan telapak tangannya ke pundak Janpyo, "Oppa mempercayaiku kan?", tanyanya penuh harap.

Janpyo tidak segera menjawab pertanyaan itu. Dia menatap Jundi, adik perempuan satu-satunya, dengan pandangan tak tertafsirkan.
"Di mana Mike?", tanya pemuda itu akhirnya.

"Oppa mencari Mike?", ulang Jundi kaget. "Ada keperluan penting?"

"Tidak. Tidak penting .. "

"O .. ", mulut Jundi terbuka. "Tadi katanya dia akan berenang sebentar di kolam renang belakang sebelum tidur .. Apakah perlu saya panggilkan dia?"

"Tidak, tidak perlu. Kamu beristirahatlah!!". Janpyo mengibaskan tangannya, kemudian memutar tubuh beranjak ke ruangan belakang.

"Gumawo oppa ... ", seru Jundi.

Janpyo tidak menghentikan langkahnya, dia berjalan terus seolah tidak mendengar teriakan Jundi.

****************


Michael merapatkan badannya ke pinggir kolam renang. Sudah empat putaran dilakukannya, bolak-balik dalam kolam renang yang panjang dan luas, semua ini sudah melebihi apa yang biasa dilakukannya setiap malam. Michael menenggelamkan kepalanya ke dalam air, selama tiga menit dia bertahan, kemudian mengangkatnya lagi setelah hitungan terakhir, menengadah ke atas sambil menghirup udara banyak-banyak. Nafasnya mulai teratur ketika Janpyo sampai disebelahnya dengan sepasang tangan terselip ke saku celana.

"O Janpyo-a, sudah selesai dengan pekerjaanmu?", yang paling dipahami Michael, Janpyo selalu sibuk dengan pekerjaannya sampai larut malam.

Janpyo mengangguk, "Mengapa kamu dan Jundi muncul di acara pembukaan J.M.co, hari ini?", tanyanya tanpa basa basi.

Michael tidak segera menjawab, ia menumpukan sepasang tangan ke lantai pinggir kolam renang kemudian "Hupp ... ", mengangkat tubuhnya ke atas, duduk di sebelah Janpyo yang berdiri tegak dengan pandangan terarah lurus ke air kolam renang yang agak buram.


"Janpyo-a, kamu adalah majikanku, orang yang memberiku pekerjaan dan mengajiku, seharusnya apapun saya laporkan padamu ... ", ujar Michael pelan, " ... tapi ada kalanya, sebagai seorang sahabat, seseorang yang sudah diberi kepercayaan penuh, saya harus menyembunyikan sesuatu darimu, sebuah rahasia kecil. Saya harap kamu mengerti posisiku. Jundi percaya padaku dengan menceritakan semua rahasianya jadi saya juga harus memengang janjiku .. ".

Michael menengadah dan mendapati pandangan Janpyo masih terarah ke tengah kolam renang, tidak bergerak sama sekali dari posisinya semula, bahkan matanya seakan tidak berkedip dan jantungnya seolah berhenti berdetak.

"Satu hal yang pasti Janpyo-a, saya berjanji padamu akan melindungi Jundi dengan taruhan nyawa .. "

Janpyo bergerak perlahan dari tempatnya. Dia berbalik ke pintu kolam renang dalam ruangan tersebut dengan sepasang tangan yang masih menancap di saku celana.

"Jangan berenang terlalu lama, nanti kulitmu keriput semua .. "

"MWOOO??!!! Ha ... ha .. kamu bercanda ya Goo Jan Pyo? Dari mana kamu dapat humor murahan itu?? ha .. ha ...", tawa Michael langsung meledak dalam ruangan kolam renang beratap dari kaca tersebut, tapi Janpyo tidak mengubris atau terpengaruh dengan suara ketawanya yang mengelegar karena dia sudah lenyap dari hadapan Michael sebelum pertanyaan-pertanyaan tersebut selesai diucapkan.

****************


Goo's Mansion, 8:32 p.m,

Peralatan-peralatan yang berserakan di meja makan sudah disingkirkan para pelayan. Junpyo, Jandi, beserta Jihoo, Lily, begitu juga Woobin, Jaekyung, Yijeong dan Gaeul memisahkan diri dari kelompok anak-anak muda di ruang makan ke ruang tamu buat nostalgia kembali ke masa lalu.

