Author Topic: # LOST IN THE SEA # Last Chap (Ending chap)~ May 23, 2010  (Read 12816 times)

fara

  • Guest
Lost in the sea
« Reply #45 on: April 25, 2010, 06:34:21 am »
Duh jangan sampe data2 fanfic yg onnie amira udh ketik mpe ilang semua,

bisa2 nanti para pembaca bisa kering kerontang cz authornya harus ketik ulang lg,

semoga virusnya ga sampe ngerusak file2 fanfic onnie :) :) :)

Offline neiya

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1006
  • Location: depoook
    • View Profile
Re: ~LOST IN THE SEA ~ Last update April 08, 2010
« Reply #46 on: April 25, 2010, 09:35:40 am »
Amiiiiiiiiiiiiin :)

Offline Aurel " lusy" Aurellya

  • Junior
  • **
  • Posts: 227
  • kyaaa jun pyo sexy bgeth
  • Location: padang, indonesia
    • View Profile
Re: ~LOST IN THE SEA ~ Last update April 08, 2010
« Reply #47 on: April 25, 2010, 11:18:30 pm »
Duh jangan sampe data2 fanfic yg onnie amira udh ketik mpe ilang semua,

bisa2 nanti para pembaca bisa kering kerontang cz authornya harus ketik ulang lg,

semoga virusnya ga sampe ngerusak file2 fanfic onnie :) :) :)

amiinnnn anyyong semuaa,, uwd lama gag mampirr,,  [bye] [bye] sibug ujian [heh] [heh]

onnie amira,, updatenya jgn tlalu lama yya onn,, kgen liat TaJe versi korea yg ini nihh  [biggrin] [biggrin] [biggrin]

hwaitingg.. [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
only u in my bottom heart, no body else, but u in over the world...

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Re: ~LOST IN THE SEA ~ Last update April 08, 2010
« Reply #48 on: April 26, 2010, 11:43:33 pm »
amiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn.....

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Re: ~LOST IN THE SEA ~ Last update April 08, 2010
« Reply #49 on: April 27, 2010, 08:05:57 am »
Fara, Neiya, Aurel & Virna : gomapta doanya...
Kompinya sudah bagus nih & syukur filenya gak kenapa2x tapi belum bisa lanjutin nih malam tiba2x kepalaku pusing nih gara2x printer nih error ~Aishh sebel banget nih habis kompi baik eh malah printer lagi yang rusak...mana mikirin anak besok ikut kontes lagi *apa hbungannya ya ? Ginilah klo sudah jadi eomma, anaknya yang kontes or ehb ibunya yang puyeng...~

Semoga besok sudah mulai bisa nulis lagi..

Sekali lagi gomapta semuanya....

fara

  • Guest
LITS
« Reply #50 on: April 28, 2010, 04:24:01 am »
Asik...asik...asik...
Kompinya udh sembuh [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

semoga anak onnie amira menang kontes ya,
yg semangat ya onnie...
Aza aza fighting :) :) :)   

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Re: ~LOST IN THE SEA ~ Last update April 08, 2010
« Reply #51 on: May 06, 2010, 01:08:51 am »
onnie kapan nih diupdatenya......
dah mpe jamuran nih nungggunya... [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [cry] [hammer3] [hammer3] [cry] [cry] [cry]

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Re: ~LOST IN THE SEA ~ Last update April 08, 2010
« Reply #52 on: May 06, 2010, 08:55:52 pm »
Fara: makasih doa-a..Aku slh bkn kontes tp kompetisi, alhamdullah masuk final....  Virna: ku usahakan entar malam update-a coz tinggal klimaks-a ama edit2x picu, moga aja inet hr ini lancar..

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Re: ~LOST IN THE SEA ~ Last update April 08, 2010
« Reply #53 on: May 06, 2010, 11:19:37 pm »
 [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap]
horeee..........!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
ditunggu ya onnie ntar malem,aku doain inetnya lancar..ammiiinnnnn [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]
onn ada hwatt2ny kan? [drool] [drool] [drool] [drool]
 [hmff] [hmff] [hmff]

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: ~LOST IN THE SEA ~ Last update April 08, 2010
« Reply #54 on: May 07, 2010, 02:44:26 am »
cuhiiiyyyyyy...

 [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap]

ditunggu ya eonni...

moga semuanya lancar...

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
All..Mian ya  surrender surrender surrender ..Jangan di  [hammer] [head break] [head break] [fighting] hammer2 Chap 4 baru bisa di update sekarang coz tadi malam CM dari tempat ku eror gak bisa post..
Ok guys selamat menikmati tapi  [nono] [bored]sleep1 jika baca chap ini karena very very long chap FF yang aku buat...

Mian ya jika picunya belum ada coz dari tadi malam upload picu di picassa eror terus lari malah ke web search...
Ada yang tahu gak picassawb kenapa ?...klo photobucket sudah dibukanya dari tempatku..



Chapter 4
[/b]
 


Sudah 3 hari ini Hye Sun selalu menghindar jika bertemu Min Ho sejak kejadian di dekat sumur, ia bersembunyi jika melihat Min Ho dari jauh atau ia berpura-pura tidak melihatnya lalu berjalan ke arah lain dan kembali ke tempat mereka bermalam sebelum Min Ho kembali dan jika Min Ho sudah kembali ia berpura-pura tidur walaupun hari masih belum gelap. Demikian juga pada pagi harinya ia akan pergi duluan jika Min Ho belum bangun atau jika Min Ho sudah bangun dan masih berada di tempat maka ia berpura-pura belum bangun sampai Min Ho pergi.

