Author Topic: Song of life last update chapter 20 (13 December 2010)  (Read 46750 times)

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: Song of life last update chapter 15 (22 agustus)
« Reply #570 on: September 01, 2010, 09:29:25 pm »
spoilernya dulu ya... tak apa kan...  [hmpfh] [hmpfh]

“kemana…?”tanya Jung min tanpa menatap Hye na

“bukankah sudah jelas…”

“kenapa…”

“banyak alasan…”

“sebutkan salah satunya…”

Hye na diam, menghentikan kegiatannya, menundukkan kepalanya dan menghela napasnya panjang. “…apa karenaku…”tanya Jung min, masih belum mampu menatap Hye na. Hye na menatap Jung min sesaat, ia merasakan kesedihan disana.

“…aku harus pergi…”kata Hye na, menutup kopernya. Tidak menjawab pertanyaan Jung min. Hye na melangkah pergi, melewati Jung min, tetapi hanya beberapa langkah dibelakang Jung min, langkah Hye na terhenti. Jung min menahan tangannya, tanpa menatap Hye na, saling membelakangi. Kini ia terlihat menundukkan kepalanya. “…kumohon…jangan pergi…”kata Jung min. Hye na memutar tubuhnya, menatap punggung Jung min. Air mata perlahan mulai menetes lagi membasahi pipinya.

Hye na segera memalingkan wajahnya tepat saat Jung min, membalikkan tubuhnya, meminta jawaban atas pernyataannya. Hye na menghapus air matanya, kemudian perlahan tetapi kuat, ia melepaskan genggaman tangan Jung min di pergelangan tangannya.

“aku harus pergi…”kata Hye na yang kemudian melangkah pergi, meninggalkan Jung min

“… aku ikut…”kata Jung min membalikkan tubuhnya , menghentikan langkah kaki Hye na. Hye na memutar tubuhnya, menatap Jung min.

“selesaikan dulu masalahmu di sini, jika kau ingin menyelesaikan segalanya denganku…”kata Hye na

“…masalah apa…? Dan… menyelesaikan apa..aku tidak mengerti…”

“…masalahmu dan masalahku merupakan dua hal yang berbeda… masalahku…biarkan aku menyelesaikannya sendiri…”jawab Hye na, yang kemudian pergi meninggalkan Jung min, namun lagi-lagi langkahnya terhenti “..apa kau tidak mempercayaiku lagi…” tanya Jung min lemah, putus asa, menundukkan kepalanya

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
Re: Song of life last update chapter 15 (22 agustus)
« Reply #571 on: September 01, 2010, 09:37:58 pm »
yah kok cuma spoilernya saja sist ? [what] [what]
tp gpp deh, yg penting update jgn lma2 yaaaa [biggrin]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: Song of life last update chapter 15 (22 agustus)
« Reply #572 on: September 01, 2010, 09:39:22 pm »
yah kok cuma spoilernya saja sist ? [what] [what]
tp gpp deh, yg penting update jgn lma2 yaaaa [biggrin]

siiippp...  [cheekkiss] [cheekkiss]

Offline Echyn MinHo LeeSun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 635
  • gaya ala RATHOT + CASSAMINONG.. haha
  • Location: manado
    • View Profile
Re: Song of life last update chapter 15 (22 agustus)
« Reply #573 on: September 01, 2010, 10:46:28 pm »
yah kok cuma spoilernya saja sist ? [what] [what]
tp gpp deh, yg penting update jgn lma2 yaaaa [biggrin]

siiippp...  [cheekkiss] [cheekkiss]

yaah
ai updte d0nk..
Udah penasaran stadium akhr nih.
Please :(
d updte yah
d updte yah
http://i54.tinypic.com/2w30vac.jpg[/img]

favorite couple
MinSun
KhunToria :D [/center]

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Re: Song of life last update chapter 15 (22 agustus)
« Reply #574 on: September 01, 2010, 10:47:17 pm »
yah kok cuma spoilernya saja sist ? [what] [what]
tp gpp deh, yg penting update jgn lma2 yaaaa [biggrin]

siiippp...  [cheekkiss] [cheekkiss]

[whip] [whip] [whip]
Ayuk cepet di update [hmpfh]

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Re: Song of life last update chapter 15 (22 agustus)
« Reply #575 on: September 02, 2010, 03:30:53 am »
ai update donk !!! [AddEmoticons04263]

Chainezz_Vian

  • Guest
Re: Song of life last update chapter 15 (22 agustus)
« Reply #576 on: September 02, 2010, 07:20:21 am »
Huala sist ai,     
cuma spoiler do0nx toh.  Tp gpp dech. . . .    Lumayan. Hoho .^^.   
   
hye na ma0 mingat ya sist?  Ua, ky'a next chap bkal gawat darurat nie. Ckck >.<   
     
sist krna uda kluar spoiler nya jd gk blh lama" yua update nya. . .     
Cayo!! [smiley-gen013] [smiley-gen013]   
     
ow ya sist gmana hasil TA nya? Bagus kh?

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
Re: Song of life last update chapter 15 (22 agustus)
« Reply #577 on: September 03, 2010, 06:30:55 am »
sist ai, update donk [smiley-gen013] [smiley-gen013]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Chapter 16


Sang surya kembali tersenyum. Perlahan sinarnya mulai menyinari bumi, memancarkan kehangatan. Hye na membuka matanya perlahan, kemudian mengalihkan pandangannya menatap seseorang yang tengah tertidur disisinya. Senyum terkembang diwajahnya, helaan napas berat terdengar dari mulutnya. Bukan mimpi…, batin Hye na. Ya, yang ia lihat saat ini bukan sesosok Jung min. Sosok Jung min lah yang selalu pertama hadir di penglihatannya saat ia membuka kedua matanya di pagi hari, namun tidak untuk pagi itu.

Hye na memutar tubuhnya menatap langit-langit kamarnya. Lagi-lagi helaan napas berat terdengar dari mulutnya. Terngiang kembali di pelupuk matanya, mimpi yang datang menghiasi tidurnya. Ia melihat Jung min tersenyum padanya, menatapnya hangat, dan terasa olehnya sebuah kecupan kecil dari Jung min. mengecup keningnya, pipinya, hidungnya, kemudian bibirnya. Ya.. hanya sebuah mimpi… tapi mimpi itu…terasa nyata… batin Hye na menyentuh lembut bibirnya.

“omma…”sapa En kyu tiba-tiba, mengalihkan perhatian Hye na. Hye na menatapnya tersenyum.

“omma membangunkanmu sayang…?”

“anhiyo…dia yang membangunkan En kyu…”jawab En kyu sambil menunjuk jendela yang tirainya terbuka disisi ranjang, memberika jalan untuk sinar mentari masuk dan menghangatkan. “…silau…”tambah En kyu

“mwo…?”ucap Hye na bingung.

“sinarnya omma…aiiissshhh…”kata En kyu terlihat mulai kesal.

“nee.. arasso…arasso…”jawab Hye na tersenyum, menatap En kyu. Senyum itu hanya sesaat, ketukan dipintu menghapusnya, walaupun tidak seluruhnya. “agashi…sudah bangun…”sapa orang dari balik pintu bersamaan dengan ketukan dipintu.

“nee pelayan Uhm…masuklah…”

Pelayan Uhm masuk, dan mulai melakukan tugasnya setiap pagi. Menyiapkan air untuk mandi, mengambil pakaian kotor , membersihkan dan merapikan ranjang.

“sebentar lagi sarapan siap agashi…”

“ne… kami akan segera turun….”

“baik agashi…”kata pelayan Uhm yang kemudian membalikkan tubuhnya untuk keluar dari ruangan itu, namun ketika langkahnya hampir mencapai pintu, Hye na memanggilnya, membuatnya membalikkan tubuhnya kembali menatap Hye na.

“…semalam… apa Jung min pulang….?”tanya Hye na, tanpa menatap pelayan Uhm. Pelayan Uhm terdiam sesaat menatap agashinya itu penuh selidik. Sejak kemarin ia sudah mencium sesuatu yang salah pada agashi dan doronimnya itu. “ne… doronim pulang… tapi pagi sekali ia sudah berangkat… katanya ia harus segera menyelesaikan sebuah proyek…”
Hye na diam, mendengarkan perkataan pelayan Uhm. Saat ini keduanya tampak terdiam dengan banyak pemikiran yang berkelebat di kepala. Banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan, begitu juga dengan pelayan Uhm. Banyak hal yang ingin ia tanyakan.