Sepeninggal para orangtua, putra-putri mereka yang sudah dewasa memindahkan acara selanjutnya ke ruang keluarga di lantai atas. Michael, yang tidak termasuk anggota keluarga dari empat keluarga besar terpengaruh di Korea tapi yang sudah dianggap keluarga sendiri oleh keluarga Goo, ikut bergabung dalam acara tersebut.

Mereka duduk berhimpitan di tengah ruangan. Sofa besar dan mewah yang mereka duduki sesak oleh kapasitas penumpang yang terlalu banyak. Sebentar-sebentar mereka saling mendorong dan tertawa renyah, sedikit berisik walaupun keadaan itu sangat menyenangkan mengingat jumlah pertemuan mereka yang termasuk jarang. Dari semua orang di ruangan itu hanya Janpyo yang terpisah agak jauh di belakang mereka.

Pembicaraan berawal santai dan menyimpang ke segala arah. Menyangkut berbagai topik, dimulai dari kenangan masa kecil, fashion dan model-model pria dan wanita yang cantik-cantik dan keren-keren, pembahasan arti dari cinta, pengalaman dalam bercinta sampai gosip-gosip terpanas dari para selebritis terkini (gaya pembicaraan khas anak muda) tanpa menyinggung sedikitpun masalah bisnis dan takdir mereka sebagai penerus perusahaan keluarga, sampai salah seorang dari mereka tiba-tiba mengutarakan idenya.

"Bosan nih,, bagaimana kalau kita memulai sebuah permainan?", Jundi mengedarkan pandangan ke sepanjang sofa yang dipenuhi orang-orang.

"Ide yang bagus, tapi permainan apa?", sahut Jaebin sambil mengangkat tangan ke atas.

"Jangan permainan yang terlalu ribut, nanti menganggu pembicaraan tuan-tuan dan nyonya-nyonya besar di ruang bawah ,,,", Michael berusaha mengingatkan mereka. Maklum, para doronim dan agashi ini kalau sudah bermain bisa gila-gilaan.

"Beres, lalu permainan apa itu?", sambung Gajeong.

"Saya tahu!!", teriak Jundi. Semua mata langsung tertuju padanya. "Permainan dulu, 'true and deal' .. ", serunya sambil tersenyum penuh arti. "Bagaimana?"

"Ok, setuju!! Saya paling suka permainan ini. Akan kukuliti kalian habis-habisan ha .. ha ... ", Gajeong tertawa keras.


"Lihat saja siapa menguliti siapa!!", Jundi tersenyum mengejek. "Bagaimana dengan onnie?", dia tiba-tiba menoleh pada Edys, "Onnie keberatan dengan permainan ini?".

"Aniyo, saya ikut saja .."

"Great!!", Jundi kemudian berpaling pada Michael, "Ambilkan botol dari lemari itu Mike!!"

Michael mengangguk, kurang dari semenit dia sudah kembali lagi dengan botol bening tergenggam di tangan.

"Janpyo ikut main dengan kami?", Jaebin berpaling pada Janpyo.

"Tidak perlu menanyakan itu Bin oppa, percuma!! Oppa tidak akan pernah bermain dengan kita ... ", tukas Jundi tanpa tertarik dengan tawaran Jaebin pada Janpyo. 'Oppanya ikut dengan permainan mereka? Dunia pasti akan kiamat besok!'.

Tapi apa yang dilakukan Janpyo kemudian membuat dagu Jundi hampir jatuh ke lantai. Janpyo berdiri dari tempat duduknya kemudian berjalan kearah mereka. Sebelum kekagetannya hilang, oppanya itu sudah menjatuhkan diri ke pengangan sofa di sebelah Edys.

"Caranya?", tanya Janpyo pendek.

Semua saling berpandangan. "Kamu serius Janpyo-a?", tanya Jaebin tak percaya, "Ha .. ha .. tadi saya hanya bercanda ketika mengundangmu main bersama .. Saya tidak menyangka kamu akan menerimanya .. "


Yang lain mempunyai pertanyaan yang hampir sama dalam otaknya. 'Apa yang terjadi dengan Janpyo? Mengapa dia berubah? Selama ini dia tidak pernah bermain dengan mereka, sejak .. ya, sejak sebelum keberangkatannya ke Amerika, ketika mereka baru berusia enam tahun .. '.

"Bisa dimulai sekarang?", tanya Janpyo tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan Jaebin.