Untuk mengganjal perutnya ia berusaha keras mencari sesuatu yang bisa di makan, entah itu buah ataupun hewan laut dan jika dapat tidak langsung dihabisinya tetapi disimpannya sebagian untuk di makan lagi nanti jika ia lapar dan tidak mendapat apapun untuk di makan. Sekarang Hye Sun sudah mengerti bagaimana susahnya mencari sesuap makanan dan jika sudah dapat tidak menghamburkan atau membuangnya begitu saja jika tidak suka, tetapi harus berusaha menerima bagaimanapun tidak sukanya ia.

Sementara itu tidak ada tanda-tanda kapal, pesawat atau apapun yang mencari mereka di pulau itu. Mereka seperti sudah terlupakan oleh orang-orang dan benar-benar terisolir dari peradaban.

**************

Hari ini Hye Sun sungguh sial, sudah berjalan cukup jauh tapi belum juga mendapatkan apapun padahal perutnya sudah sangat lapar karena kemaren ia hanya menemukan 1 buah-buahan kecil dan itu sudah habis ia makan setelah itu sampai sekarang perutnya belum di isi apapun selain air saja.
 
Hye Sun merasa semua tempat sudah dijelajahinya di dekat situ dan ia tidak berani untuk berjalan terlalu jauh lagi karena hutannya sangat lebat siapa tahu ada hewan buas yang akan mengincarnya jadi santapan. Di samping itu Hye Sun merasa sudah tidak kuat lagi berjalan untuk mencari makanan sementara hari juga sudah sore maka ia putuskan untuk kembali meskipun perutnya sudah terasa melilit-lilit karena laparnya, begitu sampai ia kaget melihat Min Ho sudah kembali padahal biasanya Min Ho akan kembali setelah matahari tenggelam. Hye Sun berhenti lalu bersembunyi di balik pohon besar, ia tidak siap untuk bertukar kata dengan pemuda itu jadi ia putuskan untuk menunggu Min Ho pergi lagi.

************

Hari sudah senja dan marahari juga sudah tidak kelihatan lagi tapi Hye Sun belum kembali membuat Min Ho khawatir, ia berjalan mondar-mandir tanpa arah dan kadang menggumam sendiri tanpa jelas. Sementara Hye Sun memperhatikan Min Ho dari jauh dan ia lihat pemuda itu terlihat cemas seperti menunggu seseorang.

“Apa ia menunggu aku..” Batin Hye Sun. “Tapi tidak mungkin ia mengkhawatirkan aku karena tidak ada untungnya bagi dia…tapi disinikan hanya ada kami berdua...jangan-jangan dia..”

Hye Sun asik dengan pikirannya sendiri sehingga ia tidak melihat Min Ho berjalan ke arahnya, Hye Sun tersentak mendengar suara langkah mendekat jadi ia buru-buru merapatkan tubuh di balik pohon berharap Min Ho tidak melihatnya.

Min Ho berhenti di samping pohon di mana Hye Sun bersembunyi, ia mengedarkan pandangan ke sekitar tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Hye Sun. Ia berbalik hendak berjalan ke arah lain tapi tiba-tiba ia berhenti, ia tajamkan pendengarannya dan ia berputar menghadap ke pohon karena ia merasa mendengar degup jantung yang seperti di buru, dengan pelan dan hati-hati ia memutari pohon besar itu dan benar seperti dugaannya. Hye Sun menempel di pohon dengan mata terpejam dan tangan membekap mulut. Min Ho hanya menggelengkan kepalanya dengan sudut mulut terangkat sedikit. Ia tidak menegur ataupun membentaknya tapi ia hanya diam memandangi Hye Sun.

Hye Sun membuka mata perlahan, ia menoleh ke arah di mana awalnya tadi Min Ho berada dan dilihatnya Min Ho sudah pergi maka ia merasa lega dengan menghembuskan nafas panjang dan tangan mengelus dada.

“Ohh syukurlah akhirnya dia pergi..”

“Maksudmu aku..?” Min Ho tiba-tiba muncul di samping Hye Sun.

Hye Sun terlonjak kaget, ia tidak menyadari jika Min Ho dari tadi sudah melihatnya.  Setelah bisa mengendalikan diri, Hye Sun menatap Min Ho dengan muka cemberut dan mata mendelik, kemudian ia berbalik dan melangkah pergi tapi Min Ho menangkap tangannya dengan sigap.

“Apa maumu heh, lepaskan tanganku …” Hye Sun berusaha menepis tangan Min Ho tapi genggaman Min Ho cukup kuat sehingga sia-sia saja upayanya.

“Dengarkan dulu kata-kataku, baru kau kulepaskan…” Kata Min Ho datar.

“Sido, aku bukan orang suruhanmu dan juga bukan apa-apamu...” Sahut Hye Sun ketus.

“Baiklah, mau atau tidak mau kau tetap harus mendengarnya…aku menemukan sebuah gubuk kecil di sebelah sana, sepertinya ada orang yang juga pernah terdampar di sini.” Min Ho mengarahkan telunjuknya ke tempat yang di maksud.

 

“Walaupun sudah reot tapi lumayan untuk ditinggali daripada di tempat terbuka seperti ini.” Min Ho mengedarkan matanya kemudian lanjutnya…

“Aku sudah membersihkannya tadi dan mulai malam ini aku tinggal di sana, terserah kau mau ikut atau tidak…Kalau kau tidak mau ikut, aku malah senang karena tidak perlu berbagi tempat denganmu..nona egois...” Beber Min Ho sambil melepaskan genggamannya setelah selesai bicara kemudian ia melangkah pergi meninggalkan Hye Sun yang kesel mendengar kata-kata terakhirnya.

