Author Topic: HEAVEN - Chapter Nine of Tomorrow (26th July 2010)  (Read 13538 times)

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
~
« Reply #135 on: May 26, 2010, 06:33:53 am »
Mak nem ku eror.. Miny blng lg ujian aka ulangan umum aka test aka final examination...
Bukan hujan... [hmpfh] [hmpfh]

iya kan min?

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #136 on: May 26, 2010, 07:06:43 am »
iya tuh si noona b, gara2 kepala pusing, ujian dibaca hujan, dasarrrrrrrrrrrr [head break] [head break]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #137 on: May 30, 2010, 06:49:30 am »
Miny,, yg ini kapan mau update yo?... Jgn hiatus lama2 ky mak nem yak min.hehe
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #138 on: June 08, 2010, 12:26:15 am »
kapan nieh sist updetannya...udah sangat rindu ma ff nie...

udah gak sabar ma lnjutannya...  [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]

 [hug] [hug] [hug] [hug] [hug]

Offline minyounglee

  • Admin
  • Junior
  • *****
  • Posts: 165
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #139 on: June 09, 2010, 09:20:03 am »


Seo Hye Sun

Tidak akan ada ayah, tidak akan ada ibu. Yang ada hanya aku sendiri, putri keluarga Seo yang tersisa.

Banyak yang ingin kukatakan sebelum maut memisahkan keluarga kecil ini. Tapi pada akhirnya, aku sadar, kata-kata itu tidak bisa kukeluarkan, hanya bisa kuendap dalam-dalam, karena kami terpaut kejauhan tak terhingga, antara langit dan daratan bumi.

Tidak akan ada lagi, tawa hangat ayah, omelan sayang ibu. Semua tinggal kenangan yang membeku didalam pikiran.

Ayah, ibu, andai aku masih boleh mengecup kening kalian dan mengatakan untuk yang terakhir kalinya, ‘Aku hamil’ sebelum kalian menutup mata. Dua kata itu saja, kenapa kalian sudah pergi terlebih dahulu? Mengapa? Begitu susahkah untuk menungguku mengucapkan dua kata sementara sudah kukendalikan egoku yang sesungguhnya ingin bercerita tentang banyak hal pada kalian, betapa bahagianya aku saat ini dengan Min-Ho yang menjaga dan menyanyangiku serta bayi kami.

Hatiku mengerut, ditusuk paku berkali-kali, entah apa yang mampu menghentikan rasa sakit ini. Jurang keterpurukan itu menjadi sangat mengerikan dalam waktu beberapa hari saja. Tiba-tiba hidup ini menjadi sangat buruk. Seperti ketika kau mengunyah obat putih, rasa pahit itu menyebar, membuat keningmu berkerut tidak suka. Itulah rasa kehidupanku yang sekarang.

Sekarang, berapa ribu kalipun air mata menetes, aku tak bisa merasa lebih baik. Berapa ribu kalipun aku tersenyum, aku tak bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Berapa ribu jampun yang kutambahkan untuk lembur, aku tak bisa berhenti memikirkan kalian. Berapa banyakpun kalimat hiburan, aku tak bisa menghilangkan pahitnya kenyataan. Sungguh, aku bertanya pada Tuhan, kenapa tidak aku mati saja?

Apakah aku salah untuk marah? Apakah aku salah untuk sedih? Apakah aku salah untuk melampiaskan semua emosiku pada orang-orang tak bersalah? Apakah aku salah untuk menjadi Seo Hye-Sun yang baru? Aku menangis, putus asa.

Ketika detak jantung kecil  yang berada di dalam perutku memperingati ,’Ibu jangan menangis.’ atau kau akan membunuh janin kecil ini perlahan-lahan dalam keterpurukan.

Sebentar lagi aku akan menjadi ibu. Tiba-tiba saja aku merasa ia sedang memperingatiku. Memperingati, akan keberadaan Jeong Min-Ho. Memperingati, akan keberadaan janin ini. Memperingati, aku sesungguhnya telah memiliki keluarga kecil yang baru.


**

Sel-sel dalam otakku berputar cepat mencari jalan keluar atas pertanyaan mengapa aku melakukan itu semua pada Min-Ho?

Entah. Seperti ada emosi asing yang tiba-tiba bergejolak dalam tubuhku akhir-akhir ini. Begitu menguasai dan mengikat perasaanku sampai aku tak bisa mengendalikan setitik amarahpun yang terlihat di depan mata.