Pelayan Uhm terlihat masih diam berdiri ditempatnya, menatap Hye na, sebuah pertanyaan mendesaknya untuk segera ditanyakan dan memperoleh jawaban, akhirnya diberanikannya untuk mengeluarkannya “…eeerrrmmm agashi… apakah semuanya baik-baik saja agashi…anda dan doronim…”tanya pelayan Uhm.

Hye na diam, menatap pelayan Uhm kosong, mencoba mencari jawaban itu dalam dirinya. Namun, jawaban itu tidak ada dalam hati dan pikirannya. Ia belum bisa menemukan jawaban tentang itu, hanya sebuah..senyuman yang dapat ia berikan sebagai jawaban saat itu. Senyuman yang lain dari biasanya. Senyuman aneh yang tampak sangat dipaksakan. “ne… semua…baik…”jawab Hye na, menundukkan kepalanya menyembunyikan sesuatu.

Pelayan Uhm diam, menatap Hye na, menyadari sesuatu. “baiklah kalau begitu… saya harus menyiapkan sarapannya…”kata pelayan Uhm sebelum akhirnya ia berlalu pergi.

Hye na diam, menatap kepergian pelayan Uhm. Hye na menundukkan kepalanya, memejamkan kedua matanya. Sesuatu dihatinya yang ia tak tahu apa itu muncul kembali, rasa aneh yang membuatnya meneteskan banyak air mata. Rasa…sakit… hany itu yang dapat ia katakan. Sakit. Hatinya hancur… seorang Jung min menyakitinya. Sejuta kata rindu dan cinta yang keluar dari bibirnya seakan hanya sebuah asap yang hilang seiring berhembusnya angin. Air mata kembali mengalir dari mata Hye na. Hye na merasakan rasa dingin menyelimutinya di tengah hangatnya mentari. Dingin hingga membuatnya menggigil. Namun, perasaan itu tak lama, ia merasakan sesuatu, sesuatu yang menghangatkannya..

“omma… gwenchana…”tanya En kyu, memeluk Hye na hangat, melingkarkan tangannya di perut Hye na. Memecah keterdiaman Hye na. Hye na membungkukkan tubuhnya, berlutut dihadapan En kyu, hingga tinggi keduanya kini sejajar. En kyu menatap Hye na hangat dan perlahan menghapus air mata yang mengalir dipipi Hye na.

“omma… nangis…”tambah En kyu

“gwenchanayo En kyu-aa… omma tak apa…”

“apa en kyu yang bikin omma menangis…? Kenapa omma menangis”

“tak apa En kyu-aa… bukan karena En kyu…”jawab Hye na meyakinkan, kemudian perlahan mengecup kening En kyu dan membawanya kepelukannya, memeluknya erat. Tangis Hye na akhirnya pecah saat itu. Sekuat tenaga ia tahan, akhirnya jatuh juga. Ia merasakan kehangatan yang aneh dari tubuh En kyu. Kehangatan yang mengingatkannya pada Jung min.

Hye na menghapus air matanya dalam pelukan En kyu sebelum ia melepaskan pelukannya, dan menatap En kyu. Terbayang kembali olehnya saat itu. saat dimana hanya ada kebahagian, namun hancur oleh kejadian itu.

“omma…”panggil En kyu lagi, membuyarkan lamunann Hye na

“de…?ada apa En Kyu-aa…”

“En kyu…”kata-kata En kyu terpotong, tiba-tiba seseorang dengan cepat, dan tergesa mengetuk pintu kamar “agashi!! Agashi!! Agashi!!”panggilnya bersamaan dengan ketukan dipintu yang semakin kuat dan keras. Hye na bangkit, dan berjalan perlahan kearah pintu kemudian membukanya segera. “ada apa…?”tanya Hye na

“agashi…telepon… telepon penting dari Seoul…”

“Mwo?!?!? Seoul…?”

Hye na terdiam, sesaat, berpikir, ia tahu siapa, hanya saja ia belum mengerti tentang apa dan sepenting apa hingga dikatakan penting. Perasaan Hye na tak enak, jantungnya mulai memburu.

***********

Matahari mulai terlihat gencar memancarkan sinar dan panasnya. Angin pun terasa perlahan berhembus, meramaikan suasana. Memberikan sensasi yang berbadi, semilir yang berujung hangat.

Jung min memejamkan matanya. Hatinya sangat gundah hari itu. kejadian hari itu membuatnya takut dan bingung. Bingung tentang apa yang harus ia lakukan selanjutnya, untuk mendapatkan bidadarinya lagi. Terutama kepercayaannya.

Hari itu, sekali lagi ia melihat kekasih hatinya menangis, namun untuk pertama kali menangis karenanya. Membuat hatinya sakit. Benar-benar menyakitinya. Membuat seluruh tenaganya hilang seketika, sampai-sampai ia tidak mampu bergerak dna hanya diam terpaku ditempatnya, menatapa satu persatu air mata itu jatuh. Janjinya untuk tidak akan menjatuhkan air mata lagi dari kedua mata bidadarinya itu, musnah sudah. Bahkan tangis itu jatuh karenanya. Untuk pertama kalinya… karena aku… gumam Jung min pelan, menundukkan kepalanya.

Jung min menghela napas berat, menatap kosong pemandangan kota London yang mulai ramai dari atap gedung kantornya. Terdengar desau angin yang bertiup di sekelilingnya, sampai seseorang menepuk pundaknya pelan. Jung min membalikkan tubuhnya, menatap orang itu “ahh…Seung gi…”

“ada apa…”tanya Seung gi, tersenyum menatap Jung min

“ahniya… tak apa…”

“semua baik bukan…”tanya Seung gi

Jung min diam, menatap Seung gi sesaat lalu menundukkan kepalanya pelan
“ne…gwenchana…”

“benarkah…”tanya Seung gi lagi, tidak percaya

Lagi-lagi Jung min diam sesaat, menatap Seung gi dan kini keduanya saling berpandangan, namun hanya sesaat, kemudian Jung min segera memalingkan wajahnya. Seung gi diam, ia tahu bahwa segalanya tidak baik. Terjadi sesuatu antara Jung min dan Hye na, dan itu pasti. Seung gi sudah mencium adanya ketidakberesan sejak Jung min kembali dari pertemuannya dengan wanitu itu.

Seung gi menghela napas berat “apa…kau ikut rapat…? Atau kau ingin rapat diundur… atau…”

“lakukan saja sekarang…”jawab Jung min lemah.

“baiklah…”jawab Seung gi yang kemudian berjalan kearah pintu atap, membukanya dan masuk, meninggalkan Jung min yang masih diam ditempatnya. Jung min menghela napas sesaat, kemudian berjalan masuk, mengikuti langkah Seung gi.

Rapat dimulai. Seung gi terlihat banyak bicara, namun pandangannya sesekali terarah pada Jung min yang diam, menopang dagunya, menatap kosong laptop dihadapannya. Hingga rapat selesai, Jung min masih diposisi yang sama, tidak berubah, hanya helaan napasnya yang terdengar sesekali namun berkali-kali.

Jung min masih diam ditempatnya, tidak menyadari keberadaan Seung gi yang duduk disisinya, menatap beberapa berkas ditangannya. Seung gi berdeham, menyadarkan Jung min dari lamunannya. Segera dan cepat, Jung min memalingkan wajahnya kearah datangnya suara. Tiba-tiba Jung min bangkit dari duduknya, dengan wajah terkejut menatap seluruh bagian ruang rapat, seakan mencari sesuatu “…rapat…sudah selesai…”tanyanya bingung, menatap Seung gi

“terpaksa… karena direkturnya tampak tidak tertarik dengan rapat itu…”

“miane…”

Seung gi menutup berkas ditangannya “cih… apa cukup hanya dengan kata itu…”kata Seung gi kesal

“mianhe…jeongmal mianhe…”
Seung gi diam, menatap Jung min, memutar kursinya berhadapan dengan Jung min
“sebenarnya ada apa dengan dirimu… tidak seperti biasanya… kau banyak diam… apa ini berkaitan dengan Hye na… ada apa dengannya dan dirimu…”tanya Seung gi tidak sabar
Jung min diam menatap Seung gi. Kemarahan kini terlihat di wajahnya. “katakan padaku..”paksa Seung gi, mengguncang kursi Jung min tidak sabar. Jung min bangkit dari tempatnya, masih menatap Seung gi marah “…semua ini tidak ada hubungannya denganmu seung gi-ssi…”kata Jung min sebelum akhirnya ia membalikkan tubuhnya untuk pergi. Langkahnya terhenti “…apa semua akan selesai jika aku mengatakannya padamu Seung gi-ssi…”tambah Jung min lagi yang perlahan berjalan kearah pintu.