“Huuuhh…Siapa juga yang mau tinggal serumah berdua dengannya..” Kata Hye Sun pada dirinya sendiri dengan kaki menendang-nendang pasir meluapkan kekesalannya.

**************

Malam harinya

Malam sudah larut, Hye Sun tertidur dengan posisi memeluk lutut dan perut keroncongan, karena perkataan Min Ho senja tadi ia jadi melupakan rasa laparnya sehingga ia ketiduran.

Malam semakin larut, angin berhembus kencang dan langit gelap karena bintang-bintang telah menghilang, sepertinya akan turun hujan yang lebat.

Sementara itu di dalam gubuk, Min Ho tidur dengan nyenyak karena tidak ada yang mengganggu tidurnya seperti ia tidur di luar sebelumnya. Tapi sedang enak-enaknya mimpi indah, ia merasa ada bulir-bulir air yang menetesi kakinya sehingga membuatnya terbangun. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih mengantuk dan dilihatnya kakinya basah, ia mendengar bunyi tetesan air di beberapa tempat di dalam gubuk sedangkan di luar gubuk ia mendengar tetesan air yang sangat deras. Min Ho mendekat ke dinding dan mengintip ke luar dari celah dinding yang renggang. “Oh hujan..” Gumamnya pada dirinya sendiri, ia kemudian merebahkan lagi tubuhnya di dipan yang lusuh. Baru saja ia memejamkan mata, tiba-tiba ia terlonjak dan langsung bangun begitu teringat gadis egois itu berada di luar di tengah hujan lebat tersebut.

***************

“Ayah, Ibu…Jangan pergi, jangan tinggalkan aku sendiri…hu hu hu…” Hye Sun mengigau di tengah tidurnya.
 

Min Ho mendekati Hye Sun yang berbaring di dipan, dilihatnya Hye Sun masih tertidur dan tanpa sengaja tangannya tersentuh lengan Hye Sun yang panas. Min Ho mengernyitkan alisnya, ia kemudian memegang dahi Hye Sun tapi baru tersentuh sedikit ia langsung mengangkat tangannya yang serasa menyentuh bara api. Min Ho kemudian beralih ke telapak kaki Hye Sun, disentuhnya pelan kaki Hye Sun, ternyata kakinya dingin seperti es.

Min Ho duduk bersimpuh di kaki Hye Sun, ia meremas ke dua kaki Hye Sun supaya hangat karena ia tidak punya apa-apa untuk menghangatkannya walaupun api sudah dinyalakan tapi itu masih belum cukup. Gadis itu terkena demam cukup parah karena kehujanan cukup lama & ia merasa dongkol sekali dengan sikap keras kepalanya yang tidak mau ke gubuk untuk berteduh tapi malah membiarkan dirinya di terpa hujan yang sangat lebat.

Min Ho terus saja meremas dan memijat-mijat kaki Hye Sun dengan kepala yang terantuk-antuk menahan kantuk, beberapa kali ia terlelap dan terbangun bila Hye Sun bergerak. 2 jam sudah berlalu tapi langit masih menumpahkan airnya ke bumi seperti tidak pernah akan berhenti, Min Ho merasa badan Hye Sun bergetar menggigil karena kedinginan, dirabanya dahi gadis itu dan dirasakannya panasnya masih tetap seperti tadi tapi kakinya sudah hangat tidak dingin.

Min Ho bingung, tidak tahu apa lagi yang harus ia lakukan, tadi ia sudah lancang melepas baju Hye Sun dan memakaikan bajunya yang masih kering karena waktu ia ke luar menjemput Hye Sun ia hanya memakai celana pendek sehingga bajunya masih kering.

Min Ho bolak-balik berjalan di sisi di pan tempat Hye Sun berbaring sambil menggigit-gigit jari tangannya. Hanya ada satu cara supaya suhu badan gadis itu turun batinnya tapi ia harus siap menerima resiko dari perbuatannya tersebut, setelah 10 menit dilihatnya tubuh Hye Sun masih menggigil dan dengan menarik nafas panjang ia beranikan diri untuk melakukan apa yang ada dikepalanya, masalah apa yang terjadi nanti itu urusan belakang yang penting gadis itu selamat kata sebuah suara dihatinya meyakinkan.

****************

Keesoka paginya
 
Burung-burung berkicau dengan merdu menyapa pagi dan matahari menyinari bumi dengan warna orange keemasan, tidak ada tanda-tanda kalau semalaman telah turun hujan sangat lebatnya membasahi bumi.

Hye Sun masih tertidur dengan lelap di dalam pelukan Min Ho, di mana badannya hanya ditutupi oleh baju Min Ho, sementara baju Hye Sun bergantungan dekat api. Seluruh badan mereka saling menempel dan salah satu tangan Min Ho berada di bawah leher Hye Sun sementara tangan yang satunya di perut. Mereka berdua tertidur dengan lelap setelah apa yang terjadi semalam sehingga tidak menyadari jika hari sudah pagi.

Hye Sun menggeliat dan sepertinya sudah terbangun tapi masih enggan membuka mata.

