Soesongheo, Jeongmal mianhae karena lama baru update chap 3 ini.. Semoga chap ini bisa di terima dengan baik karena aku lagi kehilangan si ilham nih
CHAPTER 3
Di tengah laut, kapal “Princess Mariana” masih berputar-putar menyusuri rute yang kemungkinan dilewati oleh perahu yang membawa Hye Sun. Bukan hanya kapal “Princess Mariana” tapi beberapa kapal dari team penyelamat Kepulauan Exuma.
Jung kelihatan sekali mengkhawatirkan dan mencemaskan Hye Sun walaupun ia awalnya tidak mencintainya tapi bagaimanapun juga mereka telah menjalani hubungan selama 2 tahun, waktu yang tidak singkat mengingat sifat Hye Sun yang susah di tebak.
Di hari ke dua ini mereka juga belum menemukan tanda-tanda perahu dan keberadaan penumpangnya. Jung telah menghubungi pamannya Mr. Min Jung yang merupakan pengacara keluarga Goo. Sewaktu di telpon pamannya tidak mengatakan apa-apa hanya akan segera ke Havana dan menyewa orang-orang terbaik untuk mencari Hye Sun.
*************
Hari sudah sangat siang tapi Hye Sun tidak kelihatan batang hidungnya membuat Min Ho gelisah dan cemas menunggu, ia khawatir Hye Sun akan berbuat yang tidak-tidak atau gengsi untuk menuruti kata-katanya karena dia gadis kaya yang sok dan sombong tapi ia tepiskan pikiran itu.
Min Ho hendak beranjak pergi ketika dilihatnya seseorang berdiri didepannya dan menyodorkan air dalam wadah bekas kerang besar. Ia mendongakkan kepalanya dan dilihatnya Hye Sun masih dalam posisi yang sama dengan membuang muka ke samping. Min Ho mengambil air tersebut dengan kasar yang membuatnya hampir saja tumpah dan dipandanginya Hye Sun masih tidak mau melihat kearahnya. Ia mendengus dan meminum air itu tanpa berhenti hingga habis sampai dadanya basah akibat tetesan air kemudian melap mulutnya dengan punggung tangannya.
Hye Sun masih saja membuang muka dan tidak mau melihat ke arah Min Ho tapi Min Ho tidak memperdulikannya..
“Ambil dan makanlah, ini aman dan tidak beracun.” Min Ho menyerahkan sebagian buah-buahan yang tadi ditemukannya.
Hye Sun melirik ke Min Ho tapi ia tetap enggan menerimanya karena gengsinya yang besar dan ia tidak mau jika harus di suruh lagi oleh pemuda sok itu.
Melihat Hye Sun tidak mau menerimanya, Min Ho menaruh buah-buahan itu di tanah dan membaringkan tubuhnya di pasir dekat situ. Ia menguap lebar dan kemudian memejamkan matanya, tidak lama kemudian terdengar suara dengkuran halus dari mulutnya.
Hye Sun mendengar Min Ho tertidur menoleh ke Min Ho dan memastikannya telah lelap tertidur kemudian ia mengambil buah-buahan itu dan melapnya dengan punggung tangan dan bajunya lalu memakannya dengan lahap.
Tanpa Hye Sun sadari Min Ho memperhatikannya dengan mata masih terpejam pura-pura tidur, setelah Hye Sun selesai melahap buah-buahan itu ia berkata :
“Kita berdua harus buat kesepakatan selama tinggal di sini jika ingin selamat.”
Hye Sun kaget mendengar Min Ho berbicara karena setahunya pemuda itu sudah tertidur pulas tapi rupanya tidak. Hye Sun menoleh ke Min Ho dengan bibir bawah maju beberapa centi kemudian membuang mukanya ke arah lain.
Min Ho hanya tersenyum sinis melihat tingkah Hye Sun yang seperti anak kecil kedapatan mencuri permen.
“Jadi bagaimana …anda setuju ?” Min Ho bertanya dengan hati-hati.
“Kesepakatan dalam hal apa dulu ?” Hye Sun balik bertanya masih dengan sikap angkuhnya.
“Begini…Aku akan mencari makanan untuk kita berdua dan menjaga keselamatan anda dari binatang buas sementara anda mencucikan pakaian saya dan menuruti apa yang saya perintahkan, bagaimana … ? Sahut Min Ho dengan senyum manisnya.