"Sure, .. caranya sangat mudah, seseorang dari kita akan memutar botol ini dan setiap mulut botol ini mengarah pada siapapun, dia harus menjawab pertanyaan orang bersangkutan, .. tidak ada yang tahu apakah jawaban itu benar atau salah, yang jelas tidak boleh ada kebohongan. Kamu boleh memilih tidak menjawabnya jika memang tidak ingin menjawabnya, ingat tidak boleh ada kebohongan dalam permainan ini, harus jujur. Jika kamu memilih tidak menjawabnya, hukumannya adalah ...", Jaebin mengedarkan pandangan sambil tersenyum-senyum nakal, " ..hukuman lama, kamu harus mencium orang yang bersangkutan, orang yang menanyakan pertanyaan tersebut, ..araso?"

Janpyo mengangguk, "Ok, saya mengerti .. "

"Baiklah, permainan dimulai dari yang termuda ,, Jundi akan memulai terlebih dahulu .. ", Jaebin menyerahkan botol di atas meja pada Jundi.

"Aja!!!". Jundi memutar botol keras-keras dan botol itu berputar puluhan putaran, agak tersendat-sendat kemudian berhenti sama sekali di hadapan Janpyo.

"Ayo tanyakan pertanyaan pedas ke Janpyo!!!", teriak Gajeong.

"Emmm ... ", Jundi berhenti beberapa saat. Dia kelihatan ragu-ragu mengutarakan pertanyaannya. "Oppa .. ", katanya kemudian, " ... jika .. selama ini ada yang saya sembunyikan dari oppa, berkaitan dengan Shin Hwa,,, .. apakah .. apakah oppa akan memaafkanku?".

Mereka saling berpandangan untuk waktu yang cukup lama. Janpyo tidak membuka mulutnya, 'apakah dia memilih tidak menjawab?' tidak ada yang tahu. Semua orang dalam ruangan itu memperhatikan kedua kakak beradik itu dalam kebisuan yang cukup panjang. Lima menit berlalu, mereka masih saling menatap pada posisi semula.

"Oppa ..... "

"Oppa menyayangimu .. ", sahut Janpyo.

"Heii itu bukan sebuah jawaban!!", protes Gajeong.

"Itu sebuah jawaban Jeong oppa!!", potong Jundi sambil tersenyum lebar, "Itu jawaban yang saya harapkan. Gumawo oppa .."

"Sekarang .. ". Janpyo meraih botol dari atas meja, "Giliranku kan?".

Yang lain menganggukkan kepala hampir bersamaan. Janpyo memutar botol di tangannya dengan tenang. Botol tersebut berputar mengikuti ritme dengan kecepatan sedang, mencakar kuat pada porosnya. Perlahan putarannya berhenti dan mulut botol itu mengarah lurus ke Edys.


"Haa sa .. ya?", Edys menunjuk diri sendiri tak percaya.

"NE!!!", teriak yang lain hampir bersamaan.

"O ... ", Edys lemas di tempatnya. 'Bukan siapa-siapa, mengapa harus Janpyo? Mengapa botol yang diputar Janpyo harus sukses mengarah padanya? Mengapa? Mengapa?'

"Jilly-a ... "

"Ne .. "

"Janjiku, apa itu?"

"Mwo??"

"Pertanyaan Janpyo sudah jelas kan Edysya? Janpyo bertanya apa janjinya, ayo jawab!!", desak Jaebin, yang langsung diikuti gelak tawa yang lain.

Bola mata Edys berputar kesana kemari. 'Apa yang harus dilakukannya? Bagaimana mungkin dia mengingat janji yang dibuat ketika masih kecil? Apa? Apa isi janji itu? Ayo, berpikirlah! Berpikirlah Edysya!'

"Ka .. kamu ... ", Edys kelihatan berpikir keras, " ... kamu .. ", ragu-ragu selama beberapa detik, dia menjawab dengan lantang, " .... akan kembali ke Korea!".

Edys menatap lekat-lekat Janpyo yang duduk menyandar di sebelahnya,seolah mengharapkan anggukan kepalanya, persetujuannya, tapi Janpyo tidak bergeming. Dia membalas pandangan Edys tanpa berkedip.

"Salah?", tanya Edys putus asa. Dia berpikir lagi. " ... Atau ... kamu berjanji akan sukses dalam karirmu, begitukah?", sambung Edys penuh harap.

Janpyo tetap tidak menjawab atau memperlihatkan reaksi apapun. Dia menatap Edys kaku.
"Next .. ", sahutnya kemudian.

"Mwo? Onnie belum menjawabnya kan? Maksudku jawabannya tidak benar .. ", protes Jundi diikuti anggukan kepala yang lain.

