---Before Us---
-Lee Min Ho
-Goo Hye Sun
-Kim Joon
-Lee Min Jung
-Jung Il-Woo
This Beginning, But . .
“Nah sekarang mempelai wanitanya sudah cantik”
Ucapan itu, perlahan membuatku membuka kedua mata kembali dari kegelapan yang sejenak aku rasakan tadi. Biar pun samar, dapat kulihat diri ini terpatut di pantulan cermin dengan jelas. Kenapa masih begini? Kenapa semuanya tak berubah? Semua masih hampa . . . Semua terlalu berbeda untukku. Seperti biasa-- ruang terdalam dari hatiku seakan tak menghendakiku untuk dapat merasakan kebahagiaan yang akan menanti hari ini. Karena aku tahu . . . Masih ada yang tersisa di dalam ruang tersebut, Ada Dia-- yang singgah disana.
“Kyaaaaa Hye Sun-aa!”
Kini kuarahkan pandangan ke balik pintu kokoh itu. Min Jung-- sahabatku, menjulang disana, berdiri dengan senyum cantiknya. Oh, bahkan ia tersenyum selebar itu hanya untuk menyambut kebahagiaanku? Tapi . . ., kenapa bibir ini terkatup? Tak mau bergerak sedikit pun? Aku benar-benar tidak merasakan sesuatu yang dapat membuatku bahagia, tidak sama sekali.
“Aigo! Cantik sekali” Sambutnya menghampiriku dengan mata berbinar seperti ingin menerkam sesuatu. Ia ikut metatut diri di cermin. Pandangan kami saling bertemu dalam pantulan kaca besar tersebut. Baiklah, sekarang Min Jung mulai menatapku dengan alis menyatu. Aku tahu, ia mulai menyadari raut wajahku yang tidak bersemangat sama sekali.
“Hye Sun-aa” Segera kubuat senyuman secerah mungkin di hadapannya. Aku menggaruk tengkuk, canggung. Selalu seperti ini-- berusaha baik-baik saja di depan penglihatannya.
“Ini tidak main-main--” Min Jung menepuk kedua bahuku yang terbuka. Ia terlalu dalam menusuk bola mata ini. Membuatku tak mampu memberi pergerakan apapun pada tubuhku.
“Hari ini adalah Hari Pernikahanmu dengan Joon-Oppa. Jangan memikirkan Min--”
“Cukup Min Jung-aa” Sambarku cepat, saat aku tahu Ia akan melanjutkan kalimat itu kearah mana. Sayatan hatiku kembali muncul. Tuhan, kenapa engkau selalu menciptakan rasa ini ketika aku mendengar seseorang hendak menyebut namanya? Hatiku telah meraung perih, memintamu untuk menghapus dirinya dalam ingatan hidupku. Tapi mengapa sesulit ini?
“Mianhe, Hye Sun. Aku--” Min Jung tak mampu melanjutkan ucapannya saat melihatku membenamkan wajah ke arah kaki jenjangku yang tersemat dengan High Heels putih. Ia tahu-- aku tak cukup kuat untuk mendengar nama itu lagi.
“Kita pernah membicarakan ini, dan aku tak ingin itu terulang kembali” Jelasku pada Min Jung. Ku lihat penata rias yang sejak tadi mengawasi kami dengan pandangannya, kini membungkukan badan kearahku. Aku tersenyum sungkan untuk menuntunnya menghilang dari ruangan itu. Sampai Min Jung mendelik lagi ke arahku.
“Tapi-- Sampai kapan kau mau begini, Hye Sun. Sampai kapan perasaan menyiksakan diri itu akan terus kau bawa? Bahkan di detik terakhir kau akan di persunting, perasaan itu terus menghatuimu, bukan? Kau masih mencintainya!” Intonasi suara keras itu kini bermain-main dalam otakku. Membuatku membeku, bagai di suguhi ribuan rajam yang menusuk tubuh. Sejak kapan Min Jung jadi sekeras kepala seperti ini? Dan . . ., membuatku kembali mengingatnya-- Ingatanku akan sosok Min Ho
Opening Memories
Bel Shinwa High School berbunyi nyaring, tepat melewati gendang telingaku hingga berdengung karena saking kerasnya bunyi yang tersemat pada indera pendengaranku ini. Ah sial! Posisi kepalaku yang sejak tadi bertumpu di atas meja belajar terlalu nikmat untuk di akhiri. Aku mengulat nyaris membuat Min Jung-- yang duduk di barisan paling depan menganga lebar, juga beberapa murid yang masih setia berada di ruangan membosankan ini setelah pelajaran Sejarah berakhir.
“Aish! Ngantuk” Desah ku panjang sambil menguap setelahnya.
“Yya Hye Sun-aa!” Aku tahu jeritan histeris siapa itu. Dengan gerakan malas, ku putar kepala ini menuju ke arah Min Jung. Aku memberi tampang jangan-merutuk-akan-kemalasan-ku kepadanya.
“Kau tidur selama pelajaran Songsaengnim ya?” Tanyanya penuh selidik, membuatku semakin malas untuk menjawab. Aku hanya mengangguk kecil seraya merampas ransel merahku dengan sembarangan.
“Yaish kau ini!? Memang apa yang kau lakukan semalaman, sampai harus tertidur saat pelajaran tadi?” Benar Bukan. Sudah ku duga, kebawelannya akan merajai pendengaranku lagi.
“Nothing” Jawaban singkatku akhirnya berkumandang untuk membuat Min Jung tak berkutik lagi. Aku tersenyum simpul lalu segera beranjak dari kursi ku. “Ayo pulang” Ajakku pada Min Jung yang masih mengercutkan bibirnya pertanda bahwa ia sedang kesal kepadaku.
“Kau itu terlalu menyepelekan semuanya” Lagak bijaknya semakin membuatku mendecak sedikit. Senyum sinis ku buat sehingga ia seperti akan meletup jika tidak di akhiri.
“Tidak juga” Balasku cepat. “Jika ada hal yang bisa membuat diriku merasa bersyukur, untuk apa aku menyepelekannya?”
“Kadang aku ingin mengetuk kepala kecilmu itu dengan kayu, Hye Sun-aa” Seringain Min Jung sedapat mungkin membuatku tak berkutik. Namun, jangan panggil aku Hye Sun jika tak dapat membuatnya membatu dengan wajah menahan amarah.
“Kau punya kesempatan banyak untuk itu” Senyum singkat ku arahkan, membuat Min Jung membulatkan sepasang penglihatannya lebar-lebar ke arahku.
***
“Min Ho”
Pandanganku teralih akan suara lantang yang terdengar keras dari koridor. Dapat kulihat pemuda dengan warna rambut yang di cat coklat melangkah tanpa memedulikan panggilan yang sepertinya menyuarakkan namanya. Ia tiba di hadapan ku dan Min Jung yang nampak berdiam memperhatikannya sejak tadi. Dan, ada apa dengan mata ini? Kenapa aku membulatkannya hanya untuk melihat objek seperti itu. Dia tampan. Aku mengakui itu. Penampilannya sebagai daya tarik untuk menyita semua perhatianku.
“Goo Hye Sun?” Dia tahu namaku? Astaga, benarkah itu? Aku semakin kaku. Perlahan namun pasti aku mengagguk sebagai pertanda mewakili jawabannya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia segera menyambar pergelangan tanganku dengan kuat. Menyeret tubuh ini hingga berjalan tertatih mengikuti langkah panjangnya.