Siapapun dapat menjadi sasaran. Tidak peduli, bahkan Min-Ho juga.

Apa yang terjadi?

Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri tapi tidak menemukan pencerahan yang berarti. Bagaimana mungkin, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada diriku sendiri?

Aku menghela nafas dan duduk di meja rias kamar dalam keremangan malam. Memandangi tubuh mungilku yang semakin kurus walaupun aku tengah hamil, seperti orang busung lapar mengerikan. Betapa kejadian belakangan ini telah membuatku rapuh lahir batin selayaknya bubuk kapur yang akan menghilang jika ditiup angin.

“Seo Hye-Sun,” aku memukul pelan pipiku sambil berbisik.

Kedua mataku menutup. Tidak tahu apa yang harus dilakukan.

“Apa yang terjadi? Apa? Apa?” gertakku memberontak pada diri sendiri karena kekangan emosi yang begitu kuat, begitu menguasai, tak segan membuatku hilang kendali kapanpun dan dengan siapapun. Aku bahkan tak segan marah-marah pada diri sendiri. Sial.

**

Aku terdiam sejenak, masih di tempat yang sama, Sudah 15 menit berlalu. Menyadari kalau Min-Ho belum masuk kedalam kamar, aku mendengus resah.

Ia pasti sakit hati kan? Dan sedang menungguku untuk sadar dan meminta maaf padanya. Tapi apa yang harus kulakukan?

Setiap kali datang saat seperti ini, dimana aku harus menghiburnya, otakku selalu bekerja keras untuk memberikan yang terbaik pada Min-Ho. Jujur, aku bukanlah wanita cemerlang yang dengan gampang mempunyai ide ‘wah’ untuk menghiburnya. Butuh waktu berjam-jam untuk ‘bertapa’ sebelum menghiburnya.

Tapi malam ini, seakan keiinginan Min-Ho jelas mengecap pada hatiku, aku menyadari apa yang ia inginkan.

Yah, aku sadar betul, dari pandangan mata terdalamnya, ia menginginkan Seo Hye-Sun yang lama.

**

Tubuhku menggigil kedinginan, tak seharusnya aku mandi dan keramas malam-malam. Namun bau ‘kantor’ yang menempel pada setiap jengkal diriku tidak akan membuat Min-Ho terpesona.

Rambutku panjang, terkulai lemas menyetuh punggung. Ujung-ujungnya yang basah terasa menggelitik karena blazer sekarang diganti dengan gaun putih berbenang sutra, yang membiarkan sebagian punggungku terbuka tanpa balutan. Gaun pemberian Min-Ho dulu, yang tidak pernah kupakai, malah kuprotes karena terlalu ‘terbuka’, bagian bawahnya saja bahkan hanya beberapa centi menutupi pakaian dalamku. Heran, rancangan siapa ini, kenapa tidak sekalian telanjang untuk menghemat uang daripada membeli gaun kekurangan benang yang menutupi sebagian tubuhpun tidak mampu. Bukan, aku memang bukan tipe wanita yang senang mengenakan pakaian yang mengumbar aura, ini menyebalkan sungguh. Tapi demi menebus kesalahan, akhirnya kupakai juga. Aku toh tidak bisa malu lagi, ia kan suamiku, dan Min-Ho telah melihat dengan jelas setiap bagian dari tubuhku. Jadi seharusnya semua baik-baik saja.

Helaan nafasku terdengar berat. Perlahan kusisir rambut panjangku sampai ke ujung-ujung sambil mengarahkan hair-dryer padanya. Mataku menatap seluruh tubuhku di kaca rias. Lebih baik daripada yang tadi. Tapi tidak kalah mengerikan.

Kulitku putih, terlalu putih pucat seperti mayat juga terkesan dingin. Bibirku mengerucut, dengan warna yang tidak merah sepenuhnya, didominasi sedikit ungu, menjijikan. Bagian perutku, menonjol seperti babi, pada bagian lain seperti tulang dibalut kulit. Sempurna, kenapa tidak mengkulitiku saja supaya aku berubah menjadi monster menyeramkan. Sialan.

**

Belakang taman, tadi ia menggungkit tentang taman belakang. Pikirku ketika tidak menemukan batang hidung Min-Ho di ruang tamu.

Aku berlari kecil melewati dapur, aroma masakan tercium kuat disana, sebelum pada akhirnya aku berdiri diam di depan pintu taman yang transparan.