Seung gi diam ditempatnya, menatap Jung min, hingga terdengar dering ponselnya. Seung gi mengangkatnya “yoboseyo…pelayan Uhm…ada apa…”tanya Seung gi.
“nee… Jung min sedang rapat… jadi ponselnya tidak aktif…”jawab Seung gi, menatap Jung min menyalahkan.

Jung min terlihat diam ditempatnya, mengeluarkan ponselnya dan menatapnya sekilas. Ponselnya memang sengaja ia matikan tadi, karena ia tidak ingin di ganggu siapapun hari itu. Jung min terus melangkah ke pintu. Hingga…

“apa terjadi sesuatu…? Bagaimana keadaannya…?”tanya Seung gi, tiba-tiba berubah menjadi serius dan menaruh khawatir pada telepon pelayan Uhm. Pertanyaan Seung gi itu membuat Jung min diam ditempatnya, tangannya yang terlihat akan membuka pintu terdiam, membeku, perlahan dipalingkan wajahnya, menatap Seung gi.

“MWO!!! Ne… baiklah… kami akan segera pulang…”
Jung min melangkah mendekati Seung gi, menatapnya penuh tanda tanya.

“Hye na…dia…ahhh… kita harus pulang sekarang…”ajak Seung gi, berjalan kearah pintu.
Jung min terlihat diam ditempatnya. Seung gi menghentikan langkahnya, membalikkan tubuhnya menatap Jung min “ikut tidak…”tanya Seung gi.
Bagai tersengat listrik berkilo-kilo volt, Jung min tersadar dari tempatnya dan segera beranjak dari tempatnya, berlari, mendahului langkah Seung gi, meninggalkan Seung gi dibelakangnya.

Ada apa…apa yang terjadi dengan bidadariku itu…batin Jung min, makin gundah, dan makin mempercepat langkahnya.


********

Jung min diam, menatap sesosok tubuh yang terbaring lemah dan terlihat sangat pucat diranjang. Perlahan dengan langkah yang lemah, ia berjalan mendekatinya, tidak menggubris tatapan semua orang padanya. Tatapan yang menyimpan sejuta tanya.
Perlahan Jung min duduk disampingnya, mengangkat tangannya, menggerakkan jemarinya untuk menyentuh wajah pucat itu, namun hanya tinggal sedikit lagi, tiba-tiba ia menarik tangannya kembali, mengurungkan niatnya. Ditatapnya menyeluruh tubuh itu, mengamati dan mencari adakah sesuatu yang salah padanya. “Hye na… apa yang terjadi…”bisik Jung min pelan, hingga tidak ada seorangpun yang mampu mendengarnya kecuali Hye na jika ia terbangun saat itu, tapi nyatanya, tak terdengar jawaban apapun, Hye na masih memejamkan matanya.

“apa yang terjadi pada Hye na…? kenapa ia bisa begini…?”tanya Jung min tanpa mengalihkan pandangannya dari Hye na. lama, tak ada yang menjawabnya, semua orang masih terdiam, menatap Hye na dan Jung min, penuh tanda tanya.

“kenapa tidak ada yang menjawabku…Pelayan Uhm! Apa dokter sudah memeriksanya…”kata Jung min lagi, tidak sabar.

Perlahan pelayan Uhm melangkah maju mendekati Jung min “maaf doronim..agashi… dia tidak apa-apa begitu juga dengan…” tiba-tiba pelayan Uhm menghentikan perkataannya, dan menatap Hye na. Hye na terlihat mulai menggerakkan kepalanya, kemudian membuka kedua matanya, perlahan, dan mulai menatap sekitarnya, menyapu ruangan itu.

“apa… yang terjadi…”tanya Hye na sedikit terbata.

“omma…”panggil En kyu tiba-tiba, naik ke ranjang dan memeluk Hye na yang masih terbaring lemah.

“ada apa…”tanya Hye na, menatap sekelilingnya, mencari jawaban.

“omma…omma pingsan setelah menerima telepon itu…”jawab En kyu yang masih memeluk tubuh Hye na, mendekapnya erat. “syukurlah omma tak apa…En kyu takut sekali…”tambah En kyu, mengangkat wajahnya menatap Hye na.

“telepon…?”tanya Hye na bingung.

“nee…”

Hye na terlihat diam, berpikir, mengingat kembali yang telah terjadi. Ah…ya telepon itu…tidak!! Aku harus pulang sekarang, batin Hye na, yang tiba-tiba bangkit dari ranjangnya, tetapi kembali tertidur ketika ia merasakan rasa sakit menyerang kepala dan perutnya.

“agashi…”

“Hye na jangan bergerak dulu… berbaringlah…”kata Jung min khawatir, mencengkeram bahu Hye na, mendorong Hye na untuk berbaring kembali sekaligus menyadarkan Hye na akan keberadaannya. Hye na menatapnya sesaat, hanya sesaat kemudian setelah menarik napas, menenangkan dirinya, dan tidak lagi merasakan rasa sakit di perut dan kepalanya, Hye na bangkit kembali, melepaskan cengkraman tangan Jung min di bahunya, kemudian berjalan menjauh kearah telepon diruangan itu.

“yoboseyo….Pengawal Park.. ne…saya akan pulang hari ini, jadi siapkan semuanya…terima kasih banyak…”kata Hye na singkat, dan kemudian menutupnya, mengakhiri sambungan itu.

Jung min bangkit menatap Hye na yang terlihat mulai mengeluarkan tasnya dan beberapa pakaian yang beberapa hari yang lalu sempat dibawakan oleh Pengawal Park. Jung min menyadari adanya sesuatu yang salah, berjalan cepat mendekati Hye na.

“kemana…”tanya Jung min, menatap punggung Hye na yang terlihat bergerak mengikuti gerak tangannya yang memindahkan semua pakaiannya.

“omma…mau kemana…”tanya En kyu tiba-tiba

“ke seoul sayang… En kyu ikut…?”tanya Hye na, duduk dihadapan En kyu, mengusap kepalanya lembut. En kyu terlihat diam.

“ikut!!! Tapi… appa juga ikut kan…?”tanya En kyu lagi, mengalihkan pandangannya menatap Jung min yang berdiri disisinya, tengah menatap keduanya, yang Hye na ketahui tatapannya kosong.



“…kalau begitu bantu omma siapkan baju En kyu…ahhh… minta bantuan pelayan Uhm ya…”kata Hye na, menatap pelayan Uhm yang masih berada ditempatnya, tak jauh dibelakang En kyu. En Kyu mengalihkan pandangannya menatap pelayan Uhm yang terlihat tersenyum padanya, kemudian berjalan ke arahnya dan menggandeng tangannya, keluar dari ruangan itu. Kini tinggal tersisa 3 orang diruangan itu. Hye na bangkit, setelah melihat punggung En kyu yang mulai menjauh dan menghilang, berbelok di ujung ruangan.

“Seung gi-ssi… bisa tinggalkan kami berdua…”pinta Hye na, menatap Seung gi lemah, namun tetap memberikan senyum terbaiknya. Walaupun banyak rasa sakit yang menyerangnya, ia masih berusaha untuk menunjukkan senyumnya.
Seung gi terlihat bingung, menatap Jung min dan Hye na bergantian, sebelum akhirnya ia menunndukkan kepalanya, dan menghela napas panjang “…baiklah… panggil aku kalau kalian membutuhkanku…”kata Seung gi sebelum akhirnya ia berbalik, keluar dari ruangan dan menutup pintunya.

Hye na menatap kepergian Seung gi sesaat sebelum akhirnya ia melanjutkan kegiatannya. Jung min masih diam ditempatnya, terlihat shock dan bingung. Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing, hingga salah satuya diantara keduanya mengeluarkan suara.

“kemana…?”tanya Jung min tanpa menatap Hye na

“bukankah sudah jelas…”

“kenapa…”

“banyak alasan…”

“sebutkan salah satunya…”

Hye na diam, menghentikan kegiatannya, menundukkan kepalanya dan menghela napasnya panjang. “…apa karenaku…”tanya Jung min, masih belum mampu menatap Hye na. Hye na menatap Jung min sesaat, ia merasakan kesedihan disana.

“…aku harus pergi…”kata Hye na, menutup kopernya. Tidak menjawab pertanyaan Jung min. Hye na melangkah pergi, melewati Jung min, tetapi hanya beberapa langkah dibelakang Jung min, langkah Hye na terhenti. Jung min menahan tangannya, tanpa menatap Hye na, keduanya saling membelakangi. Kini ia terlihat menundukkan kepalanya. “…kumohon…jangan pergi…”kata Jung min. Hye na memutar tubuhnya, menatap punggung Jung min. Air mata perlahan mulai menetes lagi membasahi pipinya.