“APA…mencucikan pakaian kamu dan menuruti semua perintahmu ?....Tidak…Tidak, aku tidak mau lebih baik aku kelaparan dari pada melakukan itu semua.” Kata Hye Sun menggelengkan kepalanya karena seumur hidupnya, semua itu dilakukan oleh pembantu dan ia hanya tinggal memerintahkannya. Tapi sekarang ia harus melakukan semua yang dilakukan oleh pembantu, jelas sekali ia menolaknya karena ia bukan golongan mereka.
“Baiklah…Jika tidak mau aku tidak memaksa tapi tawaranku masih terbuka lebar kalau anda berubah pikiran.” Sahut Min Ho melihat Hye Sun yang seperti jijik mendengar apa yang dimintanya tapi ia mengerti bahwa orang kaya tidak akan mau melakukan semua itu karena akan merendahkan derajat hidup mereka tapi di sini semua itu tidak berguna jika ingin bertahan hidup. Setelah berkata begitu Min Ho beranjak pergi masuk ke dalam hutan meninggalkan Hye Sun sendiri yang masih bergelut dengan pikirannya.
************
Hari sudah beranjak senja ketika Min Ho kembali dan dilihatnya Hye Sun tertidur dengan posisi memeluk lutut. Lama ditatapnya Hye Sun yang tertidur seperti bayi yang tidak berdosa dan ia merasa iba melihat gadis itu tapi gadis ini harus diberi pelajaran pikirnya agar tidak sombong dan angkuh. Kemudian ia meletakkan ranting-ranting pohon, daun-daun lebar yang akan dipakai untuk alas dan selimut karena malam akan sangat dingin di tempat seperti itu dan juga menaruh buah-buahan.
Min Ho mengumpulkan ranting di satu tempat dan mulai menyalakan api dengan menggesekkan dua batu hingga memercikkan api.

Seketika tempat yang mulai gelap itu menjadi terang, ia menoleh ke Hye Sun dan dilihatnya gadis itu masih tertidur dengan mendengkur halus. Min Ho pergi untuk membersihkan dirinya dengan membawa bekas kerang untuk mengambil air dan juga buah-buahan untuk di cucinya.
***********

Hye Sun menggeliat dan ia merasa ada sesutu yang menghangatkannya, ia buka matanya perlahan dan dilihatnya langit sudah gelap dan mulai digantikan oleh bintang-bintang dan tidak jauh dari tempatnya berbaring ada api unggun, rupanya api itu yang membuatnya terasa hangat. Ia ingat sekarang bahwa ia terdampar di pulau itu karena badai dan ia mengedarkan pandangan ke sekitar tapi ia tidak melihat pemuda itu berada di sana. Hye Sun berdiri merenggangkan tubuhnya dan menguap lebar, sesuatu yang tidak pernah dilakukannya lagi karena dianggap tidak sopan tapi siapa yang perduli di tempat seperti ini pikirnya.
Dari kejauhan dilihatnya Min Ho mendekat membawa sesuatu dan badannya kelihatan segar setelah membersihkan diri. Hye Sun cepat berbaring kembali dan berpura-pura masih tidur.
Min Ho mengambil daun dan meletakkan buah dan air yang diambilnya di dekat perapian. Dipandanginya Hye Sun masih tertidur dan dengkuran halusnya masih terdengar dari mulutnya. Min Ho hanya tersenyum kecil melihatnya, dasar gadis keras kepala pikirnya, ia menjatuhkan badan dekat perapian dan menghadap ke Hye Sun. Ia mulai mengambil buah dan melahapnya dengan nikmat membuat Hye Sun ngiler dan air liur mulai menetes dari sudut mulutnya tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk menerima tawaran Min Ho.

Min Ho masih asik memakan buah-buahan itu dengan lahap sambil sesekali melihat ke Hye Sun, sementara Hye Sun masih bergelut dengan pikirannya sendiri antara menerima tawaran atau mempertahankan harga dirinya. Hye Sun mengintip melalui pelopak matanya yang sedikit terbuka, Min Ho sudah melahap habis makanan itu tanpa tersisa membuat Hye Sun hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan kesel dengan dirinya sendiri dan juga perutnya yang mulai minta di isi lagi.
