Author Topic: OFF AIR ~ updated 2 April 2011  (Read 54736 times)

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: OFF AIR ~ spoi spoi spoi ilerrrrrrrrrrrrr
« Reply #585 on: March 31, 2011, 09:15:08 am »
spoiler gelombang ke 2  [heh]


“Paman, kenapa datang sendiri? Bibi Hyesun ke mana?” tanya Shin Bi.

“Bibi Hyesun lagi belajar” jawab Minho.

“Belajar?” kepala Shin Bi miring ke sebelah kiri.

“Pasti sedang belajar membuat adik bayi, benar kan?” Shin Bi memasang tampang polosnya.

“MWO!” seketika wajah Minho berubah merah.

“Paman, kapan Shin Bi bisa dapat adik bayi?” rengek Shin Bi.

“Yya, si … si … siapa yang mengajari bertanya seperti ini?” Minho jadi salah tingkah.

“la … la … lagi pula kalau mau adik bayi minta saja sama omma dan appanya Shin Bi, bukan dengan paman” elak Minho.

“Omma lagi ada syuting, jadi tidak boleh punya adik bayi dulu” wajah Shin Bi berubah sendu.

“Shin Bi harus sabar sampai omma selesai syuting” hibur Minho.

“Shin Bi tidak bisa sabar lagi. Kata omma kalau mau cepat, minta sama paman Minho dan bibi Hyesun saja” jawab Shin Bi.

“MWO! Omma bilang seperti itu?” selidik Minho.

“Ne” ucap Shin Bi.

Aish!! Noona, awas kau ya’ geram Minho dalam hati.


Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: OFF AIR ~ spoiler gelombang ke 2
« Reply #586 on: March 31, 2011, 09:33:44 am »
 [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

yo won ada-ada saja... malas hamil lagi.. eh, malah adik ipar yang disuruh hamil


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: OFF AIR ~ spoiler gelombang ke 2
« Reply #587 on: March 31, 2011, 10:10:39 am »
setuju ama noonanya minho!! (lupa namanye [hmpfh] [hmpfh] )

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
Re: OFF AIR ~ spoiler gelombang ke 2
« Reply #588 on: March 31, 2011, 10:24:50 am »
setubuh...off air cepet di update artinya minsun makin cepet buat dedenya,,FIGHTING!!!!! [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Love you more than I can say

Offline lee sun ho

  • Full
  • ***
  • Posts: 265
  • onnie you're so pretty
    • View Profile
Re: OFF AIR ~ spoiler gelombang ke 2
« Reply #589 on: March 31, 2011, 11:29:27 am »
sist liko update yukkkkkkk
update [smiley-gen013]
update [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
MinSun....''I will always love Them''
forever and ever

Offline dalbyeol

  • Senior
  • ****
  • Posts: 803
    • View Profile
Re: OFF AIR ~ spoiler gelombang ke 2
« Reply #590 on: March 31, 2011, 07:53:04 pm »
spoiler gelombang k-2 dah keluar...brarti sbntar lg ada update-an,donk...ya kn,sist.Liko??? [biggrin]

cepetan d update,sist...pengen tau apa Shin Bi bisa dpt adik baby dr paman Min Ho & bibi Hye Sun sesegera mungkin??? [hmpfh]

 
[smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] ayo,paman Min Ho & bibi Hye Sun...berjuanglah demi Shin Bi [hmpfh]  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

gumawo buat spoiler gelombang 1 & 2-nya,sist...update-annya dtunggu lho [biggrin]

HWAITING!!! [AddEmoticons04262]

And I'll never promise to
be true to anyone,unless it's you...The Day I Fall in Love

Offline goo meei

  • Full
  • ***
  • Posts: 404
  • i love MINSUN
  • Location: denpasar
    • View Profile
Re: OFF AIR ~ spoiler gelombang ke 2
« Reply #591 on: March 31, 2011, 11:55:00 pm »
sist liko ayo di update [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
spoilernya bikin penasaran^^....atau mau ada spoiler gelombang ke-3? [biggrin]

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
Re: OFF AIR ~ spoiler gelombang ke 2
« Reply #592 on: April 01, 2011, 07:40:11 am »
spoiler nya terus sist.. :( updat nya kpan..? udah lma neh nungguin... besok ya sist di updat :) pleeees memohon" neh sambial bungkuk"

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Re: OFF AIR ~ spoiler gelombang ke 2
« Reply #593 on: April 01, 2011, 09:51:25 am »
 [whip] [whip] liliandra kemanaaaaaaaaaaa pake gelombang segala kayak psb hmph

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: OFF AIR ~ spoiler gelombang ke 2
« Reply #594 on: April 01, 2011, 11:03:53 am »
sist liko ayo di update [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
spoilernya bikin penasaran^^....atau mau ada spoiler gelombang ke-3? [biggrin]

boleh boleh, spoiler gelombang ke 3 bsk ya atau mau malam ini jg bs  [hmff]

Offline dalbyeol

  • Senior
  • ****
  • Posts: 803
    • View Profile
Re: OFF AIR ~ spoiler gelombang ke 2
« Reply #595 on: April 02, 2011, 05:54:26 am »
sist liko ayo di update [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
spoilernya bikin penasaran^^....atau mau ada spoiler gelombang ke-3? [biggrin]

boleh boleh, spoiler gelombang ke 3 bsk ya atau mau malam ini jg bs  [hmff]

klo bisa sih langsung aja update,sist...gmn??? [AddEmoticons04258]