"Next!!", tekan Janpyo.

Akhirnya semuanya menyerah. Janpyo tidak mungkin dibantah. Kalau sudah memberikan perintah, maksud tersebut sungguh-sungguh dan sudah dipikirkannya masak-masak sehingga perintah itu harus segera dituruti baik oleh bawahan maupun sahabat-sahabatnya.

Janpyo mengambil botol dari atas meja dan memberikannya pada Edys. Gadis itu menerimanya walaupun dengan terpaksa, kemudian dia memutar botol itu seperti yang tadi dilakukan Jundi dan Janpyo. Dan sekali lagi 'apa yang terjadi dengan botol itu? Pasti ada yang tidak beres! Mengapa dia mengarah ke Janpyo?'.

"OOOOO!!!!! Ha .. ha ... ha ...", teriak yang lain bersamaan sambil menunjuk kearah Edys, diikuti ketawa mengelegar yang mengetarkan seisi ruangan. "Berikan pertanyaanmu Edysya, pertanyaan yang tadi diajukan Janpyo!!", sambung Gajeong yang masih terbahak-bahak di tempatnya.

Edys tersenyum, ia segera menoleh pada Janpyo, "Benar, .. apa jawaban dari pertanyaanmu tadi?", serunya puas.

Tapi kepuasan itu tidak berlangsung lama karena Janpyo secara perlahan menundukkan wajah kearahnya. "Mwo,, a .. apa yang akan kamu lakukan Goo Jan Pyo?", tanyanya gugup.

"Masa kamu tidak paham Edysya?", goda Jaebin, "Berarti Janpyo memilih tidak menjawab pertanyaanmu, terimalah hukuman darinya ha .. ha .. ha .. ".

"Mwo? Yaaaa Goo Jan Pyo!!". Edys berusaha mendorong Janpyo ke belakang tapi kekuatan pemuda itu sangat luar biasa, posisinya semakin dekat dengannya sekarang. Edys memejamkan matanya rapat-rapat sedangkan tangan kirinya yang tadi menekan pundak Janpyo, menutup mulutnya sendiri.

Tapi perkiraan kalau Janpyo akan mencium bibirnya salah, dia merasakan bibir lembut Janpyo menyapu jidatnya. Edys langsung membuka mata lebar-lebar, Janpyo sudah menarik diri ke belakang sekarang, ekspresi wajahnya masih datar seperti biasa seakan tidak terjadi apa-apa antara mereka.

"Permainannya sampai di sini .. ", kata Janpyo tiba-tiba yang membuat semua dalam ruangan itu membelalakan matanya.

"MWO? Yaaa kami belum mendapat kesempatan dalam permainan ini ...", protes Gajeong.

"Benar!!", sahut Jaebin.

Tidak terpengaruh bantahan-bantahan mereka, Janpyo bergerak dari posisinya. Setelah memperbaiki cardigannya yang agak kusut karena duduk terlalu lama, dia menarik tangan Edys.
"Ikut denganku .."

"Mwo??!", mata Edys terbelalak lebar, "Kemana?", tanyanya binggung.

"Ikut saja ...", jawab Janpyo.

"Yaaa ...", protes Edys, berusaha mengibaskan tangan Janpyo tapi percuma saja karena pemuda itu menariknya sangat kuat, pada akhirnya dia ikut juga.

"KEMANA??!", teriak yang lain ketika Janpyo dan Edys sudah menghilang dari ruangan itu. Tidak terdengar sahutan dari luar ruangan.

"YAAAA ...."

"Ayo ikut mereka!!!"

Jaebin berlari dari ruangan itu diikuti teman-temannya yang saling berlomba, sikut-menyikut dari belakang.

****************


tak ... tak ... tak ...., detak-detak kaki tak berirama menuruni tangga marmer yang sudah agak pudar warnanya secara berbarengan. Suara-suara itu sangat ramai dan berisik bergaung dalam ruang bawah tanah yang gelap. Bau pengap dan udara tipis langsung memasuki hidung mereka. Janpyo mengulurkan tangan satunya, yang tidak memegang tangan Edys, ke dinding bata dingin dekat tangga dan menekan sesuatu. Seketika ruangan itu menjadi terang dengan sinar lampu dinding yang kekuning-kuningan.

"Tem .. tempat apa ini?", Jundi membelalakan matanya.

"Di Goo's mansion ada tempat seperti ini? Luar biasa!!", seru Michael tak percaya. Perlahan dia berdecak kagum.