Hye na segera memalingkan wajahnya tepat saat Jung min, membalikkan tubuhnya, meminta jawaban atas pernyataannya. Hye na menghapus air matanya, kemudian perlahan tetapi dengan kuat, ia melepaskan genggaman tangan Jung min di pergelangan tangannya.

“aku harus pergi…”kata Hye na yang kemudian melangkah pergi, meninggalkan Jung min

“… aku ikut…”kata Jung min membalikkan tubuhnya , menghentikan langkah kaki Hye na. Hye na memutar tubuhnya, menatap Jung min.

“selesaikan dulu masalahmu di sini, jika kau ingin menyelesaikan segalanya denganku…”kata Hye na

“…masalah apa…? Dan… menyelesaikan apa..aku tidak mengerti…”

“…masalahmu dan masalahku merupakan dua hal yang berbeda… masalahku…biarkan aku menyelesaikannya sendiri…”jawab Hye na, yang kemudian pergi meninggalkan Jung min, namun lagi-lagi langkahnya terhenti “..apa kau tidak mempercayaiku lagi…”tanya Jung min lemah, putus asa, menundukkan kepalanya.

Hye na diam, menghembuskan napasnya. “…mungkin…”jawab Hye na singkat, melanjutkan langkahnya, meninggalkan Jung min. Air mata mulai jatuh di kedua matanya, begitu pula dengan Jung min, keduanya kini menangis dalam diam. Ia tidak mengerti lagi dengan dirinya, kenapa ia bisa serapuh ini jika berhubungan dengan Han Hye na begitupula yang dirasakan Hye na.



Jung min jatuh terduduk dengan bulir air mata yang tertahan di pelupuk matanya, setelah terdengar bunyi pintu yang tertutup dibelakangnya, mengatakan padanya bahwa kekasih hatinya benar-benar pergi, dan ia sama sekali tidak sanggup untuk mencegahnya. Ia hanya dapat diam dan menerima senuanya/
Beberapa menit berlalu, Jung min masih duduk di tempatnya, menyadari kesalahannya, menyadari cintanya.

“Jung min… Hye na benar-benar pergi…”kata Seung gi, membuka cepat pintu di belakang Jung min. Jung min terlihat masih diam, kemudian, Jung min mulai menyadari sesuatu. Dengan cepat Jung min bangkit dari tempatnya dan keluar dari kamarnya, mengejar Hye na. namun terlambat, lift di depannya sudah berdentang menutup, dan berjalan turun ke lantai dasar. Hye na sudah pergi, tetapi rasa putus asa belum muncul di hatinya. Jung min turun melalui tangga darurat, kelantai dasar apartemennya. Mengejar Hye na, untuk mendapatkan seseorang yang sangat dicintainya. Tapi… lagi-lagi Jung min jatuh terduduk, menatap kepergian Hye na. menatapnya dengan sejuta kepedihan.

*****

Hari berganti. Hampir seminggu Hye na pergi dari pandangan dan dekapan Jung min. Ia sangat merindukannya. Dan ia hampir gila karena itu.

“Jung min… hentikan…sudah cukup…”seru Seung gi, mengambil paksa gelas bir ditangannya. “kau sudah sangat mabuk…”tambah Seung gi, menatap iba sahabatnya itu. “aku belum mabuk…hik… berikan padaku…”kata Jung min yang berusaha meraih gelas besar berisi birnya dari tangan Seung gi. Jung min diam, setelah usahanya gagal. Seung gi menatapnya, dan duduk di sampingnya.

Perlahan Jung min mengangkat kepalanya, menyandarkannya di dinding ruangan dengan pandangan kedepan yang kosong.



“dia pergi…”gumam Jung min “sekali lagi…sekali lagi…aku diperlakukan seperti ini…”tambah Jung min.

“ayo pulang…”kata Seung gi kemudian.

“tidak… aku tidak ingin pulang… karena semua sudu di rumah itu mengingatkanku dengan…Hye na…”jawab Jung min, yang terlihat air mata mulai menetes dan mengalir dipipinya.

Seung gi menghela napas berat. Ia dapat merasakan kekecewaan, kesedihan dan kesepian hati Jung min saat itu. Seung gi menatap Jung min, menyadari segalanya. Seung gi mengalihkan pandangannya ke semua sudut ruangan itu. Sudah banyak botol kosong yang terserak diruangan itu, Seung gi tidak mampu menghitungnya.

Jung min yang dulu hilang kini kembali lagi. kembali lagi, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Seung gi dapat merasakannya. Seorang Jung min kembali menjadi seorang pemabuk. Pemabuk dan oemnum berat. Seorang Jung min kembali menjadi seorang yang dingin dan cuek, dan seorang Jung min kembali menjadi seseorang yang gila kerja. Gila kerja untuk menutupi semua kesedihannya.

“…ayo pulang…”ajak Seung gi, mencengkeram lengan Jung min, membawanya bangkit dari tempatnya, mengajaknya

“tidak!!!”jawab Jung min berseru, menarik lengannya dengan paksa dari cengkraman tangan Seung gi, membuat tubuhnya yang sudah tidak mampu berdiri seimbang lagi, jatuh tersungkur. Jung min tertawa untuk dirinya. Seung gi semakin khawatir menatapnya.

“apa yang terjadi sebenarnya…”gumam Seung gi, menatap Jung min yang masih tertawa.

“..ia tidak mempercayaiku lagi…”gumam Jung min pelan, ditengah tawanya yang mulai terdengar pelan. Seung gi diam menatapnya. “apa karena…”

“semua salahku…”kata Jung min lagi, yang terlihat memejamkan matanya, memukul-mukul dadanya cepat. Seung gi menatapnya, menghela napas berat, lalu membantunya untuk bangun, duduk dikursinya semula. Tawa Jung min sudah tidak terdengar. Keheningan tercipta diantara keduanya.

Seung gi duduk disisi Jung min, dan menghabiskan segelas bir yang berada dihadapannya, mulai bingung dengan apa yang harus ia lakukan pada Jung min. Seung gi mengalihkan pandangannya menatap Jung min, yang masih ememjamkan matanya dan menepuk-nepuk dadanya, walaupun lemah. Dan hanya beberapa saat, Jung min akhirnya jatuh tertidur di meja.

Seung gi menghela napas pelan. Disatu sisi ia bersyukur, Jung min menghentikan munumnya, disisi lain ia merasa iba dengannya.

“lagi-lagi aku harus membawamu pulang dengan cara seperti ini… ini sudah kelima kalinya kau begini…”gumam Seung gi, yang mulai melingkarkan lengan Jung min di lehernya, menopang tubuh Jung min, dan membawanya keluar dari ruangan itu. “untung kau tidak memanggil para wanita itu…”tambah Seung gi, setelah ia berhasil membawa Jung min keluar dari ruangan itu dan menatap beberapa wanita bule yang tengah berdiri di beberapa tempat menunggu panggilan. Seung gi menghela napasnya kembali, menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan langkah kembali, pergi dari tempat itu

******
Hye na terlihat diam menatap seseorang yang tengah tertidur dengan berbagai peralatan medis yang terpasang hampir disemua tubuhnya. Hye na menghela napas berat, menatap sedih orang itu.

“appa… bangun…Hye na sudah disini…”panggil Hye na, duduk disisinya, mengusap wajahnya lembut. “kenapa bisa begini…”tambah Hye na, menatap semua hal yang ada di tubuh appanya, dan semakin bersedih atasnya.

Flashback

Hye na melangkah cepat, diikuti oleh pengawal Park dan Pak Jeong masuk kesalah satu rumah sakit ternama di Seoul. Banyak orang yang terlihat tengah menunggu, semua suster bahkan dokter di rumah sakit itu. Semuanya terlihat menatap Hye na iba. Ia tahu kenapa. Dirinya sudah cukup dikenal dirumah sakit itu, dan kini appanya, sekaligus pemilik rumah sakit tersebut dikabar kan sakit parah dan koma. Hye na menghampiri dokter Choi.

“dokter… bagaimana…”tanya Hye na, menatapnya penuh harap, mendengar sesuatu yang baik.

Dokter Choi terlihat diam, menatap Hye na, lalu menundukkan kepalanya, menghela napas berat. “…radang otak… beliau terkena radang otak… dan kini sudah mulai parah… hampir memusnahkan semua syarafnya…dan dan hampir melumpuhkan semua anggota geraknya…maafkan kami…”kata dokter Choi lemah, menundukkan kepalanya menyesal.