And I'll never promise to
be true to anyone,unless it's you...The Day I Fall in Love

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: OFF AIR ~ spoiler gelombang ke 2
« Reply #596 on: April 02, 2011, 08:24:22 am »


Waktu terus bergulir. Menit dimakan jam. Jam digilas hari. Hari digeser bulan. Hingga tak terasa kebersamaan mereka sebagai pasangan hidup sudah terjalin selama 8 bulan. Dua insan ini akhirnya mengikrarkan janji suci walau dilingkupi kontroversi. Minho menikahi Hyesun di tengah gemuruh protes para Minoz. Lain hal dengan Sunniez. Fans Hyesun ini lebih fleksible. Mereka bisa menerima siapapun pria pilihan Hyesun demi kebahagiaan sang idola. Minho bukannya mengabaikan ketidaksetujuan fansnya. Ia sudah bersabar dan memberikan waktu agar Minoz bisa belajar menerima Hyesun.

Minho menunggu selama 3 bulan. Berharap Minoz ada perubahan. Ada hasil memang, tapi tidak begitu memuaskan. Hanya 25 persen Minoz yang berubah haluan. Sisanya terlalu egois untuk memahami perasaan Minho. Ketika tenggang waktu tersebut habis, Minho tak kuasa untuk menunggu lagi. Minho membulatkan hati membawa Hyesun masuk ke dalam anjungan cinta yang abadi. Meresmikan Hyesun menjadi teman sehidup semati. Melegalkan Hyesun sebagai Nyonya Lee.

Lalu karir? Bagaimana dengan karir mereka? Mustahil jika pernikahan ini tidak berdampak pada karir masing-masing. Minho batal membintangi City Hunter. Hyesun gagal berperan dalam Absolute Boyfriend. Itulah efek yang dirasakan. Namun hal tersebut tidak terlalu dipermasalahkan. Mereka memang berniat rehat dari dunia hiburan setelah melepas masa lajang. Hyesun memutuskan kuliah lagi. Ia tercatat sebagai mahasiswi Universitas Sungkyunkwan. Sedangkan Minho bergelut dalam dunia bisnis yang dirintis Jae Bin, suami Yeo Won.

*******

Waktu Hyesun sepenuhnya untuk kuliah. Hari-hari Minho diisi dengan pekerjaan kantoran. Kini hidup mereka jauh dari hiruk-pikuk panggung hiburan. Jadwal mereka lebih manusiawi setelah mencopot gelar keartisan. Pergi jam 8 pagi, pulang jam 6 sore atau paling telat jam 8 malam jika ada keperluan mendesak. Beruntung bagi Minho. Untuk hari ini ia bisa keluar kantor on time.

Rutinitas Minho sepulang kantor adalah menjemput Hyesun. Baru saja mobil Minho berjalan menuju Universitas Sungkyunkwan, pesan singkat dari Hyesun masuk ke dalam ponselnya. Hyesun minta dijemput 1 jam lagi sebab masih disibukkan dengan project baru. Hyesun berencana membuat rumah produksi sendiri. Jiwa seni yang mengaliri darah Hyesun rupanya terlalu kental. Ia sulit terpisah dengan dunia seni walau tak lagi tampil di hadapan kamera.

Guna mengisi 1 jam ke depan, Minho memutuskan mampir ke rumah Yeo Won. Minho bermain dengan keponakan kecilnya, Shin Bi, yang beberapa bulan lalu mendadak tenar berkat interview sembunyi-sembunyi.

“Paman hentikan … geli …” ronta Shin Bi atas keisengan Minho menggelitikinya.

“Shin Bi bernyanyi dulu, baru paman hentikan” jawab Minho.

“Tidak mau” tolak Shin Bi.

“Omma, tolong Shin Bi … Paman Minho nakal” Shin Bi mencari perlindungan Yeo Won.

“Omma sedang ada tamu, tidak akan datang membantu kurcaci kecil ini” ucap Minho.

“Mwo! Kurcaci?” protes Shin Bi.

“Ne, kurcaci kecil yang selalu menemani putri salju” sambung Minho.

“Lalu putri saljunya siapa? bibi Hyesun?” terka Shin Bi.

“Tepat! Kurcaci yang satu ini memang sungguh hebat” Minho mencubit gemas pipi gembul Shin Bi.

“Paman, kenapa datang sendiri? Bibi Hyesun ke mana?” tanya Shin Bi.

“Bibi Hyesun lagi belajar” jawab Minho.

“Belajar?” kepala Shin Bi miring ke sebelah kiri.

“Pasti sedang belajar membuat adik bayi, benar kan?” Shin Bi memasang tampang polosnya.

“MWO!” seketika wajah Minho berubah merah.

“Paman, kapan Shin Bi bisa dapat adik bayi?” rengek Shin Bi.

“Yya, si … si … siapa yang mengajari bertanya seperti ini?” Minho jadi salah tingkah.