"Ini dunia kanak-kanak kami ... ", sahut Jaebin sambil mengedarkan pandangannya, " .. tidak berubah sedikitpun .. "

Janpyo ikut mengedarkan pandangannya.
"Omma menutup tempat ini ketika kami pindah ke Amerika .. Tidak seorangpun memasuki tempat ini sejak delapanbelas tahun yang lalu, kecuali omma. Larangan tersebut dikeluarkan karena omma ingin tempat ini tetap seperti dulu, dunia buat kenangan anak-anaknya .. ", kemudian Janpyo menghadapi sahabat-sahabat dan dongsengnya. "Omma sendiri yang membersihkan tempat ini ketika pulang dari Amerika sebulan yang lalu, tapi walaupun begitu .. tetap tidak terpelihara karena sudah dua minggu omma berada di luar negeri dengan appa .. Lihat debu-debu sudah menumpuk di mana-mana .. "

Janpyo melangkah ke dalam ruangan yang terpisah dari ruangan dekat tangga masuk. Tangannya menyapu meja, kursi-kursi dan foto-foto tua, begitu juga lukisan-lukisan abstrak khas anak-anak yang sudah pudar warnanya yang ditempelkan ke dinding. Edys mengikutinya dari belakang sedangkan yang lain asyik dengan kegiatannya mengamati ruang bawah tanah di ruang depan.

Janpyo membuka laci kecil dari lemari tua yang menempel di dinding. Keningnya berkenyit ketika mendapatkan sesuatu yang menarik dari dalam laci. Dia mengeluarkan benda itu, kemudian berjalan kearah Edys yang sibuk mengamati foto-foto di atas meja. Janpyo mengangkat tangannya kemudian menjepitkan sebuah jepit rambut berbentuk bunga matahari dari kain warna-warni yang sudah lusuh ke rambut Edys dekat telinga.


"A .. apa ini?", tanya Edys gugup.

"Milik kamu .. dulu ... ", jawab Janpyo dengan suaranya yang dalam.

"O ..", desah Edys. Tanpa sadar dia mengangkat tangan ke atas dan menyentuh jepit rambut itu.

"Ayo keluar sekarang, ada yang ingin kutunjukkan padamu!!", sahut Janpyo tiba-tiba.

"Lagi??!". Mulut Edys mengangga, 'kira-kira kejutan apa lagi yang akan diberikan pemuda ini?'

Janpyo meraih tangan Edys dan mengenggamnya erat-erat. "Nanti kamu juga tahu sendiri!!", jawabnya sambil tersenyum misterius. Senyuman yang membuat kaki Edys lemas seketika, senyuman yang jarang-jarang diperlihatkan Janpyo, senyuman yang sangat memikat.

Edys mengangguk perlahan, kemudian mengikuti pemuda itu seperti tercucuk hidungnya.

Setelah berada di luar, "Kalian semua!! Kami keluar dulu!!"

Orang-orang dalam ruangan itu segera menoleh dan berjalan kearahnya.

"Tidak, kalian jangan mengikuti kami!!", larang Janpyo keras.

"Weo oppa?", tanya Jundi tak mengerti.

"Biarkan mereka sendiri Jundi-a!! Mereka perlu waktu berbicara .. ", kata Gajeong pada Jundi. "Pergilah Janpyo-a! Kami akan berada di sini sampai pukul 11 nanti, tempat ini perlu dibersihkan .. ", sambungnya pada Janpyo.

Janpyo mengangguk kemudian berlalu dari tempat itu bersama Edys.

"Ayo semua, ambil peralatan dan bersihkan tempat ini!!!", seru Gajeong yang segera disambut yang lain.

"SIAP BOSSSSSSSSS!!!"

****************


Tujuh menit kemudian Janpyo dan Edys sampai di taman kecil yang berada di belakang rumah besar Goo. Mereka berhenti tepat di ayunan yang terpasang di tengah taman. Janpyo menyuruh Edys duduk di salah satu ayunan. Kemudian ia menekan sesuatu yang terpasang di kabel yang melingkari ayunan satunya, dalam sekejap taman itu menjadi terang benderang dengan sinar lampu-lampu kecil yang berkelap-kelip dengan sinarnya yang berwarna-warni.

"I .. ni ...", mulut Edys tergangga, ia tidak mampu mengeluarkan suara. Pemandangan dalam taman membuatnya takjub, sangat indah dan mempesona, bayangan Natal langsung memasuki pikirannya.