Setelah puas memakan buah-buahan, Min Ho meminum air dan melap mulutnya dengan punggung tangannya. Ia perhatikan Hye Sun masih pura-pura tidur dan kelihatan kesel karena dipikirnya Min Ho tidak mau membagi buah itu dengannya karena telah menolak tawaran yang diajukan Min Ho padahal Min Ho telah menyisihkan sebagian buah-buahan itu di daun yang disimpannya di balik tumpukan ranting sehngga Hye Sun tidak melihatnya.
Min Ho berdiri dan mengambil daun yang lain dan menyusunnya dengan rapi, kemudian merebahkan dirinya di atas daun-daun tersebut, matanya menatap ke langit dan ia sudah lama tidak seperti ini melihat bintang dan bulan di malam hari setelah ia tinggal sebatang kara karena orang tuanya yang meninggal ketika usianya beranjak 17 tahun.
Flashback :
Peristiwa itu masih jelas di pelupuk matanya ketika tabrakan beruntun itu terjadi mereka pulang dari pasar tempat mereka mencari nafkah yang membuat ibunya meninggal seketika dan ayahnya selamat walaupun tidak bisa berjalan dengan normal lagi karena separuh tubuhnya cacat yang, ayahnya sangat mencintai ibunya sehingga setiap hari kerjanya meratapi kesalahannya yang tidak bisa menyelamatkan wanita yang amat dicintai sampai jatuh sakit dan tidak lama kemudian meninggal membuat Min Ho hidup sendiri.
Merasa tidak ada yang bisa dilakukannya lagi di desa kelahirannya di Pulau Jeju dan juga karena rumah peninggalan orang tuanya membuatnya selalu ingat kepada mereka membuatnya nekat berpetualang dan menitipkan rumah pada tetangganya. Dengan bekal seadanya dan juga tidak bisa bahasa asing, ia nekat bekerja di kapal-kapal, awalnya di kapal nelayan kemudian beralih ke kapal memuat kargo dan penumpang hingga akhirnya menjadi abk di kapal pesiar mewah.
End Flasback
*********
Kapal “Princess Mariana” merapat di Havana untuk mengantar Jung yang akan menemui pamannya dan juga karena terjadi badai yang menghilangkan Goo Hye Sun membuat Jung mempersingkat liburannya dan fokus untuk melakukan pencarian terhadap Goo Hye Sun.
Jung menemui pamannya yang sudah datang lebih dulu di hotel mewah di kota Havana sementara sahabatnya di suruhnya pulang lebih dulu ke Korea karena Jung ingin sendiri dan tidak mau diganggu.
Mr. Min Jung menyambut Jung dengan hangat dan dengan raut muka sedih di lobi hotel karena beberapa bliz kamera memancar mengabadikan mereka dan wartawan melancarkan pertanyaan bertubi-tubi tentang pencarian Goo Hye Sun. Mr. Min Jung minta wartawan bersabar dan memberi mereka waktu sebentar untuk melepas kangen dan berjanji akan melakukan conference press nanti setelah Jung tenang karena Jung kelihatan sangat terpukul dengan hilangnya Goo Hye Sun dan mengambil keputusan apa yang akan mereka lakukan.
Kemudian mereka masuk ke lift dikawal oleh beberapa petugas dan menuju ke suit room. Setelah sampai di suit room dan tinggal mereka berdua, Mr. Min Jung memeluk Jung dengan hangat dan tertawa puas membuat Jung heran dengan sikap pamannya. Mr. Min Jung masih tertawa sampai air matanya ke luar, ia mendekati Jung dan memukul-mukul lembut bahu Jung dengan bangga yang makin membuat Jung penasaran kenapa pamannya bersikap begitu.
Mr. Min Jung bukan hanya paman tapi orang tua bagi Jung karena ayah kandungnya meninggalkan ibu dan dirinya ketika masih kecil demi wanita kaya. Mr. Min Jung lah yang telah membiayai kehidupan ibunya dan dirinya, 5 tahun kemudian ibunya meninggal bunuh diri karena merasa tidak tahan melihat suaminya yang kadang datang menemuinya hanya utuk mengejek dan menghinanya. Setelah kepergian ibunya otomatis Jung hanya bergantung pada pamannya dan ia telah berjanji akan membalas semua budi baik pamannya yang telah membesarkannya seperti anaknya sendiri karena pamannya tidak dikarunia seorang anak.