Goo Hye Sun POV :
Oh..hangat sekali pelukan ini, apakah aku bermimpi ?…Tidak…aku tidak bermimpi, ini nyata..aku merasa tubuhku tidak kedinginan lagi seperti ketika aku di guyur bergalon-galon air hujan…Apakah aku berada dalam pelukan malaikat  yang menjemputku untuk bertemu ibu dan ayah ?… Yah, sepertinya begitu sebentar lagi aku akan bertemu mereka…tapi kenapa aku merasa ada yang aneh...

Min Ho menggeliat dan kelopak matanya terbuka perlahan, ia lihat Hye Sun masih berada dalam pelukannya dan badan gadis itu suhu tubuhnya sudah turun. Ia tersenyum senang dan ketika ia bermaksud membetulkan baju Hye Sun yang tersingkap, tangannya di pegang erat dan ia berusaha melepaskan tapi pegangan itu begitu kuat membuat Min Ho bingung dengan sikap gadis disampingnya.

“Gadis yang aneh..” Gumam Min Ho pada dirinya sendiri, rupanya gumaman Min Ho di dengar oleh telinga Hye Sun membuatnya membuka mata dan menoleh ke belakang.

“AAAAAAAAAAAAAAAaaaaaaaaaaaaa…” Hye Sun berteriak membuat gendang telinga yang mendengarnya seperti mau pecah, Min Ho menutup ke dua telinganya dengan tangan dan menatap heran ke gadis yang berada di sampingnya, kecil-kecil suaranya dahsyat juga batinnya. Pantas saja Hye Sun merasa ada yang aneh ternyata ia berada dalam pelukan pemuda itu. Buru-buru ia bangun dan duduk meringkuk dipojokan dan berusaha menutupi bagian tubuhnya yang terbuka dengan ke dua tangannya. Ia hanya bisa memelototi Min Ho tanpa sanggup berkata-kata atau berbuat sesuatu untuk menghajarnya.
 

Min Ho hanya cengengesan melihat reaksi Hye Sun karena ia mengira akan digebuki atau di terjang dengan tendangan olehnya.

“Ke…ke..kenapa aku bisa berada di sini..? Setelah bisa mengendalikan diri Hye Sun memberanikan diri bicara walaupun dengan sedikit gugup dan bergetar.

“Apa kamu tidak ingat apa yang terjadi semalam…?” Min Ho bukannya menjawab malah balik bertanya.

Hye Sun mengernyitkan alisnya berusaha mengingat, ia semalam tidur dengan perut lapar dan takut karena berada di alam terbuka sendirian dan ketika ia sudah tidur lelap badannya basah di guyur hujan, ia berusaha untuk bangun dan mencari tempat berlindung tapi ia dikagetkan oleh suara petir yang menggelegar seperti membelah bumi hingga membuatnya tak sadarkan diri, setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi.

“Aku tidak ingat karena aku pingsan…Jadi, kamu yang membawa aku kemari ?” Hye Sun menatap dingin ke Min Ho, Min Ho hanya mengangguk pelan dikepalanya bergelut berbagai pikiran melihat sikap dingin dan babil gadis didepannya.

“Kembalikan pakaianku… aku tidak sudi merepotkan orang lain” Sambil berbicara begitu Hye Sun membuang mukanya. Sebenarnya sebelah dirinya menginginkan untuk tetap berada disitu tapi sebelah dirinya lagi tidak membiarkan itu terjadi.

Min Ho hanya mengangkat ke dua tangannya dengan bahu terangkat, ia berdiri mengambil pakaian Hye Sun yang masih belum kering dan menyerahkannya.

“Sebaiknya kamu tetap di sini karena suhu tubuhmu belum normal dan pakaianmu juga masih setengah kering.” Min Ho mengingatkan.

Hye Sun memelototi Min Ho dengan pandangan tajam menusuk dan dingin, sementara Min Ho tidak mengerti apa maksud dari tatapan Hye Sun.

“Ada apa kamu menatapku seperti itu ?” Min Ho melihat ke dirinya dan ke Hye Sun berulang kali.

“KAU…KELUAR…!!!”

“Kenapa aku harus ke luar..?” Min Ho masih belum paham juga maksud Hye Sun, Hye Sun menjadi geram sampai-sampai giginya berbunyi karena bergesekan dengan keras.
Hye Sun menoleh kesekitarnya mencari sesuatu untuk dilemparkan tapi tidak ada apa pun.

“Apa kamu tidak puas melihat tubuhku semalam heeh… sekarang keluar, aku mau ganti baju dan jangan harap aku berubah sikap terhadapmu dengan apa yang telah kau lakukan terhadapku… PERGIIIIIII..!!!” Hye Sun akhirnya meluapkan kekesalannya karena Min Ho telmi.

“I…I..ya, aku pergi…” Min Ho cepat-cepat melangkah ke luar dan menutup pintu gubuk.

Tapi belum semenit, ia membuka pintu dan berkata :

“Mengenai tadi malam, aku tidak meli_ …..”

“Bruuukkkk…”

Tidak sempat Min Ho menyelesaikan kalimatnya, karena sepotong kayu melayang dimukanya, untung saja ada pintu menghalangi jika tidak maka wajah gantengnya pasti baret-baret atau hidung mancungnya akan pindah mancung ke dalam sehingga buru-buru ia menutup kembali pintu dan mengelus wajahnya sambil melangkah menjauh dari gubuk dengan mulut monyong dan gerutuan.
 
***********

Min Ho kembali ke gubuk membawa beberapa umbi-umbian yang ia temukan sekitar 2 km dari gubuk. Ia mengambil beberapa ranting dan membuat api setelah api jadi kemudian ia tebar arangnya dan memasukkan umbi tersebut lalu ditimbunnya dengan arang yang masih tersisa.