"Indah kan?", tanya Janpyo pelan. Ia bergerak perlahan, kemudian berjongkok di depan Edys. "Jilly-a, maukah kamu bertunangan denganku?"

"MWOOO?", Edys terperanjat dari tempatnya, beruntung sepasang tangan Janpyo menekan kedua pahanya kalau tidak dia sudah meloncat dari ayunan yang didudukinya. "Sandiwara apa ini Goo Jan Pyo-ssi?? Jangan main-main! Saya sudah tidak menyukai permainanmu jadi hentikan sekarang juga!!"

"Saya tidak main-main Jilly-a, saya sangat serius. Hanya kamu yang ingin saya jadikan istri dan ibu dari anak-anakku .. ".

"Tapi .. mengapa Janpyo-a?", tanya Edys lambat-lambat. " .. saya sudah ingin menanyakannya sejak dulu, mengapa saya? Mengapa saya yang kamu pilih? Masih banyak wanita dengan posisi dan derajat melebihi yang kupunyai jadi mengapa harus aku? Apa yang menarik dariku?"

"Saya akan kembali padamu, berapa lamapun jadi tunggu saya! Mau setahun, lima tahun, sepuluh tahun atau lima puluh tahun sekalipun,  .. walau hanya melihatmu dari seberang jalan ... saya tetap akan mengenalimu! .. Ingat ini! Saya tidak akan melupakanmu!"

"Mwo?", tanya Edys tak mengerti.

"Janjiku! Itu janjiku padamu, Jilly-a!!"

"O jadi itu .. ", gumam Edys lirih.

"Jadi sekarang kamu mengerti kan? Saya tidak membutuhkan wanita lain karena sejak kecil hatiku sudah menempel padamu .. "

"Tapi .. walaupun begitu, mustahil! Saya tidak memahamimu dan kamu juga tidak memahamiku .. maksudku ... kebersamaan kita terlalu singkat dan belum mengarah kearah itu .. Jadi saya .. saya ... ", perkataan Edys tersendat-sendat di akhir kalimat, " ... saya .. tidak tahu bagaimana menjelaskannya, saya .. rasa kamu .. mengerti maksudku .. "

"Tidak memahami bagaimana? Sifatmu? Kehidupanmu dulu? Atau .. Jun Sugishima, Nick Ewing, Kim Jae Won, Pierre Riche, atau kamu ingin saya menyebutkan lebih banyak lagi Jilly-a?", Janpyo memandang tajam ke Edys.

"Mwo? Ba .. bagaimana mungkin kamu mengetahui nama mantan-mantan pacarku? .. kamu .. kamu menguntitku?", mata Edys terbelalak lebar, "Kamu mengerikan Goo Jan Pyo!!", dia memandangi Janpyo dengan jijik, "Sungguh tidak dapat dipercaya.. "

Edys bermaksud berdiri dari ayunan saking murkanya tapi tekanan keras dari Janpyo membuatnya tertahan di posisi semula.

"Saya tidak menguntitmu! Tidak, saya tidak punya waktu untuk itu! Saya hanya membayar seseorang mengikutimu kemudian mengabariku tentang apa yang terjadi padamu selama ini. Saya tahu perbuatan ini tidak terpuji tapi apa yang bisa saya lakukan selain ini .. ", Janpyo menurunkan pandangannya perlahan, sedangkan sepasang tangannya masih menekan Edys di tempatnya. " .. saya tidak bermaksud mencampuri urusan-urusanmu. Tidak! Saya tidak melakukannya kan? kamu tidak mengetahui kehadiranku selama ini. Saya melakukan semua itu hanya untuk melindungimu, menghindarimu dari semua malapetaka tanpa melibatkan diri dengan masalah pribadimu .. "

Edys tidak memberikan reaksi apa-apa. 'Memangnya dia harus beraksi apa? Pengakuan Janpyo terlalu menguncang hatinya.
« Last Edit: June 26, 2010, 10:11:28 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
ps : chp ini kepanjangan lagi [hmpfh] [hmpfh] jd dibawah ini sambungan dari chp di atas [biggrin] [biggrin]

-----------------------------------------------------------------


"Selama janjiku tidak berhasil dilakukan, selama saya tidak bisa kembali dan mencarimu, saya tidak akan mencampuri urusan-urusanmu, termasuk hubungan-hubungan cintamu. Saya tidak pernah bermimpi atau berharap memiliki pernikahan murni yang tidak tersentuh noda, selama pasanganku kamu, aku tidak perduli. Mau pernikahan perawan atau bukan, saya benar-benar tidak perduli .. ".