Setelah puas tertawa Mr. Min Jung mengajak Jung duduk di sofa dan menuangkan sampanye ke gelas kristal yang tersedia di meja kaca depan sofa, ia menyerahkan satu ke Jung dan satu untuk dirinya sendiri. Ia mengajak Jung bersulang dan dilihatnya Jung mengikutinya dengan alis berkerut.
Melihat Jung masih tidak bisa menangkap maksudnya, Mr. Min Jung mendekatinya dan berbisik ke telinga Jung, Jung terlonjak dari kursinya setelah pamannya selesai berbicara. Jung kaget dan shock mengetahui apa yang telah direncanakan pamannya dan selama ini ia dijadikan umpan untuk itu semua, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena memang ia tidak mencintai Goo Hye Sun tapi ia merasa kasihan pada gadis itu.
************

Hari sudah pagi, matahari sudah menampakkan sinarnya ketika Hye Sun membuka mata dan dilihatnya Min Ho sudah tidak ada ditempatnya, ia memegangi perutnya yang sakit karena gembung kebanyakan minum air semalam. Ia menyesali dirinya yang terlalu angkuh dan juga mengutuk pemuda yang tidak berperikemanusiaan itu telah membiarkannya kelaparan dengan tidak menyisakan sedikitpun buah untuknya.
Ia beranjak pergi untuk membasuh muka dan badan dan berencana mencari buah atau apa saja yang bisa untuk mengganjal perutnya yang keroncongan minta di isi.
Setelah membasuh muka dan mengguyur badannya dengan air, Hye Sun merasa segar walaupun perutnya masih berbunyi tapi berusaha ia tahan, ia beranjak menyusuri pantai dengan harapan ada ikan atau kerang ataupun kepiting yang sial pagi itu tapi sampai capek kakinya dan badannya kepanasan kena sinar matahari tidak satupun jua ia dapatkan, kemudian ia beranjak pergi menelusuri hutan tapi sekarang ia berhati-hati untuk memetik buah yang ada karena takut salah ambil.
Ia memperhatikan hewan-hewan yang ada di sekitar itu dan memperhatikan apa yang mereka makan. Dilihatnya hewan seperti tupai dan burung memakan buah di pohon yang tinggi menjulang dihadapannya. Hye Sun mendongak dan dilihatnya masih ada beberapa buah menggelantung di dahan tapi ia tidak bisa menjangkaunya. Ia mengambil ranting yang panjang dan memukul-mukulkan ke dahan pohon dengan susah payah akhirnya buah itu jatuh, dengan senyum cerah ia mengambil buah itu tapi belum sempat ia memungutnya buah itu sudah di gondol tupai, ia kejar tupai itu tapi tupai lebih gesit dan memanjat ke dahan pohon yang lebih tinggi sehingga Hye Sun tidak bisa mengejarnya karena ia tidak bisa memanjat pohon. Tupai itu mencibirkan mulutnya mengejek Hye Sun membuat Hye Sun naik pitam mengambil batu dan melempari tupai tapi tupai itu malah memanjat dahan pohon yang lebih tinggi dan setelah merasa aman tupai itu memakan hasil curiannya dengan lahap membuat HyeSun dongkol dan terus berusaha melempari tupai itu dengan batu tapi bukannya kena tupai tapi malah mengenai dirinya sendiri.
Hye Sun terduduk di tanah dengan bersimbah keringat dan perut yang makin keroncongan. Ia duduk memeluk lutut menyembunyikan mukanya yang sudah mulai deras dengan air mata.