Di dalam gubuk sepi sekali, Min Ho menajamkan pendengarannya tapi tetap tidak terdengar apapun, apa ia sudah pergi pikirnya tapi waktu ia lewat dari membersihkan umbi dan badan tadi, ia lihat tempat itu berantakan dan belum tersentuh tangan manusia sama sekali.

Min Ho memberanikan diri membuka pintu secara perlahan-lahan takut ada benda yang melayang seperti tadi, setelah pintu cukup terbuka untuk menengok ke dalam, ia edarkan pandangan tidak terlihat tanda-tanda Hye Sun berada di sana.

“Aish…dasar gadis keras kepala, apa sih yang ada dikepalanya..?” Min Ho ngedumel sendiri, ketika ia menutup pintu matanya menangkap sesuatu di pojok bawah dipan tapi ia acuhkan saja namun detik berikutnya dibukanya lagi pintu karena ia merasa ada yang janggal dan diamatinya baik-baik sambil didekatinya perlahan-lahan.

Min Ho menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan ke dua telapak tangannya begitu melihat yang ada didepannya.

************
 
Matahari sudah menjorok ke barat, Hye Sun baru saja terbangun dari tidurnya setelah pingsan, dan begitu menyadari di mana ia berada ia mengernyitkan alisnya. “Kenapa aku masih berada di sini, bukankah tadi aku sudah pergi..” batinnya. Kemudian ia bangun namun urung dilakukan karena kepalanya terasa sakit dan nyut-nyutan serta perutnya yang perih.

“Ahhh…apa yang sebenarnya terjadi padaku.” Gumam Hye Sun dengan 2 jari mengetuk-ngetuk dahi berusaha mengingat-ingat tapi yang ia ingat hanya ketika ia meminta Min Ho ke luar agar ia bisa berganti pakaian dan setelah melempar Min Ho dengan kayu yang ia temukan di bawah dipan karena masuk tiba-tiba ketika ia sedang membuka baju. Kemudian setelah merasa Min Ho menjauh ia lanjutkan lagi aktifitasnya yang tertunda dan tiba-tiba kepalanya terasa berat, pandangannya kabur dan setelah itu ia tidak tahu lagi apa yang terjadi.

“Apa aku pingsan lagi ?” Tanyanya pada dirinya sendiri.

Tempat itu terasa sepi, Hye Sun mengedarkan pandangan ke penjuru gubuk tapi tidak ada penampakan Min Ho, ia menghembuskan nafas lega karena tidak harus bertemu terus dengan pemuda itu. Sejak ia tidak sengaja menabraknya beberapa hari yang lalu, ia sudah merasa malu untuk bertemu dengan pemuda itu karena ada perasaan bersalah dan aneh dihatinya tapi ia tidak mengerti kenapa bisa begitu padahal selama ini ia selalu berbuat kasar pada Jung namun ia tidak pernah merasa ada perasaan yang seperti ia rasakan saat ini. Ia merasa tidak tahu harus di taruh di mana wajahnya dengan apa yang telah terjadi semalam dimana pemuda itu sudah melihat, menyentuh bahkan memeluk tubuhnya dan parahnya lagi ia memegang erat tangannya.

“Duh mau di taruh di mana wajahku ini, aku malu sekali padanya.” Gumamnya pelan sembari menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya, pikirannya melayang kemana-mana.
 
Goo Hye Sun POV :
Tapi dia memang tidak seperti pemuda kebanyakan yang selalu bersikap dan bertingkah manis didepanku karena aku calon pewaris Group Goo tapi dibelakangku malah mencibir dan mencaci maki. Dia orangnya terus terang, baik, menolong tanpa pamrih, walaupun kadang menjengkelkan tapi badannyaa…, otot-ototnyaa…, wajahnya… dan bibirnyaa... lalu senyumnya…ohhh sungguh pria sempurna, belum pernah aku bertemu dengan pemuda seperti itu, pasti banyak wanita yang menginginkannya…
Aish… kenapa aku jadi melantur begini sihh.., bukannya memikirkan bagaimana caranya pergi dari pulau ini…eh malah memikirkan pemuda itu huuh…Hye Sun, sadar … sadar…

Hye Sun memukul-mukul kepalanya yang tidak mengerti kenapa di pukul seharusnya pikirannya yang dijernihkan bukan kepalanya yang jadi sasaran.
Tanpa Hye Sun sadari Min Ho masuk membawa umbi dan ikan bakar, melihat tingkah Hye Sun, Min Ho langsung meletakkan bawaannya dan segera mendekatinya.

“Gwenchana…?” Min Ho menatap Hye Sun dengan cemas, ia sebenarnya ingin memegang tangan gadis itu untuk menghentikan ulahnya tapi urung ia lakukan karena temperamen gadis itu lagi tidak stabil.

Hye Sun menghentikan perbuatannya dan menengadahkan kepala, ia hanya menatap Min Ho dengan mulut sedikit terbuka tapi tidak ada kata-kata yang ke luar, ia jadi bengong dan mengutuki dirinya karena tidak mendengar Min Ho membuka pintu.
 
“Hei…Gwenchana…?” Min Ho mengibaskan tangannya di depan muka Hye Sun, walaupun sudah seminggu lebih mereka bersama ia masih bingung dengan sikap gadis yang berbaring didepannya.

“Eh…a..a..ku…gwen..chana..” Sahut Hye Sun terbata-bata.