Disitulah Min-Ho. Di taman kami, yang sekarang disulap menjadi sedemikian indah. Ia sedang bermain ayunan yang kedua talinya diikatkan pada pohon sambil menatap polos bulan malam. Dikelilingi buket-buket bunga, ratusan bunga indah, warna-warni.

“Jeong Min-Ho,” panggilku pelan membuka pintu geser transparan.

Ia hanya melambaikan satu tangan, tanpa menatapku, melainkan terus melihat bulan malam. Tersenyum lebar.

Semerbak bunga yang menutupi sebagian areal taman membuatku terlena. Aku berjalan menghampiri Min-Ho dan berdiri di hadapannya dengan kaki telanjang.

“Apa yang kau lihat?” tanyaku, memperhatikan wajah langit malam, tapi tidak menemukan apapun yang menarik. Tidak ada bintang, hanya ada bulan yang bersandar pada awan gelap.

“Tidak. Hanya berandai-andai…, ternyata benar,” gumamnya, masih dengan wajah cerah dan senyuman lebar, ia mengayun semakin cepat.

“Andai-andai?” tanyaku penasaran. Min-Ho adalah orang yang jarang berandai-andai. Ia keras, tak percaya pada suatu imajinasi dan andai-andai belaka. Menurutnya, tidak ada imajinasi atau andai, yang ada hanya kenyataan dan hidup.

“Ya. Sesuatu mengikat perasaanku untuk menunggumu, Hye-Sun. Lalu aku melihat ke langit malam, tidak ada bintang. Dulu, kau bilang, kalau orang yang kita sayang tidak berada di sekitar kita, meninggalkan kita, ia akan menjadi bintang di langit kan?”

Aku menggaguk pelan. Itu apa yang disampaikan orang tuaku ketika aku masih kecil.

“Lihat, malam ini tidak ada bintang sama sekali. Ketika kau memutuskan untuk meninggalkanku sendiri tadi padahal aku sudah memohon padamu untuk tinggal, hatiku memberi tahu, lihatlah bintang, Hye-Sun akan menjadi salah satu bintang dilangit malam ini karena ia telah meninggalkanmu tapi tetap mengawasimu dari langit. Aku tersadar dan terus menunggu, tidak ada bintang, berarti…,”

“Berarti apa?”

“Kau akan menghampiriku sendiri. Kau tidak akan meninggalkanku.”

Aku tertegun. Ia memiliki perasaan yang kuat.

“Min-Ho, aku minta ma..,”

“Shhh!” Min-Ho memotong permintaan maafku dan menepuk-nepuk pahanya, mengisyaratkan aku untuk duduk dalam pangkuannya.

“Ini benar-benar kuat?” tanyaku ragu., mengeriyitkan alis dalam-dalam.

“Jangan meragukan, Min-Hee yang menjadi asistenku membuat ayunan ini,” kata Min-Ho yakin, sedikit nyengir nakal. Mulutku membentuk huruf O, Min-Hee adalah perempuan yang andal menyangkut hal-hal seperti ini jadi aku memutuskan untuk menghampiri Min-Ho dan duduk diam di pangkuannya dengan keyakinan kalau tali ayunan ini tidak akan copot jika diduduki perut babi sepertiku.

“Ini gaun yang kubeli dulu, bagus kau memakainya kali ini. Kau cantik sekali dengan gaun ini, sungguh, tapi aku harus jujur kau terasa seperti bulu,” gumam Min-Ho, melingkarkan kedua tangannya pada perutku lalu mulai menggoyangkan lagi ayunannya. Berada dalam pangkuan Min-Ho membuat rasa nyaman meluap-luap mengisi perasaanku, rasa yang kurindukan, yang menyejukkan hati.

“Maksudnya?”

“Ringan. Beratmu itu, kau makan tidak sih?” protes Min-Ho.

“Jawabnnya dua. Antara ya dan tidak, aku tidak bisa benar-benar memutuskan,” jawabku mengangkat bahu.

“Jangan berbohong!” umpat Min-Ho.

Aku menghela nafas panjang,” Aku tidak ada napsu. Tidak bisa dipaksakan.”

Min-Ho berhenti mengayun, lalu ia membawa mukaku untuk menatapnya,”Kau ini sedang hamil, araso?!Pokoknya besok kita harus ke dokter kandungan untuk memastikan tidak ada masalah apapun pada kehamilanmu.”