Ia tidak pernah membayangkan hidup akan lebih menderita lagi setelah apa yang dialaminya sejak kecelakaan pesawat terbang yang merenggut ke dua orang tuanya. Peristiwa naas itu terbayang di pelupuk matanya berputar seperti film documenter dan kehidupan berat yang harus dijalaninya sebatang kara setelah itu silih berganti muncul dikepalanya…
Ya sebatang kara karena kakeknya terlalu sibuk atau sengaja menyibukkan dirinya dari rasa kehilangan putra tersayangnya dan tidak pernah memperdulikannya lagi yang memerlukan kasih sayang orang tua. Ia sangat membenci dirinya sendiri karena kepergian ke dua orang tuanya juga telah merenggut kebahagiannya sebagai cucu yang ingin di manja dan di sayang oleh seorang kakek yang dulu begitu memujanya sebagai cucu kesayangan meskipun kakeknya tidak pernah mengeluh atau menegurnya malah melimpahinya kekayaan tapi bukan itu yang ia inginkan namun semuanya tidak bisa lagi diulang karena sampai akhir hidup dari kakeknya tidak pernah lagi bersikap seperti ia masih kecil dulu.
Ia merasa hidupnya sudah lama pergi bersama dengan ke dua orang tuanya dan jika mengingat itu semua ia ingin rasanya ikut mati saja tapi rupanya Tuhan ingin mentakdirkan lain dengan mengalami semua kejadian ini ia mulai memahami sulitnya menjalani hidup meskipun sekaya apapun orang jika tidak bisa memanfaatkannya dengan baik maka akan sia-sia saja.
Hye Sun memandangi tas slempangnya yang ikut selamat dari badai, membukanya perlahan dan mengambil dompet yang masih ada didalamnya. Ia keluarkan semuanya karena beberapa bagian dan lembaran uang beserta kartu debit dan kreditnya masih ada yang basah dan ia tidak sempat mengeringkannya. Ia mengusap air mata yang masih sesekali menetes dan mensejejarkan kartu beserta uang, ia kibas-kibaskan supaya cepat kering. Selama hidupnya, ia tidak pernah merasa semua yang ada dihadapannya berharga karena semua itu dengan mudah ia dapatkan dan tidak perlu bersusah payah membanting tulang. Tapi di tempat ini semua itu tidak ada harganya dan ia harus bersusah payah dulu untuk mendapatkan makanan dan itu tidak selalu berjalan mulus seperti yang baru saja ia alami. Dalam hati ia bertekad andaikan bisa kembali keperadaban maka ia akan menikmati hidup dan menggunakan semua kekayaannya untuk mensejahterakan orang yang telah berjasa mengembangkan perusahaan kakek buyutnya dan membantu orang yang betul-betul membutuhkan bantuannya untuk bisa maju.
Hari sudah makin siang, Hye Sun masih sibuk mengeringkan tas slempang dan lembaran uangnya, setelah kering ia susun dengan rapi dan lama dipandanginya dompet itu kemudian disimpannya lagi dalam tas. Tidak terasa ia sudah mulai melupakan perutnya yang lapar dan sudah mulai beradaptasi dengan rasa itu. Jika perutnya berbunyi ia hanya tersenyum dan mengelus perutnya. Lama ia duduk dibawah pohon itu melamun hingga hari makin sore, kemudian ia beranjak pergi karena sudah merasa kehausan dan badannya serasa lengket dengan keringat.
Hye Sun tidak langsung ke tempat mereka berteduh tapi ia langsung ke pantai masih berusaha mencari sesuatu yang bisa di makan dan kembali ke sumber air tawar untuk mandi dan minum air. Karena matahari masih terik bersinar walaupun sudah sore jadi ia masih bisa mengeringkan bajunya yang ia cuci seadanya karena ia tidak pernah sekalipun mencuci pakaian.
Hye Sun kembali dan dilihatnya tidak ada Min Ho di sana hanya ada tumpukan ranting dan dahan pohon yang sebesar pergelangan tangan dewasa dan juga akar pohon serta daun kelapa yang sudah kering. Hye Sun tidak mengerti kenapa pemuda tersebut mengumpulkan semua itu dan ia juga tidak mau tahu untuk apa.
Hye Sun mengambil beberapa lembar daun di dekat situ dan mensejejarkan di tanah kemudian dia membaringkan tubuhnya yang lelah.
**********
Matahari sudah menuju peraduannya ketika Min Ho kembali membawa 3 ekor ikan segar. Dilihatnya Hye Sun tertidur dengan posisi memeluk lutut. Wajahnya tenang dan damai tapi terlihat guratan kelelahan dan penderitaan terpancar di mukanya yang cantik dan imut.