"Goo Jan Pyo ... "

Mereka saling menatap dengan sinar mata mendalam.

"Karena janji masa kecil itu kamu mempertahankanku sebagai calon istrimu sampai sekarang? Apa kamu sudah gila? Pabo-ya?"

"Karena itu, bertunanganlah denganku, .. jadilah istriku..", ujar Janpyo dengan suara beratnya, "Maukah kamu Jilly-a?"

Edys tidak mampu menjawab. Apa yang bisa dikatakannya kalau semua ungkapan Janpyo sudah menancap tepat di sudut hatinya yang terdalam?

Perlahan Janpyo mengeluarkan sesuatu dari saku cardigannya kemudian menyodorkannya pada Edys. Gadis itu langsung tertegun. Sebuah kotak beludru warna merah dengan sepasang cincin yang terpahat huruf 'J&J' di lingkaran dalam dan sebutir berlian yang bertengger di tengah-tengah sepasang cincin tersebut terpampang dihadapannya.




"Maukah kamu menerimanya Jiily-a?"

Edys mengigit bibir bawahnya kemudian mengangguk perlahan. Janpyo tersenyum. Dia meraih cincin yang lebih kecil dan memakaikannya ke jari tengah Edys.

"J&J?"

"Janpyo & Jilly .. ", jawab Janpyo sambil menyodorkan cincin yang lebih besar untuk dipakaikan Edys di jarinya. Edys melakukan seperti yang dimaksud Janpyo. Mereka tersenyum bahagia setelah itu.

"Miane karena saya tidak bagus dalam kata-kata, kamu jadi kebinggungan dan tidak mengerti maksudku. Mungkin hari ini perkataanku yang terbanyak .. ", Janpyo tersenyum simpul.

"Ne, saya percaya itu .. ", goda Edys dengan mengiyakan perkataan Janpyo.

"Ha .. ha .. ha ..", mereka tertawa berbarengan.

"Ada rahasia kecil yang belum kuceritakan padamu .. ", kata Janpyo tiba-tiba, setelah mereka menghentikan ketawanya.

"Apa itu?", tanya Edys ingin tahu.

"Bahwa .. saya merebut ciuman pertamamu .. "

"MWOO?!", tanya Edys tidak mengerti, "Bagaimana bisa? Jangan bercanda lagi Goo Jan Pyo-ssi!!"

"Saya tidak bercanda. Tigabelas tahun yang lalu, waktu kepulanganku yang terakhir kalinya, ketika kamu ketiduran di sofa ruang keluarga setelah kecapekan bermain dengan Gajeong dan kawan-kawan, .. tanpa sadar saya mencium bibirmu .. "

"Mwo?? Kamu serius?"

Janpyo mengangguk, "Iya. Saya tidak tahu mengapa melakukannya, mungkin ekspresi tidurmu yang lelap dan nyaman bak bidadari kecil itu penyebabnya ... ".

"Goo Jan Pyo!!"

"Kamu jangan khawatir, saya tidak menceritakan rahasia ini pada siapapun, bahkan omma juga tidak mengetahuinya .. "

"O .. ", desah Edys.

" .. hanya Mr. Choi seorang yang mengetahuinya .. ", sambung Janpyo membuat Edys terkejut setengah mati.

"YAAAA GOO JAN PYO!!!", teriak Edys.

"Ha .. ha .. miane,,, waktu itu saya masih kecil dan cuma Mr. Choi yang dekat denganku jadi saya menceritakan semua padanya ... "


Edys langsung mendaratkan pukulan bertubi-tubi ke dada Janpyo. Pipinya memerah, dia sangat malu, 'bagaimana dia harus bersikap kalau bertemu Mr. Choi? Dasar si Janpyo berengsek!!'

"Heyyy .. ", Janpyo menangkap tangan Edys. Dia masih tertawa-tawa kecil saat itu, pertama kalinya dia tertawa selebar ini. Dia sangat bahagia dan semua itu karena Edys.         

Pandangan mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat. Janpyo menghentikan suara ketawanya, begitu juga wajah garang Edys berubah perlahan. Kepala mereka bergerak lambat-lambat, semakin dekat dan dekat. Edys memejamkan matanya, diikuti Janpyo. Akhirnya bibir mereka menempel lembut. Janpyo membuka bibir dan mulai melumat bibir Edys. Gadis itu membalasnya. Ciuman mereka dari pelan menjadi semakin bergairah. Bibir mungil Edys tenggelam seluruhnya dalam bibir penuh Janpyo.