Hye na menatapnya kosong, setelah mendengar semua penjelasannya. Malam yang gelap, menyelimuti, sepi dan hening membuatnya semakin bersedih. Air mata Hye na mulai menetes, satu persatu membasahi pipinya. Tubuhnya mulaih melemah, ia goyah hingga terjatuh dan tepat saat itu, pengawal Park yang berada dibelakangnya, menangkapnya, hingga ia tidak benar-benar terjatuh. Perlahan pengawal Park membawanya ke sebuah sofa tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Pengawal Park menatap Hye na, memberikan segelas air putih padanya.

“maafkan saya…”

Hye na masih diam, digenggamnya kuat gelas yang berada di tangannya. “…an…anhi… aku…aku… yang bersalah…aku yang bodoh karena tidak mengetahuinya… aku seorang dokter… tapi aku…”Hye na menghentikan perkataannya., menjatuhkan dirinya hingga bersandar di sofa. Keduanya terdiam, Pengawal Park masih menundukkan kepalanya.

“sejak kapan…”tanya Hye na tiba-tiba, memecah keheningan keduanya

“entahlah… yang saya tahu… Pak direktur punya masalah dengan kepalanya yang sering terasa sakit… yang kemudian terkadang membuat tangan ataupun kakinya tidak dapat digerakkan…”

Hye na diam, menatap kosong gelas ditangannya. Keheningan kembali tercipta diantaranya, hingga kedatangan seseorang. Membuat Hye na dan pengawal Park membalikkan tubuhnya menatap orang itu.

“Dokter Hye na… bisakah kita berbicara…”kata dokter Choi, menatap Hye na serius.
Hye na berjalan mendekatinya, menatapnya, menunggu. “apa yang terjadi…?”

“keadaannya semakin kritis… beliau harus segera dioperasi…”

“operasi… apakah tidak membahayakan jiwanya…? Melihat umurnya..”

“memang… tapi hanya itu jalan satu-satunya…”

End Of Flashback.

Hye na menatap tubuh itu, mengusap kepalanya lembut. Air mata mulai membanjir tidak dapat dibendungnya lagi.

“…appa… Hye na hamil…”kata Hye na lirih, menatap tubuh itu, mengharapkan reaksi yang ia tunggu...antisias dan terharu…serta sebuah pelukan hangat yang sangat ia rindukan, tetapi Hye na tahu ia sangat tidak mungkin, mengingat keadaan appanya yang koma, membeku terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan semua peralatan medis yang terpasang ditubuhnya. Hanya peralatan itu yang dapat membuatnya bertahan hingga saat ini. Matanya masih tertutup rapat.

Hye na membenamkan kepalanya diatas tangan appanya, menangis tersedu. “appa jangan pergi… aku mohon…” gumam Hye na pelan

*****

Seung gi berjalan perlahan masuk kesebuah studio foto yang berada di salah satu ruangan kantor permodelan yang dibuat oleh Jung min. Ia mengamati kerja model-model yang terlihat tengah difoto dengan berbagai gaun pengantin buatan desaigner terkenal Song. Seung gi menatap mereka terdiam, hingga seseorang menepuk bahunya pelan. “Seung gi-ssi…”sapanya lembut. Seung gi memutar tubuhnya cepat, menatap orang itu.
Wanita itu sangat mengejutkan Seung gi. Banyak perbedaan pada dirinya sejak beberapa tahun yang lalu.



“ahhh…Yoona-ssi…”

“lama tidak berjumpa…”katanya, tersenyum menatap Seung gi.

“nee…”

Keduanya terdiam sesaat, kecanggungan merasuki keduanya. “hei…kenapa jadi canggung begini…”kata Yoon a, memecah kecanggungan diantara keduanya. Seung gi tersenyum, kemudian mengalihkan pandangannya menatap para model yang sedang bergaya untuk di foto. Keduanya terdiam kembali, menyibukkan indera penglihatan mereka masing-masing.

“eerrrmmm… Yoona… bisakah kita bicara..”tanya Seung gi, menatap serius Yoo na. Yoo na menatapnya, mencari sesuatu dari kedua mata Seung gi sesaat, sebelum akhirnya ia tersenyum “…ne… tentu saja…”

Seung gi tersenyum menatap Yoona, kemudian melangkah keluar dari ruangan itu diikuti oleh langkah kaki Yoona.

Yoo na terlihat menghirup kopi di cangkirnya sebelum akhirnya ia meneguknya sedikit. Seung gi yang melihat itu tersenyum tipis. “kau banyak berubah… tetapi tidak dengan yang satu itu… kebiasaan yang aneh…”

Yoo na tersenyum lebar "kau masih mengingatnya…”

“tidak akan pernah dapat melupakannya… kebiasaan yang aneh…”

“dan kau… sama saja… selalu meminum kopi dingin di pagi hari… apa itu kebiasaan yang baik…”

Seung gi tersenyum “baiklah..selera orang berbeda…”kata Seung gi yang kemudian meminum es cappuccino yang dipesannya. Keduanya terdiam, sesaat menikmati kopi masing-masing sambil mengamati pemandangan jalanan kota London yang mulai ramai. Keterdiaman keduanya pecah oleh sebiuah tawa yang tiba-tiba. Seung gi menatap Yoo na yang tertawa, terpingkal-pingkal.

“yaa… kenapa tertawa seperti itu… apa ada yang aneh…”

“anhi… hanya teringat masa lalu…”

“mwo…sampai terpingkal-pingkal seperti itu… pasti sesuatu yang sangat konyol yang kau ingat…”

“ne… sangat konyol… aku teringat wajahmu dan Jung min yang sangat konyol saat menyatakan cinta padaku… kalian berdua… sahabat yang aku tahu sangat akrab… kalian berdua secara bersamaan menyatakan cinta padaku…dengan karangan bunga yang sama dan kata-kata yang sama…”jawab Yoo na, masih tertawa di tempatnya, membua beberapa orang yang berada di restoran itu menatap dirinya dan Yoo na.

“yyaa… hentikan…”seru Seung gi, mengguncang lengan Yoo na, namun tetap saja ia masih tertawa terpingkal “YYA!!”kini seruan Seung gi lebih keras, dan ternyata berhasil membuat Yoo na terdiam, menatap Seung Gi.

Seung gi menghela napas, “itu sudah lama sekali….”kata Seung gi

“ya… lama sekali… dan kini aku merindukannya…”tambah Yoo na, menatap Seung gi hangat
Seung gi menundukkan kepalanya, menyadari tatapan Yoo na. “dan sekarang aku menyesalinya…”kata Seung gi lemah, namun ia yakin Yoo na masih dapat mendengarnya. Keduanya terdiam kembali. Kecanggungan kembali merasuk. “apa maksudmu…”tanya Yoo na
Seung gi mengangkat kepalanya, menatap Yoo na “tinggalkan Jung min…”kata Seung gi tiba-tiba

“mwo…? Apa maksudmu…”tanya Yoo na

“tinggalkan Jung min, setelah proyek ini…”tambah Seung gi

“aku tidak mengerti…”kilah Yoo na yang kini mulai bangkit dari tempatnya.

“aku yakin kau mengerti Yoo na-ssi… dan aku harap kau melakukannya…sudah banyak rasa sakit yang dialami Jung min… dan aku harap kau tidak akan memberikan rasa sakit itu lagi padanya… Jung min sudah banyak menderita karenamu…dan aku sangat menyesali, dulu aku pernah mengenalkanmu padanya… menerima keputusanmu untuk menerima keadaan bahwa kau lebih memilih Jung min daripada aku… seandainya itu dapat berubah… maka biar aku saja yang menderita saat ini…”

Yoo na terdiam, berdiri menatap Seung gi yang kini menundukkan kepalanya. Yoo na tersenyum, menatap Seung gi lalu duduk kembli ditempatnya “kalian memang sahabat yang saling menyayangi…”kata Yoo na singkat namun cukup membuat Seung gi mendongakkan kelapanya kembali menatap Yoo na.

Yoo na menghela napas berat, lalu terlihat mempermainkan jemarinya. “ya… semuanya salahku… salahku yang meninggalkannya… dan salahku juga bukan atas dirinya dan istrinya…”kata Yoo na.

Yoo na menarik napas panjang “…aku tidak pernah memiliki maksud seperti itu… aku…”

“maksud… lalu apa maksudmu…”kata Seung gi menatap Yoo na tajam, menyelidiki.

“dengarkan penjelasan ku dulu…”pinta Yoona, menggenggam jemari Seung gi, memohon. Seung gi diam menatap Yoona sesaat, kemudian menarik jemarinya, dan menyandarkan tubuhnya. “katakanlah….”kata Seung gi

Yoona menarik napas panjang yang kemudian dihembuskannya perlahan.

******

“pulanglah agashi… biar saya yang menjaga pak direktur…pengawal Park akan mengantarmu…”kata Pak Jeong, sesaat setelah ia memasuki ruang perawatan Tuan Han. Hye na diam, tidak beranjak dari tempatnya. Matanya yang sembab kini terlihat terpejam. Wajahnya memucat. Pengawal Park berjalan mendekatinya, mencoba membangunkannya “Hye na-ssi…”panggilnya, namun tetap tidak terdengar jawaban dari Hye na.

Pengawal Park menyentuh tangannya pelan, mencoba membangunkannya.

“dingin sekali…”seru pengawal Park tiba-tiba “tolong panggil dokter pak Jeong…”tambah pengawal Park menatap khawatir Hye na. Perlahan pengawal Park mengangkat tubuh Hye na dan memindahkannya ke sofa tak jauh dari ranjang tuan Han. Pengawal Park menidurkannya disana tepat saat pak Jeong datang bersama dokter Choi
“ada apa…”

“entahlah… Hye na…dia…”

Dokter Choi terlihat mengenakan stetoskopnya, dan mulai memeriksa keadaan Hye na.

Tak lama dokter Choi bangkit. Pengawal park mendekatinya “apa tidak apa-apa…”tanya pengawal park khawatir.

“nee… Hye na-ssi tidak apa-apa… hanya kelelahan… tetapi…”

“apa…”

“aku mohon… bawa dia pulang untuk beristirahat… kalau dia tetap seperti ini… maka dapat mengganggu janinnya…”jawab Dokter Choi

“mwo…?!?!? Janin…?!?!?”seru pengawal Park tidak percaya

“nee… janin diperutnya kira-kira baru memasuki minggu ke 4 nya… dan itu sangat rentan keguguran… untuk itu… jaga dia agar tidak terlalu keras dengan pikiran dan tubuhnya…”jelas dokter Choi.

Pengawal Park terdiam ditempatnya “4 minggu…Hye na hamil…4 minggu…”kata Pengawal Park lirih, menatap kosong Hye na, tidak percaya dengan pendengarannya.
Dokter Choi tersenyum “selamat untuk kalian semua… ternyata di balik semua kesedihan… ada setitik kebahagian juga…”

“terima kasih banyak dokter Choi…”kata pak Jeong, yang kemudian mengantarkan dokter Choi keluar dari ruangan tersebut.

Pak Jeong kembali kedalam ruangan, menatap pengawal Park yang menyandarkan tubuhnya didinding tepat dihadapan Hye na. Pengawal Park menatap Hye na diam, menatapnya tidak percaya.

“tuan…anda tak apa…?”tanya pak Jeong, menatap pengawal Park khawatir.



“Hye na hamil…”gumam pengawal Park, menatap Hye na “Hye na hamil…dia hamil… aku akan menjadi seorang paman… Hye na hamil pak Jeong…!!”seru pengawal Park antusias, senang, sambil mengguncang-guncang tubuh pak Jeong saking senangnya.

“ne…anda akan menjadi seorang paman… dan tuan Han… akan menjadi seorang kakek…”kata pak Jeong, memperjelas.

“.. ne… anda tau… seberapa senangnya aku mendengar kabar ini… ohh… Tuhan… terima kasih banyak…”kata pengawal Park

Pak Jeong tersenyum menatap itu, kegembiraan kembali muncul di keluarga ini setelah banyak menderitaan yang dialami “nee… dan sebaiknya anda membawa Hye na agashi pulang… seperti kata-kata dokter Choi…”

“ne… “kata pengawal Park bersemangat, dan kemudian mengangkat tubuh Hye na perlahan dan membawanya keluar ruangan.

********

Matahari terlihat sangat indah pagi itu. Ji hoon terlihat membentangkan kedua tangannya, menghadap pada sang mentari, merasakan kehangatannya. Ji hoon tersenyum. Ia sangat berbahagia hari itu. Wanita yang selalu dan akan selalu ditunggunya akhirnya pulang juga. Namun ia bingung, pada kenyataan yang dialami sang wanita itu. Ia sedang bersedih, dan ia juga merasakan kesedihan itu. Bukan hanya tentang appanya, tapi juga tentang suaminya itu.

“Brengsek!!”seru Ji hoon tiba-tiba, membuka kedua matanya, menatap marah hadapannya. Membuat beberapa orang anak yang tengah berdiri disisinya, menatapnya takut-takut, kemudian pergi. “pria brengsek…sebenarnya apa yang kau lakukan pada Hye na hingga membuatnya bersedih seperti ini…”gumam Ji hoon.

“hyung…”sapa En kyu tiba-tiba menyadarkan Ji hoon, dengan menarik ujung bajunya cepat “gwenchana…?”tanya En kyu lagi, menatap Ji hoon. Ji hoon tersenyum menatap En kyu “nee… gwenchana… ada apa En kyu…”tanya Ji hoon kemudian.

En kyu terlihat diam, tidak menjawab pertanyaan Ji hoon, tetapi lama dan lama sebuah senyum manis tersungging di wajahnya dan semakin melebar, menggoda Ji Hoon untuk bertanya lebih jauh.

“yya… En kyu… jangan menggoda hyun… apa yang kau sembunyikan dari hyung…?”

“ahni… tidak jadi…”jawab En kyu semakin menggoda Ji Hoon

“yya…ayolah En kyu…apa yang kau sembunyikan…atau…”Ji hoon mengangkat tangannya, menunjukkan jari telunjuknya dan kemudian mulai menggelitik En kyu dengannya.

“ayo…katakan tidak…”

“ahnii….ha ha ha ha..”

“kalau begitu rasakan…”

“ha ha ha… baik… baik… En kyu bilang…”

Ji hoon menghentikan gelitikannya, dan mulai menatap En kyu menunggu. “apa…?”tanya Ji hoon lagi.

En kyu diam, menghela napasnya pelan, menenangkan dirinya. “lihatlah…En kyu menggambar ini…”kata En kyu, menunjukkan sebuah kertas ditangannya dengan bangga.

“apa itu…”tanya Ji hoon menerima kertas itu dari tangan En kyu, dan mulai menatapnya. Di sana tergambar 4 orang. 2 orang anak kecil dan sepasang wanita dan pria.

“siapa mereka…?”tanya Ji hoon, bingung

“ini omma… ini appa… ini En kyu… dan ini adik En kyu yang sekarang masih di perut omma…”jawab En kyu senang.

“mwo…?!? Omma…? Appa…? Siapa…?”

“ini… omma Hye na…appa Jung min… En kyu dan adik En kyu…”

“adik En kyu…”

“ne… di perut omma…?”

Ji hoon diam, mendengarkan semua perkataan En kyu. Hye na…hamil…, batin Ji hoon.

“En kyu akan dapat adik…”kata En kyu keras, mengangkat kedua tangannya bersorak, bersemangat, dan berlari masuk meninggalkan Ji hoon yang masih terdiam di tempatnya.
Hye na…hamil… apa yang kutakutkan terjadi… adakah kemungkinan untuk ku setelah ini… ahhh…bagaimana ini… apa masih bisa mendapatkannya…. Memeluknya…pikir Ji hoon

*****

Jung min membuka matanya perlahan, dan perlahan mengangkat tubuhnya bangkit. Kepala dan tubuhnya terasa sangat sakit. Jung min mendesah pelan, merasakan sakit di perutnya, kemudian rasa sakit itu berubah menjadi… “hoooekkkk…”Jung min memuntahkan isi perutnya keluar.

“aiiisssshhh!!! YYA!!! Apa kau tidak bisa berjalan kekamar mandi…!! Bikin susah saja…”seru Seung gi yang tiba-tiba masuk, meletakkan handuk dan baskom berisi air di meja dekat ranjang. “aiiissshhh…!!!”

Jung min menengadahkan kepalanya, menatap sekelilingnya, berusaha mengenali. “kau ada di apartemen ku…”jawab Seung gi sambil menekan sebuah angka pada telepon kamarnya. Tak lama tersambung “layanan kamar… bisa tolong bersihkan kamarku… nee… ada seseorang yang muntah di atas ranjang…ne… terima kasih banyak…”kata Seung gi

“kau… bikin repot saja…”keluh Seung gi, sesaat setelah menutup pembicaraannya dan mengembalikan ganggang telepon di tempatnya.

Jung min, bangkit dan duduk di pinggir ranjang, menundukkan kepalanya, menyadari semua yang dialaminya bukanlah sebuah mimpi yang sangat panjang. Jung min menghela napas lemah, dan berjalan kearah kamar mandi.

“kemana..?”tanya Seung gi

“mandi…”

“bagus kalau begitu… kau sudah tidak mandi selama 2 hari…”seru Seung gi tepat sebelum Jung min menutup pintu kamar mandi dibelakangnya.
Seung gi menghela napas lemah “sepertinya dampak yang satu ini lebih kuat dari pada sebelumnya…”gumam Seung gi, menatap pintu kamar mandi dimana Jung min berada didalamnya. Tak lama bunyi shower mulai terdengar.

Jung min membasahi seluruh tubhunya dengan guyuran air dingin shower. Terdiam, teringat semua yang dialaminya kembali. Semua yang terjadi pada dirinya. Mulai dari pertemuan itu. Pertemuan yang memulai segalanya.

Flashback

“tak apa Jung min-aa…”tanya seorang wanita saat Jung min tengah menatap kepergian Hye na.

Jung min mengalihkan wajahnya, menatap wanita itu sesaat Yoona… batin Jung min“ayo bangun…”ajak wanita itu kemudian, mencengkeram lengan Jung min, yang kemudian segera ditepis Jung min kasar. “tinggalkan aku sendiri…”kata Jung min pelan

“tapi…”

“aku bilang tinggalkan aku sendiri!!!”seru Jung min keras

Yoona menatap Jung min sesaat, rasa takut menyergapnya, ia belum pernah menatap Jung min yang seperti ini. Ia bahkan tidak pernah melihat kemurkaan Jung min yang seperti ini. Perlahan Yoona menyingkir, membiarkan Jung min yang bangkit perlahan dan berjalan pergi dari hadapannya.

Jung min berjalan perlahan kearah mobilnya dan melajukannya cepat ke kantornya. Tak lama dering ponsel memekakkan telinganya, dengan cepat Jung min mengambil ponselnya, membuka batrenya dan mengeluarkannya, membuangya ke jok belakang mobilnya. Ia benar-benar ingin sendiri hari itu.

Jung min membanting setirnya, menghentikan laju mobilnya dan menundukkan kepalanya di atas kemudi mobilnya.

“apa yang harus ku lakukan..”gumam Jung min

End Of Flashback

“apa yang harus kulakukan Hye na-ssi…”gumam Jung min, membenamkan dirinya di kedua telapak tangannya, membiarkan kepala hingga tubuhnya terguyur air dingin. Jung min diam.

Tak lama terdengar ketukan dipintu.

“Jung min…”panggil Seung gi. Jung min masih diam, tidak tertarik dengan panggilan Seung gi

“Jung min… aku bertemu dengan Yoona…”tambah Seung gi yang kali ini berhasil menarik perhatian Jung min. Dengan cepat Jung min mematikan shower yang mengalirkan air dingin ke seluruh tubuhnya, dan mencoba untuk mendengarkan. “…dia sudah menceritakan semuanya…”kata Seung gi lagi.

Jung min masih diam mendengarkan “dan…dia sangat menyesal…”

“segalanya sudah terjadi…”jawab Jung min, sambil mengambil handuk dan membelitkannya di pinggangnya, kemudian melangkah keluar dari kamar mandi.

Seung gi diam, menatap Jung min. Wajah itu kini begitu dingin. Jung min melangkah kearah lemari pakaian Seung gi dan mengambil sebuah kemeja dan celana panjang milik Seung gi.

“…tapi…dia…”

“cukup…aku tidak ingin mendengar apapun lagi…aku benar-benar sudah muak…dan aku…menyerah…”

“MWO!!! Menyerah!! Semudah itukah…? Ok… untuk Yoona…tapi bagaimana dengan Hye na…”
Jung min diam, menghentikan kegiatannya, menatap kosong pakaian ditangannya, tak lama helaan napas terdengar darinya. “…mungkin…itu juga…”

“YYA!! Pabo!!”

“aku sudah tidak tahu harus melakukan apa lagi… aku bingung…”

“YYA!! Kejar!! Kejar terus!! Bagaimanapun caranya…raih dia lagi… ditambah lagi…”

“apa…?”

“Hye na…”

“apa…?”

“kau belum tahu…”

“YYA!! Tentang apa…”

Seung gi diam, bimbang, antara harus mengatakannya dengan tidak. “errmmm…”

“Hye na kenapa…”

“tak apa…”

“baguslah kalau begitu…kata Jung min yang kemudian melangkah pergi menuju kearah pintu.

“kemana…?”tanya Seung gi, menghentikan langkah Jung min

“urusanku…”jawab Jung min dingin dan melanjutkan langkahnya kembali. Langkahnya yang lebar dan cepat perlahan melambat, Jung min mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menekan sebaris nomer sebelum terdengar nada sambung.

“yoboseyo…”sapa seseorang diseberang.

“persiapkan segalanya sekarang…”kata Jung min singkat. Dengan cepat seseorang diseberang menyetujuinya, terbukti dari kalimat Jung min selanjutnya “bagus…saya ingin tidak ada penundaan apapun… dengan alasan apapun…katakan pada fotografer Kim…saya menyerahkan semuanya padanya…”

“ne…saya mengerti…”

*******

Hye na membuka matanya perlahan, cahaya matahari masuk, menerobos melalui celah tirai jendela kamarnya yang sedikit terbuka.

“anda sudah bangun agashi…”tanya seseorang yang Hye na yakin bukanlah suara pelayan Uhm.

“Jang halmoni…”seru Hye na terkejut, yang tiba-tiba bangkit, bangun. Ternyata kepulangan dan segalanya yang terjadi di Seoul bukan lah sebuah mimpi. Semua ini nyata.

“tenanglah…semuanya baik…anda lapar…atau ingin mandi…”tanya Jang halmoni, mendekati Hye na dan duduk disisinya, di pinggir ranjang Hye na. Hye na menghela napas, menenangkan dirinya.

“aku… ingin mandi saja…”jawab Hye na, pelan

“baiklah…saya akan menyiapkan segalanya….anda tak apa….”

“ne…semuanya baik-baik saja Jang halmoni… jawab Hye na lemah dan bangkit dari ranjang, berjalan kearah meja kerja yang tak jauh dari tempatnya. Ditangkapnya sesuatu yang berkerlip diatasnya, terkena pantulan cahaya matahari. Hye na mendekat dan menatapnya sesaat sebelum mengambilnya. Sebuah rantai perak kecil dengan sebuah kunci yang tergantung disana. Hye na mengambilnya dan mengalihkan pandangannya menatap Jang halmoni, mencari sebuah jawaban, namun Jang halmoni sudah tidak berada ditempatnya lagi.

Hye na menatap kunci itu sesaat, menatapnya dalam, berpikir. Kunci itu mengingatkannya pada sesuatu. Sesuatu yang membuatnya sangat penasaran ketika kecil saat ia menatap sebuah kotak kayu dengan ukiran di sekelilingnya yang ditengahnya terdapat lubang kunci kecil yang terkunci, membuatnya tidak dapat dibuka. Beberapa kali Hye na kecil mencoba untuk membukanya, namun selalu gagal, tidak ada kunci yang cocok untuk masuk dilubangnya. Dan tidak ada ahli kunci yang dapat membantu Hye na kecil untuk membuat kunci tiruannya. Banyak alasan yang mereka kemukakann, namun yang membuat Hye na menerimanya adalah sebuah alasan bahwa umur kotak tersebut sudah terlalu tua. Kotak tersebut memang terlihat sangat kuno.

Hye na terdiam, mengingatnya kembali. Tiba-tiba dengan langkah yang cepat, Hye na berjalan kearah lemari pakaiannya dan membukanya. Hye na mengambil sebuah kotak kayu kecil dengan ukiran disekelilingnya.

“benarkah ini…bisa membukanya…?”gumam Hye na. Hye na mengambil kunci tersebut dan memasukkannya ke dalam lubang kunci kotak tersebut dan ternyata, masuk!! Seru Hye na dalam hati. Jantungnya berdegup kencang ketika menyadari kemungkinan itu adalah kunci yang dicarinya selama bertahun-tahun sejak ia kecil. Hye na mencoba memutarnya dan terdengar bunyi klik yang pelan sebelum akhirnya kotak tersebut terbuka sedikit, terdorong keatas ketika Hye na memutarnya.

Perlahan Hye na membukanya dan kemudian membawanya ke meja dimana ia menemukan kunci tersebut. Hye na menyalakan lampu meja di dekatnya dan mulai mengeluarkan semua isi kotak tersebut.

Banyak sekali kertas didalamnya. Namun yang membuat Hye na tertarik adalah ketika ia menatap sebuah kertas yang mana Hye na dapat mencium bau mint disana. Bau segar yang khas, dan Hye na sangat mengenali bau ini. “omma…”gumam Hye na, menghirup aroma itu sesaat sebelum membuka lipatan kertas tersebut. Tulisan yang rapi terlihat disana, seketika setelah Hye na membuka lipatannya. Hye na tersenyum sesaat. Di amatinya perlahan dari bawah keatas, dan ia begitu terkejut ketika menyadari surat itu ditujukan untuknya saat ia membaca namanya tercantum di bagian atas surat tersebut.

Hye na mulai membacanya, perlahan dan cermat, dan yang kemudian terjadi adalah, mata Hye na terbelalak lebar, ia sangat terkejut dengan isi surat tersebut. Surat yang memberitahu padanya sebuah rahasian besar keluarganya, khususnya omma dan appanya. Surat yang sama sekali tidak pernah diduga oleh Hye na.

******

“hyung mau kemana…”tanya En kyu tiba-tiba ketika ditatapnya Ji hoon tengah memakai sepatunya. “bertemu dengan Hye na noona…ikut…?”

“omma…”kata En kyu, menatap Ji hoon marah, meralat kata-katanya.

“baiklah… omma… En kyu ikut…?”tanya Ji hoon legi, menatap En kyu tersenyum. En kyu terdiam sesaat terlihat berpikir, lama.

“Ikuuuuutttt…”jawab En kyu mengangkat kedua tangannya senang. Ji hoon tersenyum lebar menatap En kyu. “kalau begitu bersiaplah…”kata Ji hoon
Dengan cepat En kyu menganggukkan kepalanya, dan berlari masuk.

“kau akan pergi...?”tanya nyonya Yoon, menatap Ji hoon yang terlihat tengah merapikan pakaiannya. “ne…”

“apa tidak sebaiknya Hye na sendiri dulu…biarkan dia menyelesaikan semuanya dulu… jangan ganggu dia dulu…”kata nyonya Yoon menatap Ji hoon penuh harap. Ji hoon diam, menundukkan kepalanya. Keduanya terdiam, tidak terdengar percakapan lagi setelahnya.

“aku siiiiaaappp…”seru En kyu tiba-tiba.

“en kyu sudah siap… bagus kalau begitu…ayo kita berangkat…”ajak Ji hoon kemudian, menggandeng tangan En kyu dan membawanya berjalan pergi.

“Ji hoon…”panggil nyonya Yoon menghentikan langkah Ji hoon. “aku harus pergi nyonya Yoon…”jawab Ji hoon tanpa memalingkan wajahnya kearah nyonya Yoon dan kemudian melanjutkan langkahnya, pergi bersama En kyu.

*******

“ommaaaa…!!!” panggil En kyu, memeluk Hye na sesaat setelah ia masuk kedalam sebuah ruangan.

“sssttttssss… jangan berisik En kyu…”tegur Hye na pelan, mengalihkan pandangannya pada seseorang yang tengah tertidur pulas diranjang.

“ahh… mianhe…”jawab En kyu “dia…. Itu…”

“…haraboji…”sambung Hye na

“haraboji…??”

“nee…”

“masih tidur…”

“nee… tidur…”

“lalu itu…?”tanya En kyu menunjuk semua alat yang berada di tubuh appa Hye na. Hye na mengalihkan pandangannya kearah kemana En kyu menunjuk. Hye na menundukkan kepalanya sesaat, tersenyum kecut, kemudian menatap En kyu tersenyum “…itu… untuk membantu haraboji…”

“memang ada apa…?”tanya Ne kyu lagi, menatap Hye na bingung. Hye na berjongkok dihadapan En kyu, menatapnya

“haraboji tidur… tapi haraboji…”Hye na terdiam sesaat, kedua matanya memanas, air mata mulai jatuh, membasahi pipinya. Dengan cepat Hye na segera menghapusnya “…haraboji…”Hye na mulai bingung untuk menjawabnya.

“En kyu…lapar tidak…”putus seseorang, mengalihkan perhatian En kyu. En kyu tersenyum menatap orang itu. “nee… lapar sekali…”jawab En kyu, mengusap perutnya.

“kalau begitu…kita makan bubur… mau…?”

“ahni…En kyu mau mie…”jawab En kyu

“bubur saja…”

“mie…”jawab En kyu bersikeras. Hye na tersenyum tipis menatap pembicaraan itu.



“baiklah… kita makan mie… kebetulan hyung tau restoran mi yang enak disekitar sini…”
En kyu menganggukan kepalanya bersemangat “kacha…”

“kau ikut Hye na..?”

Hye na terdiam, senyum lebar mengembang diwajahnya “gomawo Ji hoon-yya…”kata Hye na, terharu

Ji hoon tersenyum, menatap Hye na, lalu membelai kepalanya lembut. “tak apa…”jawab Ji hoon

“ayo…”ajak En kyu kemudian, menarik tangan Ji hoon dan Hye na bersamaan.

“nee…”

En kyu berjalan diapit diantara Ji hoon dan Hye na keluar dari ruangan tersebut, keluar dari rumah sakit. Hye na tersenyum lebar menatap tingkah En kyu. Tanpa menyadari seseorang tengah menatapnya sedih atas senyum itu. Senyum indah yang dirindukannya. Senyum yang sangat dinantikannya. Senyum yang ia harap hanya untuknya, tapi ternyata terbentuk dihadapand an karena orang lain.

Jung min menatap Hye na nanar, rasa sakit dan kecewa menyerang dirinya. Kemarahan perlahan mulai merasuki hatinya.



EnD of ChApteR


maaf kalau jelek n ngebosenin... lagi gak mood n ngerjainnya sambil nyambi ngerjain proposal  [biggrin] [biggrin]

makasih semuanya karena sudah setia menunggu  [cheekkiss] [cheekkiss]

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
Horeyyy update...

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
ai gumawo udah diupdate...ditengah kesibukanmu,
ternyata chap ini bikin aku  Emoticons0429

ai pkoknya jung min ama hyena jangan mpe cerai ya? Wah jungmin dah nyusul malah liat kebersamaan ji hoon n hyena poor jung min Emoticons0429
oia seunggi kok g ngasih tau aja seh...jungmin biar nyadar n jelasin ke hyena,dia maen diem aja seh hammer2 hammer2

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Horeyyy update...


ditunggu koment nya say  [cheekkiss] [cheekkiss]

ai gumawo udah diupdate...ditengah kesibukanmu,
ternyata chap ini bikin aku  Emoticons0429

ai pkoknya jung min ama hyena jangan mpe cerai ya? Wah jungmin dah nyusul malah liat kebersamaan ji hoon n hyena poor jung min Emoticons0429
oia seunggi kok g ngasih tau aja seh...jungmin biar nyadar n jelasin ke hyena,dia maen diem aja seh hammer2 hammer2

biar bikin pembaca gregetan dulu... tapi kalau seung gi udah sebel dia bakal bilang og... ni tingkat ke'sebel'annya belum dipuncaknya jadi... tahan dulu  [hmpfh] [hmpfh]

Offline Echyn MinHo LeeSun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 635
  • gaya ala RATHOT + CASSAMINONG.. haha
  • Location: manado
    • View Profile
Terharu ..
Terharu sma kerja keras sang author
terharu jga sama ceritanya...
Benar" chapter yg menguapkan emosi...
Huhu T_T
Skrg jung min yg marah, psti + parah lg nih..
Yaakh ksian donk yuki, pdhal hye na kan lg hamil ...
http://i54.tinypic.com/2w30vac.jpg[/img]

favorite couple
MinSun
KhunToria :D [/center]

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Terharu ..
Terharu sma kerja keras sang author
terharu jga sama ceritanya...
Benar" chapter yg menguapkan emosi...
Huhu T_T
Skrg jung min yg marah, psti + parah lg nih..
Yaakh ksian donk yuki, pdhal hye na kan lg hamil ...

 [arms] [arms] [cheekkiss] [cheekkiss]

yup Jung min marah, tapi kemarahannya cuma sesaat, yang ia pentingin sekarang cuma Hye na...

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
udah mpe ubun ubun kali ai gregetannya [heh]