Min Ho menyalakan api dan meletakkan ikan yang ditusuk dengan ranting di atas bara api. Sesekali dibaliknya ikan tersebut sambil merangkai dahan pohon dengan akar kayu menjadi seperti tikar.
Bau harum ikan menyebar kemana-mana di tiup angin, Hye Sun yang tertidur terbangun dan hidungnya mencium bau harum ikan bakar. Dengan mata masih terpejam, hidung Hye Sun mendengus mencari bau harum makanan dan kemudian ia membuka mata dan duduk menngarah ke arah bau harum tersebut. Ia merasa seperti mimpi bisa merasakan aroma apalagi jika bisa mencicipinya setelah 2 hari tidak memakan makanan seperti sudah berbulan-bulan baginya. Air liur Hye Sun sudah mulai menetes melihat Min Ho memakan ikan bakar dengan lahapnya. Ia sudah hendak beranjak mendekati Min Ho tapi diurungkannya setelah ingat konsekuensi yang harus dijalaninya, egonya masih tinggi dari rasa laparnya.
Sementara itu Min Ho masih asik makan tanpa sadar Hye Sun yang melihatnya sambil meremas jemarinya dan menggigit-gigit bibir bawahnya dengan pikiran yang masih berkecamuk.
Min Ho menghentikan makannya karena merasa ada yang mengawasinya, ia mengarahkan pandangan ke Hye Sun yang telah menundukkan wajah dan menyembunyikannya diantara lututnya.

Min Ho hanya menggelengkan kepalanya melihat perilaku Hye Sun yang keras kepala. Sejujurnya ia tidak tega melihat Hye Sun kelaparan tapi menurutnya gadis kaya itu harus di beri pelajaran pentingnya menghargai orang lain, diri sendiri dan kehidupan.
Setelah melahap habis semua ikan baker tersebut dan meminum air, Min Ho mendekati Min Ho dan menyodorkan buah-buahan.
“Nih, makanlah…aku tidak ingin jadi tersangka jika kamu mati.” Perkataan dari Min Ho membuat Hye Sun mendongkangkan kepalanya, ia menatap tajam Min Ho dan tidak berusaha untuk mengambil buah yang disodorkan Min Ho.
Lama mereka saling menatap seperti 2 orang musuh yang akan saling membunuh tanpa berkata-kata. Min Ho merasa tangannya pegal kemudian menaruh buah-buahan itu di samping Hye Sun kemudian berlalu dari hadapan Hye Sun tapi sebelum jauh ia berpaling…
“Kamu…gadis yang keras kepala, tidak bisakah kamu buang egomu itu jauh-jauh…atau paling tidak tinggalkan dulu egomu itu di duniamu yang dulu.” Min Ho diam sebentar dan dilihatnya Hye Sun menatapnya tajam dengan tangan yang mengepal dan gigi gemeretak, kelihatan sekali Hye Sun mulai emosi dengan perkataan Min Ho tapi Min Ho pura-pura tidak tahu dan lanjutnya… “Sudah 3 hari sejak kita di serang badai dan mereka belum menemukan kita, jadi kamu jangan berharap banyak mungkin kita di sini 1 bulan, 1 tahun atau mungkin selamanya terdampar di sini. Aku tidak mau memaksa kamu untuk mengikuti apa yang kukatakan kemaren tapi coba kamu pikirkan baik-baik…Karena menurutku kamu bukan gadis yang bodoh dan menyerah begitu saja dengan keadaan atau penilaianku salah hanya kamu yang tahu… Tapi di sini derajat kita sama sebagai mahluk hidup yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama, di kapal kamu bisa memerintah aku dan aku siap melayani karena status kita yang berbeda di mana kamu sebagai tamu kami yang harus dilayani seperti ratu karena kami di bayar tinggi namun di sini semua itu tidak berlaku meskipun kamu bayar berapapun aku tidak akan melayani kamu dan kamu harus melayani dirimu sendiri…Camkan itu…Aku tidak ingin direpotkan oleh kamu” Min Ho membalikkan badannya dan pergi ke pantai meninggalkan Hye Sun yang tertunduk lesu mendengar semua perkataan Min Ho.