“Oh syukurlah, tapi…kenapa kamu memukuli kepalamu…?” Tanya Min Ho berusaha selembut mungkin.

“Apa kepalamu sakit..?” Tanyanya lagi.

“Ne, kepalaku sakit sekali.” Hye Sun berbohong walapun memang benar kepalanya sakit tapi bukan karena itu ia memukul kepalanya.

“Jangan di pukul lagi nanti kepalamu tambah sakit…sekarang makanlah dulu, semua sudah aku siapkan…kamu pasti sangat lapar, iya kan..?” Min Ho beranjak ke tempat di mana ia menaruh makanan.

“Ahniyo, aku tidak lapar…Jangan sok menasehatiku, sebaiknya perhatikan dirimu sendiri.” Sahut Hye Sun ketus.

“Kriiiuuukkk …krraaaakkkk….krruuukkk..” Belum beberapa detik perutnya sudah berbunyi, ke dua sudut mulut Min Ho tertarik ke atas sampai lubang dipipinya terlihat mendengarnya, sementara wajah Hye Sun merah padam karena malu telah berbohong.

“Kata pepatah ~ sepandai-pandainya tupai meloncat pasti akan jatuh juga.. Makanlah, tidak perlu malu..” Kata Min Ho sembari meletakkan umbi dan ikan bakar yang beralaskan daun di samping Hye Sun.

“Maksudmu…aku…”

“Ah…ahniyo…ahniyo…lupakan…aku tidak bermaksud apa-apa…Ayo makanlah..” Min Ho cepat memotong perkataan Hye Sun sebelum gadis itu berang dan naik pitam.

Hye Sun memajukan mulutnya karena kesal dikata-katai, Min Ho terus mendesaknya untuk cepat makan, setelah beberapa menit Hye Sun akhirnya berusaha bangun untuk makan tapi lagi-lagi kepalanya berdenyut dan terasa berat sehingga terpaksa ia berbaring lagi. Kemudian ia memiringkan tubuhnya dan mengambil sedikit umbi bakar dan memakannya tapi ..”Uhuuk..uhuuk..uhuuk..” ia tersedak dan menepuk-nepuk dadanya. Min Ho dengan sigap mengambil air dan mengangkat kepala Hye Sun, kemudian dengan tangan yang bebas ia menyodorkan air ke mulut Hye Sun.

Hye Sun mendorong tangan Min Ho yang memegang air dan kembali membaringkan kepalanya sehingga terlepas dari tangan Min Ho, matanya nanar menatap langit-langit gubuk. Ia menyesali dirinya yang sombong, egois dan babil, ia selalu bersikap kasar dan ketus pada orang yang telah menolongnya, tanpa terasa bulir-bulir air mengalir dipipinya yang mulus.
Min Ho merasa terenyuh melihat Hye Sun sedih walau ia tidak tahu kenapa gadis egois itu menangis dan ia juga sudah tidak tahan melihat tingkah lakunya.

“Lebih baik biarkan aku membantumu kali ini, jika kamu tidak makan maka sakitmu akan tambah parah…aku..a..ku tidak mau sendiri di sini…jadi…tolong jangan menolak bantuanku..” Setelah berkata begitu tanpa menunggu persetujuan, Min Ho duduk di samping Hye Sun, mengangkat kepala Hye Sun dan meletakkan dipangkuannya, kemudian dengan telaten ia menyuapinya, sementara Hye Sun hanya pasrah diperlakukan seperti anak kecil walau sebagian hatinya menolak tapi sebagian yang lain bersorak kegirangan.

************

Hari berganti hari, Hye Sun mulai berubah sikap terhadap Min Ho, kata-kata ketus sudah jarang terdengar dari mulutnya. Setelah sembuh dari sakitnya, Hye Sun mulai mengerjakan apa yang diminta Min Ho dulu, walau terasa berat tapi ia berusaha keras untuk bisa melakukannya, ia juga sudah mau tinggal bersama Min Ho dalam gubuk tapi tidak tidur bersama, di mana Hye Sun tidur di dipan sementara Min Ho tidur di tikar kayu yang dibuatnya.

Min Ho mengajari Hye Sun mencari ikan di pantai yang berbatu-batu dan membersihkan serta memasaknya. Pernah mereka mendapatkan ikan pari yang lumayan besar yang terdampar di pantai, selama beberapa hari mereka pesta ikan pari.
 
Semakin hari mereka berdua semakin akrab, di waktu sore mereka berjalan berdua menyusuri pantai sembari bermain dan bercanda, sedangkan di malam hari jika tidak lelah dan langit cerah mereka berbaring di luar gubuk melihat bulan dan bintang sambil bercerita atau hanya diam menatap langit malam.

*************

Havana

Sudah 3 minggu lebih berlalu Goo Hye Sun dan 2 ABK yang bersamanya belum juga ditemukan, para pemburu hadiah dan kapal penyelamat sudah menghentikan pencarian karena menurut mereka tidak ada orang yang selamat dari amukan badai dan bisa bertahan lebih dari 2 minggu dari ganasnya laut.

Demikian juga dengan Jung yang memutuskan kembali ke Korea 1 minggu yang lalu sementara pamannya, Mr. Min Jung sudah kembali lebih dulu dari Jung.
Mr. Min Jung meninggalkan orang kepercayaannya di Havana untuk mengabarkan pada mereka di Korea jika ada informasi tentang Putri pewaris group Goo yang hilang.