Aku mengangguk, lalu menyandarkan kepalaku yang lelah pada dada bidangnya.

“Maaf. Maaf.” bisikku.

“Kenapa?”

“Maaf, untuk semuanya.”

Min-Ho terdiam. Lalu kurasakan pelukannya semakin erat, tak bisa kutahan air mata yang mulai mengaliri pipiku.

“Shhshh..Jangan begitu. Tidak ada yang salah dan perlu dimaafkan disini jadi, jangan menangis.” Kata Min-Ho dengan perlahan, mengelus rambutku, mengusap kedua pipiku dari belakang. “Aku tetap sayang kamu, tetap cinta kamu, kalau suatu saatpun kamu meninggalkanku, kurasa aku tetap tak mampu meninggalkanmu. Mungkin akan ada banyak masalah, mungkin kau akan menemui banyak rasa kehilangan dalam hidup ini, tapi ingat satu hal, kau takkan pernah kehilangan cintaku. Sungguh Hye-Sun, camkan itu.”

Aku tertawa lemas, dalam hati rasa syukur bertubi-tubi meliputiku. Bibirku tak bisa berbicara, namun hatiku berkata-kata dalam kesungguhan. Lelaki ini…, ia terlalu baik, dan cintanya, terlalu besar untuk kuterka. Entah berapa banyak kata terima kasih yang kuucap dalam hati untuknya. Saat itu aku berjanji, ada masalah apapun yang mencoba untuk memisahkan kami, aku akan selalu menyambut pegangan erat tangannya. Aku memilih untuk…, kehilangan segalanya. Kau tahu, mungkin segala sesuatu bisa kubeli dengan uang, dan aku mampu untuk membelinya, tapi cinta itu, aku tak sanggup, berapa banyak uang yang harus kukeluarkan untuk membayar segenap cinta di hati? Perasaanku tertawa, karena jawabannya adalah mustahil suatu hati dapat dibeli oleh orang terkaya sekalipun. Cinta hanyalah cinta, bukan materi, maka kau tidak bisa membelinya dengan uang, cinta itu anugerah terbesar yang dirasakan seseorang, hadiah yang indah dari Tuhan.

Aku menghela nafas lega, ya, aku merasa lega pada akhirnya. Angin malam terasa bertambah kencang ketika ayunan itu menopang tubuh kami ke belakang, ke depan. Sejuk sekali rasanya.

“Sejuk ya…,” kataku.

Min-Ho terkekeh, lalu ia melepas jaketnya dan membungkuskannya pada badanku.

“Begini lebih baik?” Tanya Min-Ho.

Aku setengah menggeleng. “Tidak juga.”

“Segitu dinginkah?” Tanya Min-Ho lagi, mengeriyitkan alis.

“Bukan. Hatiku yang merasa sejuk, sebenarnya.” Tawaku.

“Aish! Kau…,” Min-Ho menjitak pelan kepalaku. “Tapi, baguslah…”

Aku tersenyum, sungguh-sungguh tersenyum. Kebahagiaan itu menghinggapiku pada akhirnya.

“Senyuman itu,” bisik Min-Ho dengan mata berbinar.

Aku tak berkata-kata tetapi terus tersenyum. Suatu senyuman yang entah kenapa sangat susah kuakhiri, karena perasaan bahagia yang sudah lama menunggu di balik pintu, mengendap dan akhirnya keluar juga sekarang.

“Senyuman Putriku. Putri Seo Hye-Sun yang hilang, kini telah kembali,” bisiknya lagi, perlahan Min-Ho menyandarkan kepalanya pada satu bahuku, ia menutup mata.

“Hahh… Malam yang indah.” Celotehku ceria. Lalu aku mengadahkan kepalaku menatap langit. Tanpa sadar kapan, tapi dua bintang sudah berada disana, bersinar sangat terang. Mungkinkan itu Aboji dan Omoni yang tersenyum melihatku dan Min-Ho?

“Ya. Aku telah kembali Min-Ho.”-END CHAPTER
"One of my top escapades is to dive through this infinite world of imagination." - Me

Just tweeting...