“Hei! Lepaskan” Raungku tak senang. Apa-apaan ini! Pemuda gila! Kulayangankan tatapan meminta bantuan siaga pada Min Jung. Tapi, Argh! Wajah itu malah semakin asyik terbawa pada ketampanan pemuda bengis ini. Huh, dasar tak bisa di andalkan.
Belum selesai siksaan yang ku dapat lewat cengkraman tangan itu. Ia memaksa tubuh ini menaiki anak tangga satu persatu. Oh, what the hell! Sebenarnya, apa yang ia inginkan?
“Apa yang kau lakukan!?” Tanyaku yang sudah tidak setenang tadi. Alih-alih menjawab pertanyaan. Ia hanya melirikku sekilas, lalu semakin menguatkan cengkraman tangannya.
***
Atap sekolah? Untuk apa ia membawaku kesini? Berbagai pikiran negatif telah menyeruak dan memaksa raut wajahku untuk menciptakan ekspresi sepanik mungkin. Seringai kecilnya menyudutkan ku, membuatku semakin ingin lari dari tempat ini. Bola mata itu menatapku sampai lekat. Mengunci pandanganku agar tak teralihkan oleh apa pun dari dirinya. Jarak di antara kami begitu dekat. Dan, kenapa aku lupa kalau dia itu sangat tampan?
“Dengar karena aku tidak akan mengulang untuk kedua kalinya” Wajah angkuhnya menghias. Aku dapat melihatnya jelas, dan itu menjijikan.
“Apa!?” Dengan malas dan berat hati, aku membalas ucapannya.
“Kau adalah kekasihku dan itu berlaku mulai saat ini” Lantangnya keras. Membuatku tak habis percaya akan kegilaan yang ia buat untuk kesekian kali.
“Mwo!?” Jeritku dengan perasaan kesal. Kenapa semuanya begitu mudah untuknya!?
“Aku tidak ingin mengulangnya”
“Yya! Apa kau tidak punya cara yang lebih sopan dari ini!?” Ucapku setengah menjerit.
“Pedulimu?”
“Kau benar-benar gila” Sudah cukup! Ini semua harus di hentikan. Aku segera menjauh dari hadapannya. Mengayunkan sepasang kaki jenjangku untuk keluar dari ruangan sunyi ini. Mimpi apa aku semalam? Menjalani kejadian sena'as ini ternyata menguras banyak tenagaku.
“Tunggu--” Dan kenapa sekarang langkah ini terlalu berat. Aku ingin merangkak, pergi sejauh mungkin. Namun, suara itu seolah mengambil alih akan semua pergerakan yang kubuat. Oh Hye Sun-aa, kenapa jadi sepengecut ini! Tubuh di bagian belakang ku kini menghangat. Semua menjadi gelap dalam penerawanganku. Sebuah kungkungan tangan melingkari pinggul ramping ku. Dia . . .
“Selayaknya kau harus mengucapkan salam pada kekasihmu ini” Mengapa semua nampak sesunyi ini? Suara berat itu . . . Merangkak dalam pendengaranku dengan jelas. Genggaman tangan di sela jemari ku menguat. Hembusan nafas mengalun, menyebab kan gemuruh dalam dada berdetak kuat. Apa ini?
***
Selepas kejadian itu. Semua yang ada pada diri ku berbeda. Aku bisa kuat dan tegar tapi tidak di hadapannya. Entahlah, Min Ho selalu merasuk ke dalam pikiranku tanpa permisi. Ia cuek dan kaku, tapi mengapa selalu menarik perhatianku? Banyak jutaan pertanyaan yang ku siapkan untuknya, namun keadaan kami selalu sama-- seadanya dan sewajarnya.
Bahkan, saat kita bersama, tak ada gelak tawa mau pun kesedihan. Datar. Semua yang kami jalani seperti mengambang di atas awan. Tak ada kepastian apa pun. Tidak ada yang ingin memulai untuk suatu perubahan yang baru. Seperti saat ini.
“Aku latihan judo saat pulang jam sekolah nanti” Gumamnya. Ia berkata tanpa menatap sedikit pun. Selalu sama—ia tak pernah menganggap segalanya serius. Semua terlalu santai untuknya. Sampai Min Jung menyuruhku untuk menghentikan kegiatan tidak bermanfaat ini, aku masih enggan beranjak. Ada yang berbeda . . ., Aku tahu perasaanku sudah tidak sama lagi seperti dahulu.
“Terserah saja” Jawaban singkat ku tuai dalam intonasi suara yang tak berniat keluar dari bibirku. Aku terbujur kaku memandang tepian danau dengan helaan nafas. Gelagat Min Ho seperti apa, aku sudah tak peduli lagi. Hari ini terlalu banyak rutinitas yang ku jalani, dan semuanya menguras tenaga.
“Kau Marah?” Keterkejutanku merambah naik bersama aliran darah. Pandanganku menyemat saat mengetahui jarak Min ho sudah sedekat ini dengan tubuhku.
“Ap—apa?” Tanyaku kikuk.
“Kau Marah karena aku harus latihan Judo?” Jelasnya padaku lagi. Kali pertama bagi ku melihat sepasang mata tajam itu berubah sendu. Oh tuhan, benarkah ini Lee Min ho yang sekeras patung dewa Yunani itu? Ia benar-benar berbeda
“Hye Sun—“
Lamunanku buyar, ia memanggil namaku walau pun samar. Bangku panjang yang berada di taman sekolah kini hanya di duduki oleh kami berdua. Keadaan taman juga sudah tidak seramai tadi—seperti saat istirahat. Angin semilir menerpa kami secara bersamaan. Min Ho terdiam, menatapku pekat tanpa jarak. Tangannya mulai mengunci bahu ringkih ku kuat-kuat. Perasaan apa ini? Kehangatan serta detakan jantungku tergambar jelas. Membalas tatapan Min Ho, bagai menghancurkan fungsi saraf yang bekerja di dalam otak ku. Ia mendekat, apa yang harus aku lakukan?
“Aku lupa—“ Bisiknya samar. “Kau bisa melumpuhkan ku dengan kecantikanmu ini” Lekukan jemari tangannya mulai menjamah raut wajah ku. Ia mulai membelai halus bibir bagian bawahku dengan ibu jarinya. Dan, ada apa dengan diriku? Mengapa mata ini terpejam begitu rapat, seolah menikmati perlakuan yang akan ia berikan untukku.
“Hye Sun” Panggilnya perlahan, aku mulai membuka kedua mata kembali. Dapat kulihat senyum tipisnya menyambut penglihatanku sejenak. Wajahku di bingkainya dengan lembut. Oh, mengapa setiap sentuhannya terasa selembut ini?
“Ne?”
“Maukah kau terus berada di sisiku seperti ini?” Wajahnya mulai kaku seperti sediakala. Membuatku terperangah tak mengerti. Kilatan di matanya pun mampu menyebabkanku menahan nafas. Ada apa dengannya?
“A—Aku” Yya Hye Sun-aa, kenapa harus segagap ini.
“Katakan sesuatu, Hye Sun” Desaknya Nampak tak merelakan akan keterbungkamanku. Ia mulai menusuk sepasang mata ini hingga tak mampu berpaling. Memandangku lekat-lekat, layaknya buruan yang berharga tinggi.
“Aku tidak tahu—“ Jawabku dengan gelengan keras. “Aku tidak Tahu, Min Ho-ssi. Hubungan kita seperti apa. . ., Aku tidak tahu” Jelasku lagi. Ya, semuanya hanya semu. Ku yakini apa yang Min Ho inginkan hanyalah bersifat sementara saat ini.
Ia hendak meninggalkanku. Min Ho beranjak dari tempatnya tanpa mengucapkan apa pun. Ku tatap pekat punggung tegapnya yang mulai menjauh. Maaf kan aku, jika saja kau mampu untuk lebih berterus terang atas apa yang kau rasakan terhadapku . . ., terhadap perasaan ini, mungkin aku tak akan memberikan jawaban seperti itu. Aku akan tetap tinggal, Min Ho-aa. Aku akan berada disini jika semua tidak sulit.
I am not Happy with Him
Suara detak langkah tegap itu samar-samar dapat ku dengar. Handle pintu yang dibuka seseorang, menghancurkan kontak mata yang tercipta di antara ku dan Min Jung. Kulihat disana, Joon berdiri dengan tuxedo hitamnya. Ia Nampak menawan, tersenyum memikat dan memperlihatkannya hanya untukku. Joon, Maafkan aku.
“Hye Sun-aa”
Ia berjalan ke arahku. Mengungkung tubuh mungil ini dari belakang. Kami saling mematut diri di hadapan cermin yang memantul panjang. Ia nampak bahagia--bahkan lebih bahagia dari kebersamaan kami yang lalu.
“Kau sangat cantik . . ., sangat cantik baby” Ucapan itu semakin membawa ku dalam kabut gelap. Semua tak bisa ku maknai dengan baik. Oh tuhan, ganjalan ini . . ., kenapa tak pernah kau melepaskannya.
“Baby, kau baik-baik saja? Kau sakit?” Tubuhku segera di tujukkan cepat ke arahnya. Joon merubah raut wajah menjadi panik akan kemurunganku tadi.
“Anhiyo--” Aku mencoba menepis halus jemari tangannya dari raut wajahku. “Aku baik-baik saja” Sungguh, dapatkah aku bertahan setelah ini?
“Joungmal, Baby? Kau yakin tidak apa-apa?” Ulangnya lebih pasti.
“Ne. Aku baik-baik saja” Senyuman palsu itu kubuat lagi. Ku buat serapih mungkin.
“Joon-Oppa” Panggilan Min Jung mampu membuat Joon mengalihkan pandangannya dari ku.
“Kau tahu kan acaranya akan dimulai lima belas menit lagi. Dan tidak seharusnya kau disini, Huh” Timpal suara nyaring itu dengan nada kesal. Min Jung menyuguhkan tampang geramnya dan membuat Joon membuka tawa.
“Ha . . . Ha . . . Ha, Yya seharusnya kau memberikan ucapan selamat, bukan menceramahiku seperti ini” Kekehnya sambil berdecak pinggang.
“Yaishhh, cepat pergi Oppa. Pendeta akan mencarimu segera” Min Jung secara paksa menarik pergelangan tangan Joon. Sebenarnya untuk apa ia melakukan itu? Aneh
“Yya Min Jung-aa! Aaahh kau benar-benar menyebalkan. Baby, tolong aku . . .” Itulah ucapan terakhir yang ku dengar sebelum pintu ruangan benar-benar di tutup Min Jung dengan rapat.
“Sekarang saatnya, Hye Sun-aa” Suara Min Jung menggema keras. Ia melangkah pasti saeraya terus memberikan pandangan menusuknya terhadapku. Apa-apaan ini?
“Mwoga?”
“Penjelasan untuk semuanya. Keyakinan untuk yang terakhir kali” Ucapnya mengawasiku lewat tatapan tajam. Raut wajah ku di halau sesuatu kekhawatiran yang jelas. Min Jung dapat melihatku hendak mengelak lebih jauh lagi.
“Apa yang harus ku jelaskan, Min Jung-aa? Ini semua sudah lebih jelas— aku memilih Joon” Sergahku mencoba seyakin mungkin di hadapannya. Ku sematkan langkah kaki ku untuk berlalu meninggalkan Min Jung. “Aku ingin keluar dari ruangan ini” Gumam ku tanpa membalikkan badan ke arahnya.
“Kau jahat, Hye Sun!” Suara lantang itu menghentikan segalanya. Aku terbujur kaku menahan agar rintahan perih dalam hati ini tidak berdetak lagi. Jangan, Ku mohon— Hentikan semua ini.
“Sadarkah kau yang membunuh dirimu perlahan-lahan? Kau masih mencintainya, Hye Sun-aa. Cinta mu hanya mampu kau berikan untuk Min Ho”
“Cukup! Hentikan— Jangan pernah kau menyebut namanya, Jangan lagi” Air mata yang ku simpan dengan baik, kini mengalir tak terbendung di raut wajah ku. Isakkan memilukan yang pernah hadir tiga tahun yang lalu, kini merajai dada— bergemuruh tak terkendali. Musnah sudah pertahananku kali ini, perih . . ., semua begitu gelap dan menyakitkan.
“Oh Tuhan, Hye Sun” Suara lemah Min Jung mulai mendekat. Tangannya membantu menopang tubuh ku yang sudah benar-benar tak bertenaga.
“Mianhe, Hye Sun-aa” Ia menangis, Min Jung menangis melihatku tak berdaya seperti ini. “Aku lakukan semua ini karena aku peduli. Ku mohon, jangan seperti ini lagi. Kenyataan dari semua yang kau lalui kini telah hadir Hye Sun-aa, berhenti menyiksa dirimu sendiri” Tuturnya sambil mendekap ku erat.
“Sungguh— sedapat mungkin aku telah mencoba. Aku menerima perpisahan itu, Min Jung-aa. Namun, masih saja angan serta bayangnya mencabik raga ku. Aku sakit— aku tidak baik-baik saja” Tangis ku pecah kembali. Bibir ini terkatup rapat-rapat, menahan perih yang akan menghampiri lagi.
“Aku telah melupakannya, tapi mengapa tuhan seperti tidak mengizinkan? Perasaan ini masih sama— masih membekas dan terlalu kuat untuk aku musnahkan” Jika aku dapat bertukar nyawa agar memori tentang dirinya terhapus, akan aku lakukan. Min Ho-ssi, dapat kah kau merasakan penderitaan yang sama? Terpuruk hanya untuk sesuatu yang tidak pernah pasti di antara kita. Adilkah semua ini untukku?
When It Was Over
Hal terindah adalah ketika liburan musim semi tiba bersama berita pemberitahuan kelulusan yang akan segera di edarkan. Masa-masa di bangku sekolah sebentar lagi akan segera berakhir. Begitu banyak kenangan serta mimpi yang pernah ku lukis disana—Bersama Min Jung, sahabat karibku yang terlalu berlebihan dan pemerhati. Ia mengajarkanku makna pertemanan dan segala bentuk perhatian yang harus di berikan terhadap sesama. Dan juga bersama dia— Pemuda yang mengisi hari-hariku sejak pertengahan semester terakhir. Segala yang kami jalani, itu seperti hitungan stopwatch yang di pegang oleh seorang atlet. Kebersamaan yang kaku dan juga waktu yang singkat, membuat aku dan dirinya terus bertengkar tak karuan dan sama-sama tak peduli dengan urusan yang dilakukan pasangannya masing-masing. Seperti saat ini, sifat acuh tak acuh Min Ho harus membuatku duduk sendiri di taman sekolah yang hampir tak berpenghuni.
“Lama menunggu?” Sebuah suara berat mengalihkan tatapan ku. Sejak kapan Min Ho sudah sedekat ini dengan raut wajah ku. Cupid, mengapa ia harus setampan ini? Sepasang mataku mengerjap ling-lung. Min Ho yang melihat itu hanya memandang dengan alis menyatu.
“Ada apa denganmu?” Tanyanya seraya membuang tatapan, menelusuri pemandangan alam yang tersaji di depan penglihatannya.
“Anhi” Balasku cepat disertai gelengan. Ku ayaunkan sepasang kaki ku dengan lemah di atas bangku kayu ini. helaan nafas ku buat sedalam mungkin. Tak sadar, pipi ku mengembung perlahan, membayangkan bagaimana nanti tingkah bodoh ku di hadapan Min Ho.
“Pulang sekolah tidak ada les matematika lagi kan dengan kawan aneh mu itu?” ‘Kawan Aneh?’ Siapa yang dimaksudnya? Min Jung kah? Aish, bukan dia yang aneh, tapi kau yang aneh! Huh, dia pikir berkepribadian seperti itu apa tidak aneh?
“Ne, Tidak ada pelajaran tambahan untuk hari ini” Jelasku.
“Aku ingin mengajak mu ke suatu tempat” Ucapan itu, spontan saja membuatku berpaling sesegara mungkin ke arahnya. Min Ho hanya membalas sekilas kemudian membuang pandangan lagi. Aish! Kenapa ia harus se-cuek ini disaat rasa penasaran ku mengakar tinggi
“Mwoga?” Ulangku meminta penjelasan.
“Kau tuli ya? Aku berbicara sedekat ini masih tidak jelas?” Sinisnya dengan sudut bibir di naikkan. Membuatku menatap kesal seraya mendengus pelan. Ia menyeringai kecil pertanda bentuk kemenangan atas diriku. Yya! Benar-benar menyebalkan.
“Dasar menyebalkan!” Sekarang dia mau dengar atau tidak, aku benar-benar tidak peduli. Min Ho Nampak mencerna kalimat sangau ku tadi. Sehingga ia menatap ku dengan alis berkerut.
“Mwo? Apa yang kau katakan tadi?” Tuntutnya meminta penjelasan. Aku jadi kikuk sendiri, pandanganku sudah mengabur, tak tahu mau di bawa kemana. Dengan keberanian stadium akhir, aku mulai membuka suara kembali.
“Tidak— Tidak ada” Sangkal ku di sertai gelengan cepat. Min Ho berpandang tak senang dan terus menilik tajam
“Katakan atau akan ku lakukan sesuatu” Ancamnya tak main-main. Ia mulai mendekat dan refleks aku semakin menggeser tubuh untuk menjauh dari postur jangkung tersebut.
“Tidak ada apa-apa. Yaish! Pergi sana” Aku mulai panik. Min Ho tersenyum mengejek melihatnya. Arghhh! Apa yang akan ia lakukan. Wajah ini di bingkainya perlahan. Ia memagut dagu ku dengan seksama, menyebabkan tatapan mata kami saling bertemu. Aku menelan ludah gugup, wajahnya semakin mendekat dan hendak menyentuh bagian hidungku.
“Bagaimana aku akan menyentuhmu jika kau masih terus begini?” Ucapan itu diiringi dengan gelak tawa. Min Ho mendekapku erat, mengelus puncuk kepala ku dengan lembut. Oh tuhan, serasa semua saraf ku tak dapat berfungsi kembali. Bagian dari otakku menegang, merasakan detakan cepat bersama debaran jantung yang bertalu-talu. Benarkah ini cinta? Aku mencintai Min Ho?
“Aku tidak akan pernah menyakitimu— Tidak akan” Kulihat ia menerawang jauh pada langit luas di atas sana. Suhu tubuhnya membuatku bergidik ngilu. Ku beranikan diri untuk menatapnya dalam jarak sedekat ini. Aku ingin melihat keyakinan itu-- keyakinan yang membuatnya mencintaiku
“Joungmal?” Ia membalas tatapan pengharapan ku dengan seulas senyum. Mengapa ia tersenyum? Apa ada yang salah dengan ucapanku?
“Kau berisik sekali” Keluhnya sambil mengacak-acak poni kesayanganku. Membuat ku sedikit berpandang ketus ke arahnya.
“Kenapa kau selalu seenaknya berkata ini-itu terhadapku” Dengusan pelan itu mendampingi perkataanku. Dengan sengaja aku mencoba menjauhkan diri dari Min Ho, membuat pemuda itu semakin terkejut akan sikap jutek yang ku buat hari ini. Ne— biasanya aku hanya bisa diam mendengar ocehan tak jelasnya itu, namun kini aku ingin membalasnya habis-habisan. Huh, aku ini kan pacarnya.
“Karena aku berkuasa atas dirimu dan camkan itu” Jawabnya setenang mungkin— itu yang dapat ku dengar dari intonasi suaranya. Sial! Ucapannya itu terlalu membuatku mati kutu.
“Oh ya, omong-omong—“ Min Ho mulai membuka suara kembali. Membuatku malas untuk bertatap muka lagi dengannya. “Bagaimana rasanya menghabiskan waktu berduan dengan ketua osis yang baru?” Entah firasat ku atau apa, Ku lihat Min Ho mulai mengubah raut wajahnya menjadi sesinis mungkin. Nada bicaranya mulai ketus dan dingin, membuatku ketakutan.
“Ap—Apa?” Tanya ku yang benar-benar tidak mengerti arah ucapannya. Ia tersenyum kecut setelahnya, memutuskan pandangan di antara kami. Sebenarnya ada apa?
“Jung Il-Woo— Brain Master, Ketua Osis unggulan yang jelas ku tahu sudah lama menyukaimu” Ucapan itu mengapa seperti sindiran kecil untukku? Dan menyukaiku? Apa maksudnya itu? Il-Woo Oppa jelas-jelas hanya ku anggap sebagai teman baik.
“Ia hanya teman, Oppa teman baikku” Kilah ku berusaha menghilangkan prasangka buruk yang merayap naik dalam pikiran Min Ho
“Cih— Teman?” Tampang mengejeknya kini membuatku nyaris menggigit bibir bawah ku kuat-kuat. “Jika memang teman, untuk apa ia harus memberi Liontin di hari Sweet-Seventeen mu? Lalu, mengeluh tak karuan karena kau tak ada di sampingnya saat kegiatan studytour berlangsung. Ah— Dan juga ia membingkai Foto mu bersamanya dalam loker sekolah!”
“Min Ho” Aku merenung, mendengar penjelasan Min Ho secara beruntun. Mengapa ia bisa tahu semua yang Il-Woo lakukan untuk ku? Kejadian yang ia ceritakan tadi, bukanlah hal yang baru . . ., itu kejadian silam dan, saat kejadian itu berlangsung, aku belum mengenal Min Ho sama sekali. Mungkinkah?