Sementara mereka berdua kembali ke kehidupan mereka semula bahkan sekarang Mr. Min Jung lebih berani berbuat dan melakukan apapun sesuai kehendaknya tanpa takut terhadap Goo Hye Sun karena baginya putri Goo itu sudah tamat riwayatnya dan dialah sekarang yang menguasai kekayaan Goo secara kasat mata meskipun begitu ia secara hati-hati memindahkan kekayaan Goo atas namanya supaya tidak kentara.

************
Di Sebuah Pulau Kecil

Malam sudah larut, di luar gubuk gelap sekali karena bintang dan bulan enggan menampakkan dirinya, hewan-hewan yang biasa mencari mangsa di malam hari juga tidak terdengar, hanya suara desiran daun dan dahan pohon serta deru angin yang bertiup kencang.

Di dalam gubuk 2 anak manusia telah tertidur dengan lelap, mereka sepertinya telah dibuai oleh alam mimpi yang indah karena di mulut mereka terukir senyum bahagia.

Sementara suasana di luar semakin gelap dan mencekam, angin semakin kencang menghembus pohon-pohon.

“Jeeeddddddiiiiiiiiiiiiirrrrrrrrrrrrrrrrr…………” Tiba-tiba petir menggelegar yang dibarengi kilat menyambar-nyambar.

“Bbrrraaakkkk…” Sebuah pohon langsung tumbang disambarnya.

Di dalam gubuk, Hye Sun yang tertidur langsung kaget dan terbangun, suasana di dalam gelap tidak ada cahaya masuk dari celah-celah dinding yang terbuat dari kayu sementara api yang di buat Min Ho padam sehingga Hye Sun tidak bisa melihat apa-apa. Ia menjadi takut mendengar deru angin yang sangat kencang di luar sana, di pelupuk matanya terbayang lagi badai yang telah menimpa mereka membuat Hye Sun bergidik ketakutan.

“Min Ho..…Min Ho…..Min Ho-yaa…”Hye Sun berusaha membangunkan Min Ho dengan memanggil-manggilnya, tapi Min Ho tidak bergerak sama sekali, sepertinya tidak mendengar panggilan Hye Sun karena deru angin terdengar lebih nyaring dari suara Hye Sun.

Akhirnya Hye Sun terpaksa memberanikan diri turun dari dipan dan menyusuri jalan secara perlahan untuk menuju ke tempat di mana Min Ho tidur. Setelah beberapa langkah kakinya terantuk kayu, ia berhenti dan berjongkok kemudian dirabanya kayu hingga menyentuh tangan yang hangat. Hye Sun mengguncang-guncang badan Min Ho supaya bangun, setelah beberapa menit Min Ho terbangun dan mengerjap-ngerjapkan matanya, ia tidak melihat Hye Sun yang berada di sampingnya karena gelap.
 

“Sun-yaa, di mana kau…ada apa kamu membangunkanku ?” Tanya Min Ho sambil melambai-lambaikan tangannya.

“Aku di sampingmu…Aku_ ….” Belum selesai Hye Sun berbicara tiba-tiba terdengar suara yang memekakkan telinga.

“Jjjeeeedddddddddddddiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiirrrrrrrrrrrrrrrrrrrr….” Petir menyalak lagi lebih nyaring hingga membuat Hye Sun langsung menubruk tubuh Min Ho yang masih berbaring dan membenamkan wajahnya di dada Min Ho yang bidang dan tangannya merangkul bahu Min Ho, Min Ho reflek memeluk Hye Sun erat. Petir menggema beberapa kali sahut menyahut seperti sepasang burung yang sedang melontarkan perasaan dengan suara merdunya membuat Hye Sun semakin membenamkan wajah dan mempererat rangkulannya. Hye Sun sendiri tidak tahu kenapa ia selalu ketakutan jika mendengar petir setelah mengalami badai dahsyat yang menimpa mereka.

Berkisar sepuluh menit kemudian, tidak terdengar lagi suara yang menulikan telinga tersebut, hanya desauan daun dan ranting pohon yang ditimpa angin, deru angin juga semakin berkurang dan tidak lama kemudian terdengar rintik hujan yang semakin lama semakin nyaring dan suhu udara juga mulai semakin dingin.

Min Ho menepuk bahu Hye Sun pelan sembari berkata :

“Sun-yaa…Sun-yaa…” Panggil Min Ho pelan, ia mulai merasa tidak nyaman dalam posisi begitu, bukan ia tidak suka atau tidak mau tapi ada perasaan aneh yang menggelinjang di sekujur tubuhnya terutama dibagain tertentu. Ini kali ke dua mereka sedekat itu dan jujur sebagai lelaki normal hasrat Min Ho terusik tapi masih bisa menjaga batas kewajaran tapi kali ini situasinya lain tidak seperti yang pertama dan jika hal ini tidak cepat diakhiri maka mungkin batas itu akan jebol.

“Ehmp…ada apa Min-yaa ?” Sahut Hye Sun tanpa mengangkat wajahnya.

“Ehh…biasakah kamu…le..paskan aku dan duduk..? Aku mau membuat api, di sini mulai dingin…Lagi pula tidak ada yang perlu kamu takutkan lagi, Sun-yaa..” Min Ho berkata selembut mungkin supaya Hye Sun tidak tersinggung.
 

Hye  Sun dengan cepat melepaskan rangkulan dan duduk di samping Min Ho dengan salah tingkah, ia jadi malu sendiri karena tidak menyadari jika petir sudah berlalu akibat terlena di dalam dekapan Min Ho, wajahnya terasa panas dan mungkin jika ada cahaya maka akan terlihat pipinya yang memerah.