“la … la … lagi pula kalau mau adik bayi minta saja sama omma dan appanya Shin Bi, bukan dengan paman” elak Minho.

“Omma lagi ada syuting, jadi tidak boleh punya adik bayi dulu” wajah Shin Bi berubah sendu.

“Shin Bi harus sabar sampai omma selesai syuting” hibur Minho.

“Shin Bi tidak bisa sabar lagi. Kata omma kalau mau cepat, minta sama paman Minho dan bibi Hyesun saja” jawab Shin Bi.

“MWO! Omma bilang seperti itu?” selidik Minho.

“Ne” ucap Shin Bi.

Aish!!! Noona, awas kau ya’ geram Minho dalam hati.

“Paman, bikinkan Shin Bi adik bayi ya … ya paman ya …” Shin Bi mengeluarkan senyum andalannya demi meluluhkan Minho.



“Yy … Yy … Yya … Yya …” Minho jadi kalang kabut sendiri dan terlihat mulai luluh.

Kring … Kring … dering ponsel menyelamatkan Minho dari rengekan Shin Bi.

“Dari bibi Hyesun” ucap Minho sembari menunjukkan ponselnya.

“Shin Bi tenang dulu ya, jangan ngomong macam-macam” pesan Minho yang dibalas anggukan Shin Bi.

“Yeoboseyo. Kau sudah selesai, Hyesun-a?” Minho mulai bercakap via ponsel.

“Miane, urusan ku belum beres. Satu jam lagi baru selesai” Hyesun kembali mengulur kepulangannya.

“Arasso. Selesaikanlah pekerjaan mu” jawab Minho.

“Paman, adik bayi … bilang pada bibi Hyesun, Shin Bi minta adik bayi” seru Shin Bi.

“Yya, pelankan suara mu” ucap Minho.

“Shin Bi? Minho-a, kau sedang bersama Shin Bi?” Hyesun menangkap suara Shin Bi dari balik ponsel Minho.

“Ne. Aku mampir dulu ke rumah noona” jawab Minho.

“Apa yang Shin Bi katakan? Ucapannya tidak terlalu jelas. Di sini berisik sekali” ujar Hyesun.

“Anhi … Anhi … bukan hal penting” kilah Minho.

“SHIN BI MINTA ADIK BA …” teriakan Shin Bi terhalang bekapan tangan Minho.

“ssssttttt …” potong Minho.

“Yeoboseyo … Minho-a, kau masih di situ? Ada apa dengan Shin Bi?” tanya Hyesun cemas.

“Gwenchana. Shin Bi baik-baik saja. Hyesun-a, segera lanjutkan tugas mu agar tidak pulang kemalaman” pesan Minho.

“Baiklah. Aku tutup dulu. Sampaikan salam untuk Shin Bi, noona dan oppa” ucap Hyesun.

“Arasso arasso” Minho mengakhiri sambungan telepon. Ia segera bangkit lalu lari terbirit.

“Shin Bi-a, paman pulang dulu, bibi Hyesun minta dijemput sekarang” Minho berpamitan sambil berlalu. Mau tidak mau Minho berbohong agar terbebas dari Shin Bi dan permintaan tak terduga gadis kecil itu.

“PAMAN, JANGAN LUPA ADIK BAYINYA YAAAAA” teriak Shin Bi.

*******

Satu jam kemudian Minho menjemput Hyesun di Universtitas Sungkyunkwan. Enam puluh menit sebelumnya Minho hanya mengitari kota Seoul tanpa tujuan. Lebih baik berkeliling dari pada bertahan di rumah Yeo Won dengan resiko terus ditagih Shin Bi seorang adik bayi.

Selepas dari Universitas Sungkyunkwan, Minho membawa Hyesun ke sebuah restoran. Mereka makan malam berdua tanpa gangguan sorot kamera. Media Korea sudah tidak begitu antusias membahas berita Minho-Hyesun. Hal ini justru menguntungkan keduanya sebab privasi mereka aman terjaga. Minho-Hyesun jadi bebas berduaan di mana saja dan kapan saja tanpa khawatir serbuan kuli tinta. Paling-paling hanya terdengar kasak-kusuk dari orang sekitar. Atau ada Minsuners yang menghampiri minta tanda tangan dan sekedar foto bersama.

Biasanya mereka menghiasi acara makan malam dengan diskusi atau obrolan ringan. Tapi tidak untuk saat ini. Makan malam kali ini benar-benar berupa kegiatan mengisi perut. Minho-Hyesun tidak saling berucap. Orang yang melihat scene ini pasti mengira mereka sedang marahan. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah keduanya tengah dilanda kelelahan yang amat sangat. Minho penat dengan urusan kantor ditambah masih syok dengan permintaan Shin Bi. Sementara Hyesun dipusingkan dengan mata kuliah dan rencana pembuatan rumah produksi.

Gurat-gurat lelah sangat jelas tercipta di wajah putih Hyesun. Minho yang dari awal sudah menyadari, memilih tidak menunjukkan aksi bertanya selain diam. Ia hafal betul akan watak istrinya. Hyesun tidak suka diganggu dan lebih memilih bungkam seribu bahasa ketika terjebak dalam kepenatan. Saat suasana hatinya berangsur membaik, Hyesun akan bercerita tanpa diminta. Meski telah paham dengan tabiat Hyesun, rasa khawatir tetap saja menghantui Minho.

Setelah hidangan makan malam habis dilahap, Minho menatap Hyesun seraya bertanya apakah Hyesun ingin pulang sekarang. Sebuah anggukan kecil didapat Minho. Ditambah senyuman tipis yang susah payah disuguhkan Hyesun demi mengusir kecemasan Minho akan kebungkaman dirinya. Dan hasilnya pun mujarab. Senyum Hyesun penawar yang tepat buat menghapus kekhawatiran Minho.

Minho bangkit dari kursi lalu sedikit memundurkan bangku tempat Hyesun duduk. Ia meraih tangan Hyesun dan membawanya ke luar restoran. Selama berjalan menuju parkiran, Minho tidak melepaskan genggaman tangannya. Ia menyelipkan jari ke tiap sela jemari Hyesun. Perlakuan ini ampuh mengurangi separuh kelelahan Hyesun. Hati Hyesun menjadi terenyuh karena Minho selalu saja meperlakukannya dengan baik di berbagai macam kondisi.

Minho duduk di depan kemudi sedangkan Hyesun berada di sampingnya. Tanpa buang waktu, Minho segera menstater mobil hingga melaju di jalan raya. Selama perjalanan keduanya tidak mengucapkan satu patah kata pun. Minho melirik Hyesun dan mendapati istrinya sedang memandang lurus ke depan.

Entah apa yang ia pikirkan’ batin Minho.

Minho kembali fokus dengan kemudi. Saat tiba di lampu merah, Minho mengijak rem dengan sangat hati-hati. Takut Hyesun tersakiti. Minho melirik Hyesun lagi. Objek yang dituju ternyata sudah lelap tertidur.

“Tidurlah” ucap Minho pelan.

Selama menunggu lampu berubah hijau, Minho memanfaatkan kesempatan ini untuk menikmati wajah sang pujaan hati. Ketika menatap Hyesun, hari besar itu terbayang kembali. Hari di saat mereka mengucap janji suci. Hari bersejarah tersebut berlangsung khidmat. Resepsi pernikahannya berjalan meriah. Ada banyak teman-teman satu profesi yang datang menghadiri. Wartawan juga tak mau ketinggalan berita. Mereka terus saja berkeliaran di gedung resepsi padahal kedua mempelai telah memberikan testimony.

“Ada yang bersedia mencubit pipi ku?”

“Sedari tadi aku menepuk-nepuk pipi sendiri supaya terbagun dari mimpi”

“Ini benar-benar bagaikan mimpi”

“Aku masih belum percaya kalau Hyesun sudah resmi menjadi istri ku”

“Seingat ku, kebajikan yang telah aku lakukan belum begitu banyak… tapi mengapa balasan yang ku terima tidak setimpal dengan kebajikan yang sudah aku perbuat”

“Bisa menikahinya adalah anugerah yang luar biasa”

“Bagi ku dia terlalu sempurna”

“Aku bahkan masih binggung … dia ini orang atau boneka … manusia atau bidadari surga … aigoo, cantiknya …”


Demikian penuturan Minho saat konferensi pers di hari pernikahannya. Hyesun menimpali dengan berkata …

“ … Aku tidak tahu harus bilang apa …”

“Seperti yang Minho katakan, ini seperti dalam mimpi”

“Aku tidak menyangka akan ada hari di mana aku dan Minho bersanding sebagai raja dan ratu sehari”

“Pernikahan ini adalah keajaiban”

“Kami mohon doa restu dari semua pihak … semoga mahligai yang kami bangun dapat berdiri kekal abadi hingga nyawa meninggalkan raga ...”


Minho senyum-senyum sendiri mengenang hari bersejarahnya. Peristiwa itu seolah baru kemarin terjadi. Mobil Minho belum melaju walau lampu hijau telah menyala. Minho masih asik memandangi wajah elok di sampingnya. Wajah rupawan itu tak pernah jemu dipandang  mata.

“Sekarang aku yakin … kau bukan manusia, melainkan bidadari surga …” Perlahan tangan Minho bergerak. Dengan lembut dan hati-hati dibelainya pipi sang istri. Hanya sebentar. Cuma beberapa kali belaian. Takut mengganggu tidur yang bersangkutan.

“Saranghe, bidadari ku” ujar Minho tanpa tedengar si bidadari yang terlampau asik dibuai alam mimpi.

*******

Begitu sampai di rumah, kepala pelayan menyambut hormat kedatangan Minho dan Hyesun. Ia melaporkan bahwa makan malam akan siap beberapa saat lagi. “Tidak usah, kami sudah makan di luar. Kalian habiskan saja makanan itu” tutur minho.

“Tuan dan Nyonya butuh sesuatu?” tanya si kepala pelayan saat melihat wajah lesu Hyesun.

“Tidak ada. Kalian boleh istirahat” perintah Minho.

“Baik, tuan” jawab kepala pelayan sambil menatap majikannya menaiki anak tangga.

Hyesun berjalan lebih dulu diikuti Minho dari belakang. Saat tiba di kamar, Hyesun langsung menuju kamar mandi sementara Minho merebahkan diri di ranjang. Tak lama kemudian gemericik air segera terdengar. Rintik-rintik air hanya berbunyi selama 15 menit. Setelah itu pintu kamar mandi terbuka. Hyesun muncul mengenakan baju tidur. Ia berjalan menuju ranjang dan mendapati Minho terbaring diam dengan mata tertutup rapat.

“Minho-a, sekarang giliran mu” Hyesun mencolek lengan Minho.

“Ehm ...? “ ucap Minho sambil membuka matanya agak lebar.

“Aku bilang ... sekarang giliran mu mandi. Tidak baik langsung tidur sementara tubuh mu belum dibersihkan” Hyesun mengira Minho sudah tertidur dan tidak mendengar ucapannya hingga harus diulang.

“Oh, arasso” Minho bangkit dari ranjang dan menuju kamar mandi.

Lega juga karena akhirnya Hyesun bersuara. Kata “Ehm” sengaja dilontakan Minho karena ia ingin mendengar lagi suara Hyesun yang hilang semenjak makan malam tadi. Jadi bukan seperti dugaan Hyesun yang mengira Minho sudah tidur hingga tidak mendengar ucapannya.

*******

Selesai mandi, Minho menemukan Hyesun sudah pulas tertidur. Minho menaiki ranjang dan berbaring di samping Hyesun. Ia memiringkan badan menghadap Hyesun. Dipandanginya dengan seksama rupa istrinya itu. Wajah putih Hyesun tetap memikat meski sedang terlelap. Mata bundar Hyesun masih menarik walau tertutup kelopak. Hidung mungil Hyesun terlihat tambah melengkapi pesona kecantikannya. Dan bibir ranum Hyesun tampak menggoda untuk diesap.

Gairah Minho tiba-tiba timbul. Keinginan menyentuh dan memeluk Hyesun bergejolak dalam hati. Hasrat mencumbu dan menyetubuhi Hyesun berkecamuk di sanubari. Tapi begitu melihat Hyesun tertidur dengan nyenyaknya, Minho berusaha mati-matian menekan serangan birahi. Minho hanya sanggup memandangi Hyesun tanpa berani menjamahi.

Bola mata Minho yang tadi terpusat ke wajah Hyesun, kini bergerak turun ke leher dan dada. Minho menemukan sesuatu yang janggal di sana. Kancing baju piyama Hyesun paling atas tidak terhubung dengan sempurna ke dalam lubangnya. Kancing itu bisa terlepas kapan saja dengan mudah. Dan benar saja. Tiba-tiba Hyesun memiringkan tubuh ke arah Minho. Gerakan ini sukses membuat kancing baju terlepas total dari lubangnya. Alhasil sebagian dada putih Hyesun menyembul ke luar.

Bola mata Minho terbelalak lebar. Liur Minho tercekat sulit ditelan dengan lancar. Usaha Minho meredam gairah sia-sialah sudah. Gairah itu justru semakin membuncah akibat terpampang pemandangan indah. Terlebih saat Minho tersadar bahwa kesibukan masing-masing telah menyita waktu hingga sudah 2 minggu lebih rutinitas itu tidak mereka jalani. Jadi wajar saja jika ia menggingkannya kini.

Tahan Minho-a. Kau harus menahannya. Dia sedang kelelahan. Kau tidak boleh mengganggunya’ Minho memukul-mukul kepala karena tak kuasa menahan gairah.

Miane, Shin Bi-a. Paman belum bisa menghadiahkan mu seorang adik bayi’ ucap Minho saat teringat permintaan keponakan semata wayangnya.

Perlahan tangan Minho bergerak. Dengan wajah sedikit dipalingkan dan mata dipicingkan, Minho berusaha memperbaiki posisi kancing piyama Hyesun. Tangan Minho bergetar saat mencoba memasukan kancing pada lubangnya. Mau tidak mau Minho harus memblokir bagian ini agar lebih mudah meredam gairah. Tanpa membangunkan Hyesun, si kancing piyama berhasil juga dimasukan Minho ke dalam lubangnya.

Selesai urusan kancing, Minho menarik napas dalam-dalam kemudian dihembuskan pelan-pelan. Minho mengulanginya berkali-kali hingga rasa tenang didapati. Dengan usaha keras akhirnya Minho bisa mengendalikan diri. Rasa kantuk pun mulai menghinggapi. Minho menyempatkan mengecup kening Hyesun sebelum memasuki alam mimpi.

*******

Pagi itu matahari bersinar cerah. Cahayanya merambat masuk melalui celah. Di sebuah ranjang tampak Minho dan Hyesun terbaring nyaman. Minho orang pertama yang membuka mata. Disusul Hyesun yang baru terjaga ketika sinar mentari menyilaukan mata. Hyesun menoleh ke arah Minho yang ternyata tengah asik memandanginya.

“Bagaimana tidurmu? Nyenyakkah?” tanya Minho.

“Ne, tidurku saaaaaaaaangat nyenyak” Hyesun pamer senyum manisnya.



“Lalu kau? Apa semalam tidur mu pulas?” Hyesun balik bertanya.

“Ehmm … tidurku semalam ... “ Minho bingung harus menjawab apa saat teringat akan ketidakberuntungannya semalam.

“Wae? Tidurmu semalam kenapa?” tanya Hyesun.

“Gwenchana. Tidurku juga nyenyak kok” Minho tersenyum kecut.

“Miane” ujar Hyesun.

“Waeyo?” tanya Minho.

“Miane karena sejak makan malam aku tidak menghiraukanmu. Kemarin itu aku lelah sekali. Coba kau bayangkan, dari pagi hingga petang ada saja masalah yang datang” keluh Hyesun.

“Arasso. Aku sudah tahu tanpa kau jelaskan” jawab Minho.

“Min Jung yang memberi tahu?” tanya Hyesun.

“Anhiyo. Wajahmu yang memberi tahuku” jawab Minho lagi.

“Mwo! Wajahku? Ada apa dengan wajahku kemarin?” Hyesun meraba-raba wajahnya sendiri.

“Perhatikan … wajahmu kemarin seperti ini” Minho menarik kedua ujung mata dengan jari telunjuk disertai memonyongkan bibir hingga membentuk mimik yang lucu.

“Yya! Kau meledekku. Aku tidak seburuk itu” bantah Hyesun sambil membalikkan badan hingga posisi tidurnya kini membelakangi Minho.

Minho mendekati Hyesun yang memunggunginya. Tangan Minho melingkar di pinggang Hyesun. Tubuh Minho terus merapat mendekati tubuh Hyesun. Wangi khas Hyesun seketika terhirup. Minho memainkan tangannya di seputar pinggang Hyesun. Yang bersangkutan diam saja tanpa protes sedikit pun.

Tangan Minho mulai bermain berani. Tangan yang tadinya meraba tubuh Hyesun yang terhalang piyama, kini menerobos masuk ke dalam piyama. Minho semakin aktif menggerayangi tubuh Hyesun. Bahkan permainannya tambah nakal. Tangan itu mulai merambat hingga bagian dada. Sampai akhirnya …

“Akh …” Hyesun memekik pelan.

Nafas Hyesun tersengal. Kelopak matanya terbuka total. Hyesun amat terkejut saat Minho meraba bagian ini. Ia baru tersadar bahwa dadanya tidak terlindung bra. Hyesun lupa membawa bra ganti saat mandi semalam. Pikirnya, ia akan memakai bra saat Minho masuk kamar mandi. Tapi apa daya, karena terlampau lelah niatan itu pun terlupa.

Kondisi ini tentu saja menguntungkan Minho. Merasa di atas angin, Minho tak buang-buang kesempatan. Ia terus memainkan tangannya. Seiring dengan itu, desahan halus keluar dari mulut Hyesun. Hal ini makin membuat Minho terangsang untuk melakukan lebih dan lebih.

Minho membalikkan tubuh Hyesun ke arahnya. Pandangan Minho menjurus tepat ke bibir Hyesun. Tak berapa lama bibir mereka bertemu. Minho melampiaskan seluruh gairahnya yang tertunda semalam. Hyesun tidak menolak. Ia memaklumi karena belakangan ini mereka memang sangat sibuk hingga aktivitas yang satu ini terbengkalai.

Bibir Minho makin meraja di bibir Hyesun. Sementara tangan Minho tetap melakukan hal yang sama seperti di awal. Minho menghentikan sejenak ciumannya. Membuka peluang untuk Hyesun menghirup udara. Saat Hyesun mengatur ritme pernapasan, bukan berarti Minho hanya berpangku  tangan. Minho merubah sasaran. Ia kini mendekati leher Hyesun. Aroma khas Hyesun yang memabukkan tambah mendidihkan darahnya. Maka segera saja Minho menyerbu leher Hyesun tanpa rasa ampun.

Lambat laun permainan mereka semakin berkembang. Pakaian yang menutupi tubuh keduanya kian berkurang. Suara-suara desahan terdengar bertambah kencang. Hingga akhirnya …

Kriiiiing ... kriiiiing ... kriiiiing. Ponsel Minho berdering nyaring.

Dasar Minho, dering ponsel ternyata tidak berhasil menghentikan aktivitasnya. Minho terus saja mencumbui Hyesun yang kini telah polos bagian atas. Karena tidak diangkat, bunyi ponsel pun berhenti dengan sendirinya. Tak berapa lama suara yang sama terdengar lagi. Kali ini pun Minho tidak mengindahkan suara tersebut. Dan seperti sebelumnya bunyi itu hilang dengan sendirinya. Hal yang sama terulang hingga 4 kali. Isyarat Hyesun supaya Minho menjawab telepon dulu berakhir sebagai angin lalu.

Sampai pada kasus ke 5. Kring … Kring … Kring …

“Minho-a …” panggil Hyesun di tengah serangan fajar yang dilancarkan Minho.

“Ehmm …” Minho asik berkutat pada leher Hyesun.

“Ja … wab … dulu ... ponsel … mu” pinta Hyesun denga suara parau.

Minho pun menyerah. Minho mengangkat tubuh polosnya yang entah sudah berapa lama berada di atas tubuh Hyesun. Minho tidak langsung fokus pada ponsel. Ia malah asik memandangi tubuh polos Hyesun sambil tersenyum nakal.

“Yya, cepat jawab ponsel mu” Hyesun menutupi tubuh dengan selimut. Berusaha menghentikan tatapan Minho yang memandangi dirinya dengan mata berkilat penuh nafsu syahwat.

“Kita lanjutkan sebentar lagi … kau tidak boleh kemana-mana” ujar Minho dengan napas terengah.

“Aish, lekas angkat handphone mu” Hyesun melayangkan bantal ke arah Minho.

“Auw …” Minho memegangi kepala yang terkena hantaman bantal.



“Arasso … akan segera ku angkat” Minho menekan tombol hijau pada ponselnya.

“Yeoboseyo” ucap Minho sambil berusaha mengatur napas senormal mungkin.

Ketika Minho menerima telepon, Hyesun bergegas memakai piyama dan berjalan menuju pintu. Pandangan menusuk Minho supaya Hyesun tinggal, tidak menggentarkan Hyesun untuk meninggalkan kamar. Ia lebih memilih menyiapkan sarapan ketimbang mendengarkan pembicaraan Minho yang sepertinya sangat serius dan akan memakan waktu lama.

*******

Setengah jam kemudian Hyesun kembali lagi ke kamar. Tak ada sosok Minho di kamar mereka. Walau mata Hyesun telah menyapu ke segala sudut, tapi tak tampak tanda-tanda keberadaan Minho. Saat pandangan Hyesun bertemu jam dinding, mata bundarnya langsung membulat.

“Omo, sudah jam 7 …” Hyesun bergegas ke kamar mandi. Ia tidak mau telat menghadiri kuliah pagi.

“Mungkin Minho berada di ruang kerjanya” begitulah pikir Hyesun.

Hyesun menerobos kamar mandi. Ia mengunci pintu lalu menanggalkan seluruh pakaian. Tak lama kemudian butir-butir air berjatuhan dari lubang shower menghujani tubuh polos Hyesun.

“Siut ... suitttttttttttt” Hyesun tersentak dengan siulan yang baru saja terdengar.

Mata Hyesun sibuk mencari sumber siulan tadi. Dan alangkah terkejutnya ia ketika mendapati Minho sedang berdiri di balik tirai kamar mandi.

“YYA! LEE MIN HOOOOO! APA YANG KAU LAKUKAN????????!!!!!!” Hyesun berteriak sekeras-kerasnya.

“Mandi. Kenapa? tidak boleh” jawab Minho enteng.

Hyesun segera menyambar handuk lalu membalutkan ke tubuh. Pekerjaan ini mestinya hanya memakan beberapa detik saja. Namun karena panik, Hyesun memerlukan waktu yang agak lama.

“MWO! Apa kau tidak bisa menunggu sampai aku selesai mandi baru kau …” perkataan Hyesun tersendat saat pandangannya jatuh ke bawah.

“… AAAAAAAAAA …” jeritan melengking keluar dari mulut Hyesun.

“Yya! Ada apa dengan mu, jangan berteriak seperti itu. Semua pelayan bisa mendengar jeritan mu” Minho segera membekap mulut Hyesun. Bekapan itu dilepaskan saat Hyesun sudah agak tenang.

“ka ... ka .... kau ... ke ... napa ... tidak ... berpakaian …???” rupanya ini penyebab hysteria Hyesun.

“Orang mandi mana ada yang berpakaian” Minho memperhatikan Hyesun yang menutupi wajahnya sendiri dengan kedua tangan.

“Dan kau kenapa menerobos masuk saat aku sedang mandi?” Minho berusaha melepaskan tangan yang menutupi wajah Hyesun.

“Kalau sedang mandi kenapa tidak mengunci pintu” Hyesun melawan usaha Minho untuk menarik tangannya.

“Aku lupa” jawab Minho

“Yya, kau ini sedang apa sih? Kenapa menutupi wajahmu terus?” tanya Minho ketika belum berhasil membuka mata Hyesun.

“Kau … pakai handuk dulu!” pinta Hyesun.

“Ah, arasso arasso. Tunggu sebentar” jawab Minho.

Hyesun diam beberapa saat dan ia mulai membuka matanya ketika minho berkata “Sudah. Bukalah matamu sekarang”

“Yya! Lee Min Ho, kenapa kau masih ...?” Hyesun tidak meneruskan kalimatnya. Ia dibohongi Minho karena saat ini Minho belum juga membalut diri dengan sehelai benang pun.

“Ha … Ha … Ha … “ Minho terbahak karena sukses menjahili Hyesun.

“Lee Min Ho! Cepat pakai handuk!” Hyesun berubah geram.

“Aigoo, kau ini seperti belum pernah melihatku tanpa busana” goda Minho.

Kali ini kesabaran Hyesun sudah habis. Ia bermaksud keluar dari kamar mandi.

“Yya, mau kemana?” Minho menahan pergelangan tangan Hyesun.

“Lepaskan! Aku pakai kamar mandi lain saja” Hyesun berusaha keluar dari belenggu tangan Minho.

“Hyesun-a, karena sudah terlanjur kita mandi bareng saja” tawar Minho.

“ANDWEEE! Aku mau buru-buru ke kampus” tolak Hyesun yang belum berhasil mengatasi jeratan tangan Minho.

“Sudah terlanjur. Ayolah ... “ Minho menyudutkan Hyesun hingga punggung Hyesun menabrak dinding kamar mandi. Hyesun yang sudah terpojok memutuskan mengambil jalan pintas. Akibatnya terdengar suara …

“AAAHHH!!!!” kali ini berasal dari mulut Minho.

Hyesun mengigit tangan Minho. Serangan itu membuat tangan Hyesun terbebas dari cengkraman Minho. Hyesun segera keluar dari kamar mandi meninggalkan Minho yang meringis kesakitan.

*******

Dua puluh menit kemudian Hyesun memasuki kamar dengan tubuh hanya terbalut handuk putih. Rambutnya yang mulai memanjang meneteskan bulir-bulir air. Hyesun mengeringkan rambut dengan handuk kecil sambil menatap jejeran pakaian di lemari. Saat sedang memilih baju, Minho keluar dari kamar mandi. Tubuh Minho hanya dililit handuk. Dadanya terlihat masih basah. Begitu juga dengan rambut legamnya. Bukannya segera berpakaian Minho malah membanting tubuh ke atas ranjang.

“Yya, kenapa malah tiduran” tegur Hyesun.

“Cepat berpakaian. Kita sudah terlambat gara-gara ide gilamu itu” ucap Hyesun.

“Ahhh ... aku masih ingin santai-santai dulu” jawab Minho sekenanya.

“MWO? Santai katamu? Kau tidak tahu ya ini sudah jam berapa” jelas Hyesun.

“Biar saja” sambung Minho lagi.

Ulah Minho semakin membuat Hyesun geram. Bisa-bisanya Minho leha-leha di atas tempat tidur sementara matahari terus menanjak naik. Lemari pakaian ditinggalkan Hyesun. Ia berjalan menuju ranjang. Hyesun segera menarik tangan Minho.

“Ayo cepat bangun!” seru Hyesun.

Melihat Hyesun dengan rambutnya yang basah dan hanya terlilit handuk, gairah Minho bangkit kembali. Minho menarik tangan Hyesun yang tadi ingin mengajaknya bangun. Akibatnya Hyesun terjatuh tepat di atas tubuh Minho.

“Yya, kau mau apa lagi?” Hyesun mencoba melepaskan tangan Minho yang membelit pingangnya.

“Jadi kau mau tahu apa yang aku inginkan?” tanya Minho dengan tatapan redup.



“Ne???” Hyesun memasang wajah polos tanpa dosa.



“Kalau begitu bersiaplah Goo Hye Sun” Minho menggulingkan tubuh Hyesun hingga posisi Hyesun tertindih tubuh Minho.

“Minho-a … kau … kau tidak bermaksud melakukannya sekarang kan?” Hyesun mulai mengerti maksud Minho.

“Miane, Hyesun-a. Aku mengingnkan mu saat ini juga” Minho mencampakkan handuk Hyesun. Lembutnya dada Hyesun segera terasa di dada bidang Minho.

“Aku janji tidak akan lama. Kita langsung menuju pada intinya saja” Dengan sekali tarik Minho melepas handuknya sendiri. Kali ini tak ada toleransi lagi buat Hyesun. Minho membutuhkan itu sekarang, tanpa bisa ditawar-tawar.

Tidak lama kemudian suasana panas memenuhi seisi kamar. Penghuninya benar-benar telah dikuasai hasrat liar. Hyesun dibuat kelimpungan. Ia sulit mengimbangi serangan fajar yang dilancarkan Minho. Hyesun memilih pasrah dan mengikuti saja alur permainan Minho yang begitu menggebu. Sesuai janjinya tadi, Minho bermain dengan tempo yang lumayan cepat. Permainan mereka cukup singkat namun tetap membuat tubuh keduanya dibasahi keringat berbulir serta liur dan lendir …

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
Re: OFF AIR ~ updated 2 April 2011
« Reply #597 on: April 02, 2011, 08:37:52 am »
wuiiiih mantaaap dueeeeh [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] #apaansih [goodgrief]
gumawo deh kak likooooo atas updatetannya.. [cheekkiss] [cheekkiss]
tapi agak agak kentang [jumpy] [jumpy]
tp gpp deh drpd enggak sama sekali [hmff]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
Re: OFF AIR ~ updated 2 April 2011
« Reply #598 on: April 02, 2011, 10:17:36 am »
akhiiirrnyaaaa.............!!!! MinSun program buat dede juga [on] [on] [on] gomapta Liko,,, [lovestruck] [lovestruck]
1 lagi "MINSUN..........JANGAN LUPA ADIIIK BAYINYA YAAA"!!!!!!!! yang banyak [love eyes] [love eyes]

Love you more than I can say

Offline itaraya

  • Senior
  • ****
  • Posts: 722
  • ~can' t take my eyes off you~
    • View Profile
Re: OFF AIR ~ updated 2 April 2011
« Reply #599 on: April 02, 2011, 10:44:43 am »
bo, dah nikah aja ya [what] kok kita gak di undang ke pernikahan mereka, kitakan minsun sejati [hmpfh]
Shin Bi dikau anak yg jenius, ayo rajin2 minta paman minho bikin adek bayi ya, biar authornya pusing [hmff]
berarti minsun gak bakal kembali ke dunia intertement dong [what]
[lovestruck][lovestruck]
saggy credit to mami love