“Apa!” Ketusnya tak jelas, intonasi suaranya terlalu keras dan agak kasar
“Sebenarnya untuk siapa kemarahan ini di tujukkan? Untuk Il-Woo atau untuk ku?” Ia Nampak membeku mendengar celoteh ku yang begitu lugas dan cepat. Ya, otakku benar-benar kosong sekarang, terawang pikiran serta kata-kata atau apa pun tak ada lagi di sana. Yang hanya ada raut wajah Min Ho dan ucapan bertubinya yang hendak menghakimi ku.
“Aku ingin kau mengundurkan diri dari anggota Osis” Katanya dingin, tanpa merespon pertanyaan ku tadi. Apa yang harus aku lakukan? Ketakutan ku mulai menjelma menjadi hawa yang sangat panas. Aku ragu jika setelah ini Min Ho akan baik-baik saja.
“Baik, jika itu mau mu. Aku akan mengundurkan diri menjadi anggota Osis”
Aku tidak tahu. Benar-benar tidak mengerti akan semua perkataan yang ku lontarkan tadi. Mengapa aku jadi sepatuh ini? Mengapa aku terlalu lemah di hadapannya. Ku tatap Min Ho yang membisu— ia memandangku, mengerjapkan matanya seolah tak mempercayai.
“Ka—Kau benar-benar serius?” Tanyanaya menyakinkan ku. Yaish! Sebenarnya, apa yang ia inginkan?
“Aku sudah melakukan apa yang kau mau jadi tak perlu banyak bicara lagi untuk hal itu” Jawab ku tanpa menengok lagi ke arahnya. Jam berapa ini? Aku lupa kelas Han Songsaengnim akan di mulai setelah istirahat.
“Aku harus pergi” Aku hendak beranjak dari tempat, meninggalkan Min Ho yang masih terpaku sendiri. Dengan segera ku detakkan langkah kaki. Aduh, bisa mati jika guru killer itu tau aku terlambat masuk kelasnya.
“Hye Sun-aa”
Aku menghentikkan pergerakan. Membalikkan tubuh ke asal suara itu. Min Ho berjalan ke arahku? Mwo? Untuk apa? Nafasnya menggebu tak beraturan, dapat ku lihat jelas disana. Ia mulai mendekat dan . . ., tubuh ini di dekapnya erat-erat. Sangat hangat-- ia membawa tubuh ini melayang kembali.
“Gomawo”
Suara lembutnya menggema kembali. Aku tersenyum tipis tanpa sadar. Membalas pelukannya perlahan, Tuhan— Aku mencintainya, aku sangat mencintainya
***
“Yya! Hye Sun-aa, bagaimana kau tidak tahu!? Berita itu sudah menjadi pembicaraan hangat sejak kemarin” Sedapat mungkin aku menahan rasa lelah ku dengan menghela nafas. Mendengar omongan Min Jung membuatku pusing tak karuan. Mengapa ia bisa secerewet ini? Padahal saat jam pelajaran berlangsung, Min Jung hanya diam seperti patung.
“Ya...ya...ya” Respon ku dengan malas, mempercepat langkah ku melewati Min Jung begitu saja.
“Aish Hye Sun-aa, dengarkan cerita ku dulu” Ia berlari kecil melewati gedung pelataran Shinwa. Yaish Min Jung, jika saja kau bukan sahabat terbaikku, sudah ku hempaskan wajah mu yang ingin sekali mengetahui urusan orang itu.
“Min Ho Sunbae”
Min Ho? Seseorang memanggilnya? Jantung ku langsung berdetak cepat ketika nama itu terngiang di pendengaran ku. Pasti ia berada di sekitar sini, aku yakin.
“Sunbae” Suara gadis itu semakin jelas. Aku merasakan suara itu berasal dari arah belakang sana.
“Hye Sun-aa kenapa?” Tanya Min Jung polos usai menghampiriku. Aku terdiam, menoleh ke belakang. Dapat ku lihat dari ke jauhan sosok Min Ho yang tengah berdiri, berhadapan dengan seorang gadis yang berseragam sama seperti ku.
“Kau lihat apa sih?” Min Jung menerawang kesana-kemari, guna melihat objek pengamatan yang aku pandangi.
Awalnya tak ada ganjalan apa pun dalam benak ku— sekali pun menaruh prasangka buruk terhadap gadis itu. Namun, mata ku menjadi menyipit, mengamati secara terperinci raut wajah gadis itu ketika bertutur kata pada Min Ho. Aku menganga lebar— Ya, tak habis percaya jika di balik punggung gadis itu terselip sebuket bunga dan sekotak coklat. Ap—Apakah ia akan mengutarakan perasaannya pada Min Ho.
“Oh OMO!!! Hye Sun-aa, itu lihat . . ., Min Ho dengan seorang gadis” Min Jung berteriak Histeris dan justru membuat ku kalang-kabut sendiri, Hingga beberapa pasang mata menatap kami dengan pandangan menyindir. Segera saja ku tutup rapat-rapat mulut besarnya itu.
“Hye Sun” Panggilan lain membuatku beralih. Il-Woo Oppa sudah berdiri mulus tepat dimana aku akan membalikan tubuh. Raut wajahnya terlihat gusar dan cukup kaku. Aneh, tidak biasanya ia begini.
“Ada apa, Oppa?” Tanya ku seraya menghentikan aksi membekap bibir Min Jung.
“Yya! Pabo” Dengus Min Jung sangat kesal. Aku melirik tajam, menyuruhnya menutup mulutnya rapat-rapat.
“Bisa bicara sebentar” Ucapnya sedikit ragu.
“Ne, Oppa. Ada apa?” Tanya ku mengulang.
“Akan ku beritahu tetapi tidak disini” Ia sedikit melirik Min Jung. Seolah memberi pertanda jika gadis itu adalah salah satu alasan utama mengapa ia tak mau membuka pembicaraan.
Sebenarnya, ada apa? Huh, aku tak bisa membagi pikiran ku dengan baik sebab kejadian tadi terus menghantui. Aishhh, apakah Min Ho akan menerima perasaan gadis itu dan meninggalkan ku? Bagaimana jika hal itu terjadi? A—Aku tak yakin akan baik-baik saja. Mata ini mulai berkaca, dapat ku rasakan hawa panas di sepasang penglihatan ku. Untuk apa aku menangis? Hye Sun-aa, Ku mohon kuatkan dirimu.
“Ikut aku Sun-aa” Entah suruhan dari mana. Il-Woo Oppa kini menggenggam tangan ku dengan segera. Aku yang masih enggan beranjak, terpaksa harus angkat kaki sebab tarikan itu begitu kuat. Min Ho— Ku layangkan pandangan ke arah dimana tempat ia berdiri tadi.
Dia menatapku— Min Ho memandang ku. Bagaimana ini? Ia melihatku bersama Il-Woo Oppa. Yaish, apa yang harus aku lakukan? Sepasang mata elang itu menilik tidak senang. Sangat tajam dan menikam. Raut wajah Min Ho menegang, rahangnya mengeras. Ia marah. Aku tahu itu.
“Hye Sun” Panggilan itu ku acuhkan. Bagaiman aku bisa berpikir jika Min Ho selalu memenuhi otakku! Ia berhasil mengendalikan semua bagian yang ada pada tubuh ku ini. Hingga sebuah tangan terulur, menyentuh lembut jari jemari ku. Barulah kesadaran ini kembali. Il-Woo Oppa tengah memandang ku begitu dalam. Ia mendekat dan itu membuatku cukup gugup.
“Aku akan mengutarakan perasaan ku sekarang” Mwoga? Perasaan apa?
“Ap-Apa?”
“Kau tahu, aku dan perasaan ku cukup lama membendung semua ini” Ia nampak tersayat mengatakannya. “Aku mencintai mu, Hye Sun”
Apa ini? Ia mencintaiku? Ba—Bagaimana Mungkin? Aku benar-benar tak bisa memberikan jawaban. Bibir ku telah membisu terlebih dahulu. Mianhe, Il-Woo Oppa, hatiku telah terjerat-- Aku telah Mencintai seseorang sebelum perasaanmu ku ketahui. Min Ho— Aku mencintainya.
“Tak dapatkah kau melihat segala bentuk perasaan yang kuberikan untuk mu? Aku tahu kau tak sendiri tapi—” Ia menggumam begitu menggebu. Mengeluarkan semua beban dalam dirinya. “Berilah celah sedikit untukku. Aku mencintaimu sebelum dirinya hadir. Bisa kau rasakan betapa sakitnya aku?”
Tidak. Maafkan aku, Il-Woo Oppa. Aku mencintai Min Ho. Tanpa di duga aku sangat mencintainya. Aku tak ingin semua berakhir hanya karena kehendakmu untuk dapat memiliki hati ku. Aku tidak bisa.
“Hye Sun-aa, jawab aku” Pintanya, menggenggam tangan ini begitu erat. Air mata ku akan berlinang, mata ku telah memanas. Min Ho— Hanya nama itu yang dapat ku sebut.
“Bisa kau hentikan semua ini” Suara lain membuat ku beralih. Min Ho, ia berjalan kearah ku. Ia menghampiri ku.
“Lepaskan” Min Ho menatap tajam genggaman tangan Il-Woo. Mereka bertatapan penuh arti, saling membunuh satu sama lain.
“Bukan urusan mu” Tukas Il-Woo dingin. Sekuat tenaga aku mencoba menarik pergelangan tangan ku dari pemuda ini. Namun cengkramannya terlalu kuat.
“Begitu?”
“Begitu?” Sela Min Ho bengis. Ia mengepalkan tangan kuat. “Kau sadar sudah selancang ini mendekati sesuatu yang bukan milikmu!” Mata siletnya begitu tajam, membuat ku bergidik ngeri, sebab kali pertama aku melihatnya semurka ini.
“Heh, Jangan terlalu sombong, Min Ho-ssi. Ia masih dapat memilih— selama ia belum menjadi milik mu yang utuh— ia masih dapat memilih” Sial! Apa-apaan dia! no! No matter your say this, I’ll never choose you! Hye Sun-aa, please be strong, for now.
“Apakah kau berniat mengabaikan pemuda bodoh ini, Hye Sun?” Min Ho sudah mengalihkan pandangannya dan berganti menatap ku jeli. Pandangan itu terlalu kuat untuk aku musnahkan, jangan kan menyudahi— membagi kepada Il-Woo Oppa pun aku tak mampu. Sedikit pengharapan dapat ku lihat disana. Tapi, saat hendak aku akan membuka mulut, Min Ho segera menyambar pergelangan tangan ku dari genggaman tangan Il-Woo. Sakit, ya begitu sakit cengkraman kuat yang ia berikan untuk ku. Sepasang matanya berkilat tajam.
“Jangan pernah menyentuhnya!”
Itulah akhir kalimat yang ku dengar dari bibir Min Ho. Setelahnya ia menyeret tubuh ku dengan segera, meninggal kan lorong kosong dekat perpustakaan. Langkah panjangnya membuat nafas ku berderu. Sungguh, aku tidak bisa mengimbangi dengan baik. Aku meliriknya sekilas— hanya dalam waktu singkat. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Ya, ia terlalu sulit— hingga ku tak tahu mana marah, sedih, atau senangnya. Lagi-lagi ia membawa ku ketempat yang sama. Atap sekolah saat dulu ia mengambil alih buat status hubungan yang kami jalani sebagai sepasang kekasih.
Min Ho agak menghempaskan genggaman tangannya dengan kasar. Membuat nadi ku berdenyut-denyut hingga tak sanggup menangkup darah yang akan mengalir. Ia menjauh dan terus mengamati ku dalam-dalam. Aku jadi serba salah sendiri, sebenarnya apa yang ia rasakan sekarang.
“Lusa— Setelah pengumuman kelulusan, aku akan pindah ke Forks untuk menetap disana. Seterusnya kau mau melanjutkan hubungan ini atau tidak, aku tidak peduli” Aku menyusut dari pertahanan ku. Air memasuki celah paru-paru ku hingga membuatnya basah— Hingga mataku sedapat mungkin seperti Kristal Es. Beritahu jika ini semua hanya tiupan angin yang menerpanya, sehingga ia mampu mengucapkan setiap kata tersebut tanpa terkendali. Atau ini kecemburuan . . . , kemarahan . . . , keterbatasan rasa akan perbuatan yang Il-Woo lakukan tadi.
Tak ada yang mampu ku ucapkan lagi di hadapannya. Kami diam. Sama-sama mematung dan bersiteru dengan lubuk hati. Dia dengan keterbungkaman yang sangat ku benci! Satu hal yang ku sesalkan— Karena aku tak mengenal dirinya dengan baik. Segala yang kulihat hanya semu sejak awal— percayalah kau tak akan pernah ingin berada di posisi ku saat ini. Ribuan sembilu menusuk cepat ke hati yang paling dalam. Cinta yang ku jaga . . ., yang ku pertaruhkan pada perasaan agar meyakini kini pupus begitu saja. Terlalu mudah kah semua ini baginya?
“Jika begini—“ Isakkan ku tahan sedapat mungkin. Ku tatap sosok manusia berhati besi itu dengan nanar. “Apa yang kau maknai dari semua kebersamaan kita!? Apa yang kau cari, jika saja memang tak ada hatimu yang dapat kau berikan untukku!?” Aku tahu, aku tahu aku gadis yang paling bodoh di dunia ini! Hye Sun-aa, jangan menangis— Jangan kembali menangis di hadapnnya.
“Aku jenuh dan hanya ingin bermain. Jadi, lupakan semua ini” Suara beratnya mendominasi lagi. Membuat ku berada di titik paling lemah setiap kali mendengar kenyataan pahit yang terucap langsung dari bibirnya. Tuhan, Inikah ia yang sebenarnya? Mata ku sudah lebih dari memanas. Beberapa air mengalir tak bisa ku cegah. Jelas sudah— Tidak pernah ada cinta darinya untukku.
Ia hendak pergi. Kenapa hati kecil ku berbisik— memanggilnya untuk tetap tinggal, membiarkannya untuk tetap menyakiti ku agar ia tak mencoba pergi. Ternyata sesakit ini rasanya di hempaskan begitu saja. Kau di permainkan dan layaknya tak berguna. Di suguhkan kepahitan serta perih yang membunuh kalbu. Aku terjatuh. Lutut ku tak begitu kuat untuk menopang segalanya. Aku menangis— menangis setelah Min Ho benar-benar pergi, menangis— saat hati ku tak selaras dengan pikiran. Aku masih membutuhkannya, aku masih mencintainya.
“Min Ho-aa” Ku tundukkan wajah memerah ini dalam-dalam. Sakit! Berapa kali lagi aku harus mengucapkannya dalam hati. “Aku meyakini jika … jika kau menaruh hatimu, aku meyakini jika kau mencintaiku namun—“
Min Ho, Stop Hurt Me… I Can Hardly Breathe
“Tidakkah ini juga menyakitkan untuk Joon-Oppa, Hye Sun?” Min Jung menepuk bahu ku yang masih sesenggukan— dengan perlahan. Joon, setiap kali semerawut wajahnya menghias, tak hentinya aku menangis. Pembodohan yang ku buat untuk menusuknya dari belakang memang terlalu keji. Namun, aku juga ingin bahagia— terlepas dalam belenggu masa lalu yang tak berhati itu, menggapai kebahagian dengan yang lain— menatap masa depan bersama Joon. Sedapat mungkin aku terus menguatkan, Aku akan bahagia—Aku bisa berpaling dan memulai semuanya bersama Joon. Pria yang sejak tiga tahun ini tak henti mengejar hati ku. Memperjuangkan ku dengan sejurus kesungguhannya.
“Kau tak akan tahu jika menyakiti Joon adalah dosa terbesar ku” Kilah ku tanpa mau bergulir menatapnya.
“Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah ini?” Tanyanya berlanjut. Nada bicara Min Jung seperti orang yang telah tersesat arah. Di beri jalan buntu pada sebagian otaknya. Aku juga tidak tahu … Mati pun akan ku pilih jika tak ada Min Jung di sisiku seperti saat ini— sahabat sekaligus penopang, penyambut suka mau pun duka ku. Terima Kasih, Min Jung-aa.
“Maaf Nona, anda di persilahkan untuk memasuki Altar bersama Tuan Goo” Seorang wanita Nampak hadir di balik daun pintu bercat hitam. Ia tersenyum menyapa pada ku dan Min jung. Secepat ini? Aku akan menyematkan janji bersama Joon sebentar lagi?
Setelah kepergian wanita itu, Aku dan Min Jung sama-sama beranjak dari tempat. Min Jung membantu ku merapikan gaun yang tidak tertata dengan baik sehabis duduk di sofa tadi. Ia mulai menuntun ku, mengiringi langkah meninggal kan ruangan ini. Hye Sun-aa, ini awal yang baru, ku mohon syukuri dan panjatkan doa semoga ini abadi … abadi selamanya.
“Sepertinya mewah sekali ya acaranya” Bisik dari luar ruangan di sana membuat ku hanya merenung. Min Jung pamit sebentar untuk mengambil sebuket mawar putih yang akan ku genggam saat berjalan bersama Ayah di Altar nanti.
“Ne, sayang Min Ho Sunbae tidak hadir. Huh, padahal aku ingin sekali melihatnya di acara ini” DEG! Jantung ku menegang kembali. Detakan serta denyut nadi hadir bertalu-talu. Me—Mengapa bisa aku mendengar nama itu kembali.
“Apa kau tidak tahu, Min Ho Sunbae sekarang tengah berada di Seoul Hospital. Ayah ku menanganinya karena ia menusuk sebilah pisau belati ke nadinya sendiri”
Semua terasa gelap. Tubuh ku terlepas jatuh ke lantai. Air mataku mengalir deras, rasanya sebagian hati ku akan mati sebentar lagi. Benarkah? Benarkah Min Ho melakukan hal sebodoh itu? Tuhan, Akan ku pertaruhkan semua— Akan ku lakukan apapun asalkan ia tidak terluka, Aku Mohon.
“Hye Sun-aa, Kau kenapa?” Min Jung berlari cepat. Menghampiri ku yang kini tersungkup di lantai, tak berdaya dan tak punya tenaga lebih besar lagi untuk semua ini. Aku menangis, menangis sekencang-kencangnya.
“Hye Sun, ada apa sebenarnya?” Min Jung kembali berusaha menenangkan ku yang masih menangis histeris. Ia merangku ku ke dalam pelukannya. Tapi, itu bukan obat terjitu untuk saat ini. Tidak ada penenang apapun yang dapat mengembalikan kesadaran ku. Aku butuh Min Ho, Aku harus melihatnya.
“Min Jung—“ Panggil ku penuh isak. Ia mengangguk seolah memberi ku waktu untuk menceritakan semuanya. “Min Ho … Min Ho” Sebutku lagi dalam tangis.
“Ada apa dengan Min Ho?” Tanya nya yang mulai panic
“Min Ho terluka, Min Jung-aa! Aku perlu menemuinya!” Jerit ku yang begitu menggebu ingin segera lari dari ruangan ini. Sampai sepasang tangan Min Jung mencegah semua yang akan aku lakukan, membuat ku di kuasai amarah.
“Lepaskan!” Lengkingan suara ku yang tinggi menggema.
“Hye Sun-aa, hentikan perbuatan gila ini! Bukan kah kau ingin bahagia tanpa bayang-bayangnya lagi? Hentikan sekarang!” Jelas Min Jung yang tak mau kalah. Segera ku hempaskan dengan kasar saat jemarinya mencoba mencengkram pergerakan tangan ku.
“Aku mencintainya, Min Jung-aa! Aku mencintai Min Ho!” Itulah kalimat terakhir yang ku sampaikan pada Min Jung sbelum aku benar-benar melarikan diri dari pesta pernikahan ini.
Cadillac hitam legam itu ku bawa untuk membelah kerumunan jalan raya yang sangat padat. Kecepatan laju jarak ini sudah maksimal namun kenapa masih saja lamban untuk ku? Angan dari segela tempat di mana Min Ho hadir kini kembali menghantui. Aku tak segan-segan menerobos lampu lalu lintas atau apa pun dan siapa pun yang hendak menghalangi jalan ku. Sesampainya di pintu lobby rumah sakit tersebut, tak hentinya aku berlari. Meski pun sangat sulit dengan gaun panjang ku ini, aku tidak ambil pusing! Yang terpenting Min Ho, Min Ho, dan Min Ho.
“Lee Min Ho— Dimana ruang rawatnya!?” Tanya ku menggebu pada suster yang hendak berjalan memasuki lift. Beberapa pasang mata menatap ku tak henti, tapi aku tak peduli.
“Agashi, anda sebaiknya tenang kan diri dulu” Ucap perawat muda itu perlahan. Aku malah semakin tak tenang. Bagimana aku bisa bernafas dengan baik!? Bagaimana aku tak setakut ini jika Min Ho di dalam sana tengah merenggang nyawa!
“Cepat katakan!” Jerit ku menahan air yang akan mengalir kembali. Setelah suster tersebut memberikan jawaban pasti, aku segera berlari, menyusuri lantai sembilan tempat dimana ruangan Min Ho berada.
Sepi dan sunyi, langkah ku berdetak dalam koridor gelap itu. Tepat di sebuah ruangan, tangis wanita tengah baya menggema keras. Aku terdiam, berjalan perlahan menghampirinya. Ia menangis pilu, memegang dadanya yang sesak.
"Min Ho, Jangan tinggalkan ibu ... Jangan pergi, Nak"
Lelah sudah aku menepak. Runtuh semua tenaga yang ku bangun susah payah tadi.Min Ho, aku mencintaimu— Masih sama seperti sediakala. Rasa sakit yang kau gali dalam hati ku tak akan seperih ketika aku melihat mu pergi. Bahwasanya aku mencintaimu begitu besar— Dalam hembus nafasku, dalam detak jantung ku, dalam denyut nadi.
***
Nafas ku tertahan. Tubuh yang selama ini tak pernah ku lihat lagi, kini terbujur lemahnya. Aku mendekat, ku hampiri Min Ho yang masih menutup mata. Apa kabarmu? Lama tak sedekat ini, Min Ho-aa. Wajah itu tak berdaya, tak ada keangkuhan ... kedinginan. Ia terpejam, membuat ku semakin ingin mendekap— mengatakan jika aku merindukannya, aku sangat merindukanmu.
"Hye Sun-aa"
Seseorang memanggil ku dengan lirih, ya suara itu terlalu lirih— Membuatku membujur kaku. Aku jelas tahu suara siapa ini.
"Joon"
Lama aku memindai sebagian kejadian yang ku alami. Kulihat di ambang pintu, Joon dan Min Jung berdiri. Mereka menatap ku sendu. Terlebih untuk Joon, entah apa yang ia rasakan— Sepasang matanya memerah, menahan tangis dan amarah. Maaf kan aku— Joon-aa.
"Jadi ini perasaan mu yang sebenarnya?" Ia menyudut kan ku tepat di depan ruangan Min Ho. Aku hanya mampu terdiam, Aku tak sanggup lagi merangkai kata demi kata. Semua sudah kuperjelas dengan tindakkan ku pergi dari pesta pernikahan itu.
"Mengapa harus sampai begini, Hye Sun-aa? Mengapa kau biarkan aku untuk merasakan sakit terlebih dahulu?" Ia menatap nanar, semakin membuat ku di penuhi sesal. Aku memecahkan tangis kembali.
"Mianhe" Ucapku dalam Isakkan memilukan. Tak mampu lagi aku menatap matanya. Joon, maaf jika aku telah melakukan kesalahan sefatal ini. Semua terjadi karena aku tak pernah mau juju pada perasaan ku sendiri-- Aku terlalu buta, menganggap semua bayang tentang dirinya hanyalah masa lalu. Namun, hati tak sampai untuk melupakannya— Aku tidak bisa. Ia masih di disini-- Masih di dalam hati ku dan tak kan tergantikan.
"Izinkan ia bersama ku"
Aku terkelu. Suara lemah— Suara lembut yang sudah lama tak ku dengar. Min Ho. Ia berjalan pelan, menatap ku dengan Joon secara bergantian. Ba—Bagaimana mungkin? Oh Tuhan, kini kedua lelaki itu saling bertatapan mata di hadapan ku. Min Ho memandang Joon dengan penuh kesungguhan. Mukanya pucat pasi, hampir tak bertenaga. Tak ada tatapan tajam dan menikam seperti yang dulu ia lakukan pada Il-Woo.
"Aku mencintai Hye Sun. Tolong, izinkan dia untuk bersama dengan ku" Pinta Min Ho. Setelah ia berucap seperti itu. Pandangan kami saling bertemu, sepasang mata sendunya tak mau lepas dari penglihatan ini. Aku harus bersyukur sekerang, sebab Mata itu tak terpejam lagi, Min Ho bisa menghembuskan nafas kembali, Ia dapat menatap ku lekat seperti ini.
You Don't know how long I have waited for you. Nothing had changed. I love you
"Berhenti melakukan ini dan cepat lihat keadaan Mae Ri , ia menunggumu sejak tadi" Aku mencoba melepaskan kungkungan tangan Min Ho yang terus merajai dan mengusai tubuh ku ini. Yaish! mengapa ia suka sekali membuatku kelimpungan tak jelas?
"Ya, akan ku lakukan nanti" Jawab nya datar. Ia masih enggan beranjak. Mendekap ku dalam pelukan hangat serta belaian lembut. Membuatku tersenyum bahagia— Min Ho selalu melakukan ini. Kegiatan rutinnya setelah pulang dari kantor ialah menyentuh ku habis-habisan. Entah itu kecupan, pelukan, atau pun yang lainnya—“ Perbuatan apapun yang ia lakukan seolah mewakili perkataan jika ia sangat merindukan ku.
"Lusa jangan lupa-- Pesta pernikahan Joon-Oppa dan Min Jung" Ingat ku pada Min Ho. Benar, sahabat setiaku akan melepas masa lajangnya sebentar lagi-- Dengan Joon. Setelah kejadian itu, Min Jung banyak menyempatkan diri untuk menemani Joon yang terpuruk sendiri. Mungkin dengan kebersamaan mereka, Cinta itu perlahan tumbuh.
"Ap ... Appahhh"
Min Ho yang hendak mendekatkan Wajahnya ke arah ku, kini harus urung ia lanjutkan. Suara mungil dari ambang pintu kamar kami mengalihkan semuanya. Mae Ri-- Buah hatiku dengan Min Ho, kini berjalan tertatih kearah Appanya.
"Yya, Hati-hati sayang nanti kau jatuh" Min Ho segera meninggalkan ku. Menyambut Mae Ri yang hendak memeluknya. Usia putriku ini hampir memasuki tiga tahun. Ia mulai bisa berjalan perlahan dan menyebutkan nama Appa dan Ommanya. Dulu, sewaktu Mae ri akan lahir, aku terpaksa harus melakukan operasi caesar sebab kepala anak itu melilit di usus halus ku. Ha .. Ha .. Ha, mengesankan memang, sekaligus membuat Min Ho hampir mati menahan nafas. Tak hentinya ia menggenggam tangan ku sewaktu persalinan berlangsung. Dan pertama kali aku melihatnya menangis, menangis sambil menggendong Marry yang baru berhasil dilahirkan lebih dari satu jam yang ditentukan.
"Appahhh, Om ... Omma" Ku lihat tangan kecilnya itu mulai menyentuh Hidung mancung Min Ho, Mae Ri meraup kecil pipi Appanya dengan gemas
"Yyya Mae Ri, tidak boleh begitu ya" Min Ho menasehati. Jika sudah begini, aku hanya bisa tersenyum melihat kebersamaan mereka. Tak ada yang lebih bahagia selain memiliki Min Ho dan Mae Ri di dalam hidup ku. Aku tahu satu hal— mengapa Min Ho tak pernah ingin mengatakannya kepadaku— Karena ia ingin aku mengikuti semua kata hatiku.Min Ho bilang kepindahannya ke Forks memang telah di rencanakan sejak dulu. Ia telah lama mencintaiku saat pertama memasuki Shinwa. Dan tentang bagaimana ia menyampaikan perpisahan itu, karena semata tak ingin membuatku tersiksa— Supaya aku dapat membenci dan melupakannya. Bodohkan? Ya, ia memang bodoh. Untuk itulah diri kami sama-sama terpuruk untuk waktu yang cukup lama. Tak perlu aku mengingat seberapa sakit yang ku rasakan dahulu, Hanya Min Ho yang mampu menopangku— Ia yang akan ku pertahankan melebihi apapun. Cinta bukan sesuatu yang harus kau ucapkan dengan sempurna, bukan sesuatu yang harus kau rangkai sedemikian rupa— Ia hanya membutuhkan kebahagian dari orang yang kau cintai.
---The End---
ps; maaf jika ada penulisan atau perkataan yang salah dan tidak berkenan. kurang lebihnya author minta maaf
![[hmpfh]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/hmpfh.gif)