Semua amarah Hye Sun meluap begitu saja karena apa yang dikatakan oleh Min Ho ada benarnya, walaupun ia sudah berniat akan berubah tapi semua itu sulit baginya karena hal itu bukan seperti membalik telapak tangan dan perlu waktu. Tanpa ia sadari beberapa bulir air menetes dipipinya, diusapnya dengan punggung tangannya, selama terdampar di sini ia jadi sering mengeluarkan air mata yang sudah lama tidak pernah lagi terjadi sejak kepergian orang tuanya bahkan waktu kakeknya meninggalpun ia tidak menangis.
************
Min Ho kembali dari berjalan-jalan di pantai dan diperhatikannya Hye Sun berbaring memunggunginya jadi ia tidak tahu apakah Hye Sun sudah tidur atau belum, buah yang tadi diberinya sudah habis dimakan oleh Hye Sun membuat Min Ho terseyum kecil. Min Ho kemudian melanjutkan menganyam dahan-dahan pohon untuk dijadikan alas untuk duduk atau tidurnya.
Tidak jauh dari situ Hye Sun masih merenungkan perkataan Min Ho dan langkah apa yang harus diambilnya. Hye Sun tahu kalau Min Ho sudah kembali tapi bagaimanapun ia masih marah dengan pemuda itu.
***********
Sudah hari ke 4 tapi kapal-kapal yang ditugaskan mencari Goo Hye Sun belum ada yang menemukannya bahkan team dari ahli-ahli penyelamat dilautan dengan peralatan canggihnya yang di sewa oleh Jung dan Mr. Min Jung pun tidak mendapatkan hasil yang memuaskan.
Banyak kapal nelayan dan pemburu hadiah yang ikut melakukan pencarian karena tergiur dengan hadiah yang akan mereka dapatkan jika bisa menemukan tanda-tanda keberadaan Goo Hye Sun apalagi jika menemukannya dalam keadaan selamat di mana Mr. Jung mengumumkan bahwa siapapun yang mengetahui informasi atau menemukan tanda-tanda keberadaan Putri pewaris Goo akan mendapat imbalan $100.000,- dan bagi yang menemukannya dalam keadaan selamat akan mendapat $1.000.000,-. Pengumuman itu berlaku sampai 1.5 bulan ke depan tepat hari ulang tahun Goo Hye Sun.
Sementara itu Jung dan Mr. Min Jung kelihatan sangat kehilangan dan sedih jika berhadapan dengan kamera tv dan bliz kamera wartawan namun jika sudah tidak ada orang mereka senyum sumringah dan tertawa senang dengan apa yang mereka impikan tercapai.
***********

Hye Sun terbangun karena silau dengan cahaya matahari yang sudah meninggi, ia menggeliat dengan malas dan pandangannya tertumpu ke tempat Min Ho yang berjarak 3 meter dari tempatnya tapi yang bersangkutan tidak ada di tempat. Hye Sun berdiri mengedarkan pandangan ke segala penjuru tapi Min Ho tidak terlihat, ia merenggangkan tubuhnya sebentar lalu beranjak ke sumur untuk mandi dan mencuci pakaiannya.
Hye Sun berjalan tanpa memperhatikan langkahnya karena matanya melihat ke arah laut dan ke langit berharap ada kapal atau pesawat atau helicopter yang melintas meskipun kata Min Ho mustahil tapi ia tetap berharap karena menurutnya tidak ada salahnya.
Di dekat sumur Hye Sun menabrak Min Ho yang duduk memunggunginya dengan hanya bercelana pendek. Hye Sun kaget dan kehilangan keseimbangan, beruntung Min Ho cepat menangkap bahunya sehingga Hye Sun tidak jatuh dengan kepala duluan tapi masih berdiri dengan posisi badan setengah membungkuk di belakang Min Ho sehingga wajahnya terbalik berhadapan dengan Min Ho di mana dadanya tepat berada di muka Min Ho. Cukup lama juga Hye Sun dalam posisi itu dan setelah sadar bajunya tersingkap dan menutupi kepala Min Ho cepat-cepat ia berdiri tegak dan pergi dengan pipi yang memerah tanpa mengatakan apapun.
End of chapter[/color]
************
Chap selanjut bakal jadi chap ending yang puaaanjang kayaknya...& ada
![[hmpfh]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/hmpfh.gif)