****************


Tiga hari kemudian di perusahaan pusat Shin Hwa Group ..

tok .. tok .. tok ...

"Masuk!!", perintah Janpyo tanpa berpaling dari berkas-berkas yang berserakan di meja kerjanya.

brak .., pintu dibuka dalam satu hentakan yang cukup keras. Mr Choi, setengah berlari mendekati meja kerja Janpyo. Nafasnya agak terengah ketika sampai di hadapan pemuda yang kelihatan sibuk mempelajari beberapa dokumen di hadapannya.

Seperti mendapat firasat buruk atas kehadiran Mr. Choi di situ, firasat yang biasanya memang sangat manjur dan ampuh dari Janpyo, ia mengangkat wajah dan keningnya langsung berkenyit begitu melihat tampang pucat pria itu.
"Wegude?"

 

"Masalah besar doronim ..", jawab Mr. Choi dengan nafas terputus-putus. Sebuah map file yang dipegangnya disodorkan pada Janpyo. Kerutan di wajah Janpyo semakin mendalam, dokumen-dokumen yang tadi digelutinya disingkirkan ke pinggir meja, kemudian dia memandangi Mr. Choi dalam-dalam, meminta penjelasan lebih lanjut.

"Sekitar setengah jam lalu, seseorang membuka rekening dalam jumlah yang sangat besar di bank Shin Hwa, dan .. dia ingin menariknya dalam bentuk tunai, sekarang juga .. ", sahut Mr. Choi.

"Luruskan ..", perintah Janpyo.

"Tidak bisa doronim .. ", tukas Mr. Choi putus asa.

"Wee?"

"Dana itu sudah beredar ke masyarakat. Persediaan cash Bank Shin Hwa tidak cukup untuk membayar jumlah sebanyak itu, dan nasabah tersebut berkeras ingin uang tunai, dia menolak cek .. atau dana berbentuk apapun .. "

Janpyo menghembuskan nafas perlahan, "Berapa kekurangannya?"

"Seperempat dari jumlah seluruhnya doronim,, keterangan selengkapnya bisa doronim lihat di formulir ini .. ", sekali lagi Mr. Choi menyodorkan map file yang tadi tidak dihiraukan Janpyo.

Janpyo menerima map file itu dan membukanya. Seperti perkiraannya semula, nama 'J.M. Corporation' dan tandatangan Jang Geun Suk tertoreh di formulir tersebut.

     


"Hubungi para direktur dari bidang-bidang yang lain sekarang juga. Saya ingin dana tersebut terkumpul dalam waktu sepuluh menit. .. dan perintahkan tuan Kim untuk menahan Geunsuk, jangan sampai dia melakukan yang tidak-tidak, saya tidak ingin masalah ini sampai mengemparkan masyarakat luar, .. katakan pada tuan Kim kita perlu waktu sepuluh menit, hanya sepuluh menit, tidak lebih dari itu! Jalankan sekarang juga Mr. Choi!"

"Ne doronim .. ", Mr. Choi bergegas meninggalkan ruang kantor Janpyo begitu mendapat perintah tersebut.

Janpyo memutar kursi menghadap pemandangan laut luar yang terhalang jendela kaca besar sekeliling ruang kantornya yang luas.



Kemudian dia berdiri dari kursinya, masih dengan pandangan terarah keluar jendela, dia menyelipkan sepasang tangan ke dalam saku celana.

"Lee Jae Min,,, mengapa saya merasa begitu mengenalmu?", gumamnya pelan.

****************

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
Mamiiih smi aq peyuk2 dlu d,,wah ini update'an trnjang snjang sjrah seorg mami lope kyna mah,kren mi.....akhrna janpyo n jily tunangan jg,uhuy... Thx bgt mami,, kbayar penantian 2bulan'nya dah.wkwkwk...
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Mamiiih smi aq peyuk2 dlu d,,wah ini update'an trnjang snjang sjrah seorg mami lope kyna mah,kren mi.....akhrna janpyo n jily tunangan jg,uhuy... Thx bgt mami,, kbayar penantian 2bulan'nya dah.wkwkwk...
[hmpfh] [hmpfh] makanya jgn desak2 gw mulu dong kalau mau updatean sepanjang ini [hmff] [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
CECE.......... [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

makasih udh di update...  [laughing] [laughing] [laughing] [laughing]

next, bengkok ya..... [smiley-gen013] [huglove] [huglove]

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE