Author Topic: Song of life last update chapter 20 (13 December 2010)  (Read 46759 times)

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: Song of life last update chapter 10 (7 July)
« Reply #210 on: July 15, 2010, 10:46:55 pm »
[angry] [angry] [angry] [angry] apa yuki 2minggu lg??? km ini bner minta di  [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [guns] [guns] [guns] [guns] [guns] [hammer] [hammer] [hammer] [hammer] [fighting] [fighting] [fighting] [fighting],,,, klo udah kasih spoiler mesti cpet update dimana2 jg,,, pokoknya update minggu ini yaaaa,ok... punk punk punk punk punk

noh pd minta minggu ini kan ai jd wajib minggu ini *maksa* punk punk punk

ok deh onnie... habis mami updet bengkoknya...gantian ai deh yang updet...  [smiley-dance013] [smiley-dance013]
sebenernya mau tadi malem, tapi keadaan berkata lain...eh malah ketiduran...  [heh] [heh] maaf onnie...  [cheekkiss] [cheekkiss] maaf semuanya...  [arms] [arms]

diusahakan habis mami updet yang bengkok...aku updet... ok? ok dunk... [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
 duusahakan juga long chapt deh... [smiley-dance013] [smiley-dance013]

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Re: Song of life last update chapter 10 (7 July)
« Reply #211 on: July 15, 2010, 11:29:37 pm »
oce ai weekend ditunggu ye update-an  punk punk punk


ADAM COUPLE SELCA

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: Song of life last update chapter 10 (7 July)
« Reply #212 on: July 16, 2010, 03:57:37 am »
oce ai weekend ditunggu ye update-an  punk punk punk

ok deh onnie...ditunggu aja...

makasih banyak onnie... [jumpy] [jumpy] [jumpy] [huglove] [huglove] [huglove]

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: Song of life last update chapter 10 (7 July)
« Reply #213 on: July 16, 2010, 11:49:34 am »
mian all..karena ada sesuatu yang sangat penting weekend besok yang tidak memperbolehkan ai untuk buka kompi...  [cry] [cry] jadi dengan terpaksa  [hmpfh] aku updet sekarang...*takut ama onnie revynska yang udah bawa senjata  [hmff] [hmff]...piiisssss onnie...just kidding...*

atau diganti aja kata-katanya...demi semua reader yang udah nunggu dan khususnya onni revynska n onnie oqyoiko  [hmpfh] [hmpfh]
 aku updet sekarang...  [hug] [hug]

maaf sekali kalau masih banyak kekurangan... [heh] [heh]

sesuai janji...kalau ada yang menginginkan m verz*yang gak tau bagus n bikin cenut2an apa gak  [hmpfh] [hmpfh]* pm ke aku ya... kalau sempet langsung aku kirim...

thenk u semuanya

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: Song of life last update chapter 11 (17 July)
« Reply #214 on: July 16, 2010, 12:08:56 pm »
Chapter 11


Gelap malam menyelimuti, suara dentang bel pintu memecah keheningan malam yang telah tercipta.

“bagaimana…”tanya seseorang pada orang yang baru saja ia bukakan pintu. Namun orang yang ia tanyai hanya diam, menerawang jauh lalu senyum terkembang diwajahnya “apa yang terjadi…” tanyanya lagi
Orang yang ditanyai masih diam, kemudian membuka lemari dan mengambil sebuah softdrink dari dalam lemari es kecil yang memang berada didalam lemari tersebut.

“YYA!! Apa yang terjadi…”tanyanya lagi, masih penasaran. Orang yang ditanyai akhirnya memalingkan wajahnya menatap orang dihadapannya dengan senyum yang terkembang “…bagus…akhirnya aku tahu…”

“apa…?”

“ahhh…”

“apa…? Apa maksudmu…?”

“errrrhhhmmm… tak ada… aku mandi dulu…”katanya lagi, membuat orang dihadapannya terdiam, bingung dengan sikapnya

“sebenarnya apa yang terjadi… apa dia mau… apa dia hanya ingin menyenangkan kedua orang tuanya atau ia benar-benar mencintai Hye na… Jung moon-aa…”panggil orang itu. Jung moon menatap laki-laki dihadapannya, lalu menundukkan kepalanya sedikit dan menggaruk kepalanya, tersenyum



“Ji Hoon…kita lanjutkan ke rencana berikutnya…”jawabnya singkat dan kemudian masuk ke dalam kamar mandi. “aku benar-benar ingin mengetahuinya…”tambahnya

“apa…?!?!?! YYA!!!”

Jung moon tersenyum tanpa mengatakan apapun. Ji Hoon diam, melihat Jung moon yang tersenyum dan masuk kedalam kamar mandi. “..YYA!! sebenarnya apa rencanamu…?”tanya Ji Hoon bingung setelah ia mendengar pintu kamar mandi dikunci, tetapi tiba-tiba menceklik terbuka kembali “yaishh!! Kau ini…aku tak pernah mengajakmu untuk ikut…kau ini mengganggu saja…pokoknya…serahkan semuanya padaku…”kata Jung moon tersenyum lalu dengan segera menutup pintu kembali, sebelum Ji hhon bertanya lebih jauh lagi, meninggalkan seribu tanda tanya dikepala Ji Hoon.

*****

Seoul, di saat yang sama…
Matahari terlihat telah bersinar menghangatkan seluruh orang yang tengah beraktivitas, memberi keceriaan, memberi senyuman, tersenyum, tetapi tidak untuk…

“En kyu-aa… ayo sarapan dulu… kenapa pagi-pagi sudah berdiam diri di depan pintu…”kata nyonya Yoon

“En kyu rindu…” jawab En Kyu dalam bisikan yang masih mampu didengar oleh nyonya Yoon
Nyonya Yoon tersenyum mengerti kegundahan En Kyu, tersenyum lalu berjongkok dihadapannya dan membawanya kepelukan. “tak apa En Kyu… sebentar lagi mereka pulang… En Kyu bersabar saja… dan lebih baik En Kyu makan… agar…”

“sehat… En kyu gak mau ditinggal lagi…”kata En Kyu mulai bersemangat dan menggandengan tangan nyonya Yoon masuk ke dalam untuk sarapan. Nyonya Yoon tersenyum melihat tingkah dan senyuman En kyu.

Seoul

Ditempat lain, waktu yang sama, kondisi yang berbeda…

“anda sudah lebih baik… tapi saya harap anda tetap menjaga diri… jangan terlalu capek dan lelah bekerja… istirahatkan pikiran dan tubuh anda barang sejenak… jangan terlalu memforsir diri…”

“ya…saya akan ingat itu…”

“terima kasih banyak dokter Kim…”sambung seseorang, sambil kemudian mengantar dokter tersebut keluar dari sebuah ruangan besar, yang didominasi dengan warna coklat kayu dan nuansa etnik yang kental “appa baik-baik saja…?”

“ne… saya ingin beristirahat… “tambah nya sambil merebahkan tubuhnya ke ranjang dan menyelimuti dirinya. “Joon…”panggilnya ketika Park Joon terlihat membalikkan badannya dan berjalan menuju keluar ruangan, membuatnya menghentikan langkahnya “ne…”

“jangan katakan pada siapa pun tentang ini…termasuk anak itu…”

“ne…” Park Joon terdiam sesaat, lalu menatap laki-laki dihadapannya dalam, lama

“tapi saya tidak dapat berjanji jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan… saya harus mengatakannya…”

“terserah…lakukan pekerjaanmu dengan baik…”jawabnya membalikkan tubuhnya membelakangi Park Joon “oh ya 1 lagi…untuk masalah itu…saya mohon…jangan sekarang atau dalam waktu dekat ini…tunggu sampai kita bertiga siap…”

Tanpa menjawab pernyataan terakhirnya, Park Joon membungkukkan tubuhnya kembali, dan melangkah pergi keluar dari ruangan tersebut.

Park Joon menutup pintu, lalu terdiam selama beberapa saat. Pikirannya mulai menerawang dan terbang jauh. Banyak hal yang terjadi sebelum akhirnya ia berada ditempat ini. Ketempat dimana seharusnya ia tak berada. Tempat dimana ia harus membuang semua perasaan. Dia benar-benar terkejut ketika mendengar pernyataan itu. Pernyataan yang membuat seluruh hidup dan perasaannya dengan susah payah ia rubah. Pernyataan yang membuatnya harus berada ditempat yang tidak semestinya, atau, memang disinikah tempatnya…?

5 tahun semenjak hari itu. Hari dimana ia harus merubah segalanya…terutama perasaannya. Perasaan yang muncul setelah menatap senyum itu. Senyum bagai mentari dan senyum layaknya malaikat yang turun ke bumi untuk menghilangkan semua kegalauan dan kegundahan manusia.

Perasaan yang terlarang setelah pernyataan itu keluar. Perasaan yang tidak boleh ada. Perasaannya yang membuatnya sakit selama 5 tahun sampai hari ini. Perasaan yang makin membuatnya seakan terpuruk dalam jurang keputus asaan dan kegalauan. Kini ia harus merubah perasaan itu, dan menggantinya dengan perasaan dan rasa sayang yang berbeda dari yang telah ada semula.

Senyum itu…, gumam Park Joon

“tuan Park…”sapa seseorang membuat lamunannya buyar dan menghilangkan senyum diwajahnya yang mulai terbentuk

“ahh… De..?!” jawab Park Joon terkejut

“anda tak apa…?”

“ne…”

“lalu bagaimana…”

“appa baik-baik saja… hanya butuh banyak istirahat…”jawab Park Joon, seakan mengerti kemana arah pertanyaan yang terlontar itu.

“syukurlah kalau begitu…”

“tolong jaga dia..saya harus melakukan pekerjaan saya…”kata park Joon yang kemudian melangkah pergi dari tempat itu.

***********

Malam semakin larut, namun tidak menyurutkan semangat seseorang untuk segera mengisi
perut dan menghabiskan semua makanan yang terhidang dihadapannya.

“selesai… sekarang…”kata-katanya terhenti ketika ia memalingkan wajahnya dan menatap seorang wanita yang terlihat terlelap di sisinya. “YYA!! Hye na…”panggilnya, tetapi tidak terdengar jawaban dari Hye na, yang terdengar hanya dengkuran keras “Yaisshhh… yya… Hye na… ayo kita lanjutkan lagi…”ajak Jung min sambil mengguncang bahu Hye na pelan, namun bertambah keras ketika Hye na tidak segera bangun dan hanya bergumam

“…ehhhmmm.. aku ngantuk Jung min…"

“YYA… tadi… kita… aku belum selesai…”seru Jung min “Hye na… bangun…”ujar Jung min pelan, namun tidak ada reaksi apapun “Yaishhh…”seru Jung min kesal, mengacak rambutnya.

Hye na terlihat masih memejamkan matanya, tidak memperdulikan seruan kesal Jung min.

“Hye na…”panggil Jung min yang kini melembut
Tetapi tetap tidak ada jawaban dari Hye na, yang terdengar hanya dengkuran darinya.

“YYA!!!”seru Jung min akhirnya, putus asa “terserah saja…”kata Jung min kemudian menyerah, menatap Hye na cemberut dengan menopang dagunya, lalu menghela napas berat. Jung min tersenyum menatap Hye na yang tengah tertidur dihadapannya.
Jung min mendekatinya lalu memasukkan sebelah tangannya di sela lipatan kaki Hye na dan sebelah tangannya yang lain pada bahu Hye na, secara perlahan, mengangkat Hye na ke dalam pelukannya dan meletakkannya perlahan ke ranjang. Jung min tersenyum ketika menatap senyum Hye na yang terkembang saat Jung min meletakkannya di ranjang.

“dasar… masih tanggung malah tidur…”keluh Jung min, menyelimuti tubuh Hye na dan duduk disisinya menatap Hye na tidur. Menjelajahi wajahnya di keremangan malam “kau… bidadariku…”kata Jung min lirih, sambil menyingkap rambut Hye na yang jatuh diwajah putih Hye na yang tengah tertidur lelap seperti bayi. “…saranghae…”ujar Jung min kemudian, membuat dirinya membelalakkan matanya mendengar dirinya sendiri mengucapkan itu.

Jung min POV

Sejak kapan…? Kenapa bisa…?
Ah… aku tahu … tapi benarkah…?sejak hari itu… hari terakhir aku membuka sebuah surat… surat yang sampai setelah kepedihan itu…surat yang disertai beberapa foto… surat dari seseorang yang aku panggil… Hyung…

Flashback

Jung min menerima surat itu dari Seung gi yang menumpuknya bersama dengan surat-surat yang lain. Seung gi terlihat menatap Jung min ketika surat itu sudah berada di hadapannya, dan tengah ditatapnya

“buang …”kata Jung min, melempar surat dengan amplop coklat besar ke meja didepannya.

“buka saja dulu… paling tidak lihatlah dulu isinya…”bujuk Seung gi

“antwe… buang saja…”
Seung gi menatap Jung min, sahabatnya ini memang keras kepala “…ayolah… “

“tidak…”jawab Jung min, pelan, dingin namun menyimpan ketegasan, yang kini menatap Seung gi tanpa ekspresi, namun Seung gi membaca keseriusan dimatanya. Seung gi diam, namun tidak menyerah,”baiklah… biar aku yang buka…”kata Seung gi pantang menyerah, ia mulai membuka amplop tersebut dan melihat isinya. Terdapat beberapa foto dan sebuah surat ada didalamnya. Seung gi menatap tumpukan foto yang tidak terlalu tebal tersebut dan tersenyum disetiap foto yang ditatapnya. “yya… foto-foto ini bagus… dan lucu…lihatlah…”kata Seung gi yang kemudian meletakkan setumpuk foto-foto tersebut, -kira-kira ada 12 lembar foto- di meja Jung min. Jung min diam tidak memperdulikan foto-foto tersebut. Seung gi mengerti, lalu menatap Jung min sesaat dan meyorongkan lagi foto-foto tersebut hingga sampai ke jangkauan penglihatan Jung min.

“kita rapat…”kata Jung min,tiba-tiba dengan ekspresi dingin, dan bangkit dari tempatnya

“YYA!! Lihatlah dulu foto-foto itu… ada banyak anak dan banyak ekspresi disana…”
Jung min hanya diam, tidak menggubris Seung gi dan terus berjalan kearah pintu.

“…kamu pasti…”pintu menjeblak tertutup, Seung gi menghela napas lemah, lalu mengikuti langkah Jung min, keluar dari ruangan tersebut.

2 jam kemudian Jung min kembali keruangannya, Seung gi ijin padanya untuk makan siang lebih awal, karena ada seseorang yang menunggunya, entah siapa, tapi mau bagaimana lagi. Jung min tidak bisa mencegah Seung gi saat itu, ia langsung berlari keluar dari ruangan rapat tepat ketika rapat ditutup.
Jung min menghela napas lelah, kemudian menjatuhkan dirinya di kursi di belakang meja kerjanya. Jung min memutar kursinya menatap pemandangan yang terlihat dari jendela kaca ruang kerjanya.

Tak lama, Jung min memutar kursinya, saat itu didapatinya tumpukan foto yang semula Seung gi paksakan untuk melihatnya. Jung min meliriknya sekilas, kemudian memalingkan wajahnya dan menyibukkan dirinya sendiri, namaun beberapa saat kemudian Jung min menghela napas berat dan mengambil tumpukan foto tersebut. Menatapnya 1 persatu.

Jung min tersenyum menatap semua ekspresi yang ada disana, anak kecil yang bermain, tertawa, berlari, bercanda, dan… senyuman… Jung min mengambil 1 lembar foto dan meletakkan yang lainnya ke meja. Jung min mengamati selembar foto tersebut. Mengamatinya, pandangannya tertuju pada sesosok wanita muda, dengan jas putih panjang khas seorang dokter, yang menutupi kulit putih nya bak bidadari. Jung min tersenyum menatap senyuman yang tercipta di wajah wanita itu. Dia merasakan sesuatu yang aneh, yang muncul ketika dia menatap senyum itu. Entah perasaan tenang dan nyaman darimana yang ia rasakan saat itu. Jung min mendudukkan dirinya dikursi dengan terus mengamati foto itu, kemudian menumpuk dan meletakkan foto yang lain di mejanya kembali dan menatap foto itu lama, hingga ketika ia mengangkat foto itu tinggi-tinggi tiba-tiba pintu ruangannya menjeblak terbuka.

“maaf Jung min…”kata seung gi, membuat Jung min segera menurunkan tangannya, membuka laci mejanya, mengambil sebuah stofmap alih-alih menyimpan foto tersebut di dalam senuah agenda yang selalu dibawanya kemanapun.

End Of Flashback

Dan disinilah wanita itu, wanita dengan senyum hangat yang menenangkan dan nyaman. Wanita yang kini tengah tertidur di hadapannya. Wanita yang dengan susah payah akhirnya ia dapatkan. Mengapa susah payah… yah tentu saja… banyak orang yang sudah aku kerahkan untuk mencari wanita dengan senyum terindah ini, tetapi ternyata…laki-laki itu…laki-laki yang disebut hyung itu yang menemukannya. Tidak ada yang tahu tentang perasaan yang menyelimuti hatinya semejak kehilangan itu. Perasaan yang menggantikan galau, marah, dendam dan keputus asaan karena kejadian itu. Aku sadari aku memang mencintainya…benar-benar mencintainya…cinta yang muncul karena senyuman… dan akhirnya ia bertemu dengan pemilik senyum itu, Han Hye na…

Kau akan menjadi milikku seutuhnya…

End Of POV

Jung min bangkit dari tempatnya dan berjalan kearah meja kerjanya, mengambil sebuah buku agenda dengan sampul kulit berwarna hitam. Jung min membuka kancingnya dan begitu terbuka, buku itu langsung terbuka di halaman dimana Jung min menympan foto tersebut, membuktikan jika halaman itulah yang sering dibuka oleh sang pemilik.
Jung min tersenyum menatap foto itu, lalu mengusap wajah bidadarinya yang tergambar disana. walaupun hanya sebuah gambar foto, rasa nyaman dan tenang muncul setiap ia mengamati senyum itu.

Jung min menghela napas perlahan, meletakkan kembali foto tersebut dengan hati-hati di dalam agendanya dan menyimpannya dengan aman.

*******

Matahari mulai terlihat. Menghangatkan seluruh penghuni dan semua bagian bumi. Hye na membuka matanya perlahan, namun segera ditutupnya kembali, entah kenapa sinar matahari pagi itu sangat menyilaukan, ketika sepasang indra nya mulai terbiasa dengan sinar matahari, tiba-tiba ia membelalakkan matanya, seseorang sudah berdiri disisinya, menatapnya tersenyum.

“MWO..!!! pelayan Uhm…!! Kau membuatku terkejut..”seru Hye na pelan, yang kemudian mengusap perlahan dadanya. Dan…

“YYA…!!”serunya menatap keadannya yang hanya mengenakan gaun tidur dalamnya, dengan tali spaghettinya yang terlepas satu. Hye na menarik selimutnya menitupi dadanya, dan menatap pelayan Uhm dengan tatapan menyelidik. Pelayan Uhm hanya tersenyum, …sepertinya mulai ada progress yang baik… keduanya hanya malu dan saling jaga image…, pikir Pelayan Uhm.

Pelayan Uhm tersenyum “selamat… siang agashi… tidur anda nyenyak…?”tanyanya

“ah…mwo???… siang..?”

“ne… sekarang sudah pukul 11 siang…”

“kenapa tidak dibangun kan…”protes Hye na, yang segera bangun dan berlari masuk kedalam kamar mandi

“maafkan saya agashi… tapi ini pesan…”

“pesan dari siapa… pelayan Uhm… aku sudah pernah bilang bukan kalau aku tidak senang…”kata-kata Hye na yang belum menyadari sesuatu, namun akhirnya kerja otaknya mulai normal kembali, perkataannya tiba-tiba terhenti, seakan suaranya tercekat di tenggorokan “mwo…? Pesan? Siapa…?”ujar Hye na akhirnya. Melongokkan kepalanya keluar dari pintu kamar mandi, menatap pelayan Uhm, menunggu.

“pesan dari dorenim…”

“mwo…? Jung min…?”tanya Hye na lagi, tak percaya. Pelayan Uhm hanya memberikan senyuman dan anggukan sebagai jawaban. Hye na menatapnya sesaat kemudian masuk kembali kedalam kamar mandi, menutup pintunya lalu menatap cermin sesaat dan tersenyum tipis, tanpa memperlihatkan lesung pipinya



Tetapi senyumnya itu hanya sesaat, karena tiba-tiba pelayan Uhm mengetuk kamar mandi

“agashi… anda ingin makan sekarang atau menunggu waktu makan siang…”

“ah… ne…”

“…jadi… kapan…?”

“makan siang… maksudku…nanti saja menunggu waktu makan..”kata Hye na meralat untuk menutupi kegugupannya.

“baiklah kalau begitu…saya permisi…”
Setelah terdengar pintu kamarnya tertutup. Hye na tersenyum kembali, tapi kemudian terdiam, bertanya-tanya dalam hati

Hye na POV

Ada apa dengan Jung min… jarang sekali dia bersikap begitu perhatian… apa dia bukan Jung min yang selama ini aku kenal…? Jadi dia bukan Jung mi…? dia orang lain…? Kloningkah…? Tidak mungkin…! Lalu kemana Jung min yang cuek dan tidak perhatian sama sekali…? Jung min yang seenaknya dan egois... Jung min yang selalu membuatnya merasa tidak nyaman… tapi kini… ah mungkin karena semalam…
Ahhh… TIDAK!!!

Apa sudah terjadi sesuatu semalam… apa aku dan Jung min sudah melakukannya? Apa aku dan Jung min sudah…
Ohhh… tapi…

End Of POV

Hye na mengacak rambutnya cepat, kemudian senyum mengembang diwajahnya, senyum yang lebih manis dari senyum sebelumnya.



Hye na berendam di bathtub, senyum masih saja terlihat diwajahnya yang manis. Senyum yang makin membuatnya semakin cantik dan menawan bagai malaikat yang turun ke bumi dengan berbagai keanggunannya.

Hye na memejamkan matanya, dan hanya beberapa detik kemudian, ia sudah membuka matanya lebar-lebar. Hye na mengangkat tangannya dan meletakkan di dadanya, jantungnya berdebar sangat kencang seakan ia telah berlari tanpa henti beribu kali. Hye na memukul pipinya perlahan,..Kenapa wajahnya… kenapa dia selalu muncul… dan… kenapa hati ini berdebar keras…kenapa…?, batin Hye na

********

“apa Hye na sudah bangun…?”gumam seseorang sambil menatap pemandangan yang hadir dari jendela kaca ruangannya. Orang itu memutar kursinya kembali ke mejanya, kemudian menatap telepon dihadapannya, mengambil ganggangnya, tetapi hanya selama beberapa saat, setelah itu di lemparkannya kembali ganggang itu ditempatnya, lalu menghela napas berat. Aku tidak perlu meneleponnya…tapi…, Yya Lee Jung min…kenapa kamu harus menanyakan itu…konyol, pikirnya dalam hati. Tapi…aku…merindukannya…ingin sekali mendengar suaranya, menatap senyumnya…batin Jung min lemah. ahhh…, serunya kembali yang kemudian terlihat membuka laci meja kerjanya dan mencari sesuatu disana, tapi…

Tak ada..dimana aku meletakkannya… dimana…seru Jung min dalam hati. Dimana…? Dimana…?! Ahhh… babo…pasti…tertinggal…yaish…kenapa bisa lupa membawanya…padahal di agenda itu juga ada banyak catatan rapat hari ini…babo… keluh Jung min kemudian mengacak rambutnya. Jung min diam, berpikir
“ahh… tentu saja…!!”seru Jung min pelan, yang kemudian menekan sebuah nomer di telepon meja

“sekretaris Seo… bisa tolong telepon penthouse…saya membutuhkan buku agenda yang saya tinggal di meja kerja di kamar saya…segera…minta saja istri saya untuk mengantarkannya…”kata Jung min singkat dan kemudian menutup teleponnya tanpa menunggu balasan dari sekretarisnya itu.

Jung min tersenyum, bangkit dari kursinya kemudian menatap pemandangan yang terlihat dari jendela kaca ruangannya, dan tak lama senyum itu terlihat makin lebar.

****

Hye na menatap dirinya di cermin, kemudian menghela napasnya berat. Tak apalah, aku hanya dirumah dan tidak keluar…sedangkan Jung min… pulang malam… batin Hye na ketika menatap dirinya mengenakan sebuah gaun yang agak terbuka. Tak lama tiba-tiba, seseorang mengetuk pintu kamarnya cepat “agashi…agashi…”

Hye na berjalan perlahan dan membuka pintunya “waeyo… apa ada sesuatu…”

“ne… ada sesuatu yang tertinggal…tadi…”kata pelayan tersebut, yang masih terlihat sangat muda, mungkin umurnya berada di bawahnya.

“tertinggal?? Apa yang tertinggal?”tanya Hye na bingung

“dorenim…”jawab pelayan itu tergesa

“jelaskan pelan-pelan saja…”

Pelayan tersebut menarik napas, dan menghembuskannya perlahan “waeyo…”tanya Hye na kemudian, sesaat setelah pelayan Uhm menghembuskan napasnya perlahan

“sesuatu…agenda…milik dorenim… tertinggal… dan…”

“agenda… agenda apa…?”

“agenda untuk rapat hari ini… catatan-catatan penting…”

“MWO!!! Kenapa bisa…?”

Pelayan tersebut diam, lalu menggelengkan kepalanya “dimana dia menyimpannya…?”tanya Hye na, menatap sekelilingnya. “dimana…?”tanya Hye na yang mulai bingung mencari agenda tersebut

“sekretarisnya bilang ada di meja kerjanya agashi…”

“mwo…?”

Pelayan tersebut menganggukkan kepalanya, Hye na menatapnya lalu berjalan perlahan kea rah meja kerja Jung min yang memang berada di kamar itu. Hye na membuka satu persatu laci meja tersebut, dan memeriksanya, saat ia membuka laci terakhir yang terletak di tengah meja, Hye na mengambil sebuah buku tebal dengan sampul kulit berwarna hitam.

“yang ini…”gumam Hye na yang kemudian menatap pelayan tersebut. Pelayan tersebut terlihat mengangkat bahunya dan menatap Hye na lalu membungkukkan kepalanya hormat, dan pergi “terima kasih banyak….”teriak Hye na, tepat ketika pelayan tersebut membalikkan badannya pergi.

“ne…agashi…”jawab pelayan tersebut, membalikkan tubuhnya kembali.
Hye na menatap agenda itu diam, lalu menghela napas berat. Rasa penasaran muncul di hati dan pikirannya. Hye na membuka agenda itu perlahan, dan tepat di sebuah halaman yang ketika Hye na membukanya, sesuatu terjatuh. Hye na menatapnya sesaat, sebuah foto. Hye na memungutnya dan kemudian membawanya bersama kembali ke ranjang. Hye na duduk disana dan mengamati foto tersebut.

Banyak sekali anak-anak disana, mereka tengah menatap seseorang yang berdiri dihadapan mereka tersenyum, dan anak-anak itu mulai tertawa lebar. Foto itu diambil tepat saat seseorang itu tersenyum dan anak-anak di sekelilingnya tertawa menatapnya. Tepat sekali. Pintar sekali siapapun orang yang mengambil foto tersebut, benar-benar moment yang tepat sekali utuk diabadikan.

Hye na terdiam menatap foto itu, menyadari sesuatu. Itu..tunggu…foto ini… aku… dimana… kapan? kapan Jung min…aniyo…tak mungkin…bagaimana bisa… batin Hye na. Gumaman Hye na segera terhenti ketika terdengar olehnya ketukan dipintu.

“maaf agashi… makan siang sudah siap…”kata pelayan Uhm, menatap Hye na tersenyum. Hye na diam. Menatap pelayan Uhm, lalu…

“maaf pelayan Uhm, saya harus pergi… ada yang harus saya antarkan pada Jung min…”

“lalu makan siangnya…”

“nanti saja…”jawab Hye na yang kemudian mengambil tasnya, memasukkan agenda Jung min, dan foto yang digenggamnya dan berlari pergi keluar dari kamarnya.

“…tapi agashi…”

“tak apa…”seru Hye na, berlari meninggalkan pelayan Uhm

“…bajunya…”kata pelayan Uhm lemah, yang tentu saja sudah tidak mungkin didengar Hye na.

Hye na keluar, menghentika sebuah taksi, mengatakan tujuannya dan tak lama taksi tersebut sudah membawanya pergi. Hanya beberapa menit, akhirnya Hye na sampai di sebuah perusahaan besar. Hye na turun dan berjalan masuk kedalam perusahaan tersebut. Perusahaan tersebut di dominasi dengan kaca dengan warna metalik, berkilat. Dengan interior yang didominasi dengan setengah lingkaran dan oval dengan warna hitam. Hye na mengaguminya sesaat, hingga…

“can I help u miss…”sapa seseorang membuat Hye na membalikkan tubuhnya. Hye na menatapnya sesaat, mengerjapkan matanya.

“oh… sorry…I want to…”Orang itu menatap Hye na dari kepala hingga ujung kakinya. Lalu menatap sesuatu yang ada di belakang Hye na. Tak lama tiba-tiba terlihat keterkejutan diwajahnya.

“ohh… maafkan saya agashi… apa anda ingin bertemu dengan pak direktur…mari saya antar…?”kata orang itu berputar dan berjalan ke belakang Hye na. Hye na memutar tubuhnya megikuti orang tersebut. Sebuah pertanyaan masih mengganjal namun segera menghilang ketika ia menatap sebuah foto.
apakah…ah…aku mengerti…batin Hye na, menatap sebuah foto terpasang manis di hall perusahaan itu. Hye na baru mengingatnya, foto pra wedding dirinya dengan Jung min, tidak terlalu besar, namun sangat menarik orang untuk menatapnya, dan tentu saja pasti akan tersenyum juga menatapnya Keduanya terlihat tersenyum. Hye na tersenyum menatapnya.

Senyum yang terlihat diwajah dirinya dan Jung min terlihat begitu alami, padahal sesungguhnya, keduanya…erm entahlah dengan Jung min, namun dirinya masih belum menerima perjodohan itu. Hye na tersenyum kembali. Mengingat semuanya.



“agashi…apa anda ingin bertemu dengan pak direktur atau…”panggil orang itu lagi, membuyarkan lamunan Hye na

“ah…mianhe…ne.. tentu saja…”

“Baiklah… mari saya antar…”katanya

******

“kemana…?”tanya Jung moon, tanpa mengalihkan pandangannya dari kameranya, dan masih terus mencoba membersihkan beberapa bagiannya.

“keluar… cari udara segar… lagipula olahraga pagi lebih berguna daripada hanya berdiam diri dirumah sambil mengusap-usap kamera…”jawab Ji hoon tersenyum lebar

“YYA…nyindir ya…”seru Jung moon keras, melemparkan bantal yang berada di sisinya kea rah Ji Hoon, tapi ternyata gerak refleks menghindar Ji Hoon lebih cepat sehingga bantal itu hanya mengenai angin di belakang Ji hoon.

“aku keluar dulu…”pamitnya lagi, melongokkan kepalanya dari pintu.

“ya hati-hati… bawa peta.. atau kau akan tersesat…”kata Jung moon yang kemudian menatap Ji hoon yang masuk kedalam kembali mengambil sebuah buku tipis, peta London. Jung moon tersenyum menatap Ji hoon “..ketinggalan…”kata Ji Hoon, menunjukkan peta ditangannya dan pergi.

Ji hoon menatap peta di tangannya, mencari sebuah tempat.



Dan tepat ketika ia mengangkat wajahnya, ia menatap seseorang yang sangat familiar baginya. Bahkan seseorang itu sangat ia ridukan. Ji hoon menatapnya turun dari taksi dan melihat dirinya mengagumi bangunan dihadapannya, lalu senyum terlihat terlukis indah diwajahnya.

“Hye na…”seru Ji hoon dalam hati yang kemudian segera berlari mengejar Hye na tepat ketika Hye na telah beranjak masuk kedalam perusahaan itu. Ji Hoon terus mengejarnya, berlari masuk kedalam perusahaan itu.

Ji hoon mengedarkan pandangannya mencari-cari keberadaan Hye na, dan akhirnya senyum terkembang diwajahnya, ia sudah mendapati Hye na, tak jauh dari tempatnya berdiri, namun ketika ia akan mendekati Hye na, langkah kakinya terhenti, ia menatap sebuah foto besar di tengah Hall perusahaan tersebut… ya sebuah foto pra wedding Hye na yang telah membuatnya menghentikan langkahnya untuk mendekati Hye na. Foto yang memperlihatkan senyum Hye na, senyum yang dirindukannya. Foto yang menyita perhatiannya selama beberapa saat hingga akhirnya, begitu tersadar ia kehilangan Hye na.

“Hye na…kemana…”gumam Ji hoon, mengedarkan pandangannya kembali mencari Hye na. Hingga terhenti ketika seseorang menepuk bahunya. “sorry… can I help u…?”
Ji hoon menatap orang itu sesaat “ah…yes… can I meet Han Hye na…”

“mwo…? Han Hye na…dia bekerja di bagian apa…?”tanya orang itu, mengganti bahasanya dengan bahasa Korea

Ya…itu…ia tidak mengetahuinya, bagaimana bisa ia bertemu Hye na…ah tidak…tentu saja… batin Ji Hoon menghela napas berat.

“ah…kalau wanita itu…”kata Ji hoon menunjuk foto pra wedding Hye na yang tergantung di hall tersebut.

“ah… Han agashi… ne… dia baru saja diantar ke…”

“kemana…?”

“beliau bertemu dengan suaminya…”jawab orang itu, yang dari tanda pengenalnya, ia adalah salah satu security di perusahaan tersebut. Hanya saja berbeda dengan satpam yang menjaga pintu, yang mengenakan seragam, laki-laki dihadapannya terlihat mengenakan kemeja dengan kain yang terlihat tebal dan sesuai dengan celana hitam yang dipakainya.

“dimana aku bisa bertemu dengannya…?”
Laki-laki itu terlihat diam, menatap Ji hoon, mengamatinya dari kaki hingga kepalanya, menilai dan menyelidik “anda siapa…?”

“aku…aku…ahh…aku teman Hye na agashi…”

“teman…? Baiklah…anda tunggu saja di sana…?”kata security tersebut menunjukkan sebuah tempat dengan beberapa sofa yang sudah diduduki beberapa orang disana. Ji hoon menatapnya sesaat “tapi saya harus bertemu sekarang…”

“iya… saya akan menyampaikannya pada Hye na agashi…”

“tapi…”

“silahkan duduk…”kata security tersebut, menunjuk sebuah sofa, menatap Ji hoon tajam dan menggenggam lengan Ji hoon erat, namun masih terlihat senyum diwajahnya. Ji hoon menatapnya lalu, menyerah dan berjalan duduk di sofa yang ditunjukkan oleh laki-laki itu.

*****

Hye na menatap sebuah pintu kayu besar di hadapannya. Hye na menarik napasnya singkat lalu menghembuskannya perlahan. Hye na mengangkat tangannya, dan ketika ia akan mengetuk pintunya terdengar suara yang berasal dari dalam ruangan itu. Suara yang sangat Hye na kenal.

“masuk saja…”kata orang itu

Hye na diam, dan mengerucutkan mulutnya kemudian menggenggam ganggang pintunya dan menekannya terbuka. Hye na melongokkan kepalanya, dan terlihat dihadapannya Jung min yang tengah memeriksa beberapa dokumen di mejanya.

“kenapa lama sekali…”katanya tanpa mengalihkan wajahnya dari dokumen-dokumen di hadapannya. Hye na melangkah masuk, masih dengan wajah yang cemberut.

“salahmu sendiri… meninggalkan sesuatu yang penting… menyusahkan saja…”kata Hye na ketus.
Kata-kata Hye na berhasil membuat Jung min mengalihkan pandangannya dari dokumen–dokumen tersebut dan menatap Hye na yang masih berdiri di dekat pintu.

“YYA!!!... tutup pintunya!!”seru Jung min tiba-tiba, berdiri dari kursinya, dan berjalan mendekati Hye na, dan menutup pintu di belakang Hye na cepat.

“YYA!!! Kenapa keluar dengan pakaian seperti itu!!!”seru Jung min, menunjuk pakaian tepatnya gaun yang dipakai Hye na.



Hye na menatap dirinya, lalu menutupi dadanya yang memang agak terbuka dengan tas tangannya. Hampir sebagian besar bagian tubuh Hye na terlihat. Tubuh putihnya dan kulitnya yang mulus. Hye na baru menyadarinya kalau pakaian yang dikenakannya tidak pantas.

“YYA!! Kenapa harus berteriak!!”seru Hye na yang mulai merasa gugup. “lagipula.. tidak ada baju umumnya di wardrobe ku”tambah Hye na menekan kata ‘umumnya’ di kalimatnya.

Hye na menatap Jung min yang kini sudah berada di hadapannya. Jung min diam, namun terlihat ada kemarahan diwajahnya, kemudian Jung min berjalan menjauhi Hye na ke kursinya dan mengambil jas yang disampirkannya di kursi.

“pakai ini…”kata Jung min, melemparkan jasnya kea rah Hye na. Hye na menerimanya masih dengan wajah yang cemberut.

“tidak mau…”kata Hye na
Membuat Jung min mengalihkan pandangannya kembali kearahnya, dan menatapnya dingin, marah. Hye na menundukkan kepalanya, menyerah.

“baiklah…”gumam Hye na
Keduanya terdiam sesaat, hingga dering telepon memecah keheningan di antaranya.
Jung min mengangkatnya “yobseyo…”sapa Jung min
Hye na menatap Jung min sesaat lau mulai mengedarkan pandangannya, ke setiap sudut ruang kerja Jung min.

Jung min menatap Hye na, dan berbicara kembali dengan seseorang diseberang “ne… suruh tunggu saja… aku akan menyampaikannya… ne… terima kasih banyak”kata Jung min yang kemudian meletakkan kembali ganging teleponnya dan menatap Hye na. Menatap Hye na dengan tatapan menyelidik.

Hye na membalikkan tubuhnya, menatap Jung min, ketika menyadari sesuatu. Keduanya kini saling menatap. Jung min mengalihkan pandangannya, berdeham dan duduk kembali dikursinya mulai menyibukkan kembali dengan pekerjaan yang sebelumnya tertunda.

“mana agenda ku…”kata Jung min tiba-tiba, membuat Hye na membuka tas tangannya, dan berjalan mednekati Jung min, meletakkan agenda tersebut di meja kerjanya.
“ini… lain kali jangan lakukan kebodohanmu lagi…”kata Hye na “aku pulang…”kata Hye na, menatap Jung min sesaat lalu membalikkan tubuhnya, tetapi langkahnya segera terhenti.

“…sudah makan siang…”kata Jung min tiba-tiba. Hye na memutar tubuhnya menatap Jung min yang terlihat masih berkutat dengan pekerjaannya, membuka, membaca, menandatangani dan menutup dokumen tersebut untuk kemudian mengambil dokumen yang lain yang diperlakukan sama olehnya

“Mwo..?”tanya Hye na yang tidak percaya dengan pendengarannya. Pertanyaan Hye na membuat Jung min emngalihkan pandangannya, menatap Hye na, menghela naps dan bangkit dari kursinya berjalan mendekati Hye na.

“pakai jas itu…”perintah Jung min, menatap Hye na dalam, dan ketika Hye na telah memakai jas tersebut, Jung min menarik tangan Hye na cepat, keluar dari ruangannya.
Entah kenapa Hye na merasa senang dengan perlakuan Jung min yang satu ini. Hye na mengembangkan senyumnya, ketika Jung min menggandeng tangannya, menariknya dan membawanya masuk kedalam lift.

“oh ya…sekretaris Seo… undurkan rapat sampai waktu makan siang selesai…”kata Jung min, sebelum pintu lift tertutup.

“yya… tapi rapat itu penting bukan… aku bisa makan siang dirumah…”
Jung min diam, tidak menggubris kata-kata Hye na, menekan sebuah angka dan huruf dan lift mulai meluncur ke bawah, lantai dasar. Ya…Jung min menekan GI yang menuju lantai dasar dimana mobilnya diparkirkan. Bisa saja ia menyuruh seseorang untuk mengambil mobilnya dan mempersiapkannya di depan perusahaan, tapi ada alasan yang membuat dirinya tidak melakukan itu. Ya tentu saja… ia tidak mau Hye na melihat laki-laki yang menunggunya di hall lantai 1. Ia tidak mau Hye na bertemu dengan laki-laki itu lagi. Tidak selama masih ada dirinya.

********

“kenapa…? kenapa wajahmu seperti itu…?”
Ji hoon diam, belum menjawab pertanyaan itu, hingga ia menjatuhkan dirina di ranjang

“…aku bertemu Hye na…”jawab Ji hoon lemas

“Jinja…? Dimana…? Bagaimana keadaannya…?”

“di perusahaan Jung min…”

“Jung min….?”

“ne…”

“lalu…”

“lalu…aku capek…”kata Ji hoon singkat kemudian membalikkan tubuhnya, membelakangi Jung moon

“yya…bagaimana keadaannya…?”

Ji hoon diam tidak menjawab pertanyaan Jung moon

“aku lapar…”kata Ji hoon kemudian, bagkit dari ranjang dan membuka sebuah lemari yang didalam nya terdapat lemari es. Ji hoon mengambil bungkusan keripik dan mulai membukanya

“apa yang terjadi…?”tanya Jung moon kemudian “apa kamu sempat bicara dengannya…? Apa yang dikatakannya…?”

“tidak…ada…”jawab Ji hoon singkat lemas

“mwo…bukankah….?”

“yaa… aku hanya bertemu dan aku tidak mengatakan kalau aku sempat berbicara dengannya”jawab Ji hoon kesal “sudahlah… aku lelah…”
Jung moon diam, menatap Ji hoon yang kembali ke ranjang dan menutup matanya.

“apa kamu benar-benar ingin tidur…?”kata Jung moon kemudian

“YYA!! Sudahlah…jangan ganggu aku…”

“heeh… baiklah… padahal aku punya makanan enak… percuma aku sudah beli 2 bungkus… ternyata kamu tidak menginginkannya… baiklah kalau begitu… aku buang saja…”kata Jung moon yang kemudian menjatuhkan sebuah bungkusan ke bak sampah

“YYA!! Kenapa dibuang…!!”seru Ji hoon bangkit dan dengan langkah cepat bergerak kearah bak sampah disisi Jung moon.

Jung moon tertawa melihat reaksi Ji hoon “…ini…”kata Jung moon kemudian memberikan sebuah bungkusan pada Ji hoon yang diterima Ji hoon dengan wajah bersungut-sungut, kesal

*****

“makan yang banyak…”kata Jung min singkat, menatap Hye na di hadapannya, yang terlihat mengunyah makanan. Setelah Hye na diam selama beberapa saat didalam mobil yang membawanya entah kemana. Akhirnya mobil Jung min berhenti di sebuah restoran kecil yang menyediakan bermacam masakan korea, yang di kedua sisinya terlihat diapit oleh 2 restoran besar.

“aku tidak tahu ada restoran korea disini…”kata Hye na ketika menatap beberapa makanan yang dipesan Jung min untuk keduanya dan yang semakin membuat Hye na terkesima adalah para pelayan yang mengenakan baju tradisional Korea. Hye na menatap semua hal dalam restoran kecil itu dengan pandangan terpana sambil mengunyah Hoe di mulutnya. Ada berbagai macam masakan korea yang dipesan Jung min. Bulgogi, Hoe, Galbi, Samgyetang, kimchi, dan lainnya.

“…kamu senang…”

“ne…ternyata masih ada korea di London yang luas ini…”

“kalau begitu makan yang banyak…habiskan semuanya…”kata Jung min
Keduanya mulai menyantap semua makanan dihadapannya. Hampir setengah jam mereka habiskan untuk melahap semua makanan di hadapan mereka.

“ahh…kenyang…”

“masita…”tanya Jung min, menatap Hye na tersenyum

“ne…”

Keduanya terdiam, canggung, hingga terdengar dehaman dari Hye na. “ehh… Jung min-ssi…”

“hem…”jawab Jung min, tanpa menatap Hye na

“perusahaan itu… kenapa ada foto kita disana…”kata Hye na, membuat Jung min mengalihkan pandangannya.

“foto itu…ehh… itu ide appa… beliau yang memerintahkan untuk menggantung foto itu disana…?”

“appa…?!?! Untuk apa…?” seru Hye na tak percaya

“perusahaan kita akan membuka beberapa bidang baru…”terang Jung min. Hye na diam, mengganggukkan kepalanya “…sudahlah…ayo kita kembali…aku antar ke penthouse…”

“…lalu bekerja dibidang apa…?”

“apa…foto itu…”

“ bukan perusahaan itu…”

“errmmm… banyak hal… akhir-akhir ini aku sudah mulai mengawasi di bidang model, periklanan dan majalah mode…”

“mwo??? Model…kenapa bisa…”

“tentu saja bisa…sudahlah…aku masih ada beberapa rapat lagi…aku antar kau pulang…”

“anyi…aku ingin pulang sendiri…”

“antwe!! Aku antar…”paksa Jung min, membuat Hye an terdiam ditempatnya dan menuruti perkataan Jung min dengan wajah kesal, Hye na masuk kedalam mobil Jung min yang membawanya pulang.

Jung min menghentikan mobilnya di depan apartemen, dan tak lama tanpa mengatakan apapun Hye na turun. Jung min menunggu.

“aku pulang larut…. Jadi jangan menunggu untuk makan mala…”kata Jung min, ketika Hye na sudah turun dan berjalan ke pintu apartemen. Hye na membalikkan tubuhnya, menatap Jung min yang masih berada di belakang kemudi, sesaat “terserah…jangan mabuk lagi…”kata Hye na singkat, yang kemudian membalikkan tubuhnya kembali dan masuk kedalam apartemen.

Jung Min tersenyum lebar mendengar perkataan Hye na, menatap punggung Hye na hingga menghilang masuk kedalam lift.



Jung min, melajukan mobilnya pergi, kembali ke pekerjaannya.

******

“kemana agashi…”tanya pelayan Uhm ketika menatap Hye na yang keluar dari kamarnya dan akan membuka pintu penthousenya.

“jalan-jalan pelayan Uhm…cari udara segar…”jawab Hye na.

“dengan pakaian itu…”kata pelayan Uhm, melirik pakaian yang dipakai Hye na. memang terlihat aneh, saat itu Hye na mengenakan kemeja kebesaran milik Jung min, celana pendek Jeans dan jas Jung min yang ia gunakan sebagai jaket. Semua pakaian yang dipakainya benar-benar kebesaran.

“…ingin saya temani…”tawar pelayan Uhm, yang terlihat sedikit khawatir

“gak usah pelayan Uhm… terima kasih banyak…hanya ke taman dekat sini saja kok… tak apa…” jawab Hye na memberikan senyum terindahnya pada pelayan Uhm, menenangkan.

Hye na berjalan perlahan, kemudian duduk disbuah tempat duduk besi, menatap setiap keceriaan di sekitarnya. Sore itu, waktu masih menunjukkan pukul 4 sore, masih banyak anak yang berlarian disekitarnya menikmati hari cerah yang tercipta. Sesekali Hye na tersenyum menatap keceriaan dan kegembiraan yang tercipta.

Angin mulai berhembus perlahan, menambah kesegaran dan keceriaan. Hye na menutup matanya, merentangkan kedua tangannya, merasakan angin sejuk yang berhembus. Hye na menarik napas dalam, tersenyum merasakan belaian lembut angin. Hingga sebuah desahan disisinya membuat matanya terbuka. Hye na memutar kepalanya, menatap seseorang yang terlihat tengah merentangkan kedua tangannya, menutup matanya, melakukan seperti yang dirinya lakukan.

“…Jung moon-ssi…”sapa Hye na, bangkit dari tempatnya, berdiri dan menatap Jung moon dihadapannya, terkejut, masih belum percaya dengan kehadiran orang disisinya.
Jung moon membuka matanya, menatap Hye na tersenyum.



“anyong Hye na…”sapanya

“…se..sejak kapan…ah aniyo…kenapa ada disini…?”

“…errmmm..tak ada hanya berlibur…”

“mwo…berlibur…? Dengan siapa…”

Belum sempat pertanyaan terakhir Hye na dijawab, tiba-tiba seseorang datang dan memeluk Hye na. “Hye na…”kata orang itu. Hye na mengenali suara itu

“oppa…?!?!?” seru Hye na terkejut “lepaskan oppa…”

“aniyo…aku rindu sekali denganmu…”

“tapi…”

“aku benar-benar rindu denganmu…”

“tapi…kau membuatku tidak bisa bernapas…”

Ji Hoon segera melepaskan pelukannya, menatap Hye na yang tengah berusaha mengatur jalan napasnya “gwencana…”tanya Ji hoon mulai merasa cemas dan bersalah.

“duduklah…”ajak Jung moon

“bagaimana pernikahanmu dengan dongsaengku itu..?”
Hye na menatapnya sesaat, dia hampir saja lupa kalau Jung min adalah adik dari Jung moon, laki-laki yang kini berada di hadapannya

“…baik…semuanya baik…”

“lalu kenapa kamu sendiri…?”

“Jung min masih dikantornya…”

“tidak terjadi sesuatu denganmu kan…?”tanya Ji hoon kini

“aniyo oppa…tenang saja…”jawab Hye na tersenyum lebar, menenangkan, senyum yang diharapkan oleh kedua orang yang berada dihadapannya. Dan tepat, tak lama tiba-tiba Jung moon menjulurkan tangannya, mengusap wajah Hye na, dengan penuh kelembutan, menatapnya.

“senyum yang indah…”kata Jung moon pelan, namun Hye na masih dapat mendengarnya. Jung moon mengarahkan ibu jarinya ke bibir Hye na, namun belum sempat dilakukannya, seseorang menarik kerah bajunya dan…

BUUUKKK

Sebuah pukulan keras mendarat diwajah Jung moon, membuatnya terhunyung dan mundur beberapa langkah kebelakang, sedangkan Hye na ditarik berdiri kearahnya.

“jangan…pernah…sentuh…istriku…”kata Jung min, penuh dengan kemarahan. Menatap kedua laki-laki dihadapannya bagai seekor induk singa yang tengah melindungi anaknya dari cengkraman musuh. Menatap kedua laki-laki dihadapannya dengan pandangan tajam, ingin membunuh. Bahkan seharusnya orang normal pun akan merasa takut menatap kemarahan Jung min yang terpancar diwajahnya, namun…

Jung moon bangkit dengan dibantu Ji hoon dan perlahan membersihkan darah yang keluar dari sela bibirnya, lalu tersenyum.

“dongsaeng-aa…santai saja…”katanya menatap ke arah Jung min, tenang, dan tersenyum. “tak apa Hye na…”tambahnya lagi, yang kini menatap Hye na terkejut. Perlaha Jung moon menlangkah maju, mendekati keduanya.

“berhenti…”seru Jung min, menghentikan langkah Jung moon. Kemarahan benar-benar terpancar di wajah Jung miin, bahkan Hye na yang tidak di tatap Jung min dengan tatapan tajam itu kut merasakannya, dengan semakin erat dan eratnya cengkraman tangan Jung min di pergelangan tangannya, membuatnya meringis kesakitan

“kau…lepaskan Hye na…kau membuatnya…”

“kita pulang…”kata Jung min tegas, menghentikan seruan Ji hoon, mencengkeram pergelangan tangan Hye na semakin erat, dan menarik Hye na pergi.

“kau…berhenti!!”seru Ji hoon, beranjak dari tempatnya untuk mengejar Hye na, namun terhenti oleh Jung moon “biarkan saja…sssshhh”kata Jung moon mengusap sisi bibirnya yang mulai membiru dan memberikan rasa nyeri.

Ji Hoon membalikkan tubuhnya “kau tak apa…?”

“nee…”

“kenapa dia…”

“itu tugasnya sebagai seorang suami…”jawab Jung moon seakan mengerti kemana arah pembicaraan Ji hoon

“tapi…”

“kita pulang…”

“apartemen…?”

“Seoul…”jawab Jung moon, tersenyum tipis, menatap kepergian Hye na

“MWO!!!”

******

“YYA!! Lepaskan…!! Kau menyakiti tanganku…”seru Hye na ketika dia ditarik Jung min masuk ke dalam apartemen, membuat beberapa orang yang tengah berlalu lalang di samping mereka, menatap mereka diam, tanpa mampu melakukan apapun, mengingat status Jung min.

“Lepaskan!!!”seru Hye na, mengibaskan tangan Jung min yang mencengkram pergelangan tangannya, menariknya masuk kedalam lift, membuat beberapa orang yang akan menggunakan lift bersama mereka, mengurungkan niatnya dan lebih memilih menunggu dari pada terkena imbasnya. Alhasil, hanya mereka berdua yang berada di lift tersebut.

“LEPASKAN!!!”teriak Hye na ketika keduanya, sudah berada didalam lift dan lift telah berdentang tertutup. Jung min menekan tombol lantai teratas, dimana penthousenya berada.

“Lepaskan…”kata Hye na yang suara memelan, terdengar frustasi. Jung min melepaskan cengkraman tangannya, tetapi mendorong tubuh Hye na merapat ke dinding lift.
Hye na diam, menatap Jung min marah, namun terbersit ketakutan disana. Jung min menatap Hye na tajam, lalu mencengkram kedua pergelangan Hye na ke dinding lift, membuat Hye na tidak mampu melakukan apapun, terpojok.

Tiba-tiba tanpa mengatakan apapun, Jung min membekap bibir Hye na dengan bibirnya. Melumatnya dan menyesapnya kasar. Hye na memberontak, berusaha melepaskan dirinya, menghindari setiap kecupan Jung min yang penuh dengan paksaan.

Tidak hanya bibir Hye na yang menjadi sasaran kekasaran Jung min. Permainan bibir Jung min sampai ke leher Hye na, menciumi Hye na membabi buta. Membuat Hye na semakin memberontak. Namun Jung min malah semakin mempererat cengkramannya dan semakin memperlakukan Hye na dengan kasar. Perlakuan Jung min tak terkendali, hingga 2 kancing atas kemeja Hye na terlepas karena koyakan dari Jung min.
Hye na terisak, menyerah dengan setiap perlakuan Jung min. Jung min melepaskan Hye na perlahan, menatapnya terkejut dengan hasil yang diperbuatnya. Sebagian tubuh Hye na terlihat, dan bagian lehernya memerah, bekas digigit olehnya.
Hye na terisak dan perlahan tubuhnya merosot jatuh terduduk. Seluruh tenaganya benar-benar hilang saat itu. Ia benar-benar lemas, tidak mampu melakukan apapun.
“babo!!!”seru Jung min, menyalahkan dirinya sendiri.

Perlahan Jung min berjalan mendekati Hye na, dan berjongkok dihadapannya, berusaha mengusap rambut Hye na, tetapi Hye na menghindar dan merapatkan dirinya lebih ke ujung, ia benar-benar merasa takut. Jung min terkesiap menyadari itu. Ia benar-benar membuat Hye na takut. Hye na terlihat semakin merapat, memeluk kakinya. Jung min mencobanya kembali, didekatinya Hye na perlahan, mengusap kepalanya perlahan lalu dibawanya Hye na ke pelukannya.

“mianhe…jeongmal mianhe…mianhe…miahe…mianhe…”hanya kata itu yang terucap dari bibir Jung min. Hingga lift berdentang terbuka, Jung min membopong tubuh Hye na dipelukannya, membawanya keluar dari lift.

******

Matahari pagi mulai bersinar. Hye na mengangkat kedua tangannya, mencoba melemaskan tubuhnya. Teringat kembali kejadian dirinya dengan Jung min di dalam lift semalam. Rasa takut kembali menghantuinya, namun sebuah gumaman pelan tertangkap oleh pendengarnnya “….mianhe…”gumam Jung min dengan mata tertutup, masih tertidur.

“ahhh…”seru Hye na tertahan dan terkejut mendekap mulutnya ketika menatap Jung min yang tertidur disisinya. Hye na memalingkan tubuhnya menatap Jung min yang tengah tertidur di sisinya, menatap setiap garis wajahnya, menatap lekuk-lekuk wajahnya dan… bibirnya… bibir itu begitu menggoda. Setiap Jung min menciumnya, Hye na langsung meleleh dibuatnya dan tidak tahan untuk tidak membalas setiap lumatannya. Hye na tersenyum lalu mengangkat sebelah tangannya dan menyentuh lembut wajah Jung min mengikuti garis-garis wajahnya.

“kenapa cuma dipegang… rasakan saja…” kata Jung min tiba-tiba membuat Hye na salah tingkah dan segera menarik tangannya dari wajah Jung min kemudian bangun dari tempatnya, namun belum sempat Hye na turun dari ranjang tiba-tiba Jung min menarik tangannya, menjatuhkan dirinya tepat diatas tubuh Jung min. Jung min mendekap tubuh Hye na erat. “YYA…Jung min-ssi apa yang kau lakukan… lepaskan…”

“antwe…”

“yya!! Sebentar lagi pelayan Uhm datang dan aku tidak ingin dia melihat kita begini…”

“Jung min-nim…”terdengar sapaan dari luar pintu kamar mereka “Agashi…”tambahnya

“lihat…lepaskan aku…”

“tidak…biarkan saja… sebentar lagi juga akan pergi…”kata Jung min enteng. Hye na masih terus berusaha melepaskan dekapan Jung min “Jung min!!!”seru Hye na, berteriak kencang tepat di telinga Jung min, namun tetap saja tidak memberikan pengaruh apapun bagi Jung min. Jung min semakin mengeratkan pelukannya dan tak lama sebuah senyum terkembang di wajahnya.

“agashi…”panggil pelayan Uhm lagi, kembali mengetuk kembali pintu kamar mereka “anda tak apa..?”tanya pelayan Uhm

“kami masih mengantuk pelayan Uhm… bereskan saja sarapannya…”kata Jung min tepat ketika pelayan Uhm akan membuka pintu. “ahh… ne… maafkan saya…”kata pelayan Uhm. Hye na menutup kedua matanya kesal. Ia tahu apa yang ada dipikira pelayan Uhm, dan Hye na dapat membayangkan senyum di wajah pelayan Uhm saat itu begitu ia mendengar jawaban Jung min. “…Lihat… sudah pergi… sekarang… aku ingin melanjutkan pekerjaan kita yang tertunda ermmm…beberapa malam yang lalu…”

“MWO!!! Ya Jung min… Lepaskan!!”seru Hye na, mencoba melepaskan pelukan Jung min yang semakin erat

“ti..dak…”jawab Jung min enteng, dan perlahan meniup lembut telinga Hye na, membuat Hye na bergidik geli.

“Jung..Jung..Jung min…ahhh…hentikan…”kata Hye na berusaha untuk tenang. Jung min yang mendengar desahan dari mulut Hye na, tersenyum lebar dan terus melakukan kegiatannya, hingga tiba-tiba Jung min menjulurkan lidahnya dan menggelitik telinga Hye na dengannya. Membuat Hye na semakin berdebar dan semburat merah muncul di wajahnya. Jung min semakin tertawa lebar mengetahui itu.

Secara tiba-tiba Jung min memutar posisi tubuh mereka hingga akhirnya Jung min berada di atas tubuh Hye na, Jung min menatap Hye na lembut, menelusuri tiap inci wajah Hye na yang putih tanpa cacat bak bidadari. Hye na masih berusaha memberontak untuk dapat lepas dari dekapan Jung min… namun usahanya terhenti ketika, sebuah kalimat dilontarkan Jung min di telinganya.

“saranghae Hye na… saranghae…”kata Jung min kemudian, membuat Hye na membelalakkan kedua matanya tidak percaya pada pendengarannya.

“saranghae…saranghae…saranghae…”kata Jung min berkali-kali sambil membenamkan kepalanya di tengkuk Hye na.

Entah kenapa Hye na ingin menangis ketika mendengar itu, ia benar-benar tidak percaya dengan pendengarannya. Sejak kapan…? Dan bagaimana dengan dirinya…? Apakah perasaan yang terjadi pada dirinya sama seperti yang Jung min rasakan…? pikir Hye na. Hanya pertanyaan-pertanyaan itu yang berkecamuk di kepala Hye na. Hye na hanya diam, mendengar ucapan cinta yang dilontarkan dengan lembut dari mulut Jung min. Hye na tidak tahu harus membalas dengan mengatakan apa. Hanya isakan yang terdengar kemudian dari mulut Hye na, membuat Jung min mengangkat kepalanya lalu menatap Hye na terkejut “ada apa…? Kenapa menangis… apa aku menyakitimu…”kata Jung min, yang kemudian bangkit dan duduk disisi Hye na, menghapus air mata yang jatuh dari dua kelopak mata Hye na

“an…anyi… hanya tidak menyangka…”jawab Hye na, yang perlahan bangkit dan duduk dihadapan Jung min dengan jarak hanya 6 inci.

“Mwo…?”

“kapan?”

“entahlah…yang pasti sebelum kita bertemu muka…kamu sendiri…?”

“entahlah…lupa… mungkin saat melihatmu menangis dan melihatmu dengan wajah yang kuyu dan lelah…”

“beberapa malam yang lalu…?”

“anhi…”

“lalu..?”

“lalu…”

“kapan…?”

“entahlah… kamu sendiri masih ingat atau tidak, saat kamu mabuk, kamu masuk ke toilet wanita dan tiba-tiba kamu menyergapku, memojokkanku di dinding toilet…ingat…”

“anhi… lupa…memang aku menangis…??”

“ermmm.. tidak juga sih… hanya memohon…”

“mwo…?”

“wajahmu sayu… minta dikasihani..”

“jinja…?

“nee..” jawab Hye na tertawa kecil, ketika menatap keraguan di wajah Jung min “…dan kamu juga yang mengambil ciuman pertamaku…”protes Hye na, mengerucutkan bibirnya.

“benarkah…jadi aku yang pertama…aku pikir sudah terambil…” kata Jung min. Terlihat pancaran rasa senang diwajahnya saat mendengar itu

“siapa…?”tanya Hye na bersungut-sungut, mengerucutkan bibirnya. Membuat Jung min gemas padanya dan menambah keterkejutan Hye na dengan mengecup lembut bibirnya.

“lalu…?”tanya Jung min

“lalu…”

“apa…?”

“kenapa…?” tanya Hye na

“karena banyak hal… banyak hal dari dirimu yang membuatku nyaman…”

“bukan itu…”

“lalu…?”

“kenapa kamu selalu membuatku tidak nyaman berada di dekatmu.. membuatku kesal… marah…”

“ooohh… benarkah…? Aku tidak tahu itu…jadi kalau kamu marah gitu ya…”

“yya!! Pabo!!”seru Hye na, yang kemudian menjitak kepala Jung min pelan

“hey… berani-beraninya kau…”

“lalu…”

“…jadi..”

“kenapa…”

“baiklah…”kata Jung min dengan pandangan yang menyimpan sejuta gairah. Tiba-tiba Jung min menyergap Hye na, membawanya masuk kedalam selimut. Keduanya kini saling menatap di bawah selimut “apa…”

“aku… menginginkanmu…”kata Jung min yang tanpa basa basi segera mengbekap bibir Hye na dengan ciuman-ciumannya, menguncinya dengan lumatan-lumatannya. Jung min mulai menyesap bibir Hye na

“Jung min-aa…”desah Hye na, ketika Jung min melepaskan ciumannya.

“heemmm…”gumam Jung min, mengangkat kepala dan tubuhnya dan menopangkannya dengan kedua tangannya, menatap Hye na yang terbaring di bawahnya “…eh… mau berdansa…”tawar Jung min membuka selimut tebal yang menutupi keduanya.

“mwo…”

“kacha…”kata Jung min, bangkit dari ranjang dan berjalan kearah pemutar piringan hitam, mengambil sebuah piringan hitam dan mulai menyalakannya. Lantunan musik yang lembut mulai terdengar pelan, namun tidak sayup. Jung min tersenyum lalu kembali kearah ranjang dan mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Hye na, ditambah sebuah senyum yang kemudian terkembang diwajahnya “tapi aku sudah lama…” tiba-tiba Jung min mengunci mulut Hye na kembali dengan ciumannya, memotong perkataan Hye na

“lama apa…”tanya Jung min

“lupa…”jawab Hye na disusul dengan cengiran lebar di wajahnya.
Jung min kembali mengunci bibir Hye na dengan bibirnya, melumatnya pelan penuh dengan kelembutan. Menyesapnya, melumat bibirnya dan membawanya semakin dalam. Lidah nya perlahan menyeruak masuk kedalam mulutnya dan bermain, menaut dan melumat lidah Hye na, bahkan dapat ia rasakan Jung min menyesap kuat lidah Hye na dan membawa lidah Hye na masuk ke mulutnya dengan lidahnya. Hye na mendesah pelan saat Jung min melakukan itu.

“injak kakiku…”kata Jung min, kemudian.

“mwo…”

“letakkan kakimu di atas kaki ku…”

Hye na menuruti perkataan Jung min dengan menginjak kaki Jung min, tak lama setelah kedua kaki Hye na berada diatas kaki Hye na, Jung min membawa dirinya berdansa mengelilingi ruangan tersebut.

Jung min membawa Hye na semakin dekat dan semakin dekat padanya, meskipun tangan Jung min hanya menyentuh lembut bahunya yang terbuka. Hye na dapat merasakan, perlahan ikatan gaun tidur sutranya terlepas, kemudian gaun tersebut meluncur lepas dari dadanya, turun melewati pinggulnya dan tungkainya, dan akhirnya teronggok di lantai.

“Hye na-aa”panggil Jung min dengan penuh gairah. Hye na hanya mendesah pelan mendengar panggilan Jung min dan memeluknya. Jung min meniup telinga Hye na dengan hembusan lembut lalu menjilat dan mulai menggelitiknya. Membuat Hye na semakin menegang dan mengeratkan pelukannya

“oo… Jung min-aa…”desah Hye na disela-sela gairahnya yang mulai memuncak. “hhmmmm…” balas Jung min yang mulai mengecup wajah dan tengkuk Hye na lembut.
Perlahan Jung min melepaskan pelukan Hye na dan ditatapnya Hye na yang terlihat masih memejamkan matanya, kemudian dibelainya wajah Hye na lembut hingga ke bibir Hye na yang tersenyum, merasakan sentuhan dari Jung min. Jung min tersenyum menatap senyum Hye na kemudian Jung min menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke wajah Hye na dan mencium bibir Hye na, yang dilakukannya dengan penuh gelora. Dilumatnya bibir Hye na hingga terdengar desahan yang makin keras dari bibirnya. Hye na mulai membalas setiap lumatan – lumatan yang diberikan oleh Jung min.
Jung min melepaskan lumatannya dari bibir Hye na dan mulai menelusuri wajah Hye na dari rahang, pipi, telinga, leher dan tengkuk Hye na dengan kecupan dan jilatan lidahnya yang membara.

“Jung min-aa…” desah Hye na, mendongakkan kepalanya seakan memberikan leher dan daerah yang lain untuk dikecup oleh Jung min. Jung min mengecup tenggorokan Hye na, lalu memberikan gigitan kecil dilehernya, membuat Hye na mengeluarkan sebuah desahan panjang dari bibirnya.

“ya Hye na sayang…”sahut Jung min yang mulai membelai, dan mengelus tubuh Hye na yang telah terbuka, seperti seorang anak yang membelai mainan kesayangannya. Wajahnya memancarkan rasa senang, begitu pula sorot matanya. Kemudian pandangannya turun kebawah.

“benar-benar indah…”gumam Jung min menatap dada Hye na. “Hye na-aa aku menginginkanmu… aku ingin kamu menjadi milikku satu-satunya… hanya milikku seorang… apa kamu sudah siap…”tanya Jung min
Entah dapat dipercaya atau tidak, Jung min mendapati anggukan dari Hye na. “i…ini… pertama kali… untukku…”

“aku juga…”jawab Jung min, disusul sebuah senyum lembut. Jung Min bergerak perlahan merapatkan tubuhnya ke tubuh Hye na, lalu tanpa perkataan tiba-tiba Jung min menggendong Hye na dan membawanya secara perlahan ke ranjang. Meletakkan kedua tangannya di kedua sisi Hye na dan menatap tubuh Hye na. Matanya mereguk tubuh dihadapannya, memperhatikan setiap lekuk indah dari tubuh itu. Jung min mendesah ketika melihat dada indah seputih salju. Jung min mengunci leher Hye na dan mulai melumat bibirnya dengan gairah yang meluap. Hye na membalas lumatannya. Lidah mereka bertemu, saling bertaut dan bermain di dalam rongganya. Perlahan tangan kanan Jung min turun, meraba bahu, lengan dan dada bagian atas Hye na kemudian menelusup masuk ke punggung Hye na, membuka kancing branya. Bra Hye na mengendur, dan dengan tarikan lembut Jung min dapat melihat keindahan yang melebihi apapun di hadapannya.

Permainan tangan Jung min di mulai. Setiap rabaan, remasan dan belaian Jung min di pusat dada Hye na membuat Hye na makin terbang. Jung min menghentikan permainan tangannya. Kini ia membungkuk di atas tubuh Hye na. Hye na menatapnya dengan nafas yang memburu, lalu dengan gerakan cepat, Hye na merengkuh Jung min dengan gerakan yang sangat posesif. Jari-jari tangan Hye na bergerak menelusuri ranbut hitam Jung min, menyentuhnya helai demi helai.
Jung min mengangkat kepalanya, menatap Hye na. Permainan tangan Jung min kini digantikan oleh lidahnya. Perlahan Jung min menelusuri telinga, leher dan dada bagian atas Hye na dengan lidahnya. Desahan Hye na semakin keras dan matanya terpejam rapat, merasakan sensasi yang diberikan Jung min padanya. Kemudian desahan itu segera terganti dengan pekikan keras ketika tiba-tiba Jung min menurunkan jilatannya di pusat dadanya, membuat Hye na memegang kepala Jung min dan melengkungkan tubuhnya, mendekatkan tubuhnya pada Jung min menikmati apa yang didapatnya.

Hye na membuka matanya perlahan menatap Jung min yang berada diatasnya, menatapnya lembut, sayu.

Direguknya napas Hye na yang harum, dan dibawanya semakin dalam Hye na ke dalam gairahnya. Lagi-lagi Hye na mendesah pelan dan panjang, membuat Jung min tersenyum ditengah lumatan-lumatan mereka. Tangannya merayap naik ke pinggang Jung min, lalu menelusup masuk kedalam kemeja Jung min, mengeluarkan semua bagian kemeja Jung min dari celana pantalonnya, perlahan merayap naik dan mengusap punggung Jung min naik dan turun berirama dengan lumatan-lumatan yang diberikan Jung min padanya. Jung min membuka matanya dan melepaskan lumatannya, menatap sayu Hye na “aku menginginkanmu Hye na… aku menginginkanmu… “kata Jung min, kemudian mengecup bibir Hye na, hanya sesaat lalu terdengar desahan saat Jung min mengangkat kepalanya.

“aku menginginkannya sekarang…”kata Jung min dalam bisikan

“ya…sekarang…”jawab Hye na, agak terkejut dengan jawabannya, yang kemudian membuat Jung min bangkit dan melepaskan celananya hingga polos tanpa balutan busana sehelaipun ditubuhnya. Jung min menatap Hye na, kemudian membelai kembali tubuh Hye na dari wajahnya, turun hingga akhirnya mengait pakaian yang masih tersisa di tubuh Hye na. Detik berikutnya , yang terlihat keduanya sudah benar-benar polos, pakaian keduanya berserakan di lantai. Jung min ternganga melihat pemandangan yang belum pernah dilihatnya. Sebuah pemandangan yang ia bersumpah lebih indah dibanding apapun yang pernah ia lihat. Perlahan Jung min membelai paha Hye na, membujuk kedua anggota tubuh Hye na tersebut untuk merentang terbuka, kemudian suara rintihan terdengar dari bibir Hye na, membuat Jung min menghentikan perlakuannya dan menatap Hye na.

“gwenchana…?”tanya Jung min khawatir

“..akhhh… ne… gwenchana…saya mohon jangan berhenti Jung min-aa..”jawab Hye na dengan desahan, membuat Jung min tersenyum dan melanjutkan apa yang sebelumnya terhenti. Jung min mengecup lembut bibir Hye na, kemudian rintihan yang semula meluncur dari bibir Hye na kini tergantikan oleh desahan dan erangan kenikmatan sampai diakhiri oleh desahan panjang dari keduanya ketika orgasme dicapai dalam waktu bersamaan

*******

Hye na tersenyum bahagia ketika mendapati dirinya dalam pelukan Jung min. Hye na memalingkan wajahnya sesaat menatap jam meja di sisinya, waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Hye na mengalihkan pandangannya pada Jung min dan perlahan Hye na mengangkat tangannya dan memainkan jemarinya di dada bidang pemuda itu. Mengusap dan membelainya dari atas ke bawah. Jung min tersenyum merasakan belaian lembut dari istrinya tersebut, tetapi masih tetap menutup kedua matanya. Hye na tersenyum, ketika menyadari senyuman yang terbentuk diwajah Jung min kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Jung min dan mengecupnya lembut bibir Jung min



Jung min membalas kecupan lembut dari Hye na dengan melumat bibirnya, namun hanya beberapa saat lumatan tersebut dilakukan Jung min, kemudian terlepas. Hye na, melepasnya dan segera bangkit sedikit, menutupi dadanya dengan selimut, membungkukkan tubuhnya berusaha mengambil pakaiannya yang berserakan, namun sulit sekali untuk menggapainya. Tangan Hye na tidak dapat menyentuh pakaiannya ataupun kemeja Jung min, yang berserakan di lantai.

“apa yang kau lakukan…”kata Jung min tiba-tiba, membuka sepasang penglihatannya perlahan dan membuat Hye na terjatuh dari ranjang. Jung min segera menghampirinya, diujung ranjang dan menatap Hye na, dibawahnya “gwenchana…?”tanya Jung min khawatir.

“ahhh…kau ini…”kata Hye na kesal, melilitkan selimutnya ke tubuhnya.

“kenapa…”

“aniyo… hanya ingin mandi…”

“mandi…?”

“ne…”

“lalu…?”

“apa…?”

“kenapa…?”

“aku harus menutupi tubuhku bukan dasar… pabo!!”jawab Hye na. mendengar jawaban Hye na Jung min tertawa keras, lalu beranjak turun, dan duduk di hadapan Hye na. “tapi aku ingin melakukannya lagi…”

“MWO??!?! ANTWE!! Yang ini saja badanku masih sakit semua… dan kau menginginkannya lagi… ANTWE!!!” seru Hye na, menundukkan kepalanya kesal dengan mulut mengerucut.

“ayolah…”bujuk Jung min

“ANTWE!!! Aku mau mandi…”kata Hye na yang kemudian menarik selimutnya, melilitkannya ke tubuhnya. Hye na bangkit perlahan.

“akhhh…”seru Hye na, menghentikan langkahnya. Hye na merasakan sakit di sekitar paha dan selangkangannya.
« Last Edit: July 16, 2010, 12:44:59 pm by ai_yuki »

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: Song of life last update chapter 11 (17 July)
« Reply #215 on: July 16, 2010, 12:41:30 pm »
maaf kepotong mengganggu keasyikan membaca...

ini lanjutannya...

“gwenchana…?”tanya Jung min khawatir

“nee... gwenchanayo…”jawab Hye na, bangkit dari tempatnya dan perlahan berjalan ke kamar mandi, namun hanya beberapa langkah yang baru ditempuhnya tiba-tiba Jung min menggendongnya dan membawanya hingga ke kamar mandi.

“kalau gitu mandi bersama…”kata Jung min tersenyum menatap Hye na yang kemudian meletakkan Hye na di ujung pinggiran bathtub, namun ketika Jung min akan menutup pintu kamar mandi, tiba-tiba Hye na mendorong tubuhnya keluar dan menutup pintunya.

“Yya!! Hye na…”panggil Jung min

“Antwe!!”seru Hye na

“yya…sayang… ayolah… buka pintunya…” bujuk Jung min

“anhi… tidak akan…”
Jung min menghela napas berat, kemudian menundukkan kepalanya “…baiklah…” ujar Jung min lemas, membalikkan tubuhnya dan berjalan ke ranjang kembali. Sesaat setelah Jung min sampai diranjang tiba-tiba Hye na keluar dengan menggunakan kimono handuknya, mendekati Jung min yang tidak menyadari kedatangan Hye na. Hye na dengan mengendap-endap menyerahkan selimutnya pada Jung min dan mengecup singkat pipi Jung min. Jung min bangkit, tersadar, namun terlambat, Hye na sudah berlari masuk kembali kedalam kamar mandi, dan mengunci pintunya.

“awas kau…”ancam Jung min, tersenyum

*********


mian all kalau banyak kekurangannya... moga-moga udah long chap nih...

tolong komentnya yah... jangan lupa...  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

makasih banyak semuanya...
« Last Edit: July 16, 2010, 12:49:30 pm by ai_yuki »

fara

  • Guest
Re: Song of life last update chapter 11 (17 July)
« Reply #216 on: July 16, 2010, 11:31:33 pm »
Gumawo ai udh di update [flowers] [flowers] [flowers] [flowers] [flowers]
kesian jungmoon kena bogem ma jungmin tapi gara2 itu akhirnya jungmin ma hye mp jg ya [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
btw, ak mau dund yg mver'y sist [hmphf] [hmphf] [hmphf] [hmphf]
thanks bgt ya ai [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]   

Offline sii itha

  • Newbie
  • *
  • Posts: 27
  • Location: jakarta-indonesia,,seoul-south korea
    • View Profile
Re: Song of life last update chapter 11 (17 July)
« Reply #217 on: July 17, 2010, 12:12:32 am »
yey sist yuki dah update..
mu dung sista M-versnya dah di PM...hehehe

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Re: Song of life last update chapter 11 (17 July)
« Reply #218 on: July 17, 2010, 12:16:47 am »
Horaayyyyy ai thanks udah diupdate save dulu dah  ntar mlm bacanya takut mupeng dikantor kalo baca skarang hmpf


ADAM COUPLE SELCA

Vin

  • Guest
Re: Song of life last update chapter 11 (17 July)
« Reply #219 on: July 17, 2010, 01:28:56 am »
Gomawo ai udah di update.,
akhir.a HyeNa ma JungMin bahagia.
Long chap lgi...  [love eyes]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: Song of life last update chapter 11 (17 July)
« Reply #220 on: July 17, 2010, 02:04:51 am »

 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
 [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap]
yuki, it's a longgggggggggggggg chapter!!,  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
akhirnya kejadian juga.... wdh dah semi m vers [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh], tp kalo mo dibikin mvers jgn lupa PM gw [heh] [heh] [heh] [heh]
gak sia2 penantiannya, xixixixixi


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Echyn MinHo LeeSun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 635
  • gaya ala RATHOT + CASSAMINONG.. haha
  • Location: manado
    • View Profile
Re: Song of life last update chapter 11 (17 July)
« Reply #221 on: July 17, 2010, 07:38:30 am »
 [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]

M_vers m_vers  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

haha  [rofl] [rofl] [rofl] [rofl]
http://i54.tinypic.com/2w30vac.jpg[/img]

favorite couple
MinSun
KhunToria :D [/center]

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: Song of life last update chapter 11 (17 July)
« Reply #222 on: July 17, 2010, 08:23:29 am »
Horaayyyyy ai thanks udah diupdate save dulu dah  ntar mlm bacanya takut mupeng dikantor kalo baca skarang hmpf

thenk u onnie... ditunggu komentnya...

maaf kalo banyak kekurangan... [hmff] [hmff] [hmff]

 [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

fara

  • Guest
Re: Song of life last update chapter 11 (17 July)
« Reply #223 on: July 17, 2010, 08:29:05 am »
Ai, thanks ya pm-an'y udh masuk [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
jadi [drool] [drool] [drool] [drool] [drool]  [bav] [bav] [bav] [bav] [bav] [bav] hehehehehe

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: Song of life last update chapter 11 (17 July)
« Reply #224 on: July 17, 2010, 08:31:58 am »

 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
 [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap]
yuki, it's a longgggggggggggggg chapter!!,  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
akhirnya kejadian juga.... wdh dah semi m vers [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh], tp kalo mo dibikin mvers jgn lupa PM gw [heh] [heh] [heh] [heh]
gak sia2 penantiannya, xixixixixi

[smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]

M_vers m_vers  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

haha  [rofl] [rofl] [rofl] [rofl]


ok say.... habis ini aku kirim yaw...tolong komentnya yah... baru pertama kali  [hmpfh] [hmpfh] masih amatiran...