Min Ho duduk dan berdiri dengan perlahan ia menyusuri gubuk untuk mencari tungku tempat biasa ia menyalakan api. Setelah berusaha dengan susah payah akhirnya tempat itu ia dapatkan juga, ia ambil batu di samping tungku dan menggesek-gesekkannya hingga ke luar percikan api dan sebentar saja di dalam gubuk menjadi terang.

“Krrraaaaaaaakkkkkkkk” Tiba-tiba terdengar sebuah suara tapi bukan petir.

Mendengar suara itu Hye Sun berlari ke arah Min Ho hingga menubruknya membuat Min Ho termundur beberapa langkah sehingga hilang keseimbangan dan jatuh ke dipan dengan posisi Hye Sun di atas menindihnya. Min Ho memeluk Hye Sun yang ketakutan, sementara Hye Sun menyembunyikan wajahnya.

Setelah Hye Sun tenang, Min Ho melepaskan pelukan dan mengelus lembut rambut Hye Sun.

“Tenang sun-yaa, itu paling suara dahan atau batang pohon yang patah.” Min Ho berusaha menenangkan Hye Sun, ia menyadarinya sekarang kenapa waktu hujan lebat dulu gadis itu sampai pingsan dan kehujanan karena trauma.

Hye Sun menengadahkan wajahnya dan mata mereka beradu, Hye Sun merasa pemuda itu telah membuatnya tenang dan melupakan ketakutannya, ia yakin semua yang ia alami pasti takdir agar ia bertemu dengan malaikat pelindungnya yaitu pemuda yang ada hadapannya. Hal itu bisa dilihatnya dari sinar mata Min Ho, setiap melihat matanya dan senyumnya ia merasa seperti angsa yang berada dalam telaga yang tenang dan nyaman, tidak ada yang bisa dan berani mengganggunya.
 
Min Ho menatap dalam bola mata Hye Sun yang sudah mulai tenang dengan tatapan yang penuh penghayatan dan semakin lama semakin meredup. Hye Sun pertama bingung tapi ia kemudian sadar jika Min Ho mulai berhasrat padanya hingga membuatnya salah tingkah dan pipinya mulai memerah karena sebenarnya ia juga begitu, ia jadi gugup dan merasa canggung apalagi ia bisa merasakan degup jantung Min Ho yang memburu.

Hye Sun menggulingkan badannya ke samping dan bermaksud hendak duduk untuk menutupi perasaannya tapi ia tidak bisa duduk karena Min Ho dengan cepat duduk dan menahan bahunya. Hye Sun kaget, ia hendak protes tapi Min Ho langsung memegang dagunya dan menyesap bibirnya yang mungil dan lembut dengan ciuman ringan dan 10 detik kemudian melepaskannya hingga membuat Hye Sun tertegun menatap Min Ho yang wajahnya masih berjarak 1 cm dengan wajahnya.
 
Mulut Hye Sun ternganga, ia baru pertama kali merasakan bibirnya disentuh oleh bibir seorang pemuda, bibir Min Ho yang kenyal dan padat terasa dingin dan lembut. Beginikah rasanya dicium orang yang kita suka batinnya, rasanya sulit dilukiskan dengan kata-kata, dahsyat seperti kesetrum berjuta-juta ton listrik mengaliri tubuh, indah seperti melihat kembang api yang beraneka warna dan rupa, senang seperti mendapat kado benda yang diinginkan tapi sulit mendapatkannya, lembut seperti makan harum manis, dingin seperti berada di tengah salju, dan ketagihan seperti orang yang sudah sakaw obat-obatan.


End Chapter


**************


fara

  • Guest
LITS
« Reply #56 on: May 08, 2010, 02:19:06 am »
Onnie amira thanks ya udh diupdate...
Ak baca dulu ya :)
-----------------------

wah, minho baik bgt mau nolong hyesun walaupun hyesun'y gengsian bgt [lovestruck] [lovestruck]

part terakhirnya nanggung bgt onnie,
kira2 bakalan ada hal2 apa ya?
[laughing] [laughing] [laughing]
« Last Edit: May 08, 2010, 03:54:01 am by fara »

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
Re: ~LOST IN THE SEA ~ Last update April 08, 2010
« Reply #57 on: May 08, 2010, 02:24:27 am »
Horeee.... akhirnya diupdate juga... [smiley-gen013] [smiley-dance013] [smiley-gen013] Gumawoyo Onnie  [cheekkiss]
Spoiler baca bagian paling bawah "kesetrum-kesetrum"  [on] [hmpfh] [hmpfh]

Mo baca dulu semua ntar balik lagi buat komen  [hmpfh]

Offline neiya

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1006
  • Location: depoook
    • View Profile
First coment!!

Aw aw.. Di chapt ini bener"romantis banget ya sist,,*ku bacanya sampe deg"an looh.. Pasti next chaptnya ada ehem ehemnya kan sist :p hihi secara udh di hutan..dingin..gelap lagi..cuaca mendukung bgt th :p



Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Hai Fara, Vayza & Neiya...gomawo sudah baca, kirain gak ada yang minat lg..

[laughing][laughing][laughing]..baru nyadar aku ternyata nih FF benar-benar sebulan baru update dari tgl 8 ke tgl 8...

Neiya : cepat banget bacanya pasti pikiranmu pada [hmpfh][hmpfh]..
Chap 5 ya...? Kayaknya sih gitu Nei, sebenarnya nih chap 4 ini sudah ada yang [on][on][on] tapi aku potong untuk chap endingnya...