Offline minyounglee

  • Admin
  • Junior
  • *****
  • Posts: 165
    • View Profile
Re: HEAVEN - Chapter Eight Update 9/6/2010
« Reply #140 on: June 09, 2010, 09:27:50 am »
mianhe kalau lama updatenya. gumawo untuk lulu yang barusan ingetin miny dan semua yang masih menunggu.
"One of my top escapades is to dive through this infinite world of imagination." - Me

Just tweeting...

fara

  • Guest
Re: HEAVEN - Chapter Eight Update 9/6/2010
« Reply #141 on: June 09, 2010, 09:38:37 am »
thanks ya miny udh di update [flowers] [flowers] ...
Senangnya hyesun udh kembali baik ma minho :D :D

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
Re: HEAVEN - Chapter Eight Update 9/6/2010
« Reply #142 on: June 09, 2010, 09:41:29 am »
Hua miny update jg akhrna?...apa end chp min?... Yah sdih d dah d'tamatin m miny.huhu, sweet n puitis bgt ni chp min.. Bkal da yg bru g kra2?
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline minyounglee

  • Admin
  • Junior
  • *****
  • Posts: 165
    • View Profile
Re: HEAVEN - Chapter Eight Update 9/6/2010
« Reply #143 on: June 09, 2010, 09:42:11 am »
memang ini kayak end chapter ya  [sweat]
"One of my top escapades is to dive through this infinite world of imagination." - Me

Just tweeting...

Offline minyounglee

  • Admin
  • Junior
  • *****
  • Posts: 165
    • View Profile
Re: HEAVEN - Chapter Eight Update 9/6/2010
« Reply #144 on: June 09, 2010, 09:43:09 am »
mksdnya ini blm tamat sih, tp bisa ga ya miny tamatin smp sini *ngeles  [bav]
"One of my top escapades is to dive through this infinite world of imagination." - Me

Just tweeting...

Offline Echyn MinHo LeeSun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 635
  • gaya ala RATHOT + CASSAMINONG.. haha
  • Location: manado
    • View Profile
Re: HEAVEN - Chapter Eight Update 9/6/2010
« Reply #145 on: June 09, 2010, 04:57:44 pm »
mksdnya ini blm tamat sih, tp bisa ga ya miny tamatin smp sini *ngeles  [bav]

yah jgn d0nk Min`
kya ng'gntUng critax.
LnjUtin lg d0nk. SatU chapter aj.
Crita in trlalu indah, mso endingx gni aj!!.. :-(
Yah pleaCEeEe o.O
http://i54.tinypic.com/2w30vac.jpg[/img]

favorite couple
MinSun
KhunToria :D [/center]

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: HEAVEN - Chapter Eight Update 9/6/2010
« Reply #146 on: June 09, 2010, 05:04:59 pm »
mksdnya ini blm tamat sih, tp bisa ga ya miny tamatin smp sini *ngeles  [bav]

yah jgn d0nk Min`
kya ng'gntUng critax.
LnjUtin lg d0nk. SatU chapter aj.
Crita in trlalu indah, mso endingx gni aj!!.. :-(
Yah pleaCEeEe o.O


setuju ma sist echyn...jangan ditamatin dulu...masa' baru di updet setelah sekian lama...udah mau tamatin aja... jangn dulu dong say...

cerita ini bagus banget...

jangan ditamatin dulu... ditambahin gitu ampe anaknya lahir...

 [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry]


Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Re: HEAVEN - Chapter Eight Update 9/6/2010
« Reply #147 on: June 09, 2010, 07:42:50 pm »
wew udah update [smiley-gen013] [smiley-gen013] thanks bleh [hug] [cheekkiss]

syukur de hyesun udah baekan sm mino ga marah2 lagi n dingin kyk kulkas ke mino [hmpfh] [hmpfh]

IDEMMMM sm smua nya jgn ditamatin dulu ye [ohmy] [ohmy] nanggung [nono] [nono]


ADAM COUPLE SELCA

Offline neiya

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1006
  • Location: depoook
    • View Profile
Re: HEAVEN - Chapter Eight Update 9/6/2010
« Reply #148 on: June 09, 2010, 07:46:33 pm »
??? aku suka chapter iniii romantiiiisss???

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
Re: HEAVEN - Chapter Eight Update 9/6/2010
« Reply #149 on: June 09, 2010, 10:54:00 pm »
waduh bleh mosok mo ditamatin dimari seh  [head break] [head break] [head break] [hmff] lha wong hye sun dah pake baju tipis melambai-lambai begono mosok gak ono lanjutane  [on] [on] [on] [hmpfh]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^